7 Senjata Pamungkas Kalahkan Keterbatasan Modal Uang

Views :592 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 09 Januari 2012 11:50

ciputra_dalam_Q_TVMenjadi entrepreneur ialah cita-cita bagi sebagian anak muda di luar sana. Mereka memiliki keyakinan teguh berdasarkan apa yang dikatakan teman dan senior yang sudah memulai berbisnis bahwa tak peduli seberapa tingginya sebuah impian , peluang untuk berhasil itu ada.

Sayangnya, keyakinan yang kokoh itu terpaksa layu dan memudar setelah dihadapkan dengan keterbatasan modal finansial. Anak-anak muda ini terus bertanya apa mungkin menemukan sumber pendanaan tanpa menguras aset pribadi? Apakah Anda juga merasa hal yang sama menimpa Anda pula?


Bilamana Anda mendapati diri Anda berada dalam kondisi yang sama, dengan tantangan yang sama, ingatlah bahwa modal itu tak hanya berupa uang! Keringat kita juga bisa dianggap sebagai modal, kerja keras juga sebuah modal yang ternilai yang tak sembarang orang mampu memiliki. Sayang sekali banyak calon entrepreneur muda melupakan ini.

Kerja keras sebagai salah satu jenis aset bisnis justru ialah jenis modal utama yang harus dimiliki entrepreneur muda yang ingin bertahan dan sukses untuk seterusnya dalam dunia entrepreneurship. Bahkan, sebagian entrepreneur sukses berhasil dengan prinsip “Just Do It!”.

Apa yang saya kemukakan berikut ini merupakan 7 senjata pamungkas yang Anda harus gunakan saat modal uang tak ada di tangan.

Senjata 1: Tetap tekuni pekerjaan semula
Ini terutama berlaku bagi Anda yang masih bekerja dan ingin beralih menjadi entrepreneur dengan melakukannya secara bertahap sehingga bisa lebih mantap hasilnya. Terjun dalam dunia entrepreneurship bukan seperti loncat indah, apalagi jika Anda masih sama sekali asing. Anda tak disarankan untuk masuk begitu saja tanpa ‘pemanasan’ ke dalam air yang dingin di dalam kolam, tanpa menguasai teknik berenang, meloncat yang benar dan aman, dan sebagainya.Mulailah dengan menguji suhu air dan kedalamannya, menggerakkan badan secukupnya sehingga kemungkinan cedera/ kram lebih rendah. Hal-hal itu juga harus diterapkan dalam entrepreneurship. Lakukan secara bertahap, sehingga bisa mengukur risikonya. Itu lebih baik daripada tergesa-gesa berbisnis dengan mengorbankan pekerjaan sekarang, hanya untuk kemudian menyesal dan kembali menjadi karyawan selamanya karena merasa trauma. Apalagi jika Anda adalah penopang hidup bagi orang lain. Dibutuhkan waktu bagi sebuah usaha sukses sekalipun untuk menghasilkan laba dalam jumlah yang signifikan.

Senjata 2: Pelajari sebanyak mungkin mengenai cara memulai dan menjalankan sebuah bisnis.
Dapatkan buku-buku yang berkualitas, misalnya “Money Hunt: 27 New Rules for Creating and Growing a Breakaway Business” oleh Spencer dan Ennico, dan “The Art of the Start” oleh Guy Kawasaki. Keduanya merupakan buku umum untuk para pemula. Temukan pula buku-buku yang memperkuat kelemahan Anda dalam berbisnis seperti buku-buku penjualan, pemasaran, keuangan manajemen, dan sebagainya.


Senjata 3: Rekrutlah penasihat yang andal.
Seorang pengacara perusahaan yang andal penting peranannya di sini. Jangan lupa temukan sejumlah entrepreneur berpengalaman yang bersedia membantu.

Senjata 4: Buat rencana bisnis Anda.
Software murah seperti Business Plan Pro merupakan software yang bisa digunakan untuk menyusun business plan.

Senjata 5: Buat produk Anda.
Bersikaplah kreatif dan temukan cara untuk mengemabangkan purwarupa / prototip yang murah untuk berikan pemahaman bahwa ide Anda itu bisa diwujudkan secara nyata.

Senjata 6: Tunjukkan pada pelanggan potensial dan lihat apa yang Anda pikirkan.
Apakah ini memecahkan masalah nyata? Akankah hal itu menghemat uang , membuat mereka merasa lebih baik atau merasa bahwa sebagian kebutuhan telah terpenuhi?

Senjata 7:  Dapatkan pesanan pertama dari pelanggan.
Yakinkan mereka untuk membayar Anda sebelumnya. Buat produknya, kirimkan produk itu dan buat pelanggan/ pembeli gembira.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/ciputra-notes-inspirasi/14140-7-senjata-pamungkas-kalahkan-keterbatasan-modal-uang.html

INSPIRASI AGNES TANDIA

Peluang Usaha

 

Senin, 09 Januari 2012 | 14:36  oleh Hafid Fuad
INSPIRASI AGNES TANDIA
Agnes mengolah kain perca batik menjadi sepatu unik

