PUNGLOR (ANIS) MERAH

Kicaunya yang merdu meninggi dan panjang yang kemudian merendah, diimbangi gerakak kepala ke kanan–ke kiri, ke atas dan ke bawah membuat para penggemar berlomba-lomba untuk memilikinya. Gerakan kepala itu mereka sebut teler. Gerakan itu dianggap bak seorang pemabuk. Para penggemar burung kicauan rela merogoh kocek dalam-dalam demi burung ini. Semakin bagus dan semakin lama burung itu mampu bertahan berkicau, ditambah semakin teler gerakannya, maka semakin mahal harga burung itu. Apalagi kalau burung tersebut sudah pernah memperoleh gelar juara dalam suatu kontes burung kicauan, maka harganya akan melambung tidak masuk akal. Harga normal burung yang sudah pandai berkicau dan teler berkisar antara Rp 1.000.000,- sampai sekitar Rp 1.500.000,-. Seorang penggemar yang juga setengah pedagang beberapa hari yang lalu menjual dua ekor burung jenis ini seharga Rp 2.600.000,-. Suatu harga yang tinggi menurut ukuran penulis. Sedangkan untuk seekor anakan yang baru mulai bisa makan sendiri dengan umur sekitar satu bulan dihargai Rp 750.000,-.

Itulah tingginya gengsi burung yang oleh sebagian besar masyarakat Jawa Timur disebut punglor. Sedangkan di Jawa Barat dan beberapa tempat yang lain sering disebut sebagai anis. Gambar yang tertera di atas dinamai punglor (anis) merah karena bulu kepala dan bulu bagian depan berwarna kemerahan (tepatnya: coklat). Sedang bulu punggungnya didominasi warna hitam dan bulatan yang berwarna lebih hitam. Untuk bulu sayapnya berwarna hitam dengan sedikit warna putih pada tekukan sayap. Ada sebagian masyarakat yang menyebut punglor (anis) merah ini dengan punglor bata, karena warnar utamanya mirip warna bata (batu merah).

Sebenarnya ada beberapa varietas dari jenis burung punglor ini. Varietas lain tersebut di antaranya punglor jali. Punglor jali ini ada juga yang menyebut dengan anis kembang. Ada pula punglor macan, punglor kopi, punglor mandarin, dan punglor cendana. Punglor jali atau anis kembang, bagian kepalanya berwarna coklat tua, punggung hitam, dan bagian depan (dada) berwarna putih bertotol-totol hitam. Warna punglor macan hampir mirip dengan punglor jali atau anis kembang. Bedanya, bercak-bercak hitam pada dadanya lebih besar. Ukuran badannya pun lebih besar. Punglor kopi berwarna utama hitam dengan di beberapa tempat berbulu putih. Menurut penuturan, punglor kopi ini dulu banyak ditemukan di sekitar perkebunan kopi. Sedang untuk punglor mandari didominasi warna coklat. Adapun untuk punglor cendana, warna bulu utamanya adalah coklat cerah dengan beberapa variasi putih.

Daerah persebaran burung ini hampir merata di wilayah Indonesia bagian Barat dan Nusa Tenggara, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, dan beberapa pulau di Nusa Tenggara. Di habitatnya, burung-burung tersebut hidup dan bersarang di pohon-pohon tinggi. Mereka memakan berbagai macam serangga dan ulat. Tidak jarang mereka pun turun ke permukaan tanah yang lembab atau becek untuk mencari cacing. Umumnya burung-burung tersebut bertelur antara dua sampai tiga butir. Saat ini, burung punglong yang hidup di alam liar semakin langka. Kicauannya di tengah rimba sudah jarang terdengar. Terlebih di pulau Jawa. Pemangsa tingkat kedua dalam rantai makanan ini kehidupannya semakin terancam oleh para pemburu, walau saat ini sudah ada pihak yang sudah berhasil menangkarkannya. Para pengangkar itu umumnya menangkarkan punglor merah dan punglor jali atau anis kembang yang secara ekonomis memang paling mahal harganya, di samping paling mudah mendapatkannya. Para penangkar punglor kabarnya berada di Bali, Solo, Malang, dan Jakarta. Semoga hasil tangkarannya ada yang dilepasliarkan di habitat aslinya sehingga keseimbangan ekosistem itu dapat terjaga.

