Tersedianya populasi ikan mas yang memiliki keunggulan dalam sifat tertentu seyogyanya perlu dirintis. Perekayasaan ini diharapkan merupakan langkah awal terwujudnya populasi dasar sintetik ikan mas yang memiliki keunggulan dalam pertumbuhan atau ketahanan terhadap penyakit tertentu. Dua kelompok pemijahan telah diterapkan dalam kegiatan ini. Kelompok pertama tanpa mempertimbangkan ada/tidak adanya alel cyca DAB I 05, sedangkan untuk kelompok pemijahan kedua menggunakan induk yang sudah dikarakterisasi membawa alel cyca DAB I 05. Kelompok I kemudian disingkat sebagai kelompok non MHC dan kelompok kedua sebagai kelompok MHC. Selama kegiatan pembesaran, populasi dasar sintetik yang dihasilkan mengalami kendala serangan koi herpes virus (KHV). Jumlah ikan yang mati selama pembesaran calon induk populasi dasar non MHC, sebanyak 953 ekor yang terutama pada bulan Juli dan September 2009. Kegiatan ini berhasil memproduksi ikan mas populasi dasar sintetik (non MHC) sebanyak 84 ekor dengan ukuran 185 gram/ekor. Benih calon induk populasi dasar sintetik (non MHC) yang dihasilkan sebanyak 1.000 ekor dengan ukuran 5-8 cm. Sedangkan benih calon induk populasi dasar sintetik (MHC) yang dihasilkan sebanyak 2.000 ekor dengan ukuran 5-8 cm.
Kategori: pembenihan ikan
HIBRIDISASI IKAN MAS HUNGARIA CARP (STRAIN SZARVAS) DAN STRAIN LOKAL
Hibridisasi pada ikan mas telah dilakukan secara luas di berbagai negara. Efek heterosis dalam hibridisasi sering dimanfaatkan untuk memperoleh turunan yang memiliki sifat unggul pada beberapa karakteristik penting seperti pertumbuhan, derajat kelangsungan hidup, konversi pakan, kualitas daging, daya tahan terhadap penyakit, kemampuan reproduksi dan yang lebih penting lagi terhadap viabilitas. Strain ikan mas yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Szarvas betina asal Hungaria, dan jantan strain lokal (Majalaya, Punten dan Rajadanu). Oleh karena itu, maka hibridisasi dalam kegiatan ini tidak dilakukan secara resiprokal. Semua strain lokal yang digunakan, telah diverifikasi membawa alel cyca DAB I 05 yang berkaitan dengan resistensi terhadap penyakit tertentu. Kombinasi hibrid antara Szarvas-Majalaya memberikan performa terbaik dibandingkan dengan hibrid antara Szarvas-Punten dan Szarvas-Rajadanu, baik dalam karakter pertumbuhan panjang,pertumbuhan bobot dan kelangsungan hidup. Benih hibrida hasil kegiatan ini sebanyak 5.000 ekor ukuran 8-12 cm.
