Nama Kelembagaan Dunia Perikanan dan Peranannya

LATAR BELAKANG
            Dengan makin majunya teknologi dan makin bertambahnya kebutuhan dalam segala bidang menyebabkan setiap negara memberi perhatian lebih besar ke laut. Tampaknya laut mengandung potensi sumberdaya yang belum sepenuhnya tereksploitasi (kecuali sumber daya perikanan) seperti mineral, minyak dan sumberdaya lainnya yang terkandung di bawah permukaan laut. Dalam pertahanan negara, setiap bangsa juga memanfaatkan laut untuk keperluan militer. Semua ini menyebabkan timbulnya persoalan internasional dan mendorong negara-negara yang berkepentingan untuk mencari penyelesaian melalui berbagai cara.
           
Dalam pengelolaan bidang perikanan, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pertentangan, baik tingkat nasional maupun tingkat internasional.
Pada abad 20 ini, ekploitasi penangkapan ikan masih banyak terjadi. Hal ini disebabkan ikan yang hidup di laut tidak semata-mata tinggal di daerah yang tetap. Ikan akan berpindah-pindah sesuai dengan musim dan kondisi di perairan. Oleh sebab itu sumberdaya perikanan di anggap sebagai milik bersama dan dapat dieksploitasi oleh pribadi-pribadi ataupun pihak-pihak tertentu.
Adanya lembaga-lembaga perikanan yang berwenang mengatur perikanan, maka akan membuat semua aktivitas dan pekerjaan-pekerjaan di dalam tata laksana perikanan menjadi lebih mudah. Karena di dalam lembaga-lembaga tersebut telah dibuat semua undang- undang dan peratutan yang mengatur keseluruhan tentang perikanan tersebut. Bagi pihak-pihak yang melanggar peraturan-peraturan yang telah ditetapkan, maka mereka akan mendapatkan sangsi sesuai dengan pelanggaran yang di buatnya.
PERMASALAHAN
Permasalahan yang perlu dibahas dalam makalah ini adalah:
  1. Nama-nama lembaga perikanan yang ada di dunia.
  2. Peranan lembaga-lembaga perikanan di dunia.
  3. Hambatan-hambatan lembaga perikanan dalam menjalani perannya.
PEMBAHASAN
            Umumnya lembaga-lembaga perikanan internasional dibentuk dari hasil konvensi setelah Perang Dunia ke II, lima di antaranya disponsori oleh FAO seperti Indo-Pasific Fisheries Counsil(IPFC), General Fisheries Counsil for the Mediterranean (GFCM), Regional Fisheries Commission for Western Africa (RFCWA), dan Regional Fisheries Advisory Commission for South-West Atlantic. Sebagian besar lembaga itumenangani masalah perikanan laut.
           
