Entrepreneur Berbeda dari Manajer atau Teknisi

Views :949 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 25 Januari 2012 13:57
entrepreneur-soloMichael E. Gerber menulis sebuah buku berjudul “The E-Myth: Why Most Businesses Don’t Work and What to Do About It”, yang di dalamnya ia dengan gamblang menjelaskan perbedaan antara 3 jenis orang dalam sebuah usaha rintisan atau usaha berskala kecil menengah:

Si entrepreneur
Jenis pertama ini mendirikan sebuah bisnis yang bisa berjalan dengan atau tanpa kehadiran fisiknya. Orang seperti ini memiliki pandangan dan visi-visi cemerlang yag membuat sebuah bisnis menjadi unik dengan menambahkan tujuan dan arah ke dalam bisnis. Perspektif yang menjangkau jauh ke depan dari seorang entrepreneur memungkinkannya utnuk mengantisipasi perubahan dan kebutuhan di pasar dan untuk menggerakkan aktivitas untuk memanfaatkan perubahan dan kebutuhan yang ada tersebut.


Si manajer
Seorang manajer menghasilkan melalui para pegawainya dengan mengembangkan dan mengimplementasikan sistem yang efektif dan dengan berinteraksi dengan pegawai , meningkatkan kepercayaan dirinya dan kemampuannya untuk menghasilkan prestasi yang baik. Manajer bisa mengaktualisasikan visi seorang entrepreneur dengan menggunakan perencanaan, impelementasi dan analisis.

Si teknisi
Seorang teknisi mengerjakan tugas tertentu menurut sistem dan manajemen standar yang sudah dikembangkan. Teknisi seperti ini dalam kondisi terbaik perusahaan tidak hanya menyelesaikan tugasnya tetapi juga memberikan masukan kepada pengawasnya mengenai perbaikan sistem dan standar tersebut.

Memahami definisi-definisi di atas sangatlah penting, apalagi jika Anda seorang entrepreneur. Karena Gerber bahwa sebenarnya banyak bisnis kecil menengah yang tidak bekerja, tetapi justru si pemilik yang bekerja. Dengan kata lain, ia yakin bawha pemili usaha kecil menengah sekarng ini banyak yang bekerja terlalu keras pada satu pekerjaan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri daripada bekerja untuk menciptakan bisnis. Maka dari itu, sebagian besar UKM gagal karena si pemilik memiliki karakter yang lebih mendekati seorang teknisi, bukan entrepreneur. Dengan bekerja sebagai teknisi, pemilik UKM menyadari dirinya hanya akan mendapatkan sedikit imbalan untuk usaha yang begitu banyak dan pada akhirnya menurut Gerber, bisnis pun gagal total.

Ada opini yang berkembang luas bahwa para pemilik UKM kini mayoritas tidak bisa disebut sebagai entrepreneur karena mereka tidak menciptakan  bisnis. Mereka hanya teknisi yang menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri.

Solusinya? Solusi masalah ini terletak pada tekad si pemilik UKM untuk memulai berpikir dan bertindak seperti seorang entrepreneur sejati. Mereka harus membayangkan bagaimana bisnis akan berjalan tanpa kehadiran mereka setiap hari di kantor atau pabrik. Dengan kata lain, si pemilik UKM harus mulai mengerjakan bisnisnya di samping bekerja di dalamnya. Ia harus mengoptimalkan kapasitas perushaaan melalui pengembangan sistem dan implementasinya. Kuncinya ialah bahwa seseorang harus mengembangkan sebuah “perspektif entrepreneurial”. (sumber: diadaptasi dari Michael E. Gerber, “The E-Myth Revisited: Why Most Business Don’t Work and What to Do About It”)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/pendidikan/serba-serbi/165-entrepreneurship/14622-entrepreneur-berbeda-dari-manajer-atau-teknisi.html

