Usaha Pembuatan Tepung Mocaf

Tepung mocaf (modified cassava flour) merupakan bahan alternatif pengganti terigu. Permintaan tepung ini pun besar seiring berkembangnya usaha makanan. Para produsen tepung mocaf pun bisa menangguk omzet besar, dari puluhan hingga ratusan juta setiap bulan.

Menjamurnya berbagai usaha pengolahan makanan, meningkatkan kebutuhan tepung terigu. Sayangnya, kenaikan permintaan ini tak diimbangi oleh ketersediaan tepung terigu. Sekedar informasi, tepung terigu yang kita konsumsi dibuat dari balian baku gandum. Nah, produsen terigu masih mengimpor gandum dari luar negeri karena tanaman padi-padian ini belum bisa dilnididayakan secara besar-besaran di Tanah Air. Maklum, gandum adalah tanaman subtropis.

Karena bahan baku terigu masih impor, harga terigu pun sering fluktuatif mengikuti harga gandum internasional. Salah satu solusi untuk menekan ongkos pembelian terigu, banyak pengusaha makanan atau roti yang kini beralih ke tepung mocaf.

Itulah sebabnya kebutuhan mocaf pun dari tahun ke tahun terus menanjak. Melihat ceruk bisnis ini, pengusaha asal Bogor, Darmanto, menjajal bisnis pembuatan tepung mocaf tersebut. “Saya membeli lisensi teknologi produksi tepung mocaf pada tahun 2009,” ujarnya.

Tahun lalu, dengan mengusung merek Good Health, Darmanto pun melakukan uji coba. Namun baru 2011 ini, ia memasarkan mocaf secara komersil. Mcnurut Darmanto, peluang pasar tepung mocafsangat besar. Apalagi, pemerintah berniat untuk mengurangi impor gandum sehingga tepung mocaf. memiliki potensi besar sebagai pengganti tepung terigu. Selain itu, pemain di bisnis tepung mocaf ini tidak terlalu banyak.

Darmanto menjual tepung mocaf butannya dengan harga Rp 7.500 untuk kemasan 1 kg dan Rp 187.500 untuk kemasan 26 kg. Sebagai bahan baku Pasokan singkong yangtergantungmusim menjadikendala padausaha ini.ic pinig mocaf, Darmanto membeli singkong segar dari petani di wilayah Bogor seharga Rp 1.200 per kg.

Saban hari, Darmanto mampu memproduksi tepung mocaf sebanyak 600 kg. Dalam sebulan, jumlah tepung mocaf yang berhasil diproduksi mencapai 14.400 kg. Ini berarti, tiap bulannya Darmanto berhasil mendulang omzet hingga Rp 108 juta. “Kami banyak menjual tepung mocaf untuk industri dan produsen kue,” kata Darmanto.

Selain Darmanto, Cahyo Handriadi juga memproduksi tepung mocaf. Berbeda dengan Darmanto, Cahyoadalah petani singkong di Trenggalek, Jawa Timur. Namun, selain menanam singkong, Cahyo juga mengolah singkong menjadi mocaf. “Sebab nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan singkong mentah. Selain itu prospek bisnis tepung mocaf juga cerah,” katanya

Dalam sebulan. Cahyo mampu memproduksi 10 ton mocaf. Untuk memproduksi tepung sebanyak itu,membutuhkan bahan baku singkong sebanyak 400 ton. Dengan harga jual tepung mocaf sebesar Rp 6.500 per kg. Cohyo mampu meraup omzet hingga Rp 65 juta per bulan. “Kami mensuplai industri makanan ringan dan mie instan di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, kata Cahyo.

Kendala bisnis ini sederhana, yakni pasokan singkong yang sering terlambat lantaran singkong sangat tergantung musim. Jika musim cukup bagus, yakni di musim kemarau, maka pasokan tepung mocaf tak akan tersendat.

Cahyo menceritakan, hanya singkong kering yang bisa diolah menjadi tepung mocaf berkualitas. Tahun lalu, karena banyak hujan, tak banyak singkong yang bisa dijadikan bahan baku mocaf. “Tahun lalu, kami tidak memproduksi dalam jumlah besar karena susah mendapatkan pasokan singkong yang sudah kering,” kata Cahyo.

Para Perempuan yang Bergelut di Bidang Ekonomi Kerakyatan

Puluhan barang kerajinan tangan berbahan eceng gondok menyesalti rumah berukuran sekitar 6 x 7 meter. Di setiap sudut ruangan, barang berbahan baku tanaman sungai itu berderet dengan rapi. Ada rak sepatu, topi, tas, kerangka hiasan lampu, keranjang, partisi ruangan, dan sebagainya.

Wiwit Manfaati baru mengontrak tempat showroom usaha handicraft tersebut sekitar dua bulan lalu. Lokasi itu tak jauh dah rumah kediamannya dj kawasan Kebraon Indah Permai. Dari usahanya yang dia tekuni bersama sang suami dalam lima tahun terakhir tersebut, akhirnya Wivvit Collection meraih predikat terbaik 1 untuk kategori Handicraft. Sedangkan penghargaan untuk kategori Fresh Food diraih UMKM Rosela dari Simokerto dan kategori Grocery Food dipegang UMKM Mandiri Sejahtera dari Genteng.

Wiwit menceritakan, UMKM yang dikembangkannya bukanlah UMKM dadakan. Meskipun berawal dari sebuah keisengan mengisi waktu luang. Ibu tiga anak itu menjelaskan, pada 2007 pemkot mengadakan pelatihan kerajinan tangan di kantor kecamatan dan Wiwit menjadiserta menyulam.

Itu pun dilakukannya hanya karena senang dan hasilnya untuk dipakai sendiri. Meski pada akhirnya dijual juga, namun dalam skala kecil dan dilakukan tidak secara profesional. “Sebenarnya, eceng gondok ini termasuk baru bagi saya. Waktu pertama mencoba, saya kesulitan. Membuat tas, anyamannya banyak yang menceng,” ujarnya.

