Melirik Potensi Ampas Tebu Sebagai Bahan Pakan

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Tebu merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis yang baik dalam pengembangannya. Di kabupaten Agam, Sumatera Barat sendiri, beberapa daerah dikenal produktif sebagai sentra dalam budidaya tebu. Sebut saja Lawang Kecamatan Matua, Bukik Batabuah Kecamatan Canduang, Sungai Landia Kecamatan IV Koto dan beberapa wilayah lain. Walaupun khusus kabupaten kita lebih cenderung pada produk hasilan berupa saka (gula merah), prospek pengembangannya justru makin terbuka lebar.
Bahkan baru-baru ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Agam membuka kesempatan khusus untuk pengembangan komoditi tebu ini. Pihak Dishutbun mengharapkan adanya penambahan luas tanaman tebu menjadi setidaknya + 30.000 Ha  untuk beberapa waktu ke depan menimbang komoditi ini memiliki nilai ekonomis yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah khususnya daerah sentra. Bahkan tak tanggung-tanggung, rencana pembangunan pabrik pengolah yang menampung hasil dari luasan yang ditargetkan menjadi muara dari rencana ini.
Namun diluar daripada itu, beberapa alternatif lain yang membuka prospek cerah bagi petani tebu dan membuat pembudidayaan tebu semakin bergairah yakni selain memasarkan dalam bentuk produk olahan gula merah, tebu dalam bentuk batangan pun saat ini mempunyai pasar tersendiri yang membuat pemenuhan pemintaannya malah semakin kewalahan akibat keterbatasan luasan lahan.
Pada beberapa wilayah sentra atau pengembang komoditi tebu dengan tingkat populasi ternak yang tinggi, selain meraup rupiah dari beragam hasil tebu termausk olahan seperti gula merah (saka), ampas tebu sendiri bisa dimanfaatkan menjadi banyak hal berguna, bahkan bernilai ekonomis. Selain sebagai sumber energi bahan bakar, ampas dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dan bila skala besar, hal ini juga bahkan membuka satu lagi peluang bisnis dari komoditi tebu yakni pakan ternak seperti halnya kompos.  
Di daerah-daerah sentra budidaya tebu dan pabrik gula, ratusan kilo bahkan tontan ampas hanya menjadi sampah yang jarang dimanfaatkan. Begitu juga di daerah kita. Walaupun produk olahan yang dihasilkan sedikit berbeda, namun sampah dari olahan tersebut tetap sama.
Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas tebu sebagai bahan pakan, hal ini mungkin karena ampas tebu memiliki serat kasar dengan lignin yang dikandung tergolong sangat tinggi yakni sekitar 19 – 20 % dengan kadar protein kasar rendah sekitar 26 – 28%. Akan tetapi limbah ini sangat berpotensi sebagai bahan pakan ternak. Melalui fermentasi menggunakan probiotik (mikroba), kualitas dan tingkat kecernaan ampas tebu akan diperbaiki sehingga dapat digunakan. Tahapan fermentasi ampas tebu sama dengan fermentasi jerami. Namun penambahan beberapa bahan untuk melengkapi kebutuhan mineral yang dibutuhkan dalam bahan pakan tersebut perlu dilakukan.
Ampas tebu sendiri mengandung beberapa bahan pokok antara lain air, gula, serat dan mikroba. Berdasarkan bahan kering, ampas sendiri terdiri dari 47 % karbon, 6,5 % hidrogen, 44 % oksigen dan abu dengan tingkat potensi yang cukup baik sehingga saat ini banyak diteliti dalam rangka mencari sumber energi alternatif.
Dalam pemanfaatannya sebagai bahan pembuat pakan ternak, sumber bahan pokok di atas berperan penting sehingga mempunyai peran dalam memberikan asupan nutrisi terhadap ternak. Potensi ampas tebu ini cukup tinggi menimbang tebu sendiri mengandung gula yang merupakan sumber nutrisi yang baik. Untuk skala sederhana, bahan dan dosis yang perlu dicampurkan dalam fermentasi ampas tebu ini antara lain untuk 1 ton ampas tebu diperlukan 1 kg mikroba/ starbio, 1 kg pupuk urea serta masing-masing 200 gr untuk pupuk TSP dan ZA. Penambahan bahan-bahan tersebut mempunyai peran tersendiri dalam pembuatan pakan ternak menggunakan ampas tebu. Mikroba/ starbio sudah barang tentu diberdayakan untuk mengurai lignin dan selulosa serat kasar sehingga memiliki tingkat kecernaan yang memenuhi syarat untuk ternak. Sementara urea sendiri diperlukan untuk meningkatkan kadar  protein ampas tebu dan sumber nitrogen yang berperan menstimulir aktivitas mikroba dalam proses penguraian. Dan untuk pupuk TSP tetap sebagai sumber phosphor serta ZA sebagai sumber sulfurnya.

