Perkapuran Bulir Padi

Bulir-bulir padi yang menguning di sawah menjelang panen membuat hati tenang dan tampak jelas keuntungan dari hasil panen tersebut.  Tetapi dibalik itu bisa terjadi kekecewaan, akibat perubahan iklim yang cepat berubah mengakibatkan kadar kapur didalam bulir padi meningkat sehingga pada penggilingan dan penyosohan beras menjadi rapuh dan rawan pecah atau remuk.  Bagian yang bisa dikonsumsi jadi berkurang dan nilai pasarpun akan jatuh sekitar 25%.
Kasus pengkapuran padi tersebut terjadi dalam kondisi suhu udara tinggi selama atau pada tahap pertumbuhan bulir padi sedang dalam proses pengisian.  Hingga sekarang, belum ada cara pembiakan yang bisa mengatasi perkapuran dalam bulir padi.
Untuk mencegah gejala demikian, Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (ACIAR) telah mendanai suatu proyek penelitian yang dipimpin oleh DR. Melissa Fitzgerald.  Dilaporkan pula proyek ini telah berhasil melakukan terobosan menghasilkan benih padi varietas baru yang tahan terhadap perubahan iklim dan tetap menghasilkan padi penuh.
Penelitian yang sudah berlangsung 5 tahun telah berhasil mengindentifikasi lokasi DNA yang mendorong proses pengkapuran pada bulir padi.   Penemuan ini memberi keyakinan bagi tim peneliti  bahwa mereka akan bisa menemukan penanda molekuler yang bisa membantu seleksi pembiakan padi yang khusus menghindari pengkapuran dalam pembiakan padi.
Menurutnya, pengkapuran merupakan ancaman nyata dampak dari perubahan iklim yang ekstrim saat ini dan berpotensi menghancurkan hasil panen.  Ia memperkirakan upaya mengurangi pengkapuran akan bisa menambah bagian beras yang bisa dimakan sebesar 7% per hektar, sehingga cukup berarti bagi ketahanan pangan nasional.

Serangan Wereng Coklat & Virus

Wereng adalah hama yang paling ditakuti oleh petani padi, ada beberapa cara untuk mengurangi serangan  wereng yang bisa dilakukan oleh para petani, cara paling mudah adalah lakukan pembakaran atau pemusnahan seluruh tanaman padi yang terkena hama, ini tidak mungkin dilakukan oleh petani karena mereka masih mengharapkan tanamannya masih bisa menghasilkan padi.    Untuk penyelamatan sawah padi yang sudah terkena wereng bisa menggunakan pestisida Mipcin dan bila sudah cukup parah dapat dicampur dengan promak (pestisida spectrum luas) untuk mematikan telur wereng yang tersembunyi.   Cara ini cukup ampuh dan mampu menyelamatkan sawah padi yang hampir gagal panen,  hanya ini tidak bisa dilakukan untuk seterusnya karena menyebabkan wereng jadi resist terhadap pestisida sedangkan wereng coklat daur hidupnya singkat dan daya adaptasinya cukup tinggi terhadap lingkungan dan insektisida.
Cara yang paling mudah dan aman adalah mulailah menggunakan kembali pupuk organik atau pupuk majemuk mulai dari pengolahan tanah untuk persiapan tanam, penyemaian, penanaman, pemeliharaan hingga menjelang panen ditambah lagi saat ini sudah ada pestisida organik seperti Pestneem yang beredar di pasaran menambah aman bagi para petani yang ingin menanam padi organik.   Memang pada mula pertama menggunakan pupuk organik produktivitas padi pada sawah organik akan menurun hingga 60% baru akan kembali normal setelah panen ke tiga hingga ke empat, tetapi itu bisa disiasati dengan penggunaan pupuk organik yang benar dari pengolahan tanah hingga menjelang panen.
Untuk mengembalikan atau menetralisir tanah pada saat pengolahan lahan taburkan AZEO Soil Conditioner ke areal sawah setelah di bajak, mineral berbentuk granul ini berfungsi untuk mengembalikan ph tanah, menetralkan racun serta residu kimia akibat pupuk kimia penanaman sebelumnya.   Bersamaan dengan mineral tersebut taburkan pula NPK organik fermentasi dan pupuk kandang untuk melengkapi unsur hara mikro dan makro agar tanah kembali subur.
Selama masa penanaman, pertumbuhan hingga keluar malai gunakan pupuk cair organik “GETOE”, asam amino “Gemini” dan pestisida “Pestneem” untuk pencegahan hama, tentunya dengan tidak merubah pola dan kebiasaan petani di daerah masing-masing.
Tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?.
Untuk diketahui wereng sangat menyukai tanaman padi yang menggunakan pupuk urea karena lembar daun lebih lembut dan manis,  sedangkan pupuk organik membuat daun padi jadi lebih keras dan warna daun hijau lebih pekat (pahit) tidak disukai oleh wereng.

