Menciptakan Ide yang “Bening”

Jika Anda memutuskan terjun ke dunia bisnis atau usaha, ajak pemikiran Anda masuk dalam ranah: apa yang mau dikerjakan. Luangkan waktu beberapa saat sampai Anda menangkap dengan jelas aspek “what”-nya ini sampai gambaran itu menjadi jelas. Makin bening makin baik. A cristal clear, sebening kristal.

Pada fase ini umumnya pikiran kita juga akan sangat tergoda untuk bergerak ke “how”, sebuah mekanisme teknis bagaimana mencapainya. Jangan terlalu cepat terkecoh ke arah itu. Masing-masing segmen tersebut punya waktunya sendiri-sendiri. Memikirkan “what” dan “how” akan membuat Anda maju-mundur.

Catatan kehidupan para pebisnis besar global mengajarkan tidak ada satu pun dari mereka yang paham cara-cara mewujudkan ide bisnis mereka ketika ide bisnis itu muncul. Namun, mereka amat jelas dengan ide tersebut, hanya caranya yang belum muncul. Tidak menjadi masalah. Ia akan timbul sesuai dengan waktunya sendiri. Ia akan hadir sesuai dengan perkembangan kemajuan.

Mencoba menyelesaikan faktor “what” dan “how” dalam waktu yang bersamaan sama saja dengan mencoba menangkap dua kelinci sekaligus dalam satu satuan waktu. Kita akan menjadi lelah dan lari ke sana kemari, tanpa bisa menangkap keduanya. Lain hal jika kita menangkapnya satu per satu.

Kalau “what”-nya sudah dapat, kita perlu memastikan agar kejelasan atas “what” itu berhubungan dengan getaran rasa dan semangat dalam diri kita. Dengan kata lain, berkaitan dengan gairah (passionate) dalam diri. Sebuah kejelasan bisnis, yang tidak memercikkan passionate mungkin saja bisa jalan, tetapi tidak akan masuk kategori besar. Ia mungkin hanya akan hidup saja, sebatas kelangsungan hidup, tapi tidak membuat diri Anda mekar penuh.

Untuk menguji getaran passionate terhadap apa yang hendak Anda ciptakan dalam kegiatan usaha tersebut, lontarkan pertanyaan pada diri sendiri: mengapa hal-hal yang mau Anda kerjakan (the what) itu penting. Seberapa penting bagi Anda? Mengapa Anda mau melakukannya? Kalau ada orang yang bernama Kendala hendak mencegahnya, seberapa jauh hasrat Anda untuk membela kelahiran janin ide bisnis tersebut?  

Kalau jawaban Anda atas pertanyaan mengapa begitu penting bagi Anda untuk menghasilkan produk atau jasa tersebut, membuat Anda tersenyum dan bangga, getaran passionate itu sudah mulai beresonansi. Kalau jawaban tadi membuat darah Anda berdesir, seperti seorang pria tergoda melihat gadis cantik yang aduhai, reaksi kimia dalam tubuh (biokimia dalam otak) akan merangsang Anda dan memberi Anda semangat, bensin dan kegairahan untuk mencapainya.

Pikiran, emosi, dan kehendak kita akan menjadi sahabat dalam mencapai apa yang ingin kita kejar. Namun, jika Anda bertanya pada diri sendiri dan jawaban yang muncul tidak menimbulkan reaksi sama sekali, seperti garis datar, maka di sana amat mungkin tidak ada keterikatan.

Kalau Anda membaca tentang “what” yang ada dalam organisasi, tentang hal-hal yang ingin dicapai organisasi namun tidak mendeteksi sebuah getaran dalam diri atau desiran dalam darah yang membuat Anda “on”, sangat mungkin tidak  akan banyak hal yang bisa Anda hasilkan di organisasi tersebut.

Kalau bergerak ke arah yang sama, ia akan seperti struktur magnet. Anda akan magnetize orang lain. Orang akan dengan sukarela mengikuti kepemimpinan dan visi bisnis Anda karena sinar mata Anda akan memancarkan hal tersebut.