A. Sucipto, N. Faridah, D. Hasbullah, M. Mawardi, C. Muharam,
W. Rusmana, T. Juanda, Budimaryono.
W. Rusmana, T. Juanda, Budimaryono.
CALON INDUK DAN INDUK IKAN MAS
Terbatasnya jumlah induk ikan mas yang berkualitas, dapat menyebabkan makin menurunnya kualitas ikan pada generasi berikutnya sehingga makin mudah terserang penyakit baik oleh faktor pathogen maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Oleh karenanya, masih sangat perlu dukungan pemerintah bagi ketersediaan dan distribusi induk/calon induk ke daerah di pulau Jawa dan luar Jawa. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan BBPBAT Sukabumi dalam menghasilkan dan mendistribusikan induk ikan mas. Induk yang digunakan dalam kegiatan ini sebanyak 10 pasang dan dipijahkan secara massal dengan sistem pembuahan buatan. Tahapan pemeliharaan hingga mencapai ukuran induk adalah pendederan 1 sampai 3 serta pembesaran tahap 1 dan 2. Seleksi pertama dilakukan terhadap ikan hasil pendederan III, sedangkan seleksi kedua terhadap hasil pembesaran tahap 1. Jumlah induk yang dihasilkan dalam kegiatan ini sebanyak 1.730 ekor dengan bobot biomass 2.036,6 kg yang terdiri dari Majalaya, Sinyonya, Cangkringan dan Rajadanu. Kegiatan ini juga telah menghasilkan calon induk strain Majalaya sebanyak 425 ekor @1.400 gram, 295 ekor @ 1.500 gram dan 3.893 ekor @50 gram. Dari sejumlah induk tersebut, telah didistribusikan ke beberapa daerah di Indonesia sebanyak 735 ekor betina (1.205 kg) dan 644 ekor jantan (640 kg) sejak bulan Oktober 2009.
A. Sucipto, N. Faridah, C. Muharam, W. Rusmana,
D. Hasbullah, T. Juanda dan M. Mawardi
D. Hasbullah, T. Juanda dan M. Mawardi
IKAN NILA GENERASI V
Peningkatan kualitas induk/benih dapat dilakukan melalui penerapan selective breeding yang konsisten dilakukan. Upaya yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi adalah dengan melakukan kegiatan seleksi famili sejak tahun 2005. Hingga tahun 2008, telah diperoleh induk seleksi famili Generasi IV.
Program seleksi famili yang dilakukan pada Generasi V, telah menghasilkan nilai heritabilitas bobot ikan jantan sebesar 0,443 dan bobot ikan betina sebesar 0,501. Berdasarkan penghitungan nilai heritabilitas bobot tersebut, estimasi nilai respon seleksi terhadap bobot ikan jantan yaitu 32,023 gram, lebih tinggi dibandingkan betina yang hanya 28,187 gram. Tingkat kemajuan bobot ikan setiap generasi akan lebih baik sekitar 56,66% pada jantan, dan 49,88% pada betina.
Penghitungan nilai genetic gain Generasi IV, menunjukkan hasil yang lebih baik pada populasi terseleksi dibandingkan populasi kontrolnya, untuk parameter sintasan, rataan bobot, rataan panjang total, serta laju pertumbuhan hariannya.
Alur Produksi Nila GESIT
PROBIOTIK SECARA PERIODIK PADA PEMELIHARAAN IKAN PATIN (Pangasianodon hypophthalmus) DENGAN SISTEM RESIRKULASI
Tingkat keberhasilan dalam budidaya dengan system resirkulasi lebih menjanjikan dibandingkan dengan sistem kolam terbuka. Namun demikian kelemahan dari penerapan budidaya dengan sistem resirkulasi adalah adanya kecenderungan kualitas air kurang baik sehubungan dengan air buangan yang digunakan kembali secara terus menerus selama periode waktu pemeliharaan.
Untuk mendapatkan kualitas air yang baik, salah satu langkah yang memungkinkan dilakukan adalah “perbaikan” dengan melakukan substitusi/aplikasi bakteri pengurai yang menguntungkan (probiotik) yang anaerobic/aerobik sehingga populasi bakteri pathogen dalam media pemeliharaan dapat ditekan keberadaanya dan lebih didominasi oleh bakteri yang menguntungkan.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengendalikan kualitas media budidaya agar layak untuk budidaya.
Hasil dari kegiatan perekayasaan menunjukkan bahwa pemberian probiotik pada media dalam sistem resirkulasi memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan berat sebesar 5,25-5,64% dan panjang standar ikan sebesar 1,67-1,82%, pada suhu media/air optimum yaitu 25-30°C pada pemeliharaan patin ukuran tebar 60-70 gram.
Murtiati, Y. Mundayana,T. Wahyuni, K. Simbolon, Juyana
