Mikro organisme lokal (MOL ) Rebung Bambu

by ICHSAN KURNIAWAN
Pembuatan MOL ditujukantak lain dan tak bukan sebagai komposer yang membantu pelapukan bahan organik,sebagai sumber energi serta zat pengatur tumbuh pada tanaman. Setelah mengenalpembuatan MOL I-V serta MOL Sabut kelapa, sekarang mari kita lihat bagaimanapula teknik pembuatan MOL dengan bahan dasar rebung bambu.
Alat dan Bahan yang kita butuhkan adalah :
        Ember atau kaleng bekas cat ukuran 25 liter
        2 buah Rebung bambu kurang lebih 3 kg
       – Air beras 5 liter
        Slang plastic dan botol aqua
       – Gula merah 1.5 ons
Cara membuatnyasebagai berikut :
-Rebung bambu ditumbuk halus atau di iris –iris masukan pada ember atau kaleng bekas cat
-Tambahkan gula merah yang telah dihaluskandan aduk sampai rata
-Tutup rapat ember adan berikan slangplastic yang disambungkan dengan air yang berada pada botol aqua dan biarkanselama 15 hari
 
Cara penggunaanya :
Sebagai katalisator dalam pengomposan  : dapat digunakan sebagai decomposer dengan konsentrasi  1 : 5 ( 1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 literair ), kemudian tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, disiramkanpada  saat proses pembutan kompos.
-Penggunaan pada tanaman : Penyemprotandilakukan pagi/sore hari  dengankosentrasi  400 cc cairan dicampur dengan  14 liter air, pada umur  10, 20, 30, 40, hari setelah tanaman .

Petunjuk Pembuatan Kompos Trichoderma

Organisme Penganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu ancaman utama dalam sistem usaha tani dapat merusak kualitas maupun kuantitas produk usaha tani. Untuk mengatasi OPT tersebut umumnya petani menggunakan cara kimiawi yaitu dengan pestisida.
Foto : Perbanyakan Trichoderma by Ichsan

Disamping itu dalam usaha peningkatan produksi, petani pada umumnya menggunakan pupuk buatan, seperti Urea, SP 36, ZA, NPK, KCl dan lain-lain dimana pupuk buatan pabrik tersebut harganya semakin mahal dan kadang-kadang sulit didapat (langka).
Pestisida dan pupuk pabrik adalah merupakan bahan kimia yang apabila digunakan terus menerus untuk usaha budidaya tanaman akan terjadi dampak yang tidak kita ingini seperti :
Pencemaran lingkungan
Hama dan penyakit tanaman
Tanah menjadi keras
Tanaman mengandung residu pestisida dan residu kimia dari pupuk pabrik
Untuk mengantisipasi keadaan tersebut di atas, maka salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan penggunaan Agent Hayati, untuk pengendalian hama dan penyakit dan penggunaan kompos jerami dengan menggunakan agent hayati Trichoderma.
Manfaat Kompos Jerami dengan Trichoderma
1.
Kompos jerami
Sebagai pupuk alami yang dapat menyuburkan tanaman padi.
2.
Trichoderma
Sebagai media untuk mempercepat proses pelapukan jerami dan pupuk kandang.
Sebagai media/bahan untuk pengendali penyakit tular tanah.
Cara Pembuatan
A.
Bahan-bahan yang diperlukan :
Jerami, pupuk kandang, kapur pertanian, pupuk urea, SP 36, air, cendawan trichoderma dan plastik.
B.
Dosis/ jumlah bahan yang diperlukan setiap 1 meter bujur sangkar (1m3) adalah :
1.
2.
3.
4.
Jerami = 1 m3
Pupuk kandnag = 20 Kg
Pupuk urea = 0,3 Kg
Pupuk SP36 = 0,15 Kg
5.
6.
7.
8.
Trichoderma = 1 Kg (1 bungkus)
Kapur pertanian = 0,5 Kg
Air secukupnya
Plastik hitam = 1,5 m2
Untuk luas 1 ha diperlukan bahan-bahan sebagai berikut :
1.
2.
3..
4.
5.
6.
7.
8.
Jerami = 50-60 m3
Pupuk kandang = 1,2-1,5 ton
Pupuk urea = 18 Kg
Pupuk SP 36 = 9 Kg
Kapur pertanian = 30 Kg
Trichoderma = 50-60 Kg
Air + 60 ember (secukupnya)
Plastik hitam + 65 meter
C.
Langakah kerja dalam pembuatan kompos jerami dengan cendawan trichoderma untuk luas 1 m3 sebagai berikut :
  1. jerami 1 m3 diambil/dijadikan 4 bagian
  2. pupuk kandnag 20 Kg + urea = 0,3 Kg + SP 36 = 0,15 Kg + Kapur = 0,5 Kg diaduk sampai rata dan dibuat 4 bagian
  3. 1 (satu) bagian jerami disusun setinggi 25 cm/sampai rata, kemudian ditaburkan 1 bagian pupuk kandang sampai rata dan ditaburkan 0,25 Kg trichoderma (1/4 bungkus) sampai rata dan disiram dengan air secukupnya sampai rata, di atasnya disusun lagi jerami setinggi 25 cm, ditaburkan lagi 1 bagian pupuk kandang.
Sampai rata dan ditaburkan lagi 0,25 Kg Trichoderma sampai rata dan disiram lagi dengan air secukupnya.
Kemudian disusun lagi dengan perlakuan yang sama sehingga mencapai tinggi jerami.
100 cm dan akhirnya ditutup kembali dengan plastik hitam.
Setiap 2 hari sekali disiram dengan air secukupnya, dan setiap 10 hari jerami harus dibalik agar proses pelapukan merata.
Setelah kompos berumur 21-30 hari sudah dapat untuk pemukukan padi sawah (sebagai pupuk dasar). Penggunaan pupuk kompos dilaksankan pada pengolahan tanah terakhir dan dapat juga digunakan untuk pemukukan ulangan (susulan).
Pembuatan kompos jerami sebaliknya ditempatkan pada tempat yang teduh agar plastik hitam yang dipakai tidak cepat rusak. Plastik hitam yang sudah dipakai, dapat dipakai lagi selama 3 kali pembuatan kompos.

