Strategi Memanfaatkan Waktu dengan Efektif

Views :233 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 19 Desember 2011 09:17
time1211Bagi kebanyakan orang waktu dilewatkan begitu saja, tanpa harus dimanfaatkan secara bermakna. Namun, jika Anda seorang entrepreneur, Anda pasti tahu bagaimana berharganya waktu bagi kemajuan usaha Anda.

Waktu tidak hanya setara dengan uang, namun lebih dari itu. Waktu merupakan aset tak kasat mata yang paling sulit untuk dikendalikan penggunaannya. Untuk itulah diperlukan beberapa panduan yang bisa membuat Anda memanfaatkan waktu dengan lebih efisien lagi.

Berikut beberapa strategi yang dapat Anda terapkan yang kami sadur dari buku Bob Adams berjudul “Small Business Start-Up: Your Comprehensive Guide to Start Up”:

Rencanakan aktivitas harian dan mingguan Anda

Jangan mengharapkan bisa mengelola sebuah bisnis yang sukses jika disiplin pribadi Anda begitu lemah. Jadilah seorang pengelola yang efektif dengan membuat sebuah jadwal bagi aktivitas harian dan mingguan Anda. Bagilah waktu dengan bijak. Jelaskan alokasi waktu dari tiap kegiatan yang harus dilakukan. Dan tiap minggu, pilihlah jenis aktivitas yang Anda jadikan prioritas untuk dilaksanakan.

Membuat prioritas

Agar dapat memanfaatkan waktu yang ada dengan seoptimal mungkin, Anda harus membuat sebuah skala prioritas, dimulai dengan mengerjakan sesuatu yang paling penting dan peka terhadap perubahan waktu serta memiliki pengaruh paling besar dan luas terhadap keberlangsungan perusahaan secara global.

Beberapa jenis tugas atau pekerjaan bisa bersifat mendesak dan penting. Contohnya sebuah presentasi untuk calon klien potensial. Namun sering tugas yang bersifat mendesak bukanlah sebuah pekerjaan yang paling penting.

Banyak pemilik sekaligus pengelola bisnis kecil memiliki kecenderungan untuk berpikir bahwa mereka harus memulai hari kerja dengan menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari yang sebenarnya kurang bermakna bagi kemajuan perusahaan di masa datang. Tugas-tugas tersebut seperti menguji atau meluncurkan produk baru, mengevaluasi produk yang sudah ada di pasaran agar bisa lebih memenuhi harapan konsumen, mengkaji kembali sudut pandang pemasaran yang sesuai dengan perkembangan pasar terkini, atau menyusun dan merevisi rencana bisnis.

Lakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut meskipun konsekuensinya Anda harus meluangkan waktu lebih banyak. Kadang hal ini juga membuat Anda mengorbankan pekerjaan lainnya yang lebih mendesak. Namun, Anda tentu bisa menyiasatinya dengan mendelegasikannya kepada bawahan.

Sisihkan waktu untuk yang tak terduga

Sebagai seorang pemilik bisnis tentunya tidak aneh lagi dengan segala hal yang berbau mendadak. Hal-hal yang mendadak ini mungkin tidak akan berdampak besar jika tidak terlalu mendesak atau penting tetapi jika hal yang mendadak tersebut bisa menentukan berkembang tidaknya bisnis Anda, maka tidak ada pilihan lainnya selain mengerjakannya hingga selesai secepatnya. Ada baiknya saat menyusun jadwal harian atau mingguan, Anda alokasikan sebuah waktu tambahan untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban yang datangnya tidak terduga.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/177-manajemen/13544-strategi-memanfaatkan-waktu-dengan-efektif.html

Analisis kinerja berdasarkan metode camel pada pd. Bpr-bkk di kabupaten kudus (EKN-150)

Perbankan menempati posisi yang strategis dalam pembangunan dan perekonomian negara, karena sektor perbankan berfungsi sebagai penghimpun dana dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk pembiayaan pembangunan. Berkaitan dengan fungsi diatas, Pemerintah melalui berbagai kebijaksanaan ekonomi telah mendorong partisipasi masyarakat seluas-luasnya dalam meningkatkan jasa perbankan termasuk bagi pengusaha kecil dan masyarakat pedesaan. Salah satu cara untuk mengantisipasi meningkatnya aktivitas ekonomi pengusaha kecil dan masyarakat pedesaan adalah dengan mengembangkan kegiatan usaha jasa perbankan melalui Bank Perkreditan Rakyat.