Pada dasarnya lembaga perikanan internasional dapat dibedakan sesuai dengan fungsinya dalam menangani tersedianya ikan di laut, yaitu:
Lembaga perikanan yang berfungsi untuk membantu meningkatkan dan mengkoordinasi penelitian para negara anggota dan lalu merekomendasi konservasi. Contohnya adalah Internasional Counsil for the Exploration of the Sea (ICES) dan Internasional Commision for the Scientific Exploration of the Mediterranean Sea (ICSEM).
Lembaga perikanan yang merumuskan cara konservasi berdasarkan penelitian ilmiah, tetapi penelitian itu tidak dilakukan oleh staf lembaga tersebut, misalnya Internasional North Pasific Fisheries Commision (INPFC), Joint Commision for the Black Sea Fisheries and North-east Pasific Fisheries Commision (NEAFC).
Lembaga perikanan dengan tugas memformulasikan cara-cara konservasi berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh stafnya sendiri. Sebagai contoh, Inter-American Tropical Tuna Commision (IATTC), Internasional Pasific Salmon Fisheries Commision (IPSFC) dan Internasional Pasific Halibut Commision (IPHC).
Pada umumya cara konservasi yang direkomendasikan oleh lembaga perikanan internasional itu lebih ditekankan pada larangan dan pembatasan dengan diadakannya musim penangkapan atau perairan terbuka dan tertutup untuk eksploitasi; ukuran minimum mata jaring; dan batas ukuran ikan yang boleh ditangkap. Ada pula cara konservasi yang dinyatakan dalam batas maksimum penangkapan seperti Internasional Commision for the North-west Atlantic Fisheries dan Internasional Whaling Commision. Rekomendasi lainnya adalah pembatasan usaha tangkapan (limitation of effort), pembiakan secara artifisial (artificial propagation) dan memindahkan biota muda ke tempat lain (transplantation).
Walaupun lembaga perikanan internasional sudah terbentuk, tetapi lembaga itu menghadapi banyak hambatan sehingga tidak berfungsi sebagai mana yang diharapkan. Hambatan yang menonjol antara lain:
  1. Wewenang lembaga perikanan internasional sangat terbatas.
  2. Lembaga perikanan internasional tidak dapat mencegah negara bukan anggotanya memasuki perairan tertentu sehingga menyulitkan kesepakatan yang ada.
  3. Untuk perikanan di laut teritorial, peraturan yang sudah ada tidak mencukupi.
  4. Pada umumnya jumlah staf peneliti lembaga perikanan internasional sangat terbatas.
  5. Banyak negara anggota yang tidak melaksanakan peraturan lembaga perikanan internasional apabila pelanggaran itu dilakukan oleh kapal dengan bendera negaranya.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa hukum laut tidak pernah cukup untuk menanggulangi problema perikanan yang rumit. Dan lembaga perikanan itu sendiri tidak mampu untuk memaksakan peraturan-peraturan yang ada.
v  Lembaga perikanan di bawah PBB, meliputi:
  1. Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), mempengaruhi perikanan melalui mandat dan rekomendasi yang berkaitan dengan konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati.
  2. Komisi Pembangunan Berkelanjutan (CSD) adalah forum diskusi yang didirikan sebagai tindak-lanjut dari Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED, Brazil, 1992) dalam hal perikanan.
  3. Divisi untuk Samudra Negeri dan Hukum Laut (DOALOS), berperan dalam hukum laut dan memonitor pelaksanaannya. Divisi ini juga merupakan Sekretariat Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut (ITLOS).
  4. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO)mengatur kondisi kerja di kapal-kapal penangkap ikan yang lebih besar dari 24 panjang keseluruhan (LOA).
  5. Organisasi Maritim Internasional (IMO) secara tidak langsung berhubungan dengan perikanan melalui isu-isu seperti bendera kemudahan (register terbuka), peraturan internasional untuk navigasi, keselamatan di laut, pembuangan dari platform minyak bekas.
  6. Kelompok Ahli yang membahas tentang Aspek Ilmiah Kelautan Perlindungan Lingkungan Hidup (GESAMP) memberikan saran yang berkaitan dengan aspek-aspek ilmiah perlindungan lingkungan laut.
  7. Majelis Umum PBB (UNGA) sebagai organ deliberatif utama Perserikatan Bangsa-Bangsa, berkaitan dengan beberapa pertanyaan penting perikanan.
  8. PBB Open-ended Informal Consultative Process di Ocean Negeri dan Hukum Laut (UNICPOLOS) didirikan pada tahun 2000 untuk memberikan nasihat kepada UNGA mengenai hal-hal yang relevan dengan pembangunan yang berkesinambungan dari lautan.
  9. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyentuh pada perikanan untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan perdagangan dan lingkungan, tarif dan tarif-hambatan perdagangan non subsidi, dll
v  Organisasi internasional non-PBB
  1. Konvensi Perdagangan Internasional Species Wild Flora dan Fauna (CITES), yang baru-baru ini menambah kepemilikan spesies air skala besar seperti spesies target perikanan.
  2. Jaringan Pusat Budidaya Perairan di Asia-Pasifik (NACA) merupakan organisasi regional otonom yang bertujuan mempromosikan pembangunan akuakultur daerah untuk meningkatkan ketahanan pangan, pendapatan dan lapangan kerja serta beroperasi pada prinsip kerjasama teknis di antara negara-negara berkembang.
  3. OLDEPESCA adalah organisasi Amerika Latin untuk pengembangan perikanan yang tujuan utamanya adalah untuk secara memadai memenuhi persediaan makanan di  Amerika Latin dengan menggunakan potensi sumberdaya perikanannya.
  4. Pusat Pengembangan Perikanan Asia Tenggara (SEAFDEC). Tujuan utamanya adalah untuk membantu negara-negara anggota dalam mengembangkan potensi perikanan untuk peningkatan pasokan makanan daerah melalui pelatihan, penelitian dan program informasi dan jasa.
  5. Pusat WorldFish (dahulu ICLARM), dikhususkan dalam penelitian global untuk meningkatkan produktivitas, pengelolaan dan konservasi sumber daya air untuk kepentingan pengguna dan konsumen di negara berkembang.
v  Organisasi non-pemerintah
  1. Greenpeace adalah organisasi kampanye lingkungan global. Kampanye publiknya antara lain, perlindungan laut terhadap pelepasan organisme hasil rekayasa genetika ke alam dan promosi energi terbarukan untuk menghentikan perubahan iklim.
  2. Koalisi Internasional Asosiasi Perikanan (ICFA), tujuannya adalah untuk menjaga dan memelihara lautan sebagai sumber utama makanan ikan.
  3. Internasional Kolektif yang Mendukung Fishworkers (ICSF) berurusan dengan isu-isu yang menyangkut fishworkers seluruh dunia dan terlibat dalam pemantauan dan penelitian, pertukaran dan pelatihan, kampanye dan program tindakan dan komunikasi.
  4. World Conservation Union (IUCN) mempengaruhi, mendorong dan membantu masyarakat di seluruh dunia dalam melestarikan integritas dan keanekaragaman alam serta memastikan bahwa penggunaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan secara ekologis.
  5. World Wide Fund for Nature (WWF)bertujuanuntuk melestarikan genetik, spesies, dan keanekaragaman ekosistem; memastikan bahwa penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan baik sekarang dan dalam jangka panjang dipergunakan sebaiknya.
v  Organisasi samudera
  1. American Fisheries Society (AFS), didedikasikan untuk kemajuan ilmu pengetahuan perikanan dan konservasi sumber daya air terbarukan.
  2. KonvensiKeanekaragaman Hayati Kantor(BCO), mengkoordinasikan keterlibatan Kanada dalam negosiasi untuk Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati.
  3. Karibia Sumber Daya Alam Institute (Kenari), mengembangkan dan mengimplementasikan pendekatan untuk pengelolaan sumber daya alam yang disesuaikan dengan kondisi ekologi dan sosial setempat.
  4. Komisi Konservasi Sumber Daya Antartika Laut Hidup (CCAMLR), untuk konservasi dan pemanfaatan sumber daya hayati laut di wilayah 60o Lintang Selatan dan daerah Konvergensi Antartika.
  5. Pusat Konservasi Laut (CMC), melindungi seluruh dunia satwa laut dan habitatnya. Kegiatan meliputi penelitian kebijakan, kampanye kesadaran masyarakat dan keterlibatan warga.
  6. StrategisPenilaian Proyek Amerika Utaradi Pantai Timur (ECNASAP), dirancang untuk menjadi sumber informasi dan analisis untuk melakukan penilaian mendukung pengelolaan terpadu dari bagian besar pesisir laut Amerika Utara.
  7. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa – Dinas Perikanan, memastikan pengembangan kebijakan, strategi dan pedoman yang mempromosikan pengelolaan rasional dan pengembangan dunia perikanan.
  8. Dewan Internasional untuk Eksplorasi Laut (ICES), untuk pertukaran informasi dan ide-ide tentang laut dan sumberdaya hayati mereka dan untuk promosi dan koordinasi penelitian yang dilakukan oleh para ahli di negara-negara anggotanya.
  9. OrganisasiPesisir dan Lautan Internasional (ICO), bertujuan untuk link perencana profesional, spesialis kebijakan, manajer, lembaga dan organisasi di seluruh dunia berkaitan dengan pengelolaan, perlindungan, dan pengembangan sumber daya pesisir dan lautan dan ruang.
  10. International Marinelife Alliance (IMA), bekerja terhadap konservasi keanekaragaman kehidupan laut, perlindungan lingkungan laut, dan promosi penggunaan yang berkelanjutan sumber daya laut.
  11. Komisi Oseanografi AntarPemerintah (IOC), mempromosikan penelitian ilmiah ke dalam alam dan sumber daya lautan.
  12. International Ocean Institute(IOI), berusaha untuk mempromosikan penelitian mengenai penggunaan ruang laut dan sumber daya, serta mempertahankan pusat operasional di sejumlah daerah.
  13. IUCN: World Conservation Union – Daerah Pesisir dan Laut Program.IUCN mempromosikan penggunaan berkelanjutan dan lintas sektoral pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut di seluruh dunia dalam Surat Kelautan dan Wilayah Pesisir Program. 
  14. Northwest Atlantic Organisasi Perikanan (NAFO), memberikan kontribusi melalui konsultasi dan kerjasama untuk pemanfaatan optimal, pengelolaan yang rasional dan konservasi sumber daya perikanan di Samudera Atlantik daerah Northwest.
  15. Ocean Voice International (OVI), mempromosikan bidang sosial berkelanjutan ekologis tentang panen sumber daya laut.
  16. Forum Pasifik Selatan Badan Perikanan (SPFFA), berperan “kepentingan bersama dalam konservasi dan optimal dari sumber daya hayati laut di kawasan Pasifik Selatan dan khususnya dari spesies yang bermigrasi.”
  17. Program Lingkungan DaerahPasifik Selatan (SPREP), menyediakan pendekatan regional yang terkoordinasi untuk masalah lingkungan, melayani sebagai pusat rujukan informasi dan memberikan bantuan teknis kepada pemerintahdan negara anggotanya di wilayah Kepulauan Pasifik. Pekerjaan berfokus pada pengelolaan sumber daya alam; kawasan lindung dan konservasi keanekaragaman hayati, dan kegiatan kelautan pesisir.
  18. United Nations Environment Programme – Regional Seas Program (UNEP-RSP). Untuk pengelolaan sumber daya laut dan pesisir serta pengendalian pencemaran laut.
  19. World Wide Fund for Nature – Inisiatif Konservasi Laut (WWF), menargetkan empat hal termasuk konservasi perikanan, pencegahan polusi laut, perlindungan spesies yang menjadi perhatian khusus, dan pengelolaan pesisir terpadu.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan tentang lembaga-lembaga perikanan internasional beserta peranannya adalah:
  1. Meskipun lembaga perikanan sudah terbentuk, tetapi dalam kenyataanya kurang berfungsi seperti yang diharapkan. Hal ini disebabkan lembaga perikanan itu tidak mempunyai kekuasaan atau tenaga eksekutif untuk melaksanakan peraturan yang ada; adanya kecurigaan dan persaingan antar negara; kerusakan sumber daya perikanan tidak segera disadari karena terjadi di bawah permukaan air; dan banyak berdiri perusahaan perikanan baru.
    Betapapun baik dan rapinya segala rencana dan peraturan yang ada, semua itu tidak akan mencapai sasaran apabila tidak disertai dengan kesadaran dan iktikad yang luhur. Sedangkan iktikad itu sendiri mudah luntur kalau termotivasi oleh keuntungan yang di dapat. Jadi yang sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan adalah mengelola manusia yang terlibat di dalam pengelolaan perikanan itu sendiri. 
Sumber Referensi: Syawal Syah Fitrah, Pengetahuan Laut






Usaha Iseng Berbuah Omset Rp 250 juta

Berawal dari menerima pesanan pin, kini penjualan Kretakupa selalu meningkat 200 sampai 400 persen per tahun.emulai bisnis tak selalu rumit atau harus bermodal besar. Simak saja apa yang dilakukan Andi Arham Bunyamin, Pemenang II Wirausaha Muda Mandiri 2010 Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana Bidang Usaha Industri dan Jasa. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin Makassar ini memulai usahanya hanya karena iseng semata. Modalnya pun amat minim, tak lebih dari Rp SO ribu. Itu pun, uang milik temannya. .-

Semua berawal pada 2007, saat ia menunjukkan kemampuannya mendesain pin kepada rekan-rekan sekelasnya di SMA. Bak gayung bersambut, seorang teman memberinya “proyek” pencetakan 50-100 buah pin dengan uang muka Rp 30 ribu. Padahal, waktu itu Arham hanya piawai mendesain gambar pin saja. “Saya saat itu belum tahu sama sekali mau mencetak desain pin di mana,” kenang Arham.

Beruntung, setelah seminggu mencari-cari, secara tak sengaja ia menemukan gerai kecil yang menampilkan beberapa model pin, dan bisa mencetak pesanan pin. Maka, pin pesanan rekan-rekan sekelas Arhan pun bisa beres. Dengan modal Rp 3.700 per pin, dan Arham menjual ke temannya dengan harga satuan Rp 4.700.

Sejak itu, pria yang hobi main kom-puter ini kerap menerima lebih banyak order dari teman-teman SMA-nya di Makassar. “Dalam sebulan saya bisa dapat order 200-300 buah pin,” cerita Arham.

Kini, bisnis pencetakan pin yang begitu sederhana tadi ternyata berkembang sangat pesat. Lihat saja. Pada 2009, usaha Arham yang dinamakan Kretakupa itu sudah menerima pesanan dari Wajo, Sopeng, dan bahkan dari Kalimantan. Penjualannya pun meningkat sekitar 200 persen hinga, mencapai Rp 100 juta sepanjang 2010.

