Manis Bisnis Crepesnya, Laris Juga Wajannya

Makanan ringan berupa kue dadar renyah berisi buah-buahan atawa crepes, membawa peruntungan bagi pungusaha wajan crepes. Permintaan wajan crepes cukup besar, dari ibu rumah tangga hingga restoran besar. Ada yang mengimpor wajan dari Perancis dan Malaysia lalu dijual di sini. Tapi ada pula yang memproduksi wajan crepes sendiri lantaran permintaannya terus meningkat.

Siapa tak tahu crepes? Cemilan yang berasal dari Eropa ini, sekarang juga populer di Indonesia. Makanya, banyak penjual crepes betebaran, mulai dari kelas pinggiran jalan hingga di pusat perbelanjaan. Seiring bisnis crepes yang semakin manis, para penjual wajan crepes pun ikutan kecipratan lezatnya bisnis tersebut. Penjualan wajan crepes terdongkrak.

Ada yang memproduksi sendiri wajan crepes, ada pula yang memilih mengimpor wajan crepes untuk dijual lagi di sini. Salah satu importir wajan crepes adalah Wisnu Primu-lyono. Ia bilang, pasar penjualan loyang crepes terbuka lebar seiring dengan terus meningkatnya penjual makanan ringan itu. Pelanggannya rata-rata pengusaha waralaba bisnis crepes,restoran, maupun ibu rumah tangga Dia mengaku hanya menjual loyang crepes impor buatan Perancis dan Malaysia “Dalam sebulan saya bisa menjual wajan crepes 25 urn. kata dia

Wisnu telah memasarkan sejak tahun 2007. Ada dua macam wajan yang dijual, pertama adalah wajan crepes elektrik asal Perancis yang menggunakan aliran listrik, dan wajan aluminium dari Malaysia

Harga wajan ini antara Rp 3,25 juta sampai dengan Rp 4,75 juta. Bedanya adalah wajan crepes dari Perancis lebih irit dalam hal penggunaan energi listrik. Namun restoran kebanyakan membeli wajan crepes asal Malaysia “Pembeli wajan itu biasanya datang dari luar pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sumatera dan juga Sulawesi.-Saya bisa mengan-tongi omzet Rp 81 juta per bulan,” kata Wisnu.

Beda dengan Wisnu, Andi Subiyakto, pemilik Usaha Daerah Cahaya Seganten di Cirebon, memproduksi sendiri wajan crepes. Ia membuat loyang khusus crepes sejak tahun 2009. Bahan baku wajan hasil karyanya menggunakan bahan lokal. Andi menyediakan berbagai tipe ukuran wajan crepes, mulai dari diametei 261 entimeter (cm), 28 cm, 30 cm, 32 cm, dengan ketebalan 1,3 cm. “Yang biasaharganya Rp 320.00 perunit,” kata pria 32 tahun itu.

Pembeli produknya berasal dari pengusaha waralaba bisnis crepes dan ibu rumah tangga Dalam sebulan dia bisa membuat pesanan hingga 50 unit. “Omzet saya Rp 16 juta per bulan.” katanya.

Dia bilang, tidak mudah membuat wajan jenis ini. Untuk menghasilkan wajan berbentuk bulat sempurna serta pipih tanpa cacat gelombang, memerlukan proses bubut yang lama Perlu ketekunan dan kecermatan dalam proses pembuatan wajan. “Wajan crepes yang baik adalah jika didempetkan tidak ada celah tersisa Supaya bisa menghasilkan crepes yang sempurna,” tandasnya

Jadi wajar kalau harga wajan crepes memang cukup mahal. Anda berminat?

Para Perempuan yang Bergelut di Bidang Ekonomi Kerakyatan

Puluhan barang kerajinan tangan berbahan eceng gondok menyesalti rumah berukuran sekitar 6 x 7 meter. Di setiap sudut ruangan, barang berbahan baku tanaman sungai itu berderet dengan rapi. Ada rak sepatu, topi, tas, kerangka hiasan lampu, keranjang, partisi ruangan, dan sebagainya.

Wiwit Manfaati baru mengontrak tempat showroom usaha handicraft tersebut sekitar dua bulan lalu. Lokasi itu tak jauh dah rumah kediamannya dj kawasan Kebraon Indah Permai. Dari usahanya yang dia tekuni bersama sang suami dalam lima tahun terakhir tersebut, akhirnya Wivvit Collection meraih predikat terbaik 1 untuk kategori Handicraft. Sedangkan penghargaan untuk kategori Fresh Food diraih UMKM Rosela dari Simokerto dan kategori Grocery Food dipegang UMKM Mandiri Sejahtera dari Genteng.

Wiwit menceritakan, UMKM yang dikembangkannya bukanlah UMKM dadakan. Meskipun berawal dari sebuah keisengan mengisi waktu luang. Ibu tiga anak itu menjelaskan, pada 2007 pemkot mengadakan pelatihan kerajinan tangan di kantor kecamatan dan Wiwit menjadiserta menyulam.

Itu pun dilakukannya hanya karena senang dan hasilnya untuk dipakai sendiri. Meski pada akhirnya dijual juga, namun dalam skala kecil dan dilakukan tidak secara profesional. “Sebenarnya, eceng gondok ini termasuk baru bagi saya. Waktu pertama mencoba, saya kesulitan. Membuat tas, anyamannya banyak yang menceng,” ujarnya.

