TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN: KURSUS BALET

Peluang Usaha

 
Selasa, 20 Desember 2011 | 13:01  oleh Fahriyadi, Fitri Nur Arifenie
TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN: KURSUS BALET
Omzet melenting tinggi dari usaha kursus menari balet

Dipopulerkan oleh Marlupi Dance Group, kini tari balet semakin populer di Tanah Air. Lihat saja, kursus tari balet tak pernah sepi dari siswa. Bisnis ini memang menguntungkan, namun pakar balet Marlupi Sijangga berpesan, sebaiknya pengelola kursus balet adalah yang suka dan bisa menari balet.

Tari balet atau menari dengan memakai pointe shoes berpita memang bukan tari asli Indonesia. Namun seni tari yang telah mendunia ini memang banyak penggemarnya di Tanah Air.

Penggemar balet ini tak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Itulah sebabnya, tempat kursus balet kini juga semakin mudah ditemui.

Nah, salah satu tempat kursus balet yang sudah lama kondang di negeri ini adalah Fun and Smart Education Center yang dikelola Widyana Susanty. Fun and Smart ini pemegang lisensi sekolah balet Marlupi Dance Academy (MDA) yang sudah terkenal dan telah berdiri sejak 1956 silam.

Tentu tak hanya Widyana yang mengempit lisensi dari MDA. Di seluruh Indonesia ada 35 pemegang lisensi MDA. Perempuan 26 tahun ini mengaku mulai menjalankan sekolah balet ini sejak 2006 lalu di Gunung Sahari, Jakarta Utara.

Widyana mengakui, tren peminat kursus balet terus meningkat dari tahun ke tahun. “Banyak orang tua yang ingin mencarikan kegiatan di luar jam sekolah tapi tetap disenangi anak-anak,” ujar Widyana.

Sekadar gambaran, pada 2011 ini saja, Widyana berhasil menggaet 300 siswa dari usia 2,5 tahun hingga dewasa, dari jenjang preschool hingga advance. “Siswa bisa mengikuti kursus seminggu sekali atau seminggu dua kali,” ujar wanita yang senang dengan tari balet sejak kecil ini.

Dengan biaya kursus antara Rp 250.000-Rp 500.000 per bulan, ia mengaku mampu meraup omzet sekitar Rp 70 juta per bulan. Menurut Widyana, prospek kursus atau sekolah balet ini ke depannya akan semakin cerah seiring dengan semakin dikenalnya tari balet di Indonesia.

Widyana pun berpromosi. Ia mengatakan, para lulusan Fun and Smart kelak bisa menjadi seorang balerina atau menjadi instruktur balet nan andal dan memiliki reputasi baik. Pasalnya, lulusan Fun and Smart itu mengantongi sertifikat dari Royal Academy of Dance di London, Inggris.

Pemilik sekolah balet lainnya adalah Carin, yang mendirikan usaha kursus balet dengan bendera Carin Rumah Yoga, Balet, dan Senam. Kursus ini sudah berdiri sejak 1998 di Serpong, Tangerang.

Menurut Carin, peminat balet saat ini cukup banyak karena balet memiliki nilai prestige yang tinggi dan lebih populer ketimbang tarian lainnya, termasuk tarian daerah. Sejauh ini untuk menunjang tempat kursus, Carin menggunakan jasa para guru balet jebolan MDA.

Walau mengaku kursus balet ini masih bersifat musiman dan ramai ketika liburan sekolah, Carin menilai prospek usahanya masih cukup besar. Saat ini saja, Carin menampung sedikitnya 80 siswa setiap bulannya.

Dengan biaya kursus mulai dari Rp 150.000 – Rp 500.000 per bulan, ia mampu mendulang omzet hingga Rp 40 juta per bulan. “Balet adalah tarian yang menantang, karena semakin tinggi tahapannya maka semakin sulit gerakan yang harus dilakukan,” ungkapnya.

bukan hanya lingkup Jabodetabek, kursus balet juga sedang menjamur di Bandung. Agnes Thaeda, pemilik kursus balet Nez Ballet Dance di Kota Kembang itu mengaku mulai menjalankan usaha ini sejak 2010 lalu.

Agnes yang sudah belajar balet sejak duduk di bangku taman kanak-kanak ini mengaku antusias untuk membuka kursus tarian yang berusia lebih dari 400 tahun ini. “Maraknya pergelaran balet di Indonesia dalam setahun terakhir telah membius banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa untuk belajar balet,” ungkapnya.

Agnes menambahkan, kursus balet merupakan pilihan yang tepat bagi orang tua untuk memberikan kegiatan positif di luar sekolah formal. Kursus balet itu bukan hanya sekadar mengajarkan gerakan melenting dan atau mengangkat kaki tinggi-tinggi, melainkan juga menekankan disiplin, interaksi sosial, dan team working dengan siswa lainnya. “Sisi positif itu yang membuat banyak orang tua memilihkan balet untuk anaknya,” ujarnya.

Dengan biaya kursus Ro 150.000 – Rp 250.000 per bulan, kini Agnes rata-rata mendapatkan 30 siswa dengan raihan omzet sekitar Rp 7,5 juta per bulan. Agnes beralasan, omzet dia masih minim karena usahanya ini baru berjalan dua tahun ini.

