Bunga fuchsia SI CANTIK YANG BERAGAM WARNA

Di Indonesia, jika kita menyebut nama bunga fuchsia, mungkin tidak banyak orang yang tahu. Masyarakat Indonesia lebih mengenal bunga cantik yang satu ini dengan nama Kembang Anting-anting. Penyebutan ini bermula dari posisi bunga fuchsia yang menggantung dari dahannya, mirip dengan anting-anting.
Fuchsia termasuk tanaman perdu (membentuk semak). Layaknya tanaman tropis pada umumnya, ia juga selalu hijau sepanjang tahun (evergreen).Fuchsia merupakan salah satu jenis tanaman bunga yang paling banyak ragam dan warnanya. Di beberapa daerah, seperti di Indonesia, jenis fuchsia hibrida lebih banyak ditemui.
Bunga fuchsia yang dapat dilihat di foto ini berjenis Fuchsia Madeleine Sweeney, salah satu jenis fuchsia hibrida. Meski memiliki banyak variasi warna, pada umumnya bunga fuchsia berwarna merah, putih, merah muda, ungu, atau paduan warna-warna tersebut.
Menanam fuchsia bisa jadi pilihan tepat untuk mempercantik taman. Fuchsiamembutuhkan media tanam yang lembap dengan drainase yang baik. Meski menyukai sinar matahari, namun sebaiknya hindarkan fuchsia dari sinar matahari siang, yang terlalu panas.
Sempatkan melakukan pemangkasan, setiap kali usai berbunga. Pemangkasan berguna untuk merapikan bentuknya. Selain itu, juga membuat fuchsia lebih produktif berbunga. Untuk memperbanyak, bisa menggunakan benih atau dengan metode cangkok.

BERAGAM JENIS TANAMAN PAGAR

Terkadang kita masih susah memilih jenis tanaman untuk pagar. Bisa saja kita memilih jenis tanaman yang sudah ada di seputar kita dan mudah didapatkannya. Sebab pada dasarnya, sekali lagi, yang penting adalah perawatan dan pemangkasan. Beberapa tanaman yang lazim digunakan untuk pagar tanaman antara lain:
1. Beluntas
Tanaman beluntas (Pluchea indica) termasuk suku Asteraceae dan masih sering tampak tumbuh liar di tanah tegal. Beluntas bisa mencipta keindahan saat ditanam sebagai tanaman pagar. Tingginya sekitar 1 – 2 meter, daunnya hijau terang, pinggirnya bergerigi, dan letaknya berseling. Bunga bertandan, warnanya putih agak kecokelat-cokelatan.
Daun beluntas mengandung zat-zat seperti amino (triptofan, treonin, lesusin, isoleusin), lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A dan C. Oleh sebab itu, daun beluntas dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional, seperti:
Mengusir Bau Badan
Ambil 15 helai daun beluntas yang masih muda, lalu kukus. Santaplah sebagai lalapan.
Menghilangkan pegal-pegal dan demam
Sediakan 15 helai daun beluntas, lalu seduh dengan segelas air panas. Jika sudah dingin, saring dan minum 1 – 2 kali sehari.
Menyembuh ganguan pencernaan
Ambil 8 helai daun beluntas, cuci bersih, lalu letakkan di atas nasi yang akan dibuat tim. Resep ini cocok untuk anak-anak yang terganggu pencernaannya.
2. Kemuning
Tanaman kemuning (Murraya paniculata) sering ditanam di pekarangan rumah, tapi ada juga yang tumbuh liar di antara semak-semak belukar. Kemuning termasuk ta-naman perdu, tingginya sekitar 3 – 7 meter.
Batangnya berkayu cukup keras, berwarna kekuning-kuningan. Kulit batang juga berwana ke-kuning-kuningan. Berdaun majemuk, menyirip ganjil. Bunganya tunggal atau majemuk tandan semu, setiap tandan berjumlah 8 bunga. Daun mahkota bunga berwarna putih. Bunganya sangat harum di senja hari.
Buahnya berbentuk bulat telur atau lonjong, dengan pangkal dan ujungnya lancip dan berwarna merah mengkilap.
Kemuning sangat menyukai sinar matahari. Jadi, cocok ditanam di tempat terbuka yang terkena sinar matahari langsung. Sebagaimana perawatan tanaman hias pada umumnya, kemuning juga perlu disiram dan dipupuk sesuai kebutuhan. Dengan demikian tanaman akan hidup sehat, dan akan selalu berbunga.
Perbanyakan kemuning dapat dilakukan dengan stek batang, pencangkokan, atau dengan bijinya. Ambil biji-biji yang tua, lalu semaikan dalam polybag. Setelah tumbuh sekitar 30 – 50 cm, bibit kemuning dapat ditanam sebagai tanaman pagar.
3. Melati
Dari sekitar 200 jenis melati yang diketahui, baru sekitar 15 jenis saja yang telah dibudidayakan. Tanaman melati (Jasminum sambac) punya banyak manfaat, misalnya sebagai bunga tabur, tanaman hias pekarangan dan pot, bunga taman, industri parfum, dan pengobatan tradisional. Melati termasuk tanaman setahun yang berbentuk perdu tegak atau merambat.
Melati dapat tumbuh sampai ketinggian 2,5 meter, dengan sistem perakaran serabut yang menyebar di dalam tanah.
Bunga tumbuh di atas tunas, berbentuk tunggal atau berkelompok, dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam. Setiap tangkai bunga terdiri atas 3 – 15 kuntum bunga bergantung jenis melatinya. Bunga mengeluarkan aroma wangi, sehingga sering dijadikan bahan pewangi rambut, parfum atau minyak, yang diperoleh dengan cara penyulingan.
Perbanyakan tanaman melati dapat dilakukan dengan cara stek, rundukan, atau cangkokan. Dengan ketiga cara ini, bibit akan tumbuh dan berkembang menjadi tanaman baru yang sifatnya sama dengan induknya.
Tanaman melati mengandung zat-zat bensil, indol, dan livalilasetat. Oleh sebab itu tanaman melati dapat digunakan untuk beragam pengobatan, seperti:
Melegakan sesak napas
Ambil 10 lembar daun melati, lantas rebus ke dalam 3 gelas air sampai mendidih. Sisakan 2 gelas. Bila sudah dingin, saring air rebusan, lalu tambahkan sedikit garam. Minum 2 kali sehari, pagi dan sore.
Menghilangkan bengkak akibat sengatan lebah
Ambil segenggam bunga melati, lalu remas-remas sampai halus. Tempelkan pada bagian yang tersengat lebah.
Mengurangi produksi ASI
Sediakan segenggam daun melati, lalu tumbuk sampai halus. Tempelkan hasil tumbukan di seputar payudara setiap pagi sebelum mandi.
4. Soka
Tanaman soka (Ixora spp) termasuk jenis tanaman perdu tegak, dengan tinggi sekitar 2 – 4 meter. Ada beberapa jenis soka yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pagar, antara lain:
Ixora paludosa, jenis soka yang paling banyak ditanam di Indonesia, berupa tanaman perdu, berbunga putih.
Ixora javanica berupa tanaman perdu berbunga merah.
Ixora finlaysoniana berupa pohon kecil, bunganya berwarna putih.
Perbanyakan tanaman soka dapat dilakukan dengan cara stek, pencangkokan, atau dengan peremajaan yang tumbuh sekitar pangkal batang.
Sumber : Tabloid Nova

