Kategori: Hama dan Penyakit
Serangan Wereng Coklat & Virus
SERANGAN ULAT BULU
Serangan ulat jika terus dibiarkan maka akan banyak pihak mengalami kerugian ekonomi dan sosial. Oleh karena itu pengendalian terhadap populasi ulat menjadi langkah yang harus segera dilakukan.
Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan langkah yang terbaik, dengan pendayagunaan musuh alami, burung, parasitoid, perangkap lampu UV dan penggunaan perangkap feromon seks, maupun pestisida contac/sistemik.
Teknologi KPI yang dapat direkomendasikan sebagai salah satu cara pengendalian serangan ulat bulu adalah dengan pestisida alamiPESSO, yakni sebagai berikut:
Aplikasi penyemprotan dilakukan pada pagi-siang maupun sore hari secara kontak pada hama sasaran. Nosel sprayer dapat dikencangkan agar dapat dihasilkan penyemprotan kabut (mist).
Tidak lupa sebelum melakukan aplikasi penyemprotan, relawan tani melakukan Kontemplasi diri (berserah diri kepada Allah SWT). Mulai dengan niat tulus ikhlas bahwa segala sesuatu kembali kepadaNya. Itikadkan bahwa kita tidak memusnahkan ulat bulu namun hanya mengendalikan agar keseimbangan alam tidak terganggu. Ini adalah salah satu rukun dan syarat dalam Teknologi SRI [Semua Ridho Illahi] dari Klinik Pertanian Indonesia.
Semoga dengan adanya kejadian alam seperti ini, kita semua (para relawan tani), petani dan masyarakat terlebih para pemimpin bangsa dapat berintrospeksi diri, berbenah untuk menjadi lebih baik, dalam menyebarkan kebajikan, semata karena Allah SWT sang pencipta alam semesta. amien.
Mari MULIAKAN TANAH pertiwi …
Mari MULIAKAN KEHIDUPAN PETANI …
Mari Ajak petani BERTANI DENGAN HATI…
Gunakan Teknologi SEMUA RIDHO ILLAHI [SRI] …
Agar BUMI TETAP LESTARI …
Masalah Rumpai Dalam Pertanian
PENYAKIT KARAT TUMOR/KARAT PURU PADA SENGON LAUT (Uromycladium spp.)
- Untuk serangan karat tumor/karat puru di persemaian: yang menunjukkan gejala-gejala serangan harus segera dicabut dan dimusnahkan/dibakar
- Untuk pencegahan perluasan karat tumor/karat puru: adanya pengawasan yang ketat terhadap transportasi benih, bibit dan kayu tebangan dari daerah yang telah terserang penyakit karat tumor/karat puru ke daerah yang belum terserang.
- Pemeliharaan tanaman dengan pemberian pupuk dan penjarangan tanaman
Menghilangkan Burik Pada Buah Jeruk
Cara Aman Mengendalikan Keong Mas
Peneliti sekaligus Ketua Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB)
PENGENALAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT VIRUS KUNING PADA CABAI
![]() |
Akhir-akhir ini penyakit virus kuning pada cabai telah mengakibatkan kerugian di berbagai sentra produksi cabai di Indonesia. Di DIY, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Lampung, epidemi penyakit ini telah menyebabkan kerugian bagi petani hingga mencapai milyaran rupiah. Samapai sekarang belum ditemukan varietas cabai yang tahan terhadap penyakit ini. Virus mempunyai kisaran inang yang luas dan mampu menginfeksi beberapa jenis tanaman, diantaranya tomat dan gulma wedusan/babadotan (Ageratum conyzoides).
|
||||||||||||||||||||||||
Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati (Gambar 1-2). Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan. Sedangkan gejala pada tanaman tomat adalah berupa tepi daun menguning atau pucat dan melekuk ke atas seperti mangkok (cupping),daun mengeras, daun mengecil dan tumbuh tegak, tanaman menjadi kerdil apabila terinfeksi virus sejak awal pertumbuhan (Gambar 3). |
|||||||||||||||||||||||||
![]() Penyakit kuning cabai di Indonesia disebabkan oleh virus dari kelompok/Genus Begomovirus (singkatan dari: Bean golden mosaic virus), Famili Geminiviridae. Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm. Di Cuba, penyakit kuning pada cabai disebakan oleh Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV).
Virus ditularkan oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut (Gambar 4). Virus tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman. |
|||||||||||||||||||||||||
Pengendalian penyakit yang dianjurkan adalah dengan menerapkan Manajemen Kesehatan Tanaman, artinya tanaman harus dikelola agar selalu tetap sehat, karena tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap infeksi virus. Pengendalian penyakit meliputi: (1) Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang, (2) Penggunaan bibit sehat, yaitu: (a) pengerudungan persemaian menggunakan kain kasa/kelambu; (b) tempat persemaian yang terisolasi jauh dari lahan yang terserang penyakit; (c) semai dilindungi dengan pestisida nabati seperti nimba, ekstrak tembakau, dsb; (d) perlindungan dengan pestisida kimiawi dapat dilakukan secara bijaksana, (3) Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman cabai termasuk menghilangkan gulma dan eradikasi tanaman sakit sejak awal pertumbuhan, (4) Mengatur waktu tanam agar tidak bersamaan dengan tingginya populasi serangga penular, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, dan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang dari virus maupun serangga, (5) Pengendalian dengan insektisida kimiawi secara bijaksana, misalnya yang berbahan aktif imidacloprid, penyemprotan kutu putih sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara jam 06:00-10.00 (6) Tanaman tahan atau toleran terhadap virus maupun serangga penular. |
|||||||||||||||||||||||||
Serangga Musuh Alami Hama yang perlu diwaspadai
Pencegahan dan Pengendalian Wereng Batang Coklat






Pengendalian penyakit yang dianjurkan adalah dengan menerapkan Manajemen Kesehatan Tanaman, artinya tanaman harus dikelola agar selalu tetap sehat, karena tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap infeksi virus. Pengendalian penyakit meliputi: (1) Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang, (2) Penggunaan bibit sehat, yaitu: (a) pengerudungan persemaian menggunakan kain kasa/kelambu; (b) tempat persemaian yang terisolasi jauh dari lahan yang terserang penyakit; (c) semai dilindungi dengan pestisida nabati seperti nimba, ekstrak tembakau, dsb; (d) perlindungan dengan pestisida kimiawi dapat dilakukan secara bijaksana, (3) Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman cabai termasuk menghilangkan gulma dan eradikasi tanaman sakit sejak awal pertumbuhan, (4) Mengatur waktu tanam agar tidak bersamaan dengan tingginya populasi serangga penular, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, dan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang dari virus maupun serangga, (5) Pengendalian dengan insektisida kimiawi secara bijaksana, misalnya yang berbahan aktif imidacloprid, penyemprotan kutu putih sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara jam 06:00-10.00 (6) Tanaman tahan atau toleran terhadap virus maupun serangga penular.