Meski demikian, Wiwit tetap mencobanya terus. Ternyata. angka kesulitan menganyam eceng gondok tidak malah membuatnya menyerah. Bahannya yang tergolong ulet dan keras diakuinya memang berbeda jauh bila dibandingkan dengan merajut anyaman dengan bahan benang atau pita. Sebaliknya, dia malah tertantang. Apalagi, di belakang rumahnya ada waduk dan tempat itu dijadikan area pengepul bahan dasar eceng gondok kering. Jadi, dia tidak kesulitan untuk mencari atau membeli bahan bila inginberkreasi atau bereksperimen.

Lama-kelamaan Wiwit bisa membuat anyaman yang bagus. Awalnya dia tidak berpikir mau menjualnya. Yang ada di pikirannya membuat barang yang berkualitas sebanyak-banyaknya. “Sewaktu ada orang pemkot sedang road show acara green and clean, dia tertarik pada kerajinan yang sedang saya buat. Lalu barang-barang saya dibawa ke bappeko untuk dipamerkan,” jelasnya

Sekarang omzet penjualan kerajinan karya ibu tiga anak itu bisa mencapai Rp 15 juta perbulan. “Keuntungan bersihnya bisa setengahnya,” ungkap dia. Wiwit juga sudah bisa mempekerjakan ibu rumah tangga dari kampung sebelah.

Sejak pertengahan 2010, suami yang awalnya masih berprofesi sebagai wirausaha berbagai bidang, seperti jual kembang dan sepatu, bahkan sopir rental mobil, memutuskan untuk lebih fokus sepenuhnya di UMKM Wiwit Collection.

UKM ”Didgeridoo” Meraup Untung dari Alat Musik Tradisional

Berawal dari kecintaannya terhadap kesenian, terutama dunia musik, kini Sholeh Supriatna menjadi seorang pengusaha yang terbilang sukses di kampungnya. Hampir semua jenis alat musik dari berbagai negara mampu dia buat. Namun, di antara beragam alat musik, dia hanya menyukai satu jenis alat musik yang berasal dari Australia yang bernama didgeridoo.

Tak pelak, nama alat musik yang berasal dari suku Aborigin itu dijadikan nama usaha kecil menengah (UKM) yang dia dirikan sejak 1999. Didgeridoo sendiri adalah alat musik tiup berasal dari kayu, berukuran panjang lebih dari 1 meter dengan bentuk melengkung berdiameter 10 sentimeter.

Sholeh mengaku, kecintaannya terhadap suku Aborigin berawal dari keunikan suku ini dalam menciptakan sebuah alat musik. Menurutnya, hanya sebagian kecil manusia di dunia ini yang benar-benar bisa memainkan alat musik tersebut. “Biasanya orang kalau membeli ini hanya sebagai pajangan,” katanya, saat acara pameran Indocraft di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam memproduksi alat musik tersebut, Sholeh mengatakan tidak banyak kesulitan dalam hal pembuatannya. Selain sudah sering membuat, alat musik ini tidak memiliki bentuk yang sukar untuk dibuat. Selain dari bahan utama kayu jati, didgeridoo bisa juga dibuat dari kayu pinus, bambu, dan kayu suren.

Dengan pembuatan yang cukup sederhana dan tidak memakan biaya banyak, harga didgeridoo hanya berkisar Rp 150.000. Namun, Sholeh mengaku dalam penjualannya menemui kendala lantaran hanya mengandalkan pesanan dari para pembeli.

Sementara itu, untuk pasar di Australia sendiri, alat musik ini tidak bisa diperdagangkan secara bebas, lantaran Didgeridoo adalah alat musik sakral suku Aborigin. Sementara itu, untuk jenis alat musik lainnya serta berbagai kerajinan tangan buatannya harganya berkisar Rp 20.000 sampai jutaan rupiah.

“Kami tidak bisa menjual sembarangan ke Australia, tapi kami masih bisa masuk ke sana. Masuknya disatukan dengan produk furnitur yang diekspor ke Australia melalui agen-agen khusus yang sudah berlangganan dengan kami,” ujarnya.

Selain didgeridoo, Sholeh juga menjual alat musik Jimbe dari Afrika dan beragam patung-patung kebudayaan asli di Afrika. Meskipun begitu, Sholeh tetap mencintai kebudayaan dalam negerinya sendiri dengan memproduksi alat musik tradisional seperti angklung, gong, gamelan, suling, dan dendang, serta beragam cenderamata asli budaya lokal.

“Alat musik tradisional mancanegara jika dipadukan dengan alat musik lokal menghasilkan suara yang merdu. Jadi saya juga ciptakan alat musik Indonesia,” katanya. Sholeh menjelaskan, biaya produksi per bulannya bisa mencapai Rp 20 juta, bahkan lebih. Namun, dari hasil penjualan Sholeh mampu meraup laba kotor sebesar Rp 50 juta. “Itu juga kalau lagi banyak pesanan,” ujarnya.

Hanya saja, usaha Sholeh di Dusun Sadang RT03/09 Desa Cibeusi Kabupaten Sumedang sampai saat ini masih dihantui persoalan modal. Ketika sedang kebanjiran order, Sholeh malah kesulitan modal untuk biaya produksi.

“Kalau ada order kami jarang dikasih uang muka penuh, paling besar 50 persen, rata-rata 25 persen dari total harga yang disepakati. Sementara, kami sulit mencari pinjaman, sehingga dengan keterbatasan biaya kami tetap jalani produksi. Biasanya saya berkorban menjual barang berharga untuk menutupi kekurangan biaya produksi,” tuturnya.

Tidak mau menyerah dengan keadaan tersebut, Sholeh tetap berjuang melawan keadaan sembari mencari informasi untuk mencari tambahan modal. Beruntung teman-teman seprofesi di kampungnya menganjurkan Sholeh menjadi binaan PT Telkom.

