Hangatnya Laba Kemitraan Bakso

Bakso, bakso, dan bakso lagi. Memang, siapa, sih, yang tidak kenal dengan makanan berbentuk bola terbuat dari daging dan tepung ini? Walaupun pedagang bakso sudah bejibun, namun makanan ber-kuah panas ini tetap banyak peminatnya.

Sebagai makanan yang memiliki banyak penggemar, bakso pun menjadi pilihan bisnis Sri Ratna Dewi. Dengan nama usaha CV Zein Family, Ratna mendirikan usaha bakso di Yogyakarta pada 2004.

Tetap mengusung menu bakso, dia memadukan bakso dengan tahu, bernama Tahu Bakso Zaidan. Tak hanya bakso daging sapi, Tahu Bakso Zaidan juga berbahan baku udang, ikan .laut, dan ayam.

Variasi rasa dan menu

Setelah merasa bisnisnya cukup kuat, pada 2009 lalu. Ratna mulai menawarkan kemitraan Tahu Bakso Zaidan. Agar omzetnya bertambah besar, diajuga menambah variasi menu selain bakso, antara lain mie ayam, siomay, dan batagor.

Sedangkan untuk menu bakso, variasi rasa juga dilakukan dengan menu tahu bakso kuali tahu bakso bumbu kacang, tahu bakso hotplate, tahu bakso lada hitam, dan tahu bakso kremes. “Semua disajikan hangat dengan harga mulai Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per porsi,” kata Ratna.

Karena sifatnya kemitraan, Tahu Bakso Zaidan yang saat ini sudah punya enam mitra tidak memungut fra neh ise fee atau royalti fee. Enam mitra tersebut tersebar Yogyakarta, Semarang, Lombok dan Bekasi.

Untuk Anda yang berminat menjadi mitra, Ratna menawarkan dua konsep kemitraan. Pertama dengan.investasi Rp 20 juta. Jika memilih tawaran ini, maka mitra akan mendapatkan menu tahu bakso aneka rasa dan peralatan outdoor atau gerobak. Kedua dengan investasi Rp 50 juta. Tawaran ini akan memberikan menu bakso, mie

Mitra juga akan mendapatkan fasilitas perlengkapan restoran indoor, berupa lima set meja dan kursi, kulkas satu pintu, alat memasak, hatian baku, dan training karyawan. “Mitra langsung bisa memulai usaha,” katanya. Untuk menu minuman akan diserahkan ke mitra.

Dengan target penjualan 50 porsi sehari, diperkirakan omzet mitra mencapai Rp 15 juta per bulan. Jika target tersebut tercapai maka balik modal atau BEP sekitar satu tahun. “Yang penting lokasi bagus,” katanya Karena paket yang ditawarkan belum termasuk sewa tempat, maka mitra harus mencari sendiri lokasi usaha.

Ratna menegaskan, penggemar bakso sangat besar. Karena itu, pangsa pasar penikmat makanan ini masih menjanjikan. Namun, menurut Khoe-russalim Ikhsan, Konsultan Wirausaha dan Praktisi Bisnis,tawaran Tahu Bakso Zaidan masih belum cukup menarik.

Sebab menurut Khoerussa-lim, menu yang ditawarkan Ratna biasa-biasa saja “Kalau mau mendapat sambutan hams berani inovasi, meski dengan risiko gagal,” ujarnya. Ia mengaku agak ragu jika tawaran ini dibawa ke wilayah Jabodetabek.

Selain inovasi, Khoerussa-liin juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sumberdaya manusia (SDM) bagi mitra. Program pelatihan karyawan harus benar-benar memiliki sistem yang baik dengan standar pelatihan baku. Sebab, dalam bisnis seperti ini faktor SDM sangat penting bagi kemajuan usaha.

Tahu Bakso Zaidan Jln. Nangka V RT 6/15 Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta
Telp. 081228482724

Menjinjing laba dari produksi tas wanita ala Korea

Maraknya fesyen ala Korea di kalangan wanita remaja bisa menjadi peluang usaha yang menguntungkan. Salah satunya dengan membuat tas wanita remaja dengan desain ala Korea. Dengan membuat tas ini omzet bisa puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Setelah era Harajuku Style, dunia mode di Tanah Air terus mencari kiblat baru. Nah, kiblat baru itu masih bertetangga dengan Harajuku yang berasal dari Jepang, yakni gaya model yang dikenal sebagai Korean Style. Mode asal Korea itu tak hanya soal busana, namun juga tas.

Nah, pembuatan tas fesyen ala Korea inilah yang ditekuni oleh Vidia Chairun Nisa dan Syamsul Hadi, serta banyak perajin tas lainnya. Maklum, tas model anak muda Korea ini memang lagi jadi tren dan laris manis di pasaran.

Vidia sengaja membidik segmen remaja wanita yang gemar fesyen dan cenderung suka belanja. Kepada wanita muda penggemar fesyen ini, Vidia menawarkan aneka tas ala Korea. Tentu tas ala Korea bikinan Vidia ini bisa lebih murah dari tas asli asal Korea. Lihat saja, tas asal Korea, di pasar tas ibu kota bisa mencapai Rp 3 juta per buah. Adapun tas ala Korea buatan Vidia hanya seharga Rp 139.000 – Rp 219.000 per buah.

