Aspergillus jamur rumahan

Kasus-kasus paru di Indonesia umumnya berkisar antara TB, asma, kanker paru, dan pneumonia. Empat penyakit ini sangat lazim ditemui di rumah-rumah sakit di Indonesia, masyarakat awam pun relatif familiar dengan penyakit di atas. Namun sebenarnya ada salah satu penyakit paru yang kejadiannya tidak terlalu sering namun kerap terjadi karena terdapat penyakit paru lain yang mendasarinya. Dialah spektrum penyakit infeksi paru akibat infeksi jamur, yakni aspergilosis.
Spesies Aspergillus merupakan jamur yang umum ditemukan di materi organik. Meskipun terdapat lebih dari 100 spesies, jenis yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia ialah Aspergillus fumigatus dan Aspergillus niger, kadang-kadang bisa juga akibat Aspergillus flavus dan Aspergillus clavatus yang semuanya menular dengan transmisi inhalasi.
Penyakit jamur yang muncul dengan berbagai sindroma klinis yang disebabkan oleh spesies Aspergillus. Penderita dengan penyakit paru kronis (terutama asthma, juga penyakit gangguan paru kronis atau “cystic fibrosis”) dan penderita yang alergi terhadap jamur ini dapat menyebabkan kerusakan bronchus dan penyumbatan bronchus intermiten. Keadaan ini disebut sebagai allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA).
Kolonisasi saprophytic endobronchial pada penderita dengan pelebaran bronchus atau bronkiektasi dapat menimbulkan gumpalan hyphae, dan massa hyphae yang besar mengisi rongga-rongga yang sebelumnya sudah ada (berupa bola jamur atau aspergilloma). Suatu spesies Aspergillus dapat muncul bercampur dengan organisme lain dalam abses bakteriil paru-paru atau pada empiema.
Aspergillosis yang invasif dapat terjadi, terutama pada pasien yang menerima terapi imunosupresif atau sitotoksik; ia dapat menyebar ke otak, ginjal dan organ lain dan seringkali fatal. Invasi kedalam pembuluh darah berupa trombosis dan menyebabkan infark adalah ciri dari infeksi jamur ini pada pasien dengan kekebalan rendah.
Organisme ini dapat menginfeksi tempat dipasangnya katup jantung prostetik. Spesies Aspergillosis adalah penyebab paling umum dari otomikosis; jamur membuat koloni atau menyebabkan infeksi invasif pada sinus paranasal.
Jamur ini tumbuh pada jenis makanan tertentu, isolat dari Aspergillus flavus (kadang juga spesies lain) bisa memproduksi aflatoksin atau mikotoksin lain; toksin ini dapat menyebabkan penyakit pada ikan dan hewan dan sangat karsinogenik pada hewan percobaan.
Hubungan antara kadar aflatoksin yang tinggi pada makanan dan timbulnya kanker hepatoseluler ditemukan di Afrika dan Asia Tenggara.
Diagnosis ABPA ditegakkan antara lain adanya reaksi benjolan merah di kulit jika dilakukan skarifikasi atau suntikan intradermal dengan antigen Aspergillus, adanya sumbatan bronchus yang menahun, eosinofilia, terbentuknya antibodi presipitasi serum terhadap Aspergillus, peningkatan kadar IgE dalam serum dan adanya infiltrat paru yang bersifat transien (dengan atau tanpa bronkiektasis sentral). Kolonisasi endobronkial saprofitik didiagnosa dengan kultur atau ditemukannya Aspergillus mycelia pada sputum atau pada dahak ditemukan hyphae. Serum precipitin terhadap antigen spesies Aspergillus biasanya juga muncul.
Bola jamur dari paru biasanya dapat didiagnosa dengan foto toraks dan dari catatan medis. Diagnosa aspergillosis invasif ditegakkan dengan ditemukannya Mycelia Aspergillus dengan mikroskop dari jaringan yang terinfeksi; konfirmasi diagnosa dilakukan dengan kultur untuk membedakan dengan penyakit jamur lain yang gambaran histologinya mirip. 
Penyebab penyakit
Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus adalah penyebab paling umum dari aspergillosis pada manusia, walau spesies lain dapat juga sebagai penyebab. Aspergillus fumigatus menyebabkan banyak kasus bola jamur; Aspergillus niger penyebab umum otomikosis.
Distribusi Penyakit
Tersebar diseluruh dunia, jarang dan bersifat sporadis, tidak ada perbedaan insidens berdasarkan ras atau jenis kelamin.
Reservoir
Spesies Aspergillus secara alamiah ada dimana-mana, terutama pada makanan, sayuran basi, pada sampah daun atau tumpukan kompos. Konidia biasanya terdapat di udara baik di dalam maupun di luar ruangan dan sepanjang tahun.
Cara Penularan
Melalui inhalasi konidia yang ada di udara.
Masa Inkubasi
Hitungan hari hingga minggu.
Masa Penularan
Tidak disebarkan dari satu orang ke orang lain.
Kerentanan dan Kekebalan
Spesies Aspergillus ditemukan dimana-mana, dan Aspergillosis biasanya muncul sebagai infeksi sekunder dan hal ini membuktikan bahwa orang yang sehat kebal terhadap penyakit ini. Kerentanan akan meningkat dengan pemberian terapi imunosupresif dan sitotoksik dan serangan invasif terlihat terutama pada pasien dengan netropenia yang berkepanjangan. Penderita HIV/AIDS atau penderita penyakit granulomatous kronik pada masa kanak-kanak juga peka terhadap infeksi jamur ini.
Pemberantasan
Cara Cara Pencegahan:
Udara ruangan yang disaring dengan High Efficiency Particulate Air (HEPA) dapat menurunkan infeksi aspergillosis invasive pada penderita yang dirawat di RS terutama penderita dengan netropenia.
Pengobatan spesifik:
ABPA diobati dengan corticosteroid suppression dan biasanya membutuhkan terapi yang lama. Reseksi bedah, jika memungkinkan, adalah pengobatan paling tepat untuk aspergilloma. Amphotericin B (Fungizone® atau formasi lipid) IV dapat digunakan untuk infeksi jaringan bentuk invasif.
Pemberian Itraconazole bermanfaat bagi penderita yang perkembangannya lebih lambat dan untuk penderita yang mempunyai masalah kekebalan. Terapi imunosupresif harus dihentikan atau dikurangi sebisa mungkin. Kolonisasi endobronkial harus diobati sedemikian rupa untuk memperbaiki drainase bronkopulmoner.
Tindakan penanggulangan wabah: tidak dilakukan upaya penanggulangan wabah; penyakit sifatnya sporadis.
“Diagnosis aspergilosis tidak ditegakkan secara klinis semata, namun memerlukan interpretasi radiologis dari orang yang berpengalaman,” ujar Elisna Syahrudin dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan, Jakarta. Di antara jutaan jamur di muka bumi ini, jenis Aspergillus sp. lah yang hobi menimbulkan infeksi paru, terutama Aspergillus fumigatus. Jamur ini merupakan jamur rumahan yang sporanya sangat banyak bertebaran di dunia, termasuk di sputum tubuh manusia yang sehat. Pada keadaan status imunologi yang rendah, pertumbuhan jamur akan merajalela dan Aspergillus mampu menginvasi arteri dan vena, sehingga lokasinya tidak hanya di sputum, namun bisa menyebar hingga ke seluruh tubuh. Aspergillus dapat menyebabkan spektrum penyakit pada manusia, bisa jadi akibat reaksi hipersensitivitas hingga bisa karena angioinvasi langsung. Umumnya Aspergillus akan menginfeksi paru-paru, yang menyebabkan empat sindrom penyakit, yakni Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA), Chronic Necrotizing Pneumonia Aspergillosis (CNPA), Aspergiloma, dan Aspergilosis invasif. Pada pasien yang imunokompromais aspergilosis juga dapat menyebar ke berbagai organ menyebabkan endoftalmitis, endokarditis, dan abses miokardium, ginjal, hepar, limpa, jaringan lunak, hingga tulang.
ABPA merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap kolonisasi aspergilosis di daerah pohon trakeobronkial dan terjadi berkaitan dengan asma dan fibrosis kistik. Pada sinusitis alergik akibat jamur juga dapat terjadi sendiri atau bersama dengan ABPA. Adapun aspergiloma merupakan fungus ball (misetoma) yang terjadi karena terdapat kavitas di parenkim akibat penyakit paru sebelumnya. Penyakit yang mendasarinya bisa berupa TB (paling sering) atau proses infeksi dengan nekrosis, sarkoidosis, fibrosis kistik, dan bula emfisema. Fungus ball ini dapat bergerak di dalam kavitas tersebut namun tidak menginvasi dinding kavitas. Adanya fungus ball menyebabkan terjadinya hemoptisis yang berulang.
CNPA merupakan proses subakut yang biasanya terdapat pada pasien imunosupresi, terutama berkaitan dengan penyakit paru sebelumnya, alkoholisme, atau terapi kortikosteroid kronik. Sering kejadian ini terlewat karena sulit dikenali hingga akhirnya terbentuk infiltrat paru dengan kavitas. Aspergilosis invasis juga terjadi karena imunosupresi dengan gejala progresif yang cepat dan fatal meliputi invasi ke pembuluh darah dengan berakibat infiltrat multifokal yang lebar dan berkavitas di sekitar pleura, menjalar hingga ke sistem saraf. Status imunosupresi yang sering menyebabkan aspergilosis invasif ialah AIDS, penyakit granulomatosa kronik, netropenia, tranplantasi sumsum tulang atau organ padat.
Patofisiologi aspergilosis
Empat macam klasifikasi klinis aspergilosis memiliki patofisiologi yang berbeda sesuai jenisnya. Hifa jamur aspergillus memiliki bentuk yang berbeda dibanding jamur lainnya. Dengan pewarnaan perak, akan terlihat hifanya bercabang 450 yang tumbuh pesat pada suhu tubuh normal manusia. Sistem imun alamiah akan berusaha menyingkirkan spora mulai dari lapisan mukosa dan gerakan silia pada saluran pernapasan. Selanjutnya, jika spora sudah terlanjur masuk, akan ada perlawanan dari makrofag dan netrofil melalui fagositosis. Beberapa spesies Aspergillus memproduksi metabolit toksin yang menghambat proses fagositosis ini. Kortikosteroid (terutama pada penderita asma) juga akan melemahkan proses fagositosis ini. Keadaan imunosupresi lainnya (mis. AIDS, penyakit granulomatosa kronik, imunosupresi farmakologis) juga menyebabkan disfungsi atau menurunkan jumlah netrofil. Pada pasien imunokompromais, invasi vaskular lebih sering terjadi dan menyebabkan infark, perdarahan, serta nekrosis jaringan paru. Individu dengan CNPA umumnya akan mengalami pembentukan granuloma dan konsolidasi alveolar yang di sela-selanya terdapat hifa.

