Perajin kaus kesulitan perbesar ekspor

Perajin kaus di Sentra Industri Suci Bandung kesulitan memperbesar kuota ekspor ke sejumlah negara terutama kawasan Afrika dan Eropa karena belum mengantongi standardisasi mutu internasional. Ketua Koperasi Perajin Kaos Suci Bandung Marnawi Munamah mengatakan sejumlah perajin kesulitan mendapatkan sertifikasi ISO sehingga sulit melakukan penetrasi pasar ekspor.

“Kebanyakan para perajin kaus baru mampu mengekspor produk ke Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam karena kualifikasinya yang tidak terlalu ketat,” katanya, kemarin. Menurutnya, peluang untuk mengekspor kaus sebenarnya cu-kup terbuka. Baru-baru ini ada permintaan kaus dari pembeli di Afrika Selatan sebanyak 3 juta potong.

“Untuk itu perajin hanya bisa menembus pasar Asia Tenggara saja. Itu pun volumenya masih kecil yakni sekitar 5% dari total ekspor produk tekstil dan produk tekstil. Marnawi mengungkap dari sekitar 400 perajin di Sentra Kaus Suct hingga saal ini belum ada satu pun yang mengantongi sertifikat ISO.

Selain kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi oleh perajin cukup rumit, mayoritas perajin masih bingung dengan jenis-jenis dokumen yang harus disertakan. “Masalah utamanya adalah biaya untuk memperoleh sertifikat yang masih sangat mahal untuk ukuran UMKM.Setiap sertifikat yang akan diterbitkan diperkirakan membu-tuhkan biaya Rp40 juta-Rp50 juta,” tuturnya.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah berupa subsidi atau insentif untuk mempermudah perajin memperoleh lisensi internasional. “Selama ini pemerintah hanya1 mengajari kami bagaimana cara mengekspor produk.” Ketua Kadin Kota Bandung Deden Y. Hidayat mengatakan ada beberapa kriteria sebelum mendapatkan standar mutu internasional tersebut. Di antaranya, penilaian kualitas produk, penilaian mengenai manajemen, pemasaran hingga infrastruktur y.ing dimiliki perajin.

Menurutnya, standardisasi produk memang merupakan salah satu hal utama dalam persaingan. Apa–lagi pembeli di luar negeri menerapkan standar ketat ketika menerima produk impor.

214 Koperasi di Malang Terancam Bangkrut

Sebanyak 214 koperasi di Kota Malang, Jawa Timur, terancam bangkrut karena saat ini sudah tidak aktif menjalankan berbagai prinsip usahanya. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kota Malang Bambang Suharijadi di Malang, Rabu (16/11), mengakui, sebanyak 214 koperasi tersebut sudah tidak lagi pernah laporan, apalagi menggelar rapat anggota tahunan (RAT), dan pembagian sisa hasil usaha (SHU).

“Ratusan koperasi yang sudah tidak aktif itu sangat sulit untuk direvitalisasi karena berbagai kendala. Kami sudah beberapa kali melakukan upaya untuk membangkitkan kembali koperasi-koperasi tidak aktif ini agar tidak sampai bangkrut, namun sulit sekali,” katanya.

Kendala umum yang dihadapi Dinas Koperasi dan UKM di antaranya sulit menghubungi anggota koperasi bersangkutan. Ketika ditelusuri ke alamat yang tertera dalam badan hukum, katanya, ternyata sudah tidak ada lagi. Kondisi itu, katanya, cukup menyulitkan Dinas Koperasi dan UKM ketika ingin membantu melakukan revitalisasi agar bisa aktif dan bangkit kembali.

Bahkan, katanya, tidak sedikit ditemui koperasi yang hanya tinggal papan nama. Selama dua tahun terakhir, jumlah koperasi yang masuk kategori harus direvitalisasi dan mendapat bantuan keadministrasian maupun manajerial sudah berkurang. Sebelumnya sebanyak 274 unit, namun karena ada yang mampu bangkit, saat ini tinggal 214 koperasi.

Jika upaya revitalisasi tidak bisa lagi mampu membangkitkan koperasi tersebut, katanya, tidak menutup kemungkinan badan usahanya akan dicabut. Selama 2011, tiga koperasi di daerah itu dicabut izinnya. Ia menjelaskan, sebenarnya tidak mudah membubarkan koperasi yang memiliki badan usaha, apalagi sudah beroperasi dan melayani nasabah. Namun, katanya, pencabutan izin tidak bisa dihindari jika kondisinya tidak bisa diselamatkan.

