Ide Bisnis | dan Kisah Sukses Pelopor Waralaba Salon Muslimah

Salon kecantikan merupakan salah satu tempatnya kaum wanita untuk mempercantik diri. Sebab, di tempat inilah segala hal yang berkaitan dengan perawatan tubuh mulai ujung rambut hingga ujung kaki tersedia lengkap. Selain itu, salon juga menjadi tempat relaksasi yang nyaman dengan treatment seperti pijat, spa dan pelayanan yang lain.
Dewasa ini, perkembangan salon sangat pesat. Kaum wanita muslim pun telah menempati salah satu porsi utama dalam pangsa pasar ini. Terlihat kini, makin merebaknya berbagai jenis usaha salon khusus muslimah di berbagai kota besar di Indonesia. Baik itu berdiri sendiri, maupun bersistem waralaba. Kebutuhan perawatan tubuh yang lengkap, nyaman, berbasis syariah dan halal kini kebutuhannya semakin dicari para wanita, khususnya wanita muslimah.

Yulia Astuti Haras dan Linda Kartika Haras, adalah salah satu pengusaha yang berprestasi di bidang salon muslimah di Indonesia. Kakak beradik ini, mengawali bisnisnya berdasarkan hobi mereka yaitu memanjakan diri di salon. Sering terjadi kerepotan ketika Yulia dan Linda susah menemukan salon yang nyaman untuk mereka berdua yang telah mengenakan jilbab. Meski yang melakukan perawatan adalah wanita, namun suami atau anak laki-laki dari pengunjung berada di dalam salon. Dan hal itu yang membuat para wanita berjilbab merasa tidak nyaman.
Lalu terbesitlah dalam benak Yulia, untuk membuka salon khusus muslimah. Salon ini nantinya khusus untuk wanita saja, tidak boleh ada laki-laki yang masuk. Kemudian ia mengajak adiknya Linda untuk membuka usaha kecantikan tersebut. Linda pun langsung menyanggupinya. Tanpa pikir panjang, Linda pun langsung keluar dari kantornya, yang juga tempat bekerja Yulia. Sementara itu, Yulia masih bertahan. Awalnya, ada 3 orang yang berniat membuat salon, hanya pada saat mulai akan dikerjakan sang teman mengundurkan diri.
Sesungguhnya baik Linda maupun Yulia tidak mempunyai basic mengenai dunia per-salonan yang memadai. Oleh sebab itu, Linda pun rajin mengikuti berbagai macam kursus kecantikan mulai perawatan ujung rambut hingga ujung kaki. Karena pelayanan itulah yang nantinya ditawarkan kepada konsumen salonnya.

Perjalanan menuju sukses

Pada Mei 2002 resmilah salon milik Yulia dan Linda dibuka dengan mengusung nama moz5 (baca:muslimah) di daerah Margonda Depok. Diawali dengan 3 orang karyawan, Linda langsung memimpin operasional salon, karena Yulia masih bekerja. Seusai pulang bekerja, Yulia selalu menyempatkan diri datang ke salon. Untuk modal pertama menjalankan bisnis salon muslimahnya mereka mengeluarkan budget sebesar Rp 100 juta. Itupun bukan keseluruhan berasal uang pribadi, namun juga uang pinjaman dari saudara dan lainnya. Dengan modal sebesar itu, Yulia dan Linda gunakan untuk menyewa tempat 2 lantai di daerah Margonda, Depok, Jawa Barat dan membeli perlengkapan serta peralatan salon modern.
Salah satu kelebihan usahanya dibanding salon yang lain adalah menerapkan konsep kenyamanan bagi muslimah saat berada di salon. Sebelumnya dua ibu muda ini mengadakan survey kebeberapa salon, kemudian menerapkan beberapa pelayanan yang sesuai dengan konsep salonnya. Begitu seterusnya, sembari mengikuti perkembangan salon modern. Disamping itu, Linda pun terus mengikuti beragam kursus guna mengasah keterampilannya pada bidang perawatan kecantikan.
Linda membagi kantornya menjadi dua bagian, yaitu lantai dasar untuk pelayanan potong rambut, creambath, pedicure, manicure, dan refleksi. Sedang lantai dua, khusus perawatan wajah (facial) dan badan (lulur). Dan tersedia juga layanan spa, aneka lulur, perawatan pra nikah, dan aneka perawatan cantik luar dalam, juga tersedia jasa rias pengantin muslimah. Belakangan moz5 juga menambah layanan dengan senam khusus muslimah. Begitulah cara Linda dan Yulia memanjakan para pelanggannya.
Maka tak heran, jika pelanggannya makin banyak. Yang semula pelanggannya adalah para mahasiswi, kini paling banyak ibu-ibu muda dan wanita pekerja. Pelanggan moz5 bukan hanya para wanita berjilbab, namun banyak juga yang tidak. Jika dibandingkan sekitar 60:40, dimana 60% adalah wanita berkerudung. Simbol kesuksesan dari salon ini adalah bangunan gedung yang bertingkat di Jalan Margonda Raya, Depok telah menjadi milik sendiri.
Kesuksesan bisnis jasa satu ini bukan hanya itu, tapi juga untuk kawasan Asia Tenggara, moz5 salon menjadi pelopor salon muslimah yang telah diwaralabakan. Selain itu, sudah banyak prestasi yang dicapai oleh moz5 diantaranya, terpilih menjadi salah satu dari 14 usaha waralaba yang dipromosikan oleh Kadin dan WALI untuk berkiprah di luar negeri; meraih penghargaan sebagai salah satu wirausahawan muda dalam The Indonesian Small and Medium Business Entreprenuer Award (ISMBEA) tahun 2009; dan menjadi pelopor usaha salon khusus muslimah yang diwaralabakan.
Demikian artikel profil pengusaha pekan ini, semoga kisah sukses pelopor waralaba salon muslimah dari kakak beradik Yulia dan Linda dalam merintis usaha salonnya menjadi inspirasi Anda dalam memulai bisnis.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Ide Bisnis | Nikmatnya Reguk Omzet Bisnis Kopi Racikan

Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata “Joglo”? Pasti langsung mengingat rumah adat Jawa dengan bentuknya yang khas. Namun ada juga yang menyatakan jika Joglo atau Rumah Joglo mempunyai artian tempat yang membuat kita ingin terus kembali lagi.

Nampaknya semboyan itulah yang membuat Himawan Hendro Pratisto memasukkan kata Joglo dalam bisnis minumannya, yaitu “Joglos Coffee”. Filosofi kata Joglo ingin diterapkannya, yakni ingin orang yang sudah datang mencoba minuman racikannya, bisa selalu kembali lagi, lagi, dan lagi.

Bisnis yang sudah dirintisnya sejak 2005 ini memang tidak langsung bisa berkembang seperti sekarang. Pertama kali membuka outlet, Joglos coffee yang khas bernuansa hijau ini hanya mempunyai lima macam racikan minuman. Namun, saat ini sudah terdapat 18 menu yang menjadi andalan.


Untuk range harga, tidak perlu khawatir. Minuman yang disajikan dalam Joglos Coffee memang dikhususkan untuk kawula muda dan mahasiswa dengan harga yang super miring. Sang pemilik pun berkomitmen ingin menyajikan produk dengan harga oke serta kualitas yang bagus.

“Konsep awalnya sampai sekarang memang ingin menyajikan minuman yang berasal dari kopi dengan harga murah tapi kualitas bagus,” jelas Himawan, saat berbincang dengan okezone.

Awalnya dia memang sempat berpikir untuk melebarkan sayap untuk segmen kantoran. Namun, hal ini berarti dirinya harus membuat konsep maupun harga yang lebih premium. Jelas hal tersebut tidak sesuai dengan konsep awal yang mengutamakan harga murah dan kualitas oke.

Dengan omset rata-rata Rp200 ribu per hari, dan enam outlet yang dimilikinya saat ini di kawasan Gresik, Banjarmasin, Tangerang, Solo, dan Depok, dirinya pun semakin mantap dalam merintis usaha minuman bercita rasa kopi, susu, dan teh ini. Alasannya, bisnis tersebut lebih menjanjikan daripada bekerja di kantoran yang terlalu monoton.

Himawan bercerita, sempat beberapa kali mencoba berbagai bisnis setelah dirinya memutuskan untuk keluar dari rutinitas kantoran, malang melintang mencoba bisnis baru nampaknya tidak membuatnya berhenti mencoba dan terus mencoba.

“Dulu kerja kantoran. Sebelumnya pernah usaha tapi gagal. Kebetulan saya nyemplung ke bisnis ingin mengembangkan usaha, mengembangkan kreativitas,” bebernya.

Ada hal menarik yang diungkap selama perbincangan dengan okezone mengalir, yakni sejarah bagaimana minuman racikannya tersebut dibuat. Sempat beberapa kali mencoba dan ternyata menemukan sebuah rasa khas yang memang menurutnya tidak mudah.

Semua racikan minuman yang dibuatnya memang hasil learning by doing alias belajar ala kadarnya. Baik itu dari hasil membaca di majalah, berbagai macam buku, serta hasil lihat tontonan di televisi.

