BUNGA LIAR (2)

Sama dengan bunga liar (1) pada posting sebelumnya, tumbuhan berwarna kuning yang indah ini merupakan kelompok tumbuhan dalam biocycle daratan, biochore hutan. Menurut kebutuhan airnya, tumbuhan ini juga termasuk tumbuhan mesofit dan sebagai tumbuhan pemanjat (liana). Tumbuhan inipun bisa ditemukan di di daerah yang berketinggian antara 200m hingga 300m.

Tumbuhan ini juga tidak “nuansa masel” identitasnya. Mereka begitu saja hidup liar di tempat terbuka maupun di tempat yang naung di bawah rerimbunan pepohonan. Sebagaiman bunga liar (1), bunga liar yang ini juga sering didatangi berbagai kupu-kupu untuk mengisap madunya.

BUNGA LIAR (1)

Bunga ini berbentuk seperti terompet, berwarna ungu cerah yang sangat menarik. Bunga tersebut mirip bunga tanaman ketela rambat dan kangkung. Tumbuhan ini menurut kelas vegetasi dalam biosfer termasuk dalam biocycle daratan, biochore hutan. Berdasarkan kebutuhan terhadap air, tumbuhan ini termasuk mesofit. Melihat cara hidupnya yang merambat pada tumbuhan lain atau suatu media tertentu, tumbuhan tersebut termasuk liana (tumbuhan pemanjat atau tumbuhan yang melilit). Tumbuhan ini mudah ditemukan di tempat yang berketinggian antara 200m sampai 300m. Tumbuhan ini bisa hidup di tempat terbuka maupun di tempat yang teduh. Tumbuhan ini banyak mengeluarkan bunga ketika awal sampai pertengahan musim kemarau.

Walaupun berbunga indah, namun tak ada orang yang berminat untuk memeliharanya. Apalagi membudidayakannya. Karena itulah “nuansa masel” menyebutnya sebagai bunga liar. Namanya pun “nuansa masel” tak mengetahuinya.

ANGGREK DENDROBIUM PUTIH UNGU

Inilah warna lain dari anggrek Dendrobium. Warna putih keunguan menyebar pada bunga yang berbentuk mirip bintang ini. Sedang bagian tengahnya didominir warna ungu. Semula “nuansa masel” menduga tanaman anggrek ini tak akan berbunga lagi karena dianggal telah mati. Anggrek tersebut tinggal tegakan batang setinggi sekitar 20cm. Sedangkan daunnya telah tanggal setahun lalu karena terkena semacam parasit yang menempel pada daun tersebut. Walaupun begitu “nuansa masel” tetap setia menyiram atau menyemprotkan air di seputar akar dan batangnya. Harapannya daun anggrek tersebut bisa tumbuh lagi. Tetapi tanpa diduga anggrek yang tinggal batang tersebut ternyata menyembulkan tangkai dengan bunga yang masih kuncup. Selang beberapa hari kemudian bermekaranlah bunga anggrek ini. Alhamdulillah.

ANGGREK DENDROBIUM

Sampai bulan Juli ini ternyata bunga anggrek masih bermekaran seperti halnya yang terpampang pada posting ini. Anggrek tersebut merupakan tanaman hias peliharaan “nuansa masel” yang ditaruh di belakang rumah. Warna ungu yang menawan, mekar lebih dari sebulan. Tanaman hias eksotis ini banyak diminati penggemarnya. Jumlah dan warnanya sangat banyak. Sedang anggrek warna ungu yang tertera dalam posting ini nama lengkapnya anggrek Dendrobium.

Anggrek bisa hidup di daerah dataran rendah maupun di daerah ketinggian. Menurut kelas-kelas vegetasi dalam biosfer, anggrek termasuk dalam biocycle daratan. Sedang menurut klasifikasi tumbuhan berdasarkan kebutuhan airnya, anggrek termasuk kelompok higrofit. Berdasarkan hal itu tumbuhan ini akan hidup nyaman di daerah yang udaranya banyak mengandung uap air atau lembab. Ada dua macam anggrek berdasarkan media tempat hidupnya. Ada anggrek yang bisa hidup langsung di permukaan tanah. Ada pula anggrek yang hidupnya menempel pada media lain. Anggrek yang hidupnya harus menempel pada media lain termasuk dalam kelompok tumbuhan epifit. Media tersebut bisa berupa tumbuhan lain atau media buatan. Adapun anggrek Dendrobium yang berwarna ungu ini hidup pada media pakis dan arang yang dimasukkan dalam pot berlubang banyak. Pot yang berlubang banyak ini dimaksudkan agar air yang masuk dalam pot dapat segera tuntas, tidak menggenang. Sepengetahuan “nuansa masel” belum ada manfaat lain dari tanaman ini selain sebagai tanaman hias yang dinikmati keindahan bunganya.

TEKIK (TUMBUHAN MERANGGAS III)

Pohon tekik sering pula disebut dengan sengon merah. Pohon tekik merupakan nama yang disberikan oleh orang Jawa. Sedangkan sebutan sengon merah karena pohon ini mirip sengon. Hanya saja bila kulitnya dikupas, maka akan nampak kemerahan pada kulit bagian dalamnya. Kayunya juga sedikit berwarna kemerahan.

