Kerang kipas-kipas

KERANG KIPAS-KIPAS
3.1 Kerang Kipas-kipas (Amusium pleuronectes)
Kerang kipas-kipas atau nama latinnya Amusium pleuronectes memiliki bentuk cangkang yang seperti kipas. Klasifikasi Kerang Kipas-Kipas Menurut Linneus (1758) adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Filum               : Mollusca
Kelas               : Bivalvia
Order               : Pterioidea
Famili              : Pectinidae
Sub Famili       : Pectininae
Genus              : Amusium
Spesies            : Amusium pleuronectes
Kerang kipas-kipas memiliki merupakan anggota dari famili Pectinidae. Sebagian besar Petcinidae hidup di perairan laut. Famili ini merupakan hermafrodit. Terdapat lebih dari 30 marga dan sekitar 350 spesies dalam Keluarga Pectinidae.
Karakteristik dan bentuk morfologi kerang kipas- kipas dapat dilihat pada gambar satu berikut ini.
Morfologi dan Anatomi Kerang Kipas-kipas (Amusium pleuronectes)
Kerang kipas-kipas memiliki tempurung kulit yang tipis, umumnya memiliki panjang mencapai 8 cm, lateral dikompresi, bentuk tempurungnya hampir melingkar secara garis besar, kedua katupnya agak cembung, kanan (bawah) katup hanya sedikit lebih meningkat dan besar dibandingkan kiri (atas ) katup. Tubuhnya terdiri atas bagian anterior, posterior, dorsal, dan ventral. Tempurung kulit tersusun atas tiga lapisan yaitu peilostracum (luar), prismatic (tengah), dan nakse (dalam).
Tubuh Kerang Kipas-kipas mengandung zat kapur. Terdapat gigi atau tonjolan pada keping yang satu dan lekukan atau alur pada keping yang lain untuk mempererat sambungan kedua keping cangkang pada pelecypoda.  Mantel pada pelecypoda menutup seluruh tubuh dan terletak di bawah cangkang. Pada tepi mantel terdapat tiga lipatan dalam, lipatan tengah, dan lipatan luar. Lapisan luar berfungsi sebagai penghasil cangkang. Puncak cangkang disebut umbo. Garis-garis disekitar umbo menunjukkan pertumbuhan cangkang.
Sistem reproduksi dari kerang kipas-kipas yaitu Diesious (unisex), terdiri dari dua gonad yang berbentuk banyak percabangan yang dilanjutkan pada sebuah ductus atau posusgenetalia. Kebanyakaan bivalve diocious, kedua gonad menyelubungi usus dan saling berdekatan sehingga keadaan pasangan sulit diketahui saluran gonad sederhana karena tidak ada kopulasi. (Wijarni 1990).
Kerang Kipas-kipas memiliki warna coklat kemerahan pada luar katup kiri, terdapat  nuansa yang berbeda-beda sepanjang tanda pertumbuhan konsentris, dan memiliki garis radial yang lebih gelap dan titik-titik putih kecil di daerah umbo. Interior katup kiri keputihan, sering dengan rona merah muda pada marjin dan daerah pusat, dan bercak berwarna cokelat di bawah engsel (Poutiers JM 1998).
Distribusi Kerang Kipas-kipas (Amusium pleuronectes)
            Habitat dari kerang kipas-kipas yaitu didaerah perairan laut dasar dengan kedalaman 10-80 m (Poutiers JM 1998) dan merupakan hasil tangkap sampingan dari para nelayan. Hidup didaerah beriklim tropis (Poutiers JM 1998).  Adapun daerah penyebarannya menurut FAO yaitu Samudra Hindia bagian timur, didaerah pasifik (northwest), Pasifik Barat bagian tengah. Adapun wilayah penangkapannya menurut informasi yang kami dapatkan dari para nelayan di TPI blanakan yaitu Sumatera, bangka, dan Kalimantan.