Tentu saja, sukses Kretakupa tadi ada resepnya. Arham selalu memutar otak untuk bisa memperluas pasar dan meraup laba lebih besar. Coba lihat. Ketika margin keuntungannya masih Rp 1.000 per pin, ia pun berkeras untuk bisa memiliki mesin pencetak pin sendiri. Dengan mesin sendiri, ia hanyabutuh modal bahan seharga Rp 1.000 per pin. Artinya, ia bisa memperoleh margin keuntungan Rp 3.000 per pin. Berkat keteguhanriya, tak sampai setahun kemudian Arham sudah punya mesin pin seharga Rp 2,7 juta.

Lalu, pasar ia perluas dengan cara jitu. Saat kuliah, ia mulai menggalang kerja sama dengan percetakan-perc-etakan yang tidak punya mesin pin. Perlahan tapi pasti, Arham pun mulai kebanjiran order baru di luar dari lingkungan teman SMA dan kampusnya. Pemuda usia 22 tahun ini juga menyewa tempat usaha di lokasi yang strategis di Makassar. Dengan begitu ia mampu “mencegat” pemesan baru yang lalu lalang di sana.

Tak hanya itu. Pemuda yang awalnya bercita-cita menjadi ahli komputer ini juga memperluas usahanya dengan mulai menjual bahan baku pin. Ba-han pin ia beli dari Bandung dengan harga hanya Rp 300 per pin. Padahal, di Makassar harganya Rp 1.000 per pin. Margin keuntungan produksi Arham menjadi lebih besar, plus ia bisa menjual bahan pin ke percetakan lain. Sejak menjual bahan, penjualan saya naik 400 persen.tuturnya.

Selanjutnya, bisnis Arham pun tambah melejit usai memenangkan penghargaan Wirausaha Mandiri 2010. Ini lantaran, sebagai salah satu pemenang ia mendapat fasilitas beberapa pelatihan bisnis dan road show pameran yang digelar Bank Mandiri. Dari hasil pameran ia bisa memperluas pasar sampai ke Kendari, Gorontalo, Maluku, bahkan ke Mataram. Produk yang diproduksi pu tak hanya pin, tetapi juga aneka merchandise, penerbitan buku, pembuatan undangan, id card, dan kebutuhan-kebutuhan publikasi.

Omsetnya pun makin melesat. Hingga bulan Oktober lalu, omset Kretakupa sudah lebih Rpl00 juta, melebihi omset 2010. “Hingga akhir tahun 2011, target omset saya sekitar Rp 250 juta,” papar Arham.

Cara Praktis Membuat Telor Asin

 Telur jika hanya dikonsumsi dalam keadaan segar saja tidak mampu disimpan dalam waktu  yang terlalu lama.  Telur menjadi rusak dan tidak dapat dikonsumsi jika disimpan terlalu lama.  Oleh karena itu telur perlu diperlakukan dengan baik agar awet dan daya simpanya dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama.
Untuk menjaga kesegaran dan mutu isi telur, diperlukan teknik penanganan yang tepat, agar nilai gizi telur tetap baik serta tidak berubah rasa, bau, warna, dan isinya.

Secara umum prinsip pengawetan telur adalah untuk mencegah masuknya bakteri pembusuk ke dalam telur yang dapat merusak telur dan mencegah keluarnya air dari dalam telur.
Pengawwetan telur secara utuh bersama dengan kulitnya (kerabang) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain proses pendinginan; proses pembungkusan kering;  proses pelapisan dengan minyak; proses pencelupan dalam berbagai cairan.
Salah satu teknik pengawetan telur yang sudah banyak dilakukan oleh masyarakat adalah dengan menolahnya menjadi telur asin.  Telur asin mudah dipraktekkan, tidak memerlukan biaya yang mahal dan tidak memerlukan peralatan yang rumit, dengan peralatan yang sederhana sudah dapat dilakukan.
Secara sederjhana telur asin adalah telur utuh yang diawetkan dengan adonan yang dibubuhi garam.  Ada 3 cara pembuatan telur asin yaitu :
  • Telur asin dengan adonan garam berbentuk padat atau kering;
  • Telur asin dengan adonan garam ditambah ekstrak daun teh;
  • Telur asin dengan adonan garam, dan kemudian direndam dalam ekstrak atau cairan teh.
 Bahan dan Alat Pembuatan Telur Asin :
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan telur asin antara lain Telur bebek yang bermutu baik 30 butir,  Abu gosok atau bubuk batu bata merah 1 ½ liter, Garam dapur ½ kg, Larutan daun teh (bila perlu) 50 gram teh per 3 liter air serta Air bersih secukupnya
Sedangkan alat – alat yang diperlukan antara lain  Ember plastik, Kuali tanah atau panci, Kompor atau alat pemanas, Alat pengaduk dan Stoples atau lainya untuk tempat  penyimpan telur
 Cara Pembuatan Telur Asin.
Tahap-tahap pembuatan telur asin antara lain :
  1. Pilih telur yang bermutu baik (tidak retak atau busuk);
  2. Bersihkan telur dengan jalan mencuci atau dilap dengan air hangat, kemudian  keringkan;
  3. Amplas seluruh permukaan telur agar pori-porinya terbuka;
  4. Buat adonan pengasin yang terdiri dari campuran abu gosok dan garam,   dengan  perbandingan sama (1:1). Dapat pula digunakan adonan yang terdiri  dari campuran  bubuk bata merah dengan garam;
  5. Tambahkan sedikit air ke dalam adonan kemudian aduk sampai adonan berbentuk   pasta;
  6. Bungkus telur dengan adonan satu persatu secara merata sekeliling permukaan  telur, kira-kira setebal 1~2 mm;
  7. Simpan telur dalam kuali atanah atau ember plastik selama 15 ~ 20 hari. Usahakan  agar telur tidak pecah, simpan di tempat yang bersih dan terbuka;
  8. Setelah selesai bersihkan telur dari adonan kemudian rendam dalam larutan teh  selama 8 hari (bila perlu).
Setelah proses ini berarti telur asin telah jadi, untuk dikonsumsi telur asin ini harus direbus terlebih dulu.  Telur asin yang sudah direbus ini bisa dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan keluarga atau dijual sehingga dapat menambah pendapatan keluarga para peternak itik atau petani (Penulis : A. Rivai, dari Kalimantan Selatan. edit by admin. photo by Google)
Catatan : Telur yang diolah ini merupakan telur itik Alabio salah satu itik unggulan nasional dan saat ini sudah mampu mengolah 2.000 telur per hari.

Menciptakan Ide yang “Bening”

Jika Anda memutuskan terjun ke dunia bisnis atau usaha, ajak pemikiran Anda masuk dalam ranah: apa yang mau dikerjakan. Luangkan waktu beberapa saat sampai Anda menangkap dengan jelas aspek “what”-nya ini sampai gambaran itu menjadi jelas. Makin bening makin baik. A cristal clear, sebening kristal.

Pada fase ini umumnya pikiran kita juga akan sangat tergoda untuk bergerak ke “how”, sebuah mekanisme teknis bagaimana mencapainya. Jangan terlalu cepat terkecoh ke arah itu. Masing-masing segmen tersebut punya waktunya sendiri-sendiri. Memikirkan “what” dan “how” akan membuat Anda maju-mundur.

Catatan kehidupan para pebisnis besar global mengajarkan tidak ada satu pun dari mereka yang paham cara-cara mewujudkan ide bisnis mereka ketika ide bisnis itu muncul. Namun, mereka amat jelas dengan ide tersebut, hanya caranya yang belum muncul. Tidak menjadi masalah. Ia akan timbul sesuai dengan waktunya sendiri. Ia akan hadir sesuai dengan perkembangan kemajuan.

Mencoba menyelesaikan faktor “what” dan “how” dalam waktu yang bersamaan sama saja dengan mencoba menangkap dua kelinci sekaligus dalam satu satuan waktu. Kita akan menjadi lelah dan lari ke sana kemari, tanpa bisa menangkap keduanya. Lain hal jika kita menangkapnya satu per satu.

Kalau “what”-nya sudah dapat, kita perlu memastikan agar kejelasan atas “what” itu berhubungan dengan getaran rasa dan semangat dalam diri kita. Dengan kata lain, berkaitan dengan gairah (passionate) dalam diri. Sebuah kejelasan bisnis, yang tidak memercikkan passionate mungkin saja bisa jalan, tetapi tidak akan masuk kategori besar. Ia mungkin hanya akan hidup saja, sebatas kelangsungan hidup, tapi tidak membuat diri Anda mekar penuh.