TANAMAN PEMURNI UDARA

Para pecinta aglaonema kemungkinan akan jatuh cinta juga pada flora ini.Dieffenbachia namanya. Berdaun hijau dan lebar, dengan corak putih atau kekuningan. Coraknya bisa berbentuk bintik besar atau kecil, garis, atau splash warna.
Dieffenbachia bisa tumbuh hingga lebih dari satu meter. Panjang daunnya bisa mencapai hampir 50cm, dengan lebar kurang lebih 30cm. Daun lebarnya ini menjadi alasan flora ini dinobatkan sebagai salah satu tanaman peneduh.
Menanam dan merawatnya mudah. Penyiraman pun tak perlu sering dilakukan. Pasalnya, media tanam yang terlalu basah, justru akan menimbulkan kebusukan pada akar. Selain itu, Dieffenbachia juga menyukai tempat teduh. Jadi, tak masalah jika ingin menjadikannya sebagai tanaman indoor.
Masih ada satu lagi kelebihan dari flora tropis asal Amerika Selatan ini. DaunDieffenbachia mampu menyerap racun di udara. Menempatkannya dalam ruangan, selain mempercantik ruang, juga membersihkan udara. Menanamnya di halaman, bisa ikut membantu mengurangi gas polutan di sekitar rumah.
Sumber : Properti Kompas.com

HELICONIA YANG SEJUK DAN SEGAR

HELICONIA sp dapat ditanam di sepanjang dinding tembok pembatas lahan. Tanaman ini dapat “mengubah” tampilan tembok yang polos dan kaku itu menjadi tembok yang hijau dan sejuk di mata.
Sebagai tanaman perdu, Heliconia sp memiliki bentuk mirip pohon pisang. Batang nya berpelepah, dan daunnya pun tak ubahnya pisang. Pola hidupnya pun sama. Tumbuh berkelompok dan rimbun. Olehkarenanya, orang pun menyebut Heliconia sp sebagai tanaman pisang-pisangan.
Salah satu keistimewaan Heliconia sp adalah mudah tumbuh dan minim perawatan. Daunnya yang hijau dan bunganya yang oranye dapat mengkamuflase tampilan dinding tembok yang polos. Agar tumbuh subur dan fungsinya maksimal, beberapa hal berikut patut diperhatikan ketika menanam Heliconia sp.
Carilah bibit unggul. Pilihlah heliconia yang masih muda, pelepahnya segar, dan siap berbunga. Untuk memastikan kualitasnya, Anda bisa menanyakan langsung pada penjual.
Persiapkan media tanam. Siapkan tanah gembur dan kaya unsur hara sebagai media tanam. Tambahkan pupuk kandang dan kompos jika perlu. Jangan lupa juga berikan obat anti hama dan anti serangga secara berkala sesuai aturan pakainya.
Lokasi penanaman. Pisang-pisangan tidak cocok ditanam di dalam pot. Ia lebih cocok ditanam secara berkelompok di lahan yang cukup luas. Perhatikan juga intensitas cahaya. Tanaman ini membutuhkan cahaya agar tumbuh subur.
Lakukan pemupukan. Pupuk secara berkala agar daunnya rimbun dan bunganya segar.
Kenali hama pengganggu. Seperti tanaman lain, Heliconia sp juga disenangi hama. Untuk mencegahnya, semprotkan cairan pembasmi jamur, serangga, dan bakteri sesuai aturan pakainya.
Awasi perkembangbiakannya. Pisang-pisangan cepat berkembang biak. Jika terlalu rimbun, lakukan penjarangan. Pindahkan atau buang tunas baru jika populasi tanaman terlalu padat.
Sumber : Properti Kompas.com

