Musim hujan, produsen jas kebanjiran pesanan

Musim hujan mendatangkan berkah bagi produsen jas hujan. Mereka mendapat banyak pesanan. Produsen pun terus berinovasi. Salah satunya dengan mendesain jas hujan khusus wanita muslimah atau jas hujan dengan beragam motif.

Hujan adalah hal yang paling menyebalkan bagi para pekerja di lapangan. Maklum, kalau tak pakai jas hujan, pakaian bisa basah kuyup kena hujan. Karena itu, bagi para pekerja ini, lebih baik sedia jas hujan sebelum kehujanan.

Namun, di balik “penderitaan” para pekerja itu, ada kebahagiaan bagi produsen jas hujan. Musim hujan, tentu masa panen bagi mereka. Menurut Sandi Tumenggo, Projet Manajer PT Progressio Indonesia di Bandung, di musim hujan, perusahaannya kebanjiran order jas hujan.

Progresio menerima pesanan jas hujan dari seluruh Indonesia. Selain dari Bandung, pesanan juga datang dari Sumatra, Kalimantan hingga Papua. Pelanggan tetap Progresio adalah perusahaan tambang, kepolisian, serta perusahaan perkapalan. Dalam setahun, pelanggan itu biasanya memesan jas hujan dua kali.

Di musim hujan, perusahaan sanggup mengerjakan hingga 5.000 unit jas hujan tiap bulan. Banderol harga jas hujan ini berkisar Rp 85.000 hingga Rp 125.000. Dengan produksi sebanyak itu, tak kurang dari Rp 500 juta per bulan masuk ke laci kasir perusahaan.

Progessio menawarkan dua model jas hujan, yakni jas hujan model baju dan celana serta jas hujan model rok. Berkah hujan juga dinikmati Diah Kurniasih. Berbeda dengan Progessio, Diah memproduksi jas hujan khusus wanita yang mengenakan busana muslim.

Lewat merek Syabab Collection, Diah mengeluarkan tiga model jas hujan. Pertama, jas hujan berupa setelan jaket dan rok. Kedua, jas hujan model gamis yang penutup kepalanya menyatu dengan leher seperti model ponco. Terakhir, jas hujan berbentuk jaket tapi di bagian celananya ditambahkan celemek.

Selain itu, Diah juga membuat jas hujan bermotif, seperti polkadot kecil warna-warni, motif lurik atau abstrak, dan motif kotak-kotak. “Jas hujan bermotif ini adalah salah satu produk inovasi kami,” kata Diah. Diah memulai bisnis ini sejak Februari 2011. Modal awal Diah untuk memulai usahanya sebesar Rp 15 juta. Meski belum genap setahun, Diah sudah bisa meraup omzet Rp Rp 30 juta per bulan.

Ia memasang harga mulai Rp 100.000 hingga Rp 160.000 per stel. Variasi harga ini, tergantung dari jenis bahan dan model jas hujan. Di antara koleksinya, jas hujan paling laris adalah model jas hujan gamis serta setelan jaket dan rok.

Untuk pemasarannya, Diah hanya mengandalkan media online. Ia mengaku pemasaran lewat dunia maya ini cukup efektif.  Setidaknya, dalam sebulan, Diah mampu menjual jas hujan sebanyak 200 hingga 250 buah jas hujan. Selain menjual secara eceran, Diah juga menerima permintaan jas hujan dalam jumlah banyak atau grosir.

Ia juga menawarkan peluang bagi orang-orang yang ingin menjadi reseller. Syaratnya, cukup membeli minimal tiga buah jas hujan bahan biwaey dan enam buah jas hujan bahan taslan.  Adapun yang tertarik menjadi agen harus membeli jas senilai minimal Rp 2 juta. “Saat ini kita ada sekitar 10 agen yang tersebar di Sumatera, Sulawesi, dan Jabodetabek,” tutur Diah.

Laba nan cantik dari guci berbalut kulit telur

Tanpa isi, kulit telur sejatinya hanyalah sampah. Namun, kulit telur bisa menjadi penghias keramik sederhana menjadi bernilai tinggi. Produk keramik pun tampil unik dan cantik dalam balutan kulit telur. Bahkan, berkat kerajinan kulit telur ini, para perajinnya bisa mendulang omzet puluhan juta dan mampu mengekspor ke luar negeri.

Kulit telur yang notabene adalah sampah, ternyata mampu mempercantik barang kerajinan. Salah satunya, guci hias yang dibalut dengan pecahan kulit telur. Guci pun tampil unik hingga memiliki nilai ekonomi dan menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Dalam beragam kerajinan keramik, Bambang Triyanto, pemilik Gabah Handycraft, menggunakan kulit telur sebagai penghias guci buatannya. Bambang yang pernah bekerja di produsen keramik asing ini mulai menggeluti pembuatan guci kulit telur sejak 2004.

Bambang mendapatkan kulit telur dari pedagang bakmi dan nasi goreng di sekitar rumahnya di Yogyakarta. Setiap bulan, ia mampu menghasilkan 600 hingga 700 kerajinan, seperti guci hias dan botol hias berbalut kulit telur. Bambang memproduksi kerajinan ini dengan bantuan enam karyawannya.

