Beternak Ikan Koi

Ikan koi memang indah. Sisiknya yang berwarna – warni dan bentuk tubuhnya yang menggemaskan, membuat ikan ini banyak dicari orang. Meskipun ikan koi ini bibitnya awalnya berasal dari Jepang, namun kini banyak dibudidayakan di dalam negeri, salah satunya oleh petani ikan koi di Sumedang, Jawa Barat.
Lokasi budidaya ikan koi di Sumedang dapat dicapai dari Jakarta melalui jalan Tol Jakarta ? Bandung. Pemandangan di sepanjang jalan tol sangat asri, dengan hamparan sawah, dan jembatan kereta api. Keluar di Pintu Tol Cileunyi, lalu mengambil arah ke kota Sumedang.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Desa Padasuka, Sumedang Utara. Dari kota Sumedang dapat ditempuh sekitar setengah jam perjalanan. Disinilah tempat budidaya ikan koi. Salah satunya milik Pak Taufik, yang tergabung dalam kelompok pada suka koi.
Ikan koi di kolam ini telah cukup dewasa untuk dipindahkan ke kolam air jernih. Pengambilan ikan dari kolam dilakukan dengan menggunakan jarring. Melihat ikan koi yang besar dan lucu, saya jadi tertarik untuk memegangnya. Namun menangkap ikan koi di kolam ternyata tidak mudah.
Budidaya ikan koi tidak gampang. Perlu ketelitian dan kesabaran. Induk ikan mula – mula disatukan di kolam pemijahan. Induk ikan dipilih yang sehat dan telah matang gonad.

Di kolam ini diisi satu induk betina dan dua induk jantan. Ini dikarenakan ukuran induk betina lebih besar dari induk jantan.

Anak ikan koi yang telah menetas kemudian diletakkan di kolam air keruh. Di kolam ini berisi ribuan anak ikan koi. Agar cepat besar, anak ikan diberi makan pelet khusus secara teratur. Pemberian pakan dilakukan pada pagi dan sore hari.
Di kolam inilah ikan koi dewasa dikarantina agar bersih dari penyakit dan penampilannya lebih cemerlang. Agar ikan tumbuh sehat dan tidak stress, kolam dibuat sedalam 1,7 meter. Kali ini saya juga didampingi Ibu Yati dari dinas peternakan dan perikanan Sumedang, yang kebetulan juga sedang berkunjung ke tempat ini.
Ikan koi hasil produksi petani ikan hias disini dijual ke sekitar wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Harganya per ekor mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Budidaya ikan koi merupakan pilihan usaha di bidang perikanan yang menguntungkan. Omset petani ikan koi disini setiap bulannya bisa mencapai 20 juta rupiah.

Beternak Udang

Di beberapa negara tujuan Ekspor Udang seperti Jepang, Amerika dan Uni Eropa, pada umumnya membuat syarat produk yang diimpornya memenuhi kriteria sebagai safety food, sebagai berikut.

  • Udang yang diimpor harus bebas dari logam berat, khususnya merkuri (Hg) dan timbal (Pb).
  • Udang harus segar dan bebas dari H2S, black spot dan indol.
  • Udang harus bersih, bebas dari cemaran bakteri seperti Salmonella, Vibrio dan E. colii.
  • Udang harus bebas dari residu hormon dan antibiotik.


Tidak terpenuhinya salah satu dari prasyarat tersebut dapat berakibat pada penahanan dan penolakan produk tersebut, khususnya oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Biasanya Amerika Serikat akan mengenakan Automatic Detention (penahanan otomatis), sementara Uni Eropa mengeluarkan Rapid Alert System terhadap semua produk dari suatu negara sampai waktu tertentu apabila produk tersebut telah dianggap aman.
Isu-isu lingkungan juga menjadi prasyarat bisa diterimanya produk perikanan udang oleh negara importir. Beberapa bulan yang lalu ekspor udang Indonesia tidak bisa masuk Amerika Serikat dengan alasan perahu nelayan tidak dilengkapi dengan turtle excluded device (TED) pada jaring udangnya. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat di Uni Eropa yang dimotori oleh Global Aquaculture Alliance mengadakan kampanye penolakan udang tambak dari negara-negara yang merusak lingkungan dengan cara membabat hutan bakau menjadi lahan tambak.

