Wirausaha Label Indie

Artis yang berwirausaha tak sedikit. Tak terkecuali penyanyi jazz Syaharani. Perempuan 40 tahun itu memilih berwirausaha di bidang yang tak terlalu jauh dari dunia yang digelutinya, musik. Dia mendirikan sebuah label rekaman indie.

“Sudah beberapa tahun ini aku lagi sibuk produksi indie untuk Esqief, duo bentukan aku sama temanku, Didit Saad. Karena ini label sendiri, jadi apa pun dikerjakan sendiri. Mulai ngaranglagu sampai proses produksi, semuanya sendiri,” jelas Syaharani saat ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, pekan lalu.

Pemilik nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim tersebut menuturkan, dengan memiliki dan mengurus label sendiri,dirinya bisa melatih jiwa wirausaha dalam mengelola sebuah usaha. Selain itu, lanjut penyanyi asal Batu, Malang, tersebut, lewat label miliknya, dia sekaligus bisa membuka lapangan pekerjaan.

“Kalau begini, kan jadi wiraswasta dan bisa bantu orang lain. Usahanya sih baru kecil-kecilan. Karena itu, semoga ke depan makin berkembang dan bisa meng-Ziire lebih banyak orang lagi,” imbuh penyanyi sekaligus pencipta lagu itu.

Menjinjing laba dari produksi tas wanita ala Korea

Maraknya fesyen ala Korea di kalangan wanita remaja bisa menjadi peluang usaha yang menguntungkan. Salah satunya dengan membuat tas wanita remaja dengan desain ala Korea. Dengan membuat tas ini omzet bisa puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Setelah era Harajuku Style, dunia mode di Tanah Air terus mencari kiblat baru. Nah, kiblat baru itu masih bertetangga dengan Harajuku yang berasal dari Jepang, yakni gaya model yang dikenal sebagai Korean Style. Mode asal Korea itu tak hanya soal busana, namun juga tas.

Nah, pembuatan tas fesyen ala Korea inilah yang ditekuni oleh Vidia Chairun Nisa dan Syamsul Hadi, serta banyak perajin tas lainnya. Maklum, tas model anak muda Korea ini memang lagi jadi tren dan laris manis di pasaran.

Vidia sengaja membidik segmen remaja wanita yang gemar fesyen dan cenderung suka belanja. Kepada wanita muda penggemar fesyen ini, Vidia menawarkan aneka tas ala Korea. Tentu tas ala Korea bikinan Vidia ini bisa lebih murah dari tas asli asal Korea. Lihat saja, tas asal Korea, di pasar tas ibu kota bisa mencapai Rp 3 juta per buah. Adapun tas ala Korea buatan Vidia hanya seharga Rp 139.000 – Rp 219.000 per buah.

Soal model dan desain, pembeli tak usah khawatir karena Vidia mengadopsi desain, bentuk dan pola tas ala Korea. “Bahkan tas itu saya tambah lagi dengan aneka modifikasi,” terang Vidia yang menyematkan merek Gembool pada tas yang untuk kaum wanita itu.

Vidia yang sudah berjualan tas sejak 2008 itu melakukan beragam modifikasi warna, menambah aksesori, hingga membuat tas dengan ukuran beragam. “Soal kualitas tas kami tidak kalah dengan tas bermerek lain,” klaim Vidia yang punya bengkel produksi sendiri di Jakarta.

Untuk memproduksi tas itu, Vidia mempekerjakan 20 karyawan yang setiap bulan mampu menciptakan empat varian tas baru. Di antara varian tas yang terlaris adalah tas bermotif macan tutul dan motif berbentuk potongan koran atau majalah.

Berkat tas ala Korea ini, perempuan usia 25 tahun ini mampu meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan, dengan laba mencapai 40%. Vidia memperoleh omzet sebanyak itu dari berjualan tas melalui toko online bernama shop.gembool.com, juga dengan membuka jaringan pemasaran ke butik-butik dan pedagang tas di Bandung dan Jakarta.

Tak mau ketinggalan, Syamsul Huda, perajin tas di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, kini juga sibuk membuat tas ala Korea. Syamsul tertarik membuat tas ala Korea karena ada pesanan dari para pedagang tas. “Saya akhirnya ikut bikin tas gaya Korea itu,” terang Syamsul.

