Furnitur Menarik di Jalan Kalimalang

Ada satu tempat yang menawarkan berbagai macam furnitur (perabot rumah tangga) menarik dan berkualitas. Selain dibuat oleh para perajin furnitur yang andal, harga yang ditawarkan juga relatif murah. Tempat penjualan furnitur menarik, murah, tetapi berkualitas tersebut terletak di Jl Inspeksi Saluran Tarum Barat, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, atau lebih dikenal dengan nama Jl Kalimalang.

Tempat ini tepatnya berada sebelum pintu masuk Cipinang Indah bila dari arah Jakarta ke Bekasi. Paung (50), pembuat furnitur di Toko Barokah Furnitur yang ditemui SH baru-baru ini, mengatakan, harga produk yang ditawarkan relatif lebih murah. Di samping itu, yang menjadi keunikan toko ini adalah menyerahkan sepenuhnya kepada konsumen bentuk atau gambar dari furnitur yang akan dipesan.

“Pada prinsipnya, kami bisa mengerjakan semua permintaan konsumen. Mulai dari meja, lemari, kasur, perabotan dapur, rak buku, dan lainnya. Semua furnitur yang kami hasilkan, dijamin tahan lama dan kuat karena kami menggunakan kayu palet atau kayu yang khusus digunakan untuk peti kemas untuk ekspor-impor,” ujarnya.

“Untuk harga yang paling murah adalah meja dengan ukuran panjang 90 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 50 cm seharga Rp 150.000. sementara harga termahal yang pernah kami jual adalah lemari yang tingginya 2 meter dan panjang 4 meter dengan harga Rp 4,5 juta. Untuk ukuran kecil, kami bisa selesaikan dalam waktu 2-3 hari. Namun bila ukurannya besar, kami membutuhkan waktu lebih lama lagi,” tuturnya.

Mengenai pendapatan dari hasil usahanya, menurut Paung, “Alhamdulilah, selama ini usaha kami tidak pernah sepi pelanggan, minimal per hari ada satu orang yang memesan perabotan. Bahkan ada yang pernah memesan perabotan lengkap mulai dari yang kecil hingga besar karena orang tersebut baru saja pindahan,” jelasnya.

Terkait kualitas, menurut Pendi, pembuat furnitur lainnya, ia memberikan jaminan alias garansi. “Kalau soal kualitas jangan khawatir. Selama saya membuat perabotan atau furnitur, tidak pernah ada konsumen yang protes atas hasil buatan saya. Kebanyakan mereka puas,” ungkapnya.

“Bagi mereka yang ingin memesan, cukup memberikan contoh desain atau gambar yang mereka inginkan. Dengan adanya contoh, kami bisa membuat sama dengan contoh desain yang diberikan,” jelasnya. “Seperti halnya meja komputer, konsumen cukup memberikan contoh desainnya maka hasilnya pun akan sama dengan contoh, bahkan dengan kualitas yang lebih baik,” katanya.

Laba Cantik dari Lampu Hias Kulit Jagung

Pembungkus kulit jagung yang sering menjadi sampah, ternyata bisa mendatangkan rupiah. Tentunya, setelah kulit jagung itu disulap menjadi kap lampu yang cantik dan menarik. Permintaan lampu hias ini berdatangan dari berbagai kota di Indonesia. Perajinnya bisa mendulang omzet hingga puluhan juta rupiah saban bulan.

Sebagian  masyarakat Indonesia pasti mengenal jagung. Selain menjadi makanan pokok penduduk di beberapa wilayah bagian timur Indonesia, seringkali orang mengudap jagung sebagai makanan ringan. Sei tara itu, kulit jagung kerap menjadi sampan atau barang tak bernilai.

Namun, di tangan orang kreatif, limbah sampah kulit jagung bisa mendatangkan rupiah . Seperti yang dilakukan oleh Ery Murdiyanto dari Jongja dan Heri Darmawan dari Gallery Goa Barong, di Klaten, Jawa Tengah. Dari tangan kedua perajin itu, limbah kulit jagung yang sering disebut klobot ini disulap menjadi benda seni, berupa lampu hias nan cantik

Maklum, limbah kulit jagung sangat berlimpah dari sekitar rumah tinggal Ery dan Heri. “Kami ingin membuat barang yang memiliki fungsi dan punya nilai seni dengan memanfaatkan limbah yang ada,” kata Ery. Proses pembuatan lampu hias kulit jagung ini juga jauh dari sentuhan bahan kimia Pasalnya, pewarnaan hanya mengandalkan warna alami kulit jagung.

Nah, untuk membuat kerajinan nan apik itu, terlebih dulu kulit jagung itu disetrika hingga rata. Selanjutnya, gunting lembar klobot itu sesuai bentuk dan pola yang diinginkan. Kulit jagung itu kemudian ditem-pelkan satu per satu ke permukaan fiber. Setelah semua permukaan tersebut tertutup rapi, baru fiber dipasang pada sebuah rangka bambu ataupun kayu. Terakhir adalah memasang dudukan bola lampu pada rangka bawah lampu hias kulit jagung tersebut.

Lampu hias kulit jagung ini dipasarkan mulai harga Rp 50.000 untuk tinggi 50 cni, sampai Rp 500.000 untuklampu besar setinggi duameter. “Harga lampu jenis ini sangat tergantungmodel dan ukuran,” imbuh Ery.

Dalam satu hari, Ery yang dibantu lima orang karyawannya sanggup membuat hingga 10 lampu klobot Setiap bulan, setidaknya Erysanggup menjual hingga 300 buah lampu klobot berbagai ukuran.

Sebagian besar pembeli lampu klobot ini adalah pemilik rumah makan, hotel serta penjual kerajinan lainnya Selain Yogyakarta dan Solo, permintaan datang dari berbagai kota, seperti Jakarta, Bali, dan Sorong, Papua Dari usaha ini, setiap bulan setidaknya Ery mampu meraup omzet hingga Rp 75 juta.

Untuk mempercantik tampilan lampu klobot, Ery sering menambahkan dekorasi hiasan daun kering, bunga kering, pelepah pisang kering, buah-buahan kering seperti buah mahoni dan bunga kelapa kering.

