SAAT DAN CARA PANEN KACANG KEDELAI

Supaya diperoleh hasil mutu benih yang baik, memperkecil risiko pecahnya polong di lapang, serta menghindari biji bercendawan, panen kedelai sebaiknya dilakukan segera setelah kadar air biji di bawah 18% basis basah (bb), sebelum terjadi pembasahan kembali oleh hujan. Keadaan demikian dapat diperoleh dari pertanaman musim kemarau atau di daerah kering. Dari pertanaman musim hujan, kedelai brangkasan dapat dikeringkan dengan alat pengering buatan dengan suhu udara pengering 40-45°C .
 
 
Waktu panan umur tanaman kedelai bisa jadi patokan (Tabel 1). Keanekaragaman umur panen disebabkan antara lain oleh perbedaan musim tanam, tinggi tempat, suhu udara, dan ketersediaan air. Oleh karena itu, umur panen dapat dinyatakan dalam parameter yang mencerminkan kebutuhan kalori tanaman kedelai dari tanam hingga panen dalam satuan degree-days. Berdasarkan metode tersebut, umur panen kedelai secara taksonomik thermal adalah, umur genjah (1022 ± 24 hingga 1049 ± 14, degree-days), umur tengahan (1073 ± 13 hingga 1081 ± 12, degree-days), dan umur dalam (1154 ± 33 hingga 1184 
Pelaksanaan panen dapat dilakukan dengan sabit tajam atau bergerigi dengan memotong pangkal batang. Cara panen ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan cara dicabut, karena cepat, dapat diterapkan pada kondisi kering maupun basah, Rhizobium tetap tertinggal dalam tanah dan brangkasan bersih dari tanah. Untuk pemanenan seluas 100 meter persegi, panen dengan sabit bergerigi, sabit biasa, dan dicabut berturut-turut membutuhkan waktu 40, 60, ± 57, degree-days).
 
 
Untuk mempercepat proses panen, alat panen kedelai dengan tenaga traktor tangan sudah mulai dikembangkan. Hasil penelitian di Thailand menunjukan bahwa modifikasi alat panen padi menjadi alat panen kedelai dapat menekan kehilangan hasil dari 13,2% menjadi 6,3% pada kapasitas 0,083 ha/jam. Alat pemanenan tersebut mencapai titik impas pada luas areal panen 20 ha/tahun (Vejasit et al. 1995). Thailand sudah mengembangkan alat khusus untuk kedelai yang kapasitas lapangnya sekitar enam kali dari panen secara manual, alat panen kedelai tersebut menggunakan tenaga traktor tangan.

Penulis :`Ibrahim, Saragih / Penyuluh Pertanian
Sumber :
– Pusat Penelitian Tanaman Pangan Badan Litbang, 2007, Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan, Bogor
– Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Litbang, 2007, Panduan Umum Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai, Jakarta

HAMA PENGGEREK POLONG (Etiella spp) pada tanaman Kedelai

Ulat yang menyerang tanaman kedelai pada stadia polong adalah ulat penggerek polong (Etiella zinckenella). Ulat ini terdapat di sebagian besar daerah tropis. Ulat penggerek polong ini memiliki tanaman inang kedelai, Crotalaria juncea, Crotalaria striata dan Tephrosia purpurea. Kedelai merupakan tanaman inang yang paling tinggi tingkat serangannya.

Ciri-ciri Etiella spp. :
• Ngengat berwarna kuning keabu-abuan dengan ukuran 1.7-2.5 cm, dan aktif pada malam hari serta sangat menyukai cahaya.
• Ngengat betina dapat bertelur sekitar 73-204 butir yang diletakkan pada bagian bawah kelopak bunga dan polong kedelai, berbentuk lonjong dan berukuran 0,6 mm. Telur muda berwarna putih mengkilap dan setelah tua menjadi jingga berbintik-bintik merah. Telur menetas pada umur kurang lebih 3-4 hari.
• Ulat yang baru menetas berjalan-jalan di permukaan polong selama beberapa waktu, kemudian menggerek ke dalam polong dan memangsa biji kedelai. Ulat berwarna hijau kekuningan sampai merah muda dengan bagian punggung bergaris hitam.
• Lama stadium ulat kurang lebih 12-19 hari, dengan rata-rata 15 hari.
• Pupa atau kepompong berada dalam tanah dengan kedalaman 2-3 cm, berwarna cokelat, berbentuk bulat lonjong dengan ukuran 1.5 cm.
• Lama stadium kepompong kurang lebih 8-13 hari dengan rata-rata 11 hari.
Gejala serangan :
• Ulat menggerek polong kedelai kemudian hidup dan tinggal di dalam polong dan memakan biji kedelai yang masih utuh.
• Ulat menyebabkan kerusakan pada polong muda dan tua.
• Ulat juga sering merusak bunga, yang pada akhirnya menyebabkan kegagaln pembentukan buah atau polong.
• Kerusakan polong muda mengakibatkan biji kedelai tidak berkembang dan polong rontok.
• Pada tingkat serangan tinggi, kerugian hasil dapat mencapai lebih dari 90%.

Pengendalian :
Pengendalian hama penggerek polong sebaiknya dilakukan secara terpadu atau PHT yaitu suatu cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir yang apabila serangan hama penggerek polong telah melampaui batas ambang kendali yaitu bila telah ditemukan kerusakan polong sekitar 2,5% atau terdapat 2 ekor ulat per tanaman saat tanaman kedelai berumur lebih dari 45 hari. Adapun komponen pengendalian hama penggerek polong kedelai adalah dengan cara sebagai berikut :

• Tanam serempak dalam kurun 10 hari (tidak lebih dari 10 hari)
• Pergiliran tanaman bukan inang
• Pemasangan lampu perangkap karena ulat ini menyukai cahaya
• Tanaman perangkap berupa jagung umur genjah, sedang dan dalam pada pematang.
• Jika sudah mencapai ambang kendali (dengan kerusakan polong 2.5% atau jika ditemui 2 ekor ulat/rumpun pada umur lebih dari 45 hari), tanaman dapat disemprot dengan insektisida effektif.
• Insektida yang dapat digunakan Atabron 50EC, Bassa 500EC, Buldok 25EC, Cymbush 50EC, Dimacide 40EC,maupun Dimilin 25WP.
Penulis : Siti Nurjanah, Penyuluh Pertanian Madya Pusbangluhtan.
Sumber : Balitan, 1985. Petunjuk bergambar untuk identifikasi hama dan penyakit kedelai di Indonesia. 
Teknologi Budidaya Kedelai, 2008. BPTP Yogyakarta.
Teknologi Budidaya Kedelai, 2008.BBP2TP Badan Litbang.

