Intan Avantie, Gunakan Nasihat Sang Bunda untuk Terus Maju

Views :200 Times PDF Cetak E-mail
Minggu, 18 Desember 2011 14:06
Karya busananya mulai mendapat tempat di jagat fashion. Menyandang nama belakang Avantie, ibu dua orang anak ini diduga memiliki tali kekerabatan dengan sang maestro kebaya modern Indonesia. Yup, memang benar. Intan Avantie adalah putri semata wayang desainer kebaya kondang tanah air, Anne Avantie. Terinspirasi dari ibunda tercinta, Intan turut berkancah mempopulerkan kebaya modern.
intan-avantie_2Intan Avantie lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 17 November. Perempuan dengan paras ayu ini mempunyai talenta di bidang seni fashion yang serupa dengan ibunda serta omanya. Tak heran bila perempuan yang sering disapa Intan ini akhirnya membangun butik kebaya modern dan kontemporer yang sama dengan ibundanya dan kemudian diberi nama Inav.
Bisnisnya dibangun lima tahun lalu dengan order awal berupa seragam paduan suara dan kostum penari. Terinspirasi dari karya akbar sang bunda, Intan mulai mengasah serta melatih bakatnya dalam menjahit dan mendesain kebaya modern. Baginya, membuka butik kebaya modern merupakan peluang usaha yang sangat potensial dan patut dikembangkan mengingat tren busana kebaya saat ini sedang naik daun.
Misi terjun dalam dunia bisnis kebaya juga diyakininya sebagai upaya melestarikan budaya bangsa. “Saya sangat mencintai budaya bangsa maka saya pun excited dengan karya kebaya,” tuturnya. Minat Intan untuk mempopulerkan kebaya yang dulu lebih terlihat sederhana dan sesuai pakem yang ada hingga menjadi kebaya bermanik-manik dan berpayet yang elegan menjadi salah satu tujuan dalam hidupnya. “Saya ingin meneruskan tongkat estafet yang diberikan ibu saya supaya kebaya dapat terus melegenda,” tambahnya.
Ketika ditanya apakah dirinya tak takut dikatakan mendompleng nama besar sang ibu, Intan menjawabnya dengan penuh percaya diri, “Mendompleng atau tidak mendompleng tidak lagi penting bagi saya. Hubungan kami adalah ibu dan anak, tidak ada yang salah dalam dunia bisnis diantara kami berdua.” Meneladani sikap ibunya yang selalu berpikir positif, istri dari Carolus Kristinus Wijasena ini menatap masa depan bisnisnya dengan penuh keyakinan. Selama melakukan pekerjaan sebagai bagian dari hobi, kecintaan dan kenikmatan akan dunia fashion, serta berkarya untuk Tuhan dan sesama, Intan takkan memerdulikan perkataan negatif mengenai dirinya. Ia pun akan terus maju dan mengesampingkan semua hambatan yang ada.
Plagiat
Ibu dari Matthew Archiello Keenant Wijasena dan Letisha Arkayrra Keinant Avantie ini mengaku, kendala terbesar dalam menjalani bisnis busana kebaya modern adalah kehadiran plagiat. Meski demikian, kendala itu tak dijadikan penurun semangatnya dalam berkarya. Ia memandang kendala itu sebagai sebuah cobaan yang bisa membentuk pribadi menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Diakuinya, butuh banyak tempaan agar seseorang bisa “fight” dalam setiap keadaan. Untuk menghadapinya dibutuhkan pula jiwa besar dan semangat tanpa mengenal putus asa.
Untuk bisa terus maju, Intan terbilang beruntung karena mempunyai resep ampuh. Ia mempunyai keluarga yang mampu mendukungnya setiap saat dibutuhkan. Nasihat dari bundanya pun dijadikan semacam “vitamin” dan “dopping” yang manjur. “Beliau (Anne Avantie.red) tidak pernah menjanjikan akan ada sebuah gunung di depan mata. Bunda justru menceritakan liku-liku jalan menuju gunung dan betapa terjalnya jalan yang harus dilalui untuk mencapai puncak tertinggi,” ujar wanita yang juga hobi memasak dan travelling ini. Intan menyebutkan, kunci sukses dirinya adalah selalu menjadi diri sendiri dan tak lupa selalu menyertakan doa dalam setiap pengharapan.
Peran Sebagai Ibu
Berkenaan dengan hari Ibu pada 22 Desember, Intan menanggapi sosok ibu sebagai cermin gambaran jiwa yang penuh kasih, keikhlasan dan cinta. Menurutnya, kasih sayang ibu tumbuh dan berbuah tanpa musim. Begitu pula dengan pengorbanan ibu yang sungguh luar biasa, tak dapat dinilai dengan apapun kecuali dengan seuntai senyum dan segenggam ketulusan.
Maka dari itu, Intan selalu menempatkan kedua buah hatinya sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Dalam setiap kesempatan apapun seperti seminar, pemotretan, show, memberi pelatihan desain fashion kepada pelajar dan lain sebagainya, penerima program beasiswa sekolah mode Esmod ini senantiasa mengajak putra dan putrinya. “Saya selalu mengajak mereka (anak-anaknya.red) agar mereka juga secara tak langsung bisa turut menikmati proses demi prosesnya sehingga mereka terbiasa dengan pekerjaan yang saya lakoni ini,” jelasnya.
Intan pun merasa beruntung mampu menjalani kehidupan rumah tangga yang bisa berjalan selaras dengan bisnisnya. Menempatkan kantornya persis di dekat rumah merupakan pilihan yang tepat. Dengan demikian, ia bisa setiap saat menengok keadaan rumah dan anak-anaknya sesuai dengan keinginannya. Dengan penuh kasih sayang Intan menuturkan, “Pekerjaan tidak menjadi penghalang saya untuk bertemu serta mengurus anak-anak. Karena anak-anaklah “obat” pengusir lelah saat rasa penat datang menghampiri.” (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/13535-intan-avantie-gunakan-nasihat-sang-bunda-untuk-terus-maju.html