Alat Tangkap
            Menurut informasi yang kami peroleh dari para Nelayan di TPI Blanakan Subang, kerang kipas-kipas ditangkap dengan menggunakan alat tangkap cantrang dan jaring arad yang merupakan cantrang dengan ukuran yang kecil. Alat tangkap cantrang masuk dalam klasifikasi pukat kantong. Alat tangkap ini merupakan alat tangkap yang berbentuk seperti kantong yang dioperasikan dengan cara melingkari gerombolan ikan dan ditarik ke kapal menggunakan tenaga manusia (Subani dan Barus 1989). Hasil tangkapan dengan jaring Cantrang pada dasarnya yang tertangkap adalah jenis ikan dasar (demersal) dan udang seperti ikan petek, biji nangka, gulamah, kerapu, sebelah, pari, cucut, gurita, bloso dan macam-macam udang (Subani dan Barus 1989).
Menurut informasi yang kami peroleh dari para nelayan di sana,  dibutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk melaut dan biasanya jumlah nelayan yang beroperasi sebanyak 8-10 orang. Biaya untuk sekali melaut menghabiskan sekitar Rp 20.0000.000,- sampai Rp 25.000.000,-.
Nilai Ekonomis dan Ekologi Kerang Kipas-kipas (Amusium pleuronectes)
Kerang Kipas-kipas merupakan ikan yang dimanfaatkan manusia untuk  konsumsi dan komoditas komersil. Di Pasaran, otot bersama gonad kipas-kipas memiliki nilai jual sekitar Rp 12.000,- per kilogram (wisowati 2008). Dalam ekologi kerang kipas ini sebagai pemakan plankton dengan cara menyaring plankton. Selain itu limbah dari kerang kipas-kipas ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan itik (www.anima.au).
 
Daftar Pustaka
Hoyle. 1885. www.sealifebase.org/summary/SpeciesSummary.php?id=57147
Subani, Waluyo. H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut Di      Indonesia. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Laut.
Aldrich. 1982. http://www.newworldencyclopedia.org/entry

Pancing Tonda – API

PANCING DAN SEJENISNYA
(HOOK AND LINE AND THEIR KINDS)
Pancing Tonda
1.      Definisi dan klasifikasi
            Pancing tonda merupakan alat tangkap ikan tradisional yang bertujuan untuk menangkap ikan-ikan jenis pelagis. Pancing tonda dikelompokan ke dalam alat tangkap pancing (Hook and Line) (Subani dan Barus 1989).
2.      Konstruksi alat penangkapan ikan
            Pancing tonda terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu (1) tali pancing yang terbuat dari polyamide monofilament no.60 dengan panjang antar 50-100 m. (2) mata pancing bisa tunggal atau ganda tetapi ada juga yang memakai mata pancing sebanyak tiga buah yang diikat menjadi satu memakai simpul double sheet band yang berfungsi untuk menjerat ikan. (3) Penggulung tali dari bahan plastik dan kayu waru (4) kili-kili (swivel) yang dipakai agar tali tidak terbelit. Menurut kelompok sepuluh, parameter utama pancing tonda adalah banyaknya mata pancing yang digunakan.
3.      Kelengkapan Alat dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1  Kapal
Alat tangkap pancing tonda dalam pengoperasianya dibantu dengan  menggunakan kapal bermotor. Kapal berfungsi untuk menarik pancing dan membawa hasil tangkapan. Biasanya tiap kapal membawa lebih dari dua buah pancing sekaligus. Adapun dimensi kapal yang digunakan adalah 11,5×2,8×1,2 m (Subani dan Barus, 1989).
3.2  Nelayan
Jumlah nelayan yang diperlukan untuk pengoperasian alat tangkap ini tergantung dari besar kecilnya kapal atau perahu yang digunakan. Untuk perahu berukuran kecil biasnya digunakan tenaga nelayan sebanyak 4-6 orang dengan satu orang sebagai nahkoda yang merangkap menjadi fishing master, satu orang menjadi juru mesin, 2-4 orang ABK (Anak Buah Kapal) yang masing-masing mengoperasikan satu atau lebih pancing tonda sekaligus (Gunarso 1989).
3.3  Alat bantu
      Alat bantu pada alat tangkap ini adalah rumpon dan lampu yang berfungsi untuk mengumpulkan (memikat) ikan agar mendatangi rumpon pada saat malam hari (Gunarso 1989).
