Irigasi Sistem Subak

Subak (organisasi petani bali)merupakan salah satu organisasi tradisional Bali yang memelihara dan mengatur system irigasi pertanian yang sudah ada sejak dulu, seperti yang disebutkan dalam Museum Subak Mandala Mathika di desa Sungulan Tabanan.

Didalam kompleks terdapat ruang pameran, ruang audio visual, ruang belajar, fasilitas penginapan, perpustakaan, kantor dan miniatur sistem irigasi. Museum ini diresmikan mantan Gubernur Bali, Prof Dr Ida Bagus Mantra tanggal 13 Oktober 1981. Berdirinya museum ini digagasi oleh I Gusti Ketut Kaler, pakar adat dan agama yang waktu itu menjabat Kanwil Departemen Agama Propinsi Bali. Ia melihat perlu adanya lembaga adat Subak yang berupaya melestarikan warisan luhur budaya bangsa sejak abad XI ini. Upaya itu akhirnya terwujud. 
Pada mulanya disebut “Cagar Budaya Museum Subak”.Museum ini merupakan museum khusus tentang sistem pertanian di Bali berciri khas kemandirian atas landasan kekal “Tri Hita Krana”, tiga penyebab kebahagiaan (Tuhan, manusia dan alam). Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dikhawatirkan akan berpengaruh pula terhadap kehidupan Subak.

Untuk itu upaya melestarikan Subak beserta peralatan tradisional Bali termasuk di dalamnya bangunan rumah petani tradisional yang mengikuti aturan pembangunan asta bumi dan asta kosala-kosali, tata ruang, tata letak menurut tradisi masyarakat di Bali perlu digalakkan. Disamping menyelamatkan, menggali, mengamankan dan memelihara berbagai benda yang berkaitan dengan subak dan menyuguhkan berbagai informasi, pendidikan dan dokumentasi tentang Subak, Subak ini ternyata menjadi objek wisata yang menarik.

Museum Subak terdiri dari dua bagian. Ada museum induk dan museum terbuka. Di museum induk ada bangunan atau kompleks suci dengan Padmasana, Bedugul dan lain-lainnya.
Tata ruang dan tata letak bangunan disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya dengan tetap berpegang pada pembangunan tradisional : Tri Mandala, Tri Angga dan Asta Kosala Kosali. Sedangkan museum terbuka berwujud “Subak Mini” yang dipakai sebagai peragaan kegiatan subak, dari sistem irigasi hingga proses kegiatan petani di sawah.

Pemeliharaan Tanaman Padi

1)Penjarangan dan Penyulaman Padi Sawah
Penyulaman tanaman yang mati dilakukan paling lama 14 hari setelah tanam.
Bibit sulaman harus dari jenis yang sama yang merupakan bibit cadangan pada
persemaian bibit.
2)Penyiangan Padi Sawah
Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang dikerjakan
sekaligus dengan menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu
pada saat berumur 3 dan 6 minggu dengan menggunakan landak (alat penyiang
mekanis yang berfungsi dengan cara didorong) atau cangkul kecil.
3)Pengairan Padi Sawah
Syarat penggunaan air di sawah:
a)Air berasal dari sumber air yang telah ditentukan Dinas Pengairan/ Dinas
Pertanian dengan aliran air tidak deras.
b)Air harus bisa menggenangi sawah dengan merata.
c)Lubang pemasukkan dan pembuangan air letaknya bersebrangan agar air
merata di seluruh lahan.
d)Air mengalir membawa lumpur dan kotoran yang diendapkan pada petak
sawah. Kotoran berfungsi sebagai pupuk.
e)Genangan air harus pada ketinggian yang telah ditentukan.
Setelah tanam, sawah dikeringkan 2-3 hari kemudian diairi kembali sedikit demi
sedikit. Sejak padi berumur 8 hari genangan air mencapai 5 cm. Pada waktu padi
berumur 8-45 hari kedalaman air ditingkatkan menjadi 10 sampai dengan 20 cm.
Pada waktu padi mulai berbulir, penggenangan sudah mencapai 20-25 cm, pada
waktu padi menguning ketinggian air dikurangi sedikit-demi sedikit.
4)Pemupukan Padi Sawah
Pupuk kandang 5 ton/ha diberikan ke dalam tanah dua minggu sebelum tanam
pada waktu pembajakan tanah sawah. Pupuk anorganik yang dianjurkan
Urea=300 kg/ha, TSP=75-175 kg/ha dan KCl=50 kg/ha.
Pupuk Urea diberikan 2 kali, yaitu pada 3-4 minggu, 6-8 minggu setelah tanam.
Urea disebarkan dan diinjak agar terbenam. Pupuk TSP diberikan satu hari
sebelum tanam dengan cara disebarkan dan dibenamkan. Pupuk KCl diberikan 2
kali yaitu pada saat tanam dan saat menjelang keluar malai.
5)Penyiangan dan Pembumbunan Padi Gogo
Dilakukan secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu
tanaman berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan
bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai.
6)Penyulaman Padi Gogo
Dilakukan pada umur 1-3 minggu setelah tanam.
7)Pemupukan Padi Gogo
a)Pupuk organik
Berasal dari tanaman pupuk hijau seperti Crotalaria juncea yang berumur 4-6
bulan atau dari pupuk kandang yang telah matang. Pupuk organik dibenamkan
ke tanah dengan dosisi 10-30 ton/ha.
b)Pupuk anorganik
Pupuk yang diberikan  berupa 150-200 kg/ha Urea, 75 kg/ha TSP dan 50 kg/ha
KCl. Pupuk TSP dan KCl diberikan saat tanam dan urea pada 3-4 minggu dan 8
minggu setelah tanam.
8)Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dari intensitas
serangan.