Tentu Syamsul tak kesulitan membuat tas ala Korea itu. Maklum, sebelum kepincut dengan tas ala Korea, Syamsul sudah sejak 1991 terlatih membuat tas apa saja. “Bedanya ada pada warna, tas ala Korea memiliki warna yang mencolok,” terang Syamsul.

Selain itu, ciri tas ala Korea memiliki banyak kantong ketimbang tas wanita biasa. Selain itu, tas ala Korea ini lebih banyak menggunakan aksesori seperti rantai.

Karena banyak permintaan, Syamsul juga rajin membuat desain baru. Dia mencari pola desain itu dari berbagai sumber, mulai dari majalah mode hingga dari dunia maya. “Sekarang jumlah produksi saya sudah ratusan pieces,” jelas Syamsul yang mengaku memiliki omzet Rp 110 juta per bulan itu.

Berbeda dengan Vidia, Syamsul memasarkan produknya langsung ke distributor tas yang ada di seluruh Indonesia. Syamsul mengaku tidak terlalu tertarik untuk berjualan melalui online seperti halnya Vidia. “Jualan lewat internet terlalu rumit,” katanya.

Mengantongi laba dari usaha pembuatan tea bag

Laris manisnya penjualan teh, jamu, dan kopi dalam kantong celup mendorong permintaan kantong celup atau tea bag. Meski masih melayani permintaan dari pelaku usaha di tingkat menengah dan UKM, produsen kantong celup ini bisa meraup omzet puluhan hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, pemain di usaha ini masih sedikit.

Ternyata memproduksi kantong celup atau tea bag bisa menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, tea bag yang sebelumnya hanya digunakan untuk kantong teh celup ini mulai digunakan juga oleh produsen kopi dan bahkan produsen jamu untuk mempermudah penyajian.
Lebih menarik lagi, meski kebutuhan kantong celup ini makin besar, ternyata pemain di bisnis ini tidak begitu banyak. Itulah sebabnya, Suhartono, pemilik Indo Multi Creative di Surabaya, Jawa Timur, begitu tekun menggeluti usaha pembuatan kantong celup ini. “Saya sudah memproduksi kantong celup ini sejak tahun 1998,” ujar Suhartono.

Meski masih sedikit pengusaha yang memproduksi kantong celup ini, Suhartono mengakui persaingan bisnis ini kian ketat. “Hal itu terlihat dengan harga yang makin kompetitif,” lanjutnya.

Suhartono hanya memasok produk kantong celup ini ke produsen teh skala menengah dan UKM. “Produsen teh celup raksasa yang menjadi pasar utama di bisnis ini biasanya memiliki unit pembuatan tea bag sendiri,” ujarnya.

Indo Multi menjual tea bag dengan harga Rp 135 per piece. Ia mengaku, dalam sebulan dapat menjual hingga 100.000 kilogram tea bag. Asal tahu saja, berat setiap kantong celup rata-rata dua gram. Dengan produksi sebanyak itu, berarti Suhartono mampu memproduksi sebanyak 50 juta kantong celup per bulan.

Selain menjual kantong celup jadi, Suhartono juga menjual filter paper yakni bahan baku pembuatan kantong celup. Dalam sebulan, ia mampu menjual hingga 10 rol dengan harga per rol berkisar Rp 750.000 hingga Rp 1 juta. Satu rol filter paper bisa dipakai untuk pembuatan 50.000 kantong celup.

Meski enggan menyebut perolehan omzet, namun dengan volume penjualan sebesar itu, diperkirakan Suhartono bisa merengkuh omzet hingga Rp 6 miliar lebih per bulannya.

Pemain lain di bisnis ini adalah Edi Setyo Budi. Pemilik UD Raya Kudus yang memproduksi kantong celup selalu menuai kenaikan permintaan setiap bulan. Bahkan, saking banyaknya pesanan, Edi mengaku kewalahan memenuhi lantaran kapasitas produksinya masih terbatas. Padahal, dia memulai bisnis ini secara tak sengaja.

Bisnis asli Edi sebenarnya adalah teh herbal yang dikemas dalam kantong celup. Karena dia sering kesulitan mencari kantong celup, akhirnya Edi memutuskan untuk memproduksi sendiri kantong celup itu. “Dengan membuat kantong sendiri, saya bisa menekan produksi teh herbal,” ujarnya.

