Endi, Sang Pemilik Nila Kandi

Views :102 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 12 Oktober 2011 10:03
Berawal dari kecintaannya terhadap batik sejak bangku Sekolah Menegah Pertama, Rachmani Endrawati mewujudkan hobinya dengan membangun label batik Nila Kandi. Kecenderungan memilik batik encim yang dipilihnya pun karena ia memang sangat menyukai motif batik encim yang ramai, dan penuh warna yang menarik.

nilakandiEndi, demikian sapaan akrab perempuan kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1961 ini, membuat batik Nila Kandi identik dengan gaya seksi. Dengan cara ini, ia ingin menjelaskan kepada masyarakat umum bahwa batik cocok dan pantas dipakai oleh kalangan usia manapun, di mana pun, dan dalam acara apa pun.

“Rasanya akan lebih oke kalau desainnya juga menunjukkan keseksian wanita yang memakainya. Yang pasti tetap pantas dikenakan, dan enak dilihat,” tutur Endi.

Endi, yang semula seorang ibu rumah tangga biasa, awalnya memang tidak berniat terjun untuk berbisnis. Niatnya hanya mengoleksi busana dan kain batik saja. Namun, rasa bosan yang melanda membuatnya iseng mendesain busana batik. Niatnya tersebut didukung penuh oleh sang suami yang berkebangsaan Inggris, David Cheadle. Tahun 2007, Endi mulai membuka tempat usaha di Kuta, Bali.

Hingga sekarang, Endi telah memiliki 10 gerai dan butik yang tersebar di Jakarta (antara lain di Alun-Alun Grand Indonesia), Bali, Serpong (Pendopo Alam Sutera), dan Bandung (Alun-Alun Paris van Java). Ia mengincar kalangan menengah ke atas dan pasar ekspatriat. Sayangnya, butik pertama yang dibukanya di Kuta saat ini sudah tutup. Hal ini disebabkan kesibukannya di Jakarta yang menuntut perhatian, dan menyebabkan butik di Kuta jadi tak terurus.

“Lagipula biaya sewanya mahal sekali, Rp 200 juta setahun. Siapa yang sanggup?” selorohnya.

Endi tak berniat merendahkan diri. Meskipun tanpa promosi, lini busana Nila Kandi (dari bahasa Sansekerta yang artinya “langit biru”) yang ditawarkan dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 1,5 juta tersebut telah menghasilkan omzet antara Rp 30-75 juta per bulan. Kapasitas produksinya dalam sebulan baru mencapai 100 barang, termasuk aksesori seperti tas, sepatu, serta pernak-pernik lainnya seperti taplak meja dan tatakan gelas.

Perempuan enerjik ini memang tidak berniat memproduksi barang secara massal. Ia mengutamakan eksklusivitas bagi para pelanggannya. Sebagai contoh, satu model busana hanya diproduksinya sebanyak 10 buah, dan semuanya disebar ke semua outlet-nya. Sepuluh busana tersebut juga dibuat dengan warna yang berbeda-beda, sehingga tidak ada baju yang sama persis.

Hal tersebut tentu mengharuskan Endi memikirkan betul bagaimana konsep bisnisnya. Ia juga mengatur seluruh perencanaan hingga distribusi barangnya. Ia masih ragu mempercayakan bisnisnya pada orang lain, karena khawatir mereka tak dapat memahami dan menangkap keinginannya dengan tepat.

Endi memang boleh dibilang single fighter dalam menjalankan bisnis batiknya. Semua proses produksi berada dalam tanggung jawabnya secara langsung, dari mencari bahan baku hingga loading barang di beberapa outlet-nya di pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta dan Bandung.

“Semua saya kerjakan sendiri, dari mendesain, mengantar barang, sampai menata barang di toko. Baru beberapa waktu lalu saya merekrut manager untuk dapat membantu mengatur pekerjaan saya,” ungkap Endi, yang juga memiliki koleksi lini kedua dengan merek NDI.

