Penyakit Tanaman Pisang

Penyakit yang sering menyerang tanaman pisang  adalah: Layu Fusarium, layu bakteri dan kerdil (Bunchy Top).
A. Penyakit Layu Fusarium
Penyakit ini sering disebut penyakit Panama, disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Penularan penyakit ini melalui bibit, tanah air, pupuk kandang atau alat-alat pertanian.
Gejala
Gejala awal adalah menguningnya daun tua yang diikuti diskolorisasi pembuluh pada pelepah daun terluar. Perubahan warna semakin hebat terjadi pada stadium lanjut dan bila pseudostem terinfeksi dipotongakan terlihat jaringan sakit lebih keras dibanding jaringan sehat. Gejala lain adalahperubahan bentuk dan ukuran ruas daun yang baru muncul lebih pendek serta perubahan warna pada bonggol. Penularan terutama terjadi melalui luka pada akar.
Pencegahan
Pencegahan penularan dapat dilakukan dengan:
1. Membongkar dan membakar tanaman yang terserang dan siram tanah bekas tanaman pisang tersebut dengan fungisida.
2. Lakukan penggenangan dan pergiliran tanaman.
3. Menanam varietas tahan terhadap penyakit layu Fusarium.
4. Jangan menanam bonggol, anakan atau bibit dan membawa tanah dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit layu Fusarium.
5. Gunakan bibit bebas penyakit (hasil kultur jaringan).
6. Alat-alat pertanian yang digunakan selalu disuci hamakan dengan fungisida.
7. Pemanfaatan musuh alami seperti Trichoderma atau Glicocladium.
B. Penyakit Layu Bakteri
Penyakit layu ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Solaracearum. Penularan penyakit melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian atau serangga penular (vector).
Gejalanya
Gejala biasanya tampak setelah timbulnya tandan. Mula-mula daun muda mengalami perubahan warna dan pada ibu tulang daun terlihat garis coklat kekuningan kearah tepi daun hingga buah menjelang masak. Daun kemudian menguning/coklat, dan layu. Gejala spesifik adalah terdapatnya lendir bakteri yang berbau, berwarna putih abu-abu sampai coklat kemerahan keluar dari potongan buah atau bonggol, tangkai buah, tangkai tandan dan batang.
Pengendalian
Pengendalian atau pencegahanyang dianjurkan adalah:
1. Melarang perpindahan bibit/tanaman beserta tanahnya dari daerah endemik.
2. Penanaman bibit pisang sehat/bebas penyakit.
3. Pembungkusan buah beberapa saat setelah jantung keluar.
4. Sterilkan alat-alat yang dipakai dengan menggunakan formalin 30%.
5. Perbaikan drainase kebun.
6. Fumigasi tanah bekas tanaman yang terserang dengan Methyl Bromide (secara injeksi).
7. Pemusnahan tanaman sakit dengan menggunakan 5 – 20 ml larutan herbisida glyphosate 5% atau 2,4-D 2,25%.
8. Melakukan rotasi tanaman misalnya dengan menggunakan family graminae seperti sorgum, padi, jagung, rumput gajah dan lain sebagainya untuk memotong siklus patogen di dalam tanah selama sekitar satu tahun.
C. Bercak Daun Sigatoka
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella musicola Mulder.
Gejala
Gejalanya mula-mula timbul bintik-bintik kuning pada tepi daun, kemudian bintik melebar menjadi noda kuning tua kemerahan sampai kehitaman, sehingga seluruh helaian daun menjadi kuning, daun menjadi lebih cepat kering dan buah matang sebelum waktunya.
Pengendalian
Pengendalian penyakit ini dianjurkan dengan pemupukan berimbang, sesuai anjuran setempat dan sanitasi sumber infeksi dengan memotong dan membakar daun-daun mati/sakit.
D. Penyakit Kerdil Pisang / Bunchy Top Virus.
Penyakit ini disebabkan oleh virus. Penularannya melalui vektor Pentalonia negronervosa Coq.
Gejala
Gejalanya adalah daun muda tampak lebih tegak, pendek, lebih sempit dan tangkainya lebih pendek dari yang normal, daun menguning sepanjang tepi lalu mengering, daun menjadi rapuh dan mudah patah, tanaman terlambat pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset pada ujung batang palsunya.
Pengendalian
Pengendalian dilakukan dengan menanam bibit yang sehat dan sanitasi kebun dengan membersihkan tanaman inang seperti Abaca (Musa textiles), Heliconiaspp dan Canna spp, pembongkaran rumpun sakit, lalu dipotong kecil-kecil agar tidak ada tunas yang hidup. Cara lain adalah dengan menggunakan insektisida sistemik untuk mengendalikan vektor terutama di persemaian.