ABPA terjadi karena terdapat reaksi hipersensitivitas terhadap A. fumigatus akibat pemakaian kortikosteroid terus menerus. Akibatnya akan terjadi produksi mukus yang berlebih karena kerusakan fungsi silia pada saluran pernapasan. Mukus ini berbentuk sumbatan yang mengandung spora A. fumigatus dan eosinofil di lumen saluran napas. Akan terjadi presipitasi antibodi IgE dan IgG melalui reaksi hipersensitivitas tipe I menyebabkan deposit kompleks imun dan sel-sel inflamasi di mukosa bronkus. Deposit ini nantinya akan menghasilkan nekrosis jaringan dan infiltrat eosinofil (reaksi hipersensitivitas tipe III) hingga membuat kerusakan dinding bronkus dan berakhir menjadi bronkiektasis. Tak jarang ditemui spora pada mukus penderita aspergilosis paru.
Pada aspergilloma terdapat kolonisasi nonivasif karena di parenkim paru sudah terdapat kavitas, kista, bula, atau bronkus yang mengalami ektasis. Penyebab yang paling sering ialah tuberkulosis, sarkoidosis, dan bronkiektasis. Penyebab lainnya bisa berupa fibrosis kistik, spondilitis ankilosa, kista bronkogenik, pneumonokoniasis, sekuestrasi pulmonal, keganasan dengan kavitas, dan pneumatokel akibat sekunder pneumonia akibat Pneumocystis carinii. Secara histologis, aspergiloma merupakan gambaran dari adanya fungus ball (misetoma), yakni sebuah konglomerasi seperti massa dari hifa yang tumpang tindih dengan fibrin, debris selular, mukus, dan produk darah lainnya. Misetoma ini dapat mengalami kalsifikasi menjadi gambaran amorf atau seperti cincin dari foto toraks. Lebih dari setengan pasien aspergiloma akan mengalami peningkatan presipitin serum.
CNPA atau aspergilosis semiinvasif terjadi pada status imunokompromais sedang, terutama pada penyakit yang berlangsung kronik, terutama Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Penyakit lain yang telah diketahui menjadi faktor predisposisi ialah alkoholisme, lanjut usia, dan penggunaan steroid berkepanjangan. Terbentuk kavitas secara perlahan namun progresif di lobus atas paru yang menyebabkan bronkiolitis dan bronkopneumonia. Secara radiologis konsolidasi ini akan sangat mirip dengan proses spesifik TBC. Namun secara histologis akan terlihat proliferasi organisme di ruang interalveolar, perdarahan intraalveolar, dan invasi dinding bronkial yang menyebabkan nekrosis jaringan dengan pembentukan mikoabses.
Adapun aspergilosis invasif relatif umum terjadi pada pasien dengan status imunokompromais berat, terutama AIDS dan transplantasi organ. Spora jamur akan berproliferasi di saluran udara paru dan pada keadaan imunokomprais berat spora akan masuk ke pembuluh darah transbronkial menyebabkan infark hemoragik. Di area ini akan terbentuk kavitas yang mengandung sekuestrum paru yang terinfeksi, terlihat sangat mirip misetoma. Jamur ini juga dapat menyebar secara sistemik dan potensial merusak jantung, otak, ginjal, hepar, limpa, tiroid, dan saluran pencernaan.
Tanda dan gejala
ABPA merupakan sindrom yang sering terjadi pada pasien asma dan fibrosis kistik sehingga bermanifestasi dengan demam dan infiltrat paru yang tidak responsif dengan terapi antibakterial. Penderita mengeluh batuk produktif dengan gumpalan mukus yang dapat membentuk kerak di bronkus., kadang menyebabkan hemoptisis. ABPA juga bisa terjadi berbarengan dengan sinusitis fungal alergik, dengan gejala sinusitis di dalamnya dengan drainase sinus yang purulen.
Aspergiloma bisa juga tidak menimbulkan gejala klinis tertentu selain penyakit utama yang mendasarinya, yakni TBC, sarkoidosis, atau proses nekrosis lain di paru. Pada pasien HIV aspergiloma dapat terjadi pada area yang berkista akibat infeksi pneumonia Pneumocystis carinii. Dari semua pasien aspergiloma, 40-60%nya akan mengalami hemoptisis yang masif dan mengancam nyawa. Kadang-kadang aspergiloma juga dapat menyebabkan batuk-batuk dan ddemam berkepanjangan.
CNPA bermanifestasi sebagai pneumonia subakut yang tidak responsif terhadap terapi antibiotik normal, sehingga menyebabkan kavitas selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Seperti tipe aspergilosis lainnya, pasien dengan CNPA memiliki penyakit tertentu yang mendasarinya, yakni PPOK atau alkoholisme, dengan gejala yang meliputi demam, batuk, keringat malam, dan penurunan berat badan. Umumnya pasien yang menggunakan antibiotik atau antituberkulosis berkepanjangan tanpa respon pengobatan yang baik dapat menyebabkan paru menjadi rusak, nekrosis, hingga akhirnya terbentuk CNPA.
Terakhir, aspergilosis invasif mengalami gejala yang sangat bervariasi, yakni demam, batuk, sesak napas, nyeri pleura, dan kadang-kadang menimbulkan hemoptisis pada pasien dengan prolong neutropenia atau keadaan imunosupresi. Transplantasi organ yang paling sering menimbulkan aspergilosis ialah transplantasi sumsum tulang. Namun kadang aspergilosis juga ditemui pada pasien transplantasi organ padat semisal paru-paru, jantung, dan hepar. Sedangkan pasien leukemia dan limfoma sangat berpotensi mendapat aspergilosis karena terinduksi kemoterapi. Pascakemoterapi akan terjadi prolong neutropenia dengan gejala demam dan infiltrat di paru meskipun sudah dibom antibiotik. Dari CT-scan dan radiografi akan terlihat pola yang khas, yakni nodul, infiltrat dengan kavitas, serta infiltrat.
Secara umum gejala klinis aspergilosis tidak ada yang khas, pasien ABPA mungkin akan mengalami demam, batuk berdahak, dengan mengi pada auskultasi. Pasien dengan aspergilosis invasif dan CNPA selain mengalami demam juga sering batuk berdahak. Khusus pengidap aspergilosis invasif akan mengalami takipneu dan hipoksemia berat. Penderita aspergiloma akan mengalami gejala sesuai penyakit yang mendasarinya, namun gejala yang paling sering ialah hemoptisis. Secara umum, gejala klinis dan hasil lab semua jenis aspergilosis akan sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.
Manajemen aspergilosis
Prinsip pengobatan aspergilosis ialah menghilangkan jamur dan sporanya dari tubuh penderita. Namun secara garis besar penatalaksanaannya dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan penyebabnya; pengobatan CNPA dan aspergilosis invasif berbeda dengan aspergiloma dan ABPA.
Aspergilosis invasif merupakan penyakit sistemik akibat imunosupresi, sehingga kemunculannya bisa diantisipasi. Jika terdapat pasien HIV, leukemia, limfoma, atau pasien pascatranplantasi, perlu diberikan antijamur sebagai profilaksis. Saat ini antijamur pilihan yang dianjurkan ialah Voriconazole, sementara beberapa tahun silam masih dianjurkan untuk memakai Amfoterisin B. Voriconazole relatif lebih aman karena toleransi yang lebih baik dibanding Amfoterisin. Namun untuk keadaan mukormikosis, amfoterisin tetap diberikan karena Voriconazole tidak efektif terhadap mucor. Pasien yang sudah resisten dengan Voriconazole dapat diberikan Caspofungin. Derivat azol dan amfoterisin tidak direkomendasikan untuk dikombinasi karena azol akan menghambat absorpsi amfoterisin. Namun kombinasi sesama azol (mis. Voriconazole dengan Itraconazole atau Fluconazole) layak diberikan untuk pasien yang sudah resisten dengan antijamur. Pemberian antijamur ini akan lebih efektif jika dibarengi dengan perbaikan status imunokompromais, misalnya dengan pemberian growth factor.
Terapi yang tepat untuk aspergiloma ialah simtomatik, yakni mengurangi hemoptisis. Namun terapi kausal yang tepat untuk aspergiloma ialah dengan pembedahan. Dengan lobektomi, kavitas yang berisi aspergiloma dapat dihilangkan dengan mudah. Namun toleransi pembedahan toraks sangat ketat sehingga sering ditunda karena fungsi paru penderita sudah jauh berkurang. Akhirnya, untuk aspergiloma pun digunakan itraconazole oral dengan angka kesembuhan hingga 60%. Tindakan lain yang dapat dilakukan ialah embolisasi arteri bronkial untuk mencegah hemoptisis yang terlalu masif, namun memerlukan keahlian yang sangat tinggi dari radiologis dengan panduan CT-scan karena arteri bronkial bercabang menjadi arteri spinalis, sehingga dikhawatirkan terjadi komplikasi neurologis.