SERANGAN ULAT BULU

Serangan ulat jika terus dibiarkan maka akan banyak pihak mengalami kerugian ekonomi dan sosial. Oleh karena itu pengendalian terhadap populasi ulat menjadi langkah yang harus segera dilakukan. 
Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan langkah yang terbaik, dengan pendayagunaan musuh alami, burung, parasitoid, perangkap lampu UV dan penggunaan perangkap feromon seks, maupun pestisida contac/sistemik.

Teknologi KPI yang dapat direkomendasikan sebagai salah satu cara pengendalian serangan ulat bulu adalah dengan pestisida alamiPESSO, yakni sebagai berikut:

2-3 tutup botol PESSO + 3-4 tetes minyak kayu putih dalam tangki sprayer 14 liter air.

Aplikasi penyemprotan dilakukan pada pagi-siang maupun sore hari secara kontak pada hama sasaran. Nosel sprayer dapat dikencangkan agar dapat dihasilkan penyemprotan kabut (mist).

Tidak lupa sebelum melakukan aplikasi penyemprotan, relawan tani melakukan Kontemplasi diri (berserah diri kepada Allah SWT). Mulai dengan niat tulus ikhlas bahwa segala sesuatu kembali kepadaNya. Itikadkan bahwa kita tidak memusnahkan ulat bulu namun hanya mengendalikan agar keseimbangan alam tidak terganggu. Ini adalah salah satu rukun dan syarat dalam Teknologi SRI [Semua Ridho Illahi] dari Klinik Pertanian Indonesia.

Semoga dengan adanya kejadian alam seperti ini, kita semua (para relawan tani), petani dan masyarakat terlebih para pemimpin bangsa dapat berintrospeksi diri, berbenah untuk menjadi lebih baik, dalam menyebarkan kebajikan, semata karena Allah SWT sang pencipta alam semesta. amien.

Mari MULIAKAN TANAH pertiwi …
Mari MULIAKAN KEHIDUPAN PETANI …
Mari Ajak petani BERTANI DENGAN HATI…
Gunakan Teknologi SEMUA RIDHO ILLAHI [SRI] …
Agar BUMI TETAP LESTARI …

Masalah Rumpai Dalam Pertanian

Rumpai menimbulkan kesan yang sangat jelas ke atas pengeluaran hasil pertanian. Ini kerana rumpai biasanya lebih agresif dan dapat menyesuaikan pertumbuhannya walaupun dalam keadaan yang kurang baik. Sifat begini biasanya dipunyai oleh kebanyakan spesies rumpai yang hidup di dalam kawasan pertanian. Selain daripada sifat yang dinyatakan itu, rumpai juga mempunyai beberapa sifat lain yang agak istimewa berbanding dengan tanaman. Kesemua sifat ini akan menolong rumpai untuk bersaing dengan tanaman. Rumpai lebih berjaya dalam persaingan terhadap nutrien, air, karbon dioksida, dan cahaya jika dibandingkan dengan tanaman. Ini menyebabkan kemerosotan hasil dalam kebanyakan kawasan pertanian.
Dalam tanaman tertentu, rumpai menyebabkan peratus kemerosotan yang sangat tinggi. Ini sepertirumpai Echinochloa crus-galli yang tumbuh dalam sawah dan bersaing dengan pokok-pokok padi dan akan mengakibatkan pengeluaran padi merosot. Rumpai selain daripada mengurangkan hasil ia juga akan menjejaskan kualiti tanaman disamping meningkatkan kos pengeluaran. Ini kerana biji atau serpihan daripada rumpai sering bercampur dengan hasil tuaian. Ini sering berlaku semasa menuai tanaman bijirin dengan menggunakan alat jentera. Bijirin yang tercemar dengan biji-biji rumpai mempunyai harga pasaran yang rendah. Contohnya, padi yang bercampur dengan biji-biji rumpai akan dikelaskan dengan gred yang rendah. Malah bahagian-bahagian tanaman yang bercampur dengan biji-biji rumpai akan menyebabkan kerosakan semasa penyimpanan. Serpihan rumpai biasanya lembap dan semasa pereputan haba akan terbebas dan kulat pada serpihan rumpai boleh menjangkiti tanaman dan merosakkannya. Semua ini akan menjejaskan kualiti tanaman.
Rumpai turut meningkatkan kos pengeluaran kerana penggunaan buruh dan racun rumpai bagi mengawal pertumbuhannya. Merumput rumpai perlu dilakukan terutama dalam peringkat tertentu dalam masa pertumbuhan tanaman. Misalnya, dalam tanaman kacang tanah,rumpai perlu sentiasa dijaga rapi dalam tempoh 4 minggu pertama. Jika ia tidak dijaga rapi dalam tempoh ini, maka pertumbuhan pokok akan terencat. Ini akan merugikan petani.
Rumpai boleh menyebabkan kerugian yang besar dalam penghasilan tanaman, dan keindahan alam sekitar. Oleh yang demikian rumpai perlulah dikawal pertumbuhannya. Terdapat pelbagai kaedah pengawalan rumpai yang boleh digunakan. Antaranya, kawalan secara mekanik, kawalan secara biologi, kawalan secara pencegahan melalui amalan yang baik dan kawalan secara menggunakan racun rumpai.