Selain Ery dan Heri, perajin lampu hias dari kulit jagung lainnya adalah Jupriadi. Ia mulai menekuni usaha ini sejak awal 2011 di Kalimantan Barat. Berbeda dengan Ery, Jupriadi hanya membuat satu jenis lampu hias kulit jagung. Ia menggunakan besi tempa ringan sebagai rangka lampu hias yang berbentuk prisma.

Proses pembuatan lampu irri, terbilang lebih lama, karena menggunakan bahan baku besi ukir. Alhasil, dalam satu bulan, Jupriadi hanya sanggup membuat 150 buah lampu hias kulit jagung.

Harga sebuah lampu ini dipatok Rp 200.000. Denganbegitu, omzet Jupriadi bisa mencapai Rp 30 juta

Jupriadi telah memasarkan lampu hias kuli! jagung buatannya ini hingga Bali dan Sumatera Tentu saja, ia juga menjual produknya di seluruh wilayah Kalimantan.

Sayang, Jupriadi mengaku masih kekurangan pasokan bahan baku. Apalagi, saat musim hujan seperti sekarang ini. Pasalnya, tak banyak petani di Kalimantan Barat yang bertanam jagung. Selain itu, kulit jagung pwu akan sulit keringkan karena minimnya sinar matahari untuk penjemuran kulit jagung.

Selain itu, Jupriadi pun mengaku masih kesulitan mendapatkan sumber daya manusia terampil untuk bengkel kerjanya “Saya baru dibantu dengan tiga orang rekan kerja saya Masih sulit mencari tenaga kerja yang terampil,” kata Jupriadi.

Ingin Maju, Manajemen Perlu Dibenahi

Walau Tonik terus berinovasi dari segi produk, model, dan warna, ternyata hal itu belum cukup membuat Amalia Thessen puas. Setelah enam tahun berjalan, ia merasa masih ada hal yang mengganjal dan bisa mempengaruhi kelangsungan bisnisnya ke depan, terutama mengenai manajemen dan pemasaran produk.

Memang  bisnis fesyen dan aksesori yang dijual di Toko Unik atau Tonik bisa dibilang telah menimba sukses. Lahat saja, kini jaringan Tonik telah mampu menghasilkan duit ratusan juta rupiah per bulan. Namun kesuksesan itu tak lantas membuat si empunya Tonik, Amalia Thessen puas. Amalia merasa harus ada perbaikan dari segi manajemen agar usahanya ini dapat berkembang lebih melesat lagi.

Amelia mengenang, ketika kuliah, seorang karibnya menasehati, untuk mengembangkan usaha maka perlu manajemen yang baik, terutama mengenai manajemen keuangan. “Sobat saya bilang, usaha sudah punya pelanggan. Karena itu dengan manajemen yang baik pasti akan lebih berkembang,” ujar Amelia mengenang nasihat sobatnya itu.

Nasehat itu memang tak berlebihan. Amelia mengakui, dia memang terlalu fokus dalam pengembangan fesyen dan aksesori. Baginya, manajemen maupun pengelolaan pemasaran masih dinomorduakan.

Perempuan yang mengaku idealis dalam hal fesyen ini berniat untuk membenahi dan menyusun sistem manajemen usahanya ini. “Bulan depan kami juga akan menggunakan jasa akuntan untuk mengaudit keuangan,” beber Amelia.

Soal pemasaran pun bakal digarap lebih serius. Setelah memasang logo Tonik di paper bag dan produk sepertikaos, tas, dan dompet, kini Amelia berniat memasang Igo Tonik di produk aksesori seperti gelang dan kalung. Selain im, logo Tonik juga bakal mejeng di mana-mana. Kini logo itu baru tertempel di kendaraan operasional atau di lokasi bazar atau pameran.

Menurutnya sistem manajemen dan pemasaran ini sangat penting. Maklum, pada 2012 nanti, Amelia berambisi membuka toko grosiran yang lebih besar. “Sebelum mencapai itu semua kami harus punya sistem manajemen yang kuat,” ungkapnya

Niat Lia untuk membuka toko grosiran sudah mulai ia rancang. Ia sudah menyiapkan tempat di Mal Ambassador, Jakarta Selatan. Ia menganggap pengunjung mal itu seseuai dengan segmen pasar yang dia garap. “Kami tak asal tunjuk tempat, kami sudah riset sebelumnya bahwa produk kami banyak juga yang dijual di tempat tersebut,” tandasnya

Ambisi Amelia lainnya adalah membuka Tonik di mal premium, sekaliber Grand Indonesia Ia yakin, produk fesyen yang ditawarkan di Tonik bisa merepresentasikan produk fesyen lokal yang berkualitas yang tak kalah dengan produk impor.

Keyakinan itu dilandasi dari pengalamannya saat memproduksi dan menjual syal ikat dari bahan kaos, pada 2010 lalu. Tak dinyana, “Awal yang tidak disengaja itu temyata sambutannya luar biasa besar,” ujar Amelia.

Dalam sehari syal itu bisa terjual hingga 150 pieces dengan harga Rp 75.000 per buah. Amelia menyatakan, antusiasme pelanggan terhadap produknya itu lantaran syal tersebut hampir memiliki persamaan dengan syal yang dijual di toko retail premium seperti Zara.

Hal itu pun dibenarkan oleh Ebi Febrian, sekondan Amelia dalam mengelola Tonik. Menurut Ebi, produk syal tersebut seharusnya bisa menjadi ikon Tonik. Namun karena buruknya manajemen pemasaran syal tersebut, penjualan syal itu tak berlangsung lama karena kompetitor langsung berbondong-bondong membuat produk serupa. “Bisa dibilang

Tonik pernah menjadi iamlsrtter dalam syal ikat sebelum muncul pemain lain yang ikut memproduksi syal serupa tanpa kami ketahui sebelumnya,” ujar Ebi. Manisnya berjualan syal tersebut hanya bisa bertahan selama enam bulan.