jajar legowo

BUDIDAYA PADI SISTEM JAJAR LEGOWO
Cara tanam padi jajar legowo merupakan salah satu teknik produksi yang memungkinkan tanaman padi dapat menghasilkan produksi yang cukup tinggi serta memberikan kemudahan dalam aplikasi pupuk dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.Padi yang merupakan tanaman pangan utama penduduk, sebagian besar diproduksi di lahan sawah. Belum optimalnya produktivitas padi lahan sawah antara lain karena serangan hama, penyakit dan gulma. Melalui perbaikan cara tanam padi dengan sitem jajar legowo diharapkan selain dapat meningkatkan produksi, pengendalian organisme pengganggu dan pemupukan mudah dilakukan.
Pengertian
Jajar Legowo 2 : 1 (40 cm x (20 cm x 10 – 15 cm)) adalah salah satu cara tanam pindah sawah yang memberikan ruang (barisan yang tidak ditanami) pada setiap dua barisan tanam, tetapi jarak tanam dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm tergantung dari kesuburan tanahnya.
Pada tanah yang kurang subur kebiasaan petani tanam cara tegel 20 cm x 20 cm, menggunakan jarak tanam dalam barisan 10 cm. Pada tanah dengan kesuburan sedang kebiasaan petani tanam cara tegel 22cm x 22 cm, jarak tanam dalam barisan 12, 5 cm. Pada tanah yang subur 25 cm x 25 cm, jarak tanam dalam barisan 15 cm.
Tujuan
Tujuan dari cara tanam jajar legowo 2 : 1 adalah :
  1. Memamfaatkan radiasi surya bagi tanaman pinggir.
  2. Tanaman relatif aman dari serangan tikus, karena lahan lebih terbuka.
  3. Menekan serangan penyakit karena rendahnya kelembaban dibandingkan dengan cara tanam biasa.
  4. Populasi tanaman bertambah 30 %.
  5. Pemupukan lebih efisien.
  6. Pengendalian hama penyakit dan gulma lebih mudah dilakukan daripada cara tanam biasa.
Teknik Penerapan
a. Pembuatan baris tanam
Lahan sawah yang sudah siap ditanami, 1 – 2 hari sebelum tanam air dibuang sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Tujuan air dihilangkan adalah untuk dapat membentuk garis-garis tanam secara jelas. Dengan menggunakan alat pembuat garis jajar legowo 2 : 1 (Atajale 2 : 1), dibuat garis tanam 40 cm x ( 20 cm x 10 cm) dengan cara menarik atajale pada lahan yang akan ditanami. Arah baris tanam sebaiknya sesuai dengan arah aliran air pegairan.
b. Tanam
Bibit padi umur kurang dari 21 hari sebanyak 1-2 bibit ditanam pada perpotongan garis-garis yang terbentuk, dengan cara maju atau mundur sesuai kebiasaan regu tanam.
Teknik Pemeliharaan Tanaman
a. Pemupukan
Pemupukan dilakukan secara alur pada tempat yang berjarak 20 cm dan posisi yang memupuk pada tempat yang berjarak 40 cm. Dengan cara ini hanya 40 % dari lahan yang diberi pupuk dan pupuk terkosentrasi sepanjang tempat yang berjarak 20 cm, serta pupuk lebih dekat denga perakaran sehingga dapat dimamfaatkan oleh tanaman secara maksimal.
b. Penyiangan
Pada cara tanam ini penyiangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan landak/osrok cukup satu arah yaitu searah dalam barisan dan tidak perlu dipotong sepertimpada cara tanam bujur sangkar (2 arah). Jarak tanam dalam barisan 10 cm tidak perlu dilakukan penyiangan karena gulma akan kalah berkompetisi dengan pertumbuhaan tanaman padi. Dengan cara tanam ini, biaya penyiangan dapat di tekan sampai 50 %.
c. Pengendalian Hama dan Penyakit
Adanya lorong-lorong yang berjarak 40 cm sinar matahari dan sirkulasi udara dapat berjalan optimal dan kelembaban dapat ditekan sehingga perkembangan hama/penyakit dapat diminimalisir. Disamping itu, kegiatan pemamtauan dan pelaksanaan pengendalian penyakit dapat lebih mudah dilaksanakan.