Tip Sukses Menjadi Pelaku UKM

Memiliki  usaha menjadi Impian banyak orang. Sayangnya tidak banyak orang yang sukses membangun usaha. Apalagi di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat saat Ini. Belum lagi risiko yang harus dihadapi pelaku usaha dan mental untuk menghadapi berbagai kegagalan.

Tetapi, banyak cara dan tip yang bisa dipelajari untuk membantu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) menjalankan usahanya. DI bawah Ini beberapa langkah yang perlu diperhatikan agar usaha bisa berjalan.

1.Fokus Mengembangkan Skill

Modal utama dalam menjalankan usaha adalah skill Pelajari apa yang menjadi kelebihan Anda dan tingkatkan kemampuan tersebut sebagai kekuatan utama untuk menjalankan usaha sebaik-baiknya. Fokuslah pada bidang yang disukai dan delegaslkan bidang Iain yang sekiranya kurang dipahami pada rekan kerja yang lebih ahli. Ini akan lebih efektif.

2.Prioritaskan Bisnis Anda

Bisnis yang sedang berkembang membutuhkan banyak waktu, tenaga dan perhatian. Prioritaskan urusan bisnis diurutan pertama, agar tertangani dengan optimal dan bisa berjalan dengan lancar. Jangan Jalankan bisnis setengah hati.

3. Rencanakan Kesuksesan

Sebagai pelaku UKM. tetap dituntut untuk memiliki visi yang besar dan sudah pasti didukung oleh perencanaan yang matang. Tulis tujuan dan rencanakan langkah-langkah pasti untuk mencapainya.

4. Selalu Optimis

Pelaku UKM harus memiliki pandangan Jauh ke depan dan selalu optimistis dengan target-target yang telah mereka tentukan. Hal Ini penting agar selalu yakin dengan keberhasilan dan termotivasi untuk bisa mencapai keber-hasilan-keberhastlan tersebut. Optimistis membantu mengalahkan hambatan yang muncul di tengah Jalan.

5.Buatlah Pembukuan Sederhana

Pelaku UKM Juga wajib membuat pembukuan sederhana untuk mencatat semua transaksi yang telah terjadi. Langkah Ini penting agar setiap pemasukan serta pengeluaran usaha bisa tercatat dengan balk serta bisa melihat untung rugi perusahaan. Tidak perlu membuat laporan keuangan yang rumit, yang sederhana cukup membantu asal benar dan rapi.

Jadi Eksportir dengan Modal Rp 5 Juta

Perjalanan Abdul Haris Noor merintis bisnis ukiran kaligrafi berawal dari kegagalan. Sebelumnya, dia pernah bangkrut ketika berbisnis mesin packaging mebel dan bangkrut pula dalam bisnis mebel. Namun Abdul pantang menyerah dengan memulai merintis usaha ukiran kaligrafi Hanya dengan modal Rp 5 juta.

Tidak mudah bagi AbduJ Haris Noor meraih sukses dalam bisnis ukiran kuligrali dari kayu jati. Pria kelahiran Jepara ilu harus melewati rintangan berat sebelum . akhirnya mampu jadi eksportir ukiran kaligrafi ko mancanegara.

Keberhasilan Abdul menghadapi rintangan tak lepas dari peran keluarganya yang hidup sederhana. Ia dibesarkan dari ayah yang pekerja keras yang berprofesi sebagai tukang Kayu. Berkaca dari orangtua, Abdul pun tumbuh menjadi sosok pekerja keras. Selain itu, pelajaran hidup yang diterima dari sang ayah membuatnya menjadi sosok yang teguh pada pendirian. Karena keteguhan itulah, Abdul enggan kuliah pada jurusan yang tidak ia inginkan. Setelah tamat Abdul mendapat tawaran beasiswa dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug, Tangerang, Banten,

Namun kesempatan belajar gratis menjadi pilot itu ia lewatkan begitu saja. Abdul hanya belajar dua pekan, setelah dia kembali pulang tanpa pamit pada pengeli tia kampus. “Saya merasa enggak nyaman, maklum orang desa,” kenang Abdul.