Penderita ABPA diobati sesuai proses penyakitnya, karena ABPA terjadi akibat proses hipersensitivitas, maka respon alergi harus dikurangi. Meskipun ABPA terjadi karena pemakaian kortikosteroid terus-menerus, namun pengobatannya juga menggunakan kortikosteroid, namun dengan oral, bukan lagi inhalasi. ABPA yang kronik memerlukan antijamur semisal itraconazole yang dapat mempercepat hilangnya infiltrat. ABPA yang berbaerngan dengan sinusitis alergik fungal memerlukan tindakan operasi jika terdapat polip obstruktif. Kadang-kadang dapat juga dibilas dengan amfoterisin untuk mempercepat peyembuhan.
Pengobatan CNPA terdiri dari terapi dengan voriconazole, atau bisa juga dengan itraconazole, caspofungin, atau keluarga amfoterisin. Jika respon antijamur sangat kurang, terapi CNPA ialah dengan pembedahan paru. Pembedahan ini ditujukan untuk lesi yang terlokalisasi yang tidak respon dengan antijamur, apalagi jika telah dibarengi dengan hemoptisis dan sumbatan mukus.
Secara ringkas. Aspergillus, sejenis jamur yang sporanya terdapat pada kotoran burung dan kelelawar. Spora ini dapat memasuki parenchym paru-paru bila terhirup dan menimbulkan Aspergillosis paru-paru. Penyakit tersebut bersifat primer bila tidak ada infeksi lain dan bila terjadi infeksi massal dengan spora, ini sering berhubungan dengan pekerjaan si penderita.
Aspergillosis paru-paru sekunder terjadi bila si penderita sebelumnya mempunyai penyakit tbc (Tuberkulosis paru), Diabetes Mellitus, kanker paru dan pada penderita yang diberi pengobatan antibiotika serta obat kortikosteroid untuk jangka waktu lama dalam dosis tinggi.
Pada penderita tbc dengan batuk darah yang sudah sembuh, kemudian terjadi lagi batuk darah, kemungkinan jamur ini ada. Pada rongent terlihat gambaran yang sangat khas berupa rongga atau lubang paru-paru dengan bola atau fungus ball yang merupakan kumpulan koloni jamur.

Jika bola ini lepas, tidak memberi gejala karena tidak mengadakan infiltrasi. Tetapi jika terjadi infiltrasi, maka dinding paru-paru dan pembuluh darah rusak menimbulkan perdarahan setempat.

Infeksi lain yang menimbulkan gejala ringan berupa alergi. Reaksi alergi karena inhalasi spora aspergillus ini dapat menyebabkan asma. Dapat pula menyebabkan reaksi lokal pada saluran napas sehingga menghasilkan lendir atau mukus yang banyak.
Aspergillosis lain yang menyerang liang telinga disebut Otomycosis (jamur telinga), apabila menyerang permukaan kuku disebut Oncychomycosis (jamur kuku), dan bila menyerang kornea mata disebut Keratomycosis (jamur kornea mata) dan pernah di dapatkan sebagai Mycetoma atau aspergillosis berbagai alat tubuh lainnya.
Beberapa species aspergillus yang tersering dianggap penyebab penyakit ialah Aspergillus Fumigatus, Aspergillus Niger dan Aspergillus Flavus Oryzae. Diagnosis dibuat dengan memeriksa sputum atau dahak penderita, sekret bronchus, sekret hidung, pus atau nanah dari sinus, kerokan kuku, kerokan kornea mata, biopsi jaringan, bahan autopsi.

Untuk diagnosis pasti dengan bronkoskopi yang dapat memperkecil kemungkinan terhirupnya spora, mencuci bagian dalam paru-paru. Juga bisa dilakukan dengan biopsi yang hasilnya dapat dikultur atau dibiakkan dan dapat pula diperiksa secara Patologi Anatomi. Biopsi dapat juga dengan transforata (tusukan) hingga sampai mengarah fungus ball.
Pada sediaan langsung ditemukan jamur di dalam bahan klinik sebagai hifa bersekat, bercabang dengan atau tanpa spora. Gambaran histologi menunjukkan jamur di dalam jaringan sebagai hifa bersekat, bercabang, tersusun radier menuju satu jurusan. Biakan pada medium Sabouraud membentuk koloni filamen dengan susunan conidia yang khas. Cara pemeriksaan yang lain dengan Serologi yaitu RIK (Reaksi Ikatan Komplemen) dan ID (Imunodifution test).
Terapi untuk aspergillosis paru ialah larutan KJ (kalium Jodium) atau Amphotericin B secara Intra Vena. Jika ada fungus ball, pengobatan tidak sempurna karena walaupun sampai dinding tetapi jamuar yang di tengah tidak terkena. Bahkan sering harus disertai pembedahan berupa lobektomi jika terjadi batuk darah. Terapi lain dengan derivat Azoe. Prognosa penyakit ini tergantung dari macam aspergillus, stadium penyakit dan keadaan penderita.

Pada aspergillosis yang menyerang kornea mata, cara infeksinya dengan trauma yaitu tusukan benda yang mengandung spora. Gambaran kliniknya dijumpai Ulcus Kornea disertai Infiltrat atau Abses dan sering disertai Hypopyon yaitu endapan sel-sel radang pada Kamera Oculi. Terapinya dengan membersihkan jaringan nekrosis pada Ulcus, pemberian Amphotericin B tetes mata dengan dosis 4 mg/ml atau Pimaricin sebagai obat tetes mata dan Econazole. Prognosa penyakit ini makin cepat diketahui dan diobati akan makin baik.
Aspergillosis pada liang telinga yang menyebabkan Otomycosis, gambaran kliniknya berupa kelainan yang menyerang liang telinga bersifat subakut atau menahun. Pada permukaan tampak Hyperemia kulit liang telinga dan membrana tympani. Terdapat sisik pada kulit, kadang-kadang ada cairan bening. Keluhan terutama gatal.
Untuk mendiagnosis aspergilus pada telinga ini, bahan yang diperiksa adalah kotoran telinga atau kerokan kulit liang telinga. Pada pemeriksaan langsung sediaan KOH 10% akan tampak hifa dan/atau spora, tergantung pada jamur penyebabnya. Sementara identifikasi jamur didasarkan biakan pada agar Sabouraud dalam suhu kamar.

Terapi otomycosis ini dengan obat lokal antifungus, bila perlu disertai antibiotik. Jamur yang memenuhi liang telinga dikeluarkan.
Infeksi Aspergillus pada kuku yang sering dikenal dengan sebutan Onychomycosis atau Tinea Unguium (Ring Worm of the nail) terjadi secara kontak langsung. Gambaran kliniknya berupa kelainan yang mengenai satu kuku atau lebih. Permukaan kuku tidak rata. Kuku menjadi rapuh atau keras.
Kelainan dapat mulai dari proksimal atau distal tergantung pada penyebabnya. Dapat disertai paronychia dan diagnosis penyakit ini ditegakkan dengan memeriksa bahan kerokan kuku dan kerokan di bawah kuku. Pada pemeriksaan langsung sediaan KOH 10 %, tampak jamur sebagai hifa atau spora. Jamur dapat ditentukan dengan pasti berdasarkan biakan. Pengobatan setempat dan berlangsung lama. 