Soal model dan desain, pembeli tak usah khawatir karena Vidia mengadopsi desain, bentuk dan pola tas ala Korea. “Bahkan tas itu saya tambah lagi dengan aneka modifikasi,” terang Vidia yang menyematkan merek Gembool pada tas yang untuk kaum wanita itu.

Vidia yang sudah berjualan tas sejak 2008 itu melakukan beragam modifikasi warna, menambah aksesori, hingga membuat tas dengan ukuran beragam. “Soal kualitas tas kami tidak kalah dengan tas bermerek lain,” klaim Vidia yang punya bengkel produksi sendiri di Jakarta.

Untuk memproduksi tas itu, Vidia mempekerjakan 20 karyawan yang setiap bulan mampu menciptakan empat varian tas baru. Di antara varian tas yang terlaris adalah tas bermotif macan tutul dan motif berbentuk potongan koran atau majalah.

Berkat tas ala Korea ini, perempuan usia 25 tahun ini mampu meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan, dengan laba mencapai 40%. Vidia memperoleh omzet sebanyak itu dari berjualan tas melalui toko online bernama shop.gembool.com, juga dengan membuka jaringan pemasaran ke butik-butik dan pedagang tas di Bandung dan Jakarta.

Tak mau ketinggalan, Syamsul Huda, perajin tas di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, kini juga sibuk membuat tas ala Korea. Syamsul tertarik membuat tas ala Korea karena ada pesanan dari para pedagang tas. “Saya akhirnya ikut bikin tas gaya Korea itu,” terang Syamsul.

Tentu Syamsul tak kesulitan membuat tas ala Korea itu. Maklum, sebelum kepincut dengan tas ala Korea, Syamsul sudah sejak 1991 terlatih membuat tas apa saja. “Bedanya ada pada warna, tas ala Korea memiliki warna yang mencolok,” terang Syamsul.

Selain itu, ciri tas ala Korea memiliki banyak kantong ketimbang tas wanita biasa. Selain itu, tas ala Korea ini lebih banyak menggunakan aksesori seperti rantai.

Karena banyak permintaan, Syamsul juga rajin membuat desain baru. Dia mencari pola desain itu dari berbagai sumber, mulai dari majalah mode hingga dari dunia maya. “Sekarang jumlah produksi saya sudah ratusan pieces,” jelas Syamsul yang mengaku memiliki omzet Rp 110 juta per bulan itu.

Berbeda dengan Vidia, Syamsul memasarkan produknya langsung ke distributor tas yang ada di seluruh Indonesia. Syamsul mengaku tidak terlalu tertarik untuk berjualan melalui online seperti halnya Vidia. “Jualan lewat internet terlalu rumit,” katanya.

Sulaiman Ichsan mendongkrak omzet UKM dengan galeri

Don’t wait until tomorrow if you can do it today. Itulah prinsip yang diterapkan oleh Sulaiman Ichsan. Pria asal Belitung itu sukses merangkul pengusaha UKM di Belitung. Ia mencoba memanfaatkan peluang dari berkah pariwisata. Dalam waktu tiga tahun, Sulaiman pun berhasil mengangkat omzet banyak pengusaha UKM Belitung.

Belitung yang awalnya terkenal sebagai daerah penghasil timah kini menjelma sebagai tempat pariwisata yang apik. Ramainya kunjungan wisata di Belitung menginspirasi Sulaiman Ichsan untuk mendirikan workshop Galeri Kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Belitong pada 2007.

Sebelum memimpin Galeri KUMKM Belitong, bapak tiga anak ini aktif terlibat dalam keanggotaan koperasi. Dari kegiatan itulah, Sulaiman sering mengikuti pelatihan yang berkait dengan usaha kecil.

Dalam kesehariannya, Sulaiman memang berwirausaha secara mandiri dengan menjadi pelukis kaligrafi dan menjualnya di kaki lima, atau berjualan ikan di pasar ikan. Aneka pengalaman sebagai pengusaha cilik itulah sedikit banyak memberikan bekal bagi Sulaiman memimpin Galeri KUMKM Belitong.

Workshop Galeri KUMKM Belitong ini memamerkan beraneka macam produk khas Belitung, seperti makanan, kerajinan gantungan kunci dari kulit kerang, bros dari kulit kerang atau tempat tisu yang berhiaskan kulit kerang. Selain itu, ada juga kain tenun khas Belitung dan kaus yang bertuliskan “Negara Laskar Pelangi”.

Di antara produknya yang dipajang, Sulaiman menawarkan harga yang kompetitif agar barang cepat laku. Seperti gantungan kunci dan bros, Sulaiman membanderol harga Rp 15.000 per empat buah. Untuk tempat tisu, ia pasang harga sebesar Rp 40.000 per buah. Untuk kaus, harganya bervariasi mulai dari Rp 80.000 hingga Rp 125.000 per item-nya.

Selain mendirikan workshop, pria berusia 40 tahun ini juga membina beberapa pelaku UKM supaya lebih maju. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas produksi dengan kemasan yang menarik.

Itulah sebabnya, Sulaiman pun mengusulkan supaya KUMKM yang menjadi mitranya, melengkapi produk dengan registrasi produk industri rumah tangga (PIRT).