Sejak hengkang dari kampus STIP, Abdul memutuskan memadi “pilot” angkutan umum di Jepara. Dari hasil menyopir itu. Abdul tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. “Uang imsaya pakai ongkos masuk kuliah,1 tetang Abdul.

Setelah dua tahun menjadi sopir Abdul memutuskan kuliah di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta. di kampus itulah Abdul belajar tentang teknologi hasil hutan, termasuk teknologi yang berkaitan dengan pengolahan kayu

Setelah kuliah. Abdul sempat bekerja iii perusahaan baja, hingga akhirnya di PHK Namun begitu. Abdul tidak melupakan keilmuannya di bidang teknologi pengolahan hasil hutan.

Bermodal ilmunya itu Abdul mengajak sahabatnya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi packaging mebel tahun 1999. Dengan membawa bendera CV Mitra Radiant, Abdul memasarkan mesin packaging mebel kepada perusahaan mebel di Jepara.

Hampir tiga tahun bisnis penjualan mesin packaging itu berjalan lancar. Sampai tahun2002, Abdul dan sahabatnya mulai pecah kongsi hingga akhirnya berpisah Saya memilih melanjutkan usaha sendirian,” kata Abdul. Selepas itu, Abdul mendirikan perusahaan baru bernama Mandiri Wirastama, yang bergerak di bidang penjualan mebel. “Perusahaan ini berkembang hingga bisa ekspor,” terang Abdul.

Tiga tahun lamanya, dua perusahaan itu berkembang beriringan. Memasuki tahun 2005, kedua perusahaan itu mulai goyah karena terlilil krisis finansial. “Banyak mitra bisnis saya tidak membayar tagihan, terang dia. Tagihan macet itu membuat kedua perusahaan im tumbang, Abdul mengaku mengalami kerugian hingga Rp 100 juta akibat kredit macet itu. Saya sempat menagih utang seperti pengemis,” kenang Abdul.

Karena tagihan tak kunjung dibayarkan mitra, Abdul menghentikan operasional kedua perusahaan. Ia juga menjual aset perusahaan. Yang tersisa hanya Hp 5 juta,” katanya. Walaupun usahanya bangkrut, Abdul tidak patah arang. Dengan modal yang tersisa. Abdul melirik peluang usaha baru yaitu ukiran kaligrafi dari kayu jan “Saya itu saya ganti namaperusahaan menjadi CV Radiant Suryatama,” katanya.

Dengan modal seadanya, Abdul mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membual ukiran kaligrafi tersebut. “Saya sempat jadi balian olokan karena bikin kaligrafi,” kata Abdul. Setelah berhasil memproduksi kaligrafi, Abdul malah kebingungan menjual, karya itu hampir setahun lamanya Abdul tak kunjung mendapatkan pangsa pasar ukiran kaligrafi kayu itu.

Pada 2005, Abdul kemudian memutuskan ikut pameran kerajinan di Kementerian Perindustrian di Jakarta. Pameran inilah yang membawa perubahan bagi bisnis kaligrafinya. Selain mendapat pembeli, pameran Itu mempertemukan Abdul dengan teman lama yang mau memberikan bantuan modal tanpa agunan kepadanya. “Dari sil ulah nuk bidik bisnis saya,” terang Abdul.

Mantan Karyawan Raih Impian

Mereka hengkang dari posisi sebagai karyawan perusahaan untuk mewujudkan keinginan menjadi orang kaya.

Rangga Umara, 32, memutuskan berhenti bekerja di kantornya di perusahaan properti Jakarta saat kebutuhan hidupnya mulai meninggi. “Gaji di perusahaan properti waktu itu tiga koma. Maksudnya, setelah tanggal tiga, kantong sudah koma,” ungkap Rangga seraya tertawa.

