Budidaya Ikan Nila di Pekarangan

Ikan Nila (Tilapia nilatica) merupakan ikan sungai atau danau yang sangat cocok dipelihara di perairan tenang seperti kolam. Toleransi terhadap kadar garam sangat tinggi sehingga sering juga dijumpai di perairan payau seperti tambak. Secara alami ikan nila memakan plankton dan tumbuhan air yang lunak bahkan cacing.
Ikan nila di alam siap memijah bila sudah berumur 4 bulan dengan panjang sekitar 9,5 cm, pembiakan bisa sepanjang tahun tanpa musim. Induk betina bisa menghasilkan 250 sampai 1.000 butir telur dan akan menetas dalam 3-5 hari di dalam mulut induk betina (tergolong ikan Mouth Breeder).

Ciri induk jantan dan betina adalah:

  1. Dagu nila jantan berwarna kemerahan atau kehitaman, dagu nila betina berwarna putih
  2. Sirip dada nila jantan berwarna coklat kemerahan, sirip dada nila betina berwarna kehitaman
  3. Perut nila jantan berbentuk pipih dengan warna kehitaman, betina perutnya menggembung dan berwarna putih
  4. Alat kelamin nila jantan berbentuk meruncing, betina berbentuk seperti bulan sabit

Untuk pemeliharan di pekarangan bisa dilakukan pada kolam semen atau kolam tanah, daerah pasang surut seperti Banjarmasin bisa dipakai jala agar ikan tidak keluar pada saat air pasang. Sebaiknya tinggi air kolam 50-70 cm. Ikan nila dapat dipelihara dengan tingkat kepadatan yang lebih tinggi diganding dengan ikan mas, kepadatan ikan nila pada kolam 10-15 ekor per m persegi dengan ukuran 6-7 cm. Ikan nila mau makan apa saja, seperti sisa makanan, dedak, daun-daunan atau pelet. Ikan nila bisa dikonsumsi bila ukuran berat mencapai 100 gr.

Kolam semen
Jaring terapung


Cari Artikel Terkait disini

aktivitas enzim larva ikan pada intensitas cahaya yang berbeda

Aktivitas enzim amilase relatif lebih tinggi, baik pada larva yang dipelihara dalam wadah dengan kondisi pencahayaan normal (1,1-5 /mmol/menit) maupun teduh (0,7-2,5 mmol/menit), Pola perkembangan aktivitas enzim amilase pada larva cahaya normal hampir mirip dengan larva lainnya. Aktivitas enzim ini meningkat dengan bertambahnya umur larva hingga 12 hari dan menurun hingga hari ke 32.
Pada umur 10 hari pancreas sebagai organ yang mensekresikan enzimamilase sudah mulai terbantuk. Aktivitas ensim pada hari tersebut menunjukkan bahwa amylase endogen diduga mulai disekresikan pada pada umur tersebut. Spesies omnivore mempunyai aktivitas amylase dan rasio amylase protease lebih tinggi disbanding kan karnivor. Hal ini disebabkan spesies omnivore mempunyai kemampuan dalam memanfaatkan karbohidrat lebih tinggi dibanding spesies karnivor. Aktivitas amylase pada ikan gurame meningkat dengan bertambahya umur ikan, peningkatan tersebut selain disebabkan berkembangnya alat pencernaan juga karena tingkat konsumsi pakan nabati meningkat. Peningkatan relative enzim amilasi selain adanya kontribusi enzim eksogen yang berasal dari pakan juga karena ensim endogen sudah mulai disekresikan.
Terdapat keterkaitan antara aktivitas enzim pencernaan dan perkembangan struktur organ pencernaan dan kebiasaan makan ikan. Pada saat alat struktur anatomis dan histologis alat pencernaan belum sempurna, enzim endogen yang disekresikan sangat sedikit. Hal ini dicerminkan oleh aktivitas enzim pepsin, tripsin,amiilase dan lipase sangat rendah. Dengan bertambahnhya umur larva, struktur anatomis organ pencernaan semakin sempurna hingga fase definitive diikuti dengan produksi enzim pencernaan yang cukup tinggi sehingga ikan mampu mencerna pakan yang tidak mengandung enzim. Aktivitas enzim amylase terus meningkat dengan meningkatnya umur.
Pola perkembangan aktivitas enzim protease pada larva cahaya normal dan teduh mengikuti tren yang sama, meningkat sejak umur 2 hari hingga 17, hari kemudian menurun hingga umur 22 hari dan meningkat kembali hingga umur 32 hari 0,273 mmol/menit). Secara umum aktivitas enzim protease pada cahaya normal lebih tinggi pada umur 2 sampai 22 hari dan lebih rendah sampai pada hari ke 32
Aktivitas enzim pencernaan adalah suatu indicator yang baik untuk menentukan kapsitas pencernaan. Aktivitas enzim yang tinggi mengindikasikan bahwa larva siap untuk memproses pakan dari luar. Pencernaan protein membutuhkan pepsin misalnya pada perut ikan karnivora, tripsin dalam usus dan pankreas, kimotripsin dan erepsin dalam usus dan pankreas, kimotripsin dan erepsin dalam usus, di lambung dengan pengaruh enzim pepsin, protein dipecah menjadi protease dan polypeptide. Dalam pankreas terdapat enzim trypsin, chymotripsin dan carboxipeptidase yang bekerja pada protein dan polypeptide.
Aktivitas enzyme protease meningkat sejalan dengan makin sempurnanya organ pencernaan, sama dengan enzim lipase, aktivitas enzim sejalan dengan meningkatnya ukuran ikan. Penigkatan ini disebabkan oleh semakin sempurnanya organ penghasil enzim. Akan tetapi untuk beberapa jenis enzim akan menurun sesuai dengan kebiasaan makan ikan.
Cahaya ternyata memberikan pengaruh yang berbeda terhadap aktivitas enzim lipase pada larva ikan. Pada umur 12 hari aktvitas enzim amylase pada cahaya teduh mencapai 0.3 mmol/menit , sedang pada cahaya normal hanya pada 0.15 mmol/menit. Diduga pada umur 12 hari tersebut cadangan lemak yang terdapat pada kantong kuning telur dihidrolisis dengan bantuan ezim lipase untuk mengahasilkan energy bebas. Komponen utama kuning telur adalah likoglikoprotein yang sangat padat, disebut lipovitelin yang mengandung 35% lipid dan sisanya karbohidrat protein dan fosfor.
Aktivitas enzim lipase meningkat disebabkan oleh semakin sempurnanya organ penghasil enzim dan meningkatnya peran pakan alami yang merupakan sumber energy eksogen sejalan dengan menyusutnya kuning telur telah menyebabkan peningkatan konsumsi pakan. Pakan alami yng dikonsumsi akan memberikan kontribusi terhada eningkatan aktivitas ensim tersebut dalam saluran pencernaan. Turunnya aktivitas enzim lipase menunjukkan bahwa pada umur tersebut larva belum dapat menghidrolisis lemak dari pakan buatan dengan baik. Walau secara umum pola perkembangan enzim secara keselurahan sampai hari 32 cenderung mirip antara kondisi cahaya normal dan teduh. Aktivitas enzim lipase menurun pada saat larva berumur 32 hari. Penurunan aktivitas enzim protease diduga karena adanya perubahan dalam kebiasaan makanan yaitu dari karnivora menjadi omnivora.

