Pemanfaatan Beberapa Species Tumbuhan Tingkat Tinggi sebagai Pestisida Alami

Dalam membangun pertanian yang mengarah pada pembangunan pertanian yang berkelanjutan (The Sustainable Agriculture Development) maka berbagai masukan berupa teknologi maupun sarana produksi yang digunakan tetap menjaga produktivitas sistem pertanian itu sendiri danramah lingkungan.

Penggunaan pestisida sintetik yang diperkenalkan oleh revolusi hijau (green revolution) ternyata telah banyak menimbulkan dampak negative bagi ekosistem, baik terhadap sistem biofisik maupun sosial. Dampak negative tersebut dapat ditanggulangi dengan mencari pestisida pengganti yang baru yang lebih efektif dan tidak membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui beberapa species tumbuhan tingkat tinggi seperti nimba (Azadiractha indica ),Tuba (Derris eliptica ), Juwet (Eugenia cumini druce ), Bayam Berduri ( Amarantus spinosus ), Jarak Cina (Ricinus comunis ) dan delima (Punica granatum) mampu mengendalikan beberapa organisme tanaman . Ini berarti bahwa penggunaan tumbuhan tingkat tinggi dapat dijadikan alternative sebagai pestisida alami dalam menunjang pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Keberadaan tumbuhan baik yang sudah dibudidayakan maupun yang masih liar semakin lama semakin menyusut. Beberapa jenis tumbuhan yang dulu sering dijumpai kini mulai langka dan sulit ditemukan. Arus erosi kekayaan flora yang terjadi ternyata jauh lebih cepat dari daripada usaha penyelamatan dan pelestarianya (Sudika, Idris, Ujianto, 1989).

Pestisida Alami adalah pestisida pengganti yang baru, selektif dan tidak membahayakan bagi kesehatan maupun organisme lainya serta tidak membahayakan bagi agroekosistem. Adapun pestisida baru tersebut besar kemungkinanya berada di alam terutama pada tumbuhan tingkat tinggi. Hal ini disebabkan karena tumbuhan tersebut pada dasarnya telah dibekali oleh suatu kekuatan berupa metabolit sekunder yang kemungkinan mempunyai sifat toksik terhadap organisme pengganggu baik berupa hama, penyakit, maupun gulma.

Penggunaan bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan terutama tumbuhan tingkat tinggi yang berupa organ bunga ,daun,batang dan akar yang sudah sejak lama dikenal manusiadan dimanfaatkan sebagai bahan racun untuk membasmi organisme pengganggu (Kertasaputra,1988)

Beberapa kelebihan pestisida alami adalah mudah terurai dialam, (bersifat biodegradable), tidak mencemari lingkungan, tidak menimbulkan mutasi bagi hama dan penyakit, bersifat lebih spesifik, residunya pada tanaman lebih pendek, daripada pestisida sintetik, dan kemungkinan oganisme pengganngu tidak mudah berkembang serta tidak menimbulkan resistensi pada tanaman (Anwar,1993). Pestisida alami dapat berasal dari ekstrak yang diperoleh dari bagian tumbuhan yang merupakan metabolit sekunder, kandungan metabolit sekunder sangat tergantung dari species tumbuhan tingkat tinggi yang di ekstrak.

Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ada beberapa tumbuhan tingkat tinggi yang berpotensi sebagai pestisida Alami. Adanya pestisida alami ini akan sangat membantu dalam melakukan perlindungan pada tanaman yang tetap memperhatikan konsep wawasan lingkungan.

Dengan adanya beberapa species tumbuhan tingkat tinggi yang bersifat toksik maka diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, pengusaha dan lembaga Pengkajian untuk menghasilkan produk berupa pestisida Alami dalam membangun kawasan pertanian yang berwawasan lingkungan.

Sumber Pustaka :
Anwar. S., 1993. Nimba Efektif Menangkal Serangga Hama, Trubus Edisi Februari 1993 No.279 Th.XXIV.
Kertasaputra, A.G.1988. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. PT Bina Aksara Jakarta. 135.h.
Sudika, Idris, Ujianto, 1989. Penuntun Praktikum Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Mataram.
Sumber : BPTP – NTB

Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Tembakau

Ulat Grayak (Spodoptera litura )
Gejala yang timbul:
berupa lubang-lubang tidak beraturan dan berwarna putih pada luka bekas gigitanulat tersebut.
Pengendalian:
Pangkas dan bakar sarang telur dan ulat, penggenangan sesaat pada pagi/sorehari, dan semprot Natural VITURA
Ulat Tanah ( Agrotisypsilon )
Gejala yang timbul:
daun terserang berlubang-lubang terutama daun muda sehingga ada tangkai daunrebah.
Pengendalian:
Pangkas daun sarang telur/ulat, penggenangan sesaat dan semprot PESTONA.

Ulat penggerek pucuk ( Heliothis sp. )
Gejala yang timbul:
Daun pucuk tanaman terserang berlubang-lubang dan bila dibiarkan akan habis.
Pengendalian:
kumpulkan dan musnah telur / ulat, sanitasi kebun dan semprot PESTONA.

Nematoda ( Meloydogynesp. )
Gejala yang timbul:
Bagian akar tanaman tampak bisul-bisul bulat, tanaman bisa kerdil, layu, daunberguguran dan akhirnya akan mati.
Pengendalian:
Sanitasi kebun, pemberian GLIO diawal tanam, PESTONA
Kutu – kutuan ( AphisSp, Thrips sp, Bemisia sp.)
Hama ini pembawa penyakit yang disebabkan virus.
Pengendalian:
Predator Koksinelid, Natural BVR.
Dan masih banyak lagilainnya seperti Gangsir (Gryllus mitratus ), jangkrik (Brachytrypesportentosus), orong-orong (Gryllotalpa africana), semut geni (Solenopsisgeminata), belalang banci (Engytarus tenuis).
Kategori penyakitpada tanaman tembakau

