Jenis kelamin suatu organisme ditentukan oleh beberapa faktor seperti faktor lingkungan dan kondisi genetic. Secara genetis, kromosom memegang peranan penting dalam menentukan jenis kelamin (kromosom seks atau gonosom) . Untuk mendapatkan jenis kelamin ikan sesuai dengan yang diinginkan dapat dilakukan beberapa cara yatiu perlakuan dengan hormon, manipulasi kromosom, dan kombinasi keduanya serta melalui proses hibridisasi, ginogenesis, androgenesis .
Sex reversal adalah suatu metode untuk mengubah jenis kelamin ikan secara buatan dari betina menjadi jantan atau sebaliknya. Perubahan jenis kelamin dimungkinkan karena pada fase pertumbuhan gonad belum terjadi diferensiasi kelamin dan belum ada pembentukan steroid sehingga pembentukan kelamin dapat diarahkan dengan menggunakan hormon steroid sintesis. Hormon mengatur beberapa fenomena reproduksi misalnya proses diferensiasi gonad, pembentukan gamet, ovulasi, perubahan morfologis atau fisiologis pada musim pemijahan atau produksi feromon. Diferensiasi gonod terjadi lebih dahulu diikuti fenomena lain.
Steroid seks yang berfungsi mengubah jenis kelamin adalah androgen (testosterone, metltestoteron dll) yang memberikan efek maskulinitas dan estrogen (estron, estrodiol dll) yang memiliki pengaruh feminitas. Androgen dihasilkan oleh testis, korteks adrenal dan ovary. Salah satu hormon alami androgen adalah testosterone. Derivat dari hormon ini merupakan hormon steroid sintesis dan telah berhasil digunakan untuk merangsang perubahan jenis kelamin dari betina menjadi jantan adalah 17α-metiltestoteron.
Hormon androgen sintesis memiliki efektifitas yang tinggi dibandingkan yang alami kecuali hormon testoteron propionate. Hal ini terjadi karena hormon 17α-metiltestoteron dapat bereaksi lebih lama pada target sel dibanding dengan androgen alami, dan metiltestoteron dieliminasi lebih lambat daripada testoteron. Metiltestoteron pada ikan jantan meningkatkan spermatogenesis sedang pada betina mendorong timbulnya karakter sekunder sex jantan seperti perpanjangan sirip anal pada ikan gapi dan dapat menyebabkan reabsorpsi telur dan degenerasi ovary.
Keberhasilan penggunaan hormon steroid untuk mengubah jenis kelamin ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis dan umur ikan, dosis hormon, lama dan waktu pemberian hormon, cara pemberian hormon dan suhu pada saat perlakuan. Pemilihan yang tidak tepat akan menyebabkan kegagalan. Faktor yang mempengaruhi dosis optimum hormon steroid diantaranya adalah aktivias biologi hormon, cara pemberian, spesies ikan dan lama perlakuan.
Dosis optimum pada ikan salmon adalah 0,2 mg/l melalui perendaman selama 120 menit. Pemeberian dosis berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Efek lainnya adalah terjadinya paradoksial yaitu timbulnya sifat feminisme pada gonad ikan yang bergenotipe jantan setelah pemberian 17α-metiltestoteron dosis tinggi. Apabila hormon androgen diberikan dalam jumlah berlebihan, jantan dan betina dengan masing-masing akan berdiferensiasi menjadi jantan dengan testes mengecil dan akhirnya menjadi mandul karena kerusakan permanen pada sel-sel germinal. Keadaan yang serupa terjadi apabila waktu pemberian hormon terlalu lama, dimana perkembangan gonad dan pembentukan gamet terhambat. Untuk memperoleh perendaman efektif perlu diperhatikan hubungan antara dosis dan lama waktu perendaman. Umumnya perendaman dosis tinggi memerlukan waktu yang singkat.
Pemberian hormon dilakukan dengan dua cara yaitu penambahan hormon ke dalam media air pemeliharaan atau dicampur dengan pakan, Pemberian steroid melalui pakan mudah dilakukan tetapi terbatas hanya pada ikan yang dapat menerima pakan buatan dan steroid kemungkinan dapat mengalami pencucian selama di dalam air. Pada ikan ikan tertentu seperti pada ikan salmon, diferensiasi seks jantan dimulai sebelum ikan mulai makan, sehingga prosedur yang digunakan adalah perendaman alevin di dalam air yang mengandung hormon steroid atau perendaman telur pada stadia bintik mata.