Kasiman, Mantan Kades yang Sukses Berbisnis

Views :181 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 06 Desember 2011 09:40
Memasuki masa purnatugas sebagai kepala desa, tidak menjadikan kreativitas Kasiman Iska Sumarto berakhir. Setelah sempat menyandang predikat mantan kepala Desa Meles, Kecamatan Adimulyo selama dua tahun, ia pun bangkit. Meski usianya sudah tidak muda lagi, dia memulai berbisnis dari nol hingga sukses seperti sekarang.

lanting1211Ya, ada pelajaran yang menarik dari kisah bisnis pemilik usaha Lanting Bumbu “Mas Wi” itu. Bahwa tidak ada kata terlambat dalam memulai bisnis. Saat memulai bisnis lanting usai Kasiman sudah 58 tahun. Padahal bagi sebagian orang, usia seperti itu sudah tidak produktif.

Usaha pria kelahiran 9 Februari 1943 itu berkembang pesat. Bahkan dia membuka pabrik di Desa Bumiayu, Kecamatan Tambak di perbatasan Banyumas-Kebumen, Jawa Tengah. Di usianya yang senja itu, dia masih gesit memimpin sekitar 70 karyawan di pabrik lanting miliknya. Lanting yang diproduksi lebih dari 3 kuintal per hari. Pemasaran lanting bumbu produsinya bahkan sudah tersebar di seluruh Pulau Jawa.

Bapak lima anak itu menceritakan bahwa bisnis lanting dimulai pada 2000. Awalnya dia sekadar memasarkan lanting buatan warga. Itu dilakukan karena selama menjabat sebagai kepala desa, Kasiman melihat para perajin lanting kesulitan dalam memasarkan produknya.

“Melihat peluang bisnis tersebut, saya tertantang untuk memasarkan lanting tersebut,” ujar Kasiman seperti dikutip dari Harian Suara Merdeka.