KEMBANG BOKOR YANG CANTIK

Bunga “lawas” ini masa jayanya memang di era tahun 80-an. Namun tidak tahu jika Anda ingin menghadirkannya sebagai penghias taman saat ini. Bagaimana kiat pemeliharaannya? Simak ulasan berikut ini.
Kembang bokor atau hortensia atau Hydrangea macrophylla adalah bunga yang sangat elok. Kuntum-kuntumnya yang mekar tumbuh saling merapat, bergerombol membentuk cluster, menyerupai sarang lebah. Warnanya sangat memikat, ada hijau muda, biru keunguan, merah muda cerah, sampai merah lembayung.
Tanaman ini banyak digunakan sebagai penghias taman, utamanya di daerah yang berhawa sejuk seperti Bogor, Bandung, Puncak, atau Lembang. Selain itu, kembang bokor juga banyak digunakan sebagai elemen taman dalam ruang, pada acara-acara seminar atau pameran.
Negeri Oriental
Kembang bokor yang termasuk keluarga Hydrangeaceae ini berasal dari negeri yang berhawa sejuk. Tepatnya dari daratan Cina, Jepang, dan pegunungan Himalaya. Dari sana, kembang bokor dibawa menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Dalam penyebarannya, kembang bokor yang bisa diperbanyak dengan cara stek batang atau cangkok ini ternyata mengalami perkembangan (baca: kemajuan). Bunganya menjadi lebih besar dan warna serta bentuknya pun semakin bervariasi.
Humus Murni dan Kelembaban Tinggi
Kembang bokor adalah tumbuhan semak yang batangnya berkayu. Tinggi tanamannya hanya berkisar di angka 50 cm. Helaian daunnya berbentuk bulat panjang atau bulat telur, dan pada beberapa varietas, tepian daunnya bergerigi.
Kembang bokor sebenarnya termasuk tanaman yang gampang tumbuh. Di tempat yang sesuai, ia akan tumbuh dengan baik. Bahkan di tempat yang kurang sesuai pun, ia masih mau tumbuh, meski tanamannya menjadi tidak terlalu besar dan bunganya malas muncul.
Sebagian orang sering mengeluhkan bawa kembang bokor yang dibelinya, tidak mau hidup lama—paling hanya 5 bulan. Malah ada yang sudah membeli berulang-ulang karena penasaran, tetapi hasilnya sama saja, si kembang bokor tak pernah bertahan lama.
Alasan paling sederhana yang bisa menjelaskan permasalahan ini adalah tempat tumbuh kembang bokor yang kurang sesuai. Seperti sudah diceritakan di awal tadi, kembang bokor adalah tanaman yang berasal dari daerah berhawa sejuk dan memiliki tingkat kelembaban tinggi. Karena itu, tempat hidup paling pas bagi si biru jelita ini adalah daerah berhawa sejuk. Kurang dari ini, si kembang bokor masih mau hidup—bahkan bisa tumbuh subur—hanya saja bunganya malas muncul. Jika Anda kebetulan tinggal di daerah yang kurang sejuk, jangan berkecil hati, ada beberapa perlakuan yang bisa membuat si kembang bokor tetap hidup.
Yang pertama, tempatkan si kembang bokor di lokasi yang terkena sinar matahari penuh, tetapi hanya sinar matahari pagi (maksimal sampai jam 10.00). Kemudian, tanam si kembang bokor pada media yang benar-benar subur, misalnya humus murni yang berasal dari sisa-sisa tanaman. Kembang bokor menyukai struktur media yang poros/beremah tetapi bisa mengikat air dengan baik.
Untuk penyiraman, karena kembang bokor berasal dari daerah yang memiliki tingkat kelembaban tinggi, tanaman ini menghendaki pasokan air yang teratur dalam jumlah yang cukup. Jangan menyiram terlalu berlebihan karena bisa menyebabkan tanaman busuk.
Pemupukan
Meski medianya sudah humus murni, si kembang bokor ternyata masih memerlukan pupuk agar pembungaannya bisa sempurna. Secara rutin, dalam jangka waktu dua minggu sekali, pupuklah si kembang bokor menggunakan pupuk yang tinggi kandungan Phospor/P-nya. Atau jika tidak ada, boleh juga diganti dengan pupuk NPK.
Pupuk kandang dari kotoran kambing atau domba (yang juga tinggi kandungan P-nya) bagus juga digunakan sebagai alternatif pupuk organik, menggantikan pupuk kimia. Gejala kekurangan unsur hara—tanda bahwa tanaman sudah harus dipupuk—yang sering ditunjukkan oleh si kembang bokor adalah munculnya warna kekuningan di sela-sela tulang daun.
Menyulap Warna Kembang Bokor
Warna bunga kembang bokor dipengaruhi oleh unsur aluminium. Aluminium inilah yang mempengaruhi pigmen warna bunga si kembang bokor menjadi biru. Ketersediaan unsur aluminium tergantung dari kadar keasaman tanahnya.
Pada tanah asam—dengan pH kurang dari 5,5—aluminium mudah diserap oleh tanaman karena tersedia dalam bentuk unsur bebas/tidak berikatan dengan senyawa kapur (Ca) dalam tanah. Kembang bokor yang ditanam pada tanah jenis ini akan menghasilkan bunga berwarna biru. Pada tanah dengan pH 5,5 – 6,5 unsur aluminium agak sulit diserap oleh tanaman, karena sebagian sudah membentuk ikatan dengan senyawa kapur di dalam tanah. Pada tanah demikian, si kembang bokor akan menghasilkan bunga berwarna lembayung muda (keunguan).
Dan pada tanah basa dengan pH 7 atau lebih, unsur aluminium akan diikat erat oleh kapur, sehingga tidak bisa diserap oleh si kembang bokor. Kembang bokor yang ditanam pada tanah semacam ini akan menghasilkan bunga berwarna merah muda.
Tanah yang kita miliki di Indonesia kebanyakan bersifat asam. Karena itu, kembang bokor yang kita temui seringkali berwarna biru hingga lembayung. Ada sedikit trik yang bisa dicoba jika Anda ingin menyulap warna si kembang bokor menjadi merah muda.
Seperti sudah dijelaskan, warna merah muda akan timbul bila tanah bersifat basa. Untuk memperoleh tanah yang bersifat basa, Anda harus menaikkan pH tanah. Caranya adalah dengan menggunakan kapur pertanian atau dolomit. Dosis yang bisa digunakan adalah 0,5 – 1 kg dolomit/meter persegi tanah. Atau bisa juga dengan menyiramkan larutan kapur tembok yang dicampur/dilarutkan dalam air, dengan konsentrasi 50 gram kapur per liter air/meter persegi tanah.
Biasanya dosis di atas bisa menaikkan pH tanah sebanyak 0,5 – 1. Satu hal yang perlu diingat, penaikan pH ini tidak boleh dilakukan dengan serta merta. Dalam rentang waktu seminggu, Anda hanya boleh memberikan perlakuan sekali. Jika Anda paksakan, alih-alih menjadi merah muda, tanaman malahan mati.
Sumber : Tabloidrumah.com

