JENIS-JENIS TANAMAN ANGGREK BERDASARKAN HABITAT DAN TEMPAT HIDUPNYA


Angrek adalah bunga yang diminati banyak orang.  Banyak orang orang yang ingin memelihara tanaman Bungan ini, karena keindahan bunganya. Tanaman ini banyak macam dan jenisnya, dan tempat atau media tanamnya juga berbeda-beda. Berikut adalah beberapa  jenis tanaman angrek berdasarkan habitat dna temap hidupnya
Dari tempat tumbuh dan habitatnya tanaman anggrek dapat dibedakan menjadi lima pengelompokan jenis, yaitu:
1) Anggrek epifit (ephytis) adalah jenis anggrek yang menumpang pada batang/pohon lain tetapi tidak merusak/merugikan tanaman yang ditumpangi (tanaman inang). Alat yang dipakai untuk menempel adalah akarnya, sedangkan akar yang fungsinya untuk mencari makanan adalah akar udara. Anggrek epifit membutuhkan naungan dari cahaya matahari. Di habitas aslinya, anggrek ini kerap menempel dipohon-pohon besar dan rindang. Contoh anggrek epifit antara lain: Dendrobium, Cattleya, Ondocidium, dan Phalaenopsis.
2) Anggrek semi epifit adalah jenis anggrek yang juga menempel pada pohon/tanaman lain yang tidak merusak yang ditumpangi. Pada anggrek semi epifit, selain untuk menempel pada media, akar lekatnya juga berfungsi seperti akar udara yaitu untuk mencari makanan untuk berkembang. Contoh anggrek semi epifit antara lain :Epidendrum, Leila, dan Brassavola.
3) Anggrek tanah (anggrek terrestris) adalah jenis anggrek yang hidup di atas permukaan tanah. Anggrek jenis ini membutuhkan cahaya matahari penuh atau cahaya matahari langsung. Contoh anggrek teresterial antara lain Vanda, Renanthera, Arachnis, dan Aranthera.
4) Anggrek saprofit, adalah anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering. Anggrek saprofit dalam pertumbuhannya membutuhkan sedikit cahaya matahari. Contoh jenis ini antara lain: Goodyera sp.
5) Anggrek litofit adalah jenis anggrek yang tumbuh pada batu-batuan. Anggrek jenis ini biasanya tumbuh dibawah sengatan cahaya matahari penuh. Contoh jenis ini antara lain: Dendrobium dan Phalaenopsis.
Demikian adalah jenis –jenis angrek. Semoga bermanfaat