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mempunyai peran yang sangat penting bagi aktivitas perekonomian, diharapkan sebagai wahana yang mampu menghimpun dan menyalurkan dana bagi masyarakat secara efektif dan efisien kearah peningkatan taraf hidup rakyat. BPR merupakan salah satu lembaga keuangan yang secara umum fungsi utamanya adalah menghimpun dana langsung dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau financial intermediary (Susilo, 2000:6). Selain sebagai lembaga perantara keuangan, bank melakukan kegiatan perbankan berdasarkan kepercayaan (agent of trust), dapat memperlancar kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi (agent of development) serta menberikan penawaran jasa-jasa perbankan yang lain kepada masyarakat (agent of services). BPR mempunyai pangsa pasar sendiri yang cukup establish dan memiliki loyalitas tinggi , meskipun mulai banyak bank umum yang beroperasi pada penyaluran kredit dilevel usaha kecil dan mikro. Hal ini dimungkinkan karena sifat pelayanan kredit BPR yang lebih sederhana dibandingkan dengan bank umum. Namun demikian, untuk menyikapi persaingan yang semakin ketat, BPR perlu meningkatkan daya saing dan pengelolaan manajemen agar mampu bersaing dengan bank umum dan lembaga keuangan lainnya yang beroperasi dalam penyaluran kredit usaha mikro dan kecil.

Sebagai badan perantara keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman, Bank Perkreditan Rakyat harus menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat dalam mengelola dana dari masyarakat dengan menjaga tingkat kesehatan kinerjanya. Karena kesehatan kinerja sangat penting bagi suatu lembaga usaha. Dengan mengetahui tingkat kesehatan usaha, masyarakat dapat dengan mudah menilai kinerja tersebut.Untuk meningkatkan kinerja, Bank Perkreditan Rakyat harus mempunyai modal yang cukup dan pengelolaan manajemen secara profesional. Dengan adanya modal yang cukup dan pengelolaan manajemen yang bagus, Bank Perkreditan Rakyat dapat menyalurkan kredit secara optimal sehingga diharapkan dapat meningkatkan omzet serta volume laba. Teori Bunga Dinamis menyatakan bahwa modal yang dipakai untuk produksi akan menghasilkan laba, maka sebagian laba akan diberikan kepada pemilik modal sebagai bunga modal (Schumpeter,www.data%20skripsi/teori%20mo dal.htm). Diharapkan dengan adanya pemberian kredit kepada nasabah, BPR memperoleh laba dari suku bunga pinjaman nasabah. Penilaian terhadap tingkat kesehatan suatu badan usaha memang perlu dilakukan untuk mengetahui kinerja dan keberlanjutan usahanya. Penilaian dapat dilakukan melalui beberapa indikator. Laporan keuangan merupakan media untuk melihat kondisi kesehatan kinerja dan kemungkinan kegagalan usaha, karena rasio keuangan terbukti berperan penting dalam evaluasi kinerja keuangan serta dapat digunakan untuk memprediksi keberlanjutan usaha (Wilopo, 2001:4). Dengan melakukan analisis laporan keuangan maka pimpinan dapat mengetahui keadaan dan perkembangan finansial serta hasil- hasil yang telah dicapai diwaktu lampau dan diwaktu yang sedang berjalan. Indikator lain yang dapat digunakan adalah penilaian terhadap kualitas manajemen umum dan manajemen risiko. Penilaian manajemen merupakan inti dari pengukuran masyarakat, apakah suatu organisasi telah dijalankan secara sehat atau sebaliknya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh BI dalam SK No.30/3/UPPB Tahun 1997 menggunakan konsep CAMEL (Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity) yang terdiri dari penilaian laporan keuangan dan manajemen.Dalam kamus perbankan (Institut Bankir Indonesia 1999), CAMEL adalah aspek yang paling banyak berpengaruh terhadap kondisi keuangan bank yang juga berpengaruh terhadap kesehatan kinerja bank. Peringkat CAMEL dibawah 81 memperlihatkan kondisi keuangan yang lemah yang ditunjukkan melalui neraca bank, seperti rasio kredit tak lancar terhadap total aktiva yang meningkat. Apabila hal tersebut tidak diatasi akan mengganggu kelangsungan usaha bank.