Bunga Balsam, Warna Memikat Sarat Manfaat

Warna-warna cantik menjadi ciri khas tanaman asli Asia ini. Ciri khas lainnya, tanaman ini mudah tumbuh dan tidak rewel. Selain itu beberapa bagian tanamannya bisa dipakai sebagai obat P3K.
Di dunia, tanaman Impatiens balsamina Linn. dikenal sebagai bunga balsam. Di Indonesia lebih dikenal dengan nama bunga pacar air. Memiliki bunga dengan beragam warna, semisal merah muda, merah, putih, oranye, peach, atau salem. Sepintas, bentuk bunganya mirip anggrek dalam ukuran kecil dengan daun yang bergerigi.
Impatiens cukup populer sebagai tanaman hias dan banyak dijumpai di dataran tinggi, misalnya Puncak, Jawa Barat. Tingginya mencapai 30-80 centimeter. Setiap daerah di Indonesia memiliki nama lain untuk pacar air ini. Di Minangkabau (Sumatera Barat), pacar air dikenal dengan nama paruinai. Pacar cai (Sunda), kimhong (Jakarta), pacar banyu (Jawa), pacar foya (Bali), dan bunga jebelu (Halmahera Selatan).
Tanaman ini menyukai tempat teduh dan air. “Jadi, kalau rumah Anda banyak terkena sinar matahari, letakkan tanaman pacar air di bawah pohon,” papar Ida Widaningsih, General Manager PT Bina Usaha Flora. Meski warna bunganya banyak, pacar air tak bagus dipakai untuk landscape. “Biasanya bagus digantung atau diletakkan di pot. Mungkin karena senang di tempat teduh untuk landscape jadi kurang bagus.”
Meski Impatiens lokal pun ada di Indonesia, para pengusaha bunga masih mengimpor bibitnya dari luar negeri. “Bunga ini kan biasanya tumbuh di pinggir sungai. Tanaman yang lokal lebih tinggi, bunganya kecil, ruas batangnya kekar. Dan warna bunga tidak sebanyak dibanding bibit dari luar dengan warna yang beragam,” ujar Ida.
Media tanam untuk tanaman ini tidak sulit. Pakai saja campuran tanah, kompos, sekam atau tanah, cocopeat. “Boleh juga memakai pupuk kandang.” Meskipun tergolong bukan tanaman rewel, ada satu musuh utamanya, yaitu hama. Begitu terkena hama, tanaman akan langsung busuk. Jadi, awasi tanaman pacar air Anda dari segalahama pengganggu.

