Tomat Pertajam Daya Ingat

Jakarta – Daya ingat akan menurun secara alami seiring tambahnya usia. Jika mulai sering lupa dan susah konsentrasi, ada baiknya perbanyak konsumsi makanan alami. Seperti tomat, kuaci, atau brokoli. Kandungan nutrisinya bikin daya ingat tetap terjaga ketajamannya.

Penyakit yang kini banyak ditakuti orang adalah penurunan fungsi otak secara tajam di saat usia menjelang tua. Salah satunya adalah Alzheimer. Penyakit ini dapat melemahkan daya ingat secara drastis yang membuat orang tidak bisa berbuat apa – apa.

Ada sejumlah bahan makanan yang dianjurkan, untuk dimakan secara rutin agar daya ingat tetap terjaga dengan baik.

Gandum
Makan gandum beserta olahanya seperti sereal, wheatbrand, dan pasta gandum memberikan vitamin B12 dan B6 yang bisa meningkatkan dan mempertahan daya ingat. Juga beresiko lebih rendah dari penurunan kognitif ringan yang dapat berkembang menjadi penyakit Alzheimer.

Minyak ikan
Jenis ikan seperti mackarel, tuna, salmon, dan jenis ikan laut lainnya memiliki minyak dengan sumber asam lemak omega3 yang dibutuhkan oleh otak. Selain asam lemak omega-3, ikan-ikan ini juga mengandung docosahexaenoic acid (DHA) dan yodium yang bagus untuk syaraf otak dan mengasah daya ingat lebih tajam.

Blueberry
Menurut penelitian Tufts University dan Journal of Neuroscience, ekstrak blueberry dapat membantu memelihara serta meningkatkan daya ingat dan fungsi otak.

Tomat
Tomat kaya akan Lycopene dan antioksidan yang bisa membantu melindungi terhadap jenis kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas yang diakibatkan karena faktor usia.

Blackcurrant
Vitamin C pada Blackcurrent sudah dikenal memiliki kekuatan untuk meningkatkan ketangkasan mental dalam berfikir. Mampu menjaga otak dari racun dari lingkungan ataupun makanan, sehingga bisa mencegah terjadinya penurunan daya ingat.

Kuaci biji labu
Kuaci yang berasal dari biji labu memiliki kandungan zinc yang baik untuk meningkatkan dan memelihara ketajaman otak dan pikiran.

Brokoli
Brokoli merupakan sumber vitamin K, yang dikenal baik untuk meningkatkan fungsi kognitif serta kemampuan otak dalam berfikir.

Kacang-kacangan
Menurut the American Journal of Epidemiology, kacang atau pun selai kacang mengandung lemak yang baik untuk tubuh. Selain itu, kacang juga menjadi sumber vitamin E tinggi yang bisa menjaga tubuh tidak hanya dari serangan jantung tapi juga memperbaiki untuk sistem kerja otak.

(dev/Odi)

http://www.detikfood.com/read/2011/06/24/075304/1667532/900/tomat-pertajam-daya-ingat?d992201284

Positive Words Sejak Dini; Strategi Mengatasi Kecemasan Berbicara Di Depan Umum

A. Simpulan
1. Penerapan positive words sejak dini mampu mengurangi kecemasan berbicara di depan umum.
2. Penerapan positive words dapat dilakukan keluarga dan pendidik sejak dini sebagai upaya mengurangi kecemasan berbicara di depan umum degan beberapa metode, pertama memulai dengan metode non-interaktif. Kedua, orang tua atau pendidik harus melatih serta membiasakan anak-anak untuk mengucapkan positive words yang disertai dengan mimik yang selaras. Ketiga, memberikan dukungan dan motivasi saat anak sedang mengalami kecemasan ketika harus berbicara di depan umum. Keempat, orang tua dan pendidik perlu mengajarkan anak untuk tidak memfokuskan diri pada kesalahan, tetapi menekankan pada apa yang mampu seorang anak lakukan. Kelima, dalam penerapan positive words, orang tua dan pendidik perlu mengajarkan sikap santai dalam kondisi yang menegangkan melalui metode relaksasi.
B. Saran
1. Orang tua atau pendidik membiasakan penerapan kata-kata positif (positive words) sejak dini untuk meningkatkan rasa percaya diri saat berbicara di depan umum.
2. Anak-anak membiasakan diri menggunakan positive word sejak dini sehingga lebih sadar akan kekuatan kata-kata baik yang menghancurkan maupun yang membangun dan meningkatkan penggunaan kata-kata positif.
3. Masyarakat ikut membantu penerapan kata-kata positif dengan mengurangi pemberian contoh kata-kata negatif pada anak dalam lingkungannya.

Tips Pede Berbicara Di Depan Umum

Ada suatu fakta yang mengejutkan! Di Amerika Serikat, ketakutan berbicara di depan umum menduduki rangking yang lebih tinggi dari pada takut kepada ketinggian. Berbicara di depan umum bahkan dianggap lebih menakutkan dari pada kematian. Bagi kebanyakan orang, berbicara di depan umum memang sangat menakutkan. Mereka tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum.

Orang yang kesehariannya cerewet luar biasa, dan kalau berbicara hampir-hampir tidak bisa dihentikan, dalam banyak kasus tidak mampu berbicara di depan umum. Begitu menakutkankah berbicara di depan umum?

Banyak orang beranggapan bahwa kemampuan berbicara di depan umum adalah bakat alam. Ada orang yang memang berbakat dan ada orang yang tidak berbakat. Orang-orang ini beranggapan bahwa para pembicara terkenal sudah dari kecil pandai berbicara di depan umum.

Namun, fakta menunjukkan lain. Banyak pembicara hebat yang sebelumnya takut berbicara di depan umum. Mereka menjadi hebat karena belajar serius, mengamati pembicara sukses, mencobanya, dan belajar dari kegagalan maupun keberhasilan.

