PROBIOTIK SECARA PERIODIK PADA PEMELIHARAAN IKAN PATIN (Pangasianodon hypophthalmus) DENGAN SISTEM RESIRKULASI

Tingkat keberhasilan dalam budidaya dengan system resirkulasi lebih menjanjikan dibandingkan dengan sistem kolam terbuka. Namun demikian kelemahan dari penerapan budidaya dengan sistem resirkulasi adalah adanya kecenderungan kualitas air kurang baik sehubungan dengan air buangan yang digunakan kembali secara terus menerus selama periode waktu pemeliharaan.
Untuk mendapatkan kualitas air yang baik, salah satu langkah yang memungkinkan dilakukan adalah “perbaikan” dengan melakukan substitusi/aplikasi bakteri pengurai yang menguntungkan (probiotik) yang anaerobic/aerobik sehingga populasi bakteri pathogen dalam media pemeliharaan dapat ditekan keberadaanya dan lebih didominasi oleh bakteri yang menguntungkan.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengendalikan kualitas media budidaya agar layak untuk budidaya.
Hasil dari kegiatan perekayasaan menunjukkan bahwa pemberian probiotik pada media dalam sistem resirkulasi memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan berat sebesar 5,25-5,64% dan panjang standar ikan sebesar 1,67-1,82%, pada suhu media/air optimum yaitu 25-30°C pada pemeliharaan patin ukuran tebar 60-70 gram.
Murtiati, Y. Mundayana,T. Wahyuni, K. Simbolon, Juyana

PRODUKSI PELET BERBASIS BAHAN MAGGOT UNTUK BUDIDAYA IKAN

Komponen dasar pelet yang digunakan dalam budidaya lele, seperti halnya pakan ikan karnivora, yaitu tepung ikan.  Namun demikian, kenaikan biaya tepung ikan, yang menyebabkan meninkatnya harga pakan dan tingginya ongkos produksi lele, memicu pencarian sumber–sumber protein alternatif bagi bahan baku pakan lele.  Pakan merupakan variabel tunggal terbesar dalam operasional produksi dan dalam budidaya udang semi-intensif misalnya biaya pakan ini hampir 28% dari total biaya (Treece, 2000).
Pencarian sumber protein alternatif yang dapat memberi performance sebanding dengan tepung ikan perlu terus dilakukan secara kontinyu.  Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar telah melakukan kajian-kajian terhadap larva maggot, Black Soldier (Hermitia illuciens) sejak tahun 2004 guna mensubstitusi tepung ikan.  Maggot adalah sejenis serangga pemakan madu yang mengasilkan larva yang memakan bahan organik.  Pemanfaatan larva maggot untuk pakan ikan telah dikaji sbelumnya dalam bentuk utuh dan dalam bentuk formulasi pakan pelet.  Hasil kajian menunjukan adanya potensi untuk dikembangakan dan diharapkan dapat menggantikan tepung pelet pada pakan lele (Clarias sp.).
Dari hasil uji laboratorium mengindikasikan adanya konsistensi antara formulasi pakan yang dibuat dalam perekayasaan pelet berbasis maggot tersebut dengan hasil analisa proksimat dari laboratorium nutrisi, hal tersebut bisa dilihat dari tabel 1 dengan tabel 3 dimana didapat hasil yang tidak berbeda nyata yaitu kandungan protein pakan pengujian 29.77 % dalam formulasi awal dan 29.21% hasil laboratorium. Sementara pakan kontrol kandungan proteinnya adalah 30.65% dalam formulasi awal dan 30.34% hasil proksimat laboratorium. Hal tersebut menunjukkan adanya progress yang baik untuk memproduksi pelet berbasis maggot ini secara massal,
Hasil uji lapang penggunaan pakan maggot pada pembesaran Ikan lele yang menggunakan kolam terpal dengan ukuran dan padat penebaran yang sama telah menghasilkan Sintasan (SR) sebesar 92.94% + 0,0 %; dengan konversi pakan FCR 1.18+ 0,1; dan pertumbuhan spesifik SGR 3.90%; sementara hasil uji lapang penggunaan pakan kontrol pada pembesaran Ikan lele yang menggunakan kolam terpal dengan ukuran dan padat penebaran yang sama telah menghasilkan Sintasan (SR) sebesar 88.24%+ 0,1 %; konversi pakan FCR 1.29+ 0,1; pertumbuhan spesifik SGR 3.77%+ 0,0%, dari hasil pengujian tersebut menunjukan pakan maggot  layak diproduksi dan digunakan untuk pembudidayaan lele khususnya pembesaran.