Perendaman telur ikan salmon Chinook dalam larutan 17α-metiltestoteron pada stadia bintik mata dan dilanjutkan dengan perendaman alevin ( double immersion)dapat menghasilkan ikan jantan 100%. Hasil yang sama diperoleh pada perendaman yang dilakukan hanya pada stadia bintik mata (single immersion) dengan dosis 0,2 mg/l selama 120 menit pada suhu 100C. Hal ini menunjukkan bahwa diferensiasi seks pada iakn salmon Chinook sangat labil dan mudah dipengaruhi oleh androgen pada saat telur akan menetas sampai kuning telur habis.
Kategori: hormon
fototeransduksi dan jam biologi ikan
Kebanyakan organisme hidup menghuni lingkungan yang sangat dinamis yang ditandai dengan fotoperiodik harian dan tahunan, irama cahaya dipengaruhi oleh rotasi bumi pada porosnya dan mengelilingi matahari. Hewan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan fotoperiodik dengan mengembangkan sistem sirkadian atau jam biologis untuk melacak waktu, sinkronisasi dan mengantisipasi rutinitas alam seperti matahari terbit atau matahari terbenam . Untuk melakukannya, hewan fotoreseptor mengembangkan mekanisme jam selama awal ontogeni sesuai dengan rangkaian peristiwa secara berurutan. Pada ikan, pengembangan mekanisme pengaturan waktu terjadi sangat awal saat fase endogen, irama sirkadian aktivitas lokomotor larva ikan zebrafish ditemukan 5 hari setelah menetas seiring dengan aktivitas berenang mencari makan.
Pada ikan teleost, cahaya mempengaruhi seluruh siklus hidup mulai dari perkembangan embrio sampai pematangan organ seksual ikan dewasa. Meskipun tujuan utamanya adalah aktivitas untuk mencari makan dan makan, retina non-fotoreseptor, seperti organ pineal dan fotoreseptor dalam otak, memainkan peran kunci dalam perkembangan larva.
Mekanisme yang terjadi pada sistem yang menengahi sinyal photoperiodik dan peristiwa fisiologis penting masih belum dipahami pada ikan. Rangsangan cahaya diterima oleh pineal adalah diteruskan melalui sinyal saraf atau sebagai sinyal hormonal melalui sekresi hormon melatonin untuk menjaga irama waktu. Biosintesis dan pelepasan melatonin ke dalam aliran darah lebih tinggi pada malam hari atau fase gelap karena cahaya menghambat enzim AA-NAT (arylalkylamine N-asetiltransferase). Pada larva ikan sebagian besar fotoreseptor pineal menjadi fungsional dan responsif terhadap cahaya sebelum photopigments retina. Banyak riset yang telah dilakukan dan menjadikan ikan zebra menjadi model yang menunjukkan bahwa jam molekuler berfungsi dan reaktif terhadap cahaya saat hari pertama pasca fertilisasi. Enzim AA-NAT yang mengontrol produksi melaotin, telah terekspresi pada fase blastula dan sintesis melatonin telah terjadi dua malam setelah pembuahan, dan telah sempurna sebelum pembentukan pigmen retina yang terjadi tiga hari setelah fertilisasi. Ikan halibut Atlantik (Hippoglossus hippoglossus) kondisi pencahayaan dapat disetel untuk sinkronisasi waktu penetasan embrio, paparan cahaya menghambat penetasan, sedangkan kondisi gelap sebelum 18 setelah penetasan, mengakibatkan disinkronisasi penetasan embrio dalam 90-140 menit.
