Kategori: berbagai jenis ikan
PRODUKSI PELET BERBASIS BAHAN MAGGOT UNTUK BUDIDAYA IKAN
C. H. Adi, Y. Mundayana, S. Hanif, K. T. Wibowo,
Herry, A. Surahman, E. Ridwan
download BUDIDAYA UDANG WINDU
Sketsa perkembangan larva ikan kuwe (Gnathanodon speciosus)
gambar Siklus hidup artemia
mikroskop. Ciri khas dari artemia sangat mudah dikenali setelah cyste
artemia menetas yang berubah menjadi nauplius.
Setiap kali perubahan bentuk merupakan tahapan suatu tingkatan yaitu
instar 1 – instar xv, setelha itu menjadi artemia dewasa.
endopodit, dan epipodite yang masing – masingberfungsi sebagi alat pengumpul makanan, alat bereng, dan alat pernafasan.
artemia. Cyste artemia berupa telur yang mengalami fase istirahat
karena kondisi lingkungan perairan yang buruk. Pada induk artemia
memiliki sifat dialam yaitu berkembangbiak yaitu pada saat kondisi
perairan baik maka telur yang dihasilkam akan menetas menjadi naupli
Kisaran kualitas air budidaya bandeng
• pH tanah 4,8 – 6,8
• salinitas 5 – 11 ppt
• DO 3,3 – 4,6 ml/L
• Suhu 25 – 300C
• pH air 7,5 – 8,8
• NH3 (amonia) 0,05 – 0,22 ppm
• H2S (asam belerang) 0,024 – 0,05 ppm
• Fe 0,04 – 0,63 ppm
gambar alat Pengukuran Kualitas Air
cara Penetasan Artemia
inkubasi dan menjadi naupli. Cyste yang diperdagangkan adalah
artemia yang telah dikeringkan dengan kadar air kurang dari 10%. Oleh
karena itu penetasan dilakukan dengan metode yaitu metode
dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi. Prose penetasan dengan dekapsulasi,
cyste pada tahap awal dilakukan perendaman dengan air tawar selam
satu jam yang berfungsi untuk meningkatkan kadar air pada cyste
artemia an cyste tersebut akan mengembung dan muali terjadi proses
metabolisme.
Faktor – faktor untuk menghasilkan efesiensi penetasan maksimum :
a) Suhu
Suhu dijaga pada kisaran 25 – 30 oC dibawah 25 oC, cyste akan
lambta menetas dan diatas 33 oC akan membuat metabolisme cyste
bisa terhenti.
b) Salinitas
Sebaiknya digunakan air laut yang alami. Penetasan artemia
memerlukan kisaran suhu antara 25 – 35 ppt
c) Oksigen terlarut
Batas oksigen terlarut yang dianjurkan diatas 2 mg/l untuk
menghasilkan penetasan dan efesiensi yang tinggi pada cyste
artemia.
d) Kepadatan artemia
Kepadatan artemia tidak lebih dari 5 gram per liter air laut.
Wadah penetasan Artemia
IKAN KUWE ( G. speciosus )
Menurut Usman et al. (1996), sampai saat ini produksi ikan Kuwe masih berasal dari hasil tangkapan. Pada tahun 2005, produksi ikan Kuwe di Indonesia melalui
hasil tangkapan mencapai 47.125 ton, sedangkan produksi yang berasal dari
kegiatan budidaya sampai saat ini sedang diupayakan, tetapi masih belum dapat
dihasikan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006). Sampai saat ini para pembudidaya sangat kesulitan dalam pengetahuan tentang bagaimana cara membudidaya ikan kuwe tersebut sehingga saat ini petani belum mampu memenuhi permintaan ikan kuwe yang semakin meningkat sedangkan alam tidak mampu memenuhi permintaan seluruh pasar secara continue untuk itu perlu adanya suatu budidaya yang dapat berlangsung secara terus-menerus.
pada perairan pantai dangkal, karang dan batu karang. Ikan ini juga dikenal oleh
5
masyarakat sebagai ikan hias dengan nama ikan Pidana Kuning dan memiliki
nama inggris yaitu Golden trevally. Daging ikan kuwe memiliki rasa yang enak,
hal ini yang menyebabkan peluang yang mendukung untuk keberhasilan untuk
membudidayakan ikan kuwe ini. Salah satu factor keberhasilan usaha budidaya
tersebut adalah benih yang berkualitas. Untuk itu sebagai seorang aquakultur
mempelajari sistematika dari ikan kuwe ini.
A. Sistematika
Klasifikasi ikan Kuwe menurut Anonymous (2007) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Order : Perciformes
Family : Carangidae
Genus : Gnathanodon
Species : Gnathanodon speciosus
B. Ciri-ciri dan Aspek biologi
1. Ciri Fisik
Tubuh kuwe berbentuk oval dan pipih. Warna tubuhnya bervariasi, yaitu
biru bagian atas dan perak hingga keputih-putihan dibagian bawah. Tubuh
ditutupi sisik halus berbentuk cycloid.
Golden Trevally memiliki bentuk badan pusiform dan pipih ke samping
panjangnya mencapai 90 cm, badan berwarna kuning perak dan strip
vertical dengan satu pembatas diantara strip. Sirip ikan ini tidak bersisik
dengan sirip ekor yang bercagak. Tubuh ikan dewasa berwarna keperakan
pada bagian atas dan kuning keperakan pada kepala serta tubuh bagian
bawah. Di bagian samping tubuhnya terdapat ± 10 band vertikal warna







