Ide Bisnis | Usaha Franchise Brownies Martabak

Brownies Martabak menawarkan waralaba / waralaba / peluang bisnis di Indonesia di Industri Makanan, terutama di Produk Brownies Martabak. Brownies Martabak Martabak tidak, tapi Brownies diproses dan disajikan dalam gaya Martabak. Brownies dan martabak sekarang dapat dikombinasikan menjadi makanan lezat.
Kombinasi dari dua produk yang terbukti populer, Brownies dan Martabak, sekarang Anda dapat menikmati gigitan penuh kelezatan. Terbuat dari kedua coklat gelap dan senyawa putih dalam kenikmatan tambahan chocoa bubuk membuat brownies rasa begitu kental. Dengan teknik memasak dan gaya presentasi membuat tekstur baru dengan rasa yang begitu unik.

Sekarang Anda dapat menikmati lezat ala Brownies Martabak dengan berbagai rasa, termasuk Coklat Keju, Keju Pandan sukade, Chocolate Roseberry, sukade Jeruk Kismis, Coklat Kacang Kismis dan sukade Kiwi.
Brownies Martabak membuka kesempatan bagi siapapun yang tertarik untuk mengambil peluang usaha dari jaringan pemasaran dan distribusi produk dalam konsep Kemitraan Martabak Brownies dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
Persyaratan:
– Perorangan / Perusahaan
– Mengisi permintaan aplikasi untuk menjadi Mitra Bisnis Brownies Martabak
– Mampu menjalankan sistem dan SOP (Standard Operational Procedure)
– Memiliki integritas dan komitmen
– Bersedia membayar biaya untuk manajemen kemitraan
– Memahami manfaat dan risiko menjalankan konsep bisnis
– Mempersiapkan karyawan untuk pelatihan dalam produksi, presentasi, penjualan dan administrasi
– Mengusulkan lokasi bisnis untuk membuka Brownies Martabak stopkontak
– Bersedia untuk memahami dan menandatangani MOU isi
Syarat:
– DP pembayaran 50% dari harga paket bisnis, waktu pemesanan dan pembayaran yang dilakukan setelah paket diterima
– Paket Bisnis dikirim selama 1 bulan setelah pembayaran DP
– Biaya pelatihan di luar Jakarta (akomodasi dan transportasi) pada tanggung jawab oleh mitra
– Biaya survei di luar Jabodetabek adalah mitra tanggung jawab
– CV. Poetri Khanzanne Fortuna sebagai manajer, berhak untuk secara sepihak mengakhiri hubungan kerja jika kesepakatan mitra melanggar aturan kerja
– Berlaku selama 3 tahun Kemitraan

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com

Ide Bisnis | Peluang Usaha Terbaru Hoka Hoka Lele

Ikan Lele merupakan ikan konsumsi masyarakat Indonesia, dan sudah dibudiyakan secara nasional. Namun demikian, Bagi sebagian masyarakat kurang tertarik dengan tampilan lele secara utuh. Menciptakan “Hoka – Hoka Lele” menjadi suatu peluang usaha terbarumerupakan salah satu cara pengembangan ikan ide kreatif dalam berwirausaha.
Inovasi Usaha Hoka – Hoka Lele adalah bentuk Inovasi penyajian produk olahan ikan lele. Usaha ini merupakan kegiatan  untuk memperkenalkan makanan sehat dan bergizi tinggi bagi masyarakat. Penjualan “
Hoka – Hoka Lele” disajikan dalam bentuk paket dan mini poket. Penyajian paket hoka terdiri dari lima paket yaitu :

paket 1 : nasi – ekado – salad – sup –bakso
paket 2 : kentang atau nasi, rollade – sala
paket 3: nasi – rolade – ekado – salad
paket 4 : mie ikan – bakso (goreng/rebus)
paket 5 : nasi – rolade – ekado – bakso goreng.
Tujuannya adalah meningkatkan minat untuk mengkonsumsi lele, memanfaatkan lele yang persediaannya banyak di Indonesia menjadikan prodak olahan lele modern sebagai sebuah hidangan bergizi dan lezat, serta menciptakan variasi produk olahan lele dengan harga yang terjangkau.
Bentuk inovasinya
Bahan yang dibutuhkan adalah fillet ikan lele, tepung terigu, tepung tapioka, garam, bawang Bombay,bawang putih, merica, telur, garam, daun kucai, kulit pangsit, kecap manis, kecap asin, mayones, minyak wijen serta sayur untuk salad. Fillet lele dicampur dengan tepung terigu dan tapioka, plus berbagai bumbu dibuat bakso lele.
Pembuatan sama seperti bakso lainnya, hanya ini menggunakan bahan baku lele. Begitu juga untuk pemuatan ekado lele yang bentuknyaseperti pangsit Untuk makanan mie ikan, ikan lele dicincang, diberi bumbu dan digoreng. Pemuatan rolade lele, sama dengan rolade lain yang dibungkus dengan daun pisang.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com

Cak Eko, Bos Waralaba Bakso Malang

PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 September 2011 15:07
Bagi Anda pecinta kuliner, Anda pasti kenal betul dengan menu bakso malang. Kini, Anda pun bisa menjadi seorang pebisnis yang sukses. Seperti yang dialami oleh Henky Eko Sriyantono, seorang entrepreneur yang kini menjadi bos usaha waralaba bakso malang dengan merek Bakso Malang Kota Cak Eko, dan telah memiliki 150 cabang di seluruh wilayah Indonesia.

Henky_Eko_0911Sebelum menggeluti bisnis bakso malang, Eko memang mengaku tertantang untuk menjadi seorang pengusaha. Namun usahanya dalam mengembangkan bisnis tidaklah terbilang mudah. Mengaku tak patah arang, Ekopun kemudian membidik bisnis bakso malang, setelah melihat potensi bisnisnya yang potensial. “Yang menginspirasi saya adalah 10 kali kegagalan sebelumnya dalam usaha yang pernah saya alami. Dan saya mempunyai keyakinan yang kuat bahwa kesuksesan tinggal selangkah lagi. Tahun 2005 saya ketemu ide untuk buka bakso. Ide inipun muncul disaat tidak sengaja saat saya mengantar saudara di bandara Soekarno-Hatta. Saat itu pandangan mata saya tertuju pada gerai bakso malang yang jual dibandara dengan sewa begitu mahalnya namun bisa bertahan,” ujar Eko kepada Ciputraentrepreneurship.com saat menceritakan awal bisnisnya.

