Mikro organisme lokal (MOL ) Rebung Bambu

by ICHSAN KURNIAWAN
Pembuatan MOL ditujukantak lain dan tak bukan sebagai komposer yang membantu pelapukan bahan organik,sebagai sumber energi serta zat pengatur tumbuh pada tanaman. Setelah mengenalpembuatan MOL I-V serta MOL Sabut kelapa, sekarang mari kita lihat bagaimanapula teknik pembuatan MOL dengan bahan dasar rebung bambu.
Alat dan Bahan yang kita butuhkan adalah :
        Ember atau kaleng bekas cat ukuran 25 liter
        2 buah Rebung bambu kurang lebih 3 kg
       – Air beras 5 liter
        Slang plastic dan botol aqua
       – Gula merah 1.5 ons
Cara membuatnyasebagai berikut :
-Rebung bambu ditumbuk halus atau di iris –iris masukan pada ember atau kaleng bekas cat
-Tambahkan gula merah yang telah dihaluskandan aduk sampai rata
-Tutup rapat ember adan berikan slangplastic yang disambungkan dengan air yang berada pada botol aqua dan biarkanselama 15 hari
 
Cara penggunaanya :
Sebagai katalisator dalam pengomposan  : dapat digunakan sebagai decomposer dengan konsentrasi  1 : 5 ( 1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 literair ), kemudian tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, disiramkanpada  saat proses pembutan kompos.
-Penggunaan pada tanaman : Penyemprotandilakukan pagi/sore hari  dengankosentrasi  400 cc cairan dicampur dengan  14 liter air, pada umur  10, 20, 30, 40, hari setelah tanaman .

Petunjuk Pembuatan Kompos Trichoderma

Organisme Penganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu ancaman utama dalam sistem usaha tani dapat merusak kualitas maupun kuantitas produk usaha tani. Untuk mengatasi OPT tersebut umumnya petani menggunakan cara kimiawi yaitu dengan pestisida.
Foto : Perbanyakan Trichoderma by Ichsan

Disamping itu dalam usaha peningkatan produksi, petani pada umumnya menggunakan pupuk buatan, seperti Urea, SP 36, ZA, NPK, KCl dan lain-lain dimana pupuk buatan pabrik tersebut harganya semakin mahal dan kadang-kadang sulit didapat (langka).
Pestisida dan pupuk pabrik adalah merupakan bahan kimia yang apabila digunakan terus menerus untuk usaha budidaya tanaman akan terjadi dampak yang tidak kita ingini seperti :
Pencemaran lingkungan
Hama dan penyakit tanaman
Tanah menjadi keras
Tanaman mengandung residu pestisida dan residu kimia dari pupuk pabrik
Untuk mengantisipasi keadaan tersebut di atas, maka salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan penggunaan Agent Hayati, untuk pengendalian hama dan penyakit dan penggunaan kompos jerami dengan menggunakan agent hayati Trichoderma.
Manfaat Kompos Jerami dengan Trichoderma
1.
Kompos jerami
Sebagai pupuk alami yang dapat menyuburkan tanaman padi.
2.
Trichoderma
Sebagai media untuk mempercepat proses pelapukan jerami dan pupuk kandang.
Sebagai media/bahan untuk pengendali penyakit tular tanah.
Cara Pembuatan
A.
Bahan-bahan yang diperlukan :
Jerami, pupuk kandang, kapur pertanian, pupuk urea, SP 36, air, cendawan trichoderma dan plastik.
B.
Dosis/ jumlah bahan yang diperlukan setiap 1 meter bujur sangkar (1m3) adalah :
1.
2.
3.
4.
Jerami = 1 m3
Pupuk kandnag = 20 Kg
Pupuk urea = 0,3 Kg
Pupuk SP36 = 0,15 Kg
5.
6.
7.
8.
Trichoderma = 1 Kg (1 bungkus)
Kapur pertanian = 0,5 Kg
Air secukupnya
Plastik hitam = 1,5 m2
Untuk luas 1 ha diperlukan bahan-bahan sebagai berikut :
1.
2.
3..
4.
5.
6.
7.
8.
Jerami = 50-60 m3
Pupuk kandang = 1,2-1,5 ton
Pupuk urea = 18 Kg
Pupuk SP 36 = 9 Kg
Kapur pertanian = 30 Kg
Trichoderma = 50-60 Kg
Air + 60 ember (secukupnya)
Plastik hitam + 65 meter
C.
Langakah kerja dalam pembuatan kompos jerami dengan cendawan trichoderma untuk luas 1 m3 sebagai berikut :
  1. jerami 1 m3 diambil/dijadikan 4 bagian
  2. pupuk kandnag 20 Kg + urea = 0,3 Kg + SP 36 = 0,15 Kg + Kapur = 0,5 Kg diaduk sampai rata dan dibuat 4 bagian
  3. 1 (satu) bagian jerami disusun setinggi 25 cm/sampai rata, kemudian ditaburkan 1 bagian pupuk kandang sampai rata dan ditaburkan 0,25 Kg trichoderma (1/4 bungkus) sampai rata dan disiram dengan air secukupnya sampai rata, di atasnya disusun lagi jerami setinggi 25 cm, ditaburkan lagi 1 bagian pupuk kandang.
Sampai rata dan ditaburkan lagi 0,25 Kg Trichoderma sampai rata dan disiram lagi dengan air secukupnya.
Kemudian disusun lagi dengan perlakuan yang sama sehingga mencapai tinggi jerami.
100 cm dan akhirnya ditutup kembali dengan plastik hitam.
Setiap 2 hari sekali disiram dengan air secukupnya, dan setiap 10 hari jerami harus dibalik agar proses pelapukan merata.
Setelah kompos berumur 21-30 hari sudah dapat untuk pemukukan padi sawah (sebagai pupuk dasar). Penggunaan pupuk kompos dilaksankan pada pengolahan tanah terakhir dan dapat juga digunakan untuk pemukukan ulangan (susulan).
Pembuatan kompos jerami sebaliknya ditempatkan pada tempat yang teduh agar plastik hitam yang dipakai tidak cepat rusak. Plastik hitam yang sudah dipakai, dapat dipakai lagi selama 3 kali pembuatan kompos.