Dengan usia yang relatif masih muda, Agnes Tandia, 23 tahun, berhasil menemukan ide sekaligus memproduksi sepatu berbahan batik. Selain memasarkan produk sepatunya di dalam negeri, Agnes juga punya jaringan pemasaran sepatu hingga ke Malaysia. Saban sebulan, Agnes meraup omzet lebih dari Rp 60 juta.
Jika kebanyakan kaum perempuan hanya bisa membeli sepatu buatan orang lain, lain halnya dengan Agnes Tandia di Bandung. Ia justru lebih banyak memakai sepatu buatannya sendiri.
Bahkan keahlian Agnes membuat sepatu itu telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan baginya. Kini, Agnes mampu memproduksi hingga 500 pasang sepatu wanita per bulan dengan omzet lebih dari Rp 60 juta.
Agnes pertama kali membuat sepatu wanita pada 2008, saat ia berusia 19 tahun. Ide itu muncul saat ia melihat banyak sisa kain pembuatan jaket berserakan di konveksinya. Maklum, sebelum memproduksi sepatu, Agnes sudah memproduksi jaket batik.
Dari bahan batik sisa jaket itulah Agnes mendesainnya menjadi sepatu. “Sayang jika bahan batik itu terbuang percuma,” terang Agnes.
Ketika itu, Agnes belum punya keinginan membuat sepatu untuk keperluan komersial. Dia hanya ingin membuat sepatu buat dirinya sendiri. Tapi ternyata, banyak koleganya tertarik dengan sepatu dengan tampilan unik itu. “Bahan batik menjadi lapisan luar dari sepatu,” terang Agnes.
Karena banyak yang berminat, Agnes memutuskan memproduksi sepatu yang dia beri merek Kulkith itu. Bahkan, agar produknya ini terkenal, ia membawa sepatu itu pada ajang pameran. Pada tahun 2009 itu, Agnes mengikuti pameran kerajinan Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC). “Saya membawa dua lusin sepatu motif batik yang saya produksi dengan modal Rp 2 juta,” terangnya.
Dari pameran itu, hatinya makin mantap berbisnis sepatu batik lantaran punya pasar potensial. Hampir seluruh sepatu itu habis terjual. Agnes pun pulang dengan membawa duit sekitar Rp 8 juta. “Dari dua lusin yang saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang,” kenang Agnes.
Dengan usia yang tergolong muda, Agnes kini sudah memiliki toko sepatu sendiri di Bandung, Jawa Barat. Ia juga sudah memiliki agen penjualan sendiri di Jakarta. Tak hanya itu, Agnes juga memiliki agen pemasaran hingga ke Malaysia. Namun begitu, penjualan sepatu batiknya masih mengandalkan pasar Jabodetabek.
Keunggulan sepatu produksi Agnes terletak pada penggunaan bahan baku. Agnes membuat sepatu dengan memadukan kain batik dengan bahan baku kulit. “Penggunaan bahan batik inilah ciri khas sepatu kami,” terang Agnes.
Dengan mematok harga jual Rp 130.000 sampai Rp 250.000 per pasang, Agnes membidik segmen pasar kalangan perempuan muda yang berusia 15 tahun sampai usia 25 tahun.
Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB itu mengaku sengaja memproduksi sepatu batik untuk kaum perempuan. Sebab, dari penilaiannya, kaum perempuan lebih peduli akan desain sepatu ketimbang kaum pria. “Maka itu setiap bulan saya selalu merilis tiga desain baru agar tetap bisa mengikuti tren pasar sepatu,” jelas Agnes.
Demi kepuasan pelanggannya, Agnes tidak mau menjual sepatu dengan harga mahal. Alasan dia, konsumen bakal jarang berbelanja jika harga jual sepatu itu terlalu berat bagi kantong. “Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja,” terang Agnes.
Walaupun harga sepatu itu terbilang murah, tetapi Agnes tidak mau menyepelekan masalah produksi. Ia tetap membuat sepatu dari bahan baku batik berkualitas dan bahan kulit yang bermutu. “Pemilihan corak batik juga penting agar cocok dibuat sepatu,” kata dia.
Dalam bisnis ini, keluhan Agnes hanya satu: susahnya mencari tenaga kerja. Sebab, bisnis ini butuh tenaga kerja yang terampil, handal, serta kreatif. “Faktor tenaga kerja sangat penting karena sepatu kami ini buatan tangan atau hand made,” katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87093/Agnes-mengolah-kain-perca-batik-menjadi-sepatu-unik-

Dodi Chandra, Pengusaha Distro dari Pariaman

Dodi Chandra, Pengusaha Distro dari Pariaman Views :206 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 20 Desember 2011 10:17
Awalnya, tidak pernah terpikir oleh Dodi Chandra bakal menjadi pengusaha distro di Pariaman, Sumatra Barat. Kedatangannya ke Bandung, Jawa Barat kala itu ingin mewujudkan mimpi menjadi tentara Angkatan Darat. Ternyata begitu sampai di Bandung, impiannya berubah. Ia beralih menjadi pengusaha distro. Hal apa yang mengubah mimpinya?

distroAtmosphere Distro House, sebuah toko pakaian remaja yang terletak di Jalan Sudirman No 47 Pariaman menjadi trend setter di Kota Pariaman. Distro ini pun ditata mengikuti selera remaja dengan produk-produk yang lagi booming terpajang di etalase.

Melihat gaulnya, toko ini tentu tak seorang pun menyangka awalnya si pemilik toko, Dodi Chandra bermimpi menjadi seorang TNI. Maka tahun 2004, usai menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, Dodi menuju Bandung mengikuti serangkaian tes.

Namun begitu sampai di Bandung, justru semangat untuk menjadi TNI menguap. Melihat banyaknya distro di Kota Kembang itu, ia pun bermimpi menjadi pengusaha distro. Tentu saja hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Modal, jelas tak punya.

Mengharapkan ayah,  tidak mungkin, karena ayahnya hanya buruh tani. Keinginan tersebut ia pendam sendiri, namun ia berusaha merintis impiannya. Kebetulan, selama di Bandung ia menumpang di rumah kakaknya yang juga punya toko pakaian.

Ia meminta kepada sang kakak, agar diizinkan membantu menjaga toko. Jadilah selama dua tahun ia membantu kakaknya menjaga toko. Disitulah sedikit banyaknya ia transfer ilmu berdagang dan membangun jaringan dari produsen pakaian.

Awal 2007, ia mulai mencoba hidup Mandiri dan hengkang dari rumah sang kakak. Tentu ini tidak mudah, karena ia harus mencari penghasilan sendiri.

”Saat itu hidup saya benar-benar sulit, karena tidak kunjung dapat pekerjaan, tabungan pun habis untuk biaya makan sehari-hari. Hingga saya putuskan bekerja sebagai pengorder pakaian dari produsen kepada konsumen. Modalnya hanya modal kepercayaan. Saya ambil barang dari produsen kemudian tawarkan ke toko-toko di Bandung. Alhamdulillah, kemudian terkumpul uang Rp 7 juta,” ujarnya seperti dilansir Padang Ekspres.

Modal inilah yang ia gunakan untuk memulai usaha. Ia pulang ke Pariaman mencari toko yang cocok untuk usaha distro. Akhirnya, ia menemukan toko dengan ukuran 3×4 di pusat kota Pariaman. Harga sewanya, Rp4,5 juta, sisa uang ia belikan etalase dan perangkat kebutuhan distro.