Usahanya ini memang awalnya dibuka di pinggir jalan di Jatiwarna, Bekasi pada Maret pada 2005. Seiring usaha yang laris manis, Bakso Malang Kota Cak Eko pun akhirnya sanggup menyewa sebuah outlet di Tamini Square pada 2006. Saking larisnya usaha si bundar ini, banyak konsumen yang tertarik untuk bekerjasama. Akhirnya jadilah usaha ini dikembangkan melalui sistem waralaba. Semenjak memulai usaha, dalam waktu 6 bulan saya bisa membuka cabang kedua dan ketiga. Saat sudah punya 3 cabang itulah saya mempunyai keinginan kuat melebarkan jaringan dengan pola waralaba,” kenang Eko.

Selain menjual rasa yang nikmat, Eko juga menjadikan media massa sebagai senjata yang ampuh untuk mempromosikan prodaknya secara gratis. Usahanyapun tak sia-sia. Bakso malangnya pun makin mendapatkan banyak penggemar. “Saya mencoba berbagai cara bagaimana usaha saya ini bisa diliput media tanpa biaya sehingga masyarakat bisa dengan cepat mengenal secara luas. Akhirnya, pada Oktober 2006 usaha saya diliput di tiga media sekaligus dengan gratis. Dari liputan tersebut akhirnya banyak permintaan masyarakat untuk bergabung menjadi mitra,” ungkapnya.

Peluang yang ditawarkan oleh Bakso Malang Kota Cak Eko pun cukup menggiurkan. Dengan menawrkan 3 paket kerjasama dengan mitranya, yaitu bernilai sebesar Rp 60 sampai 120 juta, dan dengan masa kerja sama 5 tahun, Bakso Malang Kota Cak Eko berani menjanjikan keuntungan bersih per bulannya sebesar Rp 10 juta.

Sebagai seorang entrepreneur, pencapaian Henky Eko Sriyantono melalui produknya juga telah mendapatkan pengakuan di kalangan wirausahawan. Beragam penghargaanpun pernah diraihnya, antara lain Indonesia franchise Start-up” tahun 2009, penghargaan sebagai bisnis franchise berprospek terbaik tahun 2008 dari Asosialsi Franchise Indonesia dan pemenang Wirausaha Muda Mandiri tahun 2008 dari Bank Mandiri.

Salah satu ambisi Eko ke depannya, adalah mampu membawa bakso malangnya go internasional. Ia merasa ambisi itu bukanlah sebatas mimpi di siang bolong, karena prudak bakso sebenarnya sudah sangat dikenal di luar negeri. Baginya, kesempatan untuk bisa go internasional akan selalu terbuka selama ada kemauan untuk terus meluaskan jaringan atau networking, dan terus terbuka terhadap inovasi baru.

Bagi sang bos bakso malang, kunci kesuksesan seorang epreneur adalah semangat untuk terus mencoba. Tidak ada jalan pintas untuk bisa sukses di bisnis entrepreneurship. Semangat untuk meraih sebuah mimpi harus terus dijaga dan diperjuangkan dengan kerja keras, kesbaran, dan sambil terus berinovasi. Terlebih bagi anak muda yang tertarik untuk memulai usaha. “Dunia kewirausahaan saat ini cukup menggairahkan dan menggembirakan karena makin banyak anak muda yang tertarik menjadi seorang entrepreneur, hal ini tentunya mesti didorong semaksimal mungkin oleh pemerintah agar bisa tumbuh dan berkembang,” ungkap Eko. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10956-cak-eko-bos-waralaba-bakso-malang.html

Jeli menimbang cita rasa laba dari toko kue

PELUANG USAHA

 
Senin, 08 Agustus 2011 | 12:45  oleh Ragil Nugroho
TAWARAN KEMITRAAN KULINER TOKO KUE
Jeli menimbang cita rasa laba dari toko kue
 

Takadeli Cake Boutique adalah salah satu pemain lama di bisnis kue. Berdiri pada 2003 lalu di Batam, Kepulauan Riau, Takadeli menawarkan produk kue berbagai rasa.

Walau berdiri sejak tahun 2003, Takadeli baru menawarkan konsep waralaba pada awal tahun 2010 silam. Hendarsyah, Business Manager Takadeli, menawarkan berbagai keunggulan bisnis bagi investor yang berminat.

Takadeli mengklaim memiliki resep kue yang oke dan menawarkan banyak varian produk dengan tekstur lembut. Karena itu, walau belum setahun menawarkan waralaba, sekarang sudah ada tiga terwaralaba yang bergabung. Mereka itu tersebar di Pekanbaru, Tanjung Pinang, hingga Ambon.

Selain para terwaralaba tersebut, Takadeli juga memiliki enam cabang, empat cabang di Batam dan dua cabang di Jakarta. “Kantor pusat yang baru di Menteng, Jakarta Pusat,” kata Hendarsyah.

Takadeli menjual berbagai produk kue dengan bermacam-macam kategori. Ada kue ulang tahun atau birthday cake dengan 24 rasa, 3D cake, mini cake, dan seasonal cake untuk perayaan Idul Fitri, Natal, Valentine Day, Imlek, dan lain-lain. Selain itu, Takadeli juga membuat wedding cake, cup cake, full moon, dan pastisseries.

Dengan harga Rp 125.000 hingga Rp 5 juta per paket kue, Hendarsyah mengatakan, tokonya juga melayani dekorasi dan permintaan kue sesuai dengan keinginan konsumen.

Jika Anda berminat mencicipi laba bisnis kue yang ditawarkan Takadeli, Anda harus menyediakan investasi awal sebesar Rp 146 juta. Nilai investasi itu belum termasuk biaya sewa tempat dan perlengkapan gerai.

Selain mendapatkan hak penggunaan nama selama lima tahun, terwaralaba nantinya juga akan mendapat pasokan kue dan cake bentuk jadi setiap hari dari pusat. “Itu untuk menjamin kualitas dan standar Takadeli,” ujar Hendarsyah.

Selain investasi awal, terwaralaba juga harus menyediakan tempat usaha seluas 20 m²-30 m². Lokasi usaha ini harus berada di pusat keramaian sehingga mampu menarik pembeli.

Setelah beroperasi, nantinya terwaralaba akan mendapatkan pembagian keuntungan 30% dari omzet, sedangkan Takadeli pusat akan mendapat pembagian keuntungan 70% per bulan dari omzet. Dengan target penjualan Rp 4 juta per hari, Hendarsyah memperkirakan waktu balik modal sekitar 24 bulan.

Walau persaingan bisnis kue cukup ketat, namun dia yakin tawaran usahanya berprospek cerah. Apalagi, selain terus mempertahankan kualitas, Takadeli juga terus berinovasi. “Inovasi sangat penting untuk mengatasi kejenuhan konsumen,” tegasnya.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, mengakui bahwa bisnis kue masih sangat menjanjikan.

Takedeli memiliki segmen terbatas karena menawarkan produk kue dan cake dengan harga tinggi. Untuk itu, calon terwaralaba harus benar-benar memilih lokasi yang tepat, sesuai dengan segmen pasar menengah ke atas. “Harus punya relasi yang kuat dengan konsumen,” kata Amir.