Hangus batang (damping off )
Disebabkan karena jamur Rhizoctonia solani.
Gejala yang timbul:
Batang tanaman yang terinfeksi akan mengering dan berwarna coklat sampai hitamseperti terbakar. Pengendalian :
Cabut tanaman yang terserang dan bakar dan pencegahan awal dengan Natural GLIO.
Lanas
Disebabkan karena ulah Phytophora parasitica var. nicotinae.
Gejala yang timbul:
Muncul bercak-bercak pada daun berwarna kelabu yang akan meluas, pada batang,terserang akan lemas dan menggantung lalu layu dan akhirnya mati.
Pengendalian:
Cabut tanaman yang terserang dan bakar, semprotkan Natural GLIO.
Patik daun
Dikarenakan ulah jamur Cercospora nicotianae.
Gejala: di atas daun terdapat bercak bulat putih hingga coklat, bagian daunyang terserang menjadi rapuh dan mudah robek.
Pengendalian:
Desinfeksi bibit, renggangkan jarak tanam, olah tanah intensif, gunakan airbersih, bongkar dan bakar tanaman terserang, semprot Natural GLIO.
Bercak coklat
Penyebab oleh jamur Alternaria longipes.
Gejala yang timbul:
Ada bercak-bercak coklat, selain tanaman dewasa penyakit ini juga menyerangtanaman di persemaian. dan perlu anda tahu jamur juga menyerang batang danbiji.
Pengendalian:
Mencabut dan membakar tanaman yang terserang.
Busuk daun
Penyebab:
Bakteri Sclerotium rolfsii.
Gejala yang timbul:
Mirip dengan lanas namun daun membusuk, akarnya bila diteliti diselubungi olehmassa cendawan. Pengendalian:
cabut dan bakar tanaman terserang, semprot Natural GLIO.
Virus
Penyebab: virus mozaik (Tobacco Virus Mozaic, (TVM), Kerupuk (Krul),Pseudomozaik, Marmer, Mozaik ketimu (Cucumber Mozaic Virus).
Gejala yang sering terjadi:
Pertumbuhan tanaman menjadi lambat.
Pengendalian:
Menjaga sanitasi kebun, tanaman yang terinfeksi di cabut dan dibakar.
Semoga dengan adanya infohama dan penyakit bisa menjadi ingat dan paham dan menjadikan pelajaranuntuk kita semua dalam berbudidaya tanaman tembakau.
Sumber : http://www.blogiztic.net/info/tanaman/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-tembakau.html

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Nilam

UlatPenggulung Daun (Pachyzaneba stutalis)
Hewan ulat ini hidup dalam gulungan daun muda, sambil memakan daun yang tumbuh,serangan berat hanya tinggal tulang-tulang daun saja.
Pengendalian:
Masih secara tradisional yaitu kumpulkan dan musnahkan .

Belalang( Orthoptera )
Hamabelalang ini memakan daun, sehingga tanaman menjadi gundul. Serangan beratbatang dimakan akhirnya mati.
Pengendalian:
sanitasi lingkungan.
CriketPemakan Daun (Gryllidae)
Hewan ini memakan daun muda sehingga daun berlubang-lubang dan produksi turun.
Pengendalian:
sanitasi lingkungan.
Budok(hoprosep)
Disebabkan oleh virus.
Gejala yang timbul:
Daun keriting, berwarna abu-abu dan rontok, terbentuk benjolan-benjolan padabatang sampai akar bila dipijit baunya tidak enak. Penyakit ini tumbuh setelahmusim kemarau dan disebabkan oleh pemangkasan yang terlalu berat saat panen.
Pengendalian :
sanitas kebun, Alat-alat kerja steril.
BusukBatang
Disebabkanoleh jamur Fusarium sp. dan menyerang pada akar atau batang. Batang yangterserang akan mengerut, warna berubah coklat lalu menghitam disekelilingbatang dan akhirnya mati.
Pengendalian :
kurangi kelembaban dengan cara dipangkas, hindari luka, gunakan Natural GLIO +SUPERNASA.
Sumber : http://www.blogiztic.net/info/tanaman/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-nilam.html

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Tebu

HamaPenggerek Pucuk dan batang
Hamaini Biasanya menyerang mulai umur 3 – 5 bulan. Kendalikan dengan musuh alamiTricogramma sp dan lalat Jatiroto, semprot PESTONA / Natural BVR
HamaTikus
Kendalikandengan gropyokan.
PenyakitFusarium Pokkahbung
Penyebab adalah jamur Gibbrella moniliformis.
Tandanya daun klorosis, pelepah daun pun tidak sempurna dan pertumbuhanterhambat, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng serta terjadi pembusukan daridaun ke batang. Penanganan:
Penyemprotan dengan 2 sendok makan Natural GLIO + 2 sendok makan gula pasirdalam tangki semprot 14 atau 17 liter pada daun-daun muda setiap minggu,pengembusan tepung kapur tembaga ( 1 : 4 : 5 )

PenyakitDongkelan
Penyebabnya adalah jamur Marasnius sacchari, yang bias mempengaruhi berat danrendemen tebu. Gejala, tanaman tua sakit tiba-tiba, daun mengering dari luar kedalam.
Pengendalian:
penjemuran dan pengeringan tanah, harus dijaga, sebarkan Natural GLIO sejakawal.
PenyakitNanas
Disebabkanoleh jamur Ceratocytis paradoxa. Menyerang bibit yang telah dipotong. Padatapak (potongan) pangkas, terdapat warna merah yang bercampur dengan warnahitam dan menyebarkan bau seperti nanas. Bibit tebu direndam dengan POC NASAdan Natural GLIO.
PenyakitBlendok
Penyakit ini disebabkan oleh Bakteri Xanthomonas albilincans Mula-mula munculpada umur 1,5-2 bulan setelah tanam. Daun-daun klorotis akan mengering,biasanya pada pucuk daun dan umumnya daun-daun akan melipat sepanjanggaris-garis tadi. Jika daun terserang hebat, seluruh daun bergaris-garis hijaudan putih. Rendam bibit dengan air panas dan POC NASA selama 50 menit kemudiandijemur sinar matahari. Gunakan Natural GLIO sejak awal sebelum tanam untukmenghindari serangan datang.
Sumber : http://www.blogiztic.net/info/tanaman/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-tebu.html

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kacang Panjang

a.Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanamanyang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadiperakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanamanyang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan PESTONA.


b.Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Gejala:pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunanhasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektorvirus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan familikacang-kacangan dan penyemprotan Natural BVR
c.Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala:daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, jugamenyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanamanserempak, Semprot Natural VITURA
d.Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)
Gejala:biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: denganmembersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benihkacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.
e.Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala:larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong.Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisatanaman. Disemprot dengan PESTONA
f.Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum )
Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kankerberwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasitanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA danmembuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.
g.Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).
Gejala:pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan.Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehatdan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabutdan dibakar.
h.Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)
Gejala:pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek,tunas ketiak memendek dan membentuk “sapu”. Penyakit ditularkan kutu daun.Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.
i.Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )
Gejala:tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian:dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dangunakan Natural GLIO pada awal tanam.
Sumber : http://penyuluhthl.wordpress.com/2011/01/02/hama-dan-penyakit-tanaman-kacang-panjang/