Banderol harga kerajinan ini bervariasi, yakni mulai Rp 20.000 hingga Rp 300.000. Tiap harinya, Bambang mampu mendulang omzet antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Alhasil, saban bulan omzet Bambang bisa mencapai Rp 60 juta. “Selain pembeli lokal, beberapa barang juga sudah diekspor ke Jepang,” tutur Bambang.

Meski berasal dari limbah telur, Bambang menuturkan, kerajinan kulit telur ini awet. Sebab, kulit telur tahan api, pergantian cuaca, dan juga tahan terhadap hama ataupun rayap. Warna kuli kulit telur juga tak akan pudar meski terpapar sinar matahari.

Bahkan, dari kulit telur, Bambang mampu membuat corak warna. Misalnya, ia menggunakan telur ayam kampung untuk mendapatkan corak warna hitam kemerah-merahan. Sedangkan, kulit telur burung puyuh akan menimbulkan corak hitam.

Penggunaan kulit telur sebagai bahan finishing guci ini juga cukup mudah. Langkah awal, kulit telur harus direbus terlebih dahulu. Setelah itu, baru dibersihkan dari kulit arinya dan dijemur. Setelah benar-benar kering, kulit telur tersebut siap ditempelkan dengan lem pada guci yang akan dihias.

Namun, sebelum proses penempelan dimulai, guci yang akan dihias itu harus direndam di dalam air selama 15 menit. Guci itu sebaiknya jangan dicat terlebih dulu. Setelah dikeringkan, perajin pun harus memberi gambar unik di guci. Setelah itu, barulah proses penempelan dimulai.

Pada bagian guci yang ingin ditempel dengan telur, perajin harus melapisinya dengan lem terlebih dulu. Baru kemudian kulit telur ditempelkan. “Setelah semua bagian ditempel dengan kulit telur kering, kemudian haluskan kulit telur dengan amplas lembut,” kata Bambang. Setelah rata penghalusannya, guci tersebut dilap dengan kain yang sedikit dibasahi oleh air.

Di lain tempat, Titik Shavieq, perajin kulit telur asal Solo, lebih memilih kulit telur puyuh, ketimbang telur bebek atau ayam, sebagai penghias kerajinannya. Ia memilih kulit telur puyuh karena coraknya cukup unik dan bagus. “Hasilnya pun bisa lebih bagus daripada telur biasa,” jelas Titik. Hanya saja, kulit telur puyuh sulit diperoleh. Untuk mendapatkan kulit telur puyuh ini, Titik mempunyai langganan pedagang telur yang memasok. Sayangnya, si pedagang itu belum mampu memasok kulit telur puyuh secara rutin.

Selain guci hias, Titik juga menyulap limbah kulit telur menjadi lampu hias, asbak, tempat tisu, dan tempat lilin. “Semua kerajinan ini cukup diminati, baik wisatawan lokal maupun asing,” kata Titik.

Titik mulai bergelut di usaha kerajinan keramik berhias kulit telur ini sejak 2006. Dengan modal Rp 3 juta, ia membeli kulit telur, tanah liat, dan amplas.

Berkat keterampilannya mengutak-atik cangkang telur, Titik kemudian membuka gerai di Jalan Untung Suropati, Pasar Kliwon, Solo, untuk menawarkan barang kerajinannya. Ia menjual kerajinan guci hias dan lampu hias kulit telur mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 600.000.

Sayang, Titik enggan mengungkapkan besaran omzet yang ia terima tiap bulan. Ia hanya bilang, saban bulan omzetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. “Karena dapatnya tak tentu, ada satu bulan sampai puluhan juta, ada juga yang cuma dapat Rp 7 juta per bulan,” kata Titik.

Jadi Eksportir dengan Modal Rp 5 Juta

Perjalanan Abdul Haris Noor merintis bisnis ukiran kaligrafi berawal dari kegagalan. Sebelumnya, dia pernah bangkrut ketika berbisnis mesin packaging mebel dan bangkrut pula dalam bisnis mebel. Namun Abdul pantang menyerah dengan memulai merintis usaha ukiran kaligrafi Hanya dengan modal Rp 5 juta.

Tidak mudah bagi AbduJ Haris Noor meraih sukses dalam bisnis ukiran kuligrali dari kayu jati. Pria kelahiran Jepara ilu harus melewati rintangan berat sebelum . akhirnya mampu jadi eksportir ukiran kaligrafi ko mancanegara.

Keberhasilan Abdul menghadapi rintangan tak lepas dari peran keluarganya yang hidup sederhana. Ia dibesarkan dari ayah yang pekerja keras yang berprofesi sebagai tukang Kayu. Berkaca dari orangtua, Abdul pun tumbuh menjadi sosok pekerja keras. Selain itu, pelajaran hidup yang diterima dari sang ayah membuatnya menjadi sosok yang teguh pada pendirian. Karena keteguhan itulah, Abdul enggan kuliah pada jurusan yang tidak ia inginkan. Setelah tamat Abdul mendapat tawaran beasiswa dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug, Tangerang, Banten,

Namun kesempatan belajar gratis menjadi pilot itu ia lewatkan begitu saja. Abdul hanya belajar dua pekan, setelah dia kembali pulang tanpa pamit pada pengeli tia kampus. “Saya merasa enggak nyaman, maklum orang desa,” kenang Abdul.