Sedangkan pakaian dan celana untuk distro, hanya bermodalkan kepercayaan teman lamanya di Bandung. Sang teman memberi kepercayaan menitipkan barangnya ke Dodi. Begitu terjual, baru ia setor kepada temannya tersebut. Naluri bisnisnya tidak meleset, distronya berkembang pesat. Ia selalu menampilkan model pakaian dan celana serta aksesories terbaru di Bandung.

Sistem one stop service pun ia terapkan semua kebutuhan remaja laki-laki dan perempuan tersedia di tokonya. Sehingga tokonya menjadi trendsetter di kalangan remaja Kota Pariaman.

Alhasil omzet pun meningkat dari Rp 300 ribu perhari menjadi Rp1,5 juta per hari. Bahkan saat Lebaran, ia berhasil membukukan omzet hingga Rp 250 juta, fantastis. Meski demikian, ia belum puas, saat ini ia ingin mengembangkan sayap, buka cabang di Lubukalung.  ”Prinsip saya di mana ada kemauan di situ ada jalan,” tukasnya.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/perdagangan/13574-dodi-chandra-pengusaha-distro-dari-pariaman.html

INSPIRASI SUDARTO

Peluang Usaha

 
Rabu, 14 Desember 2011 | 16:14  oleh Ragil Nugroho
INSPIRASI SUDARTO
Sudarto sukses menjadi juragan rempeyek detelah terkena PHK (1)
 

Pertunjukan harus tetap berjalan. Itu pula yang membuat Sudarto tetap semangat meski kena PHK. Pascakehilangan pekerjaan itu, Sudarto melihat di kampungnya di Yogyakarta ada potensi ekonomi yang bisa dikembangkan, yakni rempeyek. Sudarto pun terjun ke bisnis ini dan dia jadi makin yakin ada duit di balik rempeyek.

Pengalaman pahit adalah pemicu semangat yang paling besar. Pengalaman pahit ini pula yang membuat Sudarto, pria kelahiran Yogyakarta 47 tahun silam, sukses merintis usaha rempeyek.

Sudarto mulanya berstatus karyawan di PT Panasonic Gobel, produsen elektronik yang memiliki kantor cabang di Yogyakarta. Namun pada 2004 silam, Sudarto harus rela menjalani pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bagi sebagian besar orang di-PHK itu ibarat menelan pil pahit. Bagi PHK-wan dunia seolah-olah runtuh dan hidup tak bisa berlanjut.

Namun, bagi Sudarto pil PHK itu ternyata tak pahit-pahit amat. Justru pil itu menjadi obat kuat untuk semakin bersemangat mencari rezeki buat keluarganya.

Sudarto menjadikan pemecatan itu sebagai pintu masuk ke ekonomi yang lebih baik. Lihat saja, usai dipecat, ia memutuskan untuk berwiraswasta dengan memproduksi rempeyek. Kebetulan saat itu, di daerah asalnya di Dusun Pelemadu, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, banyak usaha rempeyek yang dikembangkan rumah tangga.

Namun, usaha rempeyek tidak berkembang baik karena kurang promosi. Nah, Sudarto tak mau melakukan kesalahan yang sama. Ia tetap memproduksi rempeyek namun juga melakukan promosi dan pemasaran yang benar untuk rempeyeknya itu.

Pada 2006, bersama sahabatnya, Sudarto bertekad bulat berbisnis rempeyek khas Yogya. Selain memproduksi sendiri, ia juga melakukan pengemasan rempeyek dengan apik. “Rempeyek itu makanan tradisional favorit orang Jawa,” ujarnya.
Selain menyiapkan kemasan yang apik, tak lupa Sudarto juga melakukan survei kecil-kecilan tentang kebutuhan rempeyek di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Kesimpulannya, “Kebutuhan rempeyek masih tinggi,” ujar Sudarto. Kesimpulan lainnya, banyak warga kota besar yang ternyata lebih suka rempeyek kampung.

Hasil survei itu terbukti benar, penjualan rempeyek Sudarto berkembang pesat di kota besar. Setelah berjalan sekian waktu, kini ia telah memproduksi 3.000 sampai 4.000 kemasan atau setara dengan 1 ton rempeyek per hari dengan harga jual Rp 2.500 per kemasan. “Pesanan terbesar dari di Jakarta,” kata pemilik merek rempeyek Nyak Sus itu.

Sesampai di Jakarta, rempeyek yang diproduksi Sudarto bisa dijual hingga Rp 5.000 per kemasan. “Rempeyek ternyata bisnis yang menguntungkan di Jakarta,” pungkasnya.

Untuk memikat konsumen, Sudarto sengaja memproduksi lima jenis rempeyek. Mulai dari rempeyek kacang tanah, kedelai hitam, kedelai putih, teri, dan rempeyek udang rebon. Namun, rempeyek yang best seller adalah rempeyek kacang tanah.

Selain pasar ibu kota, ternyata rempeyek milik Sudarto juga laris hingga Sumatra dan Kalimantan. Khusus rempeyek kedelai hitam dan rempeyek kedelai putih laku keras di Sumatera.

Dari hasil penjualan itu saban bulan Sudarto mengantongi omzet Rp 300 juta. Bahkan kini ia sudah punya 36 karyawan yang ia bayar dengan sistem kerja borongan. Dengan sistem borongan itu, ia membayar jerih payah karyawan sesuai pekerjaan yang mereka hasilkan.

Kamis, 15 Desember 2011 | 15:53  oleh Ragil Nugroho
INSPIRASI SUDARTO
Sudarto: Rempeyek makin renyah pascagempa (2)

Usaha rempeyek Sudarto ikut bergoyang ketika gempa melanda Yogyakarta pada 2006 silam. Namun, Sudarto tak mau menghentikan produksi. Baginya, gempa ini juga peluang karena saat itu Yogyakarta dibanjiri relawan dari segala penjuru Tanah Air. Ini menjadi peluang emas baginya berpromosi agar rempeyeknya makin terkenal.