Itulah sebabnya, Amelia menegaskan, ketika manajemen Tonik mulai kuat, ia bakal membangkitkan lagi produk yang pernah sukses dibesutnya seperti pil), sepatu lukis, dan syal ikat. “Karena tren pasar saat ini masih ke arah baju dan aksesori,” tukas Amelia.

Yanti Riyanto, reseller Tonik di Jakarta menambahkan, kelebihan produk Tonik adalah banyaknya referensi soal model serta kreativitas yang dimiliki oleh Amelia dan team kreatifnya membuat pelanggan tak pernah jenuh dengan produk yang dihasilkan. “Saya juga nyaman kerjasama dengan Tonik dan Amelia,” pungkas Yanti.

Musim hujan, produsen jas kebanjiran pesanan

Musim hujan mendatangkan berkah bagi produsen jas hujan. Mereka mendapat banyak pesanan. Produsen pun terus berinovasi. Salah satunya dengan mendesain jas hujan khusus wanita muslimah atau jas hujan dengan beragam motif.

Hujan adalah hal yang paling menyebalkan bagi para pekerja di lapangan. Maklum, kalau tak pakai jas hujan, pakaian bisa basah kuyup kena hujan. Karena itu, bagi para pekerja ini, lebih baik sedia jas hujan sebelum kehujanan.

Namun, di balik “penderitaan” para pekerja itu, ada kebahagiaan bagi produsen jas hujan. Musim hujan, tentu masa panen bagi mereka. Menurut Sandi Tumenggo, Projet Manajer PT Progressio Indonesia di Bandung, di musim hujan, perusahaannya kebanjiran order jas hujan.

Progresio menerima pesanan jas hujan dari seluruh Indonesia. Selain dari Bandung, pesanan juga datang dari Sumatra, Kalimantan hingga Papua. Pelanggan tetap Progresio adalah perusahaan tambang, kepolisian, serta perusahaan perkapalan. Dalam setahun, pelanggan itu biasanya memesan jas hujan dua kali.

Di musim hujan, perusahaan sanggup mengerjakan hingga 5.000 unit jas hujan tiap bulan. Banderol harga jas hujan ini berkisar Rp 85.000 hingga Rp 125.000. Dengan produksi sebanyak itu, tak kurang dari Rp 500 juta per bulan masuk ke laci kasir perusahaan.

Progessio menawarkan dua model jas hujan, yakni jas hujan model baju dan celana serta jas hujan model rok. Berkah hujan juga dinikmati Diah Kurniasih. Berbeda dengan Progessio, Diah memproduksi jas hujan khusus wanita yang mengenakan busana muslim.

Lewat merek Syabab Collection, Diah mengeluarkan tiga model jas hujan. Pertama, jas hujan berupa setelan jaket dan rok. Kedua, jas hujan model gamis yang penutup kepalanya menyatu dengan leher seperti model ponco. Terakhir, jas hujan berbentuk jaket tapi di bagian celananya ditambahkan celemek.

Selain itu, Diah juga membuat jas hujan bermotif, seperti polkadot kecil warna-warni, motif lurik atau abstrak, dan motif kotak-kotak. “Jas hujan bermotif ini adalah salah satu produk inovasi kami,” kata Diah. Diah memulai bisnis ini sejak Februari 2011. Modal awal Diah untuk memulai usahanya sebesar Rp 15 juta. Meski belum genap setahun, Diah sudah bisa meraup omzet Rp Rp 30 juta per bulan.

Ia memasang harga mulai Rp 100.000 hingga Rp 160.000 per stel. Variasi harga ini, tergantung dari jenis bahan dan model jas hujan. Di antara koleksinya, jas hujan paling laris adalah model jas hujan gamis serta setelan jaket dan rok.

Untuk pemasarannya, Diah hanya mengandalkan media online. Ia mengaku pemasaran lewat dunia maya ini cukup efektif.  Setidaknya, dalam sebulan, Diah mampu menjual jas hujan sebanyak 200 hingga 250 buah jas hujan. Selain menjual secara eceran, Diah juga menerima permintaan jas hujan dalam jumlah banyak atau grosir.

Ia juga menawarkan peluang bagi orang-orang yang ingin menjadi reseller. Syaratnya, cukup membeli minimal tiga buah jas hujan bahan biwaey dan enam buah jas hujan bahan taslan.  Adapun yang tertarik menjadi agen harus membeli jas senilai minimal Rp 2 juta. “Saat ini kita ada sekitar 10 agen yang tersebar di Sumatera, Sulawesi, dan Jabodetabek,” tutur Diah.

Tipenya memang warung angkringan, labanya sekelas restoran

Sushi makin diminati di Indonesia. Beberapa kemitraan usaha makanan khas Jepang ini juga mulai merebak. Dengan harga jual yang jauh lebih murah, gerai-gerai hasil kemitraan usaha sushi pun laris dan menyebar di beberapa kota.

Makanan ala Jepang sudah tak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia. Salah satu menu yang sudah bersahabat adalah sushi. Gerai-gerai sushi yang ada di mal sering penuh oleh konsumen penggemar makanan ini.

Antusiasme konsumen pada sushi ternyata membuat banyak waralaba restoran Jepang masuk ke Indonesia. Meski begitu, banyak juga tawaran kerja sama usaha makanan ini dari pengusaha Indonesia. Jenis usahanya bukan restoran, melainkan kelas booth dengan konsep kemitraan alias business opportunity. Misalnya, Zushioda Japanese Street Sushi dan Ikki Sushi.

Aditya Yodha, pemilik Kemitraan Zushioda Japanese Street Sushi, melihat bahwa peminat masakan Jepang memang sangat besar. “Di Indonesia, melihat konsep makan sushi, banyak berasumsi ini jenis makan serius,” ujar konsultan pembuat restoran jepang yang juga berpengalaman memiliki beberapa restoran jepang itu.

Padahal di Jepang, ada konsep makan sushi di warung kaki lima atau dalam istilah lokasi disebut angkringan. Di Jepang, angkringan biasanya disebut yatai. Makanan yang disajikan biasanya makanan tradisional Jepang, seperti yakitori, sushi, yakiniku, agemono, oden, dan hakata ramen. Biasanya juga ada minuman seperti sake atau bir. Makanan yang dijual di yatai biasanya relatif lebih murah dibandingkan dengan di restoran.