Tidak hanya sebagai pembicara, dalam kehidupan secara umum juga banyak orang sukses karena mencoba, berusaha, dan belajar dari pengalamannya. Jadi di sini, tampaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk menjadi pembicara hebat kita bisa belajar. Nothing is impossible. Every thing can be learned. Kalau begitu, untuk menjadi percaya diri juga bisa dipelajari? Iya benar.

Untuk itu, mari kita pelajari bagaimana supaya kita percaya diri (PeDe) saat berbicara di depan umum.

Mengapa Tidak Pede?
Orang yang tidak pede adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa mereka tidak akan mampu mengerjakan dengan baik sesuatu yang mereka akan kerjakan, sedangkan kondisi sebenarnya tidaklah seburuk itu. Mereka juga merasa bahwa mereka tidak tepat pada suatu kondisi dan situasi tertentu. Dengan kata lain, orang yang tidak pede adalah orang yang menilai dirinya sendiri lebih rendah dari situasi sebenarnya (down grade, undermine).

Jadi, orang yang tidak pede tidak mampu secara objektif menilai dirinya sendiri.
Orang yang tidak pede biasanya memiliki konsepsi yang keliru tentang diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Mereka melihat keberadaan manusia seperti mass production yang manghasilkan produk dengan kualitas yang berbeda-beda. Ada kualitas 1 (kw1), kw2, dan seterusnya, bahkan ada produk yang dianggap rusak (defect).

Pandangan ini jelas keliru. Manusia tercipta dengan keunikan sendiri-sendiri. Bisa saja seseorang lebih unggul di satu sisi, tetapi tidak akan ada manusia yang unggul di segala hal. Setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihan manusia bisa menjadi kekurangan, dan sebaliknya, kekurangannya bisa juga menjadi kelebihannya.

Kearifan manusia dalam memosisikan dirinya sendiri akan berdampak pada bagaimana manusia memosisikan orang lain. Kalau diri sendiri adalah unik, maka perbedaan haruslah dipandang sebagai keunikan pula. Orang lain juga memiliki keunikan sendiri. Manusia satu dengan lainnya tidaklah harus sama, karena masing-masing memiliki keunikan sendiri. Nah, kalau sudah begini, maka sudah tidak pada tempatnya lagi kita memandang orang lain serba lebih dari kita, dan kita serba kurang dari mereka.

Yang ada adalah kita memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda, tidak harus sama antara satu orang dengan orang lain. Jadi, tidak perlu kita melihat orang lain sebagai standar tunggal. Boleh saja kita menempatkan orang lain sebagai benchmark (bandingan), namun itu semua dalam kerangka tidak untuk menghakimi diri sendiri bahwa orang lain selalu lebih baik dari kita.
Lingkungan juga harus kita terjemahkan dengan bijak.

Tuhan menciptakan alam dan seisinya untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan si A saja, atau si B saja. Dengan demikian, tidak pada tempatnya kalau kita selalu menyalahkan lingkungan dan keadaan sebagai kambing hitam atas kesalahan kita dalam menempatkan diri sendiri maupun orang lain.

“Keadaan tampaknya tidak memihak pada kita,” itu kata-kata yang sering kita dengar untuk menjustifikasi bahwa sudah pada tempatnyalah kalau kita tidak pede pada suatu lingkungan tertentu. Ini keliru. Kitalah yang harus bisa mengendalikan lingkungan, bukan kita yang dikendalikan oleh lingkungan. Hal ini bukan berarti lingkungan harus menuruti apa saja yang kita mau. Bukan begitu. Ini berkaitan dengan bagaimana kita harus merespon keadaan pada suatu lingkungan.

Sebagai contoh, seseorang dari golongan ekonomi lemah harus bekerja di suatu lingkungan di mana hampir semua orang yang ada di sana adalah dari golongan ekonomi kuat. Pada keadaan seperti ini orang yang tidak pede memiliki alasan untuk minder, sehingga berikutnya semakin kuatlah ketidakpedean mereka. Tetapi, mungkin ada orang yang merespon dengan cara lain. Saat seseorang yang miskin harus berada di lingkungan orang-orang kaya, bisa saja orang miskin tersebut justru bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berada di antara orang-orang kaya.

Nah, di sinilah pentingnya kita mengasah kemampuan dalam menterjemahkan keadaan. Yang jelas, hal ini bisa dilatih dan dipelajari. Suatu keadaan yang sama apabila diterjemahkan dengan cara berbeda bisa menghasilkan hal yang berbeda pula.

Dalam suatu training untuk meningkatkan kepercayaan diri saya meminta semua peserta menuliskan sebanyak-banyaknya hal-hal yang bisa dijadikan alasan yang jitu sehingga kita tidak pede. Setelah peserta memiliki daftar ‘alasan jitu sehingga kita layak untuk menjadi tidak pede’, para peserta saya minta untuk menerjemahkan hal tersebut dengan cara yang berbeda sehingga yang sedianya menjadikan ‘tidak pede’ agar diputar menjadi ‘pede’. Dan hal tersebut saya minta untuk dilakukan terus-menerus kapan pun dan di mana pun saat kita tidak pede.

Ini suatu keterampilan, sehingga semakin sering dan semakin terlatih kita dalam melakukan hal tersebut, semakin kita memiliki amunisi alasan yang cukup agar kita menjadi “pede”. Mau mencoba latihan ini? Silakan. Rasakan perubahannya. Selamat mencoba.[ap]
Lanjutan
Pada tulisan sebelumnya sudah digarisbawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar.

Hal tersebut akan melandasi kita supaya bisa pede dengan wajar, tanpa dibuat-buat. Namun, pede secara umum (in general situation) tidak menjamin akan pede pula saat harus berbicara di depan umum (public speaking). Mengapa demikian? Karena adanya unsur gangguan fisik dan gangguan mental dalam berbicara di depan umum.

Keadaan tidak pede saat berbicara didepan umum akan mengundang gangguan fisik maupun gangguan mental. Gangguan fisik dapat berupa tiba-tiba merasa gatal, gemetar, jantung berdebar keras, berkeringat yang tidak wajar, tangan dingin, suara parau bahkan tidak keluar, tenggorokan kering, kaki rasanya lemas, perut mulas, dan selalu ingin buang air kecil. Gangguan fisik ini kalau tidak berhasil kita atasi akan semakin membuat kita down, semakin tidak pede.
Gangguan fisik harus kita atasi secara fisik pula.