Dalam perkembangannya Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan yang selanjutnya disingkat PD.BPR-BKK merupakan BPR yang hampir ada disemua Provinsi Jawa Tengah. Sebagai BPR yang 50 persen sahamnya dimiliki pemerintah provinsi, 42,5 persen dimiliki oleh pemerintah kabupaten, dan
7,5 persen dimiliki oleh Bank Jateng. Seharusnya PD. BPR-BKK dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan perekonomian daerah, namun sempitnya wilayah operasi serta lemahnya manajemen dan kemampuan keuangan seringkali menjadi pemicu rendahnya pendapatan yang mempengaruhi kinerja bagi lembaga tersebut.

Kabupaten Kudus terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dimana tahun
2004 tingkat net income yang diperoleh sebesar 99.874,77 akan tetapi pada tahun
2005 net income yang diperoleh mengalami penurunan menjadi 85.265,44. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga tahun 2006 sebesar 50.252,67 sedangkan pada tahun
2007 PD.BPR BKK di Kabupaten Kudus mengalami kerugian. yang sangat besar dengan tingkat net income rata-rata sebesar (387.300,89). Meskipun itensitas pemberian kredit serta tabungan dari nasabah telah ditingkatkan akan tetapi kondisi tersebut belum bisa memperbaiki kinerja PD.BPR-BKK di Kabupaten Kudus yang terus mengalami penurunan dan kerugian dari segi perolehan laba. Kondisi tersebut terjadi dikarenakan masih tingginya tingkat kredit bermasalah yang disebabkan kurang kehati-hatian pihak manajemen PD.BPR-BKK dalam menganalisis pemberian kredit kepada nasabah.

Kenyataan tersebut jelas terjadi kesenjangan dengan Teori Bunga Dinamis yang menyatakan bahwa modal yang digunakan untuk produksi akan menghasilkan laba maka sebagian laba akan diberikan kepada pemilik modal sebagai bunga modal. Diharapkan dengan adanya pemberian kredit kepada nasabah akan meningkatkan laba PD.BPR-BKK, akan tetapi kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa meskipun itensitas pemberian kredit serta tabungan dari nasabah meningkat, PD.BPR-BKK masih menghadapi beberapa kendala yaitu adanya kredit macet yang disebabkan karena pengelolaan manajemen yang kurang profesional sehingga menyebabkan laba dari PD.BPR BKK semakin berkurang yang akhirnya menurunkan kinerja PD.BPR- BKK di Kabupaten kudus.

Adanya kesenjangan dan permasalahan yang muncul dilapangan, maka peneliti termotivasi untuk mengadakan penelitian tentang kinerja PD. BPR-BKK di Kabupaten Kudus dengan menggunakan analisis CAMEL. Dengan menggunakan analisis CAMEL diharapkan dapat diketahui kondisi kinerja BPR-BKK di Kabupaten Kudus secara menyeluruh.

Pengaruh Asset Growth, Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Total Asset Turnover Dan Earning Per Share Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan (EKN-148

Pengaruh Asset Growth, Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Total Asset Turnover Dan Earning Per Share Terhadap Beta Saham Pada Perusahaan Yang Masuk Dalam Kelompok Jakarta Islamic Index (Jii) Periode 2005-2007 (EKN-148)

Setiap keputusan investasi selalu menyangkut dua hal, yaitu risiko dan return. Risiko mempunyai hubungan positif dan linier dengan return yang diharapkan dari suatu investasi sehingga semakin besar return yang diharapkan semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh investor. Dalam melakukan keputusan investasi, khususnya pada sekuritas saham, return yang diperoleh berasal dari dua sumber, yaitu dividen dan capital gain, sedangkan risiko investasi saham tercermin dari variabilitas pendapatan (return saham) yang diperoleh.

