ekologi ikan

Ikan dapat ditemukan di hampir semua “genangan” air yang berukuran besar baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies ikan dibudidayakan untuk dipelihara untuk dipamerkan dalam akuarium.

Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain, seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah kecil atau olah raga sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan ikan dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton.

Overfishing adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan penangkapan ikan secara berlebihan. Fenomena ini merupakan ancaman bagi berbagai spesies ikan. Pada tanggal 15 Mei 2003, jurnal Nature melaporkan bahwa semua spesies ikan laut yang berukuran besar telah ditangkap berlebihan secara sistematis hingga jumlahnya kurang dari 10% jumlah yang ada pada tahun 1950. Penulis artikel pada jurnal tersebut menyarankan pengurangan penangkapan ikan secara drastis dan reservasi habitat laut di seluruh dunia.

sumber : wikipedia

pengertian ikan dan vertebrata yang biasa disebut sebagai ikan

Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin)[1] yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut iwak (jv, bjn), jukut (vkt).

Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14 meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4 inci). Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai “ikan”, seperti ikan paus, ikan cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai ikan.

 Berikut adalah unit-unit yang mencakup semua vertebrata yang biasa disebut sebagai ikan:

      • Subkelas Pteraspidomorphi (ikan tak berahang primitif)
    • Kelas Thelodonti
    • Kelas Anaspida
    • (tidak berstatus) Cephalaspidomorphi (ikan tak berahang primitif)
      • (tidak berstatus) Hyperoartia
        • Petromyzontidae (lamprey)
    • Kelas Galeaspida
    • Kelas Pituriaspida
    • Kelas Osteostraci
  • Infrafilum Gnathostomata (vertebrata berahang)
    • Kelas Placodermi (ikan berperisai, punah)
    • Kelas Chondrichthyes (ikan bertulang rawan: hiu, pari)
    • Kelas Acanthodii (hiu berduri, punah)
  • Superkelas Osteichthyes (ikan bertulang sejati: mencakup hampir semua ikan penting masa kini)
    • Kelas Actinopterygii (ikan bersirip kipas)
    • Kelas Sarcopterygii (ikan sirip berdaging/ikan bersirip cuping)
      • Subkelas Coelacanthimorpha (coelacanth)
      • Subkelas Dipnoi (ikan paru)

sumber wikipedia

belut sumber energi listrik

rifertar- Mungkin, belut listik yang dapat menghantarkan listrik bukan hal yang aneh. Namun, belut listrik penghuni sebuah akuarium taman laut di Prefektur Gifu, Jepang tengah, membuat kejutan dengan menyalakan hiasan dan lampu di pohon natal.

Seperti dilansir dari kantor berita NHK, petugas akuarium meletakkan sebuah pohon natal lengkap dengan pernak-pernik beserta lampu di dalam tangki air yang digunakan untuk belut berkembang biak. Kemudian, sebuah elektroda listrik dari belut itu menghantarkan listrik sehingga l

ampu natal menyala dengan indahnya, diiringi dengan nyanyian lagu natal.

Belut listrik berasal dari sungai Amazon, Amerika Selatan itu menghasilkan sekitar 800 volt listrik. Belut dengan pohon natal ini akan memeriahkan natal sampai 26 Desember mendatang.

sumber-liputan6.com

PERBAIKAN MUTU INDUK IKAN MAS

Tersedianya populasi ikan mas yang memiliki keunggulan dalam sifat tertentu seyogyanya perlu dirintis. Perekayasaan ini diharapkan merupakan langkah awal terwujudnya populasi dasar sintetik ikan mas yang memiliki keunggulan dalam pertumbuhan atau ketahanan terhadap penyakit tertentu. Dua kelompok pemijahan telah diterapkan dalam kegiatan ini. Kelompok pertama tanpa mempertimbangkan ada/tidak adanya alel cyca DAB I 05, sedangkan untuk kelompok pemijahan kedua menggunakan induk yang sudah dikarakterisasi membawa alel cyca DAB I 05. Kelompok I kemudian disingkat sebagai kelompok non MHC dan kelompok kedua sebagai kelompok MHC. Selama kegiatan pembesaran, populasi dasar sintetik yang dihasilkan mengalami kendala serangan koi herpes virus (KHV). Jumlah ikan yang mati selama pembesaran calon induk populasi dasar non MHC, sebanyak 953 ekor yang terutama pada bulan Juli dan September 2009. Kegiatan ini berhasil memproduksi ikan mas populasi dasar sintetik (non MHC) sebanyak 84 ekor dengan ukuran 185 gram/ekor.  Benih calon induk populasi dasar sintetik (non MHC) yang dihasilkan sebanyak 1.000 ekor dengan ukuran 5-8 cm. Sedangkan benih calon induk populasi dasar sintetik (MHC) yang dihasilkan sebanyak 2.000 ekor dengan ukuran 5-8 cm.