Kolam Belut

Pada umumnya yang membuat ketidak berhasilan budidaya belut adalah media tanam. Untuk budidaya belut, komponen utama ini sangat menentukan dan untuk menjaga stabilitas media tanam perlu diperhatikan dengan teliti.
Banyak petani yang mencoba mengadu nasib dengan membudidayakan belut, gulung tikar dan menjadi momok tersendiri bagi pelaku belut. Tak urung keinginan untuk melakoni budidaya belut harus ditunda dahulu sebelum menemukan media yang tepat dan ideal.
Idealnya, media tanam belut adalah sesuai dengan habitatnya di alam persawahan, karena pada keadaan ekstreem pun belut masih dapat hidup dan berkembang biak.
Belut memang berbeda dengan ikan budidaya lainnya. Sehingga diperlukan perhatian yang khusus. Dalam budidaya belut tetap diterapkan, adalah dengan memberikan sirkulasi air pagi dan sore hari, hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesan pada belut agar merasa seperti hidup di alamnya sendiri.
Sebelum kolam digunakan, isilah dengan air hingga penuh, gosok dan bersihkan tembok kolam agar bau semennya hilang, masukkan daun pisang dan ampas kelapa. Ganti dan gosok kembali setelah 5 hari direndam air. Ulangi lagi hingga bersih, baik jika ditambahkan kapur pada air rendaman tersebut, diamkan selama 1 minggu,
Paling sederhana dan mudah untuk pembuatan media tanam belut, adalah dengan memberikan tanah/lumpur, pupuk kandang (kotoran Kambing tidak dianjurkan), jerami padi, gedebog pisang, SUPERNASA dan TON.
Sebaiknya, tanah dan pupuk kandang diaduk diluar kolam hinga merata, lalu siram dengan SUPERNASA sepertiga (1/3) botol yang telah dicairkan, biarkan 2 hari agar kering. Selanjutnya, masukan sepertiga bagian adukan tadi kedalam kolam, taburkan jerami padi dan gedebog pisang, lalu taburkan TON seperempat (1/4) botol secara merata.
Sisa tanah adukan dengan pupuk kandang yang masih diluar kolam tadi dimasukkan kedalam kolam dengan maksud menutup jerami padi dan gedebog pisang agar terjadi proses pembusukan didalam kolam budidaya. Setelah semua media telah dimasukkan kedalam kolam, isilah dengan air sampai dengan ketinggian air 5 – 10 cm, taburkan kembali TON  3 – 4 sendok makan secara merata lalu dibiarkan selama 1 minggu.
Setelah 1 minggu air dibiarkan dikolam, alirkan keluar secara perlahan dengan memasukan air baru pada pagi hari dan sore hari selama minimal 15 menit, maksudnya adalah membuang gas dan limbah hasil proses fermentasi. Setelah 2 – 3 hari dilakukan pergantian air, periksalah media tanam tersebut dengan cara sederhana adalah memasukkan tangan kedalam media, bila tidak terasa panas maka bibit sudah siap dimasukkan dalam kolam.
Catatan :
SUPERNASA  adalah pupuk organik yang mempunyai sifat cepat menumbuhkan  cacing pada media tanah dan menyuburkan/menggemburkan tanah, Walaupun menggunakan tanah merah yang padat. Lain halnya dengan TON, lebih berfungsi sebagai pengikat kandungan logam dan senyawa yang berbahaya bagi pertumbuhan belut juga, berfungsi menimbulkan dan menghidupkan plankton serta mikro biologi lainnya sebagai salah satu bagian pakan belut.