KEPIK HIJAU (Nezara viridula), HAMA PENGISAP POLONG KEDELAI

Hama pengisap polong pada tanaman kedelai yang disebabkan oleh kepik hijau (Nezara viridula) dapat menyebabkan penurunan hasil dan bahkan dapat menurunkan kualitas biji. Akibat dari isapan hama pengisap polong dapat menyebabkan kehampaan, terlambat tumbuh dan terbentuk biji-biji yang cacat bentuknya yang biasanya memiliki bekas isapan.
Nezara viridula tersebar luas di daerah tropis dan subtropis. Di Indonesia, selain menyerang tanaman kedelai, serangga ini juga menyerang tanaman padi, jagung, tembakau, kentang, cabe, kapas dan berbagai jenis tanaman berpolong.
 
 
Ciri-ciri Nezara viridula :
• Serangga dewasa biasanya berwarna hijau yang merata pada seluruh tubuh, tetapi kadang-kadang berwarna kuning pada bagian kepala dan protorak, dan jarang sekali yang seluruh tubuhnya berwarna kuning.
• Tubuhnya berbentuk segilima seperti perisai, panjang tubuh sekitar 1-1.5 cm dan kepalanya bersungut.
• Di punggungnya terdapat 3 bintik berwarna hijau. Sedangkan nimfanya (kepik muda) memiliki warna berbeda-beda tergantung perkembangan instarnya. Pada awalnya berwarna coklat muda, kemudian berubah menjadi hitam dengan bintik-bintik putih. Selanjutnya warna berubah menjadi hijau dan berbibtik-bintik hitam dan putih. 
• Kepik betina dewasa bertelur pada permukaan bawah daun dan jumlahnya mencapai 1100 butir selama hidupnya.
• Telurnya berwarna kekuningan, kemudian berubah menjadi kuning, tetapi menjelang menetas warnanya berubah menjadi kemerahan (merah bata). Telur berbentuk oval agak bulat seperti tong.
• Periode telur 4-6 hari.
• Perkembangan dari telur sampai menjadi serangga dewasa kurang lebih selama 4-8 minggu.
 
Gejala serangan :
• Nimfa dan serangga dewasa merusak tanaman dengan cara mengisap polong kedelai.
• Pada polong yang masih muda dan terserang kepik hijau menyebabkan polong tersebut menjadi kosong (hampa) dan kempis karena biji tidak terbentuk dan polong gugur. 
• Pada polong tua menyebabkan biji keriput dan berbintik-bintik hitam yang pada akhirnya biji menjadi busuk.

Pengendalian : 
Prinsip pengendalian hama secara terpadu atau PHT merupakan suatu cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan masih menjadi alternative utama dalam pengendalian hama pengisap polong kepik hijau (Nezara viridula). Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir yang apabila serangan hama kepik hijau telah melampaui batas ambang kendali yaitu bila telah ditemukan kerusakan polong lebih dari 2% atau terdapat sepasang kepik dewasa per tanaman saat tanaman kedelai berumur lebih dari 45 hari setelah tanam. Adapun komponen pengendalian hama pengisap polong kedelai adalah dengan cara sebagai berikut :

• Tanam serempak dalam tidak lebih dari 10 hari.
• Pergiliran tanaman bukan inang.
• Pengumpulan kepik dewasa ataupun nimfa untuk dimusnahkan.
• Menjaga kebersihan lahan dari tanaman penganggu atau gulma.
• Menggunakan pestisida apabila serangan telah melampaui batas ambang kendali.

Penulis : Siti Nurjanah, Penyuluh Pertanian Madya Pusbangluhtan.
Sumber : Balitan, 1985. Petunjuk bergambar untuk identifikasi hama dan penyakit
kedelai di Indonesia. 
Teknologi Budidaya Kedelai, 2008. BPTP Yogyakarta.

Memilih Benih dan Persemaian PadiI IR 64

Padi IR 64 merupakan salah satu varietas unggul padi sawah yang dilepas pemerintah mulai tahun 1986. Sampai saat ini masih disukai petani, karena umur tanam lebih pendek, nasinya pulen, dan mudah dijual karena harga terjangkau oleh masyarakat. Untuk memperoleh hasil padi IR 64 yang tinggi harus menggunakan benih bermutu dengan varietas unggul, yaitu benih padi IR 64 yang bersertifikat. Dalam penggunaan benih bersertifikat tidak semua dapat ditanam sebagai benih, melainkan harus dipilih yang bagus. Cara memilih benih padi yang bagus ada 3 (tiga) cara dan petani hanya cukup menggunakan satu cara saja.
Setelah memperoleh benih yang bagus, petani harus berupaya memperoleh bibit padi yang bagus dengan memperhatikan persemaian/pembibitan. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: letak lokasi, cara mengolah tanah, cara melindungi bibit, dan lain-lain.
Dari uraian tersebut di atas, petani perlu mengetahui hal-hal sebagai berikut.
Keuntungan penggunaan benih bermutu
Penamanan padi IR 64 disarankan menggunakan benih bermutu varietas unggul yang bersertifikat, karena akan memperoleh keuntungan sebagai berikut:
–  Jika disemaikan akan menghasilkan bibit yang tegar dan sehat.
–  Tanaman yang sehat dengan perakar baik dan banyak.
–  Menghasilkan kecambah yang tinggi dan pertumbuhan yang seragam.
–  Dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, setelah ditanam (dipindah ke lahan tanam).
–  Tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 & 2 dan virus kerdil rumput. 
–  Agak tahan wereng coklat biotipe 3 hawar daun bakteri strain IV.
–  Akan diperoleh hasil yang tinggi dan mutu hasil lebih baik.
Cara memilih benih yang baik
Setiap sawah yang akan ditanami padi seluas 1 hektar membutuhkan benih sebanyak kira-kira 20 kg. Benih yang akan ditanam harus dipilih yang baik. Memilih benih padi yang baik ada 3 cara, tetapi hanya satu cara saja yang dipakai. Pilih satu dari 3 cara berikut:
1. Pemilihan benih yang baik dengan telur dan air garam
    –  Siapkan ember dengan ukuran minimal cukup untuk 3 kali volume/banyaknya benih.
    –  Masukan air ke dalam ember, sebanyak kira-kira 2 kali volume benih.
    –  Letakan telur di dasar air dan masukan garam dapur sedikit demi sedikit sampai telur terangkat ke permukaan air, lalu telur diambil.
    –  Kemudian masukan benih padi IR 64 ke dalam larutan air garam.
    –  Selanjutnya di aduk-aduk dan benih yang mengambang dibuang atau tidak ditanam.
    –  Benih yang tengelam disemaikan.

