PENGAWETAN IKAN MENGGUNAKAN COLD STORAGE

Ikan merupakan makanan yang mudah mengalami pembusukan. Apalagi di daerah tropis seperti Indonesia yang bersuhu relatif tinggi.Akan tetapi, umur penyimpanan ikan dapat diperpanjang dengan penurunan suhu. Bahkan ikan yang dibekukan dapat disimpan sampai beberapa bulan, sampai saat dibutuhkan ikan dapat dilelehkan dan diolah lebih lanjut oleh konsumen. Rantai aliran makanan beku atau rantai dingin (cold chain) umumnya terdiri dari : pembekuan, penyimpanan dalam gudang dingin, diangkut dengan mobil berpendingin (refrigerated truck), dipamerkan dalam lemari dingin di toko makanan, akhirnya disimpan di dalam freezer lemari es di rumah.

Pembekuan ikan berarti menyiapkan ikan untuk disimpan di dalam suhu rendah cold storage. Seperti pendinginan, pembekuan dimaksudkan untuk mengawetkan sifat-sifat alami ikan. Pembekuan menggunakan suhu yang lebih rendah, yaitu jauh di bawah titik beku ikan. Pembekuan mengubah hampir seluruh kandungan air pada ikan menjadi es, tetapi pada waktu ikan beku dilelehkan kembali untuk digunakan, keadaan ikan harus kembali seperti sebelum dibekukan. Ikan-ikan yang dibekukan untuk dikonsumsi mentah (sashimi) mutlak memerlukan terpeliharanya sifat-sifat ikan segar yang dibekukan, agar ketika dilelehkan tidak dapat dibedakan dari ikan segar.

PROSES PEMBEKUAN
Tubuh ikan sebagian besar (60-80%) terdiri atas cairan yang terdapat di dalam sel, jaringan, dan ruangan-ruangan antar sel Sebagian besar dari cairan itu (+67%) berupa free water dan selebihnya (+5%) berupa bound water. Bound water adalah air yang terikat kuat secara kimia dengan substansi lain dari tubuh ikan.
Pembekuan berarti mengubah kandungan cairan tersebut menjadi es. Ikan mulai membeku pada suhu antara -0,60C sampai -20C, atau rata-rata pada -10C. Free water membeku terlebih dahulu kemudian disusul oleh bound water.

Proses tersebut terbagi atas 3 tahapan yaitu:
1. Tahap pertama suhu menurun dengan cepat sampai 00C yaitu titik beku air.
2. Tahap kedua suhu turun perlahan-lahan untuk merubah air menjad kristal-kristal es. Tahap ini sering disebut periode ”thermal arrest”.
3. Tahap ketiga suhu kembali turun dengan cepat ketika kira-kira 55% air telah menjadi es. Pada tahap ini sebagian besar atau hampir seluruh air membeku.

Berdasarkan panjang pendeknya waktu thermal arrest ini pembekuan dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Pembekuan lambat (slow freezing), yaitu bila thermal arrest time lebih dari 2 jam.
2. Pembekuan cepat (quick freezing), yaitu pembekuan dengan thermal arrest time tidak lebih dari 2 jam.
Kristal-kristal es yang terbentuk selama pembekuan dapat berbeda-beda ukurannya tergantung pada kecepatan pembekuan. Pembekuan cepat menghasilkan kristal-kristal yang kecil-kecil di dalam jaringan daging ikan. Jika dicairkan kembali, kristal-kristal yang mencair diserap kembali oleh daging dan hanya sejumlah kecil yang lolos keluar sebagai drip.
Sebaliknya pembekuan lambat menghasilkan kristal-kristal yang besar-besar. Kristal es ini mendesak dan merusak susunan jaringan daging. Tekstur daging ketika ikan dicairkan menjadi kurang baik, berongga, keropos dan banyak sekali drip yang terbentuk. Ikan yang dibekukan dengan lambat tidak dapat digunakan sebagai bahan bagi pengolahan-pengolahan tertentu misalnya pengalengan, pengasapan, dan sebagainya. Atas pertimbangan-pertimbangan diatas, maka disamping untuk menyingkat waktu dan menghasilkan output yang tinggi maka ikan mutlak dibekukan dengan cepat.
Kecepatan Pembekuan
Belum ada definisi tentang pembekuan cepat yang dapat diterima semua pihak. Beberapa pendapat dikemukakan dengan alasan sendiri-sendiri. Sangat langka orang yang dapat membedakan ikan segar dengan ikan yang dibekukan antara 1 jam dan 8 jam. Tetapi jika lebih dari 12 jam, perbedaannya jadi nyata. Pembekuan yang memakan waktu 24 jam atau lebih yang dilakukan dengan freezer yang dirancang atau dioperasikan dengan buruk pasti akan menghasilkan ikan beku dengan kualitas rendah. Pembekuan yang berkepanjangan, misalnya pembekuan yang dilakukan dengan menimbun ikan di cold storage, dapat menyebabkan ikan membusuk oleh kegiatan bakteri sebelum bagian tengah tumpukan ikan mencapai suhu yang rendah.
Inggris menentukan batas waktu tidak lebih daripada dua jam untuk melewati daerah kritis sebagai pembekuan cepat, sedangkan Jepang memberikan kriteria kurang dari 30 menit untuk melewati daerah kritis sebagai pembekuan cepat, sementara Amerika Serikat menggunakan waktu 70-100 menit untuk membedakan pembekuan cepat dan lambat. Inggris menentukan batas waktu tidak lebih daripada dua jam untuk melewati daerah kritis sebagai pembekuan cepat, sedangkan Jepang memberikan kriteria kurang dari 30 menit untuk melewati daerah kritis sebagai pembekuan cepat, sementara Amerika Serikat menggunakan waktu 70-100 menit untuk membedakan pembekuan cepat dan lambat.
Definisi yang lebih banyak diterima tidak menyebutkan lama pembekuan atau kecepatan pembekuan, tetapi semata-mata menyebutkan bahwa ikan harus dibekukan secepatnya dan diturunkan suhunya didalam freezer hingga mencapai suhu penyimpanan.