Analisis investasi membagi risiko total menjadi dua bagian yaitu risiko tidak sistematis dan risiko sistematis. Risiko tidak sistematis adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor unik pada suatu sekuritas dan dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Sedangkan risiko sistematis adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi semua sekuritas sehingga tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Ukuran besarnya risiko sistematis saham adalah indeks beta yang menunjukkan sensitivitas tingkat pengembalian surat berharga saham terhadap tingkat pengembalian indeks pasar yang telah disesuaikan dengan tingkat pengembalian bebas risiko. Beta sebagai pengukur risiko yang berasal dari hubungan antara tingkat keuntungan suatu saham dengan pasar. Risiko ini berasal dari beberapa faktor fundamental perusahaan dan faktor karakteristik pasar tentang saham perusahaan antara lain cyclicality, operating leverage dan financial leverage.
Barr Rosenberg dan Vinay Marathe dalam Frank J. Fabozzi mengembangkan model yang lebih ekstensif untuk memperkirakan risiko fundamental dari sekuritas tidak hanya menggunakan data harga namun juga data keuangan dan data berhubungan dengan pasar lainnya. Produk dari mereka disebut beta fundamental. Prosedur memperkirakan beta fundamental dimulai dengan menjabarkan perusahaan dalam hal rasio-rasio yang merefleksikan kondisi dasar perusahaan. Baik data keuangan maupun data yang berhubungan dengan pasar dapat digunakan oleh analis untuk memperkirakan risiko sistematis sekuritas. Rasio-rasio baik data keuangan maupun data yang berhubungan dengan pasar dalam penelitian ini meliputi asset growth, debt to equity ratio, return on equity, total asset turnover dan earning per share.

Asset growth mempunyai pengaruh terhadap beta saham. Beaver, Kettler dan Scholes menyatakan variabel asset growth berhubungan positif dengan risiko sistematis dikarenakan perusahaan yang tumbuh membutuhkan lebih banyak modal. Kebutuhan modal yang lebih besar (tingkat pertumbuhan tinggi) memberikan tekanan terhadap rasio pembayaran dividen. Pembayaran dividen yang kecil akan meningkatkan risiko sistematis

Debt to equity ratio menunjukkan perbandingan antara hutang dengan modal sendiri. DER yang semakin besar akan mengakibatkan risiko financial perusahaan yang semakin tinggi. Dengan penggunaan hutang yang semakin besar akan mengakibatkan semakin tingginya risiko untuk tidak mampu membayar hutang.

Return on equity yaitu menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham. Investor biasanya akan mempertimbangkan perusahaan yang mampu memberikan kontribusi ROE yang lebih besar. Semakin tinggi ROE maka semakin rendah nilai beta, sehingga ROE mempunyai pengaruh negatif terhadap beta saham.

Total asset turnover menunjukkan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan atau menggambarkan berapa rupiah penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan. Semakin tinggi total asset turnover maka semakin rendah nilai beta.

Earning per share adalah perbandingan antara keuntungan bersih setelah pajak yang diperoleh emiten dengan jumlah saham yang beredar. Semakin tinggi earning per share maka akan menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi. Laba tersedia bagi pemegang saham biasa juga akan meningkat. Dalam kondisi demikian perusahaan tidak akan kesulitan dalam meningkatkan modal, baik dengan cara menarik investor dari luar atau dengan meyakinkan pemegang saham untuk meningkatkan jumlah kepemilikannya. Hal ini mengindikasikan semakin rendah beta saham.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan di pasar modal Indonesia menunjukkan ketidakkonsistenan antara penelitian yang satu dan yang lainnya. Selain itu, penelitian-penelitian terdahulu masih banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam bursa konvensional, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti pada perusahaan yang tergabung di bursa syariah seperti Jakarta Islamic Index (JII) untuk menjelaskan apakah penelitian yang dilakukan pada bursa syariah akan menghasilkan kesimpulan yang sama atau tidak dengan penelitian terdahulu yang dilakukan di bursa konvensional, sehingga bermanfaat bagi investor yang ingin menanamkan dananya secara syariah.