PENYAKIT KARAT TUMOR/KARAT PURU PADA SENGON LAUT (Uromycladium spp.)

Oleh : Jumali
A.  PENDAHULUAN
Penyakit  karat tumor /karat puru (gall rust), merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon lautParaserianthes falcataria (Miq. Barneby &J.W. Grimes). Dampak penyakit meluas pada semai  sampai  tanaman  dewasa, mulai dari menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman. Pulau Jawa merupakan salah satu pusat penghasil kayu sengon terbesar di Indonesia. Epidemik penyakit karat tumor/karat puru bias terjadi pada tanaman sengon secara besar-besaran pada tahun mendatang. Hal ini tentu saja akan berpengaruh kuat pada peta pengusahaan tanaman sengon di Jawa serta prospek pengembangan produk berbasis kayu sengon. Oleh karena itu perlu dipikirkan langkah-langkah  terbaik untuk mengendalikan penyakit tersebut.
Adapun langkah-langkah konkrit hanya bisa diambil apabila kita telah mempunyai dasar-dasar pengetahuan tentang penyakit karat tumor/karat puru meliputi:
1. Penyebab penyakit karat tumor/karat puru, perilaku, serta cara penyebaran maupun siklus hidupnya.
2.  Gejala dan akibat yang ditimbulkan.
3.   Faktor lingkungan maupun faktor dalam tanaman itu sendiri yang mendukung atau menghambat terjadinya penyakit
Mengingat keberadaan penyakit karat tumor/karat puru terutama di daerah Kabupaten Sleman sudah mencapai tingkat epidemi, maka perlu dilaksanakan penanggulangan secara serius.  Kerjasama aktif antara pemerintah, masyarakat, LSM, peneliti dan pengusaha serta unsur-unsur terkait lainnya sangat diperlukan untuk mendapatkan solusi/hasil yang terbaik
B.  PENYEBARAN PENYAKIT KARAT TUMOR/KARAT PURU
Sebaran geografis penyakit ini adalah di Australia, New Coledonia, Papua New Guinea (1984), Maluku (1988/1989), Afrika Selatan (1992), Sabah (1993), Philipina (1997), Timor-Timur ( mulai tahun 1998), dan Jawa (mulai 2003). Di Jawa beberapa sentra sengon yang diketahui telah terserang penyakit karat tumor/karat puru antara lain : Lumajang, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Malang, Boyolali, Salatiga, dan Wonogiri.
Dari hasil pengamatan para penyuluh kehutanan lapangan, penyakit ini telah masuk  Kabupaten Sleman pada tahun 2006 tepatnya di wilayah Kecamatan Turi, awal tahun 2008 menyebar  di Kecamatan Cangkringan, serta terakhir pada  tahun 2009  sudah merata di wilayah lereng Selatan Gunung Merapi Kabupaten Sleman. 
C. PENYEBAB DAN PENYEBARANNYA
    Penyebab penyakit karat tumor/karat puru pada tanaman sengon laut telah diidentifikasi sebagai jamur karat (Uromycladium tepperianum (Sace.)McAlp.). Jamur karat ini hanya memerlukan 1 inang saja yaitu tanaman sengon laut untuk menyelesaikan seluruh siklus hidupnya. Jamur hanya membentuk satu macam spora yang dinamakan teliospora saja. Secara spesifik, teliospora mempunyai struktur yang berjalur, bergerigi dan setiap satu tangka terdiri dari 3 teliospora. Ukuran spora berkisar antara lebar 14-20 um dan panjang 17-28 um (Rahayu dan Lee, 2007).
    Tiliospora mudah diterbangkan oleh angin dari satu tempat ke tempat lain ataupun dari tanaman sengon satu ke tanaman sengon yang lain. Apabila telah mendapatkan tempat sesuai terutama pada bagian tanaman yang masih muda, dan kondisi lingkungannya menguntungkan, teliospora akan berkecambah membentuk basidiospora. Basidiospora ini dapat  secara langsung melakukan penetrasi, menembus lapisan epidermis membentuk hypha didalam atau diantara sel-sel epidemis, xylem dan phloem (Rahayu, 2007).
    Infeksi dapat terjadi  pada biji, semai maupun tanaman dewasa tanaman dilapangan. Semua bagian tanaman meliputi pucuk, cabang, ranting, daun, batang, bunga dan biji dapat terinfeksi oleh jamur tersebut (Franje,  1993 ; Braza, 1997 ;  Rahayu dkk, 2005). Pada semai, batang merupakan bagian tanaman yang paling rentan terhadap serangan jamur karat tumor/karat puru (Rahayu dkk,2006).
    D.  GEJALA SERANGAN
    Serangan karat tumor/karat puru  ditandai dengan terjadinya pembengkakan (gall) pada ranting/cabang, pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helai daun. Gall ini merupakan tubuh buah dari jamur.  Penyakit karat tumor/karat puru dapat menjadi persoalan yang serius dalam pengelolaan tanaman sengon. Penyebaran penyakit ini sangat cepat, dengan menyerang tanaman sengon mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada semua tingkatan umur. Kerusakan serius bila serangan terjadi pada tanaman muda (umu r1-2 tahun), karena titik-titik serangan (gall) bisa terjadi di batang pokok/utama sehingga batang pokok/utama rusak/cacat, tidak dapat menghasilkan pohon yang berkualitas yang tinggi.