Dari penuturannya, saat itu dia memasarkan sendiri lanting dari toko ke toko mulai dari Kebumen hingga merambah ke luar kota. Saat itu, dia memanfaatkan rumahnya di Desa Kutosari, Kebumen untuk gudang. Awalnya kesulitan memasarkan, namun dengan keuletan, kerja keras dan kesabaran pasar pun mulai terbentuk.

Karena permintaan tinggi dia pun mengalami kekurangan produk. Akhirnya pada 2003 dia memproduksi sendiri lanting di Desa Harjodowo Kecamatan Kuwarasan. Namun demikian dia masih menggandeng sebanyak lima perajin untuk menopang produksinya. Usaha tersebut terus berkembang, sehingga kapasitas produksi pun ditambah lagi dengan membuka pabrik di Desa Bumiayu yang merupakan desa kelahirannya. “Di sini juga untuk mendekatkan dengan bahan baku berupa singkong.”

Untuk mempertahankan cita rasa lanting produksinya, pria yang masih gesit di usia senja itu terus melakukan eksperimen agar rasa lanting yang dihasilkan tidak monoton. Seperti saat ini, sejumlah rasa lanting yang dihasilkan antara lain lanting milenium, rasa nanas, rasa bawang, pedas manis, keju, dan daging sapi. Dia juga terus bereksperimen agar menghasilkan rasa dan kualitas lanting sehingga tetap berdaya saing tinggi. “Yang jelas, lanting buatan kami tidak mengandung bahan pengawet,” tandasnya.

Disinggung merek “Mas Wi” pada lanting produksinya, Kasiman mengaku nama tersebut diambil dari nama anak bungsunya yang bernama Martin Widjayanto. Nama tersebut dinilai membawa peruntungan saat dijadikan merek dagang bagi produk lantingnya. Untuk itu dia bermaksud ingin mematenkan merek dagang tersebut sebelum diklaim oleh orang lain.

“Soal orang mau meniru-niru bumbu dan kemasaan itu terserah asal tidak memakai nama ‘Mas Wi’ sebagai merek dagang,” imbuhnya seraya menyebutkan saat ini dirinya tengah mengurus syarat untuk mematenkan merek dagang tersebut.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/13276-kasiman-mantan-kades-yang-sukses-berbisnis.html

Toni Hadi Putra, Bos Bandrek Bermodal Nekat

Views :347 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 02 November 2011 15:11
Memulai sebuah bisnis dari suatu hal yang awalnya sederhana, bila dikerjakan dengan ketekunan dan kerja keras, pasti akan membuahkan suatu hasil yang besar. Dengan bermodal keberanian dan semangat yang besar dalam memulai sebuah usaha, tak jarang akan lahir entrepreneur-entrepreneur baru dengan beragam bisnis yang menjanjikan.

toni_band1111Salah satunya adalah Toni Hadi Putra, yang kini telah sukses meraup rupiah dari bisnis minuman Bandrek (wedang jahe, sorbat) dan bajigur dengan merek j-mix, yang dijalankan di bawah payung kelompok usaha Jamitra Inkaru.

Dengan produk utama berupa minuman khas dari daerah Jawa Barat, Toni kini bisa mendapatkan omzet Rp 2,17 milyar pada tahun 2009, dan keuntungan Rp 350 juta, Bahkan, minuman tradisional ranah sunda itu sudah sukses dibawa Toni hingga ke Pekan Baru, Riau.

Pria kelahiran 31 Januari 1979 ini memulai usahanya pada tahun 2005 dengan modal sebesar Rp 50 juta yang didapatnya dari hasil pinjaman. Toni yang juga pemilik dari kelompok usaha Jamitra Inkaru, mengaku awalnya memulai usaha ini dengan bermodal nekat. Bagi alumni universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung, ini sebuah kesuksesan pasti diawali oleh sebuah langkah berani untuk memulai sesuatu hal.

