Aspek Sosial Budaya dan Penerapan Teknologi

Berbagai program/kegiatan penerapan teknologi telah banyak dilakukan oleh berbagai instansi pemerintah baik pusat maupun di daerah. Namun program/kegiatan tersebut banyak mengalami kegagalan karena tidak dapat berlanjut (unsustainaibility). Berbagai kendala banyak ditemui terutama benturan dengan aspek sosial dan budaya masyarakat. Kendala-kendala tersebut dapat terjadi pada saat inisiasi, proses implementasi atau pada akhir implementasi program/kegiatan penerapan teknologi. Untuk itulah perlu dilakukan suatu penelitian sosial budaya untuk mendapatkan informasi tentang kondisi suatu masyarakat. Penelitian sosial budaya ini sebaiknya melibatkan pakar sosiologi, antropologi dan psikologi dan dilakukan sebelum program/kegiatan penerapan teknologi dilaksanakan.

Maka dalam rangka meningkatkan keberhasilan program/kegiatan penerapan suatu teknologi di masyarakat, yang sangat ditentukan oleh faktor sosial budaya, pada hari Senin, 18 Oktober 2010 telah dilaksanakan diskusi tentang “Social Engineering”. Dalam diskusi ini Dudi Hidayat (Kepala Pusat Penelitian dan Perkembangan Iptek – LIPI) menjelaskan beberapa aspek terkait keberhasilan program/kegiatan penerapan teknologi di masyarakat.
Menurut Dudi, Technology Need Assessment (TNA) merupakan kata kunci dari keberhasilan program. Untuk melakukan TNA sebaiknya melibatkan masyarakat (Participatory Rural Appraisal/PRA). PRA perlu dilaksanakan untuk melihat secara nyata/fakta kebutuhan dan tingkat keterterimaan masyarakat terhadap suatu program/kegiatan. Bentuk-bentuk PRA dapat dilaksanakan seperti melakukan diskusi dengan beberapa tokoh masyarakat setempat, wawancara informal (interview empati) dan mempelajari kearifan sosial budaya masyarakat lokal. Dari sisi penyedia program, perlu diperhatikan juga kompetensi teknis pelaksana program dan “proven technology” yang dilengkapi dengan rencana bisnis (business plan) yang baik. Dari sisi pengguna/IKM perlu dipertimbangkan “rasa kepemilikan” terhadap hasil program. Hal ini bisa dilihat dari partisipasi masyarakat/IKM dalam bentuk dana, SDM, peralatan, tempat terhadap program/kegiatan.
Dalam Sistem Inovasi Daerah (SIDa), aspek sosial budaya merupakan salah satu faktor penting untuk mendorong kolaborasi dan interaksi antar aktor-aktor inovasi. Sehubungan dengan beberapa program pengembangan SIDa yang sedang berlangsung saat ini, Kementerian Riset dan Teknologi dapat menyusun pedoman program/kegiatan pengembangan SIDa dengan kriteria dan indikator tertentu. (ASN/AD-IKM/ humasristek)
» Kontak : Dudi Hidayat
Sumber: http://www.lipi.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *