| Views :592 Times | |
|
|
| Senin, 09 Januari 2012 11:50 |
Menjadi entrepreneur ialah cita-cita bagi sebagian anak muda di luar sana. Mereka memiliki keyakinan teguh berdasarkan apa yang dikatakan teman dan senior yang sudah memulai berbisnis bahwa tak peduli seberapa tingginya sebuah impian , peluang untuk berhasil itu ada.
Sayangnya, keyakinan yang kokoh itu terpaksa layu dan memudar setelah dihadapkan dengan keterbatasan modal finansial. Anak-anak muda ini terus bertanya apa mungkin menemukan sumber pendanaan tanpa menguras aset pribadi? Apakah Anda juga merasa hal yang sama menimpa Anda pula?
Bilamana Anda mendapati diri Anda berada dalam kondisi yang sama, dengan tantangan yang sama, ingatlah bahwa modal itu tak hanya berupa uang! Keringat kita juga bisa dianggap sebagai modal, kerja keras juga sebuah modal yang ternilai yang tak sembarang orang mampu memiliki. Sayang sekali banyak calon entrepreneur muda melupakan ini.
Kerja keras sebagai salah satu jenis aset bisnis justru ialah jenis modal utama yang harus dimiliki entrepreneur muda yang ingin bertahan dan sukses untuk seterusnya dalam dunia entrepreneurship. Bahkan, sebagian entrepreneur sukses berhasil dengan prinsip “Just Do It!”.
Apa yang saya kemukakan berikut ini merupakan 7 senjata pamungkas yang Anda harus gunakan saat modal uang tak ada di tangan.
Senjata 1: Tetap tekuni pekerjaan semula
Ini terutama berlaku bagi Anda yang masih bekerja dan ingin beralih menjadi entrepreneur dengan melakukannya secara bertahap sehingga bisa lebih mantap hasilnya. Terjun dalam dunia entrepreneurship bukan seperti loncat indah, apalagi jika Anda masih sama sekali asing. Anda tak disarankan untuk masuk begitu saja tanpa ‘pemanasan’ ke dalam air yang dingin di dalam kolam, tanpa menguasai teknik berenang, meloncat yang benar dan aman, dan sebagainya.Mulailah dengan menguji suhu air dan kedalamannya, menggerakkan badan secukupnya sehingga kemungkinan cedera/ kram lebih rendah. Hal-hal itu juga harus diterapkan dalam entrepreneurship. Lakukan secara bertahap, sehingga bisa mengukur risikonya. Itu lebih baik daripada tergesa-gesa berbisnis dengan mengorbankan pekerjaan sekarang, hanya untuk kemudian menyesal dan kembali menjadi karyawan selamanya karena merasa trauma. Apalagi jika Anda adalah penopang hidup bagi orang lain. Dibutuhkan waktu bagi sebuah usaha sukses sekalipun untuk menghasilkan laba dalam jumlah yang signifikan.
Senjata 2: Pelajari sebanyak mungkin mengenai cara memulai dan menjalankan sebuah bisnis.
Dapatkan buku-buku yang berkualitas, misalnya “Money Hunt: 27 New Rules for Creating and Growing a Breakaway Business” oleh Spencer dan Ennico, dan “The Art of the Start” oleh Guy Kawasaki. Keduanya merupakan buku umum untuk para pemula. Temukan pula buku-buku yang memperkuat kelemahan Anda dalam berbisnis seperti buku-buku penjualan, pemasaran, keuangan manajemen, dan sebagainya.
Senjata 3: Rekrutlah penasihat yang andal.
Seorang pengacara perusahaan yang andal penting peranannya di sini. Jangan lupa temukan sejumlah entrepreneur berpengalaman yang bersedia membantu.
Senjata 4: Buat rencana bisnis Anda.
Software murah seperti Business Plan Pro merupakan software yang bisa digunakan untuk menyusun business plan.
Senjata 5: Buat produk Anda.
Bersikaplah kreatif dan temukan cara untuk mengemabangkan purwarupa / prototip yang murah untuk berikan pemahaman bahwa ide Anda itu bisa diwujudkan secara nyata.