Dengan usahanya yang lumayan keras tersebut, akhirnya terciptalah beberapa minuman yang khas. seperti pure cream milk, dan yang paling banyak digemari adalah Coffe LLo. “Pure cream milk rasanya seperti vanila, tidak ada kopinya. Itu paling laku saat pertama kali saya jualan,” paparnya.

Sementara minuman lainnya yang tidak kalah menarik adalah cococoffee, coffelatte, cappucino, creammy coffe dan masih banyak lagi. Masalah harga, tidak perlu khawatir karena cukup dengan merogoh kocek sekira Rp5 ribu kita sudah bisa menikmati minuman serba kopi, susu, maupun teh ala Indonesia. Menurutnya, kopi tersebut merupakan pioneer dari maraknya bisnis serupa di kawasan Depok.

Setiap jenis usaha pasti mempunyai kendala. Dirinya mencontohkan, ketika musim hujan misalnya, pembeli akan sedikit berkurang akibat cuaca yang kurang pas untuk minuman dingin seperti yang disajikannya. Sementara itu, tempat atau lokasi berjualan juga menjadi salah satu kendala. Kurang luasnya lahan atau terkadang tidak jarang outlet yang dibuka harus berurusan dengan preman setempat.

Dari usaha yang sudah ditekuninya selama lima tahun tersebut, dirinya bisa mempekerjakan beberapa karyawan yang semuanya berasal dari tetangga maupun kerabat dekat.

Dirinya pun berbagi tip, untuk memulai sebuah usaha, hendaknya semua itu dimulai dari hobi. Apa yang kita suka, sebaiknya sesering mungkin mencari tahu dan menggali terus potensi tersebut. Karena menurutnya, semua hal itu harus dimulai sejak dini. seperti motto hidupnya yaitu “bisnis itu mulailah dari hobi, mulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang.”

Sumber : okezone.com

Ide Bisnis | Mengintip Kisah Sukses Burger Blenger

Mengerjakan sesuatu dengan hati bisa memberikan hasil maksimal, apalagi didasari niat mulia membahagiakan keluarga. Walaupun hanya dengan modal terbatas, kegigihan mampu menghasilkan kesuksesan.

Salah satunya dilakukan Erik Kadarman Subarna. Langkahnya mantap ketika memutuskan berhenti dari rutinitas kantornya sebagai operation manager di sebuah perusahaan raksasa berskala nasional.Walau sempat dibilang tak mengindahkan akal sehat,Erik nekat menjadi entrepreneur dengan membuka depot burger di pinggir jalan. Apa yang melatarbelakangi Erik membuka bisnis makanan atau burger? Sangat sederhana.


Pria kelahiran Jakarta 22 Januari 1973 ini hanya menjalankan sebuah bisnis sesuai dengan hobinya, yaitu memasak. Kala itu, Erik pun menyadari bahwa bisnis yang akan dijalaninya kelak tidak akan terlepas dari masa-masa sulit dan jatuh bangun. Maka itu, apa yang disajikan kepada para pelanggannya adalah hasil karya sepenuh hati dan ucapan terima kasihnya hingga mencapai kesuksesan sampai saat ini. Ayah beranak dua ini menceritakan kisah perjuangan yang telah dilewatinya. Terbatasnya waktu yang bisa diberikan untuk keluarga, serta keadaan yang tidak memungkinkan pada saat itu,adalah alasan yang memaksa Erik untuk terjun langsung ke dalam bisnis makanan.

“Kebutuhan harus selalu dipenuhi, dan saya harus memutar otak untuk itu. Untuk keluarga saya,” ujar Erik belum lama ini.

Dengan meninggalkan atribut sebagai manajer di salah satu perusahaan terkemuka, Erik mengaku pada saat itu dirinya tidak bisa lagi mengharapkan penghasilan dari pekerjaan sebagai manajer di perusahaan yang ditinggalkannya tersebut maupun di tempat lain. Setelah pengunduran dirinya, pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini kemudian berdiskusi dengan sang istri mengenai ke mana akan dibawa modal yang mereka miliki,dan akan dikelola seperti apa ke depannya. Erik mengatakan bahwa saat itu istrinya ingin melanjutkan pendidikan tata busana dengan tujuan memfasihkan kemampuannya menggambar desain pakaian dan membuka usaha jahit kecil-kecilan nantinya.

Erik pun mendukung apa yang istrinya impikan.Dengan uang sebesar Rp17 juta yang ia miliki pada saat itu,Erik memberikan sebesar Rp10 juta rupiah kepada istrinya untuk membiayai pendidikan tata busana saat itu, sedangkan sisanya sebesar Rp7 juta digunakan Erik untuk membuka bisnisnya sendiri. Berawal dari situlah, Erik memberanikan diri membuka sebuah depot burger pinggir jalan miliknya. Dengan membidik tren baru di dunia kuliner, di mana para pencinta makanan sudah mulai bosan dengan nasi dan mencari penggantinya seperti roti, Erik mendapatkan ide untuk memulai bisnis makanannya.