Ia mencari sendiri bahan baku dengan mengunjungi perajin batik di kawasan batik pesisir seperti Pekalongan, Tuban, hingga Madura. Ia memesan motif-motif batik tulis dan cap yang sudah ada, namun dengan warna-warna yang dipilihnya sendiri. Dalam hal ini, ia lebih memilih batik tulis karena hasilnya lebih indah. Batik tulis biasanya dilukis bolak-balik di atas kain, sehingga ketika digulung atau dilipat, sisi satunya tidak terlihat putih yang mengurangi keindahan busana saat dikenakan.

Berangkat dari niat mulia untuk memperluas lapangan pekerjaan, Endi pun kerap memilih pembatik yang berasal kalangan menengah ke bawah, yang biasanya berasal dari desa-desa yang terpencil. Merupakan kebanggaan tersendiri baginya apabila ia berhasil memajukan perekonomian pekerja-pekerja yang dibinanya.

Endi sangat bersyukur atas hasil yang telah dicapainya saat ini, meski tanpa adanya promosi atau  iklan yang biasanya digunakan wirausahawan untuk dapat menggebrak penjualan. “Saya tidak menggunakan media periklanan untuk meningkatkan penjualan, karena yang saya tunjukkan adalah prestasi,” kata Endi, yang hanya berpromosi gratis melalui Facebook.

Meskipun telah sukses, Endi tak ingin berhenti belajar. Ia tetap berusaha meningkatkan kemampuannya mendesain busana. Selain pernah belajar mengenai rancang busana di ESMOD dan jurusan Pakaian Jadi di LaSalle College, Endi juga terus menambah wawasannya mengenai pembuatan batik itu sendiri. Batik sudah menjadi passion-nya, sehingga ia bertekad mengetahui segala sesuatu mengenai dunia ini.

Kepuasan pelanggan juga menjadi perhatiannya yang utama. Endi selalu bersedia memberikan pelayanan ekstra kepada pelanggan untuk memperbaiki kerusakan pada batik yang telah terjual. Layanan back to order pun kerap diterima untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

Endi menegaskan, kesuksesan usahanya ini tidak terlepas dari dua hal yang selalu ia tekankan, yakni selalu fokus dan enjoy dalam menjalani setiap pekerjaan yang dilakukan. Endi sangat berharap dapat lebih maju dalam bisnis yang digelutinya, serta dapat memperluas distribusi batik Nila Kandi hingga keluar negeri. (*/Kompas Female/Tabloid Nova)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/11889-endi-sang-pemilik-nila-kandi.html

Jimmy menuliskan laba pada batik khas papua

Peluang Usaha

Kamis, 04 Agustus 2011 | 13:35  oleh Bambang Rakhmanto
INSPIRASI JIMMY HENDRICK AFAAR
Jimmy menuliskan laba pada batik khas papua


Selain terkenal dengan kekayaan alamnya, Provinsi Papua ternyata juga kaya akan motif batik. Suku-suku yang tersebar di provinsi paling timur Indonesia ini, menyajikan banyak motif khas merujuk pada alam, budaya, dan cerita rakyat. Karena peminat batik papua cukup banyak, perajin pun bisa mendulang omzet ratusan juta per bulan.

Setiap daerah memang memiliki kain yang khas. Baik itu berupa kain hasil tenunan atau kain tenun, juga kain batik yang berhias motif yang juga khas dari daerah asal batik itu sendiri. Kain-kain nan khas ini tentu layak untuk dijadikan cenderamata atau oleh-oleh bagi tetamu yang datang ke daerah penghasil kain itu.

Dengan mengusung keragaman alam, budaya, serta cerita rakyat yang dituangkan dalam sehelai kain, Provinsi Papua memiliki motif batik yang juga sangat khas. Bahkan, hingga kini, batik Papua ini sudah mengoleksi sekitar 200 motif.

Banyaknya motif ini karena setiap suku yang ada di provinsi ini memiliki budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda. Nama motif batik ini disesuaikan dengan nama suku seperti batik Kamoro, Amugme, Tobati, Kawera, Marin, Honay, Asmat, Sentani, Kayu Pulau, dan Griminawa. Ciri khas lain batik papua adalah penggunaan warna-warna terang, seperti merah muda, biru muda, dan kuning.