Kopi Temanggung

Kopi Robusta & Kopi Arabika

Kabupaten Temanggung dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Pada tahun 2007 eksport kopi dari Temanggung mencapai 6,5 Ton per minggu-nya, dengan total nilai transaksi sebesar Rp. 1.672.541.700 dengan jumlah tonase sebanyak 102.592,5 Ton.
Terdapat dua jenis tanaman kopi di Kabupaten Temanggung ini, yaitu kopi Robusta dan kopi Arabika. Kedua jenis tersebut sama-sama memiliki rasa serta kualitas yang sangat maksimal.
Kopi Arabika (Arabica Coffee)
Luas (2007) : 918,19 hektar
Produksi (2007) : 504,44 ton
Jumlah Petani : 8.962 orang
Lahan Potensi : 11.000 Ha
Lokasi : Kledung, Bansari, Bulu, Tlogomulyo, Tembarak, Selopampang, Ngadirejo, Candiroto, Tretep dan Wonoboyo.
Kopi Robusta (Robusta Coffee)
Luas (2007) : 9.316,19 hektar
Produksi (2007) : 5.237,19 ton
Jumlah Petani : 34.400 orang
Lokasi : di 20 kecamatan di kabupaten temanggung.

Jambune Wong Temanggung

Jambu Biji

Jambu biji merupakan buah dengan kandungan oksidan tinggi yang sangat bermanfaat untuk kekebalan dan kesehatan tubuh kita. Akhir-akhir ini buah tersebut banyak diminati konsumen, namun sisi lain  produksi dan pengolahan buah ini di Temanggung masih sangat terbatas, kalau dilihat  dari wilayah dan iklim yang sejuk sangat cocok untuk budidaya Jambu biji terbukti di desa Jeglong Kecamatan Bejen sudah dapat dibudidayaka.
Jambu biji dapat dipasarkan langsung berupa buah segar sortir untuk melayani permintaan pasar swalayan/ekspor, dapat pula dengan model pengalengan, purey, juice/sari buah. Sasaran pemasaran adalah ke grading dan supplier industri besar. Dengan demikian sangat memungkinkan pengembangan budidaya dengan membuka peluang  investasi :

Nama    : Budi daya Jambu biji
Jumlah Produksi : 20.109 kw
Jumlah pohon     : 66.312 pohon
Lokasi budidaya : Karakteristik lahan yang baik untuk Budidaya antara lain : Ketinggian ± 504 dpl, luas lahan sawah, 678 Ha, Pengairan sederhana PU 30 Ha, Pengairan sederhana Non PU 533 Ha, Sawah Tadah Hujan 115 Ha, Luas Lahan bukan sawah 6.206 Ha.
Lokasi    : Kecamatan Bejen dan Candiroto
Peluang Investasi : Budidaya/pengolahan produksi Jambu biji.