Nah, untuk memudahkan pengurusan PIRT, Sulaiman menjalin kerja sama dengan Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi, dan Pemerintah Kabupaten Belitung, untuk mendapatkan registrasi gratis untuk mereka. “PIRT ini penting untuk meyakinkan konsumen akan produk UMKM, baik dari kebersihan dan kelayakan konsumsi,” tuturnya.

Sulaiman teguh menjalankan prinsip disiplin dalam usaha. “Karena kita berkecimpung di dunia usaha, sehingga waktu itu penting untuk berkarya,” katanya.

Prinsip itu pun mendatangkan berkah. Jika tiga tahun lalu, ia hanya membina 12 UKM yang ada di desa Lesung Batang, kini, jumlah UKM binaannya mencapai 94 UKM yang tersebar di seluruh Kabupaten Belitung.

Bertambahnya UKM ini lantaran Sulaiman tak pernah bosan melakukan pendekatan dan mengajak mereka bergabung di galeri. Sulaiman juga aktif bekerja sama dengan operator biro perjalanan, sehingga setiap wisatawan yang berkunjung selalu mampir ke galerinya. Sulaiman mengaku Belitun mendapat berkah dari film “Laskar Pelangi.

Dengan datangnya konsumen, tentu tak hanya Sulaiman yang menikmati hasilnya, para UKM binaannya juga ikut kebanjiran order. Produksi mereka terus meningkat tiap tahun.

Alhasil, jika pada 2008 omzet galerinya sekitar Rp 90 juta per tahun, tahun ini ia memperkirakan omzet bisa menyentuh angka Rp 2 miliar. “Sampai September, omzet galeri sudah Rp 1,5 miliar. Sampai akhir tahun bisa lebih besar lagi karena ada Sail Wakatobi Belitung,” tutur Sulaiman.

Sulaiman pun semakin mensyukuri karena kian banyaknya pelaku UKM yang menjadi binaannya. Maklum, pada awalnya, hanya sedikit dari mereka yang mau mengikuti ide Sulaiman untuk menciptakan produk lebih kreatif.

Ia juga berhasil mematahkan kendala terberat dari banyaknya penduduk yang masih mengandalkan hasil penambangan timah dan menjadi nelayan. Perlahan, Sulaiman menularkan cara berpikir, bahwa Belitung kaya potensi wisata.

Kini, Sulaiman pun tertantang untuk mengembangkan pemasaran. Ia sedang mencari cara untuk mengikuti pameran di luar negeri, supaya produk UKM Belitung bisa menembus pasar ekspor.

Mengantongi laba dari usaha pembuatan tea bag

Laris manisnya penjualan teh, jamu, dan kopi dalam kantong celup mendorong permintaan kantong celup atau tea bag. Meski masih melayani permintaan dari pelaku usaha di tingkat menengah dan UKM, produsen kantong celup ini bisa meraup omzet puluhan hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, pemain di usaha ini masih sedikit.

Ternyata memproduksi kantong celup atau tea bag bisa menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, tea bag yang sebelumnya hanya digunakan untuk kantong teh celup ini mulai digunakan juga oleh produsen kopi dan bahkan produsen jamu untuk mempermudah penyajian.
Lebih menarik lagi, meski kebutuhan kantong celup ini makin besar, ternyata pemain di bisnis ini tidak begitu banyak. Itulah sebabnya, Suhartono, pemilik Indo Multi Creative di Surabaya, Jawa Timur, begitu tekun menggeluti usaha pembuatan kantong celup ini. “Saya sudah memproduksi kantong celup ini sejak tahun 1998,” ujar Suhartono.

Meski masih sedikit pengusaha yang memproduksi kantong celup ini, Suhartono mengakui persaingan bisnis ini kian ketat. “Hal itu terlihat dengan harga yang makin kompetitif,” lanjutnya.

Suhartono hanya memasok produk kantong celup ini ke produsen teh skala menengah dan UKM. “Produsen teh celup raksasa yang menjadi pasar utama di bisnis ini biasanya memiliki unit pembuatan tea bag sendiri,” ujarnya.

Indo Multi menjual tea bag dengan harga Rp 135 per piece. Ia mengaku, dalam sebulan dapat menjual hingga 100.000 kilogram tea bag. Asal tahu saja, berat setiap kantong celup rata-rata dua gram. Dengan produksi sebanyak itu, berarti Suhartono mampu memproduksi sebanyak 50 juta kantong celup per bulan.

Selain menjual kantong celup jadi, Suhartono juga menjual filter paper yakni bahan baku pembuatan kantong celup. Dalam sebulan, ia mampu menjual hingga 10 rol dengan harga per rol berkisar Rp 750.000 hingga Rp 1 juta. Satu rol filter paper bisa dipakai untuk pembuatan 50.000 kantong celup.

Meski enggan menyebut perolehan omzet, namun dengan volume penjualan sebesar itu, diperkirakan Suhartono bisa merengkuh omzet hingga Rp 6 miliar lebih per bulannya.

Pemain lain di bisnis ini adalah Edi Setyo Budi. Pemilik UD Raya Kudus yang memproduksi kantong celup selalu menuai kenaikan permintaan setiap bulan. Bahkan, saking banyaknya pesanan, Edi mengaku kewalahan memenuhi lantaran kapasitas produksinya masih terbatas. Padahal, dia memulai bisnis ini secara tak sengaja.