ALAT PEMBEKU IKAN
COLD STORAGE
Ikan yang telah dibekukan perlu disimpan dalam kondisi yang sesuai untuk mempertahankan kualitasnya. Biasanya ikan beku disimpan dalam cold storage, yaitu sebuah ruangan penyimpanan yang dingin.Penyimpanan ini merupakan tahap yang pokok dari cara pengawetan dan pembekuan. Suhu yang biasanya direkomendasikan untuk cold storage umumnya -300C hingga -600 C, tergantung pada kebutuhan. Pada suhu ini perubahan dan denaturasi protein dapat diminimalisasikan, selain itu aktivitas bakteri juga berkurang. walaupun penurunan mutu tetap terjadi tetapi bisa diminimalisasikan.
Selain perubahan mikrobiologi dan kimia, selama penyimpanan beku terjadi perubahan secara fisik yaitu pada kristal-kristal es baik bentuk maupun ukuran. Perubahan ini sering disebut Rekristalisasi (Recristallisation). Terdapat 3 jenis rekristalisasi yang terjadi pada produk pembekuan selama penyimpanan beku yaitu:
1. Isomass Recristallisation
Terjadi perubahan bentuk permukaan atau struktur internal dari kristal es.
2. Accretive Recristallisation
Dua kristal es yang berdekatan bergabung membentuk kristal es yang lebih besar.
3. Migratory Recristallisation
Terjadinya kenaikan ukuran rata-rata kristal es dan berkurangnya jumlah rata-rata kristal es karena terbentuknya kristal-kristal es yang lebih besar dari kristal-kristal es yang lebih kecil. Cold storage dapat mempertahankan mutu ikan selama 1-9 bulan, tergantung pada keadaan danjenis ikan, cara pembekuan dan cara/kondisi penyimpanannya. Dengan teknik penanganan yang ideal , ikan dapat disimpan lebih dari 4 tahun dalam cold storage.

Desain yang benar dan penggunaan yang benar dari cold storage dapat meminimalisasikan kerusakan selama penyimpanan dan memperpanjang masa simpan produk. Faktor design yang paling penting adalah:
• Suhu rendah
• Keseragaman suhu dalam seluruh ruangan cold storage
• Kestabilan suhu dengan fluktuasi yang minimal
• Distribusi udara yang baik untuk mempertahankan keseragaman suhu
• Sirkulasi udara minimum untuk mencegah dehidrasi
• Minimum ingress udara untuk meminimalkan fluktuasi