Teknik Pembuatan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) Alami

A.
Alat dan Bahan :
Irisan Rebung 1 kg
Gula Tebu (Saka) 1 kg
Ruap Tebu/ Air Kelapa 5 liter (1 sember)
Irisan Anakan Pisang 1 kg
Baskom
Alat Pengaduk
B.
Pelaksanaan Kegiatan :
1.
Dengan memotong dan menghaluskan rebung/ anakan pisang atau kedua bahan tersebut.
2.
Gula tebu/ ruap tebu/ atau dan air kelapa dimasukkan ke dalam ember/ baskom.ke dalam irisan dan dimasukkan ke dalam baskom.
3.
Hasil irisan rebung atau anakan pisang dimasukkan ke dalam 5 liter (1 ember) air kelapa atau gula tebu.
4.
Perbandingan yang dimasukkan yakni 1 : 1 antara bahan satu dengan bahan kedua.
5.
Ramuan zat perangsang tumbuh diaduk kemudian ditutup dan di biarkan selama 1 minggu.
5.
Pengaplikasian ramuan ini bisa dilakukan dengan menyiramkan ramuan yang telah dicampurkan dengan air dengan perbandingan 1 : 5 dengan air.

Varietas Unggul Kacang Tanah

Jerapah (spanish)
Potensi hasil 4 t/ha polong kering
Biji sedang (45–50 g/100 biji)
Umur panen 90–95 hari
Tahan layu, Toleran bercak dan karat daun
Toleran lahan masam
Bison (spanish)
Potensi hasil 3,6 t/ha polong kering
Biji kecil (35–38 g/100 biji)
Umur panen 90–95 hari
Tahan karat daun, agak tahan bercak daun dan agak tahan jamur A. flavus;
Sesuai untuk tumpangsari
Adaptif di lahan kering Alfisol alkalis
Turangga (valencia)
Potensi hasil 3,6 t/ha polong kering
Biji sedang (40–50 g/100 biji)
Umur panen 100–110 hari
Tahan layu, agak tahan bercak daun 
Agak tahan karat, dan A. flavus
Toleran kekeringan
Sesuai untuk tumpangsari
KELINCI (valencia)
Potensi hasil 4,3 t/ha polong kering
Biji sedang (45 g/100 biji)
Umur panen 95 hari
Agak tahan penyakit layu bakteri
Tahan karat daun, Toleran bercak daun
TALAM-1 (spanish)
Potensi Hasil 3,2 t/ha polong kering
Biji sedang (50,3 g/100 biji)
Umur panen 90–95 hari
Toleran jamur A. flavus
Agak tahan penyakit layu, karat, dan bercak daun
Adaptif lahan kering masam
Kancil (spanish)
Potensi hasil 3,5 t/ha polong kering
Biji kecil (35–40 g/100 biji)
Umur panen 90–95 hari
Tahan layu bakteri, agak tahan bercak daun, karat daun,  dan jamur A.  flavus
Toleran klorosis daun
Tuban (spanish)
Potensi hasil 3,2 t/ha polong kering
Biji kecil (35–38 g/100 biji)
Umur panen 90-95 hari 
Tahan layu, agak peka penyakit daun
Adaptasi dengan baik di lahan kering Alfisol
Agak toleran kekeringan
Domba (valencia)
Potensi hasil 4,2 t/ha polong kering
Biji sedang (47–51 g/100 biji)
Umur panen 90–95 hari;
Agak tahan bercak dan karat daun
Agak tahan A. flavus; Toleran klorosis
Adaptif di lahan Alfisol alkalis
SINGA (valencia)
Potensi hasil 4,5 t/ha polong kering
Biji kecil (35–40 g/100 biji)
Umur panen 90–95 hari
Toleran penyakit layu, tahan karat daun
Agak tahan bercak daun
Toleran kekeringan, adaptasi luas
Galur B2-218-MN-21 (spanish)
Potensi Hasil 3,7 t/ha polong kering
Biji kecil (36,4 g/100 biji)
Umur panen 90–95 hari
Tahan penyakit layu,
toleran karat daun dan bercak daun 
Toleran kekeringan 
Toleran lahan masam

