Kelainan / penyakit pada sistem sirukulasi / peredaran darah manusia

Kelainan dan penyakit pada sistem peredarah adalah sebagai berikut :

  1. Hemofilia, yaitu darah tidak dapat membeku secara genetis
  2. Anemia,  yaitu kurang darah, dapat terjadi karena infeksi kuman, berkurangnya Hb
  3. Leukimia ( Kanker darah), yaitu bertambahnya sel darah putih secara tidak terkendali sekitar 500.000/mm 3 darah.
  4. Leukospeni , yaitu sel darah putih berkurang dari normal karena infeksi tipus sekitar 3.000/mm3 darah.
  5. Leukositosis, yaitu sel darah putih lebih dari batas normal karena penyakit ( TBC, dapat mencapai sekitar 200.000/mm 3darah.
  6. Varises, yaitu pelebaran pembuluh darah, biasanya di tangan/ kaki
  7. Haemoroid (ambein) yaitu varises pada dubur
  8. Skelriosis, yaitu pengerasan pembuluh nadi ada dua macam : a) artherosklerosis, karena endapan lemak dan b) arteriosklerosis, yaitu karena endapan kapur
  9. Trombus, yaitu tersumbatnya pembuluh darah karena benda tidak dapat bergerak
  10. Embolus yaitu tersumbatnya pembuluh darah karena benda tidak dapat bergerak 
  11. Koronariasis, yaitu menyempitnya nadi tajuk jantung ( jantung koroner )
  12. Thalassemia yaitu anemia yang diturunkan , kegagalan pembentukan Hb karena kerusakan gen globin.
  13. Penyakit kuning pada bayi ( Erytoblastosis fetalis) yaitu kerusakan sel sel darah bayi oleh aglutinin ibunya
  14. Miokarditis yaitu radang /infeksi otot jantung
  15. Hipertensi yaitu tekanan darah tinggi ( 140 – 200 mm Hg )
  16. Hipotensi yaitu tekanan darah rendah ( < 100 mm Hg).

Jenis jenis polisi

Hampir setiap hari kita melihat atau bertemu dengan polisi, baik poloso beneran maupun polisi di film film . Polisi bukan hanya ada di lalu lintas loh, dan yang boleh menilang mobil hanyalah polisi di jalan raya. Terus ada juga yang sebagai penjahat narkoba maupun detektif. Dibawah ini adalah beberapa jenis jenis polisi.

1. Polisi lalu lintas

Di Amerika biasanya disebut sebagai highway patrol atau polisi yang bertugas mengatur tata tertib di jalan raya , baik jalan biasa maupun jalan tol. Tugasnya antara lain menangap kendaraan yang melaju tinggi, memberi pertolongan pada kecelakaan, menyelidiki kecelakaan dan melaporkan jika ada jalan yang rusak.

2. Detektif

Detektif adalah polisi yang menyelidiki suatu kejahatan. Tugas mereka menyelidiki kejahatan seperti perampokan,pembunuhan,narkotika,kejahatan terorganisir dan masih banyak lainnya. Meski terlihat keren, namun tingkatnya paling rendah diantara penyelidik lainnya.

3. Polisi federal

Di film film kita sering melihat FBI ( Federal Bureau of Investigation), FBI juga polisi yang langsung di bawah pemerintah pusat di Amerika. Selain FBI ada polisi narkoba (DEA), ATF ( Polisi minuman keras dan bom ) . Polisi federal terdapat di Amerika, Kanada, Jerman, Argentina dan Australia.

4. Sheriff
Sheriff dipakai di daerah bekas jajahan Inggris seperti Amerika, Australia, Kanada, India dan lainnya. Sheriff gabungan dari dua kata yaitu shire dan reevee. Shire  atau county berarti lokasi yang dikuasai kerajaan. Sedangkan revee adalah petugas yang ditunjuk untuk menjaga shire. Kini Sheriff udah tidak ada hubungan lagi dengan kerajaan. Sheriff sekarang bertugas sebagai polisi di suatu wilayah negara bagian.

5. Marshall
Marshall adalah petugas hukum yang cuman ada di negara Amerika. Mereka termasuk polisi yang menyelidiki kasus kasus khusus.

6. Unit Vice
Biasa juga disebut sebagai Vice Squad. Polisi yang bertugas untuk kejahatan moral seperti narkoba, alkohol, dan pelacuran.

7. Polisi Militer
Biasa sering disebut Military Police. Mereka bertugas sebagai polisi yang mengawasi tentang militer. Termasuk benda, dan orang didalamnya. Mereka berhak menyelidiki, menyidang dan memenjara tentara yang jahat.

8. Park Ranger

Polisi yang bertugas melindungi hutan dan isinya, mereka menangkap pencuri hutan dan pemburu liar. Mereka biasanya tidak bersenjata, bila bersenjata pun cuman untuk kepentingan yang penting

9. Harbour patrols
Mereka bertugas di perairan dan memakai alat tranportasi seperti speedboat,kapal dan lain lain. Tugasnya menangkap para pendatang gelap dan penyelundupan dari wilayah perairan.

sumber : Majalah Xy-Kids

Perkembangan Penginderaan Jauh

Diambil dari Danoedoro (2011)
 Perkembangan Sistem dan Wahana
       Penginderaan jauh pada awalnya dikembangkan dari teknik interpretasi foto udara. Pada tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto udara (Howard, 1990).  Meskipun demikian, teknik interpretasi foto udara untuk keperluan sipil (damai) sendiri baru berkembang pesat setelah Perang Dunia II, karena sebelumnya foto udara lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan militer.  Dalam tiga puluh tahun terakhir, penggunaan teknologi satelit dan teknologi komputer untuk menghasilkan informasi keruangan (atau peta) suatu wilayah semakin dirasakan manfaatnya. 

Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara maupun citra non-fotografik yang diambil melalui wahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurasinya.  Di sisi lain, pengolahan atau pemrosesan citra satelit secara digital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi di bidang survei-pemetaan.