 
 
 
 
 
 

Sumber : http://www.suaramedia.com/gaya-hidup/kesehatan/22550-mengenal-aspergillus-spektrum-penyakit-infeksi-paru.html
 

 

Koi Kian Diminati Masyarakat

Koi Kian Diminati Masyarakat

Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Asosiasi Pecinta Koi Indonesia, klub-klub pecinta koi dan seluruh stakeholder koi belakangan ini terus secara kontinyu berupaya mendorong pengembangan koi Indonesia. Hal ini tak lain agar koi dapat dijadikan industri lokal yang mampu menjadi alternative sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Salah satu upaya pengembangan koi tersebut adalah melalui pelaksanakan even-event kontes yang dilakukan secara rutin. Even kontes secara tak langsung akan memperkenalkan sekaligus sebagai ajang promosi koi tersebut. Untuk tahun ini, kontes koi tersebut dilakukan di Surabaya. Kegiatan kontes yang diikuti tak kurang dari 150 peserta ikut kontes di event tersebut.

Pemerintah maupun swasta kian menyadari bahwa untuk menampung komoditas koi yang makin diminati itu perlu wadah tersendiri. Sebagai contoh di Kabupaten Blitar, beberapa tahun belakangan ini yang telah berhasil mengembangkan jenis ikan koi yang memiliki harga cukup baik. Jenis ikan koi produksi Kabupaten Blitar tersebut adalah jenis asagi, hikari muji, koromo, sanke, showa, king gin rin, kowari mono, bekko, kohaku, tanco, hikari utsuri, gosiki dan utsuri mono yang harganya dapat mencapai ratusan hingga jutaan rupiah.

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya, pada acara pembukaan acara 7th All Indonesian Young Koi Show, di Surabaya pada April 2011 lalu, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) senantiasa berupaya membangun serta menciptakan iklim usaha yang baik dengan pendekatan sistem agribisnis dari mulai penyediaan induk, sarana dan prasarana, termasuk menciptakan pola-pola kemitraan yang sehat antara swasta dan mayarakat (pembudidaya ikan, pemasar, hobbies dan eksportir yang kian hari diharapkan dapat meningkat.

Hal ini sengaja dilakukan mengingat pasar ikan hias sangat menjanjikan, Dirjen mengingatkan bahwa, dari data perdagangan ikan hias dunia tahun 2009, Indonesia baru menguasai 7,5% pangsa pasar ikan hias. Masih kalah jauh dari Singapura yang mencapai 22,5% perdagangan ikan hias dunia.

Sedangkan potensi yang ada di Indonesia sangat besar, Dirjen DJPB menjelaskan, kalau mau melihat data, potensi eskpor ikan hias Indonesia diperkirakan mencapai US $60 juta sampai US $ 65 juta. Dengan jumlah species ikan hias air tawar sebanyak 450 species dari total 1.100 species ikan hias air tawar dunia. “sedangkan untuk ikan hias air laut, Indonesia memiliki lebih dari 700 jenis species yang sebagaian besar hanya terdapat di Indonesia.

Potensi ikan hias, kata Dirjen, apabila ditangani secara serius, maka Indonesia akan mampu berbicara banayak di pasar Internasional baik untuk ikan hias air tawar maupun air laut. Oleh karena itu, KKP sangat serius untuk mengembangkan ikan hias Indonesia.

Sedangkan sentra produksi ikan hias tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. “Khusus untuk ikan Koi, sentra produksi di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, DI Yogyakarta” kata Dirjen.

Pemerintah berharap, Asosiasi Ikan Hias Indonesia dapat menyumbangkan kontribusi pengalaman, kapabilitas dan profesionalitasnya dalam mengembangkan ikan hias Indonesia serta terus menerus melakukan upaya-upaya menggairahkan bisnis ikan hias nasional seperti kontes, pameran, bursa, perluasan area pasar dan juga dapat mengedukasi masyarakat dalam mengembangkan ikan hias secara benar melalui pelatihan pembudidayaan. Sehingga ikan hias Indonesia dapat menjadi salah satu pilar ekonomi nasional dengan pengelolaan yang baik dalam menghasilkan komoditas ikan hias yang trend di pasar. (rd)

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Petani dan Nelayan Belajar Internet di Kaltim

Petani dan Nelayan Belajar Internet di Kaltim

Samarinda | Jumal Nasional 13 Mei 2011,hal.12

SEDIKITNYA 360 petani dan nelayan se-Indonesia akan mengikuti pelatihan pengembangan jaringan informasi agribisnis berbasis internet dalam kegiatan Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) ke-13 di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang digelar pada 18-23 Juni mendatang.

Koordinator Seksi Pengembangan Jaringan Informasi Agribisnis Penas KTNA ke-13, HM Jaunar Effendi mengatakan, ke-360 petani dan nelayan tersebut yakni peserta Penas KTNA dari 33 provinsi. Masing-masing propinsi akan mengirimkan pesertanya sebanyak 10 orang. Untuk peserta lainnya yakni sebanyak 30 orang akan ditentukan oleh panitia dan KTNA Nasional,kata Jaunar ketika dihubungi Jumal Nasional pada Kamis (12/5) kemarin.

Menurutnya, pelatihan tersebut merupakan suatu kegiatan untuk peningkatan kapasitas dan komunikasi petani berbasis komputer dan internet dalam membantu para petani dan nelayan dalam berinteraksi dalam Jaringan informasi agribisnis bagi para petani dan nelayan itu sendiri. Pemateri berasal dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Ke menkominfo dibantu Asistensi Dinas Kominfo Provinsi Kaltim. Rusli
sumber : http://www.kkp.go.id

PRODUKSI UDANG TERANCAM RENDAH

PRODUKSI UDANG TERANCAM RENDAH

AWS P3UW Bukan Perwakilan Plasma

BANDAR LAMPUNG – Manajemen PT Aruna Wijaya Sakti (AWS), anak perusahaan PT Central Proteina Prima (CP Prima) Tbk menampik peran Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) dalam relasi inti plasma perusahaan itu dengan petambak. Perwakilan plasma adalah Lembaga Manajemen Plasma Kampung (LMPK) yang diketahui terlibat dan diakui dalam setiap perjanjian inti-plasma antara AWS dengan petambak.

“P3UW tidak ditunjuk oleh plasma untuk mewakili mereka, sehingga P3UW bukanlah pihak yang bermitra. LMPK ditunjuk langsung oleh plasma untuk mewakili mereka dalam perjanjian inti plasma dengan PT AWS,” kata Tarpin A Nasri, kepala divisi komunikasi PT AWS melalui keterangan pers yang diterima Investor Daily, kemarin.

Keterangan Tarpin disampaikan ke publik menanggapi kesimpangsiuran informasi pascapenghentian aktivitas produksi udang di tambak AWS, pekan lalu. Tarpin menjelaskan, penghentian operasi sekaligus pemutusan aliran listrik ke kawasan tambak eks Dipasena itu dilakukan karena situasi tidak lagi kondusif. Ulah segelintir pengurus P3UW yang mengadang petambak menabur benur beberapa saat sebelumnya, mematikan aktivitas bisnis. “Dari pada terus menanggung kerugian akibat ulah segelintir pengurus P3UW, sebaiknya kami hentikan dulu operasi dan semua pertanggungan perusahaan ke anggota plasma sambil mencari solusi terbaik,” kata Dirut AWS Achmad Roswantama, pekan lalu.

Revitalisasi Tahap Dua Menurut Tarpin, revitalisasi yangdijalankan perusahaan dengan anggota plasma masih berlangsung. Namun, revitalisasi itu mengacu pada perjanjian inti plasma Tahap Kedua, dan tidak lagi mengacu pada revitalisasi Tahap Pertama. “Revitalisasi Tahap Kedua berskema polycul-ture. Skema polyculture efektif mengurangi risiko penyebaran virus IMNV yang mematikan. Revitalisasi Tahap Pertama terpaksa dihentikan karena mematikan bisnis. Tidak mungkin AWS membiarkan virus IMNV masuk tambak karena tetap menjalankan Revitalisasi Tahap Pertama,” kata Tarpin.

Dia menjelaskan, peralihan perjanjian Revitalisasi Tahap Pertama “ke Revitalisasi Tahap Kedua disepakati kedua pihak (AWS dan LMPK) per 22 Februari 2010. Mengacu kesepakatan itu, manajemen AWS menyelesaikan revitalisasi pada akhir 2010. “Karena sudah ada kesepakatan Revitalisasi Tahap Kedua, maka tidak ada alasan hukum apapun untuk kembali ke Revitalisasi Tahap Pertama. Kalau P3UW menuduh AWS langgar perjanjian, itu tendesius. Lagipula P3UW bukan perwakilan plasma,” jelas Tarpin.

