Cupang Alam

Cupang alam atau juga disebut cupang spesies telah teridentifikasi, beberapa jenis cupang alam dibawah ini semoga dapat menjadi referensi anda :
Akarensis complex:
  • Betta akarensis Regan, 1910 – Akar betta
  • Betta antoni Tan & Ng, 2006
  • Betta aurigans Tan & Ng, 2004
  • Betta balunga Herre, 1940

  • Betta chini Ng, 1993
  • Betta ibanorum Tan and Ng, 2004
  • Betta obscura Tan & Ng, 2005
  • Betta pinguis Tan and Kottelat, 1998
Albimarginata complex:
  • Betta albimarginata Kottelat and Ng, 1994
  • Betta channoides Kottelat and Ng, 1994 
Anabatoides complex:
  • Betta anabatoides Bleeker, 1851 – giant betta
Bellica complex:
  • Betta bellica Sauvage, 1884 – slim betta
  • Betta simorum Tan and Ng, 1996

    Coccina complex:
    • Betta brownorum Witte and Schmidt, 1992

    • Betta burdigala Kottelat and Ng, 1994

    • Betta coccina Vierke, 1979
    • Betta livida Ng and Kottelat, 1992
    • Betta miniopinna Tan and Tan, 1994
    • Betta persephone Schaller, 1986
    • Betta rutilans Witte and Kottelat in Kottelat, 1991
    • Betta tussyae Schaller, 1985
    • Betta uberis Tan & Ng, 2006
    Dimidiata complex:
    • Betta dimidiata Roberts, 1989
    • Betta krataios Tan & Ng, 2006
    Edithae complex:
    • Betta edithae Vierke, 1984
    Foerschi complex:
    • Betta foerschi Vierke, 1979
    • Betta mandor Tan & Ng, 2006
    • Betta rubra Perugia, 1893 – Toba betta
    • Betta strohi Schaller and Kottelat, 1989
    Picta complex:
    • Betta falx Tan and Kottelat, 1998
    • Betta picta (Valenciennes, 1846) – spotted betta

    • Betta simplex Kottelat, 1994

    • Betta taeniata Regan, 1910 – Borneo betta
    Pugnax complex:
    • Betta breviobesus Tan and Kottelat, 1998
    • Betta cracens Tan & Ng, 2005
    • Betta enisae Kottelat, 1995
    • Betta fusca Regan, 1910 – dusky betta
    • Betta lehi Tan & Ng, 2005
    • Betta pallida Schindler & Schmidt, 2004
    • Betta prima Kottelat, 1994
    • Betta pugnax (Cantor, 1849) – Penang betta
    • Betta pulchra Tan and Tan, 1996
    • Betta raja Tan & Ng, 2005
    • Betta schalleri Kottelat and Ng, 1994
    • Betta stigmosa Tan & Ng, 2005
    Splendens complex:
    • Betta imbellis Ladiges, 1975 – crescent betta, Malays betta, peaceful betta

    • Betta mahachai Panitvong, Nonn, 2002

    • Betta smaragdina Ladiges, 1972 – emerald green betta
    • Betta splendens Regan, 1910 – Siamese fighting fish
    • Betta stiktos Tan & Ng, 2005
    Unimaculata complex:
    • Betta compuncta Tan & Ng, 2006
    • Betta gladiator Tan & Ng, 2005
    • Betta ideii Tan & Ng, 2006
    • Betta macrostoma Regan, 1910 – spotfin betta
    • Betta ocellata de Beaufort, 1933
    • Betta pallifina Tan & Ng, 2005
    • Betta patoti Weber and de Beaufort, 1922

    • Betta unimaculata (Popta, 1905) – Howong betta
    Waseri complex:
    • Betta chloropharynx Kottelat and Ng, 1994
    • Betta hipposideros Ng and Kottelat, 1994
    • Betta pi Tan, 1998

    • Betta renata Tan, 1998
    • Betta spilotogena Ng and Kottelat, 1994
    • Betta tomi Ng and Kottelat, 1994
    • Betta waseri Krummenacher, 1986
    Unassigned:
    • Betta sp. Bangka
    • Betta sp. Bung Bihn
    • Betta sp. Kapuas

    • Betta sp. Pangkalanbun
    • Betta sp. Sanggau

    • Betta sp. Sukadana

    Sources:

    Lingkungan dan Sumberdaya Alam Bagi Hewan


    Lingkungan hidup hewan adalah segala sesuatu yang ada di sekeliling hewan dimana ia beraktifitas, berinteraksi dan beradaptasi. Perhatikan apa yang ada di sekeliling hewan yang sedang melakukan aktifitas baik hewan yang sedang beraktifitas sendiri, dengan kelompoknya, atau dengan hewan jenis lain. Anda amati dan perhatikan, berapa banyak unsure-unsur lingkungan yang ada di sekeliling hewan tersebut. Kemampuan menganalisis satu per satu komponen lingkungan hewan tersebut merupakan cerminan kemampuan anda memahami unsure-unsur lingkungan hidup hewan.
    Lingkungan hewan pada dasarnya merupakan totalitas dari beraneka faktro biotic dan abiotik. Faktor abiotik misalnya: tanah udara, ruang medium atau subtract/ tempat menpel hewan, cuaca dan iklim. Faktor biotic misalnya adalah hewan lain, baik sesame spesies maupun berlainan spesies, tumbuhan dan mikroba yang terdapat di seputar hewan itu.
    Stiap hewan melakukan aktifitas hidup, tumbuh dan berkembang biak dalam suatu lingkungan yang memberinya kondisi yang cocok baik kehidupannya. Lingkungan juga menyediakan kondisi yang cocok bagi kehidupannya. Lingkungan juga menyediakan sumberdaya yang diperlukan bagi kehidupannya. Mengapa dalam ekologi hewan, lingkungan dan sumberdaya yang diperlukan oleh hewan untuk hidup itu dibedakan?
    Pengertian kedua hal ini dalam penerapannya berbeda. Karena sama halnya dengan manusia, maka hewan hidup memerlukan lingkungan dan sumberdaya. Lingkungan dalam ekologi hewan diartikan sebagai sesuatu yang ada di sekitar hewan itu memberikan manfaat kepada hewan. Jadi ada unsure-unsur lingkungan yang tidak memberikan manfaat kepada hewan. Semua unsure hidup yang memberikan manfaat bagi hewan tersebut itulah yang dimaksud dengan sumberdaya.
    Sebagaimana pengertian sumberdaya pada umumnya yang berarti segala unsure lingkungan yang memberikan kesejahteraan bagi kehidupan, maka sumberdaya bagi hewan akan berarti semua unsure lingkungan yang memberikan kesejahteraan bagi hewan tersebut. Jadi unsure-unsur hewan belum tentu seluruhnya menjadi sumberdaya bagi hewan tersebut.
    Antara hewan dan lingkungannya terdapat hubungan timbale balik yang saling mempengaruhi. Bukan hanya lingkungan saja yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan hewan untuk hidup dan berkembang biak, namun sebaliknya, lingkunganpun dapat berubah oleh karena kehadiran serta dampak aktifitas hidup hewan.
    Kita perhatikan sekelompok domba yang sedang digembalakan di sebuah padang rumput. Kekenyangan domba akan sangat tergantung kepada banyak dan sedikitnya rumput yang ada di lading pengembalaan tersebut. Begitu juga keselamatan domba sangat ditentukan oleh ada atau tidaknya hewan yang membahayakan bagi keselamatan domba. Namun disitu kita bisa menyaksikan seberapa banyak individu rumput yang terpotong oleh domba, seberapa individu yang patah dan terbenam karena terinjak-injak oleh kaki domba yang tajam itu. Seberapa besar pertambahan kekerasan tanah yang setiap hari di injak-injak oleh domba. 
    Dari sini terpikir oleh kita, seberapa luas lahan penggembalaan yang harus disediakan yang dapat mendukung agar domba yang di gembalakan dapat memperoleh rumput sehingga perutnya kenyang? Jika hal-hal tersebut tidak diperhatikan maka dalam proses ekologis selanjutnya yang akan terjadi adalah desertifikasi (Penggurunan) dari lading yang tadinya hijau oleh rumput menjadi tanah yang tak berumput kemudian lambat laun menjadi gurun. (Berpasir dan gersang)
    Sumber: Sukarsono. 2009. Pengantar Ekologi Hewan

    Pola Umum Angin di Indonesia

    Di daerah tropis akan terjadi angin dari daerah maksimum subtropis ke daerah minimum equator. Angin ini disebut angin passat timur laut di belahan bumi utara dan angin passat tenggara di belahan bumi selatan. Angin passat banyak membawa uap air karena berhembus di laut lepas. Akan  tetapi  pada beberapa wilayah dipermukaan bumi angin passat tersebut mengalami perubahan arah akibat pengaruh lingkungan setempat. Di Indonesia yang secara geografis terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera serta letak matahari yang berubah setiap enam  bulan berada di utara dan enam bulan berada di selatan khatulistiwa, maka angin passat tersebut mengalami perubahan menjadi angin muson (angin musim) barat dan angin muson timur( Wyrtki, 1987). Di daerah khatulistiwa Samudera Pasifik, Angin Pasat Tenggara berhembus secara normal sepanjang tahun. Angin Pasat mengakibatkan massa air yang hangat di bagian Timur Samudera Pasifik bergerak menuju perairan Timur Indonesia. Pergerakan massa air tersebut semakin bekurang pada beberapa bagian dari Laut Indonesia. Hal yang sama ditunjukkan pada saat angin berhembus pada daerah khatulistiwa selama periode pancaroba. Hal ini mengakibatkan daerah Kepulauan Indonesia yang terletak antara samudera hindia bagian Timur dengan Samudera Pasifik bagian Barat menyumbangkan tempat penyimpana bahang (heat) terbesar dalam lautan dunia. Di dalam dan sekeliling Indonesia ini didapatkan suhu permukaan laut yang tinggi (>28º C). Suhu yang tinggi tersebut akan mempengaruhi pertukaran bahang dan mengatur interaksi antara atmosfer dan lautanyang akan berakibat beasar tehadap cuaca lokal Kepulauan Indonesia dan dunia. 

    Angin Pasat Tenggara yang muncul terus menerus sepanjang tahun mengakibatkan permukaan laut sepanjang pantai Mindanao- Halmahera- Irian Jaya di Samudera Pasifik bagian Barat lebih tinggi daripada permukaan laut sepanjang pantai Sumatera – Jawa – Sumbawa di Samudera Hindia bagian Timur. Akibat adanya gradien tekanan yang disebakan oleh perbedaan tinggi permukaan laut, sejumlah massa air Samudera Pasifik akan mengalir ke Samudera Hindia (Wyrtki, 1987 )

    Pola angin yang sangat berperan di Indonesia adalah Angin Muson, hal ini disebakan karena Indonesia teletak diantara Benua Asia dan Australia diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Menurut Wyrtki (1961), keadaan musim di Indonesia terbagi menjadi tiga golongan, yaitu :
     
    1.Musim barat (Desember – April)
    Pada musim Barat pusat tekanan udara tinggi berekembang diatas benua Asia dan pusat tekanan udara rendah terjadi diatas benua Australia sehingga angin berhembus dari barat laut menuju Tenggara. Di Pulau Jawa angin ini dikenal sebagai Angin Muson Barat Laut. Musim Barat umumnya membawa curah hujan yang tinggi di Pulau Jawa. Angin muson barat berhembus pada bulan Oktober – April, matahari berada di belahan bumi selatan, mengakibatkan belahan bumi selatan khususnya Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari daripada benua Asia. Akibatnya di Australia bertemperatur tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di Asia yang mulai ditinggalkan matahari temperaturnya rendah dan tekanan udaranya tinggi (maksimum).

    Oleh karena itu terjadilah pergerakan angin dari benua Asia ke benua Australia sebagai angin muson barat. Angin ini melewati Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia serta Laut Cina Selatan. Karena melewati lautan tentunya banyak membawa uap air dan setelah sampai di kepulauan Indonesia turunlah
    hujan. Setiap bulan November, Desember, dan Januari Indonesia bagian barat sedang mengalami musim hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi.
     
    2. Musim Timur (April – Oktober)
    Pada musim Timur pusat tekanan udara rendah yang terjadi diatas Benua Asia dan pusat tekanan udara tinggi diatas Benua Australia menyebabkan angin behembu dari Tenggara menuju Barat Laut. Di Pulau Jawa bertiup Angin Muson Tenggara. Selama musim Timur, Pulau Jawa biasanya mengalami kekeringan. Angin muson timur berhembus setiap bulan April – Oktober, ketika matahari mulai bergeser ke belahan bumi utara. Di belahan bumi utara khususnya benua Asia temperaturnya tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di benua Australia yang telah ditinggalkan matahari, temperaturnya rendah dan tekanan udara tinggi (maksimum). Terjadilah pergerakan angin dari benua Australia ke benua Asia melalui Indonesia sebagai angin muson timur. Angin ini tidak banyak menurunkan hujan, karena hanya melewati laut kecil dan jalur sempit seperti Laut Timor, Laut Arafuru, dan bagian selatan Irian Jaya, serta Kepulauan Nusa Tenggara. Oleh sebab itu, di Indonesia sering menyebutnya sebagai musim kemarau.
     
