Prospek bisnis sangkar burung berkicau

JAKARTA – Belajar dari kerasnya kehidupan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan di Ibu Kota, dimanfaatkan Rusmiati dengan menekuni bisnis sangkar burung. Berkat kerja kerasnya, kini omzet bisnisnya mencapai Rp3 juta per hari.

Siapa sangka, wanita berpenampilan sederhana dan berkacamata tersebut adalah seorang pebisnis ulung.Jatuh bangun dan sulitnya mendapatkan pekerjaan di Jakarta telah dilaluinya dengan lapang dada. Kisah sukses wanita berdarah Betawi itu memang berliku.Karena untuk menggeluti bisnis sangkar burung yang telah memberikan penghasilan yang memadai, tidak didapatkannya dengan mudah.

Sebelum menggeluti bisnis sangkar burung di kawasan Pasar Burung Pramuka,Rusmiati adalah seorang buruh pabrik yang setiap hari bekerja dengan jadwal yang ketat. Pergi pagi dan menjelang malam,baru kembali pulang.Itu dijalaninya hingga bertahun-tahun. Lelah dengan kehidupan sebagai buruh pabrik, Rusmiati akhirnya mengundurkan diri. Dari tempatnya bekerja, Rusmiati mendapatkan pesangon sebesar Rp600.000. Dia bingung dengan kebutuhan yang harus dipenuhi, sedangkan uang yang ada hanya Rp600.000.Rusmiati pun mulai berpikir menggeluti bisnis. Dia memulainya dengan bisnis kecil-kecilan, yaitu berjualan pakan burung dengan gerobak dorong alias pedagang kaki lima.

Dengan dana pesangon yang dimilikinya, wanita kelahiran 1 Januari 1959 di Jakarta tersebut kemudian membeli pakan burung untuk modal awal berjualan. Pakan burung menjadi pilihannya karena rumahnya yang dekat dengan Pasar Burung Pramuka. Setiap hari, sejak mengundurkan diri sebagai buruh pabrik, Rusmiati mendorong gerobak jualannya menuju Pasar Pramuka. Selama bertahun- tahun lakon sebagai pedagang kaki lima dijalaninya dengan sabar.“Pernah ketika berjualan sebagai pedagang kaki lima, saya digusur dan ditangkap Kamtib.Semua jualan saya juga dibawa,” tutur Rusmiati disela-sela waktu berjualan di toko miliknya di kawasan Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Beberapa kali digusur dan ditangkap Kamtib, sekarang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP),Rusmiati tidak pernah putus asa.

Barang-barang yang telah dibawa Kamtib ditebusnya. Setelah itu, ibu dari dua orang anak tersebut melanjutkan kembali berdagang kecil-kecilan dengan gerobak dorongnya. Berkat kesabaran dan ketelatenan menggeluti bisnis tersebut, Rusmiati dapat menabung dan mengumpulkan uang untuk menyewa sebuah kios. Dari kios tersebut, Rusmiati mengembangkan bisnisnya dengan berjualan sangkar burung. Berbagai jenis sangkar burung bisa dibeli di tokonya. “Waktu itu, pada tahun 1989 masih sepi. Orang yang berjualan sangkar burung hanya dua,saya dan satu lagi orang Padang,” ungkapnya. Ide berjualan sangkar burung pertama kali dilakukannya dengan menjual sangkar burung miliknya di rumah.

Ternyata peminatnya sangat besar. Itu membuat Rusmiati mulai mencari tempat produksi sangkar burung dan memesan khusus untuk mengisi kios miliknya. “Keuntungannya,lumayanlah. Karena satu hari kalau sedang ramai, kami bisa menjual sampai 10 sangkar burung,” paparnya. Harga sangkar burung yang dijual di kios miliknya, sangat bervariasi. Untuk sangkar burung jenis perkutut, Rusmiati mematoknya dengan harga Rp50.000–Rp400.000. Begitu pula dengan jenis sangkar burung seperti kenari,parkit,dan tekukur. Semakin besar dan semakin cantik desain sebuah sangkar, harganya pun semakin mahal.“Kalau yang benarbenar bagus, sangkarnya bisa jutaan rupiah,”ujarnya.