Untuk menguji getaran passionate terhadap apa yang hendak Anda ciptakan dalam kegiatan usaha tersebut, lontarkan pertanyaan pada diri sendiri: mengapa hal-hal yang mau Anda kerjakan (the what) itu penting. Seberapa penting bagi Anda? Mengapa Anda mau melakukannya? Kalau ada orang yang bernama Kendala hendak mencegahnya, seberapa jauh hasrat Anda untuk membela kelahiran janin ide bisnis tersebut?  

Kalau jawaban Anda atas pertanyaan mengapa begitu penting bagi Anda untuk menghasilkan produk atau jasa tersebut, membuat Anda tersenyum dan bangga, getaran passionate itu sudah mulai beresonansi. Kalau jawaban tadi membuat darah Anda berdesir, seperti seorang pria tergoda melihat gadis cantik yang aduhai, reaksi kimia dalam tubuh (biokimia dalam otak) akan merangsang Anda dan memberi Anda semangat, bensin dan kegairahan untuk mencapainya.

Pikiran, emosi, dan kehendak kita akan menjadi sahabat dalam mencapai apa yang ingin kita kejar. Namun, jika Anda bertanya pada diri sendiri dan jawaban yang muncul tidak menimbulkan reaksi sama sekali, seperti garis datar, maka di sana amat mungkin tidak ada keterikatan.

Kalau Anda membaca tentang “what” yang ada dalam organisasi, tentang hal-hal yang ingin dicapai organisasi namun tidak mendeteksi sebuah getaran dalam diri atau desiran dalam darah yang membuat Anda “on”, sangat mungkin tidak  akan banyak hal yang bisa Anda hasilkan di organisasi tersebut.

Kalau bergerak ke arah yang sama, ia akan seperti struktur magnet. Anda akan magnetize orang lain. Orang akan dengan sukarela mengikuti kepemimpinan dan visi bisnis Anda karena sinar mata Anda akan memancarkan hal tersebut.

Memulai Usaha Cuci dan Salon Kendaraan

Melihat mobil maupun motor terawat, memang memiliki kenikmatan tersendiri bagi sebagian orang. Baik body luar maupun dalam mobil maupun motor, pasti memberikan kenyamanan tersendiri bagi penggunanya dan orang yang melihatnya. Interior mobil maupun motor sangat mendukung kenyamanan dalam berkendaran. Kemewahan bodi luar dinikmati oleh orang-orang yang melihat, sedangkan interior dinikmati oleh pemilik dalam berkendara.

Bagi Anda yang gemar dengan automotif dengan kantong modal yang cukup memadai dan memiliki jiwa wirausaha yang kuat, jangan ragu untk memulai usaha sendiri. Jangan khawatir tentang konsumen Anda nantinya, karena jumlah konsumen di Indonesia akan terus mengalami peningkatan yang besar dalam urusan mobil maupun motor seiring perkembangan jaman serta teknologi.

Karena itu perlu terobosan usaha yang lebih dari sekadar salon mobil, reparasi atau aksesoris mobil maupun motor saja. Sebuah usaha yang benar-benar didedikasikan untk memperhatikan gaya dan dandanan mobil maupun motor Anda secara menyeluruh (car detailer). Usaha seperti ini sering disebut salon mobil.

Dari perkembangan kepemilikan mobil maupun motor, memang bersalon mobil masih berpeluang bagi Anda yang sangat menjanjikan selain menawarkan jasa mencuci kendaraan. Tentu salon mobil ini butuh keseriusan dan tak bisa asal dikelola saja. Kendalikan usaha salon mobil ini dengan professional. Maka, langkah utama untk memulai salon mobil adalah mencari lahan usaha yang lokasinya ramai dan banyak dilalui kendaraan bermobil maupun motor, membentuk badan usaha, dan mencari pemasok produk polesan.

Selanjutnya buatlah salon mobil ini, berbeda dengan salon-salon mobil yang sudah ada. Baik dari segi kualitas dan pelayanan terhadap customer. Miliki tenaga ahli yang berpengalaman dan dapat mengayomi konsumen. Dukung dengan peralatan serta teknologi mutakhir yang dapat memudahkan segalanya baik dari segi teknis dan non teknis

Jasa yang ditawarkan oleh salon mobil adalah perawatan ekterior dan interior mobil maupun motor yang mencakup snow car wash, salon mobil specialist, paint protection; anti karat. Dari kesemua perawatan tersebut hasilnya dapat membuat mobil maupun motor mengkilap, sehat terawat dan awet.

Andapun dapat menawarkanjasa salon mobil panggilan, untk lebih memanjakan customer anda yang karena kesibukannya, sehingga tidak sempat untk pergi menyalonkan mobil maupun motornya. Yang patut Anda perhatikan adalah mulai dari sabun yang dipakai dalam perawatan, bahan yang dipakai sebaiknya 100 persen wax mumi, dengan PH 7 dan beraroma sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan, tidak asam dan basa yang bisa menyebabkan karat dan korosi, pilihlah lap khusus, teknis pengerjaan yang teruji, terlatih dan bersertifikat akan sangat mendukung usaha Anda semakin sukses. Para pengelola salon mobil juga telah banyak mengembangkan jenis pelayanannya dengan melihat berdasarkan kebutuhan cuslomernya. Jenis pelayanannya ada yang bisa didapatkan dengan pilihan secara per paket ataupun pelayanan berdasarkan satu per satu jenis pengerjaa.-

Contoh paket yang dibuat salon mobil itu mencakup paket pencucian plus pemolesan body secara menyeluruh, paket perawatan full untuk eksterior, interior ataupun paket kebersihan mesin. Untuk jenis pelayanan per bagian salon mobil mengklasifikasi mulai dari perawatan interior, eksterior dan kebersihan mesin.

Pelayanan dengan paketdimaksudkan agar customer bisa mendapatkan lebih dari satu atau semua jasa perawatan mobil dari salon mobil tersebut mulai dari eksterior, interior hingga kebersihan mesin mobil. Tentunya pelayanan paket memiliki biaya yang lebih ekonomis jjka dihitung satu per satu berdasarkan harga dari setiap jenis pelayanan yang ada di salon mobil tersebut.

Di Auto Bridal, paket pelayanan yang diberikan juga sangat banyak, diantaranya adalah adanya paket yang bernama full paket medical treatment. Dengan paket ini customer mendapatkan pelayanan perawatan interior, eksterior, seluruh kaca dan kebersihan mesin yang mencakup pengerjaan menghilangkan jamur pada kaca, bercak air hujan pada body, vacum cleaner untuk menghilangkan bau interior, dan pembersihan kotoran yang sulit dihilangkan yang terdapat pada mesin pun menjadi tantangan tersendiri.

Hampir setiap salon mobil juga telah menerapkan sistem membership untuk customernya. Dengan bergabung sebagai membership di salah satu salon mobil, biasanya customer akan mendapatkan potongan harga dari setiap pelayanan yang diberikan bahkan hingga bonus atau hadiah. Di Auto Bridal, customer yang menjadi membership akan mendapatkan potongan harga sebesar 20% untuk setiap jenis pelayanan perawatan mobil yang diinginkannya dan untuk bergabung sebagai member seorang customer dikenakan biaya 250 ribu rupiah untuk satu tahun menjadi member.

Dari perawatan eksterior, interior hingga kebersihan mesin, masing-masing salon mobil memiliki proses pengerjaan dengan cara, peralatan, treatment dan obat yang berbeda yang secara langsung mempengaruhi kualitas hasil dalam perawatan mobil. Pengerjaan oleh salon mobil ditangani oleh tenaga terlatih, sangat disarankan buat anda yang sibukuntuk memanfaatkan layanan ini.

Bisnis salon mobil membutuhkan kecermatan dan sedikit nuansa seni. Hitungannya bukan bersih atau tidak, rapih atau tidak, nanmun apakah hasil olahan dari tenaga terampil yang Anda miliki mampu memberi kepuasan bagi pemilik kendaraan. Karena bukan mustahil, untuk urusan mempercantik kendaraan, si pemilik dapat merogoh kocek dalam-dalam untuk terpuaskannya atas kendaraan yang disayangi.

Nelayan dan Akses Informasi Perikanan

KabarIndonesia – Wilayah perairan laut indonesia memiliki kandungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya hayati (ikan) yang berlimpah dan beraneka ragam. KOMNAS Pengkajian Sumberdaya Perikanan Laut menyebutkan bahwa potensi sumberdaya ikan laut di seluruh perairan Indonesia, diduga sebesar 6,26 juta ton per tahun, sementara produksi tahunan ikan laut Indonesia rata-rata mencapai 3,68 juta ton. Berarti tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia baru mencapai 58,80%.