Keberanian yang berasal dari kenekatan itu ditekuninya terus menerus. Sebagai anak muda yang bersemangat, Toni tadinya berpikir bahwa segala sesuatunya dikerjakan sendiri. Maka ia pun mendesain sendiri kemasan bajigur dan bandrek yang ia pasarkan. Bandrek dan Bajigur dijual dengan kemasan sachet hasil desainnya sendiri. Tetapi dalam perkembangan di pasar, ternyata faktor desain menjadi sangat krusial dalam penyerapan pasar untuk kategori minuman sachet. Pernah terjadi, salah satu produknya dengan desain hasil karya sendiri ternyata tidak laku di pasar. Usut punya usut, faktor desain memegang peranan penting di mana desain hasil karyanya ternyata tidak disukai pasar.

Akhirnya, dengan bantuan seorang desainer, mulailah ia mengganti cetakan desain dengan layout yang lebih baik. Hasilnya mulai terlihat dengan semakin besarnya produk yang diserap pasar. Faktor desain kemasan ternyata menjadi salah satu faktor dominan bagi seorang pembeli.

Apa yang dilakukan Toni tidak saja berguna bagi dirinya sendiri, tetapi juga karyawanannya. Hingga saat ini, tidak kurang ia mempekerjakan 25 karyawan di berbagai divisi yang direkrutnya secara profesional. Usahanya berhasil membuka peluang kerja bagi mereka yang membutuhkan.

Dengan kejujuran, kerja keras, dan pantang menyerah, Toni menjadi salah satu contoh baik bagaimana kita mengelola kenekatan menjadi sebuah keberanian sikap untuk memulai usaha. Pada mulanya mungkin akan mengalami keraguan apakah usaha yang dirintis akan berhasil atau tidak, tetapi mestinya kita yakin, bahwa semua kesulitan akan menemukan jalan keluarnya sendiri. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/12470-toni-hadi-putra-bos-bandrek-bermodal-nekat.html

Tingkatkan Hasil Tani dengan Membangun Villa Hutan Jati

PDF Cetak E-mail

Kamis, 07 Juli 2011 09:06
Bermodal tanah seluas 100 hektare di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, F.X. Boedi Krisnawan Suhargo memulai program pemberdayaan petani sejak 2006 dengan nama Villa Hutan Jati. Pengalaman sebelas tahun membina transmigran di Lampung, membuat hati insinyur sipil ini terpanggil untuk memperhatikan nasib petani.

boedi_krisnawanSetelah perawatan dengan menggunakan kapur, kompos dan bakteri serta membuat lubang biopori, pH tanah yang tadinya 3 bisa mencapai 5,5 dan lahan kritis tanpa unsur hara tersebut berubah menjadi lahan produktif. Tantangan pertamanya ini menghabiskan biaya hingga Rp300 juta per hektare.

Danau seluas dua hektare pun dibangun sebagai cadangan air saat kemarau. Kini sebagian lahan ditanami tanaman pangan seluas 40 hektare. Diantaranya ditanami 40.000 pohon jati yang menjadi modal Mandiri lelaki kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 9 Desember 1951 itu untuk menjalankan programnya. Tiap hektare hutan jati bisa dibeli investor dengan harga Rp750 juta. Dan, diperkirakan dalam 10 tahun nilainya bisa mencapai Rp18 miliar.

Nah, buat menarik minat generasi muda, jebolan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta ini memberikan kesempatan kepada pelajar sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dari berbagai sekolah untuk praktik langsung di laboratorium alam miliknya. Saban hari praktik ini berlangsung selama tiga jam. Bahkan, mereka juga diberi uang saku serta bagi hasil saat panen.

Tak hanya itu. Boedi pun kerap menggelar berbagai acara untuk memotivasi kaum muda untuk bertani. Buat menunjang acara tersebut, ahli dari beragam instansi terkait turut didatangkan.

Tidak sia-sia memang. Dengan didukung peralatan pertanian yang memadai, petani jagung mitra binaan Boedi di Tangerang, Banten, mampu menghasilkan 11 ton per hektare. Padahal rata-rata produktivitas jagung hanya sekitar tujuh ton per hektare. Hanya bermodal tenaga dan kemauan, para petani Mitra diberikan 70 persen dari penjualan panen dengan sistem bagi hasil.