Kolam Udang

a.Lokasi
1.Kolam  dekat sumber air dan mudah mendapatkan air tawar yang bersih, bebas dari pencemaran limbah industri,
2.Fasilitas transportasi (jalan atau sungai) yang memadai untuk mempermudah pengangkutan sarana produksi (pakan, benur), hasil panen dan lain-lain
b. Sumber air
1.Air tawar bebas/bersih dari bahan pencemaran dan perlu disaring/diendapkan sebelum dimasukan kedalam kolam  (menghindari masuknya jasad kompetitor dan predator).
2.Air tawar berasal dari sungai maupun air bawah tanah (pengeboran) yang bebas pencemaran.
c. Fasilitas, Peralatan dan Mesin
1.Tersedianya kolam  pemeliharaan yang bentuk dan luasnya disesuaikan, kolam cadangan air, pintu air pembuangan dan pemasukan yang terpisah dan memadai, peralatan uji kualitas air, gudang penyimpanan pakan, jaring dan lain-lain.
2. Sumber tenaga untuk penggerak air seperti pompa air, kincir air dan perlengkapan penunjang lainnya (Jika diperlukan sesuai padat penebaran).
3. Kapasitas sumber tenaga hendaknya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan.
d. Ukuran dan Dasar kolam
1.Ukuran kolam  yang disesuaikan luas standar + 500 – 1.000 m2 per petak untuk memudahkan pemanenan, perawatan, penggantian air dan pengawasanya.
2. Dasar kolam yang baik terdiri dari kombinasi tanah lumpur dan pasir.
3. Udang galah mempunyai daerah produktif dibagian pinggir kolam dekat tanggul, sehingga makin panjang bentuk kolam, maka makin luas daerah produktifnya.
SISTEM PEMELIHARAAN
a.Tahap Persiapan
1.Perbaikan pematang, pembuatan kemalir dan perbaikan kemiringan kolam dari pintu pemasukan air kearah pintu pengeluaran air, pemasangan saringan pada pintu masuk untuk menghindari masuknya kotoran atau binatang pemangsa.
2. Pengeringan dan pengolahan tanah sangat dianjurkan. Apabila dalam pengeringan mengalami kesulitan, pemberian kapur tohor guna memperbaiki struktur tanah perlu dilakukan (dosis disesuaikan dengan pH tanah dan jenis tanah)
3. Pemberantasan hama dan penyakit dapat menggunakan Saponin, Brestan 60, Rotenon dan zat-zat pemberantasan lainnya yang dianjurkan.
4. Untuk meningkatkan produktivitas lahan perlu pemberian pupuk/bahan organik (kompos dan lain-lain) diperlukan guna merangsang pertumbuhan jasad renik untuk makanan alami benur udang galah, penggunaan disesuaikan dengan daya dukung lahan:
a. Penggunaan pupuk:
• Pupuk kandang : 100 – 200 gr/m2
• Pupuk Urea : 5 – 10 gr/m2
• Pupuk TSP : 10 – 20 gr/m2
• Kapur Tohor : 100 – 200 gr/m2
b. Pemupukan susulan dilakukan setiap 1 – 2 Minggu sekali dengan dosis:
• Pupuk kandang : 25 – 50 gr/m2
• Pupuk Urea : 3 – 5 gr/m2
• Pupuk TSP : 5 – 10 gr/m2
c. Pengisian air secara bertahap untuk disesuaikan dengan tahap pertumbuhan udang (tahap pendederan: 30-60 cm, pembesaran: 1-1,5 m). Setelah kondisi warna air stabil benur dapat ditebarkan.
d. Pemberian rumpon/shelter sebagai tempat berlindung/ berpijak, berupa daun kelapa, dan nipah, ranting bambu/ bambu belah dll.
5. Penebaran Benur :
a. Pilih benur yang baik dan sehat (baik dari alami maupun panti pembenihan) dengan tanda sebagai berikut; gerakan lincah, warna coklat/hitam cerah, ukuran seragam (homogen) dan lain-lain.
b. Benur ditebarkan ketempat yang telah dipersiapkan misal kolam pendederan, ataupun langsung ke kolam pemeliharaan yang telah dibebas hamakan sebelumnya. Penebaran sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar udang tidak mengalami stress.
6. Kepadatan Benur :
Kepadatan benur yang dianjurkan disesuaikan dengan tehnologi/pola usaha yang digunakan :
• Penebaran benur udang galah menurut pengalaman petani dilakukan penebaran dengan kepadatan untuk ukuran Juvenil: 10 – 20 ekor/m2 dan untuk Tokolan kepadatan 5 – 10 ekor/m2, mengingat tehnologi dan pola budidaya yang digunakan dikatagorikan masih sangat sederhana (tradisional).
• Untuk teknologi yang menggunakan pola tanam intensif, kepadatan benur yang ditebar berkisar 20 ekor/m2 ke atas, dan sangat tergantung dari daya dukung lahan, fasilitas/sarana/prasarana budidaya yang dimiliki serta kemampuan skil dan permodalan pembudidaya.
b. Pengendalian Kualitas Air
1.Kadar Garam (Salinitas)
• Kadar garam yang baik untuk pertumbuhan udang galah berkisar antara 0 – 5 ppt (diukur dengan salinometer atau refractometer).
2. Warna dan Kekeruhan Air
a. Warna air hijau dan coklat adalah warna plankton atau jasad renik makanan alami udang galah. Perubahan warna secara mendadak akibat lingkungan kurang baik segera deperiksa guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
b. Kekeruhan akibat blomming plankton perlu dicegah dengan mempertahankan kejernihan sedalam 25-35 cm (diukur dengan Seichi Disk). Apabila kekeruhan lebih dangkal dari ketentuan diatas perlu ditambahkan air bersih bersamaan dengan pembuangan air.
3. Kandungan pH :
a. pH air yang baik sekitar 7,5- 8,5 yang diukur secara tetap
b. Apabila pH rendah perlu ditambahkan kapur, dan pH tinggi perlu penambahan air bersih baru (diukur dengan kertas lakmus atau pH pen).
4. Kandungan Oksigen :
a. Apabila kandungan Oksigen rendah; udang akan berenang kepermukaan air atau pinggir tambak. Apabila diganggu atau terkena bayangan orang, udang tersebut tidak segera masuk ke permukaan yang lebih dalam.
b. Kandungan oksigen yang baik minimum 4 ppm (diukur dengan DO meter).
c. Untuk menghindari hal-hal tersebut:
• Gunakan blower/kincir air dalam jumlah yang cukup
• Tambahkan air segar
• Jagalah warna dan kualitas air tetap stabil.
• Rubahlah jumlah makanan yang diberikan agar tidak terkumpul didasar