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Buncis

A.   HAMA PADA TANAMAN BUNCIS.
1.   Kumbang Daun.
Gejalanya daun kelihatanberlubang-lubang bahkan kadang-kadang tinggal kerangka atau tulang-tulangdaunnya saja. Tanaman menjadi kerdil dan polongnya kecil-kecil.
Pengendaliannya : Bila sudah terlihat adanya telur, larva, maupun kumbangnyamaka dapat langsung dibunuh dengan tangan. Atau dapat juga diberantas denganinsektisida Lannate 25 WP, dengan konsentrasi 1,5-3 cc/l air atau 300-6001larutan setiaphektar.                 
2.   Penggerek polong
Gejalanya : polongyang masih muda mengalami kerusakan, bijinya banyak yang keropos. Akan tetapi,kerusakan ini tidak sampai mematikan tanaman buncis.
Pengendalian : Dilakukan dengan tanam serentak, usahakan pula tidak ada tanamaninang disekitar tanaman buncis, misalnya tanman orok-orok perlu juga dilakukanpenyemprotan dengan insektisida.
3.   Lalat kacang
Gejalanya : Daunberlubang-lubang dengan arah tertentu, yaitu dari tepi daun menuju tangkai atautulang daun, gejala lebih lanjut berupa pangkal batang yang membengkok/pecahkemudian tanaman menjadi layu,berubah kuning, dan akhirnya mati yang masihmuda. Apabila tidak mati maka tumbuhnya kerdil sehingga produksinya sedikit.Pengendalian : Setelah biji buncis ditanam sebaiknya segera diberi penutupjerami daun pisang, penanaman dilakukan secara serentak. Bila tanaman sudah terserangsecara berat maka segeralah dicabut dan dibakar atau dipendam dalam tanah,apabila erangan belum terlalu berat maka segeralah diberi insektisida.
4.   Kutu daun
Gejala akan lebihjelas terlihat pada tanaman-tanaman yang masih muda. Bila serangannya hebat,maka pertumbuhannya. Menjadi kerdil dan batang memutar (mimilin). Daunnyamenjadi keriting dan kadang berwarna kuning.
Pengendaliannya dengan cara memasukkan musuh alaminya yaitu lembing, lalat danjenis dari Coccoinellidae, atau dengan menggunakan insektisida Orthene 75 Sp.
5.   Ulat jengkal semu.
Gejalanya dibawah daunterdapat telur yang bergerombol. Setelah menetas ulatnya akan memakan daun-daunbaik yang muda maupun yang tua. Daun menjadi berlubang bahkan dapat habis samasekali. Akibatnya, tanaman menjadi kerdil karena tidak sempurna melakukanfotosintetis. Pengendaliannya : dapat dibunuh satu persatu atau dengansanitasi, yaitu membersihkan gulma-gulma yang dapat dijadikan sebagai tempatpersembunyian hama tersebut. Bisa juga dengan menggunakan insektisida Hotathion40Ec.
6.Ulat penggulung daun
Gejalanya daunkelihatan seperti menggulung dan terdapat ulat yang dilindungi oleh benangsutera dan kotoran. Polongnya sering pula ikut direkatkan bersama-sama dengandaunnya. Daun juga nampak berlubang-lubang bekas gigitan dari tepi sampaiketulang utama, hingga habis hanya tinggal urat-uratnya saja. Pengendaliannya :sebaiknya daun yang terkena segera dibuang atau dibakar, apabila masih adaserangan maka dilakukan penyemperotan dengan insektisida. Insektisidanya yaituAzodrin 15 WSC.
B.PENYAKIT PADA TANAMAN BUNCIS.
1   Penyakit Antraknosa.
Gejala : Polong Buncismuda terdapat bercak-bercak kecil dengan bagian tepi warna coklat karat denganwarna kenerah-merahan. Bentuknya tidak beraturan antara yang satu dengan yanglain, bila udara lembab akan terdapat spora yang berwarna kemerah-merahan. Pengendaliannya: Sebaiknya dipilih bibit yang benar-benar bebas dari penyakit atau dapat jugadengan merendam benih dalam fungisida Agrosid 50SD sebelum ditanam. Denganpenyemperotan fungisida Delsene Mx200, konsentrasi 1-2 gr/lt air. Juga bisadengan fingisida Velimek 80WP dengan konsentrasi 2-2,5gr/lt air.
2.   Penyakit Embun Tepung.
Gejala : Daun, batang,bunga dan buah berwarna putih keabuan (kelihatan seperti kain beludru).Pengendaliannya : Bagian yang sudah terserang sebaiknya dipotong atau dibakar.Dapat juga disemprot dengan fungisida Morestan 25WP, konsentrasinya 0,5 – 1gr/lt air dan volume larutan 1.000 lt/ha.
3.   Penyakit Layu.
Gejala : Tanaman akanterlihat layu, kuning dan kerdil. Bila batang tanaman yang diserang dipotongmelintang, maka akan terlihat warna coklat atau dipijat akan keluarlah lendiryang berwarna putih. Pengendaliannya : Dilakukan dengan cara menyiram tanaman denganair yang bebas dari penyakit, bila hendak membuat persemaian lebih baik tanahdisterilisasi dulu dengan air panas 100o C. Dilakukan dengan penyemprotanfungisida Agrept 20 WP dengan konsentrasi 0,5 – 1/lt air.
4.   Penyakit Bercak daun.
Gejala : Daun bercakkecil berwarna coklat kekuningan lama kelamaan bercak akan melebar dan bagiantepinya terdapat pita berwarna kuning. Akibat lebih parah, dau akan menjadilayu dan berguguran. Bila sampai menyerang polong, maka polong akan bercakkelabu dan biji yang terbentuk kurang padat dan ringan. Pengendaliannya :
Benih buncis direndam dulu dalam air panas dengan suhu 48  C selama 30menit. Bilas dengan air dingin dan keringkan. Dengan penyemprotan menggunakanBaycor 300EC, konsentrasi 0,5 – 1 lt/ha. Bisa juga menggunakan Bayleton 250EC,konsentrasi 0,25-0,5 lt/ha.