2. Pemilihan benih yang baik dengan air garam 
    –  Siapkan ember dengan ukuran minimal cukup untuk 3 kali volume benih.
    –  Buatlah larutan 20 gram garam dapur dalam 1 liter air 
    –  Masukan larutan garam ke dalam ember sebanyak 2 kali volume benih.
    –  Masukan benih ke dalam larutan garam tersebut.
    –  Kemudian di aduk-aduk dan benih yang mengambang dibuang atau tidak ditanam.
    –  Benih yang tengelam disemaikan.
3. Pemilihan benih yang baik dengan pupuk ZA
    –  Siapkan ember dengan ukuran minimal cukup untuk 3 kali volume benih.
    –  Buatlah larutan 20 gram pupuk ZA dalam 1 liter air.
    –  Masukan larutan pupuk ZA ke dalam ember sebanyak 2 kali volume benih.
    –  Masukan benih ke dalam larutan pupuk ZA tersebut.
    –  Kemudian di aduk-aduk dan benih yang mengambang dibuang atau tidak ditanam.
    –  Benih yang tengelam disemaikan.
Perlakuan benih padi untuk disemaikan
Setelah mendapatkan benih padi yang baik atau benih padi yang tenggelam, tidak langsung disebar pada persemaian tetapi harus dilakukan hal-hal berikut: 
Benih yang tenggelam dibilas dengan air bersih, agar tidak mengandung larutan garam atau pupuk.
Setelah bersih, benih direndam selama 24 jam, kemudian ditiriskan selama 48 jam. Lalu benih siap disebar pada bedengan persemaian.
Cara persemaian/pembibitan
–  Pilih lokasi persemaian dekat dengan sumber air dan memiliki drainase yang baik, agar air di persemaian dapat diatur dengan baik (cepat diairi dan cepat pula dikeringkan menurut kebutuhan). 
–  Buatlah bedengan pembibitan seluas 400 m2, dengan lebar 1 – 1,2 m dan panjangnya menurut keadaan lahan. Antar bedengan dibuat parit sedalam 25 – 30 cm. 
–  Setiap 2 m2 bedengan campurkan kera-kira 2 kg bahan organik seperti kompos atau pupuk kandang atau campuran serbuk kayu, abu, sekam padi. Pemberian bahan organik pada persemaian ini akan memudahkan pencabutan bibit padi sehingga kerusakan akar dapat dikurangi.
–  Persemaian perlu dilindungi dari hama tikus, sebab tikus sangat senang benih padi yang baru disebar, dengan cara:
–  Buat pagar plastik mengelilingi tempat pembibitan.
–  Cara ini akan lebih baik/tepat apabila tempat persemaian beberapa petani dalam satu lokasi, dipasang bubu perangkap pada pagar plastik untuk pengendalian tikus sejak dini.
–  Sebarlah benih padi secara merata di atas bedengan.
Penulis : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian Pusbangluhtan)
Sumber Informasi:
1. Anonim. Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 2008.
2. Anonim. Teknologi Budidaya Padi. Jakarta: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 2008.
3. Anonim. Pedoman Umum. Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai Melalui Pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terapadu (SL-PTT). Jakarta: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2008. 
4. Website gambar persemaian padi.

Varietas Unggul Sembada 101 (Padi Hibrida Ysuper 101)

Varietas padi sawah dari hasil persilangan yang dilakukan para ahli peneliti di pusat penelitian tanaman padi yang telah banyak dilepas salah satunya adalah varietas padi hibrida Sembada 101. Berdasarkan keunggulan yang dimiliki hibrida Ysuper 101 dari segi potensi hasil ketahanan hama penyakit maka Menteri Pertanian melepas galur padi hibrida Ysuper 101 sebagai varietas unggul dengan nama Sembada 101.
Keunggulan Padi Hibrida varietas Sembada 101 seperti varietas lainnya juga yang secara bertahap mengalami perbaikan dan keunggulan dari varietas yang sebelumnya. Keunggulan tersebut dalam hal produksi potensi tinggi dan ketahanan terhadap hama penyakit. Secara rinci dekripsipadi Padi Hibrida Varietas Sembada 101 akan diuraikan di bawah ;
Deskripsi Varietas Unggul Sembada 101 (Padi Hibrida Ysuper 101)
Asal
:
Introduksi dari China,
merupakan keturunan Pertama hasil persilangan CMS Den76 A x Restorer
Qonghuei2300
Golongan  
:
Indica
Umur Tanaman  
:
± 110 Hari
Bentuk Tanaman  
:
Tegak
Tinggi Produktif
:
± 113 cm
Anakan Produktif
:
± 14 Batang
Warna kaki                                                  
:
Ungu
Warna telinga daun
:
Ungu
Warna lidah daun
:
Hijau
Warna daun  
:
Hijau
Permukaan
daun                                         
:
Kasar
Posisi
daun                                                 
:
Tegak
Posisi daun bendera
:
Tegak
Warna batang  
:
Hijau
Kerebahan
:
Tahan
Kerontokan
:
Sedang
Bentuk gabah  
:
Ramping
Warna gabah  
:
Kuning
Rata – rata hasil
:
9,8 ton / ha GKG
Potensi hasil  
:
13, 1 ton / ha GKG
Berat 1000
butir                                 
:
± 29,5 gram
Tekstur
nasi                                       
:
Pulen
Kadar amilosa  
:
± 19,4 %
Ketahanan terhadap
hama              
:
Agak tahan terhadap
Wereng batang coklat biotipe 2, agak peka terhadap Wereng batang coklat
biotipe 3
Ketahanan terhadap
penyakit            
:
Tahan terhadap
penyakit hawar daun baktri patotipe III, agak tahan virus tungro isolat
Subang dan Lanrang, agak peka penyakit hawar daun bakteri patotipe IV dan VII
dan peka virus tungro isolat
Pemulia
:
Su Yao ; Sudibyo TW.
Utomo ; B. Sutaryo ; Satoto ; Nofizana Hoenedi
Peneliti
:
Susanto : Suparman Y.H
; Soni Sapta M ; Baehaki ; Triny S. Kadir ; Prihadi W
Teknisi
:
Hari ; Sugeng ; Teguh
; Hari M ; Arief M ; Sriono ; Sujianto ; Takdir ; Hamming ; Suwardi ; Ujang.
Keterangan
:
Dianjurakan ditanam
mengikuti kaidah PTT.
Pengusul
:
PT. BIOGENE PLANTATION