    Di antara kedua musim, yaitu musim penghujan dan kemarau terdapat musim lain yang disebut Musim Pancaroba (Peralihan). Peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau disebut musim kemareng, sedangkan peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan disebut musim labuh. Adapun ciri-ciri musim pancaroba (peralihan), yaitu antara lain udara terasa panas, arah angin tidak teratur, sering terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat dan lebat.
     
    3. Musim Peralihan (Maret – Mei dan September – November)
    Periode Maret – Mei dikenal seagai musim Peralihan I atau Muson pancaroba awal tahun, sedangkan periode Septemer – November disebt musim peralihan II atau musim pancaroba akhir tahun. Pada musim-musim Peralihan, matahari bergerak melintasi khatulistiwa, sehingga angin menjadi lemah dan arahnya tidak menentu. 
     
    4.Selain angin muson barat dan timur juga terdapat angin lokal. Angin ini bertiup setiap hari, seperti angin darat, angin laut, angin lembah dan angin gunung.
    Angin lokal dapat di jelaskan sebagai berikut :
     
    1. Angin Darat dan Angin Laut
    Angin ini terjadi di daerah pantai yang diakibatkan adanya perbedaan sifat daratan dan lautan. Pada malam hari daratan lebih dingin daripada lautan sehingga di daratan merupakan daerah maksimum yang menyebabkan terjadinya angin darat. Sebaliknya, pada siang hari terjadi angin laut. Perhatikan gambar di bawah ini. Kedua angin ini banyak dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut. Pada malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi menangkap ikan di laut. Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya angin laut, para nelayan pulang dari penangkapannya.
     
    2. Angin Lembah dan Angin Gunung
    Pada siang hari puncak gunung lebih cepat menerima panas daripada lembah yang dalam keadaan tertutup. Puncak gunung tekanan udaranya minimum dan lembah tekanan udaranya maksimum. Karena keadaan ini maka udara bergerak dari lembah menyusur lereng menuju ke puncak gunung. Angin dari lembah ini disebut angin lembah. Pada malam hari puncak gunung lebih cepat mengeluarkan panas daripada lembah. Akibatnya di puncak gunung bertekanan lebih tinggi (maksimum) dibandingkan dengan di lembah (minimum) sehingga angin bertiup dari puncak gunung menuruni lereng menuju ke lembah. Angin dari puncak gunung ini disebut angin gunung.
     
     
    Pustaka
    Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of Southeast Asean Waters. Naga Report ‘,I. 2. The University of California, La Jolla, California.
    Yogi Suardi, http://www.ilmukelautan.com/oseanografi/fisika-oseanografi/405-pola-umum-angin-di-indonesia

    Current Meter Sebagai Alat utuk menukur Arah dan Kecepatan Arus Laut

    Seluruh current-meter mekanik mengukur kecepatan dengan melakukan pengubahan gerakan linear menjadi menjadi angular.
    Sebuah current-meter yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan setiap perubahan yang terjadi pada kecepatan air, dan harus secara akurat dan terpercaya sesuai dengan komponen velositas. Juga harus tahan lama, mudah dilakukan pemeliharaan, dan simpel digunakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Indikator kinerja tergantung pada inertia dari rotor, gerakan air, dan gesekan dalam bearing.
    Secara umum current meter yang biasa dipergunakan memiliki dua tipe : dengan “verctical axis meter” dan “axis meter horizontal”. Dalam kedua perbedaan tersebut rotasi dan rotor dari propeller dipergunakan untuk menentukan kecepatan arus laut sesuai dengan pengaturan pada current-meter. Sebelum current-meter ditempatkan, hubungan antara rotasi dan kecepatan dengan mempergunakan “towing tank”.
    Tiga type dari alat ukur kecepatan dengan mempergunakan hukum Faraday. Dimana konduktor (air) menggerakkan daerah medan magnet (diubah dengan kumparan berbeda kutub) yang menghasilkan voltase dengan adanya arus air. Jadi secara umum ada tiga jenis yang sering dipergunakan saat ini, prinsip electromagnetik dengan mengukur kecepatan mempergunakan hukum Faraday dengan menyatakan bahwa air mengakibatkan perubahan medan magnetik yang ada dalam bidang yang telah diatur sehingga menghasilkan tegangan yang berbeda secara linear sebanding dengan kecepatan arus.
    Elektrode dalam penelitian dapat mendeteksi tegangan yang dihasilkan oleh air. Karena current meter tidak bergerak bagian mereka tidak terganggu banyak sehingga tidak membutuhkan pemeliharaan yang terkait dengan permasalahan mekanik.
    Pada tahun 1998 sudah ada beberapa produk current meter yg dipergunakan :
    Tabel : Current meter yang sering dipergunakan. (Sumber: Manual of Standard Operating Procedures for Hydrometric Surveys in British Columbia, November 1998)
    Vertical Axis Current Meters
    Horizontal Axis Current Meters
    Price 622AA Valpot BFN 002 (Braystoke)
    Price 62AAA Magnetic OTT 5(Arkansas), 2 impellers (replaced by C31)
    Price 622AA Photo-Fibre Optic
    (Swolffer retrolit #2200)
    OTT, C31, 3 impellers
    Price Winter Model AA OSS, B1, 2 impellers (identical to C31)
    Price Pygmy OTT, C1, 3 impellers (replaced by C2 & OSS, PC1)
    Price Pygmy Photo-Fibre-Optic (Swoffer retroit #2200) OSS, PC1, 2 impellers (identical to C2)


    Swoffer 2100, impeller
    Menurut www.eng.fiu pengukuran kecepatan arus air disebut dengan Water current meter yang secara prinsip terbagi dalam tiga sistem, yaitu :
    1. Sistem Pencacah Putaran, yaitu current meter yang mengkonversi kecepatan sudut dari propeller atau baling-baling kedalam kecepatan linear. Biasanya jenis ini mempunyai kisaran pengukuran antara 0,03 sampai 10 m/s.
    2. Sistem Elektromagnetik, pada sistem ini air dianggap sebagai konduktor yang mengalir melalui medan mamgnentik. Perubahan pada tegangan diterjemahkan kedalam kecepatan.
    3. Sistem Akustik, pada sistem ini digunakan prinsip Dopler pada transduser, juga biasanya berperan sekaligus sebagai receiver, yang memancarkan pulsa-pulsa pendek pada frekuensi tertentu. Pulsa-pulas direfleksikan ataupun disebarkan oleh partikel-partikel dalam air dan terjadi pergeseran frekuensi dari yang diterima kembali oleh receiver, dimana hal tersebut dapat diukur sebagai kecepatan arus air.
    Salah satu jenis current meter yang dapat dibuat adalah pengukuran arus dengan arus velositas, dengan sistem kerja menghasilkan sinyal dari masing-masing putaran propeller yang terbuat dari bahan medan magnetik. (www.seba.de)
    Persamaan dari arus velositas adalah :
    V = k.n + ∆
    dimana,
    V = Aliran velositas (m/s)
    k = pitch hidraulic dari propeller (m)
    n = revolusi propeller setiap detik
    ∆ = Karakteristik dari current meter *)
    *) dapat diperkirakan dengan melakukan pengujian secara thowing channel
    Current meter dapat pula dibagi kedalam dua kategori berdasarkan metode pengukurannya. Kedua jenis current meter tersebut menurut adalah :
    1. Current meter dengan pengukuran non-otomatik, yaitu current meter dengan cara pengukuran atau perekaman data kecepatan arus yang harus dilakukan langsung oleh seseorang untuk membacanya, biasanya alat ini ditempatkan pada suatu struktur tertentu.
    2. Current meter dengan pengukuran otomatik, yaitu current meter yang merekam data kecepatan arus tanpa selalu harus langsung diperiksa oleh pengguna, Biasanya tipe ini memiliki sarana penyimpanan data yang cukup untuk jangka waktu pengukuran tertentu.
    Karena banyaknya pengelompokan current meter, maka pada topik kali ini akan banyak membahas tentang jenis current meter “verctical axis meter” dan “axis meter horizontal” yang umum dikembangkan oleh British Columbia.
    1. Vertical axis meter
    Tiga model dari “Vertical axis meter” adalah the Price 622AA meter, the WSC winter meter, dan the Pygmy meter.
    1.1 The Price 622AA meter
    Adalah yang peling umum dipergunakan dengan jenis tiang vertikal dan sering dipergunakan sebagai pengukur standar karena hasil keluarannya. Bersifat ekstensif dengan berbagai manfaat untuk penelitian/percobaan dan juga cocok untuk berbagai kondisi lapangan .
    Secara umum tidak menampilkan sinyal yang cocok dengan perhitungan dengan konsep perhitungan pulsa elektrik pada daerah yang rendah kecepatan arusnya. Metode yang paling sesuai dipergunakan adalah menghitung perputaran rotor atau sistem elektrik yang mengolah sinyal audio. Current meter sini secara inherent    sangat sensitif terhadap fluktuasi turbulensi lateral karena arah yang kurang stabil, sangat mungkin untuk menyebabkan galat pada saat pengukuran kecepatan sehingga berorientasi dalam pengukuran arah arus.
    Current Meter, Alat Ukur

    Gambar 1. The Price 622AA meter
    1.2 Modified Price 622AA Meter
    Model standard Price 622AA Meter dimoifikasi dengan dua cara mempergunakan retro-fit kit untuk mengatasi keterbatasan pengukuran kecepatan.
    1. Pengalih magnetik yang terletak disebelah rotor menghasilkan sinyal yang bersih untuk memicu pencacah.
    Current Meter, Alat Ukur
    Gambar2. Price 622AA meter with retro-fit kit dengan pengalih magnetik.
    2. Photo-Fiber-Optic sebagai penghubung antara indikator digital dan pengalih magnetik, sehingga pencacah dapat membaca kecepatan secara langsung (dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi).
    Current Meter, Alat Ukur
    Gambar 3. Fiber optik diterapkan pada Price 622AA.
    1.3 Pygmy Meterriv
    Memiliki bentuk yang sangat kecil dengan perbandingan ukuran dua perlima dari Price 622AA meter, sehingga diorientasikan untuk penggunaan pada kedalaman rendah. Namun demikian Current meter ini dianjurkan untuk mengukur kecepatan diatas 0.2 m/s karena untuk menyesuaikan dengan tingkat tekanan dalam menggerakkan rotor.
    Current Meter, Alat Ukur
    Gambar 4. Price 62AA winter (ice) meter.
    1.4 WSC Winter meter
    Sangat baik dipergunakan dalam musim dingin karena current meter karena dengan mudah melalui lubang yang dibor di es, dengan melakukan modifikasi pada roda bagian belakan penangkap arus. Dipergunakan dengan melekatkan pada sebuah tongkat yang telah ditetapkan, dimana sebelum pengukuran harus disesuaikan suhu supaya tidak berada dibawah 0 derjat celcius dan setelah pengukuran haruslah dilakukan pembersihan alat untuk menghindari menggumpalnya es pada bearing current meter.
    2. Horizontal Axis Current Meters
    Sangat baik dipergunakan pada daerah yang memiliki turbulens yang tinggi dengan kemampuan mengukur arus tajam baik dengan posisi horizontal maupun vertikal. Dilengkapi dengan rotor yang memiliki keseimbangan saat menghadapi pergerakan linear.
    Semua model menggunakan magnetis permukaan beralih untuk menghasilkan hitungan rotasi dalam bentuk pulsa, sehingga dapat menghindari terjadinya gesekan pada komponen yang berdekatan.
    2.1 Braystoke BFN 002 Meter
    Miniatur ini sekarang arus meter diberikan dalam bentuk kit, termasuk aksesoris yang kuat
    1,5-2 m. Current meter Braystoke yang saat ini, diproduksi oleh Valeport perkembangan Ltd Inggris, adalah dirancang untuk ukuran kecepatan arus dalam air tawar atau air laut, dan tidak dipengaruhi oleh kualitas air. Dalam penerpannya alat ini  belum ditentukan batas-batas galat dari arus sampai yang benar-baling mengukur kecepatan nilai, sehingga masih sangat perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.
    2.2 OTT C2 and OSS PC1 Meters
    OTT C2 yang identik dengan OSS Pc1; sebelumnya diproduksi di Jerman dan terakhir di Australia. Model ini dirancang untuk mengukur kecepatan air kecil di watercourses, tabung percobaan, pipa kecil, dan laboratorium model sungai. Kedua model memerlukan minyak khusus untuk operasi karena berpengaruh pada penilaian dari kalibrasi.
    Current Meter, Alat Ukur
    Gambar 5. Current meter model OTT C2
    2.3 Universal OTT C31 and OSS B1 Meters
    OTT C31 yang identik dengan OSS B1; sebelumnya adalah produksi Jerman dan terakhir di Australia. Meter ini sekarang digunakan untuk menentukan kecepatan aliran air buka di saluran dan laut, serta tekanan dalam pipa. Meter ini dapat digunakan di bawah kondisi ekstrim, juga dapat dipergunakan dalam pengukuran yang terintegrasi misalnya dengan dilengkapi pipa yang memiliki ukuran. Propellers tersedia dari dua produsen untuk C31 dan OTT  OSS B1, bersama-sama dengan kecepatan dan berbagai komponen untuk setiap efek putaran.  Dengan baling-baling yang tersedia dalam ukuran kecil, komponen dari current meter OTT dan OSS dapat saling bertukar.
    Current Meter, Alat Ukur
    Gambar 6. Current meter OSS B1 pada tongkat berukuran 20 mm, Current meter OTT C31, Current meter OSS B1 dengan berat 30 kg dilengkapi sensor di bawahnya.
    Pemeliharaan Current Meter
    Untuk memelihara kondisi current meter yang sangat wajib dilakukan adalah pembersihan alat, sehingga sangat penting adalah peran operator dalam mengatasinya. Karena memang hanya dibutuhkan waktu sedikit untuk membersihkan, tetapi sangat  substansial untuk menghindari masuknya partikel-partikel seperti pasir dan juga korosi yang dapat mengganggu kinerja current meter. Dalam setiap mengakhiri suatu penelitian, sebaiknya segera dilakukan juga pengamatan alat untuk memastikan alat tersebut masih dapat dipergunakan dengan baik.
    Secara khusus pada beberapa current meter type “Horizontal Axis” baling-baling harus dilepas dari meteran pengukur dan juga minyak yang menempel harus dihilangkan. Berring harus dibersihkan mempergunakan anti korosi atau dapat dengan mempergunakan bensin, dan harus memiliki lapisan   pelindung yang dilepas sebelum dipergunakan. Sebelum current meter dipergunakan, batangan penyangga harus dilapisi dengan minyak pelumas untuk mempermudah gerakan current meter saat diturunkan.
    SUMBER
    Richards. P.R. 1998  Manual of Standard Operating Procedures for Hydrometric Surveys in British Columbia Resources Inventory Committee. BC-Canada
    www.seba.de/product/water current meter.html
    www.eng.fiu
    ipb. Jimmy R. P. Tampubolon. Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB

    Sistem Pakar Penentuan Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM)

    1. PENDAHULUAN

    1.1.     Latar Belakang
    Sumberdaya wilayah pesisir dan laut memiliki peranan  penting bagi pembangunan nasional. Laju pemanfaatannya yang semakin pesat meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa. Namun pertumbuhan ekonomi tersebut menimbulkan fenomena kerusakan pada lingkungan pesisir karena pemanfaatan sumberdaya pesisir tersebut kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.
    Kerusakan tersebut mengakibatkan produktivitas sumberdaya pesisir dan laut berkurang sehingga berdampak pada rendahnya taraf kehidupan masyarakat. Kemiskinan dan tekanan ekonomi yang semakin meningkat mendorong masyarakat melakukan ekploitasi untuk tujuan jangka pendek dengan menggunakan bahan-bahan dan peralatan yang tidak ramah lingkungan. Selain itu, meningkatnya persaingan untuk mendapatkan sumberdaya pesisir dan laut akan membuka peluang terjadinya konflik pemanfaatan yang semakin besar.


    Untuk mempertahankan, memperbaiki, dan meningkatkan sumberdaya pesisir dan laut, serta mengurangi konflik pemanfaatan maka salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pendekatan daerah perlindungan laut berbasis masyarakat (DPL-BM). DPL-BM merupakan daerah pesisir dan laut yang dapat meliputi terumbu karang, hutan mangrove, lamun, atau habitat lainnya secara mandiri atau bersama-sama yang dipilih dan ditetapkan untuk ditutup secara permanen dari kegiatan perikanan dan pengambilan biota laut. Penentuan DPL-BM yang tepat dan pengelolaan yang  baik diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan berkelanjutan.

    1.2.    Tujuan
    Tujuan dari penelitian ini adalah membuat sistem pakar untuk penentuan DPL-BM berbasis website.

    2.    BAHAN DAN METODE

    2.1.  Waktu dan Tempat Penelitian
    Penelitian dimulai bulan Maret 2009 dan berakhir pada bulan Mei 2010 di Departemen Ilmu dan teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.

    2.2.      Alat dan Bahan
    Spesifikasi perangkat keras yang digunakan dalam sistem pakar penentuan DPL-BM antara lain : Prosesor AMD Turion 64 X2 2.0 GHz; Memori 2 GB; Media penyimpanan 120 GB; Alat inputan mouse dan keyboard, sedangkan spesifikasi perangkat lunak yang digunakan adalah : Microsoft Windows XP Professional Service  Pack 2; Bahasa pemrograman PHP 5.2.5, DBMS MySQL 5.0.51; Web Server Apache 2.2.8; CMS Joomla 1.5.14; Scripting Engine Code Igniter 1.5.6; Editor Notepad++, Adobe Dreamweaver CS3; Browser Mozilla Firefox 3.0.2.

    2.3.     Pembangunan Perangkat Lunak
    Sistem pakar penentuan DPL-BM mengacu kepada model proses pengembangan perangkat lunak Waterfall, yaitu identifikasi, analisis, desain, implementasi, dan pengujian (Gambar 1). Identifikasi merupakan langkah pertama dalam sistem pakar. Pada tahap ini dilakukan proses pengidentifikasian terhadap masalah yang ingin dibahas yaitu tentang penentuan daerah perlindungan laut berbasis masyarakat.

    Analisis yang dilakukan meliputi analisis kebutuhan pengguna dan  kebutuhan sistem pakar. Analisis kebutuhan sistem pakar dilakukan supaya sistem dapat menjalankan proses dengan baik sesuai dengan kebutuhannya. Analisis dan pemodelannya meliputi kebutuhan aplikasi, kinerja sistem yang diharapkan, basis pengetahuan, mekanisme interferensi, identifikasi aktor.

    Tahap desain meliputi perancangan basis data, perangkat lunak, aturan pada basis pengetahuan dan mekasnisme inferensia. Dalam merancang basis data, dilakukan pemodelan terhadap kebutuhan dan aktifitas yang terjadi pada basis data yaitu Entity Relationship Diagram dan struktur tabel. Perancangan perangkat lunak dilakukan dengan merancang antarmuka pemakai yang digunakan sebagai media perantara dalam penyampaian data dan informasi dari dan ke pengguna.

    Basis pengetahuan pada sistem pakar ini terdiri dari dua macam sumber pengetahuan yaitu fakta dan aturan. Fakta pengetahuan berisikan mengenai kriteria-kriteria penentuan DPL-BM atau gejala pada suatu lokasi yang menyebabkan ditentukannya prioritas penentuan DPL-BM. Sedangkan aturan merupakan pengetahuan yang didasarkan pada keterkaitan antara kriteria-kriteria penentuan DPL-BM untuk mendapatkan keputusan kelayakan suatu daerah ditetapkan sebagai DPL-BM.
    Fakta dan aturan pada basis pengetahuan bersumber dari konsultasi ahli dan studi literatur. Adapun ahli yang dijadikan sumber kepakaran pada sistem ini adalah Bapak Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA.

    Implementasi menggunakan spesifikasi perangkat keras dan lunak yang disebutkan pada bagian perangkat dan peralatan yang tertera di atas. Pengujian perangkat lunak berfungsi untuk memastikan bahwa semua fungsi yang terdapat pada perangkat lunak sudah berjalan sebagaimana mestinya. Metode pengujian yang digunakan dalam pembangunan perangkat lunak ini adalah Black Box Testing. Metode ini dilakukan dengan menguji fungsionalitas sistem tanpa melihat proses yang terjadi di dalamnya.

    3.    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Sistem pakar penentuan daerah perlindungan laut berbasis masyarakat dapat menentukan status kriteria kelayakan suatu daerah sebagai daerah perlindungan laut berbasis masyarakat. Wilayah yang ingin dilihat status kelayakan sebagai DPL-BM didata berdasarkan tingkatan administrasi pemerintahan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi.


    Analisis kebutuhan utama untuk user adalah melakukan proses pendaftaran (sign up), pendataan daerah yang ingin dijadikan DPL-BM, memasukkan data parameter, dan melihat hasil keputusan dari sistem berkenaan dengan status kriteria kelayakan suatu daerah sebagai DPL-BM. Sistem pakar penentuan DPL-BM dapat diakses melalui jaringan internet sehingga dapat menjangkau pengguna dengan mudah dan luas. Sistem ini didukung dengan interface yang dapat memberikan kemudahan bagi pengguna untuk menjalankan aplikasi dalam mengakses informasi. Sistem pakar dapat menghimpun data dari daerah yang ingin ditetapkan sebagai DPL-BM. Sistem pakar dapat memperbaiki pengetahuannya dengan melakukan update data dan bobot parameter penentuan DPL-BM.
    Pendekatan mekanisme interferensia yang dipakai sistem pakar penentuan DPL ini menggunakan sistem pelacakan ke depan (forward chaining) dimana pelacakan tersebut dimotori oleh data masukan berdasarkan kriteria-kriteria penentuan DPL-BM kemudian dilakukan pemeriksaan dan menarik sebuah kesimpulan. Sistem akan menggunakan suatu nilai temuan dari masing-masing parameter (bobot) dan kemudian akan dilakukan penjumlahan dari semua data temuan tersebut. Jumlah nilai temuan yang lebih dari 50% total bobot akan menghasilkan status layak sebagai DPL-BM,
    Pada proses perancangan basis data, aliran data pada sistem digambarkan pada diagram alir data pada Gambar 2.
    Adapun struktur tabel pada sistem ini adalah sebagai berikut :
    Menu utama pada sistem pakar antara lain home, tentang sistem, sistem pakar, dan hubungi kami. Home merupakan halaman depan dari website SPPDPL, terdapat  slideshow gambar dan shortcuts menuju sistem pakar. Tentang sistem terdiri dari dua bagian yaitu berisi informasi mengenai sistem pakar dan daerah perlindungan laut. Menu sistem pakar merupakan bagian yang paling utama pada website karena memuat aplikasi penentuan DPL-BM. Menu hubungi kami adalah fitur untuk berkomunikasi antara pengguna dan pengelola website SPPDPL. Pengguna dapat memberikan masukan kepada pengelola dengan mengisi form yang tersedia. Berikut ini adalah tampilan website sistem pakar penentuan DPL-BM :
    4.    KESIMPULAN DAN SARAN

    4.1.      Kesimpulan
    Sistem pakar penentuan DPL-BM merupakan aplikasi berbasis website yang dapat menentukan kriteria kelayakan suatu daerah sebagai DPL-BM. Sistem pakar penentuan DPL-BM dapat diakses melalui jaringan internet sehingga dapat menjangkau pengguna dengan mudah dan luas. Sistem pakar dapat menghimpun data dari daerah yang ingin ditetapkan sebagai DPL-BM.

    4.2.      Saran
    Sifat dari sistem pakar yang dapat diperbaiki pengetahuannya membuat sistem ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Menambah basis pengetahuan, sumber kepakaran, fakta dan aturan yang lebih baik membuat sistem ini akan dapat terus berkembang ke arah yang lebih sempurna.

    DAFTAR PUSTAKA

    Ignizio, P. J. 1991. Introduction to Expert System The Development and Implementation of Rule-Base Expert System. McGraw-Hill, Inc. Singapore.

    Kusumadewi, S. 2003. Artificial Intelligence (Teknik dan Alikasinya). Graha Ilmu. Yogyakarta. 338 h.

    Marimin. 2007. Teori dan Aplikasi Sistem Pakar Dalam Teknologi Manajerial. IPB Press. Bogor.

    Salm, R. V. , J. R. Clark, dan E. Siirili. 2000. Marine and Coastal Protected Areas: A Guide For Planners and Managers. Third Edition. International Union For Conservation Of Nature And Natural Resources. Gland. Switzerland.

    Tulungen, J. J., dkk. 2002. Panduan Pembentukan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Berbasis-Masyarakat. CRC Technical Report Nomor 2236. Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan University of Rhode Island, Coastal Resources Center Narragansett Rhode Island USA. Jakarta. 77 h.

    Turban, E. dan Aronson JE. 2001.  Decision Support and intelligent System, 6th Edition.  Prentice Hall. Upper Saddle River.NJ.

    Wijaya, R. 2007. Penggunaan Sistem Pakar dalam Pengembangan Portal Informasi untuk Spesifikasi Jenis Penyakit Infeksi. Jurnal Informatika. 3 (1): 63-88.

    Penulis
    Yogi Suardiwerianto. 

    Sumber: http://www.ilmukelautan.com/instrumentasi-dan-hidroakustik/instrumentasi-kelautan/465-sistem-pakar-penentuan-daerah-perlindungan-laut-berbasis-masyarakat-dpl-bm

    Rancang Bangun Perekam Data Kelembaban Relatif dan Suhu Udara di Atas Permukaan Laut Berbasis Mikrokontroler

    PENDAHULUAN
    1.1.  Latar Belakang
    Kelembaban relatif (RH) dan suhu udara merupakan salah satu parameter yang penting dalam pengukuran meteorologi. Pengukuran kelembaban relatif (RH) secara kontinyu dan kemudahan dalam  perawatan diperlukan dalam bidang perikanan dan kelautan, antara lain: perekam data RH lingkungan pantai dan lepas pantai secara in situ, manajemen cold storage untuk hasil perikanan tangkap, pengukuran dalam Hazard Analysis Critical Control Point(HACCP), analisis penyimpanan dalam kontainer, dan sebagainya. Kelembaban relatif adalah rasio yang digambarkan sebagai persentase antara tekanan uap air aktual e terhadap tekanan uap jenuh es, pada suhu udara T  tertentu (Brock dan Scott, 2001) Sedangkan suhu udara adalah jumlah panas yang terkandung di udara (Ritter, 2007).
    Pengembangan instrumentasi digital semakin canggih dari waktu ke waktu, seperti halnya pada pengembangan sensor berbasis semikonduktor yang terkalibrasi, memiliki akurasi tinggi dan semakin mudah didapat. Oleh karena itu pengembangan sebuah instrumen yang dapat mengukur kelembaban relatif yang disertai perekam data (data logger) kedalam media penyimpanan secara digital, sudah bisa dilakukan.
    1.2. Tujuan
    Penelitian ini bertujuan untuk:
    1. Membuat instrumen perekam data digital kelembaban relatif dan suhu udara di atas permukaan air laut yang akurat.
    2. Membuat instrumen perekam data yang menggunakan media penyimpanan yang memiliki kompatibilitas antar platform yang baik.
    3. Membuat instrumen yang berdimensi kompak, hemat daya, dan perawatan yang minimum.
    METODE PENELITIAN
    Penelitian dimulai pada bulan Juli 2008 dan berakhir bulan November 2008 di Laboratorium Akustik dan Instrumentasi Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Terdapat 2 tahap pembuatan instrumen perekam data, yaitu perancangan instrumen dan uji coba alat. Perancangan instrumen meliputi pembuatan perangkat keras dan perangkat lunak (firmware). Desain pembuatan papan PCB perangkat keras menggunakan software EAGLE 5.12 dan membuat firmware menggunakan BASCOM-AVR 1.11.9.0.  Sedangkan uji coba yang dilakukan meliputi uji coba skala laboratorium dan uji coba skala lapangan. Uji coba skala laboratorium dilakukan untuk mengetahui kinerja alat perekam data selama minimal 7×24 jam, sedangkan uji coba skala lapangan dilakukan di Stasiun Klimatologi Dramaga Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), untuk membandingkan hasil pengukuran alat perekam data dengan data BMG selama minimal 7×24 jam. Lalu hasil yang didapat diolah menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007 dan MATLAB R2008b.
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    3.1. Perangkat keras
    Perekam data disusun atas Mikrokontroler Atmega32 dengan clock 8Mhz, Real-time Clock Low-dropout (LDO) Linear Regulator LP2950 dan AIC1734. Selain itu dibutuhkan LED dan beberapa komponen pasif  seperti resistor, serta kapasitor (Gambar 1). (RTC) DS1307, Sensor kelembaban relatif dan suhu udara Sensirion SHT11, soket SDcard, 
    Rancang Bangun Perekam Data, Kelembaban Relatif
    Gambar 1. Skematik lengkap perekam data suhu udara dan kelembaban relatif
    Catu utama menggunakan baterai alkaline sebanyak 4 buah yang dirangkai seri. Baterai ini menghasilkan tegangan 6 volt yang kemudian diregulasi menjadi 5 volt dan 3,3 volt. Tegangan 5 volt digunakan untuk Atmega32, SHT11, dan DS1307, sedangkan 3,3 volt diperlukan oleh SDcard.
    Untuk membuat semua komponen terlindungi, dibuatlah casing dari bahan plastik (Gambar 2).
    Rancang Bangun Perekam Data, Kelembaban Relatif
    Gambar 2. Dimensi casing perekam data suhu udara dan kelembaban relatif
    3.2. Perangkat lunak
    Perangkat lunak atau biasa disebut firmware pada alat perekam data ini ditulis dengan menggunakan bahasa BASIC.  Program yang digunakan adalah BASCOM – AVR versi 1.11.9.0.  Bagian-bagian dari perancangan perangkat lunak antara lain: (1) Diagram alir program perekam data, (2) Pembuatan dan kompilasi firmware, (3) Memprogram mikrokontroller Atmega32.
    3.3. Hasil uji coba skala laboratorium
    Uji coba skala laboratorium dilakukan di Laboratorium Akustik dan Instrumentasi Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor.  Dari hasil percobaan (Gambar 3)  alat perekam data ini bisa merekam selama kurang lebih 45 jam sampai baterai habis digunakan.

    Rancang Bangun Perekam Data, Kelembaban Relatif
    Rancang Bangun Perekam Data, Kelembaban Relatif

    Gambar 3. Hasil uji coba skala laboratorium tanggal : (a) 6 September 2008,  (b) 7 September 2008, (c) 8 September 2008, (d) 9 September 2008, (e) 11 September 2008, (f) 12 September 2008, (g) 27 September 2008, (h) 28 September 2008
    Dari 8 buah grafik diatas terlihat bahwa alat perekam data kelembaban relatif dan suhu udara berbasis mikrokontroler masih memiliki banyak kekurangan.  Terputusnya perekaman data dimungkinkan terjadi karena adanya gangguan pada komunikasi DS1307, ganguan komunikasi dengan SDcard, kurangnya arus untuk menyuplai SDcard, keterbatasan kemampuan mikrokontroler dalam manajemen memori (SRAM), serta kesalahan algoritma pemrograman pada firmware.
    3.4 Hasil uji coba skala lapangan
    Uji coba skala lapangan dilakukan di Stasiun Lapang Klimatologi Darmaga Badan Meteorologi dan Geofisika. Alat perekam data diletakan dalam sangkar berdampingan dengan termometer bola basah dan termometer bola kering. Interval pengambilan data sebesar 1 menit, sedangkan data pembanding BMG diambil dengan interval 1 jam.
    Rancang Bangun Perekam Data, Kelembaban Relatif
    Gambar 4.  Error RH pada tanggal : (a) 8 November 2008, (b) 9 November 2008, (c) 10 November 2008, (d) 11 November 2008, (e) 12 November 2008, (f) 14 November 2008, (g) 15 November 2008, (h) 16 November 2008, (i) 25 November 2008
    Rancang Bangun Perekam Data, Kelembaban Relatif
    Gambar 5.  Error suhu udara pada tanggal : (a) 8 November 2008, (b) 9 November 2008, (c) 10 November 2008, (d) 11 November 2008, (e) 12 November 2008, (f) 14 November 2008, (g) 15 November 2008, (h) 16 November 2008, (i) 25 November 2008
    Gambar 4 dan Gambar 5 menunjukkan terdapat selisih yang besar antara data hasil rekaman dengan data BMG.  Nilai minus (-) menunjukan bahwa nilai data rekaman lebih kecil dibandingkan data BMG. Sebaliknya, nilai (+) meunjukan bahwa nilai data rekaman lebih besar daripada nilai BMG.  Selisih terbesar RH dari semua hari pengamatan adalah sebesar -20,4%, sedangkan selisih suhu udara terbesar sebesar 7,3°C.
    KESIMPULAN
    Instrumen perekam data kelembaban relatif dan suhu udara di atas permukaan laut telah dikembangkan dalam penelitian ini, namun masih perlu disempurnakan.  Walaupun fungsinya sebagai perekam data sudah bisa dibuktikan, namun terdapat beberapa masalah yang perlu diatasi, misalnya data perekaman yang terputus.  Faktor-faktor penyebab tidak terekamnya data antara lain : komunikasi mikrokontroler dengan DS1307 terganggu, komunikasi mikrokontroler dengan SDcard terganggu, kurangnya arus yang menyuplai daya, keterbatasan mikrokontroler dalam manejemen memori, serta kesalahan algoritma pemrograman pada firmware.
    Selisih terbesar RH dari semua hari pengamatan adalah sebesar -20,4%.  Sedangkan selisih suhu udara terbesar sebesar 7,3°C.  Faktor-faktor yang mungkin menyebabkannya adalah kesalahan pengukuran sensor suhu udara dan kelembaban relatif SHT11 akibat perlakuan yang kurang baik dalam distribusinya, desain PCB dan casing yang tidak bisa melepas panas dengan baik sehingga mempengaruhi Sensirion SHT11, serta data BMG yang tidak akurat akibat kesalahan sistematik dan kesalahan acak.
    SARAN
    Desain elektronik secara keseluruhan harus ditinjau kembali, terutama bagian catu daya, DS1307 dan SDcard. Perlu dilakukan pengambilan data dari instrumen digital yang telah terkalibrasi dan perlunya pengkalibrasian ulang sensor suhu udara dan kelembaban relatif SHT1 , baik secara perangkat keras dengan melakukan pengeringan dan rehidrasi, maupun perangkat lunak. Analisis termal sebaiknya dilakukan agar Sensirion SHT11 tidak terpengaruh oleh radiasi panas komponen lain. Perlunya menggunakan baterai yang bisa diisi ulang, walaupun akan menambah rangkaian secara keseluruhan. Perbaikan antarmuka pengguna (User Interface) berupa manjemen file hasil rekaman yang lebih baik, misal membuat file berdasarkan hari perekaman.
    DAFTAR PUSTAKA
    Brock, F.V., dan Scott J.R. 2001. Meteorogical Measurement System. Oxford University Press US. New York, NY. 310 h.
    Ritter, M. 2007. Air Temperature Patterns. http://www.uwsp.edu/geo/faculty/ritter/geog101/uwsp_lectures/lecture_atmospheric_temperature.html
    Penulis
    Rancang Bangun Perekam Data, Kelembaban RelatifActa Withamana, lahir di Bogor 15 Oktober 1987. Alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB

    Daun Ketapang

    Ketapang atau katapang (Terminalia catappa) adalah nama sejenis pohon tepi pantai yang rindang. Lekas tumbuh dan membentuk tajuk indah bertingkat-tingkat, ketapang kerap dijadikan pohon peneduh di taman-taman dan tepi jalan. Selain nama ketapang dengan pelbagai variasi dialeknya (misalnya Bat.: hatapang; Nias: katafa; Mink.: katapiĕng; Teupah: lahapang; Tim.: ketapas; Bug.: atapang; dll.), pohon ini juga memiliki banyak sebutan seperti talisei, tarisei, salrisé (Sulut); tiliso, tiliho, ngusu (Maluku Utara); sarisa, sirisa, sirisal, sarisalo (Mal.); lisa (Rote); kalis, kris (Papua Barat); dan sebagainya.[1]

    Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini dikenal dengan nama-nama Bengal almond, Indian almond, Malabar almond, Singapore almond, Tropical almond, Sea almond, Beach almond, Talisay tree, Umbrella tree, dan lain-lain.

    Pohon besar, tingginya mencapai 40 m dan gemang batang sampai 1,5 m. Bertajuk rindang dengan cabang-cabang yang tumbuh mendatar dan bertingkat-tingkat; pohon yang muda sering nampak seperti pagoda. Pohon-pohon yang tua dan besar acap kali berbanir (akar papan), tingginya bisa hingga 3 m.[2]
    Daun-daun tersebar, sebagian besarnya berjejalan di ujung ranting, bertangkai pendek atau hampir duduk. Helaian daun bundar telur terbalik, 8–25(–38) x 5–14(–19) cm, dengan ujung lebar dengan runcingan dan pangkal yang menyempit perlahan, helaian di pangkal bentuk jantung, pangkal dengan kelenjar di kiri-kanan ibu tulang daun di sisi bawah. Helaian serupa kulit, licin di atas, berambut halus di sisi bawah; kemerahan jika akan rontok.[2][3]

    Bunga-bunga berukuran kecil, terkumpul dalam bulir dekat ujung ranting, panjang 8–25 cm, hijau kuning[2]. Bunga tak bermahkota, dengan kelopak bertaju-5, bentuk piring atau lonceng, 4–8 mm, putih[3] atau krem. Benang sari dalam 2 lingkaran, tersusun lima-lima. Buah batu bulat telur gepeng, bersegi atau bersayap sempit, 2,5–7 x 4–5,5 cm, hijau-kuning-merah, atau ungu kemerahan jika masak.[2][3]

    Penyebaran dan ekologi

    Ketapang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara dan umum ditemukan di wilayah ini, kecuali di Sumatra dan Kalimantan yang agak jarang didapati di alam. Pohon ini biasa ditanam di Australia bagian utara dan Polinesia; demikian pula di India, Pakistan, Madagaskar, Afrika Timur dan Afrika Barat, Amerika Tengah, serta Amerika Selatan.[4]
    Pohon ini cocok dengan iklim pesisir dan dataran rendah hingga ketinggian sekitar 400 m dpl.; curah hujan antara 1.000–3.500 mm pertahun, dan bulan kering hingga 6 bulan[2]. Ketapang menggugurkan daun hingga dua kali setahun, sehingga tumbuhan ini bisa tahan menghadapi bulan-bulan yang kering[5]. Buahnya yang memiliki lapisan gabus dapat terapung-apung di air sungai dan laut[3] hingga berbulan-bulan, sebelum tumbuh di tempat yang cocok. Buahnya juga disebarkan oleh kelelawar.

    Manfaat

    Pepagannya dan daun-daunnya dimanfaatkan orang untuk menyamak kulit, sebagai bahan pewarna hitam, dan juga untuk membuat tinta[1]. Pepagan menghasilkan zat pewarna kuning kecoklatan sampai warna zaitun, dan mengandung 11–23% tanin; sementara daun-daunnya mengandung 12 macam tanin yang dapat dihidrolisis[4]. Dalam pada itu populer keyakinan di kalangan penggemar ikan hias bahwa menaruh daun-daun ketapang kering di akuarium, khususnya ikan cupang (Betta spp.), dapat memperbaiki kesehatan dan memperpanjang umur ikan[6].
    Kayu terasnya merah bata pucat hingga kecoklat-coklatan, ringan sampai sedang, BJ-nya berkisar antara 0,465–0,675; cukup keras dan ulet, namun tidak begitu awet[4]. Kayu ini dalam perdagangan dikenal sebagai red-brown terminalia, dan digunakan sebagai penutup lantai atau venir[7]. Di Indonesia, kayu ini digunakan dalam pembuatan perahu dan juga untuk ramuan rumah [1].
    Biji ketapang dapat dimakan mentah atau dimasak, konon lebih enak dari biji kenari, dan digunakan sebagai pengganti biji amandel (almond) dalam kue-kue[1]. Inti bijinya yang kering jemur menghasilkan minyak berwarna kuning hingga setengah dari bobot semula. Minyak ini mengandung asam-asam lemak seperti asam palmitat (55,5%), asam oleat (23,3%), asam linoleat, asam stearat dan asam miristat. Biji kering ini juga mengandung protein (25%), gula (16%), serta berbagai macam asam amino.[4]
    Info lengkap tentang daun ketapang bisa dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Ketapang

     

    MENGEVALUASI PELAKSANAAN PENYULUHAN PERTANIAN

     