Fosfor , Pakan, Hormon Pertumbuhan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan

Di perairan umum fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organic yang berupa partikulat. Fosfor berbentuk kompleks dengan ion besi dan kalsium pada kondisi aerob, besifat tidak larut, dan mengendap pada sediment sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik
Fosfor berperan dalam transfer energi di dalam sel, misalnya yang terdapat pada ATP (Adenosine Triphosphate) dan ADP (Adenosine Diphosphate). Ortofosfat yang merupakan produk ionisasi dari asam ortofosfat adalah bentuk fosfor yang paling sederhana di perairan Reaksi ionisasi asam ortofosfat di bawah ini .

H3PO 4  H+ + H2PO4¬
H3PO4-  H+ + HPO2-
HPO42-  H+ + PO43-

Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat terlebih dahulu, sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfor. Setelah masuk ke dalam tumbuhan, misalnya fitoplankton, fosfat anorganik mengalamia perubahan menjadi organofosfat. Fosfat yang berkaitan dengan ferri (Fe2(PO4)3) bersifat tidak larut dan mengendap di dasar perairan. Pada saat terjadi kondisi anaerob, ion besi valensi tiga (ferri) ini mengalamai reduksi menjadi ion besi valensi dua (ferro) yang bersifat larut dan melepaskan fosfat ke perairan, sehingga meningkatkan keberadaan fosfat di perairan.
Fosfor total menggambarkan jumlah total fosfor, baik berupa partikulat> maupun terlarut, anorganik maupun organic. Fosfor organic biasanya disebut soluble reactive phosphours, misalnya ortofosfat. Fosfor organic banyak terdapat pada perairan yang banyak mengandung bahan organic. Oleh karena itu, pada perairan yang memiliki kadar bahan organic tinggi sebaiknya ditentukan juga kadar fosfor total, di samping otofosfat.
Unsur fosfor berubah bentuk secara terus-menerus, akibat proses dekomposisi dan sintesis antara bentuk organic dan bentuk anorganik yang dilakukan oleh mikroba. Semua polifosfat mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat. Perubahan ini bergantung pada suhu. Pada suhu yang mendekati titik didih, perubahan polifosfat menjadi ortofosfat berlangsung cepat. Kecepatan ini meningkat dengan menurinnya nilai pH. Perubahan polifosfat menjadi ortofosfat pada air limbah yang mengadung bakteri berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada air bersih.
Keberadaan fosfor diperairan alami biasanya relative kecil, dengan kadar yang lebih sedikit dari pada kadar nitrogen; karena sumber fosfor lebih sedikit dibandingkan dengan sumber nitrogen diperairan. Sumber alami fosfor diperairan adalah pelapukan batuan mineral, misalnya fluorapatite [Ca5-(PO4)3F], hydroxylapatite [Ca5-(PO4)3OH], strengire [Fe(PO4)2H2O], whitlockite [Ca5-(PO4)2], dan berlinite (AIPO4). Selain itu, fosfor juga berasal dari dekomposisi bahan organic. Sumber antropogenik fosfor adalah limbah industri dan domestic, yakni fosfor yang berasal dari detergen. Limpasan dari daerah pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi keberadaan fosfor.
Kebutuhan Fosfor Ikan
Fosfor adalah nutrisi mineral penting karena dibutuhkan untuk pertumbuhan, mineralisasi tulang, reproduksi, sintesis asam nukleat , dan metabolisme energi. Tanda-tanda kekurangan fosfor seperti mengurangi pertumbuhan tulang dan kelainan bentuk dan kuantitatif persyaratan telah ditentukan untuk beberapa jenis ikan. Seperti fosfat rendah di sebagian besar lingkungan perairan , sumber utama fosfor terutama berasal dari daging atau premixes, tulang ikan dan tanaman. Bentuknya sangat beragam, namun umumnya anorganik (kalsium dan kalium garam) dan organik (fosfolipid) yang ditemukan pada ikan dan tersedia bagi ikan daripada phytates ditemukan di tumbuhan. Salah satu studi terkini tentang efek dari diet fosfor dan tingkat fosfolipid pada pertumbuhan dan tanda-tanda kekurangan fosfor diteliti pada juvenil flounder javanese.
Telah dikenal selama hampir 25 tahun bahwa pemberian fosfolipid dalam pakan dapat meningkatkan produksi budidaya air tawar dan laut berbagai spesies ikan. Efek menguntungkan utama adalah meningkatkan pertumbuhan larva dan juvenil, tetapi juga meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan penurunan malformasi pada fase larva, dan peningkatan kemampuan dalam mengahadapi stres. Penentuan kebutuhan gizi mutlak telah terhambat oleh penggunaan, dalam percobaan diet yang berbeda, dari berbagai persiapan fosfolipid yang dapat sangat bervariasi baik dalam jumlah dan komposisi fosfolipid.
Ikan diberi makan tanpa suplemen fosfor suplemen memiliki tulang yang sangat lembut dan malformasi vertebra juga makin banyak ditemukan pada ikan. Demikian juga konsentrasi abu, kalsium dan fosfor pada sisik , vertebra dan opercula ikan sangat signifikan lebih rendah pada diet makan ikan tanpa fosfor suplemen. Tanpa adanya suplementasi fosfor, pemberian kalsium itu tidak berpengaruh pada kalsium atau kandungan fosfor pada sisik dan tulang belakang. Namun, ketika diet yang dilengkapi dengan 6 g / kg fosfor, mineralisasi vertebra menurun dengan suplemen kalsiumtinggi (12 atau 18 g / kg) tapi tidak terjadi pada sisik. Berdasarkan temuan ini, yang optimal makanan suplemen kalsium dan 6 g / kg (total diet kalsium dan fosfor masing-masing 9,3 dan 10,3 g / kg.