Dari deskripsi Padi Hibrida Varietas Sembada 101 tersebut di atas terlihat bahwa umur genjah sampai dapat dipanen lebih kurang 110 hari, artinya varietas sembada 101 dapat dipanen bisa lebih cepat atau lebih lambat dari 101 hari tergantung dari kondisi iklim dan kesuburan tanah di lapangan. Produktivitas hasil dapat mencapai 13,1 ton/ha GKG dan rata – rata hasil sebesar 9,8 ton/ha GKG. Artinya jika budidaya tanaman Padi Hibrida Varietas Sembada 101 dikelola dengan baik maka dapat menghasilkan produksi padi sampai sebesar 13,1 ton/ha GKG. Memiliki isi gabah banyak dengan berat 1000 butir adalah ± 29,5 gram, varietas ini tahan terhadap penyakit hawar daun patotipe III
Oleh ; Dr. H. Ibrahim Saragih / Penyuluh pertanian
Sumber ; Sumber : SK Menteri Pertanian No 2231/ kpts/ SR.120/6/2010

Padi Sawah Varietas Pandanputri

Salah satu varietas padi sawah dari hasil persilangan yang dilakukan para ahli peneliti di pusat penelitian tanaman padi yang telah dilepas sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian berdasarkan SK Nomor 2366 / kpts/ SR.120/6/2010 adalah varietas padi sawah Pandanputri sebagai varietas unggul.
Keunggulan Padi sawah varietas Pandanputri seperti varietas lainnya juga yang secara bertahap mengalami perbaikan dan keunggulan dari varietas sebelumnya. Keunggulan tersebut dalam hal; produksi tinggi, cukup tahan rebah dan ketahanan terhadap hama penyakit. Secara rinci deskripsi padi sawah varietas Pandanputri dapat dilihat di bawah:

Deskripsi Padi Sawah Varietas Pandanputri
No. Seleksi                              : PW 67-a-PsJ
Asal                                        : Iradiasi galur mutan PW 1-PsJ dengan sinar gamma dosis 0,2 kGy.
Golongan                                : Bulu
Umur Tanaman                       : 127 – 130 hari di dataran tinggi
                                                 115 – 120 hari di dataran tinggi
Bentuk Tanaman                     : Tegak
Tinggi Produktif                        : ± 140 cm
Anakan Produktif                     : ± 15 Batang
Warna kaki : Hijau
Warna telinga daun                 : Tidak Berwarna
Warna lidah daun                    : Tidak Berwarna
Warna daun                             : Hijau
Permukaan daun                      : Kasar
Posisi daun                              : Tegak
Posisi daun bendera                : Miring
Warna batang                          : Hijau
Kerebahan                               : Cukup tahan
Kerontokan                               : Tahan
Bentuk gabah                            : Agak bulat, gemuk
Warna gabah                            : Warna Jerami
Rata – rata hasil                        : 6,5 ton / ha GKG
Potensi hasil                             : 8,0 ton / ha GKG
Berat 1000 butir                        : ± 28,0 gram
Tekstur nasi                              : Pulen
Kadar amilosa                           : ± 23,0 %
Kadar protein                            : ± 8,3 %
Ketahanan terhadap hama     : Rentan terhadap hama wereng batang cokelat biotipe 1,2 dan 3 serta tidak tahan terhadap sundep/ beluk. 
Ketahanan terhadap penyakit   : Agak tahan hawar daun balteri, tetapi rentan terhadap penyakit tungro.
Keterangan                             : Cocok ditanam pada lahan sawah daerah Kabupaten Cianjur dengan ketinggian 0 – 700 m dpl dan tidak dianjurakan ditanam didaerah endemis wereng batang coklat.
Pemulia                                      : Moch. Ismachin, Tatang Rustandi, Darmo Putro, H. Sobrizal, Suwiito, H. Homzar Effendi.
Peneliti                                       : Muh. Busthomi, Hardedi, Ibrahim Naswari Gandana, Agus Teguh P, Arwin, Yulidar, Adipura M, T Erni W. 
Pengusul                                    : – Badan Tenaga Nuklir Nasional
                                                     – Pemerintah Kabupaten Cianjur
                                                     – PT. Sang Hyang Seri (Persero)
                                                     – DPC – HKTI Kabupaten Cianjur.

Deskripsi Padi sawah Varietas Pandanputri tersebut di atas terlihat bahwa umur sampai dapat dipanen lebih kurang 127 – 130 hari, artinya varietas pandanpurti dapat dipanen bisa lebih cepat atau lebih lambat dari 127 – 130 hari tergantung dari kondisi iklim dan kesuburan tanah di lapangan. Produktivitas hasil dapat mencapai 8,0 ton/ha GKG dan rata – rata hasil sebesar 6,5 ton/ha GKG. Artinya jika budidaya tanaman Padi Hibrida Varietas pandanputri dikelola dengan baik maka dapat menghasilkan produksi padi sampai sebesar 8,0 ton/ha GKG. Memiliki isi gabah banyak dengan berat 1000 butir butir adalah 28,0 gram, dan mempunyai tekstur nasil yang pulen. Varietas ini Agak tahan hawar daun balteri, tetapi rentan terhadap penyakit tungro.
Oleh ; Dr. H. Ibrahim Saragih / Penyuluh pertanian
Sumber : SK Menteri Pertanian No 2366/ kpts/ SR.120/6/2010

MENGENAL VARIETAS MEMBERAMO

Pelepasan varietas merupakan pengakuan pemerintah terhadap suatu varietas baru berhasil pemuliaan atau introduksi yang dinyatakan dalam Keputusan Menteri Pertanian, bahwa varietas tersebut merupakan suatu varietas unggul yang dapat disebarluaskan. Suatu varietas baru yang merupakan hasil pemuliaan atau introduksi, dapat dinyatakan sebagai varietas unggul setelah melalui uji adaptasi. Sedangkan untuk varietas lokal, dapat dinyatakan sebagai varietas unggul setelah melalui uji observasi tanaman atau melalui pemurnian.
Peluang untuk meningkatkan produksi sawah masih besar terutama pada sawah-sawah yang terjamin pengairannya, dengan tanam benih langsung dengan menggunakan benih padi Memberamo yang produksinya tinggi. Berdasarkan deskripsi padi sawah varietas Memberamo umur tanaman bekisar 115 – 120 hari, ternyata dilapangan padi Memberamo tersebut umur tanaman 105 hari.