Suhu cold storage dikendalikan dengan termostat, alat ini menghentikan pendinginan jika suhu cold storage telah mencapai derajat tertentu, dan menjalankannya kemali jika suhu naik kempali sampai derajat tertentu pula. Selisih antara kedua suhu tersebut biasanya tidak lebih dari 20C.
Tipe –tipe cold storage:
1. Jacketed cold storage ( cold storage berjaket)
tipe ini merupakan ruang penyimpanan yang ideal, tetapi konstruksinya sangat mahal. Ruang dalam terisolasi total dari jaket udara. Karena itu lapisan dalam harus dibuat dari bahan yang tidak dapat ditembus udara. Sambungan-sambungannya harus dibuat kedap udara.
Sistem cold storage ini menjamin bahwa perbedaan suhu didalam ruang penyimpan cukup kecil. Hal ini dicapai karena aliran dari udara dingin mengelilingi bagian luar dari ruangan dalam storage. Selain itu, karena pemasukan panas sangat kecil, RH yang tinggi dapat dipertahankan. Dengan demikian , dehidrasi produk sangat terbatas.
Tipe ini tidak memerlukan kipas didalam ruang penyimpan. Hal ini merupakan faktor lain yang mendukung dihasilkannya produk yang baik. Tipe ini tidak banyak dipakai karena kemahalannya dan karena tidak cocok jika beban panas dari produk cukup tinggi.
2. Gridded cold storage(cold storage dengan pipa pendingin polos)
Pada tipe ini, pipa pendingin polos dirangkai menutupi seluruh langit-langit dan di dinding ruangan cold storage.Tipe ini juga menghasilkan kondisi penyimpanan yang baik karena suhu dalam ruangan cukup merata tanpa disirkulasikan dengan kipas. Panas yang masuk melalui dinding segera dikeluarkan tanpa mengganggu produk yang disimpan.
Kecepatan pemindahan panas kepipa hanya sedikit berkurang jika pipa tertutup es sihingga defrost tidak perlu sering dilakukan. Cold storage jenis ini dapat bekerja berbulan-bulan tanpa defrosting.
Kelemahan atau kerugian utama dari tipe ini adalah:
1. Ada banyak saluran-saluran pipa yang komplex
2. Memerlukan bahan refrigeran dalam jumlah yang banyak
3. Struktur cold storage harus kuat untuk menahan pipa-pipa dan refrigeran.
4. Memerlukan bejana penampung regfrigeran jika cooler perlu dikosongkan untuk diperbaiki
3. Finned grid stores (cold storage dengan pipa bersirip)
Tipe ini mirip dengan gridded cold storage tapi pipa yang digunakan adalah pipa bersirip. Dengan pipa bersirip ini jika dirangkai dilangit-langit saja sudah mencukupi, tanpa memerlukan rangkaian pipa didinding. Dengan demikian biaya dapat dikurangi, akan tetapi kelemahannya adalah pipa tidak menutupi dinding sehingga kondisi penyimpanannya tidak sebaik cold storage dengan pipa polos. Pipa bersirip lebih sulit di-dfrost dan defrost perlu dilakukan sesering mungkin.
4. Cold storage dengan Unit cooler
Tipe ini paling banyak digunakan karena paling murah pemasangannya; hanya sedikit memerlukan bahan pendingin; mudah di-defrost dan tidak memerlukan struktur penyangga yang berat. Kelemahannya adalah beberapa rancangan tidak memungkinkan distribusi udara yang merata di dalam cold storage sehingga menyebabkan kondisi penyimpanan yang buruk

sumber: yunias19ocean.blogspot.com

Penyakit Pada Ikan Arwana dan Cara Penanggulangannya

Penyakit Pada Ikan Arwana dan Cara Penanggulangannya

Salah satu resiko membudidayakan ikan Arwana adalah mati karena penyakit seperti Redspot, Jamur, Gigit Ekor, Stress dll. Di bawah ini diuraikan beberapa penyakit yang sering diderita Arwana gejala dan cara penanggulangannya.

1. Penyakit Gigit Ekor

Sebelum menderita penyakit ini biasanya arwana akan menunjukan perilaku yang lain

cara membuat pakan buatan ikan lele

cara membuat pakan buatan ikan leleIkan lele dapat tumbuh baik dengan makanan buatan berbentuk pelet yg kadar proteinnya sekitar 30%. Akan tetapi jika makanan buatan tersebut digunakan sebagai makanan pokok, tanpa ditunjang makanan alami maka kadar proteinnya perlu dinaikkan sampai 40%. Ramuan pakan lele selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

usaha budidaya ikan

Perkembangan usaha budi daya ikan semakin hari dirasakan semakin meningkat. Hal ini memang sudah sejalan dengan kemajuan jaman dan teknologi. Pembudidaya ikan saat ini cenderung untuk memanfaatkan lahan yang tersedia semaksimal mungkin sehingga produksi persatuan luas juga semakin meningkat.usaha budidaya ikan