Dampak faktor nutrisi pada pertumbuhan vertebrata dan metabolisme dimediasi oleh sistem endokrin, dimana hormon pertumbuhan (GH) dan IGF-I memainkan peranan penting. GH diprodusi dan disekresi dari pituitary, sedangkan IGF-I diproduksi terutama dari hati atas rangsangan oleh GH. GH dan IGF-I telah menunjukkan untuk merangsang pertumbuhan ikan, tetapi relatif kontribusi, dan sejauh mana GH dan IGF-I berinteraksi dan / atau bertindak secara independen untuk mengatur pertumbuhan dan proses metabolisme belum jelas. System GH-IGF-I sangat dipengaruhi oleh kondisi nutrisi ikan seperti pelaparan, atau peningkatan kebutuhan protein/ rasio energi yang secara umum dapat meningkatkan tingkat plasma GH dan menurunkan tingkat plasma IGF-I (Pierce et al., 2005). Penelitian terkini telah menunjukkan bahwa kebutuhan protein dapat berdampak pada tingkat plasma GH, tetapi tidak pada tingkat IGF-I pada pada rainbow trout dan gilthead sea bream.
Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan dan hormon tiroid sering bertindak sinergi sebagai pengatur utama kapasitas hypoosmoregulatory, perubahan morfologis (sisik keperakan dan kulit), perubahan metabolik dan prilaku membentuk formasi schooling. Pada umumnya fungsi hormon reproduksi di dalam tubuh ikan berkembang sesaat setelah ikan dewasa. Tingkat kedewasaan ikan sangat berlainan tergantung spesies dan lingkungan hidupnya.
Tingkat plasma hormon pertumbuhan (GH) secara signifikan lebih tinggi pada ikan yang diberi protein nabati daripada ikan yang diberi makanan hydrolysate tinggi. Tingkat plasma IGF-I tidak terpengaruh oleh diet. Perbandingan dari kelompok dengan dimasukkannya bahan nabati, dengan demikian tingkat pertumbuhan yang sama inhibitor, hal ini menunjukkan bahwa dalam menghilangkan senyawa-senyawa dengan berat molekul kecil dari ikan hydrolysate, pertumbuhan dan efisiensi pakan dikurangi secara signifikan. Beberapa senyawa pada ikan kecil hydrolysate tampaknya menjadi penting bagi kinerja biologis. Lebih jauh lagi, sebagai makanan ikan mengungkapkan performa terbaik.
Dampak dari faktor gizi pada pertumbuhan vertebrata dan metabolisme endokrin dimediasi oleh regulator, dimana hormon pertumbuhan (GH) dan insulin-seperti pertumbuhan Faktor I (IGF-I) memainkan peran utama. GH diproduksi dan disekresikan dari hipofisis, sedangkan IGF-I diproduksi terutama dari hati atas stimulasi oleh GH. Kedua GH dan IGF-I telah ditunjukkan untuk merangsang pertumbuhan ikan, tetapi mereka relatif kontribusi, dan sejauh mana GH dan IGF-I berinteraksi dan / atau bertindak secara independen untuk mengatur pertumbuhan dan proses metabolisme belum jelas.
Sistem GH-IGF-I sangat dipengaruhi oleh status gizi ikan, e.g. puasa atau penurunan protein / energi ransum yang umumnya ditandai dengan peningkatan kadar GH plasma dan penurunan IGF-I plasma level. Studi saat juga menunjukkan bahwa sumber protein diet dapat mempengaruhi tingkat GH plasma, tetapi tidak tingkat IGF-I, trout pelangi dan laut gilthead bream. Selain itu, diet seimbang asam amino mengubah komposisi plasma GH dan IGF-I tingkat gilthead seabream. Namun, pengaruh faktor diet tertentu di GH-IGF-I sistem trout pelangi belum diteliti dengan baik.
Peningkatan pencernaan atau peningngkatan transportasi lipid dari hati ke jaringan atau pengambilan lipid oleh jaringan di lemak ikan juga mungkin terlibat. Pada mamalia, obesitas terkait dengan gangguan sekresi hormon pertumbuhan dan perubahan leptin dan regulasi Insulin like Growth Factor (Livshits et al., 2005).
Tingkat plasma hormon pertumbuhan GH berkurang dengan peningkatan ukuran ransum. Selain itu, di bawah tingkat menyusui tetap, plasma GH tingkat lebih rendah di ikan makan diet lemak tinggi. Tren yang berlawanan ditemukan pada ikan makan untuk kenyang. Setelah 8 hari puasa, memberi makan ikan sebelumnya 17% lipid diet untuk kenyang juga dipamerkan hypersomatotropism yang lebih menonjol dan hipoglikemia, terkait dengan peningkatan lemak tubuh kehilangan.
Hormon pertumbuhan (GH) / (IGF-I) (GH-IGF-I) memainkan peranan dalam pertumbuhan mamalia. Pada mamalia, IGF-I adalah pengatur utama pertumbuhan dan konsentrasi yang ditemukan dalam plasma diatur oleh interaksi yang kompleks antara reseptor dan pengikatan protein. Bukti menunjukkan bahwa IGF-I memainkan peran serupa dalam pertumbuhan ikan. Tingkat IGF-I meningkat dengan peningkatan ukuran pakan. Hasil penelitian menyatakan bahwa pengukuran tingkat IGF-I dapat memberikan petunjuk untuk memantau pertumbuhan ikan serta menilai metode untuk menilai formulasi diet yang berbeda.
Hubungan fosfor dengan hormon pertumbuhan
Hormon memainkan peran sentral dalam regulasi pertumbuhan dan pemanfaatan nutrisi ikan. Akibatnya, sistem endokrin ikan sensitif terhadap perubahan asupan gizi. Prosedur secara rutin digunakan dalam pengembangan diet dan protokol untuk budidaya ikan memiliki efek nyata pada sistem endokrin. Perubahan pada tingkat dosis (termasuk pembatasan makanan dan kekurangan makanan), komposisi diet, photoperiod, dan pengaruh waktu makan yang paling intensif pada ikan untuk mempelajari metabolisme hormon: hormon tiroid, hormon pankreas, dan hormon-hormon pertumbuhan-hormon insulin seperti sumbu faktor pertumbuhan (Deane 2008). Sedangkan efek dari diet ini manipulasi pada kadar hormon yang bersirkulasi total biasanya diperiksa, asupan gizi juga dapat mempengaruhi transportasi hormon dalam darah, aktivasi dalam jaringan perifer, mengikat reseptor, dan jalur neuroendokrin mengatur sekresi hormon. Informasi mengenai mekanisme seluler dan molekuler melalui nutrisi yang mempengaruhi sistem endokrin masih diperlukan. Signifikan informasi baru tentang pengaturan fungsi endokrin dapat diturunkan dari studi gizi saat ini bekerja di perikanan budidaya untuk pengembangan pakan. Informasi tambahan tentang pengaruh gizi pada fungsi endokrin penting untuk desain dan penafsiran studi suplementasi hormon, dan seharusnya akhirnya memungkinkan pengembangan strategi pemberian makanan yang meningkatkan produksi hormon anabolik.