    Penyebab penyakit karat tumor/karat puru yang menyerang tanaman sengon  adalah jamur Uromycladium tepperianum. Jamur ini dikenal sebagai jamur karat yang menyerang lebih dari seratus spesies Acaccia, jenis-jenis Paraserianthes/Albizia spp, Racosperma spp. (ketiganya merupakan anggota famili Fabaceae  ( =Leguminosae ) menyebabkan pembentukan (gall) yang menyolok pada dedaunan dan ranting pohon. Setiap gall karat tumor/karat puru dapat melepaskan ratusan sampai ribuan spora yang dapat menularkan ke pohon-pohon sekitarnya dengan cepat melalui bantuan angin. Ukuran, bentuk , dan warna gallbervariasi tergantung bagian tanaman yang terserang dan umur gall. Warna gall pada awalnya hijau kemudian berubah menjadi coklat. Warna coklat indikasi bahwa spora-spora yang melimpah siap dilepaskan/terbang.
    E.  PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
    1. Pencegahan
    1. Untuk serangan karat tumor/karat puru di persemaian: yang menunjukkan gejala-gejala serangan harus segera dicabut dan dimusnahkan/dibakar
    2. Untuk pencegahan perluasan karat tumor/karat puru: adanya pengawasan yang ketat terhadap transportasi benih, bibit dan kayu tebangan dari daerah yang telah terserang penyakit karat tumor/karat puru ke daerah yang belum terserang.
    3. Pemeliharaan tanaman dengan pemberian pupuk dan penjarangan tanaman
    2. Pengendalian
    Upaya pengendalian tanaman yang telah terserang penyakit karat tumor/karat puru adalah menghilangkan gall dan bagian tanaman yang terserang sedini mungkin, sebelum gall membesar dan berwarna coklat. Langkah yang dilaksanakan dengan mematikan sel-sel penyakit karat tumor/karat puru di bagian yang terserang agar tidak tumbuh gall lagi, caranya  adalah sebagai berikut :
    a. Cara Kemis/kimiawi : spirtus, larutan/bubur garam, larutan/bubur belerang
    a1. Spritus : Bagian tanaman yang terserang  dibersihkan dengan cara mengelupas gall tersebut dari batang/cabang/pucuk. Selanjutnya bagian tersebut dismprot/dioles dengan spirtus.
    a2. Larutan/bubur garam : 5 kg kapur + 0,5 kg garam  + air 5-10 liter diaduk-aduk sampai rata. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian disemprot/dioles dengan larutan/ bubur garam.
    a3. Larutan/bubur belerang : 1 kg kapur + 1 kg belerang + air 10-20 liter  diaduk-aduk sampai rata. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian bagian tersebut disemprot/dioles larutan /bubur belerang.
    b. Cara mekanik : memotong pucuk, cabang ranting yang ditumbuhi  gall.
    b1. Pucuk, cabang ranting yang ditumbuhi gall dipotong dan dikumpulkan, kemudian disemprot/disiram dengan sprirtus atau larutan/bubur garam atau larutan/bubur belerang.
    b2. Pucuk, cabang ranting  yang ditumbuhi gall dipotong dikumpulkan, kemudian dibakar atau dipendang dalam tanah.
    Catatan :  jangan sekali-kali memotong pucuk, cabang, ranting yang ditumbuhi gall dibuang disembarang tempat, karena akan menyebarkan spora penyakit karat tumor/karat puru lagi
    c. Cara rotasi tanaman:
    c1. Menghindari penanaman sengon untuk sementara, terutama di dataran tinggi yang berkabut.
    c2. Penggantian sengon sebagai tanaman pokok, dengan jenis-jenis FGS ( tanaman cepat tumbuh dan menghasilkan) yang potensial tidak menjadi inang jamur Uromycladium spp., yaitu jenis-jenis famili Fabaceae/Leguminosae, seperti Acacia spp, Paraserianthes/Albizia spp dan Racosperma spp.
    dCara pemulian tanaman
    Dicari individu-individu pohon sengon yang tahan terhadap penyakit karat tumor/karat puru, benihnya diambil dijadikan bibit, untuk penanaman selanjutnya. 
    F. LANGKAH PENANGGULANGAN
      Status penyakit karat tumor/karat puru di pulau Jawa, terutama di wilayah Kabupaten Sleman telah mencapai tingkat epidemik/serius/gawat. Secara umum berdampak negative terhadap penurunan produksi pohon sengon, industri perkayuan, ekonomi dan sosial. Oleh karenanya perlu segera ada kerja sama pemerintah, peneliti, Lembaga Swadaya Masyarakat, pengusaha, tokoh-tokoh masyarakat, masyarakat serta pihak-pihak lain yang terkait untuk menanggulangi penyakit karat tumor/karat puru pada tanaman sengon.
      DAFTAR  PUSTAKA
      Rahayu, S. 2007. Karat tumor desease of Falcataria moluccana on Tawau. Sabah, Malaysia PhD. Thesis. University Malaysia, Malaysia.
      Rahayu, S. 2009. Penyakit karat tumor pada sengon, Woekshop serangan karat tumor pada sengon.
      Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Nair. 2000