Pengelan Varietas Unggulan Baru untuk Agroekosistem Lahan Rawa

Balai Besar Penelitian padi (Balitpa) Sukamandi, Cianjur Jawa Barat, telah merakit 5 varietas unggul padi yang sesuai dikembangkan pada laha rawa pasang surut dan lebak. kelima nya masing-masing diberi nama Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4 dan Inpara 5. Lahan rawa pasang surut dan lebak dengan luas 33,4 juta hektar memiliki potensi yang sangat besar mendukung keberlanjutan ketahanan pangan nasional, namun penggunaannya untuk pengembangan tanaman padi dihadapkan kepada berbagai kendala dan masalah, seperti tingkat kemasaman yang tinggi serta kondisi tanah dan air yang beragam.
Pengalaman Badan Litbang Pertanian dalam penelitian dan pengembangan rawa pasang surut dan lebak di Sumatera Selatan menunjukkan penggunaan varietas unggul yang adaftif berperan penting dalam mengatasi permasalahan pada agroekosistem marginal tersebut. Oleh karena itu perakitan varietas unggul padi yang sesuai dikembangkan pada lahan rawa terus diupayakan.
Melalui serangkaian penelitian dan pengembangan, ke-5 varietas unggul baru padi yang cocok dikembanglan di lahan rawa pasang surut dan lebak adalah Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4 dan Inpara 5.
Inpara 1 merupakan hasil persilangan antara varietas Batang Ombilin dan galur introduksi IR9884-54-3, Potensi hasil varietas unggul ini 6,5 ton GKG/ha. Keunggulan lain dan Inpari 1 adalah tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan bias, serta agak tahan wereng coklat biotipe 1,2. Varietas Inpara 1 menghasilkan nasi bertektur pera, sehingga lebih sesuai dikembangkan di daerah rawa yang penduduknya menyukai nasi pera seperti di Sumatera dan Kalimantan.
Inpara 2 berasal dai nomor persilangan dari nomor persilangan B10214F-TB-7-2-3 dengan potensi hasil 6,08 ton GKG/ha. Seperti halnya Inpari 1, varietas Inpara 2 juga memiliki ketahanan yang baik terhadap hawar daun bakteri dan penyakit blas serta wereng coklat biotipe 2, dalam hal tekstur nasi Inpara 2 lebih bertekstur pulen.
Inpara 3 toleran terhadap rendaman air, sehingga sesuai dikembangkan pada lahan rawa lebak dimana fluktuasi air pada agroekosistem ini sangat bervariasi. Inpara 3 juga dapat dikembangkan pada lahan sawah irigasi yang rawan banjir. Kebanyakan varietas padi akan mengalami mengalami puso jika terendam air selama 1 minggu, terutama pada fase vegetatif. Varietas Inpara 3 mampu bertahan hidup dan tumbuh normal pada kondisi demikian. Pengenalan varietas Inpara 3 dari Pusat Penelitian Padi Internasional (IRRI), Phlipina ditandai dengan nomor persilangan IR70213-9-CPA-12-UBN-2-1-3-1. Dilahan lebak, Inpara 3 dapat berproduksi 5,60 ton GKG/ha. Varietas ini juga tahan terhadap penyakit blas dan tekstur nasinya tergolong pera.
Padi VUB inpara 1,2 dan Inpara 3 sama-sama toleran terhadap keracunan besi (Fe) dan alumunium (Al) yang menjadi kendala penting dalam pengembangan tanaman padi dilahan rawa pasang surut dan lebak.
Inpara 4 dan Inpara 5 toleran terhadap rendaman air selama 14 hari, sehingga sesuai dikembangkan pada lahan lebak dimana fluktuasi air pada agroekosistem tersebut sangat bervariasi. Ke-2 nya juga dapat dikembangkan pada lahan sawah irigasi yang rawan banjir. Kebanyakan varietas akan mengalami puso jika terendam air selam seminggu, teruatama pada fase vegetatif. Varietas Inpara 4 dan 5 mampu bertahan hidup dan tumbuh normal pada kondisi demikian.
Pengenalan varietas Inpara 4 dan 5 dari Pusat Penelitian Padi Internasional (IRRI), Philipina dengan nomor seleksi IR05F101 dan IR07F101. Di lahan lebak, Inpara 4 dan 5 dapat berproduksi 7,63 dan 7,2 ton GKG/ha. Varietas ini juga agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 3 dan tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV dan VII serta tekstur nasinya tergolong pera dan sedang, Dalam upaya mengembangkan lahan rawa pasang surut dan lebak untuk mendukung Ketahanan Pangan Nasional, ke-5 varietas unggul baru padi tersebut diharapkan menjadi pilihan bagi petani. Pelepasan kelima varietas unggul ini akan melengkapi varietas ubggul pada lahan rawa yang dilepas sebelumnya, antara lain Banyuasin, Batanghari,Indragiri, Dendang, Martapura dan Margasari yang telah dikembangkan oleh sebagian petani dibeberapa kawasan lahan rawa di Sumatera dan Kalimantan.
(Tumarlan Thamrin, Susilawati)

Kiat-kiat Mengatisipasi Perubahan Iklim Untuk Menekan Serangan Hama Gudang Dalam Pasca Panen Padi