jenis jenis makanan ikan alami

Jenis-jenis makanan alami ikan terdiri dari organisme renik berukuran mikro (kecil) dan organisme makro yang sangat jelas bila dilihat secara kasat mata. Organisme renik dapat terlihat jelas jika dilihat dengan menggunakan alat bantu, seperti mikroskop dan lup. Berikut ini beberapa jenis organisme yg menjadi makanan alami ikanjenis jenis makanan ikan alami

pengaruh panjang gelombang cahaya untuk merangsang kinerja reproduksi ikan

Keberhasilan reproduksi ikan telostei dipengaruhi oleh penerimaan signal lingkungan oleh system sensor dan transduksi sinyal dengan sumbu endokrin reproduksi. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang esensial karena memiliki beberapa kualitas karakteristik informatif (spectrum atau panjang gelombang), kuantitas (intensitas) dan periodisitas (fotoperiod) yang memiliki fungsi untuk merangsang efek fisiologi pada ikan. Diantara karakteristik ini, periodisitas merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan reproduksi ikan, penting dalam inisiasi dan perkembangan gonad ikan. Bahkan kondisi fotoperiodik yang dimanipulasi telah dilakukan dalam usaha budidaya ikan untuk merangsang kegiatan reproduksi pada ikan-ikan tertentu. Disisi lain penelitian juga dtelah dilakukan untuk mengetahui panjang gelombang cahaya untuk memacukinerja reproduksi ikan.
Ikan mampu mendeteksi perbedaan intensitas dan spektrum cahaya oleh fotoreseptor retina dan ekstra-retina. Walaupun sensitivitas terhadap perbedaan-perbedaan ini bervariasi di antara spesies, namun dikatahui dapat mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan somatic dan kelangsungan hidup larva dan juvenil. Ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diekspos pada cahaya biru ternyata mampu meningkatkan proporsi reproduksi ikan danmerangsang ikan jantan untuk membuat sarang.
Pengaruh panjang gelombang cahaya yang berbeda untukperkembangan ovarium menunjukkan adanya kemungkinan bahwa salah satu spectral pigemen memilki sensivitas yang luas atau melibatkan beberapa fotopigmen pada proses transduksi yang berhubungan dengan rangsangan cahaya dari luar. Spesisfik phoreseptor terlibat pada fungsi ini namun belum diketahui dengan jelas. Salah satu kemungkinan adalah adanya mediasi yag dilakukan oleh photopigmen lateral mata. Meskipun fotoreseptor retina merupakan tempat untuk mengetahui sensivitas panjang gelombang, isyarat yang berhubungan dengan aktivitas reproduksi ikan dideteksi oleh fotoreseptor ekstra retina. Cahaya gelombang panjang mampu menembus fotoreseptor pineal dalam otak dengan penetrasi yang lebih tinggi dibanding cahaya gelombang pendek.

