Ide Bisnis | Bisnis Torakur, Tomat Rasa Kurma

Bagi sebagian orang, tomat hanya sekadar dijadikan sambal, jus ataupun tambahan penyedap dalam memasak sayur. Namun tidak demikian halnya dengan Sri Ngestiwati, warga Dusun Ampel Gading RT 5/VI, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Di tangan pegawai Unit Pelayanan Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Bandungan ini buah tomat diolah sedemikian rupa yang akhirnya menyerupai buah kurma. Dari situ akhirnya muncul istilah torakur atau tomat rasa kurma.

Ya, melalui bekal pengetahuan yang diperoleh dari mahasiswa Unnes yang melakukan kuliah kerja nyatan (KKN) di desanya, Sri Ngestiwati menciptakan produk torakur tersebut. Namun tidak serta-merta dia bisa menemukan rasa yang pas dengan buah kurma. Rasa kurma itu didapatkan setelah melakukan uji coba berulang kali. Usaha produksi torakur tersebut dijalani sejak tahun 2002 silam. Dari usahanya itu Sri Ngestiwati dapat menampung delapan tenaga kerja.

Sejauh ini Ngestiwati tidak kesulitan dalam memperoleh buah tomat karena bisa didapatkan di sekitar Bandungan. Sebagian besar tomat dibeli dari Pasar Jetis, Bandungan. Dalam sehari, rata-rata tomat yang dibutuhkan sebanyak 1,5 kuintal. “Kalau musim hujan hanya memproduksi sedikit karena selain harga tomat mahal, juga kesulitan untuk menjemur hasil olahan,” ungkap dia.

Riski menjelaskan, proses pembuatan torakur diawali dengan melukai buah tomat untuk diambil hati dan isinya yang kemudian direndam air kapur. Namun tidak semua tomat bisa dimanfaatkan. Hanya tomat berkualitas bagus yang diambil.

Proses selanjutnya hati tomat itu dicuci dan direbus dengan dicampur gula pasir. Dibutuhkan waktu sekitar empat jam untuk merebus tomat tersebut. Setelah ditiris dan dijemur sampai setengah kering, baru kemudian dibentuk menyerupai buah kurma.

Untuk menjaga kebersihan terutama dari serangan lalat, tempat penjemuran dibuat tertutup. Atas terbuat dari kaca sedangkan bagian samping dipasang plastik. Tempat penjemuran berbentuk panggung mirip kandang ayam. “Proses paling lama pada saat penjemuran karena tergantung sinar matahari. Kadang bisa satu minggu kalau sering turun hujan. Pernah dicoba dikeringkan memakai oven tetapi rasanya berubah,” kata Riski.

Torakur hasil buatan Ngestiwati itu dijual dalam kemasan. Untuk kemasan seperempat kilogram harganya Rp 7.500, sedangakan kemasan setengah kilogram seharga Rp 14.000. Selain di sekitar Kabupaten Semarang, penjualan torakur itu sudah sampai ke Bali.

Sumber : ciputraentreprenuerchip.com

Ide Bisnis | dan Tips Membangun Bisnis Cafe

Sekarang banyak orang yang mendirikan cafe di kota- kota besar atau kota – kota kecil. Apalagi jika terdapat tempat yang strategis, maka biasanya banyak bermunculan cafe – cafe. Differensiasi setiap cafe juga memiliki keunggulan masing – masing, ada yang untuk baca buku, nonton film, penggemar motor, penggemar seni, mahasiswa, dll.
Namun tidak semua cafe yang berdiri ini berhasil sesuai dengan rencananya. Kebetulan tim bisnisukm bertugas meliput beberapa cafe atau rumah makan di sekitar Yogyakarta, sehingga kami mendapatkan banyak sekali masukan – masukan mengenai usaha ini.

Dari beberapa masukan tersebut, ada kewajiban yang harus dilakukan sebagai pemilik cafe. Yaitu membentuk atau merangkul sebuah komunitas. Entah apa itu komunitasnya dan dimana saja, namun komunitas merupakan bagian penting dari sebuah cafe. Tanpa mereka (komunitas) cafe bisa langsung bangkrut atau tutup usaha.
Tips Merangkul & Mempertahankan Komunitas

Disini akan  dijelaskan beberapa cara bagaimana merangkul dan mempertahankan komunitas tersebut.
  1. Cari dan temukan komunitas yang ada di daerah anda, yang belum disentuh ( belum dimilikioleh cafe lainnya ). Komunitas tersebut bisa berupa komunitas besar ataupun kecil ( dilihat dari jumlah anggotanya ), atau komunitas bisa berarti orang – orang yang menggemari sesuatu.
  2. Jika anda sudah menemukan komunitas tersebut, segera untuk membuat penelitian dan lakukan pendekatan untuk memperoleh informasi. Informasi yang harus kita peroleh adalah: Suasana seperti apa yang disukai, senang dalam hal apa, bagaimana prilaku mereka jika berkumpul – kumpul, kegiatan apa yang sering dilakukan, dll.
  3. Informasi tadi berguna bagi anda untuk menentukan suasana cafe dan interiornya. Selain itu anda juga bisa melakukan promosi yang sesuai dengan keinginan mereka.
  4. Buatlah kegiatan rutin yang sesuai dengan keinginan mereka, karena kegiatan ini berguna untuk mengajak mereka untuk berkumpul dan menikmati cafe anda.
Contoh beberapa komunitas yang bisa dirangkul : Penggemar Motor ( berbagai merek motor dan klub motor ), Pengemar Mobil, fotografi, sinematografi, kartunis, blogger, olah raga, seni, penggemar burung, baca buku, LSM, pendidikan, skateboard, BMX, Musik (berbagai aliran), penikmat kopi, teh, dll.
Tips Membangun Bisnis Cafe
  1. Cafe menengah ke bawah tidak begitu memperhatikan pelayanan dan kualitas produknya. Jika sudah memiliki keunggulan tertentu, anda bisa mengalihkan anggaran dana untuk melakukan strategi promosi.
  2. Jika Cafe yang menyasar menengah keatas, anda harus benar – benar memperhatikan masalah: pelayanan, kebersihan, kualitas produk dan sistem manajemen.
  3. Untuk produk yang memiliki keunikan tersendiri, harus dapat dipertahankan keunikannya. Jangan sampai keunikan tersebut hilang.
  4. Jika anda memiliki cafe yang memiliki keunikan tersendiri dan belum ada yang lainnya, maka anda harus melakukan branding( penguatan merek atau differensiasi usaha ) kepada konsumen. Sehingga image usaha anda akan tertanam sebagai The First dalam usaha ini.
Diolah dari berbagai sumber


Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Ide Bisnis | Peluang Usaha Terbaru Mengolah Limbah Air Ampas Tapioka

Peluang Usaha terbaru Mengolah Limbah Air Ampas Tapioka – Nata De Cassava. Tidak semua orang melihat peluang usaha ini, karenamengolah limbah biasanya lebih susah dibanding membuat dari bahan non – limbah dan bisa  menyulapnya menjadi berkah rejeki. Air ampas tepung tapoika yang semula mencemari lingkungan, diolahnya menjadi minuman segar, nata de cassava.

Limbah tidak selalu jadi masalah, mayasto (26 h) warga bantul, justru mengolahnya dan hasilnya rejeki warga bertambah plus lingkungan jadi bersih dan indah. Keberhasilan menyulap limbah untuk bahan minuman itu berkat hasil kerja tim assava dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yokyakarta, yang hampir setahun melakukan penelitian residu tapioka di Nagsri. Produk ini mengandung gizi berupa serat kasar. Dalam setiap 100 ram nata de cassava terdapat sebesar 1,71%. Oleh karena itu bagus untuk pencernaan, apalagi bagi yang sedang berdiet.
Proses pegolahan
Limbah tapioka dicampur air dan diaduk sampai rata, disaring menggunakan kain kasar, lalu dimasak hingga mendidih. Setelah itu dituang dalam nampan dan dicampur cairan bakteri acectobacter xinilum. Tutup rapat dan didiamkan di rak – rak penitirisan selama 1 minggu. Nata de cassava dianggap jadi setelah memadat kenyal mirip agar – agar. Untuk menghilangkan kandungan asam maupun bakteri, nata yang masih berujud lembaran itu dimasak lagi tiga kali. Stelah betul – betul bersih, nata dipotong – potong berbentuk kotak – kotak kecil ukuran 1 cm. nata de cassava bisa dinikmati dengan mencampurkan sirup atau air gula.
sumber: majalah ide bisnis

TAWARAN KEMITRAAN KULINER MINUMAN BUBBLE

 
Rabu, 27 Juli 2011 | 13:30  oleh Handoyo, Bambang Rakhmanto
TAWARAN KEMITRAAN KULINER MINUMAN BUBBLE
Memburu kembali gelembung-gelembung laba minuman bubble

Bubble drink atau minuman bergelembung, menjadi menu baru yang banyak digemari kaum muda dan anak-anak. Naiknya pamor minuman tersebut membuat tawaran bisnis minuman dingin asal Taiwan ini semakin banyak. Walau persaingan semakin ketat, tawaran bisnis minuman bubble masih menggembirakan. Perkembangan usaha yang cukup bagus dirasakan oleh Frezz Bubble, Toper The Bubble, dan Super Bubble dengan jumlah mitra yang terus bertambah.

• Frezz Bubble

Frezz Bubble mulai menawarkan kemitraannya pada 2008 atau setahun setelah berdiri. Usaha minuman ini cukup berkembang dengan jumlah gerai dan mitra yang bertambah. Saat diulas KONTAN pada Desember 2009 lalu, Frezz Bubble yang berasal dari Banten ini hanya memiliki dua cabang plus belasan gerai milik mitra.

Namun saat ini, jumlah gerai Frezz Bubble sudah berbiak 30 mitra tersebar di Padang, Nias, dan beberapa kota di Kalimantan. “Dulu kita hanya fokus di wilayah Jabodetabek, sekarang sudah seluruh Indonesia,” kata Lisusanto, pemilik Frezz Bubble.

Keberhasilan Frezz Bubble ini tidak lepas dari keunggulan rasa yang disajikan. Agar lebih nikmat, ujar Lisusanto, dalam minuman bubble ditambahkan jeli konyaku atau agar-agar. Penambahan ini membuat bubble drink terasa empuk dan manis.

Karena itulah Lisusanto meminta mitra untuk membeli bahan baku minuman dari pusat. “Agar kualitas rasa terjaga,” katanya. Tak hanya membuat sendiri, Lisusanto juga harus mendatangkan bahan baku dari luar negeri.

Beberapa bahan yang harus diimpor antara lain, tepung aneka rasa, mulai rasa cokelat, teh hijau, teh susu, leci, vanila, cappuccino, dan karamel. Untuk mendapatkan bahan-bahan itu, mitra harus membeli seharga Rp 60.000 – Rp 65.000 per kg. Juga sirup tersedia dalam bentuk cair dan bubuk dengan 15 rasa. Baik sirup maupun bubuk dijual dengan harga sama, antara Rp 40.000-Rp 45.000 per kg.