Senjata 6: Tunjukkan pada pelanggan potensial dan lihat apa yang Anda pikirkan.
Apakah ini memecahkan masalah nyata? Akankah hal itu menghemat uang , membuat mereka merasa lebih baik atau merasa bahwa sebagian kebutuhan telah terpenuhi?
Senjata 7: Dapatkan pesanan pertama dari pelanggan.
Yakinkan mereka untuk membayar Anda sebelumnya. Buat produknya, kirimkan produk itu dan buat pelanggan/ pembeli gembira.
|
Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/ciputra-notes-inspirasi/14140-7-senjata-pamungkas-kalahkan-keterbatasan-modal-uang.html



Menjadi entrepreneur ialah cita-cita bagi sebagian anak muda di luar sana. Mereka memiliki keyakinan teguh berdasarkan apa yang dikatakan teman dan senior yang sudah memulai berbisnis bahwa tak peduli seberapa tingginya sebuah impian , peluang untuk berhasil itu ada.



Atmosphere Distro House, sebuah toko pakaian remaja yang terletak di Jalan Sudirman No 47 Pariaman menjadi trend setter di Kota Pariaman. Distro ini pun ditata mengikuti selera remaja dengan produk-produk yang lagi booming terpajang di etalase.
Pertunjukan harus tetap berjalan. Itu pula yang membuat Sudarto tetap semangat meski kena PHK. Pascakehilangan pekerjaan itu, Sudarto melihat di kampungnya di Yogyakarta ada potensi ekonomi yang bisa dikembangkan, yakni rempeyek. Sudarto pun terjun ke bisnis ini dan dia jadi makin yakin ada duit di balik rempeyek.
Usaha rempeyek Sudarto ikut bergoyang ketika gempa melanda Yogyakarta pada 2006 silam. Namun, Sudarto tak mau menghentikan produksi. Baginya, gempa ini juga peluang karena saat itu Yogyakarta dibanjiri relawan dari segala penjuru Tanah Air. Ini menjadi peluang emas baginya berpromosi agar rempeyeknya makin terkenal.
Namun, minimnya ruang kosong justru mendatangkan peluang. Berawal dari hobi touring, Adit Uriono mendapatkan ide untuk membuat tas sepeda motor berbentuk backpack yang dapat diletakkan di tangki sepeda motor dan belakang jok sepeda motor. Pembuatan tas skala rumahan ini mampu mendulang omzet hingga puluhan juta rupiah.
Perusahaan pembuatan cupcake milik Brown bernama Need a Cake. Awalnya, ia hanya memiliki 8 karyawan tetap yang membantunya mengelola bisnis panganan tersebut. Tapi ketika suatu saat ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Groupon, Brown memutuskan untuk merekrut 17 karyawan non tetap agar bisa memenuhi permintaan customer.
Menjadi orang yang maju merupakan impian bagi setiap orang. Bagi saya menjadi orang yang maju merupakan sebuah komitmen diri yang harus senantiasa diperjuangkan. Banyak orang bertanya kepada saya, resep-resep menjadi maju dan sukses.
Endi, demikian sapaan akrab perempuan kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1961 ini, membuat batik Nila Kandi identik dengan gaya seksi. Dengan cara ini, ia ingin menjelaskan kepada masyarakat umum bahwa batik cocok dan pantas dipakai oleh kalangan usia manapun, di mana pun, dan dalam acara apa pun.
Hal itulah yang coba digarap oleh Wahyu Aditya, seorang entrepreneur muda yang bergerak dibidang bisnis kreatif, khususnya animasi. Melalui ranah multimedia, Adit, begitu ia biasa disapa, mencoba untuk memopulerkan animasi dan mengembangkan potensi diri kaum muda yang tertarik menjadi seorang animator. Dengan ketekunannya, Adit yang juga pemilik dan pendiri HelloMotion Academy telah menularkan “virus” kreatif kepada para siswa didiknya, yang bisa menjadi bekal sang siswa berkarir di industri kreatif.