Berdasarkan hasil pengujian Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balitan) Sukamandi MH. 1992/1993 dan MK. 1993 dan di 12 lokasi pengujian pada MH. 1993/1994 dan 1994/1995 produksi rata-rata varietas Memberamo 5 % lebih tinggi dari pada IR 64. Varietas Memberamo tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2 dan agak tahan terhadap biotipe 3, disamping itu juga tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III dan agak tahan virus tungro.
Padi sawah varietas Memberamo, masa pertanamannya dapat dipersingkat dengan cara tanam benih langsung (Tabela), dikarenakan teknologi tanam benih langsung merupakan salah satu trobosan yang menjadikan masaknya padi lebih cepat, sehingga dalam berusahatani dapat menghemat tenaga kerja dan biaya. Disamping itu, Tabela merupakan system budidaya yang menggantikan system “tandur pindah”, input produksi terutama tenaga kerja, keterampilan, waktu tanam, intensitas pertanaman (IP) dan produktivitas pertanaman yang bermuara pada peningkatan pendapatan petani.
Berkaitan dengan penghematan tenaga kerja, dimana curahan tenaga kerja yang bisa dihemat sampai 33 %. Penghematan tenaga kerja dapat diperoleh mulai dari pembutaan persemaian, pemupukan bibit, pencabutan bibit, pengangkutan bibit dan penanaman bibit. Keuntungan lainnya, yaitu : umur/masa panen lebih cepat antara 15 – 20 hari dari yang ditanam secara tanam pindah, sehingga intensitas pertanaman dapat ditingkatkan; masaknya gabah serentak, kualitas padi dan beras bermutu tinggi karena berkurangnya butir hijau.
Deskripsi varietas Memberamo, yaitu :
• Nomor pedigree : B7830f-Mr-1-2-3-2;
• Asal persilangan : B6555b-199-40/Barumun; 
• Golongan : Cere; 
• Umur tanaman : 115 – 120 hari; 
• Bentuk tanaman : tegak; 
• Tinggi tanaman : kurang lebih 126 – 140 cm; 
• Anakan produktif : 17 – 20 batang; 
• Gabah isi per malai : kurang lebih 145 biji; 
• Warna kaki : hijau; 
• Warna batang : hijau; 
• Warna daun telinga : tidak berwarna; 
• Warna lidah daun : tidak berwarna; 
• Warna daun : hijau; 
• Muka daun : kasar; 
• Posisi daun : tegak; 
• Daun bendera : tegak; 
• Bentuk gabah : ramping; 
• Warna gabah : kuning; 
• Krontokan : sedang; 
• Kerebahan : sedang; 
• Tektur nasi : pulen dan rasa enak; 
• Bobot 1000 butir gabah : kurang lebih 27 gram; 
• Kadar amilosa : kurang lebih 19 %; 
• Rata-rata hasil : 6,5 ton/ha
• Potensi hasil : kurang lebih 8 ton/ha 
• Hama penyakit : – tahan wereng coklat biotipe 1,2 dan agak tahan biotipt 3
– tahan hawar daun bakteri strain III dan agak tahan tungro
• Anjuran tanam : baik ditanam di lahan irigasi berelevasi kurang dari 550 m dpl.
( Sri Hartati )
Sumber : 1) Informasi Ringkas Teknologi Padi, Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan dengan International Rice Research Institute 2007; 2) Deskripsi Varietas Tanaman Pangan Th. 2008, Direktorat Perbenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2008; 3) Deskripsi Varietas Padi , Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi 2009

BUDIDAYA PADI SECARA ORGANIK

Budidaya padi secara organik akan menghasilkan padi yang bebas residu pestisida dan pupuk kimia. Selain ramah lingkungan, biaya pertanaman sangat rendah karena pupuk dan pestisida yang digunakan berasal dari alam di sekitar petani. 
Pemilihan Varietas: Varietas yang cocok hanya varietas alami, seperti rojolele, mentik, pandan dan lestari. Rojolele berumur dalam (150 hari), sedangkan padi pandan, lestari, dan mentik berumur genjah (100 hari).

Pembenihan
Benih harus murni, bernas, kering, sehat, bebas dari penyakit dan kotoran lain, serta memiliki daya kecambah ≥90%. Jarak tanam 25cmx25cm, setiap hektar diperlukan maksimal 30 kg benih. Jumlah benih ideal yang disebarkan sekitar 50-60 g/m2. 
Penyiapan Tempat Pembenihan : perbandingan luas lahan untuk pembenihan dengan lahan tanam 3:100
Mengecambahkan benih: Benih direndam dalam air bersih selama 2 hari. Benih yang hampa dibuang dan benih yang bernas diperam selama 2 hari agar berkecambah. Pemeraman dilakukan dengan dihamparkan di atas lantai dan kemudian ditutup karung goni basah, atau benih dimasukkan dalam karung plastik dan ditutup rapat. Benih yang sudah berkecambah disebarkan secara merata ke permukaan tanah persemaian.

Penyiapan Lahan
Perendaman lahan dilakukan selama seminggu, kemudian dibajak dengan traktor atau secara tradisional sedalam ± 30 cm. Tanah dibiarkan tergenang selama seminggu, beri pupuk kandang 5 ton/ha, lalu dibiarkan selama empat hari, kemudian dilakukan pembajakan kedua. Setelah pembajakan kedua, lahan dibiarkan tergenang selama empat hari. Kemudian lahan digaru hingga tanah menjadi lumpur. Buat alur memanjang pada tengah lahan dengan lebar 50 cm sebagai saluran keluar masuknya air.