Nah, setelah sukses berbisnis restoran, Aditya mencoba menawarkan kemitraan gerai Yatai Zushioda. Tawaran ini memang baru berjalan satu bulan. Tapi, menurut dia, sudah ada beberapa orang yang mengajukan diri sebagai mitra. “Rata-rata dari luar Jakarta,” ujar dia. Yang sudah jalan saat ini baru satu gerai di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Tawaran kemitraan sushi yang lain berasal dari PT Ikki Group, yaitu Ikki Sushi. Bisnis kemitraan ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir. Widi Mada, pemilik bisnis Ikki Sushi, menyatakan bahwa meski baru tiga mitra bergabung dengannya, konsumen masing-masing gerai sushi tersebut lumayan besar. “Sehari, mitra saya bisa membeli bahan makanan sampai Rp 1 juta,” ujar dia.

Sayangnya, Widi tidak tahu benar berapa omzet yang dibukukan masing-masing mitra. Maklum, dalam sistem kemitraan ini, ia tidak mengenakan biaya royalti. Karenanya, ia juga tidak menerima laporan berapa omzet para mitra. Tiga mitranya itu dua di antaranya berada di Jakarta, yaitu di Plaza Semanggi dan Galaxy, Bekasi, dan satu lagi di Istana Plaza, Bandung.

Satu lagi warung sushi dengan konsep booth adalah Sushi Rock n Roll. Tenesia Megariani, pemilik usaha ini, mengaku saat ini sudah mempunyai 10 mitra. “Kami sudah jalan selama dua tahun,” tutur dia. Tak hanya dari jumlah mitra yang bertambah, omzet yang diraup mitra juga lumayan. Dia bilang, untuk kelas booth, rata-rata mitra mendulang omzet Rp 22 juta–Rp 30 juta per bulan. Harga jual sushi-nya mulai Rp 6.000–Rp 49.000 per rol.

Harga sushi yang dijual dalam kemitraan berbentuk booth ini memang jauh lebih murah dari kelas restoran. Widi bilang, harga jual sushi dari pihaknya mulai Rp 5.000 per rol. “Harga jual ke konsumen bisa ditentukan oleh si mitra sendiri, lantaran mungkin mereka juga memperhitungkan ongkos kirim dan biaya lainnya,” tutur dia.

Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Aditya, Widi mengaku harga jual sushi di Zushioda hanya berkisar Rp 12.000–Rp 20.000 per rol. Selama sebulan ini, menurut dia, pendapatan yang masuk ke mitra memang baru hanya sekitar Rp 14 juta. Tapi, dia memperkirakan, ke depan, omzet penjualan per bulan bisa mencapai Rp 24 juta. “Target saya, per hari satu booth bisa mendapatkan Rp 800.000,” ujar dia.

Tertarik memulai bisnis makanan ini? Kami akan mengulas bagaimana mereka menawarkan pola kemitraan usaha ini.

• Yatai Zushioda

Aditya menawarkan kemitraan angkringan ala Jepang ini dengan harga Rp 38 juta. Modal awal tersebut digunakan untuk membeli booth, termasuk meja kursi, mesin pendingin, dan beberapa peralatan lain. Selain itu, masih termasuk bahan baku awal senilai Rp 2 juta.

Selain menyiapkan dana sebesar itu, Anda juga masih harus menyiapkan tempat untuk mendirikan bisnis ini. Tidak ada ukuran tempat sebab dengan konsep angkringan memang tidak membutuhkan ruang cukup besar. Tapi, Aditya menyarankan letak lokasi tempat bisnis ini berdekatan dengan pusat keramaian. “Tempat yang pertama saya buka berdekatan dengan Seven Eleven. Pengunjung gerai itu juga kadang mampir ke booth saya,” ujar dia.

Anda juga masih harus menyiapkan karyawan yang bertugas untuk menjaga warung. “Tiga karyawan cukup untuk sebagai pelayan, koki, dan kasir,” ujar dia.

Sebelum memulai bisnis ini, Aditya juga akan memberikan pelatihan terlebih dahulu kepada para mitranya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 14 hari. Sebab, mitra atau karyawan harus ada yang diberi pelajaran memasak sushi. Maklum, tidak semua jenis sushi bisa langsung didatangkan dari Aditya. Ada beberapa sushi yang memang harus dihasilkan fresh.

Aditya menambahkan, jika berada di luar Jakarta, mitra harus menyediakan biaya transportasi dan akomodasi untuk pelatihan. “Biaya sebesar Rp 38 juta, belum termasuk dengan akomodasi dan transportasi,” jelas dia.

Karena pola bisnis ini adalah kemitraan, Anda tidak akan dikenai biaya royalti atau biaya manajemen. “Sistemnya memang jual putus, hanya saja beberapa bahan makanan harus beli ke saya untuk menjaga kualitas,” ujar dia.

Keuntungan bersih bisnis ini per bulan bisa mencapai 50% dari omzet. Beban usaha terbesar berasal dari gaji karyawan dan bahan baku. Kalau Anda menyewa lokasi, biaya itu juga lumayan membebani. Kalau bisnis ini berjalan dengan lancar dengan pendapatan per hari Rp 800.000, Aditya memperkirakan balik modal usaha ini bisa selama 5 bulan–6 bulan.

• Ikki Sushi

Satu pola kemitraan milik dari Ikki Group ini ditawarkan dengan tawaran modal sebesar Rp 80 juta. Dana tersebut digunakan untuk booth, beberapa peralatan, dan bahan baku awal. Bahan baku yang diberikan menurut Widi tidak hanya bahan baku untuk sushi. Sebab, di booth tersebut juga akan menawarkan makanan Jepang lain seperti bento dan yakiniku.

Anda juga harus menyiapkan lokasi yang ramai pengunjung. Dari pengalaman Widi, ada mitranya yang mendirikan di perumahan dan warungnya cukup sukses. Selain membuka di perumahan, ada juga yang membuka di mal.