Dari tahun ke tahun, bisnis sangkar burung yang digeluti Rusmiati semakin maju.Wanita berkulit sawo matang tersebut akhirnya bisa memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya.Dia bisa membeli rumah sendiri, mobil, dan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Selain itu, Rusmiati juga bisa membeli sebuah toko di Bekasi. Rencananya, toko di Bekasi mau dijadikannya cabang toko sangkar burung.Namun, karena kesibukan di Pasar Burung Pramuka, Rusmiati akhirnya memutuskan toko tersebut dikontrakkan saja. “Dijadikan untuk investasi saja yang di Bekasi,” cetusnya. Dengan semakin lancarnya bisnis sangkar burung,Rusmiati mulai melirik bisnis kandang binatang lainnya. Sekarang di kios miliknya bisa ditemukan aneka kandang. Ini mulai dari kandang kucing, kandang anjing, hingga kandang hamster.

“Kadang ada saja yang dating ke kios kami untuk menawarkan kerjasama jual kandang. Karena peluangnya bagus,kami terima saja,”tutur-nya polos.

Selama menekuni bisnis sangkar burung dan memiliki kios sendiri,Rusmiati menga-ku tidak menemukan kendala berarti. Sejak memiliki kios sendiri, dirinya sudah tidak pernah ditangkap Satpol PP. “Kalau sekarang sudah enak.Kami tidak pernah dikejar-kejar lagi oleh keamanan,” tuturnya.

Tidak lari gunung dikejar, itulah moto Rusmiati dalam menggeluti bisnis sangkar burung di kawasan Pasar Burung Pramuka. Setelah memiliki kios sendiri, dirinya tidak mau ngoyo berusaha.

Karena menurutnya rezeki sudah ada yang mengatur, tinggal berusaha.Keyakinan itulah yang membuat Rusmiati tetap menekuni bisnis sangkar burung hingga bertahun-tahun. Dikatakan Rusmiati, jika masa-masa pasar sepi dan tidak banyak pembeli yang datang. Rusmiati tidak berkecil hati .Karena kios miliknya memilik pelanggan dari berbagai kota di Indonesia. Pelangganbiasanya datangdariMedan(Sumatera Utara),Padang (Sumatera Barat) dan Lampung.“Jadi kalaupun sepi pembeli di Jakarta,kita masih banyak langganan di daerah,”ujarnya.

Pelanggan yang datang, lanjutnya, bahkan membeli sangkar dan kandang hewan lainnya untuk dibawa ke daerah masing-masing. Setelah di daerah habis,maka pelanggan akan datang lagi dan membeli kembali di kiosnya.“Jadi kita tidak pernah khawatir tidak ada pembeli,”tegasnya.

Setelah berhasil menjaring pelanggan hingga ke daerahdaerah, Rusmiati bukan tidak berminat untuk mencoba mengembangkan bisnis sangkar burung ke bisnis lainnya.Rusmiati bahkan pernah menekuni bisnis celana jeans untuk dipasok ke daerah-daerah khususnya Sumatera. Awalnya bisnis tersebut lancar dan memberikan keuntungan bagi dirinya dan keluarga. Namun ketika bisnis itu lancar dan sudah mendapatkan pasar tetapnya,Rusmiati ditipu oleh karyawannya sendiri.

Kerugian yang dideritanya bahkan mencapai Rp50 juta untuk satu kali pengiriman barang ke Sumatera. Setelah itu, Rusmiati memutuskan untuk tidak lagi menekuni bisnis celana jeans.Karena menurutnya rawan penipuan.


Sumber: http://economy.okezone.com

Peluang bisnis arum manis semanis penjual

Peluang Usaha – Arum manis atau permen kapas (cotton candy) Warnanya yg menarik, dan rasanya yg manis banyak digemari anak-anak hingga orang dewasa. Tak heran bila saat ini bisnis arum manis tidak hanya dijalankan pada saat ada pasar malam saja, namun sudah berkembang menjadi salah satu peluang usaha modern dgn munculnya berbagai penawaran bisnis waralaba arum manis.
Berikut penjelasaanya
Info Produk
Penganan ringan yg terbuat dari bahan dasar gula, terigu dan sedikit diberi pewarna makanan ini memiliki ciri tersendiri dibandingkan kembang gula lainnya. Baik dari teksturnya yg lembut ketika dinikmati.
Berikut Persiapan dari Usaha Arum Manis:
· Siapkan mesin pembuat arum manis.
· Gunakan bahan baku yg aman bagi kesehatan konsumen.
· Pilih kemasan produk yg menarik, agar konsumen Anda tertarik membeli.
· Pilih lokasi yg strategis pasar malam atau sekolah contohnya.
Cara Membuat
· Masukkan gula pasir yg sudah diberi atau ditambahkan pewarna makanan
· Hidupkan mesin hingga panas, dan tunggu beberapa saat sampai keluar “asap/awan” gula dan gulung dgn lidi atau sebaiknya gunakan yg terbuat dari bambu atau gunakan cone stik
· Gulung sampai ukuran yg diinginkan (sesuaikan ukuran plastik yg akan digunakan)
· Masukan ke dalam kemasan plastik dan siap untk dipasarkan
Gambaran dari peluang usaha ini: rata-rata dari 1 kg gula putih dapat menghasilkan arum manis 25 – 30 kantung besar. Harga jual arumanis cukup bervariasi mulai Rp 1000,00 hingga Rp 12.500,00 tergantung kemasannya.
Kelebihan bisnis
Pembuatan arum manis sangatlah mudah, hanya membutuhkan sedikit keterampilan dan kecermatan dalam menggunakan mesinnya. Selain itu bahan baku yg dibutuhkan juga mudah ditemukan di sekitar kita, peluang usaha ini juga tidak membutuhkan modal besar.
Kekurangan bisnis
Banyaknya kompetiror. Saat ini tidak hanya para pedagang keliling saja yg menjajakan arum manis, namun sudah banyak pelaku bisnis arum manis yg membuka kemitraannya di berbagai wilayah. Sehingga Anda harus jeli dalam memilih lokasi usaha yg masih berpotensi.   