Dengan dibantu lima karyawan, “Dalam sehari, kami baru mampu memproduksi 15.000 tea bag atau sebanyak 450.000 kantong per bulan,” ujar Edi. Nah, sebanyak 350.000 tea bag digunakan Edi untuk produk teh herbalnya sedangkan sisanya, sebanyak 100.000 kantong, dia lempar ke pasar.

Edi banyak melayani pesanan dari produsen jamu tradisional dan produsen kopi. “Tapi saya baru menerima pesanan dari pengusaha kelas UKM,” ujarnya merendah.

Pria 31 tahun ini menjual kantong celup dengan harga Rp 150 per buah. Ia mengklaim kantong celupnya tergolong produk premium karena memakai jenis kertas yang lebih tebal.

Tak hanya menjual kantong celup, seperti juga Suhartono, Edi juga menyediakan filter paper atau kertas sebagai bahan baku tea bag. Edi membanderol harga bahan baku kantong celup yang masih diimpor dari Taiwan, China, dan Jerman tersebut seharga Rp 500.000 per rol. Dalam sebulan, Edi bisa menjual hingga lima rol filter paper. “Tiap rol bisa dibuat hingga 30.000 kantong celup,” jelas Edi.

Dari usaha pembuatan kantong celup dan penjualan filter paper ini, sarjana teknik elektro dari sebuah universitas di Yogyakarta ini mengaku mampu meraup omzet hingga Rp 20 juta per bulan dengan keuntungan 30%.

Mantan Karyawan Raih Impian

Mereka hengkang dari posisi sebagai karyawan perusahaan untuk mewujudkan keinginan menjadi orang kaya.

Rangga Umara, 32, memutuskan berhenti bekerja di kantornya di perusahaan properti Jakarta saat kebutuhan hidupnya mulai meninggi. “Gaji di perusahaan properti waktu itu tiga koma. Maksudnya, setelah tanggal tiga, kantong sudah koma,” ungkap Rangga seraya tertawa.

Menurut dia, karyawan apa pun tidak menjadikan seseorang kaya. Jadi, memiliki usaha sendiri merupakan satu-satunya jalan untuk menjadi kaya.

Ia lalu pindah haluan. Karena terbawa oleh hobinya yang doyan makan. Rangga mendirikan warung pecel lele. “Pecel lele makanan khas Indonesia, mudah dijumpai, namun belum banyak yang berani tampil beda. Selama ini kebanyakan warung lele tampilannya begitu-begitu saja,” kata Rangga yang hadir dalam Kick Andy episode KnryauHin No, Itiragan Yes.

Pad,a 2007, Rangga membuka usaha pecel lele pertamanya di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. “Modalnya saya dapat dari hasil menjual jam tangan, handphone, parfum, dan alat penggetar perut yang ada di rumah. Totalnya Rp3 juta,” sambungnya. Ia lantas menggandeng temannya yang pintar meracik bumbu.

Gerai pertamanya menempati bangunan berukuran 2×3 meter. Namanya Lele Iela. Kata Lela adalah akronim dari lebih laku atau, lebih laris. Rangga punya konsep untuk mewujudkan nama itu. “Tempat harus nyaman, orang datang tak sekadar makan, tapi juga mau mc-, nikmati suasana,” sambungnya.

Usaha warung lele itu tidak serta-merta berkembang. Pada rentang 2007-2008, Rangga mengaku mengalami periode yang berat. Ia terlilit utang kepada rentenir. Keuntungannya habis untuk membayar sewa. Enam cabang pertamanya harus ditutup.

Keuangan keluarganya makin minus sampai-sampai Rangga bersama istrinya. Sih Umairah, serta anak mereka diusir keluar dari kontrakan karena tidak mampu membayar lagi.

Meski begitu. Rangga tetap konsisten. Olahan lele dikembangkannya, disertai standar operasi pelayanan yang dibuat unik. Misalnya, setiap pengunjung Lele Lela disambut dengan ucapan selamat pagi dalam intonasi yang bersemangat. Setiap pengunjung yang meninggalkan gerai pun mendapat ucapan terima kasih, selamat datang kembali!.

Sekarang, pria kelahiran 1979 itu mempunyai 42 cabang Lele Lela se-Indonesia dengan omzet Rp4,8 miliar per bulan. Mereka menyediakan makanan gratis bagi yang sedang berulang tahun dan bagi pengunjung yang bernama Lela.

