Air Mancur Membangun Citra Jamu

Setiap industri jamu memiliki sejarah perkembangan masing-masing yang unik, dan perjalanan sejarah itulah yang menempa setiap industri jamu hingga menjadi perusahaan yang berpengalaman. Perjalanan sejarah itu pula yang membentuk perusahaan untuk tidak hanya sekedar dapat bertahan di era persaingan yang makin ketat, namun lebih jauh dari itu dapat meniti sukses dengan meraih pangsa pasar cukup besar sekaligus meraih peluang ekspor di pasar mancanegara.

20081212

Banyak industri jamu yang kurang menyadari pentingnya penerapan falsafah tersebut sehingga perkembangan bisnisnya dari tahun ke tahun tidak banyak mengalami kemajuan. Namun ada juga industri jamu yang betul-betul menerapkan falsafah itu secara konsisten di setiap lini produksi.

Dari sekian banyak industri jamu yang menurut data Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) pada tahun 2004 mencapai 1.166 industri, hanya segelintir industri jamu saja yang kini berkembang menjadi industri jamu modern dengan menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisonal Yang Baik (CPOTB) dan menerapkan sistem standard kualitas produk yang umum diterapkan di industri farmasi skala besar.

PT. Air Mancur yang awalnya merupakan perusahaan keluarga dan didirikan oleh tiga keluarga, yaitu Keluarga Wonosantoso, Keluarga Ongkosandjojo dan Keluarga Hindrotanojo merupakan salah satu dari segelintir kelompok industri jamu yang menerapkan sistem standard tersebut yang pada tanggal 5 Juli 2006 lalu menerima Sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB).

Bagi PT Air Mancur yang merupakan perusahaan industri jamu yang sudah cukup lama berkiprah di kancah persaingan produk jamu nasional maupun internasional, mutu produk merupakan kunci sukses yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab hanya dengan mengutamakan mutu produklah, bisnis industri jamu yang sudah digelutinya puluhan tahun itu dapat bertahan sampai saat ini walaupun berbagai hambatan dan kendala silih berganti menerpa bisnis tersebut.

PT Air Mancur yang saat ini dipimpin oleh Victor S. Ringoringo sebagai Managing Director/Chief Executive Officer, sejak pertama kali berdiri pada tahun 1963 sudah memiliki komitmen yang kuat untuk mengutamakan mutu produk sebagai kiat perusahaan dalam menjalankan bisnis jamu. Sebagai perwujudan awal dari komitmen tersebut, PT. Air Mancurmenuangkan komitmen tersebut dalam bentuk moto perusahaan ‘Air Mancur Lebih Manjur’.

“PT Air Mancur memang bukan merupakan perusahaan industri jamu yang berdiri pertama kali di Indonesia dan PT Air Mancur memang bukan perusahaan yang terbesar di industri ini, tapi semua mengakui bahwa Air Mancur memang yang termanjur,” kata Victor.

Untuk mengimplementasikan komitmen dan moto perusahaan khususnya dalam menghasilkan produk juamu berkualitas tinggi tersebut, manajemen perusahaan PT Air Mancur telah mengambil kebijakan untuk mengedepankan kegiatan Research and Development (R&D). “Di bidang R&D ini, Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PT Air Mancur termasuk yang paling maju diantara industri jamu lainnya yang ada di Indonesia saat ini.”

Dengan didukung divisi R&D yang kuat dan ditunjang peralatan dan mesin produksi yang modern, PT Air Mancur kini mengukuhkan diri sebagai salah satu produsen jamu terkemuka di tanah air. Dengan kelebihan tersebut PT Air Mancur telah berhasil membalikkan persepsi di masyarakat dari produk jamu yang selama ini dikenal sebagai produk tradisional menjadi produk hasil teknologi modern karena diproduksi dengan metode atau cara produksi yang modern, mulai dari pemillihan bahan baku, pengujian khasiat, dan proses produksi. . Walaupun cara produksinya sudah modern, namun ramuan tradisional jamu yang khasiatnya sudah terbukti dari generasi ke generasi sudah diturunkan tetap dipertahankan.