        Hampir bersamaan dengan perkembangan teknik analisis data keruangan melalui teknologi SIG, kebutuhan akan citra digital yang diperoleh melalui perekaman sensor satelit sumberdaya pun semakin meningkat. Perolehan data penginderaan jauh melalui satelit menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan melalui pemotretan udara, antara lain dari segi harga, periode ulang perekaman daerah yang sama, pemilihan spektrum panjang gelombang untuk mengatasi hambatan atmosfer, serta kombinasi saluran spektral (band) yang dapat diatur sesuai dengan tujuan. 
       Di Indonesia, penggunaan foto udara untuk survei-pemetaan sumberdaya telah dimulai oleh beberapa lembaga pada awal tahun 1970-an.  Pada periode yang sama, ketika berbagai lembaga di Indonesia masih belajar memanfaatkan foto udara, Amerika Serikat pada tahun 1972 telah meluncurkan satelit sumberdaya ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite – 1), yang kemudian diberi nama baru menjadi Landsat-1.  Satelit ini mampu merekam hampir seluruh permukaan bumi pada beberapa spektra panjang gelombang, dan dengan resolusi spasial sekitar 80 meter.  Sepuluh tahun kemudian, Amerika Serikat telah meluncurkan satelit sumberdaya Landsat-4 (Landsat-D) yang merupakan satelit sumberdaya generasi kedua, dengan memasang sensor baru Thematic Mapper yang mempunyai resolusi yang jauh lebih tinggi daripada pendahulunya, yaitu 30 meter pada enam saluran spektral pantulan dan 120 meter pada satu saluran spektral pancaran termal.  Pada tahun yang hampir bersamaan itu pula, beberapa lembaga  di Indonesia baru mulai memasang sistem komputer pengolah citra digital satelit, dan menjadi salah satu negara yang termasuk  awal di Asia Tenggara dalam penerapan sistem pengolah citra digital.  Meskipun demikian, tampak nyata bahwa Indonesia sebagai negara berkembang cenderung tertinggal dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi.
Memasuki awal sasrawarsa (milenium) ketiga ini,  telah beredar banyak jenis satelit sumberdaya yang diluncurkan oleh banyak negara.  Dari negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Jepang, dan Rusia, hingga negara-negara besar namun dengan pendapatan per kapita yang masih relatif rendah seperti India dan Republik Rakyat Cina.  Berbagai satelit sumberdaya yang diluncurkan itu menawarkan kemam-puan yang bervariasi, dari resolusi sekitar satu meter atau kurang (IKONOS, OrbView, QuickBird dan GeoEye milik perusahaan swasta Amerika Serikat), 10 meter atau kurang (SPOT milik Perancis, COSMOS milik Rusia, IRS milik India dan ALOS milik Jepang), 15-30 meter (ASTER yang merupakan proyek kerjasama Jepang dan NASA,  Landsat 7 ETM+ milik Amerika Serikat, yang sayangnya mengalami kerusakan sejak tahun 2003), 50 meter (MOS, milik Jepang), 250 dan 500 meter (MODIS milik Jepang) hingga 1,1 km (NOAA-AVHRR milik Amerika Serikat). 
Banyak negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Asia, dan bahkan Afrika telah memanfaatkan citra satelit itu untuk pembangunan, baik dalam pengelolaan sumberdaya maupun mitigasi bencana  alam. Tahun-tahun belakangan ini, negera-negara berkembang seperti Thailand, Malaysia, Nigeria dan Indonesia pun menyusul untuk meluncurkan dan mengoperasikan satelit penginderaan jauh berukuran kecil. Sensor-sensor satelit baru tidak hanya beroperasi pada wilayah multispektral.  Saluran pankromatik dengan resolusi spasial yang lebih tinggi daripada saluran spektral lain pada sensor yang sama juga dioperasikan oleh berbagai sistem.  Sensor aktif seperti radar juga telah dioperasikan oleh berbagai satelit seperti JERS (Jepang), ERS dan Envisat (Uni Eropa), Radarsat (Kanada); sementara sistem sensor aktif berbasis teknologi laser (Lidar) terus dikembangkan untuk memperoleh informasi ketinggian permukaan kanopi pepohonan dan ketinggian permukaan tanahnya sekaligus.  Sistem satelit Modis, Envisat dan EO-1 juga mengangkut sensor hiperspektral dengan ratusan saluran spektral untuk memperoleh informasi yang lebih spesifik mengenai objek, termasuk komposisi kimia mineral dan spesies organisme.
PERKEMBANGAN APLIKASI
        Penginderaan jauh sekarang tidak hanya menjadi alat bantu dalam menyelesaikan masalah.  Begitu luasnya lingkup aplikasi penginderaan jauh sehingga dewasa ini bidang tersebut telah menjadi semacam, kerangka kerja (framework) dalam menyelesaikan berbagai masalah terkait dengan aspek ruang (lokasi, area), lingkungan (ekologis) dan kewilayahan (regional).  Perkembangan ini meliputi skala sangat besar (lingkup sempit) hingga skala sangat kecil (lingkup sangat luas).  Gambar 1.4 memberikan deksripsi visual tentang hubungan antara bidang aplikasi dengan resolusi spasial (kerincian ukuran atau detil informasi terkecil yang diekstrak) dan resolusi spasial (kerincian informasi dari sisi frekuensi perekaman atau observasi ulang). 
         Penginderaan jauh di awal perkembangannya berasosiasi dengan aplikasi militer, karena gambaran wilayah yang dapat disajikan secara vertikal mampu memberikan inspirasi bagi pengembangan strategi perang yang lebih efektif daripada peta.  Efektivitas ini khususnya menyangkut pemantauan posisi dan  pergerakan musuh, serta peluang penyerbuan dari titik-titik tertentu.  Kemajuan teknologi pemotretan yang melibatkan film peka sinar inframerah dekat juga telah mendukung analisis militer dalam membedakan kenampakan kamuflase objek militer dari objek-objek alami seperti misalnya pepohonan. 
         Penggunaan teknologi foto inframerah akhirnya juga dimanfa-atkan untuk aplikasi pertanian, khususnya dalam konteks perkiraan kerapatan vegetasi, biomassa dan aktivitas fotosintesis, karena kepekaan pantulan sinar inframerah dekat ternyata berkaitan dengan struktur interal daun dan kerapatan vertikal vegetasi.  Foto udara inframerah juga terbukti efektif pembedaan objek air dan bukan air, sehingga pemetaan garis pantai pun sangat terbantu oleh teknologi ini.
      Dalam perkembangan selanjutnya, sensor-sensor ini merambah ke wilayah spektra panjang gelombang yang lebih luas, seperti misalnya inframerah tengah, jauh dan termal, serta gelombang mikro. Rambahan ini memerlukan jenis sensor dan detektor yang berbeda dengan kamera, namun sekaligus memperluas bidang aplikasi penginderaan jauh, sehingga semakin banyak jenis objek dan fenomena yang dapat dikaji melalui citra hasil perekaman yang diperoleh.  Setiap eksperimen yang sukses dengan rancangan sensor baru kemudian diuji-cobakan dengan wahana yang berbeda, untuk kemudian dioperasionalisasikan ke sistem satelit, yang mampu melakukan perekaman secara kontinyu dan sekaligus memiliki cakupan global.  Berbeda dari pendahulunya yang hanya beroperasi dengan kamera dengan hasil perekamana berupa citra analog, sensor-sensor baru beroperasi dengan sistem opto-elektronik yang lebih maju dan citra yang dihasilkan pun berformat digital.  Beda tinggi orbit, kecepatan mengorbit dan sistem teleskop maupun sistem opto-elektronik detektor akhirnya juga menentukan resolusi temporal, resolusi spasial serta resolusi spektral data yang dihasilkan.
Pergeseran Penerapan Teknologi: Dari Pemerintah ke Swasta
         Pada tahun 1994, pemerintah Amerika Serikat mengambil keputusan untuk mengijinkan perusahaan sipil komersial untuk memasarkan data penginderaan jauh resolusi tinggi, yaitu antara 1-4 meter (Jensen, 1996).  Hal ini kemungkinan berkaitan dengan berakhirnya era Perang Dingin.  Dua perusahaan swasta, yaitu Earth Watch dan Space Imaging segera menanggapi keputusan ini dengan mengeluarkan produk mereka, masing-masing adalah Earlybird  dan Quickbird (Earth Watch) dan Ikonos (Space Imaging). Earlybird memberikan resolusi spasial 3 meter untuk citra pankromatik dan 15 meter untuk citra multispektral meskipun proyek ini kemudian gagal; sedangkan Quick Bird dan Ikonos mampu memberikan citra dengan resolusi spasial yang lebih tinggi, yaitu masing-masing 0,6 dan 1 meter untuk pankromatik 2,4 dan 4 meter untuk multispektral. GeoEye saat ini mampu memberikan data pada resolusi sekitar 40 cm, meskipun Pemerin-tah Amerika Serikat membatasi distribusi dan penggunaan citra resolusi spasial tinggi hanya sampai dengan 50 cm.
Pada aras pengguna, semakin banyak perusahaan swasta yang bergerak di bidang penginderaan jauh.  Lingkup kegiatan ini bukan hanya pada penguasaan pengolahan data awal hingga pemasaran pada tingkat hulu seperti EOSAT, SpaceImaging dan DigitalGlobe, melainkan juga penyediaan jasa konsultansi untuk berbagai kegiatan seperti pekerjaan umum, kehutanan, pembukaan lahan transmigrasi, hingga lahan yasan (real estate).  Pergesaran ini membawa implikasi pada kemampuan akses data penting kewilayahan yang sebelumnya hanya dikuasai oleh negara (khususnya militer) ke pihak swasta.  Pertukaran dan jual-beli data resolusi tinggi saat ini semakin sulit untuk diawasi dan diatur oleh negara, mengingat bahwa lalu lintas data telah dapat dilakukan secara bebas melalui jaringan internet.  Banyak perusahaan pemasaran data satelit sumberdaya dan cuaca dewasa ini menyediakan fasilitas download data melalui internet.
Perkembangan Teknik Analisis
Dari Manual ke Digital
        Ketika berbagai negara berkembang masih memiliki akses terbatas ke sistem komputer untuk pengolahan citra digital, pemanfaatan produk penginderaan jauh satelit masih berupa citra tercetak (hard copy) yang diinterpretasi secara visual atau manual.  Teknik interpretasi semacam ini telah berkembang pesat dalam penginderaan jauh sistem fotografik, dan hingga saat ini merupakan teknik yang dipandang mapan.  Prinsip-prinsip interpretasi fotografis dapat diterapkan pada citra satelit yang telah dicetak, dan memberikan banyak informasi mengenai fenomena spasial di permukaan bumi pada skala regional.  Citra-citra satelit yang telah tercetak ini memberikan keuntungan terutama dalam hal (a) kemudahan analisis regional secara cepat (karena dimungkinkannya synoptic overview pada satu lembar citra berukuran 60 km x 60 km sampai dengan 180 km x 185 km), dan (b) kemudahan pemindahan hasil interpretasi (plotting) ke peta dasar, karena tidak memerlukan banyak lembar dengan skala yang berbeda-beda dan mempunyai distorsi geometri yang relatif lebih rendah dibandingkan  foto udara.
      Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin pesat dewasa ini –di mana banyak perusahaan telah melakukan downsizing (beralih dari komputer mainframe ke komputer mini, dan dari komputer mini ke komputer mikro/PC) maka akses berbagai kelompok praktisi dan akademisi ke otomasi pengolahan citra digital pun semakin besar.  Semakin banyak paket perangkat lunak pengolah citra digital dan SIG yang dioperasikan dengan PC dan bahkan komputer jinjing (laptop).  Di sisi lain, berbagai jenis PC dan laptop saat ini ditawarkan dengan harga yang semakin murah namun dengan arsitektur prosesor yang semakin canggih dan kemampuan pengolahan maupun penyimpanan data yang semakin tinggi. 
         Teknologi SIG sebenarnya telah dimulai pada akhir tahun 1960-an, antara lain oleh Tomlinson (Marble dan Pequet, 1990).  Kemudian pada dekade 1970-an beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah memulai untuk menerapkan SIG dalam pengelolaan sumberdaya lahan dan perencanaan wilayah. 
Pada sekitar tahun 1979, Jack Dangermond mengawali pengembangan paket perangkat lunak SIG yang sangat terkenal, yaitu Arc/Info untuk mengisi pasar komersia (Rhind et al., 2004).  Setelah itu, puluhan –bahkan ratusan macam paket perangkat lunak SIG, yang sebagian besar di antaranya dioperasikan untuk PC, membanjiri pasar dunia.  Kebutuhan akan fasilitas pengolahan citra digital yang sekaligus dilengkapi dengan fasilitas SIG telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam analisis data spasial.  Sistem pengolah citra satelit dapat memberikan masukan pada SIG berupa peta-peta tematik hasil ekstraksi informasi dari citra digital satelit.  Di sisi lain, fasilitas analisis spasial dari SIG mampu mempertajam kemampuan analisis penglohan citra, terutama dalam hal pemanfaatan data bantu untuk meningkatkan akurasi hasil klasifikasi multispektral (Jensen, 2005).   
Dari Multispektral ke Multisumber dan Hiperspektral
          Pada awal perkembangannya, kamera hanya mampu menghasil-kan foto hitam-putih.  Hal yang sama diberikan oleh foto yang dipasang pada pesawat udara untuk kebutuhan pengintaian dalam aplikasi miltiter.  Kehadiran film berwarna pun secara cepat berimbas pada penggunaan yang lebih intensif dalam penginderaan jauh berbasis foto udara.  Ketersediaan film inframerah kemudian mendorong perkembang-an kamera multisaluran (multiband), yang pada umumnya memuat empat lensa dalam satu badan kamera, dengan kepekaan yang berbeda-beda untuk wilayah spektral berikut: biru, hijau, merah dan inframerah dekat.  Tahap ini menandai perkembangan sistem pemotretan dari yang bersifat unispektral (saluran tunggal) dan berjulat spektral lebar –misalnya dari biru hingga merah— ke  sistem pemotretan multispektral.  Analisis visual foto udara pankromatik, baik hitam-putih maupun berwarna pun kemudian bergeser ke analisis multispektral sederhana, dengan memanfaatkan alat pemadu warna elektrik seperti additive colour viewer (ACV). 
        ACV merupakan suatu antarmuka (interface) yang dapat digunakan untuk menampilkan diapositif film multispektral dengan penyinaran warna primer (merah, hijau dan biru) untuk masing-masing saluran.  Melalui teknik ini, empat saluran yang tersedia dalam empat frame diapositif dapat disajikan sebagai foto udara komposit warna semu atau warna asli, tergantung pada pemilihan kombinasi sinar merah, hijau dan biru pada diapositif saluran yang berbeda-beda.  Interpretasi visual atas citra analog dilakukan di atas kaca tempat memproyeksikan sorotan komposit diapositif tersebut.
      Dengan tersedianya sistem perekam citra digital, maka citra multispektral pun diolah dengan komputer, dan setiap kombinasi warna dalam bentuk citra komposit bisa dihasilkan dengan mudah. Analisis multispektral dapat dilakukan secara lebih teliti dengan membaca nilai-nilai piksel pada berbagai saluran spektral secara serentak, untuk diperbandingkan, dikombinasi melalui transformasi, maupun diekstrak melalui berbagai analisis statistik multivariat yang rumit, di mana setiap saluran berfungsi sebagai satu variabel informasi spektral.  Dari awal tahun 1970-an hingga saat buku ini ditulis, telah berkembang banyak metode analisis multispektral, yang dapat dibaca di Adams dan Gilespie (2006), Liu dan Mason (2008), dan juga Gao (2010).
           Kehadiran teknologi informasi spasial melalui SIG telah memperluas jangkauan analisis citra, sehingga kemudian berkembanglah metode-metode ekstraksi informasi objek atau fenomena di permukaan bumi dengan memasukkan data yang bersifat nir-spektral, sepertu misalnya jenis tanah, bentuklahan, kemiringan lereng, elevasi, dan juga peta-peta berisi objek-objek spasial lain.  Tentu saja, peta-peta ini harus disimpan dan diproses dalam format data digital.  Dengan demikian, perkembangan metode yang sudah berlangsung sekitar 25 tahun ini kemudian semakin mengarah ke klasifikasi multisumber.  Beberapa tulisan awal yang mengintegrasikan penginderaan jauh (khususnya pengolahan citra) dan SIG angara lain yang ditulis oleh Verbyla dan Nyquist (1987), Srinivasan dan Richards (1990), Danoedoro (1993).  Sementara tulisan yang relatif baru untuk topik-topik ini, dengan teknik-teknik yang juga baru, antara lain bisa dijumpai di Weng (2010).
           Perkembangan analisis multispektral juga mengarah ke penambahan jumlah saluran dan lebar setiap saluran.  Sistem hiperspektral mampu mencitrakan fenomena di permukaan bumi dengan jumlah saluran spektral yang mencapai ratusan dan dengan lebar setiap saluran yang hanya beberapa nanometer.  Analisis citra semacam ini, yang disebut dengan spectral cube (kubus spektral) berkembangan dengan pendekatan yang berbeda, mengingat bahwa metode-metode analisis multispektral tidak akan efisien dari sisi waktu pemrosesan dan akurasi hasilnya.  Tulisan-tulisan van der Meer dan de Jong (2003) serta Jensen (2007) dapat dijadikan rujukan awal untuk keperluan ini.
Dari Per-piksel ke Per-objek
       Perkembangan sistem penginderaan jauh satelit telah menghasilkan citra-citra digital yang tidak pernah dibayangkan oleh praktisi di tahun 1980-an, yaitu citra multispektral dengan kualitas detil yang mendekati atau bahkan menyamai foto udara.  Hal ini tidak lepas dari berakhirnya era Perang Dingin di awal 1990-an dan keputusan Presiden Bill Clinton untuk mengijinkan perusahaan-perusahaan swasta mengoperasikan satelit penginderaan jauh dengan teknoogi satelit mata-mata.  Pada tahun 1999 muncullah perusahaan Space Imaging yang meluncurkan satelit Ikonos dengan resolusi spasial hingga 1 meter, disusul oleh Quickbird dengan resolusi spasial hingga 0,6 meter, serta satelit-satelit lain seperti OrbView.  Saat ini, satelit GeoEye telah mampu menghasilkan citra digital dengan resolusi spasial sekitar 40 cm, meskipun undang-undang di Amerika Serikat hanya mengijinkan citra tersebut diproses dan digunakan oleh publik pada resolusi spasial 50 cm atau lebih kasar.
    Kehadiran citra resolusi spasial tinggi telah menantang para analis citra untuk mengembangkan metode ekstraksi informasi tematik yang berbeda dengan klasifikasi multispektral –yang biasa diterapkan pada citra resolusi spasial menengah dan rendah.  Metode ini dikenal dengan nama klasifikasi berbasis objek (object-based classification).  Di Indonesia, citra resolusi spasial tinggi lebih banyak diperlakukan seperti foto udara karena para analis mengalami kesulitan dalam menerapkan klasifikasi multispektral terhadap citra semacam itu.  Pada klasifikasi multispektral citra resolusi tinggi, satu piksel merupakan bagian dari objek penutup lahan yang umumnya berukuran jauh lebih besar, sehingga hasil klasifikasi cenderung merupakan kumpulan piksel yang tidak berkaitan langsung dengan kategorisasi objek yang dikembangkan dalam klasifikasi (Danoedoro, 2006).  Untuk mengatasi masalah ini, dalam kurun 10 tahun terakhir mulai berkembang metode klasifikasi berbasis objek, yang memanfaatkan teknik segmentasi citra (Baatz dan Schappe, 2000; Ranasinghe, 2006; Navulur, 2007).

INTEGRASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI SEBAGAI BAGIAN MATERI PENGETAHUAN UMUM

Penginderaan Jauh semakin berkembang dalam hal teknik dan aplikasinya, termasuk aplikasinya di bidang geografi, sumberdaya, lingkungan, pengembangan wilayah, kajian sumberdaya alam dan mitigasi bencana alam. Perkembangan satelit di negara berkembang semakin maju, termasuk di Thailand, Malaysia, Indonesia dan India. Amerika sebagai super power teknologi ini, telah pula meluncurkan satelit yang menyajikan ukuran pixel detil, 0,41m, dengan nama GeoEye-1. Indonesia telah meluncurkan TUBSAT pada tahun 2007, bekerjasama dengan Jerman dan India.
Untuk itu inventarisasi, pemetaan dan survei data tentang fenomena geografi, sumberdaya alam, dan bencana alam dan informasi pendukungnya, pembentukan basisdata dan sistem informasi kebencanaan perlu dilakukan agar identifikasi, deteksi, pemetaan, monitoring, analisi dapat dilakukan dengan baik. Basisdata dan sistem informasi tersebut dapat digunakan dalam berbagai aplikasi terasuk sistem peramalan dini dan penentu kebijakan (Early Warning and Decision Support Systems). Dalam hal aplikasi-aplikasi ini, tenaga geograf terampil sangat diperlukan.
Untuk keperluan pendidikan, penginderaan jauh dan SIG dapat dimanfaatkan terutama untuk deteksi, indentifikasi, pemetaan, pengukuran, analisis obyek geografi, sumberdaya dan lingkungan, melalui produk-produk turunannya (photomap, spasiomap, orthofoto, peta dasar, peta tematik, digital terrain model, system informasi,…). Peragaan wajah bumi untuk pendidikan SMU dapat memanfaatkan PJ/SIG dengan pilihan-plihan aplikasi yang bervariasi dalam menyusunnya.
I. PENDAHULUAN
Pada masa kini kebutuhan informasi geografi makin nyata dalam negara yang sedang membangun seperti Indonesia, termasuk kegunaanya untuk pendidikan geografi dari sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di satu sisi, diyakini bahwa informasi geografi sangat penting dalam menunjukan sumberdaya alam dan fenomena spasial, tetapi di lain pihak, informasi geografi tersebut belum diperoleh, diselenggarakan dan dikelola sebagaimana mestinya dalam pengelolaan muka bumi, karena belum menjadi prioritas dalam sistem pengelolaannya. Produk-produk perundang-undangan terkait basisdata yang telah diterbitkan oleh pemerintah RI (PP 10/2000 tentang ketelitian peta tematik pendukung tata ruang; Perpres 85/2007 tentang JDSN; dan RUU Tata Informasi Geografi), jelas memposisikan informasi geografi sebagai substansi yang sangat vital dalam penyelenggaraan negara NKRI, dan juga untuk menunjang pendidikan kebumian.
Dalam kaidah standart internasional, informasi geografi telah diatur dalam Geographic Information/ Geomatics, tertuang dalam ISO/TC 211 N 573. Dalam ISO tersebut, informasi geografi didukung dengan 10 buah teknologi berikut (1) Digital survey instruments, (2) Global Positioning System, (3) Remote Sensing, (4) Geographic Information Systems, (5) Spatial Systems Engineering Tools, (6) Spatial Database Management, (7) Automated Cartography, (8) Visualisation, (9) Modeling, (10) Spatial Analysis.
Penginderaan jauh dapat didefinisikan sebagai teknik atau ilmu pengetahuan yang menjelaskan tentang sesuatu obyek tanpa menyentuhnya (Campell, 1996). Teknologi ini dapat pula diartikan sebagai kegiatan perolehan informasi tentang permukaan bumi dengan menggunakan citra yang diperoleh dari dirgantara menggunakan energi elektromagnetik pada satu atau beberapa bagian spektrum elektromagnetik yang dipantulkan maupun dipancarkan dari permukaan bumi (Campell, 1996, dalam Sigit, 2008). Penginderaan jauh terdiri dari komponen-komponen yang membentuk suatu sistem: energi elektromagnetik, atmosfer, obyek permukaan bumi, dan sensor (Curran, 1985). Kemajuan teknologi penginderaan jauh sistem satelit mampu menyediakan citra penginderaan jauh yang mempunyai resolusi spasial (ukuran pixel), resolusi spektral (panjang gelombang) dan resolusi temporal yang cukup tinggi. Hal ini tentu saja sangat membantu pelaksanaan aplikasi citra penginderaan jauh dalam hal pengukuran, pemetaan, pantauan dan pemodelan dengan lebih efisien dibandingkan pemetaan secara konvensional
Sistem Informasi Geografi (SIG) terdiri atas input, penyusunan basisdata, proses dan output. Sebagai input, semua data spasial dapat digunakan sebagai masukannya, yang meliputi peta-peta tersedia, data sensus, hasil penetian, dan citra penginderaan jauh. Citra penginderaan jauh sebagai data utama dalam SIG karena muthakir, yang didukung oleh resolusi temporalnya. Proses (buffer, overlay, transformasi,…) dapat dilakukan pada basisdata untuk menghasilkan informasi baru hasil dari pengukuran, pemetaan, pantauan dan pemodelan. Hasil tersebut sanagt berguna bagi proses pendidikan geografi, yang obyek utamanya adalah muka bumi, sedikit bawah muka bumi, dan atas bumi (lithosfer, hydrosfer, atmosfer, biosfer, antropofer).
Produk-produk penginderaan jauh dan SIG yang berupa citra digital dan hardcopy sangat bermanfaat bagi pendidikan geografi, karena obyek geografi, dan gejala kebumian dan lingkungan dapat disajikan dengan jelas pada data penginderaan jauh, dengan varisai skala dari skala besar hingga skala kecil. Kompetensi pendidikan geografi yang telah dirumuskan oleh Depdiknas, 2003, sebagaian besar dapat dibantu dengan menggunakan penginderaan jauh dan SIG untuk 
II. TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH
2.1 Pengertian Penginderaan Jauh
Dalam memilih sistem penginderaan jauh yang sesuai dengan tujuan peneraannya, maka perlu memahami adanya konsep resolusi. Resolusi sangat menentukan tingkat kerincian obyek, sifat signatur spektral, periode ulang untuk monitoring dan tampilan datanya. Empat resolusi, yaitu : (a) Resolusi spektral, (b) Resolusi spasial, (c) Resolusi temporal, dan (d) Resolusi radiometrik. Resolusi spasial mencerminkan rincian data tentang obyek yang dapat disadap dari suatu sistem penginderaan jauh, dalam bentuk ukuran obyek terkecil yang dapat disajikan, dibedakan, dan dikenali pada citra, disebut pixel (picture element). Resolusi spektral menunjukkan kerincian spektrum elektromagnetik yang digunakan dalam suatu sistem penginderaan jauh. Resolusi temporal merupakan frekuensi perekaman ulang bagi daerah yang sama oleh suatu sistem penginderaan jauh, dan resolusi radiometrik menunjukkan kepekaan suatu sistem sensor terhadap perbedaan terkecil kekuatan sinyal yang sampai pada sensor tersebut.
2.2 Pemotretan udara (Airborne Sensing)
Pemotretan udara merupakan teknik penginderaan jauh konvensional yang hingga kini peranannya belum dapat tergantikan oleh sistem lainnya dalam memberikan kerincian data permukaan bumi, kecuali kini adanya IKONOS, yang masih perlu evaluasi aplikasinya di Indonesia. Para interpreter telah terbiasa dengan pengenalan hasil pemotretan tegak yang dihasilkan (foto udara). Foto udara makin terkenal ketika digunakan dalam Perang Dunia I, untuk merekam pergerakan lawan. Foto udara menyajikan gambar yang jelas, mudah ditafsirkan dan bermanfaat untuk kajian yang berkaitan dengan muka bumi. 
Berdasarkan jenis film yang digunakan, foto udara dibedakan manjadi foto udara pankromatik, inframerah, ultra violet dan ortrokromatik. Penginderaan dengan cara ini bersifat manual, baik sistem, data dan cara interpretasinya. Sistem hyperspektral (CASI, The MAP), memunculkan fenomena baru dalam penginderaan ini, karena sifat spektral obyek dapat dicermati menjadi lebih rinci. Small format photography berskala 1:5000 atau lebih besar, biaya relatih murah (Rp.20.000,-/Ha), menawarkan produk lain yang lebih kompetitif pada era otonomi daerah ini. Adanya scanner yang berfungsi konversi data analog ke digital, teknik interpretasi interaktif telah berkembang baik untuk obyek muka dan dalam bumi.
2.3 Penginderaan Jauh Satelit (Spaceborne Sensing)
Penginderaan jauh satelit menggunakan satelit sebagai kendaraan untuk membawa sensor dalam rangka penginderaan bumi pada ketinggian ratusan hingga ribuan kilometer. Penginderaan dengan satelit bersifat otomatik dengan sistem orbit sunsynchronous : pemotretan teratur, pengiriman data secara elektronik, analisis data secara digital. Jenis satelit yang digunakan untuk inventarisasi dan evaluasi bencana alam misalnya adalah Landsat (Multispektral Scanner, Thematic Mapper), System Pour l’Observation de la Terre (SPOT), Marine Observation Satelite (MOS), National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Geometeorological Satellite (GMS), Barkara, ERS-1, JERS-1, ALMAZ-1, IRS, ADEOS. 
Kemampuan memberikan satuan data terkecil di permukaan bumi disebut resolusi spasial, yakni sama dengan ukuran obyek yang ditampilkan sebagai satu unsur gambar (pixel). Satelit Landsat MSS memiliki resolusi spasial sebesar 80 x 80 m2, Thematic Mapper sebesar 30 x 30 m2 sedang SPOT sebesar 20 m x 20 m2 untuk sensor dengan panjang gelombang multispektral (multispectral mode) dan 10 m x 10 m2 untuk panjang gelombang tampak mata (panchromatic mode). Satelit NOAA beresolusi spasial 1 km2 (LAC) dan 9 km2 (GAC).
Periode ulang di dalam mengindera permukaan bumi sebesar 26 hari, dengan adanya jalur samping nadir (off-nadir viewing) periode selama 26 hari tersebut dapat digunakan untuk merekam daerah yang sama sebanyak tujuh kali untuk daerah di equator dan 11 kali bagi daerah lintang 45 derajat. Disamping periode ulangnya makin pendek juga diperoleh citra foto stereoskopis, karena adanya sistim penginderaan pada daerah yang sama dengan sudut pandang berbeda. Citra foto stereoskopis ini sangat bermanfaat bagi sistim analisa selanjutnya, terutama untuk penerapan interpretasi foto dan fotogrametri. Citra foto stereoskopis ini akan memberikan kenampakan tiga dimensi bila dilihat dengan menggunakan alat yang disebut stereoskope. Dengan melihat gambaran permukaan bumi yang tiga dimensi tersebut, maka informasi yang dapat disadap pada penelitian tertentu nampak semakin jelas. Sistem Landsat memiliki pengulangan rekaman sebesar 16 hari, sedang NOAA setiap 12 jam. Perolehan data yang cepat ini, memungkinkan kegiatan monitoring hutan dan pemuthakiran basisdata hutan dengan baik.
Citra NOAA, bekerja dengan visible, infrared dan thermal, resolusi 1 km dan 3 km, memberikan gambaran global tentang bumi, sehingga identifikasi bencana alam seperti letusan gunung berapi, kebakaran hutan baik dilakukan dengan citra ini. Citra ERS-1 beresolusi menengah, menggunakan microwave dalam penginderaannya, memungkinkan pengenalan fisik bumi (geomorfologi, geologi) yang lebih baik untuk pengenalan bencana seperti genangan banjir, longsor lahan, dan aktivitas volkanik.
2.4 Berbagai Sistem Penginderaan Jauh yang dikenal di Indonesia
2.4.1 Sistem Landsat 7 ETM+
Landsat 7 ETM+ diluncurkan pada tanggal 15 April 1999 dengan tujuan untuk menghasilkan data seri untuk seluruh daratan dan wilayah pesisir bumi dengan citra yang direkam dengan panjang gelombang tampak mata dan inframerah kualitas tinggi serta melanjutkan basis data Landsat yang sudah ada. Satelit ini dioperasikan bersama oleh NASA, NOAA dan USGS. Citra Landsat 7 ETM+ tersedia dalam tiga level data, yaitu : 0R, 1R dan 1G. Citra dalam level 0R merupakan citra yang belum mengalami koreksi radiometrik dan koreksi geometrik. Untuk citra dalam level 1R sudah mengalami koreksi radiometrik namun belum mengalami koreksi geometrik, sedangkan untuk citra dalam level 1G sudah mengalami koreksi radiometrik maupun koreksi geometrik.