Bahan pangan seperti beras diperlukan sepanjang masa sebagai kebutuhan pokok manusia sebelum sandang dan papan. Seiring dengan itu, tuntutan bahan pangan semakin hari semakin meningkat, baik jumlah maupun mutunya. Namun, produktivitas tanaman pangan waktunya sangat terbatas baik oleh musim atau keadaan alam sehingga mengakibatkan produksinya hanya bisa diperoleh pada waktu tertentu saja. Oleh karena itulah, berbagai tindakan dilakukan mulai dari pengolahan hasil hingga pada penyimpanan produk pangan agar ketika dibutuhkan produk tersebut dapat tersedia.
Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Aktivitas Hama Gudang
1. Temperatur/Suhu
Serangga hama gudang memerlukan keadaan suhu udara minimum dan maksimum untuk kelangsungan hidupnya. Suhu minimum yakni 5oC sedangkan suhu maksimumnya yakni 45oC. Pada umumnya suhu optimum untuk perkembangan hama gudang yakni 25-30oC
2. Kelembaban
Kelembaban juga sangat mempengaruhi perkembangan serangga gudang. Menurut Yos Sutyoso (1964) dalam Kartasapoetra (1991), pada kelembaban udara relatif 50% siklus hidup serangga tersebut 59 hari, sedangkan pada kelembaban udara 80% siklus hidup serangga tersebut hanya 37 hari. Hal ini menunjukkan bahwa kelembaban udara yang tinggi akan memperpendek siklus hidup hama yang berarti semakin banyak serangga yang muncul.
3. Cahaya
Warna cahaya yang berbeda akan memancarkan perbedaan panjang gelombang. Semakin panjang gelombang yang dipancarkan maka akan semakin besar pula energi yang dihasilkannya. Molekul energi yang dipancarkan juga akan semakin rapat.
4. Aerasi
Aerasi atau sirkulasi udara dalam penyimpanan akan sangat mempengaruhi kehidupan serangga gudang. Pada umumnya pada kondisi oksigen yang rendah maka akan terjadi kematian pada serangga gudang Serangga Hama Gudang dan Kerusakannya Kumbang Bubuk Gabah (Sitophilus oryzae) (Coleoptera: Curculionidae), Akibat yang ditimbulkan menyebabkan beras mengalami susut berat mencapai 23%., Kumbang Penggerek Gabah (Rhyzopertha dominica) (Coleoptera: Bostrichidae), Penurunan hasil yang ditimbulkan kumbang ini yakni mencapai 7%, Ngengat Beras (Corcyra cephalonica) (Lepidopetra: Pyralidae), Larva ini merusak material simpanan dengan cara menggandeng butiran materail dengan air liurnya, Ngengat Gabah (Sitotroga cereallela) (Lepidoptera: Gelechiidae)
Perbaikan Teknologi Pasca Panen
1. Pengurangan Kadar Air Bahan Simpanan
Kadar air adalah kandungan air yang terdapat di dalam butiran gabah, yang dapat dinyatakan dengan persen. Tingginya kadar air bahan akan memacu meningkatnya intensitas serangan serangga gudang. Selama ini, petani sendiri telah tahu mengenai kadar air gaban, namun kendala yang dihadapi adalah masih kurangnya peralatan yang dimiliki petani untuk bisa mengukur kadar air bahan. Di Sumatera Selatan, pengukuran kadar air gabah dilakukan petani dengan cara menggigit gabah tersebut, jika gabah digigit retak-retak, gabah tersebut dianggap utuh kalau digiling. Cara ini memang mudah dilakukan tapi tingkat keakuratan yang diragukan. Alat ukur kadar air yang sekarang terdapat di pasaran adalah alat ukur kadar air model digital. Alat ini lebih praktis dan mudah pemakaiannya.Harga alat ini masih tergolong mahal. IRRI telah mengembangkan alat pengukur kadar air gabah yang praktis dan dengan harga yang terjangkau.
2. Penjemuran Bahan
Penjemuran merupakan cara praktis untuk mengurangi kadar air gabah dalam jumlah besar di tingkat petani, penjemuran ini harus dilakukan pembalikan secara berkala. Proses pengeringan di pedesaan umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional yaitu penjemuran di bawah panas matahari. Untuk mengatasi tingginya serangan serangga gudang, penjemuran juga dapat mengurangi kerusakan gabah akibat tingginya kadar air gabah.