HIBRIDISASI IKAN MAS HUNGARIA CARP (STRAIN SZARVAS) DAN STRAIN LOKAL

Hibridisasi pada ikan mas telah dilakukan secara luas di berbagai negara.  Efek heterosis dalam hibridisasi sering dimanfaatkan untuk memperoleh turunan yang memiliki sifat unggul pada beberapa karakteristik penting seperti pertumbuhan, derajat kelangsungan hidup, konversi pakan, kualitas daging, daya tahan terhadap penyakit, kemampuan reproduksi dan yang lebih penting lagi terhadap viabilitas. Strain ikan mas yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Szarvas betina asal Hungaria, dan jantan strain lokal (Majalaya, Punten dan Rajadanu). Oleh karena itu, maka hibridisasi dalam kegiatan ini tidak dilakukan secara resiprokal. Semua strain lokal yang digunakan, telah diverifikasi membawa alel cyca DAB I 05 yang berkaitan dengan resistensi terhadap penyakit tertentu. Kombinasi hibrid antara Szarvas-Majalaya memberikan performa terbaik dibandingkan dengan hibrid antara Szarvas-Punten dan Szarvas-Rajadanu, baik dalam karakter pertumbuhan panjang,pertumbuhan bobot dan kelangsungan hidup. Benih hibrida hasil kegiatan ini sebanyak 5.000 ekor ukuran 8-12 cm.
A.  Sucipto, N. Faridah, D. Hasbullah, M.  Mawardi, C.  Muharam,
W. Rusmana, T. Juanda, Budimaryono.

CALON INDUK DAN INDUK IKAN MAS

Terbatasnya jumlah induk ikan mas yang berkualitas, dapat menyebabkan makin menurunnya kualitas ikan pada generasi berikutnya sehingga makin mudah terserang penyakit baik oleh faktor pathogen maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Oleh karenanya, masih sangat perlu dukungan pemerintah bagi ketersediaan dan distribusi induk/calon induk ke daerah di pulau Jawa dan luar Jawa. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan BBPBAT Sukabumi dalam menghasilkan dan mendistribusikan induk ikan mas. Induk yang digunakan dalam kegiatan ini sebanyak 10 pasang dan dipijahkan secara massal dengan sistem pembuahan buatan. Tahapan pemeliharaan hingga mencapai ukuran induk adalah pendederan 1 sampai 3 serta pembesaran tahap 1 dan 2. Seleksi pertama dilakukan terhadap ikan hasil pendederan III, sedangkan seleksi kedua terhadap hasil pembesaran tahap 1. Jumlah induk yang dihasilkan dalam kegiatan ini sebanyak 1.730 ekor dengan bobot biomass 2.036,6 kg yang terdiri dari Majalaya, Sinyonya, Cangkringan dan Rajadanu. Kegiatan ini juga telah menghasilkan calon induk strain Majalaya sebanyak 425 ekor @1.400 gram, 295 ekor @ 1.500 gram dan 3.893 ekor @50 gram. Dari sejumlah induk tersebut, telah didistribusikan ke beberapa daerah di Indonesia sebanyak 735 ekor betina (1.205 kg) dan 644 ekor jantan (640 kg) sejak bulan Oktober 2009.
A. Sucipto, N. Faridah, C. Muharam, W. Rusmana,
D. Hasbullah, T. Juanda dan M. Mawardi

CALON INDUK LELE SANGKURIANG (Clarias sp)

Dengan telah direleasenya lele sangkuriang sebagai varietas unggul oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dengan surat KEPMEN KP nomor 26/Men /2004 tanggal 21 Juli 2004 dan kemudian didesiminasikan maka permintaan benih maupun induk cukup banyak. Namun demikian ketersediaan induk yang diproduksi masih jauh dari kebutuhan/permintaan dari para pembenih dan pembudidaya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memproduksi calon induk lele Sangkuriang kelas Induk Pokok ukuran 500-700 gram/ekor sebanyak 200 paket (2.000 ekor betina dan 1.000 ekor jantan). Bahan dan alat yang digunakan yaitu Induk lele PS jantan dan betina, pakan induk, pakan benih, pakan pembesaran, cacing, ovaprim, pupuk dan kapur.
Pemijahan dilakukan secara buatan dengan jumlah induk masing-masing minimal 30 pasang (30 ekor jantan, 30 ekor betina). Larva hasil penetasan telur didederkan dalam bak fiber glass.  Pendederan 2 dilakukan di kolam tanah selama tiga minggu dengan kepadatan 150 ekor/m2.  Pembesaran pertama dilakukan pada kolam dengan kepadatan 200 ekor/m2 selama 2 bulan.  Pembesaran kedua dilakukan pada kolam dengan kepadatan 100 ekor/m2 selama empat bulan.  Dari kegiatan yang dilakukan diperoleh hasil calon induk lele Sangkuriang sebanyak 334 paket (1670 ekor jantan, 3340 ekor betina).