Varietas Unggul Ubi Jalar

CANGKUANG
Hasil 30–31 t/ha
Umur panen 4–4,5 bulan
Warna daging umbi kuning muda 
Rasa umbi enak dan manis
Agak tahan hama lanas
Tahan penyakit kudis (scab)
Sukuh
Hasil 25–30 t/ha
Umur panen 4–4,5 bulan
daging umbi putih, rasa enak
kadar bahan kering 35,0%,
sangat baik untuk tepung dan pati ubi jalar
agak tahan boleng dan penyakit kudis
Kidal
Hasil 25–30 t/ha
umur panen 4–4,5 bulan
daging umbi kuning tua, rasa enak-manis
bahan kering 31,00%
agak tahan hama boleng
tahan penyakit kudis
Papua Patippi
Hasil 26–33 t/ha;
umur panen 4,5–6 bulan
daging umbi kuning pucat, rasa enak
bahan kering umbi 32,4%
agak tahan hama boleng dan
penyakit kudis
cocok untuk dataran tinggi
BETA 1
Hasil 25–35 t/ha
umur panen 4–4,5 bulan
daging umbi oranye tua, enak dan manis 
kadar bahan kering 25,3%
beta karoten 12.032 µg/100g
agak tahan hama boleng
agak tahan penyakit kudis
Antin-1
Hasil umbi 26–36 t/ha
Umur panen 4–4,5 bulan
warna umbi sembur ungu menarik 
cocok untuk keripik
antosianin 33,89 mg/100 g
agak tahan boleng dan kudis 
toleran kekeringan
MSU 03028-10 (Calon Varietas)
Hasil umbi rata-rata 27 t/ha
umur 4–4,5 bulan, rasa enak
daging umbi ungu; 
kandungan antosianin 590,8 mg/100g
Sari
Hasil umbi 30–35 t/ha
Umur panen 3,5–4 bulan
daging umbi kuning, rasa enak-manis,
kadar bahan kering 28,0%, 
agak tahan hama boleng 
tahan penyakit kudis
Jago
Hasil 25–30 t/ha

umur panen  4–4,5 bulan
daging umbi kuning muda, rasa enak
kadar bahan kering 33,3%
agak tahan hama boleng
agak tahan penyakit kudis
Papua Solossa
Hasil 25–32 t/ha;
umur panen 4,5–6 bulan
daging umbi kuning tua, rasa enak
bahan kering umbi 32,8% 
beta karoten 533,80 µg/100g
agak tahan hama boleng 
tahan penyakit kudis
cocok untuk dataran tinggi
Sawentar
Hasil 25–30 t/ha;
umur panen 4,5–6 bulan
daging umbi kuning tua, rasa enak
bahan kering 31%,
pati 33% 
beta karoten 347,84 µg/100g 
agak tahan boleng dan penyakit kudis
cocok untuk dataran tinggi
BETA 2
Hasil 28,6–34,7 t/ha
umur panen 4-4,5 bulan
daging umbi oranye, enak 
kadar bahan kering 23,8%
beta karoten 4.629 µg/100 g
agak tahan hama boleng 
agak tahan penyakit kudis
RIS 03065-03 (Calon Varietas)
Hasil umbi rata-rata 20,4 t/ha
umur panen 4–4,5 bulan
daging umbi ungu
kandungan antosianin 510,80 mg/100g
agak tahan boleng dan kudis


Varietas Unggul Ubi Kayu

Adira-1 (enak)
Hasil 25 t/ha
Umur panen 7–10 bulan
Daging umbi kuning, rasa enak
sesuai untuk kripik, tape, dan ubi kukus
Agak tahan hama tungau merah  
tahan penyakit bakteri hawar daun
Adira-4
Hasil 40 t/ha
Umur panen 10 bulan
Daging umbi putih, rasa agak pahit
Sesuai untuk pati atau tepung
Agak tahan hama tungau merah dan penyakit bakteri hawar daun
Beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah dan kesuburan
UJ-5
Hasil 36 t/ha
Umur panen 8–10 bulan
Daging umbi putih, rasa pahit,
sesuai untuk tepung dan pati
Agak tahan Cassava Bacterial Blight
Adaptif pada tanah bertekstur ringan
Malang 6
Hasil 40 t/ha
umur panen 9 bulan
Daging umbi putih, rasa pahit;
sesuai untuk pati dan tepung
Agak tahan hama tungau merah 
Beradaptasi dengan baik pada lahan kurang subur dan tekstur berat
CMM 02048-6 (Calon Varietas)
Hasil umbi rata-rata 32 t/ha.
Umur panen 7–8 bulan.
Rasa enak, 
warna umbi agak kuning (kaya vitamin A),
sesuai untuk pangan dan industri.
Toleran hama tungau
Malang-1 (enak)
Hasil 36 t/ha
Umur panen 9–10 bulan
Daging umbi putih kekuningan
kualitas rebus baik, rasa enak dan manis
Sesuai untuk konsumsi maupun pati
Toleran hama tungau merah dan penyakit becak daun
UJ-3
Hasil 30 t/ha
Umur panen 8–10 bulan
Daging umbi putih kekuningan, rasa pahit, 
sesuai untuk tepung dan pati. 
Agak tahan penyakit CBB (Cassava Bacterial Blight)
Malang-4
Hasil 40 t/ha
umur panen 9 bulan
Daging umbi putih, rasa pahit,
sesuai untuk pati dan tepung
Agak tahan hama tungau merah
Beradaptasi dengan baik pada lahan kurang subur dan bertekstur berat
CMM 99008-3 (Calon Varietas)
Hasil umbi rata-rata 32 t/ha. 
Umur panen 9–10 bulan. 
Rasa enak, warna daging umbi putih, 
sesuai untuk bahan pangan, 
hemat untuk bahan bioetanol (4,23 kg/liter bioetanol)