NIPAH BAJULMATI

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi persebaran vegetasi (juga makhluk hidup yang lain) adalah faktor beda tinggi permukaan Bumi (relief) yang kemudian mempengaruhi pola penyinaran Matahari (faktor fisiografi). Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis dengan reliefnya yang kasar (rudget), sehingga memiliki flora yang beraneka-ragam. Floranya berbeda-beda menurut ketinggian tempat, mulai dari ketinggian 0m hingga ketinggian lebih dari 4.500m di atas permukaan laut. Di daerah pantai hingga ketinggian 3m (jika keadaan tanah memungkinkan) dijumpai tumbuhan bakau (mangrove). Semakin tinggi ke arah daratan, maka akan dijumpai tumbuhan palma jenis nipah, kemudian kelapa, selanjutnya hutan rimba berdaun lebar hingga ketinggian sekitar 1.200m di atas permukaan laut. Dari ketinggian tersebut, hutan akan didominasi oleh tumbuhan berdaun jarum (cemara, pinus, dsb) sampai ketinggian sekitar 3.000m. Dari ketinggian 3.000m sampai ketinggian sekitar 4.100m dijumpai padang rumput yang diselingi cemara kerdil dan semak-belukar hingga sampai batas mendekati salju digantikan oleh tumbuhan lumut.

Berikutnya dalam posting ini secara singkat hanya akan mengupas tentang tumbuhan yang hidup pada ketinggian sekitar 3m, yakni nipah. Nipah yang dimaksud adalah nipah yang tumbuh di daerah Bajulmati, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Nipah yang dijumpai sisi kanan dari kali Penguluran, dekat jembatan Bajulmati. Penulis tertarik mem-posting-kan nipah ini karena nipah tidak banyak ditemukan di daratan Jawa, terlebih di Malang Selatan yang pantainya cenderung berpegunungan kapur. Nipah di tempat ini dilingkupi oleh tumbuhan jati dan beberapa semak belukar. Bahkan di beberapa lokasi yang agak tinggi, masih relatif dekat dengan nipah tersebut ditemukan tumbuhan siwalan (lontar) yang identik dengan daerah minim curah hujan. Sangat karakteristik.

Populasi dari nipah yang kemudian sebut saja nipah Bajulmati ini sebenarnya relatif tidak banyak. Nipah tersebut hidup terbatas pada area kira-kira seluas 150m persegi, hidup di tepi kanan kali Penguluran menuju titik muara. Menilik dari ukurannya, tumbuhan ini umumnya merupakan tumbuhan muda. Tumbuhan yang hidup beberapa tahun terakhir ini. Berdasarkan klasifikasi tumbuhan berdasarkan kebutuhan tumbuhan terhadap air, nipah termasuk higrofit. Berdasarkan hal itu bisa dipastikan bahwa habitat nipah Bajulmati berupa daerah rawa. Rawa tersebut merupakan luberan air dari kali Penguluran ketika volume airnya meninggi. Terlebih ketika pasang naik dari pantai Bajulmati terjadi yang kemudian masuk pada lembah kali Penguluran. Perlu diketahui bahwa letak nipah ini terhadap muara hanya berkisar sekitar 300m.

Dengan adanya nipah di Bajulmati ini dapat menambah keanekaragaman hayati yang ada di daerah tersebut, khususnya. Banyak kemanfaatan yang diperoleh dari keberadaan nipah ini. Terlebih jika jalan raya Lintas Selatan nanti sudah selesai dan menjadi jalur transportasi yang ramai di Jawa bagian selatan. Menurut satu sumber, bahwa hutan mangrove (termasuk nipah) dapat menetralisir gas karbon hingga sebesar 60%. Dalam kehidupan sehari, pada masyarakat Maluku dan beberapa masyarakat lain di Indonesia, daun nipah dapat dimanfaatkan untuk atap bangunan, dan batangnya diolah menjadi sagu yang kaya kabohidrat. Di samping itu, nipah Bajulmati ini akan menjadi habitan yang baik baik berbagai jenis ikan dan biota-biota air lainnya.