CALON INDUK DAN BENIH UNGGUL NILA HITAM

Penggunaan benih dan induk bermutu baik, merupakan kunci permasalahan budidaya yang sering dikeluhkan oleh pembudidaya. Pada akhir tahun 2006, nila GESIT dan nila Nirwana telah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI sebagai strain unggul ikan nila. Diseminasi kedua jenis ikan nila tersebut, telah dilakukan dalam kerangka Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIINN). Ikan nila Nirwana, yang dikembangkan oleh BPBI Wanayasa, digunakan sebagai induk unggul yang kemudian diproduksi pula oleh BBPBAT Sukabumi.
Dengan berpedoman pada Standar Prosedur Operasional (SPO) PPIINN, maka dilakukan kegiatan produksi calon induk unggul nila Nirwana. Berdasarkan hasil yang telah dilakukan, maka diperoleh 8.200 ekor betina dan 1.200 ekor jantan (setara dengan 24 paket), dan telah didistribusikan ke 6 propinsi di Indonesia. Sementara itu, produksi benih nila tunggal kelamin jantan telah menghasilkan 515.000 ekor benih berukuran 2 – 3 cm dari 500.000 ekor yang telah ditargetkan.

IKAN NILA GENERASI V

Peningkatan kualitas induk/benih dapat dilakukan melalui penerapan selective breeding yang konsisten dilakukan. Upaya yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi adalah dengan melakukan kegiatan seleksi famili sejak tahun 2005. Hingga tahun 2008, telah diperoleh induk seleksi famili Generasi IV.
Program seleksi famili yang dilakukan pada Generasi V, telah menghasilkan nilai heritabilitas bobot ikan jantan sebesar 0,443 dan bobot ikan betina sebesar 0,501. Berdasarkan penghitungan nilai heritabilitas bobot tersebut, estimasi nilai respon seleksi terhadap bobot ikan jantan yaitu 32,023 gram, lebih tinggi dibandingkan betina yang hanya 28,187 gram. Tingkat kemajuan bobot ikan setiap generasi akan lebih baik sekitar 56,66% pada jantan, dan 49,88% pada betina.
Penghitungan nilai genetic gain Generasi IV, menunjukkan hasil yang lebih baik pada populasi terseleksi dibandingkan populasi kontrolnya, untuk parameter sintasan, rataan bobot, rataan panjang total, serta laju pertumbuhan hariannya.

CALON INDUK IKAN HIAS KOI (Cyprinus carpio Linn.)

Terdapat dua permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan hias Koi (Cyprinus carpio) saat ini, yaitu: (1) ketersediaan induk dan benih berkualitas hanya dapat dilakukan melalui usaha impor walaupun harga beli yang harus dibayar relatif tinggi dan (2) belum terdapatnya lembaga atau pembudidaya ikan hias khusus yang mampu untuk melaksanakan pemuliaan yang digunakan sebagai sumber induk unggulan. Berpedoman pada salah satu rencana strategis (Renstra) pengembangan budidaya ikan hias, Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi (BBATS) telah melaksanakan kegiatan perekayasaan produksi benih dan calon induk varietas unggulan.
Tujuan dari pelaksanaan kegiatan perekayasaan tahun anggaran 2009 adalah (1) menghasilkan benih varietas Kohaku dan  Sanke terseleksi melalui perkawinan intervarietas antara induk dengan sumber asal koleksi hasil pemuliaan tahap pertama Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi (BBATS) dengan induk koleksi Deprtemen Kelautan dan Perikanan yang di besarkan di kolam tanah Cijeruk Kabupaten Bogor dan (2) menghasilkan calon induk Kohaku dan Sanke terseleksi terbaik
Hasil yang dicapai dari kegiatan perkayasaan (1) Pemberian perlakuan radiasi 5 menit terhadap larutan sperma ikan Tawes (Puntius gonionotus) telah menghasilkan data dan informasi  karakteristik benih keturunan vaietas Kohaku dan Sanke berumur 14 hari lebih baik dibandingkan dengan pemberian perlakuan pemberian waktu 7.5 dan 10 menit baik dengan pemberian waktu inkubasi awal 1 menit maupun 20 menit (2). Kegiatan pendederan benih intensif telah menghasilkan calon induk varietas Kohaku dan Sanke  sebanya 648 ekor dan 377 ekor dengan bobot rataan 58.7 gram dan 55.6 gram dan (3) Kegiatan pembesaran ikan Koi berukuran 50 gram telah menghasilkan calon induk varietas Kohaku dan Sanke sebanyak 250 ekor dengan bobot kisaran 1312.6-1341.3 gram