3.4  Umpan
      Umpan yang digunakan alam pengoperasian pancing tonda biasanya menggunakan umpan tiruan atau umpan yang biasanaya mengguanakan umpan asli, tetapi ada pula yang menggunakan umpan asli (Subani dan Barus 1989). Umpan alami yang digunakan menyerupai beberapa persyaratan yaitu warna mengkilap, sirip tidak berbulu atau berpunggung kuat, bentuk badan memanjang, masih segar dan mempunyai bau yang khas (anyir).
4.      Metode pengoperasian alat
Pengoprasian pancing tonda diawali denga tahap persiapan. Tahap pesiapan terbagi atas dua hal, yaitu persiapan di darat sepert pengisian dan pengecekan alat tangkap dan pengecekan alat bantu penangkapan. Sedangkan untuk persiapan di laut, hal yang harus diperhatikan adalah pengaturan tali pancing aalah gulungn tali pada posisi yang telah ditentukan agar tali pancing tidak mudah terbelit.
Pengoperasian pancing tonda dimulai dari pagi hari sampai sore hari anatara puku 15.00-17.00. Proses penangkapan diawali dengan scouting pencarian gerakan ikan sebagai tanda bahwa lokasi tersebut terdapat banyak ikan. Setelah itu pancing tonda mulai melakukan pemasangan alat tangkap (setting) dengan mengulur agar tangkap perlahan-lahan ke perairan dan mengikat ujung tali pada salah satu ujung kanan atau kiri perahu dengan jarak tertentu dan kecepatan perahu dinaikkan sekitar 1-2 knot. Setelah setting selesai dilakukan, kecepatan peahu dinaikkan sampai 4 knot dan perahu dijalankan ke arah kumpulan ikan.  Umpan yag berada di sisi kanan dan kiri perahu akan bergerak-gerak seperti ikan mangsa. Saat ikan memakan umpan, laju perahu dipercepat agar ikan yang memakan umpan tersangkut pada kail. Ikan yang tersangkut tersebut kemudian diangkat dan kecepatan perahu mulai diturunkan untuk melakukan setting kembali pada kail yang telah dimakan ikan. Proses tersebut berlangsung secara terus-menerus sampai hasil tangkapan yang didapat dirasa sudah cukup banyak untuk dibawa kedarat.
5.      Daerah pengoperasian
Keberadaan pancing tonda ini tersebar hampir di seluruh peraiaran. Untuk pancing tonda hampir terdapat dimana-mana, seperti di Selat Alas, Muna-Buton, dan Jawa Tengah (Tayu, Pati) (Subani dan Barus 1989)
6.      Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan utama pancing tarik adalah ikan tongkol (Auxis sp.), ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), ikan tenggiri (Scomberomorus spp.), Pari (Dahsyatis sp.), cucut botol (carcharinus sp.), madidihang (Thunnus albacora), tuna mata besar (Thunnus obsesus), tunas sirip biru(Thunnus maccoyii), ikan pedang (Xipias gladias), setuhuk hitam (Makaira indica), setuhuk putih (Makaira masara) (Gunarso 1989).
Daftar Pustaka :
Suabani, Waluyo. H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut Di Indonesia. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Laut.
Gunarso W. 1989. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metode dan Teknik Penangkapan Ikan. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Laksono U. 1983. Suatu studi tentangPenggunaan Ikan Lemuru sebagai Umpan pada Perikanan Rawai Tuna di PT Pelabuhan Samudera Besar Benoa, Bali. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Ikan Kakap Merah

Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus)
Klasifikasi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus)
Menurut Saanin (1984) klasifikasi kakap merah adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Sub filum         : Vertebrata
Kelas              : Pisces
Sub Kelas       : Teleostei
Ordo               : Percomorphi
Sub Ordo        : Perciodea
Famili              : Lutjanidae
Genus              : Lutjanus
Spesies            : Lutjanus argentimaculatus
Morfologi dan Anatomi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argntimaculatus)
Ikan kakap merah (Lutjanus argntimaculatus) yaitu mempunyai tubuh yang memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau sedikit cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke muka, gigi konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris dengan serangkaian gigi caninnya yang berada pada bagian depan.
Bagian bawah pra penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam. sirip punggung berjari-jari keras 11 dan lemah 14, sirip dubur berjari-jari keras 3 lemah 8-9. Sirip punggung umumnya berkesinambungan dan berlekuk pada bagian antara yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul.