Walau sudah berjalan sekitar dua tahun, paket kemitraan yang ditawarkan Frezz Bubble tidak berubah. Paket pertama, tipe bazar dengan nilai investasi Rp 12,5 juta. Paket kedua, berkonsep gerai dengan investasi Rp 25 juta. Selain itu, mitra harus membayar Rp 5 juta untuk hak penggunaan nama selama lima tahun.

Dengan nilai investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan perlengkapan usaha, antara lain, meja konter, neon box, blender, mesin cup sealer, selang plastik, hingga seragam karyawan. Termasuk juga bahan baku, seperti powder dan 10 jenis sirop dengan berat masing-masing 1 kg. “Untuk paket Rp 25 juta, mitra akan mendapatkan bahan baku lebih banyak dan tidak perlu membayar lisensi,” kata Lisusanto.

Dengan harga Rp 7.500 sampai Rp 12.000 per cup tergantung lokasi usaha, Lisusanto memperkirakan balik modal akan dicapai mitra dalam waktu enam bulan dengan asumsi bisa menjual hingga 50 cup sampai 70 cup per hari.

• Toper The Bubble

Toper The Bubble menawarkan kemitraan sejak Maret 2009. Dengan konsep kemitraan maka calon mitra tak diharuskan membayar royalti fee ataupun management fee.

Dengan tiga tawaran investasi, yaitu tipe booth seharga Rp 6 juta, tipe mahasiswa Rp 3,9 juta, dan paket 2 in 1 senilai Rp 11,5 juta atau Rp 13,5 juta, saat ini Toper sudah memiliki 120 mitra. Bahkan pemilik usaha ini mengaku setidaknya ada satu permintaan menjadi mitra tiap minggu. Namun demikian, Toper belum berhasil menembus pasar internasional.

Dibandingkan dengan saat KONTAN mengulas Februari 2011 lalu, jumlah mitra Toper jelas melonjak tinggi. Saat itu Toper hanya memiliki 80 mitra dengan menawarkan dua paket kemitraan. Mitra-mitra tersebut tersebar di Biak, Sumbawa, Bangka, Medan, serta beberapa kota di Kalimantan.

Menurut Yoyok Widiartono, pemilik Toper, keputusannya menambah paket investasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Kami namakan 2 in 1, karena mitra bisa menjalankan dua bisnis berbeda yakni bisnis minuman bubble dan crepes dalam satu outlet,” katanya.

Berbeda dengan paket yang lain, untuk paket 2 in 1, mitra mendapatkan mesin pemanggang dan mesin penutup gelas. Adapun tipe booth dan tipe mahasiswa hanya mendapatkan peralatan, seperti gelas plus tutup, sendok, stoples, dan termos es. Selain itu, mitra juga memperoleh bahan baku sirup serta bubuk mutiara bubble untuk 250 cup.

Selain penambahan mitra, Toper juga menambah varian rasa dari 18 menjadi 85 rasa. Rasa yang ditawarkan antara lain, bubble drink cokelat, taro, cappuccino, taro coco, coffee coco, dan beraneka macam rasa buah. “Agar kualitas terjaga, mitra harus membeli bahan baku dari pusat,” terang Yoyok.

Yoyok menambahkan, harga per cup atau gelas bubble drink antara Rp 4.000 sampai Rp 7.000, tergantung lokasi. Dengan menjual sekitar 100 gelas per hari, mitra Toper akan mampu meraup omzet hingga Rp 700.000 per hari. Untuk paket 2 in 1, Yoyok menjanjikan omzet per hari mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Jika asumsi itu tercapai maka diperkirakan modal akan kembali dalam kurun waktu enam bulan. Menurut Yoyok, untuk meningkatkan omzet mitra diperbolehkan menjual menu lain selain bubble dan crepes.

• Super Bubble

Tak hanya Toper atau Frezz Bubble saja yang menikmati penambahan mitra. Demikian juga dengan Super Bubble yang mulai usaha tahun 2008. Tak hanya dari Ibukota, mitra Super Bubble saat ini sudah tersebar hingga ke Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Total, Super Bubble memiliki sebanyak 100 mitra.

Menurut pemilik Super Bubble, Edri Adam, nilai investasi yang terjangkau membuat jumlah mitra terus melonjak tinggi. “Dari awal tahun sampai Juli ini, ada tambahan 30 mitra baru,” ungkap Edri dengan nada gembira.

Edri menawarkan investasi Super Bubble dengan nilai investasi terendah Rp 2,95 juta dan tertinggi sebesar Rp 7,95 juta. Selain mendapatkan berbagai perlengkapan dagang nan lengkap, calon mitra juga mendapatkan bahan baku awal. “Untuk investasi Rp 7,95 juta akan mendapat sepeda untuk berjualan, perlengkapan usaha, dan bahan baku awal,” terang Edri.

Karena permintaan mitra yang semakin banyak, sampai saat ini Edri belum ingin mengubah nilai investasinya. Nilai investasi yang murah itu berbanding lurus dengan asumsi omzet yang ditawarkan oleh Adam.

Adam memerinci, mitra diperkirakan mampu menjual sekitar 30 – 50 cup tiap hari. Dengan harga Rp 5.000 per cup, omzet per hari diperkirakan mencapai Rp 150.000 sampai Rp 250.000.

Dengan rendahnya nilai investasi dan tingginya omzet tersebut, menurut Edri, calon mitra lebih baik mengambil paket lebih dari satu. “Satu orang bisa memiliki dua sampai tiga paket kemitraan sekaligus,” katanya.