Penanaman. 
Syarat bibit yang siap ditanam: tinggi ± 25 cm, memiliki 5-6 helai daun, batang bawah besar dan keras, bebas hama penyakit dan jenisnya seragam. Lakukan penanaman bibit 3-4 bibit per rumpun dengan kedalaman 2 buku jari tangan, dengan jarak tanam 25×25 cm. 
Umur bibit terbaik saat dipindahkan: Varietas genjah (umur 100-115hr) bibit dipindah pada umur 18-21 hari, varietas sedang (130 hari) pada umur 21-25 hari dan varietas dalam (± 150 hari pada umur 30-45 hari.
Jarak tanam: Jarak tanam antara 25 cm x 25 cm dan 30 cm x 30 cm tergantung kesuburan tanah dan varietas tanaman. Tanah yang subur jarak tanam lebih lebar, dan varietas yang merumpun tinggi jarak tanam juga lebih lebar. 
Jumlah bibit: 3-4 bibit per rumpun . Bibit yang kokoh, sehat dan merumpun banyak cukup 3 bibit per rumpun, sedangkan bibit yang kurang kokoh dan merumpun sedikit, perlu 4 bibit per rumpun.

Perawatan Tanaman
Perbedaan antara budidaya padi secara organik dan non organik adalah pada pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit. Kegiatan budidaya yang lain sama dengan padi non organik..

Pemupukan: Pupuk dasar digunakan pupuk kandang /kompos 5 ton/ha, atau bokashi 1.5-2 ton /ha, diberikan bersamaan dengan pembajakan ke dua. Pupuk disebarkan merata ke seluruh permukaan tanah, kemudian dibiarkan selama 4 hari , kemudian digaru. Pemupukan susulan pertama dilakukan 3 kali, yaitu pada saat tanaman berumur 15 hari diberi pupuk kandang 1 ton/ha, atau bokashi 0.5 ton per hektar dengan disebarkan secara merata disela-sela tanaman padi. Pemupukan susulan ke dua dilakukan saat tanaman berumur 25-60 hari dengan frekuensi seminggu sekali dengan pupuk organik cair dengan kandungan N tinggi yang disemprotkan pada daun. Pemupukan susulan ke tiga, pada saat tanaman memasuki fase generatif atau pembentukan buah yaitu saat berumur 60 hari , dipupuk dengan pupuk organik cair yang nengandung P dan K tinggi , dengan dosis 2-3 sendok makan pupuk P organik yang dicampur dengan 1.5 liter pupuk K organik. Pupuk disemprotkan ke tanaman seminggu sekali.
Penyulaman: dilakukan maksimal 2 minggu setelah tanam. Penyulaman lebih dari 2 minggu setelah tanam menyebabkan masaknya padi tidak serentak.

Pengolahan Tanah Ringan: dilakukan seminggu sebelum penyiangan pertama, kira-kira 20 hr setelah tanam, dilakukan menggunakan sorok.
Penyiangan: dilakukan agar tanaman padi dapat tumbuh sempurna karena tanaman liar dapat bersaing dalam memperoleh hara.

Pemasukan dan Pengeluaran Air. 
Penggenangan sawah dilakukan pada saat : 1) setelah bibit padi ditanam selama 15 hari, dengan ketinggian 2-5 cm dari permukaan tanah; 2) Pada fase pembentukan anakan dengan ketinggian 3-5 cm, hingga tanaman bunting, 3) pada masa bunting , dengan ketinggian 10 cm, pada saat pembungaan dengan ketinggian 5-10 cm.
Pengeringan sawah: Dilakukan pada fase sebelum bunting dan fase pemasakan biji yaitu saat seluruh bulir padi tampak menguning, dengan tujuan untuk menyeragamkan biji dan mempercepat pemasakan biji . Pengeringan ini dilakukan hingga saat panen.

Pemberantasan Hama dan Penyakit: Hama penting yaitu wereng, walang sangit, penggerek batang, ganjur, tikus dan burung pemakan biji-bijian, sedangkan penyakit penting adalah bercak cokelat, blast dan tungro. Pemberantasan harus dilakukan secara terpadu antara teknik budidaya, biologis, fisik (perangkap atau umpan) dan penggunaan pestisida organik.
Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Madya
Sumber: BUDIDAYA PADI SECARA ORGANIK, oleh Drs. Agus Andoko, 2007

Cigeulis, Varietas Unggul Padi Yang Banyak Diminati Petani

Diskripsi

Varietas padi merupakan salah satu teknologi utama yang mampu meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani. Dengan tersedianya varietas padi yang dilepas pemerintah , kini petani dapat memilih varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat, berdaya hasil dan bernilai jual tinggi.