Sama halnya dengan dua posting sebelumnya, tumbuhan dari kerajaan Plantae ini juga merontokkan daunnya begitu musim kemarau tiba. Bunga-bunga yang sebelumnya bermekaran kemudian membentuk buah pipih sepanjang jari telunjuk orang dewasa.

Tumbuhan ini masih berkerabat dekat dengan lamtoro. Tingginya bisa mencapai lebih dari 20m dengan diameter bisa mencapai lebih dari 3m. Berdasarkan kelas-kelas vegetasi dalam biosfer, tekik termasuk dalam biocycle daratan, biochore (bioma) hutan, yakni hutan/tumbuhan musim. Mengingat pada musim kemarau tumbuhan ini menggugurkan daunnya, maka tekik juga termasuk kelompok tumbuhan tripofit. Sedangkan menurut klasifikasi tumbuhan berdasarkan kebutuhan airnya, maka tekik termasuk tumbuhan mesosfit. Tekik ini tergolong tumbuhan yang cepat tumbuh dan membesar, terlebih jika berada di tempat terbuka. Tumbuhan ini berkayu ringan.

Mengingat termasuk berkayu ringan, maka tekik kurang disukai bila dijadikan bahan bangunan. Terlebih kayunya juga cepat rapuh bila terkena air hujan dan mudah diserang rayap. Masyarakat lebih sering menggunakannya sebagai kayu bakar.

RANDU (TUMBUHAN MERANGGAS II)

Randu juga merupakan tumbuhan yang meranggas atau menggugurkan daunnya begitu musim kemarau tiba. Uniknya pohon yang berkayu lunak ini, begitu daunnya habis justru bunganya mulai bermunculan. Munculnya bunga randu (juga untuk bunga dhadhap dan turi) sering dijadikan sebagai pertanda datangnya musim dingin (bhs. Jawa: mbedhidhing) oleh orang Jawa. Tentu musim dingin di Indonesia, khususnya di Jawa tidak sama (tidak sedingin) dengan musim dingin di daerah lintang sedang dan kutub.

Pohon randu sering juga disebut kapuk randu. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia (Ensiklopedia Bebas) bahwa randu termasuk kerajaan: Plantae, divisi: Magnoliophyta, kelas: Magnoliopsida, Ordo: Malvales, famili: Malvaceae (Bombacaceae), genus: Ceiba, spesies: C. pentandra. Masih menurut Wikipedia bahasa Indonesia, bahwa tumbuhan ini berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah, Karibia, Afrika bagian barat. Tumbuhan ini kemudian tersebar di Jawa, Malaysia, dan Philipina. Tinggi pohonnya bisa mencapai antara 60m–70m dengan diameter batang bisa mencapai 3m.

Menurut kelas-kelas vegetasi dalam biosfer, randu termasuk dalam biocycle daratan, biochore (bioma) hutan, khususnya hutan (tumbuhan) musim. Artinya, ketika musim kemarau tumbuhan ini akan menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan melalui daunnya. Berdasarkan hal tersebut, pohon randu sering dikelompokkan pada kelompok vegetasi tropofit. Sedangkan berdasarkan klasifikasi tumbuhan berdasarkan kebutuhan airnya, pohon randu termasuk kelompok vegetasi mesofit. Perbanyakan tumbuhan ini bisa melalui biji atau stek batang.

Mengingat kayunya yang ringan, maka kayu randu ini tidak/kurang baik untuk bahan bangunan. Adapun manfaat tumbuhan randu dalam kehidupan sehari-hari: (1) Kayunya dapat digunakan untuk kotak/peti untuk mengemas buah-buahan, dan barang-barang lainnya. (2) Daunnya bisa untuk pakan ternak. (3) Buahnya yang masih sangat muda oleh sebagian orang Jawa digunakan untuk rujak. Sedang buah yang sudah tua dan kering berisi serat yang berwarna putih sampai putih kusam. Serat ini sering dipakai untuk bahan pengisi bantal dan kasur, serta untuk keperluan-keperluan sejenis. Di antara serat-serat tersebut terdapat biji randu yang berbentuk bulat kasar berwarna hitam. Biji ini pada masa lalu oleh sebagian orang Jawa digoreng tanpa minyak untuk penganan/camilan. Biji randu ini bila digoreng akan mengeluarkan minyak dalam jumlah kecil.

Sumber:
– Wikipedia bahasa Indonesia (Ensiklopedia Bebas)–http://id.wikipedia.org/wiki/Kapuk_randu
– Televisi Edukasi

KEDONDONG (TUMBUHAN MERANGGAS I)

Kedondong dalam bahasa Jawa disebut dondong. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia bahwa kedondong termasuk suku mangga-manggaan (Anacardiaceae). Selanjutnya Wikipedia bahasa Indonesia menguraikan bahwa kedondong tergolong dalam kerajaan: Plantae, ordo: Sapindales, genus: Spondias, spesies: S. dulcis dengan nama binomial: Spondias dulcis. Tumbuhan ini dapat hidup di dataran rendah hingga di dataran berbukit yang berketinggian sekitar 400m. Tumbuhan ini tersebar di wilayah Oriental yang meliputi Indonesia, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Philipina.