Intan Avantie, Gunakan Nasihat Sang Bunda untuk Terus Maju

Views :200 Times PDF Cetak E-mail
Minggu, 18 Desember 2011 14:06
Karya busananya mulai mendapat tempat di jagat fashion. Menyandang nama belakang Avantie, ibu dua orang anak ini diduga memiliki tali kekerabatan dengan sang maestro kebaya modern Indonesia. Yup, memang benar. Intan Avantie adalah putri semata wayang desainer kebaya kondang tanah air, Anne Avantie. Terinspirasi dari ibunda tercinta, Intan turut berkancah mempopulerkan kebaya modern.
intan-avantie_2Intan Avantie lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 17 November. Perempuan dengan paras ayu ini mempunyai talenta di bidang seni fashion yang serupa dengan ibunda serta omanya. Tak heran bila perempuan yang sering disapa Intan ini akhirnya membangun butik kebaya modern dan kontemporer yang sama dengan ibundanya dan kemudian diberi nama Inav.
Bisnisnya dibangun lima tahun lalu dengan order awal berupa seragam paduan suara dan kostum penari. Terinspirasi dari karya akbar sang bunda, Intan mulai mengasah serta melatih bakatnya dalam menjahit dan mendesain kebaya modern. Baginya, membuka butik kebaya modern merupakan peluang usaha yang sangat potensial dan patut dikembangkan mengingat tren busana kebaya saat ini sedang naik daun.
Misi terjun dalam dunia bisnis kebaya juga diyakininya sebagai upaya melestarikan budaya bangsa. “Saya sangat mencintai budaya bangsa maka saya pun excited dengan karya kebaya,” tuturnya. Minat Intan untuk mempopulerkan kebaya yang dulu lebih terlihat sederhana dan sesuai pakem yang ada hingga menjadi kebaya bermanik-manik dan berpayet yang elegan menjadi salah satu tujuan dalam hidupnya. “Saya ingin meneruskan tongkat estafet yang diberikan ibu saya supaya kebaya dapat terus melegenda,” tambahnya.
Ketika ditanya apakah dirinya tak takut dikatakan mendompleng nama besar sang ibu, Intan menjawabnya dengan penuh percaya diri, “Mendompleng atau tidak mendompleng tidak lagi penting bagi saya. Hubungan kami adalah ibu dan anak, tidak ada yang salah dalam dunia bisnis diantara kami berdua.” Meneladani sikap ibunya yang selalu berpikir positif, istri dari Carolus Kristinus Wijasena ini menatap masa depan bisnisnya dengan penuh keyakinan. Selama melakukan pekerjaan sebagai bagian dari hobi, kecintaan dan kenikmatan akan dunia fashion, serta berkarya untuk Tuhan dan sesama, Intan takkan memerdulikan perkataan negatif mengenai dirinya. Ia pun akan terus maju dan mengesampingkan semua hambatan yang ada.
Plagiat
Ibu dari Matthew Archiello Keenant Wijasena dan Letisha Arkayrra Keinant Avantie ini mengaku, kendala terbesar dalam menjalani bisnis busana kebaya modern adalah kehadiran plagiat. Meski demikian, kendala itu tak dijadikan penurun semangatnya dalam berkarya. Ia memandang kendala itu sebagai sebuah cobaan yang bisa membentuk pribadi menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Diakuinya, butuh banyak tempaan agar seseorang bisa “fight” dalam setiap keadaan. Untuk menghadapinya dibutuhkan pula jiwa besar dan semangat tanpa mengenal putus asa.
Untuk bisa terus maju, Intan terbilang beruntung karena mempunyai resep ampuh. Ia mempunyai keluarga yang mampu mendukungnya setiap saat dibutuhkan. Nasihat dari bundanya pun dijadikan semacam “vitamin” dan “dopping” yang manjur. “Beliau (Anne Avantie.red) tidak pernah menjanjikan akan ada sebuah gunung di depan mata. Bunda justru menceritakan liku-liku jalan menuju gunung dan betapa terjalnya jalan yang harus dilalui untuk mencapai puncak tertinggi,” ujar wanita yang juga hobi memasak dan travelling ini. Intan menyebutkan, kunci sukses dirinya adalah selalu menjadi diri sendiri dan tak lupa selalu menyertakan doa dalam setiap pengharapan.
Peran Sebagai Ibu
Berkenaan dengan hari Ibu pada 22 Desember, Intan menanggapi sosok ibu sebagai cermin gambaran jiwa yang penuh kasih, keikhlasan dan cinta. Menurutnya, kasih sayang ibu tumbuh dan berbuah tanpa musim. Begitu pula dengan pengorbanan ibu yang sungguh luar biasa, tak dapat dinilai dengan apapun kecuali dengan seuntai senyum dan segenggam ketulusan.
Maka dari itu, Intan selalu menempatkan kedua buah hatinya sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Dalam setiap kesempatan apapun seperti seminar, pemotretan, show, memberi pelatihan desain fashion kepada pelajar dan lain sebagainya, penerima program beasiswa sekolah mode Esmod ini senantiasa mengajak putra dan putrinya. “Saya selalu mengajak mereka (anak-anaknya.red) agar mereka juga secara tak langsung bisa turut menikmati proses demi prosesnya sehingga mereka terbiasa dengan pekerjaan yang saya lakoni ini,” jelasnya.
Intan pun merasa beruntung mampu menjalani kehidupan rumah tangga yang bisa berjalan selaras dengan bisnisnya. Menempatkan kantornya persis di dekat rumah merupakan pilihan yang tepat. Dengan demikian, ia bisa setiap saat menengok keadaan rumah dan anak-anaknya sesuai dengan keinginannya. Dengan penuh kasih sayang Intan menuturkan, “Pekerjaan tidak menjadi penghalang saya untuk bertemu serta mengurus anak-anak. Karena anak-anaklah “obat” pengusir lelah saat rasa penat datang menghampiri.” (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/13535-intan-avantie-gunakan-nasihat-sang-bunda-untuk-terus-maju.html

Mengapa Harus Entrepreneurship?