Disadari memang pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia di berbagai wilayah tidak merata. Di beberapa wilayah perairan masih terbuka peluang besar untuk pengembangan pemanfaatannya, sedangkan di beberapa wilayah yang lain sudah mencapai kondisi padat tangkap atau overfishing. Masalah utama yang dihadapi dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan ikan adalah sangat terbatasnya data dan informasi mengenai kondisi oseanografi yang berkaitan erat dengan daerah potensi penangkapan ikan. Armada penangkap ikan teritama para kapal nelayan tradisional berangkat melaut bukan untuk menangkap tetapi untuk mencari lokasi penangkapan sehingga selalu berada dalam ketidakpastian tentang lokasi yang potensial untuk penangkapan ikan, sehingga hasil tangkapannya juga menjadi tidak pasti. Di samping itu, sebagai akibat dari ketidakpastian lokasi penangkapan mengakibatkan kapal penangkap banyak menghabiskan waktu dan bahan bakar untuk mencari lokasi fishing ground, dan ini berarti terjadi pemborosan bahan bakar.

Akibat akhir dari ketidakpastian ini adalah nelayan seringkalli menggunakan cara-cara illegal dalam penagkapan ikan selanjutnya. Misalnya dengan bom, racun maupun jaring pukat harimau. Aktiviutas ini nyata merupakan kegiatan melaut yang sangat membahayakan ekosistem laut. Dengan bom, semua ikan baik kecil dan besar mati, demikian juga dengan racun. Jaring pukat harimau juga tidak bisa memilah ikan besar ataupun kecil dalam penangkapannya. Bahkan kegiatan tersebut juga merusak terumbu karang. Sehingga diperlukan akses informasi dan komunikasi tentang zona potensi penangkapan ikan yang akurat dan program penyuluhan dan pendampingan nelayan yang tepat sasaran.

Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan
 
Informasi ZPPI bermanfaat bagi nelayan antara lain:
a. Meningkatkan pengetahuan nelayan dalam penggunaan teknologi informasi dalam mendukung operasi penangkapan ikan di laut.
b. Informasi harian zona potensi penangkapan ikan memberikan kepastian kepada para nelayan tentang lokasi potensi penangkapan, sehingga meningkatkan efisiensi biaya operasional, memperpendek masa operasi penangkapan, dan meningkatkan hasil tangkapan.
c. Mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya konflik lokasi penangkapan antara nelayan kecil/tradisional dengan kapal-kapal besar, dengan cara pengaturan pemberian informasi zona potensi ikan yang berbeda.
d. Meningkatkan produksi ikan dalam rangka peningkatan pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat nelayan.

Penerapan iptek untuk informasi ini adalah dengan teknologi penginderan jauh dengan bantuan satelit. Satelit mampu melakukan observasi terhadap fenomena yang terjadi di permukaan bumi termasuk di permukaan laut. Penggunaan teknologi penginderaan jauh (inderaja) dipadu dengan data cuaca, data oseanografi khususnya kesuburan perairan dan tingkah laku ikan, didukung dengan metode pengolahan dan analisis yang teruji akurasinya, merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat dalam mempercepat penyediaan informasi zona potensi ikan harian untuk keperluan peningkatan hasil tangkapan ikan.

Saat ini ada tig satelit yang memberikan layanan informasi perikana tersebut, yaitu:
1. Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) milik Amerika. Satelit NOAA ini membawa berbagai sensor, dan salah satunya adalah sensor AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer).
2. Satelit Sea Star yang membawa sensor SeaWIFs menghasilkan data konsentrasi khlorofil yang berkaitan erat dengan konsentrasi plakton di laut.
3. Satelit Feng Yun yang membawa sensor untuk mendeteksi suhu permukaan laut dan konsentrasi khlorofil di laut.

Identifikasi daerah potensi penangkapan ikan menggunakan teknologi penginderaan jauh merupakan cara identifikasi tidak langsung. Dari data penginderaan jauh dilakukan identifikasi parameter-parameter oseanografi yang berkaitan erat dengan habitat ikan atau daerah yang diduga potensial sebagai tempat berkumpulnya ikan, seperti daerah terjadinya termal front atau upwelling. parameter lain yang sekarang dapat dideteksi dengan menggunakan teknologi satelit penginderaan jauh adalah kesuburan perairan, yang sangat erat hubungannya dengan daerah potensi berkumpulnya ikan.

Zona potensi ikan ditentukan dengan kombinasi data/peta sebaran suhu permukaan laut, kandungan klorofil, pola arus laut, cuaca, serta karakter toleransi biologis ikan terhadap suhu air. Dari hasil pengamatan secara multitemporal dapat diketahui bahwa sebaran suhu permukaan laut di wilayah perairan laut indonesia berubah dengan cepat. dengan demikian pengamatan terhadap berbagai parameter oseanografi yang berkaitan erat dengan lingkungan hidup ikan juga harus dilakukan dengan frekuensi pengamatan yang cukup tinggi, minimal 4 kali dalam sehari. sebagai contoh, saat ini terdapat 3 seri satelit NOAA yang sedang mengorbit di antariksa sehingga dalam sehari dapat diperoleh data suatu wilayah sebanyak 12 kali/hari atau 12 lintasan.

Metode Produksi Informasi Perikanan
Perolehan Dan Pengolahan Data Satelit
LAPAN memiliki dan mengoperasikan perangkat penerima data satelit NOAA-AVHRR dan Feng Yun yang merupakan inti dari fasilitas untuk mengembangkan informasi zona potensi harian, terdiri dari :
• dish antena & feedhorn
• azimuth-elevation rotator
• preamplifier
• satellite autotracking system
• hrpt receiver
• fasilitas pengolahan dan analisis data

Data AVHRR yang diterima terdiri dari 5 (lima) band radiometer dan data Feng Yun terdiri dari 8 (delapan) band radiometer masing-masing dengan resolusi spasial 1.1 km x 1.1 km, menghasilkan data utama berupa suhu permukaan laut dan kandungan khlorofil yang selanjutnya digabung dengan data sekunder, dikaji dan dianalisis untuk menyusun prediksi lokasi potensi penangkapan ikan secara harian.

Pengolahan Dan Analisis Data
Diantara parameter oseanografi yang mempunyai hubungan erat dengan kehidupan ikan khususnya jenis ikan pelagis adalah suhu air laut dan kesuburan perairan. dengan menggunakan data NOAA-AVHRR dapat diperoleh informasi tentang sebaran suhu permukaan laut untuk area yang sangat luas. Sedangkan dari data seawifs atau Feng Yun dapat diperoleh data kandungan khlorofil yang menunjukkan kesuburan perairan. dari sebaran suhu permukaan laut dan kesuburan perairan tersebut dapat diperoleh informasi tentang fenomena upwelling/front yang merupakan indikator daerah potensi berkumpulnya ikan. karena perairan laut indonesia yang sangat dinamis, maka penggunaan data NOAA-AVHRR dan sea wifs/Feng Yun untuk pengamatan fenomena oseanografi merupakan alternatif yang sangat tepat karena mempunyai resolusi temporal (repetitive time) yang cukup tinggi misalnya setiap 4 jam.

Penyebaran Informasi Perikanan
Penyampaian informasi ini akan disampaikan melalui perangkat faksimili. Program ini akan menyediakan perangkat faksimili bagi kud mina yang dipilih sebagai basis percontohan. untuk setiap desa nelayan atau kelompok nelayan, harus disepakati personil yang dipercaya untuk menerima data via faksimili. Setiap kapal peserta kegiatan percontohan diharapkan memiliki alat navigasi GPS (global positioning system). bilamana tidak terdapat peralatan navigasi tersebut, maka program ini akan menyediakan sebuah alat bagi kapal penangkap ikan yang bertindak selaku pemandu. Keberhasilan dari pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk perikanan ini juga terpulang kepada improvisasi para nahkoda/nelayan yang secara naluri dengan pengalaman tradisionalnya dapat membaca variasi dan kondisi medan pada saat proses penangkapan berlangsung di sekitar zona potensi ikan dari data zona potensi ikan yang digunakan.

Perlengkapan Kerja Dan Sarana Komunikasi
Untuk mendukung pelaksanaan sosialisasi dan penerapan informasi zona potensi penangkapan ikan tersebut diperlukan sarana komunikasi dan perlengkapan kerja antara lain:
a. Mesin facsimile, dipergunakan untuk menerima peta zona potensi ikan
b. GPS handheld, untuk menentukan posisi lokasi kapal pada saat melakukan operasi penangkapan ikan di laut.
c. Fishfinder, untuk mendeteksi besarnya gerombolan ikan pada lokasi yang ditunjukkan pada peta zona potensi ikan.
d. Radio all band, sebagai sarana komunikasi antara petugas didarat dengan kapal penangkap ikan untuk menyampaikan informasi terbaru.
e. Life jackets, untuk pengamanan petugas pelaksana sosialisasi.