5.    Penyakit HawarDaun.
Gejala : Pertama-tamaterlihat bercak kuning dibagian tepi daun, kemudian meluas menuju tulang bagiantengah. Daunnya terlihat layu, kering dan coklat kekuningan. Bila serangannyahebat, daun terlihat berwarna kuning, seluruhnya dan akhirnya rontok, gejalatersebut dapat meluas kebatang, sehingga lama kelamaan tanaman akan mati.Pengendaliannya : Dengan cara memilih benih yang berkwalitas baik. Perendamanbenih dalam Sublimat dengan dosis 1gr /Lt air selama 30 menit.
6.   Penyakit Busuk Lunak.
Gejala : Daunbebercak, berair warnanya menjadi kecoklatan. Gejala ini cepat menjalar keseluruh bagian tanaman. Sehingga tanaman menjadi lunak, berlendir dan berbaubusuk. Pengendaliannya : Tanaman yang sudah terserang berat sebaiknya dibuangdan di bakar, dapat dilakukan dengan menyemprotkan Cupravit OB-21, dengankonsentrasi 4gr/lt air, Delsene Mx200, konsentrasi 2-4 gr/lt air.
7.   Penyakit Karat.
Gejala : Pada jaringandaun terdapat bintik-bintik kecil berwarna coklat, baik dibagian daun sebelahatas maupun sebelah bawah. Biasanya dikelilingi dengan jaringan khlorosis.Pengendaliannya : Dapat ditanam varitas buncis yang tahan dengan penyakit karatyaitu ; Manoa Wonder. Tanaman yang terserang berat sebaiknya dicabut dandibakar.
8.   Penyakit Damping Of.
Gejala : Bagian batangbawah yang terletak dibagian keping biji terlihat berwarna putih pucat karenamengalami kerusakan khlorofil. Pengendaliannya : Siram tanaman dengan air yangbebas penyakit, media semai yang dipakai juga yang telah disterilkan terlebihdahulu. Bisa juga menggunakan Antracol 70WP, konsentrasi 2gr/lt air, volumelarutan 600-800 lt/ha.
9.   Penyakit Ujung Kriting.
Gejala : Daun-daunmuda menjadi kuning dan keriting, sedangkan daun yang sudah tua menggulung /melilin. Penegndaliannya : Dengan menanm tanaman yang resisten (tahanpenyakit). Apabila tanaman yang sudah terserang penyakit, sebaiknya segeradicabut atau dibakar.
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/13/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-buncis/

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Mentimun

1.  Hama PadaTanaman Mentimun.
a. Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).

Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak danmemakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggaltulangnya. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA.

b. Ulat Tanah (Agrotisipsilon)
Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala:Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.

c. Lalat buah (Dacuscucurbitae Coq.)
Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur,Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian :Natural METILAT.

d. Kutu daun (Aphisgossypii Clover)
Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelapsampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititingdan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian : Natural BVR atauPESTONA

2. Penyakit PadaTanaman Mentimun.
a. Busuk daun (Downy mildew)

Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun padakelembaban udara tinggi, temperatur 16 – 22°C dan berembun atau berkabut.Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat danbusuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

b. Penyakit tepung(Powdery mildew )
Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musimkemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang mudaditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering.Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

c. Antraknose
Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-bercakcoklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkandaun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udaralembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu.Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

d. Bercak daunbersudut
Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan.Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruhdaun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering danberlubang. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

e. Virus
Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco EtchVirus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daunMyzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. Gejala : daun menjadi belang hijautua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil.Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan Natural BVR atauPESTONA, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi denganfamili bukan Cucurbitaceae.

f. Kudis (Scab)
Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buahmentimun muda. Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jikamengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yangbergabus. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

g. Busuk buah
Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthorasp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora.Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. Gejala : (1) Phytiumaphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; (2) Phytopthora:bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut; (3)Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudahpecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. Pengendalian:dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati,penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 – 7 derajat C. Danpemberian Natural GLIO sebelum tanam.

Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/13/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-buncis/