Sumber:
– Nianto Mulyo, Bambang dan Suhandini, Purwadi. 2004. Kompetensi Dasar Geografi Jilid 2A. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
– Sandy, I Made. 1982. Atlas Indonesia. Jakarta: PT Dhasawarna dan Jurusan Geografi-FIPIA-UI.
– Wardiatmoko, K. 2004. Geografi SMA Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
– Beberapa sumber lain.

LABA-LABA PUNGGUNG BERDURI

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas bahwa laba-laba merupakan sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap, dan tak memiliki mulut pengunyah. Laba-laba merupakan binatang pemangsa (karnivora) yang juga bisa menjadi binatang pemangsa sesamanya (kanibal). Makanan utamanya adalah serangga. Serangga itu dapat ditangkap oleh laba-laba, salah satu caranya dengan menggunakan jaring. Perlu diketahui bahwa tidak semua laba-laba menangkap mangsanya dengan menggunakan jaring. Ada pula laba-laba yang untuk memperoleh makanannya dengan mengejar mangsanya dan ada pula yang membuat lubang jebakan. Namun demikian semua laba-laba mampu memproduksi benang yang berupa helaian serat protein dari kelenjar spinneret yang keluar dari bagian belakang tubuhnya. Ada beberapa fungsi dari helaian serat protein tersebut, yakni untuk rumah laba-laba (biasanya berbentuk jaring membulat), untuk kantung telur, dan menjadi benteng perlindungan sarang.

Gambar dalam posting ini, juga dalam posting sebelumnya merupakan laba-laba yang menggunakan serat protein untuk membuat jaring dalam menangkap mangsa dan sekaligus sebagai rumahnya. Laba-laba yang ditampilkan dalam posting ini termasuk jenis laba-laba dengan punggung berduri. Gambar atas, merupakan kenampakan laba-laba punggung berduri bagian atas, sedangkan gambar bawah, merupakan kenampakan laba-laba punggung berduri dilihat dari bawah. Pada gambar atas nampak bahwa laba-laba ini memiliki duri yang paling tidak berjumlah delapan duri, dua di antaranya yang terletak di punggung samping kiri dan kanan punggungnya berukuran lebih besar. Warna duri-durinya merah kecoklatan. Sedangkan punggungnya sendiri kuning muda dengan garis-garis penyeling berwarna kehitaman.

Pada gambar bawah nampak bahwa laba-laba ini didominasi dengan warna dasar kehitaman ditambah dengan bintik-bintik putih yang melingkar, termasuk kaki-kakinya.

Manfaat laba-laba dalam kehidupan sehari-hari adalah membantu manusia dalam mengendalikan jumlah serangga yang mengganggu tanaman pertanian, peternakan, bahkan kesehatan manusia itu sendiri. Pada masyarakat Jawa, khususnya pada tempo dulu, serat protein untuk kantung telur laba-laba (dalam bahasa Jawa disebut gamet) sering digunakan sebagai obat penutup luka, terutama luka baru. Darah yang mengucur dari luka baru pun dapat terhenti bila diberi/ditempeli gamet ini. Mudah-mudahan di masa mendatang ada pihak yang tergerak untuk meneliti kemanfaatan lebih lanjut dari laba-laba ini.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Alamat situs http://id.wikipedia.org/wiki/Laba-laba.