Views :1326 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 14 Desember 2011 10:37
upload-tipsEntrepreneurship merupakan pilihan cepat untuk menyelamatkan perekonomian suatu bangsa dan entrepreneurship bisa menjadi solusi kompleks bagi masalah kompleks yang sedang melanda dunia.
Dalam pelatihan gratis yang diselenggarakan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC), Selasa (13/12), Dharma Kusuma SPsi selaku Direktur Program memaparkan lima alasan mengapa harus menerapkan entrepreneurship di Indonesia sebagai berikut :
  1. Pengangguran terdidik naik terus. Dikhawatirkan terjadinya titik kritis di mana setiap lulusan perguruan tinggi akan menganggur.
  2. Kita menjual produk hasil alam dengan nilai tambah rendah. Ambil contoh kopi. Indonesia termasuk negara penghasil kopi terbesar di dunia tapi belum mampu memanfaatkan produk alam itu dengan nilai tambah tinggi. Bisa dilihat dari menjamurnya kedai kopi yang justru berlisensi internasional yang menjual segelas kopi berharga tinggi.
  3. Kita belum menjual kekayaan budaya kita dengan nilai tambah tinggi
  4. Di negara dengan keragaman hayati lautan terbesar, 70 persen sarjananya menganggur
  5. 5. The end of life long employment. Dharma memberi contoh seorang ahli nuklir Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan ternama namun karena suatu hal dia di-PHK. Untuk menghidupi keluarganya, ia pernah mencoba segala macam usaha yang akhirnya menemukan es cendol sebagai usaha yang membuatnya menuai untung. Ini menjadi contoh agar sebaiknya jangan mudah merasa nyaman pada titik aman. “Ketika ahli nuklir itu ditanya: apakah bapak beruntung (bisa berjualan es cendol). Si bapak itu menjawab tanpa ragu: ya saya sangat beruntung sebab banyak rekan kerja saya yang menjadi pemulung atau tukang parkir,” jelas Dharma kepada peserta pelatihan.
Dalam kesempatan itu, Dharma juga menuturkan lima kesalahpahaman terhadap entrepreneurship, yakni :
1. Ber-entrepreneur = berdagang.
Yang terpenting dalam entrepreneurship adalah creating value atau peningkatan nilai. Entrepreneur bisa merambah ke segala bidang dan profesi. Di instansi pemerintahan misalnya, seorang camat yang berhasil mengubah wajah daerahnya yang semula miskin menjadi maju, itu bisa dikategorikan sebagai entrepreneurship.
2. Belajar entrepreneurship adalah belajar membuat.
Anggapan ini memang tidak salah tapi kurang pas. Boleh membuat tapi yang lebih penting adalah menjual. Setelah berhasil membuat atau memproduksi, entrepreneur bisa lebih fokus pada penjualan.
3. Yang paling penting dalam memulai bisnis adalah modal.
Modal memang penting tapi bukan segala-galanya. Modal bisa didapat dari investor dan sebagainya.
4. Belajar entrepreneurship adalah belajar materi jurusan “sekolah bisnis”.
Jika ingin menjadi entrepreneur ada baiknya belajar dari seorang entrepreneur sukses yang berpengalaman serta miliki ilmu entrepreneurship yang diperolehnya langsung dari lapangan.
5. Saya adalah praktisi bisnis (karyawan) maka saya bisa membuka bisnis yang mapan.
Hal itu belum tentu terjadi. Yang terpenting adalah memiliki passion yang kuat untuk membuka bisnis, siapapun dan dari latar belakang apapun bisa meraih sukses darinya. (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/pendidikan/serba-serbi/165-entrepreneurship/13439-mengapa-harus-entrepreneurship.html

Konsisten, Kunci Sukses Indraty Setyawan dalam Bisnis Tata Busana

Views :109 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 06 Desember 2011 13:27
tata_bsnSembilan tahun sudah, Indraty Setyawan bergelut di bidang desain pakaian. Kini, namanya telah dikenal sebagai seorang desainer handal Kota Gudeg, Yogyakarta.

Berawal dari seorang penjahit rumahan, ketika itu di tahun 2002, Indraty membuka usaha jahitan di rumahnya yang masih berada di kawasan Sidoarum, Godean, Sleman. Hanya menempati sebuah garasi mobil sederhana. In–panggilan akrabnya–saat itu banyak menerima order jahitan dari daerah sekitar Sleman dan Kota Yogya. Lalu, In banyak memperdalam ilmu menjahit dengan bersekolah di PAPMI dan beberapa sekolah desain mode lainnya. Karena kemahiran semakin terasah dan makin banyak dikenal, maka In pun pindah lokasi mengontrak di Jalan Wates, selama setahun.

“Kebetulan mertua saya ada rumah yang tidak ditempati di daerah Pasar Kranggan, setahun kemudian saya pindah ke sana. Hingga sekarang, sudah hampir lima tahun workshop saya berlokasi di sini,” ucap In, seperti dikutip dari Tribun Jogja.

Doa mengaku dunia tata busana sudah menjadi gairah bagi hidupnya. Padahal menurutnya, ketika memulai di dunia tata busana usianya sudah 27 tahun, yang dia bilang sudah terlambat.

Meski begitu, tekadnya hanya satu bahwa ia ingin menjadi seorang pengusaha fesyen, yang tidak hanya mengakomodasi kepentingan masyarakat kalangan menengah saja melainkan semua kalangan bisa menikmati fashion.

“Cita-cita saya ingin membuka perusahaan fesyen seperti Departemen Store yang memang bisa mengakomodasi semua kalangan. Jadi bukan hanya menjual pakaian yang harganya mahal saja, tapi juga sesuai dengan kantong kelas ekonomi bawah,” jelas wanita kelahiran 2 Agustus 1973 ini.

In memang cukup konsisten di dunia fashion. Ini terbukti, ia tak cuma sekedar menjiplak tren-tren yang sudah berkembang, tapi juga berinovasi. “Lima tahun belakangan saya baru menemukan karakter saya lebih ke arah etnik modern, dan juga banyak main di detail payet bebatuan,” ujarnya.

Sebagai seorang desainer, kebanggannya adalah bisa membuat seseorang yang tadinya tidak percaya diri, bisa tampil memukau dan lebih pede. Karena sebagus apapun pakaian yang dikenakan jika kita tidak percaya diri, tak akan berarti apa-apa. “Jangan takut untuk berekspresi, itulah kuncinya supaya bisa tampil menarik,” ujarnya.