Sudarto memang tak pernah menyesal atas PHK yang menimpa dirinya. Sebaliknya, dia malah bersyukur. Karena PHK itu pula, statusnya berubah 180 derajat. Kalau dulu dia hanya buruh atau karyawan, sekarang dia berstatus sebagai juragan.

Dengan menjadi pengusaha, ia juga bisa mengatur sendiri waktu kerjanya. Yang terpenting, ia bisa mempekerjakan tenaga kerja di sekitar tempat tinggalnya

Satu hal yang dipetik Sudarto saat menjadi karyawan, yakni pengalaman. Dia membayangkan, seandainya tak pernah jadi karyawan, tentu bingung juga menjadi pengusaha. Ilmu saat menjadi karyawan, sekarang benar-benar berguna bagi Sudarto untuk menjalankan usaha rempeyek ini. “Saya jadi punya ilmu marketing dan sekaligus bagaimana mempraktikkan ilmu itu,” ujar Sudarto.

Dengan ilmu pemasaran itu pula, Sudarto memutar modal yang cuma sebesar Rp 5 juta. Awalnya, ia menjalankan usaha bekerja sama dengan para ibu-ibu pengasong untuk memasarkan rempeyek dari pintu ke pintu atau tempat-tempat yang banyak didatangi orang. “Awalnya saya ingin membuka toko, namun ternyata cara door to door ini lebih efektif,” ungkap Sudarto.

Bagi pengasong, pola jualan seperti itu memang lebih menguntungkan, karena pengasong bisa mengambil untung lebih banyak. Adapun bagi Sudarto, ia selalu menerima pembayaran tunai.

Namun saat pasar rempeyek mulai meluas, produksi sempat terganggu, bahkan terhenti, selama tiga minggu akibat gempa bumi melanda Yogyakarta pada 2006. Saat gempa mengguncang, rumah tempat produksi rempeyek rata dengan tanah. Sudarto pun merugi puluhan juta.

Tapi, Sudarto pantang meratapi nasib. Ia pun kembali bangkit dan memanggil semua karyawan untuk bekerja dan memproduksi rempeyek seperti semula.

Justru setelah gempa itu usaha rempeyeknya makin melebar. Waktu itu banyak relawan yang datang ke Yogyakarta dan memberikan bantuan. Nah, saat hendak menyerahkan bantuan ke Sudarto, lelaki ini malah mempromosikan rempeyeknya kepada para relawan itu. “Mereka datang dari berbagai kota di luar Jawa, sehingga saya bisa sekalian promosi,” tegasnya.

Meski saat itu ia belum bisa mengirim dalam jumlah besar kepada para pemesan karena ada bencana, setidaknya ia bisa meyakinkan bahwa produk rempeyeknya sangat berkualitas.

Setelah gempa itu, produksi rempeyek Sudarto pelan namun pasti normal kembali. Bahkan beberapa bulan setelah gempa, produksinya sudah mencapai 2.000 bungkus per hari. “Jumlahnya memang masih sedikit, namun responsnya bagus,” pungkasnya.

Sebagai strategi pemasaran, Sudarto memutuskan untuk lebih fokus menjual rempeyeknya di luar Yogyakarta. Karena ia sadar bahwa produsen rempeyek di Yogyakarta sudah cukup banyak. Kini, hampir semua produksinya dikirim ke Jakarta dan sekitarnya karena pasarnya masih sangat menjanjikan. Untuk mengirimkan rempeyek dari Bantul ke Jakarta, ia menggunakan truk yang ditutup dengan terpal dengan frekuensi pengiriman seminggu dua kali.

Untuk urusan ini, ia sudah memiliki langganan armada truk sehingga mereka sudah mengetahui teknis mengangkut rempeyek agar kondisinya tidak hancur dan tetap bagus sampai di ibu kota. “Mereka rata-rata sudah pengalaman lebih dari 10 tahun menjadi sopir angkutan barang makanan,” ujar Sudarto.

Ke depannya, Sudarto masih punya ambisi bisa menguasai pasar di Kalimantan. Karena selama ini baru sekitar 5% dari total produksi rempeyeknya yang sampai di Kalimantan.

Padahal kota-kota seperti Pangkalanbun, Sampit, Palangkaraya, Banjarmasin, dan Balikpapan sangat besar permintaannya. “Saat ini, kendalanya, produksi rempeyek masih kurang untuk memenuhi seluruh permintaan,” ujarnya.

Kebetulan, ia juga sudah memiliki beberapa konsumen lama yang siap menjadi agen penyalur rempeyeknya ke kota-kota di Kalimantan. Sehingga ia bisa memastikan bahwa produk rempeyeknya aman sampai ke tangan konsumen. Karena ia menyadari bahwa kendala utama dalam bisnis ini adalah masalah distribusi.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323854060/85226/Sudarto-sukses-menjadi-juragan-rempeyek-detelah-terkena-PHK-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/85315/Sudarto-Rempeyek-makin-renyah-pascagempa-2-

Adit Uriono, Sukses dengan Bisnis Tas Motor

Views :180 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 22 November 2011 11:30
Para pengendara sepeda motor atau biker yang hobi melakukan touring sering dipusingkan dengan barang bawaan. Maklum, tak seperti mobil, sepeda motor memiliki ruang kosong yang terbatas.

tas_motorNamun, minimnya ruang kosong justru mendatangkan peluang. Berawal dari hobi touring, Adit Uriono mendapatkan ide untuk membuat tas sepeda motor berbentuk backpack yang dapat diletakkan di tangki sepeda motor dan belakang jok sepeda motor. Pembuatan tas skala rumahan ini mampu mendulang omzet hingga puluhan juta rupiah.

Adit memulai bisnis tas sepeda motor ini pada 2008 lalu. Namun, baru benar-benar fokus pada tahun lalu ketika dia meluncurkan merek tas sepeda motor 7Gear. “Awalnya, saya hanya memproduksi dalam jumlah sedikit, karena melihat pasar dulu,” ujar Adit seperti dikutip dari Kontan Online.