HAMA PENGGEREK POLONG (Etiella spp) pada tanaman Kedelai

Ulat yang menyerang tanaman kedelai pada stadia polong adalah ulat penggerek polong (Etiella zinckenella). Ulat ini terdapat di sebagian besar daerah tropis. Ulat penggerek polong ini memiliki tanaman inang kedelai, Crotalaria juncea, Crotalaria striata dan Tephrosia purpurea. Kedelai merupakan tanaman inang yang paling tinggi tingkat serangannya.

Ciri-ciri Etiella spp. :
• Ngengat berwarna kuning keabu-abuan dengan ukuran 1.7-2.5 cm, dan aktif pada malam hari serta sangat menyukai cahaya.
• Ngengat betina dapat bertelur sekitar 73-204 butir yang diletakkan pada bagian bawah kelopak bunga dan polong kedelai, berbentuk lonjong dan berukuran 0,6 mm. Telur muda berwarna putih mengkilap dan setelah tua menjadi jingga berbintik-bintik merah. Telur menetas pada umur kurang lebih 3-4 hari.
• Ulat yang baru menetas berjalan-jalan di permukaan polong selama beberapa waktu, kemudian menggerek ke dalam polong dan memangsa biji kedelai. Ulat berwarna hijau kekuningan sampai merah muda dengan bagian punggung bergaris hitam.
• Lama stadium ulat kurang lebih 12-19 hari, dengan rata-rata 15 hari.
• Pupa atau kepompong berada dalam tanah dengan kedalaman 2-3 cm, berwarna cokelat, berbentuk bulat lonjong dengan ukuran 1.5 cm.
• Lama stadium kepompong kurang lebih 8-13 hari dengan rata-rata 11 hari.
Gejala serangan :
• Ulat menggerek polong kedelai kemudian hidup dan tinggal di dalam polong dan memakan biji kedelai yang masih utuh.
• Ulat menyebabkan kerusakan pada polong muda dan tua.
• Ulat juga sering merusak bunga, yang pada akhirnya menyebabkan kegagaln pembentukan buah atau polong.
• Kerusakan polong muda mengakibatkan biji kedelai tidak berkembang dan polong rontok.
• Pada tingkat serangan tinggi, kerugian hasil dapat mencapai lebih dari 90%.

Pengendalian :
Pengendalian hama penggerek polong sebaiknya dilakukan secara terpadu atau PHT yaitu suatu cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir yang apabila serangan hama penggerek polong telah melampaui batas ambang kendali yaitu bila telah ditemukan kerusakan polong sekitar 2,5% atau terdapat 2 ekor ulat per tanaman saat tanaman kedelai berumur lebih dari 45 hari. Adapun komponen pengendalian hama penggerek polong kedelai adalah dengan cara sebagai berikut :

• Tanam serempak dalam kurun 10 hari (tidak lebih dari 10 hari)
• Pergiliran tanaman bukan inang
• Pemasangan lampu perangkap karena ulat ini menyukai cahaya
• Tanaman perangkap berupa jagung umur genjah, sedang dan dalam pada pematang.
• Jika sudah mencapai ambang kendali (dengan kerusakan polong 2.5% atau jika ditemui 2 ekor ulat/rumpun pada umur lebih dari 45 hari), tanaman dapat disemprot dengan insektisida effektif.
• Insektida yang dapat digunakan Atabron 50EC, Bassa 500EC, Buldok 25EC, Cymbush 50EC, Dimacide 40EC,maupun Dimilin 25WP.
Penulis : Siti Nurjanah, Penyuluh Pertanian Madya Pusbangluhtan.
Sumber : Balitan, 1985. Petunjuk bergambar untuk identifikasi hama dan penyakit kedelai di Indonesia. 
Teknologi Budidaya Kedelai, 2008. BPTP Yogyakarta.
Teknologi Budidaya Kedelai, 2008.BBP2TP Badan Litbang.