Tanpa lokasi dan relasi atau hanya mengandalkan penjualan langsung, Amir khawatir target Rp 4 juta per hari susah tercapai. Paket waralaba yang ditawarkan Takadeli juga kurang lama hanya lima tahun, padahal seharusnya minimal 10 tahun.

Takadeli Cake Boutique
Jl. Johar No. 34 Menteng
Jakarta Pusat
Telp: 021-2303366

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74870/Jeli-menimbang-cita-rasa-laba-dari-toko-kue

INSPIRASI DONI TIRTANA

PELUANG USAHA 

 
Kamis, 04 Agustus 2011 | 12:30  oleh Handoyo
INSPIRASI DONI TIRTANA
Doni belajar jadi pengusaha sejak masih kuliah (1)
 

Sejak muda, Doni Tirtana terbiasa mencari uang sendiri. Saat menjadi mahasiswa, ia sudah menyambi bekerja. Kini, pria asal Malang ini sukses membangun perusahaan penyedia perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia. Berkat tangan dinginnya, Doni mampu meraup omzet Rp 600 juta per bulan.

Jeli dalam melihat dan menangkap peluang. Itulah kunci sukses Doni Tirtana. Berawal dari bisnis iseng, pemilik Lorco Menara Multimedia ini kini mampu menggaji 50 karyawan.

Bukan bisnis restoran atau waralaba yang sudah jamak dijumpai, usaha yang digeluti Doni ini berkait dengan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Tak tanggung-tanggung, dalam sebulan Doni bisa menangguk omzet Rp 600 juta.

Lorco merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa dan produksi media cetak (desain grafis), audio, dan produksi video. Lorco memfokuskan diri pada pengembangan aplikasi yang mendukung kampanye kesehatan dan keselamatan kerja, penghematan energi, peningkatan mutu, dan kualitas karyawan, dengan memanfaatkan teknologi multimedia yang terbaru.

Boleh dibilang, bidang bisnis Lorco ini adalah lini baru. Bahkan, latar belakang pendidikan Doni pun tak mendukung bisnis yang digelutinya saat ini. Pria 31 tahun ini mengambil pendidikan di Jurusan Teknik Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Meski memilih jurusan teknik fisika, Doni memiliki ketertarikan dengan dunia grafis dan fotografi. Karena alasan itu, ia aktif dalam kegiatan liga film di almamaternya.

Berbekal hobi fotografi dan desain grafis itulah, Doni memutuskan bekerja sembari kuliah. Maklum, ia harus menanggung hidupnya sendiri di Bandung, lantaran orang tuanya jauh berada di Malang. “Kiriman uang dari orang tua sering terlambat, saya harus pintar memutar otak agar bisa bertahan,” tutur Doni yang menghabiskan masa kecilnya di kota apel ini.

Lantas, Doni pun sering jadi fotografer pernikahan. “Setiap ada momen pernikahan, saya ikut jadi fotografernya,” kenang Doni.

Ia juga tak melewatkan peristiwa-peristiwa penting, seperti acara wisuda. Doni bilang, ketika itu ia hanya berbekal kamera analog untuk menawarkan jasa foto saat prosesi wisuda. “Hasilnya lumayan, karena ITB menyelenggarakan tiga kali wisuda setiap tahun,” kata Doni. Walaupun enggan menyebutkan fulus hasil jepretannya, Doni bilang, hasilnya cukup untuk menambah uang saku.

Selain dari dunia fotografi, Doni juga menggantungkan pendapatan lainnya sebagai operator pemutar film. “Waktu itu kalau mau menonton video masih menggunakan film rol yang besar,” jelas Doni.

Selain untuk menyalurkan hobi, Doni memilih pekerjaan sampingan di dunia multimedia karena dalam penilaiannya, tren dunia multimedia cepat berkembang. Karena itu, Doni pun memutuskan terjun ke bisnis karena bisa lebih mudah memutarkan uang dari bidang ini. Apalagi kalau dia harus dengan bergantung dari ilmu fisika yang dia tekuni.

Setelah lima tahun menuntut ilmu di ITB, pada tahun 2003, Doni berhasil merampungkan kuliahnya. Namun, ia tak berniat pulang ke kampung halamannya di Malang. “Saya memutuskan tetap tinggal di Bandung,” ujarnya.

Setamat kuliah, orang tua Doni pun tak memberikan dukungan finansial lagi. Ia harus mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Saya melakukan pekerjaan apa saja asal bisa hidup,” tutur Doni.

Tanpa meninggalkan dunia fotografi, ia juga menjajal usaha pembuatan compact disk (CD) interaktif. Awalnya, CD interaktif itu memuat profil komunitas. Lantas, ia pun mengembangkannya hingga pembuatan video profil perusahaan.

Dari pembuatan video company profile itulah, Dony bertemu banyak relasi. Hingga akhirnya, pada tahun 2007, salah satu relasi Doni memintanya untuk membuat video mengenai safety induction (video pengantar keselamatan) untuk Unilever. “Padahal, saya sendiri tidak paham dengan safety induction,” ungkap Doni.

Namun, karena sudah telanjur basah, Doni pun menyanggupi permintaan itu. Tanpa disangka, ia justru mendapat pujian dari pihak Unilever. Semangat Doni kian membara untuk menekuni bisnis baru tersebut. Sejak saat itulah, Doni lebih fokus pada jasa safety campaign design ini yang masih jarang pemainnya di Indonesia.

 
Jumat, 05 Agustus 2011 | 14:58  oleh Handoyo
INSPIRASI DONI TIRTANA
Doni awali bisnis dengan sepeda motor buntut (2)
 

Doni Tirtana mengaku mendapat ide menjadi wirausaha berawal setelah membaca sebuah buku. Namun ia sempat gagal membuka usaha fotografer keliling. Namun begitu ia berhasil membuat buku digital tentang kampus dalam format cakram optik (CD), hasil produksinya itu laris dibeli wisudawan senilai Rp 35.000 per keping.

Buku adalah jendela dunia. Tamsil inilah yang berhasil dibuktikan Doni Tirtana. Pria asal Malang ini sukses membuka usaha bernama Lorco Menara Multimedia di Bandung, Jawa Barat.

Usai membaca buku karya Fadel Muhammad berjudul Saya Pilih Jadi Pengusaha, Doni kemudian bertekad ingin menjadi pengusaha juga. Lewat buku itu pula Doni mengaku belajar menjadi wirausaha.

Hanya selang beberapa bulan setelah lulus kuliah, Doni menyampaikan keinginan menjadi pengusaha kepada kepada orang tuanya yang menetap di Malang.