Ide bisnis telur asin aneka rasa

telur asin, telur itik, telur bebek, telur asin aneka rasa

Inovasi baru dalam pembuatan telur asin aneka rasa setidaknya membuka sebuah peluang usaha baru yang cukup menjanjikan insyaallah. Tujuan pembuatan telur asin aneka rasa adalah untuk menambah variasi baru produk telur asin yang sudah ada. Belajar dari produk lain, anda mungkin masih ingat bahwa kota Malang adalah salah satu sentra industri pembuatan kripik tempe dengan pusat industri di daerah Sanan. Dulu kripik tempe yang dibuat dan dijual hanya kripik tempe rasa original yaitu rasa jeruk purut. Pembuat kripik mencoba melakukan inovasi produk kripik tempenya yaitu dengan menambah aneka rasa seperti rasa ayam panggang, rumput laut, barbeque, keju, jagung bakar dan aneka rasa lainnya. Hasilnya adalah kripik tempe aneka rasa dapat diterima oleh masyarakat dan jumlah permintaannya pun semakin meningkat apalagi menjelang lebaran seperti sekarang ini. Nah, dengan modal meniru dari produk kripik tempe tidak menutup kemungkinan telur asin aneka rasa akan mendapat sambutan dari masyarakat terutama pecinta telur asin. Produk telur asin aneka rasa ini biasanya banyak di jumpai di daerah-daerah sentra industri pembuatan telur asin.
Faktor pendukung lain usaha ini adalah rasa bosan pada anak-anak kita jika makan telur asin yang rasa original. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri dan ini adalah sebuah peluang untuk menyediakan bagi mereka makanan bergizi dengan rasa yang beraneka ragam seperti jajanan snack untuk anak-anak. Pilihan orang tua cerdas setelah membandingkan kesamaan harga, kandungan gizi dan keamanan produk tentu lebih memilih telur asin aneka rasa daripada jajanan snack yang belum jelas kandungan gizinya. Telur asin memenuhi kriteria sebagai bahan makanan yang bernilai biologi tinggi karena proteinnya mudah dicerna dengan koefisien cerna sekitar 96%. Dibandingkan dengan daging sapi, beras, dan jagung, nilai biologi protein telur itik paling tinggi karena mudah dicerna oleh tubuh, sehingga telur itik juga cocok dikonsumsi terutama oleh anak balita dengan catatan bukan penderita alergi makan telur
  1. Penyiapan alat dan bahan yang diperlukan antara lain jarum suntik, bahan perasa (coklat bubuk, bawang, udang), bahan penutup lubang bekas suntikan (tusuk gigi), telur bebek terpilih, garam, batu bata halus, blender, serbet, baskom (ember besar), stempel, dan ayakan.
  2. Memeriksa kondisi telur yang akan diasinkan meliputi kondisi fisik telur seperti retak/tidak dan juga ketebalan kulit telur.
  3. Membersihkan kulit telur itik yang akan diasinkan.
  4. Membuat adonan atau medium pengasinan yang terdiri dari batu bata halus dan larutan garam.
  5. Pemeraman telur selama 7-15 hari (lama pemeraman menentukan kadar keasinan yang diinginkan).
  6. Pembongkaran telur yang telah diperam kemudian dibersihkan.
  7. Penyuntikan telur dengan ekstrak rasa yang dipilih.
  8. Penutupan bekas lubang jarum suntik dengan tusuk gigi.
  9. Pemasakan atau pematangan telur dengan cara dikukus selama kurang lebih 60 menit (untuk mengurangi resiko pecah).
  10. Pemberian stempel nama usaha dan cap ras.
Pemasaran merupakan kunci sukses sebuah wirausaha dan ujung tombak kegiatan usaha produksi. Kegiatan pemasaran telur asin aneka rasa dapat dilakukan melalui penyebaran pamflet atau brosur yang dipasang di tempat-tempat umum dan strategis. Bentuk kegiatan pemasaran lain yaitu dengan mekalukan promosi secara mouth to mouth (mulut ke mulut), dengan memberikan taster gratis untuk percobaan, menitipkan langsung di warung-warung makan, pasar swalayan, koperasi sekolah atau sekolahan yang menerapkan program belajar full day. Pangsa pasar dari produk telur asin aneka rasa ini sangat luas hanya diperlukan inovasi dan pengelolaan yang lebih profesional untuk meningkatkan jumlah penjualan. Kegiatan pemasaran produk harus dilakukan lebih gencar dengan berbagai media promosi agar masyarakat mengetahui bahwa ada sebuah produk telur asin aneka rasa. Kegiatan pemasaran akan lebih efektif kalau ditunjang dengan data pendukung seperti izin dari dinas kesehatan dan dinas perdagangan. Kalau kegiatan usaha pembuatan telur asin sudah berjalan maka perlu untuk menjaga kontinyuitas produk yaitu dengan menjalin kerjasama kemitraan antara peternak telur itik, pembuat atau pengusaha telur asin, dan pemerintah, sehingga pengembangan produk bisa lebih cepat berkembang.