Tarpin juga meminta pemerintah bersikap adil dengan tidak memihak salah satu pihak. Peran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kata Tarpin, terbatas sebagai pembina dalam kaitan dengan peningkatan produksi udang nasional. “Aktivitas AWS murni urusan swasta dan pemerintah tidak perlu terlalu jauh ikut campur. Yang mau membeli AWS atau mengambilalih aset eks Dipasena silakan melalui jalur bisnis dan tidak perlu melalui jalur premanisme atau politik,” kata Tarpin.

Sementara itu, Ketua P3UW Napi-an Faiz hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi. Namun sebelumnya, Napian menuding AWS gagal merevitalisasi tambak. Akibatnya, petambak anggota plasma merugi. “Mereka (perusahaan) gagal revitalisasi, dan harus ada pertanggungjawaban. Jangan hanya mau merugikan plasma,” kata Napian, belum lama ini.

Produksi Udang Rendah

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, sengketa AWS dengan plasma bisa menurunkan produksi udang. “Saya sayangkan saja karena sengketa ini bisa mengganggu produksi udang nasional. Padahal kontribusi produksi dari tambak eks Dipasena itu cukup besar terhadap produksi nasional,” kata Fadel, Rabu (11/5).

Fadel memastikan pihaknya segera mendengar klarifikasi manajemen CP Prima sebagai induk AWS, Jumat (13/5). “Kami akan undang mereka (CP Prima) mendengar lalu mencoba mencari solusi ideal,” kata Fadel.

Sementara itu, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik meminta pemerintah bersikap tegas. Manajemen AWS, kata Riza, ingkar janji dan terbukti gagal merevitalisasi tambak sebagaimana diperjanjikan. Kegagalan revitalisasi berdampak negatif pada anggota plasma. “Butuh ketegasan pemerintah agar kekisruan inti plasma tidak berlarut-larut,” kata Riza.

Sekretaris Perusahaan CP Prima, induk perusahaan AWS George Basoeki mengaku masih terus menunggu proses penyelesaian sengketa antara AWS dan anggota plasma. “Penghentian operasi masih berlangsung, tunggu saja proses selanjutnya,” kata George. Qjr)

Sumber : Investor Daily 13 Mei 2011,hal.7

Genjot Produksi Perikanan Budidaya

Genjot Produksi Perikanan Budidaya

Konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih relative rendah. Saat ini, setiap orang Indonesia hanya menyantap 30,47 kg ikan per tahun. Bandingkan dengan konsumsi ikan perkapita rakyat Jepang, misalnya, yang mencapai 147 kg, artinya setiap orang di Jepang menyantap hampir 1,5 kwintal ikan per tahun. “Pantaslah kalau Jepang memiliki sumber daya manusia yang unggul,” kata Prof. Dr. Ir. Ketut Sugama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Ketut mengungkapkan, angka konsumsi ikan perkapita masyarakat Indonesia terus naik setiap tahunnya, dan KKP menargetkan sektor perikanan budidayamampu meningkatkan kontribusinya pada pemenuhan protein nasional, terutama untuk menggeser impor daging sapi yang hampir 30% dari pemenuhan kebutuhan domestik Untuk itu, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus berupaya meningkatkan produksi perikanan budidaya. Hal ini sesuai dengan visi KKP yang dicanangkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia.

Pada tahun 2011, menurut Ketut Sugama, KKP menargetkan produksi ikan sebesar 12,26 juta ton, atau meningkat 13% dari produksi 2010. Untuk perikanan budidaya sendiri hingga akhir tahun 2010 mampu menembus angka produksi hingga 5,48 juta ton setara dengan hasil tangkapan. Dan kedepan, Ketut mengatakan, sampai 2014 produksi perikanan budidaya diharapkan bisa meningkat 353% dari produksi 4.7 ton (2009). Untuk mencapai target itu, DJPB terus mengembangkan program Minapolitan dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Kelautan dan Perikanan. Pada 2011, melalui Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP). Menurut Ketut, tahun ini telah dicanangkan 24 lokasi Minapolitan berbasis perikanan budidaya. Sedangkan PUMP perikanan budidaya (PUMP-PB) tahun 2011 ini akan menyentuh 2.000 kelompok pembudidaya 300 kabupaten/kota. Selain PUMP-PB,KKP juga menjalin kerjasama dengan kalangan perbankan untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan, diantaranya membantu penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menurut Ketut peningkatan produksi juga akan dicapai melalui program minapadi (integrasi penanaman padi dengan budidaya ikan) dengan memanfaatkan satu juta hektar sawah di berbagai daerah di Indonesia. “Peran minapadi terhadap peningkatan produksi budidaya perikanan, khususnya nila dan ikan mas, sangat signifikan,” kata Ketut. Ketut juga mengerakkan program tebar benih sebanyak mungkin di berbagai daerah yang memiliki tempat yang berpotensi untuk melakukan budidaya berbagai ikan.“Kalau bisa, setiap ada air sawah, di situ bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan,” kata doktor bidang Breeding dan Genetika Ikan dari Ehime University, Jepang, itu.

Untuk mendukung program itu, DJPB telah mengembangkan jenis-jenis ikan unggulan seperti jenis catfish, nila, bandeng, udang, ikan mas, gurame, kakap, kerapu, rumput laut, ikan hias dan lain-lain. DJPB melalui UTP (Unit Pelayanan Teknis) di daerah telah mensuplay induk induk ikan unggulan itu langsung ke sentrasentra budidaya untuk dikembangbiakan menjadi benih-benih unggulan.

Keamanan pangan juga menjadi salah satu perhatian DJPB dalam peningkatan produksi, hal ini dicapai dengan cara sosialisasi dan sertifikasi CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) kepada unit budidaya dan CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) kepada unit pembenihan ikan. Ketut berharap, berbagai program yang dibuat Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, mampu meningkatkan produksi perikanan secara lebih cepat, sehingga bisa memenuhi kebutuhan protein hewani yang murah dan sebanyak mungkin bagi masyarakat Indonesia. Dengan protein yang cukup, kualitas sumber daya manusia Indonesia pun diharapkan bisa meningkat

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

PUMP Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa

PUMP Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa

Guna meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak hanya memiliki Program Minapolitan saja. Namun demkian, pada 2011 ini mulai mengimplementasikan Program Usaha Mina Pedesaan (PUMP).

TIDAK tanggung-tanggung, orang nomor satu di KKP, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad memastikan total anggaran yang dikucurkan untuk program ini mencapai Rp400 miliar, dengan bentuk penyaluran bantuan langsung masyarakat. “Sedap usaha kecil bisa mendapatkan paket yang nilainya antara Rp9 Juta hingga Rp 14 juta,” ujarnya.

Anggaran sebesar Rp400 miliar ini antara lain, pertama dana sebesar Rpl05 miliar untuk pengadaan peralatan dan operasional penangkapan, contohnya antara lain berupa biaya bahan bakar minyak, es, logistik, air bersih. Kedua, dana sebesar Rp27O miliar yang dialokasikan untuk antara lain pengadaan paket sarana produksi budidaya, berupa benih, pakan, perawatan saluran dan kolam, mesin pendukung budidaya, serta obat-obatan. Ketiga, dana sebesar Rp25 miliar yang dialokasikan untuk pengadaan paket sarana pengolahan ikan seperti untuk para-para, pengering ikan, pemindangan, pembuatan abon, pembuatan bakso ikan, dan kotak pendingin.

Fadel menyatakan dana PUMP ini akan disalurkan oleh pemerintah dalam bentuk tunai melalui rekening kelompok. Penentuan lokasi PUMP akan difokuskan di kabupatan atau kota yang memiliki potensi kelautan dan perikanan, dan sumberdaya manusia yang mumpuni untuk mengelola program ini Penyaluran PUMP dilakukan dengan tujuan mendorong bertumbuhnya wirausaha skala kecil, sehingga membuka kesempatan kerja masyarakat.

Keberhasilan PUMP tidak lepas dari usaha pendampingan dari seluruh penyuluh. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah menyiapkan 461 orang penyuluh untuk menyukseskan PUMP.

Para penyuluh ini nantinya akan mulai melakukan proses pendampingan yang meliputi kegiatan penentuan calon penerima program ini, sekaligus menentukan lokasi atau kawasan penerima program. Setelah itu, penerima PUMP akan mendapatkan bimbingan bagaimana cara dan prosedur pencairan uang di bank, sekaligus petunjuk pengelolaan keuangan yang benar, pemilihan jenis komoditas yang akan dikembangkan sehingga cocok dengan loaksi di satu kawasan, sekaligus cara membuka usaha pengelolaan dan pemasaran hasil perikanan dan kelautan.