Tumbuhan buah ini walaupun termasuk suku mangga-manggaan, namun ternyata tidak sama dalam menyikapi perubahan musim. Mangga tidak pernah menggugurkan daunnya ketika musim kemarau tiba, yang musim kemarau itu identik dengan berkurangnya curah hujan dan kandungan air dalam tanah. Hal seperti itu tidak berlaku pada kedondong. Begitu musim kemarau tiba, kedondong akan segera menggugurkan daunnya hingga meranggas dan tinggal batang, cabang, serta rantingnya. Biasanya tumbuhan kedondong di Indonesia akan segera meranggas pada sekitar akhir bulan April–Mei–Juni dan akan berangsur-angsur muncul kembali daunnya ketika bulan Juli. Berdasarkan hal tersebut, kedondong bersama-sama sengon merah (tekik), randu, jati, trembesi, dan pete termasuk tumbuhan meranggas ketika terjadi perubahan musim, yakni ketika musim kemarau.

Sebagai tanaman buah, kedondong sering dikonsumsi penduduk dalam berbagai bentuk. Dikonsumsi langsung sebagai layaknya buah atau dibuat rujak manis bersama buah-buah yang lain. Buah yang masih muda berwarna hijau dengan permukaan licin mengkilat. Rasanya masam (bahasa Jawa: kecut). Sedang buah yang sudah matang berwarna kuning, agak lembek, dan sedikit terasa manis. Sedang daunnya bisa dimanfaatkan untuk bumbu masakan, utamanya untuk bumbu pepes ikan.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia–http://id.wikipedia.org/wiki/Kedondong

JAMUR AIR ASIN

Jamur ini ditemukan menempel di konstruksi baja yang telah berkarat pada dermaga pendaratan ikan di Sendangbiru Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Jamur yang berwarna abu-abu dan coklat tersebut menempel kuat dan selalu bergerak-gerak terkena hempasan gelombang laut yang selalu menepi menghampirinya. Biota yang selalu terendam oleh asinnya air laut ini menarik perhatian. Hidupnya menggerombol memanjang sepanjang rangka baja yang menopang dermaga tersebut. Sepertinya permukaan jamur tersebut lembut dan licin. “nuansa masel” tidak bisa menggapai karena posisinya yang tidak memungkinkan dan lantai dermaga yang selalu bergoyang-goyang terkena hempasan ombak. Sesekali ikan-ikan kecil menghampirinya dan kemudian meninggalkannya. Entah apa nama dan manfaat jamur tersebut. Mudah-mudahan suatu ketika ada yang tergerak untuk meneliti dan menguak kemanfaatannya bagi manusia.

JAMUR BAMBU

Diberi nama jamur bambu karena organisme ini tumbuh dan berkembang dengan cara menempel pada sepotong bambu yang telah pecah-pecah karena mulai lapuk. Kondisi bambu itu sendiri dalam keadaan lembab yang tergolek di bawah pepohonan. Jamur bambu itu sendiri berwarna oranye dan berukuran kecil. Diameternya tidak lebih dari 3cm. Bahkan jamur yang tergambar dalam posting ini hanya 2,5cm garis tengahnya.

Di samping warnanya yang menarik, ternyata pada jamur yang telah maksimal umurnya (dewasa) ditemukan adanya semacam tegakan yang berisi buliran-buliran seperti buliran padi. Buliran-buliran itu juga berbulu kecil-keci. Mungkinkah itu sporanya? Pada bagian bawah dari tegakan itu keluar semacam akar.

Sebagaimana jamur kayu pada posting sebelumnya, jamur bambu ini tidak dihiraukan oleh penduduk sekitar. Mereka takut mengkonsumsinya karena khawatir beracun. Jamur inipun pelahan-lahan mati seiring datangnya musim kemarau.

JAMUR KAYU

Jamur merupakan tumbuhan yang termasuk dalam kerajaan fungi. Jamur yang diketengahkan dalam posting ini ditemukan pada potongan kayu yang telah mengalami pelapukan tahap awal di sebuah halaman rumah penduduk pada penghujung musim penghujan lalu. Bentuknya berlekuk-lekuk dengan warnanya putih kusam kecoklatan dan keabu-abuan. Diameter jamur tersebut lebih dari 20cm dan bila dipegang terasa agak keras, kaku, dan tebal di bagian tengah sekitar 0,50cm, kemudian menipis di ujung-ujungnya.

Warga pemilik kayu yang ditumbuhi jamur ini tidak tahu nama pastinya. Mereka pun tidak berani mengkonsumsinya karena dikhawatirkan beracun. Apakah jamur ini beracun atau berkhasiat obat, tak seorang penduduk pun yang mengetahuinya. Jamur ini dibiarkan begitu saja hingga datangnya musim kemarau. Ketika curah hujan berangsur-angsur turun, jamur ini kemudian bagian tengahnya pecah lalu mengeriput dan mati.