Caranya adalah dengan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ini tidak harus dilakukan di ruang tempat kita berbicara, tetapi bisa dilakukan di luar gedung. Selanjutnya adalah kita harus mencoba tersenyum saat menarik napas maupun menghembuskan napas, sembari mengendurkan syaraf yang tegang.

Saat kita tersenyum, syaraf akan terpancing untuk mengendur. Lakukan beberapa kali sampai kita merasa relaks.
Teknik lain untuk mengatasi gangguan fisik adalah dengan cara memberikan kejutan pada tubuh kita.

Ini bisa kita lakukan dengan melompat yang tinggi kalau perlu sambil berteriak keras, saling menggenggam erat antara tangan kanan dan tangan kiri, atau membuat gerakan ekstrim yang membuat seolah badan kita tersengat. Malu dong melakukan gerakan kejutan di depan umum? Jangan khawatir. Ini ada triknya. Kita justru bisa mengajak peserta (audience) untuk melakukan bersama sama kita. Pernahkah Anda menjumpai pembicara yang mengajak peserta berjingkrak-jingkrak bersama sambil berteriak?

Nah, ini adalah salah satu cara supaya kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kejutan bagi fisik kita. Dengan cara ini peserta maupun pembicara menjadi lebih relaks.

Gangguan lain yang akan muncul saat kita tidak pede untuk berbicara di depan umum adalah gangguan mental. Gangguan mental muncul dalam bentuk perasaan khawatir secara berlebihan, grogi, minder, merasa akan diterkam oleh peserta, merasa disepelekan, merasa kecil, merasa bodoh, merasa kurang siap, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Gangguan mental ini juga harus kita atasi dengan menggunakan pendekatan mental pula.

Salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan membuat keputusan kepada diri sendiri untuk tidak khawatir, tidak grogi, tidak minder, dan sebagainya. Perintahkan diri sendiri untuk tidak khawatir. Katakan dalam hati dengan lembut pada diri sendiri bahwa kita tidak perlu khawatir karena situasi akan membaik dan memihak pada kita. “Don’t worry, you will be fine.” Katakan berulang-ulang. Hipnosis diri sendiri.

Kondisikan hati kita akan menerima saran baik dari kita sendiri. Lakukan lagi sampai kita merasa lebih baik.
Gangguan mental dapat pula kita atasi dengan cara melakukan reposisi pada diri sendiri maupun orang lain. Caranya adalah dengan memberikan posisi yang serba positif kepada peserta. Posisikan peserta sebagai pemaaf, orang yang menyenangkan, penuh pengertian, dan akan memberikan perhatian pada acara ini. Cara ini akan efektif karena saat kita grogi misalnya, karena ada peserta yang lebih tinggi pangkatnya atau lebih hebat gelarnya, adalah posisi yang kita pilih untuk diri sendiri.

Saat itu kita memosisikan sebagai lebih rendah maka mereka menjadi tampak lebih tinggi.
Di sini perlu kearifan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya.

Apa sih salahnya kalau ada peserta yang memiliki gelar lebih hebat dari pada pembicara? Apa pula salah pembicara kalau pangkatnya lebih rendah dari pada peserta? Posisikan diri sendiri maupun orang lain pada porsi yang wajar, maka kita akan mampu mengatasi gangguan mental.

Teknik lain untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan cara yang disebut unfreezing, atau mencairkan kebekuan. Ini bisa kita lakukan dengan cara melakukan komunikasi awal dengan peserta.

Kita bisa menanyakan sesuatu yang ringan-ringan saja yang untuk menjawab mereka tidak perlu berpikir keras. Misalnya kita menanyakan, “Siapa yang hadir di sini yang ingin kaya?” Mintalah mereka mengangkat tangan apabila ingin kaya. Pertanyaan seperti ini tentunya memiliki jawaban pasti karena semua orang ingin kaya.

Tetapi, dengan kita tanyakan kepada peserta kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Interaksi ini akan mencairkan suasana sehingga gangguan mental bisa kita atasi. Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita sampaikan. Kalau kita sedang berbicara tentang kesehatan kita bisa menanyakan “Siapa di antara yang hadir di sini yang ingin sehat?”

Haruskah unfreezing dilakukan dengan bertanya? Tidak.

Kita bisa juga melakukan unfreezing dengan menyapa peserta yang kita kenal, memuji baju yang dikenakan salah satu atau beberapa peserta, menyampaikan kata-kata bijak yang sesuai topik, dan kemudian menanyakan kepada peserta setuju atau tidak dengan kata-kata bijak tersebut. Atau cara-cara lain, yang penting kita bisa membuka interaksi dengan peserta agar kebekuan bisa cair.

Unfreezing bisa juga dilakukan dengan bertanya kepada peserta suatu pertanyaan yang sudah kita atur jawabannya. Misalnya, apabila ditanya apa kabar, mereka harus menjawab “luar biasa”, “fantastik”, “super”, dan jawaban lain yang membangkitkan semangat.

Ada pula yang mengatasi gangguan mental dengan cara humor, yaitu dengan memberikan sentuhan jenaka bagi peserta yang membuat kita grogi. Cara ini bukan berarti kita harus melucu, tetapi kita membayangkan mereka dalam posisi lucu sehingga kita bisa tertawa dalam hati. Misalnya, peserta yang matanya besar kita bayangkan bahwa matanya lebih besar lagi, lebih bulat, seperti mata Bagong, tokoh pewayangan yang selalu melucu. Peserta yang berjenggot kita bayangkan seperti seekor kambing, dan seterusnya.

Ini memang butuh kreativitas. Membayangkan wajah jelek dan lucu tidaklah mudah. Dalam training public speaking, untuk mendapatkan gambaran tentang wajah jelek dan lucu saya sering minta kepada peserta untuk berekspresi yang sejelek mungkin dan kemudian selucu mungkin.