Roti isi daging atau lebih dikenal burger pada saat itu mulai digemari para penikmat kuliner dan Erik pun mantap membuka depot burger di pinggir jalan. Terletak di Barito, daerah Blok M,Jakarta Selatan dengan depot sebesar 2×1 meter, Burger Blenger pun memulai debutnya pada 2004. Berasal dari bahasa Jawa, blenger memiliki ‘arti makan sampai kenyang atau kekenyangan’. Kata itu mewakili produk dari segi ukuran serta rasa yang berbeda dari burger lainnya.“Saya ingin menjual produk yang berkualitas, karena saya sangat serius menangani bisnis ini,” ujar pria yang tidak ingin membuka cabang di luar kota ini. Ketika itu, Erik masih menjadi seorang karyawan yang masih mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum menjual Burger Blenger.

Tidak terlepas dari kata persaingan, pria yang mengaku sempat mengalami masa-masa kesulitan untuk beradaptasi pada 2005 ini,menganggap persaingan sebagai pemacu dirinya untuk memberikan yang lebih baik lagi bagi para pelanggan setianya. Pada 2006, terdapat beberapa produk serupa yang meniru usaha miliknya Burger Blenger,tentunya dengan kualitas yang berbeda.“Di satu sisi, saya merasa hal tersebut bisa mengecewakan pelanggan karenamerekapikirituadalahproduk yang sama dengan Blenger. Namun dengan itu, pelanggan bisa merasakan mana yang benar- benar memiliki kualitas,bukan hanya sekadar ikut-ikutan,” ujar Erik.

Seperti yang dikatakan pemilik Burger Blenger yang telah tersebar di empat daerah di Jakarta ini, visi dari Burger Blenger itu sendiri adalah menjadi merek lokal dengan produk yang mengutamakan kualitas dan harga murah serta terjangkau. “Saya ingin membawa konsep makanan hotel, terjun ke pinggir jalan dan bisa dinikmati semua kalangan.”Setelah melakukan beberapa inovasi hingga kini, terdapat beberapa varian Burger Blenger yang ditawarkan seperti Cheese Burger, Beef Burger, Chilli Dog, Cheesy Dog,dan Chilli Dog XL.

Berbicara mengenai kesuksesan Erik saat ini, tiap harinya Burger Blenger menjual 5.000 piece burger, dengan rata-rata harga Rp12.000; dan jika dikalikan omzet per harinya, Burger Blenger mencapai Rp60 juta per hari dan sebulan sebesar Rp1,8 miliar.“Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Dan, berusaha untuk tidak ngoyo melakukan sesuatu di luar batas saya,”tambahnya.

Saat ini Erik memiliki karyawan sebanyak 75 orang di seluruh gerai yang tersebar di Jakarta. Erik pun berbagi tips bagi siapa saja yang ingin memulai bisnis dan bisa berhasil seperti dirinya saat ini. Jangan takut untuk berusaha, jadikan kegagalan sebagai pelajaran dan cambuk agar lebih baik dari sebelumnya.

Jangan tunda keinginan untuk berusaha, karena memulai lebih awal lebih baik daripada hanya beranganangan semata. “Jangan takut gagal.Kegagalan merupakan suatu proses dan keberhasilan itu sendiri adalah proses akhir dari apa yang kita lakukan.”

Sumber : okezone.com

Ide Bisnis | Hendy Setiono, Bos Kebab Turki

Raih Berkah di Jalur Timur Tengah
Namanya Hendy Setiono, pemuda Alumni Entrepreneur University Surabaya ini masih sangat muda, baru 25 tahun. Tapi, sepak terjang bisnisnya sudah tak diragukan lagi. Kalau Anda menjumpai mobil Nissan X-Trail bernomor polisi K 38 AB di jalanan, itulah mobil Hendi. Pelat nomor seharga Rp 16 juta itulah yang membuat orang mudah mengenali dan menyapanya ketika sedang jalan-jalan dengan mobilnya. “Biasanya tukang parkir menggoda, bayarnya pakai kebab saja,” ujarnya lantas tertawa.
Pelat nomor sengaja dibuat K 38 AB untuk mendekati kata kebab. Berkat kebab inilah, nama Hendi sebagai pengusaha muda sukses, terukir.
Hendy adalah pendiri dan presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia. Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil inovasi bisnisnya. Dia memulai bisnis itu dengan modal hanya Rp 4 juta. Dia enggan meminta bantuan orang tua. “Itu duit hasil pinjam arek-arek (teman-temannya, Red) dan saudara,” kisahnya.