Harga rancangan Indraty bervariasi. Mulai dari blus atasan seharga Rp200 ribu, dress mulai Rp350 ribu, hingga Rp30 juta ke atas untuk gaun atau kebaya pengantin yang mewah. “Harga masih bisa disesuaikan dengan keinginan dan budget klien. Semua tergantung dari jenis busana, bahan dan tingkat kerumitan jahitan,” ucapnya.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/13284-konsisten-kunci-sukses-indraty-setyawan-dalam-bisnis-tata-busana.html

Bordir Tasik, Produk Lokal Berkelas Dunia

Tasikmalaya adalah wilayah pecahan Kabupaten Tasikmalaya yang secara geografis terletak di jalur utama selatan Pulau Jawa di wilayah Provinsi Jawa Barat. Menurut Wlkipedia Bahasa Indonesia Enslklopedia Bebas, kota ini memiliki perkembangan ekonomi yang lebih baik dibandingkan kota-kota lain di Indonesia.

Tasik -demikian kota Ini dlsebut– memiliki berbagai potensi yang belum dikembangkan secara maksimal misalnya industri bordir yang sudah mendunia. Selama dua dekade pemerintah kota mulai membuat tempat pameran bordir untuk para pengrajin Tasik, yang berlokasi di Kawalu. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya menyebutkan bahwa usaha kerajinan bordir di Tasik cukup meluas. Dari delapan kecamatan yang ada di wilayah Tasik, empat kecamatan di antaranya bergerak di bidang usaha pembuatan kain bordir, yaitu Clbeureum. Clpedes. Mangkubumi, dan Kawalu.

Pada tahun 2005. terdapat setidaknya 1.092 unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin. Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah yang memiliki paling banyak pelaku usaha kerajinan bordir, yaitu 87,7 persen dari total perajin bordir di Tasik. DI kecamatan ini. terutama di Desa Tegalsarl terdapat banyak pengusaha kain bordir berskala besar seperti Turatex. Purnama. Ciwulan. Haryatl. dan Bunga Tanjung. Total produksinya mencapai 7.2 Juta potong per tahun. Nilai produksinya telah mencapai angka di atas Rp 500 miliar dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Salah seorang pelaku usaha bordir Tasik yang namanya berkibar adalah Atik Jumaell. Melalui usahanya nyaris dari nol lewat bendera usaha Dewi Bordir.dengan modal Rp 50.000 plus satu unit mesin Jahit pada tahun 1991. kini Atik Jumaell mampu mengembangkan produk andalan usaha bordir seperti (atakan gelas berbodlr dan tutupnya, memimpin pasar di kelasnya. Bahkan kini produk-produk bordirnya kerap tampil dalam berbagai pameran di luar negeri dari Singapura hingga Rusia sekaligus pasar luar negeri.

Mulai dari “nol”

Pada dekade 1990-an ketika Atik Jumaell memulai usahanya, produk bordir Tasik telah Jauh berkembang dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Saat Itu produk bordir Tasik didominasi oleh busana muslim, khususnya baju perempuan termasuk baju gamis, dan kelengkapannya seperti mukena, rukuh. Jilbab. baju koko dan kopiah.

Beberapa dekade sebelumnya, yakni dekade 1960-an Jenis bordir yang banyak dihasilkan ialah kebaya dan pakaian tradisional China karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an , setelah mesin bordirbertenaga listrik muncul di daerah ini. jenis produk bordir yang dihasilkan meluas ke Jenis kain untuk ruangan (home Interior), seperti sprel. taplak meja, dan gorden. Namun pada dekade 1980-an Jenis kain bordir yang diproduksi mulai bergeser ke busana muslim yang berkembang hingga kini.

Ketika mulai merintis usaha Dewi Bordir. Atik belum pernah menjalani satu pun usaha. Sebab sejak sebelum menikah dengan Jumaeli. Atik menjalani pekerjaan sebagai karyawan sebuah kantor konsultan hukum. Namun Atik bukan sosok yang asing terhadap dunia Jahlt-menjahlt. Anak kelima dari 10 bersaudara dari keluarga H Saun dan HJ Siti Huzaemah Ini tumbuh dajam keluarga modiste atau penjahit pakaian (wanita). Ibunya dikenai sebagai penjahit kebaya yang cukup dikenal di Cikalong. Tasik.

Selain itu Atik Juga sosok yang senang bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif. Satu lagi karakter yang melekat pada diri nya ialah intuisi atau hidung bisnis yang tajam dalam menangkap peluang. “Usaha kerajinan bordir memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun dan kreatif. Karakter seperti Itulah, yang melekat pada perempuan pengrajin bordir di Tasik dan membuat Tasik dikenal sebagai kota bordir.” katanya.

Pada tahun 1996 ketika usaha bordirnya kian stabil. Atik sudah mulai berpikir bahwa Dewi Bordir harus memiliki badan hukum. Pikiran seperti Itu muncul karena Atik pernah bekerja di kantor pengacara dan banyak belajar dari pergaulan. Lahirlah kemudian CV Dewi Nugraha. Alamat CV Ini sama dengan tempat Atik menjalani usahanya, yakni di Jalan Panunggal Nomor 64, Kompleks

Asrama Polisi Tasikmalaya.

Pada tahun yang sama Atik Juga memperoleh suntikan modal dari hasil arisan yang dia Ikuti sebesar Rp 500.000. Dana itu digunakan untuk membeli satu unit mesin Jahit baru merek Zuki secara cicilan seharga Rp 3.500.000. Sisa utangnya dilunasi dengan cara mencicil. Sebagai suatu usaha perjalanan Dewi Bordir tidak berlangsung mulus. Pada tahun 1997 usaha ini pernah Jatuh. Ketika itu. Dewi Bordir menerima pesanan sebanyak 1.000 lusin (atakan dan tutup gelas senllai Rp 67 Juta. Tetapi krisis ekonomi tahun 1997 yang meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan uang hasil pesanan itu tak tertagih. Produksi Dewi Bordir pun sempat terganggu.