Teknik Pembuatan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) Alami

A.
Alat dan Bahan :
Irisan Rebung 1 kg
Gula Tebu (Saka) 1 kg
Ruap Tebu/ Air Kelapa 5 liter (1 sember)
Irisan Anakan Pisang 1 kg
Baskom
Alat Pengaduk
B.
Pelaksanaan Kegiatan :
1.
Dengan memotong dan menghaluskan rebung/ anakan pisang atau kedua bahan tersebut.
2.
Gula tebu/ ruap tebu/ atau dan air kelapa dimasukkan ke dalam ember/ baskom.ke dalam irisan dan dimasukkan ke dalam baskom.
3.
Hasil irisan rebung atau anakan pisang dimasukkan ke dalam 5 liter (1 ember) air kelapa atau gula tebu.
4.
Perbandingan yang dimasukkan yakni 1 : 1 antara bahan satu dengan bahan kedua.
5.
Ramuan zat perangsang tumbuh diaduk kemudian ditutup dan di biarkan selama 1 minggu.
5.
Pengaplikasian ramuan ini bisa dilakukan dengan menyiramkan ramuan yang telah dicampurkan dengan air dengan perbandingan 1 : 5 dengan air.

Teknik Pembuatan Pakan Organik

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN
Seperti yang telah dibahas pada artikel yang laludengan judul “Korelasi Pertanian Organik dengan Gerakan Pensejahteraan Petani(GPP)” bahwa pelaksanaan pertanian organic sendiri sejalan dengan gerakan pensejahteraanpetani. Secara garis besar harapandari GPP sendiri yakni mengintegrasikan kegiatan usaha tani dengan peternakan,perikanan atau lainnya hingga pensejahteraan petani dapat tercapai melaluimaksimalisasi jam kerja dari bidang yang telah terintegrasi.
Khusus untuk pengentegrasian pertanian denganpeternakan, kegiatan pertanian organik yang notabene melibatkan pemanfaatan sumber daya lokal yang salah satunya berupa kotoran ternak termasuk urinnya sebenarnya secara langusng dapat memberikantambahan pendapatan pada petani..
Kotoran ternak sendiri secara terpisah juga dapatmendatangkan “kocek lebih” selain penggunaannya secara langsung sebagai saranaproduksi dalam kegiatan usaha tani organik tersebut. Lihat saja akhir-akhir inibanyak bermunculan produk saprodi berupa pupuk organik pabrikan atau komposyang hanya dipack secara sederhana dalam plastik.
Terlepas dari bahasan di atas selain pembuatanpupuk yang menjadi keuntungan dalam pertanian organik dan juga merupakan bentukdari keintegrasian pertanian dengan bidang peternakan, yakni pengolahan pakansecara organik.
Terkait dengan makinterbatasnya jumlah lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pakan segarberupa rumput – rumputan maka dibutuhkan teknologi pembuatan pakan ternak yangbisa mengatasi masalah ketersediaan lahan namun tetap bisa menjamin integritaspertanian organik tanpa melakukan pemberian bahan pakan berupa konsentrattambahan yang berbahan dasar kimia sintetis atau bahan lain yang dapat memicupertumbuhan ternak secara tidak wajar dalam waktu yang singkat.
Pemberian pakan yang rutinmasalah lain yang juga harus diperhatikan adalah adanya efisiensi waktusehingga upaya penyediaan pakan tidak menyita waktu bagi petani organik,sehingga petani juga bisa memanfaatkan waktu mereka untuk aktifitas lain gunamenambah penghasilan.
Dalam melaksanakan budidaya peternakan khususnya ternak kambing, petani banyak menuaimasalah terutama dalam penyediaanpakan. Pemahaman dan konsep dalam penyediaan pakan kerap diartikan denganpenyediaan rumputan segar yang identik dengan penyediaan lahan untuk penanamanrumput. Padahal dalam kondisi dewasaini hal tersebutmerupakan konsep dengan pemikiran yang“sempit”. Kenapa. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologipenyiapan pakan ternak dengan memanfaatkan jasa mikroba dalam proses fermentasi pakan yang juga tahan lama dalam penyimpanan.
Secara umum dalam penyediaan pakan ternak kambing,beberapa hal yang patut menjadi perhatian khusus yakni :
1.      Pemberian rerumputan yang masih berada dalam keadaan basah kepadaternak kambing dihindari. Hal ini karena air yang melekat pada rumput basah ini berpotensi menimbulkankembung dan mengurangi nafsu makan ternak kambing.
2.      Pemberian rerumputan yang memiliki kandungan getah jugadihindarkan karena justrudapat memicu penyakit lambungpada ternak kambing sehingga sebaiknya rumput yang mengandung getah inidilayukan terlebih dahulu untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan getahtersebut.
Pakan ternak organik merupakan salah satu solusi pintar dalammengatasi permasalahan yang menjadi bahasan di atas. Pakan ini mempunyai kandungan gizi sangat baik serta nutrisi yang lengkap sehingga sangat baik untuk pertumbuhan kambing.
Teknik pembuatan pakan ternak organic adalahdengan langkah sebagai berikut:
Bahan dasar :
         dedakhalus
         ampastapioka
         ampastahu
         jagunggiling
         tepungkedelai
         rumput
         nutrisi
         mineral
Nutrisi yang dibutuhkan :
a.      Nutrisiikan/keong
b.     Nutrisiusus
c.      Mikroba2
d.     Nutrisinenas
e.     Nutrisijantung pisang
f.       Nutrisitomat
g.      Kuningtelur
h.     Nutrisicangkang telur
i.        Asamlaktat
Teknik pembuatan nutrisi :
a.      Masing-masingbagian nutrisi diambil 1 sendok teh
b.     Dicampurkandengan air bersih sebanyak 3 liter atau 5 botol aqua menengah dikembalikan lagike botol
c.      Difermentasiselama 4 – 7 hari baru bisa dipakai
Teknik pencampuran :
a.      Tahap1 :
·        Dedakhalus  :1 kg
·        Ampastahu, tepung jagung, tepung kedelai :7,5 kg
·        Nutrisi  :5 tutup botol
·        Air :5 liter
·        Dicampurdi fermentasi kedap udara :± 4 hari
b.     Tahap2 :
·     Rumputdipotong-potong ± 1 cm
·    Apabila rumput yang akan digunakan masih dalam kondisi basah mesti ditunggu sampai dalam kondisi kering
c.      Tahap3 :
·    Dedakyang telah difermentasi seperti tahap 1 (satu) dicampur dengan rumput denganperbandingan 1: 5
·     Setelahdicampur kemudian formula ini difermentasi dan ditempatkan pada plastik/ember, dll dengan kondisikedap udara. Artinya tidak bocor atau bercampur dengan udara dari luar minimal4 – 7 hari.
Pemberian pakan :
a.   Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan waktu pemberian pada pagihari dan sore hari.
b. Volume pemberian pakan pada pagi hari jumlahnya lebih sedikitdari jumlah pakan yang diberikan pada sore hari
c.  Untukkambing dengan bobot atau berat antara 15 – 20 kg cukup diberikan pakansebanyak 1,5 kg untuk 1 kali makan
Untuk kambing dengan bobot atau berat lebih dari20 kg maka pakan yang diberikan sebanyak 2 kg atau lebih