Outlet makanan ala Timur Tengah itu kini berjumlah 325, membentang dari kawasan superramai seperti Jakarta hingga pelosok Ambon. Ratusan outlet itu dipantau dan disupervisi dari dua kantor operasional di kawasan Nginden, Surabaya, dan Pondok Labu, Jakarta. Tahun lalu omzet usahanya mencapai Rp 45 miliar, dan 25 persen di antaranya masuk kantongnya sebagai laba bersih. “Tahun ini omzetnya saya targetkan Rp 60 miliar,” ujarnya.
Apa yang sudah dipunyai Hendy dari keberhasilannya berbisnis? Hendy tampak agak malu menjawab pertanyaan ini. Sekulum senyum kecil dikeluarkannya. “Apa ya? Ehm, ada beberapa, Mas. Alhamdulillah. Masak disebutkan?” katanya masih diiringi senyum.
hendyboothDia terbatuk sebentar. Agak ragu, tak lama kemudian, Hendy mulai menjawab. “Aset yang pertama saya beli Yamaha Mio,” ujarnya. Dia membeli motor itu beberapa bulan setelah memulai berbisnis. “Ke mana-mana saya pakai motor itu,” tuturnya.
Setahun pertama, Hendi mengaku “hanya” mendapat penghasilan bersih per bulan Rp 20 juta. “Wah, rasanya sudah seneng banget. Baru umur 20 tahun, penghasilan sudah Rp 20 juta sebulan,” ceritanya.
Setelah membeli Yamaha Mio? “Sekarang kasihan motor itu, sudah nggak muat nampung badan saya semakin melar. Jadi, cari motor yang agak gedean, pakai Harley-Davidson,” ujar nominator Asia’s Best Entrepreneur Under 25 versi Majalah BusinessWeek tersebut.
Selain itu, Hendi punya dua rumah; satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya. Di Surabaya, dia membeli rumah di salah satu kawasan elite, Perumahan Bumi Galaxy Permai. Soal rumah yang satu ini, Hendi punya cerita tersendiri. “Ini rumah idaman saya,” tuturnya.
Dulu, cerita Hendi, semasa masih duduk di bangku kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS, setiap pulang dari kampus, Hendi yang kala itu tinggal di Semolowaru, Surabaya, selalu melewati kawasan perumahan itu. Dia sering berhenti sejenak di perumahan elite itu. Saking seringnya mondar-mandir di perumahan itu sepulang dari kampus, dia sampai kenal dengan sejumlah satpam di sana. “Rumahnya besar-besar, megah-megah. Kelak saya ingin punya rumah seperti ini,” tekadnya ketika itu.
Hendi mengaku terkagum-kagum dengan rumah-rumah di kawasan itu. “Bahkan, hujan saja nggak banjir, beda dengan rumah saya. Halaman depannya itu lebih luas daripada rumah saya di Semolowaru,” kisahnya.
Dari proses itulah Hendi yakin bahwa mimpi yang terus disemai akan bisa mewujud jika diiringi pancangan semangat yang kuat untuk mewujudkannya. “Semuanya berangkat dari impian. Alhamdulillah, saya kemarin berangkat ke Jakarta (wawancara dengan Hendi dilakukan di Jakarta beberapa waktu lalu, Red) sudah dari rumah di Galaxy Bumi Permai,” ceritanya. “Kalau saya tidak berani mulai jualan pakai gerobak, semua mimpi itu hanya tinggal mimpi,” imbuhnya.
Dengan segala apa yang dimiliki kini, Hendi lebih leluasa menyalurkan hobinya berjalan-jalan. Setiap mengisi seminar di berbagai kampus di Indonesia, dia selalu menyempatkan diri mengunjungi berbagai tempat wisata. “Saya lebih suka ke tempat wisata yang alami, lihat pantai, lihat hutan,” ujarnya.
Jalan-jalan ke luar negeri juga sudah menjadi rutinitas yang sangat biasa bagi salah satu 10 Tokoh Pilihan 2006 versi majalah Tempo tersebut. “Dulu jalan-jalan ke luar negeri itu jadi mimpi, sesuatu yang wah, seolah nggak terjangkau. Alhamdulillah, sekarang udah sering,” tuturnya.
Hendy tak melupakan sedekah. Dananya secara tetap didonasikan ke tujuh yayasan yatim-piatu. “Saya menyadari sulitnya kehidupan mereka karena orang tua saya juga bukan orang kaya,” katanya. Dia yakin, jika seseorang tak perhitungan dalam sedekah, rezeki yang diberikan Tuhan akan terus mengalir. “Saya yakin istilah inden rezeki. Orang biasanya membayar zakat 2,5 persen dari keuntungan. Saya membaliknya, sebelum ada untung, harus bayar zakat dulu,” ujarnya. “Pokoknya, kalau omzet turun, kita hajar dengan sedekah,” imbuhnya.