Selain menyiapkan tempat, Anda juga harus sediakan karyawan. “Kami akan kasih koki juga karena tidak semua sushi bisa kami pasok,” tutur Widi. Tapi, ada beberapa bahan makanan yang memang bisa dipasok dalam keadaan beku dan di warung tinggal menggoreng.

Untung bersih dari bisnis ini, menurut Widi, bisa mencapai 40%–50%. Adapun masa balik modal bisa mencapai 1,5 tahun–2 tahun.

• Sushi Rock n Roll

Tenesia menawarkan lima pola kemitraan. Pola kemitraan booth dengan nilai investasi Rp 65 juta, tipe counter island dengan nilai investasi Rp 95 juta, tipe sushi bar dengan nilai investasi Rp 140 juta, tipe resto dengan nilai investasi Rp 300 juta, dan big resto dengan modal Rp 500 juta. Dengan dana sebesar itu, mitra akan mendapatkan perlengkapan konter seperti chiller sushi, freezer, kulkas, rice cooker, dan lain sebagainya sesuai dengan tipe konter. Selain itu, Tenesia akan melakukan supervisi setiap tiga bulan sekali dalam lima bulan.

Mitra juga akan mendapatkan pelatihan selama dua minggu sampai sebulan. Pelatihan tersebut di antaranya untuk memasak, manajemen, dan lain sebagainya. Tenesia menjamin rasa dari sushi yang akan disajikan tidak akan jauh berubah kalau memang sudah mengikuti standar operasional prosedur (SOP). “Sudah ada takarannya kalau tidak lepas dari itu, saya rasa rasanya tidak akan jauh berbeda,” tegas dia.

Lokasi yang dianjurkan untuk membuka usaha ini, menurut Tenesia, harus di tempat yang ramai dan sesuai dengan tipe dari konter yang diinginkan. Kalau tipe booth, misalnya, ia menyarankan untuk membuka di food court, sekolah, kampus, sport centre, dan tempat rekreasi. “Karena tipe ini memang untuk food court, kami tidak menyediakan meja kursi untuk para pelanggan,” ujar dia.

Tenesia bilang, Anda juga harus menyiapkan tempat usaha dan izin usaha. “Biasanya biaya untuk izin usaha rata-rata senilai Rp 2,5 juta untuk tipe resto,” ujar dia. Rata-rata margin bersih yang dihasilkan bisa sekitar 30%–40%. Adapun masa balik modal tergantung dari tipe konter. “Kalau tipe booth sekitar sembilan bulan,” papar dia. Kalau lainnya seperti counter island bisa sampai delapan bulan atau lebih.

Laba nan cantik dari guci berbalut kulit telur

Tanpa isi, kulit telur sejatinya hanyalah sampah. Namun, kulit telur bisa menjadi penghias keramik sederhana menjadi bernilai tinggi. Produk keramik pun tampil unik dan cantik dalam balutan kulit telur. Bahkan, berkat kerajinan kulit telur ini, para perajinnya bisa mendulang omzet puluhan juta dan mampu mengekspor ke luar negeri.

Kulit telur yang notabene adalah sampah, ternyata mampu mempercantik barang kerajinan. Salah satunya, guci hias yang dibalut dengan pecahan kulit telur. Guci pun tampil unik hingga memiliki nilai ekonomi dan menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Dalam beragam kerajinan keramik, Bambang Triyanto, pemilik Gabah Handycraft, menggunakan kulit telur sebagai penghias guci buatannya. Bambang yang pernah bekerja di produsen keramik asing ini mulai menggeluti pembuatan guci kulit telur sejak 2004.

Bambang mendapatkan kulit telur dari pedagang bakmi dan nasi goreng di sekitar rumahnya di Yogyakarta. Setiap bulan, ia mampu menghasilkan 600 hingga 700 kerajinan, seperti guci hias dan botol hias berbalut kulit telur. Bambang memproduksi kerajinan ini dengan bantuan enam karyawannya.

Banderol harga kerajinan ini bervariasi, yakni mulai Rp 20.000 hingga Rp 300.000. Tiap harinya, Bambang mampu mendulang omzet antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Alhasil, saban bulan omzet Bambang bisa mencapai Rp 60 juta. “Selain pembeli lokal, beberapa barang juga sudah diekspor ke Jepang,” tutur Bambang.

Meski berasal dari limbah telur, Bambang menuturkan, kerajinan kulit telur ini awet. Sebab, kulit telur tahan api, pergantian cuaca, dan juga tahan terhadap hama ataupun rayap. Warna kuli kulit telur juga tak akan pudar meski terpapar sinar matahari.

Bahkan, dari kulit telur, Bambang mampu membuat corak warna. Misalnya, ia menggunakan telur ayam kampung untuk mendapatkan corak warna hitam kemerah-merahan. Sedangkan, kulit telur burung puyuh akan menimbulkan corak hitam.

Penggunaan kulit telur sebagai bahan finishing guci ini juga cukup mudah. Langkah awal, kulit telur harus direbus terlebih dahulu. Setelah itu, baru dibersihkan dari kulit arinya dan dijemur. Setelah benar-benar kering, kulit telur tersebut siap ditempelkan dengan lem pada guci yang akan dihias.

Namun, sebelum proses penempelan dimulai, guci yang akan dihias itu harus direndam di dalam air selama 15 menit. Guci itu sebaiknya jangan dicat terlebih dulu. Setelah dikeringkan, perajin pun harus memberi gambar unik di guci. Setelah itu, barulah proses penempelan dimulai.

Pada bagian guci yang ingin ditempel dengan telur, perajin harus melapisinya dengan lem terlebih dulu. Baru kemudian kulit telur ditempelkan. “Setelah semua bagian ditempel dengan kulit telur kering, kemudian haluskan kulit telur dengan amplas lembut,” kata Bambang. Setelah rata penghalusannya, guci tersebut dilap dengan kain yang sedikit dibasahi oleh air.