Dengan mengambil paket kemitraan lebih dari satu, menurut Edri, akan lebih efektif memperoleh laba. Apalagi jika mitra beruntung mendapatkan tempat strategis untuk memulai usaha.

Selain memiliki rasa menyegarkan, Edri mengklaim bahwa minuman buatannya memiliki kandungan bahan alami sehingga tidak membahayakan bagi kesehatan. “Tidak ada bahan kimia yang terkandung, sehingga selain mampu mengusir dahaga juga menyehatkan,” klaim Edri.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/73912/Memburu-gelembung-gelembung-laba-minuman-bubble

Ide Bisnis | Bisnis Sirup dari Buah Bakau

Apakah Anda pernah menikmati buah bakau? Mungkin Anda merasa aneh mendengar buah bakau yang dihasilkan pohon bakau yang tumbuh di pantai dapat dikonsumsi. Memang belum banyak orang yang mengenal manfaat buah itu.

Berbeda dengan kebiasaan nelayan yang tinggal di pinggir pantai Surabaya. Sebagian penduduk di sekitarnya pernah makan buah bakau, karena aromanya yang wangi, meski rasanya agak sedikit asam.

Dari kebiasaan nelayan tersebut, pencinta alam Mohson, 47, tertarik memanfaatkannya. Dia mencoba mengolah buah bakau itu menjadi sirup. Sampai saat ini baru dua jenis tanaman bakau yang diolahnya untuk konsumsi manusia dan sudah diteliti oleh para ahli dari perguruan tinggi di Surabaya.

Di rumahnya, Mohson yang kerap dipanggil Sony, biasa mengundang anak-anak muda anggota Karang Taruna berkumpul. Mereka disuguhkan minuman sirup buah bakau, dan selalu minta minuman tersebut ketika bertamu kembali.

Sirup tersebut dibuatnya berwarna hijau yang menyegarkan seperti warna kulit dari buah bakau itu.

Buah itu didapatkannya dengan memberdayakan nelayan setempat untuk mengumpulkan buah bakau. Nelayan pun terdorong untuk memelihara tanaman bakau dan menanamnya di areal lain. Tanaman bakau jadi terpelihara dan buahnya bernilai ekonomis.

Awalnya, Sony yang tinggal di Rungkut, Surabaya, membentuk Kelompok Tani Mangrove pada 1998 yang bertujuan membersihkan sampah di pantai timur Surabaya. Seiring dengan perjalanan waktu, kelompok tersebut mendapatkan binaan dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Surabaya.

Kelompok tani mangrove yang bekerja khusus membersihkan pantai itu berkembang mulai 2000 dengan menanam kembali buah bakau yang jatuh di pantai yang kosong di pantai timur Surabaya, mulai dari Genjer sampai Gunung Anyer. “Sampai sekarang kami sudah menanam tanaman bakau sekitar 500 ha,” kata Sony.

Sony sempat bekerja di perusahaan swasta di bagian pengukuran tanah sebelum 1998. Dari situ, hatinya tersentuh melihat kondisi daerah hutan bakau yang kotor dan jarang ditumbuhi oleh tanaman bakau. Dari kondisi pantai yang kotor itu, dia mengajak petambak bekerja sama untuk membersihkan pantai agar lingkungannya menjadi bersih.

Saat mengurusi tanaman bakau, dia memperhatikan kebiasaan penduduk setempat yang memakan buah bakau yang jatuh dan tidak mengakibatkan apa-apa. Apalagi aroma buah bakau jenis soneratia kasiolaris wangi dan segar, menarik selera untuk dinikmati.

Tidak semua jenis buah bakau bisa dibuat sirup. Jenis bruguera gymnorizzal yang buahnya berbentuk panjang yang berwarna agak keunguan lebih cocok diolah menjadi tepung untuk kue atau dodol dan nasi. Sementara jenis yang lain tidak bisa dikonsumsi.

Ide untuk mengolah buah tersebut menjadi sirup muncul pada 2004, berbekal pengalaman dan pengetahuan membuat dan mensterilkan minuman manis beraroma buah yang didapat dari kedekatannya dengan mahasiswa, perguruan tinggi.

Buah bakau yang dapat diproses menjadi sirup harus sudah tua di pohon dan jatuh agar hasil sirup bagus. Jika buah bakau yang digunakan kurang tua atau dipetik, buahnya akan kering saat diproses menjadi sirup.

Dia pun mengajarkan kepada petani untuk membuat jaring di bawah pohon bakau agar buah tidak jatuh ke lumpur atau air laut saat pasang.

Dia bekerja sama dengan Universitas Eirlangga untuk meneliti buah bakau itu. Ternyata, buah tersebut mengandung vitamin C, dan vitamin lain yang berfungsi sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan.

Sirup buah bakau dikemas dalam botol berisi 750 ml dan 350 ml. Dari 1 kg buah yang sudah dikupas menghasilkan 2,5 liter sirop. Satu botol isi 750 ml dijualnya seharga Rp25.000. (*/BI)

Sumber : ciputraentreprenuerchip.com

Ide Bisnis | dan Tips Sukses Kawis, Cola van Java Dari Kota Rembang

Mendengar nama kawis mungkin tidak semua orang mengenal jenis tumbuhan tersebut. Tanaman yang termasuk dalam kategori jeruk ini pertama kali tumbuh di daerah India, lalu menyebar hingga Srilanka, Myanmar, dan Asia Tenggara. Di negara Indonesia sendiri buah kawis banyak ditemukan di pesisir pantai, seperti di daerah Rembang, Pati, Tuban, Jepara, Karawang, Bali, Aceh, dan beberapa daerah lainnya. Buah yang biasanya tumbuh secara alami di pekarangan atau kebun warga ini memiliki bentuk fisik yang sangat mirip dengan jeruk, namun tekstur kulitnya cukup keras seperti kulit buah melon.