Peserta lain mengamati sehingga peserta memiliki inventory bayangan wajah jelek dan lucu. Inventory ini akan berguna dikemudian hari saat mereka harus mendapatkan sisi lucu dari peserta. Tertarik untuk mencoba? Silakan. Asyik juga cara ini.
Penutup
Pada tulisan yang pertama sudah kita bicarakan alasan-alasan mengapa orang tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum. Kemudian, pada tulisan kedua kita membicarakan tentang gangguan fisik dan gangguan mental yang menyebabkan seseorang menjadi tidak percaya diri saat berbicara di depan umum. Dalam tulisan terakhir ini kita akan diskusikan bagaimana kita membangun kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum.

Kepercayaan diri bukanlah suatu bawaan, tetapi hasil dari suatu proses dan pengalaman yang akhirnya memberikan kepercayaan seseorang kepada diri sendiri seberapa jauh ia akan berhasil melakukan suatu pekerjaan dengan baik. Kepercayaan diri sifatnya tidak permanen, bisa naik turun. Dengan demikian, pada dasarnya kepercayaan diri bisa diatur (managed). Jadi, bagaimana agar kita pede berbicara di depan umum? Mari kita bahas terlebih dahulu bagaimana kita bisa mengubah pikiran kita yang tadinya tidak percaya diri menjadi sosok yang percaya diri. Pertama-tama kita bicarakan membangun kepercayaan diri secara umum, dan kemudian disusul dengan membangun kepercayaan diri saat berbicara di depan umum.
Yang kedua, kita harus menyadari adanya hukum aksi reaksi. Reaksi sangat bergantung pada aksi. Dengan demikian aksi kita merupakan kunci untuk mendapatkan reaksi yang kita harapkan. Kalau kita bersemangat, orang lain akan bersemangat pula. Kalau kita memberi perhatian, orang lain akan memberikan perhatian pula. Jadi, reaksi yang akan kita dapatkan sangat bergantung kepada aksi yang kita berikan.

Ketiga, kita harus berani membuat ketetapan diri untuk menghalau dan menghadang perasaan-perasaan negatif yang akan mengganggu kepercayaan diri kita. Misalnya, kita membuat keputusan untuk menerima hal positif saja dan tidak akan mau menerima pengaruh negatif. Ketetapan ini sebaiknya diuangkapkan dalam bahasa yang menurut kita gaul dan komunikatif agar raut muka kita tidak tegang seperti orang sedang menantang. “Maaf, gue cuma doyan positive thinking, gue enggak doyan negative thinking!” “Gua enggak bakalan mati walau apa pun elu bilang!” Cara ini bukan berarti kita membohongi diri sendiri. Bukan. Tetapi, kita sedang membuat ketetapan diri untuk menjadi positif.

Untuk menjadi percaya diri, pertama kita harus mampu mendefinisikan diri sendiri maupun orang lain secara postif. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memandang diri sendiri maupun orang lain sebagai orang yang baik. Pada dasarnya semua orang baik, sehingga tidak ada alasan buat kita untuk tidak percaya diri. Kita juga dapat melakukan self hypnotize (menghipnosis diri sendiri) untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita adalah seorang profesional yang selalu memberi yang terbaik. Sebagai seorang yang profesional mengapa harus tidak percaya diri?

Cara yang ke empat adalah memancing dengan gerakan tubuh. Artinya, gerakan tubuh kita harus dikondisikan seperti halnya seorang pembicara yang percaya diri. Misalnya, kita memberikan senyum yang ikhlas, badan kita tegakkan dan relaks, dan napas teratur. Badan dan pikiran pada dasarnya menyatu. Kalau pikiran kita loyo, badan kita akan loyo pula. Namun sebaliknya, gerakan badan dapat pula memengaruhi pikiran kita. Kalau pancaran muka kita optimis, pikiran kita juga akan terpengaruh menjadi optimis pula. Gerakan tubuh yang mencerminkan orang yang percaya diri akan membuat pikiran kita menjadi percaya diri pula. Jadi, pancingan gerakan tubuh sangat penting untuk mengendalikan pikiran kita.

Cara berikutnya adalah dengan memberikan sentuhan jenaka pada diri sendiri maupun pada orang lain. Maksudnya di sini bukanlah kita harus melucu. Bukan. Tetapi kita harus belajar mencari aspek jenaka dalam segala kejadian. Misalnya, seorang yang menganggu kepercayaan diri kita bayangkan sebagai seorang bayi lucu dengan wajah tua seperti dia! Sehingga, kita tidak sempat tersinggung, tidak sempat terganggu, tetapi harus tertawa dalam hati karena geli melihat orang yang mengganggu kita tadi. Nah, dengan melihat aspek jenaka dalam setiap kejadian, ekspresi muka kita akan menjadi relaks dan tidak tegang karena pikiran kita sedang melihat sesuatu yang lucu.

Uraian di atas adalah berkenaan dengan membangun kepercayaan diri secara umum. Sekarang bagaimana kita dapat membagun kepercayaan diri dalam public speaking?

Untuk membangun kepercayaan diri sebagai public speaker kita harus memiliki persiapan yang baik. Persiapan yang baik akan membuat kita tenang karena kita sudah mendapatkan gambaran yang jelas tentang materi yang akan diberikan, kurun waktu yang kita perlukan, urutan dari satu bahasan ke bahasan berikutnya. Persiapan di sini tidak hanya persiapan materi presentasi saja, namun juga persiapan secara teknis.

Misalnya, apakah microphone yang akan kita gunakan dapat dipastikan berfungsi dengan baik, apakah layout ruangan sudah seperti yang kita inginkan, apakah LCD projector telah tersedia, dan beberapa hal teknis lainnya.

Berikutnya, sebelum kita mulai berbicara, kita usahakan untuk bisa menggambarkan kejadian “public speaking” di dalam pikiran kita. Saat menggambarkan di dalam pikiran ini, kita gambarkan saja bahwa kita sedang berbicara dengan penuh kepercayaan diri. Saat benar-benar berbicara, kita lakukan saja seperti yang telah kita gambarkan tadi. Seorang pembicara yang percaya diri.