PERTANIAN MASA DEPAN

untutan Konsumen
Perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap pangan masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang akan berubah. Kecenderungan karakter konsumen yang akan terjadi pada masa depan dan sudah mulai dapat dirasakan saat ini antara lain adalah tuntutan konsumen terhadap keamanan, nilai gizi, cita rasa, dan ketersediaan pangan akan meningkat pesat. Pada masa depan akan semakin banyak orang yang makan di luar rumah, dan semakin banyak makanan instan di rumah. Keamanan dan mutu pangan akan menjadi isue penting, walaupun mungkin ketahanan pangan masih menjadi isue yang tidak kalah penting. Di Indonesia, pasar modern (hypermarket, supermarket, minimarket) akan tumbuh dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Walaupun jumlah supermarket chain besar berkurang, tetapi yang bertahan makin besar, sehingga keseimbangan kekuatan bergesar dari produsen/petani ke perusahaan multinasional. Kondisi ini akan menyebabkan adanya kompetisi antara produk pangan domestik dengan produk impor (yang sering kali lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah). Tuntutan konsumen terhadap produk pertanian pada masa depan akan semakin meningkat, yang mau tidak mau, akan mempengaruhi kecenderungan manajemen produksi tanamanan. Tuntutan konsumen tersebut antara lain adalah:
  1. Produk pertanian harus benar-benar aman, bebas dari cemaran, racun, pestisida, & mikroba berbahaya bagi kesehatan. Aturan mengenai batas maksimum residu (MRL = maximum reside limit) pestisida akan semakin ketat, sehingga akan mempengaruhi pengelolaan dalam perlindungan tanaman. Produk pangan juga harus bebas dari kandungan zat berbahaya, termasuk logam berat dan racun. Keracunan sianida dari singkong, Hg dari ikan, Pb dari kangkung dan sebagainya tidak akan terjadi lagi. Produk juga harus bebas dari berbagai cemaran. Bahan pengawet dan pewarna yang tidak diperuntukkan untuk pangan, seperti formalin, tidak akan digunakan sama sekali. Kasus pencampuran minyak solar ke CPO seperti yang terjadi pada beberapa waktu yang lalu tidak akan terjadi lagi. Cemaran biologi, baik yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun bagi pertanian akan dicegah. Sanitary and Phytosanitary Measures akan semakin diperketat di karantina. Peneliti Indonesia harus mempersiapkan diri menghadapi hal-hal tersebut.
  2. Produk pangan juga dituntut mempunyai nilai gizi tinggi dan mengandung zat berkhasiat untuk kesehatan. Konsumen menghendaki informasi mengenai kandungan fitokimia yang berkhasiat untuk meningkatkan kesehatan dalam produk pangan. Karena itu penelitian mengenai manfaat produk-produk pertanian tanaman pangan Indonesia perlu mulai segera dilakukan. Pengetahuan indigenous mengenai manfaat produk pangan perlu dibuktikan secara ilmiah dan diketahui apa fitokimia yang terkandung di dalamnya.
  3. Produk pangan juga harus mempunyai mutu tinggi, tidak sekedar enak. Mutu adalah segala hal yang menunjukkan keistimewaan atau derajad keunggulan sesuatu produk. Mutu atau kualitas juga dapat dipahami sebagai kecocokan suatu produk dengan tujuan dari produksi. Dengan demikian, mutu merupakan gabungan dari sifat-sifat atau ciri-ciri yang memberikan nilai kepada setiap komoditas yang terkait dengan maksud penggunaan komoditas tersebut. Secara singkat mutu termasuk semua hal yang dapat memuaskan pelanggan. Menurut versi Codex Alimentarius Standar mutu termasuk masalah tampilan produk seperti keutuhan, keseragaman, kebebasan dari cacat, hama dan penyakit, tingkat kematangan, kesegaran, kebersihan, ketahanan dalam transportasi dan penanganan, dan kemampuan agar mutu produk bertahan tetap baik sampai tujuan. Kelas, kode ukuran, kemasan dan label juga menjadi hal yang penting dalam mutu produk. Produsen pertanian perlu melakukan pembenahan dalam sistem produksinya agar dapat memenuhi kepentingan konsumen.
  4. Produk pertanian harus diproduksi dengan cara yang tidak menurunkan mutu lingkungan. Tuntutan terhadap kelestarian lingkungan akan semakin ketat, padahal pada saat yang sama tekanan populasi terhadap sumberdaya lahan semakin kuat. Karena itu peneliti Indonesia perlu mengembangkan teknologi pertanian yang dapat menjamin produksi pangan yang memenuhi tututan konsumen namun tetap dapat menjaga kelestarian lingkungan, mencegah pencemaran tanah dan air, mencegah erosi dan hal-hal lain yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.
  5. Produk pertanian juga harus diproduksi dengan memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan petani dan pekerja.
  6. Mempunyai traceability. Cara produksi pangan harus dapat dirunut dari pasar sampai kebun. Data-data harus transparan dan jujur. Karena itu catatan aktivitas di kebun dan rantai pasar harus menajdi perhatian.
  7. Produk pangan harus tersedia dalam waktu yang tepat. Selain persyaratan di atas, produk pertanian harus tersedia dan tepat waktu. Untuk produk pangan tertentu kontinyuitas penyediaan menjadi faktor yang sangat penting.
  8. Harga jual produk pertanian harus kompetitif. Untuk itu efisiensi dalam produksi, dalam delivery harus dilakukan. Harus dikembangkan supply chain management (SCM) yang berkeadilan dan berorientasi pada nilai produk.
Berdasarkan tuntutan konsumen, masalah yang dihadapi dan kondisi pertanian dan lingkungan pertanian di Indonesia, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh pertanian Indonesia. Tantangan ini harus dijawab oleh para ilmuwan pertanian. Tantangan tersebut meliputi:
  1. Bagaimana menghasilkan produk pertanian dengan harga yang wajar bagi bagi populasi yang terus bertambah.
  2. Bagaimana meningkatkan hasil per satuan luas (produktivitas); karena perluasan areal sudah semakin sulit.
  3. Bagaimana menghasilkan lebih banyak produk pertanian dengan menggunakan air lebih sedikit.
  4. bagaimana menghasilkan produk pertanian yang lebih aman, bermutu dan bernilai bagi konsumen.
  5. Bagaimana menghasilkan produk pertanian tanpa menurunkan potensi sumberdaya lahan dan lingkungan.
  6. Bagaimana cara menjamin ketersediaan yang kontinyu produk pertanian yang secara alami bersifat musiman.
  7. Bagaimana menghasilkan produk pertanian yang mensejahterakan petani.
  8. Bagaimana meningkatkan daya saing global pertanian Indonesia. Seperti diuraikan di atas, dayasaing produk pertanian akan ditentukan oleh kuantitas, kualitas, keamanan, kontinyuitas pasokan, ketepatan delivery, kompetitif dalam harga, dan adanya traceability (6K+T).
Strategi untuk Meraih Keunggulan Pertanian Indonesia
Visi pertanian Indonesia adalah menjadi pertanian tangguh dan modern berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam dan genetik secara berkelanjutan yang menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, penyediaan bahan baku industri dan kesejahteraan petani, serta berdaya saing global.
Untuk mencapai visi tersebut strateginya meliputi:
  1. Pengembangan Sumberdaya Manusia. Pengembangan SDM pertanian tidak hanya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam penerapan teknologi pertanian, tetapi juga untuk meningkatkan motivasi dan persepsi tentang pertanian modern, dan juga untuk perbaikan moral, transformasi tradisi dan kultur menjadi pertanian berbudaya industri.
  2. penyempurnaan Kelembagaan Petani dan Pertanian. Salah satu penyebab rendahnya daya saing pertanian Indonesia adalah sempitnya lahan pertanian yang dikelola petani. Dalam kondisi seperti itu, petani pada umumnya mengelola lahan sempitnya secara sendiri-sendiri, tidak ada konsolidasi dalam pengelolaan lahan. Karena itu kelembagaan petani juga harus disempurnakan. Rekayasa sosial, penguatan kelembagaan, dan pendampingan oleh pakar menjadi kunci penting untuk peningkatan daya saing produk pertanian Indonesia. Rekayasa sosial seperti pengembangan Komunitas Estate Padi (KEP) yang sedang dikembangkan oleh Faperta IPB, program sarjana masuk desa yang dikembangkan LPPM dengan BULOG, dan aktivitas sejenisnya perlu dikembangkan untuk pemberdayaan dan peningkatan mutu SDM pertanian.