Saat ini buah yang memiliki nama latin Limonia acidissima tersebut banyak dimanfaatkan masyarakat Rembang sebagai salah satu potensi daerah yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Sensasi rasa manis, asam dan aroma khasnya yang cukup menyengat seperti cola, membuat buah kawis sering diolah menjadi beragam produk makanan dan minuman yang banyak digemari wisatawan. Salah satunya yaitu sirup kawis yang sering disebut-sebut masyarakat luas sebagai cola van Java atau colanya orang Jawa.
Sirup kawis atau cola van Java ini mulai diproduksi massal oleh masyarakat Rembang, Jawa Tengah sejak puluhan tahun yang lalu. Banyaknya bahan baku utama yang ditemukan di tiga kecamatan yaitu Lasem, Sumberejo, dan Paciran, mendorong masyarakat sekitar untuk memproduksi sirup kawis sebagai usaha pokok mereka sehari-hari. Tak heran bila keberadaan sirup kawis mudah ditemukan di pasaran kota Rembang. Dan sensasi rasanya yang unik membuat minuman segar ini sering dijadikan sebagai oleh-oleh wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut.

Proses Produksi Sirup Kawis

Minuman khas Kabupaten Rembang dibuat para produsennnya dengan cara yang sederhana. Pertama-tama daging buah kawis direbus bersama air. Selanjutnya air rebusan disaring dengan menggunakan kain halus agar sari buah dan seratnya terpisah. Sari buah yang dihasilkan lalu diendapkan selama seharian penuh (24 jam) dalam wadah yang tertutup. Setelah mengendap, pisahkan air sari lapisan atas dengan endapannya, dan tambahkan sedikit pengental. Kemudian diamkan kembali air sari tersebut selama 12 jam. Rebus kembali air sari yang telah didiamkan, dan tambahkan gula pasir dengan perbandingan 1 liter air sari kawis : 700 gram gula pasir. Terakhir setelah air sari kawis mendidih, angkat dan dinginkan sirup sebelum memasukannya ke dalam botol. Sirup pun siap untuk dipasarkan.
Besarnya potensi bisnis sirup kawis yang dikembangkan masyarakat Rembang ternyata tidak hanya diminati pasar lokal saja. Adanya respon konsumen yang sangat bagus membuat beragam merek cola van Java kini mulai beredar di pasar nasional hingga internasional. Memanfaatkan potensi buah kawis yang melimpah di daerah Rembang, masyarakat mencoba meningkatkan perekonomian daerah lokal melalui peluang bisnis olahan kawis. Tidak salah bila sebutan kawis, cola van Java dari kota Rembang telah melekat lama di hati para konsumen.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Ide Bisnis | Pengusaha Sukses Es Teler 77

Siapa yang tak kenal dengan produk es teller 77, ratusan gerainya sudah tersebar di seluruh nusantara. Tidak puas dengan mempertahankan pasar dalam  negeri, kini produk es teller 77 merupakan salah satu bisnis franchise makanan yang berhasil merambah pasar internasional. Produknya sudah menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, serta masih akan terus dikembangkan untuk membuka gerai berikutnya di India, Jeddah dan Arab Saudi.
Terinspirasi dari sang mertua (Ibu Murniati Widjaja) yang menang lomba membuat es teler, Sukyatno yang dulunya bernama Hoo Tjioe Kiat mencoba menjual es teler di emperan toko dengan menggunakan tenda – tenda. Usaha yang dimulainya pada tanggal 7 Juli 1982 ini, ternyata bukan peluang bisnis yang pertama kali Ia coba. Berbagai peluang bisnis seperti  menjadi salesman, tengkulak jual beli tanah, makelar pengurusan SIM, menjadi pemborong bangunan, sampai mencoba bisnis salon pernah Ia geluti dan semuanya gagal ditengah jalan.

Tak ingin mengulangi kegagalan bisnis seperti sebelumnya, Sukyatno mulai menekuni bisnis es telernya yang diberi nama es teler 77. Angka 77 digunakan sebagai merek es telernya, karena angka tersebut mudah diingat dan diharapkan menjadi angka hoki bagi pemilik bisnis ini. Keyakinan Sukyatno pun tepat, merek es teler 77 mulai dikenal masyarakat dan menjadi salah satu produk unggulan dari dulu sampai sekarang.
Dari sebuah warung tenda yang dulunya berada di emperan toko, Sukyatno berinisiatif untuk mengembangkannya menjadi bisnis waralaba. Setelah 5 tahun mempertahankan bisnisnya, tepat pada tahun 1987 untuk pertama kalinya dibuka gerai es teler 77 di Solo dengan sistem franchise. Semenjak itu perkembangan bisnisnya pun sangat pesat, dengan keuletan dan kerja keras yang dimiliki Sukyatno kini es teller 77 telah memiliki lebih dari 180 gerai yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan dan pertokoan yang ada di Indonesia bahkan hingga mancanegara.