    MENGEVALUASI PELAKSANAAN PENYULUHAN PERTANIAN
    “Erwin, SP.”
    A.       Latar Belakang
     Evaluasi merupakan suatu kegiatan yangpenting, namun sering dikesampingkan dan konotasinya negatif, karena dianggapmencari kesalahan, kegagalan dan kelemahan dari suatu kegiatan penyuluhan pertanian.Sebenarnya evaluasi harus dilihat dari segi manfaatnya sebagai upayamemperbaiki dan penyempurnaan program/kegiatan penyuluhan pertanian sehinggalebih efektif, efisien dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Evaluasi penyuluhan pertanian dapat digunakan untuk memperbaiki perencanaankegiatan/program penyuluhan, dan  kinerjapenyuluhan, mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilaksanakan, membandingkanantara kegiatan yang dicapai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
    Seorang Penyuluh Pertanian Ahli untukdapat melakukan kegiatan tersebut dengan benar harus merencanakan/menyusuninstrumen dan melaksanakannya dengan metoda ilmiah, untuk itu, makatahapan-tahapan yang dilakukan harus jelas, sistematis dan mengikuti kaidahberfikir ilmiah.
    Derajat jenjang keilmiahan/kebenarandari evaluasi dimulai dari evaluasi sehari-hari, mawas diri, mengevaluasisendiri, kajian khusus dan penelitian ilmiah, sedangkan pendekatan yang dapatdilakukan dalam evaluasi adalah pendekatan informasi kunci, pendekatan forummasyarakat, pendekatan indikator dan pendekatan survei/sensus.
                Manfaat  dari hasil evaluasi penyuluhan antara lain: menentukan tingkat perubahan perilakupetani, untuk perbaikan program, sarana, prosedur, pengorganisasian danpelaksanaan penyuluhan pertanian dan untuk penyempurnaan kebijakan penyuluhanpertanian. Pelaporan hasil kegiatan penyuluhan pertanian sangat penting sebagaipenyampaian informasi, sebagai bahan pengambilan keputusan/kebijakan olehpimpinan/penanggung jawab kegiatan, pertanggungjawaban, pengawasan danperbaikan perencanaan berikutnya.
    Untuk mendapatkan hasil evaluasiyang dapat dipercaya perlu adanya prinsip-prinsip sebagai landasan dalampelaksanaan supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan penyuluhan pertanianyaitu berdasarkan fakta, bagian integral dari proes penyuluhan, berhubungandengan tujuan program penyuluhan, menggunakan alat ukur yang sahih, dilakukanterhadap proses dan hasil penyuluhan penyuluhan serta dilakukan terhadapkuantitatif maupun kualitatif.
    B.       Tujuan, Manfaat dan Jenis-jenis Evaluasi
    Tujuan dan manfaat adalah dua konsepsi yang berbeda yang dapat mengundang perdebatan tentangpengertiannya ditinjau dari segi bahasa (language),istilah teknis (technical or scientificconcept), dan tingkat analisis (levelof analysis).
    Dalam tulisan ini tujuan evaluasi dibagi menjadi tigatujuan (Cerbea and Tepping, 1977; FAO, 1984, dalam Werimon A., 1992), disamping itu tujuan dan manfaat bersifatimplisit. Berikut dijelaskan beberapa aspek ataucakupan tujuan evaluasi.
    1.Tujuan Kegiatan (activity objective)
    ·        Mengumpulkan data yangpenting untuk perencanaan program (keadaan umum daerah, sosial, teknis,ekonomis, budaya, masalah, kebutuhan dan minat, sumber daya, faktor-faktorpendukung).
    ·        Mengetahui sasaran/tujuan program/kegiatan telah tercapai.
    ·        Mengetahuiperubahan-perubahan yang telah terjadi sebagai akibat intervensiprogram/kegiatan penyuluhan
    ·        Mengetahui strategiyang paling efektif untuk pencapaian tujuan program.
    ·        Mengidentifikasi “strongdan weak points” dalam perencanaan dan pelaksanaan program.
    ·        Mengetahui kemajuanpelaksanaan kegiatan.
    2.   Tujuan Managerial (managerial objective)
    ·        Memberikan data /informasi sebagai dasar pertimbangan untuk pengambilan keputusan.
    ·        Memperbaikiperencanaan dan pelaksanaan program
    ·        Berkomunikasi denganmasyarakat dan penyandang dana/stake holder.
    ·        Menimbulkan rasapersatuan dan motivasi untuk bekerja lebih baik.
    3.   Tujuan Program  (Program objective)
    Menilai efisiensi, efektifitas, dan manfaat dari programselain untuk memenuhi beberapa tujuan tersebut di atas, alasan lain mengapaperlu dilakukan evaluasi adalah karena mungkin:
    ·        Telah terjadiperubahan dalam sifat dari masalah
    ·        Telah terjadiperubahan struktur dan program dari lembaga-lembaga terkait
    ·        Telah terjadiperubahan kebutuhan, aspirasi, dan harapan dari masyarakat.
    4. ManfaatEvaluasi
    Manfaat melakukanevaluasi adalah: (a) menentukan tingkat perubahan perilaku petanisetelah penyuluhan dilaksanakan; (b) perbaikan program, sarana, prosedur,pengorganisasian petani dan pelaksanaan penyuluhan pertanian; dan  (c) penyempurnaan kebijakan penyuluhanpertanian.
    5. Jenis-jenis evaluasi
    Jenis-jenis evaluasiantara lain:
    1)         Evaluasi Penyuluhan Pertanian
    Merupakan alat untuk mengambil keputusan dan menyusunpertimbangan-pertimbangan. Dari hasil evaluasi penyuluhan pertanian dapatdiketahui : sejauhmana perubahan perilaku petani, hambatan yang dihadapipetani, efektivitas program penyuluhan pertanian serta seberapa jauh pemahamanmasalah dan penyempurnaan kegiatan.
    Evaluasi Penyuluhan Pertanian jugadapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    Dalam evaluasi dikenal beberapaklasifikasi evaluasi  seperti : EvaluasiFormatif dan sumatif, Evaluasi Formal dan Informal, Evaluasi Internal danEksternal, Evaluasi Proses dan Produk (out put), Evaluasi Deskriptif danInferensial, Evaluasi Holistik (misal CIPP) dan Analitik, Evaluasi on going,terminal dan ex post evaluation, Evaluasi Teknis dan Ekonomis, EvaluasiProgram, Monitoring dan Evaluasi Dampak.
    2)                EvaluasiProgram Penyuluhan
    Setiap program kegiatan yang direncanakanseharusnya diakhiri dengan evaluasi dan dimulai dengan hasil evaluasi kegiatansebelumnya. Evaluasi yang dilakukan dimaksudkan untuk melihat kembali apakahsuatu program atau kegiatan telah dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaandan tujuan yang diharapkan. Dari kegiatan evaluasi tersebut akan diketahuihal-hal yang telah dicapai, apakah suatu program dapat memenuhi kriteria yangtelah ditentukan. Berdasarkan hasil evaluasi itu kemudian diambil keputusan,apakah suatu program akan diteruskan, atau direvisi, atau bahkan diganti samasekali. Hal ini didasarkan pada pengertian evaluasi, yaitu suatu prosespengumpulan informasi melalui pengumpulan data dengan menggunakan instrumentertentu untuk mengambil suatu keputusan. Jadi, pada dasarnya evaluasi adalahsuatu kegiatan yang menguji atau menilai pelaksanaan suatu program.
    Evaluasi program biasanya dilakukan untuk kepentinganpengambilan keputusan dalam rangka menentukan kebijakan selanjutnya. Denganmelalui evaluasi suatu program  dapatdilakukan secara sistematis, rinci dan menggunakan prosedur yang sudah diujisecara cermat. Dengan metode tertentu akan diperoleh data yang handal, dapatdipercaya  sehingga penentuan kebijakanakan tepat, dengan catatan apabila data yang digunakan  sebagai dasar pertimbangan tersebut benar,akurat dan lengkap.
    Adapun program itu sendiri diartikansegala sesuatu yang dilakukan dengan harapan akan mendapatkan hasil ataupengaruh. Jadi evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yangdilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Untukmelihat tercapai atau tidaknya suatu program yang sudah berjalan diperlukankegiatan evaluasi.
    3)                EvaluasiHasil Penyuluhan Pertanian
    Tujuan penyuluhan pertanian adalah  perubahan perilaku petani (kognitif, afektif,dan psikomotor).
    a
    Kognitif
    :
    Kemampuan mengembangkan intelegensia (pengetahuan, pengertian, penerapan, analisis, sintesis)
    b
    Afektif
    :
    Sikap, minat, nilai, menanggapi, menilai/tata nilai dan menghayati
    c
    Psikomotor
    :
    Gerak motor : kekuatan, kecepatan, kecermatan, ketepatan, ketahanan dan keharmonisan
    Jadi evaluasi penyuluhan pertanianadalah mengevaluasi sampai seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan, berupaperubahan perilaku petani dan keluarganya.
    4)            EvaluasiMetode
    Evaluasi metode yaitu evaluasi semuakegiatan penyuluhan pertanian yang dilakukan penyuluh pertanian dalam rangkamencapai perubahan perilaku sasaran.
    5)   EvaluasiSarana Prasarana
    Sarana dan prasarana adalah pendukungpenyuluhan pertanian, sangat penting dalam kegiatan penyuluhan pertanian,efektifitas penyuluhan pertanian sebagian tergantung pada alat bantu penyuluh,perlengkapan, peralatan, bahan-bahan sarana prasarana yang digunakan. Evaluasi sarana-prasarana pada dasarnyamengevaluasi  kesiapan perangkatsarana-prasarana yang menunjang kegiatan penyuluhan.
    6)        Evaluasi PelaksanaanPenyuluhan Pertanian dan Evaluasi Dampak Penyuluhan
    Dalam prakteknya pelaksanaan evaluasipenyuluhan pertanian dapat merupakan kombinasi dari beberapa macam/caraevaluasi, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, lebihakurat, dan lebih sahih  dari padaevaluasi dengan menggunakan cara tunggal.
    Evaluasi Pelaksanaan kegiatan  Penyuluhan Pertanian merupakan proses yangsistematis, sebagai upaya penilaian atas suatu kegiatan oleh evaluator melaluipengumpulan dan analisis informasi secara sistematik mengenai  perencanaan, pelaksanaan, hasil dan dampak kegiatanpenyuluhan pertanian. Hasil evaluasi ini untuk menilai relevansi,efektifitas/efisiensi pencapaian / hasil suatu kegiatan, untuk selanjutnyadigunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pada perencanaan danpengembangan kegiatan selanjutnya. 
    Evaluasi pelaksanaan atau evaluasiproses (on going evaluation) ini dilaksanakan pada saat kegiatan sedangdilaksanakan. Fokus utama evaluasi ini menyangkut proses pelaksanaan kegiatanyang berkaitan dengan:
    ·     Tingkatefisiensi dan efektifitas pelaksanaan
    ·     Kemungkinankeberhasilan kegiatan sebagaimana yang direncanakan
    ·     Sejauhmana hasil yang diperoleh dapat memberi sumbangan kepada tujuan pembangunan
    ·     Tindakankorektif yang diperlukan untuk memperbaiki efisiensi dan efektifitaspelaksanaan
    ·     Tindakan-tindakanlain yang diperlukan sebagai pelengkap kegiatan yang telah direncanakan.
    Hasil dari evaluasi pelaksanaan kegiatanpenyuluhan biasanya digunakan untuk membantu pengambilan keputusan/penentukebijakan dalam mengatasi permasalahan, dan tindakan penyesuaian/perbaikan ataspelaksanaan kegiatan.
    6. Prinsip-prinsip dan Karakteristik  evaluasi penyuluhanpertanian :
    6.1 Prinsi-prinsip penyuluhanpertanian antara lain:
    a.         Berdasarkan fakta
    b.        Bagian integral dari proses penyuluhan pertanian
    c.         Tujuan penyuluhan pertanian yang bersangkutan dengan berbagaialat
    d.        Metode dan hasilkegiatan penyuluhan pertanian
    e.         Hasil-hasil kuantitas dan kualitas
    f.          Mencakuptujuan, kegiatan dan metode pengumpulan, analisis dan interpretasi data,pembandingan hasil, pengambilan keputusan dan penggunaan hasil.
     6.2 Karakteristik proses evaluasi:
    a)      evaluasimerupakan proses terstruktur
    b)     evaluasididasarkan pada indikator yang dapat diamati
    c)      evaluasimenganalisis hal-hal rumit menjadi sederhana
    d)     evaluasimenghasilkan informasi yang tidak memihak dan disetujui semua orang dankeputusan yang andal masuk akal.
    e)      evaluasimengeliminir pengaruh pribadi evaluator
    7. Tahapan evaluasi
    Langkah-langkah evaluasi penyuluhanyaitu menetapkan obyek, menetapkan data atau informasi yang akan dikumpulkan,cara pengumpulannya, alat/instrumen  yangdigunakan, cara mengolah data/informasi serta melaporkan hasil-hasilnya. 
               Langkah-langkah evaluasiyang dilakukan sebagai berikut:
    1)   Memahamitujuan-tujuan penyuluhan yang akan dievaluasi.
    Unsur-unsurnyadalam tujuan penyuluhan antara lain:
    a.       sasaran (S)
    b.      perubahan perilaku yang dikehendaki (P)
    c.       materi (M)
    d.      kondisi/situasi (K)
    Contoh: petani dapat  melakukan   pemupukan padi sawah    sesuai dengan
                                 S                   P                                M                                   K
     rekomendasi
    2)   Menetapkanindikator-indikator untuk mengukur kemajuan-kamajuan yang dicapai. Indikator-indikatornyameliputi:
    a. indikator perubahan kognitif
    1) penguasaanpengetahuan (knowledge)
    2) Penguasaanpengertian (comprehension)
    3) kamampuanmenerapkan (application)
    4) kamampuananalisis (analisis)
    5) Kemampuansintesis (synthesis)
    b. Indikator perubahan kemampuan afektif
    1) menyadari ataumau memilih
    2) Tanggap ataumau
    3) yakin atau maumengikuti
    4) Menghayatiatau selalu menerapkan
    5) menghayatiatau selalu menerapkan.
    c. Indikatorperubahan psikomotor
    1) kecepatan      2) kekuatan            3) Ketahanan
    4)kecermatan    5) ketepatan           6) ketelitian
    7) kerapihan       8) keseimbangan   9) keharmonisan
    Contoh: Tujuan penyuluhan pertanian yang berhubungan psikomotor.
    Petani dapat melakukan pemupukanpadi sawahnya sesuai dengan rekomendasi, indikator untuk mengukur kemajuan yang dicapai adalah:
    a.    kecepatan
    b.   ketepatan
    bukan :
    a.    mengenal jenis-jenis pupuk (knowledge)
    b.   menerangkan kegunaan pupuk-pengertian (comprehension)
    3)   Mambuatalat pengukur untuk mengumpulkan data
    Contoh: TujuanPenyuluhan pertanian:
    “Petani dapat melakukan pemupukan padisawahnya sesuai rekomendasi”
    a.       indikator: kecepatan dan ketepatan
    b.      standar: kecepatan 5 jam/ha dan ketepatan 100 kg/ha
    c.       kriteria:  trampil 5jam/ha, pupuk 100 kg/ha;  ketrampilansedang > 5 kg/ha, pupuk 100 kg/ha atau 5 jam/ha, pupuk +  100 kg/ha; tidak trampil > 5 jam/ha, pupuk < 100 kg/ha
    Alat pengukur yangdapat dipakai untuk mengukur data :
    a.       pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur pengetahuan (dayamengingat)
    b.      pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur pengertian
    c.       pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur kemampuan memecahkanmasalah
    d.      rating scale untuk mengukur ketrampilan ataukegiatan-kegiatan praktek
    e.       skala sikap
    f.       skalaminat.
    4)    Membuat alat pengukur/instrumen evaluasi harus memenuhi persyaratan alatukur
    1.      Kesahihan (validity)
          Sahih, bila alat ukur yangdigunakan sesuai dengan obyek yang hendak diukur
    a.       alat ukur perubahan perilaku sikap, pengetahuan danketrampilan
    b.      alat ukur harus sahih untuk mengukur ’subyek materi” atauinformasi yang disuluhkan.
    2.      Keterandalan (reliability)
          Kemampuan alat ukur, dapatdigunakan orang lain dan memperoleh hasil yang sama dalam situasi dan kondisiapapun.
    3.      Obyektivitas
    Alat ukur harus obyektif kongkrit, jelas, hanya memiliki satu interpretasi untuk menganalisis.
    4.      Praktis (practicability)
    Mudah digunakan efektif untuk bahan pengukuran dan bersifat efektif untukmenganalisis.
    5.      Sederhana (simple)
    Tidak terlalu rumit/kompleks sehingga mudah di mengerti.
    Alat pengukur evaluasi penyuluhan pertanian dapat berupa:
    1.       Pertanyaan untuk mengukur pengetahuan
    Pertanyaan untuk mengukur tahu atautidak tahu dan mengetahui atau tidak mengetahui dengan seperangkat pertanyaanyang cukup pendek,
    Contoh: Sebutkan jenis-jenis pupuk untukpadi!
    2.       Pertanyaan untuk mengukur pengertian
    Pengertian lebih luas atau mendalam daripengetahuan, pengertian mengacu pada kemampuan intelektualitas seseorang.
    Contoh: terangkan atau jelaskan pupuk urea untuk padi!
    3.       Pertanyaan untuk mengukur kemampuan untuk memecahkanmasalah
    Pertanyaan untuk mengukur kemampuanlebih mendalam dibanding pengertian atau pengetahuan penerapan prinsip-prinsipyang telah dikuasai, dapat menggunakan pengertian-pengertian sendiri contoh adaprinsip bahwa pemupukan urea jika tidak masuk dalam tanah, maka unsur N akanhilang, tidak terserap tanaman.
    Dari prinsip ini, penerapannya pada saatmelakukan pemupukan urea harus masuk dalam tanah agar efisien. Contoh penerapanprinsip-prinsip dalam situasi nyata jadi untuk memecahkan masalah harusmenguasai :  penguasaan pengetahuan à  penguasaan pengertian à pemecahan masalah .
    Contohrekomendasi pemupukan padi sawah:  urea200 kg dan TSP 100 kg/ha
    Jika petani A memiliki sawah 0,5 ha.Kemudian jika yang tersedia pupuk ZA dan SP-36 berapa yang diberikan untuk padisawah untuk seluas 0,5 ha tersebut.
    Untuk dapat menghitung kebutuhanpupuknya, maka si A harus menguasai:
    a.       kandungan  haraunsur Urea, TSP, SP-36
    b.      kegunaan pupuk
    c.       akibat kelebihan pupuk
    d.      pemupukan berimbang
    e.       cara menghitung kebutuhan pupuk.
    4.       Skala nilai atau ratingscale untuk mengukur ketrampilan, dimensi ketrampilan:
    a.       kekuatan
    b.      kecepatan
    c.       ketepatan
    d.      keseimbangan
    e.       keharmonisan.
    Contoh :  petani trampil mengendalikan H/P denganmenggunakan penyemprot gendong trampil menggunakan, dimensinya kecepatan,kemudian menetapkan standar dan kriterianya.
    Kecepatan:hektar/hari à dimensi kecepatan
    a. standar = 3 ha/hari
    b.kriteria = a 3 ha/hari = baik atau trampil  b 2 s/d 2,9 ha/hari = sedang
    c.   kurang dari 2ha/hari = kurang baik/kurang trampil
    Jadi untuk mengukur skala nilai ataurating scale untuk mengukur ketrampilan harus melakukan kegiatan sebagaiberikut:
    a.       menentukan dimensi dari ketrampilan yang akan diukur,terdiri dari 1 dimensi atau lebih
    b. menetapkan standar dari tiap dimensi yang telahditentukan
    c.     membuat kriteriadari tiap dimensi yang telah ditentukan berdasarkan standar yang telahditetapkan.
    Contoh Kisi-kisi evaluasi penyuluhan :
    Tujuan P.P
    Indikator
    Standar
    Kriteria / skore
    Alat ukur
    Ket.
    1.Petani mengetahui  varitas unggul kedelai yang direkomendasikan
    Dapat menyebutkan 3 jenis varitas unggul kedelai
    3jenis varitas unggul kedelai yang direkomendasikan (misalnya) :
    Galunggung, Wilis, Anjasmoro
    Dapat menyebutkan :
    3 jenis: tahu (3)
    2 jenis: cukup tahu (2)
    1 jenis:kurang (1)
    Sebutkan jenis-jenis varitas kedelai
    2. Petani dapat menjelaskan ciri-ciri 3 varitas kedelai unggul yang di rekomendasikan
    3. dst nya semua unsur-unsur /komponen inovasi yang disuluhkan dibuat kisi-kisinya
    Dapat menjelaskanciri-ciri varitas kedelai
    Ciri-ciri varitas kedelai:
    1.       1.Galunggung:
    2.       umur berbunga 35 hari, tinggi tananaman : 50-60 cm, umur panen 85-90 hari
    3.       2. Wilis: berbunga : 39 hr, tinggi:40-50 cm, umur panen : 88 hr
    4.       3. Anjasmoro: umurr berbunga 37 hr, tinggi tanaman : 64-68m, umur masak: 90 hr
    5.        
    Dapat menjelaskan ciri-ciri varitas kedelai:
    3 jenis :paham (6)
    2 jenis: cukup  memahami(4)
    1 jenis: kurang memahami(2)
    Jelaskan ciri-ciri dari masing-masing varitas kedelai?
    5.  Skala sikap
    Sikap (attitude) adalah kecenderunganuntuk berbuat
     jika sudah berbuat menjadi perilaku(Behavior),  merupakan manifestasi dariperilaku.  Evaluasi terhadap sikap petaniapakah menerima inovasi atau menolaknya ini berhubungan dengan strategipenyuluhan pertanian.
    Alat ukur untuk mengukur sikap antara lain:
    a.       Skala likert :
    Untuk mengukur sikap, pendapat, persepsiseseorang atau sekelompok orang, tentang inovasi pertanian yangdirekomendasikan. Inovasi pertanian yang akan dievaluasi dijabarkan menjadiunsur-unsur. Komponen-komponen yang dapat diukur, dan dijadikan titik tolakuntuk menyusun instrumen.
    Instrumen berupa butir-butir pertanyaanyang akan dijawab oleh responden

     