Omzet miliaran rupiah

Hal serupa juga terjadi pada 2007 ketika Dewi Bordir menerima pesanan busana berbordir sebanyak 400 pasang dari seseorang untuk dikirim ke Brunei. Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang namun hanya 400 pasang yang dibayar sehingga Dewi Bordir mengalami tekor Rp 45 Juta dan tantangan-tantangan lainnya. Dengan kesabaran dan ketekunan. Atik mampu menerobos berbagai rintangan Itu. Hasilnya Dewi Bordir berkembang dengan mantap hingga Jumlah karyawan tetap hariannya mencapai 30 orang sementara karyawan musiman bisa menlmgkat dua kali lipat pada saat pesanan meningkat.

Pengalaman menjalani usaha dari bawah membuat intuisi bisnis Atik Jumaell terlatih membaca pasar. Memilih tatakan dan tutup gelas sebagai produk andalan Dewi Bordir adalah wujudnya. Meskipun terlihat remeh temeh produk andalan

Dewi Bordir Ini menjadi raja di kelasnya. Bahkan, produk-produknya membawa Tasik memperoleh kebanggaan. Tatakan dan tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu produk UKM Tasik yang diekspor hingga mancanegara.

Dengan dukungan keluarga dan karyawan. Atik Juga telah mengantar Dewi Bordir menerima sejumlah penghargaan sekaligus kemudahan. Selain sedang meneriima fasilitas pameran secara gratis. Dewi Bordir Juga menerima fasilitas berupa ruko yang terdapat di Asia Plaza Jalan Hajat Mustofa Nomor 8 Tasikmalaya. Dari usaha kerasnya itu. omset yang dicapai Dewi Bordir mencapai sekitar Rp 100 Juta per bulan atau Rp 1 miliar lebih per tahun. Dari omset tersebut Atik meraih keuntungan bersih sebesar 20 persennya.

Untuk meningkatkan produksinya, Dewi Bordir sedang merintis Jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah ke atas. “Alasannya di segmen ini kondisinya lebih stabil.” katanya.

Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Selain Itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-desaln baru yang sesuai dengan tuntutan pasar. “Untuk tahu pasar kami mencari Informasi dari Internet atau majalah.”

Sementara untuk pemasaran dan promosi. Dewi Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan. Selain mempertahankan promosi dari mulut ke mulut yang telah dibangun sejak awal melalui ajang arisan, bazar dan pameran. Atik Juga menempuh cara pemasaran yang sudah lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke Jakarta dan beberapa kota lain. Para pengusaha bordir Tasik lazim memasarkan produk mereka ke sentra-sentra pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang dan Cipulir. Bahkan, awal 2011 lalu, Atik Juga merintis pembukaan cabang Dewi Bordir di Season City Jakarta Barat sekaligus membawa usaha ini lebih profesional. Untuk Itu Dewi Bordir sudah menyewa konsujtan bidang manajemen, termasuk di dalamnya untuk melakukan. “Saya Ingin maju seperti Dewi Motik (Dewi Motik Pramono-perempuan pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai mantan Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang maju.” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah Jumaeb mengakhiri kisah perjalanan usahanya.

DEWI BORDIR
Alamat Ji Panunggal No.64, Samping Aspol
Bojong. Tasikmalaya
Telp (0265)340621. Hp 081222886243
Fax (0285)3,40621
Email dew.njgrahacvOy3hoo.com
Contact person Hj Sin Atik Jumaell, SE

Usaha Pembuatan Air Minum Kemasan

Sebagai kebutuhan pokok, air minum akan selalu dibutuhkan. Alhasil, bisnis air minum berkualitas bakal terus menjanjikan. Saat ini, air minum non-mineral dalam kemasan muncul sebagai alternatif air minum. Bahkan, air minum ini diminati warga perumahan elit di Jakarta dan Bandung.

AIR minum merupakan kebutuhan dasar untuk meijaga metabolisme tubuh, ((leh karena itu, kebutuhanakan air minum yani; sehat tidak akan pernah surut Peluang bisnis yang menjanjikan inilah yang membuat Mulyono Simowibowo tergiur memproduksi air minum. Dengan mengusung merek Celebrity, Mulyono memulai usaha ini 1 i Bandung pada 2006.

Berbeda dengan air minum kemasan lainnya, vicinity merupakan air minum non mineral. Saat ini. lelebritj sudah merambah pasar Bandung dan Jakarta Kebanyakan klien saya warga perumahan elit yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan air minum.” ujar Mulyono.

Selama tni, Mulyono melakukan pemasaran dari pintu ke pintu. Strategi itu cukup jitu um uk meraih hati pelanggan. Mulyono mendapat pasokan daii PT Perusahaan An Minum PAM  sebanyak 15.000 hingga 26.000 liter per hari. Ia membeli air dengan harga Rp 135.000 tiap 5.000 liter. Setelah memperoleh pasokan air, ia mengolah air tersebut dengan proses distilasi atau penyulingan.

Dengan modal Rp 300 juta.

Mulyono membeli berbagai mesin untuk memproduksi air minum ini. Seperti mesin boiler untuk memanaskan air hingga menjadi uap dan mesin kondenser untuk merubah kembali uap menjadi air. “Dengan proses itu, maka air akan steril dari kadar mineral, pungkas Mulyono. Dalam proses lm akan terjadi pengurangan massa air sekitar 20%.