PENYAKIT PADA TANAMAN KEDELAI

  1. 1. Penyakit Karat (Phakopsora pachyrhizi)
Gejala Serangan
Pada daun pertama berupa bercak-bercak berisi uredia (badan buah yang memproduksi spora). Bercak ini berkembang ke daun-daun di atasnya dengan bertambahnya umur tanaman. Bercak terutama terdapat pada permukaan bawah daun. Warna bercak coklat kemerahan seperti warna karat. Bentuk bercak umumnya bersudut banyak berukuran sampai 1 mm. Bercak juga terlihat pada bagian batang dan tangkai daun.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Epidemi didorong oleh panjangnya waktu daun dalam kondisi basah dengan terperatur kurang dari 28 °C. Perkembangan spora dan penetrasi spora membutuhkan air bebas dan terjadi pada suhu 8-28 °C. Uredia muncul 9-10 hari setelah infeksi dan urediniospora diproduksi setelah 3 minggu. Kondisi lembab yang panjang dan periode dingin dibutuhkan untuk menginfeksi daun-daun dan sporulasi. Penyebaran urediniospora dibantu oleh hembusan angin pada waktu hujan. Patogen ini tidak ditularkan melalui benih.
Pengendalian
  • Menanam varietas tahan.
  • Aplikasi fungisida mankoseb, triadimefon, bitertanol dan difenokonazol
  1. 1. Penyakit Pustul Bakteri(Xanthomonas axonopodis pvglycines)
Gejala Serangan
Gejala awal berupa bercak kecil berwarna hijau pucat, tampak pada kedua permukaan daun, menonjol pada bagian tengah lalu menjadi bisul warna coklat muda atau putih pada permukaan bawah daun. Gejala ini sering dikacaukan dengan penyakit karat kedelai. Tetapi bercak karat lebih kecil dan sporanya kelihatan jelas. Bercak bervariasi dari bintik kecil sampai besar tak beraturan, berwarna kecoklatan. Bercak kecil bersatu membentuk daerah nekrotik yang mudah robek oleh angin sehingga daun berlubang-lubang. Pada infeksi berat menyebabkan daun gugur.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Bakteri bertahan pada biji, sisa-sisa tanaman dan di daerah perakaran. Beberapa gulma, Dolichos biflorus, buncis subspesies tertentu dan kacang tunggak bisa menjadi inang. Bakteri menyebar melalui air hujan atau hembusan angin pada waktu hujan. Bakteri masuk ke tanaman melalui lubang-lubang alami dan luka pada tanaman.
Pengendalian
  • Menanam benih bebas patogen.
  • Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
  • Hindari rotasi dengan buncis dan kacang tunggak.
  1. 1. Penyakit Antraknose (Colletotrichum dematiumvar truncatum dan C. destructivum)
Gejala Serangan
Penyakit Antraknose menyerang batang, polong dan tangkai daun. Akibat serangan adalah perkecambahan biji terganggu, kadang-kadang bagian-bagian yang terserang tidak menunjukkan gejala. Gejala hanya timbul bila kondisi menguntungkan perkembangan jamur. Tulang daun pada permukaan bawah tanaman terserang biasanya menebal dengan warna kecoklatan. Pada batang akan timbul bintik-bintik hitam berupa duri-duri jamur yang menjadi ciri khasnya.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Patogen bertahan dalam bentuk miselium pada residu tanaman atau pada biji terinfeksi. Miselium menjadi penyebab tanaman terinfeksi tanpa menimbulkan perkembangan gejala sampai tanaman menjelang masak. Infeksi batang dan polong terjadi selama fase reproduksi apabila cuaca lembab dan hangat.
Pengendalian
  • Menanam benih kualitas tinggi dan bebas patogen.
  • Perawatan benih terutama pada benih terinfeksi.
  • Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
  • Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil, captan pada fase berbunga sampai pengisian polong. 
  • Rotasi dengan tanaman selain kacang-kacangan.
  1. 1. Downy Mildew (Peronospora manshurica)
Gejala Serangan
Pada permukaan bawah daun timbul bercak warna putih kekuningan, umumnya bulat dengan batas yang jelas, berukuran 1-2 mm. Kadang-kadang bercak menyatu membentuk bercak lebih lebar yang selanjutnya dapat menyebabkan bentuk daun abnormal, kaku dan mirip penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada permukaan bawah daun terutama di pagi hari yang dingin timbul miselium dan konidium.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Peronospora manshurica mampu bertahan sampai beberapa musim dalam bentuk oospora pada daun atau biji, menginfeksi tanaman dalam kondisi dingin dengan gejala klorotik pada daun. Apabila terjadi embun maka sporangium akan terbentuk dan selanjutnya tersebar pada daun baru dengan perantara udara. Perkembangan penyakit didukung oleh kelembaban tinggi dan suhu 20-22 °C. Sporulasi terjadi pada suhu 10-25 °C. Pada suhu di atas 30 °C atau di bawah 10 °C sporulasi tidak terjadi. Daun-daun lebih tahan terhadap infeksi dengan bertambahnya umur tanaman dan pada suhu tinggi. Apabila jumlah bercak kuning bertambah maka ukuran daun makin menyusut.
Pengendalian
  • Perawatan benih dengan fungisida.
  • Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
  • Rotasi tanam selama 1 tahun atau lebih.
  1. 1. Penyakit Target Spot(Corynespora cassiicola)
Gejala Serangan
Bercak coklat kemerahan timbul pada daun, batang, polong, biji, hipokotil dan akar dengan diameter 10-15 mm. Kadang-kadang mengalami sonasi, yaitu membentuk lingkaran seperti pada papan tembak (target).
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Patogen bertahan pada batang, akar, biji dan mampu bertahan di dalam tanah yang tidak diusahakan selama lebih dari 2 tahun. Infeksi hanya terjadi bila kelembaban udara relatif 80% atau lebih atau terjadi air bebas di atas daun. Cuaca kering menghambat pertumbuhan jamur pada daun dan akar. Infeksi pada batang dan akar terjadi pada awal fase pertumbuhan tanaman. Gejala terlihat pada 3 minggu setelah tanaman tumbuh. Suhu tanah optimal untuk menginfeksi dan perkembangan penyakit selanjutnya adalah 15-18 °C. Pada suhu 20 °C gejala penyakit tidak terlalu parah dan akar terbentuk normal. Patogen dapat hidup dan menyerang bermacam-macam tumbuhan (kosmopolitan) dan di negara tropis keberadaannya sangat melimpah.
Pengendalian
  • Perawatan benih terutama pada biji terinfeksi.
  • Membenamkan sisa tanaman terinfeksi.