Selanjutnya jadikan berbicara atau presentasi sebagai suatu tantangan yang menarik dan menggairahkan, yang merupakan kesempatan emas bagi kita untuk mengembangkan diri. Kita tidak perlu memungkiri bahwa banyak hal dapat membuat kita tidak percaya diri. Namun, kalau hal tersebut berhasil kita taklukkan satu-persatu kita akan menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Ini adalah tantangan yang harus kita taklukkan.

Tuntunan berikutnya agar kita menjadi percaya diri saat berbicara di depan umum adalah dengan belajar untuk tenang saat stres. Memang benar manusia tidak bisa 100 persen terhindar dari stres, tetapi harus kita ingat bahwa stres yang ter-managed dengan baik justru positif bagi kita.

Kebanyakan orang yang panik akan tergesa-gesa, dan ini akan berakibat buruk bagi presentasi kita. Kita perlu calm and slow down. Kalau kita tenang, kita akan kelihatan percaya diri. Kalau kita kelihatan percaya diri, kita akan benar-benar menjadi percaya diri.

Senyum juga merupakan senjata yang ampuh untuk mengalahkan ketidakpercayaan diri. Orang yang tersenyum akan kelihatan lebih pede. Senyum juga akan memancing pikiran kita lebih tenang dan lebih jernih.

ang terakhir adalah kita harus latihan mengendorkan otot dan menghilangkan tekanan pada badan kita. Jadi, ini merupakan latihan fisik. Coba latih badan kita untuk lebih tenang, lebih relaks, dan lebih tegap. Kalu perlu jadikan hal ini sebagai senam pagi. Tegakkan badan, tegakkan kepala, senyum, otot dikendorkan, tatap mata dengan tajam tetapi bersahabat.

Lakukan latihan fisik ini setiap pagi. Akan lebih baik lagi apabila dilakukan di udara terbuka dengan cermin ada di depan kita. Kita akan mendapatkan udara yang segar dan kita mendapatkan pula gambaran wajah dan sikap badan kita melalui cermin.

Semoga tip-tip tentang mambangun kepercayaan diri ini berguna dan dapat diaplikasikan dengan mudah dan efektif hasilnya. Selamat mencoba, selamat berlatih, dan sukses untuk kita semua.[ap]

http://agung-praptapa.blog.unsoed.ac.id/2011/02/24/supaya-pede-berbicara-di-depan-umum-1/

Mengatasi Rasa Grogi Saat Berbicara di Depan Umum

Oleh Vel Equileus
Jika kamu adalah seseorang yang sedang mengalami kesulitan ketika harus berbicara di depan umum, maka mungkin artikel akan membantumu dalam menganalisis dan mengatasi suatu penyebab utama munculnya sebuah perasaan yang membuat jantungmu berdebar-debar, keringat bercucuran, ataupun perasaan hati yang sangat tidak nyaman. Sebuah perasaan yang kerap kali disebut ‘grogi’ yang menghambat kinerja otak kamu dalam menyampaikan persentasi, membacakan puisi, berpidato, ataupun berargumen di depan umum.
Penyebab utama rasa grogi kamu adalah rasa takut atau dalam bahasa inggris disebut FEAR. FEAR dalam bahasa inggris diakronimkan sebagai Fantasized Experience Appearing Real, atau kejadian dalam imajinasi kamu yang seolah-olah terlihat nyata.
Terdapat berbagai macam ketakutan yang kamu rasakan ketika kamu berbicara di hadapan publik. Yang akan dibahas satu per satu dalam rangkaikan artikel tentang rasa takut, yaitu Menghadapi Kekhawatiran saat Berbicara di Depan Umum, Meningkatkan Kepercayaan Diri ketika Berbicara di Depan Umum, serta Bagaimana Membuat Pembicaraan di Depan Umum menjadi Santai dan Menyenangkan. Namun di artikel ini saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai perasaan grogi itu sendiri, sebuah perasaan yang muncul akibat respon kamu terhadap rasa takut yang kamu rasakan.
Gejala demam panggung atau yang biasa disebut grogi merupakan sesuatu yang wajar yang harus dialami oleh semua orang ketika ia untuk pertama kalinya berbicara di muka umum. Seperti yang telah dijelaskan di atas, sumber dari perasaan grogi yang kamu rasakan adalah ketakutan. Adapun perasaan takut itu meliputi Ketakutan Akan Respon Pendengar, Ketakutan Akan Penampilan Diri Sendiri, serta Ketakutan Akan Kesempurnaan Topik yang Akan Kamu Bawakan.
Ketiga jenis ketakutan itu akan dibahas lebih detail lagi dalam rangkaian artikel tentang rasa takut ketika berbicara di depan umum. Namun satu hal yang ingin saya lugaskan di sini adalah perasaan grogi merupakan suatu perasaan yang wajar, kecuali perasaan grogi mulai menguasai dirimu sehingga seluruh fokus pikiranmu hanya terarah kepada perasaan grogi itu dan melupakan apa yang sebenarnya harus kamu lakukan.
Perasaan grogi juga merupakan suatu yang tidak wajar apabila perasaan grogi itu terus muncul bahkan dalam intensitas yang lebih besar pada kesempatan yang berikutnya. Alih alih perasaan grogi itu semakin hilang seiring dengan banyaknya kesempatan kamu berbicara, perasaan grogi itu malah bertambah akibat otak yang kamu isi sendiri dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang tidak beralasan.
Pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana Menghilangkan Perasaan Grogi?”
Guys, perasaan grogi tidak bisa dihilangkan!
Kita hanya bisa mengatasi perasaan tersebut sehingga bukan dialah yang menjadi raja atas pikiran kita melainkan kita yang merajai pikiran kita sendiri.
Inilah kenyataan yang kerap kali dilupakan oleh sebagian orang. Sebagian di antara orang-orang yang tidak mengerti menganggap grogi bukan suatu yang wajar melainkan suatu perasaan yang terkutuk dan harus dihilangkan sesegera mungkin. Dan ketika mereka maju di depan umum sembari mereka berusaha untuk menghilangkan perasaan itu, mereka menjadi stres menghadapi kenyataan bahwa perasaan grogi mereka tidak bisa dihilangkan. Begitu seterusnya sehingga mereka malah memperbesar rasa grogi mereka sendiri.
Sebagian lagi menganggap bahwa perasaan grogi merupakan suatu perasaan yang menguntungkan karena kita bisa lebih termotivasi untuk tampil lebih baik lagi karenanya. Mereka tidak menyadari bahwa jika seseorang termotivasi untuk tampil lebih baik karena grogi yang dialaminya, maka ia sedang menyerahkan dirinya kepada ketakutan jenis ketiga yang memperbesar perasaan groginya.
Kamu tahu persamaan dari kedua anggapan yang salah di atas?
Mereka menepatkan perasaan grogi sebagai perhatian utama ketika berbicara!
Yang tidak mereka sadari adalah bahwa kita harus menempatkan perhatian utama kita pada materi yang akan kita bawakan, bukan perasaan grogi itu sendiri!
Ketika kamu telah memusatkan perhatian kamu kepada materi yang kamu bawakan, merasa percaya diri bahwa kamu akan dan telah menyampaikan materi semaksimal mungkin, serta tidak mengindahkan respon orang terhadapmu, maka perasaan grogi bukanlah hal yang penting lagi, bahkan suatu saat nanti akan hilang dengan sendirinya seiring seringnya kamu berbicara.
Kesimpulannya, perasaan grogi bukanlah sesuatu yang harus diperhatikan, fokuskan perhatian pada dirimu sendiri, lalu berbicaralah.