Bertani Kreatif dengan Agen Cerdas dan Kuat II : Beauveria bassiana

oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Beauveria bassiana adalahgolongan jamur entomopatogen yang menyerang hama jenis serangga. Beberapa hamayang diserang antara lain seperti wereng, kepinding tanah, kepik dan beragamjenis ulat. Jenis jamur ini berkembang dan menyebar dengan konidia yangberbentuk bulat seperti bola berdiameter kecil dari 3.5 µm. Beauveria bassiana. Cendawan ini biasa dikenal sebagaicendawan patogen serangga yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit padaserangga dengan cara membuat sakit serangga hamabaru yang kemudian membunuh hamatersebut.
Secara teknis infeksi dimulai dengan perkecambahankonidia dan mempenetrasi kulit serangga. Beauveriamenghasilkan berbagai enzim yang dapat menguraikan kulit serangga. Infeksi jugadapat terjadi pada jaringan saluran pencernaan, jika konidia termakan olehserangga. Serangga yang rentan terhadap serangan jenis cendawan iniadalah pada saat ganti kulit. Infeksi jamur ini pada saat ganti kulit,menyebabkan serangga tidak dapat tumbuh dengan sempurna dan kemudian mati. Setelahmenginfeksi jamur ini berkembang dan tumbuh, sehingga pada kulit seranggaterlihat konidia yang berwarna putih. Pada tahap awal tubuh buah jamur terlihatpada rongga antara kutikula, kemudian berkembang dan menutupi tubuh serangga.
Beauveria, Sumber Wikipedia

Cara Perbanyakan Beauveria basiana 
Cendawan jenis Beauveria ini dapatdiperbanyak dengan menggunakan media cair. Untuk sumber nutrisi media perbanyakandapat digunakan kentang, sedangkan bahan lain yang dipelukan adalah, gula pasir,antibiotik, air bersih dan starter (bibit)  cendawan ini.   
Sebagai sumbernutrisi, kentang diperlukan sebanyak 1 kg dicuci dan diiris tipis, selanjutnya  masak dengan air 5 liter air bersih sampaimendidih selama 15 menit. Kemudian larutan tersebut disaring untuk diambil dandalam keadaaan panas tersebut masukkan gula pasir  sebanyak 50 gram. Setelah larutandingin baru dimasukan antibiotik sebanyak 1 tablet dan 5 gram biang Beauveria. Pasang aerator kedalamlarutan dan biarkan selama 4 – 7 hari. Beauveriasiap untukdigunakan dan didistribusikan.