Meski demikian, Wiwit tetap mencobanya terus. Ternyata. angka kesulitan menganyam eceng gondok tidak malah membuatnya menyerah. Bahannya yang tergolong ulet dan keras diakuinya memang berbeda jauh bila dibandingkan dengan merajut anyaman dengan bahan benang atau pita. Sebaliknya, dia malah tertantang. Apalagi, di belakang rumahnya ada waduk dan tempat itu dijadikan area pengepul bahan dasar eceng gondok kering. Jadi, dia tidak kesulitan untuk mencari atau membeli bahan bila inginberkreasi atau bereksperimen.

Lama-kelamaan Wiwit bisa membuat anyaman yang bagus. Awalnya dia tidak berpikir mau menjualnya. Yang ada di pikirannya membuat barang yang berkualitas sebanyak-banyaknya. “Sewaktu ada orang pemkot sedang road show acara green and clean, dia tertarik pada kerajinan yang sedang saya buat. Lalu barang-barang saya dibawa ke bappeko untuk dipamerkan,” jelasnya

Sekarang omzet penjualan kerajinan karya ibu tiga anak itu bisa mencapai Rp 15 juta perbulan. “Keuntungan bersihnya bisa setengahnya,” ungkap dia. Wiwit juga sudah bisa mempekerjakan ibu rumah tangga dari kampung sebelah.

Sejak pertengahan 2010, suami yang awalnya masih berprofesi sebagai wirausaha berbagai bidang, seperti jual kembang dan sepatu, bahkan sopir rental mobil, memutuskan untuk lebih fokus sepenuhnya di UMKM Wiwit Collection.

Usaha Iseng Berbuah Omset Rp 250 juta

Berawal dari menerima pesanan pin, kini penjualan Kretakupa selalu meningkat 200 sampai 400 persen per tahun.emulai bisnis tak selalu rumit atau harus bermodal besar. Simak saja apa yang dilakukan Andi Arham Bunyamin, Pemenang II Wirausaha Muda Mandiri 2010 Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana Bidang Usaha Industri dan Jasa. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin Makassar ini memulai usahanya hanya karena iseng semata. Modalnya pun amat minim, tak lebih dari Rp SO ribu. Itu pun, uang milik temannya. .-

Semua berawal pada 2007, saat ia menunjukkan kemampuannya mendesain pin kepada rekan-rekan sekelasnya di SMA. Bak gayung bersambut, seorang teman memberinya “proyek” pencetakan 50-100 buah pin dengan uang muka Rp 30 ribu. Padahal, waktu itu Arham hanya piawai mendesain gambar pin saja. “Saya saat itu belum tahu sama sekali mau mencetak desain pin di mana,” kenang Arham.

Beruntung, setelah seminggu mencari-cari, secara tak sengaja ia menemukan gerai kecil yang menampilkan beberapa model pin, dan bisa mencetak pesanan pin. Maka, pin pesanan rekan-rekan sekelas Arhan pun bisa beres. Dengan modal Rp 3.700 per pin, dan Arham menjual ke temannya dengan harga satuan Rp 4.700.

Sejak itu, pria yang hobi main kom-puter ini kerap menerima lebih banyak order dari teman-teman SMA-nya di Makassar. “Dalam sebulan saya bisa dapat order 200-300 buah pin,” cerita Arham.

Kini, bisnis pencetakan pin yang begitu sederhana tadi ternyata berkembang sangat pesat. Lihat saja. Pada 2009, usaha Arham yang dinamakan Kretakupa itu sudah menerima pesanan dari Wajo, Sopeng, dan bahkan dari Kalimantan. Penjualannya pun meningkat sekitar 200 persen hinga, mencapai Rp 100 juta sepanjang 2010.

Tentu saja, sukses Kretakupa tadi ada resepnya. Arham selalu memutar otak untuk bisa memperluas pasar dan meraup laba lebih besar. Coba lihat. Ketika margin keuntungannya masih Rp 1.000 per pin, ia pun berkeras untuk bisa memiliki mesin pencetak pin sendiri. Dengan mesin sendiri, ia hanyabutuh modal bahan seharga Rp 1.000 per pin. Artinya, ia bisa memperoleh margin keuntungan Rp 3.000 per pin. Berkat keteguhanriya, tak sampai setahun kemudian Arham sudah punya mesin pin seharga Rp 2,7 juta.

Lalu, pasar ia perluas dengan cara jitu. Saat kuliah, ia mulai menggalang kerja sama dengan percetakan-perc-etakan yang tidak punya mesin pin. Perlahan tapi pasti, Arham pun mulai kebanjiran order baru di luar dari lingkungan teman SMA dan kampusnya. Pemuda usia 22 tahun ini juga menyewa tempat usaha di lokasi yang strategis di Makassar. Dengan begitu ia mampu “mencegat” pemesan baru yang lalu lalang di sana.

Tak hanya itu. Pemuda yang awalnya bercita-cita menjadi ahli komputer ini juga memperluas usahanya dengan mulai menjual bahan baku pin. Ba-han pin ia beli dari Bandung dengan harga hanya Rp 300 per pin. Padahal, di Makassar harganya Rp 1.000 per pin. Margin keuntungan produksi Arham menjadi lebih besar, plus ia bisa menjual bahan pin ke percetakan lain. Sejak menjual bahan, penjualan saya naik 400 persen.tuturnya.

Selanjutnya, bisnis Arham pun tambah melejit usai memenangkan penghargaan Wirausaha Mandiri 2010. Ini lantaran, sebagai salah satu pemenang ia mendapat fasilitas beberapa pelatihan bisnis dan road show pameran yang digelar Bank Mandiri. Dari hasil pameran ia bisa memperluas pasar sampai ke Kendari, Gorontalo, Maluku, bahkan ke Mataram. Produk yang diproduksi pu tak hanya pin, tetapi juga aneka merchandise, penerbitan buku, pembuatan undangan, id card, dan kebutuhan-kebutuhan publikasi.

Omsetnya pun makin melesat. Hingga bulan Oktober lalu, omset Kretakupa sudah lebih Rpl00 juta, melebihi omset 2010. “Hingga akhir tahun 2011, target omset saya sekitar Rp 250 juta,” papar Arham.