Sejak hengkang dari kampus STIP, Abdul memutuskan memadi “pilot” angkutan umum di Jepara. Dari hasil menyopir itu. Abdul tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. “Uang imsaya pakai ongkos masuk kuliah,1 tetang Abdul.

Setelah dua tahun menjadi sopir Abdul memutuskan kuliah di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta. di kampus itulah Abdul belajar tentang teknologi hasil hutan, termasuk teknologi yang berkaitan dengan pengolahan kayu

Setelah kuliah. Abdul sempat bekerja iii perusahaan baja, hingga akhirnya di PHK Namun begitu. Abdul tidak melupakan keilmuannya di bidang teknologi pengolahan hasil hutan.

Bermodal ilmunya itu Abdul mengajak sahabatnya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi packaging mebel tahun 1999. Dengan membawa bendera CV Mitra Radiant, Abdul memasarkan mesin packaging mebel kepada perusahaan mebel di Jepara.

Hampir tiga tahun bisnis penjualan mesin packaging itu berjalan lancar. Sampai tahun2002, Abdul dan sahabatnya mulai pecah kongsi hingga akhirnya berpisah Saya memilih melanjutkan usaha sendirian,” kata Abdul. Selepas itu, Abdul mendirikan perusahaan baru bernama Mandiri Wirastama, yang bergerak di bidang penjualan mebel. “Perusahaan ini berkembang hingga bisa ekspor,” terang Abdul.

Tiga tahun lamanya, dua perusahaan itu berkembang beriringan. Memasuki tahun 2005, kedua perusahaan itu mulai goyah karena terlilil krisis finansial. “Banyak mitra bisnis saya tidak membayar tagihan, terang dia. Tagihan macet itu membuat kedua perusahaan im tumbang, Abdul mengaku mengalami kerugian hingga Rp 100 juta akibat kredit macet itu. Saya sempat menagih utang seperti pengemis,” kenang Abdul.

Karena tagihan tak kunjung dibayarkan mitra, Abdul menghentikan operasional kedua perusahaan. Ia juga menjual aset perusahaan. Yang tersisa hanya Hp 5 juta,” katanya. Walaupun usahanya bangkrut, Abdul tidak patah arang. Dengan modal yang tersisa. Abdul melirik peluang usaha baru yaitu ukiran kaligrafi dari kayu jan “Saya itu saya ganti namaperusahaan menjadi CV Radiant Suryatama,” katanya.

Dengan modal seadanya, Abdul mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membual ukiran kaligrafi tersebut. “Saya sempat jadi balian olokan karena bikin kaligrafi,” kata Abdul. Setelah berhasil memproduksi kaligrafi, Abdul malah kebingungan menjual, karya itu hampir setahun lamanya Abdul tak kunjung mendapatkan pangsa pasar ukiran kaligrafi kayu itu.

Pada 2005, Abdul kemudian memutuskan ikut pameran kerajinan di Kementerian Perindustrian di Jakarta. Pameran inilah yang membawa perubahan bagi bisnis kaligrafinya. Selain mendapat pembeli, pameran Itu mempertemukan Abdul dengan teman lama yang mau memberikan bantuan modal tanpa agunan kepadanya. “Dari sil ulah nuk bidik bisnis saya,” terang Abdul.

Sepeda Fixie, Cetak Jutaan Rupiah dari Sepeda Bekas

Bisnis sepeda fixie merupakan pilihan yang mengiurkan, mengingat trend bersepedaa saat ini sedang pada puncaknya, ketika isu go green mulai didengungkan dibandingkan dengan bisnis sepeda Mountain Bike (MTB) atau jenis sepeda lainnya.

Dengan bermodal dana sekira Rp1 juta sudah mampu membuat sepeda fixie yang mampu dijual dengan harga minimal  Rp1,5 juta.

Dari sepeda bekas seharga Rp250 ribu hingga Rp500 ribuan bisa berubah menjadi sebuah sepeda dengan harga jual mencapai Rp1,5 juta bahkan puluhan juta rupiah. Dengan diberi sentuhan sedikit sehingga menjadi sebuah sepeda yang cukup unik dan enak dilihat. Biasanya disebut dengan istilah sepeda fixie atau fixied gear.

“Bisnis sepeda fixie saat ini sangat menggiurkan, apa lagi anak muda jaman sekarang lagi senang-senangnya bersepeda,” ujar penjual sepeda via internet, Fay saat ditanyai okezone.

Model untuk membuat sepeda fixie terbilang cukup murah, dengan modal sekira Rp1 juta bisa membuat sebuah sepeda fixie. Rincian dana sebagai berikut, Rp500 ribu digunakan untuk pembelian sepeda balap bekas, (selain sepeda balap juga bisa untuk di bentuk sebagai fixie), dengan sepeda bekas tersebut tidak perlu banyak perubahan untuk membentuk sebuah sepeda fixie, sehingga sisa dana tersebut bisa digunakan untuk restorasi ubahan sesuai dengan keinginan pasar, mulai dari pengecatan, dan sebagainya.