Sholeh mengatakan, semenjak menjadi binaan Telkom usahanya mengalami perkembangan. Dari segi modal Telkom siap memberikan Rp 30 juta tambahan modal. Tak hanya itu, dari segi manajemen Telkom memberingan bimbingan manajemen sebuah usaha yang baik dan terarah, sehingga usahanya mampu terorganisasi dengan baik.

“Telkom juga sering mengajak saya ikut serta dalam pameran-pameran. Berkat itu semua usaha saya jadi lebih maju dan terkenal,” ucapnya. Namun, Sholeh menyesalkan ketidakseriusan pemerintah pusat maupun daerah untuk memberdayakan UKM yang ada di daerahnya. Dia bercerita puluhan UKM di daerahnya rata-rata bekerja sendiri-sendiri tanpa ada upaya pemerintah memberdayakan mereka. “Kami malah diperhatikan pihak swasta,” tuturnya.

Merintis Bisnis dengan Kecap

Kecap banyak digunakan sebagai bahan dasar masakan Indonesia. Tidak heran jika bisnis ini cukup menggiurkan sejumlah orang, dan tak semua orang sukses berbisnis kecap. Apalagi lidah orang terkadang susah menerima rasa kecap produk UKM.

Hal itu diakui oleh Arih Undriarto ketika memulai usaha kecapnya. Ia butuh contoh untuk meyakinkan calon pembelinya karena kebanyakan orang sudah cocok dengan kecap ter-tentu sehingga sulit untuk beralih. Apalagi, sasaran Arih adalah pelaku usaha di bidang kuliner karena kebanyakan pelaku usaha kuliner ini sudah mema-lonkan rasa yang la inginkan dengan bahan-bahan yang ia tentukan.

Mengganti kecap yang biasa digunakan pelaku usaha kuliner bukan hal yang mudah. Namun, kerja keras Arih temya-ta membawanya mendapatkan banyak pelanggan.

“Bahkan ada orang yang selama ini memang mencari-cari rasa kecap yang saya buat ini. Begitu mereka merasakan kecap saya, mereka langsung memesan dan mengganti semua kecap yang selama Ini mereka pakai. kata Arih Undriarto, pengusaha kecap Mentari Terbit ketika ditemui Warta Kota belum lama Ini.

Langkah Arih untuk memasarkan kecap Mentari Terbit terus berkembang, la pun mendapatkan banyak pelanggan pelaku usaha kuliner, baik skala kecil maupun besar. Karena pelanggannya adalah pelaku usaha, Arih menjual kecapnya dengan menggunakan Jeriken sehingga dari sisi biaya kemasan lebih murah karena bisa lsi ulang.

Selain Jeriken. Arih menggunakan botol Juga yang selama ini fungsi kecap botolan untuk promosi dan tester. Ia Juga menggunakan kecap botolan Jika ada pameran sehingga pembeli yang ingin mencoba bisa membeli dalam ukuran kecil.

Kecap produksi Arih memiliki rasa enak karena menggunakan bahan-bahan terbaik. Ia menggunakan gula merah dari beberapa pemasok di daerah. Setidaknya, ada tiga pemasok gula merah yang dimiliki Arih. Bukan karena pasokan yang kurang tetapi untuk membuat pemasoknya bersaing memberikan gula merah terbaiknya. Kualitas kecap buatan Arih mengandalkan kualitas gulanya. Semakin bagus kualitas gula merah, semakin bagus kualitas kecapnya. Sementara kacang kedelai dibeli dari pasar dan belum langsung dari petani.

“Sejauh ini. kacang kedelai masih kami cari di pasar, tidak langsung dari petani. Karena kualitasnya masih cukup bagus. Tetapi sudah ada yang menawarkan membeli langsung ke petaninya namun masih kami tinjau dahulu,” kata Arih.

Sayangnya, harga kedelai dan gula merah memang sering berubah sehingga beban produksi seringkali menjadi berat karena Arih tidak mungkin menaikkan harga kecapnya. Untungnya. Arih membangun hubungan, yang kuat dengan pemasoknya sehingga ketika harga melonjak, mereka masih bisa mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal.

Kini, bisnis Arih sudah meraih omzet Rp 135-140 Juta per bulan. Modal Rp 25 Juta yang dimiliki Arih dan H Suglmln untuk membuat kecap mampu dikembalikan Arih selama 6-7 bulan. Omzet sebesar Itu. masih belum besar dinilai Arih karena masih banyak pengeluaran yang seharusnya bisa ditekan. Salah satunya adalah biaya distribusi yang dianggap masih cukup besar. “Saya masih akan terus belajar dan mencoba mencari cara untuk mendapatkan metode yang tepat untuk mengurangi biaya distribusi.” tutur Arih.

Salah satu cara yang la coba lakukan adalah belajar dari rekan-rekan pelaku usaha menengah kecil dalam sebuah komunitas. Di dalam komunitas Tangan Di Atas tempat Arih bergabung, banyak memberikannya bantuan untuk memperbaiki kesalahannya dalam berbisnis, memperluas Jaringannya, dan mendapat-kan tip-Up untuk mengurangi biaya yang Udak perlu dikeluarkan.