Kesuksesan Rangga rupanya bermula ketika ia menuliskan obsesi, ambisi, dan impian yang ingin diraihnya dalam sebuah buku yang ia sebut dream book. Tidak hanya menuliskan keinginan, Rangga juga menuliskan usaha untuk mencapainya serta target keuntungan. Lewat dream book itu, Rangga mengumpulkan semangat dan menarik energi positif agar im-piannya tercapai.

Kini, ayah dua anak tersebut sedang berupaya mewujudkan impian lain, yakni membuka cabang Lele Lela di Mekah.

Buka distro

Selain Rangga, ada Mohamad Rosihan, 38, yang banting setir menjadi penjual busana muslim dengan brand Saqina setelah keluar dari pekerjaannya sebagai konsultan internet bergaji Rp7,5 juta sebulan.

Pria lulusan Jurusan Geodesi Institut Teknologi Bandung ini kemudian mendirikan perusahaan teknologi informasi sendiri.

Penghasilan perusahaan hampir mencapai angka Rpl miliar per tahun, dengan sebuah konsekuensi. Usaha tersebut diakuinya sangat melelahkan karena proyek-proyeknya ditangani langsung oleh Rosihan sendiri. Saat berada di puncak karier perusahaannyasendiri. Rosihan jus- tru memutuskan menutup perusahaan itu.

Tahun 2006 saya merintis bisnis ritel, dagang. Alasannya, saya ingin mencari bisnis yang lebih simpel, yang bisa saya delegasikan kepada karyawan, untungnya besar dan cepat, pasarnya jelas,” tutur Rosihan.

Ia lalu melirik distro. Dalam setahun, ia membuka lima distro-dinamai Saqina-yang menjual busana muslim wanita, gamis, kerudung, aksesori busana muslim, baju koko, sarung, mukena, dan perlengkapan haji.

“Segmennya menengah tengah, bukan menengah ke bawah atau menengah ke atas. Harganya berkisar Rp75 ribu sampai Rp300 ribu,” tambahnya.

Rosihan mempromosikan produk ililw Saqina menggunakan media online. Order pun membanjirnya. Pelanggannya datang dari seluruh Nusantara, juga dari mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, Brunei, Dubai, Prancis, Amerika, dan Australia. Rosihan bahkan memiliki reseller di Malaysia. Alhasil, omzetnya pun melonjak 50 I

Jadi wirausaha, menurut Rosihan, merupakan pilihan, bukan sampingan. Konsisten dan fokus buat dia adalah harga mati. “Hidup dan mati seorang wirausaha ya di situ. Jika sudah begitu, dia akan struggle dari kondisi apa pun, bahkan paling buruk sekalipun. Selain itu, harus membuat target baru sehingga bisa terus berkembang. Jangan pernah merasa puas,” tegasnya berbagi kiat.

Setelah 11 tahun

Kisah Dewanto Purnomo, 40, lain lagi. Setelah beberapa kali pindah perusahaan, pada 18 September 2000, Dewanto diterima di sebuah badan usaha milik negara (BUMN) bidang jasa keuangan nonbank.

Saat anak pertamanya lahir, Dewanto terdesak untuk menghasilkan uang lebih banyak. “Lima hari sejak kelahiran, anak saya didiagnosis mengalami bocor jantung. Dia juga didiagnosis (menderita) attention deficit hyperactivity disorder, mirip autisme. Jadi butuh banyak biaya,” akunya

Karena itu. Dewanto memutuskan untuk membuka usaha sampingan. Pada 2005 ia bersama beberapa rekannya membuka usaha kuliner bakmi raos. Pendapatan Dewanto dari usaha tersebut mencapai 5-6 kali lipat gajinya sebagai pegawai. Lalu, ia bersama rekan-rekannya membentuk Master Franchise Bakmi Raos Grup.

Ia pun menambah usahanya dengan membuka depo susu segar dan menjalin kemitraan dengan Jimbo

Laundry House untuk membuka usaha laundry kiloan.

Di awal 2011, Dewanto menjual seluruh bisnis depo susu segar -dan laundry kiloannva, sedangkan usaha bakmi diserahkan kepada adikm.i yang memiliki usaha katering rumahan.

Saat itu. Dewanto melihat peluang baru, yaitu penjualan boneka. Tahun 2007 saya menemukan pabrik boneka di Bekasi. Di pabrik itu ada tulisan yang kurang lebih berkata, selama wanita bisa melahirkan, peluang bisnis boneka selalu ada,” ucap Dewanto sambil tersenyum.