Dana pengecatan sekira Rp100 ribu bahkan bisa ditekan menjadi Rp50 ribu dengan menggunakan cat semprot. Selain pewarnaan, dana lainnya juga bisa dibelikan velg ditambah ban dan sebagainya seharga Rp300 ribu.

Sedangkan untuk sepeda fixie spesifikasi diatas rata-rata, bisa disiapkan dana sekira Rp2 juta, dengan modal Rp2 juta sepeda fixie spesifikasi diatas rata-rata tersebut mampu dijual dengan kisaran harga Rp3 juta hingga Rp4 juta.

Untuk pembelian sperpart sepeda, biasanya dilakukan di kawasan pasar Kebayoran Lama, disana terdapat banyak distributor part sepeda, mulai dari yang untuk umum hingga yang khusus menjual part fixie. Untuk harga sudah terbilang murah, dengan kemampuan menawar harga bisa semakin murah lagi dibandingkan tempat lainnya.

Untuk melakukan bisnis sepeda fixie, diutamakan kita harus mengetahui harga-harga untuk sparpartnya, karena setiap distributor beda harga, selain itu juga harus mengerti mana barang yang kualitas bagus dengan kualitas murahan

“Kita harus mengetahui perbedaan harga spare part, dan mengetahui kualitas barang yang dibeli,” ungkapnya.

Untuk media pemasarannya, saat ini sudah terbilang mudah, bisa melalui komunitas-komunitas sepeda, bahkan dengan kemajuan tekhnologi, media internet pun bisa menjadi tempat pemasaran yang efisien bahkan gratis, seperti situs jejaringan facebook dan twiter bahkan bisa melalui online shoop seperti bukalapak.com atau kaskus.

Sepeda fixie sendiri meruapakan sebuah sepeda dengan sistem pergerakan bisa berjalan maju atau berjalan mundur atau jaman dulu disebut dengan istilah doltrap, saat ini pun warna sepeda fixe berfariasi, mulai dari kuning, hijau, biru dan lainnya. Sepeda fixie sendiri telah menjadi trend bagi anak muda Indonesia.

Mengingat semakin tingginya trend bersepeda, sudah bisa dipastikan bisnis usaha jual beli sepeda tidak akan ada matinya, dan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan kesehatan maupun kepedulian terhadap lingkungan.

Wirausaha Label Indie

Artis yang berwirausaha tak sedikit. Tak terkecuali penyanyi jazz Syaharani. Perempuan 40 tahun itu memilih berwirausaha di bidang yang tak terlalu jauh dari dunia yang digelutinya, musik. Dia mendirikan sebuah label rekaman indie.

“Sudah beberapa tahun ini aku lagi sibuk produksi indie untuk Esqief, duo bentukan aku sama temanku, Didit Saad. Karena ini label sendiri, jadi apa pun dikerjakan sendiri. Mulai ngaranglagu sampai proses produksi, semuanya sendiri,” jelas Syaharani saat ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, pekan lalu.

Pemilik nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim tersebut menuturkan, dengan memiliki dan mengurus label sendiri,dirinya bisa melatih jiwa wirausaha dalam mengelola sebuah usaha. Selain itu, lanjut penyanyi asal Batu, Malang, tersebut, lewat label miliknya, dia sekaligus bisa membuka lapangan pekerjaan.

“Kalau begini, kan jadi wiraswasta dan bisa bantu orang lain. Usahanya sih baru kecil-kecilan. Karena itu, semoga ke depan makin berkembang dan bisa meng-Ziire lebih banyak orang lagi,” imbuh penyanyi sekaligus pencipta lagu itu.

Menjinjing laba dari produksi tas wanita ala Korea

Maraknya fesyen ala Korea di kalangan wanita remaja bisa menjadi peluang usaha yang menguntungkan. Salah satunya dengan membuat tas wanita remaja dengan desain ala Korea. Dengan membuat tas ini omzet bisa puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Setelah era Harajuku Style, dunia mode di Tanah Air terus mencari kiblat baru. Nah, kiblat baru itu masih bertetangga dengan Harajuku yang berasal dari Jepang, yakni gaya model yang dikenal sebagai Korean Style. Mode asal Korea itu tak hanya soal busana, namun juga tas.

Nah, pembuatan tas fesyen ala Korea inilah yang ditekuni oleh Vidia Chairun Nisa dan Syamsul Hadi, serta banyak perajin tas lainnya. Maklum, tas model anak muda Korea ini memang lagi jadi tren dan laris manis di pasaran.

Vidia sengaja membidik segmen remaja wanita yang gemar fesyen dan cenderung suka belanja. Kepada wanita muda penggemar fesyen ini, Vidia menawarkan aneka tas ala Korea. Tentu tas ala Korea bikinan Vidia ini bisa lebih murah dari tas asli asal Korea. Lihat saja, tas asal Korea, di pasar tas ibu kota bisa mencapai Rp 3 juta per buah. Adapun tas ala Korea buatan Vidia hanya seharga Rp 139.000 – Rp 219.000 per buah.

