pengaruh panjang gelombang cahaya untuk merangsang kinerja reproduksi ikan

Keberhasilan reproduksi ikan telostei dipengaruhi oleh penerimaan signal lingkungan oleh system sensor dan transduksi sinyal dengan sumbu endokrin reproduksi. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang esensial karena memiliki beberapa kualitas karakteristik informatif (spectrum atau panjang gelombang), kuantitas (intensitas) dan periodisitas (fotoperiod) yang memiliki fungsi untuk merangsang efek fisiologi pada ikan. Diantara karakteristik ini, periodisitas merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan reproduksi ikan, penting dalam inisiasi dan perkembangan gonad ikan. Bahkan kondisi fotoperiodik yang dimanipulasi telah dilakukan dalam usaha budidaya ikan untuk merangsang kegiatan reproduksi pada ikan-ikan tertentu. Disisi lain penelitian juga dtelah dilakukan untuk mengetahui panjang gelombang cahaya untuk memacukinerja reproduksi ikan.
Ikan mampu mendeteksi perbedaan intensitas dan spektrum cahaya oleh fotoreseptor retina dan ekstra-retina. Walaupun sensitivitas terhadap perbedaan-perbedaan ini bervariasi di antara spesies, namun dikatahui dapat mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan somatic dan kelangsungan hidup larva dan juvenil. Ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diekspos pada cahaya biru ternyata mampu meningkatkan proporsi reproduksi ikan danmerangsang ikan jantan untuk membuat sarang.
Pengaruh panjang gelombang cahaya yang berbeda untukperkembangan ovarium menunjukkan adanya kemungkinan bahwa salah satu spectral pigemen memilki sensivitas yang luas atau melibatkan beberapa fotopigmen pada proses transduksi yang berhubungan dengan rangsangan cahaya dari luar. Spesisfik phoreseptor terlibat pada fungsi ini namun belum diketahui dengan jelas. Salah satu kemungkinan adalah adanya mediasi yag dilakukan oleh photopigmen lateral mata. Meskipun fotoreseptor retina merupakan tempat untuk mengetahui sensivitas panjang gelombang, isyarat yang berhubungan dengan aktivitas reproduksi ikan dideteksi oleh fotoreseptor ekstra retina. Cahaya gelombang panjang mampu menembus fotoreseptor pineal dalam otak dengan penetrasi yang lebih tinggi dibanding cahaya gelombang pendek.

respon larva ikan terhadap intesitas cahaya

Cahaya merupakan faktor eksternal dan ekologi yang penting, termasuk spektrum warna, intensitas dan fotoperiodik. Karakteristik cahaya sangat spesifik dalam lingkungan perairan dan sangat bervariasi di alam. Ambang intensitas cahaya minimal yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan larva ikan.
Pada kondisi pencahayaan gelap, larva cenderung bergerak menyebar dalam mencari mangsa. Sehingga membutuhkan energi yang lebih tinggi. Aktivitas metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telurnya menjadi lebih cepat. Larva ikan pada hari pertama setelah menetas tidak ditemukan adanya pigmen pencahayaan pada matanya dan sedikit sekali diferensiasi penglihatan. Pada hari ketiga pigmen dengan retina yang bertingkat dan sel penglihatan telah berkembang. Selanjutnya pada hari kelima saraf optik dan cone (sel berbentuk kerucut pada retina) telah berkembang.
Intensitas dapat bervariasi, sebagai contoh antara 50 dan 150 lux untuk ikan Sparus auratus. Namun, beberapa spesies dapat tumbuh dan berkembang pada intensitas cahaya yang sangat rendah adalah seperti pada beberapa spesies larva ikan pelagis, sementara ikan kakap (Morone saxatilis). Pada saat larva umumnya hidup di daerah estuaria dengan air yang keruh. Juvenil ikan herring Clupea harengus, berenang cepat dan bertahan hidup ketika berpindah ke perairan yang gelap.
Ketika larva berubah menjadi juvenil maka rods (sel berbentuk batang pada retina) telah terbentuk. Cone dan rods merupakan fotoreseptor yang aktif bekerja dan peka terhadap gelap dan terangnya cahaya. Cone bekerja ketika kondisi terang, sedangkan rods bekerja pada kondisi gelap/samar. Dengan berkembangnya adaptasi terhadap gelap dan terang maka ikan muda (juvenil) mudah dalam menangkap mangsa. Aktivitas pemangsaan yang sukses akan menunjang pertumbuhan juvenil.
beberapa larva ikan masih belum berkembang organ penglihatannya secara sempurna sehingga sedikit sekali diferensiasi dalam membedakan cahaya terang dan gelap. Pada kondisi pro larva, cahaya dibutuhkan untuk stimulus pewarnaan (pigmentasi) pada organ penglihatan dan warna tubuh, suatu peristiwa yang penting di awal pertumbuhan dan perkembangan larva.
Secara umum, lama waktu penyinaran mempengaruhi kecepatan perkembangan larva. Ada atau tidaknya cahaya dapat memberikan pengaruh aktivitas yang berbeda terhadap larva ikan. Pergerakan aktivitas larva akan mempengaruhi laju penyerapan kuning telur saat larva berkembang dari pro larva menuju post larva. Efisiensi penyerapan kuning telur yang tinggi dapat terjadi akibat dari aktivitas larva yang rendah, sehingga kuning telur lebih banyak terserap untuk pertumbuhan.
Tingkat intensitas cahaya dibutuhkan untuk mengoptimasi pertumbuhan larva. Intensitas cahaya 600 – 1300 lx dapat meningkatkan pertumbuhan pada ikan seabream, sementara larva ikan kakap berkembang secara optimal pada 600 lx. Pada spesies lain, level optimum lebih rendah seperti pada atlantic halibut, pertumbuhan terbaik pada 1-10 lx. Disamping itu juga terdapat beberapa ikan yang sensitif terhadap intensitas cahaya yang tinggi. Hal ini terlihat pada ikan Southern flounder ( paralichtis lethogstigma ) yang dicobakan pada kisaran 340 – 1600lx dan tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan metamorphosis, pada spesies yang sama juga ditemukan perbedaan pigementasi pada post metamorphosis larva.
Peristiwa pergerakan berkumpulnya larva ikan di bawah cahaya dapat dibedakan sebagai peristiwa langsung yakni ikan–ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul dan peristiwa tak langsung yakni karena ada cahaya maka plankton dan ikan–ikan kecil berkumpul kemudian ikan–ikan kecil berkumpul kemudian ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan feeding (mencari makan). Larva gurame lebih mudah mendapatkan pakannya saat ada cahaya yang dibuktikan dengan jumlah pakan paling banyak ditemukan dalam lambung larva gurame pada saat siang hari atau ada cahaya. Artemia bersifat fototaksis positif dan cenderung bergerombol mendekati sumber cahaya. Hal tersebut akan memudahkan larva ikan dalam menangkap artemia sebagai mangsanya.
Variasi pertumbuhan juga dapat dijelaskan melalui aktivitas larva memburu mangsa, dan sangat tergantung pada perkembangan penglihatan larva. Intensitas cahaya yang rendah dibutuhkan untuk mengembangkan aktivitas berburu secara normal. Larva sea bream lebih menyukai cahaya yang redup dengan tingkat kelangsungan hidup dan efisiensi pakan yang tinggi dibanding pada cahaya yang terang. Berdasarkan nilai rata-rata tingkat kelangsungan hidup yang dicapai maka suhu 28 oC merupakan suhu yang terbaik bagi kehidupan larva.