Dari masjid

Bisnis kecap diawali Arih Llndrtarto dari masjid. Perkenalannya dengan pria bernama H Suglmln yang beberapa kail bertemu dengannya di masjid, membuahkan Ide untuk membangun bisnis kecap. Di bawah bendera Kecap Mentari Terbit, Arih memulai bisnis barunya setelah beberapa bisnis sebelumnya gagal bahkan ia seringkali ditipu rekan kerjanya

“Saya memulai bisnis kecap ini setelah bangkrut dari bisnis kontraktor. Saya dlUpu orang. Setelah bertemu beberapa kali dengan pak haji (H Suglmln). saya akhirnya menawarkan beliau untuk kerja sama membangun bisnis kecap,” kata Arih. Arih meminta Suglmln untuk membuat kecap seperti yang biasa ia lakukan ketika masih bekerja di sebuah pabrik kecap terkemuka. Semua bahan dan proses produksinya sama dengan kecap yang selama di pabrik kecap tersebut ia buat

Arih memberikan kepercayaanya kepada Sugimln untuk membuat kecap dan la hanya belajar. Arih sendiri sampai saat ini Udak terlibat langsung dalam pembuatan kecap dan memilih untuk mengurus marketing dan distribusinya.

Tip Sukses Menjadi Pelaku UKM

Memiliki  usaha menjadi Impian banyak orang. Sayangnya tidak banyak orang yang sukses membangun usaha. Apalagi di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat saat Ini. Belum lagi risiko yang harus dihadapi pelaku usaha dan mental untuk menghadapi berbagai kegagalan.

Tetapi, banyak cara dan tip yang bisa dipelajari untuk membantu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) menjalankan usahanya. DI bawah Ini beberapa langkah yang perlu diperhatikan agar usaha bisa berjalan.

1.Fokus Mengembangkan Skill

Modal utama dalam menjalankan usaha adalah skill Pelajari apa yang menjadi kelebihan Anda dan tingkatkan kemampuan tersebut sebagai kekuatan utama untuk menjalankan usaha sebaik-baiknya. Fokuslah pada bidang yang disukai dan delegaslkan bidang Iain yang sekiranya kurang dipahami pada rekan kerja yang lebih ahli. Ini akan lebih efektif.

2.Prioritaskan Bisnis Anda

Bisnis yang sedang berkembang membutuhkan banyak waktu, tenaga dan perhatian. Prioritaskan urusan bisnis diurutan pertama, agar tertangani dengan optimal dan bisa berjalan dengan lancar. Jangan Jalankan bisnis setengah hati.

3. Rencanakan Kesuksesan

Sebagai pelaku UKM. tetap dituntut untuk memiliki visi yang besar dan sudah pasti didukung oleh perencanaan yang matang. Tulis tujuan dan rencanakan langkah-langkah pasti untuk mencapainya.

4. Selalu Optimis

Pelaku UKM harus memiliki pandangan Jauh ke depan dan selalu optimistis dengan target-target yang telah mereka tentukan. Hal Ini penting agar selalu yakin dengan keberhasilan dan termotivasi untuk bisa mencapai keber-hasilan-keberhastlan tersebut. Optimistis membantu mengalahkan hambatan yang muncul di tengah Jalan.

5.Buatlah Pembukuan Sederhana

Pelaku UKM Juga wajib membuat pembukuan sederhana untuk mencatat semua transaksi yang telah terjadi. Langkah Ini penting agar setiap pemasukan serta pengeluaran usaha bisa tercatat dengan balk serta bisa melihat untung rugi perusahaan. Tidak perlu membuat laporan keuangan yang rumit, yang sederhana cukup membantu asal benar dan rapi.

Memulai Usaha Cuci dan Salon Kendaraan

Melihat mobil maupun motor terawat, memang memiliki kenikmatan tersendiri bagi sebagian orang. Baik body luar maupun dalam mobil maupun motor, pasti memberikan kenyamanan tersendiri bagi penggunanya dan orang yang melihatnya. Interior mobil maupun motor sangat mendukung kenyamanan dalam berkendaran. Kemewahan bodi luar dinikmati oleh orang-orang yang melihat, sedangkan interior dinikmati oleh pemilik dalam berkendara.

Bagi Anda yang gemar dengan automotif dengan kantong modal yang cukup memadai dan memiliki jiwa wirausaha yang kuat, jangan ragu untk memulai usaha sendiri. Jangan khawatir tentang konsumen Anda nantinya, karena jumlah konsumen di Indonesia akan terus mengalami peningkatan yang besar dalam urusan mobil maupun motor seiring perkembangan jaman serta teknologi.

Karena itu perlu terobosan usaha yang lebih dari sekadar salon mobil, reparasi atau aksesoris mobil maupun motor saja. Sebuah usaha yang benar-benar didedikasikan untk memperhatikan gaya dan dandanan mobil maupun motor Anda secara menyeluruh (car detailer). Usaha seperti ini sering disebut salon mobil.

Dari perkembangan kepemilikan mobil maupun motor, memang bersalon mobil masih berpeluang bagi Anda yang sangat menjanjikan selain menawarkan jasa mencuci kendaraan. Tentu salon mobil ini butuh keseriusan dan tak bisa asal dikelola saja. Kendalikan usaha salon mobil ini dengan professional. Maka, langkah utama untk memulai salon mobil adalah mencari lahan usaha yang lokasinya ramai dan banyak dilalui kendaraan bermobil maupun motor, membentuk badan usaha, dan mencari pemasok produk polesan.

Selanjutnya buatlah salon mobil ini, berbeda dengan salon-salon mobil yang sudah ada. Baik dari segi kualitas dan pelayanan terhadap customer. Miliki tenaga ahli yang berpengalaman dan dapat mengayomi konsumen. Dukung dengan peralatan serta teknologi mutakhir yang dapat memudahkan segalanya baik dari segi teknis dan non teknis

Jasa yang ditawarkan oleh salon mobil adalah perawatan ekterior dan interior mobil maupun motor yang mencakup snow car wash, salon mobil specialist, paint protection; anti karat. Dari kesemua perawatan tersebut hasilnya dapat membuat mobil maupun motor mengkilap, sehat terawat dan awet.