Untuk mengasah kemampuan anak didiknya, ia kerap menerima tawaran untuk mengisi acara pergelaran balet setiap tiga bulan sekali di berbagai acara. Agnes menegaskan, kegiatan manggung itu bukan sebagai penambahan profit melainkan mencarikan wadah bagi anak didiknya untuk unjuk kemampuan.

Di tempat kursusnya ini, Agnes mempunyai murid mulai dari usia lima tahun sampai 21 tahun. Mereka akan naik grade saban tiga bulan.

Nah, agar cepat mahir menari balet, Agnes kerap berpesan kepada para siswanya untuk terus belajar dan berlatih, karena pebalet andal tak pernah berhenti untuk belajar. “Walau saya sudah menjadi pengajar balet, saya juga masih belajar tentang balet,” pungkas Agnes.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/85677/Omzet-melenting-tinggi-dari-usaha-kursus-menari-balet-

Peduli Pendidikan Hadirkan Kesuksesan

Peduli Pendidikan Hadirkan Kesuksesan Cetak

Senin, 08 Agustus 2011 09:47
Berbekal keyakinan dan motivasi yang tinggi, entrepreneur muda ini berani membidik bisnis di bidang pendidikan non-formal. Berkat keuletannya selama tiga tahun membangun usaha, dia kini berhasil meraup keuntungan ratusan juta rupiah per bulan.

bimbel098Adalah Siswadi, pria kelahiran Purwodadi, 4 September 1984, yang merintis karier dan bisnisnya dari nol. Perjalanan hidupnya selama 27 tahun secara perlahan mengantarkannya menjadi salah seorang entrepreneur yang cukup sukses di bidangnya.

Melihat peluang terbuka di bidang pendidikan, Siswadi memutuskan membuka usaha bimbingan belajar di luar pendidikan formal yang biasa didapat di sekolah. Pada 4 Februari 2008, Siswadi bersama empat orang temannya mulai merintis bisnis bimbingan belajar di daerah Matraman, Jakarta Pusat.

“Saya melihat para orang tua rela merogoh kocek lebih dalam agar anaknya memperoleh pelajaran tambahan di luar sekolah lewat bimbingan belajar. Bagi saya, ini merupakan peluang bisnis,” ujar Siswadi memaparkan alasannya membidik bidang pendidikan sebagai bisnis yang dia geluti.

Perjalanan merintis usaha tidak terlepas dari pengalamannya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah umum. Saat itu dia bekerja di sebuah persewaan game untuk membiayai sekolah hingga mampu mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Bhayangkara. Namun, dia berani mengambil keputusan berbalik arah dan bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah lembaga bimbingan belajar.

Di sinilah Siswadi banyak menggali ilmu mengenai seluk-beluk bisnis di bidang pendidikan nonformal. Dengan memanfaatkan rumah salah seorang temannya dan bermodal awal hanya sebesar Rp300 ribu untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan, Siswadi dan teman-temannya mulai merintis usaha bimbingan belajar. “Saat itu saya dapat murid 95 siswa,” kenang Siswadi.

Langkah awal tersebut menjadi batu lompatan untuk membesarkan usaha miliknya tersebut. Tanpa kenal lelah dan putus asa,dia terus berupaya menarik minat orang tua untuk memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan yang dikelolanya.

Dia mengakui hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjuangannya membesarkan usaha mulai menemukan titik cerah saat dua siswa didikannya lolos seleksi program pertukaran pelajar Indonesia-Jerman. Bak setetes air di gurun, setelah pertukaran pelajar itu, Bimbel Solusi milik Siswadi dilirik banyak siswa.

Terlebih, dari sisi biaya yang dibebankan kepada siswa, Bimbel Solusi menawarkan paket hemat yang terjangkau bagi kalangan bawah. Dengan berbagai inovasi dalam strategi pemasaran dan terus meningkatkan kualitas pendidikan, dalam kurun waktu tiga tahun, Bimbel Solusi berkembang cukup pesat.

Konsep waralaba telah diterapkan sebagai strategi utama perluasan cabang. Siswadi mengatakan, bimbel miliknya kini memiliki 45 cabang di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Tidak hanya memiliki siswa didik dengan jumlah yang besar, bisnis yang dirintisnya mampu menghidupi 500 karyawan.

Keuntungan yang diperolehnya pun cukup besar dan diakui di luar perkiraan sebelumnya. “Omzet per bulan sekira Rp400 juta,” kata Direktur Operasional Bimbel Solusi ini, seraya bersyukur atas jerih payahnya. Setelah bisnisnya mulai berkembang, Siswadi pun meneruskan kuliah di Universitas Islam Jakarta.

Tidak berhenti sampai di sini, nalurinya sebagai seorang wirausahawan menggugahnya untuk melebarkan sayap bisnis. Setelah bisnis bimbingan belajar cukup berkembang, keuntungan atau omzet yang diperolehnya dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis makanan. Siswadi memutuskan membuka sebuah restoran.