Sosialisasi dan Aplikasi Informasi ZPPI
Kegiatan ini harus secara aktif melibatkan dinas kelautan dan perikanan setempat, tokoh masyarakat perikanan, pengurus koperasi nelayan, dan para nelayan inti (tradisional dan kapal besar) yang menjadi perintis kegiatan penerapan informasi zona potensi ikan secara langsung. sosialisasi diperlukan baik ke kalangan birokrasi maupun tokoh masyarakat perikanan, nelayan dan pimpinan desa setempat, agar diperoleh hasil yang optimal. kegiatan ini terutama bertujuan untuk menyusun koordinasi di tingkat desa dalam pemanfaatan informasi harian yang akan diperoleh. untuk melakukan sosialisasi program diperlukan setidaknya 1 minggu, dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan yang antara lain meliputi materi: pengenalan peta navigasi laut; penggunaan alat bantu navigasi laut (GPS); penggunaan fishfinder; serta pengenalan dan penggunaan informasi zona potensi penangkapan ikan.

Operasional Penerapan Informasi ZPPI
Kegiatan operasional penerapan informasi zona potensi penangkapan ikan harus dilaksanakan oleh suatu tim sosialisasi, yang terdiri dari personel inti yaitu personel yang berpengalaman dan ketahanan fisik yang prima, personel sektor swasta, personel dinas kelautan dan perikanan, personel koperasi nelayan, para nelayan dan personel dari kamla setempat. Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari penerimaan informasi melalui mesin facsimile, pengaturan/pembagian lokasi penangkapan, pengawasan operasi penangkapan dan pengamatan kondisi lapangan. dalam kegiatan penerapan informasi zona potensi ikan ini, personel inti harus ikut serta dalam operasi penangkapan ikan sehingga dapat secara langsung memberikan informasi/petunjuk kepada nelayan tentang lokasi yang tepat untuk menebar jaring. Pelaksanaan kegiatan seperti ini mempunyai dampak yang sangat baik bagi produsen maupun pengguna informasi. Bagi produsen informasi, kegiatan ini dapat bermanfaat dalam membuktikan akurasi informasi yang dihasilkan dan didistribusikan kepada nelayan dan sekaligus membangun kepercayaan di kalangan masyarakat nelayan bahwa informasi tersebut diproduksi dengan sungguh-sungguh dan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas nelayan. sementara bagi nelayan, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan teknologi khususnya teknologi informasi dan teknologi navigasi serta pendukung operasi penangkapan ikan.

Strategi Media Sosialisasi dan Akses Informasi Perikanan.
Langkah-langkah.
Pertama, mengumpulkan data mengeai masyarakat nelayan: seperti jumlah nelayan, jumlah produksi, jalur distribusi, penampung dan pasar, cara penangkapan, alat produksi, harga, latar belakang pendidikan, kondisi sosial, kultur melaut, hubungan dalam nasyarakat, kondisi ekonomi, data tentang mengetahui modus produksi.

Kedua, mengidentifikasi media komunikasi: ini termasuk radio, televisi, koran, majalah, bioskop, buku komik, video, media tradisional dan cerita rakyat seperti teater pembangunan, buletin informasi pedesaan, brosur, telepon genggam dan teknologi informasi. Radio dan televisi adalah media paling populer. Juga diidentifkasi bagaimana nelayan berkonsultasi atau mendapatkan informasi baik dari pejabat pemerintah dan non pemerintah, dan juga dari petugas-petugas pertanian dan perikanan kota dan organisasi masyarakat, politisi setempat dan para penegak hukum perikanan dan lain-lain.

Ketiga, pertukaran informasi: interaksi individu di dalam lembaga terjadi melalui saluran resmi. Interaksi ini umumnya memerlukan jasa pos dan fax, yang selalu ditulis dalam bahasa Inggris. Hubungan informal selanjutnya melalui jalur telepon, dan telepon genggam (termasuk pesan tertulis SMS) dan mesin faks.

Keempat, akses terhadap informasi: bagaimana fokus penyuluhan bagi nelayan dan masyarakat pantai, metoda penyuluhan meliputi seminar pelatihan, diskusi, leaflet dan poster serta kolam percontohan (termasuk untuk budidaya rumput laut dan budidaya tilapia, catfish atau bandeng di pekarangan).
Kelima, kebutuhan dan rekomendasi: bahan yang sudah terkumpul kemudian diolah menjadi bentuk bahan dasar yang akan digunakan untuk menyusun rencana strategis program kerja. Berdasarkan hasil perolehan data, ditentukan informasi dan kebutuhan sosialisasi atau penyuluhan bagi nelayan serta tanggungjawab para stakeholdernya, dan disampaikan rekomendas-irekomendasi yang berkaitan, antara lain:
a. Strategi penyuluhan perlu skala nasional bagi sektor perikanan dan aquaculture perlu dibuat dengan cara partisipatif.
b. Pelayanan penyuluhan perlu dirampingkan agar semua pengguna akhir memperolah pelayanan yang adil.
c. Informasi penyuluhan harus ditargetkan dan diuji coba untuk mengoptimalkan efisiensi komunikasi.
d. Mekanisme yang telah ada untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat bagi penyuluh perlu diperkuat.

Dari langkah-langkah tersebut disusunlah rencana kerja lapangan yang harus dilakukan, seperti memberikan pelatihan kepada para nelayan, bagaimana cara melaut yang merusak, jenis ikan yang boleh ditangkap, waktu tangkap, lokasi tangkap dan perlengkapan keselamatan dan lain-lain.

Uji coba dan Implementasi
Berangkat dari situasi internal organisasi, pertama sumber daya organisasi yang ada, baik itu manusia, alat ataupun dana yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa yang bisa dilakukan adalah bentuk sosialisasi dengan biaya murah. Dari sisi nelayan, dengan mempertimbangkan jumlah komunitas dan latar belakang pendidikannya yang relatif rendah, maka dipilihlah alat sosialisasi yang mudah dimengerti, diingat, dan bersifat menarik.

Kombinasi dari pertimbangan di atas, maka diputuskan untuk mengunakan alat sosialisasi berupa, poster dan video. Poster tersebut terdiri dari dua jenis, pertama poster yang berisi gambar-gambar jenis ikan dan terumbu karang, kedua poster yang berisi teknis menangkap ikan yang tidak ramah lingkungan. Poster tersebut akan dikemas semenarik mungkin, dengan gambar dan warna-warna yang mudah diliat dan diingat. Dalam poster akan digambarkan bentuk ikan dan terumbu karang dengan warna yang berbeda. Dan bahan poster tersebut juga di bagi dalam dua bahan, pertama yang tahan air, karena akan dibawa nelayan ketika melaut, kedua bahan yang mudah di tempel, kertas tersebut akan di tepel di rumah-rumah nelayan dan pengumpul. Sementara poster yang kedua berisikan tahapan dan tehnik menagkap ikan. Tujuan dari poster tersebut adalah dapat menghindarkan mereka dari salah teknis menangkap ikan.

Alat lain juga akan digunakan adalah video. Biasanya alat sosialisasi yang bersifat visual akan menarik dan cepat diingat. Pilihan ini juga dilatarbelakangi oleh pendidikan nelayan tersebut. Dengan gambar yang bergerak diharapkan dapat lebih mempercepat proses pendidikan nelayan dalam memahami bagaimana menangkap ikan yang kurang yang baik. Untuk merangsang para nelayan dan untuk melihat sejauh mana efektivitas program tersebut, maka para nelayan yang berhasil, paling tidak, melakukan tingkat kesalahan yang relative kecil, akan diberikan penghargaan tertentu. Dengan begitu selain penghasilan mereka meningkat, ada rasa bangga dan penghargaaan yang diberikan atas prestasi kerja mereka.

Jadi dua alat sosialisasi tersebut akan saling mendukung program pendidikan untuk nelayan dengan harapan kesalahan dapat diminimalisir, kelestarian dapat dijaga, pendapatan dan kesejahteraan nelayan meningkat. Dan, yang lebih penting lagi adalah tujuan untuk memasyarakatkan iunformasi perikanan dan melaut ramah lingkungan dapat diwujudkan.

Dalam sosialisasi dan akses informasi dan komuikasi perikanan ini ada semacam alur yang menggambarkan adanya sebuah proses. Dari proses pengenalan, pemahaman, hingga latihan praktik para nelayan. Yang harus disadari, tak ada “resep generik” tentang cara “meramu” program strategi sosialisasi dan akses informasi dan komunikasi. Sebab, semua terkait dengan rencana strategis masing-masing stakeholders, sasaran dan juga kapasitas organisasi secara kualitatif maupun kuantitatif.