Kunci sukses es teller 77

Bersamaan dengan perkembangan bisnisnya, pada tahun 2007 Sukyatno kembali ke hadapan Yang Maha Esa. Kesederhanaan dan kerjakerasnya dalam mengembangkan usaha, kini dilanjutkan oleh salah satu anaknya yaitu Andrew Nugroho selaku direktur PT. Top Food Indonesia. Berkat komitmen para pengelola bisnis ini, sekalipun menghadapi persaingan dagang yang cukup ketat dengan bisnis franchise makanan asing maupun franchise lokal yang saat ini banyak bermunculan. Es teller 77 terus berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para konsumennya. Ini dibuktikan dengan adanya inovasi baru dari es teler 77 yang mengenalkan menu makanan terbarunya antara lain gado – gado, rujak buah, mie kangkung, dan nasi goreng buntut. Andrew sengaja mempertahankan menu tradisional yang tidak asing bagi lidah orang Indonesia, agar masyarakat yang masuk pertokoan masih bisa menemukan menu tradisional yang mereka gemari.
Disamping itu untuk meningkatkan loyalitas konsumen terhadap es teler 77, Andrew juga memberikan fasilitas kartu member bagi para pelanggannya. Dengan kartu klub juara yang diluncurkannya, pelanggan berhak memperoleh diskon makanan dan minuman yang ada di seluruh gerai es teler 77.
Atas kerjakeras dan perjuangan keluarga Sukyatno dalam mengembangkan bisnisnya, berbagai penghargaan pun pernah diterimanya. Kesuksesan es teller 77 dalam mengembangkan bisnis franchisenya, menjadi motivasi besar bagi semua orang. Semoga kisah profil pengusaha sukses es teler 77, dapat menjadi inspirasi bagi calon pengusaha maupun para pengusaha yang sedang merintis bisnisnya.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Ide Bisnis | Nikmatnya Reguk Omzet Bisnis Kopi Racikan

Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata “Joglo”? Pasti langsung mengingat rumah adat Jawa dengan bentuknya yang khas. Namun ada juga yang menyatakan jika Joglo atau Rumah Joglo mempunyai artian tempat yang membuat kita ingin terus kembali lagi.

Nampaknya semboyan itulah yang membuat Himawan Hendro Pratisto memasukkan kata Joglo dalam bisnis minumannya, yaitu “Joglos Coffee”. Filosofi kata Joglo ingin diterapkannya, yakni ingin orang yang sudah datang mencoba minuman racikannya, bisa selalu kembali lagi, lagi, dan lagi.

Bisnis yang sudah dirintisnya sejak 2005 ini memang tidak langsung bisa berkembang seperti sekarang. Pertama kali membuka outlet, Joglos coffee yang khas bernuansa hijau ini hanya mempunyai lima macam racikan minuman. Namun, saat ini sudah terdapat 18 menu yang menjadi andalan.


Untuk range harga, tidak perlu khawatir. Minuman yang disajikan dalam Joglos Coffee memang dikhususkan untuk kawula muda dan mahasiswa dengan harga yang super miring. Sang pemilik pun berkomitmen ingin menyajikan produk dengan harga oke serta kualitas yang bagus.

“Konsep awalnya sampai sekarang memang ingin menyajikan minuman yang berasal dari kopi dengan harga murah tapi kualitas bagus,” jelas Himawan, saat berbincang dengan okezone.

Awalnya dia memang sempat berpikir untuk melebarkan sayap untuk segmen kantoran. Namun, hal ini berarti dirinya harus membuat konsep maupun harga yang lebih premium. Jelas hal tersebut tidak sesuai dengan konsep awal yang mengutamakan harga murah dan kualitas oke.

Dengan omset rata-rata Rp200 ribu per hari, dan enam outlet yang dimilikinya saat ini di kawasan Gresik, Banjarmasin, Tangerang, Solo, dan Depok, dirinya pun semakin mantap dalam merintis usaha minuman bercita rasa kopi, susu, dan teh ini. Alasannya, bisnis tersebut lebih menjanjikan daripada bekerja di kantoran yang terlalu monoton.

Himawan bercerita, sempat beberapa kali mencoba berbagai bisnis setelah dirinya memutuskan untuk keluar dari rutinitas kantoran, malang melintang mencoba bisnis baru nampaknya tidak membuatnya berhenti mencoba dan terus mencoba.

“Dulu kerja kantoran. Sebelumnya pernah usaha tapi gagal. Kebetulan saya nyemplung ke bisnis ingin mengembangkan usaha, mengembangkan kreativitas,” bebernya.

Ada hal menarik yang diungkap selama perbincangan dengan okezone mengalir, yakni sejarah bagaimana minuman racikannya tersebut dibuat. Sempat beberapa kali mencoba dan ternyata menemukan sebuah rasa khas yang memang menurutnya tidak mudah.

Semua racikan minuman yang dibuatnya memang hasil learning by doing alias belajar ala kadarnya. Baik itu dari hasil membaca di majalah, berbagai macam buku, serta hasil lihat tontonan di televisi.

Dengan usahanya yang lumayan keras tersebut, akhirnya terciptalah beberapa minuman yang khas. seperti pure cream milk, dan yang paling banyak digemari adalah Coffe LLo. “Pure cream milk rasanya seperti vanila, tidak ada kopinya. Itu paling laku saat pertama kali saya jualan,” paparnya.

Sementara minuman lainnya yang tidak kalah menarik adalah cococoffee, coffelatte, cappucino, creammy coffe dan masih banyak lagi. Masalah harga, tidak perlu khawatir karena cukup dengan merogoh kocek sekira Rp5 ribu kita sudah bisa menikmati minuman serba kopi, susu, maupun teh ala Indonesia. Menurutnya, kopi tersebut merupakan pioneer dari maraknya bisnis serupa di kawasan Depok.