Setelah diolah di pabriknya di Bandung, ia menjual produk Celebrity mulai dari kemasan cup 220 ml, botol il, botol 600 ml, botol 1,5 liter liingga ukuran galon 19 liter. Dalam sehari, eiebrity bisa terjual hingga 20.000 liter dalam berbagai kemasan.

Iv insumen eiebrity paling banyak mengkonsumsi kemasan galon ukuran 19 liter dengan harga Rp 11.000 per galon untuk harga Bandung dan Rp 12.500 untuk harga Jakarta “Dalam sebulan omzet minimal Rp 180 juta,” ujar Mulyono.

Pemain lainnya adalah Hendri Darmawan yang menjual produk air kemasan non-mineral dengan merek  elestine. Memulai usaha sejak 2010 di Bekasi, saat ini ia sudah bisa menjual 8.000 liter air non mineral per hari dengan harga Rp 10.600 untuk ukuran galon 19 liter dan Rp 8.500 untuk ukuran 12 liter.

Pelanggannya baru berasal dari sekitar Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Berbeda dengan Mulyono, Hendri lebih fokus pada produk kemasan galon karena margin keuntungan lebih besar. Sayang, Hendri enggan menyebutkan omzetnya.

Mulyono mengaku, tantangan terberatnya adalah saat mengubah pandangan masyarakat tentang air inineral. Biasanya, untuk mensosialisasikan air non mineral itu, ia melakukan demo sederhana bagaimana memproduksi air minum non mineral kepada para calon pelanggannya.

Meski begitu, ia yakin, bisnis ini akan tetap punya masa depan. Alasannya, masih banyak pihak yang belum mengetahui informa-si tentang air non mineral. “Selain itu, pemainnya sangat terbatas,” tambah Hendri.

Furnitur Menarik di Jalan Kalimalang

Ada satu tempat yang menawarkan berbagai macam furnitur (perabot rumah tangga) menarik dan berkualitas. Selain dibuat oleh para perajin furnitur yang andal, harga yang ditawarkan juga relatif murah. Tempat penjualan furnitur menarik, murah, tetapi berkualitas tersebut terletak di Jl Inspeksi Saluran Tarum Barat, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, atau lebih dikenal dengan nama Jl Kalimalang.

Tempat ini tepatnya berada sebelum pintu masuk Cipinang Indah bila dari arah Jakarta ke Bekasi. Paung (50), pembuat furnitur di Toko Barokah Furnitur yang ditemui SH baru-baru ini, mengatakan, harga produk yang ditawarkan relatif lebih murah. Di samping itu, yang menjadi keunikan toko ini adalah menyerahkan sepenuhnya kepada konsumen bentuk atau gambar dari furnitur yang akan dipesan.

“Pada prinsipnya, kami bisa mengerjakan semua permintaan konsumen. Mulai dari meja, lemari, kasur, perabotan dapur, rak buku, dan lainnya. Semua furnitur yang kami hasilkan, dijamin tahan lama dan kuat karena kami menggunakan kayu palet atau kayu yang khusus digunakan untuk peti kemas untuk ekspor-impor,” ujarnya.

“Untuk harga yang paling murah adalah meja dengan ukuran panjang 90 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 50 cm seharga Rp 150.000. sementara harga termahal yang pernah kami jual adalah lemari yang tingginya 2 meter dan panjang 4 meter dengan harga Rp 4,5 juta. Untuk ukuran kecil, kami bisa selesaikan dalam waktu 2-3 hari. Namun bila ukurannya besar, kami membutuhkan waktu lebih lama lagi,” tuturnya.

Mengenai pendapatan dari hasil usahanya, menurut Paung, “Alhamdulilah, selama ini usaha kami tidak pernah sepi pelanggan, minimal per hari ada satu orang yang memesan perabotan. Bahkan ada yang pernah memesan perabotan lengkap mulai dari yang kecil hingga besar karena orang tersebut baru saja pindahan,” jelasnya.

Terkait kualitas, menurut Pendi, pembuat furnitur lainnya, ia memberikan jaminan alias garansi. “Kalau soal kualitas jangan khawatir. Selama saya membuat perabotan atau furnitur, tidak pernah ada konsumen yang protes atas hasil buatan saya. Kebanyakan mereka puas,” ungkapnya.

“Bagi mereka yang ingin memesan, cukup memberikan contoh desain atau gambar yang mereka inginkan. Dengan adanya contoh, kami bisa membuat sama dengan contoh desain yang diberikan,” jelasnya. “Seperti halnya meja komputer, konsumen cukup memberikan contoh desainnya maka hasilnya pun akan sama dengan contoh, bahkan dengan kualitas yang lebih baik,” katanya.

Ingin Maju, Manajemen Perlu Dibenahi

Walau Tonik terus berinovasi dari segi produk, model, dan warna, ternyata hal itu belum cukup membuat Amalia Thessen puas. Setelah enam tahun berjalan, ia merasa masih ada hal yang mengganjal dan bisa mempengaruhi kelangsungan bisnisnya ke depan, terutama mengenai manajemen dan pemasaran produk.

Memang  bisnis fesyen dan aksesori yang dijual di Toko Unik atau Tonik bisa dibilang telah menimba sukses. Lahat saja, kini jaringan Tonik telah mampu menghasilkan duit ratusan juta rupiah per bulan. Namun kesuksesan itu tak lantas membuat si empunya Tonik, Amalia Thessen puas. Amalia merasa harus ada perbaikan dari segi manajemen agar usahanya ini dapat berkembang lebih melesat lagi.