respon larva ikan terhadap intesitas cahaya

Cahaya merupakan faktor eksternal dan ekologi yang penting, termasuk spektrum warna, intensitas dan fotoperiodik. Karakteristik cahaya sangat spesifik dalam lingkungan perairan dan sangat bervariasi di alam. Ambang intensitas cahaya minimal yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan larva ikan.
Pada kondisi pencahayaan gelap, larva cenderung bergerak menyebar dalam mencari mangsa. Sehingga membutuhkan energi yang lebih tinggi. Aktivitas metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telurnya menjadi lebih cepat. Larva ikan pada hari pertama setelah menetas tidak ditemukan adanya pigmen pencahayaan pada matanya dan sedikit sekali diferensiasi penglihatan. Pada hari ketiga pigmen dengan retina yang bertingkat dan sel penglihatan telah berkembang. Selanjutnya pada hari kelima saraf optik dan cone (sel berbentuk kerucut pada retina) telah berkembang.
Intensitas dapat bervariasi, sebagai contoh antara 50 dan 150 lux untuk ikan Sparus auratus. Namun, beberapa spesies dapat tumbuh dan berkembang pada intensitas cahaya yang sangat rendah adalah seperti pada beberapa spesies larva ikan pelagis, sementara ikan kakap (Morone saxatilis). Pada saat larva umumnya hidup di daerah estuaria dengan air yang keruh. Juvenil ikan herring Clupea harengus, berenang cepat dan bertahan hidup ketika berpindah ke perairan yang gelap.
Ketika larva berubah menjadi juvenil maka rods (sel berbentuk batang pada retina) telah terbentuk. Cone dan rods merupakan fotoreseptor yang aktif bekerja dan peka terhadap gelap dan terangnya cahaya. Cone bekerja ketika kondisi terang, sedangkan rods bekerja pada kondisi gelap/samar. Dengan berkembangnya adaptasi terhadap gelap dan terang maka ikan muda (juvenil) mudah dalam menangkap mangsa. Aktivitas pemangsaan yang sukses akan menunjang pertumbuhan juvenil.
beberapa larva ikan masih belum berkembang organ penglihatannya secara sempurna sehingga sedikit sekali diferensiasi dalam membedakan cahaya terang dan gelap. Pada kondisi pro larva, cahaya dibutuhkan untuk stimulus pewarnaan (pigmentasi) pada organ penglihatan dan warna tubuh, suatu peristiwa yang penting di awal pertumbuhan dan perkembangan larva.
Secara umum, lama waktu penyinaran mempengaruhi kecepatan perkembangan larva. Ada atau tidaknya cahaya dapat memberikan pengaruh aktivitas yang berbeda terhadap larva ikan. Pergerakan aktivitas larva akan mempengaruhi laju penyerapan kuning telur saat larva berkembang dari pro larva menuju post larva. Efisiensi penyerapan kuning telur yang tinggi dapat terjadi akibat dari aktivitas larva yang rendah, sehingga kuning telur lebih banyak terserap untuk pertumbuhan.
Tingkat intensitas cahaya dibutuhkan untuk mengoptimasi pertumbuhan larva. Intensitas cahaya 600 – 1300 lx dapat meningkatkan pertumbuhan pada ikan seabream, sementara larva ikan kakap berkembang secara optimal pada 600 lx. Pada spesies lain, level optimum lebih rendah seperti pada atlantic halibut, pertumbuhan terbaik pada 1-10 lx. Disamping itu juga terdapat beberapa ikan yang sensitif terhadap intensitas cahaya yang tinggi. Hal ini terlihat pada ikan Southern flounder ( paralichtis lethogstigma ) yang dicobakan pada kisaran 340 – 1600lx dan tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan metamorphosis, pada spesies yang sama juga ditemukan perbedaan pigementasi pada post metamorphosis larva.
Peristiwa pergerakan berkumpulnya larva ikan di bawah cahaya dapat dibedakan sebagai peristiwa langsung yakni ikan–ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul dan peristiwa tak langsung yakni karena ada cahaya maka plankton dan ikan–ikan kecil berkumpul kemudian ikan–ikan kecil berkumpul kemudian ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan feeding (mencari makan). Larva gurame lebih mudah mendapatkan pakannya saat ada cahaya yang dibuktikan dengan jumlah pakan paling banyak ditemukan dalam lambung larva gurame pada saat siang hari atau ada cahaya. Artemia bersifat fototaksis positif dan cenderung bergerombol mendekati sumber cahaya. Hal tersebut akan memudahkan larva ikan dalam menangkap artemia sebagai mangsanya.
Variasi pertumbuhan juga dapat dijelaskan melalui aktivitas larva memburu mangsa, dan sangat tergantung pada perkembangan penglihatan larva. Intensitas cahaya yang rendah dibutuhkan untuk mengembangkan aktivitas berburu secara normal. Larva sea bream lebih menyukai cahaya yang redup dengan tingkat kelangsungan hidup dan efisiensi pakan yang tinggi dibanding pada cahaya yang terang. Berdasarkan nilai rata-rata tingkat kelangsungan hidup yang dicapai maka suhu 28 oC merupakan suhu yang terbaik bagi kehidupan larva.