LABA-LABA, PENUNGGU RUMAH YANG SETIA

Rasanya tiada duanya makhluk di dunia ini yang betah tinggal di rumahnya. Untuk mencari makan pun dia tak sedikitpun beranjak meninggalkan rumah yang telah dibuatnya. Binatang berkaki delapan ini sangat sabar menunggu makanannya datang dan terjerat rumahnya yang berbentuk jaring. Dia tak terpengaruh hiruk-pikuk di sekitarnya. Dia fokus di rumah yang dibuatnya dari benang-benang yang dikeluarkan dari tubuhnya. Dia tidak rakus terhadap kepemilikan rumah. Juga tak tamak dalam mencari makan. Dia akan makan kalau ada mangsa yang memang rejekinya. Sesekali dia bergeser untuk memperbaiki jalanya yang rusak akibat terpaan angin atau sebab lain.

Dalam Al Qur’an ada sebuah surat yang artinya laba-laba. Surat dalam Al Qur’an yang artinya laba-laba tersebut adalah surat ke-29, yakni Surat Al Ankabuut. Surat ini berada di juz 20 yang terdiri dari 69 ayat yang termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Surat tersebut diberi nama Al Ankabuut karena berhubungan dengan perkataan Al Ankabuut (laba-laba) yang tertera pada ayat 41. Isinya, Allah mengumpamakan para penyembah berhala dengan laba-laba yang percaya pada kekuatan rumahnya sebagai tempat berlindung dan menjerat mangsanya, padahal kalau diterpa angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, maka rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini. Padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikitpun untuk menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua’ib, kaum Saleh, dll. Apalagi jika menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka (Yayasan Penyelenggara Penterjemahan/Pentafsir Al Qur’an, 1971:627).

Keterangan foto:
Dokumentasi pribadi dengan menggunakan kamera Sony DSC-W 150 pada 13 Pebruari 2011. Lokasi SMAPa Malang.

Sumber:
Yayasan Penyelenggara Penterjemahan/Pentafsir Al Qur’an. 1971. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI.

ANGGREK BULAN

Bulan April, Mei, dan Juni merupakan saat bermekarannya bunga-bunga anggrek, khususnya anggrek bulan (phalaenopsis amabilis). Anggrek merupakan kelompok vegetasi yang hidup menempel sebagai media pertumbuhannya. Sebagai epifit, anggrek suka tumbuh menempel pada batang atau ranting tumbuhan lain. Sedangkan sebagai holtikultura, tumbuhan ini sering ditempelkan pada media potongan/lempengan pakis. Karakteristiknya hidupnya tidak banyak membutuhkan sinar Matahari secara langsung. Lantaran itu para penghobi bunga cenderung menempatkannya di tempat-tempat yang teduh atau terlindung dari sengatan sinar Matahari. Lebih ideal lagi kalau tempat tersebut berudara lembab.

Tumbuhan yang juga menjadi bunga nasional Indonesia ini berwarna putih dan beberapa variasi warna lain. Bunganya itu ditopang oleh tangkai bunga yang memanjang hingga mencapai 20cm, berwarna hijau. Daunnya berwarna hijau gelap sepanjang sekitar 6cm dan lebar sekitar 3cm. Bila dipegang terasa agak tebal, Biasanya daun anggrek bulan ini hanya berjumlah antara empat sampai lima lembar dan menempel langsung di atas akarnya. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, tumbuhan yang mudah ditemukan ini tersebar luas di Indonesia, Malaysia, Philipina, Papua, hingga Australia. Di samping sebagai tanaman hias, belum diketahui pasti kemanfaatan lain dari anggrek bulan ini.

Keterangan foto: dokumentasi pribadi dari koleksi bunga pribadi, dipotret awal Juni 2011.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas.

POHON BENDO

Pohon bendo (dalam bahasa Jawa lebih tepat ditulis: bendha) merupakan pohon kayu bergetah yang masih bersaudara (lebih tepat disebut: marga) dengan nangka. Seperti halnya nangka, durian, dan sejenisnya, bendo ini merupakan pohon yang tingginya lebih dari 30m. Berdaun agak lebar, tebal, dan berkayu keras. Secara spesifik menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, pohon bendo memiliki klasifikasi Ilmiah sebagai berikut: “kerajaan: plantae, divisi: magnoliophyta, kelas: magnoliopsida, ordo: rosales, famili: moraceae, genus: artocarpus, spesies: A. elasticus dengan nama binomial: artocarpus elasticus.