Bisnis asli Edi sebenarnya adalah teh herbal yang dikemas dalam kantong celup. Karena dia sering kesulitan mencari kantong celup, akhirnya Edi memutuskan untuk memproduksi sendiri kantong celup itu. “Dengan membuat kantong sendiri, saya bisa menekan produksi teh herbal,” ujarnya.

Dengan dibantu lima karyawan, “Dalam sehari, kami baru mampu memproduksi 15.000 tea bag atau sebanyak 450.000 kantong per bulan,” ujar Edi. Nah, sebanyak 350.000 tea bag digunakan Edi untuk produk teh herbalnya sedangkan sisanya, sebanyak 100.000 kantong, dia lempar ke pasar.

Edi banyak melayani pesanan dari produsen jamu tradisional dan produsen kopi. “Tapi saya baru menerima pesanan dari pengusaha kelas UKM,” ujarnya merendah.

Pria 31 tahun ini menjual kantong celup dengan harga Rp 150 per buah. Ia mengklaim kantong celupnya tergolong produk premium karena memakai jenis kertas yang lebih tebal.

Tak hanya menjual kantong celup, seperti juga Suhartono, Edi juga menyediakan filter paper atau kertas sebagai bahan baku tea bag. Edi membanderol harga bahan baku kantong celup yang masih diimpor dari Taiwan, China, dan Jerman tersebut seharga Rp 500.000 per rol. Dalam sebulan, Edi bisa menjual hingga lima rol filter paper. “Tiap rol bisa dibuat hingga 30.000 kantong celup,” jelas Edi.

Dari usaha pembuatan kantong celup dan penjualan filter paper ini, sarjana teknik elektro dari sebuah universitas di Yogyakarta ini mengaku mampu meraup omzet hingga Rp 20 juta per bulan dengan keuntungan 30%.

Rezeki mengembang dari ayam taliwang

Bisnis makanan daerah kian bergairah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Banyaknya perantau yang datang ke ibu kota menjadi pasar potensial bagi pengusaha makanan daerah. Maraknya liputan kuliner di televisi juga mendorong rasa penasaran sejumlah orang untuk mencicipi beragam makanan khas daerah tertentu.

Salah satu waralaba makanan daerah yang mulai ditawarkan pada Oktober 2011 ini adalah Ayam Taliwang Senggigi Lombok. Mulai membuka kedai ayam taliwang pada 2001, kini Sesil Indra Kurnia, pemilik merek Ayam Taliwang Senggigi Lombok, sudah memiliki tujuh gerai yang tersebar di Jabodetabek.

Mulai tahun ini, ia ingin mengembangkan kedainya yang bernaung di PT Sera Lestari Global, hingga ke seluruh Indonesia. “Saya ingin lebih banyak orang merasakan kelezatan ayam taliwang,” ujarnya berpromosi.

Investasi Rp 150 juta

Menurut Indra, kelebihan ayam taliwang di kedainya terletak pada dominasi rasa pedas. “Kami ingin mengusung sensasi pedas khas Lombok,” ujarnya. Sekitar 80% dari menu yang ditawarkan di kedai Ayam Taliwang Senggigi Lombok menggunakan bumbu cabai.

Pada waralaba ini, Sera Lestari Global baru menyiapkan satu paket investasi saja. Mereka menawarkan paket resto dengan nilai investasi sebesar Rp 150 juta.

Indra menjelaskan, dengan membeli paket tersebut, terwaralaba tinggal menyiapkan lokasi usaha. Semua perlengkapan berjualan, pelatihan, promosi, dan bahan baku untuk operasional awal sudah disiapkan. “Konsep gerainya fastfood minimalis,” ujarnya.

Selain ayam, gerai Ayam Taliwang Senggigi Lombok juga menyediakan menu bebek, ikan, dan udang yang berbalur bumbu taliwang. Dengan harga jual berkisar Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per porsi, terwaralaba akan memperoleh omzet sekitar Rp 3 juta per hari atau Rp 90 juta per bulan.

Selama masa kerja sama lima tahun, Indra mengutip royalty fee 2% dari omzet tiap bulan. Ia pun menghitung, balik modal usaha ini antara 14 bulan hingga 18 bulan.

Dengan konsep waralaba ini, saban bulan. Indra berharap mampu menggandeng dua mitra baru. Ia pun optimistis dengan prospek usaha ini, mengingat menu ayam taliwang, khususnya di kota-kota besar, belum banyak yang disajikan dalam bentuk resto. “Dengan konsep resto, kami memiliki kelebihan pelayanan cepat dan memuaskan, serta suasana yang nyaman untuk semua pelanggan,” kata Indra berpromosi.

Pengamat waralaba Khoerussalim Ikhsan melihat bahwa tawaran waralaba Ayam Taliwang Senggigi lombok dalam konsep resto dengan suasana modern ini cukup menarik. Namun, ia sedikit ragu soal harapan untuk bisa merangkul semua kalangan sebagai konsumen ayam taliwang. “Selama ini makanan tradisional dari sebuah daerah sifatnya segmented dan tak meledak di pasaran,” ujarnya.

Ia menyarankan kepada pemilik waralaba ini untuk mencari cara yang bisa memikat semua kalangan pada sajian khas ayam taliwang ini. Termasuk dari kaum muda dan anak-anak yang cenderung masih menyukai makanan modern. “Ini tantangan besar yang mesti dilakukan semua waralaba yang mengusung makanan tradisional,” pesan Khoerussalim.