Topiari, Seni Pangkas Eropa Kuno

Kira-kira sepuluh atau lima belas tahun lalu, tanaman pangkas bisa dijumpai hampir di tiap halaman rumah. Tinggi atau rendah, rata-rata tanaman yang dibentuk bulat di masa itu, dikenal sebagai tanaman pangkas.
Sekarang pun tanaman pangkas masih digemari. Di sentra tanaman hias kini banyak ditawarkan tanaman pangkas yang dibentuk mirip hewan seperti rusa dan kelinci. Ada juga yang bersosok tanaman “biasa” setinggi 1 – 1,5 m, dengan beberapa cabang dan daun-daun di cabang tersebut sengaja dibentuk sebagai bulatan-bulatan yang ukurannya sama atau bervariasi. Tentu saja tanaman hias pangkas seperti ini punya daya pikat tersendiri, karena kehadirannya dalam sebuah taman bisa berfungsi sebagai point of interest.
Banyak pedagang tanaman hias yang menyebut tanaman pangkas ini sebagai “bonsai”. Padahal, bonsai bukan istilah yang tepat bagi tanaman yang sengaja dipangkas untuk memperoleh suatu bentuk tertentu.Yang disebut bonsai adalah tanaman yang dihambat pertumbuhannya sehingga tetap kerdil di usia dewasa. Selama pertumbuhannya, tanaman bonsai sengaja dipangkas atau dibentuk khusus, dan umumnya selalu ditempatkan dalam sebuah wadah, sejak masih berusia muda.
Sebenarnya yang kita kenal sebagai tanaman pangkas, dalam istilah gardening dari Inggris sono, dikenal dengan sebutan topiary. Ini merupakan seni memperindah tanaman (dengan sengaja dipangkas atau dibentuk) yang diadaptasi dari tanaman hias pada taman gaya geometris Eropa di jaman Renaissance. Di jaman tersebut taman-taman istana para raja dan bangsawan Eropa hampir seluruhnya ditata secara geometris. Contoh taman geometris yang sampai sekarang masih dilestarikan bahkan dijadikan obyek wisata adalah taman Istana Versailles di Perancis yang diwujudkan oleh Raja Louis XIV.
Jika kita menyusuri taman tersebut, tanaman di sebelah kiri dan kanan kita terdiri dari jenis tanaman yang sama dan dipangkas rapi dengan bentuk yang sama pula. Ada yang berbentuk bulat, kerucut, prisma, atau segi empat (kubus). Border atau tanaman pembatasnya pun dipangkas rapi dengan bentuk-bentuk tertentu. Prinsip taman gaya geometris ini mengacu pada keteraturan yang simetris.
Seperti halnya mode dalam dunia fashion yang terus “berputar”, gaya tanaman pangkas Eropa abad XIV kembali disukai dan kini mulai dihadirkan di Indonesia.
Di alam ini ada jenis tanaman yang memiliki pesona arsitektural yang menawan, baik saat ia masih muda, maupun setelah ia tumbuh menua. Tanaman tersebut antara lain kamboja, flamboyan, palem, cemara, dan yuka.
Tetapi ada pula tanaman yang setelah melewati usia pertumbuhan tertentu, keindahan struktur aslinya akan memudar, bahkan tampilannya makin berantakan. Jenis-jenis tanaman ini, terutama yang memiliki banyak cabang dan ranting berdaun kecil-kecil, lebat, dan rapat, sangat cocok bila dibuat topiari. Contoh tanaman seperti ini adalah teh-tehan, ficus (beringin), mirten, jeruk kingkit, sianto, bogenvil, cemara, bambu, azalea, soka, kemuning, cendrawasih, dan gardenia.
Baik menggunakan jenis tanaman berbunga ataupun tidak berbunga, topiari perlu memperoleh cukup sinar matahari. Sinar matahari pagi (hingga pukul 11.00) akan membuat topiari tumbuh subur, daun-daunnya hijau mengilat, rimbun, dan rajin berbunga.
Bila Anda memakai jenis tanaman tidak berbunga, topiari boleh ditempatkan di teras atau di bawah teritisan. Pastikan bahwa untuk satu – dua jam, tanaman tersentuh sinar matahari pagi, atau seminggu penuh dipindahkan ke lokasi lain yang mendapat sinar matahari. Bila terlalu lama di tempat teduh, topiari akan tumbuh tidak sempurna dan mudah diserbu oleh kutu-kutu putih, yang merusak pucuk-pucuk tanaman dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan atau mematikan pucuk-pucuk tanaman.
Tanaman topiari yang ditanam dalam pot besar, sebenarnya tidak memerlukan media tanam yang jumlahnya sama dengan volume pot. Sepertiga hingga sebagian pot bisa diisi dengan batu karang atau batu apung. Selain membuat struktur poros pada media, kedua jenis batu tersebut ringan, sehingga memudahkan pot berisi tanaman dipindahkan atau digeser ke lokasi lain.
Perhatikan bahwa pada dasar pot harus terdapat lubang-lubang yang cukup banyak agar kelebihan air penyiraman bisa mengalir keluar dengan sempurna. Dan jangan lupa mengganjal pot tanaman topiari dengan batu bata atau batako, agar pot tidak langsung menempel di tanah. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah kelebihan air siraman menggenangi pot.
Topiari harus disiram sesuai kebutuhan. Dua kali sehari bila di tempatnya topiari memperoleh curah sinar matahari dari pagi hingga lewat tengah hari. Atau cukup satu kali di sore hari bila topiary hanya memperoleh curah matahari pagi selama 1 – 2 jam saja.
Jadwalkan pemangkasan secara rutin (setiap 2 – 3 bulan) agar bentuk tanaman selalu stabil. Selain itu sesekali perlu dilakukan penggemburan media tanah. Untuk pemupukan, gunakan pupuk yang kandungan N (natrium) dan K (kalium) lebih tinggi dari pada unsur P (phospor) untuk merangsang kesehatan akar dan daun.
Bila terlihat selaput-selaput putih mirip kapas halus pada dahan, ranting atau daun, semprotkan obat anti–jamur sesuai takaran yang dianjurkan pada kemasan untuk membasmi kutu-kutu putih tersebut.
Sumber : Tabloid Rumah

MENGENAL TANAMAN HIAS – AGLAONEMA

Luar biasa! Hebat! Kata itulah yang pas untuk melukiskan sosok turunan Aglaonema cochinchinense. Dialah mung mee srisuk alias rainamira. Puluhan helai daun bergerombol membentuk tajuk yang kompak. Sekitar 80% permukaan daun berwarna merah merona. Pucuk dihiasi warna kuning dengan tepi daun hijau tua. Pantas ia merebut kampiun saat Kontes Piala Raja di Suan Luang, Bangkok, pada Agustus 2004.
Seorang penggemar di Jakarta yang berkunjung ke sana langsung kepincut begitu melihat panampilannya. Harga sebuah kesenangan memang mahal. Betapa tidak, untuk sebuah pot aglaonema jawara itu ia menebusnya Rp 60-juta, setara dengan harga rumah BTN tipe 21 di pinggiran Jakarata. Itulah Aglaonema asal Thailand yang masuk ke Indonesia.
Namun, bukan berarti itu harga yang paling mahal. Ada yang luar biasa lagi, Adelia berdaun cuma 10 lembar dihargai Rp 100-juta alias Rp 10-juta per helai daun 7 tahun silam. Aglaonema mewah itu memang spektakuler. Tidak hanya harganya menggapai langit, tetapi pola warnanya juga unik pada waktu itu, bermotif batik. Itulah motif batik pertama pada Aglaonema. Setelah itu menyusul pola warna serupa dengan nama tiara, shinta, juwita, raina, sexy pink, hot lady, dan srikandi.