  3. Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi. Produktivitas dan efisiensi dapat ditingkatkan antara lain dengan penerapan teknologi yang tepat. Good Agriculture Practices, Good Handling Practices, dan Good Manufacturing Practices, menjadi salah satu pilar dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, antara lain adalah: peta perwilayahan komoditas, sumber air irigasi yang mencukupi, jalan usahatani yang mendukung penyaluran hasilpertanian, perusahaan pembibitan yang profesional, laboratorium analisis tanah, stasiun meteorologi yang dapat memberikan informasi cuaca yang dapat diandalkan, klinik tanaman, laboratorium pengendali kualitas dan sarana pasca panen dan gudang yang memadai.
  4. Peningkatan Nilai Tambah Produk Pertanian. Peningkatan nilai tambah diarahkan kepada peningkatan pendapatan masyarakat petani dan perdesaan di luar kegiatan on farm, sekaligus mendukung kebijakan lahan pertanian, dengan banyaknya peluang pendatan dari kegiatan off farm. Peningkatan nilai tambah dapat dicapai melalui Pengembangan industri pertanian, pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan, penguatan kelembagaan, profesionalisme tenaga kerja, sistem mutu produk pertanian, dan peningkatan daya saing produk dan pemasaran.
  5. Usaha untuk Kemandirian Pangan. Strategi kemandirian pangan diarahkan pada pemenuhan pangan nasional secara mandiri berdasarkan sumberdaya alam, kemampuan produksi dan kreativitas masyarakat. Keanekaragaman pangan ditingkatkan baik sumber maupun bentuk dan citarasa hasil olahan dengan basis tepung sebagai produk antara bahan pangan. Kemandirian pangan diupayakan melalui diversifikasi pangan, pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan dan pengembangan budaya industri di pedesaan. Dengan keberhasilan diversifikasi pangan, konsumsi beras diperkirakan akan turun menjadi 90 kg/kapita/tahun.
  6. Pengelolaan Lingkungan Hidup yang Produktif dan Lestari. Pengelolaan lingkungan hidup yang produktif dan lestari diarahkan untuk terpeliharanya daya dukung lingkungan dengan produktivitas yang tinggi secara berkelanjutan, keaneka ragaman hayati serta keseimbangan interaksi antara semua unsur dan faktor lingkungan. Pengelolaan lingkungan yang produktif dan lestari dilaksanakan melalui upaya pengembangan sumberdaya alam secara lestari, pemberdayaan masyarakat, reklamasi lahan, perluasan areal pertanian dan pengadaan lahan pertanian pangan abadi.
  7. Penyempurnaan Sistem Pemasaran Produk Pertanian. Perlu dilakukanj pemberdayaan rantai pasar dengan Penerapan Supply-Chain Management, sehingga tipe dan karateristik hubungan bisnis berubah dari tipe transaksional menajdi tipe partneship sperti pada Gambar 1. Sehingga rantai pasokan ideal seperti pada Gambar 2 bisa tercapai.
  8. kebijakan Makro yang Mendukung Pertanian. Untuk mendukung semua hal di atas, perlu kebijakan makro yanh mendukung pertanian, ialah: (a) pertanian menjadi platform pembangunan nasional, (b) akses pertanian terhadap lahan, modal, teknologi dan informasi memadai, (c) infrastruktur pertanian dan yang mendukung pertanian dikembangkan, (d) sektor industri dan jasa berkembang dengan pesat sehingga mampu menyerap tenaga kerja dari perdesaan dan sektor pertanian, (e) dilakukan pemberdayaan masyarakat perdesaan.
Pola Pertanian pada Masa Depan
Menghadapi tantangan yang makin besar tersebut, pertanian masa depan tidak akan bisa bertahan hanya dengan pola seperti pertanian saat ini (konvensional). Tetapi pertanian konvensional masih akan memegang peran yang cukup penting. Pada masa yang akan datang akan ada 3 pola pertanian penting, ialah (1) Pertanian Konvensional; (2) Pertanian Konservasi; (3) Pertanian dengan Teknologi Tinggi. Pada masa 5-10 tahun ke depan, di Indonesia pertanian konvensional akan tetap dominan, namun masukan teknologi pada pola ini akan semakin tinggi.
Pertanian konvensional adalah pertanian seperti yang dilakukan oleh sebagian besar petani di seluruh dunia saat ini. Pertanian ini mengandalkan input dari luar sistem pertanian, berupa energi, pupuk, pestisida untuk mendapatkan hasil pertanian yang produktif dan bermutu tinggi. Pada masa yang akan datang sistem pertanian ini akan lebih ramah lingkungan bersamaan dengan lebih banyak input teknologi. Perkembangan atau kemajuan pertanian konvensional pada masa depan dibandingkan masa sekarang terjadi karena peran penelitian bidang ekofisiologi dan pumuliaan tanaman, serta karena tuntutan masyarakat. Kemajuan itu antara lain berupa:
  1. Digunakannya varietas-varietas tanaman yang lebih produktif, lebih bermutu, lebih tahan atau toleran pada hama dan penyakit utama, lebih tahan pada kekurangan air dan hara, serta dapat berproduksi tinggi pada lahan-lahan marginal.
  2. Lebih memanfaatkan biota di lingkungan pertanian, baik untuk meningkatkan kesuburan lahan, maupun toleransi terhadap OPT.
  3. Penggunaan pupuk akan lebih bijaksana, berdasarkan Integrated Plant nutrition System, sehingga tidak berlebih, berdasarkan kebutuhan riel tanaman, tidak banyak yang tercuci dan mencemari lingkungan.
  4. Penggunaan pestisida akan sangat berkurang; pengendalian organisme pengganggu tanaman akan berdasarkan PHT.
  5. Konsolodasi lahan-lahan pertanian akan terjadi, sehingga pengelolaan sistem produksi akan lebih mudah.
  6. Tenaga kerja di pertanian berkurang karena urbanisasi dan menjadi pekerja pada sektor industri, sehingga:a.       terjadi peningkatan mekanisasi pertanian, b. input energi biologi (tenaga ternak atau tenaga manusia) akan banyak diganti energi mekanik berbasis biologi, seperti biodisel maupun bioetanol, c.daya tawar petani dan buruh tani lebih tinggi, sehingg kesejahteraannya meningkat.
  7. Produktivitas pertanian akan meningkat lagi setelah leveling off yang terjadi bisa diatasi. Produksinya juga lebih bermutu, lebih bergizi, lebih aman karena sistem pertanian dikelola dengan lebih baik.
  8. Petani akan mempunyai catatan pertanian, sehingga tuntutan terhadap traceability dapat dipenuhi.
Pertanian Konservasi juga akan meluas. Ada kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai tuntutan terhadap pangan yang bebas pestisida dan bebas dari pupuk kimia, serta kelompok yang ingin agar pertanian tidak mencemari lingkungan. Dua kelompok masyarakat ini akan semakin besar di dunia, demikian pula di Indonesia. Produktivitas sistem ini pada umumnya rendah, lebih-lebih pada beberapa tahun kemudian; mutu fisik/visual produk juga rendah, tetapi keamanannya tinggi dan dipercaya oleh sebagian konsumen nilai zat berkhasiatnya yang terkadung di dalamnya tinggi. Namun, karena adanya permintaan yang semakin besar dari kelompok-kelompok ini akan mendorong semakin luasnya pertanian konservasi. Pada pertanian konservasi, prinsip utamanya adalah pertanian yang mengandalkan dan berusaha mempertahankan kelestarian alam. Dengan pertanian konservasi diusahakan agar tidak terlalu banyak gangguanan ekosistem dalam alam pertanian. Pertanian ini lebih mengandalkan mekanisme ekobiologi dari alam sehingga input yang diberikan pada sistem pertanian ini diusahakan serendah mungkin. Kalaupun intu diberikan, maka input tersebut berupa bahan-bahan organik alamiah yang bukan hasil budaya. Studi ekofisiologi akan memegang peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan kelestarian sistem ini.
Pertanian Teknologi Tinggi juga akan meningkat pada masa depan. Pertanian ini akan sngat produktif, produknya bermutu tinggi, aman, kandungan gizi dan zat berkhasiat yang ada di dalamnya bisa diatur sesuai kebutuhan. Karena itu, pertanian ini memerlukan input tinggi, baik berupa teknologi, bahan-bahan kimia maupun energi. Pertanian ini bisa mengatasi kendala dan hambatan alam, bisa sangat efisien tepai bisa juga tidak efisien. Pertanian ini juga mungkin tidak menyebabkan degradasi lahan pertanian, maupun alam sekitar karena tidak mengandalkan alam dalam produksi. Pertanian ini lebih mengandalkan teknologi dan input dari hasil budaya. Pertanian ini hanya akan melibatkan pemodal besar, bukan petani. Karena itu ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian:
  1. Apakah sistem ini benar-benar efisien; tidak hanya dari efisiensi ekonomi, tetapi juga teknik, energi, budaya, dan sosial?
  2. Apakah sistem ini bebar-benar aman bagi planet bumi, tidak sekedar lingkungan sempit lahan pertanian; baik pada masa kin i maupun masa jauh ke depan?
  3. Studi ekofisologi akan dapat membantu dalam memecahkan pertanyaan-pertanyaan ini.