Satu lagi program Villa Hutan Jati yang menurut Boedi bisa diterapkan siapa saja, yaitu menanam tanaman pangan dalam pot. (*/liputan6)

Sumber:
 http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/9528-tingkatkan-hasil-tani-dengan-membangun-villa-hutan-jati.html

Mark Bao, Teknopreneur Belia nan Sukses

PDF Cetak E-mail
Minggu, 19 Juni 2011 09:48
Mark Bao, saat ini berusia 18 tahun dan masih bersekolah di sebuah SMA di Boston, AS. Dalam usia semuda itu, Bao sudah memiliki 11 unit bisnis digital. Tiga di antaranya sudah berhasil dia jual.
mark_baoBao kini menjabat sebagai CEO Avecora, sebuah perusahaan yang dia gambarkan bertujuan untuk “mengubah secara fundamental cara kita berkomunikasi dan memfasilitasi interkoneksi antar semua orang dan perangkat komunikasi.” Jaringan global ini rencananya akan dia luncurkan pada 2013. Selain itu, dia juga memiliki beberapa proyek startup lain seperti Genevine, Supportbreeze, dan Classleaf.
Tidak hanya itu, berpendirian bahwa “berkontribusi balik kepada masyarakat melalui mekanisme nonprofit adalah sesuatu yang sangat penting untuk saya”, Bao mendirikan organisasi nonprofit, Genevine Foundation dan The Center for Ethical Business.
“Saya bergerak cepat. Saya ambisius. Saya hadir untuk membawa perubahan,” begitu Bao mendeskripsikan dirinya.
Dalam sebuah wawancara dengan juniorbiz.com, Bao mengatakan cita-citanya adalah mengumpulkan kekayaan hingga US$10 miliar atau Rp90 triliun. Dari jumlah itu, 80 persen akan dia sumbangkan kepada organisasi nonprofit di bidang penelitian dan bantuan kemanusiaan. “Adapun 5 persen lainnya akan digunakan untuk membantu perusahaan startup untuk tumbuh,” ucap Bao.
Bao—seorang imigran China—mulai menjadi teknopreneur sejak dia duduk di bangku kelas 5 SD. Menggunakan Visual Basic 6.0 dia menulis sebuah aplikasi sederhana untuk mengatur jadwal membuat PR dan membantu dia menulis makalah. Dia lalu mengkopi program itu ke disket dan menjualnya ke teman-teman sekolah.
Startup pertama dia diluncurkan di tahun pertamanya di SMA. Namanya Debateware.com. Ini adalah system manajemen even untuk organisasi debat. Bao dan partner bisnisnya berhasil menjual program ini ke sebuah organisasi debat terbesar di AS. (*/Vivanews) Sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/remaja/9128-mark-bao-teknopreneur-belia-nan-sukses.html

7 Kunci Sukses Ciputra di Pembangunan Jaya

Views :2616 Times PDF Cetak E-mail
Sabtu, 21 Mei 2011 17:46
pakci0911Kesuksesan adalah dambaan setiap orang tetapi hanya segelintir yang mampu mencapainya. Dan Dr. (HC) Ir. Ciputra bisa dikatakan adalah salah satu sosok yang mampu meraih kesuksesan. Kesuksesannya itu dirintis sejak 5 dekade yang lalu, tepatnya tahun 1961. Pak Ci, demikian entrepreneur ini sering disapa, pertama menapakkan kaki di dunia entrepreneurship dengan menjalani bisnis bersama teman-temannya dalam Grup Jaya.

Di awal perkembangannya, Grup Jaya masih sebuah perusahaan kecil dengan aset yang belum seberapa besar. Para eksekutifnya  pun masih bergaya hidup sederhana. Bahkan Pak Ci, sebagai seorang profesional, kala itu tidak segan untuk memakai sepasang kaos kaki yang bolong saat meninjau rumahrumah real estate yang dibangun Grup Jaya. Namun, berkat keteguhan dalam memegang prinsip entrepreneurship semua profesional muda itu tetap bekerja dengan kemapanan finansial yang belum stabil dan gaya hidup yang relatif sederhana.