Kelangsungan hidup larva ikan dapat sangat bervariasi tergantung pada spesies dan kondisi pemeliharaan. Sebagai contoh, tingkat kelangsungan hidup ikan kakap lebih tinggi pada pasca-larva yang dipelihara dengan kepadatan 5 dan 10 /liter ikan,diibanding yang dipelihara pada kepadatan 15 dan 20 ikan per liter, sedangkan kelangsungan hidup ikan sole Senegal lebih tinggi (81%) saat larva terkena cahaya 10 jam terang : 14 jam gelap. Pada spesies lain seperti cod Atlantik, larva menunjukkan tingkat ketahanan hidup yang rendah ketika dipelihara di bawah intensitas cahaya 2400 lx pada 0 terang: 24 gelap. Variabilitas pada kelangsungan hidup dapat terkait dengan sejumlah faktor, termasuk kondisi pencahayaan.
Cahaya adalah faktor lingkungan kompleks yang tergantung pada sistem pencahayaan digunakan (intensitas dan spektrum), lama penyinaran, sifat absorbansi air serta kepekaan cahaya spesifik spesies yang dipelihara.
Fosfor , Pakan, Hormon Pertumbuhan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan
Di perairan umum fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organic yang berupa partikulat. Fosfor berbentuk kompleks dengan ion besi dan kalsium pada kondisi aerob, besifat tidak larut, dan mengendap pada sediment sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik
Fosfor berperan dalam transfer energi di dalam sel, misalnya yang terdapat pada ATP (Adenosine Triphosphate) dan ADP (Adenosine Diphosphate). Ortofosfat yang merupakan produk ionisasi dari asam ortofosfat adalah bentuk fosfor yang paling sederhana di perairan Reaksi ionisasi asam ortofosfat di bawah ini .
H3PO 4 H+ + H2PO4¬
H3PO4- H+ + HPO2-
HPO42- H+ + PO43-
Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat terlebih dahulu, sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfor. Setelah masuk ke dalam tumbuhan, misalnya fitoplankton, fosfat anorganik mengalamia perubahan menjadi organofosfat. Fosfat yang berkaitan dengan ferri (Fe2(PO4)3) bersifat tidak larut dan mengendap di dasar perairan. Pada saat terjadi kondisi anaerob, ion besi valensi tiga (ferri) ini mengalamai reduksi menjadi ion besi valensi dua (ferro) yang bersifat larut dan melepaskan fosfat ke perairan, sehingga meningkatkan keberadaan fosfat di perairan.
Fosfor total menggambarkan jumlah total fosfor, baik berupa partikulat> maupun terlarut, anorganik maupun organic. Fosfor organic biasanya disebut soluble reactive phosphours, misalnya ortofosfat. Fosfor organic banyak terdapat pada perairan yang banyak mengandung bahan organic. Oleh karena itu, pada perairan yang memiliki kadar bahan organic tinggi sebaiknya ditentukan juga kadar fosfor total, di samping otofosfat.
Unsur fosfor berubah bentuk secara terus-menerus, akibat proses dekomposisi dan sintesis antara bentuk organic dan bentuk anorganik yang dilakukan oleh mikroba. Semua polifosfat mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat. Perubahan ini bergantung pada suhu. Pada suhu yang mendekati titik didih, perubahan polifosfat menjadi ortofosfat berlangsung cepat. Kecepatan ini meningkat dengan menurinnya nilai pH. Perubahan polifosfat menjadi ortofosfat pada air limbah yang mengadung bakteri berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada air bersih.
Keberadaan fosfor diperairan alami biasanya relative kecil, dengan kadar yang lebih sedikit dari pada kadar nitrogen; karena sumber fosfor lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen diperairan. Sumber alami fosfor diperairan adalah pelapukan batuan mineral, misalnya fluorapatite [Ca5-(PO4)3F], hydroxylapatite [Ca5-(PO4)3OH], strengire [Fe(PO4)2H2O], whitlockite [Ca5-(PO4)2], dan berlinite (AIPO4). Selain itu, fosfor juga berasal dari dekomposisi bahan organic. Sumber antropogenik fosfor adalah limbah industri dan domestic, yakni fosfor yang berasal dari detergen. Limpasan dari daerah pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi keberadaan fosfor.