Warna sangat bervariasi, mulai dari yang kemerahan, kekuningan, kelabu hingga kecoklatan. Ada yang mempunyai garis-garis berwarna gelap dan terkadang dijumpai adanya bercak kehitaman pada sisi tubuh sebelah atas tepat di bawah awal sirip punggung berjari lunak. Pada umumnya berukuran panjang antara 25 – 50 cm, walaupun tidak jarang mencapai 90 cm (Gunarso, 1995). Ikan kakap merah menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa inderanya, seperti melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, peraba, linea lateralis dan sebagainya.
Ikan kakap merah tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan dan betinanya. Hampir tidak dijumpai seksual dimorfisme atau beda nyata antara jenis jantan dan betina baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina sebagai betina. Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau panjang tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih kecil dari betinanya. Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor atau lebih, akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan Agustus dengan suhu air berkisar antara 22,2–25,2ºC. Ikan kakap jantan yang mengambil inisiatif berlangsungnya pemijahan yang diawali dengan menyentuh dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada salah seekor betinanya. Setelah itu baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputar-putar membentuk spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air.
Secara umum ikan kakap merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya dibandingkan yang berukuran kecil. Ikan kakap merah yang berukuran besar akan mampu mencapai umur maksimum berkisar antara 15–20 tahun, umumnya menghuni perairan mulai dangkal hingga kedalaman 60–100 meter (Gunarso, 1995)
Distribusi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argntimaculatus)
Ikan kakap merah  (Lutjanus argentimaculatus) umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil.
Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5-32ºC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1991). Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkal atau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. Famili Lutjanidae utamanya menghuni perairan tropis maupun sub tropis, walau tiga dari genus Lutjanus ada yang hidup di air tawar (Baskoro et al. 2004).
Penyebaran kakap merah di Indonesia sangat luas dan hampir menghuni seluruh perairan pantai Indonesia. Penyebaran kakap merah arah ke utara mencapai Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang pantai Laut Cina Selatan serta Filipina. Penyebaran arah ke selatan mencapai perairan tropis Australia, arah ke barat hingga Afrika Selatan dan perairan tropis Atlantik Amerika, sedangkan arah ke Timur mencapai pulau-pulau di Samudera Pasifik (Direktorat Jenderal Perikanan,1983 dalam Baskoro et al. 2004).
Menurut Djamal dan Marzuki (1992), daerah penyebaran kakap merah hampir di seluruh Perairan Laut Jawa, mulai dari Perairan Bawean, Kepulauan Karimun Jawa, Selat Sunda, Selatan Jawa, Timur dan Barat Kalimantan, Perairan Sulawesi, Kepulauan Riau. 
Nilai Ekonomis dan Ekologi Ikan Kakap Merah ((Lutjanus argntimaculatus)
Ikan kakap merah atau red snapper merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting. Kakap merah memiliki pangsa pasar yang luas namun produksinya kecil sehingga pemanfaatannya harus terus ditingkatkan untuk mendukung ekspor maupun kebutuhan lokal. Tapi, Potensi ikan kakap merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang. Selain itu kakap merah juga bisa dimakan karena dagingnya tebal, putih, empuk dan gurih. Ukuran yang baik untuk dikonsumsi sebaiknya yang masih berukuran medium, karena yang berukuran besar besar kebanyakan berisiko mengandung logam berat merkuri dalam kadar tinggi.
Ikan kakap merah umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil. Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5-32ºC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1991).  Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkal atau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. Potensi ikan kakap merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan
bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang. Famili Lutjanidae utamanya menghuni perairan tropis maupun sub tropis, walau tiga dari genus Lutjanus ada yang hidup di air tawar (Baskoro et al. 2004). 

Daftar Pustaka
Allen Gerald. Roger Steene. Paul Humman. Ned Deloach. 2003. Reef Fish Identificatiin. Perth : New world Publication, Inc.