KEPIK HIJAU (Nezara viridula), HAMA PENGISAP POLONG KEDELAI

Hama pengisap polong pada tanaman kedelai yang disebabkan oleh kepik hijau (Nezara viridula) dapat menyebabkan penurunan hasil dan bahkan dapat menurunkan kualitas biji. Akibat dari isapan hama pengisap polong dapat menyebabkan kehampaan, terlambat tumbuh dan terbentuk biji-biji yang cacat bentuknya yang biasanya memiliki bekas isapan.
Nezara viridula tersebar luas di daerah tropis dan subtropis. Di Indonesia, selain menyerang tanaman kedelai, serangga ini juga menyerang tanaman padi, jagung, tembakau, kentang, cabe, kapas dan berbagai jenis tanaman berpolong.
 
 
Ciri-ciri Nezara viridula :
• Serangga dewasa biasanya berwarna hijau yang merata pada seluruh tubuh, tetapi kadang-kadang berwarna kuning pada bagian kepala dan protorak, dan jarang sekali yang seluruh tubuhnya berwarna kuning.
• Tubuhnya berbentuk segilima seperti perisai, panjang tubuh sekitar 1-1.5 cm dan kepalanya bersungut.
• Di punggungnya terdapat 3 bintik berwarna hijau. Sedangkan nimfanya (kepik muda) memiliki warna berbeda-beda tergantung perkembangan instarnya. Pada awalnya berwarna coklat muda, kemudian berubah menjadi hitam dengan bintik-bintik putih. Selanjutnya warna berubah menjadi hijau dan berbibtik-bintik hitam dan putih. 
• Kepik betina dewasa bertelur pada permukaan bawah daun dan jumlahnya mencapai 1100 butir selama hidupnya.
• Telurnya berwarna kekuningan, kemudian berubah menjadi kuning, tetapi menjelang menetas warnanya berubah menjadi kemerahan (merah bata). Telur berbentuk oval agak bulat seperti tong.
• Periode telur 4-6 hari.
• Perkembangan dari telur sampai menjadi serangga dewasa kurang lebih selama 4-8 minggu.
 
Gejala serangan :
• Nimfa dan serangga dewasa merusak tanaman dengan cara mengisap polong kedelai.
• Pada polong yang masih muda dan terserang kepik hijau menyebabkan polong tersebut menjadi kosong (hampa) dan kempis karena biji tidak terbentuk dan polong gugur. 
• Pada polong tua menyebabkan biji keriput dan berbintik-bintik hitam yang pada akhirnya biji menjadi busuk.

Pengendalian : 
Prinsip pengendalian hama secara terpadu atau PHT merupakan suatu cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan masih menjadi alternative utama dalam pengendalian hama pengisap polong kepik hijau (Nezara viridula). Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir yang apabila serangan hama kepik hijau telah melampaui batas ambang kendali yaitu bila telah ditemukan kerusakan polong lebih dari 2% atau terdapat sepasang kepik dewasa per tanaman saat tanaman kedelai berumur lebih dari 45 hari setelah tanam. Adapun komponen pengendalian hama pengisap polong kedelai adalah dengan cara sebagai berikut :

• Tanam serempak dalam tidak lebih dari 10 hari.
• Pergiliran tanaman bukan inang.
• Pengumpulan kepik dewasa ataupun nimfa untuk dimusnahkan.
• Menjaga kebersihan lahan dari tanaman penganggu atau gulma.
• Menggunakan pestisida apabila serangan telah melampaui batas ambang kendali.