Teknologi Produksi Kacang Hijau

Kacang hijau (Vigna radiata) dapat ditanam di lahan sawah pada musim kemarau atau di lahan tegalan pada musim hujan. Di tingkat petani, rata-rata produktivitas baru mencapai 0,9 ton/ha. Dengan teknik budidaya yang tepat hasilnya dapat mencapai 2 ton/ha. Saat ini tersedia pilihan varietas unggul kacang hijau yang beragam baik ukuran bijinya (besar atau kecil), dan kulit biji yang hijau kusam atau mengkilat. Pemilihan varietas hendaknya disesuaikan dengan permintaan pasar.

1.    Benih dan Varietas

·         Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah maupun tegalan.
·         Varietas unggul yang tahan penyakit embun tepung dan bercak daun seperti Sriti, Kutilang, Perkutut, dan Murai dapat dianjurkan untuk ditanam pada daerah endemik.
·         Kebutuhan benih sekitar 20 kg/ha dengan daya tumbuh 90%.

2.    Penyiapan Lahan

·         Pada lahan bekas padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (Tanpa Olah Tanah = TOT). Tunggul padi perlu dipotong pendek.
·         Apabila tanah becek maka perlu dibuat saluran drainase dengan jarak 3–5 m.
·         Untuk lahan tegalan atau bekas tanaman palawija lain (jagung) perlu pengolahan tanah:
o    pembajakan sedalam 15–20 cm, dihaluskan dan diratakan.
o    saluran irigasi dibuat dengan jarak 3–5 m.

3.    Cara Tanam

·         Tanam dengan sistem tugal, dua biji/lubang.
·         Pada musim hujan, digunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga mencapai populasi 300–400 ribu tanaman/ha.
·         Pada musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasinya sekitar 400–500 ribu tanaman/ha.
·         Pada bekas tanaman padi, penanaman kacang hijau tidak boleh lebih dari 5 hari sesudah padi dipanen.
  • Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari.

4.    Pemupukan

·         Untuk lahan yang kurang subur, tanaman dipupuk 45 kg Urea + 45–90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha yang diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman.
·         Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15–20 ton/ha dan abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam.
·         Di lahan sawah bekas padi yang subur, tanaman kacang hijau tidak perlu dipupuk maupun diberi bahan organik.

5.    Mulsa Jerami

·         Untuk menekan serangan hama lalat bibit, pertumbuhan gulma, dan penguapan air, jerami padi sebanyak 5 ton/ha dapat diberikan sebagai mulsa.

6.    Penyiangan

·         Penyiangan dilakukan dua kali pada saat tanaman berumur 2 dan 4 minggu.
·         Pada daerah yang sukar mendapatkan tenaga kerja dapat digunakan herbisida pra-tumbuh non-selektif seperti Lasso,  Roundup, Paraquat, Dowpon, atau Goal dengan takaran 1–2 liter/ha yang diberikan 3–4 hari sebelum tanam.

7.    Pengairan

·         Bila tersedia fasilitas pengairan, dapat dilakukan pengairan pada periode kritis kacang hijau terhadap ketersediaan air yaitu saat menjelang berbunga (umur 25 hari) dan pengisian polong (45–50 hari). Pengairan diberikan melalui saluran antarbedengan.
·         Pada daerah panas dan kering (suhu udara 30–31 oC dan kelembaban udara 54–62%) pertanaman perlu diairi dua kali pada umur 21 hari dan 38 hari. Sedangkan untuk daerah yang tidak terlalu panas dan kering, pengairan cukup diberikan satu kali pada umur 21 hari atau 38 hari.
·         Bila ditanam segera setelah padi sawah yang tanahnya Vertisol  (lempung), pengairan tidak perlu diberikan, karena walaupun lapisan atas tanah ini sangat keras dan retak-retak (“nelo” bhs Jawa), namun di bagian bawahnya masih menyimpan air yang cukup bagi pertanaman kacang hijau sampai panen.

8.    Pengendalian Hama

·         Hama utama kacang hijau adalah lalat kacang Agromyza phaseoli, ulat jengkal Plusia chalcites, kepik hijau Nezara viridula, kepik coklat Riptortus linearis, penggerek polong Maruca testutalis dan Etiella zinckenella, dan kutu Thrips.
·         Pengendalian hama dapat dilakukan dengan insektisida, seperti: Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2–3 ml/liter air dan volume semprot 500–600 liter/ha.
·         Pada daerah endemik lalat bibit Agromyza phaseoli perlu tindakan perlakuan benih dengan insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipronil (5 cc/kg benih).