PT Sera Lestari Global
Jl. Buaran Raya Blok B 19
Jakarta Timur
HP. 081398994706

Kotak Tisu Mendong Laku di Mancanegara

Mendong adalah salah satu tumbuhan yang hidup di rawa. Seperti eceng gondok, mendong juga bisa menjadi bahan kerajinan. Meski dari bahan alami, namun sudah terbukti produk berbahan baku mendong seperti kotak tisu mampu menembus pasar ekspor.

Selain  terlihat cantik setelah dianyam menjadi tikar, mendong juga bisa menjadi kerajinan lain, seperti kotak tisu. Adalah Nyoman Martini Sudarto, salah satu produsen kotak tisu berbahan mendong di Bali. Awalnya, Martini memasarkan kotak tisu buatannya ke hotel-hotel, kemudian merembet ke rumah makan, dan restoran di Bali.

Martini menggeluti pembuatan kotak tisu mendong ini sejak 2001 lalu. Ketika itu, perusahaan travel tempat Martini bekerja bangkrut. Ia pun memutuskan berbisnis kotak tisu daritanaman mendong.

Pertama merintis usaha mendong ini, Martini hanya dibantu oleh 15 karyawan yang kebanyakan pemuda dari sekitar rumahnya. Seiring melonjaknya permintaan, ia pun menambah karyawan. Kini, Martini telah mampu memperkerjakan 35 pekerja untuk mengembangkan usahanya

Saban bulan, Martini mampu menjual hingga 1.000 kotak tisu. Dengan harga berkisar sebesar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per buah, Martini pun mampu meraih omzet hingga Rp 120 juta per bulan.

Namun, tak selamanya usaha Martini ini berjalan mulus. Bisnisnya pernah runtuh, saat bom meledak di Bali pada 2004. Ketika itu, omzet Martini langsung melorot tinggal Rp 70 juta per bulan.

Martini memang lebih banyak bermain di pasar ekspor. Kebetulan ketika ia bekerja di perusahaan travel, ada wisatawan dari Belanda yang menyewa jasanya. Kemudian ia bertemu lagi dengan turis Belanda itu pada 2003. “Wisatawan itu yang mengenalkan kotak tisu mendong ke negara-negara di Eropa,” kenang Martini. Kini, Martini patut berbangga. Kotak tisu buatannya sudah mejeng di beberapa hotel dan rumah makan di Eropa.

Hanya saja, kini Martini kesulitan mendapatkan bahan baku mendong dari sekitar Bali. Guna memenuhi kebutuhan, Martini harus berburu mendong hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, kesulitan bahan baku itu membuat Martini pernah menolak pesanan.

Selain Nyoman, salah satu pengusaha yang memanfaatkan un jinaii mendong untuk kotak tisu adalah Liem Hauw. Namun Liem telah memulai bisnis ini sejak 1999. Setali tiga uang dengan Martini, kotak tisu mendong buatan Liem juga sudah berhasil menembus pasar Australia dan Amerika Serikat.

Menurut Liem, ia memilih balian baku kayumendong karena kayu tersebut cukup berlimpah di negara ini. Selain pasokannya yang banyak, bahan kayu mendong jugamemiliki teksturnya yangbagus dan juga fleksibel.

Liem mendatangkan pasokan mendong dari wilayah Pekalongan dan Yogyakarta. “Saya bisa membutuhkan lembaran mendong hingga mencapai 1.000 meter setiap bulannya,” tambah Liem. Ia menjual berbagai produk dari mendong mulaidari Rp 30.000 hingga Rp 125.000. Untuk pasar Eropa, biasanya Liem hanya mengirim produk kualitas terbaik, hingga harganya lebih mahal.

Dalam sebulan Liem mampu menjual hingga 200 kotak tisu, dengan omzet rata-rata berkisar Rp 25 juta setiap bulannya. “Produk kami biasa digunakan hotel mewah di luar negeri,” ujar Liem. Dalam memproduksi kotak tisu mendong ini, Liem melibatkan puluhan perajin. Para perajin ini tersebar di Pekalongan, Yogyakarta, dan Bali.

Liem juga menjelaskan tantangan yang harus dihadapinya adalah pembinaan para perajin. Ia ingin, para perajin ini bisa menghasilkan produk kerajinan tangan dengan ketelitian di setiap kotaknya. “Karena saya membidik pasar ekspor, sehingga saya sangat memperhatikan kualitas. Tingkat kerapian, presisi produk dan selalu memperbaharui desain,” jelas Liem.

Bisnis Tetap Segar dari Produksi Kotak Pendingin

Usaha kuliner yang makin bergairah, mendatangkan berkah bagi produsen kotak pendingin atau cooler box. Maklum, banyak pengusaha kuliner membutuhkan kotak ini, baik untuk menyimpan maupun membawa bahan makanan, supaya tetap segar. Produsen cooler box pun bisa menuai omzet hingga puluhan juta per bulan.

Beragam usaha, mulai dari penjual minuman di pinggir jalan hingga usaha penangkapan ikan di laut lepas, membutuhkan cooler box atau kotak pendi-ngin. Bila penjual minuman ingin minuman botolnya tetap dingin. Sedangkan bagi nelayan, cooler box membantu mereka agar ikan tidak cepat membusuk.