Tas sepeda motor 7Gear ini memiliki beberapa model, antara lain seperti city tank bag yang berupa tas model selempang. Kedua sisi tas berbentuk sayap tempat melekatnya magnet. Magnet ini berfungsi untuk merekatkan tas di sepeda motor, bisa di bagian depan (tangki sepeda motor) atau bagian jok. Tas model ini harganya Rp 275.000 per buah. Tas selempang lainnya adalah enduro tank bag yang dibanderol dengan harga Rp 350.000 per unit. Tas ini serupa dengan city tank bag, bedanya pada tambahan kantong sisi kiri dan kanan tas.

Selain model selempang, Adit juga mengeluarkan model nusantara tank bag yang bisa disulap menjadi tas backpack. Harga tas jenis ini sebesar Rp 300.000 per buah. Dengan bantuan 15 karyawan tetap dan beberapa karyawan outsourcing, saban bulan Adit mampu membuat sekitar 300 tas sepeda motor. Tiap bulan, Adit pun menangguk omzet hingga Rp 90 juta.

Sayang, pemasaran 7Gear baru terbatas di Jakarta dan Bandung. Kini, ia sedang menjajal pemasaran lewat dunia maya. Baru-baru ini, Adit pun menerima pesanan tas sepeda motor dari Thailand dan Malaysia. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/12953-adit-uriono-sukses-dengan-bisnis-tas-motor.html

Order Cupcake Meroket Tajam Berkat Groupon

Views :235 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 22 November 2011 14:00
Selama hampir 25 tahun berkiprah di bisnis pembuatan cupcake, Rachael Brown yakin bahwa produknya begitu digemari konsumen. Sayangnya, ia keliru. Cupcake-nya yang terlihat begitu menggiurkan itu bukan hanya digemari konsumen tapi sangat populer hingga membuat ia kebanjiran pesanan. Bila rata-rata dalam sebulan, Brown hanya menerima order sekitar 100 cupcake tapi ketika menerapkan strategi yang dianggapnya jitu, jumlah pesanannya melonjak drastis menjadi 102.000 cupcake. Lalu, apa strategi jitu yang dipakai Brown?
rachael-brownPerusahaan pembuatan cupcake milik Brown bernama Need a Cake. Awalnya, ia hanya memiliki 8 karyawan tetap yang membantunya mengelola bisnis panganan tersebut. Tapi ketika suatu saat ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Groupon, Brown memutuskan untuk merekrut 17 karyawan non tetap agar bisa memenuhi permintaan customer.
Yup, promosi melalui Groupon adalah strategi jitu yang diterapkan Brown untuk mengembangkan bisnisnya. Berkat pemasaran di situs penyedia diskon untuk aneka produk itu, pesanan Brown meningkat tajam. Pengusaha berusia 50 tahun itu begitu paham keinginan pasar.
Menurut pengamatan Brown yang berasal dari Woodley, Inggris, selain karena cita rasa lezat, harga miring juga menjadi skala prioritas konsumen untuk membeli produk kuliner. Karena itu, ia nekat memberikan potongan harga kepada para subscriber Groupon sebesar 75 persen. Jika harga normal untuk selusin cupcake 26 poundsterling tapi di Groupon, Brown menjualnya seharga 6,50 poundsterling.
Selain harga miring, untuk semakin mencuri perhatian konsumen, Brown juga memberi kebebasan kepada konsumen untuk menghias sendiri cupcake sesuai minat, mulai dari sponge flavour, icing hingga dekorasi. Strategi itu lagi-lagi membuahkan hasil. Konsumen jadi semakin tertarik membeli cupcake produksi Brown.
“Setelah selesai membuat (cupcake), kami mengemas lalu mengirimnya dan kemudian membuat lagi untuk pesanan berikutnya. Seperti bekerja non-stop. (namun) Kami bangga karena mampu membuat kue berkualitas tinggi,” ujar Brown seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (22/11).
Ketika produknya sudah semakin dikenal masyarakat luas, Brown menghentikan promosi melalui Groupon. Ia menyatakan penyesalannya dengan menulis kalimat berikut pada website Need a Cake, “Penawaran melalui Groupon sudah berakhir. Kami menyesal tak dapat memroses voucher dengan Groupon yang telah melewati batas kadarluasa”. Nah, bagaimana menurut Anda strategi yang diterapkan Brown itu? Apakah layak dicoba pada bisnis Anda? (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/wanita/12956-order-cupcake-meroket-tajam-berkat-promosi-di-groupon.html

BLUE dan 3 E untuk Maju

Views :286 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 22 November 2011 15:08
pak_ci1111Menjadi orang yang maju merupakan impian bagi setiap orang. Bagi saya menjadi orang yang maju merupakan sebuah komitmen diri yang harus senantiasa diperjuangkan. Banyak orang bertanya kepada saya, resep-resep menjadi maju dan sukses.

Menurut saya, menjadi orang yang maju sebenarnya cukup mudah. Tiap orang yang maju setidaknya harus memiliki tiga hal yakni intregritas, profesionalisme, serta entrepreneurship.

Bicara soal entrepreneurship, tentunya ada resep khusus lainnya. Resep ini baru saya temukan bulan lalu, yang saya sebut sebagai BLUE.

BLUE di sini membicarakan 4 hal yakni:
B: Menciptakan hal yang BARU
L: LAIN dari yang lain
U: UNIK
E: EKSKLUSIF

Selain itu, seorang yang maju juga harus memiliki 3 E yakni Envision, Explore, and Encounter. Envision dilakukan dengan membayangkan. Explore dilakukan dengan menjelajah hal baru, serta encounter dilakukan dengan melakukan inovasi.

Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat bagi Anda semua. Salam entrepreneur!

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/ciputra-notes-inspirasi/12960-blue-dan-3-e-untuk-maju.html

Endi, Sang Pemilik Nila Kandi

Views :102 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 12 Oktober 2011 10:03
Berawal dari kecintaannya terhadap batik sejak bangku Sekolah Menegah Pertama, Rachmani Endrawati mewujudkan hobinya dengan membangun label batik Nila Kandi. Kecenderungan memilik batik encim yang dipilihnya pun karena ia memang sangat menyukai motif batik encim yang ramai, dan penuh warna yang menarik.

nilakandiEndi, demikian sapaan akrab perempuan kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1961 ini, membuat batik Nila Kandi identik dengan gaya seksi. Dengan cara ini, ia ingin menjelaskan kepada masyarakat umum bahwa batik cocok dan pantas dipakai oleh kalangan usia manapun, di mana pun, dan dalam acara apa pun.