Ide Bisnis Saus Sambal Rumahan


Ilustrasi. Foto:biggestmenu
Saus sambal jadi salah satu komoditas yang banyak dicari. Sambal yang meluas untuk aneka kebutuhan sehari-hari menjadikan pasar sambal siap saji meningkat.
Oleh: Yuyun Anwar

Konsultan dan Penulis Buku Kuliner Indonesia

siapa sebenarnya pengguna saus terbesar, sehingga potensi pasarnya semakin meningkat? Yang paling banyak adalah kelompok rumah tangga, hotel, catering, atau resto. Pasar lain yang cukup besar adalah pedagang bakso, siomay, mi ayam, dan pedagang gorengan lainnya.
Untuk memulai usaha saus dari rumahan dengan biaya relatif murah (pakai peralatan dapur) bisa menggunakan saus kemasan botol PET atau kemasan botol kaca. Untuk membuat saus sachet diperlukan mesin pengisi saus yang stabil dan cepat. Itu tentu memerlukan investasi cukup besar.
Mulailah dengan menetapkan salah satu jenis sambal yang akan dijual di pasaran lalu melakukan riset atau penelitian masa simpan dan rasa yang dikehendaki.
Yang perlu diperhatikan agar saus sambal awet :
  1. Bahan baku yang segar, bagus dan bersih dari kotoran.
  2. Sanitasi peralatan dan wadah kemas.
  3. Sanitasi dan kebersihan karyawan pelaksana.
  4. Penambahan bahan pengawet sesuai dengan standar.
  5. Menghindari kontaminasi silang dari bahan yang kotor/mentah ke bahan matang.
  6. Suhu penyimpanan harus tepat.
Salah satu usaha saus sambal dengan modal terbatas adalah menggunakan kemasan botol sekali pakai (PET) dan botol kaca. Untuk botol kaca harus pakai mesin penutup botol yang bisa mengikat tutup sehingga benar-benar rapat.
Cara Pembuatan (lihat resep pada analisis usaha).
Cabai rawit dibersihkan tangkainya, bawang dan tomat dibersihkan lalu dipotong-potong. Kukus selama 1-2 menit pada suhu 100 derajat Celcius dan diblender (jika kapasitas besar menggunakan mesin khusus) sampai halus (jadi bubur).
Campurkan air, gula, garam, cmc benzoate, dan bubur cabai dan bumbu. Masak sampai benar benar matang dan tercampur rata. Kecilkan api, masukkan cuka lalu aduk dan angkat.
Cuci botol PET dengan mengunakan air klorin lalu tiriskan. Masukkan saus cabai dalam kondisi panas (suhu 70 derajat C). Jika terlalu panas akan membuat botol lumer. Masukkan sampai semua adonan habis. Tutup dan tekan sampai terdengar bunyi klik, pertanda tutup benar-benar rapat.
Tepung jagung dapat digantikan dengan tepung modifikasi jagung atau tapioka untuk hasil terbaik. CMC menjadikan saus lebih kental dan stabil (adonan tidak turun). Untuk pewarna bisa ditambahkan jenis carmoisine atau sun set yellow yang food grade agar lebih menarik.
Amati ketahanan masa simpan saus cabai sebelum dipasarkan dengan meletakkan saus di beberapa ruang (ruang biasa, dingin, sejuk atau yang sangat panas dan terkena matahari). Buka tutup botol sesuai dengan waktu yang ditentukan, cicipi. Tanda saus basi adalah berjamur, bau amoniak kecut, bau yang tidak sedap, dan penampilan kurang bagus (terpencar, tidak stabil).