3. Penggunaan Mesin Pengering (Box Dryer)
Alat ini dapat mengantisipasi adanya gangguan cuaca seperti ketika musim penghujan, maka tindakan pengurangan kadar air bahan secara tradisional dapat diperbaiki dengan memanfaatkan mesin pengering (box dryer). Pengeringan gabah dalam jumlah kecil dapat dilakukan dengan menggunakan oven. Berbagai jenis alat pengering telah dihasilkan dan dengan kapasitas yang beragam, salah satunya adalah alat pengering gabah berbahan bakar sekam (BBS). Hasil penelitian BPTP Sumsel, 2009,. Keuntungan menggunakan alat pengerting kapasitas 3 ton ini antara lain ; 1) waktu pengeringan berkisar 8-12 jam atau rata-rata 10 jam, lebih cepat dibandingkan dengan penjemuran yang lamanya 1-2 hari, 2) rendemen pengeringan rata-rata meningkat 2,5%, 3) rendemen beras giling rata-rata meningkat 2,5%, 4) persentase beras kepala rata-rata meningkat 17%, 5) biaya pengeringan rata-rata sebesar Rp 25/kg GKP berarti lebih rendah dibandingkan dengan biaya penjemuran (Rp 50/kg GKP)
4. Pengaturan Tempat Penyimpanan
Tempat penyimpanan juga sangat mempengaruhi kesukaan serangga gudang terhadap gabah yang disimpan. kondisi dengan kelembaban tinggi dan temperatur yang tidak sesuai akan memacu perkembangbiakan serangga. Walaupun kadar air gabah sudah memenuhi standar setelah dikeringkan, jika tempat penyimpanan tidak sesuai justru akan meningkatkan kembali kadar air gabah. Tempat penyimpanan ini meliputi ruang penyimpanan maupun material yang digunakan untuk menyimpan bahan.
5. Penggunaan Pestisida Nabati
Penggunaan pestisida nabati masih jarang diterapkan di tingkat masyarakat, karena terbatasnya pengetahuan serta anggapan bahwa daya bunuh pestisida nabati masih rendah dan relatif lambat. Padahal pemanfaatan pestisida nabati ini sangat diperlukan terlebih lagi jika produk simpanan tersebut akan dikonsumsi.
6. Pemanfaatan Sistem Kedap (Hermetic Storage)
Penyimpanan kedap udara mencakup penempatan gabah/beras/benih ke dalam kontainer (wadah) yang menghentikan pergerakan udara (oksigen) dan air antara atmosfir luar dan gabah/benih yang disimpan. Teknologi ini sudah mulai diterapkan di beberapa negara di Asia Tenggara. Sistem ini dapat menggunakan kontainer plastik khusus atau kontainer yang lebih kecil. Ukuran penyimpan dapat berkisar antara 25 liter sampai 300 ton. Sistem ini dapat digunakan untuk gabah, beras, dan serealia lainnya seperti jagung. . Penyimpanan kedap udara memperbaiki kualitas gabah dan viabilitas benih karena cara ini menjaga stabilitas kandungan air dan mengurangi kerusakan karena hama tanpa penggunaan pestisida. IRRI telah mengembangkan plastik Super Bags-IRRI yang menerapkan sistem kedap udara (hermetis). Menurut Rickmann dan Gummert, penggunaan IRRI Super Bags mampu menekan perkembangan serangga. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah serangga yang hidup setelah 12 bulan penyimpanan yakni 1,2 ekor/kg material, jauh lebih rendah dibandingkan dengan penyimpanan terbuka yakni 27,2 ekor serangga/kg material.
7. Fumigasi
Fumigasi merupakan tindakan pengendalian hama gudang dengan menggunakan senyawa kimiawi berupa fumigan. Pihak Karantina Pertanian sendiri melalkukan upaya fumigasi untuk menekan serangga hama gudang yang tergolong OPT maupun OPTK. Beberapa jenis senyawa fumigan yang sering digunakan di antaranya metilbormide, carbon disulphide, hydricianic acid, phospine, ethylene oxide, ethylene dibromide. Menurut Imdad dan Nawangsih (1999), serangga seperti kumbang bubuk beras, ngengat beras, ngengat gabah, kumbang penggerek gabah dapat ditanggulangi dengan menggunakan fumigan carbon disulphide (CS-2) dan phostoxin tablet. Dosis penggunaan yakni 30 cc CS2/m3 bahan selama 24-48 jam dalam ruang yang tertutup. Dosis penggunaan phostoxin yakni 1 tablet/ kuintal bahan.
(Tumarlan Thamrin)