http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/11/16/mengatasi-rasa-grogi-saat-berbicara-di-depan-umum/

Tiga Perilaku yang Merusak Hubungan

Oleh Amelia Ayu Kinanti | Yahoo News – Sel, 14 Jun 2011
Hubungan Anda dan pasangan makin lama makin menjauh? Mungkin sikap Andalah yang jadi penyebabnya.

Berikut beberapa sikap yang harus dihindari dalam sebuah hubungan cinta, seperti yang dikutip dari SheKnows.

1. Sikap diam
Saat kecewa, Anda diam. Saat marah, Anda diam. Saat ada yang mengganjal, Anda memilih diam ketimbang bercerita atau menjelaskannya pada pasangan. Sikap diam ini tak akan pernah membuat keadaan menjadi lebih baik. Komunikasi Anda dan pasangan tertutup, dan di sisi lain, pasangan juga tak pernah bisa memahami perasaan Anda.

Ketimbang diam, cobalah untuk berbicara dari hati ke hati. Jelaskan dengan jujur apa yang Anda rasakan. Beri pasangan kesempatan untuk memahami Anda lebih jauh. Ingat, berhentinya komunikasi adalah awal kehancuran sebuah hubungan.

2. Sikap menebak (seolah tahu)
Jika ada yang ganjil dari perilaku pasangan, yang Anda lakukan malah menebak-nebak dan berprasangka. Yang fatal, prasangka yang Anda punya adalah prasangka buruk. Anda pun menjadi kesal dan marah pada pasangan, tanpa sebab yang jelas. tak jarang dalam keadaan ini, pasangan juga akan berbalik marah pada Anda karena merasa dihakimi tanpa alasan yang jelas.

Jika tak ingin keadaan di atas terjadi, maka sebaiknya mulailah bertanya. Tak ada salahnya bertanya pada pasangan mengenai sikap ganjilnya pada Anda. Mungkin saja, ia memiliki alasan yang logis dan bisa diterima.

3. Menahan marah
Menahan kemarahan hanya akan menjadi bom waktu pada sebuah hubungan. Saat kemarahan itu memuncak dan tak tertahan lagi, hubungan pun berada di posisi paling membahayakan. Yang akan terlihat hanya kesalahan pasangan, dan seluruh sisi positifnya menjadi tertutup.

Ketimbang menahan amarah, lebih baik salurkan kemarahan dan kekecewaan Anda dalam suatu pembicaraan yang sifatnya positif dan membangun hubungan. Segala masalah jika dikomunikasikan dengan baik, pasti ada jalan keluarnya.

Selamat berbahagia.

Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Keributan yang kerap kali terjadi dalam sebuah keluarga, sedikit banyak disebabkan karena masalah uang. Ketika kebutuhan menuntut untuk segera dicukupi sementara uang sudah habis, saat itulah keributan mulai terjadi. Ironisnya, ini semua bukan disebabkan karena penghasilan yang sedikit, tapi justru disebabkan karena pengelolaan keuangan keluarga yang sedemikian buruk. Tips-tips berikut mungkin akan berguna dan membantu Anda.