Makin ramainya permintaan cooler bar pun menarik perhatian PT Aneka Unggul Polindo untuk terjun pada usaha ini enam tahun lalu. “Awalnya, kami mulai memproduksi cooler box karena memang ada pesanan,” ujar Linda Simon, Manager Pemasaran PT Aneka Unggul Polindo. Sampai saat ini, mereka hanya membuat cooler box ketika ada pesanan. Perusahaan yang berdiisejak 1986 di Jakarta ini merupakan produsen berbagai produk berbahan fiber glass.

Linda pun menerima pesanan kotak pendingin sesuai permintaan konsumen. “Kami bisa membuat cooler box custom,” jelasnya Konsumen linda kebanyakan adalah perusahaan perikanan.

Aneka Unggul menerima pesanan mulai ukuran terkecil, yakni 300 liter, hingga ukuran terbesar 3 m3. Banderol harga kotak pendigin itu berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 10 juta per unit. “Harga produk kami memang lebih tinggi karena bahan baku lebih berkualitas,” klaim linda

Dalam sebulan, Aneka Unggul bisa mendapat pesanan pembuatan cooler box ini antara 10 hingga 20 kotak pendingin. Dengan hanya menjual cooler boc saja. Aneka Unggul bisa menyumbang omzet ke perusahaan sekitar Rp 50 juta

per bulan.linda bilang, dari bisnis ini, pengusaha bisa mengantoni margin 20% dari omzet. Namun, perolehan keuntungan ini juga bergantung dari harga jiger glass yang sangat fluktuatif. “Hargafiberglass selalu mengikuti perkembangan harga minyak bumi,” jelasnya

Meski persaingan mulai ketat, linda yakin prospek usaha pembuatan cooler box di perusahaanya masih cerah. Apalagi, ia melihat banyak pesaingnya menjual kotak pendingin berbahan plastik..

Manisnya berbisnis kotak pendingin juga dirasakan oleh Leonard Yuwono. Meski hanya menjual, pemilik Toko Aquaria ini mampu menikmati keuntungan maksimal setelah permintaan cooler box meningkat pesat dalam dua tahun terakhir.

Sama seperti linda, Leonard juga menawarkan kotak pendingin padapengusaha perikanan. Tapi, ia juga menjualnya kepada pemilik supermarket

Di Aquaria, tersedia juga cooler box yang terbuat dari bahan plastik (polyuretha-ne). Meski dari plastik, kotak pendingin itu bisa mempertahankan suku udara di dalamnya hingga 48 jam. Leonard menjamin, tak ada pengembunan pada bagian cooler box yand dijualnya

Ia menjual cooler box mulai dari ukuran 100 liter, seharga Rp 940.000, hingga ukuran terbesar 600 liter dengan harga Rp 5,4 juta. “Kami bisa mengumpulkan omzet hingga puluhan juta dari penjualan cooler box saja,” ujarnya Mewarisi usaha ayahnya, selain cooler box, leonard juga menjual produk plastik lain di tokonya

Ia mendapat pasokan produk kotak endingin dari Medan, Sumatra Utara. “Barang kami adalah produk lokal,” ujar Leonard.

Boneka Kartun Populer Jadi Tambang Uang

Untuk menggaet pelanggan, perajin boneka di Dusun Kampung Baru, Cikampek, Karawang, rajin mengikuti film kartun yang lagi populer, seperti Shaun The Sheep. Belakangan permintaan, boneka ini membanjir hingga perajin menolak pesanan.

Supaya penjualan boneka bisa laris manis, perajin boneka di Dusun Kampung Baru, Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, selalu membuat boneka dengan karakter tokoh kartun yang sedang populer.

Di antara karakter tokoh kartun populer itu adalah spongebob, teddy bear atau jm icky mouse. Tapi baru-baru ini perajin juga memproduksi karakter tokoh kartun shaun the Sheep, yang belakangan sedang naik daun. Asal tahu, tokoh Stiaun the Sheep merupakan aktor kartun dari seri animasi produksi CBBC Inggris yang tayang di televisi swasta Indonesia Film kartun Shaun The Sheep bercerita tentang kehidupan sekelompok domba di peternakan.

Karena menarik, penggemar film Shaun Vie Sheep itu turut menggemari boneka. Tidak hanya anak-anak tapi juga kalangan remaja “Dalam sehari saya bisa menjual 150 potong boneka Shaun The Sheep,” kata Wasno, pedagang boneka di sentra tersebut.

Demikian juga dengan Faishal, pedagang sekaligus perajin boneka, juga kebanjiran pesanan boneka Shonn The Slieep. Bahkan, lantaran permintaan terlalu banyak Faishal pernah menolak pesanan pelanggan. “Produksi saya terbatas, dan sayahanya bisa layani 900 buah per pekan,” ungkap Faishal.

Boneka Shaun Vie Sheep bikinan Faishal atau Wasno itu dijual dengan harga beragam. Untuk boneka ukuran kecil dijual mulai Rp 17.000 sampai Rp 19.000 per buah. Untuk boneka yang agak lebih besar dijual mulai Rp 27.000 sampai Rp 50.000 per buah.