Cara Sederhana lain perbanyakannya
    Rebus air sampai mendidih , masukkanberas selama 4 – 5 menit. Setelah itu langsung dikukus selama 15 menit. Lalupindahkan kedalam baskom/baki, setelah dingin masukkan kedalam kantong plastiksebanyak seperempat volume kantong.
    Kemudian, ambil bibit Beauveriadengan sendok sebanyak 4 – 5 butir dan masukkan ke dalam kantong plastik tadi,lalu digoyang-goyang hingga rata, lipatkan ujung kantong seterusnya diklepdengan posisi vertikal .
    Tempatkan pada rak-rak yang tidakkena sinar matahari langsung. Setelah 1 minggu Beauveria  tumbuh secara merata pada media.Berwarnaputih, dan selanjutnya Beauveria siap dipakai.
Perbanyakan Sederhana, Sumber Koleksi Pribadi
Pengaplikasian Cendawan Beauveria
Pengaplikasian cendawan entomopatogen ini dilakukandengan penyemprotan. Dosis yang digunakan adalah  10 ml/ 1 liter air. Aplikasi sebaiknya padasaat populasi hama masih rendah dan mengingat perkembangan cendawanentomopatogen tersebut lebih baik pada saat suhu tinggi dan kelembaban tinggi,maka waktu aplikasi sebaiknya dilakukan sore hari.
Seranggayang telah terinfeksi Beauveria bassianaselanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkanspora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yangterkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi.

Bertani Kreatif dengan Agen Cerdas dan Kuat I : Trichoderma

by ICHSAN KURNIAWAN
Trichoderma. Inilah salah satu agens cerdas yang membantu kita dalam bertani. Sebagai agens hayati “multifungsi”,karena selain berperan untuk pengendalian penyakit tanaman juga berandil penting dalam mempercepat pelapukan pada proses pembuatan kompos. Trichoderma sendiri adalahdari “kalangan” jamur tanah bersifat saprofit. Jenis ini kitaditemukan pada hampir semua jenis tanah dan tersebar luas di mana saja di muka bumi ini. 
Ada dua jenis Trichoderma yang familiar dalampengendalian penyakit pada tanaman serta pembuatan kompos yaitu Trichoderma harzianum dan Trichodermakoningii.  Trichoderma potensialdigunakan untuk pengendalian penyakit tanaman terutama yang disebabkan olehpatogen tular  tanah (soil berne disease).  Trichoderma merupakan cendawan antagonis terhadapbeberapa cendawan patogen, terutama terhadap cendawan tanah. Mekanismeantagonis adalah akibat persaingan makanan dan tempat tumbuh, pengrusakandinding sel patogen  dan antibiosis. Trichoderma sendiri mempunyai kemampuan berkembang sangatcepat, sehingga menguasai areal tumbuh yakni tanah dimana lokasinya berada. Oleh karena itu cendawan lain tidak dapattumbuh dan berkembang dengan baik (dalam istilah saya pribadi saya sebut “cendawan bagak” (bahasa Minang, atau “Cendawan pemberani” (dalam bahasa Indonesia). Hal ini disebabkan peran dari hifa Trichodermaini dapat menembus dinding sel dengan bantuan enzim kitinase, sehingga dapat membunuh cendawan patogen atau mengacaukan aktifitas patogen. Selain itu antibiotik ”trichoderin yang dikeluarkannya dapat membunuh cendawan patogen.
Peran Trichoderma dalam aplikasinya
Beberapa peran cendawan ini dalam aplikasinya antara lain :
Seed treatment (Perlakuan benih)
Dalam perlakuan benih/bibit dapatdilakukan dengan perendaman benih dalam larutan/suspensi Trichoderma yang sedarhananya dapat dilakukan dengan  memasukkan 2 sendok makan biakan massal Trichoderma dalam wadah berisi 200 mlair, kemudian masukkan benih dan biarkan selama 15 menit.
-Bahan campur organik
Trichoderma (media beras atau dedak)dapat dijadikan campuran bahan organik pupuk kandang, kemudian dijadikan sebagai pupuk tanaman.Untuk pengendalian penyakit layu, seperti oleh cendawan Fusarium sp. pada tanaman pisangdapat digunakan 250 gram biakan Trichodermayang dicampur dengan 0,5 karung (±  25kg) pupuk kandang, kemudian dimasukkan dalam lobang tanam. Pengendalianberbagai penyakit pada tanaman sayuran terutama yang disebabkan oleh patogentular tanah juga dapat dilakukan dengan pencampuran Trichoderma untuk tiap karung pupuk kandang yang selanjutnyadigunakan sebagai pupuk dasar tanaman. Teknis praktisnya dapatdilakukan dengan memasukkan biakan Trichoderma sebanyak 3 sendok makan kedalam wadahberisi 200 ml air bersih (1 gelas air mineral). Setelah diaduk dapat digunakanuntuk perlakuan benih dengan merendam biji sayuran dalam suspensi tersebut.
-Bahan pembuatan kompos
Dalam pembuatan kompos1 kg biakan massal Trichodermadicampur dengan 1 karung pupuk kandang. Campuran ini ditebar tipis dan meratapada sisa tanaman yang akan dijadikan kompos. Jika pembuatan kompos dibuatdengan cara menumpuk sisa tanaman (seperti jerami) dengan volume ± 1 m3, maka tumpukan dibagi atas 4 lapisan.  
Trichoderma yangdigunakan adalah 1 kg dicampur dengan 1 karung pupuk kandang. Campuran inidibagi 4 dan tiap bagian ditebar pada tiap lapisan dan disiram. Jika komposdibuat dengan cara langsung pada jerami yang ditebar aplikasi campuran Trichoderma pupuk kandang dapat ditebarlangsung pada sisa tanaman yang akan dijadikan kompos. 
InsyaAllah dalam sesi berikutnya kita akan bahas teknis pengkoleksian dan perbanyakan biang dari trichoderma ini. Semoga postingan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terutama petani kreatif seluruh Indonesia.