Pak Ci sendiri memiliki serangkaian kunci sukses dalam mengembangkan Grup Jaya dari nol hingga seperti yang kita ketahui sekarang. Apa saja kunci-kunci  sukses itu? Berikut ialah tujuh kunci sukses dari beliau yang patut diketahui oleh para entrepreneur muda Indonesia. Semua kunci sukses ini menjadi tolok budaya perusahaan (corporate culture) yang dipegang teguh oleh semua jajaran profesional dan pegawai Pembangunan Jaya.

Layani masyarakatLayanan masyarakat menjadi sebuah prioritas pertama. Masyarakat harus dilayani sebaik mungkin. Bahkan jika mungkin dan bisa, kita harus berikan melebihi apa yang masyarakat berikan pada kita. Sebuah contoh konkret dari prinsip pelayanan masyarakat ini ialah saat seorang penghuni rumah baru mendapati kualitas rumah huniannya tidak sebagus yang dijanjikan. Grup Jaya tidak hanya segera memperbaiki tetapi juga memberikan solusi saat kualitas yang dinikmati konsumen memang tidak seperti yang diharapkan. Saat mengeluh untuk kedua kalinya, konsumen tersebut kembali . Singkatnya, bekerja dengan sungguh-sungguh demi mempersembahkan produk terbaik bagi masyarakat merupakan sesuatu yang sangat ditekankan.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, layanan masyarakat juga hendaknya menyentuh level yang lebih tinggi, yaitu harus ditujukan juga untuk membangun bangsa dan negara. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mendirikan sebuah perusahaan yang mampu memberikan lapangan kerja bagi warga Indonesia dan selalu menaati peraturan yang berlaku seperti pembayaran pajak dan sebagainya.

Cetak untung
Pak Ci menempatkan tujuan ekonomi sebagai kunci suksesnya yang kedua. Pada dasarnya memang tidak ada lagi perusahaan yang didirikan tanpa motif mencari untung. Keuntungan harus diperoleh untuk menjamin pertumbuhan dan keberlangsungan operasional perusahaan serta menjamin kebutuhan para pemegang saham serta karyawannya. Laba juga harus didapatkan untuk bisa mewujudkan keenam kunci sukses lainnya. Tanpa mendapat keuntungan, keenam kunci sukses lain tidak mungkin tercapai.

Menurut Pak Ci, sebuah perusahaan tidak perlu merasa gengsi dalam membangun sebuah proyek dan merasa terlalu besar atau hebat. Kerugian yang diakibatkan sebuah proyek besar dan hebat tidak perlu dialami sebuah perusahaan jika pengendali usaha bisa menyingkirkan keinginan untuk mempertahankan gengsi. “Karena itulah, kami tak pernah malu mengatakan bahwa Pembangunan Jaya adalah sebuah perusahahaan yang mencari untung,” tambah Pak Ci.

Dalam praktik manajemen keuangan, analisis rasio mengenai laba ialah rumus-rumus yang wajib dikuasai oleh semua pimpinan usaha dalam sebuah kelompok perusahaan.

Kembangkan SDM

Sebagai penganut teori Z, wajar jika Pak Ci menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci suksesnya yang ketiga. Sumber daya manusia bukan hanya alat untuk mencapai tujuan tetapi tujuan itu sendiri justru adalah meningkatkan nilai SDM.  SDM harus dapat dilihat tidak hanya sebagai alat produksi, tetapi sebagai sebuah kelompok manusia yang diajak ke bergabung dalam perusahaan sebagai suatu keluarga besar dan berkembang bersama untuk meningkatkan harkat dan kesejahteraan mereka. Meskipun begitu, bukan berarti karyawan bisa bermanja-manja, karena pada gilirannya memanjakan karyawan akan berakibat kurang baik pada pengembangan watak mereka.