Sumber: http://blogos.us/p/48483

Bisnis Warung Tenda Biru Cocok Buat Pacaran

Dalam menjalankan sebuah bisnis, bisa dimulai dengan tahap yang paling sederhana. Jika Anda bermimpi memiliki sebuah usaha rumah makan atau restoran, namun masih terhalang dengan modal, Anda jangan berkecil hati, mulailah dengan langkah pertama misalnya memulai usaha dengan membuka .
Kini warung tenda justru telah menjadi pilihan bersantap bagi masyarakat perkotaan. Selain harganya terjangkau, rasanya pun tak kalah dengan makanan yang di tawarkan restoran. Hal ini lah yang justru menjadikan peluang bisnis warung tenda menjadi tempat yang pas untuk makan sekaligus bercengkrama dengan keluarga maupun sahabat.
Target Konsumen
Target konsumen warung tenda bisa mencakup semua usia, baik tua maupun muda bisa menjadi sasaran konsumen warung tenda
Info Bisnis
Sebelum menjalankan warung tenda, perkaya diri Anda dengan pengetahuan dan keterampilan, hal ini akan menciptakan inovasi baru yang akan semakin memikat pasar. Kemudian ketahuilah selera pasar. Cari tahu tentang menu-menu makanan yang paling disukai masyarakat.
Kelebihan
Harga yang ditawarkan jauh lebih terjangkau daripada di restoran. Rasanya pun tidak jauh berbeda dengan yang ada di restoran.
Kekurangan
Konsumen akan mengalami kebosanan dengan menu yang ditawarkan.
Pemasaran
Selain memberikan nama warung tenda pada spanduk. Pemasaran paling efektif yaitu memberikan menu dengan rasa yang konsisten serta pelayanan yang maksimal. Hal ini akan menciptakan promosi dari mulut ke mulut dari konsumen.
Kunci Sukses


Selalu ciptakan inovasi  agar konsumen tidak bosan. Serta berikan juga nama unik pada setiap menu yang Anda tawarkan agar menimbulkan rasa penasaran untuk mencobanya.
Analisa Bisnis

Modal Awal:


Stok awal barang dagangan    Rp 2.500.000,00

Peralatan:

tenda            Rp 2.000.000,00
Peralatan

Gerobak da
nmakan dan minum    Rp  500.000,00

0.000,00
Spanduk reklame              

Meja dan Kursi               Rp 7

0Rp 200.000,00 +


Jumlah                       Rp 3.400.000,00


Jumlah modal awal            Rp 5.900.000,00


Dengan metode garis lurus dan masa manfaat peralatan tersebut adalah 3 tahun.

Beban penyusutan per bulan jika nilai residu Rp 100.000,00 adalah
sebesar (Rp 2.900.000 – Rp 100.000,00)/ (3 tahun x 12 bulan)= Rp 77.778,00 per bulan.

Perhitungan laba/ rugi per bulan

Penjualan per bulan:

Rp 200.000,00 x 30 h

Pendapatan rata-rata
:ari             Rp 6.000.000,00

n bahan baku                

Harga pokok barang per bulan:
Pembeli
a Rp 2.500.000,00
Upah:

x 30 hari   Rp 900.000,00 +

12 jam kerja x Rp 2.500,00


umlah                                   Rp 3.400.000,00 +

J

Laba kotor per bulan                     Rp 2.600.000,00



Sumber: http://www.bisniskuliner.com/

Ide bisnis nasi bakar banyak penggemar

Nasi bakar disebut juga nasi buri dalam bahasa Sunda. Nasi bakar merupakan produk proses lanjutan dari nasi yang diolah dengan cara dibumbui atau dirempah-rempah, kemudian dibungkus daun pisang dan dibakar diatas api. Pembakaran tidak sampai tersentuh api. (Catatan penting: It is baked, not burnt. Kalau burnt & hangus bisa menjadi karsinogen – pemicuh kanker lho).
Nasi bakar begitu dibuka dari bungkusnya mempunyai aroma khas yang membuat orang lapar menelan ludah. Kalau disuapkan ke mulut dan dikunya perlahan-lahan, rasanya lebih legit, lebih wangi dan lebih enak daripada nasi biasa. Kalau tidak percaya, silahkan mencoba sendiri !!!
Nasi bakar mulai terdengar sejak tahun 2000. Beberapa orang baru kali ini membaca atau mendengarnya. Kapan pertama kali produk ini diluncurnya, itu tidak tercatat dalam sejarah kuliner Indonesia.Yang jelas nasi itu identik dengan makanan pokok khas Indonesia (can’t live without it). Sekarang nasi bakar mulai banyak ditemui di kota Bandung dan Jakarta. Ini menjadi makanan khas yang ‘Indonesia banget’. Jadi bolehlah dengan bangga, kita perkenalkan kepada yang belum mencoba atau orang asing.


Resep Nasi Bakar

Bahan:
500 gr       beras, cuci, tiriskan
½ sdm      garam
3 lbr          daun salam
2 btg         sereh
600 ml      santan
50 gr         bawang merah iris
1 sdt         kaldu bubuk
6 sdm       minyak untuk menumis.
Daun pisang secukupnya, untuk membungkus

Bahan Tumisan:
150 gr       daging ayam, potong dadu
100 gr       teri medan, cuci, goreng
3 bh          bawang putih
2 bh          cabe hijau, iris serong
2 bh          cabe merah besar, iris serong
4 bh          cabe rawit merah, iris serong
1 btg         daun bawang, iris kasar
1  sdt        garam
1 sdt         gula pasir
100 ml      air
1 sdt         kaldu bubuk
4 sdm       minyak goreng untuk menumis

Cara membuatnya:
–          Tumisan: panaskan minyak, tumis bawang merah hingga layu, masukkan cabe hijau, cabe merah, dan cabe rawit merah hingga harum, masukkan daging ayam, aduk rata biarkan daging matang dan berubah warna, tuangi air, masak hingga air meresap dan kering, masukkan bahan lain, aduk rata sebentar. Angkat.
–          Nasi : panaskan minyak, tumis bawang merah hingga harum, tuangi santan, daun salam, sereh, garam dan kaldu bubuk, masak hingga mendidih, masukkan beras. Aduk rata, biarkan hingga santan terserap habis dan nasi menjadi aron. Kukus selama 20menit hingga matang. Angkat.
–          Ambil selembar daun pisang, beri nasi matang, dan tengah diberi tumisan lk. 2 sdm, bungkus seperti lontong besar, semat dengan lidi kedua ujungnya. Bakar diatas wajan atau panggangan panas, hingga harum. Sajikan.

Ide bisnis kopi celup hasilkan omset jutaan

MALANG (Berita SuaraMedia) – Anda gemar meminum kopi? Kini ada cara unik dalam membuat minuman beraroma khas itu. Seorang warga Kepanjen, Malang, Jawa Timur, berhasil menemukan inovasi terbaru: kopi celup.
Hasilnya malah di luar dugaan, ternyata produk yang awalnya hanya untuk konsumsi sendiri ini menghasilkan omzet yang luar biasa.

Berawal dari ketertarikannya sebagai penikmat kopi, Emy Listik tertarik untuk menciptakan kreasi baru dalam teknik menyeduh kopi. Layaknya teh celup, Emy menciptakan teknik baru dalam menikmati secangkir kopi. Yakni dengan cara dicelup.

Menurut Emmy Listik, perbedaan takaran bubuk kopi berpengaruh terhadap rasa. Hal itulah yang menginspirasi Emmy dalam menciptakan rasa yang seragam. Produk khas Emmy dibuat dari biji kopi pilihan yang dikemas secara apik nan menarik.

Bahkan bisnis kopi celup yang baru dipasarkan dari mulut ke mulut ini sudah beromzet hingga puluhan juta per bulan. Kopi celupnya pun sudah merambah pasar Sumatera dan Jawa.

Usaha yang dirintis sejak sepuluh tahun silam, kini ramai diminati. Ternyata usaha kreasinya ini membuahkan hasil, kopi celup karyanya kini ramai diminati pasar hingga ke luar kota. Kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, Jakarta dan Aceh cukup tertarik dengan kopi celup yang diproduksi sendiri di rumah Emy di Jalan Malang, Penarukan, Kepanjen, Malang ini. 

Delapan karyawan dipekerjakan Emmy. Harga kopi celup relatif murah, yaitu Rp 14 ribu untuk satu kotak berisi 20 kemasan. Dalam sebulan, Emmy bisa meraup keuntungan hingga Rp 4 juta.