Andapun dapat menawarkanjasa salon mobil panggilan, untk lebih memanjakan customer anda yang karena kesibukannya, sehingga tidak sempat untk pergi menyalonkan mobil maupun motornya. Yang patut Anda perhatikan adalah mulai dari sabun yang dipakai dalam perawatan, bahan yang dipakai sebaiknya 100 persen wax mumi, dengan PH 7 dan beraroma sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan, tidak asam dan basa yang bisa menyebabkan karat dan korosi, pilihlah lap khusus, teknis pengerjaan yang teruji, terlatih dan bersertifikat akan sangat mendukung usaha Anda semakin sukses. Para pengelola salon mobil juga telah banyak mengembangkan jenis pelayanannya dengan melihat berdasarkan kebutuhan cuslomernya. Jenis pelayanannya ada yang bisa didapatkan dengan pilihan secara per paket ataupun pelayanan berdasarkan satu per satu jenis pengerjaa.-

Contoh paket yang dibuat salon mobil itu mencakup paket pencucian plus pemolesan body secara menyeluruh, paket perawatan full untuk eksterior, interior ataupun paket kebersihan mesin. Untuk jenis pelayanan per bagian salon mobil mengklasifikasi mulai dari perawatan interior, eksterior dan kebersihan mesin.

Pelayanan dengan paketdimaksudkan agar customer bisa mendapatkan lebih dari satu atau semua jasa perawatan mobil dari salon mobil tersebut mulai dari eksterior, interior hingga kebersihan mesin mobil. Tentunya pelayanan paket memiliki biaya yang lebih ekonomis jjka dihitung satu per satu berdasarkan harga dari setiap jenis pelayanan yang ada di salon mobil tersebut.

Di Auto Bridal, paket pelayanan yang diberikan juga sangat banyak, diantaranya adalah adanya paket yang bernama full paket medical treatment. Dengan paket ini customer mendapatkan pelayanan perawatan interior, eksterior, seluruh kaca dan kebersihan mesin yang mencakup pengerjaan menghilangkan jamur pada kaca, bercak air hujan pada body, vacum cleaner untuk menghilangkan bau interior, dan pembersihan kotoran yang sulit dihilangkan yang terdapat pada mesin pun menjadi tantangan tersendiri.

Hampir setiap salon mobil juga telah menerapkan sistem membership untuk customernya. Dengan bergabung sebagai membership di salah satu salon mobil, biasanya customer akan mendapatkan potongan harga dari setiap pelayanan yang diberikan bahkan hingga bonus atau hadiah. Di Auto Bridal, customer yang menjadi membership akan mendapatkan potongan harga sebesar 20% untuk setiap jenis pelayanan perawatan mobil yang diinginkannya dan untuk bergabung sebagai member seorang customer dikenakan biaya 250 ribu rupiah untuk satu tahun menjadi member.

Dari perawatan eksterior, interior hingga kebersihan mesin, masing-masing salon mobil memiliki proses pengerjaan dengan cara, peralatan, treatment dan obat yang berbeda yang secara langsung mempengaruhi kualitas hasil dalam perawatan mobil. Pengerjaan oleh salon mobil ditangani oleh tenaga terlatih, sangat disarankan buat anda yang sibukuntuk memanfaatkan layanan ini.

Bisnis salon mobil membutuhkan kecermatan dan sedikit nuansa seni. Hitungannya bukan bersih atau tidak, rapih atau tidak, nanmun apakah hasil olahan dari tenaga terampil yang Anda miliki mampu memberi kepuasan bagi pemilik kendaraan. Karena bukan mustahil, untuk urusan mempercantik kendaraan, si pemilik dapat merogoh kocek dalam-dalam untuk terpuaskannya atas kendaraan yang disayangi.

Usaha Pembuatan Air Minum Kemasan

Sebagai kebutuhan pokok, air minum akan selalu dibutuhkan. Alhasil, bisnis air minum berkualitas bakal terus menjanjikan. Saat ini, air minum non-mineral dalam kemasan muncul sebagai alternatif air minum. Bahkan, air minum ini diminati warga perumahan elit di Jakarta dan Bandung.

AIR minum merupakan kebutuhan dasar untuk meijaga metabolisme tubuh, ((leh karena itu, kebutuhanakan air minum yani; sehat tidak akan pernah surut Peluang bisnis yang menjanjikan inilah yang membuat Mulyono Simowibowo tergiur memproduksi air minum. Dengan mengusung merek Celebrity, Mulyono memulai usaha ini 1 i Bandung pada 2006.

Berbeda dengan air minum kemasan lainnya, vicinity merupakan air minum non mineral. Saat ini. lelebritj sudah merambah pasar Bandung dan Jakarta Kebanyakan klien saya warga perumahan elit yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan air minum.” ujar Mulyono.

Selama tni, Mulyono melakukan pemasaran dari pintu ke pintu. Strategi itu cukup jitu um uk meraih hati pelanggan. Mulyono mendapat pasokan daii PT Perusahaan An Minum PAM  sebanyak 15.000 hingga 26.000 liter per hari. Ia membeli air dengan harga Rp 135.000 tiap 5.000 liter. Setelah memperoleh pasokan air, ia mengolah air tersebut dengan proses distilasi atau penyulingan.