Simbiosis Mutualisme Petani dan Mikroba

by : ICHSAN KURNIAWAN  
Pola pertaniankonvensional yang serba instan memang mulai terasa kian menimbulkan ragammasalah. Pencemaran lingkungan sekitar area pertanaman sebagai akibat daripemakaian pestisida dan pupuk sintetik pun mulai tampak. Belum lagi kondisitanah pertanian dimana sistem ini diterapkan. Sejak beberapa tahun silampemakaiannya, efek perubahan tingkat kesuburan tanah pertanian semakin harikian terlihat. Tanah menjadi semakin keras.
Hal lain yang mulaikita sadari yakni akumulasi racun yang hampir setiap hari singgah di meja makanrumah kita. Berbagai penelitian mengungkapkan residu bahan kimia berbahaya daripemakaian pestisida sintetis terakumulasi di dalam tubuh manusia. Endapan yangsedikit demi sedikit terus bertambah tersebut akan mencapai ambang batas dimanamelahirkan masalah serius pada kesehatan. Residu tersebut bersifat toksik danmenimbulkan jenis-jenis penyakit yang mampu membunuh semisal kanker. 
Tiga tahun belakanganpertanian organik bisa dibilang menjadi sebuah trend. Produk dari polapertanian ramah lingkungan ini semakin mendapat tempat. Harga hasilpertaniannya pun bisa menjadi dua sampai tiga kali lipat dibanding produk usahatani konvensional.
Serta merta programpemerintah pun mulai diarahkan ke sana. Dinas atau instansi mencanangkan visidan misi yang merancangkan program atau kegiatan berkaitan dengan pengembanganpertanian organik yang dituding sangat membela petani. Namun terlepas dari haltersebut, pertanian organik memang mengandung banyak nilai positif dan baik.
Bagaimana tidak,petani diajarkan untuk sadar dan konsisten menjaga moral dalam bertani.Pemanfaatan potensi serta sumber daya alam pun sekaligus menjadi solusi dalammengatasi berbagai masalah sarana produksi (saprodi) sebagai misal kelangkaanpupuk, harga pupuk maupun pestisida yang kian tak terjangkau.
Selain itu pertanianorganik dipapah menuju kemandirian petani dalam bersuaha tani. Menuntut jiwa fairdalam beragribisnis serta merancang pola pikir sumber daya manusia (SDM) yangkreatif, berilmu-pengetahuan dan teknologi dengan kemandiriannya tersebut.
Tentu saja. Bukankahpertanian organik menuntut petani dalam memadukan kegiatan pertanian denganelemen lain seperti peternakan. Selanjutnya mau tak mau, petani dengan dibekalikemampuan dasar yang diberikan melalui penyuluhan, akan memahami kaidahpertanian organik. Prinsip-prinsip dasar tersebut berilmu-pengetahuan danmerangsang pola pikir masyarakat tani. Tak menutup kemungkinan juga berawaldari hal tersebut, akan melahirkan petani-petani peneliti. Dengan mengetahuiilmu dasar seperti prinsip mikroba, kandungan unsur hara, kebutuhan tanah danlainnya, maka lambat laun- selama petani mau bertahan untuk konsisten dipertanian organik, pengetahuan tersebut akan berkembang terus dan terus.
Secara garis besarharapan pertanian organik adalah kelestarian lingkungan yang bersahaja. Hal iniakan tergambar dari terjalinnya hubungan baik (simbiosis mutualisme = salingmenguntungkan) antara petani dengan lingkungan termasuk mikroorganisme.

TEKNIS PENGKOLEKSIAN

Berikut adalahbeberapa tahapan pemanfaatan jasa mikroba dalam usaha tani. Pengkoleksianmikroba yang dikenal dengan MOL dilakukan dalam membantu penyuburan tanah yangberarti juga kita mengkondisikan mikroba pada habitat yang benar tanpamembunuhnya dengan pemakaian sarana produksi berbahan kimia berbahaya.Pengkoleksian ini dengan tujuan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan usaha taniberbagai komoditi.
Mikroba I
         Beras dimasakdengan kondisi akhir menjadi nasi yang agak keras atau belum menjadi nasi 1 kilogram
         Sesudah langkah pertama kemudian nasi didinginkan
         Masukkanke dalamwadah dapat berupa ruas bambu yangdi belah dan kemudian diikatpada kedua sisinya
         Simpandi bawah pohon bambu selam ± 3 – 4 hari
         Pindahkannasi dari ruas bambu ke pot tanah atau stoples
Mikroba II
         Kedalam pot tanah atau stoples yang telah diisi dengan mikroba I dengan perbandingan 1 : 1 ( 1kg mikroba : 1 kg gulamerah (saka))
         Tutuppot tanah atau stoples dengan kertas yang berpori dan di ikat dengan karet.
         Lakukan fermentasi di tempat yang terlindung dari cahayamatahari langsung  ± 5 – 7 hari
         Sudahbisa dipakai untuk kompos dan campuran pakan ternak
MikrobaIII
         Encerkanmikroba II dengan air 1000 x ( 1 cc mikroba 2 dua ditambahkan 1ltr air).
         Basahidedak halus dengan mikroba 2 (dua) yang telah di encerkan dengan air dengankebasahan 65 – 70 % dengan indikasi apabila di kepal akan bulat dan dijatuhkanakan pecah.
         Fermentasidi atas lantai tanah dengan ketebalan ±10 – 15 cm.
         Tutupdengan jerami atau daun-daunan, kemudian diatasnya tutup dengan plastik untukmenghindarkan dari air hujan selama ± 7 hari, di aduk 2 – 3 kali selama prosesfermentasi.
         Sudahbisa di pakai untuk pengomposan.