Baskoro. M. S, Ronny. I.W, dan Arief Effendy. 2004. Migrasi dan Distribusi
                 Ikan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Direktorat Jenderal Perikanan. 1983. Hasil Ealuasi Potensi Sumberdaya Hayati Perikanan di Perairan Indonesia dan Perairan ZEE Indonesia. Direktorat Sumberdaya Hayati. Balai Penelitian Perikanan Laut. Departemen Pertanian Jakarta.
Djamal R. dan S. Marzuki. 1992. Analisis Usaha Penangkapan Kakap Merah dan Kerapu dengan Pancing Prawe, Jaring Nylon, Pancing Ulur dan Bubu. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut. Balitbang Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.
Gunarso W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metode dan Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.
Gunarso, Singgih D. 1995. Psikologis praktis Anak remaja dan keluarga, (Jakarta:
PT. BPK. Gunung Mulia).
Menangkap Ikan Karang dan Ikan Demersal Lainnya di Teluk Pelabuhanratu, Sukabumi. Bulletin PSP 8 : 1.

Pataka – Alat Penangkap Ikan

PERANGKAP DAN PENGHADANG (TRAP AND BARRIER)
PATAKA
1.    Definisi dan klasifikasi
      Pataka merupakan alat penangkapan ikan berupa perangkap dan penghadang yang berbentuk silinder dan memiliki satu pintu yang digunakan untuk ikan masuk ke dalam perangkap. Bubu bersifat pasif, artinya bertugas sebagai perangkap yang menunggu ikan yang masuk. Pataka, menurut Subani dan Barus (1989), termasuk ke dalam kelompok perangkap (traps).
2.    Konstruksi alat penangkap ikan
            Perangkap ini terbuat dari bambu. Dilengkapi dengan pelampung yang terbuat dari bambu atau rakit bambu yang diletakkan tepat dibagian atas pataka, lalu dihubungkan dengan jangkar dan menggunakan tali yang panjangnya disesuaikan dengan kedalaman perairan tempat pataka dioperasikan. Bubu terdiri dari bagian – bagian badan ( body ), mulut ( funnel ), dan pintu. Badan berupa rongga, tempat dimana ikan – ikan terkurung. Mulut berbentuk seperti corong,merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar. Pintu adalah bagian tempat pengambilan hasil tangkapannya. Menurut kelompok kami parameter utama dari alat tangkap pataka yaitu ukuran alat tangkap dan ketepatan penggunaan bahan.
3.    Kelengkapan dalam unit penangkapan ikan
3.1    kapal
untuk mengoperasikan alat tangkap ini, dibutuhkan alat transportasi untuk memudahkan dalam pengoperasiannya. Alat transportasinya berupa kapal atau perahu dengan tenaga penggerak yang ditempatkan di luar (outboard engine) dengan berkekuatan 16 PK memakai bahan bakar solar. Perahu terbuat dari kayu rasamala (Altinga excels Noronhea) dengan ukuran L x B x D = 8 x 2,5 x 1,25 m.
3.2  Nelayan
        Untuk mengoperasikan alat tangkap ini, dibutuhkan nelayan untuk membantu dalam proses pengoperasiannya. Nelayan yang dibutuhkan berjumlah 3 orang. Satu orang sebagai pengemudi kapal atau perahu. Satu orang menjadi penyiap alat tangkap dan umpannya. Dan satu orang lagi sebagai penebar pataka (Prihadi,2006).
3.3  Alat bantu
        Alat bantu yang digunakan dalam pengoperasian alat tangkap ini adalah pelampung, jangkar dan tali. Pelampung digunakan agar pataka tetap berada di permukaan. Tali digunakan untuk menghubungkan ke jangkar. Sedangkan jangkar berfungsi untuk membuat pataka tetap berada di tempat tersebut atau tidak terbawa arus (Subani dan Barus, 1989).
3.4  Umpan
        Alat tangkap ini membutuhkan umpan untuk memikat ikan-ikan yang akan masuk kedalam perangkap ini. Umpan yang digunakan dapat berupa ikan hidup, ikan runcah, maupun jenis umpan lainnya. Biasanya umpan yang sering digunakan adalah ikan rucah.