Sayang, keinginan Doni bertepuk sebelah tangan lantaran sang orang tua menolak mentah-mentah keinginannya itu. Maklum, kedua orang tua Doni adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang juga ingin anaknya mengikuti jejaknya. “Orang tua tidak rela saya berwirausaha, dan berharap saya bisa menjadi PNS,” kata Doni.

Memang, tidak ada orang tua yang tak sayang anaknya. Meski orang tua Doni keberatan menjadi pengusaha, mereka tetap mau memberi modal berupa sepeda motor untuk Doni. “Karena sayang, mereka tetap memberi modal,” jelas Doni.

Keinginan Doni menjadi pengusaha sempat menjadi bahan pikiran kedua orang tuanya. Bahkan, kedua orang tua Doni sempat jatuh sakit, menerima kenyataan Doni menjadi wirausaha.

Namun, tekad Doni sudah bulat. Dia pun kembali ke Bandung untuk mengejar mimpinya sebagai pengusaha itu. Tapi tekad saja tidak cukup, karena ternyata Doni belum memiliki gambaran usaha secara detail. “Saat itu saya bingung mengerjakan apa,” kata Doni.

Hingga akhirnya Doni berpikir untuk unjuk kemampuan di bidang fotografi dengan bekerja sebagai fotografer keliling. Namun, siapa sangka, karya amatiran Doni justru mendapat banyak apresiasi. Teman-teman Doni memuji hasil jepretan Doni sebagai karya menarik karena sukses menampilkan peristiwa-peristiwa penting saat pernikahan atau wisuda.

Namun persaingan bisnis di dunia fotografi kian ramai. Ketatnya persaingan ini membuat Doni memilih hengkang dari profesi fotografer pernikahan dan wisuda.

Namun begitu, Doni tidak patah semangat. Ia masih bertekad untuk menjajal keberuntungan lain. “Malu gagal, karena pamit ingin menjadi pengusaha,” terang Doni.

Setahun setelah tamat kuliah, Doni memutuskan membuat buku digital tentang kampusnya. Buku digital itu berbentuk informasi tentang kampus dan juga mahasiswa yang disimpan ke dalam cakram optik (CD). “Nama produknya itu CD interaktif,” kata Doni.

CD interaktif itu mirip dengan buku katalog kampus yang dijual kepada mahasiswa terutama yang akan diwisuda. Tak sulit bagi Doni membuat CD interaktif itu, apalagi Doni sudah menguasai fotografi dan aplikasi program komputer. “Tampilan CD itu lebih nyaman untuk ditonton ketimbang buku,” kata Doni.

Karena produk CD interaktif karya Doni itu terbilang baru, banyak mahasiswa yang akan menjadi wisudawan tertarik dan membeli. Alhasil, pemesan CD interaktif itu datang dari fakultas lainnya di seluruh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Untuk setiap keping CD interaktif itu, Doni menjualnya seharga Rp 35.000 per keping. Adapun modal yang dibutuhkan untuk membuat satu keping CD itu hanya Rp 5.000 per keping. Jika setiap fakultas ada 100 orang pembeli, omzetnya bisa mencapai Rp 3,5 juta per hari, saat wisuda terjadi.

Selain menawarkan kepada mahasiswa ITB, Doni juga menjelajah ke berbagai instansi seperti sekolah-sekolah, dan juga berbagai komunitas untuk menawarkan produknya. “Pernah saya menawarkan sampai ke Subang dengan menggunakan sepeda motor pemberian orang tua ini,” ujar Doni tertawa.

Hanya dalam setahun, Doni bisa menggandeng 10-12 mitra yang membantunya menjual CD interaktif. Lewat mitra juga Doni mendapatkan pelanggan baru.

Namun, setelah Doni melakukan evaluasi, ternyata proses pembuatan CD itu membutuhkan banyak tenaga kerja dan juga pikiran. “Meskipun bisnisnya mengasyikkan, tapi capek,” ungkap Doni. 

 
Senin, 08 Agustus 2011 | 14:12  oleh Handoyo
INSPIRASI DONI TIRTANA
Doni: Bersedekah jadi kunci sukses usaha (3)
 

Setelah mencoba berbagai jenis usaha, Doni Tirtana akhirnya mantap jadi produsen alat keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Untuk mencari pembeli, Doni berjualan di milis Club K3 sekaligus menimba ilmu. Produk Doni pun laris manis dan mencatat omzet Rp 600 juta per bulan. Kini 60% pelanggan Doni adalah perusahaan asing.

Bosan menggeluti bisnis fotografi lantaran mulai banyak pesaing, Doni Tirtana beralih membuat cakram optik (CD) yang berisi informasi atau katalog tentang kampus.

Tangan Doni memang dingin. CD interaktif itu juga laris manis. Dia pun mengembangkan usahanya dengan membuat CD interaktif untuk sekolah dan komunitas tertentu. Semakin dikenalnya produk CD interaktif buatan Doni, membuat pria asal Malang ini makin dikenal piawai menyusun informasi untuk dikemas dalam bentuk CD.

Hingga suatu saat, Doni mendapat tawaran membuat company profile perusahaan milik orang tua seorang temannya. Tidak perlu berpikir dua kali, Doni menyanggupi tawaran itu dan langsung memproduksinya. Kurang lebih selama setahun, Doni mengerjakan CD company profile perdananya itu.

Begitu company profile yang pertama kelar, “Ada empat perusahaan lain yang menjadi klien saya,” kata Doni. Dari setiap perusahaan, Doni mendapat imbal jasa sebesar Rp 20 juta.

Tapi, lagi-lagi, saat pesanan CD company profile lagi ramai, Doni justru memutuskan meninggalkan bisnis ini. “Produsen company profile sudah banyak, saya mesti cari usaha lain” kata Doni.

Beruntung bagi Doni, order kembali datang. Dia mendapat pesanan untuk membuat video safety induction yang berkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari sebuah perusahaan swasta. Doni pun mengerjakan pesanan itu dengan baik sehingga si pemesan terkesan dengan produk K3 tersebut.

Dari si pemesan itulah kemudian Doni tahu bahwa ada “kekosongan” di bisnis perlengkapan K3. Si pemesan yang kebetulan senior Doni di kampus ITB itu menyarankan Doni untuk terjun di bisnis K3 ini.

Namun, untuk memulai bisnis perlengkapan K3 ternyata tidak mudah, Doni mesti belajar banyak tentang K3. “Bagi saya itu bukan masalah, karena masih bisa dipelajari,” jelas Doni.

Setelah belajar tentang K3, Doni kemudian bergabung dengan milis Club K3, milis yang beranggotakan pekerja bagian K3 atau HSE (health, safety, environment) di perusahaan dan instansi tertentu. “Sejak bergabung di milis itu saya mengerti tentang K3,” terang Doni.