Potensi Pendukung :  

  1. Tenaga kerja tersedia dapat dilihat di Bejen Distribusi Penduduk 2,77 %
  2. Kepadatan Penduduk 289 orang/ km2
  3. Jumlah penduduk bermata pencaharian pertanian 9.166 orang
  4. Suhu udara sekitar 23  28˚ C
  5. Ketinggian antara  500-1500 dan 1500-3000 meter dpl,  
  6. Ph tanah antara 4,5-8,2  terpenuhi
  7. Jika penanaman dari buah jambu biji  umur 2-3 tahun baru mulai buah namun jika dengan cangkok/stek lebih cepat hanya memerlukan waktu sekitar 6 bulan sudah panen setiap 4 hari sekali dari 400 pohon per panen bisa mencapai 100 kg buah jambu.
  8. Akses jalan  beraspal
  9. Penerangan PLN

Ide Bisnis | Budidaya Buah Naga Hitam

Maraknya permintaan buah naga sejak beberapa tahun belakangan ini, mendorong para pelaku agribisnis untuk membudidayakan tanaman buah yang berasal dari daerah Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan untung besar. Bahkan tidak hanya membudidayakan jenis buah naga daging putih, daging merah, serta buah naga kuning, yang sudah familiar di lingkungan masyarakat saja. Saat ini para petani buah naga di Indonesia khususnya di daerah Kediri, Jawa Timur, mencoba melakukan inovasi baru dengan mengenalkan buah naga daging hitam kepada masyarakat luas.
Varietas baru berdaging hitam ini dikembangkan Prof. Dr. H. KPH. A.P Kusumoningrat, Ph.D di lereng gunung Wilis Kediri, Jawa Timur, pada tahun 2003. Sebenarnya buah naga hitam merupakan pengembangan dari buah naga daging merah yang dibudidayakan dengan tambahan pupuk khusus yaitu pupuk natural hitam, yang terdiri dari campuran kotoran sapi, ampas jamu, cengkih sisa pabrik rokok (cengkok cengkih), serta abu sekam. Campuran pupuk khusus yang digunakan dalam proses budidaya tersebut mengakibatkan kandungan beta karotin pada buah naga meningkat, sehingga warna daging yang dihasilkan cenderung lebih gelap dan mendekati warna hitam.

Kandungan zat betakarotin 500 mg, antioksidan, dan vitamin E yang terdapat dalam buah naga hitam sangat baik bagi kesehatan. Kondisi ini membuat hasil budidaya tanaman sebangsa kaktus ini banyak diburu pasar, bahkan harganya bisa lebih mahal dibandingkan jenis buah naga lainnya, yaitu berkisar Rp 50.000,00/kg.
Tingginya permintaan pasar dan mudahnya pemeliharaan tanaman buah naga (dragon fruit), menjadikan tanaman tropis ini banyak dibudidayakan masyarakat di berbagai daerah. Mulai dari daerah dataran tinggi hingga di pesisir pantai, seperti di daerah Bogor, Sukabumi, Sumedang, Pati, Kendal, Sukoharjo, Kulonprogo, Sleman, Pasuruan, Jember, Kediri, Kepulauan Riau, Pekanbaru, Batam, Padang pariaman, serta beberapa daerah di Kalimantan dan Sulawesi Selatan.