A. Warisan Kekayaan Alam
Warisan kekayaan alam yang berharga selangit itu memang menggiurkan. Namun, itu semua adalah karya rekayasa para penyilang. Di alam, tentu saja tidak ditemukan pola warna aglaonema serupa adelia atau rainanmira.
Tanaman hias yang juga berjuluk chinese evergreen itu berasal dari Asia Tenggara. Disebut demikian karena daunnya senantiasa hijau. Panggilan itu kini tampaknya sudah tidak cocok lagi setelah bermunculan aglaonema hibrida berdaun merah menyala atau jingga. Aglaonema yang semula berwarna putih hijau kini sudah berubah menjadi aneka variasi warna. Pionir perubahan itu di dunia adalah Gregori Garnadi Hambali, penyilang aglaonema asal Bogor, Indonesia. Ia mencoba menyilangkan Aglaonema commutatum ‘tricolor’ xAglaonema rotundum, hasilnya pride of Sumatera yang berwarna hijau dengan tulang merah. Di balik daun merah ungu.
Di alam, aglaonema di jumpai di hutan-hutan di bawah pohon, tidak terkena sinar matahari langsung. Tanah tempat tumbuhnya tidak tergenang air. Berdasarkan sebarannya, terbukti aglaonema tahan terhadap perbedaan kelembapan. Ia tumbuh baik di tempat dengan kelambapan rendah maupun tinggi.
Hibrida aglaonema sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sumber penyebaran itu ada di kawasan tropis, terutama di kawasan Asia Tenggara. Dari semua spesies itu yang paling populer di Indonesia saat ini ialah Aglaonema rotundum dan Aglaonema commutatum. Kedua spesies itulah yang kerap kali dibuat sebagai induk untuk menghasilkan hibrida lain. Kedua spesies itu ternyata ada di Indonesia.

B. Penghias Rumah
Kini penghias hutan alam itu pindah ke halaman rumah. Semua berkat jasa para penyilang yang dibantu penyebarannya oleh nurseri-nurseri di berbagai Negara. Bila dahulu hanya Aglaonema hijau seperti sitipon, golden fantasi, dan milkyway yang menghiasi rumah. Kini yang merah pun sudah mulai mewabah, seperti donna Carmen, pride of Sumatera, dan lady valentine.
Demikian juga nurseri tanaman hias, hampir seluruhnya memajang beberapa pot aglaonema. Tidak hanya di pulau Jawa, tetapi merambah berbagai kota besar di Sumatera, dan sejumlah kecil di Indonesia Timur. Aglaonema yang dijajakan pun bermacam-macam. Tidak hanya donna carmen dan pride of sumatera, tetapi juga kelas standar, misalnya lady valentine, butterfly, dan snow white yang harganya tergolong menengah, berkisar Rp 100.000 – Rp 300.000. Bahkan ada yang berani memajang red coccin dan dud unyamanee yang masih berharga Rp 500.000 untuk anakan berdaun 3-4 lembar. Nurseri kelas eklusif menambahkan beberapa jenis tiara, madam soeroyo, JT 2000, atau Widuri yang lebih mahal lagi.
Bukan tanpa alasan bila anggota famili Araceae itu naik daun. Aglaonema mudah dirawat dan sebagai tanaman indoor paling pas. Sang ratu daun memang tidak rewel. Tahan di simpan dalam ruangan selama 1 minggu tanpa dikeluarkan. Lagipula dengan motif indah, ia enak dipandang meski tanpa bunga.

Jenis-Jenis Sansevieria

1. Sansevieria Aethiopica

Daunnya cukup panjang tetapi sempit.Ketebalannya mencapi 2 – 5 mm sehingga daun tampak kaku.Cross bandingberwarna perak krotras dengan daun yang hijau tua. Daunnya tumbuh langsung dari rimpang yang tebal. Dulu disebut S. scabrifolia. Banyak penggemar yang keliru menyebutkan S. fischeri dengan S. aetiopia.

Bentuk daun : Lanset atau menombak.
Ukuran Daun : Panjang 45 cm, Lebar 15 – 20 mm
Warna : Hijau perak dengan tepi kemerahan.
Tangkai bunga : 40 – 65 cm.
Habitat : Afrika Selatan (Zimbabwe, Bostswana, Namibia, dan Afrika Selatan.
Ciri Khas : Tepi daun kemerahan, rizhome (nimpang) besar, dan ujung daun mengering.
2. Sansevieria Arborescens

Batang sansevieria ini setinggi 60 – 200 cm dan diameter 2 – 3 cm. Di situlah daunya melekat secar rapat. Daunnya hijau hampir polos, tebal, dengan tepi berbris merah. Meski agak melengkung, ia tetap dianggap datar. Sosoknya mirip denganS.bagamoyensis atau dracaena.

Bentuk daun : Datar dengan ujung meruncing.
Ukuran daun : Panjang 30 – 50 cm, Lebar 2 – 3 cm.
Warna : Hijau.
Habitat : Kenya.
Ciri Khas : Susunan daun rapat dan berbatang.
3. Sansevieria Aubrytiana
Sansevieria ini memiliki corak mirip masoniana totol hijau. Bedanya bentuk daun jenis ini lebih panjang dan sempit. Ujung agak meruncing. Jumlah daun mencapai sepuluh atau lebih. yang paling dikenal ‘Tiger Stripe’.