  • Aplikasi fungisida benomil, klorotalonil dan kaptan.
  1. 1. Rebah Kecambah, Busuk Daun, Batang dan Polong(Rhizoctonia solani)
Gejala Serangan
Penyakit-penyakit yang disebabkanR. solani mencakup rebah kecambah, busuk atau hawar daun, polong dan batang. Pada tanaman yang baru tumbuh terjadi busuk (hawar) di dekat akar, kemudian menyebabkan tanaman mati karena rebah. Pada daun, batang dan polong timbul hawar dengan arah serangan dari bawah ke atas. Bagian tanaman yang terserang berat akan kering. Pada kondisi yang sangat lembab timbul miselium yang menyebabkan daun-daun akan lengket satu sama lain menyerupai sarang laba-laba (web blight).
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Jamur R. solani membentuk sklerotia warna coklat hingga hitam dengan bentuk tidak beraturan dengan ukuran sampai 0,5 mm. Jamur ini mempunyai banyak tanaman inang dari tanaman pangan, sayuran, buah dan tanaman hias sehingga sulit dikendalikan. R. solani tinggal di tanah yang mempunyai kemampuan saprofit tinggi, mampu hidup 3 bulan pada kultur kering dan 4 bulan pada kultur cair. R. solani bertahan hidup tanpa tanaman inang serta hidup saprofit pada semua jenis sisa tanaman. R. solani dapat menimbulkan epidermi pada daerah dengan kelembaban tinggi dan cuaca hangat. Jamur dapat hidup bertahan lama di dalam tanah yang merupakan sumber inokulum yang penting.
Pengendalian
  • Perawatan benih dengan fungisida dan aplikasi fungisida sistemik.
  • Mempertahankan drainase tetap baik.
  1. 1. Penyakit Hawar Batang(Sclerotium rolfsii)
Gejala Serangan
Infeksi terjadi pada pangkal batang atau sedikit di bawah permukaan tanah berupa bercak coklat tua/warna gelap dan meluas sampai ke hipokotil. Gejala layu mendadak merupakan gejala pertama yang timbul. Daun-daun yang terinfeksi mula-mula berupa bercak bulat berwarna merah sampai coklat dengan pinggir berwarna coklat tua, kemudian mengering dan sering menempel pada batang mati. Gejala khas patogen ini adalah miselium putih yang terbentuk pada pangkal batang, sisa daun dan pada tanah di sekeliling tanaman sakit. Miselium tersebut menjalar ke atas batang sampai beberapa centimeter.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
Tanaman kedelai peka terhadap jamur ini sejak mulai tumbuh sampai pengisian polong. Kondisi lembab dan panas memacu perkembangan miselium yang kemudian hilang bila keadaan berubah menjadi kering. Pada keadaan lembab sekali akan terbentuk sklerotia yang berbentuk bulat seperti biji sawi dengan diameter 1-1,5 mm. Karena mempunyai lapisan dinding yang keras, sklerotium dapat dipakai untuk mempertahankan diri terhadap kekeringan, suhu tinggi dan hal lain yang merugikan. Penyakit banyak terjadi tetapi jarang berakibat serius, namun pernah mengakibatkan penurunan hasil yang cukup tinggi pada kedelai yang ditanam secara monokultur atau rotasi pendek dengan tanaman yang peka.
Pengendalian
  • Memperbaiki pengolahan tanah dan drainase.
  • Perawatan benih dengan fungisida.
  1. 1. Penyakit Hawar, Bercak Daun dan Bercak Biji Ungu(Cercospora kikuchii)
Gejala Serangan
Gejala pada daun, batang dan polong sulit dikenali sehingga pada polong yang normal mungkin bijinya sudah terinfeksi. Gejala awal pada daun timbul saat pengisian biji dengan kenampakan warna ungu muda yang selanjutnya menjadi kasar, kaku dan berwarna ungu kemerahan. Bercak berbentuk menyudut sampai tidak beraturan dengan ukuran yang beragam dari sebuah titik sebesar jarum sampai 10 mm dan menyatu menjadi bercak yang lebih besar. Gejala mudah diamati pada biji yang terserang yaitu timbul bercak berwarna ungu. Biji mengalami diskolorasi dengan warna yang bervariasi dari merah muda atau ungu pucat sampai ungu tua dan berbentuk titik sampai tidak beraturan dan membesar.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
C. kikuchii bersporulasi melimpah pada suhu 23-27 °C dalam waktu 3-5 hari pada jaringan terinfeksi termasuk biji. Penyakit ini tidak menurunkan hasil secara langsung tetapi mampu menurunkan kualitas biji dengan adanya bercak ungu yang kadang-kadang mencapai 50% permukaan biji. Inokulum pertama dari biji atau jaringan tanaman terinfeksi yang berasal dari pertanaman sebelumnya. Di lapangan dengan temperatur 28-30 °C disertai kelembaban tinggi cukup lama akan memacu perkembangan penyakit bercak dan hawar daun. Di ruang dengan kelembaban tinggi, infeksi penyakit maksimum terjadi dalam kondisi bergantian antara 12 jam terang dan gelap pada suhu 20-24 °C. Infeksi penyakit meningkat dengan bertambah panjangnya periode embun dan pada varietas yang berumur pendek penyakit akan lebih parah.
Pengendalian
  • Menanam benih yang sehat/bersih.
  • Perawatan benih dengan fungisida.
  • Aplikasi fungisida sistemik.
  1. 1. Penyakit Virus Mosaik (SMV)
Gejala Serangan
Tulang daun pada daun yang masih muda menjadi kurang jernih. Selanjutnya daun berkerut dan mempunyai gambaran mosaik dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun. Tepi daun sering mengalami klorosis. Tanaman yang terinfeksi SMV ukuran bijinya mengecil dan jumlah biji berkurang sehingga hasil biji turun. Bila penularan virus terjadi pada tanaman muda, penurunan hasil berkisar antara 50-90%. Penurunan hasil sampai 93% telah dilaporkan pada lahan percobaan yang dilakukan inokulasi virus mosaik kedelai.
Siklus Penyakit dan Epidemiologi
SMV dapat menginfeksi tanaman kacang-kacangan: kedelai, buncis, kacang panjang, kapri (Pisum sativum), orok-orok (Crotalaria sp.) dan berbagai jenis kara(Dolichos lablab, Canavalia encitormis dan Mucana sp.). Virus SMV tidak aktif pada suhu 55-70 °C dan tetap infektif pada daun kedelai kering selama 7 hari pada suhu 25-33 °C. Partikel SMV sukar dimurnikan kerena cepat mengalami egregasi.
Pengendalian
  • Mengurangi sumber penularan virus.
  • Menekan populasi serangga vektor.
  • Menanam varietas toleran.
Daftar Pustaka
Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2006. Hama, Penyakit dan Masalah Hara pada Tanaman Kedelai. Identifikasi dan Pengendaliannya. Bogor