1. Keuangan keluarga sebaiknya bersifat terbuka
Jika suami isteri saling jujur dan terbuka soal uang, maka pengelolaan keuangan keluarga bisa diatur dengan baik dan dibicarakan bersama-sama. Selain itu, membicarakan keuangan keluarga secara terbuka dan bersama-sama akan menghindarkan keributan di kelak kemudian hari.
2. Bijak-bijaklah memahami kebutuhan.
Ada kebutuhan yang memang sangat mendesak dan penting, namun ada juga kebutuhan yang tidak penting dan tidak mendesak. Sudah seharusnya kita mendahulukan lebih dulu mana kebutuhan yang benar-benar penting dan mendesak. Cukupi lebih dulu kebutuhan primer keluarga, menyusul kemudiaan kebutuhan sekunder, baru kebutuhan yang sifatnya pleasure (kesenangan) belaka.
3. Buatlah anggaran belanja disertai skala prioritas.
Anggaran belanja bulanan keluarga akan sangat membantu kita untuk mengalokasikan uang yang kita miliki. Dengan menyusunnya berdasarkan skala prioritas, maka kebutuhan yang penting dan mendesak dalam keluarga akan tercukupi. Keributan pun tak perlu terjadi.
4. Menabung dan melakukan investasi.
Uang yang dialokasikan untuk menabung sudah seharusnya masuk dalam perencanaan keuangan keluarga. Kebiasaan menabung akan sangat membantu jika kebutuhan-kebutuhan tak terduga tiba-tiba muncul. Selain menabung, alangkah baiknya jika kita bisa menyisihkan keuangan kita untuk melakukan investasi yang pada akhirnya akan memberikan tambahan penghasilan bagi kita.
5. Jangan membeli barang yang tidak perlu.
Jangan emosi jika kita melihat promosi yang menggiurkan, apalagi dengan diskon yang sangat besar, mengingat bahwa barang tersebut sebenarnya tidak kita butuhkan. Jika kita nekat membelinya hanya karena imin-iming diskon, maka pengaturan keuangan keluarga menjadi kacau. Selain itu, membeli barang yang tidak kita butuhkan hanya akan membuat isi rumah kita terlihat makin sesak saja.
6. Hati-hati dengan kartu kredit.
Sah-sah saja jika kita ingin mengikuti trend atau mode yang sedang ramai dibicarakan. Namun hendaknya kita perlu hati-hati, apalagi kartu kredit dengan plafon yang besar sangat menggoda untuk kita segera menggeseknya. Memang nikmat saat berbelanja dengan kartu kredit, namun kalau tidak bijak, kita akan pusing tujuh keliling dan sengsara saat harus membayar tagihan, apalagi kalau jumlah itu diluar batas kemampuan kita. Batasilah penggunaan kartu kredit kita setiap bulannya. Dengan demikian keuangan keluarga tidak menjadi berantakan gara-gara kartu plastik yang kita miliki.

Kiat Jitu Mengelola Keuangan Keluarga

Saya menyadur tulisan ini dari salah satu web… ini copy paste. Dengan niat lebih menyebarkan ilmu yang baik mengenai cara pengelolaan keuangan, saya memuat tulisan ini di halaman saya. Saya percaya tulisan ini sangat bermanfaat bagi pembacanya…

Mengelola penghasilan dengan baik, masa depan keluarga Anda terjamin. Anggaran yang benar merupakan ‘kartu pas’ meraih jaminan itu.
Dana seringkali sudah ‘kering’ padahal tanggal gajian masih lama? Atau Anda bingung, dari mana bisa dapat dana untuk bayar uang pangkal TK si kecil yang berjut-jut itu? Mungkin pula Anda merasa sudah kerja keras, lebih dari 12 jam sehari, tapi belum juga ada hasil yang nyata. Sudahlah… sebaiknya periksa kembali apakah pengelolaan keuangan Anda sudah tepat?

Perlu anggaran
Berapa pun penghasilan Anda tak pernah cukup jika tidak direncanakan dengan benar. Masalah-masalah keuangan seperti di atas tak seharusnya terjadi jika Anda dan pasangan mengelola keuangan dengan baik.
“Penghasilan kita sebaiknya tidak hanya cukup untuk memenuhi pengeluaran kebutuhan hidup saat ini, tapi juga investasi masa depan,” ungkap Mike Rini , Perencana Keuangan dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan.
Mike menyarankan agar tiap keluarga membagi penghasilan dalam pos-pos pengeluaran. Pos pengeluaran pertama untuk membayar utang: kartu kredit, cicilan rumah, cicilan mobil, dan lain-lain. Besarnya pos pengeluaran pertama ini sebaiknya tidak lebih dari 30 persen penghasilan.
Pos kedua adalah tabungan dan investasi. Kalau biasanya keluarga menabung di akhir bulan, setelah ada sisa pengeluaran, Mike menyarankan sebaliknya. “Tabungan dan investasi dialokasikan di awal. Kalau tidak demikian, tak akan pernah terisi, karena cenderung berapa pun uang yang ada akan habis,” jelasnya. Bila keluarga belum punya tujuan keuangan atau rencana digunakan untuk apa uang tabungan itu, pos ini sekurang-kurangnya 10 persen dari penghasilan keluarga.

Pos ketiga yaitu untuk premi asuransi. “Asuransi diperlukan keluarga untuk memperkecil risiko keuangan yang mungkin terjadi,” jelas Mike. Misalnya, terjadi sesuatu dengan kepala keluarga, dengan asuransi jiwa, istri yang tidak bekerja dapat menggunakan uang pertanggungan untuk membuka usaha, misalnya. Besarnya premi asuransi dari total asuransi yang diambil keluarga sebaiknya tak lebih dari 10 persen saja. Tak dianjurkan lebih dari 10 persen, karena hal yang dikhawatirkan belum tentu terjadi.
Pos keempat, yang terakhir, barulah biaya hidup keluarga. Pos ini mendapat alokasi sisa dari pengeluaran tiga pos itu tadi. Termasuk dalam pos keempat adalah belanja keluarga dan belanja pribadi Anda dan pasangan, transportasi, pembantu rumah tangga, rekening listrik, telepon dan air, pakaian, pembantu rumah tangga, hiburan dan mainan anak.

Pengalokasian dana pada setiap item, menurut Mike, fleksibel. Meski pos yang terakhirlah yang pertama kali diutak-atik jika keluarga merasa perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk mencapai suatu tujuan. Anggaran sebaiknya dibuat setahun sekali, untuk merevisi jika dirasa perlu penyesuaian-penyesuaian.

Meski tidak persis sama dengan apa yang Mike jelaskan, keluarga muda melakukan alokasi dana saat menerima penghasilan. Fransisca Elly Dwi Astuti (37 tahun) atau Sisca , ibu dari Dorothea Wening Sonyaruri (7 tahun) dan Dolorosa Raras Cindiwangi (3 tahun) salah satunya. “Penghasilan tetap suami langsung saya gunakan untuk biaya hidup keluarga sehari-hari,” ujar Sisca. Sedangkan penghasilan tetapnya sebagai Manager Promosi sebuah perusahaan rekaman langsung masuk tabungan.

Sisca tidak pernah membayar utang. “Saya dan suami terbiasa menabung untuk membeli sesuatu. Kalau tidak punya uang, ya tidak usah beli. Sementara untuk premi asuransi pendidikan, kesehatan dan kendaraan, kami bayar pertahun,” tuturnya

Lain halnya Marcelline Ellena (30 tahun) yang dipanggil Celli, wiraswasta dan ibu dari Michael Ken Jie (3 tahun). “Setiap bulannya saya tidak punya patokan untuk beli ini dan itu. Kalau keperluan rumah tangga ada yang habis, ya beli sesuai keperluan. Karena penghasilan juga tidak tentu, pengeluaran juga tidak direncanakan.”
Sesuaikan dengan tujuan keuangan

“Jika hanya menabung 10 persen dari tabungan, kapan kami dapat liburan keliling Eropa sekeluarga?” Mungkin demikian pikir Anda. Apalagi Anda masih ingin punya mobil baru, rumah baru, menyekolahkan anak ke luar negeri, dan sejumlah keinginan lain. Itu sebabnya, perencanaan dibuat disesuaikan tak hanya berdasar penghasilan, tetapi juga tujuan keuangan keluarga.

Setiap keluarga sebaiknya punya tujuan keuangan yang merupakan segala keinginan seseorang atau sebuah keluarga yang butuh sejumlah uang untuk mewujudkannya. Dengan adanya tujuan keuangan,

kita dapat merencanakan berapa lama dapat mencapai tujuan tersebut dan langkah apa yang dapat kita ambil. Ada tujuan dalam jangka pendek, yaitu jika ingin dicapai dalam waktu kurang dari satu tahun; jangka menengah, jika waktu yang ingin dicapai 1 – 5 tahun; dan jangka panjang, jika waktu yang ingin dicapai lebih dari 5 tahun.

Mike mencontohkan jika keluarga ingin membeli rumah lima tahun lagi, mereka perlu membuat tujuan secara spesifik, yaitu berapa harga rumah yang diinginkan dan dalam berapa tahun lagi dibeli, dan darimana uang untuk membayarnya. Misalnya, harga rumah yang diinginkan saat ini Rp. 500 juta. Bila berniat menyicil, berapa uang muka yang perlu disiapkan. Uang muka yang umumnya 30 persen dari harga rumah ini dapat diperoleh keluarga dengan melihat “Neraca Keluarga” (Lihat boks : Contoh Anggaran Keluarga). Setelah itu, hitung berapa kekurangannya untuk uang muka ini. Dalam waktu 5 tahun berarti keluarga perlu menabung sejumlah sisa uang muka.

Misalnya tidak ada uang yang dapat diambil dari tabungan, keluarga dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian anggaran dengan menabung untuk uang muka ini. Secara sederhana, dapat kita hitung Rp. 150.000.000,- : 5 tahun : 12 bulan = Rp. 2.500.000,- perbulan. Namun, dalam 5 tahun ke depan, rumah yang saat ini seharga Rp. 500.000.000,- berubah harganya. Untuk itu, keluarga dapat memprediksikan tingkat inflasi. Jika menginginkan perhitungan yang mendekati angka yang tepat, Anda dapat minta bantuan perencana keuangan untuk menghitungnya.).

Sebuah keluarga dapat saja memiliki lebih dari satu tujuan keuangan. Jika sudah tahu tujuan keuangan dan kondisi keuangan, barulah keluarga membuat perencanaan atau anggaran setiap bulannya.

Tujuan keuanganlah yang membuat Sisca menabung penghasilan tambahannya dan suami. “Saya dan suami punya impian bisa membuat studio. Entah untuk disewakan atau punya PH ( Production House ) sendiri. Untuk itu kami perlu membeli tanah yang luas dalam sepuluh tahun ke depan.”
Kenali produk-produk investasi

Meski berniat menabung, namun Anda kesal juga melihat tambahan dana tabungan merayap lamban. Bahkan bunga yang diberikan tak terasa karena dipotong biaya administrasi dan pajak. Jika ini yang Anda alami, Mike menyarankan melakukan investasi.

“Menabung tidak usah banyak-banyak, lebih baik banyak dinvestasikan saja,” tuturnya. Besarnya tabungan sebaiknya dijaga antara 3 – 6 kali pengeluaran Anda perbulan. Tabungan inilah yang dinamakan “dana cadangan” atau “ emergency fund” . Dana ini dapat digunakan jika ada pengeluaran tak terduga.

Jika ada dana lebih, keluarga dapat menginvestasikannya dalam beberapa jenis investasi. Mike membagi dalam empat kategori. Pertama, investasi melalui produk-produk keuangan. Keluarga dapat memilih sesuai pengalaman dan pengenalan produk investasi tersebut. Mereka yang awam biasanya memilih deposito. Selain Deposito, keluarga juga dapat memilih reksadana (mutual fund), saham dan obligasi. Reksadana adalah sebuah bentuk investasi yang menggabungkan semua uang investor dalam suatu wadah, dimana uang tersebut selanjutnya dikelola oleh sebuah perusahaan investasi dengan cara mengalokasikannya ke dalam satu atau berbagai macam instrumen investasi. Obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan baik oleh pemerintah maupun perusahaan.

Kategori kedua adalah melalui usaha. Keluarga membuka usaha sendiri, sebagai sampingan dari penghasilan tetap maupun bergabung dengan orang lain.

Kategori ketiga adalah properti. Keluarga dapat membeli tanah atau rumah, misalnya. Dapat dikontrakkan atau untuk usaha kamar kos.

Kategori terakhir adalah exotic investment . Termasuk di dalamnya emas, berlian atau pun barang-barang koleksi yang bernilai seperti lukisan. (Lihat boks : Sehatkah Perencanaan Keuangan Keluarga Anda?).

Investasi usaha, properti dan exotic investment tampaknya banyak dikenal. Celli dan Sisca memilih investasi jenis ini jika ada dana lebih dalam keuangan mereka.

Grahita Purbasantika Nugraha
Pengarah gaya: Natalia Kartika
Foto: Harry Hikmatullah