Walaupun pesanan membanjir, perajin boneka mengaku tak mau memproduksi terlalu banyak. Sebab tren pasar boneka seringkali bersifat musiman, paling lama hanya selama tiga sampai lima bulan saja “Setelah musimnya habis, pesanan boneka itu akan sepilagi,” terang Wasno.

Wasno memberi contoh, tren pesanan boneka tokoh kartun Upin dan Ipiri yang naik daun tahun lalu. Kenaikan pesanan boneka tokoh kartun dari Negeri Jiran itu hanya lima bulan, “Bahkan sekarang kami sudah tidak memproduksi lagi,” ucap Wasno.

Tapi tidak seluruh boneka ramai sesaat saja Ada boneka tokoh kartun yang tak kenal musim seperti boneka spongebob dan boneka teddy bear. “Boneka ini selalu ada peminatnya,” terang Wasno.

Untuk boneka teddy bear ukuran manusia dewasa dyual mulai Rp 60.000 sampai Rp 80.000 per boneka Selain kedua tokoh kartun populer itu, penjualan boneka satwa juga tidak mengenal musim. Seperti boneka berbentuk singa, jerapah, kura-kura sapi, dan lumba-lumba

Dalam sebulan Wasno menjual ribuan boneka beragam karakter. Selain produksi sendiri, Wasno juga menjual boneka buatan perajin lain. “Setiap pelanggan saya belanja minimal Rp 10 juta, karena kebanyakan mereka adalah pedagang,”. kata Wasno.

Dari berjualan boneka itu, saban bulan Wasno mampu meraih omzet hingga Rp 500 juta Sedangkan omzet Faishal lebih besar lagi. “Rp 800 jutaan sebulan,” ujar Faishal, sumringah.

Peluang Bisnis Bengkel Motor

Peluang yang satu ini sangat sayang apabila tidak anda lirik, karena bisnis bengkel motor adalah usaha yang sedang berkembang dari tahun ketahun. Kita bisa lihat makin banyaknya jumlah pengendara sepeda motor dan berapa banyak kebutuhan akan bengkel untuk merawat motor tersebut.

Untuk memulai bisnis bengkel motor anda tidak harus menguasai cara memperbaiki motor atau menjadi bengkel ahli terlebih dahulu. Yang perlu anda persiapkan adalah modal, lahan usaha, supplyer sparepart dan tenaga mekanik yang handal. Modal yang dibutuhkan meliputi biaya sewa bengkel, pembelian spare part dan gaji karyawan atau mekanik.

Sebaiknya untuk awal usaha anda terjun langsung di operasional bengkel, dimulai dari pembelian sparepart, proses perbaikan, pembayaran, pembukuan dan segala hal yang menyangkut usaha bengkel anda. Hal ini akan memberikan banyak ilmu tentang proses keseluruhan usaha bengkel motor sehingga akan menghasilkan keputusan bisnis yang tepat.

Usahakan pilih tempat bengkel motor di pinggir jalan yang ramai dilalui sepeda motor, selain memudahkan akses juga memudahkan proses promosi. Untuk supplyer spare part, anda harus mencari informasi agen di kota anda yang menawarkan produk bagus dengan harga relatif murah.

Kendala yang sering ditemui dalam bisnis bengkel motor yaitu tidak adanya mekanik yang handal, hal ini mengakibatkan kepuasan konsumen tidak tercapai. Jalan keluarnya anda bisa memberikan pelatihan tambahan ke mekanik dari lembaga pelatihan setempat. Dengan kesungguhan dan doa usaha bengkel motor anda akan berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan yang berlipat.

Usaha Jualan Martabak Telur

jajanan yang satu ini kayaknya sangat publis di kalangan masyarakat ke atas maupun masyarakat ke bawah… se terkenalnya jajanan ini banyak orang yang ingin memulai usaha dengan berjualan Martabak telur… Anda juga bisa melakukan nya…
Selama ini usaha Martabak telur telah mendominasi pertumbuhan usaha makanan yang kian pesat. Peluang usaha di sektor makanan memang tidak pernah sepi dan sangat beragam. Tidak hanya sektor makanan martabak telur, martabak anispun memiliki prospek cerah sebagai usaha waralaba.

pemanfaatan peluang usaha

Segmen pasar dari Martabak telur ini adalah pasar pelajar dan pekerja kantoran,orang – orang yang sedang bepergian yaitu Segmen pasar yang punya aktiftas dari pagi hingga sore hari ini.

Peluang usaha martabak telur tidak pernah ada matinya.usaha yang satu ini tidak membutuhkan modal yang banyak bisa dikata usaha dengan modal kecil tapi untung besar.sangat cocok untuk usaha sampingan.

Sukses tidaknya usaha martabak telur tergantung lokasi yang Anda pilih.dalam menjalankan usaha martabak telur pada umumnya buka mulai jam18.00 wib sampai habis, soal lokasi ada pada tempat – tempat keramaian, jalan yang ramai dilalui banyak orang terutama jalan – jalan protokol perkotaan, kebanyakan orang sehabis berbelaja akan mampir untuk membeli oleh – oleh martabak telur.