Amelia mengenang, ketika kuliah, seorang karibnya menasehati, untuk mengembangkan usaha maka perlu manajemen yang baik, terutama mengenai manajemen keuangan. “Sobat saya bilang, usaha sudah punya pelanggan. Karena itu dengan manajemen yang baik pasti akan lebih berkembang,” ujar Amelia mengenang nasihat sobatnya itu.

Nasehat itu memang tak berlebihan. Amelia mengakui, dia memang terlalu fokus dalam pengembangan fesyen dan aksesori. Baginya, manajemen maupun pengelolaan pemasaran masih dinomorduakan.

Perempuan yang mengaku idealis dalam hal fesyen ini berniat untuk membenahi dan menyusun sistem manajemen usahanya ini. “Bulan depan kami juga akan menggunakan jasa akuntan untuk mengaudit keuangan,” beber Amelia.

Soal pemasaran pun bakal digarap lebih serius. Setelah memasang logo Tonik di paper bag dan produk sepertikaos, tas, dan dompet, kini Amelia berniat memasang Igo Tonik di produk aksesori seperti gelang dan kalung. Selain im, logo Tonik juga bakal mejeng di mana-mana. Kini logo itu baru tertempel di kendaraan operasional atau di lokasi bazar atau pameran.

Menurutnya sistem manajemen dan pemasaran ini sangat penting. Maklum, pada 2012 nanti, Amelia berambisi membuka toko grosiran yang lebih besar. “Sebelum mencapai itu semua kami harus punya sistem manajemen yang kuat,” ungkapnya

Niat Lia untuk membuka toko grosiran sudah mulai ia rancang. Ia sudah menyiapkan tempat di Mal Ambassador, Jakarta Selatan. Ia menganggap pengunjung mal itu seseuai dengan segmen pasar yang dia garap. “Kami tak asal tunjuk tempat, kami sudah riset sebelumnya bahwa produk kami banyak juga yang dijual di tempat tersebut,” tandasnya

Ambisi Amelia lainnya adalah membuka Tonik di mal premium, sekaliber Grand Indonesia Ia yakin, produk fesyen yang ditawarkan di Tonik bisa merepresentasikan produk fesyen lokal yang berkualitas yang tak kalah dengan produk impor.

Keyakinan itu dilandasi dari pengalamannya saat memproduksi dan menjual syal ikat dari bahan kaos, pada 2010 lalu. Tak dinyana, “Awal yang tidak disengaja itu temyata sambutannya luar biasa besar,” ujar Amelia.

Dalam sehari syal itu bisa terjual hingga 150 pieces dengan harga Rp 75.000 per buah. Amelia menyatakan, antusiasme pelanggan terhadap produknya itu lantaran syal tersebut hampir memiliki persamaan dengan syal yang dijual di toko retail premium seperti Zara.

Hal itu pun dibenarkan oleh Ebi Febrian, sekondan Amelia dalam mengelola Tonik. Menurut Ebi, produk syal tersebut seharusnya bisa menjadi ikon Tonik. Namun karena buruknya manajemen pemasaran syal tersebut, penjualan syal itu tak berlangsung lama karena kompetitor langsung berbondong-bondong membuat produk serupa. “Bisa dibilang

Tonik pernah menjadi iamlsrtter dalam syal ikat sebelum muncul pemain lain yang ikut memproduksi syal serupa tanpa kami ketahui sebelumnya,” ujar Ebi. Manisnya berjualan syal tersebut hanya bisa bertahan selama enam bulan.

Itulah sebabnya, Amelia menegaskan, ketika manajemen Tonik mulai kuat, ia bakal membangkitkan lagi produk yang pernah sukses dibesutnya seperti pil), sepatu lukis, dan syal ikat. “Karena tren pasar saat ini masih ke arah baju dan aksesori,” tukas Amelia.

Yanti Riyanto, reseller Tonik di Jakarta menambahkan, kelebihan produk Tonik adalah banyaknya referensi soal model serta kreativitas yang dimiliki oleh Amelia dan team kreatifnya membuat pelanggan tak pernah jenuh dengan produk yang dihasilkan. “Saya juga nyaman kerjasama dengan Tonik dan Amelia,” pungkas Yanti.

Pemerintah Targetkan 1.000 Wirausaha

 Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hassan menargetkan pertumbuhan wirausaha baru di Indonesia bisa lebih cepat dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Untuk itu. berbagai upaya demi memungkinkan tumbuhnya pelaku wirausaha baru harus dilakukan.

“Wirausaha sangat penting bagi kemajuan ekonomi suatu negara. Wirausahalah yang menciptakan lapangan kerja. Kita harus bisa ciptakan 1.000 wirausaha baru dalam tiap tiga bulan,” kata Syarif Hassan saat menutup acara Pelatihan Kewirausahaan dan Penyerahan Bantuan Permodalan bagi Wirausaha Pemula di SME Tower. Jakarta, Senin (21/11).

Jika mampu menciptakan wirausaha baru sebanyak itu. Syarif Hassan yakin masalah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia bisa lebih ditekan. Saat ini masih ada sekitar 4,46 juta muda-mudi (usia 17-30 tahun) yang tidak memiliki pekerjaan. Karena itu. Kementerian Koperasi dan UKM akan memberikan stimulan berupa perkuatan permodalan bagi pelaku wirausaha baru melalui tujuh koperasi sebagai penyalur pinjaman sebesar Rp 7 miliar. Bantuan permodalanini akan disalurkan pada 284 wirausaha pemula yang telah mengikuti pelatihan kewirausahaan.

“Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendorong agar generasi muda lebih bangkit memanfaatkan kesempatan dan meraih peluang melalui wirausaha, menciptakan pengembangan kewirausahaan yang terintegrasi.” tutur Syarif Hassan. Ia menegaskan, perluasan kesempatan kerja tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan sektor usaha formal, tapi juga potensi usaha di tingkat masyarakat dan perseorangan.