fototeransduksi dan jam biologi ikan

Kebanyakan organisme hidup menghuni lingkungan yang sangat dinamis yang ditandai dengan fotoperiodik harian dan tahunan, irama cahaya dipengaruhi oleh rotasi bumi pada porosnya dan mengelilingi matahari. Hewan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan fotoperiodik dengan mengembangkan sistem sirkadian atau jam biologis untuk melacak waktu, sinkronisasi dan mengantisipasi rutinitas alam seperti matahari terbit atau matahari terbenam . Untuk melakukannya, hewan fotoreseptor mengembangkan mekanisme jam selama awal ontogeni sesuai dengan rangkaian peristiwa secara berurutan. Pada ikan, pengembangan mekanisme pengaturan waktu terjadi sangat awal saat fase endogen, irama sirkadian aktivitas lokomotor larva ikan zebrafish ditemukan 5 hari setelah menetas seiring dengan aktivitas berenang mencari makan.
Pada ikan teleost, cahaya mempengaruhi seluruh siklus hidup mulai dari perkembangan embrio sampai pematangan organ seksual ikan dewasa. Meskipun tujuan utamanya adalah aktivitas untuk mencari makan dan makan, retina non-fotoreseptor, seperti organ pineal dan fotoreseptor dalam otak, memainkan peran kunci dalam perkembangan larva.
Mekanisme yang terjadi pada sistem yang menengahi sinyal photoperiodik dan peristiwa fisiologis penting masih belum dipahami pada ikan. Rangsangan cahaya diterima oleh pineal adalah diteruskan melalui sinyal saraf atau sebagai sinyal hormonal melalui sekresi hormon melatonin untuk menjaga irama waktu. Biosintesis dan pelepasan melatonin ke dalam aliran darah lebih tinggi pada malam hari atau fase gelap karena cahaya menghambat enzim AA-NAT (arylalkylamine N-asetiltransferase). Pada larva ikan sebagian besar fotoreseptor pineal menjadi fungsional dan responsif terhadap cahaya sebelum photopigments retina. Banyak riset yang telah dilakukan dan menjadikan ikan zebra menjadi model yang menunjukkan bahwa jam molekuler berfungsi dan reaktif terhadap cahaya saat hari pertama pasca fertilisasi. Enzim AA-NAT yang mengontrol produksi melaotin, telah terekspresi pada fase blastula dan sintesis melatonin telah terjadi dua malam setelah pembuahan, dan telah sempurna sebelum pembentukan pigmen retina yang terjadi tiga hari setelah fertilisasi. Ikan halibut Atlantik (Hippoglossus hippoglossus) kondisi pencahayaan dapat disetel untuk sinkronisasi waktu penetasan embrio, paparan cahaya menghambat penetasan, sedangkan kondisi gelap sebelum 18 setelah penetasan, mengakibatkan disinkronisasi penetasan embrio dalam 90-140 menit.
Kelangsungan hidup larva ikan dapat sangat bervariasi tergantung pada spesies dan kondisi pemeliharaan. Sebagai contoh, tingkat kelangsungan hidup ikan kakap lebih tinggi pada pasca-larva yang dipelihara dengan kepadatan 5 dan 10 /liter ikan,diibanding yang dipelihara pada kepadatan 15 dan 20 ikan per liter, sedangkan kelangsungan hidup ikan sole Senegal lebih tinggi (81%) saat larva terkena cahaya 10 jam terang : 14 jam gelap. Pada spesies lain seperti cod Atlantik, larva menunjukkan tingkat ketahanan hidup yang rendah ketika dipelihara di bawah intensitas cahaya 2400 lx pada 0 terang: 24 gelap. Variabilitas pada kelangsungan hidup dapat terkait dengan sejumlah faktor, termasuk kondisi pencahayaan.
Cahaya adalah faktor lingkungan kompleks yang tergantung pada sistem pencahayaan digunakan (intensitas dan spektrum), lama penyinaran, sifat absorbansi air serta kepekaan cahaya spesifik spesies yang dipelihara.

Kutu air yang menyerang ikan, Argulus


Kutu biasa dijumpai pada hewan berbulu seperti anjing atau kucing. Namun ternyata, hewan yang tidak memiliki bulu juga bisa diserang kutu. Ikan misalnya. Mereka tidak jarang dihinggapi ‘kutu air’ atau ‘kutu ikan’ atau Argulus.


Sebagai informasi, Argulus merupakan hewan air berkulit keras yang umumnya masuk ke kolam dan akuarium dengan cara menumpang di ikan atau tanaman yang baru dimasukkan ke sana. Setelah masuk ke habitat baru, kutu ini berkembang biak dan menyebar ke ikan-ikan lain.


Seperti dikutip dari Aquatic Community, 28 April 2011, Argulus merupakan ancaman besar bagi kesehatan ikan. Mereka menempel di bawah sisik ikan sehingga bisa menghisap makanan tanpa terdeteksi. Pengganggu ini juga kadang bersembunyi di balik sirip, di dekat mata atau insang ikan. Selain bersembunyi, bentuknya juga tampak hampir transparan.


Untuk makan, mereka menyuntikkan enzim ke dalam kulit ikan yang akan mencairkan daging ikan tersebut. Setelah itu mereka menghisap daging encer lewat mulut mereka yang berbentuk seperti sedotan.


Proses makan kutu itu bisa menyebabkan kerusakan parah di jaringan kulit ikan. Gigitan kutu juga bisa menyebabkan ikan menjadi mudah terserang infeksi bakteri. Ikan yang terserang kutu juga bisa mengalami anemia bahkan mati karena luka infeksi.