Dalam sosialisasi dan akses informasi dan komunikasi kepada masyarakat nelayan, terdapat 2 hambatan utama yaitu hambatan yang disebabkan oleh faktor birokrasi dan rendahnya tingkat pendidikan nelayan. Guna mengatasi hambatan tersebut, perlu dilakukan beberapa pendekatan baik untuk produksi maupun penerapan informasi. dari sisi produksi informasi perlu dilakukan pendekatan dengan cara membentuk tim pakar yang bertugas melakukan evaluasi, verifikasi dan validasi terhadap metode produksi dan penerapan sosialisasi dan informasi.

Sosialisasi dan akses informasi dan komunikasi pada kenyataannya bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sebuah kerangka atau struktur kerja yang tersusun atas berbagai pengetahuan lain. Seperti, teori ilmu-ilmu psikologi, sosiologi, antropologi dan komunikasi dalam rangka memahami cara mempengaruhi perilaku masyarakat, dipengaruhi oleh perilaku interaktif yang terus berubah, dalam iklim ekonomi, sosial dan politik yang kompleks. Jadi, perlu disyadari bahwa strategi pelaksanaan sosialisasi dan informasi dan komunikasi perikanan perlu dikaji dan ditinjau secara berkala.

Kepustakaan
————–, Pengelolaan Spasial Lingkungan Hidup Terpadu Kawasan Aliran Sungai, Proyek Kerja Sama Jerman-Indonesia.
————-, 2003, Belajar Dan Berkomunikasi Tentang Matapencaharian Nelayan Dan Pembudidaya, Jurnal STREAM (Support To Regional Aquatic Resources Management).

 [www.kabarindonesia.com]
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com
Oleh : Suwardi, St.

Satelit Oseanografi Untuk Nelayan

1. Pendahuluan
Bagi nelayan negara maju, pemakaian satelit oseanografi yang menampilkan citra Suhu Permukaan Laut (SPL) dan sebaran klorofil merupakan hal rutin dan baku untuk memudahkan mereka mencari daerah tangkapan ikan potensial.

Sementara untuk nelayan Indonesia masih mengandalkan naluri dan pengalaman semata untuk menangkap ikan. Disamping itu pemakaian teknologi maju, sekalipun sudah baku seperti GPS (Global Positioning System) sebagai alat bantu navigasi yang dapat memandu mereka mencari lokasi yang ditunjukkan citra satelit oseanografi, sampai saat ini masih langka dimiliki nelayan tradisionil Indonesia. Tidak heran apabila sering kita dengar nelayan hilang atau pulang membawa hasil tangkapan sekadarnya, tanpa nilai tambah untuk perbaikan ekonomi keluarga mereka.

Aplikasi citra satelit oseanografi yang sudah menjadi kebutuhan dasar nelayan modern di negara maju, masih merupakan barang mahal bagi sebagian besar nelayan kita. Walaupun sebenarnya data tersebut telah tersedia dengan melimpah di media internet dewasa ini, dan hanya diperlukan pengetahuan praktis sederhana membaca citra satelit untuk melacak keberadaan ikan di laut.
Sebuah ironi yang tidak semestinya terjadi pada mereka.
Artikel ini memberikan petunjuk praktis pada nelayan agar mereka mempunyai kemampuan membaca dan menganalisis citra satelit SPL untuk mencari lokasi ikan.
2. Membaca Citra Satelit
Hal yang pertama kali diperhatikan ketika melihat citra satelit adalah memeriksa ketepatan overlay antara peta dan nilai besaran parameter yang ditampilkan. Apabila kita temukan koordinat pada peta tidak sesuai dengan objek citra, maka proses rektifikasi diperlukan untuk mengembalikannya pada posisi yang benar. Secara visual cukup membuat sebangun antara peta bumi dan hasil citra.
Selanjutnya membedakan kontras warna pada citra. Citra daratan yang direkam pada siang hari menunjukkan warna merah (lebih panas) apabila dibandingkan dengan laut warna biru (lebih dingin). Hal sebaliknya terjadi apabila rekaman satelit dilakukan pada malam hari. Pengetahuan ini diperlukan agar tidak kehilangan orientasi dalam menganalisis proses fisik yang terjadi di laut.

Kontras warna lainnya adalah hasil rekaman awan. Analisis citra satelit biasanya ditampilkan sebagai warna putih. Untuk wilayah Indonesia yang berada di lintang rendah, penampakan awan ini sangat intensif sehingga bias warna pada pengolahan citra sangat mungkin terjadi. Terutama untuk membedakannya dengan rekaman arus yang membawa massa air dingin.
Cara termudah membedakannya dengan melihat rekaman 2 buah citra satelit dalam kurun waktu pendek (dalam sehari). Perpindahan lokasi massa air dingin oleh arus laut berlangsung lebih lambat (1-2 m/s) dibandingkan pergerakan awan (5-20 m/s), sehingga perpindahan objek citra massa air dingin relatif lebih stabil.
Kedua langkah di atas merupakan prosedur baku yang perlu dilakukan sebelum menganalisis lokasi keberadaan ikan pada pertemuan dua buah arus yang membawa massa air dengan perbedaan suhu kontras (convergence zone atau front) dan upwelling.
3. Analisis Citra Satelit
Upwelling pada umumnya terjadi di pantai, karena angin mendorong massa air hangat di permukaan ke arah laut lepas dan kekosongan yang terjadi diisi massa air dingin di dasar/kedalaman yang juga membawa sedimen dan zat hara sebagai sumber makanan fitoplankton.

Secara visual kelimpahan fitoplankton dapat dilihat dari perairan sekitar pantai yang berwarna keruh kehijauan. Tanda ini dapat dijadikan indikasi awal lokasi upwelling atau kesuburan perairan.
Gambar 1 adalah citra satelit SPL NOAA-12 tgl. 28 Juni 2001. Warna putih yang terdapat di sekitar perairan Barat Sumatra adalah awan.
Gambar 1. Citra suhu permukaan laut satelit NOAA-12 tgl. 28 Juni 2001 di Selat Sunda dan sekitarnya. Skala warna dalam unit derajat Celcius (Sumber: Laboratorium Remote Sensing dan GIS, P3-TISDA, BPPT

ngkaran ungu terjadi di perairan sekitar Teluk Pelabuhan Ratu dan barat Sumatra. Kedua lokasi ini dapat dijadikan barometer tempat penangkapan ikan (fishing ground).

Lokasi potensial lainnya adalah mencari daerah pertemuan arus (convergence zone) ataupun massa air hangat dan dingin (front). Analisis citra ditunjukkan dengan garis warna merah yang merupakan pertemuan antara Arus Musim yang bergerak ke arah tenggara (southeast ward) sejajar pesisir P. Sumatra dan Arus Pantai Selatan Jawa yang pada Musim Timur bergerak ke arah baratlaut (Northwest ward).

Mengapa daerah tersebut menjadi indikator keberadaan ikan?. Pertemuan arus membawa semua algae dan rumput laut yang terapung terkonsentrasi di permukaan dan membentuk garis front sepanjang pertemuan kedua arus tersebut. Algae dan rumput laut merupakan sumber makanan bagi ikan kecil dan selanjutnya ikan sedang dan yang lebih besar lagi dalam teori rantai makanan.
Dengan demikian secara sederhana nelayan dapat mencari ikan besar dengan mencari lokasi dimana algae ataupun jenis rumput laut banyak ditemukan dalam formasi garis front (garis merah pada peta sebagai contoh).
4. Penutup
Mensejahterakan kehidupan nelayan Indonesia dapat dilakukan pemerintah dengan memberikan informasi terbaru peta sirkulasi arus laut dan kondisi oseanografi hasil analisis citra satelit di seluruh perairan Indonesia setiap harinya melalui media yang dapat dengan mudah dijangkau mereka, seperti radio dan televisi nasional.

Apabila hal tersebut dapat diwujudkan pemerintah, maka seorang nelayan dengan kemampuan praktis di atas dapat membaca dan menganalisis citra satelit oseanografi untuk menentukan wilayah tangkapan ikan di sekitar tempat tinggalnya dengan mudah. Hal ini tentunya akan menghemat biaya operasional dan meningkatkan hasil tangkapan mereka. Dengan demikian kita harapkan ada peningkatan kualitas hidup nelayan di Indonesia. 
sumber : Fadli Syamsudin

 http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=141

Kenapa Air laut itu Rasanya Asin

Laut adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra.
Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.

Sejarah
Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C) karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan yang terjadi yang menghasilkan garam-garaman yang menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan yang begitu dekat dengan Bumi.

Awal mula
Menurut para ahli, awal mula laut terdiri dari berbagai versi; salah satu versi yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk masuk ke Bumi. Akibatnya, uap air di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah hujan. Hujan inilah (yang mungkin berupa hujan tipe mamut juga) yang mengisi cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah lautan.

Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin.

Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk tersebut. Suhu bumi semakin dingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di bumi.