Secara luas, sasaran PUMP ini dapat menjangkau 20.000 orang di 300 kabupatan dan kota. Hingga saat ini pemerintah telah menyosialisasikan PUMP di 12 provinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Sumatera Barat.

Dari data Ditjen Perikanan Budidaya, saat ini dari 33 provinsi yang mendapatkanprogram PUMP, sejulah 2.000 paket dengan total bantuan yang disalurkan mencapai 200 miliar. Beberapa daerah yang telah mendapatkan adalah Jakarta sebanyak 6 paket seni-lai Rp600 juta, Yogyakarta 76 paket senilai Rp7,6 miliar, Jawa Barat sebanyak 106 paket senilai RplO,6 miliar, Banten sebanyak 60 paket senilai Rp6 miliar, Bangka Belitung sebenyak 12 paket senilai 1,2 miliar, dan Papua sebanyak 40 paket senilai Rp 40 miliar. Dirjen Perikanan Budidaya Ketut Sugama menyatakan penyaluran program ini dilakukah dari keunggulan daerah, potensi areal budidaya, dan komitmen daerah untuk meningkatkan produksi perikanan budi daya.

Sementara itu, untuk penyaluran PUMP yang dilakukan oleh Ditjen Perikanan Tangkap, telah dialokasikan anggaran lebih kurang Rp 100 miliar, yang akan disalurkan kepada 1.000 kelompok nelayan di seluruh Indonesia. (*)

sumber : http://www.kkp.go.id

Perkembangan Ikan Bawal Tawar

Perkembangan Ikan Bawal Tawar

Jika dibandingkan dengan lele yang langsung menjadi populer sejak pertama kalinya di Indonesia, ikan bawal tawar membutuhkan waktu lama untuk dikenal masyarakat Indonesia. Meskipun butuh waktu lama, kepopuleran ikan bawal tawar terus menunjukkan trend peningkatan dari waktu ke waktu. Sejak awal tahun 2000, ikan bawal tawar menjadi salah satu andalan pembudidaya Karamba Jaring Apung (KJA) di berbagai Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur.

Ikan bawal tawar merupakan ikan budidaya yang masih cukup baru diperkenalkan di industri perikanan tanah air, namun karena hasil penyebarannya mendapat respon dari para pembudidaya ikan, jumlahnya konsumsi ikan bawal tawar semakin hari semakin meningkat. Ikan bawal tawar memiliki rasa daging yang gurih dan enak, meski cukup banyak duri pada dagingnya. Bahkan beberapa petani ikan yang sebelumnya memelihara ikan mas beralih memelihara ikan bawal tawar, karena potensi ekonomi yang lebih menguntungkan. Melambungnya harga pakan ikan akhir-akhir ini menjadi salah satu alasan mengapa mereka beralih ke budidaya ikan bawal tawar karena ikan bawal tawar makannya mudah, pemakan segala (omnivora).

Pasar ikan konsumsi bawal air tawar masih membidik konsumen lokal (dalam negeri) khususnya di kota-kota besar. Pasar lokal (dalam negeri) yang mendominasi permintaan bawal air tawar terbanyak saat ini yaitu Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang diperkirakan angkanya mencapai jutaan ekor per musim. Contohnya pembudidaya atau pedagang perantara dari Waduk Cirata (Cianjur) atau Jatiluhur (Purwakarta) mendistribusikan ke TPI Muara Bari dan Muara Angke yang selain menampung ikan hasil tangkapan juga menerima ikan bawal tawar. Selain pasar di Jakarta, mereka juga mengirimkan ke Pasar Turi (Surabaya), Pasar Kobong (Semarang), Lahat (Sumsel), Bandung, Lampung, Bogor dan Cirebon. Bahkan permintaan ikan bawal tawar sudah merambah ke mancanegara. Permintaan terbesar selama ini berasal dari Hong Kong dan Amerika Serikat dengan jumlah mencapai puluhan juta ekor tetapi Indonesia baru bisa memasok 10%-nya. Contohnya ikan hasil budidaya di Cirata juga diekspor ke Johor Baru (Malaysia).

Sentra budidaya ikan bawal tawar terbesar di Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Bandung dan sebagian daerah Priangan lainnya) yang dikenal sebagai penghasil ikan air tawar budidaya terbesar di Indonesia. Selain Di Jawa Barat ditemui antara lain di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan bahkan sampai ke Bali. Pembudidayaan kolam air tergenang (KAT) untuk daerah Jawa Barat, sentra pembudidayaannya terdapat di Parung, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Subang dan Tasikmalaya. Sementara budidaya di KJA banyak dilakukan di perairan waduk terutama Cirata, Saguling dan Jatiluhur.

Di kalangan penggemar ikan hias, bawal air tawar juga menjadi daya tarik tersendiri untuk dipajang di akuarium dan kolam taman terutama saat masih benih. Dan sejarah masuknya ikan bawal tawar ini bermula diimpor sebagai ikan hias yang awalnya dikhawatirkan oleh beberapa ahli karena ternyata ikan bawal tawar masih satu famili dengan ikan piranha yang berbahaya dan dikhawatirkan kalau sampai lepas ke perairan umum. Sebagai ikan hias, bawal air tawar tergolong banyak diminati karena sosoknya yang unik dan bentuknya pipih, gerakannya indah dan semburat warna merah di sisi perutnya.

Secara teori, usaha pembesaran ikan bawal tawar juga tergolong jenis ikan yang tidak sulit untuk dibudidayakan. Tingkat kelangsungan hidup (SR) bawal air tawar cukup tinggi, sekitar 90%. Bahkan, ikan bawal tawar ini mampu bertahan hidup dalam kolam yang tingkat kepadatannya tinggi. Makannya pun tidak rewel sebab hewan berjenis omnivora ini memiliki nafsu makan yang sangat besar. Ikan bawal tawar saat ini banyak dipilih pembudidaya sebagai produk unggulan. Hal ini karena selain bernilai ekonomis sebagai ikan hias, ikan bawal tawar (Colossoma macropomum Cuvier) juga menjadi hidangan yang sering dicari di meja makan. Bahkan permintaan yang besar dari produk ini tak hanya datang dari dalam negeri melainkan juga dari luar negeri. Hanya saja belum terdapat data yang pasti berapa total permintaan komoditas yang satu ini.

Fenomena perkembangan ikan bawal tawar membuktikan bahwa walaupun termasuk jenis ikan pendatang, bawal air tawar sudah mendapat tempat di hati masyarakat, baik pembenih, pembudidaya sebagai produsen ataupun konsumen untuk kebutuhan konsumsi maupun ikan hias untuk pajangan di akuarium dan kolam taman di halaman rumah. Dengan fenomena tersebut, tampak bahwa pasar ikan bawal tawar sudah memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini sangat menguntungkan bagai para pemula yang berniat memulai usaha sebab pasarnya yang sudah terbentuk lebih prospektif dibanding ikan air tawar lainnya karena perputarannya bagus, cepat dan simpel. Permintaan ikan bawal tawar konsumsi umumnya datang dari pelaku usaha rumah makan atau restoran yang menyajikan menu utama bawal bakar atau bawal goreng.

Permasalahan utama yang dihadapi pembudidaya yaitu modal, teknologi, pakan dan pemasaran merupakan masalah mendasar yang membutuhkan peran KKP.

Modal, sebenarnya sudah ada program dari pemerintah yaitu PUMP (Pengembangan Usaha Mina Pedesaan), Paket Wirausaha Perikanan, Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit bantuan lainnya serta bantuan-bantuan sarana produksi perikanan (saprokan).
Teknologi, pemerintah melalui dinas kelautan dan perikanan, telah menyediakan tenaga-tenaga penyuluh untuk membantu masalah teknologi bagi para pembudidaya ikan. Dan perlu diketahui bahwa ikan bawal tawar ini teknologinya sangat mudah.
Pakan, pemerintah telah memberikan bantuan mesin pembuat pakan ikan mandiri pakan mandiri yang dikelola oleh pokdakan.
Pemasaran:
memberikan informasi pasar sehingga para pembudidaya ikan tidak sulit mencari pasar.
menciptakan iklim pemasaran yang kondusif bagi para pembudidaya yang berpihak kepada pembudidaya, seperti penetapan harga dasar komoditi ikan yang lebih rasional dengan harga pasar yang berlaku di daerah.

Pencapaian target produksi 2011 masih diarahkan pada 10 komoditas unggulan budidaya antara lain rumput laut, udang, kakap, kerapu, bandeng, mas, nila, patin, lele dan gurami. Bukan berarti di luar 10 komoditas tadi tidak penting, termasuk ikan bawal tawar ini. Penyebarannya dilaporkan belum terlalu luas dan masih ada kekhawatiran di beberapa daerah dengan kelestarian ikan-ikan lokal. Pengembangan komoditas unggulan sangatlah penting, dengan menggali komoditas unggulan spesifik suatu daerah yang harus bernilai ekonomis tinggi, tersedianya teknologi, besarnya permintaan pasar dan dapat dikembangkan secara massal. KKP akan memacu produksi perikanan budidaya melalui tiga target pembangunan. Pertama, seluruh potensi perikanan budi daya menjadi kawasan minapolitan dengan usaha yang bankable. Kedua, seluruh sentra produksi perikanan budi daya memiliki komoditas unggulan yang menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu yang terjamin. Ketiga, sarana dan prasarana perikanan budi daya mampu memenuhi kebutuhan serta diproduksi dalam negeri dan dibangun secara terintegrasi.