Salah satu perajin batik papua yang tekun adalah Jimmy Hendrick Afaar. Jimmy adalah pemilik butik Batik Prot Numbay di Jayapura. Ia sudah mulai menjadi perajin dan berdagang batik sejak April 2007 silam.

Sebelumnya putra asli Papua ini adalah seorang desainer. Ia pernah bergabung dengan desainer kondang Poppy Darsono, dan pernah pula menimba ilmu pada seorang pembatik di Pekalongan.

Jimmy memang ingin mengangkat batik papua supaya tak punah lantaran tak dikenal khalayak. “Selain itu, banyak anak muda di Papua yang belum mengenal batik daerah mereka sendiri,” ucapnya.

Ia pun mengajak warga Papua, terutama kaum ibu, untuk membuat dan mengenakan batik papua. Supaya produknya bisa bersaing dengan batik dari daerah lainnya, Jimmy tak segan mendatangkan pembatik dari Yogyakarta untuk melatih para pekerjanya. “Kami mendatangkan pelatih dari balai pelatihan batik di Yogya,” ujar Jimmy.

Usaha Jimmy memang terus berkembang. Kini dia sudah memperkerjakan 40 karyawan. Untuk karyawan laki-laki bertugas membuat batik cap. Sementara karyawan perempuan menggarap batik tulis yang memang membutuhkan ketelitian dan konsentrasi tinggi.

Dengan 40 karyawan, produksi batik Prot Numbay bisa mencapai sebanyak 2.000 potong batik cap dan 60 potong batik tulis berbahan sutra dan katun per bulan. Ia menjual sehelai batik mulai Rp 400.000 sampai Rp 4 juta per potong.

Jimmy pun mengaku omzetnya sekarang sudah mencapai Rp 100 juta per bulan. Pendapatan itu belum termasuk jika ada pesanan untuk seragam kawinan.

Selain dijual di Papua, Jimmy juga memasarkan batiknya hingga Surabaya dan Jakarta. Bahkan, ia sudah merambah pasar Belanda, Selandia Baru, dan Hongkong. Cara Jimmy berjualan batik ke luar negeri ini melalui website. Selain itu, Jimmy tak mau ketinggalan kalau ada pameran-pameran tentang batik, baik di tingkat nasional dan internasional.

Hanya, Jimmy mengaku susah mendapatkan bahan baku, seperti kain atau mori, pewarna sintetis, dan perlengkapan batik lainnya. Pasalnya, semuanya harus dipasok dari Jawa, kecuali pewarna alam yang sudah tersedia di Papua.

Menurut Jimmy, batik buatannya bisa memperlihatkan keindahan alam, pariwisata, hingga budaya Papua. “Setiap orang yang memakai batik saya itu, setidaknya tahu tentang budayanya, dia tahu tentang pariwisatanya,” ungkapnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74622/Jimmy-menuliskan-laba-pada-batik-khas-papua

Ide Bisnis | Sukses Usaha di Daerah Pekalongan


Kota kecil yang berada di kawasan pantura ini mungkin sudah dikenal banyak orang dengan potensi batiknya yang sudah mendunia. Namun selain dikenal dengan kota batik, kabupaten Pekalongan juga memiliki berbagai potensi yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi untuk dikembangkan sebagai peluang bisnis. Misalnya saja seperti beragam makanan tradisional yang menyajikan beragam kelezatan kepada penikmatnya, potensi alam yang sangat cocok dijadikan sebagai objek wisata, hasil perikanan dan kelautan yang melimpah, sentra kerajinan batik dan industri tekstil yang memiliki peluang pasar cukup tinggi, serta bidang peternakan dan pertanian yang berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat di Pekalongan.

Untuk lebih jelasnya, berikut kami informasikan pada para pembaca tentang beberapa potensi bisnis daerah yang ada di daerah Pekalongan.