Penulis : Siti Nurjanah, Penyuluh Pertanian Madya Pusbangluhtan.
Sumber : Balitan, 1985. Petunjuk bergambar untuk identifikasi hama dan penyakit
kedelai di Indonesia. 
Teknologi Budidaya Kedelai, 2008. BPTP Yogyakarta.

Bercak Daun Pada Cabai

Pada dasarnya di Indonesia dibudidayakan dua spesies cabai, yaitu cabai besar dengan buah-buah menggantung (Capsicum annum L) dan cabai kecil/cabai rawit dengan buah-buah tegak (Capsicum frutescens L). Tiap-tiap spesies memiliki banyak varietas. Dalam hal ini paprika merupakan satu jenis dari cabai besar.
Ada berbagai macam penyakit yang menyerang tanaman cabai, salah satunya yaitu penyakit bercak daun. Penyakit ini banyak menyerang pada cabai besar (Capsicum annum L) terutama yang dibudidayakan pada dataran tinggi, lebih-lebih pada paprika. Penyakit ini juga terdapat pada cabai yang dibudidayakan pada dataran rendah, akan tetapi tidak dianggap sebagai penyakit yang berbahaya.
Gejala yang tampak yaitu pada daun terdapat bercak-bercak bulat, kecil, kebasah-basahan. Bercak ini dapat meluas, pusatnya berwarna pucat sampai putih, dengan tepi yang lebih tua warnanya. Selain itu bercak juga sering terdapat pada batang, tangkai daun, maupun tangkai buah. Akan tetapi bercak sangat jarang muncul pada buah.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Jamur ini bisa terbawa oleh biji, dan ada kemungkinan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit selama satu musim. Jamur ini kurang dapat tumbuh dengan baik pada musim kemarau sehingga penyakit ini kurang terdapat pada musim kemarau, selain itu pada lahan yang memiliki drainasi yang baik juga dapat menghambat pertumbuhan jamur ini. Penyakit ini dapat timbul pada tanaman muda di persemain, meskipun cenderung lebih banyak pada tanaman tua. Perkembangan penyakit ini dibantu oleh cuaca yang panas dan basah.
Untuk meminimalisir serangan penyakit ini perlu diperhitungkan waktu (musim tanam) oleh petani, memperbaiki drainasi lahan. Penggunaan benih dan bibit yang sehat juga dapat meminimalisir serangan penyakit bercak daun.
(Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-penyakit tanaman hortikultura di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press)

Busuk Daun

Busuk daun atau embun bulu (downey mildew), yang sering juga disebut sebagai penyakit tepung palsu (false mildew) sering merugikan tanaman ketimun, melon dan semangka. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Selain di Indonesia penyakit ini terdapat pula di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini dan Negara-negara Pasifik Selatan.
Gejala yang ditimbulkan yaitu pada permukaan atas daun terdeapat bercak-bercak kuning, sering agak bersudut karena terbatas oleh tulang-tulang daun. Pada cuaca lembab pada sisi bawah bercak terdapat kapang (jamur) seperti bulu yang warnanya keunguan atau keabuan. Daun yang terserang berat menjadi klorotis, menjadi coklat, dan mengeriput. Gejala mulai terdapat pada daun-daun muda setelah daun-daun yang lebih tua mati. Karena berkurangnya jumlah daun, tanaman tidak dapat berbunga dan berbuah biasa. Buah-buah yang meningkat masak tidak dapat mempunyai warna yang menarik, rasanya tidak enak, dan sering terbakar matahari. Jamur penyebab penyakit ini hanya menginfeksi daun.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Pseudoperonospora cubensis. Jamur ini tidak dapat hidup sebagai saprofit, sehingga hanya mempertahankan diri dari musim ke musim pada tanaman labu-labuan yang hidup. P. cubensis dipencarkan dengan sporangium yang banyak dibentuk pada sisi bawah daun. Sporangium terangkat oleh angin ke daun sehat, tumbuh dalam tetes air dengan membentuk spora kembara (zoospora). Infeksi dan pemencaran jamur paling baik terjadi pada cuaca basah dan suhu yang relative rendah 16-22 ºC
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan berusaha agar di sekitar pertanaman tidak terdapat sumber-sumber infeksi, misalnya tanaman labu-labuan liar, atau sisa-sisa tanaman tua yang belum dibongkar, untuk mengurangi sumber infeksi dianjurkan agar tanaman yang terserang berat dibongkar, lalu dibakar atau dipendam, meningkatkan pertukaran udara dalam pertanaman agar daun yang basah dapat cepat mengering.
(Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-penyakit tanaman hortikultura di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press)