2.4.2 Sistem Sensor Hiperspektral

Penginderaan jauh sistem sensor hiperspektral merupakan penggabungan kemampuan teknologi pencitraan dengan kemampuan analitis spektrometer. Sensor hiperspektral mampu merekam informasi spektral obyek seperti kemampuan spektrometri secara spasial. Dikalangan perintisnya teknologi ini lebih dikenal dengan sebutan spektrometer pencitra (imaging spectrometry) – spektrometer yang mampu melakukan pencitraan (imaging). Spektrometer sendiri hanya mampu merekam respon spektral obyek pada target titik. (Campell, 1996). Sistem sensor hiperspektral dirancang berbeda dengan sensor penginderaan jauh pada umumnya. 
Dalam operasionalisasinya, sensor hiperspektral dapat diprogram dalam tiga mode, yaitu: mode spasial, spektral, dan enhanced spektral. Masing-masing mode memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. Pada mode spasial, jumlah saluran spektral dapat mencapai 19 saluran dengan lebar sapuan adalah 512 piksel, resolusi spasialnya antara 0,8 – 5 m, dan resolusi radiometriknya adalah 16 bit. Pada mode spektral, jumlah saluran spektral dapat mencapai 288 saluran kontinyu dengan resolusi spektral 1.8 nm. Pada mode enhanced spektral jumlah saluran spektral dapat mencapai 72 saluran dengan resolusi spektral 8.6 nm. (www.themap.com.au). 
2.4.3 Sistem Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER)
Salah satu citra satelit penginderaan jauh yang bisa digunakan dalam membantu pelaksanaan pemetaan pada skala sedang adalah citra satelit penginderaan jauh sistem ASTER. ASTER saat ini dipandang sebagai salah satu sistem penginderaan jauh satelit yang diharapkan mampu mengganti satelit Landsat ETM+ yang telah mengalami malfungsi sejak tahun 2003. Satelit Landsat 7 dengan sensor ETM+ (Enhanced Thematic Mapper Plus) adalah kelanjutan dari satelit Landsat generasi sebelumnya yang merupakan sistem penginderaan jauh yang memiliki sejarah panjang dan basis data yang paling lengkap untuk seluruh dunia. Citra satelit ini banyak diaplikasikan untuk berbagai kepentingan mulai dari agribisnis, militer, akademik, bisnis, dan sebagainya (http://ltpwww.gscf.nasa.gov; 20 April 2000; 13.30 WIB). 
Digital Elevation model (DEM) dapat diperoleh dengan mengaplikasikan data ini, sehingga data ini tidak hanya untuk peta topografik saja, tetapi bisa juga digunakan sebagai citra stereo. SWIR merupakan high resolution optical instrument dengan 6 band yang digunakan untuk mendeteksi pantulan cahaya dari permukaan bumi dengan short wavelength infrared range (1.6 – 2.43 m). Penggunaan radiometer ini memungkinkan menerapkan ASTER untuk identifikasi jenis batu dan mineral, serta untuk monitoring bencana alam seperti monitoring gunung berapi yang masih aktif. TIR adalah high accuracy instrument untuk observasi thermal infrared radiation (800 – 1200 m) dari permukaan bumi dengan menggunakan 5 bands. Band ini dapat digunakan untuk monitoring jenis tanah dan batuan di permukaan bumi. Multi-band thermal infrared sensor dalam satelit ini adalah pertama kali di dunia. Ukuran citra adalah 60 km dengan ground resolution 90m (Sumantyo dan Soekanto, 2003). Karakteristik citra aster disajikan pada tabel 2.
2.4.3 Sistem Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM)
SRTM diluncurkan pada tanggal 11 Februari 2000 oleh National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) and the National Aeronautics and Space Administration (NASA). Sensor SRTM diletakkan pada pesawat ulang alik Endeavour yang mengorbit bumi selama 10 hari dan berhasil mengumpulkan data topografi berresolusi tinggi hampir mendekati 80 % luas permukaan daratan di bumi. SRTM termasuk dalam katagori satelit gelombang mikro aktif. Sensor SRTM berkerja pada dua kanal, yaitu kanal C dengan panjang gelombang 5,6 cm dan kanal X dengan panjang gelombang 3 cm. Pada pencitraan dengan kanal C dihasilkan citra resolusi tinggi dengan lebar liputan 50 km untuk beberapa daerah tertentu, sedangkan pada pencitraan dengan kanal X dihasilkan citra yang lebih rendah resolusinya dengan lebar liputan 225 km namun luas liputannya hampir mencapai 80% luas permukaan daratan di dunia (Gambar 5). Resolusi spasial citra SRTM berkisar antara 10 m sampai dengan 90 meter dengan resolusi rata-rata 30 m.
Untuk menghasilkan citra topografik resolusi tinggi dan mempunyai kemampuan untuk pemodelan tiga dimensi dengan teknik interferometri, maka sensor SRTM beroperasi dengan dua antena, dimana salah satunya diletakkan pada badan pesawat endeavour dan satunya diletakkan 60 meter di luar badan pesawat ulang alik tersebut.
2.5 Satelit di Negara Berkembang
Berikut disampaikan perkembangan dunia penginderaan jauh di negara sedang berkembang : Indonesia, Thailand, Malaysia, dan India. Perkembangan ini tidak dapt dibandingkan dengan perkembangan di negara-negara maju, yang sudah sangat lanjut. Perkembangan di negara berkembang ini berciri kemitraan dengan negara maju, sehingga secara ilmiah dan teknis, sangat dirasakan adanya bantuan dan dukungan dari negara maju. 
2.5.1 Satelit TUBSAT – Indonesia
Toto Marnanto Kadri dan Adi Sadewo Salatun (2007) menyatakan bahwa kebutuhan pengembangan satelit di Indonesia didasarkan pada wilayah nasional Indonesia sebagai Negara kepulauan dan wilayah daratan yang sangat luas. Satelit TUBSAT diluncurkan oleh Indonesia, hasil kerjasama dengan jerman dan India, pada tahun 2007. Spesifikasi satelit TUBSAT memiliki resolusi spasial Ground Resolution 5 m dan 200 m . Attitude Control System : 3 wheels fiber optic laser gyros in orthogonal axis, CMOS star sensor, 3 magnetic coils in orthogonal axis, Coarse sun sensor (solar cells) at 6 sides. Manfaat satelit telekomunikasi dan satelit penginderaan jauh bagi Indonesia diharapkan berperan dalam : a. Telecommunication (first domestic satellite telecommunication system in operation in 1976); b. Earth observation (natural resources, urban and rural land use; development, environment, weather, climate and others); c. Disaster management; d. Navigation; e. Search and Rescue; f. Health; g. Education; h. Others. Satelit dan aplikasinya diperuntukan bagi kesejahteraan rakyat.
2.5.2 Satelit THEOS Thailand
Spesifikasi satelit THEOS : Mass: 750 kg, Orbit: Sun Synchronous, Altitude: 822 km, Inclination: 98.7, Repeat Cycle: 26 days, Mean Local Time: 10.00 a.m., Payload: Panchromatic telescope dan Multi-spectral camera On-board Memory: 51Gb, Mission Data: X-band Link; TT&C: S-band Link, Attitude Orbit Control and Orbit Determination: 3-axis stabilized, Star Tracker, Gyro, GPS, Magnetic Torque, Sun Sensor, Design Life Time: 5 Years; Launch Date: Mid 2007.
Peran satelit penginderaan jauh bagi Thailand : ground receiving station is the major source of satellite data, Disaster management and R&D activities are being conducted, cooperating with agencies world wide. Thailand can support Sentinel Asia as : satellite data provider, WMS network, capacity building…
2.6.3 Satelit Razaqsat Malaysia
Malaysia telah pula memiliki program peluncuran satelit sumberdaya alam, diberi nama Razaqsat, diluncurkan tahun 2007.
2.6.4 Program Penginderaan Jauh Satelit India
India memulai program satelit sumberdaya alam sejak 1979, dengan peluncuran satelit Bhaskara. Hingga kini telah meluncurkan puluhan satelit dengan resolusi spasial 1m hingga 1 km. Negara ini sangat maju di bidang ini, bahkan tahun ini sudah dirancang pelincuran satelit berawak menggunakan pilot, seperti yang telah dilakukan oleh Amerika, Soviet, China dan Jepang.
Kemampuan India dalam hal ini adalah : (1) data at different spatial resolutions in identical spectral bands, (2) high Repetivity/Revisit Launch in tandem, Coarse spatial resolution or Geo-synchronous, (3) specific narrow bands (High S/N), (4) high Spatial Resolution (PAN) and Stereo Capability, (5) observations over land, ocean and atmosphere, (6) ensuring availability of data from international missions of different dimensions to fill gaps (LANDSAT, SPOT, ERS, RADARSAT, JERS, NOAA, Terra-Aqua, etc).
2.6.5 Satelit GeoEye1 Milik Amerika Serikat
Amerika Serikat sebagai Negara maju di bidang penginderaan jauh, baru-baru ini telah meluncurkan satelit sumberdaya alam, yang mampu menyajikan resolusi spasial terbaik, yaitu 0,41m. diluncurkan pada tanggal 8 September 2008, dengan ketinggian 478mile (700km). Satelit diberi nama GeoEye-1. Kemampuan yang sejenis juga telah dirancang untuk satelit OrbView-4. Resolusi spasial 0,41m itu, lebih baik dibanding dengan satelit yang telah masuk di pasaran citra dunia, QuickBirds, 0,64m, yang citranya telah banyak digunakan di Indonesia
III. INTEGRASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI SERTA APLIKASINYA
Setiap daerah kabupaten berusaha memanfaatkan SDA sebagai modal dasar pembangunan secara efisien. Dalam pengelolaan wilayah kabupaten, efisiensi dan penilaian yang tepat tentang potensi SDA perlu dilakukan, agar supaya modal dasar pembangunan tersebut dapat dimanfaatkan sesuai sasaran. Untuk itu perolehan data SDA, pemanfaatan data yang baik, benar, cepat perlu dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan data dan pengembangan sistem informasi spasial sesuai dengan kebutuhan.
Dalam era pembangunan dan globalisasi, diperlukan data yang baru dan pengelolaan data dan informasi yang mudah diakses. Dalam hal ini, teknik penginderaan jauh dan SIG dapat menjawab hal tersebut. Penginderaan jauh, citra foto, citra satelit dapat dimanfaatkan sebagai sumberdata lingkungan abiotik (sumberdaya alam), lingkungan biotik (flora dan fauna), serta lingkungan budaya (bentuk penggunaan lahan).
Kesadaran tentang pentingnya data SDA serta peran data dan informasi tersebut untuk perencanaan pembangunan dan pengendalian dampak yang ditimbulkan. Untuk itu, dirasa perlu untuk meningkatkan kualitas para pelaksana dan pengendali pembangunan untuk mengetahui semua jenis sumberdaya dan pembangunan, serta mengetahui lokasi agihannya.
Data dan informasi dapat diperoleh secara langsung melalui teknik pengukuran, sensus ataupun observasi, yg perlu waktu dan biaya yang relatif besar. Pengolahan citra penginderaan jauh, dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi, terutama dalam bidang SDA. Manfaat tersebut antara lain perolehan data dan informasi tentang jenis, luas, distribusi, dan kualitas SDA secara cepat dan perubahan-perubahannya. Teknik penginderaan jauh memerlukan tenaga dan pelaksana yang mampu mengelola citra : interpretasi citra hingga menyajikannya ke dalam bentuk peta sumberdaya atau produk digital lainnya. Produk tersebut kemudian dapat digunakan sebagai input dalam penyusunan basisdata wilayah, yang bermanfaat utk berbagai keperluan pengelolaan wilayah. 
3.1 Penginderaan Jauh dan Penyusunan Basisdata SIG
Data dasar nasional berisi data dan informasi dasar geografis yang tercakup dalam peta Topografi, Rupabumi, lingkungan Pantai Indonesia, Lingkungan Laut Nasional dan Benua Maritim. Sebesar 70% dari wilayah nasional telah terselesaikan. Data tematik yang dibangun di atas data dasar meliputi tematik abiotik (geologi, tanah, air, iklim, mineral, laut), biotik (vegetasi) dan data sosial ekonomi penduduk. Perolehan data tersebut oleh instansi penghasil data (BPN, Puslittanak, Dirjen Geologi, Lemigas, Departemen Kehutanan, Bakosurtanal, Jawatan Topografi, Kimpraswil, BMG, BPS, Dirjen Pajak PBB) menggunakan data penginderaan jauh dan diolah dengan SIG. Pembentukan IDSN dan IDSD telah dimulai, monitoring kemajuan antar instansi penghasil dan pengguna data dilakukan melalui Rakor dan Rakortek SIG, yang berlangsung setiap tahun.
PP 10/2000, yang ditandatangani oleh Presiden Abdurrahman Wahid tanggal 20 Desember 2000 menjelaskan tentang tingkat ketelitian peta tematik untuk mendukung tataruang wilayah sebagai berikut : 
  1. Peta RTRW Nasional minimal 1 : 1.000.000. Isi : Garis Pantai, Hidrografi lebar minimal 125m, Kota, transportasi, batas administrasi nama-nama geografis