Ia juga berjualan lewat toko daring. Order membanjirnya. “Omzetnya mencapai puluhan juta,” katanya singkat. Permintaan datang dari berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, Jakarta, Bali, dan Sulawesi.

Boneka yang dia juol lewat beberapa laman seperti umno.boneka-lucu.com, www.bonekobesbr.com, www. bom-kabear.com, umno.bonekaonline. com, dan www.bonelcBangtybird.coni bisa dibeli satuan. Untuk memasok kebutuhan konsumennya. Dewanto bekerja sama dengan 12 pemasok dan 125 industri rumahan yang memproduksi boneka.

Pada 2011, setelah 11 tahun bekerja sebagai karyawan, Dewanto akhirnya memutuskan untuk meninggalkan jabatannya di BUMN. “Penyebabnya adalah karena absensi saya banyak yang bolong. Terutama absensi pagi, siksaan pertama kalau berangkat pagi ke kantor. Begitu telat pasti merasa bersalah,” ucapnya.

Bisnis Tetap Segar dari Produksi Kotak Pendingin

Usaha kuliner yang makin bergairah, mendatangkan berkah bagi produsen kotak pendingin atau cooler box. Maklum, banyak pengusaha kuliner membutuhkan kotak ini, baik untuk menyimpan maupun membawa bahan makanan, supaya tetap segar. Produsen cooler box pun bisa menuai omzet hingga puluhan juta per bulan.

Beragam usaha, mulai dari penjual minuman di pinggir jalan hingga usaha penangkapan ikan di laut lepas, membutuhkan cooler box atau kotak pendi-ngin. Bila penjual minuman ingin minuman botolnya tetap dingin. Sedangkan bagi nelayan, cooler box membantu mereka agar ikan tidak cepat membusuk.

Makin ramainya permintaan cooler bar pun menarik perhatian PT Aneka Unggul Polindo untuk terjun pada usaha ini enam tahun lalu. “Awalnya, kami mulai memproduksi cooler box karena memang ada pesanan,” ujar Linda Simon, Manager Pemasaran PT Aneka Unggul Polindo. Sampai saat ini, mereka hanya membuat cooler box ketika ada pesanan. Perusahaan yang berdiisejak 1986 di Jakarta ini merupakan produsen berbagai produk berbahan fiber glass.

Linda pun menerima pesanan kotak pendingin sesuai permintaan konsumen. “Kami bisa membuat cooler box custom,” jelasnya Konsumen linda kebanyakan adalah perusahaan perikanan.

Aneka Unggul menerima pesanan mulai ukuran terkecil, yakni 300 liter, hingga ukuran terbesar 3 m3. Banderol harga kotak pendigin itu berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 10 juta per unit. “Harga produk kami memang lebih tinggi karena bahan baku lebih berkualitas,” klaim linda

Dalam sebulan, Aneka Unggul bisa mendapat pesanan pembuatan cooler box ini antara 10 hingga 20 kotak pendingin. Dengan hanya menjual cooler boc saja. Aneka Unggul bisa menyumbang omzet ke perusahaan sekitar Rp 50 juta

per bulan.linda bilang, dari bisnis ini, pengusaha bisa mengantoni margin 20% dari omzet. Namun, perolehan keuntungan ini juga bergantung dari harga jiger glass yang sangat fluktuatif. “Hargafiberglass selalu mengikuti perkembangan harga minyak bumi,” jelasnya

Meski persaingan mulai ketat, linda yakin prospek usaha pembuatan cooler box di perusahaanya masih cerah. Apalagi, ia melihat banyak pesaingnya menjual kotak pendingin berbahan plastik..

Manisnya berbisnis kotak pendingin juga dirasakan oleh Leonard Yuwono. Meski hanya menjual, pemilik Toko Aquaria ini mampu menikmati keuntungan maksimal setelah permintaan cooler box meningkat pesat dalam dua tahun terakhir.