Kiat bisnis lainnya yang diterapkan manajemen PT Air Mancur adalah diterapkannya prinsip ‘Steady Safe’. Artinya perusahaan didorong untuk tumbuh dan berkembang secara alami dan bertahap. “Prinsip ini juga berarti perusahaan tidak perlu banyak gembar-gembor dalam menjalankan bisnisnya, tetapi tetap maju melangkah dengan pasti untuk mencapai kemajuan perusahaan.”

Dengan prinsip “Steady Safe” ini, PT Air Mancur tidak banyak melakukan promosi produk dengan memasang iklan di media massa. Sebaliknya upaya pemasaran produk lebih banyak ditempuh dengan memperkuat jalur pemasaran tradisional yang melibatkan agen-agen yang sudah bekerjasama selama puluhan tahun. Agen-agen tradisional ini umumnya melayani kios-kios, warung dan penjaja jamu lainnya di pelosok daerah. Namun demikian jalur pemasaran tradisional ini bukan satu-satunya jalur pemasaran PT Air Mancur. Jalur distribusi modern pun tetap digarap secara professional sesuai dengan target pasarnya. Misalnya untuk distribusi produk ke apotik, toko obat dan pasar modern, PT Air Mancur telah menunjuk distributor farmasi dan consumer goods yang modern.

200812121

Produk Bervariasi

Dengan kekuatan di bidang R&D itulah PT. Air Mancur kini berhasil mengembangkan berbagai jenis produk jamu dengan variasi yang sangat beragam, mulai dari produk jamu bubuk, jamu kapsul, jamu pil/tablet dan jamu cair. Selain itu, dalam rangka diversifikasi usaha, PT Air Mancur juga memproduksi dan memasarkan produk-produk kosmetik, minuman kesehatan, mother care, baby care, fitofarmaka, dan food supplement herbal, seperti produk madu rasa, minyak telon, param kocok, bedak Harum Sari dan Lulur Putri Ayu.

Produk-produk jamu PT Air Mancur sudah sejak lama dikenal konsumen, bahkan beberapa diantaranya berhasil menempati posisi market leader. Hingga saat ini PT Air Mancur telah merilis lebih dari 20 merek produk jamu dengan berbagai variannya. Beberapa produk jamu produksi PT Air Mancur diberi merek ‘Air Mancur’, tetapi ada juga beberapa produk jamu lainnya yang dijual dengan menggunakan merek lain, namun tetap ada label “Air Mancur “nya.

Beberapa produk jamu PT Air Mancur yang sudah banyak dikenal di pasar antara lain jamu bubuk dan jamu bersalin dengan merek Air Mancur, jamu kapsul dengan merek Ben Kwat untuk pria, jamu kapsul Mustika Rapet untuk wanita, jamu tablet Stop Diar untuk menghentikan diare, jamu kapsul dan jamu bubuk Pro Urat untuk penyakit asam urat, jamu kapsul/tablet Pro Linu untuk mengobati pegel linu dan jamu cair Orangin untuk mengobati masuk angin.

Walaupun banyak produk jamu buatan PT Air Mancur kini sudah diproduksi secara modern dengan menggunakan peralatan dan mesin berteknologi mutakhir, namun untuk menjaga keseimbangan tenaga kerja, PT Air Mancur sampai kini masih mempertahankan cara produksi tradisional untuk beberapa jenis produk jamu. Hal itu ditujukan agar perusahaan dapat tetap menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

 “Langkah pengembangan teknologi produksi juga diselaraskan dengan program pensiun karyawan. Biasanya penambahan mesin produksi tidak dilakukan secara sekaligus melainkan dilakukan bertahap bersamaan dengan dimulainya masa pensiun karyawan. Dengan demikian pengalihan cara produksi dari cara tradisional ke cara modern tidak menimbulkan gejolak baik bagi karyawan maupun bagi perusahaan. Sedapat mungkin kami menghindari terjadinya rasionalisasi sebagai dampak dari penggunaan mesin-mesin modern ini,” tutur Victor.