Kebutuhan Fosfor Ikan
Fosfor adalah nutrisi mineral penting karena dibutuhkan untuk pertumbuhan, mineralisasi tulang, reproduksi, sintesis asam nukleat , dan metabolisme energi. Tanda-tanda kekurangan fosfor seperti mengurangi pertumbuhan tulang dan kelainan bentuk dan kuantitatif persyaratan telah ditentukan untuk beberapa jenis ikan. Seperti fosfat rendah di sebagian besar lingkungan perairan , sumber utama fosfor terutama berasal dari daging atau premixes, tulang ikan dan tanaman. Bentuknya sangat beragam, namun umumnya anorganik (kalsium dan kalium garam) dan organik (fosfolipid) yang ditemukan pada ikan dan tersedia bagi ikan daripada phytates ditemukan di tumbuhan. Salah satu studi terkini tentang efek dari diet fosfor dan tingkat fosfolipid pada pertumbuhan dan tanda-tanda kekurangan fosfor diteliti pada juvenil flounder javanese.
Telah dikenal selama hampir 25 tahun bahwa pemberian fosfolipid dalam pakan dapat meningkatkan produksi budidaya air tawar dan laut berbagai spesies ikan. Efek menguntungkan utama adalah meningkatkan pertumbuhan larva dan juvenil, tetapi juga meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan penurunan malformasi pada fase larva, dan peningkatan kemampuan dalam mengahadapi stres. Penentuan kebutuhan gizi mutlak telah terhambat oleh penggunaan, dalam percobaan diet yang berbeda, dari berbagai persiapan fosfolipid yang dapat sangat bervariasi baik dalam jumlah dan komposisi fosfolipid.
Ikan diberi makan tanpa suplemen fosfor suplemen memiliki tulang yang sangat lembut dan malformasi vertebra juga makin banyak ditemukan pada ikan. Demikian juga konsentrasi abu, kalsium dan fosfor pada sisik , vertebra dan opercula ikan sangat signifikan lebih rendah pada diet makan ikan tanpa fosfor suplemen. Tanpa adanya suplementasi fosfor, pemberian kalsium itu tidak berpengaruh pada kalsium atau kandungan fosfor pada sisik dan tulang belakang. Namun, ketika diet yang dilengkapi dengan 6 g / kg fosfor, mineralisasi vertebra menurun dengan suplemen kalsiumtinggi (12 atau 18 g / kg) tapi tidak terjadi pada sisik. Berdasarkan temuan ini, yang optimal makanan suplemen kalsium dan 6 g / kg (total diet kalsium dan fosfor masing-masing 9,3 dan 10,3 g / kg.
Dampak faktor nutrisi pada pertumbuhan vertebrata dan metabolisme dimediasi oleh sistem endokrin, dimana hormon pertumbuhan (GH) dan IGF-I memainkan peranan penting. GH diprodusi dan disekresi dari pituitary, sedangkan IGF-I diproduksi terutama dari hati atas rangsangan oleh GH. GH dan IGF-I telah menunjukkan untuk merangsang pertumbuhan ikan, tetapi relatif kontribusi, dan sejauh mana GH dan IGF-I berinteraksi dan / atau bertindak secara independen untuk mengatur pertumbuhan dan proses metabolisme belum jelas. System GH-IGF-I sangat dipengaruhi oleh kondisi nutrisi ikan seperti pelaparan, atau peningkatan kebutuhan protein/ rasio energi yang secara umum dapat meningkatkan tingkat plasma GH dan menurunkan tingkat plasma IGF-I (Pierce et al., 2005). Penelitian terkini telah menunjukkan bahwa kebutuhan protein dapat berdampak pada tingkat plasma GH, tetapi tidak pada tingkat IGF-I pada pada rainbow trout dan gilthead sea bream.
Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan dan hormon tiroid sering bertindak sinergi sebagai pengatur utama kapasitas hypoosmoregulatory, perubahan morfologis (sisik keperakan dan kulit), perubahan metabolik dan prilaku membentuk formasi schooling. Pada umumnya fungsi hormon reproduksi di dalam tubuh ikan berkembang sesaat setelah ikan dewasa. Tingkat kedewasaan ikan sangat berlainan tergantung spesies dan lingkungan hidupnya.