Teknologi spatial untuk pertanian

Bidang pertanian kembali menjadi pusat perhatian dengan meningkatnya kebutuhan bahan pokok seiring bertambahnya populasi penduduk dunia. Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian tersebut, banyak teknologi dan ilmu pengetahuan dilibatkan. Salah satunya adalah teknologi spatial dalam rangka farming. Mari kita bahas seputar technology GIS dan GPS dalam bidang pertanian.
 
Istilah yang sedang berkembang saat ini adalah precision farming dimana factor ketepatan dalam kegiatan pertanian sangatlah penting dan berpengaruh dalam produksi pertanian. Presisi ini mulai dari penanaman, pemberian pupuk, pemberantasan hama, sampai dengan pemanenan. Dengan menggunakan GPS maka keakuratan dalam penanaman, pemupukan, dan penyemprotan pestisida akan lebih akurat terhindar dari overlapping sehingga dapat menekan biaya.  Selain itu, petani juga tidak harus membuat tanda2 untuk menandai mana yang sudah ataupun yang belum (cukup lihat jalur virtual di GPS). Dalam pelaksanaannya GPS ditempatkan pada mesin2 bergerak (sejenis traktor untuk pembajak, penyemprot, penebar pupuk). Bersama2 dengan sensor/alat lain, data2 lain juga dapat dikumpulkan: kelembaban tanah, keasaman, salinity, kedalaman tanah untuk sebagai bahan analisa GIS nantinya. Saat ini GPS memiliki resolusi yang cukup baik: untuk yang navigasi sekitar 10-20m, differential GPS (dGPS)  2-5m, sedangkan yang real-time (RTK) GPS bisa sampai 5 cm.
 
Precicion farming seperti di atas tentunya membutuhkan biaya mahal dan sulit untuk diaplikasikan di negara kita. Mobile phone yang banyak dimiliki masyarakat, saat ini banyak yang telah dilengkapi dengan GPS (in-built). Dengan biaya yang murah, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pertanian, selain juga sebagai wahana meningkatkan pengetahuan spatial para petani kita. Sebuah penelitian dilakukan oleh Guan et al (2006) menyebutkan bahwa GPS-enabled  mobile phone dapat digunakan untuk membantu para petani dalam mengelola lahannya (studi kasus lahan tebu). Dalam penelitian ini, mobile phone diintegrasikan dengan database central melalui internet. Sehingga petani dapat melakukan input data pada database dari lapangan langsung. Dari sini kemudian data2 ini di olah di central database dengan data2 lain menggunakan GIS untuk keperluan analisa yang lain. Hasil penelitian menyebutkan standard deviasi dari error GPS sebesar 14.6 m dan diperlukan 1-2 menit untuk proses perekaman data melalui cellular phone. Hal ini dimaklumi mengingat kekuatan GPS pada mobile phone yang masih standar serta kecepatan internet (wireless) yang terbatas. Akan tetapi untuk data2 yang tidak memerlukan tingkat presisi koordinat yang tinggi, GPS-enabled mobile phone layak dijadikan pilihan.  Data2 yang dapat diupdate secara otomatis meliputi cuaca, persil tanah yang sedang di kerjakan, koordinat secara umum, elevasi, tanggal/jam. Data2 lain yang bisa diinputkan secara manual berupa jenis pekerjaan, jenis pupuk, tanaman, jumlah pekerja, dll. Semua data ini tentunya sangat membantu bagi petani dalam management lahan mereka secara sistematis dan efficient.
Mobile-phone yang saat ini banyak dimiliki masyarakat, selain memiliki GPS juga ada yang sudah dapat di install peta digital didalamnya. Hal ini tentu lebih memudahkan lagi karena tidak perlu koneksi internet dalam pelaksanaan pengukuran. Secara manual hal itu juga bisa dilakukan. Misalnya dengan merekam posisi koordinat pada GPS kemudian memplotkannya pada peta kertas. Pemerintah dalam hal ini memiliki peran penting. Pemerintah dapat membangun aplikasi webmapping yang memingkinkan para petani melihat dan mengupdate sendiri data pertanian mereka di website central. Data2 ini sangat bermanfaat bagi petani dan juga pemerintah. Pemerintah pun akan lebih mudah mengkomunikasikan arahan kebijakan kepada petani melalui media online tersebut. Demikian, semoga pertanian di Indonesia semakin maju..Amin
 
 
sumber Info:  Tanah tumpah darahku

Kendalikan CVPD Secara Terpadu Dengan Konsep Kebun Jeruk Sehat (PTKJS).