Gulma

1.1 Pengertian Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Gulma menyaingi tanaman terutama dalam memperoleh air, hara, dan cahaya. Gulma merupakan pesaing bagi tanaman dalam memperoleh hara. Gulma dapat menyerap nitrogen dan fosfor hingga dua kali, dan kalium hingga tiga kali daya serap tanaman. Pemupukan merangsang pertumbuhan gulma sehingga meningkatkan daya saingnya. Nitrogen merupakan hara utama yang menjadi kurang tersedia bagi tanaman karena persaingan dengan gulma. Tanaman yang kekurangan hara nitrogen mudah diketahui melalui warna daun yang pucat.
1.2 Karakteristik Gulma
Berdasarkan karaktristik yang dimiliki, gulma dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:teki, rumput, dan gulma daun lebar.
1. Teki Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan. Contohnya adalah teki ladang (Cyperus rotundus).
2. Rumput Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contohnya adalah alang – alang (Imperata cylindrica).
3. Gulma daun lebar Berbagai macam gulma dari ordo Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budi daya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Contoh dari gulma berdaun lebar ini adalah daun sendok.
1.3   Jenis-jenis Gulma
Berdasarkan siklus hidupnya Dikelompokkan menjadi:
a. Gulma setahun (gulma semusim, annual weeds)
Gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun (mulai dari berkecambah sampai memproduksi biji dan kemudian mati). Karena kebanyakan umurnya hanya seumur tanaman semusim, maka gulma tersebut sering disebut sebagai gulma semusim. Walaupun sebenarnya mudah dikendalikan, tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan, karena gulma tersebut mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih bertahan hidupnya. Di Indonesia banyak dijumpai jenis-jenis gulma setahun, contohnya Echinochloa crusgalli, Echinochloa colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava, Fimbristylis littoralis dan lain sebagainya.
b. Gulma dua tahun (biennial weeds)
Gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya lebih dari satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama digunakan untuk pertumbuhan vegetatif menghasilkan bentuk roset dan pada tahun kedua berbunga, menghasilkan biji dan kemudian mati. Pada periode roset gulma tersebut sensitif terhadap herbisida. Yang termasuk gulma dua tahun yaitu Dipsacus sylvestris, Echium vulgare, Circium vulgare, Circium altissimum dan Artemisia biennis.
c. Gulma tahunan (perennial weeds)
Gulma yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau mungkin hampir tidak terbatas (bertahun-tahun). Kebanyakan berkembang biak dengan biji dan banyak diantaranya yang berkembang biak secara vegetatif. Pada keadaan kekurangan air (di musim kemarau) gulma tersebut seolah-olah mati karena bagian yang berada di atas tanah mengering, akan tetapi begitu ada air yang cukup untuk pertumbuhannya akan bersemi kembali.
Berdasarkan cara berkembang biaknya
Gulma tahunan di bedakan menjadi 2:
  1. Simple perennial
Gulma yang sebenarnya hanya berkembang biak dengan biji, akan tetapi apabila bagian tubuhnya terpotong maka potongannya akan dapat tumbuh menjadi individu baru. Sebagai contoh Taraxacum sp. dan Rumex sp., apabila akarnya terpotong menjadi dua, maka masing-masing potongannya akan tumbuh menjadi individu baru.
2. Creeping perennial
Gulma yang dapat berkembang biak dengan akar yang menjalar (root creeping), batang yang menjalar di atas tanah (stolon) atau batang yang menjalar di dalam tanah (rhizoma). Yang termasuk dalam golongan ini contohnya Cynodon dactylon,Sorgum helepense, Agropyron repens, Circium vulgare. Beberapa diantaranya ada yang berkembang biak dengan umbi (tuber), contohnya Cyperus rotundus dan Helianthus tuberosus. Contoh gulma tahunan populair yang perkembangbiakan utamanya dengan rhizoma adalah alang-alang (Imperata cylindrica). Dengan dimilikinya alat perkembangbiakan vegetatif, maka gulma tersebut sukar sekali untuk diberantas. Adanya pengolahan tanah untuk penanaman tanaman pangan atau tanaman setahun lainnya akan membantu perkembangbiakan, karena dengan terpotong-potongnya rhizoma, stolon atau tubernya maka pertumbuhan baru akan segera dimulai dan dapat tumbuh berkembangbiak dengan pesat dalam waktu yang tidak terlalu lama apabila air tercukupi. Adanya pengendalian dengan frekuensi yang tinggi (sering atau berulang-ulang) baik secara mekanis ataupun secara kimiawi, maka lambat laun pertumbuhannya akan tertekan juga. Satu cara pengendalian yang efektif, yang juga diperlukan adalah dengan membunuh kecambah-kecambah yang baru muncul atau tumbuh di atas permukaan tanah. 3. Berdasarkan Habitatnya Gulma dikelompokkan menjadi: a.  Gulma darat (terrestial weeds), Gulma yang tumbuh pada habitat tanah atau darat. Contoh Cyperus rotundus, Imperata cylindrica, Cynodon dactylon, Amaranthus spinosus, Mimosa sp. , dan lain sebagainya.
Berdasarkan Habitatnya
a.  Gulma darat (terrestial weeds),
Gulma yang tumbuh pada habitat tanah atau darat. Contoh Cyperus rotundus, Imperata cylindrica, Cynodon dactylon, Amaranthus spinosus, Mimosa sp. , dan lain sebagainya.
b. Gulma air (aquatic weeds)
  • Gulma yang tumbuh di habitat air. Gulma air dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : Gulma air garam (saltwater atau marine weeds), yaitu gulma yang hidup pada kondisi air seperti air laut, misal di hutan-hutan bakau. Sebagai contoh Enchalus acoroides dan Acrosticum aureum. Gulma air tawar (fresh water weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air tawar. Dikelompokkan lagi ke dalam: Gulma yang tumbuh mengapung (floating weeds), contohnya Eichornia crassipes, Salvinia cuculata, Pistia stratiotes.
  • Gulma yang hidup tenggelam (submerged weeds), dibedakan ke dalam : Gulma yang hidup melayang (submerged not anchored weeds), contoh Ultricularia gibba. Gulma yang akarnya masuk ke dalam tanah (submerged anchored weeds) contoh:Hydrilla verticillata, Ottelia alismoides, Najas indica, Ceratophyllum demersum.
  • Gulma yang sebagian tubuhnya tenggelam dan sebagian mengapung (emerged weeds), contoh Nymphae spp. , Nymphoides indica. Gulma yang tumbuh di tepian (marginal weeds), contoh Panicum repens, Scleria poaeformis, Rhychospora corymbosa, Polygonum sp., Ludwigia sp., Leersia hexandra, Cyperus elatus.
Berdasarkan parasit atau tidaknya, dibedakan dalam :
Gulma parasit, dibedakan lagi menjadi :
a. Gulma non parasit, contohnya Imperata cylindrica, Cyperus rotundus.
b. Gulma parasit, dibedakan lagi menjadi :
  1. Gulma parasit sejati, contoh Cuscuta australis (tali putri). Gulma ini tidak mempunyai daun, tidak mempunyai klorofil, tidak dapat melakukan asimilasi sendiri, kebutuhan akan makannya diambil langsung dari tanaman inangnya dan akar pengisapnya (haustarium) memasuki sampai ke jaringan floem.
  2. Gulma semi parasit, contohnya Loranthus pentandrus. Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri, tetapi kebutuhan akan air dan unsur hara lainnya diambil dari tanaman inangnya dan akar pengisapnya masuk sampai ke jaringan silem.
  3. Gulma hiper parasit, contoh Viscum sp. Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri, tetapi kebutuhan akan air dan hara lainnya diambil dari gulma semi parasit, dan akar pengisapnya masuk sampai ke jaringan silem.
1.4   Pengendalian Gulma
  1. Secara mekanis
Secara tradisional petani mengendalikan gulma dengan pengolahan tanah konvensional dan penyiangan dengan tangan. Pengolahan tanah konvensional dilakukan dengan membajak, menyisir dan meratakan tanah, menggunakan tenaga ternak dan mesin. Untuk menghemat biaya, pada pertanaman kedua petani tidak mengolah tanah. Sebagian petani bahkan tidak mengolah tanah sama sekali. Lahan disiapkan dengan mematikan gulma menggunakan herbisida. Pembajakan dan penggaruan dapat secara berangsur dikurangi dan diganti dengan penggunaan herbisida atau pengelolaan mulsa dari sisa tanaman dan gulma dalam sistem pengolahan tanah konservasi. Ketersediaan herbisida juga memungkinkan pemanfaatan lahan marjinal dan lahan miring yang bersifat sangat rapuh terhadap pengolahan tanah konvensional.
2. Secara kimiawi (Herbisida)
Herbisida memiliki efektivitas yang beragam. Berdasarkan cara kerjanya, herbisida kontak mematikan bagian tumbuhan yang terkena herbisida, dan herbisida sistemik mematikan setelah diserap dan ditranslokasikan ke seluruh bagian gulma. Menurut jenis gulma yang dimatikan ada herbisida selektif yang mematikan gulma tertentu atau spektrum sempit, dan herbisida nonselektif yang mematikan banyak jenis gulma atau spektrum lebar. Herbisida berbahan aktif glifosat, paraquat, dan 2,4-D banyak digunakan petani, sehingga banyak formulasi yang menggunakan bahan aktif tersebut. Glifosat yang disemprotkan ke daun efektif mengendalikan gulma rumputan tahunan dan gulma berdaun lebar tahunan, gulma rumput setahun, dan gulma berdaun lebar. Senyawa glifosat sangat mobil, ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman ketika diaplikasi pada daun, dan cepat terurai dalam tanah. Gejala keracunan berkembang lambat dan terlihat 1-3 minggu setelah aplikasi.
3. Secara Biologi ( terpadu )
Kepedulian terhadap lingkungan melahirkan sistem pengelolaan terpadu gulma yang meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mempelajari interaksi antara tanaman dan gulma, terutama kemampuan persaingan relatif dari tanaman selama berbagai fase perkembangan gulma. Pengelolaan gulma harus dipadukan dengan aspek budi daya, termasuk pengolahan tanah, pergiliran tanaman, dan pengendalian gulma itu sendiri. Pengelolaan gulma terpadu merupakan konsep yang mengutamakan pengendalian secara alami dengan menciptakan keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan gulma dan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian secara terpadu:
  • pengendalian gulma secara langsung dilakukan dengan cara fisik, kimia, dan biologi, dan secara tidak langsung melalui peningkatan daya saing tanaman melalui perbaikan teknik budi daya.
  • memadukan cara-cara pengendalian tersebut,
  • analisis ekonomi praktek pengendalian gulma.
1.5   Kerugian Gulma
Bidang Pertanian
Gulma dapat menyebabkan kerugian pada berbagai bidang kehidupan.  Pada bidang pertanian, gulma dapat menurunkan kuantitas hasil tanaman.  Penurunan kuantitas hasil tersebut disebabkan oleh adanya kompetisi gulma dengan tanaman dalam memperebutkan air tanah, cahaya matahari, unsur hara, ruang tumbuh dan udara yang menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Pertumbuhan tanaman yang terhambat akan menyebabkan hasil menurun.  Besarnya penurunan hasil tanaman tergantung pada varietas tanaman, kesuburan tanah, jenis dan kerapatan gulma, lamanya kompetisi dan tindakan budidaya.  Di Indonesia penurunan hasil akibat gulma diperkirakan mencapai 10-20%.  Gulma juga dapat menurunkan kualitas hasil pertanian akibat tercampurnya biji-biji gulma dengan hasil panen pada saat panen maupun akibat tercampurnya biji-biji gulma sewaktu pengolahan hasil.  Sebagai contoh, biji gulma Ambrosia sp., Brassica sp., danAgrostemma githag bila tercampur sewaktu pengolahan biji gandum akan menyebabkan bau dan rasa tepung tidak enak dan tidak disukai sehingga menyebabkan harga menurun.
Contoh Gulma di Lahan Pertanian
Gulma juga menyebabkan kesulitan dalam praktek budidaya, seperti dalam pengolahan tanah, penyiangan, dan pemanenan yang menyebabkan peningkatan biaya produksi.  Gulma pada saluran irigasi menghambat aliran air sehingga pemberian air ke sawah terhambat.  Gulma dapat menjadi inang bagi hama atau patogen penyakit.  Gulma harendong (Melastoma sp.) menjadi inang hama tehHelopeltis antonii, gulma jajagoan (E. crusgalli) menjadi inang penggerek padi (Tryphoriza innotata), gulma babadotan (Ageratum conyzoides) menjadi inang hama lalat bibit kedelai (Agromyza sp.), gulma Eupathorium adenophorummenjadi inang penyakit pseudomozaik virus pada tembakau Deli, gulma ceplukan (Physalis angulata) menjadi inang penyakit virus pada kentang.  Selain sebagai inang bagi hama dan penyakit, gulma juga dapat menjadi parasit bagi tanaman budidaya.  Sebagai contoh, gulma rumput setan (Striga asiatica) dapat menjadi parasit pada tanaman jagung dan padi ladang, gulma Orobanche spp. pada padi, jagung, tebu, gandum, dan tembakau. Gulma juga dapat menimbulkan alelopati pada tanaman yang menyebabkan penurunan pertumbuhan tanaman.