Setiap jenis usaha pasti mempunyai kendala. Dirinya mencontohkan, ketika musim hujan misalnya, pembeli akan sedikit berkurang akibat cuaca yang kurang pas untuk minuman dingin seperti yang disajikannya. Sementara itu, tempat atau lokasi berjualan juga menjadi salah satu kendala. Kurang luasnya lahan atau terkadang tidak jarang outlet yang dibuka harus berurusan dengan preman setempat.

Dari usaha yang sudah ditekuninya selama lima tahun tersebut, dirinya bisa mempekerjakan beberapa karyawan yang semuanya berasal dari tetangga maupun kerabat dekat.

Dirinya pun berbagi tip, untuk memulai sebuah usaha, hendaknya semua itu dimulai dari hobi. Apa yang kita suka, sebaiknya sesering mungkin mencari tahu dan menggali terus potensi tersebut. Karena menurutnya, semua hal itu harus dimulai sejak dini. seperti motto hidupnya yaitu “bisnis itu mulailah dari hobi, mulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang.”

Sumber : okezone.com

Ide Bisnis | Bisnis Olahan Durian Raup Omzet Rp1 Juta/Hari

King Of Fruit atau Durian termasuk salah satu buah yang banyak penggemarnya. Entah itu mulai dari anak-anak maupun orang dewasa. Durian nampaknya tidak hanya dimakan sebagai buah, namun juga nikmat disantap sebagai kudapan lain yang berbeda.

Hal ini menginspirasi Ammy Syamsudin (60 tahun) untuk membuat sesuatu yang berasal dari durian. Berawal dari hanya menjual macam-macam minuman seperti es koktail dan es kelapa, dirinya mencoba membuat sesuatu yang berbeda dari buah durian.

Warung tempatnya berjualan pun terbilang cukup sederhana. Ditandai dengan menumpuknya buah durian di depan pintu masuk. Es durian BBT sendiri sudah melegenda sejak 1970-an.

“BBT diambil dari Baba Tong, nama kakek dari Ibu saya (Ammy Syamsudin). Jadinya disingkat BBT,” ungkap Anak dari pemilik warung, Feri Gunawan saat ditemui okezone di warungnya.


Diceritakannya, dahulu warung yang sudah berdiri sejak 1978 tersebut hanya menjual dua macam minuman. Yaitu es koktail atau es buah dan es kelapa. Namun, ketika disadari banyak buah durian yang tersedia di pasaran, Ibu Ammy mencoba membuat es durian.

“Awalnya memang coba-coba. Kalaupun enggak laku juga enggak masalah. Karena saat itu Ibu saya suka juga makan durian,” kisahnya.

Awal menjual es durian, sehari Ibu Ammy hanya mampu menghabiskan lima buah durian sebagai bahan olahan es durian. Modalnya kala itu masih terbilang kecil yakni sekira Rp200 ribu. “Dulu pertama jual paling laku lima buah durian. tapi sekarang bisa habis sampai 50 buah durian,” paparnya.

Warung yang pada awalnya hanya mampu meraih omzet Rp3 ribu per hari, saat ini sudah semakin berkembang. Ini terbukti dari penghasilan kotor yang saat ini diperoleh bisa menembus angka Rp1 juta per harinya. Atau jika dengan hitungan berapa banyak pengunjung yang datang bisa mencapai 100 pengunjung per harinya.

Sabtu dan Minggu pun menjadi hari yang dikunjungi banyak pembeli. Meskipun banyak menu es durian lain seperti durian kopyor, durian campur, durian nangka maupun durian alpukat, namun rata-rata para pembeli lebih banyak memesan es durian.

“Untuk es durian yang lain itu, pelanggan yang meminta. Mereka yang menelurkan ide, dan menu itu baru setahun terakhir, belum lama,” terangnya.

Es durian yang dijual memang sederhana, daging buah durian dicampur dengan sedikit es serut, kemudian ditambahkan sedikit susu kental manis. Jadilah es durian khas BBT.

Diceritakannya pula, es durian BBT mempunyai ciri khas yang membuatnya berbeda dari es durian yang lain yaitu daging durian yang digunakan asli, tidak ada campuran apapun. Selain es serut yang digunakan sedikit, daging duriannya juga lebih banyak, sehingga tekstur buah durian lebih terasa.

Lelaki kelahiran 25 Desember 1976 ini menjelaskan jika sudah ada beberapa cabang es durian BBT. Di antaranya di Blok M plaza, dan Taman Ubud Lestari Tangerang. Namun menurutnya, kedua cabang tersebut tidak seramai warung yang terletak di jalan Matraman raya persis di samping sekolah Marsudirini.

“Kalau saya lihat, tempat menentukan sekali. Di mal mungkin orang mikirnya sudah biasa es durian. Omzet di mal kecil, paling hanya Rp200 ribu. Orang sepertinya lebih suka makan di pinggir jalan seperti ini,” ungkapnya lagi.

Menurutnya, musim hujan tidak menjadi kendala dalam menjajakan es duriannya tersebut. Karena, menikmati es durian tidak hanya pas saat panas ataupun hujan. Buah durian ternyata mampu juga memberikan efek hangat pada tubuh, sehingga tidak masalah untuk menyantapnya kapan saja.

Namun demikian, bukan berarti dirinya tidak mempunyai kendala dalam berjualan es durian. Kendala yang dialami selama berjualan berasal dari buah durian itu sendiri, yang biasanya berasal dari lokal seperti Sumatera, dan Jawa. Namun jika ternyata stok dalam negeri habis atau kurang bagus, Feri menggunakan buah dari Thailand.