Harkat hidup di sini tidak hanya didefinisikan sebagai pemberian jumlah gaji yang pantas karena sebagai seorang individu, karyawan juga perlu untuk mengaktualisasikan dirinya dan keleluasaan untuk bisa membuktikan kompetensi yang ia miliki. Suasana kondusif seperti ini secara kontinu ditumbuhkan dan dipelihara dalam lingkungan kerja.

Pengembangan SDM yang dilakukan juga memperhatikan unsur keluarga. Keluarga yang bahagia akan menghasilkan orang-orang yang melakukan pekerjaannya dengan bahagia dan penuh gairah.

Kokohkan organisasi

Pengokohan organisasi menjadi kunci sukses berikutnya. Senada dengan teori McKinsey yang menyatakan bahwa organisasi terbentuk atas kesamaan pandangan hidup, sasaran, jalan pikiran dan nilai-nilai yang semuanya membentuk suatu budaya perusahaan (company culture). Banyak perusahaan gagal karena absennya unsur kesamaan ini. Seorang karyawan masuk dengan tujuan mengumpulkan uang sebanyak mungkin sedangkan karyawan lain memiliki motif untuk memupuk karir yang kemudian ia bisa alihkan ke perusahaan lain.

Kendalikan mutu

Pengendalian mutu tentu tidak dapat lagi diabaikan sebagai elemen kunci sukses mengingat situasi kompetisi yang makin tajam dan ketat. Di lingkungan Pembangunan Jaya, kualitas yang dimaksud bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan tetapi yang lebih penting ialah kualitas manusia  yang menghasilkan produk itu. Pofesionalisme menjamin keberlangsungan prestasi kerja yang tercermin dari mutu produknya. Seklai lagi ini menunjukkan bahwa kunci ini berorientasi  secara konsisten  terhadap Teori Z.

Jaga produktivitas dan efisiensi

Kunci berikut ialah  produktivitas dan efisiensi yang secara makro sering menjadi semboyan yang penerapannya perlu dicermati. Dunia sebetulnya sedang menghadapi bahaya besar saat di satu sisi manusia menjadi semakin produktif tetapi di sisi lain tingkat konsumsi tidak naik sepesat itu. Dunia bisa menghadapi sebuah situasi kelebihan suplai karena produktivitas manusia terlalu tinggi dibandingkan konsumsinya.

Situasi seperti ini telah lama dirasakan oleh Pembangunan Jaya. Misalnya di bidang real estate mereka bisa meningkatkan produksi rumahrumah yang dibuatnya sampai 20% setahun dengan sumber daya yang sama. Pertanyaannya sekarang ialah “apakah masyarakat yang menjadi konsumen rumahrumah tersebut naik juga sebanyak 20% per tahun?” Inilah yang menjadi sebuah kekhawatiran yang patut diwaspadai oleh tak hanya Pembangunan Jaya, tetapi juga semua bisnis pada umumnya.

Berinovasi dan berkreasi

Yang terakhir tetapi tidak kalah pentingnya ialah inovasi dan kreativitas. Dengan semakin dinamisnya perkembangan jaman, akan selalu muncul produk-produk baru di pasaran yang membuat produk-produk sebelumnya menjadi ketinggalan. Tanpa inovasi akan sangat sukar bagi suatu perusahaan untuk mempertahankan keberadaannya. Inovasi mencakup berbagai aspek seperti produksi, teknologi, manajemen, dan sebagainya.

Kreativitas setiap individu merupakan sarana yang membuat para manajer mampu, siap, tabah dan berani melakukan perubahan, baik di bidang produksi dan manajemen.

Sekalipun Pak Ci hampir selalu  menggunakan kesempatannya berpidato di depan karyawan untuk menjelaskan ketujuh kunci sukses tetapi ia belum pernah menginstruksikan pengadopsian konsep itu sebagai  filosofi perusahaan.