      Menghilangkan Burik Pada Buah Jeruk

      Buah jeruk yang burik atau kusam harga jualnya jatuh. Bagaimana mengatasinya? Menurut hasil survey yang dilakukan Badan Litbang Pertanian Deptan di sentra produksi jeruk manis, keprok dan siam di Jawa Timur, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat, ternyata buah jeruk yang burik disebabkan oleh serangan tungau karat jeruk (TKJ) dari famili Eriophyidae. Survey itu juga menemukan gejala serangan burik buah jeruk bisa mencapai 30%-40% per hektarnya. Kerugiannya, buah jeruk yang burik harga jualnya menurun antara 20%-30%. 
      Transparan 
      Seperti apa bentuk organisme yang menyebabkan buah jeruk menjadi burik? Organisme yang diberi nama tungau karat jeru ini adalah berwarna kuning transparan. Umur hidup TKJ tidak lama dan tergantung musim. Hasil penelitian menunjukkan untuk satu siklus hidup TKJ pada musim kemarau 7-10 hari dan pada musim penghujan 14 hari. Jumlah telur yang diletakkan satu ekor TKj betina dewasa sebanyak 20 butir. 
      Serangan tungau karat jeruk (TKJ) dirasakan sangat merugikan. Serangan pada buah muda umur 2-3 bulan, terhitung dari saat berbunga, merupakan fase kritis saat kerusakan. Serangan awal pada buah menimbulkan gejala warna buah keperakan hingga kecoklatan, tergantung dari jenis jeruknya. 
      Perubahan warna kulit jeruk karena terserang TKJ dikarenakan rusaknya jaringan tanaman pada lapisan sel epidermis. Seiring dengan perkembangan buah maka akan tampak gejala bekas tusukan pada permukaan kulit buah. Tak hanya itu kerugiannnya, serangan TKJ juga berpengaruh terhadap pertumbuhan diameter, bobot dan kandungan nutrisi buah serta dapat 
      mengakibatkan gugur buah. 
      Gejala serangan TKJ pada berbagai jenis buah jeruk ternyata beragam. Serangan tungau ini pada buah lemon menyebabkan kulit buah berwarna keperakan, sedang pada jeruk manis (orange) dan grape fruit buah berwarna russet, atau berwarna cokelat kekuningan atau cokelat kemerahan. Gejala lainnya adalah kulit buah menjadi lebih tebal daripada kulit buah yang tidak terserang. Juga, buah yang terserang menjadi lebih kecil ukurannya. 
      Musuh Alami Populasi TKJ di lapangan bisa di kendalikan secara alami dengan menggunakan musuh alami seperti predator Phytoseidae, Chrysopidae. Untuk pengendaliannya, bisa dilakukan pengendalian secara hayati dan kimiawi. Pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan menggunakan entomopatogen Hirsutella sp. Sedangkan secara kimia TKJ dapat dikendalikan 
      dengan akarisida berbahan aktif abamektin, propagit, dan dikofol, sesuai dosis anjuran. 
      Pengendaliannya TKJ sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil monitoring pada periode kritis tanaman. Dari hasil penelitian di peroleh kesimpulan bahwa dengan pengendalian dengan akarisida sebanyak 2-3 kali tanaman menjelang berbunga dan pada saat pembentukan buah sangat efektif mengendalikan hama TKJ. 
      Pemakaian akradisida disarankan berselang seling untuk menghindari atau menekan terjadinya resistensi TKJ.
      Otto Endarto -Balai Penelitian Tanaman Jeru dan Buah Subtropika 
      Di muat pada surat kabar Sinar Tani, 16-22 April 2008