Menurut sepengetahuan “nuansa masel”, pohon ini termasuk poho langka yang hidup liar secara tersebar di daerah berhutan di pulau Jawa, Sumatra, dan beberapa pulau lain di wilayah pembagian flora Indonesa Bagian Barat.

Belum banyak diketahui manfaat pohon ini bagi kehidupan manusia. “nuansa masel” hanya mengetahui kalau dari pohon bendo ini hanya diambil getahnya untuk perekat dalam menangkap burung. Getah diambil dari pohon tersebut dengan cara menoreh pada bagian kulitnya. Getah yang sudah terkumpul kemudian menggumpal dengan tekstur liat dan relatif elastis. Untuk menangkap burung, getah yang telah menggumpal itu dioleskan pada suatu dahan atau ranting pohon yang diperkirakan akan dihinggapi burung. Dan apabila ada burung yang hinggap, maka telapak kaki atau bahkan sayapnya terekat oleh gumpalan getah bendo tadi. Mungkinkah getah bendo ini bisa berfungsi layaknya getah karet? Sejauh ini kelihatannya belum ada pihak yang meneliti ke arah itu. Potensi bendo perlu digali. Siapa tahu getah tumbuhan ini bisa bermanfaat seperti karet. Kayunya sendiri kelihatannya juga jarang digunakan untuk bahan bangunan. Buahnya pun “nuansa masel” belum pernah melihatnya. Sedang menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas bahwa buah bendo ini dapat dimakan dalam keadaan segar. Untuk bijinya dapat dimakan setelah terlebih dahulu direbus atau digoreng. Kulit biji bendo ini sangat keras. Masyarakat Malang selatan masih banyak yang memanfaatkan biji bendo ini sebagai makanan ringan. Caranya biji bendo tersebut digoreng tanpa minyak (disangrai), kemudian dibungkus dalam kertas atau plastik dan dijajakan di warung-warung.

Keterangan foto:
Dokumentasi pribadi dengan obyek “pohon bendo” yang dipotret di lembah besuk Sat, perbatasan Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang, 2010.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

BUNGA BANGKAI JAWA

Rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia. Di antara keanekaragaman hayati itu berupa kekayaan taru (tumbuhan) yang salah satu di antaranya berupa bungai bangkai. Bunga yang menebarkan bau seperti bangkai ini yang paling dikenal dunia adalah bunga bangkai dari pulau Sumatera, yakni bunga Raflesia Arnoldi. Sebenarnya bunga bangkai tidak hanya tumbuh di pulau Sumatera, tetapi juga dapat ditemukan di pulau Jawa seperti yang tertera pada gambar di samping. Memang bunga bangkai dari Jawa ukurannya lebih kecil dibanding bunga bangkai yang berasal dari pulau Sumatera. Ukuran tinggi bunga bangkai dari Jawa ini sekitar 65cm. Namun demikian, keindahan bunga bangkai Jawa ini tidak kalah indah dibanding bunga sejenis yang ada di pulau Sumatera.

Bungai ini biasanya muncul pada awal musim penghujan, yakni pada bulan Oktober atau Nopember. Ketika mekar hanya bertahan sekitar tiga hari, kemudian secara berangsur-angsur akan layu dan mati.

Foto bunga bangkai tersebut saya ambil di sebuah pekarangan penduduk di Kabupaten Malang sekitar akhir Oktober tahun 2010.
*)Tulisan ini merupakan copy dari posting saya di blog saya sendiri yang beralamat pada http://nuansamasel.blogspot.com. Blog tsb mungkin akan saya hapus dan posting difokuskan pada blog utama, yakni http://informasi-budidaya.blogspot.com ini. Mohon maklum.