Layu Fusarium Pada Labu-Labuan

Penyakit layu Fusarium (Fusarium wilt) banyak merugikan  tanaman melon. Gejala pada tanaman yang masih sangat muda terjangkit, semai dapat busuk sebelum atau sesudah muncul dari tanah, atau tanaman dapat tumbuh menjadi tanaman kerdil. Pada tanaman dewasa penyakit menyebabkan daun-daun menjadi pucat, bagian atas tanaman layu, dan sedikit demi sedikit seluruh tanaman layu dan akhirnya mati. Pada batang terdapat coreng yang panjangnya mencapai 60 cm, menjadi nekrotik, dan mempunyai massa spora merah jambu. Kadang-kadang pada batang terjadi lekah yang mengeluarkan cairan berwarna coklat. Jika dibelah akan tampak bahwa bagian kayu dari batang berwarna coklat. Jika dibentuk, buah-buah lebih kecil daripada biasa. Akar-akar dapat mempunyai gejala kanker.
Penyebab penyakit layu fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum, yang berkembang dalam berkas pembuluh tanaman. Penyakit pada melon dan semangka disebabkan oleh dua ras yang berbeda. Kedua jamur tersebut dapat bertahan dalam tanah selama bertahun-tahun. Populasinya akan meningkat ketika di areal tersebut ditanam tanaman yang sesuai. Fusarium menginfeksi melalui akar-akar dan berkembang dalam pembuluh kayu. Jamur mengadakan penetrasi melalui jaringan meristem pada ujung akar, melalui epidermis pada zone memanjangnya akar, dan melalui celah-celah yang terjadi karena munculnya akar lateral yang baru. Infeksi pada semangka terjadi paling baik pada suhu 17 ºC, namun kelayuan yang berat dapat terjadi pada suhu 20-30 ºC. Pada suhu diatas 30 ºC infeksi sangat berkurang bahkan pada suhu 33 ºC atau di atasnya tidak dapat terjadi infeksi.
Di Indonesia belum terdapat pengalaman mengenai pengendalian panyakit layu Fusarium. Beberapa cara yang dilakukan di negara-negara lain yaitu, mengendalikan pergiliran dengan tanaman yang tidak rentan. Sebaiknya menanam semangka dan melon di tanah yang baru, menanam kultivar yang tahan, menyambung melon di atas batang bawah yang tahan.
(Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-penyakit tanaman hortikultura di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press)