Tingkat plasma hormon pertumbuhan (GH) secara signifikan lebih tinggi pada ikan yang diberi protein nabati daripada ikan yang diberi makanan hydrolysate tinggi. Tingkat plasma IGF-I tidak terpengaruh oleh diet. Perbandingan dari kelompok dengan dimasukkannya bahan nabati, dengan demikian tingkat pertumbuhan yang sama inhibitor, hal ini menunjukkan bahwa dalam menghilangkan senyawa-senyawa dengan berat molekul kecil dari ikan hydrolysate, pertumbuhan dan efisiensi pakan dikurangi secara signifikan. Beberapa senyawa pada ikan kecil hydrolysate tampaknya menjadi penting bagi kinerja biologis. Lebih jauh lagi, sebagai makanan ikan mengungkapkan performa terbaik.
Dampak dari faktor gizi pada pertumbuhan vertebrata dan metabolisme endokrin dimediasi oleh regulator, dimana hormon pertumbuhan (GH) dan insulin-seperti pertumbuhan Faktor I (IGF-I) memainkan peran utama. GH diproduksi dan disekresikan dari hipofisis, sedangkan IGF-I diproduksi terutama dari hati atas stimulasi oleh GH. Kedua GH dan IGF-I telah ditunjukkan untuk merangsang pertumbuhan ikan, tetapi mereka relatif kontribusi, dan sejauh mana GH dan IGF-I berinteraksi dan / atau bertindak secara independen untuk mengatur pertumbuhan dan proses metabolisme belum jelas.
Sistem GH-IGF-I sangat dipengaruhi oleh status gizi ikan, e.g. puasa atau penurunan protein / energi ransum yang umumnya ditandai dengan peningkatan kadar GH plasma dan penurunan IGF-I plasma level. Studi saat juga menunjukkan bahwa sumber protein diet dapat mempengaruhi tingkat GH plasma, tetapi tidak tingkat IGF-I, trout pelangi dan laut gilthead bream. Selain itu, diet seimbang asam amino mengubah komposisi plasma GH dan IGF-I tingkat gilthead seabream. Namun, pengaruh faktor diet tertentu di GH-IGF-I sistem trout pelangi belum diteliti dengan baik.
Peningkatan pencernaan atau peningngkatan transportasi lipid dari hati ke jaringan atau pengambilan lipid oleh jaringan di lemak ikan juga mungkin terlibat. Pada mamalia, obesitas terkait dengan gangguan sekresi hormon pertumbuhan dan perubahan leptin dan regulasi Insulin like Growth Factor (Livshits et al., 2005).
Tingkat plasma hormon pertumbuhan GH berkurang dengan peningkatan ukuran ransum. Selain itu, di bawah tingkat menyusui tetap, plasma GH tingkat lebih rendah di ikan makan diet lemak tinggi. Tren yang berlawanan ditemukan pada ikan makan untuk kenyang. Setelah 8 hari puasa, memberi makan ikan sebelumnya 17% lipid diet untuk kenyang juga dipamerkan hypersomatotropism yang lebih menonjol dan hipoglikemia, terkait dengan peningkatan lemak tubuh kehilangan.
Hormon pertumbuhan (GH) / (IGF-I) (GH-IGF-I) memainkan peranan dalam pertumbuhan mamalia. Pada mamalia, IGF-I adalah pengatur utama pertumbuhan dan konsentrasi yang ditemukan dalam plasma diatur oleh interaksi yang kompleks antara reseptor dan pengikatan protein. Bukti menunjukkan bahwa IGF-I memainkan peran serupa dalam pertumbuhan ikan. Tingkat IGF-I meningkat dengan peningkatan ukuran pakan. Hasil penelitian menyatakan bahwa pengukuran tingkat IGF-I dapat memberikan petunjuk untuk memantau pertumbuhan ikan serta menilai metode untuk menilai formulasi diet yang berbeda.