    Jawaban responden merupakan gradasi yangbergerak sangat positif sampai sangat negatif dapat berupa kata-kata antaralain:
    a. sangat setuju
    b.setuju
    c.  ragu-ragu
    d.tidak setuju
    e. sangat tidak setuju
    atau:
    a.    sering kali
    b.   sering
    c.    kadang-kadang]
    d.   hampir tidak pernah
    e.    tidak pernah
    atau:
    a. sangat positif
    b.   positif
    c. netral
    d.   negatif
    e. sangat negatif
    atau                                                                                             atau:
    a. baik sekali
    b.baik
    c.  cukup
    d.jelek
    e. jelek sekali
    Untuk analisis dapat diberi skor: 5 , 4 , 3, 2 , 1
    catatan: besarnyaskor tergantung pernyataan atau pertanyaan apakah mendukung (favorable) atau  tidak mendukung (un favorable)
    Contoh : Cecklist
    No
    Pertanyaan/
    pernyataan
    Jawaban responden
    SS
    S
    R
    TS
    STS
    5
    4
    3
    2
    1
    1
    Bagaimakah pendapat bapak tentang penggunaan urea Tablet
    2
    Urea tablet memudahkan pemupukan
    3
    Penggunaan urea tablet meningkatkan produksi
    4
    Penggunaan urea tablet menghemat tenaga kerja
    Misal:
    Evaluasi terhadap100 responden dengan hasil jawaban  :
    25 orang jawabanSS (sangat setuju)
    40 orang jawabanS (setuju)
    5 orang jawaban R(Ragu-ragu)
    20 jawaban TS(Tidak setuju)
    10 orang jawabanSTS (sangat tidak setuju)
    Maka jumlah skor:
    25 x 5 = 125
    40 x 4 = 160
    5 x 3  = 15
    20 x 2 = 40
    10 x 1 = 10
    Jumlah 350
    Jumlah tertinggi = 100 x 5 = 500
    Jumlah terendah = 100 x 1 = 100
    Jadi tingkat persetujuan petani terhadapinovasi yang beru (misal urea tablet) adalah: 350/500 x 100% = 70 %
    Atau dengan garis kontinum adalah
                                !                       !                      !                   !              !             !            !
                            0          100           200               300                               400        500
                                        STS         TS                R                       S            SS
                                                                                          350
    Jadi dari 100 responden, maka skor yangdiperoleh 350, maka terletak di daerah setuju.
    Selanjutnya, apabila ingin mengetahui%  berdasarkan pada berapa responden makadiperoleh :
    25 % menyatakan SS
    40 % menyatakan S
    5 % menyatakan R
    20 % menyatakan TS
    10 % menyatakan STS
    Dapat juga dengan bentuk pilihan ganda (cheklist)
    Contoh :
     Penggunaan pupuk urea tablet yang beru, akananda terpkan pada padi sawah (dalam kelompok tani:
    a.    STS
    b.   TS
    c.    R
    d.   S
    e.    SS
    Catatan: Bentuk ini keuntungannya pertanyaanatau pernyataan akan dibaca semua. Sedangkan kekurangannya bentuk tidak menarik boros kertas.
    b.  Skala Gutman
    Skala gutman kelebihannya didapatkan jawaban responden secara tegas yaitudapat berupa
          yaatau tidak
          benaratau salah
          positifatau negatif
    c.   Semantikdiffferential
    Skala tersusun dalam garis kontimum,dengan jawaban positif di sebalah kiri dan negatif di sebelah kanan, Contohberikan nilai gaya kepeminpinan ketua kelompok tani anda.
    1.    bersahabat   :  5  4  3  2  1 : tidak bersahabat
    2.    tepat janji     :  5 4  3  2  1 :ingkar janji
    3.    sabar           :  5 4  3  2  1 :pemarah atau emosional
    4.    konsisten      :  5 4  3  2  1 :in konsisten
    5.    jujur              :  5 4  3  2  1 :tidak jujur
          Skala  semantik defferential, untuk mengukur sikapatau karakter tertntu yang dimiliki seseorang terhadap obyek tertentu
          respondendapat memberikan jawaban pada rentang positif atau negatif tergantung persepsi mereka terhadap hal yangdinilai.
    d. SkalaNilai/Rating scale
                      Datadiperoleh kuatitatif,  responden langsungmenjawab/memilih satu angka dari alternatif yang ada.
    Contoh: Setelah mengikuti pelatihan PHT, seberapa jauh pemahaman    responden tentang Prinsip-prinsip PHT.
    No.
    Prinsip PHT
    Tingkat Pemahaman
    Keterangan
    1.
    Budidaya tanaman sehat
    1
    2
    3
    4
    4 :
    bila sangat memahami
    2.
    Pelestarian musuh alami
    1
    2
    3
    4
    3 :
    bila memahami
    3.
    Pengamatan Ekosistem mg.an
    1
    2
    3
    4
    2 :
    bila cukup memahami
    4.
    Petani ahli PHT
    1
    2
    3
    4
    1 :
    bila kurang memahami
    5.
    Dan setrusnya….
    6.    Skala Minat
    Minat merupakan kecenderungan seseoranguntuk menyukai sesuatu hal, dibandingkan dengan hal yang lain, misal: petanilebih berminat menanam padi IR 64 dibanding IR 36.
    Minat dapat diukur ,karena minat dapat diekspresikan /dimanifestasikan, petani berminat menanampadi IR 64 , maka ia akan berusaha aktif mencari benih tersebut.
    Contoh skalaminat :
    Berikan tanda Xpada kegiatan penyuluhan pertanian yang anda sukai :
    a.       Widyawisata
    b.      Diskusi kelompok
    c.       Demonstrasi
    d.      Kursus/seminar
    e.      Field day
    Skala minat dapatberupa:
    a.       Cheek list, yaitu dengan cara meminta mereka memilih hal/kegiatanyangmereka sukai
    b.      Rangking/peringkat, yaitu meminta mereka menyususnrangking tentang kegiatan yang akan dievaluasi dari yang paling disukai sampaiyang paling tidak disukai.
    Contoh tulis kegiatan penyuluhanpertanian  yang paling disukai sampai yangtidak disukai:
    – Paling disukai:       1……….
                                      2………
                                      3……….
                                      4……….
                                      5……….
                               Paling tidak disukai:  6……….dstnya
    c.       Ratio scale/Skala banding
                Yangpaling disukai sampai yang paling tidak disukai
               Contoh:      SS        : sangat disukai
                                  S          : disukai
                                  B          : Biasa saja
                                  TS        : Tidak disukai
                                  ST        : Sangat tidak disukai
    No.
    Materi penyuluhan
    SS
    S
    B
    TS
    ST
    1.
    Serangan hama
    2.
    Serangga Musuh alami
    3.
    Tikus
    4.
    Gulma
    5.
    Ekosistem
    7. Free Response Tecnique (FRT)
    FRT yaitu alat ukur untuk mendapatkanpendapat petani  (jawaban uraian/essay).
          Contoh: Dari semua materi yang telah anda pelajari dalam penyuluhan, materi manayang yang anda sukai , jelaskan dan apa alasannya.
    à FRT ini paling mudah dibuat, tapi paling sulit dibuattabulasi.
    Tingkat Adopsi
    Adopsi merupakantingkat kemampuan ahli , dan ini yang kita tuntut/target kita dalam penyuluhanpertanian, dan ini yang membedakan dengan yang bukan penyuluhan. Penyuluhansasarannya sampai pada mengadopsi ,yaitu menerapkan inovasi yang disuluhkan,artinya petani secara tetap melaksanakan /mempratekkan inovasi yang disuluhkanterseburt.
    Contoh :
    Apakah saudara melakukan pemupukanberimbang pada tanaman padi saudara ?
    a) selalu       b) Kadang-kadang      c) Tidak pernah
    Responden yang selalu melakukanpemupukan berimbang pada tanaman padinya, menunjukan tingkat adopsi yang lebihtinggi (tentunya setelah dicek kebenarannya di lapangan).
    4. Menarik sampel(sampling) dan melakukan pengumpulan data
    b.      merupakan langkah penting
    c.       hindari samplingerror, usahakan sample yang representative (mewakili).
    Ada beberapamacam cara menarik sampel, tergantung tujuan dan keadaan populasinya, tetapi yangperlu diperhatikan sample hendaknya benar-benar menggambarkan /mewakilipopulasi yang dievaluasi.
    Sampel dalamevaluasi penyuluhan pertanian mengacu pada keterwakilan dari petani/kelompoktani yang merupakan sasaran penyuluhan. Tidak dapat dipastikan berapa jumlahsampelnya secara tepat, tetapi prinsipnya sampel tersebut mewakili populasi (reprensentatif) petani/kelompok taniyang menerima penyuluhan 
    5)   Melakukananalisis dan interpretasi data
                       Proses Ini merupakan langkah akhir yang menentukan  :
    b.      lakukan cleaning data dengan cara editing di lapangan,hapuskan data yang “nyleneh” (out lier)
    c.       lakukan coding, pemberian kode untuk memudahkan pada saatmemasukan data
    d.      lakukan tabulasi (tally,sheet, tabulasi sheet).
    Analisis/interpretasi data dapat dilakukan dengan cara :
    a. presentase
    b.deskriptif(mean, modus, median, rerata, Standart Deviasi)
    c.  statistik inferensial
    Analisa data initergantung tujuan evaluasi dan kesimpulan yang akan diambil  serta pertimbangan-pertimbangan yang akan dihasilkan. Dalam melakukanpengolahan data dapat memanfaatkan alat komputasi seperti  Program excel, Program SPSS, atau dihitungsecara manual dengan kalkulator.
    Dalam interprestasihasil evaluasi yang perlu dipahami adalah mengapa tujuan penyuluhan tidaktercapai, tidak sesuai target, faktor-faktor-faktor apa saja yang menghambatdan apa yang memperlancar, serta bagaimana solusinya/saran perbaikannya padawaktu yang akan datang. Hasil evaluasi ini bermanfaat unutk perbaikan programyang akan datang datang dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan olehpembuat kebijakan dibidang penyuluhan/pembangunan pertanian.
    A.     PELAPORAN
    Pada prinsipnya, penulisan laporanevaluasi tidak berbeda dengan penulisan laporan penelitian pada umumnya, baikdalam sistimatika, pokok-pokok isi laporan yang disampaikan, hanya bahasa sertatata tulis yang digunakan lebih populer, mudah dipahami karena para pembacalaporan evaluasi lebih bervariasi dalam hal tingkat pendidikan dan pengalaman.
     Format/sistematika  Laporan Evaluasi Penyuluhan dalam prakteknyadapat diadaptasikan sesuai kebutuhan lembaga/di lapangan dan maksud/tujuan darievaluasi itu sendiri, tetapi secara umum dapat dipaparkan sebagai berikut:
    1.            Katapengantar, daftar isi, pengesahan laporan
    2.            Pendahuluan,yang memuat uraian yang singkat dan cukup jelas mengenai
    a) Latar belakang atau alasan dilakukannya evaluasi,sasaran/obyek evaluasi
    b)Masalah dan tujuan evaluasi
    c) Kegunaan evaluasi.
    3.            Landasan-landasanteori dan konsep-konsep yang digunakan di dalam pelaksanaan evaluasi.
    4.            Indikatordan parameter, serta pengukurannya
    5.            Rancanganevaluasi yang mencakup:
    a) Populasi dan sample, berikut penjelasan tenik penarikansample
    b)  Rincian data yang dikumpulkan
    c) Tenik pengumpulan data
    d)  Instrumen evaluasi (biasa disampaikan dalam bentuklampiran)
    e) Uji ketepatan dan ketelitian instrumen evaluasi
    f)  Analisis data.
    6.         Gambaranumum tentang pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang dievaluasi
    7.         Hasil-hasilevaluasi  dan Pembahasan : tampilan dalambentuk grafik , gambar, tabel dsbnya. Bagian ini merupakan pemaparan darihasil  temuan-temuan /fakta/data , dandiberi kan penjelasan artinya dan pembahasan secukupnya
    8.         Kesimpulandan saran-saran/rekomendasi.
    9.         Daftarpustaka
    10.      Lampiran-lampiran.
    B.     LANGKAHKERJA PENYUSUNAN EVALUASI DAN PELAPORAN
    Langkah kerja penyusunan evaluasi danpelaporan sebagai berikut:
    1.            Pesertamemahami uraian materi yang ada pada modul
    2.            Diskusikandalam kelompok tentang pembagian tugas
    3.            Tentukansasaran dan obyek yang akan di evaluasi, untuk itu perhatikan programpenyuluhan yang ada (tingkat BPP/Kecamatan)
    4.            Fokuskanperhatian pada sasaran dan obyek yang akan dievaluasi sesuai programpenyuluhan, dan kumpulkan informasi tentang “apa yang akan dievaluasi”, siapa saja yang termasuk dalam obyekevaluasi, dimana evaluasi dilaksanakan, masalah pokok apa, bagaimanapengelolaan, dan upaya mengatasi masalah
    5.            Rencanakanpengorganisasian pelaksanaan evaluasi
    6.            Pahamitujuan penyuluhan yang akan dievaluasi
    7.            Tetapkanindikator untuk mengukur pencapaian/kemajuan
    8.            Susunlahalat pengukur/instrumen/kuisioner  untukmengumpulkan data
    9.            Tentukansampel dan lalukan pengumpulan data
    10.        Lakukanpengolahan data/analisis dan interprestasi data
    11.        Susunlaporan, diskusikan hasil evaluasi, kesimpulan dan saran yang akandirekomendasikan
    12.        Komunikasikan/presentasikan hasil evaluasi pada stake holder.
    C.     RANGKUMAN
    Evaluasi adalahsuatu proses untuk menentukan relevansi, efisiensi, efektivitas, dan dampakkegiatan-kegiatan proyek/program sesuai dengan tujuan yang akan dicapai secarasistematik dan obyektif.
                Tujuan evaluasi mencakup: (1) TujuanKegiatan (activity objective);(2) Tujuan Managerial (managerial objective); dan (3) Tujuan Program  (Program objective). Manfaat melakukanevaluasi adalah: (a) menentukan tingkat perubahan perilaku petani setelahpenyuluhan dilaksanakan; (b) perbaikan program, sarana, prosedur, pengorganisasianpetani dan pelaksanaan penyuluhan pertanian; dan (c) penyempurnaan kebijakanpenyuluhan pertanian.
    Jenis-jenisevaluasi antara lain: (1) EvaluasiPenyuluhan Pertanian, yaitu alat untuk mengambilkeputusan dan menyusun pertimbangan-pertimbangan ; (2)  Evaluasi Program Penyuluhan, yaitu evaluasiyang dilakukan untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka menentukankebijakan selanjutnya; (3) Evaluasi Hasil Penyuluhan Pertanian, yaitumengevaluasi sampai seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan, berupa perubahanperilaku petani dan keluarganya; (4) Evaluasi Metode, yaitu evaluasi semua kegiatan penyuluhan pertanian yangdilakukan penyuluh pertanian dalam rangka mencapai perubahan perilaku sasaran;(5) EvaluasiSarana Prasarana, evaluasi ini padadasarnya mengevaluasi kesiapan perangkat sarana-prasarana yang menunjangkegiatan penyuluhan; dan (6) Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan Pertanian danEvaluasi Dampak Penyuluhan.  Dalam prakteknya pelaksanaan evaluasi penyuluhan pertaniandapat merupakan kombinasi dari beberapa macam/cara evaluasi, hal inidimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, lebih akurat, dan lebihsahih  dari pada evaluasi denganmenggunakan cara tunggal.
    Tahapan evaluasi berisi langkah-langkahevaluasi pada dasarnya sama yaitu menetapkan obyek, menetapkan data atauinformasi yang akan dikumpulkan, cara pengumpulannya, alat/instrumen  yang digunakan, cara mengolah data/informasiserta melaporkan hasil-hasilnya.
    Penulisan laporan evaluasi tidak berbedadengan penulisan laporan penelitian pada umumnya, baik dalam sistimatika,pokok-pokok isi laporan yang disampaikan, hanya bahasa serta tatatulis yangdigunakan lebih populer, mudah dipahami karena para pembaca laporan evaluasilebih bervariasi dalam hal tingkat pendidikan dan pengalaman.
    P E N U T U P
    A.     Kesimpulan
    Tolok ukur keberhasilan evaluasi dan pelaporan dalampenyuluhan pertanian adalah:
    1.        Penguasaan/pemahaman dalam setiap tahapan evaluasi dalam menentukan relevansi, efisiensi, efektivitas, dan dampakkegiatan-kegiatan program/kegiatan sesuai dengan tujuan yang akan dicapaisecara sistematik dan obyektif berdasarkan data/fakta  di lapangan, bukan opini/pendapat evaluator.
    2.        Penguasaan prosespenyusunan pelaporan,dan mengkomunikasikan hasil evaluasi  baik dalam halsistimatika, pokok-pokok isi laporan yang disampaikan. Tata tulis yang digunakanlebih populer, mudah dipahami karena para pembaca laporan evaluasi lebihbervariasi dalam hal tingkat pendidikan dan pengalaman, sehingga setiap orangyang membacanya mudah memahami keseluruhan isi laporan.
    B.     Tindak Lanjut
    Setelah mengikuti proses pembelajaran, dan mempraktekkandilapangan akan menemui  kendala, danpermasalahan-permasalahan, seperti dalam penyusunan  instrumen evaluasi, mengumpulkan data,mengolah data ataupun penjabaran dalam bentuk tulisan laporan. Untuk itu parapenyuluh pertanian harus selalu mengembangkan diri untuk selalu belajar danberlatih, dengan cara belajar/membaca dan mempratekkan setiap kegiatanpenyuluhan dalam bentuk laporan-laporan dan kemudian mengevaluasikekurangan-kekurangannya, sehingga diharapkan dengan sering menulis laporanakan terbiasa dan tentunya semakin berkualitas.
    DAFTAR PUSTAKA
    A.W Van den Ban dan Hawkins (2003)Penyuluhan Pertanian, cetakan ke 6Kanisius, Yogyakarta.
    Fernandes, H.J.X (1984) Evaluation of education programs.National Education Planing Evaluaion and Curiculum Development. Jakarta.
    Isaac Stepen & Michael (1984) Hand book in Reasearch and EvaluastionSecond edition Edits Publishers Sandiego California 92107.
    Mardikanto. T, 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian.Sebelas Maret University Press, Surakarta.
    Mardikanto. T,2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. LPP  UNS dan UNS Press Surakarta.
    Stufflebeam, DL & Shinkfield,A.J., (1985). Systematic evaluation.Massachuccetts: Kluwer-Nijohoff Publishing.
    Padmowiharjo, S. (1996). Evaluasi Penyuluhan Pertanian. Jakarta.Universitas Terbuka.
    Werimon A. (1992) Diktat Monitoring dan Evaluasi APP Yogyakarta (tidak diterbitkan).
    Wibowo S. (1995) Dikata Evaluasi Penyuluhan Pertanian APPYogyakarta (tidak  diterbitkan)