Penyakit Antraknosa Pada Buncis

Antraknosa ialah penyakit yang paling merugikan pada buncis, penyakit ini tersebar di seluruh daerah penanaman buncis di seluruh dunia. Tak dapat dihindari di Indonesia penyakit ini juga tersebar luas. Penyakit ini menyerang seluruh bagian tanaman di atas tanah, namun karena kerugian yang terbesar terjadi pada polong dan biji, pada umumnya antraknosa dianggap sebagai penyakit polong biji.
Gejala awal umumnya melalui infeksi pada batang dan daun terlebih dahulu daripada  infeksi pada polong. Karena infeksi pada polong bersumber dari infeksi pada batang dan daun. Pada batang terdapat bercak-bercak jingga atau coklat kemerahan yang memanjang sepanjang sumbu batang. Membesar sedikit demi sedikit dan melekuk. Gejala pada daun kurang menyolok, tulang-tulang daun pada sisi bawah daun berubah warnanya dan dapat berwarna coklat kemerahan sampai hitam. Gejala yang paling jelas terdapat pada polong yang belum masak. Di sini terjadi bercak-bercak kecil yang dalam waktu pendek dapat meluas sehingga mempunyai garis tengah 1 cm.
Penyebab penyakit ini adalah jamur Colletotrichum lindemuthianum. Jamur ini tumbuh dengan baik pada kondisi kelembaban udara 98% atau lebih. Infeksi tidak dapat terjadi pada suhu di atas 27ºC. Akan tetapi pada suhu 17ºC dapat terjadi banyak infeksi.
Untuk menanggulangi penyakit ini dapat dilakukan dengan hanya menanam biji yang benar-benar sehat, apabila terjadi infeksi yang berat pada suatu lahan sebaiknya tidak ditanami dengan buncis selama 2-3 tahun untuk menghindarkan terjadinya infeksi dari sisa-sisa tanaman, perbaikan bercocok tanam, seperti menanam tidak terlalu rapat agar kelembaban tidak terlalu tinggi di sekitar tanaman, perbaikan drainasi, dan menanam pada musim kering.
(Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-penyakit tanaman hortikultura di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press)

Busuk Akar Dan Kanker Batang Pada Apokat

Apokat (Persea americana Mill) berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Selama berabad-abad buahnya menjadi makanan pokok penduduk asli di wilayah itu. Di Indonesia dewaasa ini apokat banyak terdapat di pekarangan-pekarangan, dari dataran rendah sampai ke pegunungan. Namun jarang sekali apokat dibudidayakan secara komersial.
Pada apokat ada beberapa penyakit yang menyerang tanaman ini. Busuk akar dan kanker batang ialah penyakit apokat yang paling merugikan. Serangan penyakit ini tidak hanya terjadi di Indonesia akan tetapi telah tersebar ke seluru dunia. Pohon yang terjangkit penyakit mundur kesehatannya sedikit demi sedikit . Tajuknya tampak jarang, daun-daun berwarna lebih muda daribapa biasa, dan cenderung untuk menjadi layu meskipun tanah cukup basah, banyak daun yang rontok, daun baru yang tumbuh tampak lebih kecil. Sering kali pohon berbuah sangat lebat setelah tampaknya gejala yang pertama, tetapi buah tidak dapat mencapai ukuran yang biasa. Jamur penyebab penyakit terutama menyerang akar-akar halus sehingga akar-akar busuk dan rapuh. Pohon mati beberapa tahun setelah tampaknya gejala pertana, meskipun kadang-kadang lebih cepat.
Kanker batang dapat diketahui kerena adanya perubahan warna kulit batang di dekat permukaan tanah. Kulit yang sakit sering mengeluarkan getah, yang mengering seperti tepung putih. Bagian dalam kulit berwarna coklat, dan perubahan warna ini dapat masuk sampai ke dalam kayu. Pohon yang sakit mati perlahan-lahan, meskipun ada kalanya mati mendadak. Setelah tampaknya gejala, pohon dapat berbuah sangat lebat, namun buahnya kecil-kecil.
Busuk akar dan kanker batang dapat  disebabkan oleh beberapa spesiesPhytophthoraPhytophthora dapat bertahan lama dalam tanah yang mengandung bahan organik dengan hidup secara saprofitis. Pada umumnya sporangium dan zoospora dipancarkan oleh air yang mengalir pada permukaan tanah.Phythophthora dapat hidup baik pada lingkungan yang basah apalagi pada lahan yang memiliki drainasi yang jelek. Pemberian air yang yang terlalu sering dapat membantu pemencaran penyakit. Busuk akar dan kanker batang lebih banyak terdapat di tanah lempung, dan jarang terdapat di tanah berkapur. Selain itu jamur penyebab penyakit ini akan berkembang dengan baik pada suhu 25-28ºC.
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan memperbaiki drainasi kebun, membongkar kebun jika telah terserang sangat parah dan menanaminya dengan tanaman yang tidak rentan sebelum ditanami kembali, menggunakan bibit yang benar-benar sehat yang dipindah ke kebun.
(Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-penyakit tanaman hortikultura di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press)