“Kalau lokal enggak ada, biasanya kita ambil dari Thailand. Masalah harga relatif sama. Lagi pula saat ini di supermarket sudah banyak yang jual buah durian, jadi tidak terlalu khawatir akan kehabisan stok durian,” tambahnya.

Harga es yang ditawarkan warung yang buka dari pukul 07.00 WIB hingga 19.00 relatif terjangkau. Dengan hanya bermodal Rp12 ribu kita sudah bisa menikmati legitnya daging durian. Atau jika ingin sesuatu yang berbeda, coba alpukat campur durian yang rasanya tidak kalah segarnya.

Sumber : okezone.com

Ide Bisnis | Es Pocong Hingga Jutaan per Hari

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Itu tampaknya nyata terjadi pada tiga sekawan Rahmat, Haris, dan Hakim. Dari bisnis awal menjual bakso yang tidak berjalan dengan baik, kini usaha Es Pocong yang dilakoni tiga sekawan itu melegenda di Depok.

“Awalnya jualan bakso. tapi sepi. Waktu itu di daerah Kelapa Dua. Akhirnya kita berpikir ingin menjual sesuatu yang unik. Dan terpikirlah nama Es Pocong itu,” ungkap Staf Operasional Es Pocong Bonni Angila saat ditemui okezone di kedainya yang berlokasi di Kober, Jalan Margonda Raya, Depok belum lama ini.

Nama Es Pocong sendiri sebenarnya diambil secara tidak sengaja. Nama tersebut makin terasa lebih cocok tatkala lokasi baru yang dijadikan untuk memulai usaha berada wilayah Kober. Kober merupakan sebutan untuk Tempat Pemakaman Umum (TPU). Sehingga semakin mantaplah dalam menciptakan berbagai menu dengan nama-nama yang terkesan seram dan menakutkan.



Coba saja lihat deretan menu yang disajikan. Ada mie ronggeng, yaitu sejenis mie goreng namun dengan racikan bumbu yang sedikit istimewa. Kemudian ada kentang goreng yang diberi nama jenglot, mendoan iblis, nasi uduk tuyul karena ukurannya yang mini, serta yang tidak kalah menyeramkan adalah sate mayat.

“Untuk sate mayat itu ada telur puyuh, usus, ati-ampela, sosis. Pokoknya isinya mayat ayam. Memang yang belum pernah tahu akan ketawa-tawa. Padahal ini serem lho,” jelasnya berkelakar.

Omzet dari penjualan makanan tersebut memang cukup menggiurkan. Untuk hari biasa, bisa menghasilkan hingga Rp2,5 juta per hari. Belum lagi akhir pekan yang bisa naik hingga dua kali lipat atau sama dengan Rp5 juta per hari. Keuntungan bersihnya memang hanya 30 persennya saja, setelah dipotong biaya sewa, gaji karyawan dan lain sebagainya.

Per harinya, kedai ini bisa menjual hingga 700-800 buah tempe mendoan. Sedangkan untuk Es Pocong mencapai 400 porsi per hari. Belum lagi dengan menu makanan dan minuman yang lainnya. “Dulu pas awal-awal mendoan bisa habis 1.000-1.200 buah per hari. Tapi sejak ada menu baru yang muncul, cuma laku 700-800-an per hari untuk tempe mendoannya saja,” jelasnya.

Diceritakannya, modal awal untuk memulai usaha ini hanya dengan dana sekira Rp10 juta. Usaha yang dimulai pada 19 Juni 2006 silam tersebut memang tidak langsung sesukses sekarang. Dikatakannya, awal mula pernah hanya menghasilkan Rp100 ribu per hari.

Selanjutnya, setiap usaha tentunya tidak luput dari kesulitan. hal tersebut juga dialami oleh pengelolanya. Kendala yang paling mendasar adalah masalah tempat dan cuaca. Untuk masalah tempat, kedai yang saat ini dibuka belum sesuai dengan konsep awal. Di mana konsep awal adalah outdoor. Fungsi outdoor yang dimaksud adalah lokasi untuk pembeli berada di luar, sehingga menciptakan tempat yang nyaman.

“Untuk kendala yang lain adalah saat musim hujan. Kalau musim hujan kan kondisi cuaca tahu sendiri seperti apa. Jadi itu agak sepi. Tidak terlalu ramai. Untung masih ada menu yang lain seperti tempe mendoan itu,” katanya.

Saat ini, Es Pocong sendiri telah membuka cabang sebanyak 35 kedai baik dalam maupun luar kota. Di antaranya Solo, Medan, Manado, Belitung, Serang, Malang, dan beberapa kota lain. Sementara itu, untuk kedai yang terletak di Margonda, Depok sudah mempekerjakan sebanyak 12 orang karyawan dari yang awalnya hanya berjumlah dua orang.

Untuk terus mempertahankan keaslian dari makanan dan minuman tersebut, sejak 2008, khususnya untuk Es Pocong dan mendoan telah terdaftar di Hak Atas Kekayaan Inteletual (HAKI). Hal tersebut untuk menjaga keaslian serta merek paten dari makanan dan minuman tersebut.

Selain nama makanan yang disebut diatas, ada pula nama minuman yang tidak kalah unik sperti es setan merah, black magic, jelangkung, kolor ijo, hantu laut sundel bolong dan masih banyak yang lainnya. “Penasaran tidak apa-apa, asal jangan gentayangan,” tutupnya.

Sumber : okezone.com