Tips sukses pembibitan buah naga

Untuk mengembangkan tanaman buah naga sebaiknya dilakukan dengan cara stek, dan dianjurkan setelah usia tanaman tersebut berusia diatas tiga tahun. Sebelum melakukan stek, pilihlah cabang yang benar-benar bebas penyakit, agar peluang berkembangnya bibit (hasil penyetekan) lebih besar. Jika sudah menentukan cabang yang berkualitas, maka potong cabang sesuai ukuran yang diinginkan dengan menggunakan pisau. Misalnya saja potong cabang tersebut menjadi 30 cm, 40 cm, 50 cm, 60 cm, atau bisa juga sepanjang 1 meter. Usahakan bagian bawah (yang akan ditancapkan ke tanah) dipotong lancip, untuk memudahkan penanaman.
Setelah bibit siap ditanam, tugas selanjutnya yaitu menyiapkan media tanam yang terdiri dari campuran pupuk kandang, sabut kelapa, dan tanah dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Anda dapat membudidayakannya dalam polybag, dan setelah bibit ditanam Anda dapat menyiramnya dengan air secukupnya dan diletakan di bawah sinar matahari langsung. Proses penyiraman dapat dilakukan rutin dua minggu sekali, sehingga akar akan tumbuh dalam waktu tiga bulan. Dan bibit siap dibudidayakan.
Berdasarkan penelitian di bidang pertanian, tanaman buah naga bisa bertahan hingga ratusan tahun. Jadi dengan sekali tanam, Anda dapat menikmati keuntungan yang cukup besar dari buah naga dalam waktu yang cukup lama. Sangat menjanjikan bukan?
Semoga informasi potensi bisnis daerah yang mengangkat tentang budidaya buah naga hitam kian diminati, dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Dan memberikan inspirasi bagi masyarakat luas untuk memanfaatkan segala potensi alam sebagai peluang usaha. Karena kekayaan alam yang melimpah menjadi salah satu modal usaha yang dapat Anda manfaatkan. Selamat mencoba dan salam sukses.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com/search/label

Ide Bisnis | Sukses Berbisnis Kayu Jati

Direktur Utama PT Jaty Arthamas Santi Mia Sipan mendapatkan penghargaan Ernst & Young untuk kategori Best Women Entrepreneur of the Year 2010. Santi pun membagi resep suksesnya dalam berwirausaha.

Santi mengemukakan bahwa untuk menjadi pengusaha, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset. Mindset ini, menurutnya sangat penting untuk memupuk optimisme.

“Ada motivator bilang, sejahtera lebih penting dari kaya. Saya enggak pernah berpikir begitu, yang selalu ada dalam mindset saya adalah orang akan lebih elegan nangis di dalam Mercedes Benz dari pada di motor,” ujarnya baru-baru ini.

“Ingat, bekerja ikut orang hanya akan membuat kita sejahtera dan bukan kaya,” tegasnya.


Ia juga menceritakan, sebelumnya dia sempat menjadi sekretaris direktur utama di tiga perusahaan skala nasional. Tapi ia memilih hengkang dan memulai usaha sendiri, dengan mengikuti multi level marketing (MLM) yang bermodal hanya Rp275 ribu. “Siapa bilang MLM itu tidak memiliki prospek? MLM adalah sekolah candra di muka yang mendidik kita memiliki mental baja dan pantang menyerah,” lanjutnya lagi.

Langkah cerdas lainnya yang harus dilakukan dalam mencapai sukses adalah dengan mengikuti seminar-seminar hebat dan membaca buku. “Baca buku minimal dua bulan, its a must,” tambahnya.

Perempuan pemilik usaha kayu jati ini mengemukakan alasannya berbisnis jati, “Jati itu komoditas kayu yang paling mahal dan kualitasnya bagus, harganya itu bisa menjadi dua kali lipat dalam lima tahun. Dan sampai saat ini, Indonesia hanya mampu memasok sekitar 30 persen kebutuhan nasional, sisanya kita ganti dengan kayu kualitas lebih rendah seperti sengon,” jelasnya.

Wanita yang mengaku lebih sreg mempekerjakan pegawai perempuan di kantornya ini mempunyai banyak trik untuk menggaet investor agar mau bekerjasama dengan perusahaannya.

“Saya katakan dalam 7-8 tahun pohon jati sudah bisa ditebang dan mereka sudah bisa ambil untung sekira Rp400 juta. Tapi kalau mereka tidak sabar, kita tawarkan juga bisnis MLM lain, kayak bakso, kebab, dll. MLM makanan itu saya join dengan pihak lain, investor banyak yang tertarik karena dalam satu tahun sudah bisa untung,” ungkapnya.