Menurut dia, karyawan apa pun tidak menjadikan seseorang kaya. Jadi, memiliki usaha sendiri merupakan satu-satunya jalan untuk menjadi kaya.

Ia lalu pindah haluan. Karena terbawa oleh hobinya yang doyan makan. Rangga mendirikan warung pecel lele. “Pecel lele makanan khas Indonesia, mudah dijumpai, namun belum banyak yang berani tampil beda. Selama ini kebanyakan warung lele tampilannya begitu-begitu saja,” kata Rangga yang hadir dalam Kick Andy episode KnryauHin No, Itiragan Yes.

Pad,a 2007, Rangga membuka usaha pecel lele pertamanya di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. “Modalnya saya dapat dari hasil menjual jam tangan, handphone, parfum, dan alat penggetar perut yang ada di rumah. Totalnya Rp3 juta,” sambungnya. Ia lantas menggandeng temannya yang pintar meracik bumbu.

Gerai pertamanya menempati bangunan berukuran 2×3 meter. Namanya Lele Iela. Kata Lela adalah akronim dari lebih laku atau, lebih laris. Rangga punya konsep untuk mewujudkan nama itu. “Tempat harus nyaman, orang datang tak sekadar makan, tapi juga mau mc-, nikmati suasana,” sambungnya.

Usaha warung lele itu tidak serta-merta berkembang. Pada rentang 2007-2008, Rangga mengaku mengalami periode yang berat. Ia terlilit utang kepada rentenir. Keuntungannya habis untuk membayar sewa. Enam cabang pertamanya harus ditutup.

Keuangan keluarganya makin minus sampai-sampai Rangga bersama istrinya. Sih Umairah, serta anak mereka diusir keluar dari kontrakan karena tidak mampu membayar lagi.

Meski begitu. Rangga tetap konsisten. Olahan lele dikembangkannya, disertai standar operasi pelayanan yang dibuat unik. Misalnya, setiap pengunjung Lele Lela disambut dengan ucapan selamat pagi dalam intonasi yang bersemangat. Setiap pengunjung yang meninggalkan gerai pun mendapat ucapan terima kasih, selamat datang kembali!.

Sekarang, pria kelahiran 1979 itu mempunyai 42 cabang Lele Lela se-Indonesia dengan omzet Rp4,8 miliar per bulan. Mereka menyediakan makanan gratis bagi yang sedang berulang tahun dan bagi pengunjung yang bernama Lela.

Kesuksesan Rangga rupanya bermula ketika ia menuliskan obsesi, ambisi, dan impian yang ingin diraihnya dalam sebuah buku yang ia sebut dream book. Tidak hanya menuliskan keinginan, Rangga juga menuliskan usaha untuk mencapainya serta target keuntungan. Lewat dream book itu, Rangga mengumpulkan semangat dan menarik energi positif agar im-piannya tercapai.

Kini, ayah dua anak tersebut sedang berupaya mewujudkan impian lain, yakni membuka cabang Lele Lela di Mekah.

Buka distro

Selain Rangga, ada Mohamad Rosihan, 38, yang banting setir menjadi penjual busana muslim dengan brand Saqina setelah keluar dari pekerjaannya sebagai konsultan internet bergaji Rp7,5 juta sebulan.

Pria lulusan Jurusan Geodesi Institut Teknologi Bandung ini kemudian mendirikan perusahaan teknologi informasi sendiri.

Penghasilan perusahaan hampir mencapai angka Rpl miliar per tahun, dengan sebuah konsekuensi. Usaha tersebut diakuinya sangat melelahkan karena proyek-proyeknya ditangani langsung oleh Rosihan sendiri. Saat berada di puncak karier perusahaannyasendiri. Rosihan jus- tru memutuskan menutup perusahaan itu.

Tahun 2006 saya merintis bisnis ritel, dagang. Alasannya, saya ingin mencari bisnis yang lebih simpel, yang bisa saya delegasikan kepada karyawan, untungnya besar dan cepat, pasarnya jelas,” tutur Rosihan.

