Menciptakan Budaya Korporat Positif

Views :1494 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 09 Mei 2011 11:14
budaya_perusahaan_67Budaya korporat bukanlah suatu hal yang bisa didefinisikan. Budaya korporat tidak memiliki wujud yang nyata. Ia ‘hanya’ sebuah keyakinan, pemahaman dalam pikiran manusia, sebuah perasaan, sebuah kesadaran yang tertanam dalam sebuah perusahaan dan karyawan yang berada di dalamnya. Jika Anda bertanya kepada dua CEO perusahaan yang berbeda, jawaban mereka tentang budaya korporat yang mereka anut bisa sangat bertolak belakang.

Hal terpenting dalam sebuah budaya korporat yang berkualitas tinggi bukan rentetan kata sifat yang positif tetapi bagaimana membuat budaya tersebut terealisasi secara nyata dalam perusahaan. Karyawan ialah aset terbesar dan saat bisnis melesat dengan pesat, Anda membutuhkan sebuah budaya korporat yang kokoh. Lalu bagaimana mendirikan sebuah budaya korporat yang seperti ini, simak enam poin berikut.

1. Tentukan warisan Anda

Tentukan perusahaan macam apa yang Anda inginkan. Banyak orang meninggalkan lingkungan perusahaan mereka dan bergabung dalam sebuah bisnis kecil karena mereka diperlakukan secara semena-mena. Pikirkan tentang apa yang orang akan bicarakan tentang usaha Anda saat mereka meninggalkan bisnis Anda dan bekerja di tempat lain.

2. Rekrut dengan cerdas

Rekrutlah orang yang tepat dan sesuai. Sebuah perusahaan bisa saja memiliki sebuah visi hebat tetapi ia tetap saja butuh sebuah tim yang hebat untuk mewujudkan visi tersebut. Sebagian besar pekerja telah memiliki pekerjaan masing-masing. Pastikan Anda memiliki diferensiasi dalam pekerjaan.

3. Dengarkan

Umpan balik antaratasan sangat disepelekan di berbagai perusahaan baik besar maupun kecil. “Tanyakan pada karyawan Anda apa yang mereka sukai saat bekerja dalam perusahaan Anda, apa yang mereka kurang sukai dan apa yang mereka akan kerjakan dengan cara berbeda jika perusahaan itu adalah milik mereka sendiri. Fokuslah pada kebutuhan karyawan sehingga bisa tercipta budaya korporat positif yang kuat.”

4. Libatkan

Pertimbangkan untuk saling berbagi tujuan perusahaan dan keuangan baik yang baik dan buruk dengan karyawan Anda. Bukalah sebuah jalur komunikasi yang bisa menciptakan sebuah budaya keterbukaan dalam perusahaan Anda dan para karyawan bisa lebih terlibat dalam keberhasilan bisnis Anda.

5. Imbalan

Sanjungan selalu berhasil menunjukkan apresiasi kita kepada seseorang terutama saat datang dari seseorang yang lebih senior atau atasan kita. “Berikan pengakuan di saat-saat yang tepat dan diperlukan. Mengakui dan memberikan imbalan atas prestasi menjadi sebuah cara untuk memberikan semangat yang lebih tinggi kepada parea karyawan.”

6. Bersiap untuk berubah

Mengubah budaya sebuah perusahaan membutuhkan  waktu, kesabaran dan dedikasi yang tak terhingga. Budaya perusahaan ini bisa diubah dengan melakukan serangkaian perubahan kecil yang nyata. (*/Akhlis)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/183-hrd/8124-menciptakan-budaya-korporat-positif.html

Mengenal Budaya Perusahaan

Mengenal Budaya Perusahaan Views :1167 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 06 Mei 2011 09:48
Membicarakan budaya perusahaan selalu menarik. Seribu kisah dan teori, seribu pertanyaan dan jawaban belum dapat mengungkap sepenuhnya apa itu budaya perusahaan.

budaya_perusahaanYang kita bicarakan ini adalah salah satu di antara sekian ribu tadi untuk menambah perbendaharaan pengetahuan Anda akan hal ini. Budaya perusahaan atau ada juga yang menyebutnya budaya organisasi sangat situasional, berbeda dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dari satu negara ke negara lain. Banyak faktor yang memengaruhinya. Pertama, lokasi di mana perusahaan berada, di negara Barat berbeda dengan di Timur, di negara maju berbeda dengan di negara berkembang dan terbelakang, di benua satu berbeda dengan benua lain.

Kedua, latar belakang manusia yang ada di perusahaan itu, dari segi suku, bahasa, agama atau iman kepercayaan, status sosial, tingkat pendidikan. Ketiga, latar belakang perusahaan; ukuran perusahaan besar, menengah, dan kecil; infrastruktur yang dimiliki; skala internasional, nasional, dan lokal; jenis perusahaan: servis dan manufaktur; kepemilikan: privat atau publik, joint-venture; dan beberapa faktor lain. Budaya perusahaan bisa merupakan pendorong keberhasilan perusahaan, tetapi juga bisa merupakan penghambat kemajuan perusahaan.

Contohnya ketika dunia modern pada umumnya menuntut keterbukaan, tetapi karena telah begitu rupa mengakar dengan ketertutupan yang biasa terjadi di banyak perusahaan Indonesia, maka budaya perusahaan bisa menjadi penghambat. Budaya perusahaan terbentuk dengan sendirinya setelah bertahun-tahun menjadi praktik keseharian, perilaku, keyakinan dari orang-orang yang ada di perusahaan, tetapi ada juga, khususnya di perusahaan besar, dibentuk, dikembangkan secara terpola dan diatur sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari strategi. Pada saat terjadi sebuah merger dan akuisisi misalnya, ketika sebuah perusahaan transnasional atau global mengambil alih secara keseluruhan atau sebagian dari kepemilikan sebuah perusahaan nasional, maka saat itu terjadi situasi krusial dikarenakan perbedaan kultur dan budaya yang bisa saja sangat kontras.

Dalam situasi demikian, budaya perusahaan yang dibawa keduanya harus dikelola sebaik-baiknya agar tidak terjadi guncangan budaya dan pertentangan budaya yang menghambat kemajuan. Bahkan apabila terjadi perbedaan yang begitu tajam, hal itu bisa membawa kehancuran karena terjadi saling jegal. Dalam bukunya, “Corporate Cultures,” Terrence E Deal dan Allan E Kennedy (1982) mengatakan bahwa ada beberapa elemen dalam budaya perusahaan.

1. Lingkungan bisnis; lingkungan bisnis baik secara geografis maupun dalam ruang lingkup bisnis, misalnya dalam dunia perbankan jelas berbeda sekali dengan dunia automotif.
2. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi; merupakan esensi filosofis organisasi, contohnya dalam komitmen dan ketepatan janji terhadap pelanggan yang dibangun menjadi sebuah reputasi.

3. Para tokoh dalam perusahaan yang dijadikan pahlawan; Contohnya Thomas A Edison dan Jack Welch, keduanya dari General Electric (GE) yang konsisten menjaga budaya perusahaan.

4. Ritual; Sebuah ajang yang dirancang untuk menghormati para tokoh yang bukan saja dari kalangan top manajemen, tetapi juga dari medium, bahkan karyawan yang paling rendah jenjangnya.

5. Jaringan bydara: jejaring yang terbentuk secara informal di kalangan intern organisasi. Kelima elemen membentuk budaya perusahaan.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/edukasi/8094-mengenal-budaya-perusahaan.html