9.    Pengendalian Penyakit

·         Penyakit utama adalah bercak daun Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung Erysiphe polygoni, dan penyakit puru Elsinoe glycines.
·         Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 200 atau Daconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/l air.
·         Penyakit embun tepung Erysiphe polygoni sangat efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diberikan pada umur 4 dan 6 minggu.
·         Penyakit bercak daun efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diberikan pada umur 4, 5 dan 6 minggu.

10.  Panen dan Pascapanen

·         Panen dilakukan apabila polong berwarna hitam atau coklat.
·         Pemanenan umumnya dilakukan dengan cara dipetik. Namun, varietas-varietas unggul kacang hijau yang ditanam dengan teknik budi daya dan pengairan yang tepat, akan masak serempak (³ 80%) sehingga dapat juga dipanen dengan sabit.
·         Polong segera dijemur selama 2–3 hari hingga kulit mudah terbuka.
·         Pembijian dilakukan dengan cara dipukul, sebaiknya di dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil.
·         Biji dijemur lagi sampai kering simpan yaitu kadar air mencapai 8–10%.
Varietas Unggul Kacang Hijau

Kenari
Potensi hasil 1,8 t/ha
Umur panen 60–65 hari
Biji besar (6,7 g/100 biji)
hijau mengkilat
Agak tahan penyakit bercak daun
toleran penyakit karat daun
Sampeong
Potensi hasil 1,8 t/ha

Umur panen 70–75 hari 
Biji sangat kecil (2,5–3,0 g/100 biji)
hijau mengkilat
Agak tahan embun tepung
Agak tahan bercak daun
Sesuai untuk kecambah
Sriti
Potensi hasil 1,9 t/ha
Umur panen 60–65 hari
Biji besar (6,0–6,5 g/100biji)
hijau kusam
Toleran penyakit embun tepung
Toleran penyakit bercak daun
BETET
Potensi hasil 1,5 t/ha
Umur panen 58–60 hari
Biji sedang (5,8 g/100 biji)
hijau kusam
Tahan lalat kacang
Toleran penyakit kudis
Perkutut
Potensi hasil 1,7 t/ha
Umur panen 60 hari 
Biji sedang (5,0 g/100 biji)
hijau mengkilat
Tahan penyakit embun tepung
Agak tahan bercak daun
Kutilang
Potensi hasil 2,0 t/ha

Umur panen 60–67 hari
Biji besar (6,0 g/100 biji) 
hijau mengkilat 
Tahan penyakit embun tepung
Murai
Potensi hasil 1,7 t/ha
Umur panen 63 hari  
Biji besar (6,0 g/100 biji)
hijau kusam
tahan penyakit bercak daun
VIMA-1
Potensi hasil 1,76 t/ha
Umur panen 57 hari
Biji besar (6,3 g/100 biji)
hijau kusam
Tahan penyakit embun tepung
rasa enak dan cepat lunak

Teknologi Produksi Kedelai untuk Lahan Sawah, Lahan Kering Masam, dan Lahan Pasang Surut Tipe C dan D (3)

Varietas Unggul Kedelai
WILIS
Potensi hasil 2,5 t/ha
Umur panen 85–90 hari
Bobot 10 g/100 biji
Tahan rebah;
Agak tahan karat daun dan virus
Sinabung
Potensi hasil 2,6 t/ha
Umur panen 88 hari
Biji sedang (10,7 g/100 biji)
Agak tahan penyakit karat daun
Tanggamus
Potensi hasil 2,6 t/ha
Umur panen 88 hari
Biji sedang (11,0 g/100 biji)
Adaptif lahan kering masam
Panderman
Potensi hasil 2,6 t/ha
Umur panen 85 hari
Biji besar (18 g/100 biji)
Batang kokoh; tahan rebah
Argomulyo
Potensi hasil 3,1 t/ha
Umur panen 80–82 hari
Biji besar (16 g/100 biji)
Tahan rebah, toleran karat daun
Gepak Ijo
Potensi hasil 2,7 t/ha
Umur panen 76 hari
Biji kecil (6,82 g/100 biji)
Rendemen tahu tinggi
DETAM-1 (Kedelai Hitam)
Potensi hasil 3,5 t/ha
Umur panen 84 hari
Biji sedang (14,84 g/100 biji)
Protein 45,36 % bk
Agak tahan pengisap polong
Sesuai untuk kecap
SHR/WIL-60 (Calon Varietas)
Hasil rata-rata 3,0 t/ha
Genjah, umur panen 73 hari
Biji sedang (12 g/100 biji)
Biji bulat dan kuning mengkilat
Kaba
Potensi hasil 2,6 t/ha
Umur panen 85 hari
Biji sedang (10,4 g/100 biji)
Tahan rebah
Polong tidak mudah pecah
Agak tahan penyakit karat daun
Burangrang
Potensi hasil 3,6 t/ha
Umur panen 80–82 hari
Biji besar (16 g/100 biji)
Toleran karat daun
Ijen
Potensi hasil 2,5 t/ha
Umur panen 83 hari
Biji sedang (10,7 g/100 biji)
Toleran hama ulat grayak
Anjasmoro
Potensi hasil 3,7 t/ha
Umur panen 82–92 hari
Biji besar (16 g/100 biji)
Tahan rebah, agak tahan karat daun
polong tidak mudah pecah
Grobogan
Potensi hasil 3,4 ton/ha
Umur panen 76 hari
Biji besar (18 g/100 biji)
Sesuai untuk lahan kering pada awal musim hujan
Gepak Kuning
Potensi hasil 2,9 t/ha
Umur panen 73 hari
Biji kecil (8,25 g/100 biji)
Rendemen tahu tinggi
DETAM-2 (Kedelai Hitam)
Potensi hasil 3,0 t/ha
Umur panen 82 hari;
Biji sedang (13,54 g/100 biji)
Protein 45,58% bk;
Agak tahan pengisap polong
Agak tahan kekeringan
Sesuai untuk kecap