      Cara Aman Mengendalikan Keong Mas

      DALAM mengendalikan hama keong mas, umumnya para petani memilih menggunakan moluskisida sintesis yang berharga mahal, berspektrum luas, dan mengganggu organisme nontarget dan juga manusia untuk mengendalikan hama keong mas. Dalam kaitannya dengan pengendalian keong mas, cara-cara yang lebih aman, seperti halnya secara fisik (penggunaan saringan), mekanis (pengambilan langsung) maupun secara biologis (pemberian tanaman yang tidak disukai di saluran-saluran, penggembalaan itik, penanaman bibit yang cukup kuat/tua, dll) lebih direkomendasikan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengendalikan keong mas.
      1. Pengambilan keong mas secara langsung dengan tangan dari sawah pada pagi dan sore hari ketika keong dalam keadaan aktif dan mudah diambil. Di Provinsi Gorontalo, kelompok tani bekerja sama dengan LSM mengadakan lomba pemungutan keong mas antarkelompok tani. Di Tangerang, keong diambil satu per satu, dimasukkan dalam ember dan dijual dengan harga Rp 300,00 per kilogram ke peternak bebek. Di Brebes, seorang petani bisa mengumpulkan sekitar 2 ember keong mas, dan di Kecamatan Margadana (Tegal), seorang petani dapat mengumpulkan keong mas rata-rata hampir sekitar 20-30 kilogram selama 4 jam.
      2. Menggunakan tumbuhan yang mengandung racun bagi keong mas. Misalnya daun sembung ( Blumea balsamifera ), daun/akar tuba, daun eceng gondok ( Monochoria vaginalis ), daun tembakau ( Nicotiana tabacum), daun calamansi atau jeruk ( Citrus microcarpa ), daun makabuhay ( Tinospora rumphii ), dan cabai merah. Selain itu, beberapa tanaman lain yang juga dapat digunakan untuk memberantas keong mas adalahstarflower Calotropis gigantis ), nimba ( Azadirachtha indica ), dan asyang ( Mikania cordata ) yang mengandung bahan yang dapat membunuh keong mas. Berbagai tumbuhan tersebut dianjurkan diaplikasikan sebelum penanam padi. Saluran kecil dibuat agar keong mas berada di dalam saluran tersebut dan selanjutnya di atas saluran tersebut tempatkan tumbuhan yang disebutkan di atas.
      3. Menggunakan atraktan seperti daun talas ( Cococasia esculenta ), daun pisang ( Musa paradisiaca ), daun pepaya ( Carica papaya ), bunga terompet, dan koran bekas, supaya mudah mengumpulkan keong tersebut. Daun sebagai atraktan diletakkan dalam petakan sawah secara berjejer, berjarak 1-2 meter antar umpan, yang dilakukan sebelum panen sampai 5 minggu setelah tanam. Jumlah atraktan sebagai umpan yang diperlukan sekitar 40 kilogram per hektare. Tinggi air di sawah disarankan sekitar 5-10 centimeter (BP2TP NAD, 2004)
      4. Selama menggaru terakhir perlu dibuatkan caren yang dalam (sedikitnya lebar 25 centimeter dan dalamnya 5 centimeter). Jarak antara larikan 10-15 meter. Demikian juga, perlu dibuatkan saluran kecil (sedikitnya lebar 25 centimeter, dan dalamnya 5 centimeter) sepanjang tepi sawah. Saluran caren juga berfungsi untuk penjebakan terhadap keong mas, di mana keong mas akan pindah ke dalam saluran tersebut, jika permukaan air berkurang dan dapat dilakukan pengumpulan.
      5. Meletakkan kawat kasa atau anyaman bambu pada pemasukan dan pengeluaran air utama, untuk mencegah masuknya keong mas kecil dan dewasa. Cara ini juga untuk mengambil keong mas yang terperangkap.
      6. Pagar plastik dapat digunakan untuk mencegah masuknya keong mas ke dalam areal persawahan.
      7. Batu tohor sebanyak 50-100 kg/ha dapat ditebarkan pada lahan persawahan untuk mengurangi dan mematikan keong mas.
      8. Jika keong mas merupakan masalah yang besar, kita menanam padi yang berumur 25-30 hari setelah tanam. Di persawahan yang berada di dataran tinggi digunakan bibit yang berumur 30 sampai 35 hari setelah tebar yang berumur panjang.
      9. Menancapkan ajir bambu sebagai perangkap telur di sawah yang selalu tergenang atau pada saluran pengairan untuk menarik keong mas dewasa bertelur. Dengan cara ini kelompok telur muda dapat terkumpul untuk kemudian diambil dan dihancurkan. Panjang kayu perangkap sekitar 1-1,5 meter, dengan diameter 1-3 centimeter, dan jarak antara tiang perangkap sekitar 2-3 meter. Dalam 1 hektare diperlukan sekitar 200 batang dan ketinggian air dalam petak sawah dianjurkan sekitar 5-10 centimeter (BP2TP NAD, 2004).
      10. Mempertahankan air agar tidak terlalu tinggi (2-3 centimeter) mulai 3 hari tanam
      11. Mengeringkan sawah berkali-kali untuk mengurangi aktivitas perpindahan dan perusakan. Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka 15 hari setelah tanam pindah, sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian ( flash flood intermitten irrigation ). Bila petani menanam dengan sistem tabela (tanam benih secara langsung), selama 21 hari setelah tebar benih, sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (BPTP, 2003).
      12. Mempergunakan varietas yang beranak banyak dan kurang disukai keong mas seperti PSB, Rc36, Rc38, Rc40, dan Rc 68.
      13. Beberapa predator keong mas adalah burung dan itik, kura-kura, ikan serta insekta. Penggembalaan itik di lahan persawahan, merupakan pengendalian yang efektif, dengan tanpa merusak padi yang telah ditanam. Sistem ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan ISG (itik sistem gembala). Penebaran jenis ikan tertentu yang dapat memakan keong mas (dan juga telurnya) akan memberikan keuntungan dalam pengendalian populasi keong tersebut. Jenis ikan-ikan yang mampu memakan keong mas ataupun juga telur keong mas tersebut antara lain Botia sp; Tetraodon sp; Bunocephalus sp., dan Leiocassis sp (sejenis lele-lelean); kelompok Cichlidae, kelompok gurami (gurami, sepat), beta, dan lain-lain. Sistem ini telah lama dikenal masyarakat Indonesia dengan nama mina-padi. Pada sistem ini, manajemen air untuk memberi kemungkinan dapat memakan telur juga mesti dilakukan, sehingga peluang menetas dan berkembang biak keong dapat diputuskan.
      14. Penggunaan bahan kimia yang tidak merusak lingkungan dapat juga direkomendasikan. Asam anakardat yang diekstrak dari minyak kulit jambu mete, telah diuji-cobakan dan dapat membunuh keong mas (Rudyanto dan Mercellino, 2006). Teaseed meal merupakan obat yang umum di pasaran, untuk membunuh keong mas, dengan harga sekitar Rp 3.000,00,- per kilogram. Selain itu, dapat juga digunakan saponin, tembakau, dan bibit pinang sebagai bahan pengendali (pembunuh) keong mas.***

