Es Krim dari Tempe, Segar dan Bergizi

Views :203 Times PDF Cetak E-mail
Sabtu, 12 November 2011 12:55
Tempe merupakan makanan yang kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Bahkan berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika, untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif. Namun, bagaimana jika tempe diolah menjadi es krim?
tempePeneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Serpong, Agustine Susilowati, telah melakukan sebuah inovasi dengan membuat es krim yang berbahan dasar tempe. Es krim yang dinamakan Fit- es Healthy Ice Cream itu, menginovasikan es krim sebagai produk pangan fungsional.
“Produk pangan fungsional artinya dilihat dari sudut pandang makanan yang baik tidak hanya dari kandungan gizinya saja, tapi juga harus ada bioaktif yang menunjang pencegahan penyakit. Sedangkan tempe sangat kaya akan zat bioaktif, maka jika kita komposisikan sebagai es krim cukup bermanfaat bagi yang mengkonsumsinya,” jelas Agustine dalam acara LIPI Expo 2011 di Hotel Bidakara, Pancoran Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.
Agustine mengatakan, pemilihan tempe untuk dijadikan es krim karena tempe merupakan sumber protein dan nabati terbaik yang dihasilkan melalui proses fermentasi kacang-kacangan (kedelai) dan merupakan makanan yang potensial.
“Tempe merupakan makanan tradisional yang telah menjadi bagian keseharian kita, mudah diperoleh, familiar dan cukup murah. Lalu masa simpannya pendek (2-3 hari), dengan menggunakannya untuk produk pangan maka akan memperluas jangkauan pemasaran dan menaikkan nilai ekonomiknya,” jelas Agustine.
Agustine menambahkan bahwa kelebihan tempe juga mampu memberikan kemudahan daya cerna kepada yang mengkonsumsi. Lalu juga mempunyai sifat anti oksidan (isoflavon) dan bersifat hipokolesterolemik atau menurunkan lipid darah.
“Zat anti bakterinya juga dapat memperkecil ruang infeksi, juga mengandung vitamin B 12, B2, dan B3, serta 8 macam asam amino esensial, lemak tidak jenuh dan serat makanan yang tinggi, juga anti kanker,” tambah Agustine.
Sedangkan alasan kenapa memilih media es krim, bukan coklat atau permen, Agustine mengatakan es krim merupakan suatu produk makanan yang disukai oleh semua orang dalam seluruh tingkatan usia. Kelezatannya menjadikan makanan tersebut tidak saja berefek pada kesehatan namun juga pada efek psikologis.
“Salah satu makanan beku yang disebut es krim dapat dipergunakan sebagai makanan pencuci mulut, biasanya terbuat dengan bahan baku utama susu yang dicampur dengan lemak (nabati atau hewani), bahan pemantap/penstabil gula atau pemanis lainnya”.
“Pada umumnya protein nabati dinilai memiliki rasa dan warna, sedangkan beberapa kelebihan lain dibandingkan dengan protein hewani adalah dari sisi harga yang lebih murah dan dari kesehatan resiko terhadap penyakit degenaratif lebih rendah, karena mengandung lebih banyak asam lemak tidak jenuh,” jelas Agustine. (*/TribunNews)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/produk/inovatif/12707-es-krim-dari-tempe-segar-dan-bergizi.html