Budidaya Sorgum

Budidaya Sorgum, Pengembangan tanaman serelalia selain padi dan jagung perlu dilakukan untuk
menunjang pengembangan diservikasi pangan sebagai bahan alternatif guna memenuhi
kebutuhan pangan (hidup) dimasa mendatang. Tanaman sorgum mempunyai keunggulan yang
tak kalah dengan tanaman pangan lain seperti : daya adaptasi luas, tahan terhadap kekeringan, dapat diratun, dan sangat cocok dikembangkan di daerah marginal. Seluruh bagian tanaman mempunyai nilai ekonomis. Selain budidaya yang mudah, sorgum juga mempunyai manfaat yang sangat luas antara lain untuk pakan ternak, bahan baku industri makanan dan minuman,bahan baku untuk media jamur merang (mushroom), industri alkohol, bahan baku etanol dansebagainya.

Tanaman sorgum dapat berproduksi walaupun dibudidayakan dilahan kurang subur,
air yang terbatas dan masukan (input) yang rendah, bahkan di lahan berpasirpun sorgum dapat
dibudidayakan. Namun apabila ditanam pada daerah yang berketinggian diatas 500m dpl
tanaman sorgum akan terhambat pertumbuhanya dan memiliki umur yang panjang.
Tanaman sorgum sebenarnya sudah lama dikenal dan sudah banyak ditanam petani di
Indonesia. Namun tampaknya, tanaman ini kurang berkembang dengan baik. Pengembangan
jenis tanaman pangan ini akan dapat berhasil apabila dikelola dengan baik.

A. Penyiapan Lahan dan Pengelolaan Tanah
Pengolahan tanah paling baik dilakukan 2-4 minggu sebelum tanam.
1. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, kemudian dicangkul atau
dibajak 2 kali setelah itu digaru dan diratakan.
2. Dibuat saluran drainase disekeliling atau ditengah lahan.Untuk lahan yang hanya
mengandalkan residu air tanah, pengolahan dilakukan secara ringan dengan
mencangkul tipis permukaan tanah untuk mematikan gulma. Pengolahan tanah secara
ringan sangat efektif untuk manghambat penguapan air tanah sampai tanaman panen.
3. Tanah yang sudah diolah sebaiknya diberi pupuk organik, misalnya pupuk kandang
atau kompos.
Pengolahan tanah ini bertujuan antara lain untuk memperbaiki struktur tanah, memperbesar
persediaan air, mempercepat pelapukan, meratakan tanah dan memberantas gulma.

B. Pemilihan Varietas
Varietas unggul yang dianjurkan untuk ditanam harus memeperhatikan kegunaan dan
lingkungan tumbuhnya. Untuk keperluan konsumsi pangan manusia (pangan) varietas yang
dianjurkan antara lain UPCA SI, Keris, Badik dan Hegari Genjah. Karena varietas ini
mempunyai keunggulan berumur genjah, tinggi batang sedang, berbiji putih dengan rasa
sebagai nasi cukup enak. Varetas Numbu dan Kawali yang dilepas tahun 2001 juga
mempunyai rasa olah sebagai nasi cukup enak, namun umurnya relatif lebih panjang.
Sedangkan untuk pakan ternak dipilih varietas sorgum yang tahan hama penyalit, tahan rebah,
tahan disimpan dan dapat diratun. Pada lingkungan yang ketersediaan airnya terbatas dan
masa tanam yang singkat dipilih varietas-varietas umur genjah seperti Keris, Badik, Lokal
Muneng dan Hegari Genjah. Ditinjau dari segi hasil, varietas umur genjah memang hasilnya
jauh lebih rendah daripada varietas umur sedang atau dalam, tetapi keistimewaannya dapat
segera dipanen, menyelamatkan dari resiko kegagalan hasil akibat kekeringan.

C. Penanaman
Sorgum dapat ditanam pada sembarang musim asalkan pada saat tanaman muda tidak
tergenang atau kekeringan. Namun, waktu tanam yang baik adalah pada akhir musim hujan
atau awal musim kemarau. Kebutuhan benih untuk bertanam sorgum berkisar 10 kg/ha
dengan jarak tanam 70 cm x 20 cm cm atau 60 cm x 20 cm tergantung tingkat kesuburan
tanah. Menanam sorgum dapat dilakukan dengan cara ditugal seperti halnya menanam jagung,
bila jaraknya tidak terlalu rapat. Lubang tanam diisi sekitar 3-5 biji benih, kemudian ditutup
dengan tanah ringan. Pada saat tanam, dibuat juga lubang pupuk dengan tugal sejauh 15 cm
dari lubang tanam.