      Dr. Ir. Sulistiono 

      Peneliti sekaligus Ketua Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB)

      Sumber: www.anekaplanta.wordpress.com 

      PENGENALAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT VIRUS KUNING PADA CABAI

      Akhir-akhir ini penyakit virus kuning pada cabai telah mengakibatkan kerugian di berbagai sentra produksi cabai di Indonesia. Di DIY, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Lampung, epidemi penyakit ini telah menyebabkan kerugian bagi petani hingga mencapai milyaran rupiah. Samapai sekarang belum ditemukan varietas cabai yang tahan terhadap penyakit ini. Virus mempunyai kisaran inang yang luas dan mampu menginfeksi beberapa jenis tanaman, diantaranya tomat dan gulma wedusan/babadotan (Ageratum conyzoides).
      Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati (Gambar 1-2). Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan. Sedangkan gejala pada tanaman tomat adalah berupa tepi daun menguning atau pucat dan melekuk ke atas seperti mangkok (cupping),daun mengeras, daun mengecil dan tumbuh tegak, tanaman menjadi kerdil apabila terinfeksi virus sejak awal pertumbuhan (Gambar 3).
      Penyakit kuning cabai di Indonesia disebabkan oleh virus dari kelompok/Genus Begomovirus (singkatan dari: Bean golden mosaic virus), Famili Geminiviridae. Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm. Di Cuba, penyakit kuning pada cabai disebakan oleh Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV).

      Virus ditularkan oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut (Gambar 4). Virus tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman.

      Pengendalian penyakit yang dianjurkan adalah dengan menerapkan Manajemen Kesehatan Tanaman, artinya tanaman harus dikelola agar selalu tetap sehat, karena tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap infeksi virus. Pengendalian penyakit meliputi: (1) Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang, (2) Penggunaan bibit sehat, yaitu: (a) pengerudungan persemaian menggunakan kain kasa/kelambu; (b) tempat persemaian yang terisolasi jauh dari lahan yang terserang penyakit; (c) semai dilindungi dengan pestisida nabati seperti nimba, ekstrak tembakau, dsb; (d) perlindungan dengan pestisida kimiawi dapat dilakukan secara bijaksana, (3) Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman cabai termasuk menghilangkan gulma dan eradikasi tanaman sakit sejak awal pertumbuhan, (4) Mengatur waktu tanam agar tidak bersamaan dengan tingginya populasi serangga penular, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, dan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang dari virus maupun serangga, (5) Pengendalian dengan insektisida kimiawi secara bijaksana, misalnya yang berbahan aktif imidacloprid, penyemprotan kutu putih sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara jam 06:00-10.00 (6) Tanaman tahan atau toleran terhadap virus maupun serangga penular.