  2. Peta RTRW Daerah Propinsi, minimal 1 : 250.000. Isi : Idem, Hidrografi minimal 35m, + kontur 125m, propinsi Sempit : 1 : 50.000-1:100.000
  3. Peta RTRW Daerah Kabupaten, minimal 1 : 100.000. Isi : Idem, Hidrografi minimal 15m, + kontur 50m, Kabupaten Sempit : 1 : 50.000-1:25.000
  4. Peta RTRW Daerah Kota, minimal 1 : 50.000 . Isi : Idem, Hidrografi minimal 7m, + kontur 25m, Kota Sempit : 1 : 25.000-1:10.000
Isi (1 : 25.000): Idem, Hidrografi minimal 5m, kontur 12,5m
Isi (1 : 10.000): Idem, Hidrografi minimal 1,5m, kontur 5m
Data nasional sebagai input terbentuknya basisdata nasional telah tersedia dalam skala 1:1000.000 dan 1:250.000, sedang skala yang lebih besar 1:100.000; 1:50.000; 1:25.000 masih perlu dikerjakan dengan cara-cara yang lebih sistematik, konsisten, dan berkesinambungan. Prof. M.T Zen dari ITB, pada acara Kongres Ilmu Pengetahuan di Serpong, tahun 1996, pernah menyatakan bahwa peta SDA tersedia tidak cukup untuk kegiatan eksplorasi SDA, tetapi perlu segera didetilkan.
Basisdata merupakan sekumpulan data spasial yang terdiri dari beberapa tema (layer) yang memiliki kesamaan, (hidrografi, topografi, perhubungan, liputan lahan, toponimi). Penyusunan basisdata telah diatur dan sebaiknya mengkuti ketentuan yang berlaku, antara lain PP No.10 Tahun 2000, yang berisi tentang Kerincian peta tematik untuk mendukung tataruang; Perpres No.85 2007 tentang Jaring Data Spasial Nasional; RUU Tata Informasi Geospasial (UU Tata Informasi Geografi); Bab X UU No.25 Tahun 2000 tentang Sumberdaya alam dan Lingkungan Hidup; SNI terbitan BSN, yang telah menghasilkan lebih dari 10 standart penyusunan Peta Dasar; dan ISO TC 211 Geographic Information/Geomatics.
Perpres No.85 tahun 2007, berisi berbagai pengertian tentang Jaring data spasial Nasional yaitu sistem penyelenggaraan pengelolaan data spasial secara bersama, tertib, terukur, terintegrasi, dan berkesinambungan dan berdayaguna. Data spasial adalah hasil pengukuran, pencatatan dan pencitraan terhadap suatu unsure keruangan yang berada di bawah, pada, di atas permukaan bumi dengan posisi keberadaannya mengacu koordinat nasional (GEOGRAFIS : A 110d, 30m, 30dt BT; 6d, 10m, 10d LS; A 411365; 9023345 Universal Transverse Mercator….UTM). Simpul Jaringan merupakan institusi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pengumpulan, pemuthakiran, pertukaran, penyebarluaasan data spasial tertentu. Penghubung simpul jaringan adalah institusi yang menyelenggarakan pengintergrasian simpul jaringan secara nasional. Unit kliring adalah salah satu unit kerja pada simpul jaringan yang ditunjuk sebagai pelaksana pertukaan dan penyebarluasan data spasial tertentu. Metadata merupakan informasi singkat ataas data spasial yang berisi identifikasi, kualitas, organisasi, acuan, entitas, distribusi, sitasi, waktu dan acuan data. Standart nasional Indonesia adalah standart yang ditetapkan oleh BSN dan berlaku secara nasional. Spesifikasi data sppasial merupakan uraian yang berisi ketentuan teknis dalam mencapai tujuan khusus dan penjelasan rinci sesuai dengan kekhususan data spasial tersebut. JDSN berfungsi sebagai sarana pertukaran data spasial dan sarana penyebarluasan data spasial. Institusi tersebut adalah Departemen, non deprtemen dan kementrian. 
Core data set merupakan kesepakatan nasional tentang data apa yang harus dimiliki oleh setiap unit pengembang basisdata. Saat ini perbincangan tentang hal tersebut belum final, dengan usulan sebanyak 13 macam data set. Sebagai perbandingan data tentang Digital Himalaya berisi hanya 6 macam data spasial, dengan melibatkan 8 negara yang memiliki wilayah hulu di Himalaya. Data tersebut adalah Topography; Land Use and Land cover; Infrastructure; Drainage Network; Administrative Boundary; Socio-Economy (Census). Jenis data meliputi 
1. DATA DASAR : geografis, hidrografi, topografi, sarana (jalan, KA), ekologis (rawa, non rawa), nama2, bathimetri. Disajikan informasi tepi kartografis : orientasi, judul, skala, koordinat (geografis, UTM), inset, legenda, cara membaca, sumber data, tahun, grid/indeks. Input sbg data grafis.
2. Data Tematik Dasar : Abiotik, Biotik, Cultural, SD Lahan, SD Air, SD Hutan, SD Mineral/Batuan, SD Laut. Data tersebut merupakan Input data atribut. Skala 1:1000.000 dan 1:250.000. Skala lebih besar menunggu utk dibuat dgn baik.
3. Data Tematik Analitik : data yang diderivasikan dari data dasar, data tematik dasar (lereng/DEM dari kontur ketinggian; Peta ekosistemßP.liputan lahan + P.Bentuk lahan
4. Data Tematik Sintetik: data yang merupakan sintesa dari aspek kebumian secara integral ß Tataruang (biofisik, ipoleksosbudhankam)
Basisdata harus memiliki kualitas data spasial yang memadai. Kriteria penilaian kualitas data spasial meliputi
(1) Skala yaitu ratio of distance on a map to the equivalent distance on the earth’s surface; Primarily an output issue; at what scale do I wish to display?
(2) Precision or Resolution (skala peta-à resolusi cocok ?, penyebut skala/10.000): the exactness of measurement or description dan determined by input; can output at lower (but not higher) resolution.
(3) Accuracy (horizontal, o,5 x resolusi spasial; vertikal 0,5 x Ci) 1:50.000, CI = 50.000/2000 = 25m…Ketetlitian vertikal <12,5m. 1:200…CI =200/2000….10CM….5CM. Akurasi merupakan the degree of correspondence between data and the real world, dimana pada dasarnya akurasi ditentutak oleh input data.
(4) Kemuthakiran (Currency) (Baru, mutakhir, 1-2 tahun terakhir LU/LC, 5-10 tahun Fisik), yaitu the degree to which data represents the world at the present moment in time
(5) Documentation or Metadata (header of CD ROM), FU, jalur terbang, overlap, sidelap, end land, daerah efektif, vertikal/oblique <3); metadata is data about data; Recording all of the above
(6) Standards yaitu Common or “agreed-to” ways of doing things (SNI–BSN, ISO)..Geographic Information dan Data built to standards is more valuable since it’s more easily shareable SIGNAS (sharing and interoperabilty data)
3.3 Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG
Kekuatan dari SIG adalah terbentuknya New Information dari hasil analisis basisdata, melalui berbagai proses yang dapat dilakukan pada SIG , melalui (1) Pemrosesan data atribut (Query dan Kalkulasi), (2) Pemrosesan data grafis (mengubah skala, mengubah Sistem Proyeksi, Rotasi dan Translasi, Pengkondisian (Spasial Querying), Tumpangsusun (Overlay), Re-klasifikasi, Jarak dan Buffer, model Elevasi/Medan Digital, pemodelan Spasial dan Kalkulasi Data Grafis); dan (3) Terpadu antara data grafis dan atribut (Pengkaitan atribut ke grafis dengan simbol area, warna, angka, diagram).
SIG merupakan suatu sistem informasi yang dirancang pelaksanaannya dengan mendasarkan pada letak spasial atau koordinat geografi. Dengan kata lain, SIG merupakan suatu sistem “data base” yang memiliki kemampuan tertentu untuk data yang bereferensi spasial dan juga merupakan serangkaian proses kerja dengan data spasial dan atribut. Star and Estes (1990) menyatakan bahwa pemahaman terhadap lingkungan alam dan gejala-gejalanya (termasuk bencana alam) dapat dilakukan dengan menerapkan konsep empat M. Empat M tersebut adalah pengukuran (measurement), pemetaan (mapping), pantauan (monitoring) dan pembuatan model (modeling). Data penginderaan jauh merupakan input penting pada SIG karena datanya muthakir, lengkap dan cepat diperoleh.
Contoh aplikasi SIG yang meliputi 4M, dimana M pertama adalah Measurement; misalnya pengembangan pemodelan sig utk mengukur volume banjir DKI. Berkutnya adalah mapping: pemetaan curah hujan dari data satelit, kemudian Monitoring; monitoring limbah Freeport dalam konteks kelestarian lingkungan di lowland; dan Modeling, misalnya Site selection area permukiman yg lestari utk penduduk pra sejahtera.
3.3.1 Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG untuk Kajian Sumberdaya Mineral dan Batuan
Pemanfaatan SIG untuk pemetaan sumberdaya mineral dan batuan dapat dicontohkan dengan studi Asadi, H.H. (2000), berjudul The Zarshuran gold deposit model applied in a mineral exploration GIS in Iran. Sebuah disertasi doctor di Delft University of Technology. Enam model pendekatan telah dilakukan untuk melokalisir cebakan emas, dengan menggunakan data peta, citra satelit, citra aeromagnetic dan survey lapangan. Enam pendekatan tersebut adalah (1) Chemically-reactive host rocks (Precambrian shale, limestone), (2) Metal source rocks (serpentinized ophiolite), (3) Igneous heat sources (andesite, basalt), (4) Faults (trending NW-SE, E-W and NE-SW), (5) Hydrothermal alteration (argillic, iron oxide), (6) Geochemical signature (of orpiment, sphalerite and sulphosalts). Tampilan spasial komposit dari masing-masing model tersebut dapat menghasilkan alternative lokasi potensi cebakan emas.
3.3.2 Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG untuk Kajian Sumberdaya Air
Pemetaan, monitoring dan modeling sumberdaya air telah dilakukan oleh beberapa peneliti di Indonesia. Kekeringan, menyusutnya volume air permukaan, pendangkalan danau dan rawa, telah dilaporkan dalam berbagai media. Kajian Rawa Biru oleh WWF dan Fakultas Geografi UGM 2003, menunjukan fenomena tersebut. Contoh kajian entang sumberdaya air tanah, telak dilakukan oleh Dulbahri 1994 memetakan sumberdaya air tanah di DAS Progro dengan menggunakan foto udara inframerah 1;30.000, peta tematik dan kerja lapangan. Analisis spasial holistic dengan overlay, dilakukan dengan menggunakan berbagai variable abiotik sebagai input (geologi, geomorfologi, tanah, dan liputan lahan) dan mampu menunjukan potensi akuifer. 
3.3.3 Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG untuk Kajian Sumberdaya Lahan
Pemetaan dan evaluasi sumberdaya lahan telah dilakukan oleh Puslitanak secara operasional, menggunakan foto udara. Pada LREP kegiatan tersebut makin meningkat. Penggunaan lahan dan kerusakan lahan telah dilakukan oleh BPN, Departemen kehutanan dan Lingkungan Hidup.
3.3.4 Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG untuk Kajian Sumberdaya Hutan
Kajian sumberdaya hutan dengan menggunakan SIG telah dilaksanakan dengan berbagai pendekatan baik multi spasial, spectral dan temporal. Serangkaian data dan informasi seri, multi level dan multi temporal telah dilakukan. Pemodelan dan prediksi kondisi hutan di masa depan telah mampu disajikan. 
Fakta menunjukan bahwa hutan berkurang >1 juta Ha per tahun, melalui penebangan resmi maupun yang tidak resmi. Peta vegetasi Indonesia dari hasi SIG misalnya ditunjukan dengan peta Yves Laumonier (1986), NFI (1991), JAFTA (1990) menggunakan pendekatan ekofloristik, serta Agus Siswanto (2008) dengan metode berlapis (stratified).
3.3.5 Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG untuk Kajian Sumberdaya Laut
Kajian sumberdaya laut oleh Barmawi (2002) dengan menggunakan citra CASI (Compact Airborne Spectral Imager) hyperspektral mampu memetakan terumbu karang di Kepulauan Seribu. Citra MODIS multispektral telah digunakan untuk studi eutrofikasi perairan Teluk Jakarta oleh Sam Wouthuysen, 2004, yang mampu menunjukan kondisi polusi perairan pada berbagai kondisi dan waktu.
3.8 Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG untuk Perencanaan Pengembangan Wilayah
Evaluasi struktur tataruang dapat dilakukan dengan membandingkan pemetaan penggunaan lahan aktual dengan peta tataruang tersedia, yang bermanfaat bagi monitoring dan pengendalian penggunaan lahan. Fakta menunjukan bahwa alih fungsi lahan dari kawasan vegetatif menjadi kawasan terbangun, semakin sulit dikendalikan, terutama di Jawa. Satu contoh aplikasi data penginderaan jauh untuk perencanaan pengembangan wilayah adalah model penyediaan hutan kota, meliputi kegiatan-kegiatan : pemetaan, monitoring, dan perencanaannya, dengan memperhatikan sumber pencemar, jumlah penduduk dalam proyeksi tahun tertentu, eksisting hutan kota, dan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen dan kenyamanan hisup bagi warganya. 
 