Layu Bakteri Pada Jahe

Jahe diduga berasal dari India, tanaman ini banyak dibudidayakan di Indonesia karena akar rimpangnya (akar tinggalnya) dapat digunakan sebagai bumbu, bahan jamu, dan manisan, sedangkan minyaknya untuk penyedap masakan dan industri parfum. Selain untuk keperluan dalam negeri, jahe juga merupakan bahan ekspor bagi Indonesia. Tanaman ini banyak ditanam di pekarangan dan di ladang.
Layu bakteri merupakan salah satu penyakit yang menyerang tanaman jahe. Penyakit ini merupakan penyakit yang cukup penting pada jahe di Indonesia. Gejala-gejala yang nampak yaitu daun-daun bawah menjadi kuning dan layu, yang cepat meluas ke atas. Pada tingkat yang lebih lanjut pangkal batang palsu menjadi kebasah-basahan dan mudah patah dari akar rimpangnya. Berkas pembuluh menjadi coklat tua atau hitam. Jika dipotong batang palsu dan akar rimpang akan mengeluarkan lendir yang seperti susu. Penyebab penyakit layu bakteri ialahPseudomonas solanacearum. Bakteri ini dapat bertahan lama di dalam tanah, khususnya jika sebelumnya di lahan tersebut ditanami tanaman yang rentan. Di dalam pertanaman penyakit ini dapat berkembang dengan cepat. Dari beberapa tanaman yang sakit dalam waktu beberapa minggu penyakit dapat menyebar pada suatu areal yang luas. Umumnya penyakit ini terdapat pada tanaman  muda yang berumur 3-4 bulan.
Pengendalian penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan menam jahe di lahan yang belum terinfeksi Pseudomonas solanacearum, atau lahan yang selama 3-5 tahun tidak ditanami dengan tanaman yang dapat menjadi inang bekteri tersebut. Di daerah yang telah terinfeksi dilakukan pergiliran tanaman (rotasi) dengan padi, jagung, atau mentimun. Selain itu, untuk mengandalikan penyakit ini dilakukan dengan menggunakan bibit yang sehat ketika awal penanaman.
(Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-penyakit tanaman hortikultura di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press)

Pengendalian Hama Keong Mas

Pemasanganperangkap telur dan  pemungutan keong massecara berkala
·         Perangkap telur terdiri dari kayu bambu, pelepah rumbia,rantingranting kayu.
·         Panjang kayu perangkap 1-1,5 m.
·         Besar kayu perangkap (diameter) 1-3 cm.
·         Pemasangan tiang perangkap didalam petakan sawah,  1-3 meter jarak dari pematang sawah
·         Jarak masing-masing tiang 2-3 meter atau lebih.
·         Jumlah tiang perangkap 200 batang/ha.
·         Pemasangan tiang perangkap pada umur tanaman padi 1minggu setelah tanam sampai dengan 4 minggu setelah tanam.
·         Pemungutan/pembuangan kelompok telur yang menempel padatiang: seminggu 1 atau 2 kali.
·         Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.
·         Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.
Pemberianumpan perangkap dan  pemungutan keong massecara berkala
·         Umpan perangkap terdiri dari daun, batang, tangkai pepayadan daun kuda-kuda.
·         Peletakan umpan perangkap diletakkan dalam petakan sawah secaraberjejer.
·         Jarak peletakan umpan antara satu dengan yang lain 1-2meter.
·         Jumlah umpan yang digunakan 40  kg/ha.
·         Waktu mulai peletakan umpan sebelum tanam sampai dengan 5minggu setelah tanam.
·         Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.
·         Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.
Pelepasanitik di areal sawah
·         Waktu pelepasan 1 minggu setelah tanam sampai dengan umur45  hari setelah tanam.
·         Jumlah itik yang dilepaskan 25 ekor/ha.
·         Waktu pelepasan pagi dan sore hari.