Pemilihan Lokasi Budidaya Udang Windu 1) Lokasi yang cocok untuk tambak udang adalah pada daerah sepanjang pantai (beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28 derajat C.
2) Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah dipadatkan dan tidak pecah-pecah.
3) Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir, dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak boleh porous (ngrokos).
4) Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar tergantung jenis udang yang dipelihara. Daerah yang paling cocok untuk pertambakan adalah daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 2-3 meter.
5) Parameter fisik: suhu/temperatur=26-30 derajat C; kadar garam/salinitas=0- 35 permil dan optimal=10-30 permil; kecerahan air=25-30 cm (diukur dengan secchi disk)
6) Parameter kimia: pH=7,5-8,5; DO=4-8 mg/liter; Amonia (NH3) < 0,1 mg/liter; H2S< 0,1 mg/liter; Nitrat (NO3-)=200 mg/liter; Nitrit (NO3-)=0,5 mg/liter; Mercuri (Hg)=0-0,002 mg/liter; Tembaga (Cu)=0-0,02 mg/liter; Seng (Zn)=0- 0,02 mg/liter; Krom Heksavalen (Cr)=0-0,05 mg/liter; Kadmiun (Cd)=0-0,01 mg/liter; Timbal (Pb)=0-0,03 mg/liter; Arsen (Ar)=0-1 mg/liter; Selenium (Se)=0-0,05 mg/liter; Sianida (CN)=0-0,02 mg/liter; Sulfida (S)=0-0,002
mg/liter; Flourida (F)=0-1,5 mg/liter; dan Klorin bebas (Cl2)=0-0,003 mg/liter

Ikan ini berumur panjang ! Ditemukan Hidup, 4 Bulan Usai Gempa

Anak berumur 5 tahun dengan ikan mas koki yang berhasil bertahan hidup setelah dilanda gempa di kantor ibunya.

Dua ekor ikan mas koki berhasil bertahan hidup di dalam akuarium setelah 134 hari tidak ada yang memberi makan atau membersihkan air akuarium tersebut. Mereka ditemukan oleh Vicky Thornley, pemilik ikan mas koki yang untuk pertamakalinya diperbolehkan kembali ke kantornya yang hancur berantakan di pusat kota Christchurch, Selandia Baru.

Shaggy dan Daphne, nama kedua ikan mas koki itu, kemungkinan bisa bertahan karena memakan lumut atau ganggang. Mereka kemungkinan juga mendapatkan sumber nutrisi lain, karena tiga rekan mereka yang lain tidak ditemukan di akuarium tersebut.