 
 

Daftar Istilah yang terkait Pada Satelit Meteorologi

Absolute zero temperature (Suhu nol absolute): Titik nol pada skala suhu Kelvin (0 K)
Absorptance : Jumlah fraksi energi pancar yang tersedia yang diserap oleh material seperti lapisan atmosfer, lapisan awan, permukaan atau partikel-partikel.

Absorption (Absorpsi): Proses tertahannya/terserapnya energi radiasi oleh suatu bahan/benda.

Absorption Region : Bagian spektrum elektromagnetik yang diserap dan dipancarkan kembali oleh gas-gas di atmosfer, seperti uap air, karbon-dioksida, dan ozon.

Advanced Very High Resolution Radiometer (AVHRR) : Sensor citra multispektral yang terdapat pada satelit polar orbit NOAA-series.

Advection (Adveksi): Perpindahan horizontal suatu sifat/properti atmosfer.

Aerosol: Partikel-partikel kecil yang berbentuk padat atau cair yang terkandung dalam atmosfer.

Air-mass (Massa udara): Sejumlah besar udara yang memiliki sifat-sifat cuaca yang sama, terutama suhu dan kelembapannya.

Air pollution (Polusi udara): Bahan pencemar yang terdapat di atmosfer, seperti debu, gas-gas atau asap.

Albedo: Persentase cahaya yang dipantulkan oleh sebuah obyek ketika disinari.

Altocumulus (Ac): Awan-awan di lapisan troposfer tengah yang berwarna abu-abu atau putih dan berbentuk berlapis atau bergumpal dan berkembang secara vertikal.

Altostratus (As): Awan-awan berlapis di troposfer tengah yang berwarna abu-abu atau kebiru-biruan.

Amplitude: Setengah dari tinggi dari suatu puncak ke lembah gelombang.

Angle of inclination (Sudut inklinasi): Kemiringan bumi pada bidang imajiner yang menghubungkan titik pusat matahari dan bumi. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan orbit planet-planet lain dan satelit.

Anthropogenic: Dihasilkan oleh aktivitas manusia.

Anvil Cloud: Bagian awan Cumulonimbus (Cb) yang berbentuk landasan datar dan menyebar dari puncak awan Cb ketika mencapai tropopause.

Aphelion: Lokasi pada orbit ketika Bumi atau planet lainnya berada pada jarak terjauh dari Matahari.
Applications Technology Satellite (ATS) : Salah satu jenis satelit geostasioner generasi pertama.
Atmosphere: Selubung udara yang menyelimuti planet Bumi dan tetap di tempatnya karena gaya tarik / gravitasi bumi. Atmosfer bumi terbagi atas troposfer, stratosfer, mesosfer, and thermosfer.

Atmospheric window (Jendela atmosfer): Kisaran sempit pada panjang gelombang elektromagnetik dimana radiasi yang dipancarkan dari permukaan Bumi dapat melalui atmosfer tanpa diserap oleh gas-gas di atmosfer (uap air, karbon-dioksida, ozon, dll). Wilayah jendela atmosfer yang paling dikenal adalah antara 10 dan 12 mikron.

Attenuation : Semua proses dimana intensitas radiasi berkurang akibat proses pembauran atau penyerapan.
Backscatter : Sebagian radiasi yang dibaurkan kembali kea rah sumber radiasi.
Biosphere: Komponen yang terdiri dari makhluk hidup dari sistem Bumi. (antara litosfer dan atmosfer)

Biogeochemical: Unsur-unsur kimiawi kunci yang sangat penting untuk kehidupan (misalnya karbon, nitrogen, oksgen, fosfor, dll…)

Biomass: Jumlah total materi hidup dalam suatu ukuran sistem tertentu.

Blackbody: Obyek hipotetis yang merupakan penyerap (absorber) sekaligus pemancar (emitter) radiasi yang sempurna.
Brightness Temperature : Suhu Planck yang berkaitan dengan pancaran radiasi pada panjang gelombang tertentu.
Calorie dan Joule: Satuan dari energi. Jumlah energi yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 (satu) gram air sebesar 1 (satu) derajat Celcius.

Carbon monoxide (CO): Gas beracun yang tak berwarna dan tak berbau yang dijumpai di atmosfer pada beberapa tingkat konsentrasi.

Carbon dioxide (CO2): Gas kritis di atmosferik yang dan diperlukan untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan. CO2 adalah gas rumah kaca terbesar yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

Celsius (skala suhu): Skala suhu dimana titik beku air terjadi pada 0 derajat Celcius dan titik didih air pada 100 derajat Celcius, pada ketinggian permukaan laut.

Chlorofluorocarbons (CFCs): Senyawa buatan manusia yang ditemukan oleh ahli kimia pada tahun 1928, yang ditengarai merupakan penyumbang utama terjadinya proses penipisan lapisan Ozone (lubang lapisan ozone) di stratosfer.

Cirrocumulus (Cc): Awan-awan konvektif di lapisan tinggi yang tipis dan bentuknya bergumpal-gumpal.

Cirrostratus (Cs): Awan-awan lapis level tinggi yang berwarna putih dan biasanya berbentuk serabut tetapi kadang-kadang terlihat halus. Cirrostatus seringkali menghasilkan efek optis seperti halo.

Cirrus (Ci): Awan-awan tinggi yang tersusun dari kristal-kristal es yang berwarna keputih-putihan dan dapat terlihat seperti serabut tipis, terpotong-potong atau sabuk tipis.

Climate: Kondisi rata-rata cuaca di suatu wilayah pada periode wajtu tertentu. Iklim suatu wilayah biasanya dicirikan dengan istilah rata-rata dan variasi sistem iklim untuk jangka waktu satu bulanan atau lebih.

Climatology: Deskripsi dan ilmu tentang iklim.

Cloud: Kumpulan butir-butir air dan/atau partikel es di atmosfer di atas permukaan bumi.
Cloud Streets : Deretan sempit awan-awan cumulus. Seringkali perkembangan vertikal dan jarak antar awan-deret dikendalikan oleh stratifikasi termodinamik dan angin geser  (wind shear). Cloud streets (awan deret) mudah terlihat pada citra visible siang hari.
Coalescence: Gabungan partikel-partikel awan menjadi satu partikel setelah mengalami proses tumbukan (collision).

Cold Cloud Shield : Bagian dari awan-awan di atas zona perenggan (frontal zone) atau siklon yang membentuk pola yang mudah dikenali yaitu puncak awan dingin yang terlihat seragam pada citra IR dan tidak tembus pandang.

Cold front: Suatu jenis perenggan dimana udara dingin menggantikan udara panas.

Comma cloud: Suatu ciri-ciri badai ektra-tropis yang terlihat pada citra satelit dimana system awan menyerupai tanda koma.

Condensation: Perubahan bentuk dari uap air menjadi cairan.

Conduction: Perpindahan energi dari suatu obyek ke obyek lainnya akibat gerakan acak molekul. Konduksi panas adalah akibat dari perbedaan suhu antara dua obyek yang bersentuhan secara fisik.

Convection: Perpindahan energi oleh gerakan partikel cairan atau gas. Dalam meteorologi, konveksi berarti gerakan vertical atau gerakan ke atas akibat perbedaan pemanasan.

Convective clouds: Awan-awan yang terbentuk dari proses konveksi.

Convergence: Udara yang secara horizontal datang secara yang dapat menyebabkan pengangkatan massa udara.
Coordinated Universal Time (UTC) : Sama dengan Zulu (Z) dan Greenwich Mean Time (GMT).
Crepuscular rays: Pancaran cahaya dari matahari yang disebabkan oleh kombinasi bayangan dan bauran (scattering). Berkas cahaya gelap-terang ini biasanya terjadi pada waktu senja hari.

Cryosphere: Bagian dari planet bumi yang selalu tertutup oleh es.

Cumulonimbus: Awan badai guntur yang menghasilkan hujan dengan landasan awan yang rata pada puncak awannya.

Cumulus: Awan-awan rendah yang berkembang sebagai awan tunggal, dengan bagian-bagian terpisah yang batas tepinya jelas. Awan ini memiliki dasar awan rata dan tonjolan-tonjolan ke arah atas.

Cumulus stage: Tahap awal dari siklus hidup sebuah badai guntur (thunderstorm).

Cyclogenesis: Perkembangan dan peningkatan intensitas suatu pusat tekanan rendah menjadi bibit badai siklonik.

Cyclone : Suatu daerah tekanan rendah dimana angin bertiup berlawanan arah jarum jam di Belahan Bumi Utara (BBU) dan searah jarum jam di Belahan Bumi Selatan (BBS).

Density: Perbandingan massa suatu benda terhadap volume ruang yang ditempatinya.

Derecho: Angin badai yang berlangsung berjam-jam yang terkait dengan garis rangkaian badai-badai guntur. Hal ini terjadi dari garis angin lurus, bukan angin putar seperti pada tornado.

Dew point: (atau dew point temperature) Suhu dimana udara pasti mendingin pada tekanan tetap dan kandungan uap air menjadi jenuh.