“Jumlah total koperasi yang beroperasi di Kota Malang sebanyak 724 dan yang tidak aktif (terancam bangkrut, red.) mencapai 214 unit. Dan yang sudah benar-benar dicabut izinnya ada tiga koperasi,” ujarnya.

Garnis Silver Berjuang Melawan Arus Perdagangan Bebas

Keberadaan usaha kecil menengah (UKM) semakin terancam akibat makin banyaknya perjanjian pasar bebas atau free trade area (FTA) yang akan ditandatangani pemerintah dalam waktu dekat ini.

Tak ayal, gempuran produk impor akan semakin mematikan sektor perekonomian, baik kecil maupun menengah, di dalam negeri. Apalagi serangan produk dari negara seperti China yang masuk dari mulai cendramata sampai produk-produk industri besar makin gencar.

Akan tetapi, faktanya, UKM dalam negeri tidak mau menyerah begitu saja dengan gangguan FTA pada usaha mereka. Tak terkecuali UKM Garnis Silver and Planted. UKM yang berasal dari Kotagede Yogyakarta, sebagai kota tua dengan sisi kehidupan tradisionalnya, mampu berjalan seiring dengan perkembangan kehidupan modern.

Yeyen Alkaf, pemilik UKM ini, mengatakan bahwa usaha yang dirintisnya ini sudah turun-temurun. Saat ini usahanya terus tumbuh dan berkembang sebagaimana kebudayaan yang menjadi napas kehidupannya secara dinamis.

Oleh sebab itu, UKM ini ingin melestarikan kebudayaan lokal dengan cara menyajikan berbagai macam cenderamata khas Kotagede dan berbagai cenderamata asli Indonesia.

Dengan tekat kuat tersebut Yeyen yakin usaha sejenisnya akan tetap bertahan dari gelombang pasar bebas yang akan terus mengahantam. “Kami menyajikan suatu hal yang unik dan berbeda sudah lebih 40 tahun kami berdiri. Antusias masyarakat tetap positif terhadap kami,” katanya pada pameran Indocraft, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keyakinan tersebut membuahkan hasil bagi usahanya. Di tangannya dan adiknya, Garnis, yang menjadi nama UKM ini, Yeyen berhasil mengembangkan usaha moyangnya tersebut. Meskipun pada tahap awal usahanya sempat mengalami goncangan akibat persaingan produk dari negara lain, Yeyen dan adiknya tidak mau kehabisan akal.

Mereka terus mencari ide untuk memajukan sentra usaha cenderamata yang menjadi andalannya tersebut. Kemudian dia berusaha sedikit memodifikasi kebudayaan lokal dengan mengikuti tren terkini yang sedang digandrungi anak muda saat ini. Dengan sentuhannya, usaha cenderamatanya kembali menggeliat.

Kini UKM yang memproduksi cenderamata dari kerajinan perak dan tembaga tersebut mampu menghasilkan omzet hingga Rp 20 juta per bulannya dengan beraneka kalung-kalungan, cincin, miniatur gong, dan sebagainya. “Tetapi ciri khas sebagai sebuah kota tradisional Jawa yang tidak lepas dari keraton tidak kami tinggalkan,” ujarnya.

Produknya berupa aksesori seperti kalung dan gelang terbuat dari tembaga di jual berkisar antar RP 8.000 sampai Rp 300.000 per buahnya. Sementara itu, produk berupa cincin terbuat dari perak mulai dari harga Rp 75.000 sampai Rp 300.000. Untuk miniatur gong mulai dari Rp 750.000 sampai Rp 1,5 juta.

UKM-nya semakin menggeliat tatkala mulai menjadi binaan dari Pertamina Semarang. Di bawah binaan Pertamina Semarang, usahanya mulai lebih teratur dari sisi manajemen dan tata niaga.

Tak heran, cenderamatanya kini mulai menjelajah seluruh pasar lokal yang ada di Indonesia. “Pemasaran hampir merata di Indonesia, meski tidak banyak, cukup membantu penghasilan,” katanya.