Gayung pun bersambut, setelah paham dunia K3, Doni lantas menawarkan produk kepada penghuni milis berupa poster yang memuat informasi tentang keselamatan kerja. “Pertama saya hanya bikin empat sampai lima poster saja,” hitung Doni.

Karena banyak peminat, Doni menambah produksi. Doni bilang, untuk membuat poster mesti mengetahui informasi dan prosedur K3. Tak hanya itu, poster K3 juga memiliki persyaratan warna, dan font standar. “Ada standar baku yang mesti dipatuhi,” terang Doni.

Cukup lumayan keuntungan yang diraih Doni dalam membuat poster K3 itu. Dengan biaya produksi hanya Rp 25.000 per poster, tahun 2007 Doni bisa menjual seharga Rp 125.000 per poster.

Poster informasi K3 milik Doni terdiri dari poster jenis template dan costume. Untuk poster template dijual Rp 140.000 per poster. “Poster jenis costume dijual lebih mahal Rp 2,5 juta per poster,” kata Doni.

Seiring waktu, bisnis Doni kian berkembang. Sekarang ini, Doni memiliki tiga divisi kerja yakni divisi safety sign, divisi desain, dan multimedia. Produknya antara lain safety poster, safety booklet, safety animation, safety sticker serta video safety induction. “Produk ini merupakan media informasi tentang K3,” terang Doni.

Kini, pelanggan Doni tidak hanya perusahaan domestik saja. Justru pelanggan Doni, 60% adalah perusahaan asing. “Kebanyakan klien kami dari perusahaan minyak dan gas,” ungkap Doni.

Doni menghitung, hingga kini setidaknya sekitar 40 perusahaan yang dia tangani dengan omzet hingga Rp 600 juta per bulan. Doni bilang, untuk mencapai sukses mesti mau bermimpi, kerja keras, disiplin, dan jangan lupa bersedekah. “Antara pekerjaan dan ibadah harus seimbang,” kata Doni.

Kini, Doni menyisihkan 10% dari laba perusahaannya untuk kegiatan amal. “Sedekah itu membuat bisnis saya menjadi lebih lancar,” terang Doni.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312435802/74616/Doni-belajar-jadi-pengusaha-sejak-masih-kuliah-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312531097/74723/Doni-awali-bisnis-dengan-sepeda-motor-buntut-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74880/Doni-Bersedekah-jadi-kunci-sukses-usaha-3

Laba mengalir deras dari es cendol

PELUANG USAHA

 
Kamis, 04 Agustus 2011 | 12:19  oleh Bambang Rakhmanto
TAWARAN KEMITRAAN KULINER CENDOL
Laba mengalir deras dari es cendol
 

Selain kekayaan seni budaya, Indonesia juga kaya akan makanan dan minuman tradisional. Hampir di setiap daerah, pasti memiliki makanan atau minuman khas yang memiliki banyak penggemar.

Salah satu minuman khas yang sudah akrab dengan lidah masyarakat Indonesia adalah cendol. Minuman ini juga gampang ditemui di beberapa kota di Indonesia. Maklum, penggemar cendol datang dari berbagai kalangan mulai, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dengan latar belakang beragam.

Lantaran banyak orang yang menyukai minuman bersantan ini, Mee Mee pun memberanikan diri menawarkan kemitraan Cendol De Keraton. Namun, ia mencoba membedakan produknya dengan cendol yang ada, dengan menggunakan santan yang mengandung virgin coconut oil (VCO). .

Berdiri sejak tahun 2007 di Bogor, kini Mee Mee sudah menjaring 40 mitra. Tahun ini, ia pun akan menambah 14 mitra. Semua mitra itu masih tersebar di Pulau Jawa, seperti Cirebon, Bandung dan Jakarta.

Mee Mee menawarkan kemitraan ini mulai dari investasi Rp 3,5 juta hingga Rp 13,5 juta. Untuk nilai investasi Rp 3,5 juta, mitra akan mendapatkan fasilitas penjualan berupa pikulan. Sementara itu, dengan nilai investasi Rp 13,5 juta, mitra akan memperoleh booth lengkap dengan pikulan, beserta bahan baku senilai Rp 9 juta untuk 3.000 gelas.

Selain itu, Mee Mee juga memberikan bimbingan buat para calon investor seperti pemilihan lokasi berjualan hingga cara pembuatan minuman ini. “Tapi, yang terpenting adalah lokasi. Jadi, kami membantu mereka memilih lokasi yang tepat supaya menemukan kenyamanan dalam berusaha,” tuturnya.

De Keraton pun berkomitmen akan selalu memberi solusi bila mitra tak bisa memenuhi target seperti harapan. “Karena konsep saling menguntungkan, kami akan selalu membantu mitra bila menemui kendala,” ujar Mee Mee.

Ia pun memperkirakan mitra bisa menjual minimal 50 cup cendol dalam sehari. Ia membanderol harga cendol original antara Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per cup. Adapun cendol dengan durian berharga Rp 11.000.

Dengan penjualan sebanyak itu, menurut Mee Mee, mitra penjual cendol dapat mengantongi omzet Rp 16,5 juta per bulan. Dalam hitungannya, modal mitra akan kembali dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Selain De Keraton, Ice Cendol Idol yang bermarkas di Jakarta juga menawarkan kemitraan sejak tahun 2009. Sampai saat ini, Ice Cendol Idol telah memiliki 400 mitra yang tersebar ke seluruh Indonesia, bahkan hingga Papua.

Sapto, Manager Regional Ice Cendol Idol, menjelaskan bahwa cendol mereka merupakan produksi PT Cocomas Indonesia. “Pada awalnya, kami hanya memproduksi santan yang sudah terdapat kandungan gula merah di dalamnya, selanjutnya dikembangkan menjadi minuman cendol,” ucapnya.

Sapto mengatakan, investasi Ice Cendol Idol relatif murah. Dengan merogoh kocek Rp 2,5 juta, calon mitra sudah bisa berjualan cendol. “Meski harganya murah, bahan baku kami berkualitas. Nilai investasi yang murah juga sesuai dengan orang yang ingin mulai menjalankan usaha,” terangnya.

Ia pun menaksir, mitra bisa mendulang omzet Rp 10,5 juta per bulan. “Kami mengasumsikan penjualannya dalam sehari berkisar 50 cup dengan harga satu porsinya sebesar Rp 7.000,” tuturnya.

Meski penjual cendol sudah jamak ditemui, Sapto tetap optimistis bahwa tren ke depan akan terus meningkat karena makin banyak orang yang kembali mencintai makanan berbahan alami tanpa bahan pengawet.