      Serangga Musuh Alami Hama yang perlu diwaspadai

      Paederus spp.
      Serangga Musuh Alami Hama yang perlu diwaspadai
      Suputa dan Ahmad Taufiq Arminudin
      Spesies Paederus yang  ada di Indonesia adalah P. fuscipes Curt. (Kalshoven, 1981). Serangga ini merupakan golongan kumbang yang bertubuh kecil berjalannya lincah tetapi kadang-kadang juga terbang dan tertarik cahaya ketika sore dan malam hari. Spesies serangga ini bersifat karnivora, oleh karena itu seringkali dimanfaatkan sebagai pengendali hayati untuk wereng coklat hama padi. Menurut FAO (1994) serangga ini efektif memangsa wereng coklat hama padi di Bogor dengan daur hidup dari telur sampai menjadi imago selama 18 hari. Stadium telur= 4 hari, larva= 9,2 hari, prepupa= 1 hari, dan pupa= 3,8 hari. Lama hidup serangga betina adalah113,8 hari dan serangga jantan adalah 109,2 hari. Kemampuan bertelur 106 butir per betina. Masa inkubasi telur selama 4 hari. Persentase penetasan 90,20 persen. Persentase menjadi dewasa adalah 77,60 persen. Kemampuan memangsa wereng coklat hama adalah 7,3; 7,5; 4,2; 3,2; dan 2,3 masing-masing instar 1, 2, 3, 4, dan 5.
      Beberapa peneliti menginformasikan bahwa serangga ini bersimbiosis dengan bakteri. Bakteri tersebut berada di dalam darah Paederus spp. [termasuk P. fuscipes] (Kellner, R.L.L. 2004). Serangga yang infektif membawa bakteri ini adalah serangga yang berjenis kelamin betina.  Serangga betina yang infektif membawa bakteri tersebut haemolymphnya mengandung paederin yang bersifat racun yang dapat menyebabkan gejala radang dan melepuh pada kulit manusia. Bakteri endosimbion yang bersimbiosis dengan serangga ini secara spesifik belum banyak dilaporkan tetapi merupakan bakteri genus Pseudomonas (sensu stricto) gram negatif yang dekat dengan Pseudomonas aeruginosa (Kellner R.L.L. 2002 & Qadir et al. 2006).
      Meskipun menurut Kalshoven (1981) P. fuscipes yang ada di Indonesia tidak efektif sebagai predator wereng coklat hama padi karena sifatnya yang polifagus, tetapi beberapa petani SL-PHT dan praktisi di lapangan serta FAO (1994) menyatakan bahwa serangga ini cukup potensial sebagai musuh alami hama pada pertanaman padi. Oleh karena itu kewaspadaan terhadap pemanfaatan musuh alami hama dari genus Paederus ini perlu adanya unsur kehati-hatian. Paederus akan berbahaya bagi manusia apabila tergenjet dan darahnya bersinggungan dengan kulit manusia. 
      Ciri morfologi (Heinrichs. 1994).
      Tubuh memanjang, terbagi menjadi tiga bagian caput, thorax, dan abdomen. Berkaki tiga pasang dengan jumlah ruas tarsi kaki depan, tengah, dan belakang adalah 5-5-5, serta tidak bercakar. Terdapat dua pasang sayap yang tidak menutupi seluruh abdomen, hanya menutupi ruas abdomen kesatu sampai dengan ketiga, sayap depan mengeras berfungsi sebagai perisai, sedangkan sayap yang kedua membranus digunakan untuk terbang.
      Paederus fuscipes Curt.
      Pronotom berbentuk oval memanjang, kaki-kakinya berwarna kuning kecoklat-coklatan kecuali bagian apex femur ketiga. Terminal segment pada palpi berwarna coklat. Bagian basal elytra berjarak sangat dekat dan terlihat seperti menempel pada pronotum.
      P. tamulus Erichson
      Pronotum berbentuk agak membulat tidak memanjang seperti pada P. fuscipes semua kaki-kakinya berwarna coklat kehitam-hitaman, terminal segment pada palpi juga berwarna coklat kehitam-hitaman, bagian basal elytra berjarak tidak terlalu dekat sehingga terlihat tidak menempel pada pronotum.

      Pencegahan dan Pengendalian Wereng Batang Coklat

      Serangan wereng batang coklat pada tanaman padi terjadi pada semua fase tumbuh (mulai di persemaian sampai menjelang panen), dengan mengisap cairan dari dalam jaringan tanaman. Hal ini mengakibatkan daun tanaman menjadi kuning dan tanaman mengering dengan cepat (seperti terbakar).
      Pengendalian wereng batang coklat dapat dilakukan melalui :
      1.      Tanam VUB tahan wereng coklat, terapkan jajar legowo, pemupukan berimbang sesuai hasil PUTS dan BWD, dan menyemprot tanaman dengan insektisida. Pesemaian disemprot dengan entomopatogen seperti Beauveria bassiana, Metarhizium, Verticillium dengan dosis 5-10 cc/l interval satu minggu.
      2.      Pengamatan lapang dilakukan 3-7 hari sekali pada pangkal batang. Bila di lahan dijumpai populasi > 3 ekor/rumpun, tanaman disemprot dengan insektisida kontak interval 2 kali seminggu selama 3 kali penyemprotan.
      3.      Apabila setelah tiga kali penyemprotan insektisida kontak, populasi turun <3 ekor/rumpun, tanaman disemprot insektisida sistemik sampai di pertanaman padi tidak ditemukan wereng coklat. Penyemprotan insektisida diarahkan pada pangkal batang, dilakukan jam 7-10 pagi atau jam 3-5 sote, hindari penyemprotan saat hujan. Pengamatan terus dilakukan 3-7 hari sekali.
      4.      Bila banyak hujan, penyemprotan insektisida ditambah perekat. Lakukan pengendalian yang sama pada tanaman padi pada radius 100-200 m.
       (Sumber : BPTP Jatim)