Ia lalu melirik distro. Dalam setahun, ia membuka lima distro-dinamai Saqina-yang menjual busana muslim wanita, gamis, kerudung, aksesori busana muslim, baju koko, sarung, mukena, dan perlengkapan haji.

“Segmennya menengah tengah, bukan menengah ke bawah atau menengah ke atas. Harganya berkisar Rp75 ribu sampai Rp300 ribu,” tambahnya.

Rosihan mempromosikan produk ililw Saqina menggunakan media online. Order pun membanjirnya. Pelanggannya datang dari seluruh Nusantara, juga dari mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, Brunei, Dubai, Prancis, Amerika, dan Australia. Rosihan bahkan memiliki reseller di Malaysia. Alhasil, omzetnya pun melonjak 50 I

Jadi wirausaha, menurut Rosihan, merupakan pilihan, bukan sampingan. Konsisten dan fokus buat dia adalah harga mati. “Hidup dan mati seorang wirausaha ya di situ. Jika sudah begitu, dia akan struggle dari kondisi apa pun, bahkan paling buruk sekalipun. Selain itu, harus membuat target baru sehingga bisa terus berkembang. Jangan pernah merasa puas,” tegasnya berbagi kiat.

Setelah 11 tahun

Kisah Dewanto Purnomo, 40, lain lagi. Setelah beberapa kali pindah perusahaan, pada 18 September 2000, Dewanto diterima di sebuah badan usaha milik negara (BUMN) bidang jasa keuangan nonbank.

Saat anak pertamanya lahir, Dewanto terdesak untuk menghasilkan uang lebih banyak. “Lima hari sejak kelahiran, anak saya didiagnosis mengalami bocor jantung. Dia juga didiagnosis (menderita) attention deficit hyperactivity disorder, mirip autisme. Jadi butuh banyak biaya,” akunya

Karena itu. Dewanto memutuskan untuk membuka usaha sampingan. Pada 2005 ia bersama beberapa rekannya membuka usaha kuliner bakmi raos. Pendapatan Dewanto dari usaha tersebut mencapai 5-6 kali lipat gajinya sebagai pegawai. Lalu, ia bersama rekan-rekannya membentuk Master Franchise Bakmi Raos Grup.

Ia pun menambah usahanya dengan membuka depo susu segar dan menjalin kemitraan dengan Jimbo

Laundry House untuk membuka usaha laundry kiloan.

Di awal 2011, Dewanto menjual seluruh bisnis depo susu segar -dan laundry kiloannva, sedangkan usaha bakmi diserahkan kepada adikm.i yang memiliki usaha katering rumahan.

Saat itu. Dewanto melihat peluang baru, yaitu penjualan boneka. Tahun 2007 saya menemukan pabrik boneka di Bekasi. Di pabrik itu ada tulisan yang kurang lebih berkata, selama wanita bisa melahirkan, peluang bisnis boneka selalu ada,” ucap Dewanto sambil tersenyum.

Ia juga berjualan lewat toko daring. Order membanjirnya. “Omzetnya mencapai puluhan juta,” katanya singkat. Permintaan datang dari berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, Jakarta, Bali, dan Sulawesi.

Boneka yang dia juol lewat beberapa laman seperti umno.boneka-lucu.com, www.bonekobesbr.com, www. bom-kabear.com, umno.bonekaonline. com, dan www.bonelcBangtybird.coni bisa dibeli satuan. Untuk memasok kebutuhan konsumennya. Dewanto bekerja sama dengan 12 pemasok dan 125 industri rumahan yang memproduksi boneka.

Pada 2011, setelah 11 tahun bekerja sebagai karyawan, Dewanto akhirnya memutuskan untuk meninggalkan jabatannya di BUMN. “Penyebabnya adalah karena absensi saya banyak yang bolong. Terutama absensi pagi, siksaan pertama kalau berangkat pagi ke kantor. Begitu telat pasti merasa bersalah,” ucapnya.