| Views :1845 Times | |
|
|
| Selasa, 25 Oktober 2011 14:35 |
Setiap pendiri usaha rintisan membicarakan tentang kekacauan dalam bisnis mereka, yang biasanya mereka anggap dipicu oleh meledaknya pertumbuhan yang dibutuhkan untuk mencetak aliran kas yang positif. Mereka membayangkan sebuah lingkungan yang stabil setelah satu titik dan mengharapkan pemasukan yang signifikan untuk hidup dengan nyaman dan bahagia sembari mempertahankan basis pelanggan yang setia namun statis. Sayangnya, persepsi keliru ini sering menyebabkan layunya bisnis yang sedang bersemi. Atau setidaknya berujung dengan berakhirnya masa jabatan seseorang sebagai seorang CEO. Entrepreneur dalam perjalanan bisnisnya tidak bisa menghindari terjadinya kekacauan. Mereka hanya bisa berkawan atau menjauhinya dengan risiko akan mengalami kejatuhan dalam perjalanan bisnisnya. Hidup dengan kekacauan atau temukan cara untuk menaklukkan kekacauan itu! Sebagian pemilik usaha kecil berharap untuk mengurangi tekanan dengan menjaga bisnis mereka tetap stabil (baca : statis) dan yakin bahwa mereka bisa mengandalkan para pemberi rekomendasi dan mengulang kesuksesan bisnis secara terus-menerus. Bahkan dengan cara itu, ada berbagai alasan utama mengapa tidak berinovasi bisa bermakna kematian bisnis kita:
Solusi nyata untuk semua ini ialah dengan menaklukkan kekacauan. Dan pada saat yang sama kita terus menerus menjangkau ke pasar yang ada dan memperbaiki bisnis dalam aspek teknologi.
Dalam menaklukkan kekacauan, dibutuhkan dua strategi kunci:
Bahkan setelah Anda menjinakkan kekacauan, Anda menghadapi tantangan terus menerus untuk menghindari kemunduran. Begitu sistem telah diterapkan, Anda harus memberikan waktu yang telah Anda hemat sebelumnya. Pastikan ambisi Anda sendiri tidak akan menimbulkan kekacauan lagi. Dan jangan terjerumus kembali pada keyakinan bahwa bisnis Anda akan gagal tanpa Anda. Sedikit bersantai, lepaskan dan nikmati kebebasan yang sudah Anda rengkuh susah payah. (*/Akhlis) |
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/12243-takut-kekacauan-jangan-berbisnis.html



Sayangnya, persepsi keliru ini sering menyebabkan layunya bisnis yang sedang bersemi. Atau setidaknya berujung dengan berakhirnya masa jabatan seseorang sebagai seorang CEO.