Untuk mengembangkan UKM-nya, Pertamina Semarang meminjami modal pada tahap awal sebesar Rp 15 juta. Dengan dana segar tersebut Yeyen mampu mengembangkan usahanya.

Apalagi beban pengembalian peminjaman, menurut Yeyen, sama sekali tidak menyulitkan. “Kami hanya dibebani bunga sebesar 0,6 persen. Itu tidak sulit bagi kami untuk mengembalikannya. Terlebih Pertamina memberikan segala fasilitasnya,” tuturnya.

Ke Mancanegara

Menurut Yeyen, produknya sudah sampai ke luar negeri. Namun, tahap ekspor ke luar negeri dilakukan melalui pihak ketiga. Sampai saat ini dia tidak mengetahui produknya diekspor ke negara mana saja. “Jadi ada pelanggan yang sering borong cenderamata kami, katanya mau dijual ke luar negeri, tapi mereka tidak bilang ke mana,” tuturnya.

Berkat semangat dan kerja kerasnya selama ini, kini UKM-nya mampu meraup untung hingga dua kali lipat dari total biaya produksinya. Yeyen mampu meraup untung per bulannya mencapai Rp 50 juta. Kini Yeyen juga mampu memperkerjakan 10 orang pegawai di UKM-nya tersebut.

“Kami senang menjadi binaan Pertamina, karena usaha kami tidak mati akibat gempuran produk asing. Pertamina Semarang selalu memberikan tip untuk menjalani usaha,” ujarnya.

Kini Yeyen juga berharap agar pemerintah lebih memperhatikan usaha kecil menengah. Pasalnya, usaha ini mampu menghidupi perekonomian masyarakat kecil di daerah perdesaan.

Menurutnya, jika produk asing membanjiri wilayah daerah, hal tersebut akan membunuh perekonomian daerah. “Untuk itu, tidak usahlah pakai perdagangan bebas. Kita akan kalah bersaing dengan prosuk asing, karena harga produk mereka lebih murah,” katanya. (CR-28)

Serbuan Asing Sulitkan UKM

Selama ini  pertumbuhan ekonomi di DKI memang tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara nasional. Namun, faktanya Usaha Kecil Menengah (UKM) di DKI masih menghadapi banyak persoalan seperti serbuan produk Impor.

Selain Itu. suku bunga pinjaman masih sangat tinggi dan memberatkan pelaku UKM karena dipatok diatas 12 persen. Kondisi ini. kata anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta. Aliman Aat. membuat banyak UKM sulit berkembang, sehingga berdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Banyak bisnis UKM menderita, sehingga terpaksa melakukan PHK.” katanya saat dialog dengan sejumlah pengusaha UKM di Jakarta. Minggu (20/11). Selain Itu. lanjutnya, daya saing yang terus menurun, seiring dengan faktor pendukung yang masih Jauh dari harapan. Belum lagi, kata Aat. ditambah keterbatasan penguasaan teknologi oleh sumber daya manusia (SDM) masih rendah, pemasaran. Jaringan kerja sama (networking), dan minimnya informasi Ikut memenjarakan kelangsungan bisnis UKM.

Sementara itu, Kepala Bidang UMKM. Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta, Irwandi, menyatakan, untuk menggerakkan roda perekonomian warga, khususnya di sektor UKM. Bank DKI memberikan kucuran dana bagi kelangsungan.UKM di Jakarta.

“Hingga kini salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi DKI Jakarta ini telah mengucurkan pinjaman sebesar Rp 200 miliar kepada sekitar 2.500 UKM dalam satu tahun terakhir ini.” katanya.

Menurut Irawandl. pinjaman itu diprioritaskan bagi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan proses pengajuan pinjaman usaha tersebut dilaksanakan selama 14 hari kerja dengan ketentuan persyaratan sudah lengkap. Pinjaman yang diberikan kepada para pelaku usaha UKM bervariasi mulai dari Rp 3 Juta sampai dengan Rp 500 Juta.

Sementara terkait dengan persyaratan yang diminta, menurut Irwandi, cukup mudah. “Yaitu hanya mejampirkan foto kopi KTP, KK, surat nikah dan foto, serta proposal usaha untuk pinjaman dibawah Rp 50 Juta harus menyertakan surat keterangan domisili dari kelurahan setempal,” katanya. Setelah disurvei petugas dan sesuai aturan yang berlaku, pinjaman akan segera dikucurkan.