Soal model dan desain, pembeli tak usah khawatir karena Vidia mengadopsi desain, bentuk dan pola tas ala Korea. “Bahkan tas itu saya tambah lagi dengan aneka modifikasi,” terang Vidia yang menyematkan merek Gembool pada tas yang untuk kaum wanita itu.

Vidia yang sudah berjualan tas sejak 2008 itu melakukan beragam modifikasi warna, menambah aksesori, hingga membuat tas dengan ukuran beragam. “Soal kualitas tas kami tidak kalah dengan tas bermerek lain,” klaim Vidia yang punya bengkel produksi sendiri di Jakarta.

Untuk memproduksi tas itu, Vidia mempekerjakan 20 karyawan yang setiap bulan mampu menciptakan empat varian tas baru. Di antara varian tas yang terlaris adalah tas bermotif macan tutul dan motif berbentuk potongan koran atau majalah.

Berkat tas ala Korea ini, perempuan usia 25 tahun ini mampu meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan, dengan laba mencapai 40%. Vidia memperoleh omzet sebanyak itu dari berjualan tas melalui toko online bernama shop.gembool.com, juga dengan membuka jaringan pemasaran ke butik-butik dan pedagang tas di Bandung dan Jakarta.

Tak mau ketinggalan, Syamsul Huda, perajin tas di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, kini juga sibuk membuat tas ala Korea. Syamsul tertarik membuat tas ala Korea karena ada pesanan dari para pedagang tas. “Saya akhirnya ikut bikin tas gaya Korea itu,” terang Syamsul.

Tentu Syamsul tak kesulitan membuat tas ala Korea itu. Maklum, sebelum kepincut dengan tas ala Korea, Syamsul sudah sejak 1991 terlatih membuat tas apa saja. “Bedanya ada pada warna, tas ala Korea memiliki warna yang mencolok,” terang Syamsul.

Selain itu, ciri tas ala Korea memiliki banyak kantong ketimbang tas wanita biasa. Selain itu, tas ala Korea ini lebih banyak menggunakan aksesori seperti rantai.

Karena banyak permintaan, Syamsul juga rajin membuat desain baru. Dia mencari pola desain itu dari berbagai sumber, mulai dari majalah mode hingga dari dunia maya. “Sekarang jumlah produksi saya sudah ratusan pieces,” jelas Syamsul yang mengaku memiliki omzet Rp 110 juta per bulan itu.

Berbeda dengan Vidia, Syamsul memasarkan produknya langsung ke distributor tas yang ada di seluruh Indonesia. Syamsul mengaku tidak terlalu tertarik untuk berjualan melalui online seperti halnya Vidia. “Jualan lewat internet terlalu rumit,” katanya.

Sulaiman Ichsan mendongkrak omzet UKM dengan galeri

Don’t wait until tomorrow if you can do it today. Itulah prinsip yang diterapkan oleh Sulaiman Ichsan. Pria asal Belitung itu sukses merangkul pengusaha UKM di Belitung. Ia mencoba memanfaatkan peluang dari berkah pariwisata. Dalam waktu tiga tahun, Sulaiman pun berhasil mengangkat omzet banyak pengusaha UKM Belitung.

Belitung yang awalnya terkenal sebagai daerah penghasil timah kini menjelma sebagai tempat pariwisata yang apik. Ramainya kunjungan wisata di Belitung menginspirasi Sulaiman Ichsan untuk mendirikan workshop Galeri Kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Belitong pada 2007.

Sebelum memimpin Galeri KUMKM Belitong, bapak tiga anak ini aktif terlibat dalam keanggotaan koperasi. Dari kegiatan itulah, Sulaiman sering mengikuti pelatihan yang berkait dengan usaha kecil.

Dalam kesehariannya, Sulaiman memang berwirausaha secara mandiri dengan menjadi pelukis kaligrafi dan menjualnya di kaki lima, atau berjualan ikan di pasar ikan. Aneka pengalaman sebagai pengusaha cilik itulah sedikit banyak memberikan bekal bagi Sulaiman memimpin Galeri KUMKM Belitong.

Workshop Galeri KUMKM Belitong ini memamerkan beraneka macam produk khas Belitung, seperti makanan, kerajinan gantungan kunci dari kulit kerang, bros dari kulit kerang atau tempat tisu yang berhiaskan kulit kerang. Selain itu, ada juga kain tenun khas Belitung dan kaus yang bertuliskan “Negara Laskar Pelangi”.

Di antara produknya yang dipajang, Sulaiman menawarkan harga yang kompetitif agar barang cepat laku. Seperti gantungan kunci dan bros, Sulaiman membanderol harga Rp 15.000 per empat buah. Untuk tempat tisu, ia pasang harga sebesar Rp 40.000 per buah. Untuk kaus, harganya bervariasi mulai dari Rp 80.000 hingga Rp 125.000 per item-nya.

Selain mendirikan workshop, pria berusia 40 tahun ini juga membina beberapa pelaku UKM supaya lebih maju. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas produksi dengan kemasan yang menarik.

Itulah sebabnya, Sulaiman pun mengusulkan supaya KUMKM yang menjadi mitranya, melengkapi produk dengan registrasi produk industri rumah tangga (PIRT).