D. Pemupukan
Sebaiknya pemupukan diberikan secara lengkap (NPK) agar produksi yang dihasilkan
cukup tinggi. Dosis pemupukan yang diberikan berbeda-beda tergantung pada tingkat
kesuburan tanah dan varietas yang ditanam, tetapi secara umum dosis yang dianjurkan adalah
200kg urea, 100kg TSP atau SP36 san 50kg KCL. Pemberian pupuk Urea diberikan dua kali,
yaitu 1/3 bagian diberikan pada waktu tanam sebagai pupuk dasar bersama-sama pemberian
pupuk TSP/SP36 dan KCL. Sisanya (2/3 bagian) diberikan setelah umur satu bulan setelah
tanam. Pemupukan dasar dilakukan saat tanam dengan cara ditugal sejauh 7 cm dari lubang
tanam,sedang KCL dalam lubang di sisi yang lain. Pemupukan kedua juga ditugal sejauh ± 15
cm dari barisan, kemudian ditutup dengan tanah. Lubang tugal baik untuk pupuk dasar
maupun susulan sedalam ± 10 cm.
E. Pemeliharaan
1. Pengairan
Walaupun tanaman tahan terhadap kekeringan, namun pada fase awal pertumbuhan
membutuhkan air yang cukup.
2. Penjarangan Tanaman
Tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam dilakukan penjarangan agar diperoleh
tanaman sorgum yang tumbuh subur dan berproduksi tinggi. Caranya, dengan
mencabut rumpun tanaman yang kurang baik dan hanya disisakan 2 rumpun tanaman
untuk dipelihara hingga panen.
3. Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan mencabut tumbuhan pengganggu (gulma) hingga
perakarannya secara hati-hati, agar tidak mengganggu perakaran tanaman utama.
Gulma yang telah dicabut sebaiknya ditampung atau dikubur disuatu tempat agar
membusuk sehingga kemudian dapat dijadikan kompos.
4. Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan cara menggemburkan tanah disekitar tanaman sorgum,
kemudian menimbunkan tanah tersebut pada pangkal batang tanaman sorgum shingga
sehingga membentuk gundukan-gundukan kecil yang bertujuan untuk mengokohkan
batang tanaman agar tidak mudah rebah dan merangsang terbentuknya akar-akar baru
pada pangkal batang.
5. Hama Penyakit dan Cara Pengendaliannya
1) Colletortichum gramini colum (Ces.) G.W. Wild (Penyakit Bercak Daun)
Penyakit ini menyebabkan bercak pada daun dengan warna kemerah-merahan atau
keungu-unguan dan menyebabkan busuk merah pada batang dimana jaringan bagian
dalam buku berair dan berubah warnanya. Penyakit ini menyebar secara luas. Bercak
daun mengakibatkan daun mengering, karena itu butir menjadi hampa, sementara
busuk merah menyebabkan batang berair dan patah.
2) Helmithosporium turcicum Pass (Penyakit Blight)
Penyakit ini menyerang sorgum secara luas, terutama pada kondisi yang lembab.
Serangan penyakit ini menimbulkan bintik-bintik ungu kemerah-merahan atau
kecoklatan yang akhirnya menyatu. Penyakit blight daun dapat menyerang
pembibitan maupun tanaman dewasa. Kultivar yang resisten belum diketahui.
3) Puccinia purpurea Cooke
Penyakit karat sering terjadi secara luas pada sorgum tetapi pertumbuhan penyakit
tidak berlangsung lagi apabila tanaman sorgum telah mencapai dewasa.
4 ) Atherigona varia Soccata (Rond.) (Lalat Bibit Sorgum).
Hama ini merupakan hama yang utama di daerah tropis. Prinsip pengendaliannya
adalah dengan penanaman pada waktunya (tanam serempak) dan menanam kultivar
yang mempunyai kemampuan memulihkan luka setelah diserang.
5) Prodenia Litura F. (Ulat dawn).;
Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida dengan jenis dan dosis yang
dianjurkan.
F. Panen
Tanaman sorgum sudah dapat dipanen pada umur 3-4 bulan tergantung varietas.
Penentuan saat panen sorgum dapat dilakukan dengan berpedoman pada umur setelah biji
terbentuk atau dengan melihat ciri-ciri visual biji. Pemanenan juga dapat dilakukan setelah
melihat adanya ciri-ciri seperti daun-daun berwarna kuning dan mengering, biji-biji bernas
dan keras serta berkadar tepung maksimal.
G. Budidaya Lanjutan
Untuk meningkatkan produksi sorgum dapat dilakukan budidaya lanjutan dengan cara
ratun yaitu pemangkasan batang tanaman pada musim panen pertama yang dilanjutkan
dengan pemeliharaan tunas –tunas baru pada periode kedua. Adapun tatacara budidaya
sorgum ratun setelah panen musim pertama adalah sebagai berikut :
1. Setelah panen pertama segera dilakukan pemotongan batang yang tua tepat di atas
tanah.
2. Tanah dan di sekitar sorgum dibersihkan dari rumput liar dan gulma.
3. Dibuatkan larikan kecil sejauh 10-15 cm dari pangkal batang tanaman sorgum
kemudian disebarkan pupuk yang terdiri dari 45 kg Urea + 100 kg TSP +50 kg
KCL per hektar. Satu bulan kemudian diberikan pupuk susulan berupa 90 kg
Urea/ha.
4. Tanaman yang berasal dari tunas-tunas baru (ratun) dipelihara dengan baik seperti
Pada pemeliharaan tanaman periode pertama.
Pada stadium buah tua dilakukan panen musim kedua. Pemotongan harus tepat
dilakukan diatas permukaan tanah agar tunas-tunas baru tumbuh dari bagian batang yang
berada pada dalam tanah.
I. Pasca Panen
1. Pengeringan.
Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam hingga kadar
air biji mencapai 10 – 12 %.
2. Penyimpanan
Bila biji disimpan dalam ruangan khusus penyimpanan (gudang), maka tinggi gudang
harus sama dengan lebarnya supaya kondensasi uap air dalam gudang tidak mudah
timbul. Dinding gudang sebaiknya terbuat dari bahan yang padat sehingga perubahan
suhu yang terjadi pada biji dapat dikurangi. Tidak dianjurkan ruang penyimpanan dari
bahan besi, karma sangat peka terhadap perubahan suhu. Sebelum disimpan biji harus
kering, bersih dan utuh (tidak pecah).
J. Pengolahan
• Bergs Sorgum (bergs sorgum giling)
Bergs Sorgum yang dimaksud adalah biji Sorgum lepas kulit sebagai hasil penyosohan
sehingga diperoleh bergs sorgum giling. Untuk menyosoh biji sorgum digunakan
mesin yang terdiri dari silinder gurinda batu, sehingga bergs yang dihasilkan putih
bersih. Dengan sifat ini ternyata sorgum jenis non waxy dapat digunakan sebagai nasi,
bubur dan bentuk olahan lain. Sedangkan jenis sorgum ketan (waxy Sorgum) yang
rasanya pulen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat minyak (snack) seperti tape,
Temper, rengginang dan wajik.
• Tepung Sorgum.
Tepung sorgum dapat diperoleh dengan menggiling bergs sorgum dalam mesin yang
dilengkapi dengan silinder besi yang tajam dan licin. Campuran 60% tepung kedelai
dengan 30% tepung sorgum dapat menghasilkan roti dan kue yang cukup baik dan
murah harganya.
• Uji ( thin poridge )
Jenis makanan ini terbuat dari tepung sorgum dan banyak dipakai di negara kenya,
Tanzania, Uganda, Sudan dan India dengan nama yang berbeda-beda. Uji dibuat dari
1 bagian tepung sorgum. 3 – 4 bagian air, satu bagian susu cair dan gula secukupnya.
Cara membuat:
Mula-mula tepung dicampur bagian air yang tersedia, tutup wadahnya dan biarkan
selama 24 jam. Air yang tersisa didihkan dan ditambahkan pada tepung yang
terfermentasi tadi, kemudian dimasak selama 10-15 menit sehingga halus dan kental
lalu tambahkan gula selanjutnya dihidangkan.
• I Ugali ( Stift Oorrid)
Jenis makanan ini berasal dari Uganda dan Kenya dengan nama Tuwo dan di India
disebut sangat.
Cara membuat ugali sama dengan membuat uji. hanya disini tepung yang digunakan
jumlahnya lebih banyak dan berasal dari biji yang disangrai. kecambah atau biji yang
dikuliti. Selama ditanak. ugali tidak menyebar atau tidak meleleh bila dimasukkan ke
dalam air dingin.