Bentuk daun : Oval dengan ujung runcing.
Ukuran daun : Panjang 30 – 70 cm, Lebar 5 – 7 cm.
Warna : Hijau tua, berulik putih keperakan.
Tangkai bunga : 30 – 80 cm.
Ciri khas : Daun hijau runcing dan berulik.

4.Sansevieria Bagamoyensis

Sosok sanseviera ini agak berbeda dengan jenis lain karena memiliki batang setinggi 30 cm atau lebih.Daun-daunya tersusun rapi mengelilingi batang secara spiral. Sekilas mirip agave atau dracaena karena daun sempit, kaku, dengan ujung runsing. Sosoknya mirip S. arborescens.

Bentuk daun : Tipis dan panjang dengan ujung runcing.
Ukuran Daun : 15-30 cm.
Warna : Hijau cerah.
Habitat : Bagamoyo.
Ciri Khas : Batang tinggi, daun tersusun datar dan menempel dibatang.
5. Sansevieria Ballyi

Tanaman yang ditemukan Peter Bally (Swiss) ini bersosok menarik. Batang pendek dan tertutup oleh daun nan padat. Panjang 20 cm, hijau gelap, dengan cross banding warna perak. Anaknya tumbuh lewat stolon yang memanjang hingga 20 cm. Sosoknya mirip S. “Minnie” dan S.gracilisVar Humbertiana.

Bentuk daun : Pendek dengan ujung meruncing, tersusun rapat seperti dompolan.
Ukuran daun : Panjang 5 – 20 cm
Warna : Hijau gelap dengan cross bandinghijau keperakan.
Tangkai bunga : 5 cm.
Habitat : Kiviko Hill, Tsavo Nasional Park, Kenya.
Ciri khas : Daun tersusun rapat dan muncul stolon panjang yang membentuk anakan baru. 

6. Sansevieria ‘Bandipur’


Daun tinggi dan tanpa batang, melengkung kebelakang, mempunyai saluran yang jelas, tetapi tidak sampai diujung karena ujung daun membulat. Daun hijau muda dengancross banding hijau gelap.

Bentuk daun : Tipis dan panjang dengan ujung runcing.
Ukuran Daun : Panjang 90 cm dan lebar 2 cm.
Warna : Hijau muda dengan cross bandinghijau.
Habitat : Bandipura, India.
Ciri Khas : Daun membulat dengan saluran yang dalam tapi tidak sampai ujung.



7. Sansevieria ‘Black Brazilian’
Sosok daun menyerupai Sansevieria Trifasciata. Namun, warnanya yang gelap menjadi pembeda. Asal – muasal Sansevieria ini juga belum dikenal. Hanya diketahui bahwa Sansevieria itu didatangkan dari Brazil.
Bentuk daun : Pipih dan Panjang.
Ukuran daun : Panjang 150 cm, Lebar 4 – 6 cm.
Warna : Hijau hitam.
Habitat : Brazil.




8.Sansevieria Burdettii
Sansevieria ini tidak berbatang. Daunnya bulat, tebal, tanpa saluran atau channel. Ia berbeda dengan sansevieria bulat lain karena tidak mempunyai cross banding.
Bentuk daun : Datar dengan ujung meruncing.
Ukuran Daun : Panjang 90 cm, Lebar 2,5 – 3 cm.
Warna : Hijau.
Tangkai bunga : 15 – 25 cm.
Habitat : Malawi, Afrika
Ciri Khas : Daun bulat dengan ujung runcing tanpa cross banding.













9. Sansevieria Caulescens
Sosok mirip dengan Cylindrica dan Gracilis. Tinggi mencapai 1 m, sedangkan Cylindrica dan Gracilis tidak.
Bentuk daun : Bulat panjang dengan ujung runcing.
Ukuran daun : Panjang 45 – 90 cm, lebar 2,5 cm.
Warna : Hijau.
Tangkai bunga : 60 cm.
Habitat : Afrika timur.


10. Sansevieria Canaliculata
Salah satu jenis yang tumbuh meninggi mencapai 60 cm dan tumbuh monopodial (tunggal). Daun bulat dan ujung meruncing. Selain jenis tinggi, juga dijumpai sosok pendek, hanya 30 – 40 cm sehingga disebut S. Canaliculata ‘Dwarf.

Bentuk daun : Bulat panjang dengan ujung runcing.
Ukuran daun : Tinggi 60 cm, diameter 2 cm.
Warna : Hijau.
Tangkai bunga : 10 cm.
Habitat : Somalia dan Madagaskar.(Dwarf).
Ciri khas : Daun panjang dengan ujung runcing dan melengkung. Alur memanjang tanpa cross banding.

Tillandsia, Semua Orang Jatuh Cinta Padanya

Rumah di Taman Cibaduyut Indah itu ibarat rumah kedua Jimmy Hans Darmawan. Hampir setiap akhir pekan ia menyambangi hunian di kawasan sentra industri sepatu di Bandung itu. Di sanalah ia melepaskan penat dengan merawat 120 jenis tillandsia. Sambil memegang selang yang terhubung pada kran, satu per satu koleksi disambangi. Begitu melihat ada tanaman kering, Jimmy langsung menyemprot dengan air berdebit rendah. Daun-daun tua digunting dengan hati-hati. Rutinitas sejak 1993 itu tak pernah membuat ia bosan. ‘Aktivitas seperti itu justru mengurangi stres,’ katanya.
Jimmy tak perlu lahan luas untuk menyimpan seluruh klangenannya. Anggota famili Bromeliaceae itu diikatkan pada papan pakis dan centong kayu. Untuk tillandsia berukuran jumbo ditanam dalam pot. Jimmy menata seluruh koleksinya di permukaan ram kawat yang dipasang di dinding garasi. Ada juga yang digantung di selasar rumah. Luasannya tak lebih dari 20 m2.