“Rasanya akan lebih oke kalau desainnya juga menunjukkan keseksian wanita yang memakainya. Yang pasti tetap pantas dikenakan, dan enak dilihat,” tutur Endi.

Endi, yang semula seorang ibu rumah tangga biasa, awalnya memang tidak berniat terjun untuk berbisnis. Niatnya hanya mengoleksi busana dan kain batik saja. Namun, rasa bosan yang melanda membuatnya iseng mendesain busana batik. Niatnya tersebut didukung penuh oleh sang suami yang berkebangsaan Inggris, David Cheadle. Tahun 2007, Endi mulai membuka tempat usaha di Kuta, Bali.

Hingga sekarang, Endi telah memiliki 10 gerai dan butik yang tersebar di Jakarta (antara lain di Alun-Alun Grand Indonesia), Bali, Serpong (Pendopo Alam Sutera), dan Bandung (Alun-Alun Paris van Java). Ia mengincar kalangan menengah ke atas dan pasar ekspatriat. Sayangnya, butik pertama yang dibukanya di Kuta saat ini sudah tutup. Hal ini disebabkan kesibukannya di Jakarta yang menuntut perhatian, dan menyebabkan butik di Kuta jadi tak terurus.

“Lagipula biaya sewanya mahal sekali, Rp 200 juta setahun. Siapa yang sanggup?” selorohnya.

Endi tak berniat merendahkan diri. Meskipun tanpa promosi, lini busana Nila Kandi (dari bahasa Sansekerta yang artinya “langit biru”) yang ditawarkan dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 1,5 juta tersebut telah menghasilkan omzet antara Rp 30-75 juta per bulan. Kapasitas produksinya dalam sebulan baru mencapai 100 barang, termasuk aksesori seperti tas, sepatu, serta pernak-pernik lainnya seperti taplak meja dan tatakan gelas.

Perempuan enerjik ini memang tidak berniat memproduksi barang secara massal. Ia mengutamakan eksklusivitas bagi para pelanggannya. Sebagai contoh, satu model busana hanya diproduksinya sebanyak 10 buah, dan semuanya disebar ke semua outlet-nya. Sepuluh busana tersebut juga dibuat dengan warna yang berbeda-beda, sehingga tidak ada baju yang sama persis.

Hal tersebut tentu mengharuskan Endi memikirkan betul bagaimana konsep bisnisnya. Ia juga mengatur seluruh perencanaan hingga distribusi barangnya. Ia masih ragu mempercayakan bisnisnya pada orang lain, karena khawatir mereka tak dapat memahami dan menangkap keinginannya dengan tepat.

Endi memang boleh dibilang single fighter dalam menjalankan bisnis batiknya. Semua proses produksi berada dalam tanggung jawabnya secara langsung, dari mencari bahan baku hingga loading barang di beberapa outlet-nya di pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta dan Bandung.

“Semua saya kerjakan sendiri, dari mendesain, mengantar barang, sampai menata barang di toko. Baru beberapa waktu lalu saya merekrut manager untuk dapat membantu mengatur pekerjaan saya,” ungkap Endi, yang juga memiliki koleksi lini kedua dengan merek NDI.

Ia mencari sendiri bahan baku dengan mengunjungi perajin batik di kawasan batik pesisir seperti Pekalongan, Tuban, hingga Madura. Ia memesan motif-motif batik tulis dan cap yang sudah ada, namun dengan warna-warna yang dipilihnya sendiri. Dalam hal ini, ia lebih memilih batik tulis karena hasilnya lebih indah. Batik tulis biasanya dilukis bolak-balik di atas kain, sehingga ketika digulung atau dilipat, sisi satunya tidak terlihat putih yang mengurangi keindahan busana saat dikenakan.

Berangkat dari niat mulia untuk memperluas lapangan pekerjaan, Endi pun kerap memilih pembatik yang berasal kalangan menengah ke bawah, yang biasanya berasal dari desa-desa yang terpencil. Merupakan kebanggaan tersendiri baginya apabila ia berhasil memajukan perekonomian pekerja-pekerja yang dibinanya.

Endi sangat bersyukur atas hasil yang telah dicapainya saat ini, meski tanpa adanya promosi atau  iklan yang biasanya digunakan wirausahawan untuk dapat menggebrak penjualan. “Saya tidak menggunakan media periklanan untuk meningkatkan penjualan, karena yang saya tunjukkan adalah prestasi,” kata Endi, yang hanya berpromosi gratis melalui Facebook.

Meskipun telah sukses, Endi tak ingin berhenti belajar. Ia tetap berusaha meningkatkan kemampuannya mendesain busana. Selain pernah belajar mengenai rancang busana di ESMOD dan jurusan Pakaian Jadi di LaSalle College, Endi juga terus menambah wawasannya mengenai pembuatan batik itu sendiri. Batik sudah menjadi passion-nya, sehingga ia bertekad mengetahui segala sesuatu mengenai dunia ini.

Kepuasan pelanggan juga menjadi perhatiannya yang utama. Endi selalu bersedia memberikan pelayanan ekstra kepada pelanggan untuk memperbaiki kerusakan pada batik yang telah terjual. Layanan back to order pun kerap diterima untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

Endi menegaskan, kesuksesan usahanya ini tidak terlepas dari dua hal yang selalu ia tekankan, yakni selalu fokus dan enjoy dalam menjalani setiap pekerjaan yang dilakukan. Endi sangat berharap dapat lebih maju dalam bisnis yang digelutinya, serta dapat memperluas distribusi batik Nila Kandi hingga keluar negeri. (*/Kompas Female/Tabloid Nova)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/11889-endi-sang-pemilik-nila-kandi.html

INSPIRASI SATRIA ANGGARA

Peluang Usaha

 
Rabu, 12 Oktober 2011 | 15:13  oleh Hafid Fuad
INSPIRASI SATRIA ANGGARA
Satria Sukses Menggarap Storyboard untuk Agensi Iklan

Ada banyak pekerjaan yang ada di belakang pembuatan sebuah iklan televisi. Salah satunya adalah storyboard artist yang bertugas menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk visual. Dari profesi inilah, Satria Anggara menuai kesuksesan. Meski berstatus tenaga lepas, ia telah memiliki lima pelanggan tetap dengan omzet hingga puluhan juta.