Diakui kultur kerja di industri jamu sangat unik. Kultur yang sudah terbangun sejak lama itu diwarnai rasa kekeluargaan yang sangat tinggi antara karyawan dengan pihak manajemen perusahaan. Karena itu, hingga saat ini tidak pernah terdengar adanya gejolak ketenagakerjaan di PT Air Mancur, karena semua hak-hak buruh sudah terpenuhi.

PT Air Mancur kini mempekerjakan 1.200 karyawan di empat pabrik yang berlokasi di Solo dan Wonogiri, Jawa Tengah. Satu pabrik jamu di Solo khususnya untuk pengerjaan bahan baku dan pengemasan, satu pabrik jamu lagi di Wonogiri untuk kegiatan ekstraksi. Sementara itu, satu pabrik kosmetik berlokasi di Solo dan satu pabrik madu berlokasi di Wonogiri. Cikal bakal pabrik jamu milik PT Air Mancur yang didirikan para pendiri PT Air Mancur pada tanggal 23 Desember 1963 berlokasi di Wonogiri.

PT. JAMU AIR MANCUR
Head Office & Factory:
Jl. Raya Solo-Sragen Km. 7 Palur, Solo 57102, Jawa Tengah.

Sumber  : arifh.blogdetik.com

Penjual Bakso Pikul Wonogiri Jadi Resto Franchise

Kisah sukses kali ini akan menceritakan seorang pengusaha sukses asal Wonogiri yang telah berhasil mengembangkan usahanya ke berbagai penjuru negeri. Namanya telah masuk ke tokohindonesia.com. Beliau baru saja wafat meninggalkan semangat bagi generasi muda wonogiri untuk terus berjuang dan berkarya untuk mencapai kesuksesan. Simak perjalanan hidup beliau ini.

Nama Lengkap : Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono
Pekerjaan Utama : Pemilik Bakso Lapangan Tembak
Lahir : Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Juni 1949
Wafat : Solo, Jawa Tengah, 9 Juli 2011
Agama : Islam
Pendidikan :

  • SMP Solo, 1965 – 1967
  • STM 1 Solo, 1968 – 1970

BIOGRAFI

Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono, lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Juni 1949. Lulusan STM 1 Solo ini pemilik usaha waralaba (franchise) bakso Lapangan Tembak. Dia merintis usahanya dari dari pedagang bakso pikulan hingga menjadi pengusaha franchise dengan 140 restoran di seluruh Indonesia. Dia meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, Sabtu 9 Juli 2011, dalam usia 62 tahun.

Widyanto telah memulai usaha sejak kelas 2 SMP tahun 1966 di Solo, menjajakan bakso dengan pikulan berkeliling kota. Setelah tamat STM 1 di Solo, dia pun hijrah ke Jakarta tahun 1971 dengan bekal uang Rp.1.200. Di Jakarta dia langsung dagang bakso keliling. Setiap hari keluar masuk gang memikul angkring bakso. Beberapa tahun kemudian, dia mengganti angkring dengan gerobak dorong. Di siang hari, dia berkeliling dari gang ke gang di kawasan Petamburan, Slipi, Pejompongan dan Gelora Senayan. Lalu pada malam hari, dia mangkal di kawasan Lapangan Tembak Senayan (kini telah berubah menjadi Hotel Mulia).

Masih ingat, kala itu warung bakso Widyanto itu selalu dipenuhi pelanggan sehingga area parkir itu selalu penuh mobil. Bahkan para pelanggan rela makan sambil berdiri atau di dalam mobil masing-masing karena tidak mendapatkan tempat duduk. Para pelanggannya bukan hanya para atlet pelatnas tetapi juga dari berbagai kalangan masyarakat bahkan para pejabat dan tokoh masyarakat berbaur mencicipi baksonya. Bahkan pada tahun 1980-an, Sri Sultan Hamengkuwono IX mengapresiasinya dengan memberi nama Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono.