Tanaman udara
Jimmy mestinya bisa menikmati keunikan tillandsia tanpa harus bolak-balik ke Cibaduyut. Namun, kerabat nanas itu merana saat dipindah ke rumah barunya di kawasan Mekarwangi, sekitar 30 menit dari lokasi rumah lama. ‘Daun banyak yang kering. Mungkin kondisi suhu di rumah baru saya terlalu panas,’ kata karyawan sebuah pabrik tas itu. Akhirnya Jimmy terpaksa ‘berpisah’ dengan ratusan koleksinya itu. Tanaman itu disimpan di rumah lama.

Beruntung tillandsia tak perlu perawatan intensif. Meski hanya ‘dijenguk’ setiap akhir pekan, tanaman udara itu tumbuh subur. Bahkan beberapa di antaranya memamerkan bunga. Menyaksikan bunga tillandsia pemandangan langka karena bunga muncul sekali dalam hidupnya. ‘Ada yang baru berbunga setelah 7 tahun saya rawat,’ ujar pria berkacamata itu.
Berbagai keunikan itulah yang membuat Jimmy kepincut mengoleksi tillandsia. Begitu pertama kali melihatnya di kediaman seorang rekan, ia langsung terkagum-kagum karena tanaman itu ditanam dalam pot tanpa media. Tillandsia menyerap nutrisi dari daun dan akar. Itulah sebabnya ia kerap dijuluki air plant-tanaman udara.
Sosoknya juga menarik. Ada yang daunnya roset dan menjuntai bagaikan pita, ada juga yang seperti duri. Beberapa di antaranya berdaun melintir membentuk spiral. Dari rekannya itu Jimmy membeli koleksi perdananya dengan harga Rp350.000.
Langka
Sejak itulah Jimmy mulai berburu tillandsia. Nurseri Venita di kawasan Lembang menjadi lokasi perburuan favorit. ‘Setiap kali ada jenis baru, Jimmy orang pertama yang dihubungi,’ ujar Erminus Temmy dari Venita.
Kini beberapa jenis langka juga hadir di halaman rumah Jimmy. Salah satunya Tillandsia streptophylla. Jenis itu masih jarang ditemukan di tanahair. Ujung daunnya keriting. Karena itulah diberi nama Streptophylla-berasal dari bahasa Yunani yaitu streptos yang berarti melintir dan phyllus, artinya daun. Tanaman yang pertama kali ditemukan Scheidweller pada 1836 itu juga kerap dijuluki tillandsia shirley temple, aktris cilik Hollywood era 1970-an yang berambut ikal.
T. streptophylla tergolong tillandsia berukuran jumbo. Panjang daun tanaman dewasa minimal 18 cm. Tinggi tanaman bisa mencapai 60 cm. Sedangkan jenis lain rata-rata panjang daunnya hanya 5-7 cm.
Jenis langka lain yang dikoleksi Jimmy adalah Tillandsia xerographica. Tanaman asal El Savador, Meksiko itu juga tergolong tillandsia bongsor. Sosoknya menarik karena berdaun tipis dan pertumbuhannya roset hingga berdiameter 90 cm. Warna daun hijau berbalut keperakan. Namun, untuk merawatnya perlu kesabaran. Tanaman yang hidup di ketinggian 600-1.800 m dpl itu pertumbuhannya lamban. Sejak dibeli pada 2006, ukurannya tidak bertambah. Jimmy juga mengoleksi hasil silangan antara T. brachycaulos dan T. ionantha serta T. butzii dan T. caputmedusae.
Greenhouse Rp8-juta
Yang juga keranjingan mengoleksi tillandsia adalah Lusanto Tedja. Pria 29 tahun itu baru 6 bulan silam mengumpulkan aneka jenis tanaman asal Amerika Tengah dan Selatan itu. ‘Tillandsia perawatannya mudah. Jadi saya tak khawatir kalau sedang bepergian,’ ujar pemuda yang hobi travelling itu. Pengusaha konveksi di Bandung itu menggantung ke-40 jenis tillandsia koleksinya pada cabang pohon cemara udang.
Nun di Jakarta ada Empi Prasetya yang juga mengoleksi kerabat neoregelia itu. Setiap kali bepergian ke Bandung, Bogor, Semarang, hingga mancanegara-seperti Belanda dan Malaysia-selalu ia sempatkan untuk mencari tanaman epifit itu. Lokasi di daerah panas tak menyurutkan pria 35 tahun itu mengoleksi tillandsia. Maklum, umumnya tanaman itu dibudidayakan di daerah berketinggian di atas 400 m dpl. Pernah suatu kali ia memborong tillandsia dari Malaysia. Baru sepekan di ibukota, daunnya mengering seperti terbakar.
Itulah sebabnya Empi rela mengeluarkan biaya Rp8-juta untuk membuat greenhouse khusus tempat menyimpan 100 jenis koleksinya. Anggota subfamili Tillandsioideae itu disimpan di bawah naungan 2 lapis jaring peneduh berkerapatan 60%. Artinya, sinar matahari yang diterima tanaman hanya 40%.
Untuk menjaga kelembapan, Empi meletakkan ratusan pot tillandsia di permukaan kolam. Saat kemarau tirai jaring peneduh dibuka agar sirkulasi udara lancar. Sedangkan saat hujan tirai ditutup agar suhu panasnya terjaga. Semua itu demi kecintaannya pada tanaman udara. (Imam Wiguna/Peliput: Kiki Rizkika)
http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=1610