Dengan modal Rp 300 juta.

Mulyono membeli berbagai mesin untuk memproduksi air minum ini. Seperti mesin boiler untuk memanaskan air hingga menjadi uap dan mesin kondenser untuk merubah kembali uap menjadi air. “Dengan proses itu, maka air akan steril dari kadar mineral, pungkas Mulyono. Dalam proses lm akan terjadi pengurangan massa air sekitar 20%.

Setelah diolah di pabriknya di Bandung, ia menjual produk Celebrity mulai dari kemasan cup 220 ml, botol il, botol 600 ml, botol 1,5 liter liingga ukuran galon 19 liter. Dalam sehari, eiebrity bisa terjual hingga 20.000 liter dalam berbagai kemasan.

Iv insumen eiebrity paling banyak mengkonsumsi kemasan galon ukuran 19 liter dengan harga Rp 11.000 per galon untuk harga Bandung dan Rp 12.500 untuk harga Jakarta “Dalam sebulan omzet minimal Rp 180 juta,” ujar Mulyono.

Pemain lainnya adalah Hendri Darmawan yang menjual produk air kemasan non-mineral dengan merek  elestine. Memulai usaha sejak 2010 di Bekasi, saat ini ia sudah bisa menjual 8.000 liter air non mineral per hari dengan harga Rp 10.600 untuk ukuran galon 19 liter dan Rp 8.500 untuk ukuran 12 liter.

Pelanggannya baru berasal dari sekitar Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Berbeda dengan Mulyono, Hendri lebih fokus pada produk kemasan galon karena margin keuntungan lebih besar. Sayang, Hendri enggan menyebutkan omzetnya.

Mulyono mengaku, tantangan terberatnya adalah saat mengubah pandangan masyarakat tentang air inineral. Biasanya, untuk mensosialisasikan air non mineral itu, ia melakukan demo sederhana bagaimana memproduksi air minum non mineral kepada para calon pelanggannya.

Meski begitu, ia yakin, bisnis ini akan tetap punya masa depan. Alasannya, masih banyak pihak yang belum mengetahui informa-si tentang air non mineral. “Selain itu, pemainnya sangat terbatas,” tambah Hendri.

Ingin Maju, Manajemen Perlu Dibenahi

Walau Tonik terus berinovasi dari segi produk, model, dan warna, ternyata hal itu belum cukup membuat Amalia Thessen puas. Setelah enam tahun berjalan, ia merasa masih ada hal yang mengganjal dan bisa mempengaruhi kelangsungan bisnisnya ke depan, terutama mengenai manajemen dan pemasaran produk.

Memang  bisnis fesyen dan aksesori yang dijual di Toko Unik atau Tonik bisa dibilang telah menimba sukses. Lahat saja, kini jaringan Tonik telah mampu menghasilkan duit ratusan juta rupiah per bulan. Namun kesuksesan itu tak lantas membuat si empunya Tonik, Amalia Thessen puas. Amalia merasa harus ada perbaikan dari segi manajemen agar usahanya ini dapat berkembang lebih melesat lagi.

Amelia mengenang, ketika kuliah, seorang karibnya menasehati, untuk mengembangkan usaha maka perlu manajemen yang baik, terutama mengenai manajemen keuangan. “Sobat saya bilang, usaha sudah punya pelanggan. Karena itu dengan manajemen yang baik pasti akan lebih berkembang,” ujar Amelia mengenang nasihat sobatnya itu.

Nasehat itu memang tak berlebihan. Amelia mengakui, dia memang terlalu fokus dalam pengembangan fesyen dan aksesori. Baginya, manajemen maupun pengelolaan pemasaran masih dinomorduakan.

Perempuan yang mengaku idealis dalam hal fesyen ini berniat untuk membenahi dan menyusun sistem manajemen usahanya ini. “Bulan depan kami juga akan menggunakan jasa akuntan untuk mengaudit keuangan,” beber Amelia.

Soal pemasaran pun bakal digarap lebih serius. Setelah memasang logo Tonik di paper bag dan produk sepertikaos, tas, dan dompet, kini Amelia berniat memasang Igo Tonik di produk aksesori seperti gelang dan kalung. Selain im, logo Tonik juga bakal mejeng di mana-mana. Kini logo itu baru tertempel di kendaraan operasional atau di lokasi bazar atau pameran.

Menurutnya sistem manajemen dan pemasaran ini sangat penting. Maklum, pada 2012 nanti, Amelia berambisi membuka toko grosiran yang lebih besar. “Sebelum mencapai itu semua kami harus punya sistem manajemen yang kuat,” ungkapnya

Niat Lia untuk membuka toko grosiran sudah mulai ia rancang. Ia sudah menyiapkan tempat di Mal Ambassador, Jakarta Selatan. Ia menganggap pengunjung mal itu seseuai dengan segmen pasar yang dia garap. “Kami tak asal tunjuk tempat, kami sudah riset sebelumnya bahwa produk kami banyak juga yang dijual di tempat tersebut,” tandasnya

Ambisi Amelia lainnya adalah membuka Tonik di mal premium, sekaliber Grand Indonesia Ia yakin, produk fesyen yang ditawarkan di Tonik bisa merepresentasikan produk fesyen lokal yang berkualitas yang tak kalah dengan produk impor.

Keyakinan itu dilandasi dari pengalamannya saat memproduksi dan menjual syal ikat dari bahan kaos, pada 2010 lalu. Tak dinyana, “Awal yang tidak disengaja itu temyata sambutannya luar biasa besar,” ujar Amelia.