C. H. Adi, Y. Mundayana, S. Hanif, K. T. Wibowo,
Herry,  A. Surahman, E. Ridwan

gambar Siklus hidup artemia

 
 
 
 
 
 
Untuk melihat morfologi artemia dapat dilihat secara jelas dibawah
mikroskop. Ciri khas dari artemia sangat mudah dikenali setelah cyste
artemia menetas yang berubah menjadi nauplius. 
 
 
Dalam perkembangnya mengalami 15 kali perubahan bentuk (metamorfosis).
Setiap kali perubahan bentuk merupakan tahapan suatu tingkatan yaitu
instar 1 – instar xv, setelha itu menjadi artemia dewasa. 
Tubuh artemia dewasa mempunyai ukuran 1- 2 cm dengan sepasang kaki majemuk dan 11 pasang thoracopoda. Setiap thoracopoda mempunyai eksopodit,
endopodit, dan epipodite yang masing – masingberfungsi sebagi alat pengumpul makanan, alat bereng, dan alat pernafasan.
Artemia yang akan ditebar ke dalam media penetasan berasal dari cyste
artemia. Cyste artemia berupa telur yang mengalami fase istirahat
karena kondisi lingkungan perairan yang buruk. Pada induk artemia
memiliki sifat dialam yaitu berkembangbiak yaitu pada saat kondisi
perairan baik maka telur yang dihasilkam akan menetas menjadi naupli

Kisaran kualitas air budidaya bandeng

Kisaran kualitas air pada tambak tradisional pembesaran bandeng di  adalah sebagai berikut:

• pH tanah 4,8 – 6,8
• salinitas 5 – 11 ppt
• DO 3,3 – 4,6 ml/L
• Suhu 25 – 300C
• pH air 7,5 – 8,8
• NH3 (amonia) 0,05 – 0,22 ppm
• H2S (asam belerang) 0,024 – 0,05 ppm
• Fe 0,04 – 0,63 ppm

Warna air pada tambak pembesaran bandeng secara tradisional di yaitu berwarna coklat kehijauan ini menunjukkan adanya kelekap dan fitoplakton yang tumbuh dalam tambak. Menurut Kordi dan Andi (2007), kualitas yang optimal untuk budidaya bandeng yaitu dengan kisaran pH 7 – 9, suhu 23 – 320, DO 4 – 7 ppm, dan salinitas 0 – 35 ppt. Untuk tumbuh optimal, biota budidaya membutuhkan lingkungan hidup yang optimal pula. Kualitas air dan pengaruhnya terhadap biota budidaya sangat penting diketahui oleh pembudidaya. Kualitas air dapat diketahui dari beberapa parameternya. Sebagai parameter untuk budidaya biota air adalah karakter fisik dan kimia.

cara Penetasan Artemia

Penetasan Artemia salina

Cyste artemia dapat menetas dalam waktu 24 – 48 jam dalam massa
inkubasi dan menjadi naupli. Cyste yang diperdagangkan adalah
artemia yang telah dikeringkan dengan kadar air kurang dari 10%. Oleh
karena itu penetasan dilakukan dengan metode yaitu metode

dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi. Prose penetasan dengan dekapsulasi,
cyste pada tahap awal dilakukan perendaman dengan air tawar selam
satu jam yang berfungsi untuk meningkatkan kadar air pada cyste
artemia an cyste tersebut akan mengembung dan muali terjadi proses
metabolisme.