UKM ”Didgeridoo” Meraup Untung dari Alat Musik Tradisional

Berawal dari kecintaannya terhadap kesenian, terutama dunia musik, kini Sholeh Supriatna menjadi seorang pengusaha yang terbilang sukses di kampungnya. Hampir semua jenis alat musik dari berbagai negara mampu dia buat. Namun, di antara beragam alat musik, dia hanya menyukai satu jenis alat musik yang berasal dari Australia yang bernama didgeridoo.

Tak pelak, nama alat musik yang berasal dari suku Aborigin itu dijadikan nama usaha kecil menengah (UKM) yang dia dirikan sejak 1999. Didgeridoo sendiri adalah alat musik tiup berasal dari kayu, berukuran panjang lebih dari 1 meter dengan bentuk melengkung berdiameter 10 sentimeter.

Sholeh mengaku, kecintaannya terhadap suku Aborigin berawal dari keunikan suku ini dalam menciptakan sebuah alat musik. Menurutnya, hanya sebagian kecil manusia di dunia ini yang benar-benar bisa memainkan alat musik tersebut. “Biasanya orang kalau membeli ini hanya sebagai pajangan,” katanya, saat acara pameran Indocraft di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam memproduksi alat musik tersebut, Sholeh mengatakan tidak banyak kesulitan dalam hal pembuatannya. Selain sudah sering membuat, alat musik ini tidak memiliki bentuk yang sukar untuk dibuat. Selain dari bahan utama kayu jati, didgeridoo bisa juga dibuat dari kayu pinus, bambu, dan kayu suren.

Dengan pembuatan yang cukup sederhana dan tidak memakan biaya banyak, harga didgeridoo hanya berkisar Rp 150.000. Namun, Sholeh mengaku dalam penjualannya menemui kendala lantaran hanya mengandalkan pesanan dari para pembeli.

Sementara itu, untuk pasar di Australia sendiri, alat musik ini tidak bisa diperdagangkan secara bebas, lantaran Didgeridoo adalah alat musik sakral suku Aborigin. Sementara itu, untuk jenis alat musik lainnya serta berbagai kerajinan tangan buatannya harganya berkisar Rp 20.000 sampai jutaan rupiah.

“Kami tidak bisa menjual sembarangan ke Australia, tapi kami masih bisa masuk ke sana. Masuknya disatukan dengan produk furnitur yang diekspor ke Australia melalui agen-agen khusus yang sudah berlangganan dengan kami,” ujarnya.

Selain didgeridoo, Sholeh juga menjual alat musik Jimbe dari Afrika dan beragam patung-patung kebudayaan asli di Afrika. Meskipun begitu, Sholeh tetap mencintai kebudayaan dalam negerinya sendiri dengan memproduksi alat musik tradisional seperti angklung, gong, gamelan, suling, dan dendang, serta beragam cenderamata asli budaya lokal.

“Alat musik tradisional mancanegara jika dipadukan dengan alat musik lokal menghasilkan suara yang merdu. Jadi saya juga ciptakan alat musik Indonesia,” katanya. Sholeh menjelaskan, biaya produksi per bulannya bisa mencapai Rp 20 juta, bahkan lebih. Namun, dari hasil penjualan Sholeh mampu meraup laba kotor sebesar Rp 50 juta. “Itu juga kalau lagi banyak pesanan,” ujarnya.

Hanya saja, usaha Sholeh di Dusun Sadang RT03/09 Desa Cibeusi Kabupaten Sumedang sampai saat ini masih dihantui persoalan modal. Ketika sedang kebanjiran order, Sholeh malah kesulitan modal untuk biaya produksi.

“Kalau ada order kami jarang dikasih uang muka penuh, paling besar 50 persen, rata-rata 25 persen dari total harga yang disepakati. Sementara, kami sulit mencari pinjaman, sehingga dengan keterbatasan biaya kami tetap jalani produksi. Biasanya saya berkorban menjual barang berharga untuk menutupi kekurangan biaya produksi,” tuturnya.

Tidak mau menyerah dengan keadaan tersebut, Sholeh tetap berjuang melawan keadaan sembari mencari informasi untuk mencari tambahan modal. Beruntung teman-teman seprofesi di kampungnya menganjurkan Sholeh menjadi binaan PT Telkom.

Sholeh mengatakan, semenjak menjadi binaan Telkom usahanya mengalami perkembangan. Dari segi modal Telkom siap memberikan Rp 30 juta tambahan modal. Tak hanya itu, dari segi manajemen Telkom memberingan bimbingan manajemen sebuah usaha yang baik dan terarah, sehingga usahanya mampu terorganisasi dengan baik.

“Telkom juga sering mengajak saya ikut serta dalam pameran-pameran. Berkat itu semua usaha saya jadi lebih maju dan terkenal,” ucapnya. Namun, Sholeh menyesalkan ketidakseriusan pemerintah pusat maupun daerah untuk memberdayakan UKM yang ada di daerahnya. Dia bercerita puluhan UKM di daerahnya rata-rata bekerja sendiri-sendiri tanpa ada upaya pemerintah memberdayakan mereka. “Kami malah diperhatikan pihak swasta,” tuturnya.

Merintis Bisnis dengan Kecap

Kecap banyak digunakan sebagai bahan dasar masakan Indonesia. Tidak heran jika bisnis ini cukup menggiurkan sejumlah orang, dan tak semua orang sukses berbisnis kecap. Apalagi lidah orang terkadang susah menerima rasa kecap produk UKM.

Hal itu diakui oleh Arih Undriarto ketika memulai usaha kecapnya. Ia butuh contoh untuk meyakinkan calon pembelinya karena kebanyakan orang sudah cocok dengan kecap ter-tentu sehingga sulit untuk beralih. Apalagi, sasaran Arih adalah pelaku usaha di bidang kuliner karena kebanyakan pelaku usaha kuliner ini sudah mema-lonkan rasa yang la inginkan dengan bahan-bahan yang ia tentukan.

Mengganti kecap yang biasa digunakan pelaku usaha kuliner bukan hal yang mudah. Namun, kerja keras Arih temya-ta membawanya mendapatkan banyak pelanggan.