Dalam sehari syal itu bisa terjual hingga 150 pieces dengan harga Rp 75.000 per buah. Amelia menyatakan, antusiasme pelanggan terhadap produknya itu lantaran syal tersebut hampir memiliki persamaan dengan syal yang dijual di toko retail premium seperti Zara.

Hal itu pun dibenarkan oleh Ebi Febrian, sekondan Amelia dalam mengelola Tonik. Menurut Ebi, produk syal tersebut seharusnya bisa menjadi ikon Tonik. Namun karena buruknya manajemen pemasaran syal tersebut, penjualan syal itu tak berlangsung lama karena kompetitor langsung berbondong-bondong membuat produk serupa. “Bisa dibilang

Tonik pernah menjadi iamlsrtter dalam syal ikat sebelum muncul pemain lain yang ikut memproduksi syal serupa tanpa kami ketahui sebelumnya,” ujar Ebi. Manisnya berjualan syal tersebut hanya bisa bertahan selama enam bulan.

Itulah sebabnya, Amelia menegaskan, ketika manajemen Tonik mulai kuat, ia bakal membangkitkan lagi produk yang pernah sukses dibesutnya seperti pil), sepatu lukis, dan syal ikat. “Karena tren pasar saat ini masih ke arah baju dan aksesori,” tukas Amelia.

Yanti Riyanto, reseller Tonik di Jakarta menambahkan, kelebihan produk Tonik adalah banyaknya referensi soal model serta kreativitas yang dimiliki oleh Amelia dan team kreatifnya membuat pelanggan tak pernah jenuh dengan produk yang dihasilkan. “Saya juga nyaman kerjasama dengan Tonik dan Amelia,” pungkas Yanti.

Musim hujan, produsen jas kebanjiran pesanan

Musim hujan mendatangkan berkah bagi produsen jas hujan. Mereka mendapat banyak pesanan. Produsen pun terus berinovasi. Salah satunya dengan mendesain jas hujan khusus wanita muslimah atau jas hujan dengan beragam motif.

Hujan adalah hal yang paling menyebalkan bagi para pekerja di lapangan. Maklum, kalau tak pakai jas hujan, pakaian bisa basah kuyup kena hujan. Karena itu, bagi para pekerja ini, lebih baik sedia jas hujan sebelum kehujanan.

Namun, di balik “penderitaan” para pekerja itu, ada kebahagiaan bagi produsen jas hujan. Musim hujan, tentu masa panen bagi mereka. Menurut Sandi Tumenggo, Projet Manajer PT Progressio Indonesia di Bandung, di musim hujan, perusahaannya kebanjiran order jas hujan.

Progresio menerima pesanan jas hujan dari seluruh Indonesia. Selain dari Bandung, pesanan juga datang dari Sumatra, Kalimantan hingga Papua. Pelanggan tetap Progresio adalah perusahaan tambang, kepolisian, serta perusahaan perkapalan. Dalam setahun, pelanggan itu biasanya memesan jas hujan dua kali.

Di musim hujan, perusahaan sanggup mengerjakan hingga 5.000 unit jas hujan tiap bulan. Banderol harga jas hujan ini berkisar Rp 85.000 hingga Rp 125.000. Dengan produksi sebanyak itu, tak kurang dari Rp 500 juta per bulan masuk ke laci kasir perusahaan.

Progessio menawarkan dua model jas hujan, yakni jas hujan model baju dan celana serta jas hujan model rok. Berkah hujan juga dinikmati Diah Kurniasih. Berbeda dengan Progessio, Diah memproduksi jas hujan khusus wanita yang mengenakan busana muslim.

Lewat merek Syabab Collection, Diah mengeluarkan tiga model jas hujan. Pertama, jas hujan berupa setelan jaket dan rok. Kedua, jas hujan model gamis yang penutup kepalanya menyatu dengan leher seperti model ponco. Terakhir, jas hujan berbentuk jaket tapi di bagian celananya ditambahkan celemek.

Selain itu, Diah juga membuat jas hujan bermotif, seperti polkadot kecil warna-warni, motif lurik atau abstrak, dan motif kotak-kotak. “Jas hujan bermotif ini adalah salah satu produk inovasi kami,” kata Diah. Diah memulai bisnis ini sejak Februari 2011. Modal awal Diah untuk memulai usahanya sebesar Rp 15 juta. Meski belum genap setahun, Diah sudah bisa meraup omzet Rp Rp 30 juta per bulan.

Ia memasang harga mulai Rp 100.000 hingga Rp 160.000 per stel. Variasi harga ini, tergantung dari jenis bahan dan model jas hujan. Di antara koleksinya, jas hujan paling laris adalah model jas hujan gamis serta setelan jaket dan rok.

Untuk pemasarannya, Diah hanya mengandalkan media online. Ia mengaku pemasaran lewat dunia maya ini cukup efektif.  Setidaknya, dalam sebulan, Diah mampu menjual jas hujan sebanyak 200 hingga 250 buah jas hujan. Selain menjual secara eceran, Diah juga menerima permintaan jas hujan dalam jumlah banyak atau grosir.

Ia juga menawarkan peluang bagi orang-orang yang ingin menjadi reseller. Syaratnya, cukup membeli minimal tiga buah jas hujan bahan biwaey dan enam buah jas hujan bahan taslan.  Adapun yang tertarik menjadi agen harus membeli jas senilai minimal Rp 2 juta. “Saat ini kita ada sekitar 10 agen yang tersebar di Sumatera, Sulawesi, dan Jabodetabek,” tutur Diah.