Di lain tempat, Titik Shavieq, perajin kulit telur asal Solo, lebih memilih kulit telur puyuh, ketimbang telur bebek atau ayam, sebagai penghias kerajinannya. Ia memilih kulit telur puyuh karena coraknya cukup unik dan bagus. “Hasilnya pun bisa lebih bagus daripada telur biasa,” jelas Titik. Hanya saja, kulit telur puyuh sulit diperoleh. Untuk mendapatkan kulit telur puyuh ini, Titik mempunyai langganan pedagang telur yang memasok. Sayangnya, si pedagang itu belum mampu memasok kulit telur puyuh secara rutin.

Selain guci hias, Titik juga menyulap limbah kulit telur menjadi lampu hias, asbak, tempat tisu, dan tempat lilin. “Semua kerajinan ini cukup diminati, baik wisatawan lokal maupun asing,” kata Titik.

Titik mulai bergelut di usaha kerajinan keramik berhias kulit telur ini sejak 2006. Dengan modal Rp 3 juta, ia membeli kulit telur, tanah liat, dan amplas.

Berkat keterampilannya mengutak-atik cangkang telur, Titik kemudian membuka gerai di Jalan Untung Suropati, Pasar Kliwon, Solo, untuk menawarkan barang kerajinannya. Ia menjual kerajinan guci hias dan lampu hias kulit telur mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 600.000.

Sayang, Titik enggan mengungkapkan besaran omzet yang ia terima tiap bulan. Ia hanya bilang, saban bulan omzetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. “Karena dapatnya tak tentu, ada satu bulan sampai puluhan juta, ada juga yang cuma dapat Rp 7 juta per bulan,” kata Titik.

Laba Gerai Bakso Masih Saja Hangat

Dea Chadiza Syafina, Fitri Nur Arifenieiakawta. Kudapan bakso memung populer. Olahan daging sapi berbentuk bulat yang disajikan dengan mie dan kuath panas ini selalu mengundang selera Tak heran, meski persaingan sangat ketat, ada saja pengusaha yang melirik usaha ini. Bahkan, tak sedikit dari mereka menuai keberhasilan.

Salah satu pengusaha itu adalah Luqnian Fanani. Setelah merintis usaha bakso awal 2009 di Mojokerto, ia mencoba menawarkan waralaba Baso Koki Sapi. “Akhir 2009, saya baru menawarkan kemitraan dan sekarang sudah ada 10 gerai,” katanya.

Luqnian menawarkan tiga paket kemitraan. Yakni, paket standar, paket premium, dan paket gold atau sink isi dica. Nilai investasi kemitraan ini mulai Rp 12,5 juta hingga Rp 27,5 juta.

Pada dua pakei pertama, mitra akan memperoleh peralatan masak dan perlengkapan makan, seperti mangkok, sendok dan garpu, freezer, kompor dan seragam karyawan. Selain itu, mitra juga mendapat suplai bahan baku awal dan brosur promosi.

Perbedaan mendasar pada tiap paket hanya pada jumlah mangkok dan jenis kompor sertaftvezcr. Untuk paket premium, mitra juga akan mendapat Sb (Mier untuk menghangatkan siomay.

Sedangkan, pada paket iinhl, mitra akan mendapatkan fvrr di Minan kapasitas 700 liter, dan juga suplai produk awal mulai dari Rp 5 juta sampai dengan Rp 7 juta “Terwaralaba gold berhak menjadi master franchise dan mengelola/ntuiWiise Baso Koki Sapi diwilayah tersebut,” tandas Luqman.

Meski waralaba Baso Koki

Sapi tak mengutip mitra tvyaltyfee. Narnun begitu, mitra wajib membeli bahan baku utama seperti bakso, siomay, bakso goreng, bakso tahu serta kuah dan bumbu dari manajemen Baso Koki Sapi pusat. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan

Dengan menjual 50hingga 250 porsitiap hari, mitra bisabalik modal dalamdelapan bulan.mempertahankan standar rasa Baso Koki Sapi.

Seporsi Baso Koki Sapi dibanderol dengan harga Rp 4.500 sampai Rp 6.000. Menurut perkiraan Luqman, mitra bisa menjual 50 hingga 250 porsi bakso setiap hari.

Mitra pun bisa mengumpulkan omzet rata-rata Rp II11100 setiap hari untuk paket standar dan Rp 1 juta untuk paket gold. Luqman menghitung, mitra bisa balik modal dalam hitungan enam bulan sampai dengan delapan bulan.

Etmi, salah satu terwaralaba Baso Koki Sapi sudah menggeluti bisnis ini sejak sejak 2009. Bisnisnya berjalan lancar karena ia memiliki lokasi strategis, .yakni jalan lintas Sumatra

Etmi mengambil pakei investasi sebesar Rp 25,6 juta. Ia mengaku, dalam waktu enam bulan sudah balik modal.

Sampai kini, usaha bakso-nva pun iak pernah sepi. Awalnya, ia hanya menjual 60 hingga 70 porsi bakso per dari. Kini, dalam sehari. baksonya laku300 hingga 400 porsi. Satu porsi, dijualnya dengan harga Rp 10.000. “Dalam sehan. omzel minimum sekitar Rp 3 juta,” kala Etmi.

Bahkan, saat Lebaran, Kimibisa mendulang omzet Rp 100 juta dalam 10 h;iri. Biasanya, saat Lebaran, penjualan bakso per hari bisa mencapai 1.000 hingga 1.200 mangkok. Berbagi tip supaya bisnis nya tetap awet, dengan menjaga kualilas dan disiplin untuk berjualan Baso Koki Sapi

Jl Raya Tangunan No. 29
RT 04 RW 02
Kec. Puri, Mojokerto
Telp. (0321) (U37810
HP. 08563407110

Jadi Eksportir dengan Modal Rp 5 Juta

Perjalanan Abdul Haris Noor merintis bisnis ukiran kaligrafi berawal dari kegagalan. Sebelumnya, dia pernah bangkrut ketika berbisnis mesin packaging mebel dan bangkrut pula dalam bisnis mebel. Namun Abdul pantang menyerah dengan memulai merintis usaha ukiran kaligrafi Hanya dengan modal Rp 5 juta.

Tidak mudah bagi AbduJ Haris Noor meraih sukses dalam bisnis ukiran kuligrali dari kayu jati. Pria kelahiran Jepara ilu harus melewati rintangan berat sebelum . akhirnya mampu jadi eksportir ukiran kaligrafi ko mancanegara.