    Erwin, SP.Sumber Tulisan : Bahan Diklat Sertifikasi Penyuluh Pertanian Level Supervisor Bapeltan Jambi 2011

    SPESIES JENIS TANAMAN HIAS


     

    Bawang Sebrang

    Zephyranthes candida (Lindl.) Herb.

    Nama umum

    Indonesia: Bawang sebrang, kembang cokelat



    Inggris: Rain lily


    Cina: Zhong lan






    Bawang Sebrang






    Klasifikasi


    Kingdom: Plantae (Tumbuhan)


    Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


    Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)


    Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)


    Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)


    Sub Kelas: Liliidae


    Ordo: Liliales


    Famili: Amaryllidaceae (suku bakung-bakungan)


    Genus: Zephyranthes


    Spesies: Zephyranthes candida (Lindl.) Herb.





    Bunga Krisan


    Chrysanthemum x grandiflorum


    Nama umum


    Indonesia: Bunga krisan, seruni


    Pilipina: Manzanilla


    Cina: ye ju hua






    Bunga Krisan






    Klasifikasi


    Kingdom: Plantae (Tumbuhan)


    Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)


    Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)


    Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)


    Sub Kelas: Asteridae


    Ordo: Asterales


    Famili: Asteraceae


    Genus: Chrysanthemum


    Spesies: Chrysanthemum x grandiflorum


    Kerabat Dekat


    Piretrum, Bunga Krisan


    Platycodon grandiflorus
    ?
    Bunga Balon


    Platycodon grandiflorus


    Nama umum


    Indonesia: Bunga balon, bunga lonceng cina, bunga lonceng jepang


    Inggris: Chinese bellflower






    Bunga Balon






    Klasifikasi


    Kingdom: Plantae (Tumbuhan)


    Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


    Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)


    Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)


    Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)


    Sub Kelas: Asteridae


    Ordo: Campanulales


    Famili: Campanulaceae


    Genus: Platycodon


    Spesies: Platycodon grandiflorus





























    Zephyranthes candida

    Seputar Burung Serindit

    Serindit (Bahasa Latin : Loriculus, Eng:Hanging Parrot) adalah burung-burung dalam genus burung paruh-bengkok Loriculus. Burung-burung ini berukuran kecil dan tersebar di hutan tropis di Asia Tenggara.
    Burung ini kerap dicari untuk memaster burung seperti Anis Merah, Muray Batu , Cendet bahkan Lovebird

    Merawat burung yang satu ini tidak terlalu sulit. Untuk makanannya cukup diberikan jenis makanan sayuran hijau, buah-buahan, Nasi putih dan juga serangga. Biasanya untuk buah lebih banyak diberikan buah pisang serta air minumnya diberikan gula atau bisa juga madu. Untuk buah seperti pisang sebenarnya dapat diganti dengan makanan bayi semisal SUN. Karena dalam makanan tersebut mengandung gizi yang cukup untuk kebutuhan makan burung serindit ini. Cara tidurnya burung serindit ini pun cukup unik yaitu kepalanya menggantung ke bawah. Cara berjalan burung ini mirip dengan burung paruh bengkok lainnya yaitu merambat. Ketika berbunyi suaranya terkadang terdengan keras mengalun. Sehingga banyak penghobi kicauan yang menyukai burung ini, Dencing suara serindit jika bisa masuk ke suara murai batu, tentu akan menjadikan suara si murai jadi dahsyat. Sebab, dencing suara serindit yang dibawakan murai batu tentu akan beberapa kali lebih keras ketimbang dibawakan oleh srindit sendiri.
    Perkembangbiakan

    Musim berkembangbiak antara bulan Januari dan Juli. Sarangnya di lubang pohon yang hidup atau yang sudah mati. Sarangnya terletak sekitar 12 m dari atas tanah. Diameter lubang sarang berukuran kira-kira 8 cm. Kedalaman sarangnya sekitar 45 cm dengan lebar 30 cm. Alas sarang terdiri dari daundaun. Betina membawa bahan untuk sarang dengan cara diselipkan pada bulubulu tunggingnya. Jumlah telurnya rata-rata 3 butir. Telur tersebut menetas setelah dierami selama 3 – 4 minggu.

    Jenis-jenis Burung Serindit :

    1. Serindit Melayu (Loriculus Galgulus), Eng : Blue-Crowned Hanging Parrot


    Karakteristik :
    Panjang : 13cm/5 in.
    Makanan : Biji-bijian dan buah
    Warna : Sebagian besar tertutup warna hijau, paruh hitam

    Pada jantan, warna biru pada dahi, merah pada leher, dan kuning pada punggung agak mencolok, sedangkan pada betina tidak terlalu mencolok.


    2. Serindit Sulawesi (Loriculus stigmatus), Eng : Great Hanging Parrot






    Karakteristik :
    Panjang : 15cm, merupakan jenis serindit yang paling besar
    Makanan : Biji-bijian dan buah
    Warna : Sebagian besar tertutup warna hijau, paruh hitam

    Pada jantan, ada warna merah pada dahi dan merah pada leher, sedangkan pada betina tidak ada.

    3. Serindit Maluku (Loriculus Amabilis), Eng : Moluccan Hanging Parrot




    Karakteristik :
    Panjang : 11 cm
    Makanan : Biji-bijian dan buah
    Warna : Sebagian besar tertutup warna hijau, paruh merah


    Pada jantan, ada warna merah pada dahi dan merah pada leher, sedangkan pada betina tidak ada.

    4. Serindit Sangihe (Loriculus Catamene), Eng : Sangihe Hanging Parrot




    Karakteristik :
    Panjang : 12 cm
    Makanan : Biji-bijian dan buah
    Warna : Sebagian besar tertutup warna hijau, paruh hitam, terdapat warna merah pada leher


    Ciri khas serindit ini adalah ekornya yang agak panjang

    5. Serindit Papua (Loriculus Aurantiifrons), Eng : Orange-Fronted Hanging Parrot




    Karakteristik :
    Panjang : –
    Makanan : Biji-bijian dan buah
    Warna : Sebagian besar tertutup warna hijau, paruh hitam, terdapat warna kuning pada dahi.

    6. Serindit Jawa (Loriculus Pusillus), Eng : Yellow-Throated Hanging Parrot




    Karakteristik :
    Panjang : –
    Makanan : Biji-bijian dan buah
    Warna : Hampir seluruh tubuh tertutup warna hijau, lehernya berwarna kuning, paruh merah.





    7. Serindit Flores (Loriculus Flosculus), Eng : Wallace’s Hanging Parrot






    Karakteristik :
    Panjang : 11-12 cm
    Makanan : Biji-bijian dan buah
    Warna : sebagian besar tertutup warna hijau, kakinya berwarna oranye, paruh merah, pada jantan lehernya berwarna merah.




    Sebagai burung paruh bengkok , burung serindit ini memang masih dibawah saudaranya yaitu Love Bird yang lebih populer di kalangan kicauan mania, tetapi suara dencingan yang tajam dengan speed rapat dan cepat dari burung ini bisa menyamai suara dari burung lovebird.