CUKA KULIT PISANG

DeskripsiSalah satu bentuh olahan limbah buah pisang yaitu pembuatan cuka dari kulit pisang.

Bahan
Kulit Pisang Gula Amonium sulfit Ragi Induk Cuka

Alat
Alat perebusan Penyaring Botol

Cara Pembuatan


Kulit pisang dibersihkan dan dipotong-potong.
Tambahkan air dan lakukan perebusan lalu saring.
Air rebusan kulit pisang ini ditambah gula dan amonium sulfit.
Setelah didinginkan tambah ragi dan lakukan fermentasi.
Lakukan penyaringan kedua sehingga dihasilkan larutan beralkohol.
Larutan ini ditambah induk cuka dan didihkan sebentar dan selanjutnya dikemas dalam botol steril.
Cuka kulit pisang telah jadi.



COOKIES AMPAS TAHU

DeskripsiTepung ampas tahu memiliki potensi yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai bahan baku cookies karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi tetapi murah.


Bahan
Bahan yang digunakan adalah – 
1. Tepung ampas tahu 50 gram 
2. Tepung terigu 150 gram 
3. Kuning telur 1 butir 
4. Gula halus 50 gram 
5. Susu bubuk skim 2 sendok makan 
6. Mentega putih/roomboter/margarin 60 gram 
7. Coklat bubuk 2 sendok makan 
8. Air secukupnya

Alat
Tempat adonan Mixer pengaduk Cetakan kue Oven

Cara Pembuatan


Masukkan tepung gula, mentega dan telur dalam tempat adonan lalu kocok hingga merata dengan mixer.
Masukkan tepung terigu, tepung ampas tahu, susu skim, coklat bubuk dan aduk hingga merata.
Masukkan adonan dalam cetakan dan dipanggang dalam oven dengan suhu 140°C selama ± 20 menit
Cookies ampas tahu siap disajikan.

CHUTNEY MANGGA

DeskripsiSalah satu bentuk olahan untuk memanfaatkan mangga adalah dibuat chutnet mangga

Bahan
Bawang merah Bawang putih Cabe hijau Cabe merah Cuka makan 4% Garam dapur Gula merah Kismis Mangga yang masih muda Rempah (cengkeh, kayu manis, jahe dll)

Alat
Botol jar dan tutupnya Kompor Panci Pisau stainlers

Cara Pembuatan

– Cabe, bawang, jahe, dan bumbu-bumbu lainnya dipotong-potong dan diiris 
– Mangga dikupas dan dipotong-potong kecil 
– Cuka, gula merah dan garam dicampurkan, kemudian didihkan sampai kental 
– Potongan-potongan mangga dicampurkan dengan bumbu-bumbuan kemudian didihkan sampai warnanya transparan – Ditambahkan bumbu-bumbuan dan dimasak lagi kira-kira 10 menit. Beberapa menit sebelum selesai pemasakkan, dimasukkan kismis 
– Dikemas dalam botol jar, botol ditutup panas-panas, kemudian rebus dalam air mendidih selama kurang lebih 25 menit 
– Chutney mangga sudah siap dikonsumsi atau dijual 
– Mangga dikupas dan dipotong-potong kecil 
– Cuka, gula merah, dan garam dicampurkan, kemudian didihkan sampai kental 
– Potongan-potongan mangga dicampurkan dengan bumbu-bumbuan kemudian didihkan sampai warnanya transparan 
– Ditambahkan bumbu-bumbuan dan dimasak lagi kira-kira 10 menit. Beberapa menit sebelum selesai pemasakkan, dimasukkan kismis – Dikemas dalam botol jar, botol ditutup panas-panas, kemudian rebus dalam air mendidih selama kebih kurang 25 menit 
– Chutney mangga sudah siap dikonsumsi atau dijual


Sumber
BALAI BESAR INDUSTRI AGRO JL. IR. H. JUANDA NO. 11, BOGOR 16122Telpon 324068, 323339


CAMPURAN DAUN MIMBA DAN UMBI GADUNG SEBAGAI PESTISIDA NABATI

DeskripsiPestisida nabati daun mimba dan umbi gadung efektif untuk mengendalikan ulat dan llama pengisap.

Bahan
Daun mimba Umbi gadung Detergen Air

Alat
Timbangan Alat penumbuk Tempat pencampuran Pengaduk Saringan.