Jaty Arthamas adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan bibit jati. Perusahaan ini memiliki lahan di kawasan Jonggol, Sukabumi dan Semarang. Perusahaan yang mulai dirintis sejak 1998 dan berkantor di Senayan ini memiliki pendapatan sekira Rp10 miliar tahun lalu.

Dalam kesempatan ini, ia juga sempat mengutarakan bahwa market share perusahaannya adalah 60 persen warga keturunan Tionghoa (Cina) dan selebihnya adalah asing dan perajin lokal.

Sumber ; okezone.com

Ide Bisnis | Peluang Usaha Budidaya Tanaman Karet

Peluang Usaha Budidaya Tanaman Karet . Pohon karet (Latin: Hevea Brnziliensis, red) merupakan tanaman yang berasal dari Brazil. Cikal bakal tanaman karet alam dunia ini, setelah mengalami percobaan berkali – kali oleh Henry Wickham, akhirnya berhasil dikembangkan di Asia Tenggara. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, Asia Tenggara khususnya dan Asia pada umumnya menjadi sumber tanaman karet alam.
Tanaman karet yang mampu tumbuh hingga setinggi 25 m ini, memiliki batang yang mengandung getah yang dikenal dengan istilah lateks. Dan, lateks inilah yang merupakan bahan baku utama dan sangat penting bagi berbagai industri, termasuk industri otomotif dan dalam kemiliteran. Tak pelak, harga jualnya pun terbilang mahal yaitu (pada media 34 Februari 2011, red) Rp. 27.700,- / kg, untuk sadapan berumur sebulan.

Perlu diketahui bahwa umur sadapan sangat berpengaruh pada harga. Misalnya, harga per kilogram lateks untuk sadapan berumur seminggu yakni Rp16 ribu. Sementara lateks dengan umur sadapan sebulan, dihargai Rp27.700,-/kg. Hal itu terjadi, karena saat disadap, getah karet akan bercampur dengan air dan bahan – bahan lain. Lalu, seiring dengan berjalannya waktu terjadi penyusutan hingga akhirnya yang tertinggal hanya endapan getahnya. Karena tidak mau ‘merugi’, sebagian besar petani tanaman karet lebih suka menjual hasil sadapan mereka kala baru berumur (terkumpul) satu minggu.
Di luar itu,Dalam Peluang Usaha Budidaya Tanaman Karet  mempunyai banyak keunggulan. Misalnya, pertama, untuk membudidayakannya biasanya dilakukan dengan cara stek di mana harga bibitnya Rp17.500,-/batang. Cara ini yang lebih sering digunakan, lantaran sudah setengah jadi. Sehingga, tinggal menunggu pertumbuhannya saja. Lain halnya dengan tanaman karet alam yang dibudidayakan dengan biji, yang berarti sangat lama untuk menunggunya tumbuh tinggi. Sementara kemungkinan gagalnya, cuma 5%. Dalam arti, bukan mati melainkan tidak tumbuh secara -mestinya atau terserang hama yang gampang dimusnahkan.
Kedua, lima tahun setelah ditanam, pohon – pohon karet tersebut siap sadap. Penyadapan biasanya dilakukan berselang – seling (satu hari sadap, satu hari tidak). Jadi, total hanya 15 hari dalam sebulan. “Jika baru pertama kali disadap, biasanya akan diperoleh sekitar 85 kg/minggu yang dikumpulkan dari 450 – 500 pohon, yang ditanam di atas lahan seluas 1 ha.
Di sisi lain menurut PT Perkebunan Nusantara, hasil sadapan per hari standarnya 20 kg/pohon. Sementara sadapan per hari perkebunan 13 kg/pohon, padahal baru sekali sadap. Jadi, dapat dibayangkan kalau pohon – pohon itu sudah berumur 10 tahun, setidaknya akan dihasilkan 1 ton/minggu. Sebab, semakin bertambah umurnya, semakin tinggi pohonnya, dan semakin besar batangnya, sehingga semakin banyak pula getah yang dihasilkan.
Peluang Usaha Budidaya Tanaman Karet – Ketiga, untuk menjual hasil sadapannya, para petani tanaman karet perlu repot. Karena, pembeli datang dengan sendirinya dan harganya jualnya tidak mungkin turun. Mengingat, selalu ada permintaan untuk lateks. Keempat, biaya produksinya tidak tinggi. Kelima, ketika sudah tidak layak sadap (biasanya saat itu pohon karet telah berumur 20-25 tahun, red.), dalam arti, jumlah getahnya semakin lama semakin sedikit atau pohonnya semakin lama semakin tinggi sehingga sulit dijangkau, maka setelah ditebang ia masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas atau berfungsi laiknya kayu.
Namun, tidak berarti tanaman ini tidak memiliki kelemahan, sebab pertama, untuk membudidayakannya dibutuhkan lahan seluas minimal 1 ha. Kedua, lahan tersebut harus berada 400 m di atas permukaan laut dan dengan struktur tanah yang bergelombang. Lantaran, hal itu sangat berpengaruh terhadap banyak sedikitnya getah yang dihasilkan. “Lokasi terbaik untuk bertanam karet yaitu di Sumatera atau setidaknya Kalimantan. Sepengetahuan saya, tanaman karet juga ditanam di Sukabumi dan Serang tapi dalam kapasitas kecil, bukan perkebunan
Di luar itu, banyak sedikitnya getah karet yang dihasilkan dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, cuaca. Saat musim penghujan hanya sedikit getah yang berhasil disadap, tapi sebaliknya dengan musim kemarau. Kedua, perawatan, terutama pemupukan jangan sampai terlambat.