Sama seperti linda, Leonard juga menawarkan kotak pendingin padapengusaha perikanan. Tapi, ia juga menjualnya kepada pemilik supermarket

Di Aquaria, tersedia juga cooler box yang terbuat dari bahan plastik (polyuretha-ne). Meski dari plastik, kotak pendingin itu bisa mempertahankan suku udara di dalamnya hingga 48 jam. Leonard menjamin, tak ada pengembunan pada bagian cooler box yand dijualnya

Ia menjual cooler box mulai dari ukuran 100 liter, seharga Rp 940.000, hingga ukuran terbesar 600 liter dengan harga Rp 5,4 juta. “Kami bisa mengumpulkan omzet hingga puluhan juta dari penjualan cooler box saja,” ujarnya Mewarisi usaha ayahnya, selain cooler box, leonard juga menjual produk plastik lain di tokonya

Ia mendapat pasokan produk kotak endingin dari Medan, Sumatra Utara. “Barang kami adalah produk lokal,” ujar Leonard.

Boneka Kartun Populer Jadi Tambang Uang

Untuk menggaet pelanggan, perajin boneka di Dusun Kampung Baru, Cikampek, Karawang, rajin mengikuti film kartun yang lagi populer, seperti Shaun The Sheep. Belakangan permintaan, boneka ini membanjir hingga perajin menolak pesanan.

Supaya penjualan boneka bisa laris manis, perajin boneka di Dusun Kampung Baru, Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, selalu membuat boneka dengan karakter tokoh kartun yang sedang populer.

Di antara karakter tokoh kartun populer itu adalah spongebob, teddy bear atau jm icky mouse. Tapi baru-baru ini perajin juga memproduksi karakter tokoh kartun shaun the Sheep, yang belakangan sedang naik daun. Asal tahu, tokoh Stiaun the Sheep merupakan aktor kartun dari seri animasi produksi CBBC Inggris yang tayang di televisi swasta Indonesia Film kartun Shaun The Sheep bercerita tentang kehidupan sekelompok domba di peternakan.

Karena menarik, penggemar film Shaun Vie Sheep itu turut menggemari boneka. Tidak hanya anak-anak tapi juga kalangan remaja “Dalam sehari saya bisa menjual 150 potong boneka Shaun The Sheep,” kata Wasno, pedagang boneka di sentra tersebut.

Demikian juga dengan Faishal, pedagang sekaligus perajin boneka, juga kebanjiran pesanan boneka Shonn The Slieep. Bahkan, lantaran permintaan terlalu banyak Faishal pernah menolak pesanan pelanggan. “Produksi saya terbatas, dan sayahanya bisa layani 900 buah per pekan,” ungkap Faishal.

Boneka Shaun Vie Sheep bikinan Faishal atau Wasno itu dijual dengan harga beragam. Untuk boneka ukuran kecil dijual mulai Rp 17.000 sampai Rp 19.000 per buah. Untuk boneka yang agak lebih besar dijual mulai Rp 27.000 sampai Rp 50.000 per buah.

Walaupun pesanan membanjir, perajin boneka mengaku tak mau memproduksi terlalu banyak. Sebab tren pasar boneka seringkali bersifat musiman, paling lama hanya selama tiga sampai lima bulan saja “Setelah musimnya habis, pesanan boneka itu akan sepilagi,” terang Wasno.

Wasno memberi contoh, tren pesanan boneka tokoh kartun Upin dan Ipiri yang naik daun tahun lalu. Kenaikan pesanan boneka tokoh kartun dari Negeri Jiran itu hanya lima bulan, “Bahkan sekarang kami sudah tidak memproduksi lagi,” ucap Wasno.

Tapi tidak seluruh boneka ramai sesaat saja Ada boneka tokoh kartun yang tak kenal musim seperti boneka spongebob dan boneka teddy bear. “Boneka ini selalu ada peminatnya,” terang Wasno.

Untuk boneka teddy bear ukuran manusia dewasa dyual mulai Rp 60.000 sampai Rp 80.000 per boneka Selain kedua tokoh kartun populer itu, penjualan boneka satwa juga tidak mengenal musim. Seperti boneka berbentuk singa, jerapah, kura-kura sapi, dan lumba-lumba

Dalam sebulan Wasno menjual ribuan boneka beragam karakter. Selain produksi sendiri, Wasno juga menjual boneka buatan perajin lain. “Setiap pelanggan saya belanja minimal Rp 10 juta, karena kebanyakan mereka adalah pedagang,”. kata Wasno.

Dari berjualan boneka itu, saban bulan Wasno mampu meraih omzet hingga Rp 500 juta Sedangkan omzet Faishal lebih besar lagi. “Rp 800 jutaan sebulan,” ujar Faishal, sumringah.