Dengan bantuan dana Rp 7 miliar, diharapkan akan menjadi pemicu bagi para wirausaha pemula agar dapat lebih berdaya saing secara nasional maupun global. Deputi SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Agus Muharam. menga- takan berbagai upaya pelatihan bagi wirausaha pemula saat ini penting dilakukan di berbagai tempat. Pelatihan dimaksudkan untuk memberi motivasi, meningkatkan pengetahuan dan keterampi-. lan berwirausaha, agar lebih mandiri dan kreatif ke depan.

Jadi Eksportir dengan Modal Rp 5 Juta

Perjalanan Abdul Haris Noor merintis bisnis ukiran kaligrafi berawal dari kegagalan. Sebelumnya, dia pernah bangkrut ketika berbisnis mesin packaging mebel dan bangkrut pula dalam bisnis mebel. Namun Abdul pantang menyerah dengan memulai merintis usaha ukiran kaligrafi Hanya dengan modal Rp 5 juta.

Tidak mudah bagi AbduJ Haris Noor meraih sukses dalam bisnis ukiran kuligrali dari kayu jati. Pria kelahiran Jepara ilu harus melewati rintangan berat sebelum . akhirnya mampu jadi eksportir ukiran kaligrafi ko mancanegara.

Keberhasilan Abdul menghadapi rintangan tak lepas dari peran keluarganya yang hidup sederhana. Ia dibesarkan dari ayah yang pekerja keras yang berprofesi sebagai tukang Kayu. Berkaca dari orangtua, Abdul pun tumbuh menjadi sosok pekerja keras. Selain itu, pelajaran hidup yang diterima dari sang ayah membuatnya menjadi sosok yang teguh pada pendirian. Karena keteguhan itulah, Abdul enggan kuliah pada jurusan yang tidak ia inginkan. Setelah tamat Abdul mendapat tawaran beasiswa dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug, Tangerang, Banten,

Namun kesempatan belajar gratis menjadi pilot itu ia lewatkan begitu saja. Abdul hanya belajar dua pekan, setelah dia kembali pulang tanpa pamit pada pengeli tia kampus. “Saya merasa enggak nyaman, maklum orang desa,” kenang Abdul.

Sejak hengkang dari kampus STIP, Abdul memutuskan memadi “pilot” angkutan umum di Jepara. Dari hasil menyopir itu. Abdul tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. “Uang imsaya pakai ongkos masuk kuliah,1 tetang Abdul.

Setelah dua tahun menjadi sopir Abdul memutuskan kuliah di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta. di kampus itulah Abdul belajar tentang teknologi hasil hutan, termasuk teknologi yang berkaitan dengan pengolahan kayu

Setelah kuliah. Abdul sempat bekerja iii perusahaan baja, hingga akhirnya di PHK Namun begitu. Abdul tidak melupakan keilmuannya di bidang teknologi pengolahan hasil hutan.

Bermodal ilmunya itu Abdul mengajak sahabatnya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi packaging mebel tahun 1999. Dengan membawa bendera CV Mitra Radiant, Abdul memasarkan mesin packaging mebel kepada perusahaan mebel di Jepara.

Hampir tiga tahun bisnis penjualan mesin packaging itu berjalan lancar. Sampai tahun2002, Abdul dan sahabatnya mulai pecah kongsi hingga akhirnya berpisah Saya memilih melanjutkan usaha sendirian,” kata Abdul. Selepas itu, Abdul mendirikan perusahaan baru bernama Mandiri Wirastama, yang bergerak di bidang penjualan mebel. “Perusahaan ini berkembang hingga bisa ekspor,” terang Abdul.

Tiga tahun lamanya, dua perusahaan itu berkembang beriringan. Memasuki tahun 2005, kedua perusahaan itu mulai goyah karena terlilil krisis finansial. “Banyak mitra bisnis saya tidak membayar tagihan, terang dia. Tagihan macet itu membuat kedua perusahaan im tumbang, Abdul mengaku mengalami kerugian hingga Rp 100 juta akibat kredit macet itu. Saya sempat menagih utang seperti pengemis,” kenang Abdul.

Karena tagihan tak kunjung dibayarkan mitra, Abdul menghentikan operasional kedua perusahaan. Ia juga menjual aset perusahaan. Yang tersisa hanya Hp 5 juta,” katanya. Walaupun usahanya bangkrut, Abdul tidak patah arang. Dengan modal yang tersisa. Abdul melirik peluang usaha baru yaitu ukiran kaligrafi dari kayu jan “Saya itu saya ganti namaperusahaan menjadi CV Radiant Suryatama,” katanya.

Dengan modal seadanya, Abdul mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membual ukiran kaligrafi tersebut. “Saya sempat jadi balian olokan karena bikin kaligrafi,” kata Abdul. Setelah berhasil memproduksi kaligrafi, Abdul malah kebingungan menjual, karya itu hampir setahun lamanya Abdul tak kunjung mendapatkan pangsa pasar ukiran kaligrafi kayu itu.

Pada 2005, Abdul kemudian memutuskan ikut pameran kerajinan di Kementerian Perindustrian di Jakarta. Pameran inilah yang membawa perubahan bagi bisnis kaligrafinya. Selain mendapat pembeli, pameran Itu mempertemukan Abdul dengan teman lama yang mau memberikan bantuan modal tanpa agunan kepadanya. “Dari sil ulah nuk bidik bisnis saya,” terang Abdul.