Cara Pembuatan


Cara pembuatan pestisida nabati daun mimba dan umbi gadung adalah sebagai berikut.
1.Tumbuk halus 1 kg daun mimba dan 2 buah umbi gadung racun, tambah dengan 20 liter air + 10 g detergen, aduk sampai rata
2.Diamkan rendaman tersebut selama semalam.
3.Saring larutan hasil rendaman dengan kain halus.
4.Semprotkan larutan hasil penyaringan ke pertanaman.


Sumber
Pestisida nabati, Kanisius, 2005

BUDI DAYA JAMUR MERANG PADA LIMBAH PADA INDSTRI PULP DAN KERTAS

DeskripsiJamur merang bernilai gizi tinggi dan bernilai ekonomi

Bahan
limbah padat ind pulp dan kertas bekatul, urea, TSP biakan murni

Alat
Alat pasteurisasi dan kompor pemanas Bedeng jamur Bedeng kompos

Cara Pembuatan


Tahap pekerjaan 


– Pembuatan kompos limbah padat ind pulp dan kertas, pengomposan adalah penguraian zat organik komplek menjadi zat organik. Pada proses pengomposan dilakukan penambahan bahan nutrisi (bekatul, urea, TSP) dan pengaturan PH. Tahap ini merupakan tahap penyusunan tumpukan limbah padat, penambahan nutrisi, pembongkosaran dan pembalikan tumpukan. Pembongkaran dan pembalikan tumpukan dilakukan beberapa kali sampai kualitas kompos memenuhi syarat pertumbuhan jamur, lebih kurang 9 hari waktu pengomposan 


– Pasteurisasi ialah pemanasan kompos dan ruangan rumah jamur dengan uap panas sampai temperatur 70 derajat C selama waktu 5-7jam. Suhu kompos dipertahankan 70 derajat C selama 2-3 jam. 


– Pembuatan bibit, meliputi pembuatan biakan murni, pembuatan bahan stater I, pembuatan bahan stater II, pembuatan bahan spawning Pembuatan biakan murni dilakukan pada media agar nutrisi yang mengandung bekatul dan gula didalam tabung reaksi. Dari satu tabung biakan murni tsb dapat dibiakkan dalam beberapa media bahan stater I (kira2 10 botol), dari stater I dapat dibiakan dalam beberapa media bahan stater II (kira2 50 botol), maka bibit siap dikembangkan kebahan spawning pada media limbah padat yang telah dipasteurisasi dan tambah bekatul. 


-Penanaman jamur, pada kompos yang telah dipasteurisasi dalam bedeng jamur (shed) dan suhu telah turun sampai 35-40 derajat C dilakukan penaburan bibit jamur (spawning). Penaburan bibit dilakukan dengan memasukkan bibit ke dalam lapisan kompos dan sisanya disebar diatas permukaan kompos, dengan tinggi lk 25-30 cm. 


– Pemeliharaan, berupa : mengatur suhu dan kelembaban udara dalam shed. Suhu dipertahankan pada 35-40 derajat C dan kelembaban pada 80-90%. Ventilasi udara diatur sebaik-baiknya agar kelembaban kompos dapat terjada. Membuang jamur-jamur liar teruma jenis coprinus. Tutup plastik bedeng harus serapat mungkin, jangan sampai terjadi kebocoran. Lama pertumbuhan jamur antara 14-16 hari. 


– Panen, dilakukan sebelum tubuh buahnya mekar. Lama pemetikan jamur dalam masa panen berkisar 14-16 hari.


Sumber
BALAI BESAR PULP DAN KERTAS JL. RAYA DAYEUHKOLOT NO. 132, BANDUNGTelpon 62-22-5202980, Fax 62-22-5202871

ASAP CAIR DARI TEMBAKAU RENDAH TAR DAN NIKOTIN

DeskripsiAsap cair dari proses pirolisis daun tembakau diperoleh diharapkan dapat berfungsi sebagai esen yang dapat diaplikasikan pada produk yang menyerupai rokok.

Bahan
Daun tembakau rajangan (N. Tabacum)

Alat
Peralatan pirolisis

Cara Pembuatan

produksi esen asap cair daun tembakau dengan proses pirolisis untuk menghasilkan rendemen dan sifat asap cair yang medium dalam arti warnanya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua,  Proses pirolisis dilakukan pada suhu 400 C selama 2,5 jam dengan jumlah daun tembakau sebanyak 1,5 Kg.