 
Penyakit CVPD merupakan momok bagi para petani jeruk di tanah air.  Akibat serangan penyakit CVPD ini banyak petani yang mengalami kerugian yang parah, tanamanya rusak sehingga tidak dapat berproduksi dengan baik.  Buah menjadi rusak bahkan tanaman bisa tidak dapat berproduksi sama, sehingga sangat merugikan bagi petani jeruk.
Penyebab Penyakit CVPD.
Penyebab penyakit CVPD ini adalah virus Liberibacter asiaticum.  Sedangkan penularanya oleh serangga vektor Diaphorini citri.  Serangan penyakit ini terjadi baik tanaman berada di persemaian maupun di kebun, terutama pada tunas-tunas.
Gejala Serangan Penyakit CVPD.
Tanaman muda yang terserang penyakit CVPD menunjukkan gejala adanya kuncup yang berkembang lambat, tumbuh mencuat keatas dengan daun- daun kecil dan belang- belang kuning.  Tanaman biasanya menghasilkan buah berkualitas jelek.
Pada tanaman jeruk yang dewasa, gejala penyakit CVPD adalah cabang yang daun- daun yang menguning dan kontras dengan cabang lain yang daun- daunnya masih sehat (greeningsectoral). Daun pada cabang- cabang yang terserang CVPD menjorok keatas seperti sikat. Gejala lain adalah daun berukuran lebih sempit berbentuk lancip dengan warna kuning diantara tulang daun. Gejala- gejala seperti ini mirip dengan gejala tanaman yang kekurangan unsur Zn.
 
Buah yang tumbuh pada cabang- cabang terserang penyakit CVPD biasanya tidak dapat berkembang normal dan berukuran kecil, terutama pada bagian yang tidak terkena cahaya matahari.  Pada pangkal buah biasanya muncul warna oranye yang berlawanan dengan buah- buah yang sehat.  Buah- buah yang terserang rasanya masam dan bijinya kempes, tidak berkembang dan berwarna hitam.
Pengendalian Penyakit CVPD.
Serangan penyakit CVPD ini beberapa kali menyerang sentra jeruk di tanah air.  Secara umu sampai saat ini penyakit CVPD ini masih belum dapat ditemukan obat / pestisida yang dapat menyembuhkan akibat serangan CVPD.  Namun sebenarnya penyakit CVPD ini sebenarnya dapat dikendalikan dengan menerapkan pengendalian secara terpadu dengan menitikberatkan pada Kebun Jeruk Sehat.  Apabila kondisi pertanaman di kebun sudah memenuhi syarat Kebun Jeruk Sehat maka perkembangan penyakit CVPD dapat ditekan seminimal mungkin.
Pengelolaan Kebun Jeruk sehat secara terpadu ini merupakan hasil kajian  yang telah dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Subtropika (BALITJESTRO), Malang, Jawa Timur.  Pengendalian penyakit CVPD secara terpadu ini diberi nama Pengendalian Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTJKS).
Pengendalian Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTJKS) ini terdiri dari lima komponen teknologi yang kompatibel dan dilaksanakan secara bersama-sama pada satu hamparan kebun jeruk yaitu Penggunaan Bibit Sehat Berlabel Biru, Eradikasi Tanaman Sakit, Mengendalikan Serangga Vektor,  Pemeliharaan Tanaman Optimal dan Penngendalian pada satu Kawasan / Hamparan.
Penggunaan Bibit Sehat.  Bibit jeruk yang ditanam harus bibit yang berlabel, minimalberlabel biru, serta harus dalam kondisi yang sehat dan bebas dari patogen virus CVPD atau virus lainya.
Mengendalikan Serangga Vektor CVPD.  Vektor CVPD yang dapat menularkan atau membawa virus Liberibacter asiaticum penyebab CVPD adalah serangga Diaphorina citri.  Untuk menekan dan mengendalikan beberapa vektor tersebut.  Serangga Diaphorini citri dapat dikendalikan dengan melabur batang jeruk dengan insektisida sistemik berbahan aktif imadaklorid seperti Confidor setiap 2 minggu sekali serta penyemprotan insektisida kontak dua kali berselang setelah ditemukan Diaphorini citri. 
Sedangkan insektisida lainya yang dapat digunakan mengendalikan populasi vector Diaphorini citri tersebut diantaranya dimethoate (perfekthion, roxion 40 EC, rogor 40 EC, cygon) yang diaplikasikan pada daun atau disuntikan pada batang, dan edosulfan (dekasulfan 350 EC). Aplikasi insektisida hendaknya dilakukan pada saat tanaman menjelang dan ketika bertunas.
Pengendalian bisa juga dilakukan dengan perangkap berwarna kuning untuk menangkap serangga Diaphorini citri dewasa.

Eradikasi Tanaman Terserang.  Apabila sudah diketahui ada beberapa tanaman yang terserang CVPD segera lakukan eradikasi dengan jalan mencabut / membongkar tanamn tersebut dan membakarnya.  Kemudian sulam dengan tanaman baru yang sehat dari bibit berlabel biru.
Pemeliharaan Tanaman Secara Optimal.  Pemeliharaan tanamn jeruk secara optimal dapat membuat tanaman menjadi lebih tahan terhadap serangan penyakit CVPD ini.  Selain itu dengan pemeliharaan tanamn yang optimal, serangan penyakit CVPD ini dapat segera terlihat / diidentifikasi apabila tanaman ada yang terserang sehingga dapat segera kita pangkat / bongkar. Pemeliharaan optimal meliputi pemupukan secara tepat dan berimbang antara pupuk makro dan mikro, pengendalian gulma, pengairan secara tepat maupun pemangkasan ranting tanaman sehingga tanamn dapat tumbuh dan berkembang dengan  baik.
Pengendalian Serempak Pada Satu Kawasan / Hamparan.
Pengendalian penyakit CVPD akan lebih effektif apabila dilakukan secara bersama-sama oleh para petani yang berada pada satu hamparan / kawasan.  Penyakit CVPD ini cepat berkembang dan menular dengan cepat sehingga untuk membatasinya harus dilakukan pengendalian secara terpadu yang dilakukan secara bersama-sama dalam satu hamparan.
Selain pengendalian secara terpadu dengan konsep kebun jeruk sehat dengan PTKJS seperti tersebut di atas,  pemerintah juga berusaha membatasi penyebaran penaykit CVPD ini dengan melarang pertukaran benih dari daerah endemik CVPD ke daerah yang bebas CVPD, antara lain dengan Keputusan Mentri Pertanian Nomor 129/Kpts/um/3/1982 yang isinya melarang pengangkutan tanaman / bibit jeruk dari daerah endemik ke daerah bebas CVPD (materi : Balitjestro. gambar : tarunabumi.blogspot.com)