Di luar itu Hendy hampir tidak pernah menghambur-hamburkan uang untuk hobi yang tidak jelas. Misal, clubbing di tempat hiburan malam. “Kalau jalan-jalan ke mal, itu rutin. Tapi, saya dan keluarga tidak konsumtif. Paling-paling hanya lihat tren fashion saat ini untuk diterapkan ke bisnis saya. Misalnya, untuk desain pakaian karyawan dan outlet-outlet,” ujar pria kelahiran 30 Maret 1983 itu. Ketika jalan-jalan itu, Hendi tak khawatir dengan roda bisnisnya. “Owner-nya bisa jalan-jalan, yang mantau manajemen di Surabaya dan Jakarta.”
Hendy lebih suka memakai uangnya untuk melebarkan sayap bisnis. Dia yakin bahwa tak boleh ada kata berpuas diri dalam jiwa seorang pebisnis. Dia kini meretas gerai Roti Maryam Aba-Abi, roti khas Timur Tengah. “Sekarang baru 40 outlet, mayoritas masih di Jatim,” kata Hendi yang, bersama aktris Dian Sastro dan Artika Sari Devi, menjadi duta Wirausaha Muda Mandiri tersebut.
Tak hanya itu, insting bisnis yang kuat membawa pria berbadan subur itu mendirikan Baba Rafi Palace. Sudah dua pondokan megah yang disewakan di Surabaya. “Di Siwalankerto, ada 18 kamar dengan tarif Rp 700 ribu per bulan per kamar. Lalu di Prapanca ada 16 kamar, tarifnya Rp 1,2 juta per bulan,” ujarnya.
Satu lini bisnis makanan juga sedang disiapkan Hendy. “Lagi ngerjakan Piramida Pizza. Kalau biasanya pizza ditaruh loyang, ini mau ditaruh di cone. Jadi, makan pizza bisa sambil jalan-jalan, seperti makan es krim,” terang bapak dengan tiga anak itu.
Dia juga bakal berekspansi ke luar negeri. “Di Malaysia saya baru aja bikin Baba Rafi Malaysia Sdn Berhad. Target awalnya mendirikan 25 outlet kebab,” ujarnya.
Dari UKM(elarat) ke UKM(iliaran)
Hendy memulai bisnis dengan terseok-seok. “Tentu tidak langsung bombastis seperti sekarang. Saya harus jatuh bangun, berdarah-darah.” Dia mengisahkan, saat baru dua minggu berjualan kebab dengan satu gerobak di kawasan Nginden, Surabaya, orang yang diajaknya berjualan sakit.
Dari semula berjualan berdua, dia pun memutuskan menunggui gerobaknya seorang diri. “Ndilalah hari itu hujan deras, jadi sepi,” ceritanya. Untuk menghibur diri, hasil jualan hari itu dibelikan makanan di warung sebelah tempat gerobaknya berdiri. “Di sana ada warung sea food. Saat saya membayar, eh ternyata lebih mahal daripada hasil jualan saya. Jadi, malah rugi,” kisahnya.
Hendy memulai bisnis kala berusia 20 tahun. Dia berhenti kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS saat masuk tahun kedua. “Belum sempat di-DO (drop out, Red), saya OD, out dhewe (keluar sendiri, Red),” ujarnya lantas tertawa.
Ibunya yang pensiunan guru dan bapaknya yang bekerja di sebuah perusahaan di Qatar shock melihat keputusan Hendy. “Orang tua saya ingin saya selesai kuliah, lalu kerja di perusahaan. Bukan malah jualan pakai gerobak,” katanya. Namun, Hendi bergeming. “Setelah berhasil, orang tua malah ingin ikut-ikutan berbisnis,” kata ayahanda Rafi Darmawan, 5, Reva Audrey Sahira, 3, dan Ready Enterprise, 1.
Kini bisnisnya terus membesar. Dari hanya satu karyawan, kini perusahaannya mempekerjakan 700 karyawan. “Yang jadi manajemen inti 200 orang. Semuanya lulusan S1 dan S2,” ceritanya, bangga.
Dia mengibaratkan perjalanan bisnisnya dengan dua istilah UKM yang berbeda. “Dulu kami hanya UKM, usaha kecil melarat. Sekarang masih UKM, tapi usaha kecil miliaran,” tuturnya.
Sekarang ada satu mimpi yang bakal diwujudkan tahun ini. “Saya ingin mengajak semua keluarga jalan-jalan ke Eropa.”