Varietas unggul memagang peranan paling menonjol dalam peningkatan hasil dan juga merupakan komponen utama dalam pengendalian hama dan penyakit yang suka menyerang komoditas tanaman pangan ini. Salah satu varietas unggul padi yang banyak diminati petani adalah “Cigeulis”.
Varietas unggul padi yang merupakan persilangan Ciliwung/Cikapundung/IR 64 dilepas pemerintah pada tahun 2002 de3ngan Nomor Seleski S 3429-4D-PN -1-1-2. Bentuk tanamannya tegak dengan tinggi 100-110 cm dan berumur 115-125 hari. Warna kaki dan warna batangnya hijau dengan anakan produktif 14-16 batang.
Dilihat dari daunnya, warnanya hijau, posisi dan dan daun bendera tegak serta mempunyai permukaan daun agak kasar. Selain itu, telinga daun dan lidah daunnya tidak berwarna. Varietas ini mempunyai gabah yang panjang ramping dengan warna kuning bersih. Kerontokan gabah dan kerebahan tanaman sedang. Tekstur nasinya pulen dan mempunyai kadar amilosa 23 %. Rata-rata hasil varietas Cegeulis 5,0 t/ha walau pun potensi hasilnya bisa mencapai 8 t/ha. Bobot 1.000 butir 28 gram
Varietas Cigeulis tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 tetapi rentan terhadap biotipe 3, namun tahan terhadap serangan penyakit hawar daun bakteri strain IV. Varietas ini tumbuh baik pada musim hijan maupun pada musim kemarau dan cocok ditanam pada lokasi yang mempunyai ketinggian tempat < 600 meter di atas eprmukaaan laut (dpl).
Diminati Banyak Petani
Di Indonesia, laju permintaan beras (2,9 %) lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikkan produksi (2,6 %). Untuk produksi padi berbagai upaya dilakukan pemerintah, salah satunya menciptakan varietas unggul, yang selain proiduksinya tinggi dan rasa nasi enak, juga menghasilkan rendemen dan mutu beras giling yang tinggi, salah satunya adalah varietas Cigeulis. Dengan sifat seperti ini maka varietas “Cigeulis” merupakan salah satu varietas unggul padi yang banyak diminati petani sehingga pertanamannya dan penyebarannya cukup meluas.
Sifat-sifat varietas Cigeulis sebenarnya telah dimiliki oleh varietas pendahulunya, yaitu varietas “Ciherang” yang sampai saat ini belum terasingi oleh varietas mana pun. Varietas Cigeulis, mempunyai rendemen dan mutu beras giling yagn tinggi dan rasa nasinya enak. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tahun 2007 dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi varietas padi Cigeulis untuk menghasilkan mutu beras giling. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan :
1. Gabah varietas Cigeulis yang dikeringkand engan mesin dan digiling dengan 3 (tiga) macam clearance (1,0 mm; 1,2 mm dan 1,5 mm) menghasilkan mutu beras giling rata-rata lebih tinggi dibanding dengan yang dijemur, yaitu berturut-turut 86,78 % dan 84,66 % dengan angka tertinggi, yaitu clearance 1,0 mm berturut-turut 89,45% dan 86, 66 %,
2. Gabah varietas Cigeulis dapat menghasilkan beras giling yang mutunya lebih tinggi apbila digiling pada kadar air giling relatif rendah. Pada kadar air giling berturut-turut 12,80 % dan 14,0 %, rata-rata kadar beras kepala yagn dihasilkan berturut-turut 86,78 % dan 84, 66 %;
3. Pencapaian mutu beras (% beras kepala) padi varietas Cigeulis, yaitu 86,78 %termasuk kategori mutu beras cukup baik ( > 80 %), namunb elum dapat menyamai pencapaian gabah varietas IR 64, yaitu 89 % dan Ciherang sebesar 90%.
Faktor Yang Mempengaruhi Mutu dan rendemen Giling
Pengeringan gabah yang menggunakan mesin pengering dengan suhu pengering rata-rata 40 0 C dan kecepatan aliran udara pengering rata-rata 6,5 m/menit dapat menghasilkan rendemen dan mutu beras giling yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penjemuran di lahan pasang surut Sumatera Selatan. Rendemen giling rata-rata meningkat dari 59,5 % menajdi 62,0 %,s edangkan persentase beras kepala meningkat dari 34,83 % menjadi 64,75 %. Proses pengeringan gabah berlangsung pada suhu pengeringan (Tpl) rata-rata 42,23 0 C dan kecepatan aliran udara menembus tumpukan gabah (Vu) rata=-rata 6,9 m/menit.
Perlu diketahui, ada 2 (dua) faktor yang mempengaruhi mutud an rendemen giling, yaitu mutu gabah dan sarana mekanis/mesin-mesin penggilingan padi yang dipakai, terutama jenis mesin dan mekanisme kerja serta komposisi atau konfigurasi mesin.
Panen dan Pasca Panen
Bagi masyarakat atau petani yang menanam varietas Cigeulis, apabila akan memanennya, lakukan panen saat gabah telah menguning, tetapi malai masih segar. Potong apdi dengan sabit gerigi, 30 – 40 cm di atas permukaan tanah.
Sebagai tempat/wadah padi yang dipanen tersebut, gunakan plastika tau terpaql sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok gabahnya. Sebaiknya perontokkan gabahnya menggnunakan power tresher atau pedal trsher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari,s ebaiknya pada sore harinya, gabah langsung dirontokkan. Sebab, perontokkan yang dilakukan lebihd ari 2 hari menyebabkan kerusakkan beras.
Gabah yang baru dirontokkan dijemur dia tas lantai jemur dengan ketebalan 5-7 cm. Setiap 2 (dua) jam sekali, gabah dibalik agar cepat kering. Jika pengeringan gabah dilakukan pada musim hujan, gunakan pengering buatan dan pertahankan suhu pengering 50 0 C untuk gabah konsumsi atau 42 0 C untuk mengeringkan benih.
Pengeringan dilakukan sampai akdar air gabah mencapai 12 % – 14 % untukg abah konsumsi dan 10 % – 12 % untuk gabah benih. Gabah yang sudah dikering dapat digiling dan disimpan.. Perlu diketahui, hal penting yang perlu dieprhatikan dalam penggilingan dan penyimpanan gabah adalah :
1. Untuk mendapatkan beras kualitas tinggi perlu diperhatikan waktu panen, sanitasi (kebersihan) dan akdar air gabah (12 % – 14 %)
2. Simpan gabah/beras dalam wadah yang bersih dalam lumbung/gudang, bebas hama dan memiliki sirkulasi (peredaran) udara yang baik.
3. Simpan gabah pada kadar air kurang 14 % untuk konsumsi dan kurang 13 % untukb enih.
4. Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan, jika akan digiling dikeringkan terlebihd ahulu sampai akdar air 12 % – 14 %.
5. Sebelum digiling, gabah yang diekringkan tersebut diangin-anginkan terlebihd ahulu untuk menghindari butir pecah (Muchdat Widodo)
Sumber : 1. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertaniuan, 2009
2. Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Mendukung Ketaha-
nan Pangan, Buku 4. Prosiding Seminar Padi 2008. Balai Besar Penelitian Tanaman 
Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008
3. Teknologi Budidaya Padi. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi
Pertanian, Badan Penelitian dan pengembangan Pertnaian, 2008

VARIETAS PADI INPARI I TAHAN WERENG BATANG COKLAT DAN HAWAR DAUN BAKTERI SERTA UMUR SANGAT GENJAH.