Analisa Peluang Usaha Budidaya Tanaman Karet ( 1 ha dalam 5 tahun)
BIAYA PENANAMAN
1. Pembelian lahan seluas 1 ha di Kabupaten Rp17.500.000,-.
2. Penggalian lubang = Rp1.500,-/lubang.
Ukuran 5 x 3 = 600 batang.
Ukuran 7 x 3 = 476 batang.
Disiapkan pula bibit untuk sulaman sebanyak 5%. Jadi,jumlah bibit yang disiapkan total 500 batang.
3. Biaya penanaman = Rp200,-/batang.
4. Pembelian bibit =Rp7.500,-/batang.
Total biaya penanaman dalam 1 ha kebun karet = Rp25.000.000,¬
BIAYA PEMELIHARAAN
1. Pemupukan
Jadwal pemupukan Bulan Februari, Mei, dan November
Harga pupuk sekarang
Urea = Rp 85.000,-/50 kg
TSP = Rp125.000,-/50 kg
Phonskha = Rp135.000,-/50 kg
Rp345.000,¬
Biaya pemupukan dalam 1 tahun plus upah= Rp2.220.000,¬
2. Penyemperotan
Penyemperotan tergantung kondisi lahan
7It x Rp.60.000,- = Rp420.000,-x 3 kali dalam 1 tahun = Rp1.260.000,¬
Upah penyemperotan dalam 1 It = Rp30,000,-x 7 It = Rp210.000,-x 3
kali dalam 1 tahun = Rp630.000,¬
Total biaya pemeliharaan sampai dengan sadap= Rp17.430.000,¬
HASIL
• Sadap pertama (awal sadap)
1 ha dalam satu minggu = 80 kg
80 kg x Rp16.000,- = Rp1.280.000,¬
Rp 1.280.000,- x 4 = Rp5.120.000,-:2 = Rp2.560.000,-/bulan
• Kalau tanaman karet tersebut sudah berumur lebih dari 10 tahun
±1 tahun/bulan = 1.000 x Rp16.000,- Rp16.000.000,-/bulan dikurangi Upah karyawan = Rp 6.000.000,¬
Hasil bersih = Rp10.000.000,.

Sumber : informasi-budidaya.blogspot.com