Cendol De Keraton
Telp. (0251) 8360076
Ice Cendol Idol
HP. 081357854555

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74615/Laba-mengalir-deras-dari-es-cendol

TAWARAN KEMITRAAN KULINER MINUMAN BUBBLE

 
Rabu, 27 Juli 2011 | 13:30  oleh Handoyo, Bambang Rakhmanto
TAWARAN KEMITRAAN KULINER MINUMAN BUBBLE
Memburu kembali gelembung-gelembung laba minuman bubble

Bubble drink atau minuman bergelembung, menjadi menu baru yang banyak digemari kaum muda dan anak-anak. Naiknya pamor minuman tersebut membuat tawaran bisnis minuman dingin asal Taiwan ini semakin banyak. Walau persaingan semakin ketat, tawaran bisnis minuman bubble masih menggembirakan. Perkembangan usaha yang cukup bagus dirasakan oleh Frezz Bubble, Toper The Bubble, dan Super Bubble dengan jumlah mitra yang terus bertambah.

• Frezz Bubble

Frezz Bubble mulai menawarkan kemitraannya pada 2008 atau setahun setelah berdiri. Usaha minuman ini cukup berkembang dengan jumlah gerai dan mitra yang bertambah. Saat diulas KONTAN pada Desember 2009 lalu, Frezz Bubble yang berasal dari Banten ini hanya memiliki dua cabang plus belasan gerai milik mitra.

Namun saat ini, jumlah gerai Frezz Bubble sudah berbiak 30 mitra tersebar di Padang, Nias, dan beberapa kota di Kalimantan. “Dulu kita hanya fokus di wilayah Jabodetabek, sekarang sudah seluruh Indonesia,” kata Lisusanto, pemilik Frezz Bubble.

Keberhasilan Frezz Bubble ini tidak lepas dari keunggulan rasa yang disajikan. Agar lebih nikmat, ujar Lisusanto, dalam minuman bubble ditambahkan jeli konyaku atau agar-agar. Penambahan ini membuat bubble drink terasa empuk dan manis.

Karena itulah Lisusanto meminta mitra untuk membeli bahan baku minuman dari pusat. “Agar kualitas rasa terjaga,” katanya. Tak hanya membuat sendiri, Lisusanto juga harus mendatangkan bahan baku dari luar negeri.

Beberapa bahan yang harus diimpor antara lain, tepung aneka rasa, mulai rasa cokelat, teh hijau, teh susu, leci, vanila, cappuccino, dan karamel. Untuk mendapatkan bahan-bahan itu, mitra harus membeli seharga Rp 60.000 – Rp 65.000 per kg. Juga sirup tersedia dalam bentuk cair dan bubuk dengan 15 rasa. Baik sirup maupun bubuk dijual dengan harga sama, antara Rp 40.000-Rp 45.000 per kg.

Walau sudah berjalan sekitar dua tahun, paket kemitraan yang ditawarkan Frezz Bubble tidak berubah. Paket pertama, tipe bazar dengan nilai investasi Rp 12,5 juta. Paket kedua, berkonsep gerai dengan investasi Rp 25 juta. Selain itu, mitra harus membayar Rp 5 juta untuk hak penggunaan nama selama lima tahun.

Dengan nilai investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan perlengkapan usaha, antara lain, meja konter, neon box, blender, mesin cup sealer, selang plastik, hingga seragam karyawan. Termasuk juga bahan baku, seperti powder dan 10 jenis sirop dengan berat masing-masing 1 kg. “Untuk paket Rp 25 juta, mitra akan mendapatkan bahan baku lebih banyak dan tidak perlu membayar lisensi,” kata Lisusanto.

Dengan harga Rp 7.500 sampai Rp 12.000 per cup tergantung lokasi usaha, Lisusanto memperkirakan balik modal akan dicapai mitra dalam waktu enam bulan dengan asumsi bisa menjual hingga 50 cup sampai 70 cup per hari.

• Toper The Bubble

Toper The Bubble menawarkan kemitraan sejak Maret 2009. Dengan konsep kemitraan maka calon mitra tak diharuskan membayar royalti fee ataupun management fee.

Dengan tiga tawaran investasi, yaitu tipe booth seharga Rp 6 juta, tipe mahasiswa Rp 3,9 juta, dan paket 2 in 1 senilai Rp 11,5 juta atau Rp 13,5 juta, saat ini Toper sudah memiliki 120 mitra. Bahkan pemilik usaha ini mengaku setidaknya ada satu permintaan menjadi mitra tiap minggu. Namun demikian, Toper belum berhasil menembus pasar internasional.

Dibandingkan dengan saat KONTAN mengulas Februari 2011 lalu, jumlah mitra Toper jelas melonjak tinggi. Saat itu Toper hanya memiliki 80 mitra dengan menawarkan dua paket kemitraan. Mitra-mitra tersebut tersebar di Biak, Sumbawa, Bangka, Medan, serta beberapa kota di Kalimantan.

Menurut Yoyok Widiartono, pemilik Toper, keputusannya menambah paket investasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Kami namakan 2 in 1, karena mitra bisa menjalankan dua bisnis berbeda yakni bisnis minuman bubble dan crepes dalam satu outlet,” katanya.

Berbeda dengan paket yang lain, untuk paket 2 in 1, mitra mendapatkan mesin pemanggang dan mesin penutup gelas. Adapun tipe booth dan tipe mahasiswa hanya mendapatkan peralatan, seperti gelas plus tutup, sendok, stoples, dan termos es. Selain itu, mitra juga memperoleh bahan baku sirup serta bubuk mutiara bubble untuk 250 cup.

Selain penambahan mitra, Toper juga menambah varian rasa dari 18 menjadi 85 rasa. Rasa yang ditawarkan antara lain, bubble drink cokelat, taro, cappuccino, taro coco, coffee coco, dan beraneka macam rasa buah. “Agar kualitas terjaga, mitra harus membeli bahan baku dari pusat,” terang Yoyok.

Yoyok menambahkan, harga per cup atau gelas bubble drink antara Rp 4.000 sampai Rp 7.000, tergantung lokasi. Dengan menjual sekitar 100 gelas per hari, mitra Toper akan mampu meraup omzet hingga Rp 700.000 per hari. Untuk paket 2 in 1, Yoyok menjanjikan omzet per hari mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Jika asumsi itu tercapai maka diperkirakan modal akan kembali dalam kurun waktu enam bulan. Menurut Yoyok, untuk meningkatkan omzet mitra diperbolehkan menjual menu lain selain bubble dan crepes.

• Super Bubble

Tak hanya Toper atau Frezz Bubble saja yang menikmati penambahan mitra. Demikian juga dengan Super Bubble yang mulai usaha tahun 2008. Tak hanya dari Ibukota, mitra Super Bubble saat ini sudah tersebar hingga ke Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Total, Super Bubble memiliki sebanyak 100 mitra.