larva ikan

Tahap larva diikuti oleh tahap transformasi. Tahap ini dicirikan oleh perubahan dalam bentuk umum dan struktural detail yang dapat secara bertahap untuk tiba-tiba. Pada sebagian besar spesies ikan, bentuk larva dan bentuk sangat berbeda pada saat juvenil.
Pada periode larva, ikan mengalami dua fase perkembangan, yaitu prolarva dan pasca larva. Ciri-ciri prolarva adalah masih adanya kuning telur, tubuh transfaran dengan beberapa pigmen yang belum diketahui fungsinya, serta adanya sirip dada dan sirip ekor walaupun bentuknya belum sempurna. Mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung halus, pada saat tersebut makanan didapatkan dari kuning telur yang belum habis terserap. Biasanya larva ikan yang baru menetas berada dalam keadaan terbalik karena kuning telurnya masih mengandung minyak. Gerakan larva hanya terjadi sewaktu-waktu dengan menggerakan ekornya ke kiri dan ke kanan.
Larva yang baru ditetasi memiliki panjang total 1,21 hingga 1,65 mm dengan rata-rata 1,49 mm. Rata-rata panjang kantong kuning telur 0,86 mm. Pigmentasi awal tidak seragam, mata, saluran pencernaan, kloaka dan sirip kaudal transparant. Tiga hari setelah menetas, sebagian besar kuning telur diserap dan butir minyak berkurang hingga ukuran yang tidak signifikan. Pada tahap ini, mulut terbuka dan rahang mulai bergerak saat larva mulai makan. Terdapat kurang lebih 2 tahap pigmentasi pada larva ikan baramundi. Pada umur 10-12 sesudah penetasan, pigmentasi larva tampak abu-abu gelap atau hitam. Tahap kedua terjadi antara umur 25-30 hari dimana larva berkembang menjadi anakan. Pada tahap ini, pigmentasi berubah menjadi warna perak. Diamati bahwa hanya anakan yang sehat pada tahap ini berenag secara aktif. Mereka selalu berwarna terang. Larva yang tidak sehat berwarna gelap atau berwarna tubuh hitam.
Larva yang baru menetas bersifat pasif karena mulut dan matanya belum membuka sehingga pergerakannya tergantung arus air.Larva yang baru ditetaskan biasanya disebut larva berumur 0 hari (D-0) dengan membawa cadangan kuning telur dan gelembung minyak. Ukuran cadangan kuning telur dan gelembung minyak serta letak gelembung minyak pada kuning telur tergantung pada jenis ikan. Pada ikan kakap dan beronang, letak gelembung minyak cenderung berada pada ujung mendekati bagian kepala atau bagian depan, sedangkan pada larva ikan kerapu cenderung berada lebih jauh dari bagian kepala atau lebih dekat ke arah bagian belakang.