Diffraction: Proses dimana radiasi berubah arah dan menyebar.

Dispersion: Proses dimana cahaya putih terurai menjadi komponen warna-warna penyusunnya.

Diurnal: Harian, berkaitan dengan perilaku/proses yang selesai/sempurna/lengkap dalam waktu atau berulang tiap 24 jam.

Divergence: Penyebaran secara horizontal suatu massa udara yang dapat menyebabkan gerakan turun.

Doppler radar: Suatu radar yang secara tidak langsung mengukur kecepatan angin dengan mendeteksi perubahan frekuensi akibat efek Doppler pada gelombang radar yang bertumbukan dengan partikel hujan yang bergerak.

Dryline : Zona sempit arah utara-selatan dari gradient kelembapan udara yang biasanya dijumpai di atas wilayah Great Plains, USA selama musim semi atau awal musim panas.

Eccentricity: Deviasi suatu bidang ellips dari bentuk bulatan sempurna.

Electromagnetic (EM) : Energi yang dibawa oleh gelombang listrik dan gelombang magnet.
Electromagnetic energy. Lihat Radiation

Electromagnetic Spectrum: Radiasi elektromagnetik yang tersusun menurut frekuensi atau panjang gelombangnya.

El Niño: Pemanasan di Samudera Pasifik dekat garis ekuator antara Amerika Selatan dan Garis Batas Penanggalan Internasional (Dateline).

Emission : Proses dimana suatu materi menghasilkan radiasi elektromagnetik disebabkan oleh suhu dan komposisinya.
Emissivity : Perbandingan radiasi yang dipancarkan oleh permukaan pada suhu dan panjang gelombang tertentu hingga menyerupai benda hitam (blackbody) pada panjang gelombang dan suhu yang sama.
Emittance : jumlah fraksi energi pancar yang dipancarkan oleh suatu materi.
Emitter : Segala sesuatu yang memancarkan radiasi elektromagnetik yang dapat diukur.
Energy: Kapasitas untuk melakukan kerja atau perpindahan panas. Dinyatakan dengan dQ dan diukur dengan satuan metrik sebagai Joule (kg·m2·s-2). Energi bersifat tetap, meskipun ia dapat berubah bentuk.

Equinoxes: Waktu di saat Matahari langsung melintas di atas garis ekuator/khatulistiwa.

Evaporation: Perubahan wujud cairan menjadi uap air.

Eye: Wilayah tak berawan dimana tekanan udaranya paling rendah di pusat sebuah badai tropis yang kuat.

Eye wall: Wilayah melingkar dari badai-badai guntur yang berada tepat di sekeliling mata sebuah badai tropis.

Exosphere: Bagian paling atas dari lapisan terluar atmosfer bumi.

Fahrenheit (temperature scale): Suatu skala suhu dimana titik beku air terjadi pada suhu 32 derajat dan titik didih air terjadi pada suhu 212 derajat Fahrenheit pada ketinggian permukaan laut.

Feedbacks: Suatu rangkaian interaksi dimana satu perubahan akan berakibat perubahan pada yang lainnya, yang dapat memperkuat atau menghambat perubahan mula-mula.

Penginderaan Jauh

Sabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek. Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer (1993), Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji.
Data penginderaan jauh diperoleh dari suatu satelit, pesawat udara balon udara atau wahana lainnya. Data-data tersebut berasal rekaman sensor yang memiliki karakteristik berbeda-beda pada masing-masing tingkat ketinggian yang akhirnya menentukan perbedaan dari data penginderaan jauh yang di hasilkan (Richards and Jia, 2006).
Pengumpulan data penginderaan jauh dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sesuai dengan tenaga yang digunakan. Tenaga yang digunakan dapat berupa variasi distribusi daya, distribusi gelombang bunyi atau distribusi energi elektromagnetik (Purwadhi, 2001).

Skema Umum Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh sangat tergantung dari energi gelombang elektromagnetik. Gelomabng elektromagnetik dapat berasal dari banyak hal, akan tetapi gelombang elektromagnetik yang terpenting pada penginderaan jauh adalah sinar matahari. Banyak sensor menggunakan energi pantulan sinar matahari sebagai sumber gelombang elektromagnetik, akan tetapi ada beberapa sensor penginderaan jauh yang menggunakan energi yang dipancarkan oleh bumi dan yang dipancarkan oleh sensor itu sendiri. Sensor yang memanfaatkan energi dari pantulan cahaya matahari atau energi bumi dinamakan sensor pasif, sedangkan yang memanfaatkan energi dari sensor itu sendiri dinamakan sensor aktif (Kerle, et al., 2004)
Analisa data penginderaan jauh memerlukan data rujukan seperti peta tematik, data statistik dan data lapangan. Hasil nalisa yang diperoleh berupa informasi mengenai bentang lahan, jenis penutup lahan, kondisi lokasi dan kondisi sumberdaya lokasi. Informasi tersebut bagi para pengguna dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan dalam mengembangkan daerah tersebut. Keseluruhan proses pmulai dari pengambilan data, analisis data hingga penggunaan data tersebut disebut Sistem Penginderaan Jauh (Purwadhi, 2001)

======================
PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)
1. Pengertian Penginderaan Jauh (Remote Sensing) :
Berikut adalah pengertian Pengindraan jauh menurut beberapa ahli
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran, 1985).
 
· Penginderaan Jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1998)
 
· Everett Dan Simonett (1976) : Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah, perkotaan dan lain sebagainya.
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objek yang diindera (Colwell, 1984). Foto udara, citra satelit, dan citra radar adalah beberapa bentuk penginderaan jauh.
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak jauh (Campbell, 1987). Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan atau pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu objek.
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu, Ilmu teknologi dan seni dalam memperoleh informasi mengenai objek atau fenomena di (dekat) permukaan bumi melalui media perekam objek atau fenomena yang memanfaatkan energi yang berasal dari gelombang elektromagnetik dan mewujudkan hasil perekaman tersebut dalam bentuk citra.
3. Manfaat Penginderaan Jauh terhadap berbagai disiplin ilmu :
 
C. BIDANG PEMBUATAN PETA
Peta citra merupakan citra yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap sebagai peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta citra memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi.
Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang belum dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi terbaru (up to date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa. Hal ini disebabkan karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi, sedangkan peta biasa dibuat berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun buatan manusia. Contohnya peta dasar dan peta tanah.
G. BIDANG GEOFISIKA BUMI PADAT, GEOLOGI, GEODESI, DAN LINGKUNGAN (LANDSAT, GEOSAT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang geofisika, geologi, dan geodesi adalah sebagai berikut.
a. Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan menggunakan aplikasi GIS.
b. Menentukan struktur geologi dan macam batuan.
c. Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas gunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik
d. Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi, macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak bumi, dan batu bara).
e. Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.
f. Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut. (Dra. Sri Hartati Soenarmo MSP, 1993)
F. BIDANG HIDROLOGI (LANDSAT/ERS, SPOT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi adalah sebagai berikut.
a. Pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai.
b. Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.
c. Pemantauan luas daerah intensitas banjir.
D. BIDANG METEOROLOGI (METEOSAT, TIROS, DAN NOAA)
Manfaat penginderaan jauh di bidang meteorologi adalah sebagai berikut.
a. Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan kandungan air dalam udara.
b. Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara menentukan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan siklon
mMengamati sistem/pola angin permukaan.
d. Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi.
E. BIDANG OSEANOGRAFI (SEASAT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah sebagai berikut.
a. Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan salinitas sinar tampak (0-200 m).
b. Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi).
c. Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan.
d. Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan SPOT).


MMAURICE IBRAHIM

14140710080087

Sistem Koordinat dan Proyeksi Peta

Sistem Koordinat

  1. Sistem Koordinat digunakan untuk menunjukkan suatu titik di Bumi berdasarkan garis lintang dan garis bujur.
  2. Garis lintang yaitu garis vertikal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan garis katulistiwa. Titik di utara garis katulistiwa dinamakan lintan utara sedangkan titik di selatan katulistiwa dinamakan lintang selatan.
  3. Garis bujur yaitu horizontal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan titik nol di Bumi yaitu Greenwich di London Britania Raya yang merupakan titik bujur 0° atau 360° yang diterima secara internasional. Titik di barat bujur 0° dinamakan bujur barat sedangkan titik di timur 0° dinamakan bujur timur.
Sistem koodinat dibagi menjadi 2 yaitu :
Sistem Koordinat 2 Dimensi
~        Sistem Koordinat kartesian dua dimensi merupakan sistem koordinat yang terdiri dari dua salib sumbu yang saling tegak lurus, biasanya sumbu X dan Y.
~        Sistem Koordinat polar, koordinat suatu titik didefinisikan fungsi dari arah dan jarak dari titik ikatnya.
Sistem kooerdinat 3 Dimensi
1.      Sistem Koordinat Kartesian 3 Dimensi, pada prinsipnya sama dengan sistem koordinat kartesian 2 Dimensi, hanya menambahkan satu sumbu lagi yaitu sumbu Z, yang ketiganya saling tegak lurus.
2.      Sistem Koordinat Bola, Posisi suatu titik dalam ruang, selain didefinisikan dengan sistem kartesian 3 Dimensi, dapat juga didefinisikan dalam sistem koordinat bola (pronsip dasarnya sama dengan koordinat polar, yaitu sudut dan jarak).
3.      Sistem Koordinat Ellipsoida, Untuk pendefinisian bentuk bumi sangatlah susah. Bentuk bumi dikenal sebagai geoid. Geoid didekati oleh permukaan muka laut rata-rata. Untuk mempermudah hitungan bentuk bumi, digunakan suatu model matematik yang disebut ellipsoida yaitu ellips yang putar.
Sistem Proyeksi Peta
~        Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin. Dalam proyeksi peta diupayakan sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di muka bumi dan di peta.
~        Bentuk bumi bukanlah bola tetapi lebih menyerupai ellips 3 dimensi atau ellipsoid. Istilah ini sinonim dengan istilah spheroid yang digunakan untuk menyatakan bentuk bumi. Karena bumi tidak uniform, maka digunakan istilah geoid untuk menyatakan bentuk bumi yang menyerupai ellipsoid tetapi dengan bentuk muka yang sangat tidak beraturan.
Sistem proyeksi peta dibuat untuk mereduksi sekecil mungkin distorsi tersebut dengan:
~        Membagi daerah yang dipetakan menjadi bagian-bagian yang tidak terlalu luas, dan
~        Menggunakan bidang peta berupa bidang datar atau bidang yang dapat didatarkan tanpa mengalami distorsi seperti bidang kerucut dan bidang silinder.
* Pembagian Sistem Proyeksi Peta
Secara garis besar sistem proyeksi peta bisa dikelompokkan berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik.
Pertimbangan Ekstrinsik :
Bidang proyeksi yang digunakan:
~        Proyeksi azimutal / zenital: Bidang proyeksi bidang datar.
~        Proyeksi kerucut: Bidang proyeksi bidang selimut kerucut.
~        Proyeksi silinder: Bidang proyeksi bidang selimut silinder.
~        Persinggungan bidang proyeksi dengan bola bumi:
~        Proyeksi Tangen: Bidang proyeksi bersinggungan dengan bola bumi.
~        Proyeksi Secant: Bidang Proyeksi berpotongan dengan bola bumi.
~        Proyeksi “Polysuperficial”: Banyak bidang proyeksi
~        Posisi sumbu simetri bidang proyeksi terhadap sumbu bumi:
~        Proyeksi Normal: Sumbu simetri bidang proyeksi berimpit dengan sumbu bola bumi.
~        Proyeksi Miring: Sumbu simetri bidang proyeksi miring terhadap sumbu bola bumi.
~        Proyeksi Traversal: Sumbu simetri bidang proyeksi ^ terhadap sumbu bola bumi.
Pertimbangan Intrinsik :
Sifat asli yang dipertahankan:
~        Proyeksi Ekuivalen: Luas daerah dipertahankan: luas pada peta setelah disesuikan dengan skala peta = luas di asli pada muka bumi.
~        Proyeksi Konform: Bentuk daerah dipertahankan, sehingga sudut-sudut pada peta dipertahankan sama dengan sudut-sudut di muka bumi.
~        Proyeksi Ekuidistan: Jarak antar titik di peta setelah disesuaikan dengan skala peta sama dengan jarak asli di muka bumi.
Cara penurunan peta:
~        Proyeksi Geometris: Proyeksi perspektif atau proyeksi sentral.
~        Proyeksi Matematis: Semuanya diperoleh dengan hitungan matematis.
~        Proyeksi Semi Geometris: Sebagian peta diperoleh dengan cara proyeksi dan sebagian lainnya diperoleh dengan cara matematis.