Menurut pemilik Super Bubble, Edri Adam, nilai investasi yang terjangkau membuat jumlah mitra terus melonjak tinggi. “Dari awal tahun sampai Juli ini, ada tambahan 30 mitra baru,” ungkap Edri dengan nada gembira.

Edri menawarkan investasi Super Bubble dengan nilai investasi terendah Rp 2,95 juta dan tertinggi sebesar Rp 7,95 juta. Selain mendapatkan berbagai perlengkapan dagang nan lengkap, calon mitra juga mendapatkan bahan baku awal. “Untuk investasi Rp 7,95 juta akan mendapat sepeda untuk berjualan, perlengkapan usaha, dan bahan baku awal,” terang Edri.

Karena permintaan mitra yang semakin banyak, sampai saat ini Edri belum ingin mengubah nilai investasinya. Nilai investasi yang murah itu berbanding lurus dengan asumsi omzet yang ditawarkan oleh Adam.

Adam memerinci, mitra diperkirakan mampu menjual sekitar 30 – 50 cup tiap hari. Dengan harga Rp 5.000 per cup, omzet per hari diperkirakan mencapai Rp 150.000 sampai Rp 250.000.

Dengan rendahnya nilai investasi dan tingginya omzet tersebut, menurut Edri, calon mitra lebih baik mengambil paket lebih dari satu. “Satu orang bisa memiliki dua sampai tiga paket kemitraan sekaligus,” katanya.

Dengan mengambil paket kemitraan lebih dari satu, menurut Edri, akan lebih efektif memperoleh laba. Apalagi jika mitra beruntung mendapatkan tempat strategis untuk memulai usaha.

Selain memiliki rasa menyegarkan, Edri mengklaim bahwa minuman buatannya memiliki kandungan bahan alami sehingga tidak membahayakan bagi kesehatan. “Tidak ada bahan kimia yang terkandung, sehingga selain mampu mengusir dahaga juga menyehatkan,” klaim Edri.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/73912/Memburu-gelembung-gelembung-laba-minuman-bubble

Mengintip Keuntungan Waralaba Kursus Bahasa Inggris

Mengintip Keuntungan Waralaba Kursus Bahasa Inggris PDF Cetak E-mail

Minggu, 12 Juni 2011 09:56
The Wall Street Journal, Agustus 2010 menyatakan bahwa kemampuan bahasa Inggris tertinggi di Asia diduduki oleh Singapura. Dengan lebih dari 220 juta penduduk, ini berarti peluang untuk pendidikan bahasa Inggris di Indonesia masih sangat luas karena kebutuhan akan penguasaan bahasa Inggris masih tinggi.

elti_gram98Salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris di Indonesia adalah ELTI-Gramedia. Setelah berdiri selama lebih dari 20 tahun, pada 2011 ini ELTI-Gramedia memberi kesempatan waralaba (franchise) bagi perusahaan yang ingin mendirikan usaha di bidang pendidikan bahasa Inggris. Mengapa waralaba dan mengapa harus ELTI-Gramedia?

Studi dari US Small Business Administration dari tahun 1978 hingga 1998 menemukan fakta bahwa 62 persen bisnis yang dikembangkan tanpa sistem waralaba mengalami kebangkrutan. Artinya, risiko membangun usaha dari nol cukup berat. Jadi waralaba bisa menjadi solusi untuk investasi.

ELTI-Gramedia adalah lembaga pendidikan bahasa Inggris yang telah berdiri selama lebih dari 20 tahun.  Fasilitas yang ditawarkan ELTI-Gramedia di antaranya adalah perekrutan dan training tenaga akademik, yang terdiri atas satu orang learning center manager dan empat tenaga pengajar. Perekrutan dan training tenaga nonakademik, yang terdiri dari satu orang front office officer, satu orang general affair officer, dan satu orang finance administration. ELTI-Gramedia juga memberikan materi pengajaran untuk pembukaan kelas-kelas perdana, dengan teaching aids standar dan papan nama learning center di depan gedung.

Keuntungan menjadi mitra ELTI-Gramedia adalah return on investment yang memadai (3 tahunan) dengan masa kontrak hingga 10 tahun, dengan dukungan perusahaan besar Kompas Gramedia. Memiliki wilayah kemitraan eksklusif dengan pelatihan dan perekrutan SDM yang terstruktur, juga dukungan operasional dan manajemen berbasis SOP yang berkualitas tinggi, serta dukungan promosi bersama.

Untuk menjadi mitra ELTI-Gramedia, pelaku bisnis harus memenuhi persyaratan antara lain memiliki visi bisnis kuat dan peduli terhadao pendidikan, memiliki bangunan ruko (rumah) yang cukup untuk minimal enam ruang kelas (luas bangunan +/-350m2 atau ruko minimal tiga lantai), memiliki lokasi yang strategis dan lahan parkir yang cukup, diperbolehkan berasal dari organisasi atau perseorangan, diutamakan yang punya minat pada pendidikan yang berkualitas, serta sanggup menjalankan semua SOP dan kebijakan perusahaan untuk kemajuan bersama, menyiapkan biaya waralaba sebesar Rp 240 juta untuk kontrak jangka waktu 10 tahun, dan membayar royalti fee sebesar 10 persen setelah bulan ketujuh beroperasi.

Dengan total modal Rp  600 juta, ELTI-Gramedia memperkirakan keuntungan di tahun pertama yang bisa diraih adalah sebesar 12 persen, pada tahun kedua sebesar  9 persen, dan tahun ketiga sebesar 17 persen. Untuk keterangan lebih lanjut, bisa menghubungi ELTI-Gramedia di Wijaya Grand Center Blok F 83-84 A&B  Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta.

Dengan kemitraan yang makin luas, selain mendatangkan keuntungan pada para pengusaha, hadirnya waralaba ELTI-Gramedia di berbagai daerah diharapkan dapat meningkatkan kemmampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia sehingga mampu bersaing di dunia internasional.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kembangkan-uang-anda/8927-mengintip-keuntungan-waralaba-kursus-bahasa-inggris.html

Ide Bisnis | Pengusaha Sukses di Bisnis Pendidikan

Maraknya bisnis pendidikan yang berkembang saat ini, mendorong para pemilik lembaga pendidikan saling berlomba untuk menawarkan peluang usahanya dengan sistem kemitraan. Berbagai peluang kerjasama seperti franchise maupun business opportunity di bidang pendidikan, sekarang ini menjamur di berbagai daerah.
Salah satu contoh pengusaha yang sukses menjalankan bisnis pendidikan, hingga berhasil membuka ratusan cabang di berbagai daerah Indonesia adalah Sony Sugema. Pria lulusan SMA Negeri 3 Bandung ini, mulai menekuni bisnis pendidikan sejak Ia duduk di bangku SMA. Setelah ayahnya meninggal, Ia mulai menjalankan bisnis sampingan dengan membuka jasa les privat bagi teman-teman sekolahnya dengan biaya Rp 5.000,00 per bulan. Dari sinilah minat Sony untuk mengajar mulai muncul.