Nah, untuk memudahkan pengurusan PIRT, Sulaiman menjalin kerja sama dengan Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi, dan Pemerintah Kabupaten Belitung, untuk mendapatkan registrasi gratis untuk mereka. “PIRT ini penting untuk meyakinkan konsumen akan produk UMKM, baik dari kebersihan dan kelayakan konsumsi,” tuturnya.

Sulaiman teguh menjalankan prinsip disiplin dalam usaha. “Karena kita berkecimpung di dunia usaha, sehingga waktu itu penting untuk berkarya,” katanya.

Prinsip itu pun mendatangkan berkah. Jika tiga tahun lalu, ia hanya membina 12 UKM yang ada di desa Lesung Batang, kini, jumlah UKM binaannya mencapai 94 UKM yang tersebar di seluruh Kabupaten Belitung.

Bertambahnya UKM ini lantaran Sulaiman tak pernah bosan melakukan pendekatan dan mengajak mereka bergabung di galeri. Sulaiman juga aktif bekerja sama dengan operator biro perjalanan, sehingga setiap wisatawan yang berkunjung selalu mampir ke galerinya. Sulaiman mengaku Belitun mendapat berkah dari film “Laskar Pelangi.

Dengan datangnya konsumen, tentu tak hanya Sulaiman yang menikmati hasilnya, para UKM binaannya juga ikut kebanjiran order. Produksi mereka terus meningkat tiap tahun.

Alhasil, jika pada 2008 omzet galerinya sekitar Rp 90 juta per tahun, tahun ini ia memperkirakan omzet bisa menyentuh angka Rp 2 miliar. “Sampai September, omzet galeri sudah Rp 1,5 miliar. Sampai akhir tahun bisa lebih besar lagi karena ada Sail Wakatobi Belitung,” tutur Sulaiman.

Sulaiman pun semakin mensyukuri karena kian banyaknya pelaku UKM yang menjadi binaannya. Maklum, pada awalnya, hanya sedikit dari mereka yang mau mengikuti ide Sulaiman untuk menciptakan produk lebih kreatif.

Ia juga berhasil mematahkan kendala terberat dari banyaknya penduduk yang masih mengandalkan hasil penambangan timah dan menjadi nelayan. Perlahan, Sulaiman menularkan cara berpikir, bahwa Belitung kaya potensi wisata.

Kini, Sulaiman pun tertantang untuk mengembangkan pemasaran. Ia sedang mencari cara untuk mengikuti pameran di luar negeri, supaya produk UKM Belitung bisa menembus pasar ekspor.

Mengantongi laba dari usaha pembuatan tea bag

Laris manisnya penjualan teh, jamu, dan kopi dalam kantong celup mendorong permintaan kantong celup atau tea bag. Meski masih melayani permintaan dari pelaku usaha di tingkat menengah dan UKM, produsen kantong celup ini bisa meraup omzet puluhan hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, pemain di usaha ini masih sedikit.

Ternyata memproduksi kantong celup atau tea bag bisa menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, tea bag yang sebelumnya hanya digunakan untuk kantong teh celup ini mulai digunakan juga oleh produsen kopi dan bahkan produsen jamu untuk mempermudah penyajian.
Lebih menarik lagi, meski kebutuhan kantong celup ini makin besar, ternyata pemain di bisnis ini tidak begitu banyak. Itulah sebabnya, Suhartono, pemilik Indo Multi Creative di Surabaya, Jawa Timur, begitu tekun menggeluti usaha pembuatan kantong celup ini. “Saya sudah memproduksi kantong celup ini sejak tahun 1998,” ujar Suhartono.

Meski masih sedikit pengusaha yang memproduksi kantong celup ini, Suhartono mengakui persaingan bisnis ini kian ketat. “Hal itu terlihat dengan harga yang makin kompetitif,” lanjutnya.

Suhartono hanya memasok produk kantong celup ini ke produsen teh skala menengah dan UKM. “Produsen teh celup raksasa yang menjadi pasar utama di bisnis ini biasanya memiliki unit pembuatan tea bag sendiri,” ujarnya.

Indo Multi menjual tea bag dengan harga Rp 135 per piece. Ia mengaku, dalam sebulan dapat menjual hingga 100.000 kilogram tea bag. Asal tahu saja, berat setiap kantong celup rata-rata dua gram. Dengan produksi sebanyak itu, berarti Suhartono mampu memproduksi sebanyak 50 juta kantong celup per bulan.

Selain menjual kantong celup jadi, Suhartono juga menjual filter paper yakni bahan baku pembuatan kantong celup. Dalam sebulan, ia mampu menjual hingga 10 rol dengan harga per rol berkisar Rp 750.000 hingga Rp 1 juta. Satu rol filter paper bisa dipakai untuk pembuatan 50.000 kantong celup.

Meski enggan menyebut perolehan omzet, namun dengan volume penjualan sebesar itu, diperkirakan Suhartono bisa merengkuh omzet hingga Rp 6 miliar lebih per bulannya.