Walaupun ketenaran ikan bawal tawar belum dapat disejajarkan dengan komoditas perikanan lainnya, namun permintaan konsumen setiap tahunnya terus meningkat, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Maka tak heran, bila dimasa yang akan datang akan menjadi komoditas unggulan seperti jenis-jenis ikan lainnya. Seperti kerabatnya ikan piranha, ikan ini di negara asalnya termasuk carnivora yakni pemakan daging. Di habitat aslinya di Sungai Amazon sana ikan ini bergerombol dalam jumlah yang kecil dan mencari mangsa ikan kecil, katak, siput atau udang. Dengan gigi–giginya yang tajam, ikan ini merupakan predator sejati. Budidaya pembesaran bisa dilakukan pada media jaring terapung, kolam tanah, bak tembok dan kolam air deras. Pada media jaring terapung sesungguhnya tidak dianjurkan disamping ikan bawal tawar bisa merusak jaring juga ketika ikan bawal tawar lepas dari jaring akan menjadi predator terhadap ikan-ikan lain.

Kendala dalam budidaya ikan bawal:

Kendala di pembibitan adalah tingkat kematian mencapai 10-20% dari mulai telur menetas hingga bibit ukuran korek.
Kendala yang menjadi momok di usaha pembesaran bawal adalah serangan penyakit white spot (bintik putih) karena virus atau bakteri yang sering datang saat musim hujan yang dapat ditangani dengan memberikan garam dalam kolam.
Ikan bawal tawar yang dipelihara di kolam cenderung pasif dan enggan atau tidak mau berpijah. Ikan bawal tawar tidak sanggup melakukan ovulasi karena perkembangan gonada (kelamin) terhenti saat memasuki fase istirahat (fase dormant), sedangkan induk ikan bawal tawar aktif berpijah saat banjir dan aliran sungai meluap menggenangi daerah inundasi pinggiran sungai seperti yang terjadi di kawasan Amerika Latin pada bulan Juni–Juli. Pemijahan ikan bawal tawar di kolam hanya dapat dilakukan dengan cara hypofisasi atau rangsangan hormon (induce spawning) menggunakan ekstrak kelenjar hypofisa, ovaprin atau LHRH-a. Selanjutnya induk yang telah dirangsang dipijahkan secara alami ataupun dilakukan stripping atau ovulasi buatan.

Peranan pemerintah dalam menanggulangi kendala tersebut:

Monitoring pemantauan kesehatan ikan dan lingkungan yang bertujuan untuk mengetahui kondisi keragaan kualitas lingkungan perairan dan juga distribusi penyebaran penyakit
Melakukan sosialisasi penanggulangan penyakit ikan baik berupa aspek teknis maupun aspek non teknis. Aspek teknisnya melalui salah satu UPT dilingkup KKP melalui Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan melakukan monitoring rutin untuk melakukan berbagai sosialisasi tentang penanganan penyakit ikan, penggunaan obat-obatan yang sesuai dengan penerapan CBIB dan juga untuk mendapatkan data status kondisi penyebaran penyakit ikan dan lingkungan yang ada

Penyakit dalam menghambat pertumbuhan ikan bawal antara lain:

Penyakit yang sering menyerang adalah white spot dan beberapa virus lain serta bakteri.

Jaring yang kotor akibat penempelan lumpur atau biota penempel seperti berbagi jenis kerang, teritip dan tumbuh-tumbuhan dapat menghambat sirkulasi air, pertukaran air dan oksigen. Kalau dibiarkan hal ini dapat menimbulkan penyakit dan menghambat pertumbuhan bawal bintang

Usaha budidaya yang intensif berarti tingkat padat penebaran pada kolam pemeliharaan cukup tinggi. Hal ini menyebabkan kualitas air media pemeliharaan akan cepat turun karena banyaknya limbah yang dihasilkan dan organisme yang dibudidayakan dari asal pakan yang tidak termanfaatkan. Penurunan kualitas air akan memacu pertumbuhan dari organisme patogen yang merugikan dan juga akan menghambat pertumbuhan ikan bawal tawar sehingga akan menurunkan jumlah produksi.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Rumput Laut dan Kerapu, Andalan Perikanan Budidaya Provinsi Maluku

Rumput Laut dan Kerapu, Andalan Perikanan Budidaya Provinsi Maluku

Produksi perikanan budidaya provinsi Maluku tahun 2009 mencapai 50.915 ton yang berasal dari budidaya laut, budidaya tambak dan budidaya air tawar. Rumput laut, kerapu, teripang dan udang adalah komoditas unggulan perikanan budidaya provinsi Maluku. Pada tahun 2009, keempat komoditas tersebut, produksinya masing-masing sebesar 47.782,6 ton, 1.810,7 ton, 522,4 ton dan 166,3 ton. Selain itu, Maluku juga terkenal dengan budidaya mutiaranya yang sudah mendunia.

Jika dilihat berdasarkan komoditas unggulan budidayanya maka terlihat bahwa Maluku sangat potensial untuk pengembangan budidaya laut terutama untuk rumput laut, kerapu dan tiram mutiara. Memang provinsi Maluku sangat potensial untuk pengembangan ketiga komoditas tersebut. Dilihat dari struktur wilayahnya, provinsi ini merupakan provinsi kepulauan dan provinsi ini dikelilingi oleh laut yang masih terjaga. Provinsi yang terletak di posisi 2?30?9? lintang selatan dan 124? – 136? bujur timur ini, berbatasan dengan laut seram di sebelah utara, lautan Indonesia dan laut arafura di selatannya, di sebelah timur berbatasan dengan laut irian dan sebelah barat berbatasan dengan laut Sulawesi.

Jadi hampir sebagian besar provinsi ini merupakan daerah laut yang potensial untuk pengembangan budidaya laut. Provinsi Maluku diperkirakan memiliki potensi budidaya laut sebesar 495.300 Ha yang terdiri dari :

Potensi budidaya kakap putih sebesar 31.000 ha
Potensi budidaya kerpau sebesar 104.00ha
Potensi budidaya rumput laut sebesar 206.000 ha
Potensi budidaya tiram mutiara sebesar 73.400 ha
Potensi budidaya teripang sebesar 28.900 ha
Potensi budidaya lobster sebesar 23.000 ha
Potensi budidaya kekerangan sebesar 29.000 ha

Lahan-lahan potensial untuk pengembangan budidaya tersebut tersebar dibeberapa daerah yaitu perairan seram, Manipa, Kei Kecil, Kei Besar, Yamdena, PP. terselatan dan Wetar. Namun, saat ini pengembangan budidaya laut di provinsi ini, yang dikembangkan secara komersil hanya pada komoditi rumput laut, kerapu dan tiram mutiara

Budidaya rumput laut di Maluku diperkirakan produksi akan meningkat tajam pada tahun selanjutnya. Hal ini berdasarkan kondisi lahan yang sangat potensial, kemudahan dalam berbudidaya dan juga rumput laut dari Maluku masih dihargai tinggi karena kualitasnya yang sangat bagus. Peningkatan produksi rumput laut ini juga tidak terlepas dari peran aktif dinas kelautan dan perikan Maluku yang ingin menggenjot produksi rumput laut pada tahun berikutnya. Selain itu, terbukti pengembangan budidaya rumput laut di Maluku dapat menanggulangi kemiskinan di provinsi ini. Penyerapan tenaga kerja dari budidaya rumput laut diperkirakan mencapai 5000-an orang pada tahun 2009.

Kerapu yang juga menjadi komoditas unggulan budidaya merupakan salah satu komoditas yang akan dinaikkan produksi pada tahun-tahun selanjutnya. Produksi kerapu yang terus mengalami tren positif setiap tahunnya dan potensi lahan yang masih terbuka menjadi alasan kenapa kerapu menjadi komoditas yang diunggulkan oleh provinsi ini.

Begitu pula dengan mutiara yang hasilnya telah dikenal. Produksi mutiara hasil budidaya dari Maluku dihargai sangat tinggi karena kualitasnya yang sangat bagus. Jika dilihat produksinya memang tidak terlihat sumbangan produksinya untuk total produksi perikanan budidaya namun jika menilik pada nilainya maka sungguh sangat tinggi nilainya bahkan mengalahkan harga udang dan kerapu.