Keberhasilan Abdul menghadapi rintangan tak lepas dari peran keluarganya yang hidup sederhana. Ia dibesarkan dari ayah yang pekerja keras yang berprofesi sebagai tukang Kayu. Berkaca dari orangtua, Abdul pun tumbuh menjadi sosok pekerja keras. Selain itu, pelajaran hidup yang diterima dari sang ayah membuatnya menjadi sosok yang teguh pada pendirian. Karena keteguhan itulah, Abdul enggan kuliah pada jurusan yang tidak ia inginkan. Setelah tamat Abdul mendapat tawaran beasiswa dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug, Tangerang, Banten,

Namun kesempatan belajar gratis menjadi pilot itu ia lewatkan begitu saja. Abdul hanya belajar dua pekan, setelah dia kembali pulang tanpa pamit pada pengeli tia kampus. “Saya merasa enggak nyaman, maklum orang desa,” kenang Abdul.

Sejak hengkang dari kampus STIP, Abdul memutuskan memadi “pilot” angkutan umum di Jepara. Dari hasil menyopir itu. Abdul tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. “Uang imsaya pakai ongkos masuk kuliah,1 tetang Abdul.

Setelah dua tahun menjadi sopir Abdul memutuskan kuliah di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta. di kampus itulah Abdul belajar tentang teknologi hasil hutan, termasuk teknologi yang berkaitan dengan pengolahan kayu

Setelah kuliah. Abdul sempat bekerja iii perusahaan baja, hingga akhirnya di PHK Namun begitu. Abdul tidak melupakan keilmuannya di bidang teknologi pengolahan hasil hutan.

Bermodal ilmunya itu Abdul mengajak sahabatnya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi packaging mebel tahun 1999. Dengan membawa bendera CV Mitra Radiant, Abdul memasarkan mesin packaging mebel kepada perusahaan mebel di Jepara.

Hampir tiga tahun bisnis penjualan mesin packaging itu berjalan lancar. Sampai tahun2002, Abdul dan sahabatnya mulai pecah kongsi hingga akhirnya berpisah Saya memilih melanjutkan usaha sendirian,” kata Abdul. Selepas itu, Abdul mendirikan perusahaan baru bernama Mandiri Wirastama, yang bergerak di bidang penjualan mebel. “Perusahaan ini berkembang hingga bisa ekspor,” terang Abdul.

Tiga tahun lamanya, dua perusahaan itu berkembang beriringan. Memasuki tahun 2005, kedua perusahaan itu mulai goyah karena terlilil krisis finansial. “Banyak mitra bisnis saya tidak membayar tagihan, terang dia. Tagihan macet itu membuat kedua perusahaan im tumbang, Abdul mengaku mengalami kerugian hingga Rp 100 juta akibat kredit macet itu. Saya sempat menagih utang seperti pengemis,” kenang Abdul.

Karena tagihan tak kunjung dibayarkan mitra, Abdul menghentikan operasional kedua perusahaan. Ia juga menjual aset perusahaan. Yang tersisa hanya Hp 5 juta,” katanya. Walaupun usahanya bangkrut, Abdul tidak patah arang. Dengan modal yang tersisa. Abdul melirik peluang usaha baru yaitu ukiran kaligrafi dari kayu jan “Saya itu saya ganti namaperusahaan menjadi CV Radiant Suryatama,” katanya.

Dengan modal seadanya, Abdul mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membual ukiran kaligrafi tersebut. “Saya sempat jadi balian olokan karena bikin kaligrafi,” kata Abdul. Setelah berhasil memproduksi kaligrafi, Abdul malah kebingungan menjual, karya itu hampir setahun lamanya Abdul tak kunjung mendapatkan pangsa pasar ukiran kaligrafi kayu itu.

Pada 2005, Abdul kemudian memutuskan ikut pameran kerajinan di Kementerian Perindustrian di Jakarta. Pameran inilah yang membawa perubahan bagi bisnis kaligrafinya. Selain mendapat pembeli, pameran Itu mempertemukan Abdul dengan teman lama yang mau memberikan bantuan modal tanpa agunan kepadanya. “Dari sil ulah nuk bidik bisnis saya,” terang Abdul.

Sepeda Fixie, Cetak Jutaan Rupiah dari Sepeda Bekas

Bisnis sepeda fixie merupakan pilihan yang mengiurkan, mengingat trend bersepedaa saat ini sedang pada puncaknya, ketika isu go green mulai didengungkan dibandingkan dengan bisnis sepeda Mountain Bike (MTB) atau jenis sepeda lainnya.

Dengan bermodal dana sekira Rp1 juta sudah mampu membuat sepeda fixie yang mampu dijual dengan harga minimal  Rp1,5 juta.

Dari sepeda bekas seharga Rp250 ribu hingga Rp500 ribuan bisa berubah menjadi sebuah sepeda dengan harga jual mencapai Rp1,5 juta bahkan puluhan juta rupiah. Dengan diberi sentuhan sedikit sehingga menjadi sebuah sepeda yang cukup unik dan enak dilihat. Biasanya disebut dengan istilah sepeda fixie atau fixied gear.

“Bisnis sepeda fixie saat ini sangat menggiurkan, apa lagi anak muda jaman sekarang lagi senang-senangnya bersepeda,” ujar penjual sepeda via internet, Fay saat ditanyai okezone.

Model untuk membuat sepeda fixie terbilang cukup murah, dengan modal sekira Rp1 juta bisa membuat sebuah sepeda fixie. Rincian dana sebagai berikut, Rp500 ribu digunakan untuk pembelian sepeda balap bekas, (selain sepeda balap juga bisa untuk di bentuk sebagai fixie), dengan sepeda bekas tersebut tidak perlu banyak perubahan untuk membentuk sebuah sepeda fixie, sehingga sisa dana tersebut bisa digunakan untuk restorasi ubahan sesuai dengan keinginan pasar, mulai dari pengecatan, dan sebagainya.