Kehidupan di Bumi, menurut para ahli, berawal dari lautan (life begin in the ocean). Namun demikian teori ini masih merupakan perdebatan hingga saat ini.

Pada hasil penemuan geologis di tahun 1971 pada bebatuan di Afrika Selatan (yang diperkirakan berusia 3,2 s.d. 4 milyar tahun) menunjukkan adanya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut. Hal ini mungkin menjawab pertanyaan tentang saat-saat awal kehidupan dan di bagian lautan yang mana terjadi awal kehidupan tersebut. Sedangkan kelautan itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari berbagai biota atau makhluk hidup di laut yang perlu dimanfaatkan melalui usaha perikanan.
 

http://www.imammurtaqi.com/2011/10/mengapa-air-laut-asin.html

Limbah Jok Jadi Sepatu Beromzet Puluhan Juta

Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia banyak direpotkan dengan mengurusi berbagai limbah dari pabrik atau rumah tangga. Kebanyakan orang memandang limbah dan sampah sebagai musuh. Tapi bagi orangkreatif mampu menyulap limbah menjadi rupiah dan peluang usaha yangmenguntungkan banyak orang. Mau bukti?

Datang saja ke Sentra Kerajinan Indonesia (SKI) di Thamrin City, sebagai pusat perbelanjaan dan salah satu grosir baju batik dan pakaian muslim di Jalan Kebon Kacang Raya. Jakarta Pusat. Dibawah kepemimpinan Jati Eka Waluya (JEW). SKJ yang berada Lantai I Blok G 12 No 2 Gedung Thamrin City Ini banyak menampilkan contoh produk kerajinan berbahan limbah yang bernilai Jual tinggi.

Bahkan. SKI yang sejak berdiri bertujuan menjadi komunitas yang fokus pada pemberdayaan pengrajin dan bisnis kerajinan yang fair trade serta ramah lingkungan ini, telah mampu membuktikannya. Kios-kios SKI yang kini telah berkembang menjadi 10 kios telah menjual berbagai kerajinan dari produk-produk kerajinan berbahan limbah.

DI kios-kios SKI ini, bisa dilihat bahwa ranting pepohonan telah disulap oleh para pengrajin menjadi hiasan bingkai cermin. Kemudian tempurung kelapa diolah menjadi gesper tall pinggang serta berbagai limbah kayu yang disulap oleh para pengrajin menjadi berbagai Jenis mainan seperti mobil-mobllan hingga helikopter mainan.

Sosok yang sukses dalam bisnis limbah ini adalah Suci Pristlwati (46) warga Jalan Nangka. Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Dia mampu menginspirasi masyarakat di sekelilingnya untuk mengolah limbah menjadi berkah. Perempuan yang akrab dengan panggilan Sud ini mampu menyulap limbah Jok mobil mewah menjadi berbagai Jenis sepatu modls dan elegan.

Ketekunan dan tangan dingin perempuan asal Malang Jawa Timur Ini. telah membawa sepatu yang berbahan limbah kulit oscar Ini menjadi sepatu berkualitas tinggi. Meski produknya berkualitas tinggi Suci membanderol harga sepatu produknya yang diberi merek “Pleasent” Ini dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Konsumen sepatu “Pleasent” pun tak hanya berasal dari dalam negeri. Beberapa kali. Warta Kota menyaksikan dalam pameran, stand sepatu “Pleasent” ramai didatangi para pembeli dari luar negeri. Produknya, banyak diborong pembeli saat mengikuti pameran besar di berbagai kota, khususnya di Jakarta.

Menurut Sud dan sejumlah orang yang mengenal Suci, penghargaan masyarakat tak hanya diberikan karena kualitas sepatu buatannya. Menurut mereka apresiasi diberikan kepada Suci karena produk “Pleasent didasarkan pada semangat ramah lingkungan atau bersplrit go green.

Hal ini cukup beralasan, karena Suci mampu memberdayakan limbah menjadi produk fesyen yang dari segi kualitas tak kalah dengan sepatu produk luar negeri. Namun perlu dicatat baghwa limbah Jok mobil yang digunakan Sud memang bahan Impor. Maksudnya limbah kulit Oscar yang dipakainya adalah limbah yang bahan aslinya diimpor dari Korea Selatan. Selama Ini, Korea Selatan memang terkenal dengan produk Jok mobil berkualitas untuk berbagai merek terkenal.

Saat Warta Kota menjumpai Suci pada acara Pameran Fashion Craft beberapa waktu lalu di Hall A Jakarta Convention Center dan mencatat harga-harga yang dipamerkan Suci cukup murah. Bahkan beberapa Jenis sepatu dijual dengan potongan harga layaknya pemilik toko sepatu di berbagai pusat perbelanjaan melakukan aksi cuci gudang produk. “Untuk hari terakhir pameran biasanya kami lepas dengan setengah harga untuk grosir dan diskon 30 persen untuk pembelian retail,1 kata Suci.

Beromzet puluhan juta

Perjalanan usaha Sud menciptakan sepatu dari limbah Jok mobil tak lepas dari peran PT Aneka Tambang (Antam) yang membina sentra UKM yang dikelolanya. “Saya bangga bisa menjadi bagian dari bina lingkungan PT Antam. Sebab dengan menjadi mitra PT Antam saya punya kesempatan memasarkan produk sepatu dari home Industri bahkan mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak,” tutur Suci yang kini telah melibatkan belasan orang dalam pembuatan sepatu di rumahnya.

Sud berharap dirinya mendapatkan kesempatan dan fasilitas untuk meng-ikuti pelatihan usaha yang mampu membimbingnya menjadi pelaku UKM yang memiliki kemampuan mengelola usaha ini dari sisi hulu hingga hilir. Dia ingin melakukan perbaikan kualitas produksi, mode dan pengembangannya.

“Apalagi sekarang mulai ada permintaan untuk membuat sepatu olahraga, khususnya sepatu bola,” kata Sud sambil melayani seorang Ibu muda yang tengah membeli sepatu bola untuk anaknya. Kini dengan usaha pembuatan sepatu berbahan limbah Jok mobil. Suci mampu meraih omzet puluhan Juta rupiah per bulan. Saat Imi Suci Juga membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin bermitra usaha dengannya, yakni sebagai reseller atau dengan sistem keagenan.

Pengusaha Pribumi Palembang Giat Bina UKM

Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kota Palembang di Sumatera Selatan, giat melakukan pembinaan kepada warga kota tersebut yang menekuni usaha kecil dan menengah (UKM). Pembinaan terhadap UKM itu, dilakukan dengan membantu penyediaan modal usaha, penyediaan tempat usaha, pengembangan usaha, pengembangan produk barang dan jasa, serta mencarikan pasar potensial, kata Ketua HIPPI Palembang, Yudi Farola Bram, di Palembang, Jumat (2/12).

Menurut dia, saat ini pihaknya sedang membina masyarakat yang menekuni usaha kerajinan rakyat tenun songket, makanan khas seperti pempek dan pindang, serta jasa menjahit pakaian. Pada saat berlangsung SEA Games ke-26 di Palembang pada 11-22 November 2011 lalu, sejumlah pengrajin songket binaan HIPPI difasilitas untuk menggelar barang dagangannya kepada pejabat dan pengusaha yang berkunjung ke daerah ini.

Begitu juga jamuan makan dan oleh-oleh pempek buat mitra kerja dan relasi HIPPI yang dibeli dari UKM binaan dimaksud, kata dia. Sedangkan pembinaan terhadap usaha jasa menjahit, permintaan (order) pakaian seragam diperoleh anggota HIPPI dari pemerintah daerah atau dari sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang ada di daerah itu, yang selama ini biasanya pengerjaannya diserahkan kepada pengusaha konveksi di Bandung dan kini telah diserahkan kepada penjahit binaan di daerah ini, kata dia lagi.

Yudi Farola menjelaskan, anggota HIPPI giat melakukan pembinaan terhadap UKM karena prihatin terhadap persoalan permodalan, pemasaran, dan pengembangan usaha yang selalu menjadi penghambat pengembangan usaha mereka. Padahal pengusaha pribumi yang tergabung dalam naungan HIPPI Palembang itu, memiliki kemampuan yang besar untuk mengatasi persoalan yang dihadapi tersebut.

“Anggota kami ada yang memiliki dana segar yang cukup besar, tempat usaha yang tidak terpakai, mitra kerja dan jaringan bisnis yang luas, potensi tersebut jika disinergikan dengan UKM akan menjadi kekuatan usaha yang besar di daerah ini,” ujar dia. Melalui upaya tersebut, diharapakn pengurus dan anggota HIPPI Palembang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi kerakyatan dan bisa memperkuat perekonomian secara nasional, kata salah satu pengusaha pribumi Palembang itu lagi.