Semua proses produksi mulai dari pengovenan, penggilingan, pengepakan hingga pemasaran semuanya dikerjakan sendiri oleh Emy. Alat produksi pun buatan sendiri, seperti oven kopi misalnya, adalah ide kreatif Emy sendiri.

Dalam sebulan, omzet pemasaran dari kopi celup produksi rumahan ini mencapai Rp40 juta dengan keuntungan sekira Rp4 juta.

Bahkan untuk produksinya, Emy sampai kerepotan dalam memenuhi pesanan pasar, meski pun kini telah dibantu sembilan orang pekerja. Tampaknya, permintaan pasar tetap lebih besar.

Kopi celup dipilih para konsumen karena memudahkan mendapatkan cita rasa kopi yang pas, serta proses produksi yang alami dengan bahan kopi pilihan tanpa bahan pengawet. Dan tentunya kopi celup membuat kesan kopi menjadi lebih mewah.

Anda terinspirasi ide kreatif Ibu Emy? Tidak ada salahnya untuk mencoba kreasi-kreasi lainnya dalam menciptakan sensasi kuliner yang baru. Dan raih sukses yang sama. 

Jadi jutawan dengan tusuk sate

Usaha tusuk sate tak bisa dipandang sebelah mata. Di tangan Hadi Santoso, usaha yang terlihat remeh itu bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi ribuan warga Batu. 

Usaha yang ditekuni Hadi Santoso memang belum lama. Baru terhitung 1,5 tahun lalu. Bahkan, di Batu, tempat pria berusia 47 tahun itu tinggal dan menekuni usaha tersebut juga masih terbilang baru. Saat ini baru meninjak usia tiga bulan. 

Namun, usaha itu banyak diminati warga Batu. Hari demi hari, semakin banyak warga yang mendatangi rumah Hadi di Dusun Glonggong, Temas, untuk bergabung dalam usaha itu. Sedikitnya ada sekitar 9 ribu kepala keluarga yang sudah bergabung dengan usaha tusuk sate. 

Maklum, untuk bekerja dengan Hadi, tidak perlu modal. Yang dibutuhkan hanya kerelaan waktu dan tenaga. Peralatan maupun bahan baku bisa didapatkan dari pria yang sudah mencoba berbagai macam jenis usaha ini. Mulai berdagang sayur, buah, bertani, berdagang kayu, bibit kayu, hingga jadi pengusaha keramik.

Setiap hari, rumah Hadi selalu banyak didatangi orang. Silih berganti warga mendatangi rumah Hadi. Ada yang datang mengambil bayaran, ada juga yang mau bergabung menjadi perajin tusuk sate. “Masih sangat banyak yang butuh pekerjaan. Dan saya senang bisa membantu mereka,” kata Hadi.

Bergabung menjadi anggota perajin tusuk sate yang dirintis Hadi memang tergolong unik. Warga yang membutuhkan pekerjaan dapat dengan mudah mendapatkan penghasilan. Tidak perlu biaya. Bahkan untuk mendapatkan peralatan pemilah tusuk sate senilai Rp 80 ribu itu, warga juga tidak perlu membayar. Semua bahan baku bisa didapatkan dari Hadi. Sedangkan hasilnya juga akan dibeli. Praktis, yang dibutuhkan hanya keseriusan untuk mendapatkan pekerjaan.

Menjadi perajin tusuk sate hanya perlu pernyataan keseriusan. Begitu ada pernyataan keseriusan, tidak berselang lama peralatan pun akan segera dikirim. Tentunya dengan jaminan peralatan tersebut tidak dijual serta hasil pembuatan tusuk sate itu dijual kembali kepada Hadi. “Silakan saja dijual ke orang lain. Tapi, tidak ada jaminan bakal berlangsung lama,” ujar ketua P4KB (Perlindungan Perhubungan Pedagangan Pasar Pagi Kota Batu) ini.

Saking mudahnya, kurang dari tiga bulan, Hadi sudah membagikan 9 ribu peralatan yang didatangkan dari Jerman. Saat ini, peralatan tersebut banyak tersebar ke Kecamatan Batu. Untuk kecamatan ini, ada 6 ribu peralatan. Sisanya menyebar di Kecamatan Junrejo dan Bumiaji.

Dalam seminggu, ribuan peralatan yang dibagikan itu bisa menghasilkan sekitar 4 ton tusuk sate. Jika dirupiahkan sekitar Rp 12 juta dengan harga Rp 3 ribu setiap kilogram. Dengan demkian, per bulan ada perputaran uang sebesar Rp 48 juta. “Ini masih permulaan karena sebagian besar perajin lainnya juga masih dalam tahap pembelajaran,” kata bapak lima anak ini.