Selama pertumbuhan larva mengalami beberapa perubahan yang cukup mendasar, yaitu pada saat larva umur 1 – 3 hari (D1 – D3) kuning telur dan butir minyak akan berkurang yang akhirnya terserap habis dalam tubuhnya yang kemudian terbentuk mulut dan saluran anus. Dari hasil ini dapat diasumsikan bahwa kemampuan daya cerna pada larva cukup terbatas dalam masa awal larva mengingat pada kelompok ikan karnivora ini, larva ikan kerapu pasir memiliki usus yang baru terbentuk dan pendek sehingga usus berfungsi sebagai pencerna makanan dalam jumlah yang relatif kecil dan waktu yang relatif tidak lama.
Untuk itu supaya usus terus dalam kondisi terisi disarankan frekuensi pemberian pakan buatan maupun alami sesering mungkin. Namun demikian kapasitas lambung juga turut menentukan banyak sedikitnya jumlah pakan yang dikonsumsi.Tampak bahwa pakan buatan sangat mendukung dalam kelangsungan hidup dan pertumbuhannya dimana penggunaan pakan buatan sebagai substitusi sebagian atau keseluruhan untuk menambah, mengganti, atau melengkapi nutrisi pakan alami pada saat dibutuhkan oleh larva.pakan buatan harus diberikan tepat waktu agar pakan dapat dicerna dan diserap oleh larva secara efisien sesuai dengan perkembangannya. pemberian pakan buatan yang terlambat (lebih dari D25) bisa berakibat tingkat kematian tinggi yang disebabkan kurangnya kandungan nutrisi pada pakan alami untuk memenuhi kebutuhan hidup larva.
Masa post larva ikan ialah masa dari hilangnya kantung kuning telur sampai terbentuk organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ-organ yang ada. Pada akhir fase tersebut, secara morfologis larva telah memiliki bentuk tubuh hampir seperti induknya. Pada tahap pascalarva ini sirip dorsal (punggung) sudah mulai dapat dibedakan, sudah ada garis bentuk sirip ekor dan anak ikan sudah lebih aktif berenang. Kadang-kadang anak ini memperlihatkan sifat bergerombol walaupun tidak selamanya. Setelah masa pascalarva ini berakhir, ikan akan memasuki masa juvenil.

embrio ikan

Awal perkembangan dimulai saat pembuahan (fertilisasi) sebuah sel telur oleh sel sperma yang membentuk zygot (zygot). Gametogenesis merupakan fase akhir perkembangan individu dan persiapan untuk generasi berikutnya. Proses perkembangan yang berlangsung dari gametogenesis sampai dengan membentuk zygot disebut progenesis. Proses selanjutnya disebut embriogenesis (blastogene) yang mencakup pembelahan sel zygot (cleavage), blastulasi, gastrulasi, dan neurulasi. Proses selanjutnya adalah organogenesis , yaitu pembentukan alat-alat (organ) tubuh. Embriologi mencakup proses perkembangan setelah fertilisasi sampai dengan organogenesis sebelum menetas atau lahir.
Cleavage yaitu tahapan proses pembelahan sel. Proses ini berjalan teratur dan berakhir hingga mencapai balastulasi. Bisa juga dikatakan proses pembelahan sel yang terus menerus hingga terbentuk bulatan, seperti bola yang di dalamnya berisi rongga. Gastrulasi merupakan proses kelanjutan blastulasi. Hasil proses ini adalah terbentuknya tiga lapisan, yaitu ektoderrm, modeterm dan entoderm. Organogenesis adalah tahapan dimana terjadi pembentukan organ-organ tubuh dari tiga lapisan diatas, yaitu ektoderm, metoderm dan entoderm. Setiap lapisan membentuk organ yang berbeda. Ektoterm membentuk lapisan epidermis pada gigi, mata dan saraf pendengaran. Mesoderm membentuk sistem respirasi, pericranial, peritonial, hati dan tulang. Sedangkan entoterm membentuk sel kelamin dan kelenjar endokrin.

Kebanyakan telur ikan-ikan pelagis laut dibuahi secara eksternal dan melayang di dekat permukaan laut. Telur ini berkisar 0,5-5,5 mm dalam diameter. Periode embrionik dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu periode awal yang merupakan fertilisasi untuk penutupan bastopore. Periode tengah yaitu waktu penutupan blastopori dan ekor lateral mulai menjauh dari sumbu embrionik dan periode akhir dimana waktu ekor melengkung dari sumbu embrionik. Pada setiap spesies terdapat sedikit variasi telur karakter telur seperti ukuran, jumlah dan ukuran gelembung-gelembung minyak, permukaan korion, kuning telur, pigmentasi, dan morfologi dari perkembangan embrio yang meliputi anatomi dan morphometric tahap awal telur ikan.
Bentuk kantung kuning telur sangat bervariasi dari bulat dan memanjang misalnya Clupeoids. Keseluruhan pigmentasi juga sangat penting sejauh menyangkut identifikasi.Melanophores adalah pigmen utama yang digunakan untuk identifikasi kantung kuning telur-larva. Pigmen lain mungkin ada tetapi kebanyakan akan hilang dalam diawetkan (formalin atau alkohol) spesimen. Pada akhir tahap kantung kuning telur mulut dan usus dibentuk dan anus terbuka pada atau dekat dengan margin purba sirip. Mata menjadi berpigmen dan organ utama dan sistem pengindraan, penting untuk menangkap memangsa, menjadi fungsional.

keterangan gambar : Tahap-tahap perkembangan dan pembelahan yellowtail kingfish (Seriola lalandi): (a) pra-rengkah; (b) 2 sel; (c) 4 sel; (d) 8 sel; (e) 16 sel; (f) 32 sel; (g) pertengahan-tahap blastula; (h) gastrula; (i) penampilan embrio; (j) 20 myomere embrio; (k) embrio maju; (l) menetas pra-embrio; (m) larva 4 jam posthatch; (n) pembelahan asimetris di blastula; (o) tidak jelas margin sel dalam blastula.