Tembakau Temanggung

Tembakau

Kabupaten Temanggung yang bergunung-gunung merupakan areal ideal bagi tanaman tembakau. Tembakau temanggung dikenal sangat berkualitas dibandingkan tembakau dari daerah manapun.
Oleh sebab itu, pabrikan rokok besar banyak yang membuka gudang di daerah ini. Panen raya tembakau biasanya jatuh pada bulan Agustus hingga Oktober setiap tahunnya. Dengan keadaaan alam yang cocok untuk perkebunan tembakau, secara otomatis tembakau yang dihasilkan juga memiliki kualitas yang mumpuni.
Dengan kualitas maksimal tersebut, dunia pertembakauan mampu mengangkat perekonomian masyarakat dengan cepat dan banyak mempengaruhi sektor ekonomi lainnya.

Rata-rata setiap tahunnya :
Luas lahan (2007): 13.039,90 hektar
Produksi (2007) : 8.019,44 Ton
Produktivitas : 457 Kg/Ha
Jumlah Petani : 40.992 orang
Lahan Potensi : 21.000 Ha

Kentang Temanggung

Kentang

Kabupaten Temanggung merupakan salah satu sentra produksi sayuran dataran tinggi, dengan komoditas utama kentang, kubis, dan cabai. Sayuran ditanam pada lahan yang berbukit-bukit dengan kemiringan lahan dari agak datar sampai terjal. Usaha tani ini telah berlangsung lama dengan pengelolaan yang masih bersifat tradisional sehingga produktivitasnya rendah. Hal ini menyebabkan usaha tani sayuran hanya mampu memberi kontribusi terhadap pendapatan sekitar 10%.

Rendahnya produktivitas berkaitan dengan sempitnya kepemilikan lahan, rendahnya tingkat pendidikan petani,tidak tersedianya teknologi inovatif, rendahnya penguasaan aset, belum berkembangnya kelembagaan dan sistem informasi, kurang tersedianya infrastruktur pendukung, dan lemahnya pemasaran.  Untuk meningkatkan produktivitas sayuran dan kontribusinya terhadap pendapatan, diperlukan introduksi inovasi teknologi yang berbasis sumber daya lokal. Agar inovasi dapat diterima petani dalam jangka panjang, maka inovasi tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

(1) menggunakan komoditas yang telah berkembang di daerah sasaran, (2) mengoptimalkan sumber daya lahan, (3) memiliki keunggulan, efisien, dan berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani, (4) menggiring terciptanya pasar (driving demand), (5) mudah dikembangkan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan berbagai pihak terkait agar langsung dimanfaatkan dan terintegrasi dengan program pembangunan di daerah, (6) mendukung berkembangnya kelembagaan, (7) bersifat holistik, lintas disiplin dan lintas unit kerja, serta (8) sesuai dengan kondisi biofisik setempat.

Berkaitan dengan hal ini, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, BPTP dan instansi terkait lainnya mengembangkan sistem usaha tani (SUT) berbasis tanaman sayuran/ pangan-ternak berwawasan konservasi di Kabupaten Temanggung. Kegiatan ini akan berlangsung selama 5 tahun (2004-2008).

Metode Diseminasi SUT

Kegiatan SUT berbasis tanaman sayuran meliputi pengembangan paket teknologi tumpang sari cabai−kubis dan kentang yang telah diperbaiki untuk skala usaha komersial (3 ha). Penelitian dan pengembangan dilakukan di lahan petani (on farm research) dalam bentuk hamparan. Petani peserta SUT berjumlah 16 orang, masing-masing mempunyai kemampuan dan kemauan memelihara ternak domba, memiliki lahan untuk menanam sayuran, dan bersedia menanam hijauan pakan. Lahan memiliki kemiringan 30-40% untuk pertanaman tanaman pangan. Kemajuan Pengembangan SUT Berbasis Sayuran SUT berbasis kentang melibatkan 8 orang petani kooperator dengan hamparan seluas 1,4 ha (luasan per petani kooperator 1.000-3.000
m2).

Superimposed kentang menggunakan tiga kultivar kentang olahan (Atlantik, Herta dan klon 095) dan satu kultivar kentang konsumsi (Granola). Kegiatan ini dilakukan pada skala luasan 1.000 m. SUT berbasis cabai tumpang sari dengan kubis melibatkan 8 orang petani kooperator dengan hamparan 1,45 ha (luasan per petani kooperator berkisar antara 1.500-3.500 m2). Pada tanggal 28 Februari 2005 telah dilakukan demonstrasi pengolahan kentang dengan melibatkan ibu-ibu/wanita tani. Teknologi pascapanen yang didemonstrasikan antara lain adalah pembuatan keripik kentang putih, keripik kentang kuning dan keripik kentang berbumbu.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, petani menunjukkan minat dan tanggapan yang tinggi terhadap penerapan SUT berbasis sayuran. Petani kooperator relatif masih muda dan sangat kooperatif, sehingga lebih mudah dalam mentransfer teknologi dan kemungkinan mengembangkannya dalam skala yang lebih luas. Secara visual, pertumbuhan tanaman kentang yang dikelola petani relatif baik. Pada kegiatan superimposed, pertumbuhan tanaman kentang sampai umur 60 hari setelah tanam sangat bagus, dan serangan OPT dapat dikendalikan.

Melalui bimbingan dan pengawalan, pengenalan teknologi dan pengendalian hama penyakit cukup berhasil. Hasil kentang kultivar Atlantik mencapai 0,52 kg/tanaman, Herta 0,69 kg/tanaman, Granola 0,71 kg/tanaman, dan klon 0950,47 kg/tanaman. Dari hasil kuesioner, petani lebih menyukai kultivar Granola dan klon 095.