4.    Metode pengoperasian alat
      Perangkap ini dioperasikan dengan di apungkan di perairan. Nelayan menurunkan pataka di dekat pantai dengan menurunkan jangkar terlebih dahulu yang sudah ada pada perangkap ini supaya pataka tidak terbawa arus. Setelah jangkar diturunkan, perangkap ini dilepaskan di permukaan. Setelah itu nelayan tinggal menunggu ikan terperangkap di dalam pataka.
5.    Daerah pengoperasian
Daerah pengoperasian alat tangkap ini adalah di bagian bawah permukaan air pada perairan yang ombaknya tenang dan tidak terlalu tinggi. Permukaan air yang ombaknya tenang memudahkan pataka untuk tetap diam sehingga ikan lebih mudah terjebak atau terperangkap kedalam pataka.
6.    Hasil tangkapan
Hasil tangkapan bubu apung berupa jenis-jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dll (Subani dan Barus,1989). Menurut kami hasil tangkapan utamanya adalah ikan tembang. Hasil tangkapan sampingan adalah ikan japuh, julung-julung, torani, kembung dan selar.
Daftar pustaka
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Tadah – Alat Penagkap Ikan

PERANGKAP PASANG SURUT  (tidal traps)
Tadah (filternet)
1.    Definisi dan Klasifikasi
      Tadah adalah jaring perangkap yang bentuknya menyerupai ambai jermal tetapi tidak dilengkapi dengan tiang-tiang pancang yang berfungsi sebagai sayap atau kakinya. (Subani dan Barus 1989) Tadah termasuk klasifikasi di dalam perangkap pasang surut (tidal traps). (Subani dan Barus 1989)
2.    Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
      Jaring tadah berupa “tikar” dan bagian belakangnya berbentuk kantong. Panjang jaring badan kurang lebih 25 m dan kantong lima meter. Pada ujung kantong diberi tali untuk membuka dan menutup kantong ketika waktu operasi penangkapan (Subani dan Barus 1989).
      Jaring tersebut dipasang di dalam jajaran patok-patok atau tiang pancang yang berbentuk huruf v. Ini sesuai dengan bentuk jaring itu sendiri. Selain itu, masih ada tiga buah patok utama yang dipasang pada ujung depan, yaitu kanan, kiri, dan tengah. Patok ini berfungsi sebagai tempat mengikat jaring pada waktu penangkapan melalui gelang-gelang yang terdapat di bagian ujung depan jaring (Subani dan Barus 1989).
      Gambar tadah terdapat di dalam lampiran.
3 Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
      3.1 Kapal
                Menurut kelompok kami, pada alat penangkapan ikan ini tidak menggunakan kapal atau perahu.           
3.2 Nelayan
           Menurut kelompok kami, alat penangkapan ikan ini hanya membutuhkan satu atau dua orang nelayan karena alat tangkap ini bersifat pasif. Jadi nelayan hanya menunggu untuk mendapatkan hasil tangkapan. Pada saat hasil tangkapan sedikit hanya dibutuhkan satu orang nelayan apabila hasil tangkapannya banyak maka dibutuhkan dua orang nelayan.
3.3 Alat bantu
          Menurut kelompok kami, pada alat penangkapan ikan ini tidak menggunakan alat bantu.
3.4. Umpan
    Menurut kelompok kami, pada alat penangkapan ikan ini tidak menggunakan umpan.
4.   Metode Pengoperasian Alat
            Menurut kelompok kami, metode pengoperasian alat tangkap tadah adalah tadah dipasang pada pagi hari ketika air laut pasang kemudian tadah didiamkan hingga sore hari. Setelah air laut surut pada sore hari, tadah diambil untuk memperoleh hasil tangkapan yang didapat selama sehari ini.    
 5.  Daerah Pengoperasian
                  Alat tangkap ini digunakan pada musim penghujan, yaitu pada bulan januari hingga maret. Daerah yang digunakan adalah di daerah muara sungai khususnya Delta Cimanuk. Alat tangkap ikan ini juga digunakan ketika air laut dalam keadaan pasang surut (Subani dan Barus 1989).
 6. Hasil Tangkapan
     Hasil tangkapan yang diperoleh ada dua, yaitu hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan utamanya adalah udang dalam berbagai jenis ukuran. Hasil tangkapan sampingannya adalah ikan pantai yang terbawa karena adanya arus pasang surut (Subani dan Barus 1989).