Kemudian, di Lapangan Tembak itu, Widyanto mendapat pelanggan yang ketagihan dengan baksonya. Maka, sejak 1982 Widyanto akhirnya memutuskan mangkal tiap hari di luar pagar kompleks Lapangan Tembak Senayan. Pelanggannya pun semakin banyak, di antaranya para atlet pelatnas atletik, bulutangkis, renang, dan menembak. Hingga akhirnya, tahun 1983, dia dipersilahkan mendorong gerobak baksonya ke dalam kompleks. Bahkan akhirnya diizinkan membuka warung kecil di lokasi parkir. Sejak itulah bakso ala Jowo itu dikenal masyarakat pelanggan dengan sebutan Bakso Lapangan Tembak Senayan.

Masih ingat, kala itu warung bakso Widyanto itu selalu dipenuhi pelanggan sehingga area parkir itu selalu penuh mobil. Bahkan para pelanggan rela makan sambil berdiri atau di dalam mobil masing-masing karena tidak mendapatkan tempat duduk. Para pelanggannya bukan hanya para atlet pelatnas tetapi juga dari berbagai kalangan masyarakat bahkan para pejabat dan tokoh masyarakat berbaur mencicipi baksonya. Bahkan pada tahun 1980-an, Sri Sultan Hamengkuwono IX mengapresiasinya dengan memberi nama Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono.

Kemudian, Widyanto dimudahkan membuka beberapa gerai di lingkungan Senayan. Selain di halaman Gedung Bulutangkis, dia diizinkan menyewa lahan untuk buka warung bakso di Kelurahan Lapangan Tembak Senayan yang ditempatinya hingga sekarang. Sampai akhirnya, dia pun mengembangkan usaha bakso menjadi waralaba (franchise) Bakso Lapangan Tembak. Sampai akhir hayatnya, Sabtu 9 Juli 2011, usaha baksonya telah mempunyai 140 restoran  (franchise) di seluruh Indonesia.

Penulis: Tian Son Lang | Bio TokohIndonesia.com | ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Sumber : TokohIndonesia.com

Aziz Widayanto – Petani Anggrek yang Sukses dari Wonogiri

Dalam usia relatif rnuda (35 th) Aziz Widayanto sudah bisa mewujudkan angan-angannya sebagai Kader Petani Muda yang mandiri. Kehidupan pria kelahiran 21 Juni 1975 terbilang sukses dengan rumah yang cukup megah, dan sebuah mobil pick-up untuk mengangkut hasil pertanian untuk memperlancar usahataninya.

Aziz yang telah mempersunting gadis pilihannya yang bernama Yustin Wariyanti 11 tahun yang lalu, telah mernbuahkan 2 orang anak (1 putri dan 1 putra). Sosok pemuda tani anggota Kelompok Tani Marsudi Tani, di Dusun Garon Desa Batuwarno, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri ini mempunyai motivasi kerja yang tinggi, dan mampu menjadi penggerak dan memberikan contoh pada masyarakat di sekitarnya, ternyata dengan berusahatani yang dirintis mulai tahun 2005 yakni budidaya pembesaran bibit tanaman anggrek, ia dapat hidup layak bersama keluarganya. Di balik kesuksesan tersebut nampaklah keteladanan yang tercermin dalarn kesederhanaan dan mampu memberikan magnet bagi warga lingkungannya.

Perkenalannya dengan pengusaha anggrek asal Batuwarno yang sekarang berdomisili di Jakarta yang menawarkan kerjasama saling rnenguntungkan dengan menjadi plasma menjadikannya sebagai salah satu petani anggrek yang diunggulkan di Kecamatan Batuwarno. Semua itu bisa teraih berkat kerja kerasnya, interaksinya dengan Penyuluh Pertanian yang mampu memberikan motivasi untuk melaksanakan usahataninya dengan lebih baik.

Komoditas utama yang diusahakan Aziz adalah tanaman bunga anggrek dengan populasi 12.000 batang. Usaha lainnya yaitu tanaman pangan jagung dengan produktivitas 5,5 ton pipilan kering dan peternakan (ternak sapi yang sudah berkernbang sampai 8 ekor), serta rumput gajah dan silase dari jerami. Bagi Aziz, anggrek mernberikan keuntungan sebesar Rp 23,992 juta, jagung Rp 11,150 juta, ternak sapi, belum termasuk rumput gajah maupun silase yang selain dipakai sendiri juga dijual kalau ada yang membutuhkan.

Sumber : Sinartani.com