“Bahkan ada orang yang selama ini memang mencari-cari rasa kecap yang saya buat ini. Begitu mereka merasakan kecap saya, mereka langsung memesan dan mengganti semua kecap yang selama Ini mereka pakai. kata Arih Undriarto, pengusaha kecap Mentari Terbit ketika ditemui Warta Kota belum lama Ini.

Langkah Arih untuk memasarkan kecap Mentari Terbit terus berkembang, la pun mendapatkan banyak pelanggan pelaku usaha kuliner, baik skala kecil maupun besar. Karena pelanggannya adalah pelaku usaha, Arih menjual kecapnya dengan menggunakan Jeriken sehingga dari sisi biaya kemasan lebih murah karena bisa lsi ulang.

Selain Jeriken. Arih menggunakan botol Juga yang selama ini fungsi kecap botolan untuk promosi dan tester. Ia Juga menggunakan kecap botolan Jika ada pameran sehingga pembeli yang ingin mencoba bisa membeli dalam ukuran kecil.

Kecap produksi Arih memiliki rasa enak karena menggunakan bahan-bahan terbaik. Ia menggunakan gula merah dari beberapa pemasok di daerah. Setidaknya, ada tiga pemasok gula merah yang dimiliki Arih. Bukan karena pasokan yang kurang tetapi untuk membuat pemasoknya bersaing memberikan gula merah terbaiknya. Kualitas kecap buatan Arih mengandalkan kualitas gulanya. Semakin bagus kualitas gula merah, semakin bagus kualitas kecapnya. Sementara kacang kedelai dibeli dari pasar dan belum langsung dari petani.

“Sejauh ini. kacang kedelai masih kami cari di pasar, tidak langsung dari petani. Karena kualitasnya masih cukup bagus. Tetapi sudah ada yang menawarkan membeli langsung ke petaninya namun masih kami tinjau dahulu,” kata Arih.

Sayangnya, harga kedelai dan gula merah memang sering berubah sehingga beban produksi seringkali menjadi berat karena Arih tidak mungkin menaikkan harga kecapnya. Untungnya. Arih membangun hubungan, yang kuat dengan pemasoknya sehingga ketika harga melonjak, mereka masih bisa mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal.

Kini, bisnis Arih sudah meraih omzet Rp 135-140 Juta per bulan. Modal Rp 25 Juta yang dimiliki Arih dan H Suglmln untuk membuat kecap mampu dikembalikan Arih selama 6-7 bulan. Omzet sebesar Itu. masih belum besar dinilai Arih karena masih banyak pengeluaran yang seharusnya bisa ditekan. Salah satunya adalah biaya distribusi yang dianggap masih cukup besar. “Saya masih akan terus belajar dan mencoba mencari cara untuk mendapatkan metode yang tepat untuk mengurangi biaya distribusi.” tutur Arih.

Salah satu cara yang la coba lakukan adalah belajar dari rekan-rekan pelaku usaha menengah kecil dalam sebuah komunitas. Di dalam komunitas Tangan Di Atas tempat Arih bergabung, banyak memberikannya bantuan untuk memperbaiki kesalahannya dalam berbisnis, memperluas Jaringannya, dan mendapat-kan tip-Up untuk mengurangi biaya yang Udak perlu dikeluarkan.

Dari masjid

Bisnis kecap diawali Arih Llndrtarto dari masjid. Perkenalannya dengan pria bernama H Suglmln yang beberapa kail bertemu dengannya di masjid, membuahkan Ide untuk membangun bisnis kecap. Di bawah bendera Kecap Mentari Terbit, Arih memulai bisnis barunya setelah beberapa bisnis sebelumnya gagal bahkan ia seringkali ditipu rekan kerjanya

“Saya memulai bisnis kecap ini setelah bangkrut dari bisnis kontraktor. Saya dlUpu orang. Setelah bertemu beberapa kali dengan pak haji (H Suglmln). saya akhirnya menawarkan beliau untuk kerja sama membangun bisnis kecap,” kata Arih. Arih meminta Suglmln untuk membuat kecap seperti yang biasa ia lakukan ketika masih bekerja di sebuah pabrik kecap terkemuka. Semua bahan dan proses produksinya sama dengan kecap yang selama di pabrik kecap tersebut ia buat

Arih memberikan kepercayaanya kepada Sugimln untuk membuat kecap dan la hanya belajar. Arih sendiri sampai saat ini Udak terlibat langsung dalam pembuatan kecap dan memilih untuk mengurus marketing dan distribusinya.

Bordir Tasik, Produk Lokal Berkelas Dunia

Tasikmalaya adalah wilayah pecahan Kabupaten Tasikmalaya yang secara geografis terletak di jalur utama selatan Pulau Jawa di wilayah Provinsi Jawa Barat. Menurut Wlkipedia Bahasa Indonesia Enslklopedia Bebas, kota ini memiliki perkembangan ekonomi yang lebih baik dibandingkan kota-kota lain di Indonesia.

Tasik -demikian kota Ini dlsebut– memiliki berbagai potensi yang belum dikembangkan secara maksimal misalnya industri bordir yang sudah mendunia. Selama dua dekade pemerintah kota mulai membuat tempat pameran bordir untuk para pengrajin Tasik, yang berlokasi di Kawalu. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya menyebutkan bahwa usaha kerajinan bordir di Tasik cukup meluas. Dari delapan kecamatan yang ada di wilayah Tasik, empat kecamatan di antaranya bergerak di bidang usaha pembuatan kain bordir, yaitu Clbeureum. Clpedes. Mangkubumi, dan Kawalu.