Daftar Pustaka
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol.II No.2. Jakarta : Balai Riset Perikanan Laut, Departemen kelautan dan Perikanan. Hal.19-23.

Alat Pengumpul Rumput laut (API)

ALAT PENGUMPUL
Alat Pengumpul Rumput Laut

      Definisi dan klasifikasi
            Alat pengumpul rumput laut merupakan alat yang digunakan untuk mengambil dan mengumpulkan rumput laut, terdiri dari pisau, sabit, dan alat penggaruk. Alat ini masuk kedalam klasifikasi alat pengumpul (Muchtar 2006).
2.      Konstruksi alat penangkapan ikan
            Alat pengumpul rumput laut merupakan alat yang sederhana dan pembuatannya tidak terlalu rumit. Alat ini berbentuk galah yang ujungnya bercabang. Cabang pada alat ini sedikit apabila untuk skala kecil, sedangkan untuk skala besar seperti budidaya jumlah cabang pada ujung galah banyak dan panjang. Bahan alat ini terdiri dari bambu atau kayu dan besi. Bambu atau kayu berfungsi sebagai pegangan, sedangkan besi digunakan untuk pengumpul yang ditempatkan di ujung kayu atau bambu. Parameter yang memungkinkan keberhasilan alat ini yaitu posisi lengkungan besi (Baskoro 2002).
3.      Kelengkapan dalam unit penangkapan ikan
3.1  Kapal
Alat ini menggunakan perahu berukuran kecil tidak pada skala budidaya dengan panjang 3-4 m dan lebar sekitar 1-2 m, karena hanya digunakan untuk mengumpulkan rumput laut dan membawanya kedarat. Sedangkan dalam skala budidaya, nelayan tidak menggunakan perahu (Muchtar 2006).
3.2  Nelayan
Pengoperasian alat ini diperlukan sekitar satu atau dua orang nelayan. Jika terdiri dari dua orang, satu orang bertugas sebagai pengumpul rumput laut sedangkan yang lainnya sebagai pengumpul di perahu. Jika nelayan terdiri atas satu orang, semua kegiatanya dilakukan sendiri termasuk mendayung perahu (Muchtar 2006).
3.3  Alat bantu
Alat bantu pada alat pengumpul rumput laut adalah pisau, sabit, dan wadah. Pisau dan sabit digunakan untuk memotong rumput laut ketika pengumpul atau penjemuran. Wadah digunakan untuk tempat pengumpul rumput laut dan terbuat dari anyaman bambu (Muchtar 2006).
3.4  Umpan
Alat Pengumpul rumput laut ini tidak menggunakkan umpan.
4.      Metode pengoperasian alat
Pengoperasian alat ini terbagi menjadi dua. Pertama adalah nelayan yang tidak menggunakan perahu dan kedua adalah nelayan yang menggunakkan perahu. Bagi nelayan yang tidak menggunakkan perahu, nelayan hanya terdiri dari beberapa orang yang masing-masing memiliki alat pengumpul dan alat ini digunakkan untuk mengambil rumput laut yang jauh dari jangkauan nelayan dan dengan kedalaman yang tidak terjagkau oleh nelayan. Sedagkan bagi nelayan yang menggunakkan perahu, alat ini diletakkan disisi perahu ketika perahu sedang jalan untuk mengumpulkan rumput laut (Muchtar 2006).
5.      Daerah pengoperasian
Alat Pengumpul rumput laut ini dioperasikan pada perairan yang tidak terlalu dalam yang masih bisa dijangkau oleh manusia dan perahu. Biasanya terletak di pantai-pantai denga ombak yang tenang dengan keadaan air yang jernih. Didaerah Kepulauan seribu dan Sulawesi alat ini masih digunakan (Muchtar 2006).
6.      Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan utama pengumpul ini adalah rumput laut dan alga (Muchtar 2006).
 Daftar Pustaka :
Baskoro Mulyono. 2002. Metode Penangkapan Ikan. Institut Pertanian Bogor.
Muchtar. 2006. Klasifikasi Alat pengankapan Ikan. Diunduh dari http://www.scribd.com
(Anonim). 2007. Panduan Jenis-jenis  Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan. Diunduh dari http://www.scribd.com