Ukuran dan panjang pada saat menetas bervariasi antar spesies ikan, yang umumnya terkait dengan diameter telur atau kuning telur. Ukuran kuning telur, dalam larva baru menetas, juga berkaitan dengan ukuran dan telur dengan jumlah kuning telur yang digunakan sebelum menetas.

sistem hormon pada larva ikan

Kunci keberhasilan budaya ikan laut adalah produksi massal benih berkualitas tinggi, sebagian besar proses tergantung pada pemberian pakan buatan pertama yang sukses dan perkembangan yang normal serta pertumbuhan larva ikan. Dalam hal ini penting untuk mengetahui perkembangan struktural dan fungsi sistem endokrin sejak awal ontogeni ikan. Kelenjar hipofisis dibedakan berdasarkan umur, dinilai oleh deteksi imunohistokimia GH dan PRL, bervariasi antar spesies, tetapi umumnya bertepatan dengan pigmentasi mata. Thyroid follicles dan pulau pankreas pertama kali muncul pada saat yang sama, sementara sel interrenal muncul kemudian.
Konsentrasi jaringan hormon tiroid menurun selama perkembangan embrio dan tidak terdeteksi sampai selesainya penyerapan kuning telur. Selama awal hidup kadar hormon tiroid meningkat secara bertahap dan signifikan selama transformasi ke tahap juvenil. Jaringan konsentrasi kortisol hampir menunjukkan pola perkembangan yang sama, namun naik sebelum kadar hormon tiroid. GH dan PRL menunjukkan pola perkembangan yang berbeda. GH terus meningkat selama pertumbuhan larva sementara PRL terlihat hampir sama dengan pola kortisol. Berdasarkan temuan ini disimpulkan bahwa sistem endokrin menjadi fungsional sebelum penyelesaian penyerapan kuning telur pada ikan di laut.
Pengaturan hormonal awal perkembangan larva ikan
Hormon dianggap sangat penting pada perkembangan dan pertumbuhan larva ikan. Hormon tiroid, kortisol, GH, IGF I dan II, dan PRL penting untuk proses ini. Namun demikian, penting untuk menekankan bahwa fokus mengenai peran hormon tersebut sama sekali tidak menghalangi keterlibatan jaringan endokrin dan faktor hormonal lain selama awal perkembangan.
Hormon tiroid
Pentingnya hormon tiroid (TSH), tiroksin (T4) dan triodothyronine (T3) pada perkembangan vertebrata sudah diketahui dengan. Aktivitas kelenjar thyroid terutama diatur oleh TSH disekresi dari thyrotrophs dari hipofisis. Dengan demikian, TSH memainkan peran penting dalam perkembangan sistem endokrin larva ikan dan dapat bertindak sebagai indikator awal dan tingkat aktivitas folikel tiroid. Pada ikan, TSH berperan penting dalam proses transisi dari larva ke tahap juvenil.
Hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan (GH) adalah hormon pituitari yang mengatur perkembangan dan pertumbuhan somatis hewan bertulang belakang. Hormon pertumbuhan merupakan polipeptida rantai tunggal dengan dua intramolekular ikatan disulfide. Mediator utama dari fungsi GH adalah IGF-I yang secara struktur diatur untuk insulin dan sama-sama mengisi tiga ikatan intramolekular disulfide.
Pada ikan, hormon-hormon somatotropik (hormon pertumbuhan (GH) dan insulin-seperti pertumbuhan faktor-I dan II (IGF-I dan IGF-II), bersama dengan reseptor dan plasma mengikat protein, berkaitan erat dengan proliferasi sel dan diferensiasi, pertumbuhan, beberapa aspek perilaku, fungsi sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan dan fungsi saluran usus, regulasi ionik dan osmotik, reproduksi dan smoltification. Reseptor IGF-I (IGFR-I) AAA pada ikan zebra telah diamati dan memainkan peran penting dalam perkembangan dan pertumbuhan embrio.
Prolaktin dan somatolactin
Prolaktin adalah hormon serbaguna dengan fungsi menakjubkan . Fungsi utamanya adalah osmoregulasi pada ikan air tawar dan ikan yang bersifat euryhalin. Fungsi lain prolaktin adalah mengontrol pertumbuhan, perkembangan, stimulasi metabolisme kelenjar endokrin, tingkah laku, reproduksi dan fungsi kekebalan tubuh.
Somatolaktin (SL) adalah hormon pituitari yang terdapat pada ikan dan merupakan bagian dari hormon pertumbuhan atau prolaktin (GH/PRL). Hormon ini secara predominan terekspresi dalam sel pada Pars Intermedia (PI) dari kelenjar pituitari. Sel ini (somatolaktotrof) juga digolongkan sebagai Periodic Acid –Schiff (PAS)-sel positif kecuali untuk salmonid. Pada beberapa spesies ikan, sel ini ditemukan dibagian lain dari adenohipofisis, Proksimal Pars Diastalis (PPD) dan pada Rostal Pars Diastalis (RPD). Pada ikan Rainbow Trout (Oncorhyncus mykiss), hormon ini juga terdapat pada jaringan ekstra pituitari seperti pada jaringan otak, insang, jantung, ginjal, hati dan otot rangka, spleen, ovari, testis dan oosit muda dan diberbagai area dari otak ikan nila, Oreochromis mossambicus.
Somatolaktin terlibat dalam berbagai proses fisiologis seperti pada pengaturan beberapa aspek reproduksi dan respon terhadap stress. Beberapa hasil penelitian melaporkan keterlibatan SL dalam pengaturan asam basa dan kalsium, metabolisme fosfat dan lemak dan adaptasi background pada spesies bukan salmonid. Mungkin SL tetap sama seperti pada gen leluhur dari famili GH/PRL/SL yang bisa menjadi regulator metabolik penting dalam menentukan flux metabolit intraseluler.
Somatolaktin terlibat dalam pengaturan adipositas dan fungsi gonad salmonids dan ikan sparid , memiliki aksi hypercalcemic di ikan trout, proliferasi dan morfogenesis sel pigmen chromatophore di medaka serta perkembangan gas kandung kemih di ikan zebra.
Kortisol
Kortisol merupakan produk utama dari kelenjar interrenal di teleosts, dan memiliki kedua gluco-dan mineral corticoid tindakan. Perubahan secara temporal tingkat kortisol pada awal kehidupan teleosts sama di beberapa spesies. Deposisi awal kortisol induk dalam kuning telur digunakan selama embriogenesis dan mencapai level konsentrasi terendah pada waktu penetasan, lalu larva mulai mensintesis kortisol de novo. Kortisol memiliki efek langsung terhadap perkembangan, metabolisme, sistem kekebalan dan stres . Kortisol juga dapat berinteraksi dengan hormon lain selama perkembangan (Misalnya ths, PRL dan GH). Lebih khusus, kortisol meningkat seiring dengan metamorfosis dan berperan selama transformasi larva THS. Penggunaan THS dengan kortisol berpengaruh pada kecepatan metamorphosis larva ikan dibandingkan dengan penggunaan THS saja. Perkembangan sistem corticoid selama tahap-tahap awal lara ikan, belum dipahami dengan baik. Secara khusus, sedikit yang diketahui tentang pengaruh induk terhadap kortisol yang diendapkan pada perkembangan embrio, waktu pengaktifan kortisol dan reseptor sintesis, atau mekanisme molekul yang terlibat.