Mengembalikan Jerami Ke Dalam Sawah

Era revolusi hijau menyebabkan penggunaan pupuk anorganik yang terus menerus bahkan dosisnya sudah melebihi ambang batas ekonomi.  Petani terpacu untuk terus meningkatkan hasil pertaniannya tanpa mempedulikan akibatnya pada lahan pertanian miliknya.  Tanpa disadari unsur-unsur hara di dalam tanah terus diambil oleh tanaman tanpa ada upaya untuk menggantinya kembali.  Unsur-unsur yang terambil dari dalam tanah dan tidak tergantikan itu adalah unsur-unsur mikro, yang jarang terperhatikan oleh petani, padahal meskipun mikro (kecil) namun manfaatnya tidak bisa dikesampingkan.  Petani hanya memenuhi unsur-unsur makro berupa N, P dan K yang tersedia di pupuk anorganik.
Seperti yang sering diucapkan Profesor Baehaki, seorang peneliti senior dari BB Padi yang juga sebagai Pemandu teknologi prima tani Kab. Subang bahwa tanah kita sudah sakit karena kita lupa memberi makan tanah kita. sekarang setalah sakit maka kita harus menyembuhkannya. Salah satu cara untuk menyembuhkan tanah yang sakit yaitu dengan mengembalikan jerami ke dalam tanah.  Begitulah yang selalu beliau katakan kepada para petani di Desa Sindanglaya untuk mengingatkan betapa pentingnya jerami.
Jerami merupakan sumber kalium yang sangat murah dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk penanaman padi pada musim berikutnya. Pengembalian jerami ke dalam tanah adalah salah satu cara untuk mengembalikan unsur-unsur mikro di dalam tanah.  Pupuk organik mengandung unsur-unsur makro dan mikro meskipun dalam jumlah yang sedikit namun lengkap. Pengembalian jerami ke dalam tanah akan lebih baik setelah dilakukan proses fermentasi atau pengomposan pada jerami padi tersebut, agar ketika dibenamkan ke dalam tanah, tanah langsung dapat menyerapnya, meskipun pupuk dari jerami termasuk pupuk yang lambat penyerapannya (slow released). 
Selama ini banyak petani yang lupa untuk mengembalikan jerami ke dalam tanah, apalagi bila musim panen di musim kemarau, petani lebih mencari jalan singkat untuk menyingkirkan jerami dengan cara dibakar.  Atau karena faktor lain seperti banyak jerami yang diangkut oleh peternak sapi dari daerah lain yang mengalami kelangkaan pakan karena musim kemarau atau diambil oleh petani jamur dari daerah lain untuk dijadikan media tanam jamur seperti yang terjadi di Desa Sindanglaya.
Untuk mengingatkan petani akan pentingnya pengembalian jerami ke dalam tanah, maka diadakan pelatihan praktek fermentasi jerami oleh tim prima tani Kab. Subang bekerja sama dengan PPL setempat dan para petani.  Sumber mikroba pengompos (dekomposer) yang digunakan adalah super farm yang banyak tersedia di pasaran di sekitar Subang, agar petani mudah untuk mendapatkannya.
Cara pembuatan kompos jerami adalah sebagi berikut:
  1. Jerami ditumpuk dengan ketinggian mencapai 15-20 cm, tumpukan dapat diulang sampai mencapai ketinggian 1 meter.
  2. Pada setiap lapisan jerami dicipratkan larutan dekomposer.
  3. Kondisi optimum jerami yang akan dikomposkan berada pada kadar air 50-65%
  4. Bagian atas tumpukan jerami ditutup dengan plastik berwarna gelap untuk mempertahankan kelembaban dan untuk menghindari tumpukan terguyur hujan atau terkena panas matahari yang berlebihan
  5. Dilakukan pembalikan seminggu sekali.
  6. Kompos akan matang pada umur 6-7 minggu. Kompos yang matang berwarna kecoklatan dan tumpukan jerami terlihat mengempis hampir setengahnya
Kompos dibongkar dan diangin-anginkan untuk menstabilkan kondisi kompos.
Era revolusi hijau menyebabkan penggunaan pupuk anorganik yang terus menerus bahkan dosisnya sudah melebihi ambang batas ekonomi.  Petani terpacu untuk terus meningkatkan hasil pertaniannya tanpa mempedulikan akibatnya pada lahan pertanian miliknya.  Tanpa disadari unsur-unsur hara di dalam tanah terus diambil oleh tanaman tanpa ada upaya untuk menggantinya kembali.  Unsur-unsur yang terambil dari dalam tanah dan tidak tergantikan itu adalah unsur-unsur mikro, yang jarang terperhatikan oleh petani, padahal meskipun mikro (kecil) namun manfaatnya tidak bisa dikesampingkan.  Petani hanya memenuhi unsur-unsur makro berupa N, P dan K yang tersedia di pupuk anorganik.
Seperti yang sering diucapkan Profesor Baehaki, seorang peneliti senior dari BB Padi yang juga sebagai Pemandu teknologi prima tani Kab. Subang bahwa tanah kita sudah sakit karena kita lupa memberi makan tanah kita. sekarang setalah sakit maka kita harus menyembuhkannya. Salah satu cara untuk menyembuhkan tanah yang sakit yaitu dengan mengembalikan jerami ke dalam tanah.  Begitulah yang selalu beliau katakan kepada para petani di Desa Sindanglaya untuk mengingatkan betapa pentingnya jerami.
Jerami merupakan sumber kalium yang sangat murah dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk penanaman padi pada musim berikutnya. Pengembalian jerami ke dalam tanah adalah salah satu cara untuk mengembalikan unsur-unsur mikro di dalam tanah.  Pupuk organik mengandung unsur-unsur makro dan mikro meskipun dalam jumlah yang sedikit namun lengkap. Pengembalian jerami ke dalam tanah akan lebih baik setelah dilakukan proses fermentasi atau pengomposan pada jerami padi tersebut, agar ketika dibenamkan ke dalam tanah, tanah langsung dapat menyerapnya, meskipun pupuk dari jerami termasuk pupuk yang lambat penyerapannya (slow released). 
Selama ini banyak petani yang lupa untuk mengembalikan jerami ke dalam tanah, apalagi bila musim panen di musim kemarau, petani lebih mencari jalan singkat untuk menyingkirkan jerami dengan cara dibakar.  Atau karena faktor lain seperti banyak jerami yang diangkut oleh peternak sapi dari daerah lain yang mengalami kelangkaan pakan karena musim kemarau atau diambil oleh petani jamur dari daerah lain untuk dijadikan media tanam jamur seperti yang terjadi di Desa Sindanglaya.
Untuk mengingatkan petani akan pentingnya pengembalian jerami ke dalam tanah, maka diadakan pelatihan praktek fermentasi jerami oleh tim prima tani Kab. Subang bekerja sama dengan PPL setempat dan para petani.  Sumber mikroba pengompos (dekomposer) yang digunakan adalah super farm yang banyak tersedia di pasaran di sekitar Subang, agar petani mudah untuk mendapatkannya.

Cara pembuatan kompos jerami adalah sebagi berikut:

  1. Jerami ditumpuk dengan ketinggian mencapai 15-20 cm, tumpukan dapat diulang sampai mencapai ketinggian 1 meter.
  2. Pada setiap lapisan jerami dicipratkan larutan dekomposer.
  3. Kondisi optimum jerami yang akan dikomposkan berada pada kadar air 50-65%
  4. Bagian atas tumpukan jerami ditutup dengan plastik berwarna gelap untuk mempertahankan kelembaban dan untuk menghindari tumpukan terguyur hujan atau terkena panas matahari yang berlebihan
  5. Dilakukan pembalikan seminggu sekali.
  6. Kompos akan matang pada umur 6-7 minggu. Kompos yang matang berwarna kecoklatan dan tumpukan jerami terlihat mengempis hampir setengahnya
  7. Kompos dibongkar dan diangin-anginkan untuk menstabilkan kondisi kompos.