Stok Meluap, Harga Rumput Laut Jatuh

Tahun ini mestinya merupakan tahun yang menggembirakan bagi para petani rumput laut. Betapa tidak, menurut Jana Anggadiredja, Kfiua Masyarakat Rumput Laut Indonesia (MRLJ), produksi rumput laut nasional tahun ini bakal naik 55,49% dibandingkan tahun lalu.

Jika tahun 2010 produksi rumput laut 140.200 ton, ia memperkirakan tahun ini jumlah produksi tersebut akan mencapai 218.000 ton. “Secara keseluruhan kondisi cuaca lebih baik dari tahun lalu,” kata Jana kepada KONTAN JMD.

Ia menjelaskan, kenaikan produksi terjadi karena penambahan daerah yang ikut membudidayakan rumput laut. Daerah baru tersebut menyebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Namun, gara-gara krisis ekonomi global di Eropa dan Amerika Serikat yang juga mulai menulari China, permintaan rumput laut turun. Akibatnya, harga jual rumput laut di dalam negeri melorot

Menurut pantauan harga MRL1, harga rumput laut kering untuk jenis cotonii rata-rata Rp (3.000 per kg. Harga ini turun 14,48% ketimbang September lalu yang senilai Rp 7.000-Rp 8.000 per kg. Tak jauh berbeda, rumput laut jenis gracillaria juga mengalami penurunan dari Rp 6.000 per kg menjadi Rp 4.500-Rp “OtiOperkg.

Jana yakin, penurunan permintaan rumput laut terjadi karena krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat yang belakangan ini balikan ikut menyerang China. Karena itu, industri pengolahan rumput laut di China juga ikut menurun sehingga permintaan atas bahan baku rumput laut dari Indonesia berkurang. Padahal sekitar 80% dari total produksi rum-put laut kering Indonesia me-nyasar pasar ekspor, terutama ke China. Ketua Komisi Rumput Laut Indonesia, Farid Maruf, menyatakan, dari sekitar 170.000 ton mmput laut untuk pasar ekspor, hampir separuhnya atau 80.000 ton rumput laut kering dikirim ke China

Selain pasar yang menyusut, penurunan kualitas rumput laut merupakan penyebab lainnya. Penyakit ais-ais menyerang tunas tanaman rumput laut sehingga rontok dan mati. “Meski tidak separah tahun 2001-2002, namun penyakit ini masih banyak ditemui,”kata Jana.

Namun, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ketut Sugema punya pandangan yang berbeda. “Krisis global yang terjadi di Eropa dan Amerika tidak terlalu signifikan mempengaruhi ekspor rumput laut,” kata Ketut, tanpa menguraikannya. Namun ia sepakat, budidaya rumput laut di dalam negeri belum optimal.

Kembangkan produk

Untuk mengembangkan industri rumput laut, ia berharap ada pengolahan lebih lanjut sehingga memberi nilai tambah bagi para pembudidaya Ketut mencontohkan, saat ini masyarakat Desa Kutuh, Bali telah melakukan pengolahan dalam skala rumahtangga dari kelompok-kelompok pembudidaya. Mereka mengolah rumput laut menjadi kerupuk, jus, agar-agar, dan olahan pangan lainnya.

Dengan berbagai diversifikasi produk olahan ini, nilai tambah rumput laut menjadi berlipat ganda Ketut mencontohkan, harga rumput laut kering sekitar Rp 9.000-Rp 10.500 per kg. Tapi setelah diolah menjadi tepung, harganya langsung melejit menjadi Rp 35.000 per kg.

Dalam rangka diversifikasi produk olahan rumput laut, KKP membangun sebuah pabrik pengolahan rumput laut di Bali, yaitu untuk mengolah rumput laut menjadi tepung.

Saat ini, jumlah pembudidaya rumput laut yang berada di Kabupaten Badung sebanyak 350 orang. Adapun jumlah Kelompok Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Badung tahun 2011 mencapai 9 kelompok. Sementara jumlahnya di Desa Kutuh sebanyak 5 kelompok. Kelompok tersebut berbentuk Kelompok Usaha Wanita Tani pengolah rumput laut Desa Kutuh kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.