Bagi seorang art director atau sutradara, keberadaan storyboard sangat penting. Frame cerita ini berguna untuk menentukan perspektif gambar, setting, dan karakter tokoh dalam pembuatan sebuah film atau iklan.

Salah satu seniman papan cerita atau storyboard artist ternama di Indonesia adalah Satria Anggara. Pria 39 tahun ini, telah menekuni profesi storyboard artist selama sembilan tahun.

Awalnya, Angga, panggilan akrab Satria Anggara, adalah seorang animator. Sebagai animator, ia pernah bekerja di perusahaan animasi Jepang di Jakarta pada 1994.

Hingga pada 2002, Angga memutuskan hijrah ke PT Tunas Pakar Intergraha. Di perusahaan inilah, ia mulai mengenal profesi storyboard artist. Angga yang tak punya latar belakang pendidikan seni lukis ini, lantas menekuni profesi ini. “Proses mengerjakan storyboard lebih cepat, bayarannya juga lebih bagus,” ujarnya.

Namun, hanya dua tahun ia bertahan di perusahaan itu. Selanjutnya, Angga memutuskan bekerja sebagai tenaga lepas, karena ia ingin memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga.

Sayang, karena namanya belum begitu dikenal sebagai storyboard artist andal, saat itu Angga sulit mendapatkan klien, khususnya dari agen iklan. Satu-satunya tawaran, datang dari sebuah production house asal Bandung, yang memintanya menggarap profil perusahaan sebuah bank daerah di Bandung.

Angga mengingat, saat mengerjakan proyek itu pada 2004, ia hanya mendapat bayaran Rp 1 juta. “Saya masih bingung menentukan harga, karena pesanannya masih dalam skala lokal, yakni untuk ditayangkan di televisi lokal Bandung,” ujarnya. Baru pada 2006, Angga mendapat tawaran dari sebuah agensi di Jakarta. Ia mendapat proyek storyboard untuk produk makanan ringan Taro.

Asal tahu saja, setelah memutuskan keluar dari Tunas Pakar Intergraha, Angga juga membuat tim kecil dengan sembilan temannya. Tim bernama Green Apple Studio itu khusus membuat film animasi.

Setelah mengerjakan storyboard iklan Taro, dewi fortuna mulai berpihak kepadanya. Tawaran lain pun terus berdatangan dari beberapa agensi lokal hingga perusahaan multinasional. Ia pun menuai sukses menangani penggarapan storyboard untuk berbagai produk dengan merek bergengsi, seperti Sharp, Aqua, Energen, dan Honda.

Banyak kisah yang dialaminya saat menghadapi klien. Yang paling sulit, ketika ia berhadapan dengan art director yang memaksakan idenya, walau tak mengerti tujuan storyboard itu sendiri.

Sementara itu, sebagai seniman storyboard, Angga memahami ada banyak pihak yang akan bergantung pada hasil karyanya. “Kalau sudut pandang yang saya gambar salah akan merepotkan tim artistik dan juru kamera di lapangan,” jelasnya.

Untuk menyelesaikan storyboard, Angga masih menyukai metode manual. Ia menggambar langsung di kertas, baru kemudian dipindai (scan) ke komputer. Padahal, saat ini, banyak seniman storyboard telah hijrah ke dunia digital dengan mengandalkan kemampuan grafis komputer.

“Gaya manual bisa menghasilkan sentuhan artistik yang tak mungkin diperoleh lewat komputer,” ujarnya. Selain itu, ia lebih menyukai konsep warna hitam putih yang menurutnya lebih praktis.

Dalam sebulan, Angga minimal mengerjakan lima proyek storyboard. Dalam setiap proyek, ia harus menyiapkan tiga konsep yang masing-masing berisi 30 frame gambar. Jika harga storyboard ini berkisar Rp 200.000 per frame, dalam sebulan, Angga bisa mengantongi Rp 90 juta. “Untung bersih saya mencapai 90%,” sebut Angga.

Kini, Angga tidak lagi perlu khawatir tak mendapatkan proyek. Seiring ketenarannya sebagai storyboard artist, lima agensi iklan kini telah menjadi pelanggan tetapnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79788/Satria-Sukses-Menggarap-Storyboard-untuk-Agensi-Iklan

Wahyu Aditya, Merajut Sukses di Bisnis Kreatif

Views :709 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 11 Oktober 2011 00:00
Industri kreatif, khususnya animasi, saat ini memang belum terlalu populer sebagai sebuah peluang bisnis di Indonesia. Namun, bukan berarti industri keratif kurang diminati oleh masyarakat, khususnya kaum muda. Dengan makin berkembangnya teknologi yang ada, maka makin tinggi pula minat dan peluang bisnis yang bisa ditawarkan oleh industri kreatif.

wahyu09111Hal itulah yang coba digarap oleh Wahyu Aditya, seorang entrepreneur muda yang bergerak dibidang bisnis kreatif, khususnya animasi. Melalui ranah multimedia, Adit, begitu ia biasa disapa, mencoba untuk memopulerkan animasi dan mengembangkan potensi diri kaum muda yang tertarik menjadi seorang animator. Dengan ketekunannya, Adit yang juga pemilik dan pendiri HelloMotion Academy telah menularkan “virus” kreatif kepada para siswa didiknya, yang bisa menjadi bekal sang siswa berkarir di industri kreatif.

Sejak kecil, Adit memang telah jatuh cinta terhadap dunia menggambar dan desain. Ia pun makin serius mengejar cita-citanya menjadi seorang desainer dengan mengambil jurusan desain dan multimedia, di salah satu universitas di Australia. Pulang ke Indonesia dengan membawa predikat mahasiswa terbaik, Adit lantas memilih untuk berkarier di Trans TV sebagai salah satu staf marketing promosi, yang menvisualisasikan ide dalam bentuk cetak maupun broadcast.