LALAT

Lalat merupakan binatang kecil yang termasuk dibenci manusia. Makhluk ini tidak pilih-pilih tempat/benda yang ingin dihinggapi. Tempat jorok maupun tempat bersih menjadi sasaran hinggapnya. Bau tidak sedap dan menjijikan menjadi sasaran hinggap kesukaannya. Lantaran itu lalat sering dicap sebagai biota pembawa berbagai penyakit. Terlebih lagi di kaki-kakinya tumbuh bulu-bulu halus yang bisa menempelkan bagian-bagian kecil dari sesuatu yang dihinggapinya. Belum lagi telapak kaki belakangnya yang melebar yang juga berfungsi sebagai penahan/penyengkeram sesuatu yang dihinggapinya. Tentu kaki-kaki itu akan cenderung membawa bagian tertentu dari sesuatu yang dihinggapinya. Seandainya yang dihinggapi itu bunga akan tidak menjadi masalah. Sebab yang akan terbawa adalah serbuk-serbuk sari yang justru membantu dalam proses pembuahan. Namun jika yang dihinggapi itu sesuatu yang jorok/kotor, maka yang akan menempel/terikut di kaki-kakinya adalah kotoran yang bisa jadi membawa bibit penyakit. Maka dari itulah lalat dibenci manusia.

Namun demikian menurut satu penuturan bahwa bagian dari lalat ini yang banyak mengandung penyakit adalah pada bagian kaki-kaki kirinya. Sedang bagian dari kaki-kaki kanannya merupakan penangkal dari penyakit. Jadi tempat obatnya. Menurut penuturan itu, jika misalnya air minum kita kejatuhan lalat dan air minum itu terpaksa kita minum maka sebelum diminum, lalat yang masuk ke dalam air itu dianjurkan untuk dibenamkan lalu dibuang, baru air itu diminum. Hal itu dilakukan karena untuk menetralisir penyakit yang ikut terbawa masuk dalam air minum itu. Apakah demikian adanya? Wallahu a’lam.
*)Tulisan ini merupakan copy dari posting saya di blog saya sendiri yang beralamat pada http://nuansamasel.blogspot.com. Blog tsb mungkin akan saya hapus dan posting difokuskan pada blog utama, yakni http://wwwnuansamasel.blogspot ini. Mohon maklum.

GAYA AKROBATIK SEEKOR BUNGLON

Bukan rekayasa! Ya, kenampakan yang terpampang pada posting ini memang bukan dibuat-buat. Kenampakan tersebut memang murni gaya akrobatik seekor Bunglon (chameleon) pada seutas kabel jemuran pakaian milik tetangga sebelah rumah. Reptil ini tidak merasa takut walau banyak orang di sekitarnya. Termasuk ketika “nuansa masel” memotretnya yg hanya berjarak 1m hingga 2m. Binatang yang termasuk suku agamidae ini hanya bergeming di tempatnya. Dia tidak mengubah warna kulitnya. Itu tandanya dia tidak sedang terancam, walau berada di tempat yang asing yang jauh berbeda dengan tempat atau lingkungan hidupnya. Bunglon akan berkamuflase ketika sedang terancam. Biasanya akan menyerupai warna yang dominan di tempat dia berada. Bunglon yang warna kulitnya hijau ini akan berubah menjadi hijau muda, kemudian kuning, coklat, hingga akhirnya kulitnya berubah menjadi kehitam-hitaman. Perilaku tersebut memang tidak lazim bagi seekor bunglon yang biasanya takut dan segera melarikan diri ke semak-semak ketika berhadapan dengan manusia. Diduga bunglon ini tersesat masuk ke wilayah/ingkungan manusia karena kelaparan atau lantaran mengejar serangga, makanan kesukaannya.

Binatang ini berukuran panjang sekitar 60cm, dihitung mulai dari moncong di kepalanya sampai ujung ekornya. Panjang ekornya sendiri tiga kali lebih panjang dari panjang tubuhnya. Berkaki empat dengan kuku-kuku yang cukup kuat untuk mengaitkan di cabang, ranting, atau apa saja yang dipijaknya. Lehernya bergelambir dan dengan sejenis mahkota bergerigi yang bisa mekar di atas lehernya. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia ensiklopedia bebas, bahwa daerah persebaran bunglon ini meliputi pulau Jawa dan sebagian besar daerah persebaran fauna Indonesia Barat, serta beberapa pulau di daerah persebaran fauna laut pertengahan Austral-Asiatis (daerah Indonesia Tengah).