Sumber
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) di Jakarta 17-18 Desember 2004

ASAP CAIR DARI CANGKANG SAWIT

DeskripsiKelapa sawit adalah salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya demikian pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Dengan kondisi yang semacam itu sebenarnya banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan cangkang sawit tersebut.Salah satunya apabila dilakukan pirolisis terhadap cangkang sawit tersebut akan diperoleh rendemen berupa asap cair yang dapat diguakan sebagai biopreservatif baru pengganti presetvatif kimia, arang maupun tar . Asap cair merupakan hasil kondensasi dari pirolisis kayu yang mengandung sejumlah besar senyawa yang terbentuk akibat proses pirolisis konstituen kayu seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin. Proses pirolisa melibatkan berbagai proses reaksi yaitu dekomposisi, oksidasi, polimerisasi, dan kondensasi

Bahan
Cangkang Sawit

Alat
Alat utama untuk pembuatan asap cair adalah alat pirolisator yang terdiri dari tabung reaktor, pemanas listrik (heater), pipa penyalur asap, kolom pendingin (kondensor), erlenmeyer, botol ukur dan pipa pengeluaran asap sisa. Alat untuk pengendapan tar Alat yang digunakan untuk pengendapan tar terdiri dari botol dari asap cair yang masih bercampur dengan tar, gelas ukur 100 mL, pipet ukur dan pipet gondok.

Cara Pembuatan

Pembuatan asap cair dilakukan dengan destilasi.Bahan cangkang sawit sebelumnya dianalisa kadar hemiselulosa, selulosa dan lignin kemudian kadar airnya dibuat menjadi 8%, 13% dan 18% dengan pengering kabinet.Asap cair dibuat dengan  memasukkan 1 kg cangkang sawit ke dalam reaktor kemudian ditutup dan rangkaian kondensor dipasang.Selanjutnya dapur pemanas dihidupkan dengan mengatur suhu dan waktu yang dikehendaki.Pada penelitian ini suhu yang digunakan 350°C, 400°C dan 450 °C sedangkan waktu yang digunakan adalah 45 menit, 60 menit dan 75 menit yang dihitung pada saat tercapai suhu yang dikehendaki.Asap yang keluar dari reaktor akan mengalir ke kolom pendingin melalui pipa penyalur asap yang mana pada pipa ini terdapat selang yang dihubungkan botol penampung untuk menampung tar , kemudian ke dalam kolom pendingin ini dialirkan air dengan suhu kamar menggunakan aerator sehingga asap akan terkondensasi dan mencair.Embunan berupa asap cair yang masih bercampur dengan tar ditampung kedalam erlenmeyer, selanjutnya disimpan di dalam botol, sedangkan asap yang tidak terembunkan akan terbuang melalui selang penyalur asap sisa.Selanjutnya asap cair + tar yang terdapat didalam botol dilakukan pengendapan untuk memisahkan tar dan asap cair.


Sumber
Huda Triyudianto dan Purnama Darmadji Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


ANGGUR METE

DeskripsiBuah mete adalah buah semu rasanya asam agak manis, berair dan aroma buahnya mirip stroberi. Buah mete kurang disukai karena biasanya rasanya agak sepat dan biasanya dari jambu mete ini hanya bijinya (buah sejati) yang digunakan. Salah satu cara untuk olahan buah mete ini adalah Anggur mete.

Bahan
Ammonium fosfat; Asam sitrat; Larutan metabisulfit; Vitamin B Sari tauge Larutan garam; Putih telur; Ragi (kamir Sacharomyces cereviceae); Gula pasir dll,

Alat
Alat pemusing/blender; Kain blacu/flanel; Tong kayu/ wadah tahan karat

Cara Pembuatan


Buah mete dilumatkan dengan pemusing/blender sampai menjadi bubur lalu diperas dan sari buah yang keluar ditampung dalam wadah anti karat;
Sari buah dipasteurisasi dengan cara dipanaskan pada suhu 60° – 70° C (pasteurisasi ini bertujuan untuk membunuh jasad renik);
Keasaman sari buah dibuat pada pH 4. Untuk itu, ke dalam sari buah ditambahkan ammonium fosfat, vitamin B, dan asam sitrat.
Sari buah difermentasi dengan menambahkam khamir S. cereviceae, gula dan sari touge.
Hasil fermentasi berupa anggur setengah jadi. Anggur ini kemudian disaring dengan saringan halus atau flannel bersih beberapa kali sampai didapatkan anggur yang jernih. Endapan hasil penyaringan dibuang;
Pemanenan anggur dilakukan setelah 8 – 9 bulan dalam tong kayu atau wadah tahan karat;
Setelah pemanenan, dilakukan penjernihan kembali dengan menambahkan putih telur sebanyak 1,2 ml per liter anggur. Endapan anggur dapat digumpalkan dengan pemanasan pada suhu 70° C;
Anggur didinginkan dengan cepat, agar aromanya tajam. Selanjutnya anggur disaring kembali dan dimasukkan dalam botol yang telah direbus (supaya hygiene).