Dengan demikian perlu diuji kembali untuk pasar modal syariah di Indonesia mengenai pengaruh asset growth, debt to equity ratio, return on equity, total asset turnover dan earning per share terhadap beta saham. Maka dalam penelitian ini akan dikaji bagaimana pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap beta, khususnya pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) tahun 2005-2007. Oleh karena itu, judul yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah: “Pengaruh Asset Growth, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Total Asset Turnover dan Earning Per Share terhadap Beta Saham pada Saham Perusahaan yang Termasuk dalam Kelompok Jakarta Islamic Index (JII) periode 2005-2007”

Memecahkan Masalah dengan Langkah Sederhana

Memecahkan Masalah dengan Langkah Sederhana Views :614 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 25 Oktober 2011 10:26
Masalah, dalam penuturan Wikipedia, merupakan sebuah kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan. Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan. Umumnya, masalah disadari “ada” saat seseorang menyadari bahwa keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang ia inginkan.
systems-thinkingApapun definisinya, dalam dunia entrepreneurship, masalah akan selalu membayang-bayangi entrepreneur meski ia telah berusaha keras untuk menghindarinya. Mulai dari masalah sepele seperti peniruan produk hingga masalah besar yakni kebangkrutan, masalah takkan mampu terelakkan.
Sebagai entrepreneur sejati, Anda tak perlu khawatir pada masalah yang akan menghadang langkah bisnis Anda menuju kesuksesan. Nah, bila Anda menemui sejumlah masalah dan harus menyelesaikannya secepat mungkin, pakailah cara sederhana yang dilansir dari laman HowToDoThings berikut ini.
Identifikasikan masalah
Sebagian orang mengeluhkan masalah yang muncul secara kompleks. Bila demikian, identifikasi pokok masalah. Setelah ditemukan, Anda akan dengan mudah menjabarkan penyebab serta fakta mengenai situasi yang menyelimuti permasalahan tersebut.
Cara sederhana untuk mengidentifikasi pokok masalah adalah dengan mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri dengan diawali kata tanya “mengapa?” seperti misalnya “mengapa ini terjadi?”, “mengapa mereka melakukannya?” dan sebagainya.
Jawaban atas pertanyaan itu akan membawa Anda pada pokok masalah dan sesudah ditemukan harus segera dicara pemecahannya. Bila tidak, masalah hanya akan menggantung dan terus menggantung tanpa ada jalan keluarnya.
Solusi alternatif
Setiap masalah memiliki jalan keluar. Memang takkan mudah menemukannya, tapi solusi pasti selalu ada bila kita mencermatinya. Nah, bila Anda cukup jeli melihat pokok masalah yang menjadi akar permasalahan, solusi yang tercipta bukan tak mungkin lebih dari satu dan bisa digunakan sebagai solusi alternatif.
Bila Anda menemukan lebih dari satu solusi, jabarkan keunggulan serta kelemahan masing-masing solusi. Ajak partner bisnis atau seseorang yang sangat Anda percaya untuk sekedar membahas satu per satu solusi itu atau mendisuksikannya untuk menentukan solusi yang tepat dari permasalahan yang sedang Anda hadapi.
Menemukan solusi alternatif mungkin kedengarannya tak masuk akal atau sangat sulit dilakukan. Tapi, jangan remehkan ide-ide yang muncul saat Anda memikirkan jalan keluar atau ketika sedang membahasnya dengan partner bisnis. Sebab, ide itu bisa saja cara yang tepat untuk menyelamatkan Anda dari permasalahan yang tengah membelit usaha Anda, terlebih saat Anda merasa sudah tak ada lagi jalan keluar.
Implementasikan solusi
Ini adalah langkah yang paling penting. Mengidentifikasi masalah, mencari akar permasalahan dan menjabarkan beragam solusi takkan berarti apa-apa bila Anda tak berani mengimplementasikannya untuk memecahkan masalah. Setelah menentukan solusi yang tepat, segeralah mengimplementasikannya. Menunda pelaksanaannya hanya akan membuat masalah itu semakin rumit.
Perlu diingat, dalam memecahkan masalah jangan biarkan emosi dan rasa panik membelenggu pemikiran Anda. Tenangkan diri terlebih dahulu sebelum memikirkan beragam cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/177-manajemen/12232-memecahkan-masalah-dengan-langkah-sederhana.html