Pemain lain di bisnis ini adalah Edi Setyo Budi. Pemilik UD Raya Kudus yang memproduksi kantong celup selalu menuai kenaikan permintaan setiap bulan. Bahkan, saking banyaknya pesanan, Edi mengaku kewalahan memenuhi lantaran kapasitas produksinya masih terbatas. Padahal, dia memulai bisnis ini secara tak sengaja.

Bisnis asli Edi sebenarnya adalah teh herbal yang dikemas dalam kantong celup. Karena dia sering kesulitan mencari kantong celup, akhirnya Edi memutuskan untuk memproduksi sendiri kantong celup itu. “Dengan membuat kantong sendiri, saya bisa menekan produksi teh herbal,” ujarnya.

Dengan dibantu lima karyawan, “Dalam sehari, kami baru mampu memproduksi 15.000 tea bag atau sebanyak 450.000 kantong per bulan,” ujar Edi. Nah, sebanyak 350.000 tea bag digunakan Edi untuk produk teh herbalnya sedangkan sisanya, sebanyak 100.000 kantong, dia lempar ke pasar.

Edi banyak melayani pesanan dari produsen jamu tradisional dan produsen kopi. “Tapi saya baru menerima pesanan dari pengusaha kelas UKM,” ujarnya merendah.

Pria 31 tahun ini menjual kantong celup dengan harga Rp 150 per buah. Ia mengklaim kantong celupnya tergolong produk premium karena memakai jenis kertas yang lebih tebal.

Tak hanya menjual kantong celup, seperti juga Suhartono, Edi juga menyediakan filter paper atau kertas sebagai bahan baku tea bag. Edi membanderol harga bahan baku kantong celup yang masih diimpor dari Taiwan, China, dan Jerman tersebut seharga Rp 500.000 per rol. Dalam sebulan, Edi bisa menjual hingga lima rol filter paper. “Tiap rol bisa dibuat hingga 30.000 kantong celup,” jelas Edi.

Dari usaha pembuatan kantong celup dan penjualan filter paper ini, sarjana teknik elektro dari sebuah universitas di Yogyakarta ini mengaku mampu meraup omzet hingga Rp 20 juta per bulan dengan keuntungan 30%.

Kotak Tisu Mendong Laku di Mancanegara

Mendong adalah salah satu tumbuhan yang hidup di rawa. Seperti eceng gondok, mendong juga bisa menjadi bahan kerajinan. Meski dari bahan alami, namun sudah terbukti produk berbahan baku mendong seperti kotak tisu mampu menembus pasar ekspor.

Selain  terlihat cantik setelah dianyam menjadi tikar, mendong juga bisa menjadi kerajinan lain, seperti kotak tisu. Adalah Nyoman Martini Sudarto, salah satu produsen kotak tisu berbahan mendong di Bali. Awalnya, Martini memasarkan kotak tisu buatannya ke hotel-hotel, kemudian merembet ke rumah makan, dan restoran di Bali.

Martini menggeluti pembuatan kotak tisu mendong ini sejak 2001 lalu. Ketika itu, perusahaan travel tempat Martini bekerja bangkrut. Ia pun memutuskan berbisnis kotak tisu daritanaman mendong.

Pertama merintis usaha mendong ini, Martini hanya dibantu oleh 15 karyawan yang kebanyakan pemuda dari sekitar rumahnya. Seiring melonjaknya permintaan, ia pun menambah karyawan. Kini, Martini telah mampu memperkerjakan 35 pekerja untuk mengembangkan usahanya

Saban bulan, Martini mampu menjual hingga 1.000 kotak tisu. Dengan harga berkisar sebesar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per buah, Martini pun mampu meraih omzet hingga Rp 120 juta per bulan.

Namun, tak selamanya usaha Martini ini berjalan mulus. Bisnisnya pernah runtuh, saat bom meledak di Bali pada 2004. Ketika itu, omzet Martini langsung melorot tinggal Rp 70 juta per bulan.

Martini memang lebih banyak bermain di pasar ekspor. Kebetulan ketika ia bekerja di perusahaan travel, ada wisatawan dari Belanda yang menyewa jasanya. Kemudian ia bertemu lagi dengan turis Belanda itu pada 2003. “Wisatawan itu yang mengenalkan kotak tisu mendong ke negara-negara di Eropa,” kenang Martini. Kini, Martini patut berbangga. Kotak tisu buatannya sudah mejeng di beberapa hotel dan rumah makan di Eropa.

Hanya saja, kini Martini kesulitan mendapatkan bahan baku mendong dari sekitar Bali. Guna memenuhi kebutuhan, Martini harus berburu mendong hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, kesulitan bahan baku itu membuat Martini pernah menolak pesanan.

Selain Nyoman, salah satu pengusaha yang memanfaatkan un jinaii mendong untuk kotak tisu adalah Liem Hauw. Namun Liem telah memulai bisnis ini sejak 1999. Setali tiga uang dengan Martini, kotak tisu mendong buatan Liem juga sudah berhasil menembus pasar Australia dan Amerika Serikat.

Menurut Liem, ia memilih balian baku kayumendong karena kayu tersebut cukup berlimpah di negara ini. Selain pasokannya yang banyak, bahan kayu mendong jugamemiliki teksturnya yangbagus dan juga fleksibel.