Cara mengakses citra satelit NOAA

untuk melakukan penangkapan citra NOAA tentunya digunakan piranti lunak yang lain seperti piranti lunak NOAA Capture. Untuk memulai menggunakan piranti lunak NOAA, dapat dilakukan dengan hal seperti biasanya yaitu dengan mengklik tombol Start lalu pilih Programs dan pilih NOAA. Pada menu NOAA ini mempunyai beberapa pilihan sub-menu yang salah satunya adalah orbit plan . Hal ini seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. Tahap awal memulai Piranti lunak NOAA

Menu orbit plan adalah menu yang berfungsi dalam melaksanakan rencana penangkapan data satelit NOAA yang melintas pada suatu area. Rencana penangkapan data satelit ini bisa dilakukan sampai beberapa hari kedepan dan rencana penagkapan tersebut akan tersimpan pada menu orbit plan.

Gambar 2. Tampilan menu Orbit Plan.

Fungsi dari menu orbit review adalah untuk melihat ulang rencana penangkapan data satelit yang telah tersimpan. Menu orbit review juga mempunyai fasilitas untuk menghapus rencana penangkapan data citra satelit. Menu orbit review seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.

Menu orbit Review terdiri dari beberapa sub-menu seperti review, aerial, view dan help. Pada sub-menu review bisa digunakan untuk melihat hasil rencana penangkapan data citra satelit yang telah tersimpan dalam program orbit plan (Planned orbit), untuk melihat hasil data citra yang telah berhasil di tangkap (Successful Capture) sedangkan untuk melihat hasil data yang gagal ditangkap dengan menggunakan Failed Capture.

Gambar 3. Tampilan menu Orbit Review

Fungsi dari menu kalibrasi ini adalah untuk menentukan letak antena pada posisi yang benar pada elevasi maupun azimuthnya. Letak posisi ini akan berpengaruh pada penangkapan citra, apabila posisi antena tidak berada pada posisi yang tepat maka sinyal dari satelit akan sulit ditangkap dan hal ini akan mengakibatkan data citra satelit tidak berhasil didapatkan atau gagal ditangkap. Beberapa menu calibration adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4. Tampilan menu Calibration

Nilai elevasi agar tidak menggunakan nilai diatas 170° karena akan berpengaruh pada piranti lunak yang berfungsi sebagai penggerak motor antenna yang menyebabkan kerusakan. Posisi nilai elavasi untuk 90° sebaiknya menggunakan nilai 2048 yang merupakan nilai tengah dari kisaran nilai untuk elevasi (0-4095). Hal ini seperti ditunjukkan pada gambar 5. Sedangkan untuk menentukan posisi azimuth, hal yang harus di perhatikan adalah nilai untuk east sebaiknya digunakan nilai 2048 yang merupakan nilai tengah dari kisaran nilai untuk azimuth (0-4095). Hal ini seperti yang ditunjukkan pada gambar 5 baris kedua.

Gambar 5. Tampilan elevation dan Azimuth pada mennu Calibratiom

CITRA SATELIT

catatan CITRA SATELIT
a.       Citra Satelit sebagai input data spasial
b.      Citra Satelit merupakan contoh data dalam bentuk raster.
c.       Satelit adalah sesuatu (benda yang lebih kecil) mengitari benda yang lebih besar.
d.      Citra= Image yaitu Rekaman/gambaran yang dilakukan.
 e.      Penginderaan Jauh (Remote Sensing) yaitu : Merekam dan mengambil permukaan bumi tidak secara langsung (melalui pantulan cahaya)
 f.        Satelit yang memproduksi citra satelit hanya satelit penginderaan jauh.
Jenis-Jenis Satelit :
Satelit Penginderaan Jauh
a.       Merekam Visual permukaan bumi dengan cara scanning, melakukan perekaman pancaran visual 100 menit (900 km)
b.      Berputar dari utara ke selatan, gerak satelit tetap dan bumi yang berputar sehingga semua isi permukaan bumi dapat terekam
c.       Berguna untuk pemantauan cuaca, bencana alam,panas bumi,air laut, lempengan bumi
d.      1 putaran = 16  x rekaman tapi Cuma 2 atau 3 yang dapat gambar bersih (tidak dihalangi/ditutupi oleh awan)
e.      Sebagai Input SIG,Produknya berupa citra (image)
Satelit Komunikasi
a.       Memancarkan suatu gelombang magnetik untuk menghubungkan agar dapat berkomunikasi.
b.      Posisi Geostationer (kecepatan perputaran satelit sesuai dengan posisi ketinggian)
c.       Memantulkan gelombang dari 1 tempat ke tempat lainnya
d.      Berputar dari timur ke barat
Satelit Navigasi
a.       Digunakan untuk GPS , tinggi kira-kira 20 km diperlukan minimal 4 satelit, antara satu satelit dengan lainnya berjarak 60 jadi total 24 satelit untuk menentukan koordiant, posisinya acak-acak
b.      Amerika memantulkan sinyal ke satelit, dari satelit dipantulkan ke bumi lagi dan ditangkap oleh GPS.
c.       Kode menterjemahkan jarak, jarak menterjemahkan posisi.
   
Nama Satelit yang beredar (Citra Satelit, model raster) :
1.       LANDSAT
2.       MODIS
3.       SPOT
4.       NOAA
5.       IKONOS
6.       ERS
7.       QUICK BIRD
8.       IRS
9.       JERS
10.   ALOS
11.   SPOF
Membedakan Citra Satelit dengan cara :
RESOLUSI :
1.       Resolusi Rendah = 100 m – 1 km         (NOAA,MODIS)
2.       Resolusi Menengah = 10-50 m             (SPOT,LANDSAT)
3.       Resolusi Tinggi= <2 m              (IKONOS,QUICKBIRD)
4.       Ukuran Pixel IKONOS : 1M X 1M (Ukuran 1 kotak warna)
SPEKTRUM :
~        Panjang Gelombang
CITRA SATELIT
~        Proses pengambilan citra satelit disebut Penginderaan Jauh.atau
~        Proses pengambila data tanpa kontak langsung melainkan dari merekam pemancaran gelombang elektromagnetik dari jarak jauh disebut dengan penginderaan jauh / Remote Sensing.
Caranya:
~        Merekam pancaran elektromagnetik yang dipancarkan oleh permukaan bumi / dari sumbernya. Contoh alat perekam yaitu: Sensor.
~        Bumi mengeluarkan elektromagnetik yang bervariasi yang direkam oleh sensor yang diletakkan pada satelit, dan satelit mengelilingi bumi, kemudian sensor akan merekam perputaran bumi tersebut.
Elektromagnetik => Cahaya.
                Gelombang elektromagnetik membawa informasi.
Urutan gelombang elektromagnetik dari yang paling pendek ke yang paling panjang:
1.       Cosmic
2.       Sinar Gama ( )
3.       Sinar X
4.       Ultra Violet
5.       Cahaya Tampak
6.       Infra Merah
7.       Mkrowave
8.       Gelombang Radio
Permukaan Bumi Memancarkan:
Ultra Violet
Cahaya Tampak, urutan warna yang dipancarkan dari yang paling pendek ke panjang ; Ungu,
~        Biru
~        Hijau
~        Kuning
~        Jingga
~        Merah.
Infra Merah, warnanya lebih merah dari merah.
Cahaya matahari dipantulkan ke bumi dan dipantulkan seketika disebut Cahaya Tampak Kuning sedangkan cahaya matahari yang disimpan oleh bumi disebut dengan Infra Merah.
Satelit yaitu: Segala sesuatu yang mengitari bumi baik yang alami maupun buatan.
Satelit Terbagi Menjadi :
 Satelit Komunikasi digunakan untuk keperluan komunikasi.
 Tugasnya : bagaimana mengantar gelombang elektromagnetik dari satu tempat ke tempat yang lainnya.
Cara Kerja : Suara dicampur dengan gelombang elektromagnetik lalu dengan menggunakan alat gelombang elektromagnetik  dan suara dipisah.
Contoh :
~        sms,
~        Gelombang Elektromagnetik dicampur secara fase.
~        Antena Stasiun Rile digunakan agar data yang didapat dari satelit                                    disebarkan ke daerah sekitar.
   
Satelit Komunikasi harus diam artinya bumi dan satelit komunikasi     berputar sama      cepat / seirama.
    Tinggi Satelit Komunikasi dari bumi + 32.000 KM
    Geostasioner : Suatu  ketinggian dimana satelit dapat bergerak sama cepat dengan bumi.
b. Satelit Navigasi : Memancarkan sinyal / kode untuk koordinasi jarak. Satelit ini digunakan untuk melayani JPS. JPS adalah alat yang dapat menentukan posisi kita berada / membaca sinyal dari satelit. Sinyal JPS ada 4 macam. Setiap permukaan bumi mendapatkan satelit sama banyak, kalau sinyal satelit putus maka kita akan kehilangan arah.
c. Satelit Remote Sensing : Bertujuan melakukan observasi permukaan bumi dan merekamnya dalam bentuk citra satelit.
Bergerak dari utara ke selatan.
Jaraknya + 900 KM.
Contoh :
~        Landsat                =  Amerika
~        Spot                       =  Perancis
~        Alos                       =  Jepang
~        Iconos                   =  Amerika
~        Quick Bird            = 
~        IRS                          =  India
Perputarnnya dari kutub ke kutub disebut Nearpolar Orbit.
Dibedakan berdasarkan resolosi / ketajaman gambar / ukuran pixel.
Satelit beresolosi rendah = – NOAA          = Satelit cuaca
                                           –  MODIS   = Satelit cuaca.
Satelit beresolosi menengah = Landsat, Spot, Alos.
Satelit beresolosi tinggi dibawah 1M = Iconos, Quick Bird.
Berdasarkan Satelit yang aktif dan pasif :
Aktif : Manakala mau mencitra permukaan bumi yang tidak memancarkan gelombang elektromagnetik. Dia akan membuat gelombang elektromagnetik sendiri dan dipantulkan ke satelit.
Pasif : Permukaan yang memancarkan gelombang elektromagnetik.
Tubuh manusia memancarka infra merah.
c. Satelit Militer : bekerja untuk keperluan militer

Sistem Informasi Geografis

P.T. Geovisi Mitratama merupakan perusahaan konsultan yang bergerak di bidang Sistem Informasi Geografis dan Teknologi Informasi. Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mendorong berbagai lembaga baik swasta, pemerintah maupun perseorangan untuk turut mengambil keuntungan dari penggunaannya.

Era otonomi daerah menuntut pemerintah daerah untuk dapat menyajikan informasi wilayahnya dengan lebih atraktif, mudah dimengerti dan selalu up to date datanya. Hadirnya teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) yang berbasis komputer menjawab tantangan tersebut, dengan kemampuannya dalam hal penyimpanan, pengolahan, updating, penyajian informasi wilayah yang atraktif dan kemampuan analisisnya.

Segala keunggulan SIG yang berbasis komputer menuntut tersedianya sumberdaya manusia yang baik dalam penguasaan SIG, hardware, software, manajemen data, dan analisa guna mendukung pemanfaatan SIG sesuai bidangnya. Ketersediaan ahli SIG di suatu daerah dapat dipenuhi melalui jalur pendidikan formal (sistem berstrata di perguruan tinggi) maupun non formal melalui kursus/pelatihan. Pada umumnya, ketrampilan yang diperoleh melalui kursus/pelatihan lebih bersifat praktis dan dapat diterapkan langsung untuk menjawab kebutuhan daerah dalam waktu singkat.


Oleh karena itu, P.T. Geovisi Mitratama hadir menawarkan Pelatihan SIG tingkat operator, analisis dan tingkat manager. Pelatihan dilaksanakan di Geovisi Mitratama atau dapat dilaksanakan di instansi/tempat kerja Bapak/Ibu/Saudara.


Informasi lebih lengkap dapat menghubungi :
P.T. Geovisi Mitratama
Alamat :
Jl. Sidoarum no 20 Bantulan RT 06/RW 04 Sidoarum Godean Sleman Yogyakarta 55564.
Telpon/Fax : (0274)798306
Email : info@geovisi.com