AMPAS SAGU UNTUK PAKAN AYAM BURAS 2

DeskripsiAyam buras atau ayam kampung, merupakan salah satu sumber daya pertanian yang telah lama kita miliki. Hampir disetiap desa di seluruh Indonesia, penduduknya telah mengenal ayam buras. Mulai dari Petani yang kaya hingga petani kecil dengan cara pemeliharaan yang berbeda-beda. Faktor yang terpenting pada usaha pemeliharaan ayam buras adalah pakan. Hampir 60-80% dari komponen Maya produksi perlu dipatok untuk pengadaan pakan ini.

Bahan
Formula pakan ayam buras LPTP Koya Barat (Tepung Gamal) 1. Jagung : 35 % ; 2. Kedelai : 20 % ; 3. Bekatul : 30 % ; 4. Tepung ikan : 10 % ; 5. Tepung gamal : 3 % ; 6. Kapur : 1 % ; 7. Minyak kelapa : 1 % ;

Alat
Alat giling Wadah pencampur

Cara Pembuatan


– Daun gamal dikeringkan, dihancurkan, digiling, dicampur dengan bahan
ransum sesuai komposisi.
– Biaya pakan : Rp. 2.400 / kg
– Konsumsi ransum optimal 58,47 gr/ekor/hari
– Konservasi ransum : 3,54 gr/ekr/hari
– Umur anakan ayam 10 -60 hari
– Sistem pemeliharaan intensif
– Skala minimal 100 – 150 ekor
– Penambahan bobot badan 16.52 gr/ekor/hari
– R/C : 2,35


Sumber
Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) LPTP Koya Barat, Irian Jaya No. 07/2000 Diterbitkan oleh: Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat Jl. Yahim Sentani Jayapura

AMPAS SAGU UNTUK PAKAN AYAM BURAS 1

DeskripsiAyam buras atau ayam kampung, merupakan salah satu sumber daya pertanian yang telah lama kita miliki. Hampir disetiap desa di seluruh Indonesia, penduduknya telah mengenal ayam buras. Mulai dari Petani yang kaya hingga petani kecil dengan cara pemeliharaan yang berbeda-beda. Faktor yang terpenting pada usaha pemeliharaan ayam buras adalah pakan. Hampir 60-80% dari komponen Maya produksi perlu dipatok untuk pengadaan pakan ini.

Bahan
1. Jagung : 65 % ; 2. Bungkil Kedelai : 24 % ; 3. Tepung ikan : 5 % ; 4. Ampas sagu : 5 % ; 5. Kapur : 0.5 % ; 6. Minyak kelapa : 0.5 % ;

Alat
Alat giling Wadah pencampur

Cara Pembuatan


-Limbah sagu dikeringkan, digiling, dicampur merata dengan pakan sesuai
komposisi.
– Biaya pakan Rp. 2.400/kg
– Konsumsi ransum optimal 56.01 gr/ekor/hari
– Konversi ransum : 3,9 gr/ekor/hari
– Umur anakan ayam : 10 – 60 hari
– Sistem pemeliharaan, serta skala minimalnya seperti pada butir a diatas
– Pertambahan bobot badan : 14,34 gr/ekor/hari, dengan R/C = 1 : 6


CARA PEMBERIAN PAKAN
Pemberian pakan ayam buras yang perlu diperhatikan adalah menghindari pakan berhamburan dari wadahnya, dengan cara mengisinya hanya separoh hingga 2/3 bagian kedalam tempat makanan yang diberikan. Dapat juga pakan dicampur sedikit air hingga membentuk bubur. Pakan diberikan minimal 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan petang hari, air minum perlu disediakan secara tidak terbatas.


Sumber
Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) LPTP Koya Barat, Irian Jaya No. 07/2000 Diterbitkan oleh: Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat Jl. Yahim Sentani Jayapura