    Jarak Tanam

    Dari 5 uji coba jarak tanam pada padi ternyata yang lebih baik adalah jarak tanam legowo 2:1 dapat meningkatkan produksi sangat signifikan…..
    hasil rata2 per Ha dengan jarak tanam biasa / umum produksi 6 – 7 ton, tp dengan jarak tanam legowon 2:1 bisa sampai 8-10 ton / Ha
    Kajian:
    – Jumlah rumpun  lebih banyak
    – Bulir padi ukuran lebih besar dan bernas
    – Jumlah anakan produktif lebih banyak
    – Sirkulasi udara dan penyinaran cahaya matahari lebih sempurna
    – Kegiatan pemeliharaan lebih mudah
    – Dapat menekan serangan OPT

    Rambu-rambu di Tengah Sawah

    Rambu-rambu biasanya umum dikenal di jalan raya, biasa kita sebut rambu-rambu lalu lintas, yang berguna untuk mengatur jalannya lalu lintas.  Namun jangan heran dulu, di sawah pun ada rambu-rambu lalu lintas.  Rambu-rambu ini berguna untuk mengatur jalannya lalu lintas air, dalam hal ini berguna untuk mengatur penggunaan air oleh petani di lahan pertaniannya.  Orang yang bertugas mengatur lalu lintas air ini adalah ulu-ulu atau mitracai, mereka lah yang berhak untuk memindah atau mengganti rambu-rambu tersebut.
    Rambu-rambu ini sudah dikenal lama di Desa Sindanglaya, Kecamatan Tanjungsiang Subang. Penggunaannya rambu-rambu keberadaannya sangat diperlukan sekarang ini, mengingat pasokan air menjadi terbatas yang diakibatkan berkurangnya daerah resapan air akibat penggundulan hutan. Pengaturan penggunaan air akan lebih ramai di masa awal tanam, dimana para petani melakukan penanaman secara serempak.  Konsekuensi dari penanaman secara serempak adalah harus adanya sistem pembagian yang adil sehingga kebutuhan air terpenuhi secara merata. Bila penggunaan air tidak diatur, niscaya akan terjadi perebutan air.  Kejadian seperti ini sering kita jumpai di berbagai daerah, bahkan bisa berujung bentrokan antarpetani bila tidak ditangani dengan adil.
    Rambu-rambu yang ada di sawah, bukan rambu-rambu berupa lampu elektronik yang menyala otomatis.  Rambu-rambu ini berupa umbul-umbul yang dipasang dengan menggunakan bambu, sehingga dapat terlihat dari kejauhan.  Namun ada kesamaan diantara rambu-rambu sawah dan lalu lintas, yaitu warna yang terdiri dari warna merah, kuning dan hijuan.  Arti dari masing-masing warna pun hampir sama dengan rambu-rambu lalu lintas.
    Penggunaan warna ini berurutan dari warna merah, kuning kemudian hijau.  Warna merah berarti petani dilarang atau tidak boleh menggarap lahan pertaniannya, kuning berarti petani diperbolehkan untuk mengolah lahan garapannya, sedangkan untuk hijau sendiri adalah petani diperbolehkan untuk menanami lahan garapannya. Untuk ilustrasi , Daerah pertanaman biasanya akan dibagi ke dalam beberapa blok. Ketika musim tanam tiba, daerah atau blok yang terdekat dengan mata air atau yang pertama dilalui saluran air, di sini kita sebut blok A akan diberi umbul-umbul berwarna kuning yang artinya petani yang berada di blok tersebut diperbolehkan untuk melakukan tebar. Untuk Blok B atau daerah yang ada setelah blok A pada saluran air akan diberi umbul-umbul berwarna merah yang artinya tidak boleh mengolah lahan pertaniannya.  Setelah sekitar 2 minggu blok A yang asalnya ditandai umbul-umbul kuning akan berganti menjadi umbul-umbul berwarna hijau, yang artinya petani di blok A boleh menanam. Untuk blok B, umbul-umbul merah akan diganti dengan umbul-umbul kuning, sebagai tanda petani di blok B dipersilahkan untuk menebar benih padinya. Umbul-umbul merah kemudian akan bergeser ke blok C, dan seterusnya.
    Namun penggunaan rambu-rambu hanyalah sebagai alat bantu, para petani selaku pelaku usahatani sendiri yang harus melaksanakan dengan sungguh-sungguh.  Oleh karena itu peranan para PPL, ulu-ulu dan para petani sendiri untuk senantiasa berkoordinasi akan menjadi alat yang lebih mujarab untuk mengatur penggunaan air.