Untuk informasi usaha Bagi Anda yang berada pada lokasi di sekitar perkantoran atau kampus bisa membuka usaha martabak telur pada jam – jam aktifitas mereka.
Guna untuk memperoleh pelangan tetap Anda harus memperhatikan mutu dan kezatan martabak telur yang Anda kelola, terutama pemakaian minyak goreng, jangan sampai menimbulkan rasa rik yang mengakibatkan batuk sehabis makan martabak telur.
Soal harga biasanya ada 3 macam, martabak telur biasa dengan harga Rp 6.000,00 sepesial Rp 15.000,00 dan martabak telur spesial + daging Rp 20.000,00.harga pada umumnya.agar supaya peluang usaha martabak telur Anda bisa bersaing dan menarik pelangan Anda bisa menjual di bawah harga tersebut.Anda masih memiliki untung.

Bahan Kulit Martabak :

100 gram tepung terigu
air matang secukupnya
2 sdm telur kocok lepas (diambil dari telur untuk adonan isi)
1 sdm minyak/margarine cair
garam secukupnya
Bahan Isi Martabak :
300 g daging giling
1 batang daun bawang iris, dicampurkan saat menumis daging giling
4 batang daun bawang iris
6 sdm bawang bombay iris
4 bawang putih, haluskan
1 sdt curry powder
6 butir telur
merica dan garam secukupnya.

Saus Martabak :
2 sdm kecap asin
1 sdt air asam jawa
garam & gula pasir secukupnya (sesuai selera)
1 sdm saus tomat
1 sdm sambal botol (bisa diganti irisan cabai rawit hijau)
irisan ketimun
2 sdm air matang
horizontal

Cara Membuat Kulit Martabak :

Campur tepung terigu dengan minyak/margarine cair, telur dan garam, tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga adonan kalis.
Bagi adonan menjadi 2 bagian, bulatkan dan rendam dengan minyak goreng.
Diamkan selama 1-2 jam. Untuk 1 jam pertama adonan harus terendam semua dalam minyak goreng, untuk 1 jam berikutnya angkat adonan yang masih terlumuri dengan minyak tempatkan dalam wadah/mangkok, dan tutup dengan kain/serbet.

martabak telur

Cara Membuat Isi Martabak :

Tumis bawang bombay, bawang putih, hingga harum, masukkan daging giling, curry powder,merica, irisan dari 1 batang daun bawang dan garam.
Aduk-aduk hingga daging matang dan air yang keluar dari daging giling menyusut. Angkat. Sisihkan, bagi menjadi 2 bagian.
Kocok 4 butir telur (sebelumnya sudah diambil 2 sdm untuk campuran bikin adonan kulit), buat orak-arik setengah matang. Sisihkan., bagi menjadi 2 bagian.
Cara Membuat Saus Martabak :
Campur semua bahan kuah menjadi satu.

Penyelesaian :

Ambil 1 bagian adonan kulit, pipihkan dengan telapak tangan bawah jempol arah melingkar sehingga agak melebar. Pegang kedua ujung adonan, putar dari sisi kiri kekanan kembali ditempat semula berulang-ulang sehingga adonan menjadi tipis (bisa juga dengan digilas-gilas).

Ambil mangkok, isi dengan 1 buah telur kocok, daging giling,orak-arik telur, irisan 2 batang daun bawang,garam, merica. Aduk-aduk. Untuk adonan kulit yang kedua, kerjakan cara yang sama dengan adonan kulit yg pertama, begitu juga untuk isinya.
Panaskan minyak di wajan ceper yang agak besar, masukkan adonan kulit yang sudah ditipiskan. Isi bagian tengahnya dengan adonan dalam mangkok tadi, lipat bagian pinggir kulit kearah tengah, hingga tertutup rapat, goreng sampai matang. Angkat. Sajikan selagi panas/hangat dengan kuahnya.

Resep untuk : 2 buah martabak Telur Spesial (6 iris/buah)
Keuntung usaha martabak terlur
Dalam memulai usaha modal awal tidak besar.
Semua orang sudah mengenal makanan yang satu ini.bahkan menjadi makanan paforit.
Sewa tempat murah bahkan mungkin tidak menyewa.
Keuntungan bisa 100% dari modal
Kelemahan usaha martabak telur
Banyak persaingan
Makanan siap saji resiko bila tidak samapai laku.
Bila mengunakan tenaga kerja, upah yang diberikan tidak banyak.

Modal awal
Gerobak Rp 2.000.000,.
Peralatan masak (Loyang, kompor gas dll.) Rp 1.800.000,.
Mixer, Baskom, sendok dll Rp 500.000,.
Bahan baku awal Rp 500.000,.
Perlengkapan berdagang Rp 200.000,.+

Jumlah Rp 5.000.000,.
Biaya operasional / bulan
Pembelian bahan baku
(Rp 155.000,00 x 30 hari) Rp 4.650.000,00
Gas elpiji 3kg (Rp 13.500,. x 10 ) Rp 135.000,00
Gaji karyawan 1 orang Rp 400.000,00
Lain-lain Rp 100.000,00

Jumlah Rp 5.285.000,00
Pemasukan
Omset / bulan
(25porsi/hari x Rp 12.000,00) x 30 hari Rp 9.000.000,00
Laba bersih / bulan
(Rp 9.000.000,00 – Rp 5.285.000,00 ) Rp 3.715.000,00
BEP
(Rp 5.000.000,. : 3.715.000,.) = < 2 bulan