Potensi perikanan budidaya provinsi Maluku tidak hanya pada budidaya lautnya saja. Budidaya tambak dan kolam juga diandalkan. Potensi kedua jenis budidaya ini juga masih terbuka lebar. Udang dan teripang adalah komoditas yang telah dibudidayakan di tambak pada provinsi ini dan merupakan komoditas andalan provinsi Maluku.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

KKP TETAP KONSISTEN RE-EKSPOR IKAN ILEGAL

KKP TETAP KONSISTEN RE-EKSPOR IKAN ILEGAL

Dalam upaya melindungi tingkat kesejahteraan nelayan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memutuskan untuk melakukan re-ekspor terhadap produk hasil perikanan yang melakukan impor secara illegal ke wilayah RI dari negara asalnya. Kegiatan re-ekspor telah dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Belawan dan pelabuhan serta bandara udara lainnya. “Jadi tidak benar kalau KKP meloloskan produk perikanan yang telah ditolak ke pasar domestik”, tegas Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Yulistyo Mudho hari ini (26/4) di Jakarta.

Lebih lanjut Yulistyo menjelaskan bahwa KKP tetap konsisten untuk menolak kehadiran impor ikan illegal ke wilayah Indonesia dan akan melakukan re-ekspor ke negara asal terhadap produk hasil perikanan tersebut. Kebijakan re-ekspor diambil KKP sebagai tindak lanjut pelaksanaan Permen No.17/2010 tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang diimpor ke dalam wilayah RI. Setidaknya hingga 5 April 2011 KKP mencatat telah menolak sebanyak 245 kontainer dan 423 box produk perikanan masuk ke wilayah republik Indonesia.

Dugaan banyak pihak yang menyebutkan bahwa beredarnya ikan illegal di pasaran domestik setelah mendapat izin dari KKP sebagaimana diberitakan beberapa media adalah tidak benar, tangkis Yulistyo. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) KKP hingga sejauh ini tidak mengeluarkan izin impor untuk kepentingan pasar eceran domestik untuk komoditas yang tersedia didalam negeri, (2) Izin yang dikeluarkan KKP tidak berlaku retroactive (berlaku surut) tetapi berlaku semenjak tanggal dikeluarkan izin hingga 6 (enam) bulan kedepan, (3) KKP secara konsisten terus melakukan pengawasan secara berjenjang untuk “mengamankan” pelaksanaan Kepmen No.17/MEN/2010.

Dalam merealisasikan pelaksanaan Permen tersebut, hingga 13 April 2011, KKP hanya menyetujui 15 perusahaan yang melakukan impor ikan untuk kegiatan pengolahan dan 8 perusahaan yang melakukan impor untuk memenuhi pasar domestik, sedangkan 15 perusahan yang berkeinginan untuk memenuhi pasar domestic lainnya ditolak. Sebanyak 15 perusahaan pengolah yang diizinkan diyakini dapat menumbuhkembangkan industri perikanan dalam negeri sehingga mampu meningkatkan devisa negara karena meningkatkan nilai tambah dan menampung tenaga kerja dalam jumlah besar. Sementara itu, 8 perusahaan yang diizinkan untuk melakukan impor ikan untuk memenuhi pasar domestik terbatas pada komoditas yang tidak tersedia di Indonesia, meliputi: salmon, trout, king fish, hindara, oyster, red king crab dan salem.

Dalam upaya menekan kasus impor ikan ilegal, Menteri Kelautan dan Perikanan telah meminta kepada seluruh jajaran pengawasan pemerintah, seperti Karantina, Bea Cukai untuk mencegah kasus seperti ini tak terulang. Ketentuan izin impor perikanan tujuannya untuk pengendalian impor ikan, sebab selama ini muncul indikasi banyak ikan beku yang diimpor untuk tujuan perdagangan dan konsumsi, bukan untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan sehingga mengganggu mekanisme pasar di dalam negeri.

Jakarta, 26 April 2011
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi

Dr. Ir. Yulistyo Mudho, M.Sc

Narasumber:
Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi

sumber : http://www.kkp.go.id

BLUE CARBON BAGI WARGA PESISIR

BLUE CARBON BAGI WARGA PESISIR

Karbon yang tersimpan dalam mangrove lebih tinggi dari yang terdapat di hutan tropis. Berperan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim

Wayan Sukitra melepaskan tali yang mengikat setiap perahu dengan tambatan-nya. Ada delapan perahu yang dinaiki anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), yang menyusun hutan mangrove seluas 9 kilometer persegi di Pulau Nusa Lembongan, Bali, pada 10 April. Hutan di Desa Jungut Batu ini menjadi tempat wisata semenjak 2003. Sebelumnya, kata Sukitra, warga menebangi mangrove untuk kayu bakar dan lahan industri garam. Kemudian seorang turis asal Prancis mengajak Sukitra mengembangkan wisata mangrove.

Warga lantas menanam bakau pada lahan kosong dan membentuk Mangrove Tour. Sekarang kelompok ini memiliki 33 perahu dan kafe serta toko cinderamata. Menurut Daniel Murdiyarso, peneliti Center for International Forestry Research (Cifor), apa yang dilakukan warga Jungut Batu merupakan bagian dari adaptasi perubahan II MH iklim.”Hutan bakau ILIVIU memiliki peran yang besar dan selama ini belum dieksplorasi,” katanya kepada wartawan peserta workshop yang diadakan Cifor dan SIEJ di Bali pada 8-11 April 2011.

Temyata, bukan hanya adaptasi, tapi hutan bakau juga memiliki peran dalam mitigasi perubahan iklim. “Kepadatan karbon hutan mangrove lebih tinggi empat kali daripada hutan tropis umumnya,” demikian kesimpulan penelitian. yang dilakukan Cifor dan USDA Forest Services (Departemen Pertanian Amerika Serikat Bidang Kehutanan). Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam Nature GeoScience edisi 3 April 2011. Riset ini dilakukan oleh Daniel C. Donato, J. Boone Kauffman, Daniel Murdiyarso, Sofyan Kurnianto, Melanie Stidham, dan Markku Kanninen. Sampel penelitian mereka ambil dari hutan mangrove di Kepulauan Mikronesia, Indonesia, India dan Bangladesh.

Menurut Daniel, ini merupakan studi yang pertama kali mengintegrasikan pentingnya mengukur total cadangan karbon berdasarkan .geografi atau luas wilayah hutan mangrove. Sebagian besar karbon disimpan di bawah hutan mangrove daripada di atas permukaan tanah dan air. Jumlah karbon yang tersimpan di atas tanah sebanyak 100-120 ton per hektare. Sementara yang di bawah tanah bisa 1.200-1.300 ton setiap hektare. “Itu untuk semua jenis mam/roue,” kata Daniel.

Stephen . Crooks, Direktur Perubahan Iklim Biro Konsultasi Perlindungan, Peningkatan, dan Perbaikan Ekosistem yang Bergantung pada Air (ESA-PWA), menjelaskan, hutan mangrove, rawa pasang-surut, dan padang lamun menghilangkan karbon dari atmosfer serta me-nguncinya di dalam tanah selama ratusan hingga ribuan tahun. Tidak seperti hutan daratan umumnya, ekosistem laut secara terus-menerus membangun kantong-kantong karbon. “Juga menyimpan blue carbon dalam jumlah besar ke sedimen dasar laut,” kata Crooks, yang hadir di Bali sebagai pembicara dalam lokakarya Tropical Wetland Ecosystems of Indonesia Science Needs to Address Climate Change Adaptation dan Mitigation.

Cecep Kusmana, ahli mangrove dari Institut Pertanian Bogor, juga menjadi pembicara dalam forum tersebut. Pada 2008 hingga 2010, dia melakukan penelitian Mangrove jenis api-api di Muara Angke, Jakarta Utara. “Mangrove usia 2 tahun berhasil menyerap 230 gram karbon dioksida per 100 gram daun,” katanya. Sedangkan satu pohon mangrove tersebut berat total daunnya sampai 1,5 kilo-gram. Daniel Murdiyarso dan teman-temannya juga menghitung bahwa perusakan dan degradasi ekosistem mangrove diperkirakan menghasilkan hingga 10 persen dari emisi deforestasi global. Sebab, yang hilang bukan hanya karbon di atas permukaan mangrove, tapi juga di bagian bawahnya.

Daniel berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melindungi hutan mangrove. Apalagi penelitian Cifor dan USDA menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. “Saat ini belum ada insentif bagi perlindungan hutan mangrove,” kata Crooks.

Menurut Crooks, upaya tersebut memiliki potensi dikaitkan dengan skema REDD+ (Reduction Emission from Degradation and Deforestation plus) dan mekanisme pendanaan karboaTanpa menunggu kucuran dana dari luar negeri, kelompok Mangrove Tbur di Pulau Nusa Lembongan, Bali, sudah menunjukkan kepada dunia bahwa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tidak harus merusak lingkungan.(Mine nimum)

Sumber : Koran Tempo 20 April 2011,hal. A12