Inpari I , varietas padi unggul baru yang dilepas di Indonesia tahun 2008, merupakan perbaikan dari IR 64 dari hasil persilangan IR 64/ IRBB – 7/ IR 64.
Inpari I termasuk dalam jenis varietas IP Padi 400, yang berproduksi empat kali dalam setahun. Produksi cukup tinggi dengan rata-rata hasil 7,32 ton/ ha GKG atau hasil tertinggi yang pernah dicapai 10 ton/ ha GKG dengan rasa nasi pulen (kadar amilase 22 %). Selain itu termasuk varietas yang berumur sangat genjah/VUSG (90 – 104 hari) dengan pengetatan jadwal waktu yang sesuai, tanam dan panen.
Inpari I, merupakan varietas yang mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit yaitu tahan terhadap hama wereng Batang Coklat Biotipe 2, agak tahan terhadap wereng Batang Coklat Biotipe 3 dan tahan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri strain III, IV dan VII.
Deskripsi Varietas Padi Inpari I :
Termasuk golongan Cere Indica dengan umur tanaman 108 hari. Bentuk tanaman tegak dengan tinggi 93 cm dengan jumlah anakan produktif 16 anakan, warna kaki hijau, telinga dan lidah daun tidak berwarna, pemukaan daun kasar, posisi daun dan daun bendera tegak, warna batang hijau, tahan rebah (tidak ada yang rebah), leher malai sedang, kerontokan juga sedang. Bentuk Gabah ramping, warna gabah kuning bersih dengan bobot 1000 butir : 27 gram.
Inpari I ini baik ditanam pada lahan sawah dataran rendah sampai dengan ketinggian 500m dari permukaan laut.
Pola tanam : Pola tanam 4 kali pertahun ( padi – padi – padi – padi ) pada lahan yang sama, dibagi dalam musim hujan (MH I)/ musim Tanam I (MT I) (oktober – desember), MH II/ MT II ( januari – maret), Musim Kering I (MK I)/ MT III ( april – juni) dan MKII/ MT IV ( Juli – September ).
Persemaian : benih disemai 15 hari sebelum panen. Benih yang disemai harus bermutu, bernas sebanyak 25 kg/ ha. Persemaian dibuat di luar lahan atau dapat di kotak/ besek dengan media tanah dan bahan organik seperti kompos atau pupuk kandang. Bila tidak tersedia lahan khusus untuk persemaian dapat dilakukan persemaian culikan, kering dan dapog.
Pengolahan tanah : disiapkan dalam 7 hari setelah panen, dengan pola OTS Tapin yaitu tanah ditraktor dengan bajak singkal untuk membalik tanah. Kemudian tanah -tanah diratakan dan sedikit digenangi kira-kira setinggi 1 cm. Apabila ketersediaan alat pengolah tanah terbatas, dilakukan sistem tanpa olah tanah (TOT) yaitu lahan dibersihkan dari gulma atau menggunakan herbisida non selektif, lahan digenangi ( 3 cm) selama 4 hari sampai agak lunak kemudian air dikeringkan untuk mempermudah tanam bibit.
Cara tanam : dengan tanam pindah, dengan jarak tanam 20 – 25 cm, bibit padi umur 21 hari, (karena umur muda tempat wereng hijau berkembang yang menularkan virus tungro) dengan populasi 160.000 – 250.000 rumpun / Ha. 
Waktu tanam tepat, untuk membuat tanaman terhindar dari serangan pada stadia tanaman yang peka terhadap penyakit. Selain itu tanaman ditanam serempak untuk mengurangi serangan berbagai hama dan penyakit serta waktu perkembangbiakan vektor penular patogen.
Pengairan : dengan tehnik pengairan berselang (intermitten), apabilaketersediaan air terbatas. Teknik pengairan berselang dilakukan dalam satu musim tanam. Pengelolaan air diatur sebagai berikut : a). Pergiliran air dilakukan selang 3 – 5 hari, tinggi genangan pada hari pertama sekitar 3 cm, selama 2 hari berikutnya tidak diairi. Lahan sawah diairi lagi pada hari ke 5. Cara pengairan ini berlangsung sampai phase anakan maksimal, b) mulai dari fase pembentukan malai sampai phase anakan maksimal, digenangi terus dan c). sekitar 10 – 15 hari sebelum tanaman di panen, petakan sawah dikeringkan.
Pemupukan : pupuk dasar Nitrogen diberikan pada 0 – 14 hari setelah tanam, dengan dosis 50 – 100 kg urea per hektar. Waktu yang tepat digunakan pada pemupukan kedua dan pemupukan ketiga, contoh :125 kg urea/ ha pada skala 2 dan 3 jika hasil yang diinginkan 7 ton/ha GKG atau cukup 75 Kg urea/ha jika hasil yang diinginkan 5 ton/ha GKG dan seterusnya. Waktu untuk pemberian pupuk P dan K : pada dosis rendah (75kg SP-18/ha), sedang (100 kg SP-18/ha) dan tinggi (150kg SP-18/ha). Pada dosis rendah-sedang (<50 kg KCL/ha), seluruh pupuk P dan K diberikan sebagai pupuk dasar.
Pengendalian Hama dan Penyakit : Varietas Inpari I tahan terhadap hama wereng batang dan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) sehingga dapat ditanam pada daerah endemik. Walaupun varietas ini tahan terhadap hama dan penyakit, dalam pelaksanaannya Pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) dilakukan lebih operasional. Seperti pengendalian hama wereng Coklat dan wereng punggung putih, pengamatan hama dilakukan pada musim hujan dan musim kering seminggu sekali atau paling lambat 2 minggu sekali dimulai sejak tanaman berumur 2 minggu setelah tanam sampai 2 minggu sebelum panen. Pengendaliannya pada musim hujan ditanami Inpari I dengan pola serempak.
Panen dan Pascapanen : Panen harus memperhatikan umur padi, cara panen dan procesing. panen padi yang ideal pada saat gabah matang ( kadar air 22-26%) atau 90-95 % gabah dari malai sudah kuning. Yang ditandai dengan bulir gabah telah terisi penuh, keras dan kulit berwarna kekuningan. Pemanenan pada saat lewat masak akan terjadi kerontokan gabah yang tinggi. Demikian juga dengan proses perontokan, penjemuran dan jenis alat penggilingan sangat menentukan rendemen, tingkat kehilangan hasil dan mutu beras yang dihasilkan.
Penulis : Asia
Sumber :
1. Pedoman Umum Peningkatan produksi padi melalui pelaksanaanIP Padi 400. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian 2009.
2. Deskripsi varietas padi. Balai Besar Penelitian tanaman Padi 2009.
3. Teknologi produksi padi sawah. Puslitbang tanaman pangan 2000.
4. Padi inovasi teknologi dan Ketahanan Pangan. Balai besar Penelitian Padi Badan Litbang Pertanian 2009.