MikrobaIV

         Tambahkantanah lahan dan tanah gunung atau tanah rumpun bambu ke dalam mikroba III dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (satu bagian mikroba III ditambah tanah gunung satu bagian dan ditambah tanahdari lahan satu bagian kemudian diaduk rata)
         Ditebardan didatarkan di atas tanah dengan ketebalan 15 – 20 cm.
         Tututpdengan jerami, kemudian tutup dengan plastik agar terhindar dari air hujan.
         Biarkan,fermentasi selama ±7 hari.
         Barubisa diaplikasikan ke lahan, sebaiknya ditambahkan abu dapur 1/3 bagian dengandosis 1,5 ons/m2.

MikrobaV

         Tambahkanpupuk kandang yang telah kering ke dalam mikroba 4 (empat) dengan perbandingan1 : 1 (satu bagian mikroba IV ditambahkan satu bagian pupuk kandang)
         Kemudiandi aduk rata dan di gelar di atas tanah ketebalan 15 – 20 cm.
         Tutupdengan jerami atau daun-daunan, kemudian ditutup dengan plastik, untukmenghindari dari air hujan.
         Fermentasiselama ±7 hari.
         Mikroba5 (lima) siap untuk dipakai di lahan dengan dosis 1,5 ons/m2.

Urine sebagai Sumber Hara pada Produksi Bawang Merah

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Bawang merah adalah jenis sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan dan sebagai obat-obatan untuk penyakit tertentu sehingga bawang merah dikenal sebagai tanaman rempah dan obat. Tanaman ini termasuk komoditas unggulan dalam Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Tanaman Perkebunan dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam, komoditi ini juga termasuk menjadi item andalan yang dikembangkan, karena selalu dibutuhkan pasar. Dan tentunya nilai ekonomis komoditi ini membuatnya menjadi salah satu budidaya hortikultura yang “menjanjikan” setelah cabe. Dan juga tak jarang pada sebagian petani, penanaman komoditi ini bergandengan dengan cabe, akan memberikan keuntungan berlipat. Hal ini juga tentunya dengan menyesuaikan dengan pola tanam yang tepat sehingga dapat menempati posisi harga yang baik saat panen karena harga pasar sayuran sangat sangat fluktuatif.
Krisis ekonomi yang berdampak hingga saat ini telah menyisakan masalah pada sektor pertanian karena ketergantungan petani kepada pupuk dan pestisida berbahan kimia yang harganya semakin mahal. Sementara di satu sisi, budaya bertani kita yang terbiasa dengan pola instant merupakan masalah tersendiri dalam menerapkan sistem pertanian berkelanjutan termasuk komoditi sayuran ini. Kebiasaan petani menggunakan pupuk dan pestisida yang tidak menurut rekomendasi, justru menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman, lingkungan dan rusaknya habitat pertanian itu sendiri. Akibatnya seiring waktu keproduktifan lahan juga semakin berkurang.
Penelitian tentang Limbah Ternak
Di kabupaten Agam sendiri, pengembangan kawasan organik yang melibatkan pemakaian bahan yang salah satunya limbah ternak sebagai solusi permasalahan kompleks pertanian dewasa ini juga dilakukan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Agam di tahun 2011 merencanakan 13 kelompok tani di kecamatan sebagai pengembang. Dengan melibatkan penyuluh dari BP4K2P Kabupaten Agam sebagai pentransfer teknologi, kegiatan ini diharapkan bisa berkembang dan pemahaman mengenai teknologi efektif dan efisien bisa diterapkan sebagai.
Berbagai penelitian sebagai bahan rujukan teknologi mengenai hal ini sebenarnya telah lama dilakukan, baik pada skala besar (balai penelitian) maupun sederhana  (lapang) dilakukan sebagai alternatif terutama untuk komoditi-komoditi strategis termasuk bawang merah ini. Pemanfaatan pupuk organik dalam mensubstitusi pupuk sintetis ternyata memiliki berbagai keuntungan terutama yang berasal dari bahan alami. Selain rendahnya efek samping pemanfaatan bahan organik, biaya produksi juga dapat ditekan.
Limbah ternak sebagai salah satu bahan organik yang bermanfaat, banyak mengandung unsur hara makro seperti Nitrogen (N), Fospat (P2O5), Kalium (K2O) dan Air (H2O). Meskipun jumlahnya tidak besar, dalam limbah ini juga terkandung unsur hara mikro diantaranya Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), dan Boron (Bo). Kandungan berbagai unsur pada bahan organik membuatnya berpotensi dalam menggantikan posisi pupuk anorganik.
Penelitian yang dilakukan Adijaya, Yasa dan Guntoro (2006) menyatakan penggunaan pupuk kandang padat dan cair pada tanaman mampu memberikan produksi yang tidak berbeda dengan penggunaan pupuk  anorganik. Pemupukan organik kompos dan urine sapi pada mampu meningkatkan produksi sebesar 92,26% dan 90,21%, sedangkan pemupukan dengan urea memberikan peningkatan produksi sebesar 93,24%.  Sementara itu pada bawang merah,  pemberian urine kambing mampu menekan penggunaan pupuk kimia. Tingkat produksi hasil penelitian ini bahkan lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran.
Analisa kandungan unsur yang telah dilakukan BPTPH Provinsi Sumatera Barat, urine kambing memberikan kontribusi unsur N sebesar 37,1 %. Apabila dilakukan konversi per ton bahan, maka urin kambing mengandung 371 kg N. Hal ini berarti setara dengan 824,4 kg Urea. Pemberian urin kambing dosis 4000 liter/ha dengan konsentrasi 33% mampu menekan penggunaan pupuk kimia sampai 50% dengan tingkat produksi yang lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran.