Minat Sony untuk terjun di dunia pendidikan ternyata tidak berhenti di bangku sekolah saja, sejak melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah (jurusan teknik mesin di ITB) Ia memutuskan untuk mengajar matematika, fisika, dan kimia di salah satu SMA swasta yang ada di Bandung. Tidak cukup satu sekolah saja, Sony juga bekerja sebagai pengajar di beberapa bimbingan belajar.
Banyaknya pengalaman yang diperoleh Sony saat Ia mengajar di berbagai lembaga pendidikan, membuatnya termotivasi untuk membuka bisnis bimbingan belajar sendiri pada tahun 1990. Bimbingan belajar tersebut diberi nama Sony Sugema College (saat ini lebih dikenal dengan brand SSC). Dengan modal Rp 1,5 juta, Sony gunakan untuk membayar pegawai dan menyewa sebuah ruangan belajar bagi para siswa yang ikut bimbingan belajarnya.
Pada awal usahanya, bimbingan belajar yang didirikan pria kelahiran Bandung ini hanya fokus memberikan bimbingan intensif untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi saja. Dengan metode fastest solution dan learning is fun,  SSC berupaya untuk membantu para siswa agar dapat menyelesaikan soal dengan cara yang mudah, dan lebih bersemangat lagi untuk mempelajari berbagai pelajaran yang selama ini dianggap sebagai momok (seperti matematika dan fisika).
Keberhasilan metode yang diberikan Sony, ternyata menjadi media pemasaran yang cukup efektif. Semakin hari jumlah siswa yang mengikuti bimbingan di SSC semakin bertambah, sampai pada akhirnya tahun 1991 Sony memutuskan untuk membuka cabang di Jakarta. Momen inilah yang menjadi awal perkembangan SSC hingga akhirnya berhasil tersebar di berbagai kota yang ada di Indonesia.
Kini setelah duapuluh tahun menjalankan bisnisnya, keberhasilan Sony sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia memiliki empat perusahaan yang semuanya bergerak dibidang pendidikan. Dan segudang penghargaan pun diraih Sony atas keberhasilannya dalam mengembangkan bisnis di bidang pendidikan.
Dengan tekad yang kuat dan keberaniannya untuk bangkit dari kegagalan-kegagalan usaha sebelumnya, Sony berhasil menjadikan SSC sebagai salah satu lembaga bimbingan belajar ternama di Indonesia.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Ide Bisnis | Pengusaha Sukses Es Teler 77

Siapa yang tak kenal dengan produk es teller 77, ratusan gerainya sudah tersebar di seluruh nusantara. Tidak puas dengan mempertahankan pasar dalam  negeri, kini produk es teller 77 merupakan salah satu bisnis franchise makanan yang berhasil merambah pasar internasional. Produknya sudah menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, serta masih akan terus dikembangkan untuk membuka gerai berikutnya di India, Jeddah dan Arab Saudi.
Terinspirasi dari sang mertua (Ibu Murniati Widjaja) yang menang lomba membuat es teler, Sukyatno yang dulunya bernama Hoo Tjioe Kiat mencoba menjual es teler di emperan toko dengan menggunakan tenda – tenda. Usaha yang dimulainya pada tanggal 7 Juli 1982 ini, ternyata bukan peluang bisnis yang pertama kali Ia coba. Berbagai peluang bisnis seperti  menjadi salesman, tengkulak jual beli tanah, makelar pengurusan SIM, menjadi pemborong bangunan, sampai mencoba bisnis salon pernah Ia geluti dan semuanya gagal ditengah jalan.

Tak ingin mengulangi kegagalan bisnis seperti sebelumnya, Sukyatno mulai menekuni bisnis es telernya yang diberi nama es teler 77. Angka 77 digunakan sebagai merek es telernya, karena angka tersebut mudah diingat dan diharapkan menjadi angka hoki bagi pemilik bisnis ini. Keyakinan Sukyatno pun tepat, merek es teler 77 mulai dikenal masyarakat dan menjadi salah satu produk unggulan dari dulu sampai sekarang.
Dari sebuah warung tenda yang dulunya berada di emperan toko, Sukyatno berinisiatif untuk mengembangkannya menjadi bisnis waralaba. Setelah 5 tahun mempertahankan bisnisnya, tepat pada tahun 1987 untuk pertama kalinya dibuka gerai es teler 77 di Solo dengan sistem franchise. Semenjak itu perkembangan bisnisnya pun sangat pesat, dengan keuletan dan kerja keras yang dimiliki Sukyatno kini es teller 77 telah memiliki lebih dari 180 gerai yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan dan pertokoan yang ada di Indonesia bahkan hingga mancanegara.

Kunci sukses es teller 77

Bersamaan dengan perkembangan bisnisnya, pada tahun 2007 Sukyatno kembali ke hadapan Yang Maha Esa. Kesederhanaan dan kerjakerasnya dalam mengembangkan usaha, kini dilanjutkan oleh salah satu anaknya yaitu Andrew Nugroho selaku direktur PT. Top Food Indonesia. Berkat komitmen para pengelola bisnis ini, sekalipun menghadapi persaingan dagang yang cukup ketat dengan bisnis franchise makanan asing maupun franchise lokal yang saat ini banyak bermunculan. Es teller 77 terus berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para konsumennya. Ini dibuktikan dengan adanya inovasi baru dari es teler 77 yang mengenalkan menu makanan terbarunya antara lain gado – gado, rujak buah, mie kangkung, dan nasi goreng buntut. Andrew sengaja mempertahankan menu tradisional yang tidak asing bagi lidah orang Indonesia, agar masyarakat yang masuk pertokoan masih bisa menemukan menu tradisional yang mereka gemari.
Disamping itu untuk meningkatkan loyalitas konsumen terhadap es teler 77, Andrew juga memberikan fasilitas kartu member bagi para pelanggannya. Dengan kartu klub juara yang diluncurkannya, pelanggan berhak memperoleh diskon makanan dan minuman yang ada di seluruh gerai es teler 77.
Atas kerjakeras dan perjuangan keluarga Sukyatno dalam mengembangkan bisnisnya, berbagai penghargaan pun pernah diterimanya. Kesuksesan es teller 77 dalam mengembangkan bisnis franchisenya, menjadi motivasi besar bagi semua orang. Semoga kisah profil pengusaha sukses es teler 77, dapat menjadi inspirasi bagi calon pengusaha maupun para pengusaha yang sedang merintis bisnisnya.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label