Sumber : purdiechandra.net

Ide Bisnis | Franchise Teh GOODTEA

Ide Bisnis | Franchise Teh GOODTEA, suatu inovasi bisnis yang keuntungannya sangat menggiurkan bahkan ada yang membuka beberapa cabang dikota-kota lainnya.  Ide Bisnis | Franchise Teh GOODTEA akan menuntun anda dalam usaha ini anda beriminat :

Franchise Teh GOODTEA hanya dengan modal awal 3,5 juta (Berlaku untuk wilayah JABODETABEK & dapatkan DISCOUNT khusus) LANGSUNG JUALAN! Sudah mendapatkan 1 unit Counter dan perlengkapan jualan lengkap ditambah dengan bahan baku. Untuk info Hubungi :
Bapak. Anto Ismail : 08121117010/021-33036090
Hariyanto : 081908147638/021-90446829,
Gilang : 085693841313/021-96127313
Kiki : 085711324136/021-92329892
021-77881463, 021-95334591
mkt_goodtea@hotmail.com
http://www.goodtea.biz/

Ide Bisnis | Bisnis Jagung dan Susu Kedelai Asli Murah Ala Revo

Sejumlah tawaran-tawaran kemitraan non waralaba atau business opportunity (BO) dibidang makanan minuman skala kecil dengan ukuran booth-booth minimalis kini semakin marak. Bagi anda yang bernyali pebisnis, namun bermodal cekak, bisnis semacam ini patut dipertimbangkan.

Salah satunya adalah peluang bisnis makanan dan minuman yang berbasis jagung dan kedelai. Adalah Hendra yang sebelumnya telah sukses mengembangkan bisnis minuman teh, kopi dan ice cream kini mengembangkan bisnis minumannya dengan membuat konsep kemitraan makanan jagung manis dan minuman susu kacang kedelai asli.

Ia menawarkan paket kerjasama jagung manis (Revo Corn) dan susu kacang kedelai (Revo Soya) senilai Rp 5,9 juta. Si mitra hanya tinggal mencari lokasi yang cocok dan mencari tenaga penjual.

“Yang saya tawarkan adalah konsep makanan dan minuman asli, tapi harga kaki lima,” kata Hendra kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Jika bergabung si mitra akan mendapatkan paket kemitraan mulai dari booth hingga peralatan produksi  dan lain-lain  yang semuanya mencapai 30-an item. Selain itu akan ada pelatihan khusus selama satu hari untuk tenaga penjual.

Ia menjelaskan dengan paket Rp 5,9 juta si mitra bisa berpeluang balik modal dalam waktu dua bulan dengan catatan paling tidak omset perharinya mencapai Rp 500.000.

Sebagai gambaran saja harga satu cup untuk jagung manis Rp 4500-6000 sedangkan minuman susu kacang kedelai dijual Rp 2500-3500. Ia memberikan kebebasan kepada mitranya untuk menjual diharga yang rasional sesuai dengan lokasi dan ongkos sewa tempat.

Dikatakan Hendra makanan jagung dan minuman kacang kedelai saat ini sudah menjadi tren masyarakat. Selain bergizi tinggi yaitu mengandung vitamin, karbohidrat, protein dan mineral, makanan-minuman semacam ini cocok untuk lidah semua orang.

“Saya juga ada rencana mau kembangkan minuman coklat dan tebu. Pokoknya semua minuman,” katanya.

Semenjak ia kembangkan dua bulan lalu, jumlah mitra yang sudah bergabung paling tidak sudah mencapai 13 booth untuk Revo Soya dan Revo Corn. Sementara total seluruh jaringan  Revo yang ada di Indonesia termasuk produk kopi, teh , dan Ice cream telah mencapai 380 berada di 21 kota di seluruh Indonesia.

Hendra menuturkan untuk bisa sukses dibisnis semacam ini selain keuletan. Juga harus memperhitungkan aspek lain misalnya dalam menentukan tenaga penjual, khususnya dalam hal melakukan pengawasan seperti sidak lokasi dan lain-lain.

“Saran saya kalau bisa jangan gunakan tenaga kerja dari kerabat, lebih banyak minusnya dari positifnya. Itu saya sudah saya alami sejak awal merintis usaha ini,” jelasnya.

Masih terkait dengan memilih tenaga penjual, ia menyarankan sebaiknya setiap setoran pendapatan harian sebaiknya sedapat mungkin disetorkan setiap hari oleh tenaga penjual. Hal ini untuk menekan risiko adanya hal-hal yang tak diinginkan.

Ada hal yang paling penting yang tak boleh dilupakan oleh si mitra yaitu soal gaji tenaga penjual. Untuk bisa menggenjot  omset  penjualan, si mitra harus mampu pintar-pintar mensiasati hal semacam ini.