10 RAHASIA MEMPERBANYAK ANAKAN PADI

Salam Pertanian!! Banyak anak banyak rejeki, falsafah ini sangat pas jika diterapkan dalam ilmu budidaya tanaman padi. Semakin banyak anakan produktif tanaman padi diharapkan akan semakin banyak malai yang terbentuk dan akhirnya diharapkan semakin banyak peningkatan produksi yang kita peroleh. Oleh karena banyaknya anakan produktif merupakan salah satu kunci peningkatan produktivitas tanaman padi selain banyaknya bulir isi pada tiap malai.
Banyak sekali teori dan pengalaman dalam ilmu pertanian berbeda daerah berbeda bdaya beda orang beda cara, demikian pula banyak sekali tips, teori dan metode untuk memperbanyak anakan tanaman padi. Kali ini informasi-budidaya akan membagikan sedikit pengalaman kepada pembaca semua bagaimana caranya untuk memperbanyak anakan produktif tanaman padi. Informasi ini kami peroleh dari berbagai sumber dan pengalaman dilapangan.
  1. Tanamlah bibit padi muda. Menurut informasi yang maspary peroleh semakin muda umur bibit padi akan semakin potensi memproduksi anakan yang lebih banyak. Umur terbaik untuk tanam padi adalah antara 10 – 18 hss (hari setelah sebar).
  2. Aplikasi pupuk Phospat seperti SP36 seawal mungkin (kalau perlu sehari atau 2 hari sebelum tanam). Pupuk SP36  membutuhkan waktu yang agak lama untuk bisa terserap oleh akar tanaman, oleh karena itu pemberian SP36 harus seawal mungkin. Salah satu fungsi unsur P yang terkandung dalam SP36 adalah merangsang pembentukan akar, oleh karena itu  maspary menganjurkan pemberian unsur P saat vase pembentukan anakan supaya anakan yang terbentuk bisa diimbangi dengan akar yang sehat, kuat dan panjang.
  3. Aplikasi pupuk Nitrogen seperti urea seawal mungkin. Maksimal 5 hari setelah tanam harus sudah diberikan. Unsur Nitrogen merupakan salah satu kunci utama dalam membantu pembentukan anakan, oleh karena itu saat proses pembentukan anakan jangan sampai belum tersedia unsur ini.
  4. Jangan tanam bibit padi terlalu dalam. Cukup 1-2 cm saja sudah cukup. Ini juga merupakan poin penting untuk meningkatkan jumlah anakan produktif tanaman padi. Tanam bibit padi yang terlalu dalam akan menghabiskan energi tanaman padi untuk menembus tanah penutupnya. Cuma didaerah maspary yang menjadi kendala adalah tukang tanamnya yang sulit melaksanakan, yach….. karena terbiasa tanam dalam. Pernah saya menanyakan pada tukang tandur (tukang tanam) kenapa kalau tanam harus dalam, mereka menjawab katanya kalau nggak dalam nggak enak pak!!
  5. Pengairan yang tidak selalu tergenang. Jaga pemberian air pada tanaman padi secara periodik diairi lalu dibiarkan sampai kering (tanahnya pecah rambut) lalu diairi lagi demikian seterusnya.
  6. Penggunaan varietas unggul seperti benih padi unggul B3. Setiap varietaspasti akan mempunyai kemampuan sendiri-sendiri dalam membentuk anakan yang produktif.
  7. Jarak tanam jangan terlalu rapat, apalagi jika tanahnya subur. Walaupun anakan terbentuk banyak akan tetapi jika jaraknya terlalu rapat biasanya anakan tersebut menjadi kurang produktif. Kalau bisa gunakan sistem tanam jajar legowo seperti yang telah informasi-budidaya tulis beberapa waktu yang lalu. Tetapi jika jarak tanamnya menggunakan 40 cm gak perlu pake sistem legowo lagi.
  8. Pemberian Zat Pengatur Tumbuh (hormon tanaman) terutama yang mengandung sitokinin dan giberelin. Menurut maspary poin nomor 8 ini hanyalah opsional, jadi merupakan faktor pendukung saja yang boleh dlakukan dan boleh tidak. Jika mau diberikan sebaiknya bersamaan saat pemupukan oleh karena itu berikan ZPT yang bentuknya padat seperti ZPT Organik yang informasi-budidaya telah sediakan. Boleh juga disemprotkan saat umur 15 hst.
  9. Pemberian pupuk organik padat sebagai penyubur dan pembenah tanah. Ini berhubungan erat dengan kondosi kesuburan tanah anda dan proses penyerapan unsur hara yang akan diberikan pada tanaman. Oleh karena itu jumlahnya sangat relatif tergantung kondisi tanah masing-masing petani.
  10. Waspada terhadap hama dan penyakit. Hama yang punya potensi mengurangi anakan antara lain keong mas, sundep dan tikus. Sedangkan penyakit yang membahayakan saat pembentukan anakan padi adalah penyakit busuk pangkal batang padi. Untuk mengatasi semua itu Maspary telah membahasnya semua. Coba telusuri saja di kotak pencarian pada blog informasi-budidaya pojok kanan atas.
Ternyata untuk memperbanyak anakan produktif pada tanaman padi tidak mudah ya…. banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi. Barangkali ada rekan-rekan informasi-budidaya yang punya tips lain yang lebih mudah untuk memproduksi anakan produktif tanaman padi silahkan hubungi maspary. Kita sharingkan ke teman-teman petani yang lain agar bisa membantu mereka dalam meningkatkan produksinya.
Semoga sedikit tulisan yang terbentuk dari buah pikiran dan pengalaman dari maspry ini bisa memberikan jawaban kepada petani atas persoalan peningkatan produksivitas tanaman padi di Indonesia.

cara budidaya lidah buaya

Lidah buaya adalah tanaman yang mempunyai banyak manfaat, terutama bagi kesehatan manusia, permintaan pun banyak, namun tingkat produksi lidah buaya di Indonesia masih kurang. Oleh karena itu budidaya lidah buaya ini harus ditingkatkan. Untuk meningkatkan produksi lidah buaya, berikut adalah cara budidaya lidah buaya yang baik.
Sebelum melakukan budidaya tanaman lidah buaya dilakukan penyiapan lahan untuk budidaya. Lahan disiapkan dalam keadaan telah dibajak dan di gemburkan terlebih dahulu kemudian di buat saluran drinase dan bedengan. Bendengan dibuat dengan ukuran 1 x 2 meter dan tinggi 30-40 cm dan panjang di sesuaikan dengan kondisi lahan.