Budiyanto melepas profesi auditor, sukses berbisnis jasa kurir

Menjadi auditor di perusahaan mapan tidak membuat Budiyanto Darmastono berhenti mengejar mimpinya. Ia memilih menggeluti usaha jasa kurir Nusantara Card Semesta (NCS). Kini, omzetnya mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.

Meninggalkan karier mapan demi membuka usaha sendiri adalah sebuah keputusan yang sulit. Tapi, Budiyanto Darmastono berani mengambil keputusan itu. Memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai auditor, akhirnya, ia berhasil membangun perusahaan jasa kurir bernama Nusantara Card Semesta (NCS). Saat ini, NCS memiliki 36 kantor cabang dan 600 agen di beberapa kota.

Dengan memberi layanan logistik, pergudangan, distribusi, pengiriman kargo, kurir, dan mailroom management, pendapatan NCS telah mencapai ratusan miliar rupiah setahun. Sekitar 80% dari ratusan kliennya merupakan perusahaan di sektor perbankan, telekomunikasi, dan asuransi. Tiap bulan, ada tiga juta kiriman yang mereka tangani.

Setiap tahun, pertumbuhan bisnis NCS mencapai 10%. Dengan mempekerjakan hampir 3.000 karyawan, Budiyanto optimistis perusahaannya bisa terus berkembang pesat seiring pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Apalagi, kondisi geografis Indonesia sangat membutuhkan bisnis jasa kurir.

Sebelum menekuni bisnis ini, Budiyanto – yang lahir pada 5 April 1966 – harus melalui jalan berliku. Di masa kecil, ia tidak memiliki mimpi menjadi pengusaha. Cita-cita awalnya adalah menjadi bankir dan punya banyak penghasilan.

Keluarga besar pria kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, ini sebenarnya tidak mendukung keinginan Budiyanto menjadi bankir. Maklum, secara turun-temurun, keluarganya adalah guru. Nenek, orang tua, dan kakak-kakaknya berprofesi sebagai guru. “Saya tidak mau menjadi guru karena tidak bisa memberikan jaminan ekonomi yang cukup,” tuturnya.

Cita-cita menjadi bankir merupakan inspirasi yang muncul dari pergaulan Budiyanto dengan para karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di desanya. Anak keempat dari enam bersaudara ini kukuh menjemput cita-citanya dengan melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), bukan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

Orang tua Budiyanto agak berat menerimanya. Selain masalah biaya, karier menjadi bankir tidak semudah berkarier sebagai guru. “Namun saya yakinkan orang tua saya, menjadi bankir akan lebih sukses,” katanya.

Untuk mendapatkan tambahan biaya pendidikan, pria yang akrab dipanggil Budi ini kuliah sembari berdagang. Setiap menjelang akhir tahun, ia berdagang kalender. Ia menawarkan kalender ke beberapa sekolah di kampung halamannya. Selain itu, ia juga aktif menjadi kepala bidang usaha di koperasi UGM. Dari usaha sampingannya, ia tidak hanya mendapat penghasilan, tapi juga ilmu pemasaran dan manajemen.

Setelah lulus, lagi-lagi Budiyanto menentang keinginan orang tuanya. Ia ngotot ingin merantau ke Jakarta demi mengejar karier. “Orang tua saya masih memaksa menjadi pegawai negeri sipil (PNS),” katanya. Di Jakarta, ia diterima di sebuah kantor akuntan publik.

Baru empat bulan bekerja, Budiyanto mendapat panggilan bekerja sebagai auditor di perusahaan kartu kredit, Dinners Club International. Ia puas karena cita-citanya menjadi karyawan di perusahaan jasa keuangan terpenuhi.

Memulai karier sebagai staf biasa, setelah hampir empat tahun bekerja, Budiyanto memegang jabatan manajer. Tapi, ia belum merasa sukses. Sebab, sembari menjadi auditor, untuk menambah pendapatannya, ia masih harus berjualan baju dan seprai ke rekan-rekan kantornya. Padahal, ia bermimpi bisa menjadi direktur, jalan-jalan ke luar negeri, dan hidup nyaman di usia masih muda.

Karena impian itu, pada tahun 1994, tepat saat tahun ketiga bekerja di Dinners Club, Budiyanto mulai membuka usaha sendiri dengan mendirikan usaha di bidang jasa kurir surat.

Ide dari hasil audit

Inspirasi usaha ini muncul saat ia mengaudit perusahaannya sendiri. “Dinners mengeluarkan dana cukup banyak tiap tahun untuk mengirim surat tagihan ke nasabah,” katanya. Saat itu, pemain jasa pengiriman dokumen masih sedikit. Selain itu, kualitas layanan belum bagus. “Kesempatan untuk tumbuh cukup besar dan pesaing masih sedikit,” katanya.

Dengan modal awal sebesar Rp 25 juta dan kantor di sebuah ruko seluas 130 meter persegi plus enam karyawan, Budiyanto memulai NCS. Di awal usahanya, ia mempekerjakan manajer operasional yang ia ambil dari perusahaan jasa kurir yang jadi langganan Dinners Club.

Sang istri sempat menentang keputusannya meninggalkan karier yang sudah mapan untuk usaha yang belum jelas. Alhasil, selama setahun, Budiyanto terpaksa bekerja ganda demi menenangkan istrinya. Pada tahun 1995, ia memutuskan mengundurkan diri dan fokus untuk membesarkan NCS.

Kini, Budiyanto menargetkan menambah jumlah agennya menjadi dua kali lipat dan menjangkau semua kabupaten di Indonesia. Ia juga berencana merambah bisnis jasa pengiriman uang.