Pada tahun 2005. terdapat setidaknya 1.092 unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin. Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah yang memiliki paling banyak pelaku usaha kerajinan bordir, yaitu 87,7 persen dari total perajin bordir di Tasik. DI kecamatan ini. terutama di Desa Tegalsarl terdapat banyak pengusaha kain bordir berskala besar seperti Turatex. Purnama. Ciwulan. Haryatl. dan Bunga Tanjung. Total produksinya mencapai 7.2 Juta potong per tahun. Nilai produksinya telah mencapai angka di atas Rp 500 miliar dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Salah seorang pelaku usaha bordir Tasik yang namanya berkibar adalah Atik Jumaell. Melalui usahanya nyaris dari nol lewat bendera usaha Dewi Bordir.dengan modal Rp 50.000 plus satu unit mesin Jahit pada tahun 1991. kini Atik Jumaell mampu mengembangkan produk andalan usaha bordir seperti (atakan gelas berbodlr dan tutupnya, memimpin pasar di kelasnya. Bahkan kini produk-produk bordirnya kerap tampil dalam berbagai pameran di luar negeri dari Singapura hingga Rusia sekaligus pasar luar negeri.

Mulai dari “nol”

Pada dekade 1990-an ketika Atik Jumaell memulai usahanya, produk bordir Tasik telah Jauh berkembang dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Saat Itu produk bordir Tasik didominasi oleh busana muslim, khususnya baju perempuan termasuk baju gamis, dan kelengkapannya seperti mukena, rukuh. Jilbab. baju koko dan kopiah.

Beberapa dekade sebelumnya, yakni dekade 1960-an Jenis bordir yang banyak dihasilkan ialah kebaya dan pakaian tradisional China karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an , setelah mesin bordirbertenaga listrik muncul di daerah ini. jenis produk bordir yang dihasilkan meluas ke Jenis kain untuk ruangan (home Interior), seperti sprel. taplak meja, dan gorden. Namun pada dekade 1980-an Jenis kain bordir yang diproduksi mulai bergeser ke busana muslim yang berkembang hingga kini.

Ketika mulai merintis usaha Dewi Bordir. Atik belum pernah menjalani satu pun usaha. Sebab sejak sebelum menikah dengan Jumaeli. Atik menjalani pekerjaan sebagai karyawan sebuah kantor konsultan hukum. Namun Atik bukan sosok yang asing terhadap dunia Jahlt-menjahlt. Anak kelima dari 10 bersaudara dari keluarga H Saun dan HJ Siti Huzaemah Ini tumbuh dajam keluarga modiste atau penjahit pakaian (wanita). Ibunya dikenai sebagai penjahit kebaya yang cukup dikenal di Cikalong. Tasik.

Selain itu Atik Juga sosok yang senang bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif. Satu lagi karakter yang melekat pada diri nya ialah intuisi atau hidung bisnis yang tajam dalam menangkap peluang. “Usaha kerajinan bordir memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun dan kreatif. Karakter seperti Itulah, yang melekat pada perempuan pengrajin bordir di Tasik dan membuat Tasik dikenal sebagai kota bordir.” katanya.

Pada tahun 1996 ketika usaha bordirnya kian stabil. Atik sudah mulai berpikir bahwa Dewi Bordir harus memiliki badan hukum. Pikiran seperti Itu muncul karena Atik pernah bekerja di kantor pengacara dan banyak belajar dari pergaulan. Lahirlah kemudian CV Dewi Nugraha. Alamat CV Ini sama dengan tempat Atik menjalani usahanya, yakni di Jalan Panunggal Nomor 64, Kompleks

Asrama Polisi Tasikmalaya.

Pada tahun yang sama Atik Juga memperoleh suntikan modal dari hasil arisan yang dia Ikuti sebesar Rp 500.000. Dana itu digunakan untuk membeli satu unit mesin Jahit baru merek Zuki secara cicilan seharga Rp 3.500.000. Sisa utangnya dilunasi dengan cara mencicil. Sebagai suatu usaha perjalanan Dewi Bordir tidak berlangsung mulus. Pada tahun 1997 usaha ini pernah Jatuh. Ketika itu. Dewi Bordir menerima pesanan sebanyak 1.000 lusin (atakan dan tutup gelas senllai Rp 67 Juta. Tetapi krisis ekonomi tahun 1997 yang meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan uang hasil pesanan itu tak tertagih. Produksi Dewi Bordir pun sempat terganggu.

Omzet miliaran rupiah

Hal serupa juga terjadi pada 2007 ketika Dewi Bordir menerima pesanan busana berbordir sebanyak 400 pasang dari seseorang untuk dikirim ke Brunei. Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang namun hanya 400 pasang yang dibayar sehingga Dewi Bordir mengalami tekor Rp 45 Juta dan tantangan-tantangan lainnya. Dengan kesabaran dan ketekunan. Atik mampu menerobos berbagai rintangan Itu. Hasilnya Dewi Bordir berkembang dengan mantap hingga Jumlah karyawan tetap hariannya mencapai 30 orang sementara karyawan musiman bisa menlmgkat dua kali lipat pada saat pesanan meningkat.

Pengalaman menjalani usaha dari bawah membuat intuisi bisnis Atik Jumaell terlatih membaca pasar. Memilih tatakan dan tutup gelas sebagai produk andalan Dewi Bordir adalah wujudnya. Meskipun terlihat remeh temeh produk andalan

Dewi Bordir Ini menjadi raja di kelasnya. Bahkan, produk-produknya membawa Tasik memperoleh kebanggaan. Tatakan dan tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu produk UKM Tasik yang diekspor hingga mancanegara.

Dengan dukungan keluarga dan karyawan. Atik Juga telah mengantar Dewi Bordir menerima sejumlah penghargaan sekaligus kemudahan. Selain sedang meneriima fasilitas pameran secara gratis. Dewi Bordir Juga menerima fasilitas berupa ruko yang terdapat di Asia Plaza Jalan Hajat Mustofa Nomor 8 Tasikmalaya. Dari usaha kerasnya itu. omset yang dicapai Dewi Bordir mencapai sekitar Rp 100 Juta per bulan atau Rp 1 miliar lebih per tahun. Dari omset tersebut Atik meraih keuntungan bersih sebesar 20 persennya.

Untuk meningkatkan produksinya, Dewi Bordir sedang merintis Jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah ke atas. “Alasannya di segmen ini kondisinya lebih stabil.” katanya.

Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Selain Itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-desaln baru yang sesuai dengan tuntutan pasar. “Untuk tahu pasar kami mencari Informasi dari Internet atau majalah.”