*) disarikan dari “Tantangan jadi Peluang: Kegagalan dan Sukses Pembangunan Jaya Selama 25 Tahun” oleh Bondan Winarno

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/profil/entrepreneur/8389-7-kunci-sukses-ciputra-di-pembangunan-jaya.html

Sudibyo Karsono, Sukses dengan Pertanian Hidroponik

PDF Cetak E-mail

Senin, 16 Mei 2011 10:07
Sejak kecil, hobi Sudibyo Karsono, yang akrab dipanggil Pak Dibyo, memang elektronik. Hingga usia senja, dia tetap setia dengan utak-atik elektronik. Dia termasuk orang dibelakang layar berdirinya Radio Elshinta.
hidroponikKetika masuk masa pensiun, hobi utak-atik elektronik tetap mengikuti Dibyo dan selalu menggugahnya untuk membuat berbagai rekayasa yang aplikatif. Kali ini ia terapkan di bidang pertanian, tepatnya untuk tanaman hidroponik.
Dengan membuat sendiri sistemm penyiraman, Dibyo telah ikut berperan penting dalam mendirikan Parung Farm. Parung Farm adalah penghasil produk sayur-mayur hasil pertanian hidroponik yang kini merajai di berbagai swalayan wilayah Jabodetabek. “Parung Farm berdiri tahun 2008. Tadinya ini eksperimen di lahan 100 meter persegi untuk menanam semua jenis tanaman skala kecil,” katanya.
Tujuan awalnya untuk pelatihan, tetapi ternyata ada permintaan dari luar sekaligus utnuk membuktikan apakah hidroponik layak ditekuni atau tidak.
“Saya pengin tahu juga, hasilnya bisa dijual apa enggak,” kata Dibyo. Maka, sejak itu Dibyo berssama saudaranya dan para pekerja Parung Farm serius menggarap hobi tersebut menjadi sesuatu yang menghasilkan.
Berlokasi di jalan Raya Parung-Bogor, Parung, Bogor, Jawa Barat, Parung Farm menjadi ajang pembuktian bahwa orang-orang kota bisa bercocok tanam di lahan terbatas dengan menggunakan hidroponik. Bahkan, bercocok tanam bisa menguntungkan asal memiliki teknik yang efektif.
Sistem hidroponik di Parung Farm dikembangkan secara Mandiri oleh para pekerjanya. Dibyo bertanggungjawab pada sistem pengairan yang kini sudah berjalan otomatis.
“Prinsipnya, saya senang tanaman tetapi malas menyiram, malas merawat. Maka, saya membuat semuanya otomatis, menggunakan timer,” kata Dibyo. Jadi, urusan menyiram terjadwal otomatis dan tak bakal lupa. “Dulu, mencari timer di pasaran yang siap diaplikasikan untuk tanaman dengan rentang waktu siram tiap lima menit tidak ada.
Jadilah saya buat sendiri,” kata Dibyo. Seperangkat alat hidroponik yang siap digunakan beserta timer rancangan Dibyo menjadi idola, terutama ibu-ibu rumah tangga. “Waktu masih percobaan, saya taruh di halaman rumah saja sudah ditawar ibu-ibu,” kata Dibyo. Kini peralatan yang sering disebut hidroponik kit, terdiri dari rangkaian pipa-pipa pralon, itu dijual dengan harga mulai dari Rp 600.000 hingga jutaan rupiah.
Dibyo sudah menghasilkan berbagai timer untuk sistem pengairan. “Saya juga membuat timer sentuh untuk pengamanan alat-alat pompa, timer pemukaan air agar air tak meluber, juga timer dengan sensor cahaya dan panas,” katanya.
Butuh waktu lima tahun untuk menemukan bentuk kompak seperti saat ini. Hasil sayuran hidroponik dan timer buatan Dibyo menjadi komoditas yang dicari para pembeli, bahkan sampai luar Pulau Jawa. “Pangsa pasarnya ternyata besar, tetapi kemampuan produksi kami kurang,” katanya.
Menurut Dibyo, siapa pun dan dimana pun, termasuk yang tak memiliki lahan, tetap bisa menggunakan hidroponik kit untuk bercocok tanam. “Tak ada alasan lagi bagi orang kota untuk tidak menanam,” kata Dibyo. (*/Kompas Cetak)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/8253-sudibyo-karsono-sukses-dengan-pertanian-hidroponik.html