Saat bekerja di stasiun televisi itulah Adit melihat besarnya peluang untuk mengembangkan industri animasi di Indonesia. Menurutnya, saat itu tidak terlalu banyak institusi pendidikan kreatif yang sesuai dengan jiwa anak muda, seperti dirinya. Padahal, peluang untuk berkarier di bidang animasi masih cukup besar dan itu bisa menjadi peluang bisnis yang baru.

“Ambisi saya ingin mengembangkan industri kreatif, khususnya animasi di Indoensia. Ketika saya bekerja di stasiun TV, saya melihat namimasi Indonesia di layar kaca kurang banyak. Jadi saya harus memperbanyak orang yang paham animasi. Semakin banyak yang mengerti, akan semakin banyak lagi karya animasi di Indonesia. Saya punya imajinasi dan khayalan, yang jika saya kerja di kantoran akan terbentur dengan kepentingan perusahaan,” ucap Aditya saat dijumpai Ciputraentrepreneurship.com di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Dengan bermodal tekad yang bulat, pada tahun 2004, Adit pun berhenti bekerja dan fokus menjalankan sekolah animasinya HelloMotion Academy. Sebagai seorang pekerja seni yang masih berusia sangat muda saat itu (24 tahun), Adit mengaku nekat saat awal membuka bisnisnya. Hal itu karena ia sama sekali tidak mempunyai pengalaman berbisnis, dan ia juga harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit, Rp. 400 juta, untuk memulai usahanya.

“Awalnya, saya kelola sendiri usaha saya. Usia saya yang masih muda dan status saya yang masih lajang, membuat saya berani untuk terjun ke bisnis ini. Setelah saya menjadi seorang wirausahawan, saya pun harus melahap ilmu-ilmu yang dulu saya benci seperti ekonomi, akutansi dan manajemen. Bagi saya, itu juga salah satu bentuk kenekatan saya waktu itu,” jelas Adit, sambil tersenyum.

Nama HelloMotion sengaja dipilih karena Adit ingin bisnisnya menjadi gampang diingat, simple, dan tak terkesan formal. Selain itu, nama “motion” atau gerakan, melambangkan ide kreatif yang selalu bergerak dan terus berinovasi. Sebagai seorang yang pernah terjun dalam industri bisnis multimedia, Adit merasa ilmu dan pengalaman ia dapatkan akan sangat berguna untuk dibagi. Dari sana juga, Adit mengkonsep sebuah kurikulum yang aplikatif dan siap dipakai di industri multimedia. Tidak hanya untuk bekerja di dalam perusahaan saja, banyak juga dari lulusan HelloMotion Academy yang kini membuka usahanya sendiri dibidang multimedia. Kini, HelloMotion Academy menjadi sebuah nama yang cukup disegani dan terkenal sebagai penyalur tenaga kretif untuk industri televisi dan film.

Dalam menjalani bisnisnya, Adit banyak belajar tentang bagaimana cara mengelola sebuah lembaga pendidikan agar bisa berjalan dengan professional. Hal ini menjadi tantangan baginya, karena sebagai seorang entrepreneur ia pun ingin agar bisnis yang dikelolanya bisa mendapatkan profit yang baik. Salah satu langkah yang dipakainya adalah dengan terus memperbaiki kualitas kurikulum dan manajemen usahanya.

“Selain itu saya juga tak ragu untuk minta masukan dari murid-murud saya. Saya percaya, seorang wirausahawan harus bisa mengetahui apa yang dibutuhakan pelanggan dan apa yang bisa membuat mereka nyaman,” ujar Adit.

Untuk memperkuat image HelloMotion, Adit pun mengembangkan sejumlah inovasi dan strategi, yang salah satunya adalah melalui event. Sebuah festival animasi yang diberi nama Hellofest, rutin diselenggaran tiap tahunnya. Dari delapan perhelatan yang telah digelar, animo pesertanyapun terus bertambah tiap tahunnya. pada event terakhir, jumlah peserta yang datang bahkan mencapai 9.000 peserta.

Beragam penghargaan pun telah menghiasi portofolio pria kelahiran Malang, 30 tahun silam ini. Salah satunya adalah penghargaan International Young Creative Entrepreneur of The Year 2007 untuk kategori Screen. Dengan terus berkarya, Adit berharap bahwa karyanya dan siswa-siswa didiknya bisa menembus pasar global, sehingga Indonesia bisa dikenal sebagai salah satu negara pencetak animator kelas dunia.

Untuk mengejar ambisinya, Aditpun berencana untuk melebarkan sayap dengan mendirikan beberapa cabang di sejumlah kota besar di Indonesia. Baginya, bukan hal yang mustahil, suatu saat nanti, Jakarta bisa menjadi barometer industry kreatif dunia. Untuk melebarkan bisnisnya ke depan, Adit tak menutup adanya peluang kerjasama dengan investor yang ingin bergabung. Namun, Penting baginya sebuah kesamaan visi dan misi, sebelum memulai kerjasama.

“Bagi saya kerja sama bisnis itu sama seperti menikah. Artinya, tidak segampang kita membuka pameran waralaba lalu menawarkan bisnis kita ke siapa saja yang tertarik. Saya harus mengenal betul investor saya, dan harus yakin bahwa dia memiliki visi yang sama seperti saya. Mungkin, saat ini saya belum bertemu dengan jodoh yang cocok,” jelas Adit.

Sebagai wirausahawan penggiat seni kreatif, Adit mencoba untuk menawarkan sebuah jalan lain bagi mereka yang juga jatuh cinta kepada dunia animasi. Dan dari animasi juga, Adit pun mulai merintis jalan suksesnya sebagai seorang entrepreneur. “Kita harus bekerja sesuai lentera jiwa kita. Karir itu seperti berjalan di kegelapan, jadi kita harus punya pegangan yang jelas akan hidup kita. Bagi saya, lentera yang saya miliki adalah gairah saya terhadap desain dan seni. Itulah yang menuntun saya untuk keluar dari kegelapan, dan semakin lentera kita makin diasah dan makin terang, kita akan bisa melihat banyak peluang. Itu filosofi yang saya pakai untuk karier saya,” ucap Adit dengan yakin. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/196-exclusive-interview/11486-wahyu-aditya-merajut-sukses-di-bisnis-kreatif.html