Sementara untuk pemasaran dan promosi. Dewi Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan. Selain mempertahankan promosi dari mulut ke mulut yang telah dibangun sejak awal melalui ajang arisan, bazar dan pameran. Atik Juga menempuh cara pemasaran yang sudah lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke Jakarta dan beberapa kota lain. Para pengusaha bordir Tasik lazim memasarkan produk mereka ke sentra-sentra pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang dan Cipulir. Bahkan, awal 2011 lalu, Atik Juga merintis pembukaan cabang Dewi Bordir di Season City Jakarta Barat sekaligus membawa usaha ini lebih profesional. Untuk Itu Dewi Bordir sudah menyewa konsujtan bidang manajemen, termasuk di dalamnya untuk melakukan. “Saya Ingin maju seperti Dewi Motik (Dewi Motik Pramono-perempuan pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai mantan Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang maju.” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah Jumaeb mengakhiri kisah perjalanan usahanya.

DEWI BORDIR
Alamat Ji Panunggal No.64, Samping Aspol
Bojong. Tasikmalaya
Telp (0265)340621. Hp 081222886243
Fax (0285)3,40621
Email dew.njgrahacvOy3hoo.com
Contact person Hj Sin Atik Jumaell, SE

Usaha Pembuatan Air Minum Kemasan

Sebagai kebutuhan pokok, air minum akan selalu dibutuhkan. Alhasil, bisnis air minum berkualitas bakal terus menjanjikan. Saat ini, air minum non-mineral dalam kemasan muncul sebagai alternatif air minum. Bahkan, air minum ini diminati warga perumahan elit di Jakarta dan Bandung.

AIR minum merupakan kebutuhan dasar untuk meijaga metabolisme tubuh, ((leh karena itu, kebutuhanakan air minum yani; sehat tidak akan pernah surut Peluang bisnis yang menjanjikan inilah yang membuat Mulyono Simowibowo tergiur memproduksi air minum. Dengan mengusung merek Celebrity, Mulyono memulai usaha ini 1 i Bandung pada 2006.

Berbeda dengan air minum kemasan lainnya, vicinity merupakan air minum non mineral. Saat ini. lelebritj sudah merambah pasar Bandung dan Jakarta Kebanyakan klien saya warga perumahan elit yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan air minum.” ujar Mulyono.

Selama tni, Mulyono melakukan pemasaran dari pintu ke pintu. Strategi itu cukup jitu um uk meraih hati pelanggan. Mulyono mendapat pasokan daii PT Perusahaan An Minum PAM  sebanyak 15.000 hingga 26.000 liter per hari. Ia membeli air dengan harga Rp 135.000 tiap 5.000 liter. Setelah memperoleh pasokan air, ia mengolah air tersebut dengan proses distilasi atau penyulingan.

Dengan modal Rp 300 juta.

Mulyono membeli berbagai mesin untuk memproduksi air minum ini. Seperti mesin boiler untuk memanaskan air hingga menjadi uap dan mesin kondenser untuk merubah kembali uap menjadi air. “Dengan proses itu, maka air akan steril dari kadar mineral, pungkas Mulyono. Dalam proses lm akan terjadi pengurangan massa air sekitar 20%.

Setelah diolah di pabriknya di Bandung, ia menjual produk Celebrity mulai dari kemasan cup 220 ml, botol il, botol 600 ml, botol 1,5 liter liingga ukuran galon 19 liter. Dalam sehari, eiebrity bisa terjual hingga 20.000 liter dalam berbagai kemasan.

Iv insumen eiebrity paling banyak mengkonsumsi kemasan galon ukuran 19 liter dengan harga Rp 11.000 per galon untuk harga Bandung dan Rp 12.500 untuk harga Jakarta “Dalam sebulan omzet minimal Rp 180 juta,” ujar Mulyono.

Pemain lainnya adalah Hendri Darmawan yang menjual produk air kemasan non-mineral dengan merek  elestine. Memulai usaha sejak 2010 di Bekasi, saat ini ia sudah bisa menjual 8.000 liter air non mineral per hari dengan harga Rp 10.600 untuk ukuran galon 19 liter dan Rp 8.500 untuk ukuran 12 liter.

Pelanggannya baru berasal dari sekitar Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Berbeda dengan Mulyono, Hendri lebih fokus pada produk kemasan galon karena margin keuntungan lebih besar. Sayang, Hendri enggan menyebutkan omzetnya.

Mulyono mengaku, tantangan terberatnya adalah saat mengubah pandangan masyarakat tentang air inineral. Biasanya, untuk mensosialisasikan air non mineral itu, ia melakukan demo sederhana bagaimana memproduksi air minum non mineral kepada para calon pelanggannya.

Meski begitu, ia yakin, bisnis ini akan tetap punya masa depan. Alasannya, masih banyak pihak yang belum mengetahui informa-si tentang air non mineral. “Selain itu, pemainnya sangat terbatas,” tambah Hendri.

Furnitur Menarik di Jalan Kalimalang

Ada satu tempat yang menawarkan berbagai macam furnitur (perabot rumah tangga) menarik dan berkualitas. Selain dibuat oleh para perajin furnitur yang andal, harga yang ditawarkan juga relatif murah. Tempat penjualan furnitur menarik, murah, tetapi berkualitas tersebut terletak di Jl Inspeksi Saluran Tarum Barat, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, atau lebih dikenal dengan nama Jl Kalimalang.

Tempat ini tepatnya berada sebelum pintu masuk Cipinang Indah bila dari arah Jakarta ke Bekasi. Paung (50), pembuat furnitur di Toko Barokah Furnitur yang ditemui SH baru-baru ini, mengatakan, harga produk yang ditawarkan relatif lebih murah. Di samping itu, yang menjadi keunikan toko ini adalah menyerahkan sepenuhnya kepada konsumen bentuk atau gambar dari furnitur yang akan dipesan.

“Pada prinsipnya, kami bisa mengerjakan semua permintaan konsumen. Mulai dari meja, lemari, kasur, perabotan dapur, rak buku, dan lainnya. Semua furnitur yang kami hasilkan, dijamin tahan lama dan kuat karena kami menggunakan kayu palet atau kayu yang khusus digunakan untuk peti kemas untuk ekspor-impor,” ujarnya.