Bagi para perajin, pendapatan yang diperoleh juga tidak sedikit. Perajin yang menghabiskan satu batang bambu akan dapat upah bersih Rp 60 ribu. Rata-rata, dalam seminggu seorang perajin bisa menghabiskan 3 sampi 4 batang pohon bambu. Dengan demikian, penghasilan yang didapatkan berkisar antara 180 ribu sampai 240 ribu per minggu.

Usaha tusuk sate yang digeluti Hadi sebenarnya hanya pengembangan dari usaha yang digeluti sebelumnya. Sebelum mengembangkan tusuk sate di Batu, pria yang menyandang status sarjana ekonomi Universitas Islam Malang (Unisma) itu sudah melakukannya di Tumpang. Di wilayah Tumpang, Hadi sudah memiliki seribu perajin tusuk sate.

Modal yang dikeluarkan Hadi memang juga tidak sedikit. Awal membuka usaha itu, dia menghabiskan dana Rp 100 juta. Tetapi, modal usaha itu bisa segera kembali setelah beberapa kali pengiriman barang.

Meski saat ini sudah banyak yang bergabung dengan usahanya, Hadi masih merasa belum puas. Dia berharap semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan peluang tersebut. Apalagi, pria yang sehari-harinya juga berdagang daging ayam ini mengetahui masih banyak masyarakat yang membutuhkan pekerjaan.

Teknologi alat dan mesin pembuatan tusuk sate memang sudah banyak digunakan. Sementara itu, tidak bagi masyarakat Desa/Kecamatan Kutawaringin Kab. Bandung, pembuatan tusuk sate tetap dilakukan dengan cara manual.
Seperti yang dilakukan Diana (25), warga RT 3 RW 5 Kampung Bojongkoneng, Desa Kutawaringin, yang menggantungkan hidupnya dari usaha pembuatan tusuk sate.
Sebilah bambu dipotong-potong berukuran panjang 20 cm. Kemudian dibelah tipis-tipis seukuran tusuk sate yang biasa kita temui, lalu dibersihkan. “Harus dicuci biar tusuk satenya bersih,” ujar Diana, ditemui di rumahnya.
Ia mulai mengerjakan pembuatan tusuk sate sejak dua tahun silam. Dalam sehari, ia biasa menghasilkan 500 tusuk sate. Kemudian tusuk sate itu dijualnya kepada pengumpul. “Saya membeli bambu dari bandar. Harganya seratus ribu untuk empat ikat, satu ikatnya ada tiga bilah bambu,” ujarnya.
Sebilah bambu yang panjangnya sekitar 2-3 meter, bisa menghasilkan hingga dua ribu
tusuk sate. “Itu bisa dikerjakan dalam waktu tiga sampai empat hari, tergantung cuaca. Soalnya, sebelum dijual kan harus dijemur dulu selama dua hari agar tusuk sate benar-benar kering,” kata Diana.
Untuk membuat tusuk sate, ia harus memilih bambu minimal berusia enam bulan. Semakin tua umur bambu, jumlah tusuk sate yang dihasilkan bisa semakin banyak.
“Kalau umur bambunya sudah tua, daging bambunya tebal, jadi tusuk satenya bisa makin banyak,” ujar Diana, sambil tekun membelah bambu.
Salah seorang pedagang tusuk sate. Atang (45) mengatakan, Desa Kutawaringin memiliki potensi besar untuk menghasilkan tusuk sate. “Dalam sehari, saya bisa mengumpulkan 3.000 tusuk sate hanya dari Desa Kutawaringin,” ujar Atang, sambil menyebutkan beberapa kampung yang merupakan sentra pembuatan tusuk sate di Desa Kutawaringin. Kampung tersebut misalnya Ciherang, Pasirkeas, Bojongkoneng, dan Cigondok.
Selain dijual di Pasaranyar Kec. Kutawaringin, Atang mengaku, biasa menjual tusuk sate tersebut ke Pasar Sayati dan Pasar Caringin.
“Permintaan selalu ada, soalnya kan hampir semua orang suka makan sate. Tapi kemampuan warga hanya segini, jadi ya saya hanya bisa menjual segitu,” kata Atang.
Untuk itu, Diana berharap agar warga bisa mendapatkan bantuan modal sehingga mampu mengembangkan usaha kecil seperti yang dilakukannya. “Modal tidak ada. Tusuk sate yang saya buat pun hanya mendatangkan keuntungan sekitar seratus sampai dua ratus ribu rupiah sebulan, mana bisa untuk mengembangkan usaha,” kata Diana.
Sumber:  www.suaramedia.com