Hasil Pengujian Manfaat Urine
Merujuk pada penemuan pemanfaatan urine, pengujian lapangan yang pernah dilakukan penulis pada lahan UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto penghujung tahun 2009 sampai tahun 2010 lalu menunjukkan bahwa tingkat peranan pemakaian bahan organik khususnya urine kambing mampu mensubstitusi atau menggantikan pemakaian pupuk berbahan sintetis seperti urea.
Pengujian sendiri dilakukan dengan melibatkan tiga jenis bahan organik yakni urine kambing, sapi dan ekstrak bunga pahit (Tithonia sp.) dan penggunaan pupuk sintetis berupa teknologi konvensional (paket urea, TSP dan KCl rekomendasi) sebagai pembanding. Tujuan penelitian lapang ini sendiri untuk mengujikan seberapa besar peran penggunaan bahan organik dalam budidaya komoditi hortikultura khususnya bawang merah. 
Pengujian penggunaan bahan organik menunjukkan bahwa bobot umbi kering per plot dan per Ha bawang merah berkisar antara 2006,66 – 2316,66 g per plot dan kisaran 6,87 – 7,23 ton/Ha. Pemupukan dengan urine kambing dengan berat bawang 2233,33 g/ plot atau 7,23 ton/ Ha, dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena kombinasi pupuk organik urine kambing mengandung unsur yang lebih sesuai untuk meningkatkan bobot umbi bawang. Semakin berat umbi yang dihasilkan, maka semakin banyak pula unsur hara yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan umbi.
Hampir semua tolok ukur pengamatan menunjukkan hasil nyata dari pemberian bahan organik ini mulai dari Hari Muncul Tunas (HMT), jumlah batang, tinggi tanaman, jumlah siung, ketahanan terhadap hawar daun serta produksi itu sendiri.
Terlepas dari dampak jangka panjang serta harga pupuk sintetis itu sendiri, pemberian berbahan kimia buatan ini memang memberikan hasil cukup tinggi pada beberapa tolok ukur khususnya pada pengujian ini. Namun hasil-hasil signifikan tetap dipimpin dan diperlihatkan oleh pemakaian urine kambing.
Pada tinggi tanaman saja pemberian pupuk sintetis saja tertinggal dibanding semua bahan organik yakni rata-rata 38,66 cm, sedangkan urine kambing 55,66 cm. Tolok ukur lain yang menentukan yakni jumlah siung per rumpun. Untuk pemakaian bahan organik, dipimpin urine kambing dengan jumlah rata-rata 11 siung, sementara bahan lain 7,33 siung untuk urine sapi dan tithonia serta angka 8,00 rata-rata yang ditunjukkan pemakaian paket urea,TSP dan KCl.

Selain itu, pengaruh terhadap perlkuan bahan organik ini juga ditunjukkan ketahanan tanaman terhadap penyakit hawar daun bawang. Tanaman yang diberi perlakuan urine kambing terserang hanya sebesar 4,00 %, perlakuan urine sapi terserang 6,80 %, tithonia 8,17 % dan intensitas tertinggi terletak pada paket konvensional (urea, TSP, KCl dengan angka 9,67 %.
Pengaruh lain yang signifikan dari pemakaian bahan organik yakni aroma khas bawang yang lebih gurih dan berbeda dengan pemakaian bahan sintetis yang cenderung memberikan aroma yang cenderung datar. Hal ini disimpulkan dari beberapa responden yang diujikan tanpa memberitahukan jenis perlakuan masing-masing umbi yang dicobakan.

Tabel  Bobot umbi kering/ Ha akibat pengaruh pupuk organik dan  sintetis.

Bobot umbi kering per Ha (ton)
Rata-rata
Pupuk organik
A
B
Urine kambing
7,08 
7,23
7,16 A
Urine sapi
6,71
6,69
6,70 B
Ekstrak Tithonia
6,30
6,61
6,46 B
Urea, TSP dan KCl
6,56
6,87
6,72 B
Rata-rata
6,66 a
6,85 a

Sumber : Ichsan Kurniawan (2010)- “ Pengaruh Pupuk Organik dan Pseudomonad fluorescens terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Ketahanan terhadap Hawar Daun Bakteri pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

 