“Untuk harga yang paling murah adalah meja dengan ukuran panjang 90 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 50 cm seharga Rp 150.000. sementara harga termahal yang pernah kami jual adalah lemari yang tingginya 2 meter dan panjang 4 meter dengan harga Rp 4,5 juta. Untuk ukuran kecil, kami bisa selesaikan dalam waktu 2-3 hari. Namun bila ukurannya besar, kami membutuhkan waktu lebih lama lagi,” tuturnya.

Mengenai pendapatan dari hasil usahanya, menurut Paung, “Alhamdulilah, selama ini usaha kami tidak pernah sepi pelanggan, minimal per hari ada satu orang yang memesan perabotan. Bahkan ada yang pernah memesan perabotan lengkap mulai dari yang kecil hingga besar karena orang tersebut baru saja pindahan,” jelasnya.

Terkait kualitas, menurut Pendi, pembuat furnitur lainnya, ia memberikan jaminan alias garansi. “Kalau soal kualitas jangan khawatir. Selama saya membuat perabotan atau furnitur, tidak pernah ada konsumen yang protes atas hasil buatan saya. Kebanyakan mereka puas,” ungkapnya.

“Bagi mereka yang ingin memesan, cukup memberikan contoh desain atau gambar yang mereka inginkan. Dengan adanya contoh, kami bisa membuat sama dengan contoh desain yang diberikan,” jelasnya. “Seperti halnya meja komputer, konsumen cukup memberikan contoh desainnya maka hasilnya pun akan sama dengan contoh, bahkan dengan kualitas yang lebih baik,” katanya.

Laba Cantik dari Lampu Hias Kulit Jagung

Pembungkus kulit jagung yang sering menjadi sampah, ternyata bisa mendatangkan rupiah. Tentunya, setelah kulit jagung itu disulap menjadi kap lampu yang cantik dan menarik. Permintaan lampu hias ini berdatangan dari berbagai kota di Indonesia. Perajinnya bisa mendulang omzet hingga puluhan juta rupiah saban bulan.

Sebagian  masyarakat Indonesia pasti mengenal jagung. Selain menjadi makanan pokok penduduk di beberapa wilayah bagian timur Indonesia, seringkali orang mengudap jagung sebagai makanan ringan. Sei tara itu, kulit jagung kerap menjadi sampan atau barang tak bernilai.

Namun, di tangan orang kreatif, limbah sampah kulit jagung bisa mendatangkan rupiah . Seperti yang dilakukan oleh Ery Murdiyanto dari Jongja dan Heri Darmawan dari Gallery Goa Barong, di Klaten, Jawa Tengah. Dari tangan kedua perajin itu, limbah kulit jagung yang sering disebut klobot ini disulap menjadi benda seni, berupa lampu hias nan cantik

Maklum, limbah kulit jagung sangat berlimpah dari sekitar rumah tinggal Ery dan Heri. “Kami ingin membuat barang yang memiliki fungsi dan punya nilai seni dengan memanfaatkan limbah yang ada,” kata Ery. Proses pembuatan lampu hias kulit jagung ini juga jauh dari sentuhan bahan kimia Pasalnya, pewarnaan hanya mengandalkan warna alami kulit jagung.

Nah, untuk membuat kerajinan nan apik itu, terlebih dulu kulit jagung itu disetrika hingga rata. Selanjutnya, gunting lembar klobot itu sesuai bentuk dan pola yang diinginkan. Kulit jagung itu kemudian ditem-pelkan satu per satu ke permukaan fiber. Setelah semua permukaan tersebut tertutup rapi, baru fiber dipasang pada sebuah rangka bambu ataupun kayu. Terakhir adalah memasang dudukan bola lampu pada rangka bawah lampu hias kulit jagung tersebut.

Lampu hias kulit jagung ini dipasarkan mulai harga Rp 50.000 untuk tinggi 50 cni, sampai Rp 500.000 untuklampu besar setinggi duameter. “Harga lampu jenis ini sangat tergantungmodel dan ukuran,” imbuh Ery.

Dalam satu hari, Ery yang dibantu lima orang karyawannya sanggup membuat hingga 10 lampu klobot Setiap bulan, setidaknya Erysanggup menjual hingga 300 buah lampu klobot berbagai ukuran.

Sebagian besar pembeli lampu klobot ini adalah pemilik rumah makan, hotel serta penjual kerajinan lainnya Selain Yogyakarta dan Solo, permintaan datang dari berbagai kota, seperti Jakarta, Bali, dan Sorong, Papua Dari usaha ini, setiap bulan setidaknya Ery mampu meraup omzet hingga Rp 75 juta.

Untuk mempercantik tampilan lampu klobot, Ery sering menambahkan dekorasi hiasan daun kering, bunga kering, pelepah pisang kering, buah-buahan kering seperti buah mahoni dan bunga kelapa kering.

Selain Ery dan Heri, perajin lampu hias dari kulit jagung lainnya adalah Jupriadi. Ia mulai menekuni usaha ini sejak awal 2011 di Kalimantan Barat. Berbeda dengan Ery, Jupriadi hanya membuat satu jenis lampu hias kulit jagung. Ia menggunakan besi tempa ringan sebagai rangka lampu hias yang berbentuk prisma.

Proses pembuatan lampu irri, terbilang lebih lama, karena menggunakan bahan baku besi ukir. Alhasil, dalam satu bulan, Jupriadi hanya sanggup membuat 150 buah lampu hias kulit jagung.

Harga sebuah lampu ini dipatok Rp 200.000. Denganbegitu, omzet Jupriadi bisa mencapai Rp 30 juta

Jupriadi telah memasarkan lampu hias kuli! jagung buatannya ini hingga Bali dan Sumatera Tentu saja, ia juga menjual produknya di seluruh wilayah Kalimantan.

Sayang, Jupriadi mengaku masih kekurangan pasokan bahan baku. Apalagi, saat musim hujan seperti sekarang ini. Pasalnya, tak banyak petani di Kalimantan Barat yang bertanam jagung. Selain itu, kulit jagung pwu akan sulit keringkan karena minimnya sinar matahari untuk penjemuran kulit jagung.