Faktor – faktor untuk menghasilkan efesiensi penetasan maksimum :

a) Suhu
Suhu dijaga pada kisaran 25 – 30 oC dibawah 25 oC, cyste akan
lambta menetas dan diatas 33 oC akan membuat metabolisme cyste
bisa terhenti.

b) Salinitas
Sebaiknya digunakan air laut yang alami. Penetasan artemia
memerlukan kisaran suhu antara 25 – 35 ppt

c) Oksigen terlarut
Batas oksigen terlarut yang dianjurkan diatas 2 mg/l untuk
menghasilkan penetasan dan efesiensi yang tinggi pada cyste
artemia.

d) Kepadatan artemia
Kepadatan artemia tidak lebih dari 5 gram per liter air laut.

IKAN KUWE ( G. speciosus )

Ikan merupakan sumber protein hewani bagi kelangsungan hidup manusia, seperti hal telah kita ketahui anak-anak kecil sangat membutuhkan protein hewani tersebut karena sangat membantu dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Salah satu komoditas ikan konsumsi yang memiliki kandungan gizi yang baik adalah jenis ikan kuwe (G.speciosus).

Menurut Usman et al. (1996), sampai saat ini produksi ikan Kuwe masih berasal dari hasil tangkapan. Pada tahun 2005, produksi ikan Kuwe di Indonesia melalui
hasil tangkapan mencapai 47.125 ton, sedangkan produksi yang berasal dari
kegiatan budidaya sampai saat ini sedang diupayakan, tetapi masih belum dapat
dihasikan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006). Sampai saat ini para pembudidaya sangat kesulitan dalam pengetahuan tentang bagaimana cara membudidaya ikan kuwe tersebut sehingga saat ini petani belum mampu memenuhi permintaan ikan kuwe yang semakin meningkat sedangkan alam tidak mampu memenuhi permintaan seluruh pasar secara continue untuk itu perlu adanya suatu budidaya yang dapat berlangsung secara terus-menerus. 

Hal ini juga membantu dalam mengetahui dan mempelajari habitat, kebiasaan makan, pakan yang biasa dimakan dan cara reproduksinya.
Ikan kuwe merupakan salah satu jenis ikan permukaan(pelagis) ikan yang hidup
pada perairan pantai dangkal, karang dan batu karang. Ikan ini juga dikenal oleh
5
masyarakat sebagai ikan hias dengan nama ikan Pidana Kuning dan memiliki
nama inggris yaitu Golden trevally. Daging ikan kuwe memiliki rasa yang enak,
hal ini yang menyebabkan peluang yang mendukung untuk keberhasilan untuk
membudidayakan ikan kuwe ini. Salah satu factor keberhasilan usaha budidaya
tersebut adalah benih yang berkualitas. Untuk itu sebagai seorang aquakultur
mempelajari sistematika dari ikan kuwe ini.

A. Sistematika
Klasifikasi ikan Kuwe menurut Anonymous (2007) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Order : Perciformes
Family : Carangidae
Genus : Gnathanodon
Species : Gnathanodon speciosus

B. Ciri-ciri dan Aspek biologi
1. Ciri Fisik

Tubuh kuwe berbentuk oval dan pipih. Warna tubuhnya bervariasi, yaitu
biru bagian atas dan perak hingga keputih-putihan dibagian bawah. Tubuh
ditutupi sisik halus berbentuk cycloid.

Golden Trevally memiliki bentuk badan pusiform dan pipih ke samping
panjangnya mencapai 90 cm, badan berwarna kuning perak dan strip
vertical dengan satu pembatas diantara strip. Sirip ikan ini tidak bersisik
dengan sirip ekor yang bercagak. Tubuh ikan dewasa berwarna keperakan
pada bagian atas dan kuning keperakan pada kepala serta tubuh bagian
bawah. Di bagian samping tubuhnya terdapat ± 10 band vertikal warna