Berbekal pengalaman dan kemampuannya mengelola bisnis bimbingan belajar, Siswadi menerapkannya untuk bisnis restoran. Benar saja, dengan motivasi yang tinggi dan inovasi yang terus berkembang, Siswadi berhasil memiliki tujuh restoran dengan laba bersih berkisar Rp49 juta per bulan.

Semua kesuksesan baik bisnis bimbingan belajar maupun bisnis restoran yang kini dinikmatinya tidak jatuh dari langit. Menurut Siswadi, membutuhkan waktu yang panjang untuk terus belajar sebagai seorang pebisnis yang peduli pada pendidikan. Siswadi pun mengaku, sepanjang hidupnya terus mengalami masa sulit dan cukup gelap.

Namun, hal itu selalu menginspirasi sekaligus memotivasi dirinya. Dia pun memiliki moto hidup yang selalu menjadi inspirasi, “Hadapi rintangan dan yakin bahwa semua dapat diatasi”. (*/Koran SI) http://ciputraentrepreneurship.com/media/10329-peduli-pendidikan-hadirkan-kesuksesan.html

Mengintip Keuntungan Waralaba Kursus Bahasa Inggris

Mengintip Keuntungan Waralaba Kursus Bahasa Inggris PDF Cetak E-mail

Minggu, 12 Juni 2011 09:56
The Wall Street Journal, Agustus 2010 menyatakan bahwa kemampuan bahasa Inggris tertinggi di Asia diduduki oleh Singapura. Dengan lebih dari 220 juta penduduk, ini berarti peluang untuk pendidikan bahasa Inggris di Indonesia masih sangat luas karena kebutuhan akan penguasaan bahasa Inggris masih tinggi.

elti_gram98Salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris di Indonesia adalah ELTI-Gramedia. Setelah berdiri selama lebih dari 20 tahun, pada 2011 ini ELTI-Gramedia memberi kesempatan waralaba (franchise) bagi perusahaan yang ingin mendirikan usaha di bidang pendidikan bahasa Inggris. Mengapa waralaba dan mengapa harus ELTI-Gramedia?

Studi dari US Small Business Administration dari tahun 1978 hingga 1998 menemukan fakta bahwa 62 persen bisnis yang dikembangkan tanpa sistem waralaba mengalami kebangkrutan. Artinya, risiko membangun usaha dari nol cukup berat. Jadi waralaba bisa menjadi solusi untuk investasi.

ELTI-Gramedia adalah lembaga pendidikan bahasa Inggris yang telah berdiri selama lebih dari 20 tahun.  Fasilitas yang ditawarkan ELTI-Gramedia di antaranya adalah perekrutan dan training tenaga akademik, yang terdiri atas satu orang learning center manager dan empat tenaga pengajar. Perekrutan dan training tenaga nonakademik, yang terdiri dari satu orang front office officer, satu orang general affair officer, dan satu orang finance administration. ELTI-Gramedia juga memberikan materi pengajaran untuk pembukaan kelas-kelas perdana, dengan teaching aids standar dan papan nama learning center di depan gedung.

Keuntungan menjadi mitra ELTI-Gramedia adalah return on investment yang memadai (3 tahunan) dengan masa kontrak hingga 10 tahun, dengan dukungan perusahaan besar Kompas Gramedia. Memiliki wilayah kemitraan eksklusif dengan pelatihan dan perekrutan SDM yang terstruktur, juga dukungan operasional dan manajemen berbasis SOP yang berkualitas tinggi, serta dukungan promosi bersama.

Untuk menjadi mitra ELTI-Gramedia, pelaku bisnis harus memenuhi persyaratan antara lain memiliki visi bisnis kuat dan peduli terhadao pendidikan, memiliki bangunan ruko (rumah) yang cukup untuk minimal enam ruang kelas (luas bangunan +/-350m2 atau ruko minimal tiga lantai), memiliki lokasi yang strategis dan lahan parkir yang cukup, diperbolehkan berasal dari organisasi atau perseorangan, diutamakan yang punya minat pada pendidikan yang berkualitas, serta sanggup menjalankan semua SOP dan kebijakan perusahaan untuk kemajuan bersama, menyiapkan biaya waralaba sebesar Rp 240 juta untuk kontrak jangka waktu 10 tahun, dan membayar royalti fee sebesar 10 persen setelah bulan ketujuh beroperasi.

Dengan total modal Rp  600 juta, ELTI-Gramedia memperkirakan keuntungan di tahun pertama yang bisa diraih adalah sebesar 12 persen, pada tahun kedua sebesar  9 persen, dan tahun ketiga sebesar 17 persen. Untuk keterangan lebih lanjut, bisa menghubungi ELTI-Gramedia di Wijaya Grand Center Blok F 83-84 A&B  Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta.

Dengan kemitraan yang makin luas, selain mendatangkan keuntungan pada para pengusaha, hadirnya waralaba ELTI-Gramedia di berbagai daerah diharapkan dapat meningkatkan kemmampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia sehingga mampu bersaing di dunia internasional.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kembangkan-uang-anda/8927-mengintip-keuntungan-waralaba-kursus-bahasa-inggris.html