Ikan yang berenang secara terbalik




Ikan yang berenang terbalik ini namanya Synodontis . Ikan Synodontis merupakan jenis ikan hias air tawar yang berasal dari daerah sungai Nil di benua Afrika. Ikan ini termasuk dalam golongan catfish dari famili Mochokidae. Nama synodontis berasal dari bahasa Yunani, yaitu Syn berarti bersama dan odon berarti gigi karena ikan Synodontis senang berkelompok bersama sejenisnya dan memiliki gigi-gigi mandibular.



Ikan Synodontis memiliki keindahan pada sirip dorsalnya yang tegak dan menjulur panjang sehingga sering dijuluki featherfin catfish. Ikan Synodontis juga memiliki keunikan yaitu dapat berenang dengan posisi terbalik. Terkait dengan keunikannya tersebut ikan ini memiliki daya tarik dan digemari para penggemar ikan hias. Ikan ini memakan beberapa pakan seperti cacing, larva nyamuk, pellet, dll

Kepiting dan Rajungan

Perbedaan antara kepiting dan rajungan keduanya adalah jenis hewan yang mirip Perbedaannya hanya terletak pada kaki yang paling belakang; pada rajungan kaki yang terakhir itu merupakan sejenis anggota tubuh yang pipih tetapi lonjong (tidak runcing seperti kaki lainnya) yang umumnya digunakan untuk berenang,Rajungan juga lebih umum ditemukan di laut,Kalau kepiting bisa diternak, kalau rajungan itu hidup liar di laut. Cangkangnya bentol-bentol seperti macan tutul. Dagingnya juga jauh lebih manis dan lebih empuk serta gurih dari kepiting,Kepiting dan Rajungan banyak diminati dikarenakan daging Kepiting dan Rajungan tidak saja lezat tetapi juga menyehatkan.

                                                                                                RAJUNGAN  

Daging kepiting dan Rajungan mengandung nutrisi penting bagi kehidupan dan kesehatan. Meskipun mengandung kholesterol, makanan ini rendah kandungan lemak jenuh, merupakan sumber Niacin, Folate, dan Potassium yang baik, dan merupakan sumber protein, Vitamin B12, Phosphorous, Zinc, Copper, dan Selenium yang sangat baik


                                                                                                      Kepiting

Kepiting adalah binatang anggota krustasea berkaki sepuluh dari upabangsa (infraordo) Brachyura, yang dikenal mempunyai “ekor” yang sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Ketam adalah nama lain bagi kepiting.Kepiting terdapat di semua samudra dunia. Ada pula kepiting air tawar dan darat, khususnya di wilayah-wilayah tropis. Rajungan adalah kepiting yang hidup di perairan laut dan jarang naik ke pantai, sedangkan yuyu dan empet penghuni perairan tawar (sungai dan danau)…di kampung saya suka juga nyari empet..hehehe

                                                                                                     Kepiting                                                                 

Kepiting beraneka ragam ukurannya, dari ketam kacang, yang lebarnya hanya beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m
Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang [2]. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (“phyllobranchiate”), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda

                                                              

 Ada dua jenis kepiting yang memiliki nilai komersil, yakni kepiting bakau dan rajungan. Di dunia, kepiting bakau sendiri terdiri atas 4 spesies dan keempatnya ditemukan di Indonesia, yakni: kepiting bakau merah (Scylla olivacea) atau di dunia internasional dikenal dengan nama “red/orange mud crab”, kepiting bakau hijau (S.serrata) yang dikenal sebagai “giant mud crab” karena ukurannya yang dapat mencapai 2-3 kg per ekor, S. tranquebarica (Kepiting bakau ungu) juga dapat mencapai ukuran besar dan S. paramamosain (kepiting bakau putih). Di Indonesia, spesies rajungan yang terkenal dan memiliki nilai ekspor adalah Portunus pelagicus, juga dikenal sebagai Swimming Crab
                                          
                                                                                                RAJUNGAN

                                                                             

Tips Memilih kepiting atau rajungan segar:
– Pilih kepiting atau rajungan yang masih lengkap jari-jarinya, terutama yang capitnya belum putus.
– Perhatikan matanya, jika bergerak masuk-keluar, tandanya ia masih hidup. Jari-jari yang bergerak pun bisa dijadikan patokan apakah binatang itu masih hidup atau sudah mati.
– Karena lazimnya dijual dalam keadaan terikat, angkatlah badannya. Bila terasa ringan, artinya dagingnya kurang padat. Kepiting yang berat adalah yang gemuk.
– Jangan sekali-sekali memilih kepiting yang kecil-kecil, karena sulit untuk mengeluarkan dagingnya