Makhluk ini cukup menarik kalau diamati. Namun demikian rupanya belum ada orang yang meneliti kemanfaatannya. Sementara ini masih merupakan plasma nutfah yang potensial, tidak seperti saudaranya, tokek yang pernah booming hingga ada yang mengatakan berharga milyaran rupiah per ekornya. Jelasnya makhluk melata ini diciptakanNya tidak sia-sia. Pasti ada manfaatnya. Setidaknya sebagai pelaku dalam rantai makanan sebagai pemangsa serangga.

DURIAN SIDOMULYO

Durian merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Di Indonesia, tumbuhan yang hidup di daerah dataran rendah hingga daerah berbukit dengan ketinggian sekitar 700m di atas permukaan laut ini tersebar di berbagai pulau besar di wilayah Indonesia Barat seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Durian termasuk dalam kerajaan plantae, marga durio, dan spesies durio zibethinus. Secara fisik, pohon durian tingginya bisa mencapai lebih dari 20m, berdaun lembut merata hampir di setiap cabang ataupun rantingnya. Diameter batang bagian bawahnya ada yang mencapai lebih dari 60cm. Buahnya berbentuk lonjong atau agak membulat dengan permukaan dipenuhi oleh kulit berduri tajam. Lantaran kulit yang berduri tajam inilah, maka pohon dan buahnya disebut dengan durian. Daging buahnya yang lembut dan beraroma khas tersusun rapi di dalam bilik-bilik buah yang relatif keras. Daging buah yang lembut membungkus biji yang dalam bahasa Jawa sering disebut pongge. Aroma daging buah yang khas dan menyengat, membuat sebagian orang tidak atau kurang menyukainya. Walaupun demikian, buah durian sering disebut dengan rajanya buah-buahan (king of fruits). Nangka merupakan saudara dekat dari durian.

Buah dan pohon durian yang terpampang dalam posting ini merupakan hasil budidaya pertanian masyarakat Desa Sidomulyo Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang yang berketinggian lebih kurang 500m di permukaan laut dan berjarak sekitar 2km dari pantai selatan Jawa. Sayangnya tanaman durian tersebut hanya sebagai tanaman penyela di antara tanaman-tanaman perkebunan lainnya. Tanaman durian itu hidup di antara tanaman buah manggis, kelapa, kopi, dan cengkeh yang memang merupakan tanaman perkebunan utamanya.

Sebagaimana saudara dekatnya, nangka; masa pembungaan dari durian ini juga mengalami pemunduran lantaran musim penghujan yang berkepanjangan. Hal tersebut disampaikan salah seorang penduduk desa setempat. Di samping mundur, bunga durian (bhs. Jawa: dlongop) jumlahnya tidak seberapa banyak. Itupun di antaran ada yang rontok, lantaran curahyang terlalu tinggi. Sedang menurut seorang warga yang lain bahwa musim buah durian itu bulan Mei. Warga tersebut menambahkan bahwa durian berbuah sekali dalam setahun. Untuk pohon durian lokal akan mulai berbuah ketika berumur sekitar 10th. Sedangkan untuk pohon durian varietas unggul sudah mulai berbuah antara 3tahun sampai 5tahu.

Secara spesifik, durian Sidomulyo yang gambarnya terpampang di atas memiliki ukuran sedang, dengan bilik-bilik yang penuh terisi buah. Daging buahnya tebal, hampir tak berserat, dan dengan rasa yang manis. Silahkan coba jika Anda berkunjung ke pantai Sendangbiru.

Sumber:
– Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedi bebas
– Masyarakat Desa Sidomulyo Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang
– Kepala SMAN 1 Sumbermanjing di Sidomulyo