    Masalah Rumpai Dalam Pertanian

    Rumpai menimbulkan kesan yang sangat jelas ke atas pengeluaran hasil pertanian. Ini kerana rumpai biasanya lebih agresif dan dapat menyesuaikan pertumbuhannya walaupun dalam keadaan yang kurang baik. Sifat begini biasanya dipunyai oleh kebanyakan spesies rumpai yang hidup di dalam kawasan pertanian. Selain daripada sifat yang dinyatakan itu, rumpai juga mempunyai beberapa sifat lain yang agak istimewa berbanding dengan tanaman. Kesemua sifat ini akan menolong rumpai untuk bersaing dengan tanaman. Rumpai lebih berjaya dalam persaingan terhadap nutrien, air, karbon dioksida, dan cahaya jika dibandingkan dengan tanaman. Ini menyebabkan kemerosotan hasil dalam kebanyakan kawasan pertanian.
    Dalam tanaman tertentu, rumpai menyebabkan peratus kemerosotan yang sangat tinggi. Ini sepertirumpai Echinochloa crus-galli yang tumbuh dalam sawah dan bersaing dengan pokok-pokok padi dan akan mengakibatkan pengeluaran padi merosot. Rumpai selain daripada mengurangkan hasil ia juga akan menjejaskan kualiti tanaman disamping meningkatkan kos pengeluaran. Ini kerana biji atau serpihan daripada rumpai sering bercampur dengan hasil tuaian. Ini sering berlaku semasa menuai tanaman bijirin dengan menggunakan alat jentera. Bijirin yang tercemar dengan biji-biji rumpai mempunyai harga pasaran yang rendah. Contohnya, padi yang bercampur dengan biji-biji rumpai akan dikelaskan dengan gred yang rendah. Malah bahagian-bahagian tanaman yang bercampur dengan biji-biji rumpai akan menyebabkan kerosakan semasa penyimpanan. Serpihan rumpai biasanya lembap dan semasa pereputan haba akan terbebas dan kulat pada serpihan rumpai boleh menjangkiti tanaman dan merosakkannya. Semua ini akan menjejaskan kualiti tanaman.
    Rumpai turut meningkatkan kos pengeluaran kerana penggunaan buruh dan racun rumpai bagi mengawal pertumbuhannya. Merumput rumpai perlu dilakukan terutama dalam peringkat tertentu dalam masa pertumbuhan tanaman. Misalnya, dalam tanaman kacang tanah,rumpai perlu sentiasa dijaga rapi dalam tempoh 4 minggu pertama. Jika ia tidak dijaga rapi dalam tempoh ini, maka pertumbuhan pokok akan terencat. Ini akan merugikan petani.
    Rumpai boleh menyebabkan kerugian yang besar dalam penghasilan tanaman, dan keindahan alam sekitar. Oleh yang demikian rumpai perlulah dikawal pertumbuhannya. Terdapat pelbagai kaedah pengawalan rumpai yang boleh digunakan. Antaranya, kawalan secara mekanik, kawalan secara biologi, kawalan secara pencegahan melalui amalan yang baik dan kawalan secara menggunakan racun rumpai.

    Penyediaan Kawasan Projek Pertanian

    Kebiasaanya terdapat beberapa peringkat dalam proses penyediaan kawasan sesuatu projek pertanian iaitu menebang, mengumpul, membakar dan membersihkan serta yang paling penting ialah membajak.
    Menebang, mengumpul, membakar dan membersihkan
    Jika tapak tanaman adalah dari kawasan hutan, maka semua pokok-pokok, belukar dan rumpai mestilah ditebang dan dibersihkan. Pokok biasanya ditebang dengan menggunakan gergaji atau jentera seperti jentolak. Akar dan tunggul pokok mestilah dibersihkan jika tidak ia akan menjadi sumber inokulum bagi berbagai jenis penyakit akar dan juga perumah kepada anai-anai.  Seminggu selepas ditebang kayu-kayu dihimpun untuk dibakar seelok-eloknya pada musim kering.
    Selalunya bagi tanaman pokok buah-buahan jenis saka, tapak tanaman tidak perlu diratakan, kerana sistem tanaman teres boleh digunakan. Tetapi untuk tanaman buah-buahan yang memerlukan batas , seperti tembikai dan nenas ada kalanya tapak tanaman perlu diratakan. Untuk meratakan, tanah atas hendaklah ditolak dahulu dan dihimpun di satu kawasan kerana tanah atas mengandungi bahan organan dan ‘humus’ yang menjadikan tanah itu subor.
    Membajak
    Sebab-sebab utama membajak tapak tanaman adalah untuk memulihkan struktur atau keadaan tanah untuk penyediaan batas bagi mendapatkan pengedaran udara dan kelembapan yang sesuai bagi percambahan biji benih
    bajak-tanah
    Jenis-jenis jentera pembajak yang biasa digunakan ialah bajak piring (disc plough), sikat piring (disc harrow) dan bajak putar (rotary cultivator)
    1. Bajak piring
    Bajak piring boleh digunakan ditanah yang kering dan keras hingga tanah yang agak lembik. la digunakan dalam pusingan pertama selepas tanah-dibersihkan untuk menolong dan membalekkan tanah.  Selepas dibajak tanah menjadi ketulan-ketulan yang besar.
    2. Sikat piring
    Fungsi sikat piring ialah untuk memecah dan menghuraikan ketulan tanah dan mendapatkan tanah permukaan yang gembur. Biasanya sikat piring digunakan sebanyak dua pusingan selepas tanah dibajak dengan bajak piring dimana ia akan menghancurkan ketulan-ketulan tanah yang besar dan menutup ruang-ruang udara.
    3. Bajak putar
    Bajak putar biasa digunakan untuk membuat batas. lanya dapat menghasilkan permukaan yang gembur sesuai untuk percambahan biji benih. Bajak putar boleh dipasangkan kepada trektor 4 roda, trektor 2 roda atau trektor jalan kecil (pedestrian operated). la dapat mengerjakan tanah sedalam antara 150 hingga 200 mm. Jika digunakan pada tanah yang terlalu basah, ia tidak dapat memecah dan menghuraikan tanah disebaliknya menghasilkan ketulan-ketulan besar.  Kelajuan bajak putar yang rendah akan menghasilkan ketulan-ketulan yang lebih kecil dibandingkan dengan kelajuan yang lebih tinggi. Pada kelajuan yang rendah lebih banyak potongan terdapat pada satu meter jarak perjalanan.