Budidaya tanaman lidah buaya dimulai dengan melakukan pembibitan terlebih dahulu, pembibitan dilakukan cara vegetatif, bibit diambil dari tanaman induk berupa anakan dengan jalan dicongkel dan diusahakan agar akarnya tidak putus. Anakan yang telah di dapatkan ditanam dalam polibag. Lama pembibitan adalah 3-5 bulan.

Setelah masa pembibitan barulah bisa ditanam diareal pembudidayaan. Bibit tanaman lidah buaya ditanam dalam lubang dengan kedalaman kurang lebih 10 cm. Pada waktu penamanan diusahakan agar tanaman lidah buaya tidak berhimpitan dandaun tidak patah.

Pemeliharaan tanaman lidah buaya dilakukan dengan cara memasukan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 2-5 kg pada waktu 1-2 minggu sebelum ditanam. Kemudian setelah pasca tanam dapat diberikan pupuk Urea dan Furadan

Lidah buaya sudah dapat dipanen pada umur 12-8 bulan setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan setiap bulan. Pasca panen, pelepah lidah buaya di bawa ke tempat penyortiran. Setelah di sortir kemudian dibungkus dan selanjutnya dibawa ke tempat pemerosesan lebih lanjut.

Nah silahkan mencoba, semoga berhasil dan bermanfaat bagi yang membaca.

cara menanam kentang


Kentang merupakan sayuran yang memiliki tingkat permintaan yang tinggi. Sehingga prospek yang cukup bagus untuk budidaya kentang di Indonesia, karena tekstur tanahnya juga cocok untuk ditanam kentang. Untuk emnghasilkan yang cukup banyak hasilnya, berikut adalah cara penanaman kentang yang baik.

Syarat pertumbuhan
– iklim
curah hujan rata2 1500 mm/tahun Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.
– media tanam
tanah gembur, banyk mengandung bahan organik dengan pH 5,8-7,0

Pembibitan
– Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
– Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).
Pengolahan media tanam
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).
Pemupukan
Pemupukan anorganik bisa anda dapatkan seperti urea(200 kg/ha), SP 36(200 kg/ha) dan KCT(75 kg/ha)
Penyulaman tanaman
Penyulaman dilakukan jika ada tanaman yang mati dan tumbuh tidak normal, cara ini dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.
Penyiangan
Penyulaman dilakukan 2 kali dalam masa penanaman.
Pemangkasan bunga
Cara ini harus dilakukan karena tanaman kentang mmang mempunyai bunga, jika bunga tetap dibiarkan akan mengganngu proses pertumbuhan umbi.
Panen
umur panen tanaman kentang berkisar antara 150-190 hari. Tanaman kentang yang siap mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
– biasanya daunnya berwarna kekuningan
– batang tanaman juga kekuningan
– kulit umbi akan lekat dengan daging umbi
– kulit tidak cepat mengelupas
 Silahkan mencoba, semoga berhasil dan semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membacanya.

cara budidaya bawang merah

bawang merah adalah bumbu dasar untuk masakan. Bawang merah ini juga berfungsi sebagai obat penyakit tertntu.. sehingga banyak yang bududaya bawang merah.. namun kini para petani terjadi masalah. Dengan terjadinya krisis, pupuk menjadi mahal bahkan ada yang naik 3 kali llipat sehingga petani tidak mampu membelinya. Biaya untuk bertanam menjadi semakin tinggi sedangkan hasilnya makin berkurang. Kerugian selalu terjadi sehingga membuat kami harus mementukan pilihan jalan keluar.
Oleh karena itu sekarang mungkin lebik baik untuk menanam bawarng merah secara organik

Menanam Bawang Merah Secara Organik
1. Tanah dicangkul agak dalam dan rumputnya diambil (kebruk kalet: bahasa petani Batu), selanjutnya digulut dengan lebar 80 cm.
2. Guludan ditaburi pupuk kandang
3. Pupuk kandang ditutup dengan tanah dan permukaan guludan dibuat rata. Pada musim penghujan permukaan guludan dibuat agak lebih tinggi agar tidak terendam air hujan. Tinggi guludan pada musim kemarau 30 cm dan musim hujan 40 cm.
4. Bibit yang sudah siap kemudian ditanam pada guludan (diponjo) dengan jarak 20 cm, kemudian ditutup menggunakan daun pahit-pahitan (daun yang rasanya pahit).
5. Tahap selanjutnya adalah penyiangan, menggemburkan tanah dan menguruk tanaman tipis-tipis sesuai dengan pertumbuhan tanaman.
6. Pemberantasan hama dan penyakit menggunakan rendaman daun pahitan dan bawang putih.
7. Setelah cukup umur tanaman dicabut, diikat dan selanjutnya disiger.
Hasil yang Diperoleh
1. Penanaman pada waktu musim kemarau (dengan disiram), dengan bibit sebanyak 15 kg menghasilkan panen sebanyak 60 kg.
2. Penanaman pada musim hujan, dengan bibit sebanyak 50 kg menghasilkan panen sebanyak 200 kg.
Kendala dan Manfaat
Selama proses penanaman berlangsung selalu dibayangi keraguan karena seolah-olah menentang arus, meskipun dengan sistem pertanian organik berarti mengikuti hukum alam.
Paguyuban belum mampu memasarkan hasil panen sehingga terpaksa saya menjualnya seharga produk konvensional.

Kesimpulan
Bertani dengan sistem organik harus titen dan telaten sehingga pasti panen. Dengan sistem pertanian organik biaya yang dikeluarkan rendah, pengerjaan tanah mudah karena gembur. Sudah waktunya petani beralih sistem, meninggalkan sistem konvensional yang merugi dan merusak lingkungan, dengan sistem pertanian organik yang lestari.
Semoga bermanfaat