Bercak Daun Coklat pada Tanaman Seledri

1   KLASIFIKASI     :
  • Kerajaan                      : Fungi
  • Filum                            : Ascomycota
  • Kelas                             : Ascomycetes
  • Subclass                      : Dothideomycetidae
  • Marga                           : Mycosphaerellales
  • Keluarga                      : Mycosphaerellaceae
  • Genus                            : Septoria
  • Jenis                              : apii
  • Nama Ilmiah              : Septoria apii
  • Nama Lokal                : Bercak coklat pada daun seledri
2.2   EKOBIOLOGI
Bercak daun septoria (late blight) adalah penyakit yang terpenting pada tanamanseledri. Penyakit ini diketahui tersebar luas di Jawa (Anon, 1987/1988). Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan dapat mengurangi kualitas maupun kuantitas hasil. Bentuk becak kecil yang lebih banyak terdapat disebabkan oleh jamur Septoria apii-graveolentis Dorogin, yang disebut juga sebagai S.apii var.Punctiformis Laibach. Jamur mempunyai konidium yang panjang, lemas, hialin dan mempunyai beberapa sekat, 22,5-58,5 X 1,5-5,0 µm. Badan buah berbentuk piknidium yang mempunyai garis tengah 73-147 µm dengan 1/3-1/2 dari garis tengah piknidium.
Bentuk becak besar disebabkan oleh Septoria apii (Brosio et Cav.) Chester jamur ini mempunyai ukuran-ukuran yang lebih kecil daripada jamur yang pertama. Konidium berukuran 13,5-34,2 X 1,0-2,5 µm. Piknidium bergaris tengah 65-95 µm, dengan ostiol kurang dari ¼ garis tengah piknidium. Jamur dapat bertahan dari musim ke musim pada biji-bijian dan pada sisa-sisa tanaman yang sakit. Pada biji jamur dapat membentuk piknidium pada kulit biji. Penyakit dapat berkembang epidemis dalam cuaca yang basah dan suhu yang sejuk.
2.3   GEJALA
Pada umumnya mula-mula pada daun terjadi bercak-bercak klorotis, yang lalu menjadi nekrotis dengan garis tengah beberapa mm. Daerah klorotis di sekitar bagian yang mengkrotis tadi makin meluas sehingga dapat meliputi sebagian besar dari daun. Pada bagian yang nekrotis dan pada bagian di luarnya terdapat titik-titik halus berwarna hitam. Ini adalah badan buah (piknidium) jamur penyebab penyakit. Pada tangkai daun penyakit menyebabkan timbulnya becak-becak memanjang, berwarna coklat. (lihat gambar)
Selain bentuk yang umu itu, kadang-kadang pada daun selesri terlihat becak-becak lebar yang dapat mempunyai garis tengah sampai 10mm. Becak ini mempunyai batas yang jelas. Untuk membedakannya bentuk ini disebut ”bentuk becak besar” (large-spot form). Pada bentuk becak besar titik-titik hitam lebih sedikit terdapat dan umumnya terbatas di dekat pusat becak. (lihat gambar)