Meski terdapat banyak jenis, Argulus sendiri merupakan salah satu parasit yang terbesar yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Mereka memiliki ukuran panjang antara 5 sampai 10 milimeter. Bentuknya lonjong dan rata. Jika Anda menangkap ikan, ia akan melarikan diri ke air dan mencari ikan lain untuk dihuni.

sumber : vivanews

gelembung renang (swimbladder) pada ikan

Gelembung renang terdiri dari dua kantung gas yang terletak pada bagian dorsal, meskipun pada beberapa ikan primitif hanya memiliki satu gelembung renang. Memiliki dinding yang fleksibel yang berkontraksi dan berkembang berdasarkan tekanan ambien. Dinding gelembung renang memiliki sedikit pembuluh darah dan dilapisi dengan kristal guanine yang membuatnya kedap udara. Penyesuaikan tekanan gas menggunakan kelenjar gas sehingga mendapatkan daya apung netral dan dapat naik dan turun pada berbagai kedalaman. Pada tahap embrio beberapa ikan telah kehilangan gelembung renang seperti ikan bertulang rawan misalnya hiu dan pari. Ikan tersebut mengontrol kedalamn dengan berenang (menggunakan lift dinamis)
Kombinasi gas dalam gelembung renang bervariasi. Pada ikan air dangkal, rasio perkiraan berhubungan dengan tekanan atmosfer, sedangkan ikan laut dalam cenderung memiliki persentase oksigen lebih tinggi. Misalnya, belut Synaphobranchus memiliki oksigen 75,1%, 20,5% nitrogen, 3,1% karbon dioksida, dan argon 0,4%.
Pada beberapa ikan, terutama spesies air tawar (misalnya ikan mas dan lele), gelembung renang tersambung ke labirin telinga bagian dalam dengan weberian, struktur bertulang yang berasal dari tulang belakang, yang memberikan informasi yang tepat tentang tekanan air dan kedalaman serta meningkatkan pendengaran.
Gelembung renang merupakan organ internal yang dipenuhi oleh gas yang berfungsi memberi kemampuan ikan untuk mengendalikan daya apung sehingga mampu menghemat energy untuk berenang . Fungsi lain gelembung renang adalah digunakan sebagai ruang beresonansi untuk memproduksi atau menerima suara. Selain itu gelembung renang juga berfungsi sebagai organ respiratori khusus untuk jenis physostome.
Bentuk physostome memilki gelembung renang yang terbuka dan berhubungan dengan saluran pencernanaan. Sedangkan bentuk physoclists merupakan gelembung renang tertutup karena tidak berhubungan dengan saluran pencernaan. Gelembung renang terletak diantara peritoneum dan vertebrata. Disekitar gelembung peritoneum terdapat epithelium yang tipis dan mengandung lapisan kristal yang berwarna putih atau perak. Gelembung ini secara kuat menempel padavertebrata dan berisi pembuluh darah sehingga dapat berfungsi sebagai organ respiratori.
Pengisian gelembung renang dengan udara dilakukan dengan cara mengalirkan udara dari tractus pneumaticus sampai terjadi penggembungan. Sementara pengosongan dilakukan dengan menekan gelembung ke usus. Pada gelembung renang berbentuk physostome pengisisan gelembung renang dilakukan pertama kali bersamaan dengan pigmentasi mata dan pembukaan mulut larva. Bentuk phsycolist mengisi gelembung renang dengan memanfatkan udara yang berdifusi lewat insang.Pada larva ikan kakap, gelembung renang diisi pertama kali pada saat larva mulai memakan makanan dari luar.
Kasus kematian massal larva ikan kakap karena disebabkan oleh swimbladder stress sindrom (SBSS) karena tidak berfungsinya gelembung renang. Gejala yang ditimbulkan dapat dilihat dari perubahan tingkah lakuk ikan seperti, berenang miring di permukaan, berenang di permukaan dengan bagian punggung mencuat, berenang dengan menggling-gulingkan badan dan berenang dengan perut di bagian atas. SBSS dapat disebabkan oleh berbagai factor baik pengaruh tunggal ataupun kombinasi dari penanganan. Suhu yang terlalu tinggi, salinitas yang tinggi, pencahayaan, blooming alga, deplesi oksigen dan bakteri.
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeliharaan larva dalam tangki kecil di dalam ruangan dengan sistem penggantian air secukupnya, suhu konstan, pencahaayaan redup dan fitrasi air.

Indukan Ikan Nila Unggulan

Ikan nila adalah ikan yang aslinya berasal dari sungai nil dan perairan sekitarnya. Ikan ini termasuk mudah dibudidayakan. Di Indonesia ikan nila termasuk komoditas unggulan dan pembudidayaanya berkembang cukup baik. Saat ini, ikan nila telah dibudidayakan di kolam, jaring apung, karamba dan sawah. Ikan nila termasuk ikan yang memiliki daya tahan hidup yang cukup baik diberbagai perairan