“Ketika gempa terjadi, saya mengenggam akuarium penyimpanan ikan itu, baik untuk mencegahnya jatuh pecah dan agar saya tetap bisa berdiri,” kata Thornley seperti dikutip dari Independent, 1 Agustus 2011. “Namun setelah itu, pikiran saya langsung tertuju ke anak saya yang ternyata tidak mengalami luka-luka,” ucapnya.

Berhubung sebagian besar kota itu hancur, baru beberapa waktu lalu ia diperkenankan kembali mendatangi kantornya. “Itupun hanya boleh satu jam dan di bawah pengawasan,” ucap Thornley.

Thornley menyebutkan, ketika itu ia tidak melihat akuarium ikan mas koki itu karena berasumsi bahwa hewan peliharannya itu telah tewas. Namun ia baru menyadari ketika seorang petugas menyerukan: “Hei, ada ikan di sini dan masih hidup.”

“Seketika itu saya langsung terkejut,” kata Thornley. “Ikan mas itu tampak pucat, tetapi dalam kondisi sehat.

Menurut Paul Clarkson, kurator dari Monterey Bay Aquarium di California, Amerika Serikat, ikan mas itu beruntung karena tinggal di akuarium yang besar yang memiliki banyak lumut dan ganggang yang tumbuh di bebatuan dan dinding aquarium. “Berhubung tidak ada listrik untuk mengaktifkan penyaring air, bakteri yang tumbuh secara alami telah membantu ikan mas itu tetap hidup dengan menjaga kondisi air,” ucapnya.

sumber : Vivanews

Banyaknya Jumlah Pemberian Ransum Harian Sesuai Umur Ikan

Banyaknya jumlah pemberian ransum harian hendaknya sesuai dengan umur Ikan peliharaan yg sedang Anda ternak-kan. Hal ini dilakukan agar gizi harian yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan dapat terpenuhi secara efektif dan efisien. Dengan demikian maka proses pembesaran dapat diperoleh dalam waktu yg tidak terlalu lama.Ransum harian adalah porsi makanan tertentu ukurannya untuk setiap orang atau setiap ternak per hari.Selain itu, dgn mengetahui banyaknya jumlah pemberian ransum harian yg sesuai umur ikan maka ikan akan terhindar dari pemborosan ataupun kekurangan makan, sebagai akibat dari pemberian pakan yang salah.Berikut ini Tabel yang menunjukkan Banyaknya Jumlah Pemberian Ransum Harian Sesuai Umur Ikan

Jenis Jenis ikan cupang [LENGKAP]






Cupang adalah salah satu ikan hias yang terkenal dengan keindahannya serta keargesifannya. Ikan yang dikenal sebagai ikan petarung ini memiliki banyak jenis. Ikan ini tidak memerlukan sirkulasi udara untuk bernafas, namun mereka dapat mengambil sendiri nafas .


Saya sendiri dulu banyak mengkoleksi ikan ini, sebagai ikan hias, maupun dipertarungkan. Lalu apa saja jenis jenisnya ???


1. Halfmoon



2. Plakat






3. Crowntail





4.Double Tail





5. Giant







Yeah, itulah jenis jenis cupang yang terkenal . Jadi, yang mana yang kalian suka ???


sumber gambar : Google

Melihat Proses Pembuatan Ikan Sardines

Olahan ikan yang satu ini memang kerap kali dijadikan solusi bagi sebagian orang yang malas memasak ikan segar. Selain, rasanya yang enak dan gurih kemudahan pengolahan yang ditawarkan membuat sarden semakin akrab saja di kalangan masyarakat. Bermacam olahan juga bisa dibuat dari olahan ikan yang dikemas dalam wadah kaleng ini, mulai dari ditumis, dicampur sayuran hijau, dimakan dengan roti tawar, dijadikan saus spaghetti, dll. Emmm.. Yummy.. Nah, penasaran kan asal muasal tercipta dan bagaimana cara Pembuatan Ikan Sardines ini??? Yuk, kita intip bareng-bareng


Pengalengan ikan adalah salah satu teknik pengolahan dengan cara memanaskan ikan dalam wadah kaleng yang ditutup rapat untuk menonaktifkan enzim, membunuh mikroorganisme, dan mengubah ikan dalam bentuk mentah menjadi produk yang siap disajikan tetapi memiliki kandungan nilai gizi yang sedikit menurun karena proses denaturasi protein akibat proses pemanasan bila dibandingkan dengan ikan segar, namun lebih tinggi bila dibandingkan sumber protein nabati seperti tahu dan tempe.