Hubungan fosfor dengan hormon pertumbuhan
Hormon memainkan peran sentral dalam regulasi pertumbuhan dan pemanfaatan nutrisi ikan. Akibatnya, sistem endokrin ikan sensitif terhadap perubahan asupan gizi. Prosedur secara rutin digunakan dalam pengembangan diet dan protokol untuk budidaya ikan memiliki efek nyata pada sistem endokrin. Perubahan pada tingkat dosis (termasuk pembatasan makanan dan kekurangan makanan), komposisi diet, photoperiod, dan pengaruh waktu makan yang paling intensif pada ikan untuk mempelajari metabolisme hormon: hormon tiroid, hormon pankreas, dan hormon-hormon pertumbuhan-hormon insulin seperti sumbu faktor pertumbuhan (Deane 2008). Sedangkan efek dari diet ini manipulasi pada kadar hormon yang bersirkulasi total biasanya diperiksa, asupan gizi juga dapat mempengaruhi transportasi hormon dalam darah, aktivasi dalam jaringan perifer, mengikat reseptor, dan jalur neuroendokrin mengatur sekresi hormon. Informasi mengenai mekanisme seluler dan molekuler melalui nutrisi yang mempengaruhi sistem endokrin masih diperlukan. Signifikan informasi baru tentang pengaturan fungsi endokrin dapat diturunkan dari studi gizi saat ini bekerja di perikanan budidaya untuk pengembangan pakan. Informasi tambahan tentang pengaruh gizi pada fungsi endokrin penting untuk desain dan penafsiran studi suplementasi hormon, dan seharusnya akhirnya memungkinkan pengembangan strategi pemberian makanan yang meningkatkan produksi hormon anabolik.
sistem hormon pada larva ikan
Kunci keberhasilan budaya ikan laut adalah produksi massal benih berkualitas tinggi, sebagian besar proses tergantung pada pemberian pakan buatan pertama yang sukses dan perkembangan yang normal serta pertumbuhan larva ikan. Dalam hal ini penting untuk mengetahui perkembangan struktural dan fungsi sistem endokrin sejak awal ontogeni ikan. Kelenjar hipofisis dibedakan berdasarkan umur, dinilai oleh deteksi imunohistokimia GH dan PRL, bervariasi antar spesies, tetapi umumnya bertepatan dengan pigmentasi mata. Thyroid follicles dan pulau pankreas pertama kali muncul pada saat yang sama, sementara sel interrenal muncul kemudian.
Konsentrasi jaringan hormon tiroid menurun selama perkembangan embrio dan tidak terdeteksi sampai selesainya penyerapan kuning telur. Selama awal hidup kadar hormon tiroid meningkat secara bertahap dan signifikan selama transformasi ke tahap juvenil. Jaringan konsentrasi kortisol hampir menunjukkan pola perkembangan yang sama, namun naik sebelum kadar hormon tiroid. GH dan PRL menunjukkan pola perkembangan yang berbeda. GH terus meningkat selama pertumbuhan larva sementara PRL terlihat hampir sama dengan pola kortisol. Berdasarkan temuan ini disimpulkan bahwa sistem endokrin menjadi fungsional sebelum penyelesaian penyerapan kuning telur pada ikan di laut.
Pengaturan hormonal awal perkembangan larva ikan
Hormon dianggap sangat penting pada perkembangan dan pertumbuhan larva ikan. Hormon tiroid, kortisol, GH, IGF I dan II, dan PRL penting untuk proses ini. Namun demikian, penting untuk menekankan bahwa fokus mengenai peran hormon tersebut sama sekali tidak menghalangi keterlibatan jaringan endokrin dan faktor hormonal lain selama awal perkembangan.
Hormon tiroid
Pentingnya hormon tiroid (TSH), tiroksin (T4) dan triodothyronine (T3) pada perkembangan vertebrata sudah diketahui dengan. Aktivitas kelenjar thyroid terutama diatur oleh TSH disekresi dari thyrotrophs dari hipofisis. Dengan demikian, TSH memainkan peran penting dalam perkembangan sistem endokrin larva ikan dan dapat bertindak sebagai indikator awal dan tingkat aktivitas folikel tiroid. Pada ikan, TSH berperan penting dalam proses transisi dari larva ke tahap juvenil.
Hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan (GH) adalah hormon pituitari yang mengatur perkembangan dan pertumbuhan somatis hewan bertulang belakang. Hormon pertumbuhan merupakan polipeptida rantai tunggal dengan dua intramolekular ikatan disulfide. Mediator utama dari fungsi GH adalah IGF-I yang secara struktur diatur untuk insulin dan sama-sama mengisi tiga ikatan intramolekular disulfide.