Dana pengecatan sekira Rp100 ribu bahkan bisa ditekan menjadi Rp50 ribu dengan menggunakan cat semprot. Selain pewarnaan, dana lainnya juga bisa dibelikan velg ditambah ban dan sebagainya seharga Rp300 ribu.

Sedangkan untuk sepeda fixie spesifikasi diatas rata-rata, bisa disiapkan dana sekira Rp2 juta, dengan modal Rp2 juta sepeda fixie spesifikasi diatas rata-rata tersebut mampu dijual dengan kisaran harga Rp3 juta hingga Rp4 juta.

Untuk pembelian sperpart sepeda, biasanya dilakukan di kawasan pasar Kebayoran Lama, disana terdapat banyak distributor part sepeda, mulai dari yang untuk umum hingga yang khusus menjual part fixie. Untuk harga sudah terbilang murah, dengan kemampuan menawar harga bisa semakin murah lagi dibandingkan tempat lainnya.

Untuk melakukan bisnis sepeda fixie, diutamakan kita harus mengetahui harga-harga untuk sparpartnya, karena setiap distributor beda harga, selain itu juga harus mengerti mana barang yang kualitas bagus dengan kualitas murahan

“Kita harus mengetahui perbedaan harga spare part, dan mengetahui kualitas barang yang dibeli,” ungkapnya.

Untuk media pemasarannya, saat ini sudah terbilang mudah, bisa melalui komunitas-komunitas sepeda, bahkan dengan kemajuan tekhnologi, media internet pun bisa menjadi tempat pemasaran yang efisien bahkan gratis, seperti situs jejaringan facebook dan twiter bahkan bisa melalui online shoop seperti bukalapak.com atau kaskus.

Sepeda fixie sendiri meruapakan sebuah sepeda dengan sistem pergerakan bisa berjalan maju atau berjalan mundur atau jaman dulu disebut dengan istilah doltrap, saat ini pun warna sepeda fixe berfariasi, mulai dari kuning, hijau, biru dan lainnya. Sepeda fixie sendiri telah menjadi trend bagi anak muda Indonesia.

Mengingat semakin tingginya trend bersepeda, sudah bisa dipastikan bisnis usaha jual beli sepeda tidak akan ada matinya, dan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan kesehatan maupun kepedulian terhadap lingkungan.

Mengurut rezeki lewat pijat rileksasi

Badan pegal-pegal atau capek? Jangan khawatir, saat ini sudah banyak tawaran layanan rileksasi, seperti spa, lulur, totok, hingga pijat refleksi yang bisa membuat badan kembali bugar.

Menyasar kalangan menengah atas, jasa rileksasi mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan. Masyarakat kota memang kerap dilanda stres akibat tekanan pekerjaan atau kemacetan lalu lintas.

Layanan inilah yang coba ditawarkan Olivia Antoni, pemilik The Family Spa dari Cilegon, Banten. Mengusung konsep spa keluarga, Family Spa hadir dengan dekorasi etnik modern bertema tradisional Jawa. “Lebih unik, mewah, dan eksklusif,” kata Olivia.

Walau sudah berdiri sejak 2007, Olivia baru menawarkan waralaba bisnis Family Spa pada Juni 2011. Cukup lancar. Meski baru sebulan, Olivia sudah bisa menjaring dua terwaralaba, yakni di Jambi dan Makassar. Adapun dua calon terwaralaba lagi masih tahap penjajakan.

Jika Anda juga tertarik mencicipi waralaba Family Spa, Olivia menawarkan dua paket waralaba. Paket pertama hanya membayar franchise fee sebesar Rp 35 juta. Kalau mengambil paket ini, terwaralaba akan mendapatkan hak penggunaan nama selama tiga tahun.

Paket kedua merupakan paket lengkap dengan nilai investasi sebesar Rp 190 juta. Calon terwaralaba yang memilih paket ini, selain memperoleh perlengkapan, juga tidak perlu memikirkan uang sewa tempat.

Dengan paket lengkap, pewaralaba akan mencarikan tempat usaha dengan nilai sewa Rp 20 juta per tahun berukuran 4 m x 10 m. Tak hanya itu, akan disediakan juga tenaga terapis dan pendampingan manajemen.

Selain membayar dana investasi, tiap bulan terwaralaba juga harus membayar royalty fee sebesar 5% dari omzet per bulan. Dengan asumsi ada 10 sampai 15 pelanggan yang datang, Olivia menghitung, setidaknya omzet terwaralaba akan mencapai Rp 1 juta–Rp 2 juta per hari. Alhasil, balik modal diperkirakan hanya butuh waktu enam bulan sampai delapan bulan.

Perkiraan omzet itu bakal tercapai, karena Family Spa memakai metode shiatsu asal Jepang. Mengenai bahan baku spa, seperti krim lulur, didatangkan langsung dari Bali dengan harga berkisar antara Rp 10.000–Rp 30.000 per paket.

Tak hanya itu, untuk menjaga kualitas layanan, Family Spa hanya merekrut terapis berpengalaman minimal lima tahun. Dengan pengalaman tersebut, terapis diharapkan bakal memberikan pelayanan profesional untuk pelbagai jenis paket yang ditawarkan.

Paket jasa rileksasi yang ditawarkan antara lain, pijat, body scrap, mandi susu, totok wajah, dan mandi sauna. Tarif untuk bisa menikmati layanan itu berkisar antara Rp 180.000 hingga Rp 250.000. “Untuk jasa senilai Rp 250.000 khusus untuk wanita,” jelas Olivia.

Salah satu terwaralaba Family Spa di Makassar, Umiyati, mengaku tidak kecewa setelah mengambil tawaran investasi ini. Umiyati atau akrap dipanggil Etty tertarik menjadi terwaralaba karena biaya investasinya murah.

Apalagi dengan dukungan peralatan yang lengkap membuat Etty bisa menjalankan bisnis tanpa pusing lagi. “Walaupun murah, kualitas dari berbagai support perlengkapannya tidak mengecewakan,” katanya.

The Family Spa
(ALDO Management)
Cilegon Town Square Nomor 17G, Jalan Raya Cilegon, Banten,
Telepon: (0254)378345