Metode pengawetan dengan cara pengalengan ditemukan oleh Nicholas Appert, seorang ilmuwan Prancis. Pengalengan makanan merupakan suatu cara pengawetan bahan bahan makanan yang dikemas secara hermetis dan kemudian disterilkan. Pengemasan secara hermetis dapat diartikan bahwa penutupannya sangat rapat, sehingga tidak dapat ditembus oleh udara, air, kerusakan akibat oksidasi, ataupun perubahan cita rasa. Di dalam pengalengan makanan, bahan pangan dikemas secara hermetis (hermetic) dalam suatu wadah, baik kaleng, gelas, atau alumunium. 

Pada pengawetan pangan, secara teknis ada beberapa cara yang menggunakan prinsip mikrobiologis yaitu mengurangi jumlah seminimal mungkin mikroorganisme pembusuk, mengurangi kontaminasi mikroorganisme, menciptakan suasana lingkungan yang tidak disukai oleh mikroorganisme dengan cara pemanasan dan radiasi. Pemusnahan mikroorganisme dengan pemanasan pada pengalengan ikan pada prinsipnya menyebabkan denaturasi protein, serta menonaktifkan enzim yang membantu proses metabolisme. Penerpan panas dapat bermacam-macam tergantung dari jenis mikroorganismenya, fase mikroorganisme, dan kondisi lingkungan spora bakteri. Semakin rendah suhu yang diberikan semakin banyak waktu yang diperlukan untuk pemanasan. Pada pengalengan, yang perlu diwaspadai adalah bakteri anaerob seperti Closteridium botullinum yang tahan terhadap suhu tinggi.


TAHAPAN PENGALENGAN IKAN
A. Pengadaaan Bahan Baku Ikan Segar. Ikan yang akan dijadikan sarden bisanya didapat dari nelayan ikan, ikan-ikan dijual langsung oleh pemilik perahu atau dikumpulkan terlebih dahulu oleh pengepul. Ikan yang digunakan sebagai bahan baku umumnya tergolong ikan pelagis ukuran kecil yang hidup bergerombol seperti ikan Lemuru, ikan Sardin, ikan Tamban, ikan Balo, dan ikan Layang.
 