Pada ikan, hormon-hormon somatotropik (hormon pertumbuhan (GH) dan insulin-seperti pertumbuhan faktor-I dan II (IGF-I dan IGF-II), bersama dengan reseptor dan plasma mengikat protein, berkaitan erat dengan proliferasi sel dan diferensiasi, pertumbuhan, beberapa aspek perilaku, fungsi sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan dan fungsi saluran usus, regulasi ionik dan osmotik, reproduksi dan smoltification. Reseptor IGF-I (IGFR-I) AAA pada ikan zebra telah diamati dan memainkan peran penting dalam perkembangan dan pertumbuhan embrio.
Prolaktin dan somatolactin
Prolaktin adalah hormon serbaguna dengan fungsi menakjubkan . Fungsi utamanya adalah osmoregulasi pada ikan air tawar dan ikan yang bersifat euryhalin. Fungsi lain prolaktin adalah mengontrol pertumbuhan, perkembangan, stimulasi metabolisme kelenjar endokrin, tingkah laku, reproduksi dan fungsi kekebalan tubuh.
Somatolaktin (SL) adalah hormon pituitari yang terdapat pada ikan dan merupakan bagian dari hormon pertumbuhan atau prolaktin (GH/PRL). Hormon ini secara predominan terekspresi dalam sel pada Pars Intermedia (PI) dari kelenjar pituitari. Sel ini (somatolaktotrof) juga digolongkan sebagai Periodic Acid –Schiff (PAS)-sel positif kecuali untuk salmonid. Pada beberapa spesies ikan, sel ini ditemukan dibagian lain dari adenohipofisis, Proksimal Pars Diastalis (PPD) dan pada Rostal Pars Diastalis (RPD). Pada ikan Rainbow Trout (Oncorhyncus mykiss), hormon ini juga terdapat pada jaringan ekstra pituitari seperti pada jaringan otak, insang, jantung, ginjal, hati dan otot rangka, spleen, ovari, testis dan oosit muda dan diberbagai area dari otak ikan nila, Oreochromis mossambicus.
Somatolaktin terlibat dalam berbagai proses fisiologis seperti pada pengaturan beberapa aspek reproduksi dan respon terhadap stress. Beberapa hasil penelitian melaporkan keterlibatan SL dalam pengaturan asam basa dan kalsium, metabolisme fosfat dan lemak dan adaptasi background pada spesies bukan salmonid. Mungkin SL tetap sama seperti pada gen leluhur dari famili GH/PRL/SL yang bisa menjadi regulator metabolik penting dalam menentukan flux metabolit intraseluler.
Somatolaktin terlibat dalam pengaturan adipositas dan fungsi gonad salmonids dan ikan sparid , memiliki aksi hypercalcemic di ikan trout, proliferasi dan morfogenesis sel pigmen chromatophore di medaka serta perkembangan gas kandung kemih di ikan zebra.
Kortisol
Kortisol merupakan produk utama dari kelenjar interrenal di teleosts, dan memiliki kedua gluco-dan mineral corticoid tindakan. Perubahan secara temporal tingkat kortisol pada awal kehidupan teleosts sama di beberapa spesies. Deposisi awal kortisol induk dalam kuning telur digunakan selama embriogenesis dan mencapai level konsentrasi terendah pada waktu penetasan, lalu larva mulai mensintesis kortisol de novo. Kortisol memiliki efek langsung terhadap perkembangan, metabolisme, sistem kekebalan dan stres . Kortisol juga dapat berinteraksi dengan hormon lain selama perkembangan (Misalnya ths, PRL dan GH). Lebih khusus, kortisol meningkat seiring dengan metamorfosis dan berperan selama transformasi larva THS. Penggunaan THS dengan kortisol berpengaruh pada kecepatan metamorphosis larva ikan dibandingkan dengan penggunaan THS saja. Perkembangan sistem corticoid selama tahap-tahap awal lara ikan, belum dipahami dengan baik. Secara khusus, sedikit yang diketahui tentang pengaruh induk terhadap kortisol yang diendapkan pada perkembangan embrio, waktu pengaktifan kortisol dan reseptor sintesis, atau mekanisme molekul yang terlibat.