Melirik Potensi Ampas Tebu Sebagai Bahan Pakan

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Tebu merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis yang baik dalam pengembangannya. Di kabupaten Agam, Sumatera Barat sendiri, beberapa daerah dikenal produktif sebagai sentra dalam budidaya tebu. Sebut saja Lawang Kecamatan Matua, Bukik Batabuah Kecamatan Canduang, Sungai Landia Kecamatan IV Koto dan beberapa wilayah lain. Walaupun khusus kabupaten kita lebih cenderung pada produk hasilan berupa saka (gula merah), prospek pengembangannya justru makin terbuka lebar.
Bahkan baru-baru ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Agam membuka kesempatan khusus untuk pengembangan komoditi tebu ini. Pihak Dishutbun mengharapkan adanya penambahan luas tanaman tebu menjadi setidaknya + 30.000 Ha  untuk beberapa waktu ke depan menimbang komoditi ini memiliki nilai ekonomis yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah khususnya daerah sentra. Bahkan tak tanggung-tanggung, rencana pembangunan pabrik pengolah yang menampung hasil dari luasan yang ditargetkan menjadi muara dari rencana ini.
Namun diluar daripada itu, beberapa alternatif lain yang membuka prospek cerah bagi petani tebu dan membuat pembudidayaan tebu semakin bergairah yakni selain memasarkan dalam bentuk produk olahan gula merah, tebu dalam bentuk batangan pun saat ini mempunyai pasar tersendiri yang membuat pemenuhan pemintaannya malah semakin kewalahan akibat keterbatasan luasan lahan.
Pada beberapa wilayah sentra atau pengembang komoditi tebu dengan tingkat populasi ternak yang tinggi, selain meraup rupiah dari beragam hasil tebu termausk olahan seperti gula merah (saka), ampas tebu sendiri bisa dimanfaatkan menjadi banyak hal berguna, bahkan bernilai ekonomis. Selain sebagai sumber energi bahan bakar, ampas dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dan bila skala besar, hal ini juga bahkan membuka satu lagi peluang bisnis dari komoditi tebu yakni pakan ternak seperti halnya kompos.  
Di daerah-daerah sentra budidaya tebu dan pabrik gula, ratusan kilo bahkan tontan ampas hanya menjadi sampah yang jarang dimanfaatkan. Begitu juga di daerah kita. Walaupun produk olahan yang dihasilkan sedikit berbeda, namun sampah dari olahan tersebut tetap sama.
Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas tebu sebagai bahan pakan, hal ini mungkin karena ampas tebu memiliki serat kasar dengan lignin yang dikandung tergolong sangat tinggi yakni sekitar 19 – 20 % dengan kadar protein kasar rendah sekitar 26 – 28%. Akan tetapi limbah ini sangat berpotensi sebagai bahan pakan ternak. Melalui fermentasi menggunakan probiotik (mikroba), kualitas dan tingkat kecernaan ampas tebu akan diperbaiki sehingga dapat digunakan. Tahapan fermentasi ampas tebu sama dengan fermentasi jerami. Namun penambahan beberapa bahan untuk melengkapi kebutuhan mineral yang dibutuhkan dalam bahan pakan tersebut perlu dilakukan.
Ampas tebu sendiri mengandung beberapa bahan pokok antara lain air, gula, serat dan mikroba. Berdasarkan bahan kering, ampas sendiri terdiri dari 47 % karbon, 6,5 % hidrogen, 44 % oksigen dan abu dengan tingkat potensi yang cukup baik sehingga saat ini banyak diteliti dalam rangka mencari sumber energi alternatif.
Dalam pemanfaatannya sebagai bahan pembuat pakan ternak, sumber bahan pokok di atas berperan penting sehingga mempunyai peran dalam memberikan asupan nutrisi terhadap ternak. Potensi ampas tebu ini cukup tinggi menimbang tebu sendiri mengandung gula yang merupakan sumber nutrisi yang baik. Untuk skala sederhana, bahan dan dosis yang perlu dicampurkan dalam fermentasi ampas tebu ini antara lain untuk 1 ton ampas tebu diperlukan 1 kg mikroba/ starbio, 1 kg pupuk urea serta masing-masing 200 gr untuk pupuk TSP dan ZA. Penambahan bahan-bahan tersebut mempunyai peran tersendiri dalam pembuatan pakan ternak menggunakan ampas tebu. Mikroba/ starbio sudah barang tentu diberdayakan untuk mengurai lignin dan selulosa serat kasar sehingga memiliki tingkat kecernaan yang memenuhi syarat untuk ternak. Sementara urea sendiri diperlukan untuk meningkatkan kadar  protein ampas tebu dan sumber nitrogen yang berperan menstimulir aktivitas mikroba dalam proses penguraian. Dan untuk pupuk TSP tetap sebagai sumber phosphor serta ZA sebagai sumber sulfurnya.

TERMA PENANAMAN TANAMAN TANPA TANAH




Fertigasi / ‘Passive Irrigation’


adalah gabungan sistem pengairan titis atau drip irrigation yang menggunakan konsep Hydroponic yang mana nutrient disalurkan kepada setiap tanaman menggunakan sistem transportasi menggunakan paip irrigasi disambungkan ke microtube dan akhirnya ke driper atau alat penitis. Tanaman menggunakan media rendah zat yang menggantikan tanah dan dengan itu dapat mengelakkan penyakit bawaan tanah. Kaedah ini semakin terkenal dan mempunyai reputasi yang meluas di Malaysia, Thailand dan Indonesia.

‘Aeroponik’

adalah kaedah Hydroponic yang menggunakan sistem semburan kabus untuk menyampaikan nutrient ke akar yang mana akarnya berada dalam keadaan posisi tergantung. Sistem ini adalah cabang sistem Hydroponic yang mempunyai kadar penyaluran nutrient kepada pokok yang paling efisyen dan paling jimat dari segi penggunaan baja & air tetapi kos set up adalah antara yang paling mahal jika hendak dikomersialkan. Ianya semakin mendapat tempat di negara-negara Asean.

‘Deep water culture’ –


Adalah kaedah sistem hydroponic yang diapungkan atau digantung di dalam larutan nutrient yang diperkaya dengan oksigen terlarut. kaedah ini secara tradisinya menggunakan bekas plastik yang besar dan tanaman di letakkan di dalam bekas berjejaring yang tergantung di tengah-tengah penutupnya dan akarnya tergantung di dalam larutan nutrient.

‘Organoponik’


Adalah kaedah baru dalam sistem hydroponic yang mengubahsuai sistem asal kepada penanaman organik melalui sistem hydroponic. Ia menggantikan baja formula untuk hydroponic kepada baja kompos yang diperbuat dari bahan sisa gula. Dalam sistem hydroponic, akar pokok perlu mampu menyerap larutan nutrient. Organoponic menggunakan konsep yang sama, cuma bajanya dari jenis kompos yang dibuat dalam bentuk foliar atau larutan. Ia masih tidak menggunakan tanah tetapi tidak menggunakan sebatian kimia untuk larutan nutrient.