Ia menyarankan ada dua opsi yang bisa dipakai oleh mitra yaitu memberikan gaji pokok Rp 400.000 atau  Rp 700.000 per bulan bagi tenaga penjual dengan asumsi total gaji yang diterima per bulannya Rp 1 juta.

Caranya dengan gaji pokok Rp 400.000, maka tenaga penjual bisa diberikan kesempatan mendapat bonus penjualan per cup Rp 200. Jika sehari mampu menjual 100 cup maka dari bonus itu tenaga penjual bisa mengantongi Rp 600.000 per bulan diluar gaji.

Sementara dengan gaji pokok Rp 700.000 per bulan, maka tenaga penjual bisa diberikan bonus per cup hanya Rp 100, atau jika mampu menjual 100 cup perhari bisa terkumpul bonus Rp 300.000 per bulan.

“Dengan cara ini sales bisa terus semangat menjual tidak mudah puas,” katanya.

Untuk urusan memilih lokasi, Hendra menyarankan lokasi kampus menjadi tempat paling bagus untuk menjual produk semacam ini. Lokasi  mal pun menjadi alternatif namun harus siap dengan harga sewa yang tinggi.

“Kalau dikampus kelemahannya Sabtu-Minggu dan liburan semester,” katanya.

Sementara itu Siti salah satu mitra Hendra yang bergabung kurang lebih dua bulan menjual paket produk jagung manis mendapat respon positif pasar. Siti yang membuka gerai di Carrefour Karawang mengaku mampu menjual 15-20 Kg jagung per minggu dan sudah balik modal.


Revo Corn (Jagung Manis) dan Revo Soya (Susu Kacang Kedelai)

Revo Corn merupakan Jagung manis bergizi dan berserat kaya akan Vitamin, karbohidrat, antioxidant, serat, protein, mineral yang sangat dibutuhkan oleh seluruh manusia sedangkan
Revo Soya merupakan Susu kacang kedelai bergizi tinggi mengandung protein tinggi, karbohidrat, minarel dan vitamin. Menurut hasil penelitian dimana Mutu protein Susu kacang tidak kalah dengan Susu sapi serta lebih baik minum Susu Kacang Kedelai.
Nilai Investasi untuk Paket Usaha Revo Corn (Harga Promo) Rp 4.500.000,-:
Analisa Keuangan Revo Corn
Pilihan Investasi Awal
Nilai (Rp)
Paket Revo Corn
4,500,000
Pemasukan
Omzet rata-rata/hari
401,000
20 cup Jagung + mentega x Rp 4.000,-
80,000
20 cup Jagung + mentega susu x Rp 4500
90,000
21 cup Jagung + mentega susu keju x Rp 5000
105,000
21 cup Jagung special x Rp 6.000,-
126,000
Omzet rata-rata/bulan (30)
12,030,000
Pengeluaran
Pemakaian bahan baku Corn
7,699,200
rata-rata 64%
Komisi dan Gaji Pegawai
1,000,000
Sewa tempat & Operasional
1,000,000
9,699,200
Net Profit
2,330,800
Retrun On Invesment (ROI)
2 bulan
Nilai Investasi untuk Paket Usaha kombinasi Revo Corn dan Soya (Harga Promo) Rp 5.900.000,-
Analisa Keuangan Revo Soya & Corn
Pilihan Investasi Awal
Nilai (Rp)
Paket Revo Kombinasi
5,900,000
Pemasukan
Omzet rata-rata/hari
512,500
50 cup soya natural x Rp 2.500,- = Rp 125.000
25 cup soya aneka rasa x Rp 3.500 = Rp 87.500
50 cup Corn x Rp 6.000 = Rp 300.000
Omzet rata-rata/bulan (30)
15,375,000
Pengeluaran
Pemakaian bahan baku Corn 74%
6,660,000
Pemakaian bahan baku Soya 47%
2,996,250
Komisi dan Gaji Pegawai
1,000,000
Sewa tempat & Operasional
1,000,000
11,656,250
Net Profit
3,718,750
Retrun On Invesment (ROI)
2 bulan
Semua perlengkapan usaha disiapkan oleh PT. Revo Indonesia dan menjadi hak milik franchisee serta training untuk karyawan outlet sampai bisa sedangkan Franchisee hanya menyiapkan Tempat usaha dan karyawan


Bagaimana tertarik?


Hubungi : Bpk Hendra
Revo Indonesia
Mall Taman Palem Lt 2 Blok B No 77 Cengkareng Jakarta Barat.

Hub: 0812 8832 8905   /    0856 92 111 023;
Facebook: Franchise tea coffee ;
YM: hendracrown ;
Skype: hendramlm ;
Twitter: revoindonesia ;

www.revoindonesia.com