Sentra Batik Pekalongan

Selain Yogyakarta dan Solo, Kabupaten Pekalongan memang memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan potensi batik. Puluhan pengrajin yang aktif memproduksi batik dapat Anda temui di kampung Batik Kauman, atau di kampung Batik Pesindon. Sedangkan untuk sentra perdagangan batik, berada di daerah Setono serta beberapa pusat grosir lainnya berada di berbagai pasar serta pertokoan yang tersebar di seluruh penjuru kota Pekalongan.
Bahkan, produk batik Pekalongan tidak kalah bersaing dengan batik Solo maupun batik Yogyakarta. Sehingga produk batik Pekalongan banyak diminati pasar lokal maupun pasar internasional. Bukan itu saja, karena produknya yang berkualitas, para pedagang batik di Yogyakarta dan Solo sering mengambil batik buatan Pekalongan untuk dipasarkan di dua kota tersebut. Sehingga bisnis batik di Pekalongan mengalami perkembangan yang sangat pesat setiap harinya.
Potensi Makanan Daerah
Selain memiliki beragam corak batik yang berkualitas, Kabupaten Pekalongan juga memiliki beragam menu makanan tradisional yang potensi bisnisnya juga cukup besar. Misalnya saja seperti sego megono (nasi dicampur dengan megono yang terbuat dari nangka muda dicampur dengan parutan kelapa), garang asem (sajian berkuah dengan irisan daging kerbau di dalamnya), sauto (campuran antara soto dengan tauco), serta masih banyak lagi lainnya. Beberapa makanan tersebut menjadi salah satu potensi yang sering dijadikan sebagai peluang usaha oleh masyarakat Pekalongan. Baik dijajakan di pinggiran jalan, maupun diangkat di beberapa restoran yang ada di kota batik ini.

Potensi Bisnis Perikanan dan Kelautan

Berada di daerah pesisir pantai membuat Pekalongan memiliki sumber daya perikanan dan kelautan yang melimpah. Adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara yang berlokasi di kelurahan Panjang Wetan, budidaya ikan tambak yang berpusat di tiga kecamatan yaitu Tirto, Wonokerto, dan Siwalan, serta budidaya ikan kolam yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Pekalongan. Menjadi bukti nyata bahwa setiap tahunnya kota Pekalongan berhasil memproduksi ratusan ribu ton ikan, dan dipasarkan dalam keadaan segar maupun diolah menjadi berbagai macam produk olahan ikan yang bernilai tinggi. Contohnya saja menjadi produk olahan teri, ikan asin, ikan pindang, ikan panggang, terasi serta bandeng presto.
Disamping produk perikanan, daerah Panjang Wetan Pekalongan juga mengolah produk rumput laut yang cukup melimpah di daerah tersebut. Setiap tahunnya para petani rumput laut dapat mengolah ratusan hingga ribuan ton, dan dipasarkan di pasar lokal maupun pasar internasional.
Potensi Bisnis Hasil Ternak
Sampai saat ini sebagian besar masyarakat di Kabupaten Pekalongan masih mengandalkan sektor peternakan sebagai salah satu sumber mata pencaharian mereka. Jenis ternak yang cukup berpotensi adalah sapi dan kerbau. Tingginya nilai ekomoni yang dihasilkan dari ternak sapi dan kerbau, membuat hampir setiap kecamatan di Pekalongan mengembangkan hewan tersebut hingga ratusan bahkan ribuan ekor. Beberapa kecamatan yang menjadi daerah unggulan di bidang ternak antara lain Kajen, Kandangserang, Kesesi, Karangdadap, Sragi, dll.
Potensi Bisnis Agribisnis
Meskipun berada di jalur pantura yang sebagian besar wilayahnya berupa pinggiran pantai, namun Pekalongan merupakan daerah tropis yang memiliki potensi agribisnis berupa buah dan sayur yang cukup produktif. Potensi yang dihasilkan seperti buah-buahan (durian, manggis, rambutan, sawo, melon), sayur-sayuran (kol, kentang, cabe), kopi, cengkeh, dan masih banyak lagi pohon kayu yang memiliki harga jual cukup tinggi.
Setelah mengenal potensi bisnis daerah Pekalongan, semoga para pembaca dapat terinspirasi untuk mengembangkan segala potensi bisnis daerah yang ada di sekitar lokasi masing-masing, dan menjadikannya sebagai peluang baru yang menjanjikan untung besar bagi setiap pelakunya. Selalu ada peluang, dimanapun Anda berada. Yang terpenting tingkatkan kejelian Anda, dan ambil peluang yang ada di sekitar Anda.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label