Budidaya Jagung

Tanaman jagung merupakan bahan baku industri pakan dan pangan serta sebagai makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia. Dalam bentuk biji utuh, jagung dapat diolah misalnya menjadi tepung jagung, beras jagung, dan makanan ringan (pop corn dan jagung marning). Jagung dapat pula diproses menjadi minyak goreng, margarin, dan formula makanan. Pati jagung dapat digunakan sebagai bahan baku industri farmasi dan makanan seperti es krim, kue, dan minuman.

Karena cukup beragamnya kegunaan dan hasil olahan produksi tanaman jagung tersebut diatas, dan termasuk sebagai komoditi tanaman pangan yang penting, maka perlu ditingkatkan produksinya secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan.

SYARAT PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG

Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal.

Suhu optimum antara 230 C – 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG
A. Syarat Benih Jagung

Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).
B. Pengolahan Tanah

Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm.

Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek. Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.
C. Pemupukan

Takaran per hektar pupuk kandang 2 ton, urea 300 kg, SP36 150 kg, KCl 75 kg. Pupuk urea diberikan 2 kali, masing-masing 1/2 bagian pada saat tanaman berumur 18 hari dan 35 hari. Sedangkan pupuk kandang, SP36 dan KCl diberikan seluruhnya pada saat tanam.
D. Penanaman Jagung

Waktu tanam · Sebaiknya musim penghujan.
1. Penentuan Pola Tanaman Jagung

Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :

– Tumpang sari ( intercropping ),melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.

– Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.

– Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ),pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.

– Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ), penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
2. Lubang Tanam dan Cara Tanam Tanaman Jagung

Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40×100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25×75 cm (1 tanaman/lubang).

– Penjarangan dan Penyulaman

Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

– Penyiangan

Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

– Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

– Pengairan dan Penyiraman

Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.