B. Pengguntingan (cutting). Bahan baku ikan segar yang sudah dibeli pabrik akan langsung diproses. Tahapan pertama disebut dengan pengguntingan (cutting) alat yang digunakan adalah gunting besi. Ikan digunting pada bagian pre dorsal (dekat dengan kepala) kebawah kemudian sedikit ditarik untuk mengeluarkan isi perut. Ikan balo diberikan sedikit perlakuan khusus yaitu sebelum digunting sisik-sisik yang terdapat diseluruh badannya dihilangkan terlebih dahulu dengan menggunakan pisau. Dalam tahapan pengguntingan juga dilakukan sortasi. Bahan baku ikan disortasi dari campuran ikan yang lain dan dari sampah serta serpihan karang yang ikut terbawa saat proses penangkapan ikan. Ikan yang sudah digunting ditempatkan dalam keranjang plastik kecil. Setelah keranjang penuh, ikan dimasukkan dalam mesin rotary untuk dilakukan proses pencucian.
C. Pengisian (Filling). Ikan yang keluar dari mesin rotary ditampung dalam keranjang plastik, lalu dibawa ke meja pengisian untuk diisikan kedalam kaleng. Diatas meja pengisian terdapat pipa air yang digunakan untuk melakukan pencucian ulang sebelum ikan diisikan kedalam kaleng. Posisi ikan didalam kaleng diatur, misalnya untuk membuat produk kaleng kecil setelah penghitungan rendemen ditentukan bahwa jumlah ikan yang diisikan kedalam kaleng adalah 4 ekor ikan. Ikan-ikan tersebut diisikan dalam kaleng dengan posisi 2 buah pangkal ekor menghadap kebawah dan 2 ekor lagi menghadap keatas. Kaleng yang sudah diisi ikan diletakkan diatas conveyor yang terus berjalan disamping meja pengisian untuk masuk tahapan berikutnya.
D. Pemasakan Awal (Pree Cooking). Dengan bantuan conveyor kaleng yang sudah terisi ikan masuk kedalam exhaust box yang panjangnya +12 m, di dalam exhaust box ikan dimasak dengan menggunakan uap panas yang dihasilkan oleh boiler. Suhu yang digunakan + 800C, proses pree cooking ini berlangsung selama + 10 menit. Setelah proses pemasakan selesai produk keluar dari exhaust box dilanjutkan dengan tahapan selanjutnya yaitu penirisan (decanting). 
E. Penghampaan (Exhausting). Penghampaan dilakukan dengan menambahkan medium pengalengan berupa saos cabai atau saos tomat dan minyak sayur (vegetable oil). Suhu saos dan minyak sayur yang digunakan adalah +80 0C. Pengisian saos dilakukan secara mekanis dengan menggunakan filler. Pada prinsipnya proses penghampaan ini dapat dilakukan melalui 2 macam cara, biasanya pabrik berskala kecil exhausting dilakukan dengan cara melakukan pemanasan pendahuluan terhadap produk, kemudian produk tersebut diisikan kedalam kaleng dalam keadaan panas dan wadah ditutup, juga dalam keadaan masih panas. Untuk beberapa jenis produk, exhausting dapat pula dilakukan dengan cara menambahkan medium pengalengan misalnya air, sirup, saos, minyak, atau larutan garam mendidih. Sedangkan, pabrik pengalengan berskala besar melakukanexhausting dengan cara mekanis, dan dinamakan pengepakan vakum (vacuum packed). Cara kerjanya adalah menarik oksigen dan gas-gas lain dari dalam kaleng dan kemudian segera dilakukan penutupan wadah.
F. Penutupan Wadah Kaleng (Seaming). Penutupan wadah kaleng dilakukan dengan menggunakan double seamer machine. Seorang karyawan bertugas mengoprasikan double seamer machine dan mengisi tutup kaleng kedalam mesin. Kecepatan yang digunakan bervariasi. Double seamer untuk kemasan kaleng kotak dioprasikan dengan kecepatan penutupan 84 kaleng permenit (kecepatan maximum 200 kaleng permenit), double seamer untuk kaleng kecil dioperasikan dengan kecepatan penutupan 375 kaleng permenit (kecepatan maximum 500 kaleng permenit) sedangkan untuk double seamer kaleng besar dioperasikan dengan kecepatan 200 kaleng permenit (kecepatan maximum 500 kaleng permenit). Tutup kaleng yang dipakai adalah tutup kaleng yang sudah terlebih dahulu diberi kode tanggal kedaluwarsa diruang jet print. Ruang jet print sengaja dibuat berdekatan dengan ruang seamer sehingga tutup kaleng yang sudah diberi kode dengan segera dapat dipakai untuk penutupan wadah kaleng. Nah, tanggal kedaluwarsa ini penting banget buat kita. Sebelum membeli produk makanan apapun tak terkecuali sarden perhatikanlah kode dibawah kaleng, lihat dengan seksama tanggal kedaluwarsanya. Hal ini semata-mata untuk menjaga kesehatan kita. Di pabrik pengalengan sendiri penentuan tanggal kedaluwarsa merupakan bagian yang sangat penting. Jangka waktu kedaluwarsa telah ditentukan oleh pihak perusahaan dengan berdasarkan pengujian makanan yang dilakukan oleh pihak perusahaan di departemen kesehatan
G. Sterilisasi (Processing). Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan retort. Dalam satu kali proses sterilisasi dapat mensterilkan 4 keranjang besi produk ikan kalengan atau setara dengan +6.800 kaleng kecil atau 3.400 kaleng besar. Suhu yang digunakan antara 115 – 117 0C dengan tekanan 0,8 atm, selama 85 menit jika yang disterilisasi adalah kaleng kecil dan 105 menit untuk kaleng besar. Sterilisasi dilakukan dengan memasukkan keranjang besi kedalam menggunakan bantuan rel. Sterilisasi dilakukan tidak hanya bertujuan untuk menghancurkan mikroba pembusuk dan pathogen, tetapi berguna untuk membuat produk menjadi cukup masak, yaitu dilihat dari penampilan, tekstur dan cita rasanya sesuai dengan yang diinginkan.
H. Pendinginan dan Pengepakan. Ikan kalengan yang sudah disterilisasi dikeluarkan dari dalam retort, kemudian diangkat dengan katrol untuk didinginkan dalam bak pendinginan bervolume 16.5 m3 yang diisi dengan air yang mengalir. Pendinginan dilakukan selama 15 menit. Produk setelah didinginkan diistirahatkan terlebih dahulu ditempat pengistirahatan(Rested area) untuk menunggu giliran pengepakan (packing). Packing diawali dengan aktivitas pengelapan untuk membersihkan sisa air proses pendinginan, setelah itu produk dimasukkan kedalam karton. Produk yang kemasannya sudah diberi label (label cat) bisa langsung di packing, sementara produk yang kemasannya kosong terlebih dahulu diberi label kertas sesuai dengan keinginan produsen.
Sudah cukup jelaskan??? Postingan ini tidak hanya dibuat melalui lirik sana-sini, melainkan pengalaman pribadi penulis dalam rangka magang kerja di pabrik pengalengan ikan. Semoga bermanfaat buat kita semua
sumber : Wong Ndeso