Kasim Ghozali, Ciptakan Angklung Digital

PDF Cetak E-mail
Kamis, 01 September 2011 13:09
Penggabungan teknologi digital modern dengan alat kesenian tradisional angklung ternyata bisa menghasilkan alat musik inovatif. Angklung Tra-Digi, ini, misalnya. Tidak hanya inovatif dan berseni, alat ini pun bisa membuat masyarakat yang ingin memilikinya harus merogoh kocek dalam-dalam.
kasim_ghozaliOrang tentu akan menggelengkan kepala begitu mendengar harga jual angklung ini. Bukan apa-apa. Angklung Tra-Digi ini dijual Rp 88 juta. Namun, harga tersebut tentu sebanding dengan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Menurut pembuatnya, Kasim Ghozali, kepada Kompas.com di sela pelaksanaan Kridaya 2011 di Jakarta Convention Center, Sabtu (6/8/2011), ide menciptakan Angklung Tra-Digi ini muncul ketika ia melihat piano yang bisa memainkan musik tanpa bantuan tangan manusia.
“Selain itu, kita kan juga buka toko di Shanghai, namanya Made in Indonesia. (Kemudian) kita berpikir bahwa harus ada sesuatu yang bisa mengisi,” tutur Kasim.
Ia mengatakan, toko dan alat musik angklung ini diciptakannya dengan maksud melestarikan budaya Indonesia. Menurut dia, sebagai orang Indonesia, masyarakat harus terus mengembangkan angklung.
Untuk itulah, lanjutnya, alat musik Angklung Tra-Digi ini telah dipajang di tokonya yang didirikan sejak tahun 2008. Tidak hanya di tempat itu, alat musik ini juga telah terpajang di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou dan KBRI Beijing, China.
“Ada juga di Amerika Serikat, (tepatnya) di Musical Instrument Museum di Phoenix,” kata Kasim.
Era digital
Kasim menuturkan, Angklung Tra-Digi telah dibuatnya hingga berjumlah 10 buah. Salah satunya kini telah berada di rumah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.
“Sekarang ini kan era digital, maka tradisional enggak bisa jalan sendiri. Nah, kalau digabungkan pangsa pasarnya akan luas,” ujar Kasim.
Pembuatan Angklung Tra-Digi ini pun tidak begitu rumit. Kasim merancang desain dan konsepnya di Jakarta dan Cikarang. Bahan bambunya ia dapatkan dari padepokan angklung Mang Udjo, Bandung, sementara kayu jati dibuat di Jepara dan perakitannya dilakukan di Yogyakarta.
“Jadi, semuanya secara umum made in Indonesia,” kata Kasim.
Dalam proses perakitannya, lanjut Kasim, dirinya hanya membutuhkan 5-6 orang pekerja. Sekalipun sudah membuat sepuluh buah, Kasim mengaku belum menjual angklung-angklung ini.
Rencananya, setelah pameran di Kridaya 2011, angklung-angklung tersebut akan dipasarkan. Bahkan, ia menyebutkan sudah ada hotel ataupun instansi berencana memesan.
Angklung Tra-Digi ini dijualnya satu set dengan speaker dan instrumen iPod. Harganya pun dapat semakin turun seiring dengan banyaknya permintaan. Bahkan, lanjut Kasim, ukurannya kemungkinan akan diperkecil. Maklum saja, saat ini angklung berukuran 2 x 0,7 meter tersebut ditujukan untuk dipajang di kantor atau hotel.
Kasim menuturkan, “angklung digital” ini pun ternyata tidak hanya bisa dimainkan dengan perangkat digital keluaran Apple. Ia menuturkan, dengan Windows pun bisa.
Ke depannya, kata Kasim, ia akan terus berkreasi dengan alat musik tradisional lainnya, seperti gamelan dan kecapi. Ia juga akan kembali menggabungkan teknologi dengan alat-alat musik tradisional tersebut. Nantinya, ia juga akan mengembangkan supaya angklung bisa dengan wireless.
“Karena sekarang kan masih pakai kabel. Harapan kita, supaya angklung lebih terjangkau oleh masyarakat luas. Ini penting agar kita semua bisa mengajak atau memacu industri kita di Indonesia, seperti UKM, untuk lebih berinovasi,” ujar Kasim, yang berharap angklung bisa dipadukannya dengan piano.
“Karena inovasi penting untuk diterapkan dalam sebuah industri,” tandasnya. (*/kompas.com)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/10784-kasim-ghozali-ciptakan-angklung-digital.html