Selain itu, Jupriadi pun mengaku masih kesulitan mendapatkan sumber daya manusia terampil untuk bengkel kerjanya “Saya baru dibantu dengan tiga orang rekan kerja saya Masih sulit mencari tenaga kerja yang terampil,” kata Jupriadi.

Garnis Silver Berjuang Melawan Arus Perdagangan Bebas

Keberadaan usaha kecil menengah (UKM) semakin terancam akibat makin banyaknya perjanjian pasar bebas atau free trade area (FTA) yang akan ditandatangani pemerintah dalam waktu dekat ini.

Tak ayal, gempuran produk impor akan semakin mematikan sektor perekonomian, baik kecil maupun menengah, di dalam negeri. Apalagi serangan produk dari negara seperti China yang masuk dari mulai cendramata sampai produk-produk industri besar makin gencar.

Akan tetapi, faktanya, UKM dalam negeri tidak mau menyerah begitu saja dengan gangguan FTA pada usaha mereka. Tak terkecuali UKM Garnis Silver and Planted. UKM yang berasal dari Kotagede Yogyakarta, sebagai kota tua dengan sisi kehidupan tradisionalnya, mampu berjalan seiring dengan perkembangan kehidupan modern.

Yeyen Alkaf, pemilik UKM ini, mengatakan bahwa usaha yang dirintisnya ini sudah turun-temurun. Saat ini usahanya terus tumbuh dan berkembang sebagaimana kebudayaan yang menjadi napas kehidupannya secara dinamis.

Oleh sebab itu, UKM ini ingin melestarikan kebudayaan lokal dengan cara menyajikan berbagai macam cenderamata khas Kotagede dan berbagai cenderamata asli Indonesia.

Dengan tekat kuat tersebut Yeyen yakin usaha sejenisnya akan tetap bertahan dari gelombang pasar bebas yang akan terus mengahantam. “Kami menyajikan suatu hal yang unik dan berbeda sudah lebih 40 tahun kami berdiri. Antusias masyarakat tetap positif terhadap kami,” katanya pada pameran Indocraft, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keyakinan tersebut membuahkan hasil bagi usahanya. Di tangannya dan adiknya, Garnis, yang menjadi nama UKM ini, Yeyen berhasil mengembangkan usaha moyangnya tersebut. Meskipun pada tahap awal usahanya sempat mengalami goncangan akibat persaingan produk dari negara lain, Yeyen dan adiknya tidak mau kehabisan akal.

Mereka terus mencari ide untuk memajukan sentra usaha cenderamata yang menjadi andalannya tersebut. Kemudian dia berusaha sedikit memodifikasi kebudayaan lokal dengan mengikuti tren terkini yang sedang digandrungi anak muda saat ini. Dengan sentuhannya, usaha cenderamatanya kembali menggeliat.

Kini UKM yang memproduksi cenderamata dari kerajinan perak dan tembaga tersebut mampu menghasilkan omzet hingga Rp 20 juta per bulannya dengan beraneka kalung-kalungan, cincin, miniatur gong, dan sebagainya. “Tetapi ciri khas sebagai sebuah kota tradisional Jawa yang tidak lepas dari keraton tidak kami tinggalkan,” ujarnya.

Produknya berupa aksesori seperti kalung dan gelang terbuat dari tembaga di jual berkisar antar RP 8.000 sampai Rp 300.000 per buahnya. Sementara itu, produk berupa cincin terbuat dari perak mulai dari harga Rp 75.000 sampai Rp 300.000. Untuk miniatur gong mulai dari Rp 750.000 sampai Rp 1,5 juta.

UKM-nya semakin menggeliat tatkala mulai menjadi binaan dari Pertamina Semarang. Di bawah binaan Pertamina Semarang, usahanya mulai lebih teratur dari sisi manajemen dan tata niaga.

Tak heran, cenderamatanya kini mulai menjelajah seluruh pasar lokal yang ada di Indonesia. “Pemasaran hampir merata di Indonesia, meski tidak banyak, cukup membantu penghasilan,” katanya.

Untuk mengembangkan UKM-nya, Pertamina Semarang meminjami modal pada tahap awal sebesar Rp 15 juta. Dengan dana segar tersebut Yeyen mampu mengembangkan usahanya.

Apalagi beban pengembalian peminjaman, menurut Yeyen, sama sekali tidak menyulitkan. “Kami hanya dibebani bunga sebesar 0,6 persen. Itu tidak sulit bagi kami untuk mengembalikannya. Terlebih Pertamina memberikan segala fasilitasnya,” tuturnya.

Ke Mancanegara

Menurut Yeyen, produknya sudah sampai ke luar negeri. Namun, tahap ekspor ke luar negeri dilakukan melalui pihak ketiga. Sampai saat ini dia tidak mengetahui produknya diekspor ke negara mana saja. “Jadi ada pelanggan yang sering borong cenderamata kami, katanya mau dijual ke luar negeri, tapi mereka tidak bilang ke mana,” tuturnya.

Berkat semangat dan kerja kerasnya selama ini, kini UKM-nya mampu meraup untung hingga dua kali lipat dari total biaya produksinya. Yeyen mampu meraup untung per bulannya mencapai Rp 50 juta. Kini Yeyen juga mampu memperkerjakan 10 orang pegawai di UKM-nya tersebut.

“Kami senang menjadi binaan Pertamina, karena usaha kami tidak mati akibat gempuran produk asing. Pertamina Semarang selalu memberikan tip untuk menjalani usaha,” ujarnya.

Kini Yeyen juga berharap agar pemerintah lebih memperhatikan usaha kecil menengah. Pasalnya, usaha ini mampu menghidupi perekonomian masyarakat kecil di daerah perdesaan.

Menurutnya, jika produk asing membanjiri wilayah daerah, hal tersebut akan membunuh perekonomian daerah. “Untuk itu, tidak usahlah pakai perdagangan bebas. Kita akan kalah bersaing dengan prosuk asing, karena harga produk mereka lebih murah,” katanya. (CR-28)