Cara Menjaga Kualitas Air Kolam Ikan

Kualitas air kolam haruslah dijaga dengan baik agar pertumbuhan ikan peliharaan bisa maksimal. Air merupakan habitat bagi kelangsungan hidup ikan air tawar, jika habitatnya baik maka ikan pun akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula.Ada banyak faktor yg mempengaruhi kualitas air kolam, namun yg terpenting harus dijaga yaitu keadaan suhu serta kadar oksigen. Suhu air sangat berpengaruh terhadap kondisi nafsu makan dari ikan-ikan yg hidup didalamnya. ketidak-stabilan dan ketidak-cocokan suhu air kolam menyebabkan terganggunya nafsu makan ikan sehingga pakan yg telah diberikan banyak yg tidak termakan. Sisa-sisa pakan yg  masih terdapat di air kolam lama kelamaan akan membusuk & menghasilkan senyawa beracun. Akibat dari reaksi pembusukan ini bisa menyebabkan kadar Oksigen menurun. Jika air kolam kekurangan Oksigen maka ikan-ikan akan menjadi lemas dan hilang nafsu makan. Apalagi jika penghuninya terlalu padat.Untuk itu untuk kita harus menjaga kualitas air kolam agar pertumbuhan dan perkembangan ikan bisa maksimal dengan cara:

Bentuk atau Jenis Pakan Buatan Ikan Peliharaan Air Tawar

Macam-macam bentuk serta jenis pakan buatan untuk ikan peliharaan air tawar sebetulnya banyak sekali. Namun secara umum dapat kita golongkan menjadi 3 golongan, yaitu: pakan kering, lembab dan basah.

Pakan Kering

Pakan kering dapat dibuat dalam bentuk pelet, remah (crumble), butiran (granular), tepung(meal atau mash), dan lembaran (flake). Pelet dapat dibuat dalam beragam bentuk dan jenis, seperti batang, bulat atau gilik (bulat memanjang). Ukuran panjang dan diameternya disesuaikan dengan ukuran ikan peliharaan yg akan diberi makan. Ukuran pelet berkisar antara 3 – 3,5 mm. Daya tahan atau kekerasan pelet dipengaruhi oleh bahan baku, cara membuatnya dan penggunaan perekatnya.Bentuk remah, butiran dan tepung sebenarnya berasal dari pelet yg digiling lalu diayak dgn mata ayakan tertentu sesuai dengan bentuk yg diinginkan.

Pakan Lembab

Pakan lembab dapat berbentuk bola atau bakso, dan roti kukus (cake). Sebelum diumpankan untuk burayak ikan, roti kukus tadi dihancurkan didalam air sambil disaring dengan ukuran mata saringan tertentu sehingga menjadi bentuk suspensi. Jenis pakan lembab berbentuk bakso cocok untuk ikan salam.Untuk pakan basah umumnya berbentuk bubur atau pasta (paste)Berikut ini tabel Bentuk atau Jenis Pakan Buatan untuk Ikan Peliharaan Air Tawar