Liem mendatangkan pasokan mendong dari wilayah Pekalongan dan Yogyakarta. “Saya bisa membutuhkan lembaran mendong hingga mencapai 1.000 meter setiap bulannya,” tambah Liem. Ia menjual berbagai produk dari mendong mulaidari Rp 30.000 hingga Rp 125.000. Untuk pasar Eropa, biasanya Liem hanya mengirim produk kualitas terbaik, hingga harganya lebih mahal.

Dalam sebulan Liem mampu menjual hingga 200 kotak tisu, dengan omzet rata-rata berkisar Rp 25 juta setiap bulannya. “Produk kami biasa digunakan hotel mewah di luar negeri,” ujar Liem. Dalam memproduksi kotak tisu mendong ini, Liem melibatkan puluhan perajin. Para perajin ini tersebar di Pekalongan, Yogyakarta, dan Bali.

Liem juga menjelaskan tantangan yang harus dihadapinya adalah pembinaan para perajin. Ia ingin, para perajin ini bisa menghasilkan produk kerajinan tangan dengan ketelitian di setiap kotaknya. “Karena saya membidik pasar ekspor, sehingga saya sangat memperhatikan kualitas. Tingkat kerapian, presisi produk dan selalu memperbaharui desain,” jelas Liem.

Bisnis Tetap Segar dari Produksi Kotak Pendingin

Usaha kuliner yang makin bergairah, mendatangkan berkah bagi produsen kotak pendingin atau cooler box. Maklum, banyak pengusaha kuliner membutuhkan kotak ini, baik untuk menyimpan maupun membawa bahan makanan, supaya tetap segar. Produsen cooler box pun bisa menuai omzet hingga puluhan juta per bulan.

Beragam usaha, mulai dari penjual minuman di pinggir jalan hingga usaha penangkapan ikan di laut lepas, membutuhkan cooler box atau kotak pendi-ngin. Bila penjual minuman ingin minuman botolnya tetap dingin. Sedangkan bagi nelayan, cooler box membantu mereka agar ikan tidak cepat membusuk.

Makin ramainya permintaan cooler bar pun menarik perhatian PT Aneka Unggul Polindo untuk terjun pada usaha ini enam tahun lalu. “Awalnya, kami mulai memproduksi cooler box karena memang ada pesanan,” ujar Linda Simon, Manager Pemasaran PT Aneka Unggul Polindo. Sampai saat ini, mereka hanya membuat cooler box ketika ada pesanan. Perusahaan yang berdiisejak 1986 di Jakarta ini merupakan produsen berbagai produk berbahan fiber glass.

Linda pun menerima pesanan kotak pendingin sesuai permintaan konsumen. “Kami bisa membuat cooler box custom,” jelasnya Konsumen linda kebanyakan adalah perusahaan perikanan.

Aneka Unggul menerima pesanan mulai ukuran terkecil, yakni 300 liter, hingga ukuran terbesar 3 m3. Banderol harga kotak pendigin itu berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 10 juta per unit. “Harga produk kami memang lebih tinggi karena bahan baku lebih berkualitas,” klaim linda

Dalam sebulan, Aneka Unggul bisa mendapat pesanan pembuatan cooler box ini antara 10 hingga 20 kotak pendingin. Dengan hanya menjual cooler boc saja. Aneka Unggul bisa menyumbang omzet ke perusahaan sekitar Rp 50 juta

per bulan.linda bilang, dari bisnis ini, pengusaha bisa mengantoni margin 20% dari omzet. Namun, perolehan keuntungan ini juga bergantung dari harga jiger glass yang sangat fluktuatif. “Hargafiberglass selalu mengikuti perkembangan harga minyak bumi,” jelasnya

Meski persaingan mulai ketat, linda yakin prospek usaha pembuatan cooler box di perusahaanya masih cerah. Apalagi, ia melihat banyak pesaingnya menjual kotak pendingin berbahan plastik..

Manisnya berbisnis kotak pendingin juga dirasakan oleh Leonard Yuwono. Meski hanya menjual, pemilik Toko Aquaria ini mampu menikmati keuntungan maksimal setelah permintaan cooler box meningkat pesat dalam dua tahun terakhir.

Sama seperti linda, Leonard juga menawarkan kotak pendingin padapengusaha perikanan. Tapi, ia juga menjualnya kepada pemilik supermarket

Di Aquaria, tersedia juga cooler box yang terbuat dari bahan plastik (polyuretha-ne). Meski dari plastik, kotak pendingin itu bisa mempertahankan suku udara di dalamnya hingga 48 jam. Leonard menjamin, tak ada pengembunan pada bagian cooler box yand dijualnya

Ia menjual cooler box mulai dari ukuran 100 liter, seharga Rp 940.000, hingga ukuran terbesar 600 liter dengan harga Rp 5,4 juta. “Kami bisa mengumpulkan omzet hingga puluhan juta dari penjualan cooler box saja,” ujarnya Mewarisi usaha ayahnya, selain cooler box, leonard juga menjual produk plastik lain di tokonya

Ia mendapat pasokan produk kotak endingin dari Medan, Sumatra Utara. “Barang kami adalah produk lokal,” ujar Leonard.